Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemanasan global (global warming) merupakan isu yang saat ini hangat
diperbincangkan dikalangan masyarakat dunia. Pemanasan global yang terjadi
disebabkan semakin banyaknya gas rumah kaca (GRK) yang dilepaskan ke
atmosfer bumi (CIFOR 2010). Menurut Risnandar (2010), terdapat dua kelompok
gas rumah kaca yaitu kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara
langsung dan kelompok gas rumah kaca yang berpengaruh secara tidak langsung
terhadap pemanasan global. Gas rumah kaca yang berpengaruh secara langsung
salah satunya adalah CO2 (karbon dioksida). Konsentrasi CO2 yang berlebih di
atmosfer akan menyebabkan suhu udara menjadi lebih panas (CIFOR 2010).
Meningkatnya suhu rata-rata atmosfer bumi dari tahun ke tahun menyebabkan
terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim tersebut berupa perubahan suhu
udara, curah hujan dan kecepatan angin (CIFOR 2010).
Upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut salah satunya dengan
melakukan mitigasi. Mitigasi adalah tindakan untuk mengurangi emisi GRK dan
untuk meningkatkan penyimpanan karbon dalam rangka mengatasi perubahan
iklim (CIFOR 2010). Salah satu sektor yang berperan dalam mitigasi perubahan
iklim adalah sektor kehutanan. Tegakan hutan merupakan rosot karbon yang
paling efektif (Handoko et al. 1996 diacu dalam Rdi et al. 2005). Hutan mampu
menyerap kelebihan karbon di atmosfer dan menyimpannya dalam bentuk
biomassa di berbagai bagian tanaman (khususnya kayu) melalui proses
fotosintesis (Lana et al. 2005). Selain itu, hutan juga melindungi sejumlah besar
karbon yang tersimpan di bawah tanah (CIFOR 2010). Berdasarkan hasil
penelitian Gardner dan Engelman 1999 diacu dalam Suhendang 2002, sekitar 40%
atau 330 milyar ton karbon tersimpan dalam bagian pohon dan bagian tumbuhan
hutan lainnya di atas permukaan tanah, sedangkan sisanya, yaitu sekitar 60% atau
500 milyar ton, tersimpan dalam tanah hutan dan akar-akar tumbuhan di dalam
hutan.

2

Hutan-hutan Indonesia berpotensi menyimpan karbon. Menurut FAO,
jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton
biomassa, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia dan setara
dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa tersebut
menyimpan 3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009). Salah satu
hutan Indonesia yang memiliki potensi cadangan karbon adalah Hutan Pendidikan
Gunung Walat (HPGW). Hal tersebut dapat dilihat dari potensi tegakan HPGW
yang didominasi oleh tumbuhan berkayu dengan umur relatif tua dan terdiri dari
berbagai jenis vegetasi berbeda.
Telah banyak dilakukan kajian dan penelitian di HPGW mengenai aspek
ekonomi dan ekologi. Namun masih sedikit yang mengkaji tentang manfaat
HPGW sebagai penyedia jasa lingkungan seperti penyerapan dan penyimpanan
karbon. Oleh karena itu, pengukuran terhadap biomassa sangat dibutuhkan untuk
mengetahui seberapa besar jumlah karbon yang tersimpan di HPGW dan
pengaruhnya terhadap pemanasan global serta selanjutnya dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan dalam mendukung terlaksananya perdagangan
karbon (carbon trading). Selain itu, untuk memastikan ketersediaan fungsi
HPGW untuk jasa lingkungan guna mencapai pengelolaan hutan lestari
(Sustainable Forest Management).

1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi volume, kandungan
biomassa dan cadangan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di HPGW.

1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai potensi
volume, kandungan biomassa dan karbon yang tersimpan dalam tegakan hutan di
HPGW. Selain itu, hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
kebijakan perencanaan, pengelolaan dan perlindungan hutan guna mencapai
pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management).

3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Potensi Hutan Sebagai Penyerap Karbon
Hutan mempunyai peranan yang sangat penting dalam penurunan emisi gas
rumah kaca, karena hutan mampu memfiksasi karbon dan menyimpannya di
dalam vegetasi yang dikenal sebagai rosot karbon (carbon sink). Vegetasi hutan
mempunyai kemampuan untuk menyerap CO2 melalui proses fotosintesis. Hasil
fotosintesis tersebut umumnya disimpan dalam bentuk biomassa akar, batang,
cabang, dan ranting (Salisbury & Ross 1992 diacu dalam Salim 2005) yang
menjadikan vegetasi hutan tumbuh semakin besar dan semakin tinggi. Vegetasi
hutan dengan kerapatan tinggi mampu menyerap lebih banyak CO2 dibandingkan
dengan vegetasi hutan dengan kerapatan rendah. Oleh karena itu, kegiatan
penanaman vegetasi pada lahan kosong atau merehabilitasi hutan yang rusak akan
membantu menyerap kelebihan CO2 di atmosfer.
Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar.
Seperti yang dikemukakan oleh Suhendang (2002), sumberdaya hutan di
Indonesia memiliki potensi tinggi dalam keanekaragaman hayati (biodiversity)
dan potensi penyerapan karbon. Hasil studi ALGAS (1997) diacu dalam
Retnowati dan Gintings (1997) menunjukkan bahwa hutan di Indonesia mampu
menyerap sekitar 686 mega ton CO2 pada tahun 1990, dan akan meningkat
menjadi 844 mega ton pada tahun 2020. Sedangkan menurut Suhendang (2002)
hutan di Indonesia yang luasnya sekitar 120,4 juta hektar mampu menyerap dan
menyimpan karbon sekitar 15,05 milyar ton karbon. Disisi lain, FAO menyatakan
bahwa jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 milyar ton
biomassa, jauh lebih tinggi dari pada negara-negara lain di Asia dan setara dengan
20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. Jumlah biomassa ini menyimpan
3,5 milyar ton karbon (FWI 2003 diacu dalam Bakri 2009).

2.2 Biomassa dan Karbon Hutan
Biomassa didefinisikan sebagai jumlah total bahan organik hidup di atas
tanah pada pohon termasuk ranting, daun, cabang, batang utama dan kulit yang

4

dinyatakan dalam berat kering oven ton per unit area (Brown 1997). Biomassa
dibedakan menjadi dua kategori, yaitu biomassa di atas permukaan tanah (above
ground biomass) dan biomassa di bawah permukaan tanah (bellow ground
biomass). Biomassa di atas permukaan tanah adalah berat bahan organik per unit
area pada waktu tertentu yang dihubungkan ke suatu fungsi sistem produktivitas,
umur tegakan, dan distribusi organik (Kusmana 1993 diacu dalam Salim 2005).
Sedangkan biomassa di bawah permukaan tanah diartikan sebagai semua
biomassa dari akar tumbuhan yang hidup.
Biomassa tersusun oleh senyawa karbohidrat yang terdiri dari elemen
karbon, hidrogen, dan oksigen yang dihasilkan dari proses fotosintesis tanaman
(White & Planskett 1991 diacu dalam Salim 2005). Pada proses fotositesis
tumbuhan menyerap CO2 dari udara kemudian mengubahnya menjadi bahan
organik sehingga jumlah total biomassa tumbuhan dapat bertambah. Biomassa
tegakan hutan dipengaruhi oleh umur tegakan hutan, sejarah perkembangan
vegetasi, komposisi, dan struktur tegakan (Lugo & Snedaker 1974 diacu dalam
Onrizal 2004). Selain itu faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu merupakan
faktor yang mempengaruhi laju peningkatan biomassa pohon (Johnsen et al. 2001
diacu dalam Onrizal 2004).
Cadangan karbon yang dihasilkan oleh suatu vegetasi atau tegakan hutan
dapat diperoleh dengan memperkirakan dari biomassa vegetasi. Karbon
merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total
yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya
tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001
diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa
tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman. Pendugaan
emisi dan penyerapan karbon oleh kegiatan-kegiatan kehutanan di Indonesia
(TPTI, HTI, deforestasi, reboisasi, penghijauan, hutan rakyat) dapat menggunakan
metode IPCC, yaitu dengan cara menggunakan biomassa tanaman (Anonymous
1996 diacu dalam Retnowati & Gintings 1997).

