Akupunktur Medik (Studi Deskriftif Pelayanan Akupunktur Medik di Puskesmas Glugur Darat, Kecamatan Medan Timur).

Pengobatan Akupunktur Medik
(Studi Deskriptif Pelayanan Akupunktur Medik Di Puskesmas
Glugur Darat, Kecamatan Medan Timur)
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi syarat mendapat gelar
Sarjana Ilmu Sosial dalam bidang Antropologi

Disusun Oleh :

SAFIA CHAIRISA H
NIM. 050905050

DEPARTEMEN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

1
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

Halaman Persetujuan

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan :
Nama

: Safia Chairisa

NIM

: 050905050

Departemen

: Antropologi

Judul

: Pengobatan Akupunktur Medik (Studi Deskriptif Pelayanan
Akupunktur Medik di Puskesmas Glugur Darat, Kecamatan
Medan Timur)

Medan,

Juli 2011

Dosen Pembimbing

Ketua Departemen

Nurman Achmad, S.Sos. M.Soc
NIP. 19671118 1995121 002

Dr. Fikarwin Zuska
NIP. 19621220 198903 005

Dekan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prof. Dr. Badaruddin, M.Si
NIP. 196805251 992031 002

2
Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN
PENGOBATAN AKUPUNKTUR MEDIK
(Studi Deskriptif Pelayanan Akupunktur Medik di Puskesmas Glugur Darat,
Kecamatan Medan Timur)

SKRIPSI
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,
dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah ini disebut dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti lain atau tidak seperti yang saya nyatakan disini,
saya bersedia diproses secara hukum dan siap menanggalkan gelar kesarjanaan
saya.

Medan,

Juli 2011

Safia Chairisa

3
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
SAFIA CHAIRISA H. 050905050 (2011). AKUPUNKTUR MEDIK (Studi
Deskriftif Pelayanan Akupunktur Medik di Puskesmas Glugur Darat,
Kecamatan Medan Timur). Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 106 halaman, 22
tabel, 30 daftar gambar, daftar pustaka, dan 22 lampiran
Pada hakekatnya Puskesmas haruslah melaksanakan seluruh program
kesehatan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan dan
gizi masyarakat, tetapi seiring dengan krisis moneter yang berkepanjangan sejak
tahun 1997 yang melanda Indonesia, memberikan dampak segala bidang termasuk
bidang kesehatan. Menurunnya pendapatan dan daya beli masyarakat yang
diperberat oleh meningkatnya biaya pemeliharaan untuk kesehatan, tentu sangat
mengancam status gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya penduduk miskin.
Seiring dengan semangat otonomi daerah, daerah juga diberi kewenagan
untuk menyelenggarakan kegiatan birokrasi, administrasi, dan ekonomi serta juga
termasuk menyelenggarakan program kesehatan didalamnya, seperti program
pemerintah Kota Medan dengan memberikan obat-obatan gratis. Walikota Medan
bersama Dinas Kesehatan juga telah meresmikan 13 Puskesmas Rawat Inap,
berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti ratusan tenaga medis yang
terdiri dari paramedis dan perawat, 135 apoteker, 47 tenaga gizi hingga dokter
umum, dokter spesialis bedah, maupun fisioterapi telah tersedia. Semuanya
didistribusikan berdasarkan kebutuhan masing-masing dengan tingkat wilayah
pelayanan yang berbeda-beda. Salah-satunya, Puskesmas Glugur Darat yang
berstatus ISO dengan tersedianya pelayanan khusus yakni akupunktur.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa saaat ini akupunktur berfungsi sebagai
program pengembangan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Saat ini akupunktur pun menjadi layanan formal karena dasar akupunktur medik
adalah noeroscience dimana akupunktur sudah termasuk program pendidikan
dokter spesialis jadi kiranya keraguan-keraguan masyarakat terhadap akupunktur
akan menguap mengingat akupunktur medik itu sendiri adalah pengobatan
integratif yakni pemilihan titik-titik akupunktur berdasarkan evidence base yakni
hasil penelitian para ahli yang sudah dibuktikan secara ilmiah yang dapat berguna
bagi kesehatan

Kata-kata kunci: Kebudayaan, Neoroscience, Evidance base, Sel, Utama,
Pengembangan, Alternatif Medis Medicine, Medis.

4
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Syukur Alhamdulillah saya ucapkan pada Allah SWT atas kasih dan
pertolonganNya yang senantiasa melimpah bagi peneliti. Sehingga peneliti
diberikan kesehatan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini. Saya juga menyadari
dalam penulisan ini banyak pihak yang telah memberikan saran, bimbingan,
bantuan dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena
itu, saya ingin menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kedua
orangtuaku. Ayahanda Safaruddin. SE dan Ibunda tercinta Sari Anum P. Terima
kasih baik dukungan secara moril maupun materil, nasehat, doa dan perjuangan
serta motivasi yang senantiasa diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan
pendidikan sampai saat ini.
Bapak Dr. Fikarwin Zuska selaku Ketua Depatemen Antropologi dan
Drs. Agustrisno, MSP, selaku Sekretaris Departemen Antropologi Universitas
Sumatera Utara. Bapak Drs. Ermansyah M. Hum selaku dosen wali selama
menjalani pendidikan di Universitas Sumatera Utara. Terima kasih banyak untuk
waktu, saran, pengetahuan dan yang telah diberikan kepada penulis dalam
penyempurnaan skripsi ini.
Bapak Nurman Achmad S.Sos. M.soc. selaku dosen pembimbing skripsi
saya yang telah memberikan banyak waktu, bimbingan, saran, pengarahan dan
motivasi yang bermanfaat selama penyelesaian skripsi ini saya ucapkan terima
kasih juga untuk kesabarannya. Seluruh para Dosen Departemen Antropologi, Staf
Pegawai FISIP, Pegawai Perpustakaan Fakultas dan Pegawai Perpustakaan
Universitas. Saya ucapkan terima kasih dan maaf tidak bisa disebutkan satu
persatu.

5
Universitas Sumatera Utara

Kepada sahabat-sahabatku Ayumi Namira, Sharrah Rhamdani, Yeni
Farida, Andri Nugraha. Mahruzi Hazli, Seri Wedari, Tasvin Misdasi, Dani
Syahpani, Fauzi Akbar, Fari Laia, Darwin Tambunan, Fikar, Oki dan Hendra
Purwanto dan adik-adikku Indri, Hafizah, Bitha, Davi, Umar, terima kasih buat
dukungan dan bantuannya selama ini.
Untuk para informan dr. Retno, Prof. Amri Amir, dr. Cendani, Kak Kiki,
Kak Ita, dan Kak Rio. Terima kasih untuk data, informasi dan petunjuk yang
diberikan karena bagi seorang peneliti mendapatkan informan yang baik
merupakan suatu keberuntungaan. Semoga tulisan ini berguna bagi pihak-pihak
yang memerlukannya.
Sekali lagi semua pihak yang tidak sempat saya sebutkan pada kesempatan
ini, yang telah banyak membantu penulisan dan proses studi saya ucapkan terima
kasih. Semoga Allah SWT senantiasa membalas segala kebaikan yang telah
diberikan oleh semua pihak kepada saya. Menyadari atas keterbatasan saya, maka
skripsi atau hasil penelitian ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, untuk
itu koreksi dan masukan dari berbagai pihak guna penyempurnaan hasil penelitian
ini sangat saya harapkan. Semoga tulisan ini berguna bagi pihak-pihak yang
memerlukannya.

Medan, Juli 2011

Penulis

6
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Safia Chairisa lahir pada tanggal 12 November 1985 di
Medan, beragama Islam, anak dari pasangan Ayahanda
Safaruddin SE, dan Ibunda Sari Anum P. Penulis
memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Negeri (SDN)
Bulak Tinggi Jawa Barat. Selanjutnya penulis masuk
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama di SLTPN 14
Bengkulu selama satu tahun dan karena ikut orangtua
penulis kemudian melanjutkan sekolahnya di SLTPN 4. Penulis lulus pada tahun
2002. Kemudian pada tahun 2002 melanjutkan Sekolah Menengah Atas di SMA
Negeri 14 Medan. Pada tahun 2005 penulis diterima sebagai mahasiswa S-1,
Program studi Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas
Sumatera Utara. Selama mengikuti perkulihaan, penulis aktif di kegiatan seminar
yang diadakan di dalam kampus. Untuk kegiatan non-formal penulis juga
merupakan anggota INSAN sampai sekarang.

7
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Pada awalnya akupunktur berangkat dari kemampuan non-medis dan
berkembang melalui pelayanan kesehatan non-medis. Akupunkturis yang kadang
disebut juga sinse, tabib, dukun atau sebutan lain yang semacamnya, melalui suatu
perjuangan melawan cemoohan dan kecaman akhirnya telah mendapat perhatian
dari kalangan intelektual, termasuk juga kalangan medis, bahkan telah dicari
penalaran melalui ilmu pengetahuan. Lebih-lebih setelah terbukti bahwa dengan
akupunktur dapat dilakukan penyembuhan, serta perawatan yang meliputi
berbagai penyakit.
Melihat perkembangan yang demikian, alangkah bahagianya kota Medan
dengan kehadiran kalangan medis dan intelektual yang dapat memperluas
jangkauan ilmiah. Sehingga tidak perlu lagi ribut-ribut tentang terkun (dokter
dukun) dan kalangan medis serta intelektual mempunyai kemampuan lain yang
sangat bermanfaat bagi pelayanan kesehatan, ditambah lagi dengan kondisi,
dimana masyarakat kota masih membutuhkan pelayanan yang murah dengan
keadaaan mereka.
Saat ini di Kota Medan tercatat sebanyak 16 spesialis akupunktur pada
tahun 2010. Bahkan Pendidikan Dasar Akupunktur Medik yang diperuntukkan
untuk dokter umum kini di Kota Medan sudah mencapai pada angkatan X. Tidak
hanya itu saja saat inipun Puskesmas Glugur Darat membuka layanan klinik
akupunktur medik. Melihat uraian diatas, ini artinya ada kecenderungan yang
besar dalam pemanfaatan terhadap akupunktur karena itulah saya tertarik untuk
menelitinya di klinik akupunktur medik.

8
Universitas Sumatera Utara

Pada skirpsi ini saya membahas secara menyeluruh tentang pengobatan
akupunktur medik. Pembahasan ini diuraikan dari bab 1 sampai bab 5. Adapun
penguraian yang saya lakukan pada skripsi ini adalah :
Pada bab 1. Pendahuluan. Pada bab ini menguraikan garis besar penulisan
isi skripsi. Adapun diantaranya adalah latar belakang masalah, perumusan
masalah, lokasi penelitian, analisa data, serta pengalaman peneliti di lapangan
agar dapat memberi gambaran keseluruhan mengenai materi penulisan yang
dimaksud dalam skripsi ini.
Pada bab 2. Gambaran umum Puskesmas Glugur Darat. Secara umum
akan diuraikan tentang situasi dan kondisi di Puskesmas Glugur Darat, Kecamatan
Medan Timur. Adapun yang dipaparkan diantaranya adalah tentang pengertian,
fungsi, tujuan dan kedudukan, upaya dan pencatatan di Puskesmas Glugur Darat.
Semua data pada bab 2 ini diperoleh dari Puskesmas Glugur Darat.
Pada bab 3. Akupunktur menjadi bagian di Puskesmas Glugur Darat. Pada
bab ini diuraikan tentang perkembangan akupunktur, pengertian akupunktur
medik, sejarah ringkas akupunktur di Puskesmas Glugur Darat, dan perolehan
keahlian para informan yang menggunakan akupunktur sebagai cara lain atau
pilihan lain untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.
Pada bab 4. Sistem pelayanan akupunktur di Puskesmas Glugur Darat.
Pada bab ini akan diuraikan tentang proses pelayanan akupunktur berjalan di
klinik akupunktur, fungsi klinik akupunktur, dan bagaimana dokter menangani
pasiennya dengan akupunktur.

9
Universitas Sumatera Utara

Pada bab 5. Kesimpulan dan saran. Pada bab ini akan disimpulkan secara
keseluruhan dari hasil penelitian tentang sistem kesehatan, sistem pelayanan
Puskesmas Glugur Darat, dan mengenai akupunktur menjadi layanan formal.
Saya telah mencurahkan segala kemampuan, tenaga, pikiran, serta juga
waktu dalam menyelesaikan skripsi ini.

10
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN PERSETUJUAN ......................................................................... i
PERNYATAAN ORIGINALITAS .................................................................. ii
ABSTRAK ......................................................................................................... iii
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ iv
RIWAYAT HIDUP ........................................................................................... vi
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... x
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xiii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... xiv
BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah..............................................................
1.2. Tinjauan Pustaka .........................................................................
1.3. Perumusan Masalah.....................................................................
1.4. Ruang Lingkup Masalah .............................................................
1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................
1.6. Metode Penelitian ........................................................................
1.7. Lokasi Penelitian .........................................................................
BAB II. GAMBARAN UMUM PUSKESMAS
KECAMATAN MEDAN TIMUR

GLUGUR

1
6
13
14
14
15
19

DARAT

2.1. Pengertian, Fungsi, dan Tujuan Puskesmas ................................
2.1.1. Fungsi Puskesmas .............................................................
2.1.2. Tujuan Puskesmas .............................................................
2.2. Kedudukan Puskesmas ................................................................
2.3. Organisasi Puskesmas .................................................................
2.4. Situasi dan Kondisi Puskesmas Glugur Darat.............................
2.4.1. Wilayah Kerja ...................................................................
2.4.2. Letak Geografis .................................................................
2.4.3. Data Demografis ...............................................................
2.4.4. Data Kesehatan .................................................................
2.4.5. Sarana Pendukung Kesehatan ...........................................
2.4.6. Data Pendidikan ................................................................
2.4.7. Data Tempat Umum ..........................................................
2.4.8. Data Sumber Daya Manusia .............................................
2.4.9. Fasilitas Sumber Daya Manusia Puskesmas Glugur
Darat .................................................................................
2.4.10. Struktur Organisasi Puskesmas Glugur Darat .................
2.4.11. Fasilitas Fisik Puskesmas Glugur Darat..........................
2.4.11.A. Fasilitas Gedung Puskesmas .............................