5

2.3 Metode Pendugaan Biomassa dan Karbon
Metode pengukuran biomassa pada dasarnya ada empat cara utama yaitu
metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling), metode sampling
tanpa pemanenan (non-destructive sampling), metode pendugaan melalui
pengindraan jauh, dan metode pembuatan model. Metode sampling dengan
pemanenan (destructive sampling) merupakan metode pengukuran biomassa
dengan cara merusak atau menebang pohon untuk selanjutnya dilakukan
pengukuran berat basah di berbagai carbon pool yang terdiri dari biomassa atas,
biomassa bawah/akar, biomassa kayu mati, biomassa serasah dan biomassa tanah
organik (Ostwald 2008). Sedangkan metode sampling tanpa pemanenan (nondestructive sampling) merupakan

pengukuran biomassa dengan cara tidak

merusak pohon dan hanya mengukur biomassa atas kemudian mengukur diameter
dan tinggi pohon serta serasah yang ada.
Metode sampling dengan pemanenan (destructive sampling) memberikan
hasil yang paling akurat untuk menduga biomassa, tetapi teknik ini tidak dapat
diterapkan pada semua areal hutan karena kerusakan yang diakibatkan cukup
besar. Selain kerusakan yang cukup besar, mahalnya biaya dan lamanya waktu
serta besarnya tenaga yang dibutuhkan dibandingkan dengan teknik pendugaan
biomassa lain menjadi bahan pertimbangan dalam penggunaan teknik ini. Metode
sampling tanpa pemanenan (non-destructive sampling) merupakan teknik
pendugaan yang saat ini banyak dilakukan karena tidak perlu melakukan
pemanenan pohon. Teknik ini memiliki efisiensi yang baik jika dibandingkan
dengan teknik sampling destruktif. Parameter penyusun metode non-destructive
sampling yaitu diameter pohon, tinggi pohon, volume batang, dan basal area
untuk menduga biomassa.
Menurut Brown (1997) ada dua pendekatan untuk menduga biomassa
pohon, yang pertama berdasarkan pendugaan volume kulit sampai batang bebas
cabang yang kemudian diubah menjadi jumlah biomassa (ton/ha) dan yang kedua
secara langsung dengan menggunakan regresi biomassa. Seperti dikemukakan
oleh Tiryana (2005), potensi biomassa hutan juga dapat diketahui melalui data
hasil inventarisasi baik dengan menggunakan faktor konversi volume ke biomassa
maupun persamaan alometrik yang menghubungkan dimensi pohon (diameter dan

6

atau tinggi) dengan biomassanya. Persamaan alometrik berupa fungsi matematika
yang didasarkan pada hubungan berat kering biomassa per pohon contoh dengan
satu atau lebih kombinasi dari dimensi pohon contoh (diameter dan tinggi) dapat
dikembangkan/dihasilkan dari metode destructive sampling atau diperkirakan dari
Fractal Branching Analysis/FBA (Adinugroho 2002).
Martin et al. (1998) menyatakan bahwa persamaan alometrik dapat
digunakan untuk menghubungkan antara diameter batang pohon dengan variabel
yang lain seperti volume kayu, biomassa pohon, dan kandungan karbon pada
tegakan hutan yang masih berdiri (standing stock). Diameter pohon merupakan
salah satu variabel yang penting bagi pendugaan biomassa selain kerapatan jenis
pohon dan tipe hutan (Chave et al. 2001). Sehubungan dengan pernyataan diatas
Ketterings et al. (2001) membuat model penduga biomassa hutan dengan
menggunakan variabel diameter dan kerapatan jenis dalam persamaan yaitu
sebagai berikut:
W = 0,11 ρ D 2,62 ......................................................................

(1)

Keterangan :
W
= biomassa (kg/pohon)
ρ
= kerapatan jenis (g/cm3)
D
= diameter setinggi dada (cm)
Pendugaan biomassa dengan persamaan alometrik memberikan hasil dugaan yang
akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Sehingga penggunaan
persamaan alometrik suatu jenis pohon yang telah diketahui untuk menduga
potensi biomassa pohon yang sama dapat menghasilkan hasil dugaan yang cukup
akurat.
Berbeda dengan metode pendugaan biomassa untuk individu pohon seperti
yang telah dijelaskan di atas, untuk pendugaan biomassa skala tegakan umumnya
digunakan teknik penarikan contoh (sampling). Sampling adalah suatu cara
pengamatan terhadap suatu populasi yang dilakukan hanya terhadap sebagian
populasi yang mewakili seluruh unit yang terdapat di dalam populasi tersebut
(Sutarahardja et al. 1982 diacu dalam Noronhae 2007). Cara sampling umum
digunakan karena cara ini membutuhkan waktu pengukuran yang relatif singkat,
memberikan keterwakilan contoh yang tinggi, pekerjaan lapangan lebih mudah
dengan ketelitian tinggi dan dapat mengurangi biaya. Systematic sampling with

7

random start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal) merupakan
salah satu teknik penarikan contoh yang sering digunakan dalam pendugaan
potensi biomassa skala tegakan. Unit contoh dalam systematic sampling diambil
secara sistematik menurut aturan atau pola tertentu. Pola yang umum digunakan
dalam kegiatan inventarisasi hutan berupa grids (kotak-garis) berbentuk bujur
sangkar atau persegi panjang yang dirancang pada peta dengan jarak tertentu,
dimana unit-unit contoh ditempatkan pada titik-titik sudutnya. Dalam hal ini,
hanya unit contoh pertama saja yang dipilih secara acak dari populasi, sedangkan
unit contoh lainnya dipilih dengan interval/jarak (k) tertentu secara sistematik
(Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae 2007). Unit contoh yang digunakan
biasanya berupa plot lingkaran berukuran tertentu dalam satuan hektar, misalnya
0,02 ha; 0,04 ha; 0,05 ha; 0,1 ha, dsb (Sutarahardja 1999 diacu dalam Noronhae
2007). Unit contoh lingkaran dapat dibuat dengan mudah karena hanya
memerlukan titik pusat unit contoh dan jari-jari lingkaran selain itu relatif mudah
dalam menentukan pohon batas (borderline tree).
Kesalahan sampling atau kesalahan contoh akan terjadi dalam pendugaan
dengan menggunakan contoh sebagai akibat dari peluang pemilihan unit contoh.
Kesalahan penarikan contoh merupakan perbandingan yang mungkin antara nilai
taksiran dengan nilai sebenarnya dalam populasi/hutan tersebut yang dinyatakan
dalam persen. Dengan demikian semakin kecil nilai perbedaan tersebut, maka
penarikan contoh yang dilakukan semakin teliti (Husch 1987 diacu dalam
Noronhae 2007).
Berdasarkan teknik sampling tersebut, dapat diperoleh nilai-nilai dugaan
rata-rata dan total potensi biomassa atau karbon. Nilai biomassa yang diperoleh
dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk menduga potensi karbon yang
tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon merupakan komponen penyusun
biomassa tanaman, kandungannya sekitar 45-50% bahan kering dari tanaman.
Berdasarkan hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan
diatas tanah yaitu 0,47 sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha)
dalam hutan dapat diduga dengan mengalikan biomassa dengan fraksi karbon
tersebut.

8

C = W x 0,47.............................................................................

(2)

Keterangan :
C
= karbon (ton)
W
= biomassa (kg/pohon)
0,47 = fraksi karbon
2.4 Volume Pohon dan Metode Pendugaannya
Volume merupakan suatu besaran tiga dimensi dari suatu benda yang
besarannya dinyatakan dalam satuan kubik yang didapatkan dari hasil perkalian
satuan dasar panjang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah R 2004). Volume
pohon dapat diklasifikasikan menurut dimensi tinggi yaitu volume pohon berdiri,
volume log/sortimen, dan volume kayu bakar. Volume pohon berdiri dibedakan
menjadi volume total pohon, volume batang, volume kayu tebal, dan volume
bebas cabang.
Cara penentuan volume pohon dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
1. Cara analitik, yaitu cara penentuan volume benda dengan menggunakan rumus
volume standar.
2. Cara langsung, yaitu cara penentuan volume yang dilakukan dengan mengukur
dimensinya.
3. Cara grafik, yaitu cara yang dapat digunakan untuk menghitung volume
berbagai bentuk benda putar tanpa memandang ciri-ciri permukaannya.
4. Penggunaan tabel volume
Rumus-rumus yang umum digunakan dalam penentuan volume adalah
rumus Huber, Smalian, dan Newton. Dalam prakteknya, penggunaan tabel volume
lebih memudahkan dalam penentuan volume pohon karena memberikan dugaan
volume untuk diameter dan tinggi pohon secara spesifik. Tabel volume pohon
adalah suatu tabel yang digunakan untuk mendapatkan volume pohon atau batang
melalui pengukuran satu atau beberapa peubah penaksir volume pohon atau
volume batang (Husch 1963 diacu dalam Hardansyah 2004). Menurut Simon
(1996) diacu dalam Hardansyah 2004, terdapat tiga macam tabel volume yang
dapat digunakan untuk menduga volume pohon yaitu tabel volume lokal, tabel
volume standar, dan tabel volume kelas bentuk. Masing-masing tabel volume
tersebut menggunakan parameter yang berbeda-beda dalam penyusunannya.

9

2.5 Jenis Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat
2.5.1 Pinus
Pinus merkusii Jungh et de Vriese, merupakan salah satu jenis anggota
famili Pinaceae. Pohon ini biasanya juga disebut dengan pohon damar batu, damar
bunga, huyam, kayu sala, kayu sugi, uyam, dan tusam (Sumatera) atau pinus
(Jawa). Tinggi pohon pinus dapat mencapai 20–40 m dengan panjang batang
bebas cabang 2–23 m, diameter 100 cm, dan tidak berbanir. Pinus dapat tumbuh
pada tanah yang kurang subur, tanah berpasir dan tanah berbatu, tetapi tidak dapat
tumbuh dengan baik pada tanah becek. Kayu pinus memiliki sifat fisis di
antaranya memiliki berat jenis 0,55 (0,40–0,75) dan termasuk kelas kuat III
(Martawijaya et al. 2005b).

2.5.2 Agathis
Agathis spp. merupakan salah satu famili Araucariaceae. Pohon ini juga
biasanya disebut pohon damar sigi, kayu sigi (Sumatra); damar, kidamar (Jawa);
bindang, damar bindang, damar pilau (Kalimantan); dama, damar kapas, damar
wana, hulu sinua (Sulawesi); damar puti, damar raja, koano, (Maluku); damar
putih, damar papeda, kesi, kosima. Tinggi pohon dapat mencapai 55 m, panjang
batang bebas cabang 12–25 m, diameter mencapai 150 cm atau lebih, bentuk
batang silindris dan lurus. Damar memiliki tajuk berbentuk kerucut dan berwarna
hijau dengan percabangan mendatar melingkari batang. Kulit luar pohon damar
berwarna kelabu sampai coklat tua, mengelupas kecil-kecil berbentuk bundar atu
bulat telur. Pohon ini berbanir, mengeluarkan damar yang lazim disebut kopal.
Pohon damar memiliki berat jenis dan kelas kuat sebagai berikut:
Tabel 1 Berat jenis dan kelas kuat pohon agathis
Jenis

Berat jenis

Kelas kuat

Agathis alba

0,48 (0,43–0,54)

III

Agathis borneensis

0,47 (0,36–0,64)

III

Agathis labillardieri

0,47 (0,42–0,52)

III

Pohon damar tumbuh dalam hutan primer pada tanah berpasir, berbatubatu atau liat yang selamanya tidak digenangi air, pada ketinggian 2–1.750 m dari
permukaan laut (Martawijaya et al. 2005a).

10

2.5.3 Mahoni
Swietenia spp. merupakan salah satu famili Meliaceae yang meliputi dua
jenis yaitu Swietenia macrophylla King (mahoni daun besar) dan Swietenia
mahagoni Jacq. (mahoni daun kecil). Pohon ini tersebar diseluruh Jawa. Tinggi
pohon dapat mencapai 35 m, diameter sampai 125 cm. Pohon mahoni bentuk
silindris, tidak berbanir, dan tajuk membulat. Pohon mahoni daun besar memiliki
berat jenis 0,61 (0,53–0,67) dan mahoni daun kecil memiliki berat jenis 0,64
(0,56–0,72). Mahoni dapat tumbuh baik di daerah dengan musim kemarau yang
basah maupun kering, yaitu pada tipe curah hujan A–D. Jenis ini tumbuh pada
tanah yang agak liat dan kurus dengan ketinggian sampai 1000 mdpl
(Martawijaya et al. 2005a).

2.5.4 Sengon
Paraserianthes falcataria (L.) merupakan salah satu famili Mimosaceae.
Pohon ini juga biasanya disebut jeungjing atau sengon laut. Daerah penyebaran
sengon yaitu seluruh Jawa (tanaman), Maluku, Sulawesi Selatan, dan Irian Jaya.
Tingi pohon sampai 40 m dengan panjang batang bebas cabang 10–30 m,
diameter sampai 80 cm. Sengon memiliki kulit luar berwarna putih atau kelabu,
tidak beralur, tidak mengelupas, dan tidak berbanir. Sengon memiliki berat jenis
0,33 (0,24–0,49) dan kelas IV–V. Sengon dapat tumbuh pada tanah yang tidak
subur dan agak sarang, tanah kering maupun becek atau agak asin. Tanaman muda
tahan kekurangan zat asam sampai 31,5 hari. Jenis ini menghendaki iklim basah
sampai agak kering, pada daratan rendah hingga ke pegunungan sampai
ketinggian 1.500 mdpl (Martawijaya et al. 2005b).