20
22
23
23
25
26
27
28
28
31
32
33
34
35
36
37
38
38

11
Universitas Sumatera Utara

2.4.11.B. Fasilitas Alat-alat ...............................................
2.4.11.C. Fasilitas Obat-Obatan ........................................
2.4.11.D. Fasilitas Administrasi ........................................
2.4.11.E. Fasilitas Imunisasi .............................................
2.4.11.F. Fasilitas Kendaraan ............................................
2.5.Upaya Pencatatan dan Laporan ....................................................
2.5.1. Hasil Pencatatan dan Laporan Kunjungan Pasien.............
BAB III. AKUPUNKTUR MENJADI
GLUGUR DARAT

BAGIAN

DARI

PUSKESMAS

3.1. Perkembangan Akupunktur Medik .............................................
3.2. Pengertian Akupunktur Medik ....................................................
3.3. Sejarah Puskesmas Indonesia......................................................
3.4. Sejarah Puskesmas Glugur Darat ................................................
3.5. Sejarah Perolehan Keahlian Informan ........................................
3.5.1. Perolehan Keahlian dr. Retno ...........................................
3.5.2. Perolehan Keahlian Prof. Amri .........................................
3.5.3. Perolehan Keahlian dr. Cendani........................................
3.6. Terapi Akupunktur Sebagai Pengobatan Holistik .......................
BAB IV. SISTEM
PELAYANAN
DI
PUSKESMAS GLUGUR DARAT

KLINIK

38
40
41
41
41
41
41

45
48
49
51
61
61
68
73
79

AKUPUNKTUR

4.1. Regestrasi atau Pendaftaran ........................................................
4.1.1. Klasifikasi Pasien ..............................................................
4.1.2. Dari Loket ke Ruang Dokter .............................................
4.2. Dilakukan Anamnesa ..................................................................
4.3. Dilakukan Pemeriksaan Fisik......................................................
4.4. Dilakukan Pemberian Obat .........................................................
4.5. Dilakukan Pengambilan Obat .....................................................

83
86
88
88
90
94
95

BAB V. KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan ................................................................................. 97
5.2. Saran............................................................................................ 101
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN: 1. DAFTAR ISTILAH
2. DATA INFORMAN
3. DATA PEROLEHAN KEAHLIAN
4. FOTO SITUASI DAN KONDISI KLINIK UMUM DAN
AKUPUNKTUR PRIMA MEDISTRA DAN MEDISTRA
5. FOTO SITUASI DAN KONDISI PUSKESMAS GLUGUR
DARAT

12
Universitas Sumatera Utara

6. DENAH PUSKESMAS GLUGUR DARAT
7. BROSUR
8. SURAT-SURAT PENELITIAN

13
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
1. Tabel 2.1 Distribusi Jumlah Penduduk ....................... ………………….
2. Tabel 2.2 Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ....................
3. Tabel 2.3 Distribusi Penduduk Menurut Angkatan Kerja ........................
4. Tabel 2.4 Distribusi Peduduk Berdasarkan Suku Bangsa ........................
5. Tabel 2.5 Sasaran Kesehatan....................................................................
6. Tabel 2.6 Sarana Pendukung Kesehatan ..................................................
7. Tabel 2.7 Tenaga Kesehatan ....................................................................
8. Tabel 2.8 Tenaga Pendukung Kesehatan ................................................
9. Tabel 2.9 Sarana Pendidikan .....................................................................
10. Tabel 2.10 Fasilitas Umum ........................................................................
11. Tabel 2.11 Tenaga Kesehatan ...................................................................
12. Tabel 2.12 Tenag Non-Kesehatan ..............................................................
13. Tabel 2.13 Daftar Nama Pegawai Puskesmas Glugur Darat......................
14. Tabel 2.14 Struktur Organisasi Puskesmas Glugur Darat..........................
15. Tabel 2.15 Jumlah Fasilitas Gedung Puskesmas Glugur Darat .................
16. Tabel 2.16 Daftar Obat-Obatan ..................................................................
17. Tabel 2.17 Kunjungan Pederita ISPA Tahun 2009 ....................................
18. Tabel 2.18 Kunjungan Penderita DIARE Tahun 2009 ..............................
19. Tabel 2.19 Kunjungan di Poliklinik Umum Tahun 2009...........................
20. Tabel 2.20 Jumlah Kunjungan Pasien Poliklinik Gigi ...............................
21. Tabel 2.21 Jumlah Kunjuangan Layanan Klinik Akupunktur ...................
22. Tabel 2.22 Daftar Penyakit Terbesar Glugur Darat Tahun 2009 ...............

29
30
30
31
31
32
32
32
33
34
35
35
36
37
38
40
41
42
42
43
43
44

14
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
1. Gambar 1 : Angkutan Umum di Puskesmas Glugur Darat .......................
2. Gambar 2 : Waktu Pelayanan di Puskesmas Glugur Darat ......................
3. Gambar 3 : Puskesmas Glugur Darat ........................................................
4. Gambar 4 : Batu Peresmian Klinik Bersalin ............................................
5. Gambar 5 : Batu Peresmian Klinik Gigi ...................................................
6. Gambar 6 : Prestasi Yang Pernah di raih Puskesmas Glugur Darat .......
7. Gambar 7 : Halaman Belakang Puskesmas Glugur Darat ........................
8. Gambar 8 : Layanan Fisioterapi di Puskesmas Glugur Darat ...................
9. Gambar 9 : Peta Puskesmas Di Kota Medan ............................................
10. Gambar 10: Rincian Biaya Rawat Inap Puskesmas Glugur Darat .............
11. Gambar 11: Data Pasien Poli Akupunktur .................................................
12. Gambar 12 : Sertifikat Akupunktur Dasar dr. Retno .................................
13. Gambar 13 : Sertifikat Akupunktur Estetika dr. Retno...............................
14. Gambar 14 : Sertifikat Kompetensi Spesialis Akupunktur Prof Amri .......
15. Gambar 15: Brosur Pendidikan Akupunktur Medik Angkatan X.............
16. Gambar 16 : Sertifikat Akupunktur Medik Dasar dr. Cendani ...................
17. Gambar 17 : Sertifikat Kompetensi Akupunktur Dasar dr. Cendani ..........
18. Gambar 18: Petugas Regestrasi .................................................................
19. Gambar 19 : Kertas Putih Bagi Pasien Yang Kali Pertama Kalinya ..........
20. Gambar 20 : Pemberlakuan Tarif di Puskesmas Glugur Darat ...................
21. Gambar 21: Buku Status Pasien .................................................................
22. Gambar 22 : Kartu Jamkesmas ...................................................................
23. Gambar 23 : Petugas Memanggil Pasien Untuk Ke Ruang Dokter ............
24. Gambar 24: Dokter Yang Melakukan Anamnesa ......................................
25. Gambar 25: Pemeriksaan Fisik ..................................................................
26. Gambar 26: Jarum Akupunktur .................................................................
27. Gambar 27: Kain Sarung di Poli Akupunktur............................................
28. Gambar 28 : Resep Dokter Yang Telah Di Stempel ...................................
29. Gambar 29 : Pengambilan Obat ..................................................................
30. Gambar 30 : Informasi Rumah Sakit Yang Menjadi Rujukan ....................