2.5.5 Puspa
Schima wallichii Korth. merupakan salah satu famili Theaceae. Pohon ini
sering juga disebut merang salau atau madang gatal. Daerah penyebaran jenis ini
di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Tinggi pohon dapat mencapai 40 m dengan
panjang batang bebas cabang sampai 25 m, diameter sampai 250 cm. Pohon puspa
tidak memiliki banir, kulit luar berwarna merah muda, merah tua sampai hitam,
beralur dangkal dan mengelupas, kulit hidup tebalnya sampai 15 mm berwarna

11

merah dan di dalamnya terdapat miang yang gatal. Puspa memiliki berat jenis dan
kelas kuat sebagai berikut:
Tabel 2 Berat jenis dan kelas kuat pohon puspa
Jenis

Berat jenis

Kelas kuat

Schima wallichii ssp bancana

0,69 (0,62–0,79)

II

Schima wallichii ssp crenata

0,66 (0,56–0,83)

II

Schima wallichii ssp noronhae

0,62 (0,45–0,72)

II

Schima wallichii ssp oblata

0,71 (0,61–0,92)

II

Puspa tumbuh pada tanah kering dan tidak memilih keadaan tekstur dan
kesuburan tanah, sehingga baik untuk reboisasi padang alang-alang, belukar dan
tanah kritis. Jenis ini memerlukan iklim basah sampai agak kering dengan tipe
curah hujan A–C, pada dataran rendah sampai di daerah pegunungan dengan
ketinggian sampai 1000 mdpl (Martawijaya et al. 2005b).

2.5.6 Rasamala
Altingia excelsa Noronhae. merupakan salah satu familli Hamamalidaceae.
Pohon ini juga sering disebut mala, rasamala, rasamala gadog. Daerah penyebaran
rasamala di Sumatra dan Jawa Barat. Tinggi pohon sampai 50 m dengan panjang
batang bebas cabang 15–30 m, diameter sampai 150 cm, dan berbanir. Rasamala
memiliki kulit luar berwarna coklat muda atau kelabu merah dan sedikit
mengelupas. Pohon rasamala memiliki berat jenis 0,81 (0,61–0,90) dan kelas kuat
II. Rasamala tumbuh pada tanah sarang, tanah berpasir atau tanah berbatu, dan
lebih menyukai tanah yang subur, umumnya pada lapangan yang miring di kaki
bukit dan pegunungan. Jenis ini menghendaki iklim basah dan kemarau yang
sedang dengan tipe curah hujan A–B pada ketinggian 500–1500 mpdl
(Martawijaya et al. 2005b).

2.5.7 Sonokeling
Dalbergia latifolia Roxb. merupakan famili Papilionaceae. Jenis ini tersebar
di seluruh Jawa. Sonokeling memiliki tajuk berbentuk bulat dan berdaun jarang.
Tinggi pohon sampai 43 m dengan panjang batang bebas cabang 3–5 m, diameter
dapat mencapai 150 cm, batang umumnya tidak lurus, kebanyakan berlekuk, dan

12

tidak berbanir. Sonokeling berkulit luar putih dan mengelupas kecil-kecil. Berat
jenis sonokeling adalah 0,83 (0,77–0,86). Sonokeling tumbuh di daerah dengan
musim kemarau sedang sampai kering (paling tinggi 30 hari hujan dalam 4 bulan
terkering). Jenis ini masih dapat tumbuh pada tanah jelek, berbatu-batu dan keras,
pada ketinggian 0–600 mdpl (Martawijaya et al. 2005a).

2.5.8 Meranti
Shorea spp. merupakan salah satu famili Dipterocarpaceae. Pohon ini sering
juga disebut meranti, banio, lampung, merkuyung. Penyebaran meranti di
Sumatra, Kalimantan dan Maluku. Tinggi pohon dapat mencapai 50 m dengan
panjang batang bebas cabang sampai 30 m, diameter umumnya 100 cm. Meranti
memiliki banir berukuran tinggi 3,5 m; lebar 2,5 m; dan tebal 20 cm. Kulit luar
berwarna kelabu atau coklat dengan tebal lebih kurang 5 mm. Jenis ini memiliki
berat jenis 0,52 (0,30–0,86) dan kelas kuat III–IV. Meranti tumbuh dalam hutan
hujan tropis dengan tipe curah hujan A,B,C. Jenis ini tumbuh pada tanah latosol,
podsolik merah-kuning dan podsolik kuning pada ketinggian sampai 1300 mdpl
(Martawijaya et al. 2005a).

2.5.9 Kayu Afrika
Maesopsis eminii termasuk ke dalam famili Rhaminaceae dengan nama
perdagangan setempat musici sedangkan di Indonesia dikenal dengan nama kayu
afrika. Tanaman ini memiliki tajuk yang besar, tinggi pohon dapat mencapai 43 m
dan diameter 120 cm serta dapat mencapai umur 200 tahun. Tumbuh pada daerah
bergunung dengan ketinggian kira-kira 100 m dengan curah hujan tahunan
bervariasi antara 1000–2000 mm. Kayu ini memiliki berat jenis kering udara
berkisar 0,34–0,46 dan termasuk kedalam kelas kuat III–IV. Jenis ini merupakan
tanaman perintis karena kecambah dan semainya dapat bertahan di bawah tajuktajuk hutan selama beberapa bulan dan membutuhkan celah tajuk yang lebar
untuk tumbuh.

13

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW),
Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus
sampai September 2011.

3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini berupa data inventarisasi
tegakan hutan Agathis lorantifolia (agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima
wallichii (puspa), Maesopsis eminii (kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada
di HPGW yang terletak di Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten
Sukabumi, Propinsi Jawa Barat.
Peralatan yang digunakan dalam melakukan penelitian ini adalah peta
rancangan sampling HPGW, pita ukur, tambang plastik, kompas, GPS (Global
Potisioning System), alat tulis, tally sheet, range finder, parang, kalkulator,
komputer (yang dilengkapi dengan software MS Word, MS Excel) dan software
Arc View 3.2.
Data penunjang yang digunakan dalam penelitian terdiri dari:
1. Peta HPGW berupa peta letak dan luas areal, peta tutupan dan penggunaan
lahan, serta peta sebaran potensi tegakan.
2. Data informasi iklim, tanah dan geologi, keadaan lapangan serta keadaan hutan
di HPGW.

3.3 Tahapan Pelaksanaan
Penelitian ini dilakukan dengan tahapan seperti diilustrasikan dalam
Gambar 1. Tahapan dalam kegiatan penelitian ini secara umum terdiri dari
persiapan dan pengambilan data lapangan, pengolahan data lapangan, serta
pendugaan biomassa dan karbon di atas tanah.