26
26
51
52
52
53
54
56
58
59
64
65
66
72
74
77
78
84
85
85
86
87
88
89
90
92
94
95
95
96

15
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
SAFIA CHAIRISA H. 050905050 (2011). AKUPUNKTUR MEDIK (Studi
Deskriftif Pelayanan Akupunktur Medik di Puskesmas Glugur Darat,
Kecamatan Medan Timur). Skripsi ini terdiri dari 5 bab, 106 halaman, 22
tabel, 30 daftar gambar, daftar pustaka, dan 22 lampiran
Pada hakekatnya Puskesmas haruslah melaksanakan seluruh program
kesehatan dalam rangka mempertahankan dan meningkatkan status kesehatan dan
gizi masyarakat, tetapi seiring dengan krisis moneter yang berkepanjangan sejak
tahun 1997 yang melanda Indonesia, memberikan dampak segala bidang termasuk
bidang kesehatan. Menurunnya pendapatan dan daya beli masyarakat yang
diperberat oleh meningkatnya biaya pemeliharaan untuk kesehatan, tentu sangat
mengancam status gizi dan kesehatan masyarakat, khususnya penduduk miskin.
Seiring dengan semangat otonomi daerah, daerah juga diberi kewenagan
untuk menyelenggarakan kegiatan birokrasi, administrasi, dan ekonomi serta juga
termasuk menyelenggarakan program kesehatan didalamnya, seperti program
pemerintah Kota Medan dengan memberikan obat-obatan gratis. Walikota Medan
bersama Dinas Kesehatan juga telah meresmikan 13 Puskesmas Rawat Inap,
berbagai sarana dan prasarana pendukung seperti ratusan tenaga medis yang
terdiri dari paramedis dan perawat, 135 apoteker, 47 tenaga gizi hingga dokter
umum, dokter spesialis bedah, maupun fisioterapi telah tersedia. Semuanya
didistribusikan berdasarkan kebutuhan masing-masing dengan tingkat wilayah
pelayanan yang berbeda-beda. Salah-satunya, Puskesmas Glugur Darat yang
berstatus ISO dengan tersedianya pelayanan khusus yakni akupunktur.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa saaat ini akupunktur berfungsi sebagai
program pengembangan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas.
Saat ini akupunktur pun menjadi layanan formal karena dasar akupunktur medik
adalah noeroscience dimana akupunktur sudah termasuk program pendidikan
dokter spesialis jadi kiranya keraguan-keraguan masyarakat terhadap akupunktur
akan menguap mengingat akupunktur medik itu sendiri adalah pengobatan
integratif yakni pemilihan titik-titik akupunktur berdasarkan evidence base yakni
hasil penelitian para ahli yang sudah dibuktikan secara ilmiah yang dapat berguna
bagi kesehatan

Kata-kata kunci: Kebudayaan, Neoroscience, Evidance base, Sel, Utama,
Pengembangan, Alternatif Medis Medicine, Medis.

4
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pada awalnya tahun 1950-an cara kerja akupunktur di tingkat sel belum
diketahui, sehingga ini sering mendapat perlawanan dengan medis. Tetapi
kemudian para peneliti menemukan jawabannya termasuk dokter di berbagai
belahan dunia terus berupaya membuktikan akupunktur agar diterima kalangan
ilmuan. Banyak sekali penelitian-penelitian ilmiah yang dilakukan para ahli
diantaranya adalah :
Pertama, menurut Abdullah1 dalam situs internet menuliskan bahwa sejak
tahun 1963 ahli Biologi dari Universitas Pyong Yang Korea Utara yang bernama
Prof. Kim Bong Han menjelaskan dan mendemostrasikan secara histologis dan
elektrobiologis tentang meridian dan titik akupunktur. Hasil dari penelitiannya
menyimpulkan bahwa titik akupunktur ternyata terletak di dalam benda-benda
kecil (korpuskuler) dalam sel-sel di bawah kulit manusia yang di dalamnya
terdapat DNA (Deoxyibonecleaned Acid). DNA tersebut berfungsi sebagai
metabolisme dalam tubuh dengan penusukan titik akupunktur. Untuk itu, dengan
penusukan tersebut akan terjadi peningkatan kemampuan DNA dalam
membangun sel-sel tubuh, sehingga metabolisme dalam tubuh berjalan normal
seperti biasanya. Tentu hal ini selaras dengan prinsip akupunktur bahwa dengan
merangsang titik akupunktur, maka energi (Qi) dalam tubuh akan bergerak dan
meninggalkan keadaan homostatis dalam tubuh.
1

http://akupunkturaljauhar.wordpress.com/2011/01/05/akupunktur-dulukini-dan-akan-datang/

16
Universitas Sumatera Utara

Kedua, menurut Epy Muhammad Luqman dalam situs internet menuliskan
bahwa2 di Indonesia pengobatan akupunktur mulai dapat divisualisasikan melalui
pendekatan kedokteran oleh Dr. Kosnadi Saputra, Sp.AK pada tahun 1990.
Penelitian ini dilakukan dengan mengunakan radio isotop dan alat SPECKT
(Single Proton Emission Computerizaed Tomograpy) yang digunakan untuk
melacak jalur meridian akupunktur. Ternyata penyuntikan dosis kecil teknesium
perteknetat pada titik He Gu (titik akupunktur yang berada di jalur meridian usus
besar) menyebabkan migrasi isotop. Migrasi ini tidak melalui jalur sistem
pembuluh darah, pembuluh getah bening atau sistem saraf, tetapi merambat
sepanjang meridian usus besar. Sedangkan penyutikan isotop di bukan titik
akupunktur tidak menunjukan adanya migrasi isotop. Dari penelitian itu dan juga
penelitian lainnya sekali pun, ditemukan bukti bahwa ada beberapa titik-titik
akupunktur yang memiliki rangsangan tertentu bagi penyembuhan dan hanya
sebagian letak titik demikian identik dengan yang ada dalam praktek akupunktur.
Ketiga, studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University Of
Michigan dengan menggunakan alat pemantau otak,  membuktikan bahwa titiktitik yang sudah lama digunakan orang Cina adalah dengan mempengaruhi
kemampuan jangka panjang otak untuk mengatur rasa sakit atau nyeri. Lebih
dijelaskan lagi bahwa studi yang muncul dalam Journal Of NeorolImage itu pun
menyebutkan bahwa teknik yang digunakan akupunktur selama ini ternyata
dengan cara meningkatkan kemampuan Mu-Opoid Reseptor (MOR) pada bagian
otak dan mengurangi sinyal sakit, yang terdapat spesifik pada kelenjar-kelenjar
cingulated, insula, caudate, thalamus dan amygdale. Kemampuan Mo-Opuid

2

http://epyfkh.blog.unair.ac.id/2011/03/16/pendahuluan-3/

17
Universitas Sumatera Utara

Reseptor ini disebut juga kemampuan mengikat reseptor yang berguna untuk
menurunkan rasa sakit. Disini para ahli melihat fakta yang sama pada pemakaian
obat-obatan dalam dunia medis, dimana obat-obatan penghilang rasa sakit seperti
morfin, codeine dan lainya ternyata juga bekerja dengan mengikat reseptor
tersebut (MOR) pada bagian otak serta tulang belakang3.
Lebih dijelaskan lagi menurut Richard E. Harris, PhD seorang peneliti
dari Chronik Pain and Fatigue Reserch center kemampuan mengikat reseptor
inilah yang menurunkan rasa sakit. Studi ini diikuti oleh 20 partisipan wanita yang
didiagnosis memiliki penyakit fibromyalgia kronis (kondisi kronis yang
menyebabkan nyeri, kekakuan dan kepekaan dari otot-otot, tendon-tendon dan
sendi-sendi). Selama studi tersebut berlangsung mereka tidak diberikan obat
penghilang rasa sakit, tapi diberikan teknik akupunktur. Responden kemudian
melakukan Scan Position Emission Tomografi (PET) pada otak mereka selama
menjalankan akupunktur. Pemantauan otak pun terus dilakukan hingga mereka
merasakan rasa sakitnya hilang. Dari sinilah peneliti menyimpulkan bahwa teknik
akupunktur ternyata memiliki efek dan cara kerja yang mirip dengan penghilang
rasa sakit.
Menurut Gunawan Ismail4 ahli akupunktur yang pernah kuliah tentang
Biofisika di Institut Teknologi Bandung, mengatakan bahwa :
“akupunktur sesungguhnya bekerja dengan memberi rangsangan
pada saraf, dan ini tidak jauh dari neorologi dalam kedokteran.
Dalam ilmu ini ditemukan, sebanyak 70 neoron dalam tubuh
manusia selalu memiliki neorontransmiter lebih dari satu.
Sebagaian besar neorotransmiter itu adalah molekul imunaktif atau
molekul daya tahan tubuh. Itulah sebabnya ahli akupunktur selalu

3

http://lensaindonesia.com/view.php?ID=31409
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/06/13/KSH/mbm.20050613.KSH119043.id.html

4

18
Universitas Sumatera Utara

menusukkan jarum pada titik pusat rasa sakit dengan tujuan
merangsang daya tahan tubuh’’.
Berdasarkan uraian di atas dari hasil penelitian ilmiah dijumpai kenyataan
dari sekian ribu titik akupunktur yang berkembang dalam pengobatan tradisional
sebagian kecil bisa dijelaskan secara ilmiah, sedangkan sebagian besar
diberlakukan konsep mistis dan magis dalam tradisi akupunktur Cina. Tugas
dokter disini adalah bagaimana mempelajari akupunktur dan mencari tringers
poin yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan di Universitas Airlangga sudah
ada desertasi menulis tentang ini (Kusnadi Saputra). Dari penelitian ini dan juga
lainya sekalipun, ditemukan bahwa ada titik-titik yang memiliki rangsangan
tertentu bagi penyembuhan lebih dijelaskan lagi bahwa sebagian besar titik-titik
akupunktur tidak terbukti melalui penelitian kedokteran modern. Jadi dalam
penelitian kedokteran tidak identik sama dengan titik akupunktur tradisional5.
Pengobatan ini sudah sejak tahun 1978 direkomendasikan oleh Badan
Kesehatan Dunia (World Healt Organization) untuk memasukkan akupunktur ke
dalam pelayanan kesehatan di samping pengobatan kedokteran konvensional.
Rekomendasi WHO ini kemudian disambut dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No.1186 tahun 1996 yang menetapkan pengobatan
akupunktur dapat dilakukan sebagai pelayanan formal di Rumah Sakit atau
instansi pelayanan kesehatan di Indonesia. Pada tahun 1997, The National
Institutes of Health Consensus Conference on Acupuncture di Amerika Serikat
menyatakan bahwa terdapat bukti ilmiah dari manfaat akupunktur dalam berbagai
situasi klinis, seperti nyeri gigi pasca operasi sampai mual yang berkaitan dengan

5

http://dokterdita.wordpress.com/2010/01/12/selamat-datang-perhimpunan-dokter-spesialisakupuntur-indonesia/

19
Universitas Sumatera Utara

kemoterapi. Akupunktur pun juga efektif sebagai modalitas penunjang untuk nyeri
sendi dan otot, adiksi dan asma. Banyaknya manfaat dan bukti klinis ini pada
tahun 2002 WHO mendukung negara anggotanya mengintegrasikan akupunktur
ke dalam sistem kesehatan nasional6
Pada beberapa Rumah Sakit di Indonesia seperti Rumah Sakit Kanker
Dharmais Jakarta, dan Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. Akupunktur medik
mulai diterapkan sebagai terapi penunjang. Terapi ini juga dapat dilakukan atas
permintaan pasien sendiri atau pun atas rujukan para dokter lainnya7.
Tidak hanya itu saja. Saat ini beberapa Puskesmas di Indonesia juga
memberikan layanan akupunktur medik. Salah satunya adalah Puskesmas di
Surabaya yakni Puskesmas Banyu Urip yang terletak di Surabaya Selatan.
Menurut data Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, di Kota Pahlawan ini
setidaknya telah terdapat 25 klinik dan 2 Puskesmas serta 35 akupunkturis yang
memberikan pelayanan akupunktur. Mereka menyediakan berbagai layanan
kesehatan yang diterapi dengan tusuk jarum. Mulai kecantikan, pelangsingan,
hingga pengobatan berbagai penyakit8.
Dari uraian di atas, selama ini masyarakat di kota Medan umumnya
mengenal akupunktur dari Timur padahal negara-negara Barat telah memasukkan
metode pengobatan akupunktur ke dalam ilmu kedokteran Barat dan disebutlah
akupunktur medik. Dahulunya terapi akupunktur ini hanya dikenal dunia
pengobatan Timur. Tetapi lama-kelamaan dunia kedokteran Barat yang
merupakan

barometer

kedokteran

konvensional

kini

mulai

mengakui

6

http://dokterdita.wordpress.com/2010/01/12/selamat-datang-perhimpunan-dokter-spesialisakupuntur-indonesia/
7
http://www.meillyssach.co.cc/2009/12/pengobatan-komplementer.html
8
http://www.mail-archive.com/joessua@yahoogroups.com/msg00022.html