14

Persiapan dan pembuatan
rancangan sampling

Mulai

Pengukuran di
lapangan

Diameter batang
(Dbh) pohon (cm)

Tinggi total
pohon (m)

Persamaan alometrik
penduga biomassa

Pendugaan
volume

Persamaan ketterings
penduga biomassa

Nilai potensi biomassa
dan karbon

Pendugaan tanpa
stratifikasi

Pendugaan dengan
stratifikasi

Stratifikasi berdasarkan nilai
potensi

Stratifikasi berdasarkan jenis
vegetasi

Pendugaan potensi
volume, biomassa,
dan karbon
Selesai
Gambar 1 Diagram alir penelitian.

15

Secara rinci, metode yang diterapkan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai
berikut:
3.3.1 Persiapan dan Pengambilan Data Lapangan
Persiapan yang dilakukan sebelum melaksanakan penelitian ini diantaranya
adalah perencanaan rancangan sampling untuk inventarisasi hutan di HPGW oleh
divisi penelitian dan pengembangan HPGW. Pengambilan data lapangan
direncanakan di atas peta kerja HPGW. Pengambilan data dilakukan dengan
membuat plot contoh di lapangan dengan teknik systematic sampling with random
start (penarikan contoh sistematik dengan pengacakan awal). Plot contoh diambil
secara sitematik menurut aturan atau pola tertentu dengan plot contoh pertama
dipilih secara acak dari populasi. Pola yang digunakan berupa grid berbentuk
bujur sangkar yang dirancang pada peta HPGW dengan jarak antar plot 150 m
untuk memperoleh keterwakilan yang tinggi. Plot contoh yang digunakan dalam
penelitian ini adalah sebanyak 142 plot. Total plot contoh yang dibuat langsung
dilapangan adalah sebanyak 48 plot sedangkan sisanya diperoleh dari data hasil
inventarisasi hutan di HPGW tahun 2011 sebanyak 94 plot. Sebaran plot
penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2 Peta sebaran plot penelitian.

16

Pengambilan data lapangan dilakukan pada tegakan Agathis lorantifolia
(agathis), Pinus merkusii (pinus), Schima wallichii (puspa), Maesopsis eminii
(kayu afrika), dan tegakan campuran yang ada di HPGW. Plot contoh yang
digunakan berbentuk lingkaran karena mudah dibuat dan mudah menentukan
pohon batas. Sutaraharja (1999) diacu dalam Noronhae (2007) menyatakan bahwa
ukuran satuan contoh untuk bentuk circular dan rectangular plot dinyatakan dalam
luasan tertentu dalam satuan hektar, misalnya 0,02 ha; 0,004 ha; 0,005 ha; 0,10
ha, dsb. Pada penelitian ini, plot contoh yang digunakan adalah plot contoh
dengan jari-jari 17,8 m yang mewakili luas 0,1 ha.
Pemilihan titik pengukuran lapangan dilakukan berdasarkan peta areal
HPGW. Pemilihan titik dilakukan dengan metode systematic sampling with
random start. Koordinat titik pengamatan di lapangan ditentukan dengan
menggunakan GPS (Global Positioning System) sesuai dengan rancangan
sampling yang telah dibuat pada peta kerja.
Parameter tegakan yang diukur pada plot-plot contoh berupa diameter
pohon setinggi dada (Dbh) ≥ 10 cm, tinggi total pohon (Tt), jenis pohon, kondisi
pohon (mati pucuk, kurus, berpenyakit), kondisi batang (bercabang, lurus, rusak,
dan jumlah koakan /sadapan). Diameter batang (Dbh) pohon dan tinggi total (Tt)
diukur untuk menduga volume. Sedangkan untuk menduga potensi biomassanya
hanya digunakan data diameter melalui persamaan alometrik.

3.3.2 Pengolahan Data
3.3.2.1 Pendugaan Volume
Pendugaan volume pohon dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai
cara tergantung pada jenis pohonnya (hardwood atau conifer), dimensi tinggi
(pohon berdiri atau log), dan bentuk geometris batang (silinder, neiloid, parabola,
kerucut). Rumus-rumus yang umum digunakan untuk menghitung volume pohon
adalah rumus Huber, Smalian, dan Newton. Selain rumus-rumus tersebut juga
dapat digunakan tabel volume baik tabel volume lokal maupun tabel volume
standar dan tabel volume kelas bentuk. Pada penelitian ini, menggunakan
persamaan tabel volume yang telah dikembangkan oleh peneliti terdahulu di

17

HPGW untuk menduga volume pohon. Persamaan penduga volume tersebut
disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 Persamaan penduga volume pohon di HPGW
Jenis

Persamaan

Sumber

Puspa

V = -0,9344 + 5,4816 D + 0,0080 H

(LPIPB 1985)

Mahoni

V = -1,0330 + 5,4816 D + 0,0080 H

(LPIPB 1985)

Pinus

V = 10,3265 * –e

(Wardasanti 2011)

Agathis
Jenis lainnya

e^(1,9928-0,0339D)

V = 0,00008872 D
V = 0,0000091 D

2,658

1,54

H

(Siagian 2011)
1,64

(LPIPB 1985)

Keterangan:
Untuk puspa dan mahoni: D = dbh (m), T = tinggi total (m)
Untuk jenis lainnya :
D = dbh (cm), T = tinggi total (m)
V = volume tegakan (m3)
D = diameter setinggi dada (cm)
H = tinggi total pohon (m)
e = eksponensial

3.3.2.2 Model Pendugaan Biomassa Tegakan
Pendugaan potensi biomassa dalam penelitian ini menggunakan persamaan
alometrik karena dalam pembuatan model penduga biomassa memerlukan tenaga,
waktu, dan biaya yang besar. Selain itu, persamaan alometrik bersifat universal
sehingga akan memudahkan dalam pengestimasian biomassa tanaman yang
tumbuh pada beberapa daerah berbeda. Persamaan alometrik pada masing-masing
jenis pohon berbeda satu sama lain. Persamaan-persamaan alometrik yang
digunakan dalam penelitian ini didapat dari penelitian terdahulu tentang
pendugaan biomassa masing-masing jenis pohon sehingga memberikan hasil
dugaan yang akurasinya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Adapun
persamaan alometrik yang digunakan dalam penelitian ini disajikan pada Tabel 4.

18

Tabel 4 Berbagai model persamaan alometrik untuk menduga biomassa tegakan
di HPGW
No

Jenis pohon

1

Mangium
(Acacia mangium)
Agathis
(Agathis lorantifolia)
Pinus
(Pinus merkusii)
Mahoni
(Swietenia macrophylla)
Meranti
(Shorea leprosula)
Puspa
(Schima wallichii)
Jati
(Tectona grandis)
Sengon
(Paraserianthers falcataria)

2
3
4
5
6
7
8

Model persamaan
alometrik

Sumber

W = 0,0528 (D2)1,3612

(Heriansyah et al. 2003 diacu
dalam Masripatin et al. 2010)

W = 0,3406 D2,0467

(Siregar & Dharmawan 2007)

2,26

W = 0,206 D
W = 0,066 D2,13 H0,257

(Hendra 2002)

W = 0,048 D2,68

(Adinogroho 2002)

W = 0,058 D2,62

(Handayani 2003)

1,9978

W = 0,4594 D
W = 0,0727 (D2H)0,8993

(Salim 2005)

W = 0.2759 D2.2227

(Hendri 2001 diacu dalam
Tiryana et al. 2011)

W = 0.1479 D2.2989

(Hairiyah & Rahayu 2007)

Biomassa yang diukur dalam penelitian ini merupakan biomassa di atas
permukaan tanah (above-ground biomass) dari berbagai tegakan yang ada di
HPGW. Persamaan alometrik untuk menaksir biomassa di atas permukaan tanah
untuk jenis-jenis pohon yang ada di HPGW sangat terbatas sehingga untuk jenis
pohon yang tidak ada persamaan alometriknya digunakan persamaan alometrik
yang bersifat universal seperti yang dikemukakan oleh Ketterings et al. (2001)
yaitu sebagai berikut:
W = 0,11 ρ D 2,62 ...................................................................... (3)
Keterangan :
W
= biomassa (kg/pohon)
ρ
= massa jenis pohon (kg/cm3)
D
= diameter setinggi dada (1,3 m)
Persamaan tersebut menggunakan variabel diameter dan kerapatan kayu masingmasing jenis secara spesifik sehingga bisa meminimalkan kesalahan pengukuran.
Tabel 5 menyajikan kerapatan kayu jenis-jenis pohon yang ada di HPGW.

19

Tabel 5 Kerapatan kayu berbagai jenis pohon di HPGW
Nama lokal

Nama botani

Wood density
(g/cm3)

Sumber

Ampelas

(Ficus ampelas)

0,48

Beringin

(Ficus benjamina)

0,52

(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Anonim 1981)

Ficus

(Ficus sp.)

0,47

Prosea 5(3) p:233

Jambu

0,73

Prosea 5(2) p:442

0,73

(Anonim 1981)

Jenis lain

(Syzygium sp)
(Pithecelobium
rosulatum)
-

0,57

Kayu afrika

(Maesopsis eminii)

0,42

Brown (data from reyes et al. 1992)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Ginoga 1978)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)

Jengkol

Kenanga

(Cinnamomum
burmani)
(Cananga ordorata)

Kepuh

(Sterculia foetida)

0,64

Keruing

(Dipterocarpus
elongatus)

0,67

Ketapang

(Terminalia catappa)

0,65

Kayu manis

0,57
0,38

(Martawijaya et al. 1992)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
prosea 5(2)p:442

Ki sireum

(Macaranga
rhizinoides)
(Eugenia cymosa)

Ki teja

(Machilus rimosa)

0,59

Laban

(Vitex pubescens)

0,88

Sonokeling

(Dalbergia latifolia)

0,83

Macaranga

(Macaranga sp)

0,5

Mangga

(Mangifera indica)

0,67

Mindi

(Melia azedarach)
(Callophyllum
inophyllum)

0,53

Prosea 5(3) p:340
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Martawijaya et al. 1992)

0,69

(Martawijaya et al. 1992)

Pasang

(Quercus sundaicus)

0,58

Petai cina

(Leucaena leucephala)

0,82

(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Anonim 1981)

Pulai

(Alstonia scholaris)

0,30

(Martawijaya et al. 1992)

Rambutan

(Nephelium lappaceum)

0,91

(Anonim 1981)

Rasamala

(Altingia exelsa)

0,81

(Anonim 1981)

Resak

(Vatica rassak)

0,6

Sempur

(Dillenia aurea)

0,76

Sukun

(Artocarpus communis)

0,40

Sungkai

(Peronema canescens)

0,52

(Martawijaya et al. 1992)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Martawijaya et al. 1992)

Tangkalak

(Litsea sebifera)

0,72

Teureup

(Artocarpus elastica)

0,44

Waru laut

(Hibiscus tiliaceus)

0,54

Ki huru

Nyamplung

0,39
0,73

(http://www.thewoodexchange.info)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Martawijaya et al. 1992)

Prospect: The Wood Database Version 2.1
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)
(Oey Djoen Seng 1951) in Soewarsono
(1990)

Sumber://www.worldagroforestry.org/sea/products/afdbases/wd/index.htm

20

Terdapat beberapa jenis pohon yang tidak diketahui kerapatan kayu
lokalnya seperti apus, dara uncal, ramu giling, harendong dan jenis lainnya
sehingga digunakan kerapatan pohon di Asia seperti yang dikemukakan Brown
(1997) diacu dalam Ketterings et al. (2001) yaitu 0,57 g/cm3.

3.3.2.3 Pendugaan Karbon Hutan
Nilai biomassa yang diperoleh dari hasil perhitungan dapat digunakan untuk
menduga potensi karbon yang tersimpan dalam vegetasi hutan. Karbon
merupakan produk dari produksi biomassa yang terbentuk dikurangi dengan total
yang hilang melalui jaringan akar halus, cabang, dan daun serta penyakit, sisanya
tergabung di dalam struktur yang tersimpan dalam pohon (Johnson et al. 2001
diacu dalam Onrizal 2004). Karbon merupakan komponen penyusun biomassa
tanaman, kandungannya sekitar 45–50% bahan kering dari tanaman. Berdasarkan
hasil konferensi IPCC (2006), fraksi karbon dari biomassa hutan yaitu 0,47
sehingga untuk mengetahui potensi karbon (ton C/ha) dalam hutan dapat diduga
dengan mengalikan biomassa hutan dengan fraksi karbon tersebut.
C = W * 0,47............................................................................. (4)
Keterangan :
C
= karbon
W
= biomassa (kg/pohon)
0,47 = fraksi karbon
3.3.2.4 Analisis Data
Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon pada penelitian
ini menggunakan dua metode yaitu metode pendugaan tanpa stratifikasi dan
metode pendugaan dengan strafitikasi. Metode pendugaan tanpa stratifikasi
menggunakan systematic sampling with random start seperti dalam pengambilan
plot contoh. Pada metode tersebut pendugaan parameter dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus-rumus simple random sampling (SRS) (Shiver & Borders
1996) yaitu sebagai berikut:
a. Penduga nilai tengah/rata-rata populasi (μ) :
=

sy =

............................................................ (5)

21

b. Ragam dugaan bagi

(

=

):
; dimana :

=

............ (6)

c. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi nilai tengah/rata-rata populasi :
=

..................................................... (7)

sy

d. Penduga total populasi ( ) :
= N.

............................................................................... (8)

e. Ragam dugaan bagi total populasi (
= N2.