20
Universitas Sumatera Utara

keberadaannya. Kini, di samping akupunktur tradisional tetap eksis, metode
akupunktur medik juga ikut ramai menolong penyakit manusia. Puskesmas
Glugur Darat dan Klinik Medistra merupakan instansi kesehatan yang
memberikan layanan akupunktur medik.
Untuk itulah peneliti merasa tertarik untuk menggambarkan layanan
pengobatan akupunktur medik di klinik akupunktur karena secara harfiah dapat
dikatakan Antropologi adalah sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang
manusia beserta kebudayaan.

1.2. Tinjauan Pustaka
Menurut Antropologi, “Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan
rasa, tindakan dan karya yang dihasilkan dalam kehidupan bermasyarakat, yang
dijadikan miliknya dengan belajar”. Dengan demikian hampir semua tindakan
manusia adalah kebudayaan, karena jumlah tindakan yang dilakukannya dalam
kehidupan bermasyarakat yang tidak dibiasakan dengan belajar (yaitu tindakan
naluri, reflek atau tindakan-tindakan yang dilakukan akibat suatu proses fisiologi)
maupun berbagai tindakan-tindakan yang (membabi-buta) sangat terbatas. Bahkan
berbagai tindakan yang merupakan nalurinya (makan, minum, berjalan) juga telah
banyak dirombak oleh manusia sendiri sehingga menjadi tindakan berkebudayaan
(Koenjaraningrat, 1996 : 72-73).
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan atau norma yang dimiliki
bersama oleh para anggota masyarakat, yang kalau dilaksanan oleh para
anggotanya melahirkan perilaku yang para anggotanya dipandang layak dan dapat
diterima (William, A. Haviland, 1985 : 333).

21
Universitas Sumatera Utara

Dalam Antropologi kesehatan istilah yang digunakan oleh ahli-ahli
antopologi adalah untuk mendeskripsikan (1) Penelitian mereka yang tujuannya
adalah defenisi komprehensif dan interprestasi tentang hubungan timbal-balik biobudaya, antara tingkah laku manusia di masa lalu dan masa kini dengan derajat
kesehatan dan penyakit tersebut dan (2) Partisipasi profesional mereka dalam
program-program yang bertujuan memperbaiki derajat kesehatan melalui
pemahaman yang lebih besar tentang hubungan antara gejala bio-sosial-budaya
dengan kesehatan, serta melalui perubahan tingkah laku sehat ke arah yang
diyakini akan meningkatkan kesehatan yang lebih baik (Foster dan Anderson
1986:11)
Dari sekian pengetahuan yang dimiliki manusia salah-satunya adalah
pengetahuan yang menyangkut dengan usaha menghindari dari dan cara
menyembuhkan penyakit. Dalam sistem pelayanan kesehatan meliputi berbagai
upaya diantaranya adalah upaya pencegahan (preventif), upaya penyembuhan
(kuratif), upaya pemiliharaan, rehabilitasi, dan peningkatan (promotif). Negara
berkembang (pada umunya) dan di Indonesia (pada khususnya) Upaya Pelayanan
Kesehatan Masyarakat dilayani lewat 3 (tiga) macam jalur, yaitu :


Upaya Pelayanan Kesehatan Formal
Diselenggarakan dari Puskesmas hingga Rumah Sakit tipe-A pelakunya
adalah hasil pendidikan formal seperti dokter, perawat ahli, dokter gigi dan
lain-lain.



Upaya Pelayanan Kesehatan Informal
Pelakunya memperoleh “ilmunya” lewat pendidikan informal, aplikasi
pelayanannya seperti kebatinan, paranormal, perdukunan dan lain sebagainya.

22
Universitas Sumatera Utara



Upaya Pelayanan Kesehtan Non-Formal
Akupunkturis (sinshe) di Indonesia termasuk ke dalam golongan ini,
karena kemampuannya diperoleh dari pendidikan non formal.
Penulisan ini pun juga didasarkan pada pengertian dibawah ini, yakni : 

1. Medis (Medicine)
Pengertian yang baku mengenai defenisi kedokteran (inggris:medicine)
dalam wikipedia adalah suatu ilmu dan seni yang mempelajari tentang penyakit
dan cara-cara penyembuhannya. Ilmu kedokteran ini adalah cabang ilmu
kesehatan yang mempelajari tentang cara mempertahankan kesehatan manusia
dan mengembalikan manusia pada keadaan sehat dengan memberikan pengobatan
pada penyakit dan cedera. Ilmu ini meliputi pengetahuan tentang sistem tubuh
manusia dan penyakit serta pengobatannya, dan penerapan dari pengetahuan
tersebut.
Dalam akupunktur medik, akupunktur sangat bermanfaat dalam mengatasi
berbagai kondisi kesehatan tertentu dan juga sebagai analgesi (pereda nyeri).
Cara kerjanya adalah dengan mengaktifasi berbagai molekul signal yang berperan
sebagai komunikasi antar sel, salah satu pelepasan molekul tersebut adalah
endorphin yang berperan banyak dalam sistem tubuh9.
Dalam Pernyataan Konsensus Konferensi Pembangunan (1997) Badan
Kesehatan Nasional10 menyatakan bahwa selama bertahun-tahun, Badan
Kesehatan Nasional telah mendanai berbagai macam proyek riset pada
akupunktur. Termasuk penelitian terhadap mekanismenya, percobaan klinis dan
penelitian lainnya. Lebih jauh lagi, dijelaskan Organisasi Kesehatan Dunia telah
9

http://yuflihul.blogspot.com/2011/06/terapi-komplementer.html
http://www.fujengtang.com/acupuncture_id.html