=

=>

)
= N2

................ (9)

f. Selang kepercayaan (1-α).100% bagi total populasi :
Y=

......................................................... (10)

±

atau dapat dihitung dari selang kepercayaan bagi rata-rata :
.......................................... (11)

N.

g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error, SE)
..................................... (12)

SE =
Keterangan:
yi
= nilai pada plot contoh ke-i
= ragam contoh
n
= ukuran contoh
N
= ukuran populasi

Selain menduga tanpa stratifikasi, juga dilakukan
stratifikasi

setelah

semua

data

hasil

penelitian

metode dengan

dilapangan

terkumpul

(poststratification). Poststratification dilakukan karena kondisi tegakan di HPGW
yang cenderung heterogen, yaitu bervariasi dalam hal umur, komposisi jenis,
kualitas tempat tumbuh (bonita), topografi dan lain sebagainya. Pada metode ini,
terlebih dahulu dilakukan stratifikasi populasi yang akan diduga potensi volume,
biomassa, dan cadangan karbonnya menjadi beberapa stratum yang kondisinya
relatif homogen dan tidak saling tumpang tindih (overlap). Stratifikasi yang
digunakan pada penelitian ini yaitu stratifikasi berdasarkan sebaran nilai volume
dan biomassa tegakan serta berdasarkan jenis vegetasi. Stratifikasi tersebut dipilih

22

untuk mengurangi keragaman sehingga menghasilkan nilai dugaan yang lebih
akurat.
Pada stratifikasi berdasarkan nilai potensi, stratifikasi dilakukan dengan
terlebih dahulu menduga sediaan tegakan pada lokasi-lokasi yang tidak terwakili
oleh plot

contoh

menggunakan teknik interpolasi

permukaan

(surface

interpolation). Interpolasi permukaan adalah suatu teknik untuk menghitung nilai
diantara dua atu lebih titik yang secara spasial berdekatan (Jaya et al. 2010). Data
dari plot-plot contoh yang telah diukur kemudian ditransformasikan menjadi
informasi petak. Metode interpolasi permukaan umumnya dilakukan dengan dua
metode yaitu metode Inverse Distance Weighted (IDW) atau Invers Jarak
Tertimbang dan spline. Akan tetapi, pada penelitian ini digunakan metode IDW
karena metode ini menghasilkan kisaran estimasi sediaan yang mendekati kondisi
aktualnya di lapangan dengan kesalahan relatif rendah (Jaya et al. 2010).
Berdasarkan hasil interpolasi tersebut kemudian dilakukan stratifikasi.
Untuk stratifikasi berdasarkan nilai potensi volume, areal dengan kisaran nilai
volume yang sama dijadikan sebagai satu stratum begitu pula pada stratifikasi
berdasarkan biomassa. Areal dengan kisaran nilai biomassa yang sama dijadikan
sebagai satu stratum. Sedangkan untuk pendugaan cadangan karbonnya,
digunakan stratifikasi berdasarkan nilai potensi biomassa. Hal ini dikarenakan
hasil pendugaan cadangan karbon pada tegakan merupakan hasil pengolahan data
biomassa. Sehingga setiap penambahan kandungan biomassa akan diikuti oleh
penambahan kandungan karbon dan apapun yang menyebabkan peningkatan
ataupun penurunan biomassa maka akan menyebabkan peningkatan ataupun
penurunan kandungan karbon. Selain dilakukan stratifikasi berdasarkan nilai
volume dan biomassa, juga dilakukan stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi yang
ada di lokasi penelitian. Untuk stratifikasi berdasarkan jenis vegetasi, areal dengan
jenis vegetasi yang sama dijadikan sebagai satu stratum.
Nilai-nilai dugaan bagi rata-rata per hektar dan total potensi biomassa dan
karbon dihitung berdasarkan potensi pada setiap stratum serta keseluruhan
populasi tegakan HPGW dengan menggunakan metode stratified systematic
sampling with random start. Menurut Cochran (1997), Shiver and Borders (1996),
Tiryana (2003), Vries (1986) diacu dalam Tiryana (2005) rumus-rumus yang

23

digunakan dalam metode pendugaan biomassa dan karbon dengan metode
stratified systematic sampling with random start adalah sebagai berikut:
1. Pendugaan pada setiap stratum
a. Rata-rata potensi pada stratum ke-h:
h=

.................................................................

(13)

b. Ragam rata-rata potensi pada stratum ke-h:

=

dimana :

.................................................................

(14)

....................................

(15)

=

2. Pendugaan pada keseluruhan populasi tegakan:
a. Rata-rata potensi pada populasi:
....................................................................

=

(16)

b. Ragam rata-rata potensi pada populasi:
...........................................................

=

(17)

c. Taksiran selang bagi rata-rata potensi pada populasi:
. .................................................

±

(18)

d. Total potensi pada populasi:
= N.

...............................................................................

(19)

e. Ragam bagi total potensi pada populasi:
=

.

..........................................................................

(20)

f. Taksiran selang bagi total potensi pada populasi:
±

atau N.

.........................................................

(21)

.......................................

(22)

g. Kesalahan penarikan contoh (sampling error)
SE =

..................................................

(23)

24

Keterangan:
yh,i = nilai potensi pada stratum ke-h dan plot contoh ke-i
= ragam contoh pada stratum ke-h
nh = ukuran contoh pada stratum ke-h
Nh = ukuran stratum ke-h
N = ukuran populasi
L = jumlah stratum

25

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Status dan Peran Kawasan
Pada awalnya Hutan Pendidikan Gunung Walat adalah areal kawasan hutan
seluas ± 359 ha yang peruntukannya sebagai Hutan Pendidikan dengan status hak
pinjam pakai. Ketentuan tersebut didasarkan atas:
1. Surat Keputusan Kepala Jawatan Kehutanan Provinsi Jawa Barat tanggal 14
oktober 1969 No.7041/IV/2/69.
2. Surat Direktorat Jenderal Kehutanan tanggal 24 Januari 1973 No.291/05/79.
3. Surat Keputusan Menteri Pertanian No.008/Kpts/Dj/73.
4. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.687/Kpts-II/92.
Setelah melalui proses panjang sejak tahun 1996, akhirnya pada tahun 2005
status

kawasan

HPGW

dikuatkan

dengan

diterbitkannya

SK

Menhut

No.188/Menhut–II/2005, yang menetapkan fungsi hutan kawasan HPGW seluas
359 ha sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dan
pengelolaanya diserahkan kepada Fakultas Kehutanan IPB dengan tujuan khusus
sebagai Hutan Pendidikan (Badan Eksekutif HPGW 2010).

4.2 Letak dan Posisi Geografis
HPGW secara geografis terletak pada 106˚48’27”BT sampai 106˚50’29”BT
dan -6˚54’23”LS sampai -6˚55’35”LS. Secara administrasi pemerintahan
termasuk dalam wilayah Kecamatan Cicantayan dan Cibadak, Kabupaten
Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. Dalam administrasi kehutanan areal HPGW
termasuk BKPH Gede Barat, KPH Sukabumi, Unit III Jawa Barat Perum
Perhutani (Badan Eksekutif HPGW 2010).
HPGW berbatasan dengan Desa Batununggal dan Sekarwangi di bagian
Utara, Desa Cicantayan dan Desa Cijati di bagian Timur, Desa Hegarmanah di
bagian Selatan dan di bagian Barat (Badan Eksekutif HPGW 2010).
HPGW memiliki luas 359 ha, dibagi ke dalam 3 blok yaitu blok Cikatomas
dengan luas 120 ha yang terletak di bagian Timur, blok Cimenyan dengan luas
125 ha yang terletak di bagian Barat dan blok Tengkalak/Seusepan dengan luas

26

114 ha yang terletak di bagian Tengah dan di bagian Selatan (Badan Eksekutif
HPGW 2010).

4.3 Topografi
HPGW terletak pada ketinggian 460–715 mdpl. Kondisi topografi mulai
dari agak curam (15–25%) sampai sangat curam (>40%). Bagian selatan
merupakan daerah yang bergelombang mengikuti punggung-punggung bukit yang
memanjang dan melandai dari Utara ke Selatan. Di bagian tengah terdapat puncak
dengan ketinggian 676 mdpl (Badan Eksekutif HPGW 2010).

4.4 Geologi dan Jenis tanah
HPGW terbentuk oleh batuan sedimen tersier bawah (oligosen) yang
tersusun oleh batu pasir kuarsa yang berlapiskan silang konglomerat kerakal
kuarsa lempung, lignit lapisan-lapisan arang tipis. Gunung Walat mengandung
bebatuan alam yang terdiri dari batuan sedimen vulkanik berwarna hijau semu
abu-abu, membentuk seri lapisan yang sangat tebal. Gunung Walat terdiri dari
lapisan tufa dasit yang pada horizon tertentu diselingi dengan batuan tufa andesit,
yang merupakan bagian dari ”Breksi tua” yang berumur meosin. Keadaan Gunung
Walat merupakan pulau meosin di tengah-tengah formasi batuan vulkanik kuarter
yang berasal dari Gunung Salak dan Gunung Gede (Badan Eksekutif HPGW
2010).
Jenis tanah Gunung Walat adalah keluarga tropophumult tipik (lotosol
merah kekuningan), tropodult (latosol coklat), dystropept tipik (podsolik merah
kekuningan) dan troporpent lipik (latosol). Tanah latosol merah kekuningan
adalah jenis tanah yang terbanyak sedangkan di daerah berbatu hanya terdapat
tanah latosol, dan di daerah lembah terdapat tanah podsolik (Badan Eksekutif
HPGW 2010).

4.5 Iklim dan Hidrologi
Klasifikasi iklim daerah Gunung Walat menurut Schmidt dan Ferguson
termasuk tipe B, dengan nilai Q=14,3% 33% dan banyaknya curah hujan tahunan

27

berkisar antara 1600–4000 mm. Suhu udara maksimum di siang hari 29˚C dan
minimum 19˚C di malam hari (Badan Eksekutif HPGW 2010).
Gunung Walat dilalui beberapa aliran sungai yang umumnya mengalir ke
arah Selatan dan berair sepanjang tahun yaitu anak sungai Cipeureu, Citangkalak,
Cikabayan, Cikatomas, dan Legok Pusar yang merupakan sumber air bersih bagi
masyarakat sekitarnya. Kawasan Gunung Walat termasuk ke dalam sistem
pengelolaan DAS Cimandiri (Badan Eksekutif HPGW 2010).

4.6 Vegetasi Hutan
Tegakan HPGW terdiri dari tanaman agathis (Agathis loranthifolia), pinus
(Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), sengon (Paraserianthes falcataria),
mahoni (Swietenia macrophylla) dan jenis lainnya seperti kayu afrika (Maesopsis
eminii), rasamala (Altingia excelsa), sonokeling (Dalbergia latifolia), mangium
(Acacia mangium), dan meranti (Shorea leprosula). Selain itu terdapat 44 jenis
tumbuhan, termasuk 2 jenis rotan dan 13 jenis bambu dan juga terdapat jenis
tumbuhan obat sebanyak 68 jenis (Badan Eksekutif HPGW 2010).
Berdasarkan hasil inventarisasi hutan tahun 1984, HPGW memiliki potensi
10.855 m3 kayu Agathis lorantifolia (agathis), 9.471 m3 kayu Pinus merkusii
(pinus), 464 m3 Schima wallichii (puspa), 132 m3 Paraserianthes falcataria
(sengon) dan 88 m3 kayu Swietenia macrophylla (mahoni). Di HPGW juga
ditemukan lebih dari 100 pohon plus damar, pinus, kayu afrika sebagai sumber
benih dan bibit unggul. Tanaman damar dan pinus telah menghasilkan getah kopal
dan getah pinus (Badan Eksekutif HPGW 2010).

4.7 Kehidupan Satwa Liar
Di areal HPGW terdapat beraneka ragam jenis satwa liar yang meliputi
jenis-jenis mamalia, reptilia, burung, dan ikan. Dari kelompok jenis mamalia
terdapat monyet ekor panjang, babi hutan, tupai, trenggiling, kelinci liar, meong
congkok, musang. Dari kelompok jenis burung (aves) terdapat sekitar 20 jenis
diantaranya adalah elang jawa, kutilang, emprit, dll. Jenis-jenis reptilia antara lain
biawak, ulat, dan bunglon. Terdapat juga berbagai jenis ikan sungai seperti ikan

28

lubang (sejenis lele yang memiliki warna agak merah). Selain itu terdapat pula
lebah hutan (tawon gung, odeng, apis dorsata) (Badan Eksekutif HPGW 2010).

4.8 Kependudukan
Penduduk di sekitar HPGW umumya memiliki mata pencaharian sebagai
petani, peternak, tukang ojek, pedagang hasil pertanian, dan bekerja sebagai buruh
pabrik. Pertanian yang dilakukan berupa sawah lahan basah dan lahan kering.
Jumlah petani penggarap yang dapat ditampung dalam program agroforestry
HPGW sebanyak 300 orang petani penggarap. Hasil pertanian dari lahan
agroforestry seperti singkong, kapolaga, pisang, cabe, padi gogo, kopi, sereh, dll.
Jumlah ternak domba/kambing di sekitar HPGW sebanyak 1875 ekor, jika setiap
ekor domba/kambing memerlukan 5 kg rumput, maka diperlukan hijauan
sebanyak 9.375 ton. Hijauan pakan ternak tersebut sebagian besar berasal dari
HPGW (Badan Eksekutif HPGW 2010).
Kecamatan Cicantayan, khususnya Desa Hegarmanah juga merupakan desa
penghasil manggis dengan mutu eksport. Jumlah pohon manggis di Desa
Hegarmanah sebanyak 12.800 batang dan akan terus bertambah. Untuk menjadi
sentra produksi diperlukan 40.000 pohon (Badan Eksekutif HPGW 2010).

29

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Pendugaan Potensi Tanpa Stratifikasi
Pendugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon dari berbagai
jenis tegakan yang ada di HPGW didasarkan atas data hasil pengukuran langsung
di lapangan sebanyak 48 plot contoh dan hasil inventarisasi hutan di HPGW tahun
2011 sebanyak 94 plot contoh. Berdasarkan 142 contoh tersebut kemudian diduga
potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon tegakan tanpa stratifikasi yaitu
dengan menggunakan metode systematic sampling. Hasil dugaan tersebut
disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6

Nilai-nilai dugaan potensi volume, biomassa, dan cadangan karbon
tegakan tanpa stratifikasi

Statistik
Jumlah data

Volume

Biomassa

Karbon

142 plot

142 plot

8,64–1054,35 m /ha

28,64–516,74 ton/ha

13,46–242,87 ton/ha

14,95 m3/ha

6,40 ton/ha

3,01 ton/ha

a. Batas atas

428,08 m3/ha

213,47 ton/ha

100,34 ton/ha

b. Rata-rata

398,77 m3/ha

200,93 ton/ha

94,44 ton/ha

369,47 m /ha

188,39 ton/ha

88,54 ton/ha

a. Batas atas

153.065,75 m3

76.329,53 ton

35.874,89 ton

b.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pendugaan Potensi Volume, Biomassa, dan Cadangan Karbon Tegakan di Hutan Pendidikan Gunung Walat Sukabumi Jawa Barat