10

23
Universitas Sumatera Utara

mendaftarkan berbagai kondisi medis yang mungkin dapat disembuhkan oleh
akupunktur. Beberapa diantaranya termasuk pencegahan dan perawatan mual dan
muntah-muntah, perawatan sakit dan ketergantungan alkohol, rokok dan obatobatan lainnya, perawatan pernapasan seperti asma dan bronchitis dan rehabilitasi
dari kerusakan saraf seperti stroke. Salah satu keunggulan akupunktur adalah
minimnya efek samping dibandingkan banyak obat-obatan atau prosedur lain
yang telah diterima umum untuk suatu kondisi yang sama.  Sebagai contoh,
kondisi musculoskeletal, seperti fibromyalgia, sakit myofascial dan tennis elbow
adalah kondisi dimana akupunktur bisa digunakan. Kondisi yang menyakitkan ini
sering dirawat antara lain dengan obat anti-peradangan (aspirin, ibuprofen, dan
lain-lain) atau dengan suntikan steroid.
2. Alternative Medicine
Sementara dalam situs internet Redya11 menuliskan bahwa di dalam
wikipedia defenisi untuk pengobatan alternatif atau alternative medicine yakni
alternative medicine tidak memiliki dasar bukti-bukti kebenaran (evidence based)
sehingga apa pun yang dibicarakan mengenai alternative medicine masih perlu
pembuktian tentang klaim menyangkut keberhasilan atau kegagalannya.
Sebaliknya, dengan medis (medicine) yang selalu mengupayakan pencarian buktibukti sebagai suatu dasar tindakan. Dapat dipahami dengan jelas perbedaan dua
terminologi ini. Kata kuncinya adalah bahwa alternative medicine tidak memiliki
dasar bukti-bukti kebenaran (evidence based) sehingga apa pun yang dibicarakan
mengenai alternative medicine masih perlu pembuktian tentang klaim12

11

http://www.msindonesia.org/content/medis-vs-alternative-definisi
tuntutan pengakuan atas suatu fakta bahwa seseorang berhak (memiliki atau mempunyai) atas
sesuatu (http://kamusbahasaindonesia.org/klaim)
12

24
Universitas Sumatera Utara

menyangkut keberhasilan atau kegagalannya. Sebaliknya dengan medis
(medicine) yang selalu mengupayakan pencarian bukti-bukti sebagai suatu dasar
tindakan. Dalam konteks ini tentu bisa disimpulkan manakah yang superior
diantara dua metode pendekatan pengobatan ini. Hingga sampai saat ini jelas
medicine (medis) adalah suatu pendekatan pengobatan yang benar dan seharusnya
menjadi rujukan.
Lebih lanjut dijelaskan lagi bahwa klaim yang dibuat oleh praktisi
pengobatan alternatif umumnya tidak diterima oleh medis masyarakat. Hal
tersebut karena berbasis bukti penilaian keamanan dan kemanjuran tidak tersedia
atau belum dilakukan. Dalam penyelidikan ilmiah haruslah menetapkan keamanan
dan efektifitas praktek pengobatan alternatif, kemudian baru dapat menjadi obat
utama dan tidak lagi sebagai “alternative”, itulah sebabnya akupunktur banyak
diadopsi oleh praktisi konvensional. Hal ini karena akupunktur dapat dibuktikan
secara ilmiah dan aman digunakan. Selain minimnya efek samping, jarum yang
digunakan pun haruslah jarum satu kali pakai.
Hal tersebut sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kepala
Departemen RSCM.
Menurut Kepala Departemen Akupunktur RSCM Dharma Kumara
mengatakan bahwa :
“Perkembangan akupunktur yang notabene merupakan metode non
modern itu tak mendapat perlawanan dari dokter-dokter
konvensional di RSCM. Masih sejalan, yang kita praktekkan dan
kembangkan adalah akupunktur medis. Akupunktur medis adalah
metode akupunktur yang berlandaskan prinsip medis dan temuan
yang bisa dipertanggung jawabkan (evidence based)”13.

13

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/08/10/LK/mbm.20090810.LK131046.id.html#

25
Universitas Sumatera Utara

Menurut Gunawan yang pernah kuliah di Institut Teknologi Bandung,
mengatakan14:
“Tak hanya dalam soal saraf, akupunktur juga berimpitan dengan
ilmu kedokteran dalam prinsip keseimbangan. Dalam ilmu
kedokteran, kesehatan seseorang ditentukan oleh keseimbangan
darah, getah bening, dan cairan lain dalam tubuh. Pengobatan
akupunktur pun bertujuan menyeimbangkan tubuh sehingga
memiliki kekebalan melawan penyakit. Demikian pula prinsip
keseimbangan antara jiwa dan raga yang dianut oleh akupunktur.
Hal ini juga diakui oleh dunia kedokteran. Menurut Gunawan, para
dokter juga meyakini banyak penyakit yang muncul karena faktor
psikologis”.
Lebih lanjut dijelaskan adanya berbagai kesamaan itu dibenarkan pula oleh
dr. Abdullah, tenaga medis yang kini menjadi ahli akupunktur di Rumah Sakit
Pusat Pertamina, Jakarta. Beliau mengatakan:
”Akupunktur memang bertujuan mencari keseimbangan tubuh
untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Itu sebabnya, akupunktur
lebih gampang dipelajari oleh para dokter.”
Sementara Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Akupunktur Wilayah Sumatera
Utara Prof. Amri mengatakan bahwa15:
“Pengobatan dengan tusuk jarum atau yang dikenal dengan terapi
akupunktur semakin diminati masyarakat, terutama oleh mereka
yang mengerti bahaya zat kimia pada obat medik, terapi
akupunktur medik merupakan salah satu alternatif pengobatan, di
samping pengobatan dokter umum dengan obat kimia atau
herbal. Beberapa kasus penyakit yang ditangani dapat
disembuhkan dengan terapi akupunktur medik secara rutin dan
terpadu, lebih lanjut ia mengatakan, teknik pengobatan akupunktur
tersebut berasal dari Cina yang telah hidup ribuan tahun silam dan
diyakini dapat mengobati berbagai macam penyakit serta untuk
terapi kecantikan. Namun begitu, tidak sedikit masyarakat yang
belum percaya dengan kemujaraban pengobatan metode
akupunktur ini terlebih melihat peralatan yang digunakan. Padahal
sejak 1978, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah
14

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/06/13/KSH/mbm.20050613.KSH119043.id.htm

l
15

http://obat2-an.infogue.com/pengobatan_akupuntur_makin_diminati

26
Universitas Sumatera Utara

merekomendasikan pengobatan akupunktur dalam pelayanan
kesehatan di samping pengobatan kedokteran konvensional.
Sayangnya, pengobatan ini belum banyak dikenal masyarakat,
karena itu PDAI terus berupaya menyosialisasikannya di
masyarakat akan manfaat yang bisa diperoleh dari terapi
menggunakan jarum ini. Labih lanjut lagi ia menuturkan, setelah
dikembangkannya teknologi kedokteran akupuntur di Indonesia,
sejumlah rumah sakit di Sumut dewasa ini sudah mulai melirik
keberadaan dokter ahli akupunktur seperti halnya yang telah
dilakukan RSU Pirngadi Medan. Sayangnya, kata dia, rencana
pembukaan klinik kedokteran akupunktur belum bisa terlaksana
karena jumlah dokter ahli akupunktur masih terbatas di Sumatera
Utara”.
WHO, Pusat untuk Obat-obatan Alternatif dan Komplementer Nasional
(NCCAM) yang berada di bawah naungan Institut Kesehatan Nasional (NIH),
Asosiasi Medis Amerika (AMA) dan beberapa laporan resmi juga telah
mempelajari serta memberi komentar tentang kemanjuran akupunktur. Terdapat
persetujuan umum bahwa akupunktur adalah aman apabila dilakukan oleh praktisi
yang terlatih, dan penelitian lebih jauh tentang akupunktur sangat diperlukan. Dari
beberapa kesaksian praktisi akupunktur ini banyak membantu dalam menuntaskan
persoalan kesehatan secara fisik.
Menurut Prof. Amri pakar akupunktur Sumut Prof. dr. Amri Amir SpF (K)
DFM SH disela-sela pelatihan akupunktur dasar angkatan VIII bagi 14 dokter
umum dan spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara
mengatakan bahwa16:
“Sejak beberapa tahun belakangan ini, sistem akupunktur
mendapat tempat di mata masyarakat yang ingin mendapatkan
salah satu bagian pelayanan kesehatan di samping cara
konvensional medis. Animo masyarakat Sumut sudah terbuka
terhadap sistem pengobatan akupunktur medik ini. Apalagi dokter
yang mendapatkan pelatihan terstruktur akupunktur sudah
membuktikan penyembuhan di lapangan”.
16

http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Kesehatan/klinik-kesehatan-akupunktur-jadi-pelayananformal-di-rs

27
Universitas Sumatera Utara

Dari uraian diatas yang paling penting dari ini semua bahwa model
pengobatan akupunktur yang sejak zaman dulu selalu menjadi pengobatan
pinggiran dan jauh dari pembuktian-pembuktian ilmiah, kini telah bisa menjadi
konsumsi para praktisi-praktisi medis yang nota bene berpikiran rasional. Dengan
harapan nantinya penggabungan antara medis barat dan akupunktur dari timur
bisa menjadi terobosan baru dalam dunia kedokteran untuk mencapai pelayanan
kesehatan kepada masyarakat secara holistik dan murah dan tentunya dapat
menutupi kekurangan dan kelemahan pengobatan Barat.

1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka
yang menjadi permasalahannya adalah pengobatan akupunktur ini memiliki dua
(2) sisi yakni, akupunktur tradisional dan akupunktur medik. Akupunktur
tradisional berbeda dengan akupunktur medik, dimana tenaga akupunkturnya
adalah tidak berasal dari pendidikan dokter atau dokter yang tidak mengikuti
kursus pada badan di bawah kolegium, kolegium adalah badan yang bertanggung
jawab atas mutu pendidikan. Pengobatan akupunktur medik adalah pengobatan
akupunktur dimana akupunkturisnya berasal dari dokter yang mengikuti kursus
akupunktur yang diberikan dalam pelayanan kesehatan formal di Rumah Sakit
dan instansi kesehatan di Indonesia adalah akupunktur medik. Instansi tersebut
adalah Puskesmas Glugur Darat dan Klinik Medistra.

28
Universitas Sumatera Utara

1.4. Ruang Lingkup Masalah
Dalam hal ini perlu adanya pembatasan masalah agar masalah tidak
menjadi rancu atau pun meluas kepada hal-hal yang tidak terkait dengan masalah
yang diteliti. Pembahasan dilakukan dengan cara memasukan suatu informasi
maupun data yang didapat di lapangan maupun studi kepustakaan yang dimiliki
terkait dengan masalah ini.
Permasalahan tersebut dapat dijabarkan ke dalam beberapa pertanyaan
penelitian, antara lain :
1. Bagaimana sistem layanan akupunktur medik di klinik akupunktur ?
2. Pelayanan akupunktur apa saja yang diberikan ?
3. Dari mana keahlian akupunktur diperoleh ?

1.5. Tujuan Manfaat Penelitian
Penelitian mengenai akupunktur medik ini bertujuan untuk menguraikan
hal-hal yang berkaitan dengan pengobatan akupunktur medik yaitu untuk
mengetahui cara-cara pengobatan akupunktur medik oleh dokter di klinik
akupunktur, sehingga masyarakat tertarik dengan pengobatan ini. Ada pun
manfaat dari penelitian ini dilihat secara akademis dan praktis. Secara akademis
dapat menambah pemahaman tentang pengobatan akupunktur medik, khususnya
cara pengobatan yang dilihat dari sudut pandang Antropologi. Secara praktis hasil
penelitian

ini

dapat

memberikan

masukan

kepada

pihak-pihak

yang

berkepentingan.

29
Universitas Sumatera Utara

1.6. Metode Penelitian
Tipe penelitian ini bertipekan deskriptif dengan pendekatan kualitatif
untuk mencapai sasaran yang akan dituju, yakni mendeskripsikan sistem
pelayanan pengobatan akupunktur medik di klinik akupunktur. Dalam penelitian
ini data di kategorikan atas 2 (dua) jenis, yakni :
1) Data Primer
Data primer merupakan data utama yang diperoleh melalui observasi dan
wawancara. Observasi bertujuan, antara lain (a) Mengamati pelayanan pengobatan
akupunktur di Puskesmas Glugur Darat dan Klinik Medistra dengan cara berharihari berada di sana dari pagi sampai sore hari. Untuk dapat memasuki Puskesmas
tersebut saya pun harus terlebih dahulu membuat surat izin penelitian dari Dinas
Kesehatan dan biaya yang dikenakan untuk setiap surat izin penelitian di Dinkes
adalah sebesar lima puluh ribu rupiah (Rp 50.000) (b) Mencari tahu bagaimana
sistem pelayanan akupunktur berjalan. Caranya, dengan bertanya kepada petugas
kartu dan dokter (c) Hal-hal berkembang lainnya yang dapat dituangkan ke dalam
catatan pengamatan lapangan misalnya, mengamati bagaimana pelayanan
akupunktur di Prima Medistra dan Medistra tempat prakteknya Prof. Amri. Hal ini
karena awalnya saya mengira jika akupunktur itu sangatlah sederhana tapi
ternyata begitu rumit dan kompleks. Hal ini karena dr. Retno berkali-kali
menekankan pada saya bahwa akupunktur, bukanlah pengobatan tradisional.
Mendengar pernyataan tersebut membuat saya tergerak untuk mencari pakar
akupunktur medik yakni Prof. Amri. Informasi tentang beliau awalnya saya dapat
melalui situs internet, koran waspada dan tabloid Sindo. Gunanya adalah untuk
mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang