Teknik Analisis Data METODE PENELITIAN

77 Tabel 3.2 Penjelasan Teori Pengendalian Internal pada Sistem Penerimaan dan Pengeluaran Kas di Paroki Santo Antonius Padua Kendal Berdasarkan Pengendalian Internal COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Penilaian Risiko Elemen Komponen Penilaian Risiko Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Bencana alam atau kerusuhan politik Perusahaan harus memiliki arsip data untuk mengurangi risiko data hilang atau rusak akibat bencana alam atau kerusuhan politik seperti banjir, gempa bumi, kebakaran, perang, atau kerusuhan masa. Bendahara Dewan Paroki harus membuat back up data laporan keuangan di tempat terpisah dan menyimpan bukti-bukti transaksi di tempat yang aman. Produk dan aktivitas baru Pembaruan produk atau pembaruan aktivitas harus disosialisasikan agar dimengerti oleh seluruh staf sehingga tidak mengganggu proses bisnis yang sedang berlangsung. Ketika ada pengajuan program kerja baru atau pengajuan ijin penelitian, Ketua Dewan Paroki membicarakannya dalam rapat harian Dewan Paroki. Sistem informasi dan teknologi baru Pembaruan sistem informasi dan teknologi baru mempengaruhi proses bisnis dan transaksi yang sedang berjalan. Jika ada pembaruan sistem informasi dan teknologi, Ketua Dewan Paroki sebaiknya mengadakan sosialisasi bagi karyawan dan pengurus dewan paroki. Personil baru Personil yang baru perlu menguasai teknik dan teori yang diterapkan sehingga perannya dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Melatih dan melakukan orientasi bagi karyawan baru Koster dan Kasir oleh Ketua Dewan Paroki. Sumber: COSO Framework, 2013 dan Diana Anastasia dan Lilis Setiawati, 2011 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 78 Tabel 3.3 Penjelasan Teori Pengendalian Internal pada Sistem Penerimaan dan Pengeluaran Kas di Paroki Santo Antonius Padua Kendal Berdasarkan Pengendalian Internal COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Informasi dan Komunikasi Elemen Komponen Informasi dan Komunikasi Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Mengidentifikasi dan mencatat semua transaksi yang valid Pihak entitas harus mencatat semua transaksi yang valid, yaitu mencatat seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dalam satu periode. Apabila transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dalam satu periode tersebut tidak tercatat, akan mengakibatkan kerancuan antara kas yang dicatat pada catatan akuntansi entitas dengan jumlah kas yang sesungguhnya. Transaksi-transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dicatat pada dokumen dan catatan akuntansi yang berkaitan, seperti Bukti Kas Masuk BKM, Bukti Kas Keluar BKK, Bukti Bank Masuk BBM, Bukti Bank Keluar BBK, dan Buku Kas Harian Bendahara Dewan Paroki BKHBDP. Mengklasifikasi transaksi seperti yang seharusnya Entitas harus mengklasifikasikan transaksi seperti yang seharusnya agar pencatatan menjadi tepat, misalnya utang keuskupan diklasifikasikan sebagai penerimaan, maka penerimaan kas akan dicatat terlalu berlebih. Penerimaan sumbangan umat, kolekte, penerimaan APBU, devosionalia, penerimaan hasil kebun, dicatat pada penerimaan kas paroki, dan pembiayaan kebutuhan rumah tangga, tim kerja dan kepanitiaan dicatat pada pengeluaran kas. Mencatat transaksi pada periode akuntansi yang tepat Entitas harus mencatat transaksi pada periode yang tepat agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan. Pencatatan transaksi pada BKM, BKK, BBM, BBK, dan BMM dicatat hanya pada waktu transaksi. Menyajikan transaksi dan pengungkapan terkait dalam laporan keuangan dengan tepat Entitas harus menyajikan transaksi dan pengungkapan dalam laporan keuangan yang terkait agar laporan keuangan dapat dipertanggungjawabkan. Penerimaan kas setelah dikurangi dengan pengeluaran kas akan dicatat pada akun kas dalam laporan keuangan Paroki Santo Antonius Padua Kendal. Sumber: COSO Framework, 2013, James Hall, 2007, dan PTKAP KAS, 2008 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 79 Tabel 3.4 Penjelasan Teori Pengendalian Internal pada Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas di Paroki Santo Antonius Padua Kendal Berdasarkan Pengendalian Internal COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Aktivitas Pengendalian Elemen Komponen Aktivitas Pengendalian Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Desain dokumen yang baik dan bernomor urut tercetak Desain dokumen yang baik adalah desain dokumen yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami oleh pengguna sehingga meminimalkan terjadinya kecurangan. Dokumen yang baik juga harus memuat tempat tanda tangan bagi yang berwenang, dan bernomor urut tercetak untuk menghindari adanya penyelewengan dokumen transaksi. a. Seluruh bukti transaksi didesain dengan sederhana dan mudah digunakan. b. Seluruh bukti transaksi terdapat tempat tanda tangan. c. Seluruh bukti transaksi harus bernomor urut tercetak. Pemisahan tugas Entitas harus memisahkan tugas antara karyawan keuangan yang satu dengan yang lainnya untuk meminimalkan terjadinya kecurangan, pencurian, dan pemalsuan dokumen transaksi. Bendahara Dewan Paroki sebaiknya lebih dari satu orang dan tiap bendahara memiliki tugasnya masing-masing. 80 Tabel 3.4 Penjelasan Teori Pengendalian Internal dalam Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada Paroki Santo Antonius Padua Kendal berdasarkan Pengendalian Internal menurut COSO disesuaikn dengan PTKAP KAS pada Komponen Aktivitas Pengendalian Lanjutan Elemen Komponen Aktivitas Pengendalian Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Pengamanan harta dan catatan perusahaan Yang dapat dilakukan perusahaan untuk mengamankan harta dan informasi tersebut, antara lain meliputi: a. Membatasi akses fisik terhadap harta seperti pengamanan kotak brankas, dan lain-lain. b. Menjaga catatan dan dokumen dengan menyimpan catatan dan dokumen dalam lemari yang terkunci, serta dengan membuat back-up yang memadai. c. Pembatasan akses terhadap ruang komputer dan terhadap file perusahaan. a. Uang kolekte dan APBU sebaiknya dipisah dan disimpan di tempat yang aman. b. Laporan keuangan dan semua bukti transaksi disimpan oleh satu bendahara dan diletakkan di tempat yang aman. c. File laporan keuangan hanya dipegang oleh satu bendahara yang bertugas menyusun laporan keuangan. Otorisasi yang memadai atas transaksi bisnis Otorisasi merupakan pemberian wewenang oleh manajer kepada stafnya untuk melakukan aktivitas atau mengambil keputusan tertentu. Otorisasi diwujudkan dalam bentuk tanda tangan atas suatu dokumen. Otorisasi harus dilakukan pada suatu dokumen sebagai bukti bahwa dokumen tersebut sah. Otorisasi harus dilakukan sesaat setelah transaksi selesai dilakukan. 81 Tabel 3.4 Penjelasan Teori Pengendalian Internal dalam Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada Paroki Santo Antonius Padua Kendal berdasarkan Pengendalian Internal menurut COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Aktivitas Pengendalian Lanjutan Elemen Komponen Aktivitas Pengendalian Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Review atas kinerja Beragam aktivitas untuk pemeriksaan independen antara lain meliputi: a. Membandingkan catatan dengan aktual fisik. Misalnya, perusahaan dapat membandingkan antara catatan persediaan dengan saldo persediaan yang benar-benar ada. b. Prinsip double entry bookkeeping. Prinsip bahwa total debet akan sama dengan total kredit merupakan salah satu sarana pengecekan. c. Menciptakan adanya review atau pemeriksaan independen. Contoh: laporan keuangan perusahaan diaudit oleh auditor independen. a. Ketua Dewan Paroki harus memeriksa laporan keuangan secara berkala. b. Bendahara Dewan Paroki memeriksa jumlah aset secara aktual dengan jumlah aset yang tertera pada laporan keuangan. Pelaporan keuangan tepat waktu Kondisi keuangan organisasi harus dilaporkan sesuai periodenya agar informasinya relevan dengan kondisi dan situasi yang bersangkutan sehingga mampu sebagai sarana pengambian keputusan yang tepat. Laporan keuangan dilaporkan ke KAS setiap tanggal 10 setiap bulan, dan selalu dilaporkan dalam rapat pengurus harian. 82 Tabel 3.4 Penjelasan Teori Pengendalian Internal dalam Sistem Informasi Akuntansi Penerimaan dan Pengeluaran Kas pada Paroki Santo Antonius Padua Kendal berdasarkan Pengendalian Internal menurut COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Aktivitas Pengendalian Lanjutan Elemen Komponen Aktivitas Pengendalian Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menurut PTKAP KAS Dasar anggaran Setiap organisasi harus memiliki dasar yang jelas dalam membuat anggaran tahunan, termasuk gereja. Ada RAPB dan RAI yang disusun berdasarkan visi, misi, dan fokus pastoral. RAPB dan RAI disusun berdasarkan visi, misi, dan fokus pastoral. Penyusunannya sebagai berikut. a. Tim kerja, ketua bidang dan bendahara menyusun kegiatan sesuai dengan sasaran strategis dan rincian anggarannya. b. Bendahara dan Dewan Harian memeriksa anggaran yang diajukan apakah sesuai atau tidak. c. RAPB dan RAI disahkan melalui Rapat Pleno. Pembagian tugas Tugas yang sama dengan pengurus atau karyawan yang lebih dari satu harus dibagi agar lebih fokus. Pembagian tugas abtara bendahara dan kasir masih belum seimbang. Fungsi Kasir juga belum maksimal. Sumber: COSO Framework, 2013, Mulyadi, 2012, Diana Anastasia dan Lilis Setiawati, 2011, dan PTKAP KAS, 2008 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI 83 Tabel 3.5 Penjelasan Teori Pengendalian Internal pada Sistem Penerimaan dan Pengeluaran Kas di Paroki Santo Antonius Padua Kendal Berdasarkan Pengendalian Internal COSO disesuaikan dengan PTKAP KAS pada Komponen Pemantauan Elemen Komponen Pemantauan Teori menurut COSO Penyesuaian dengan Pengendalian Internal menuurut PTKAP KAS Supervisi yang efektif Supervisi yang efektif meliputi monitor kinerja karyawan serta mengamankan harta dengan mengawasi karyawan yang memiliki akses terhadap harta perusahaan. Supervisi sangat penting, terutama di perusahaan kecil yang tidak memiliki pemisahan tugas yang cukup memadai. Sebaiknya diadakan supervisi secara rutin oleh Ketua Dewan Paroki agar aset gereja tetap terkendali. Pengauditan internal Pengauditan internal meliputi:  Evaluasi kepatuhan karyawan terhadap kebijakan dan prosedur manajemen, dan terhadap aturan atau regulasi yang berlaku.  Evaluasi terhadap efektivitas dan efisiensi manajemen.  Ketua Dewan Paroki secara berkala memeriksa laporan keuangan yang disusun oleh Bendahara I.  Secara berkala, kinerja seluruh pengurus Dewan Paroki dievaluasi oleh Ketua Dewan Paroki dan Ketua Tim Kerja masing-masing. Sumber: COSO Framework, 2013, James Hall, 2007, dan PTKAP KAS, 2008 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI b. Mendeskripskan kesesuaian antara pengendalian internal pada sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas yang diterapkan Paroki Santo Antonius Padua Kendal dengan lima komponen pengendalian internal menurut COSO yang telah disesuaikan dengan pengendalian interal menurut PTKAP KAS. c. Mendeskripsikan hasil analisis komponen pengendalian menurut COSO yang telah disesuaikan dengan PTKAP KAS dan pengendalian internal yang telah diterapkan Paroki Santo Antonius Padua Kendal secara keseluruhan. 3. Untuk menjawab rumusan masalah ketiga, langkah-langkah yang ditempuh ialah dengan menguji efektivitas pengendalian internal yang diterapkan di Paroki Santo Antonius Padua Kendal. Untuk menguji efektif atau tidaknya pengendalian internal yang diterapkan, digunakan pengujian kepatuhan dengan metode stop-or-go sampling. Stop-or-go Sampling dapat mecegah penulis dari pengambilan sampel yang terlalu banyak, yaitu dengan cara menghentikan pengujian sedini mungkin. Model ini digunakan jika penulis yakin bahwa kesalahan yang diperkirakan dalam populasi sangat kecil. Penulis menggunakan uji pengujian kepatuhan Stop-Or-Go Sampling karena penulis yakin bahwa kesalahan yang diperkirakan dalam populasi sangat kecil. Adapun langkah-langkah dalam uji pengujian kepatuhan Stop- Or-Go Sampling sebagai berikut: a. Menentukan attribute yang akan diperiksa untuk menguji efektivitas pengendalian internal: 1 Attribute I: adanya otorisasi dari pejabat berwenang. Hall Singleton 2007: 33 mengatakan bahwa tujuan dari otorisasi transaksi adalah untuk memastikan bahwa semua transaksi material yang diproses valid dan sesuai dengan tujuan pihak manajemen. Otorisasi sebaiknya dilakukan pada seluruh bukti transaksi yang terkait dengan sistem informasi akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas, yaitu pada Bukti Kas Masuk, Bukti Kas Keluar, Bukti Bank Masuk, Bukti Bank Keluar, dan Bukti Memorial. 2 Attribute II: adanya nota transaksi yang menyertai bukti transaksi. Nota transaksi penting untuk disertakan dengan bukti transaksi sebagai bukti bahwa transaksi tersebut benar- benar terjadi dengan nominal yang sama dengan nota transaksi yang menyertai. Untuk penerimaan kas, seharusnya ada Tanda Terima yang menyertai Bukti Kas Masuk dan Bukti Bank Masuk sebagai bukti diterimanya uang, sedangkan untuk pengeluaran kas seharusnya ada Tanda Bayar atau nota transaksi yang menyertai Bukti Kas Keluar dan Bukti Bank Keluar sebagai bukti pembayaran. 3 Attribute III: adanya kesesuaian antara bukti transaksi dengan catatan akuntansi. Bukti transaksi yang sesuai dengan catatan akuntansi menjadi hal yang penting karena hal tersebut membuktikan bahwa bukti transaksi yang telah dibuat valid dan sinkron dengan catatan akuntansi yang berkaitan. Pada penerimaan kas, uang yang diterima beserta nama pengirim dan penyetor uang dan nominal yang tertera di bukti transaksi harus sama dengan yang tertera pada catatan akuntansi, dan pada pengeluaran kas, nominal dan tujuan pembayaran yang ada di bukti transaksi harus sama dengan yang ada di catatan akuntansi. 4 Attribute IV: adanya nomor urut tercetak pada dokumen transaksi. Menurut Romney 2004: 240, dokumen perlu bernomor urut tercetak agar dokumen dapat dipertanggungjawabkan dan agar mengurangi kesempatan pengguna dokumen melakukan kecurangan fraud. Nomor urut tercetak seharusnya ada pada setiap dokumen transaksi pada penerimaan dan pengeluaran kas paroki untuk memperkuat pengendalian internal. 5 Attribute V: adanya tanda validasi di bukti transaksi yang membuktikan bahwa transaksi yang tertulis di bukti transaksi sinkron dan valid dengan transaksi yang tertulis di buku kas harian dewan paroki elektronik. b. Setelah menentukan attribute, maka langkah selanjutnya adalah menentukan populasi. Populasi yang akan diambil sampelnya adalah dokumen-dokumen dan catatan-catatan yang berkaitan dengan penerimaan dan pengeluaran kas dari 1 Januari 2016 sampai dengan 31 Maret 2016. c. Menentukan tingkat keandalan R dan DUPL Pada tahap ini penulis menentukan tingkat keandalan yang akan dipilih dan tingkat kesalahan maksimum yang masih diterima. Tabel yang tersedia dalam stop-or-go sampling menyarankan penulis untuk memilih tingkat kepercayaan 90, 95, dan 97,5. d. Menentukan jumlah sampel yang harus diambil dengan menggunakan tabel besarnya sampel minimum. Tabel 3.6 Tabel Besarnya Sampel Minimum untuk Pengujian Pengendalian Acceptable Uper Precision Limit Sample Size Based on Confidence Levels 90 95 97,5 10 24 30 37 9 27 34 42 8 30 38 47 7 35 43 53 6 40 50 62 5 48 60 74 4 60 75 93 3 80 100 124 2 12 150 185 1 240 300 370 Sumber: Mulyadi 2002: 265 e. Memilih anggota sampel dari seluruh anggota populasi secara acak. Agar setiap anggota populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel anggota, maka pemilihan sampel dari keseluruhan anggota populasi harus dilakukan secara PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI acak. Sampel yang diambil ini sebanyak 60. Sampel ini diambil dengan tujuan untuk memperkirakan besarnya DUPL. f. Pemeriksaan terhadap attribute yang menunjukkan efektivitas pengendalian internal. Dalam pengujian kepatuhan, atribut yang sudah ditentukan di atas diuji apakah ketiga atribut tersebut ada pada sampel yang diambil. g. Membuat tabel Stop-Or-Go Decision Tabel Stop-Or-Go Decision berisi informasi tentang jumlah sampel awal dan tindakan yang harus diambil jika terdapat kesalahan. Langkah-langkah untuk menyusun Stop-Or-Go Decision yaitu: Tabel 3.7 Tabel Stop-Or-Go Decision Langkah Besarnya smpel kumulatif yang digunakan Berhenti jika kesalahan kumulatif yang terjadi sama dengan Lanjutkan ke langkah berikutnya jika kesalahan yang terjadi sama dengan Lanjutkan ke langkah 5 jika kesalahan paling tidak sebesar 1 60 1 4 2 96 1 2 4 3 126 2 3 4 4 156 3 4 4 Sumber: Mulyadi 2002: 266 Langkah 1: Jika pemeriksaan terhadap 60 sampel tersebut tidak ditemukan kesalahan, atau DUPL = AUPL, maka pengambilan sampel dihentikan. AUPL dihitung dengan menggunakan rumus: ܣ ܷ ܲ ܮ = ܥ ݋ ݊ ݂ ݅ ݀ ݁ ݊ ܿ ݁ ݈ ݁ ݒ ݁ ݈ ݂ ܽ ܿ ݐ ݋ ݎ ܽ ݐ ݀ ݁ ݏ ݅ ݎ ݁ ݀ ݎ ݁ ݈ ݅ ܽ ܾ ݅ ݈ ݅ ݐ ݕ ݂ ݋ ݎ ܽ ܿ ܿ ݑ ݎ ܽ ݊ ܿ ݁ ݋ ܾ ݏ ݁ ݎ ݒ ݁ ݀ ܵ ܽ ݉ ݌ ݈ ݁ ݏ ݅ ݖ ݁ PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI Menurut tabel 3.3, Confidence level factor pada R = 95 dan tingkat keandalan = 0 adalah 3, maka AUPL = 360 adalah 5. Jika kesalahan yang dijumpai = 0 dan DUPL = AUPL maka pengambilan sampel dihentikan. Tabel 3.8Attribute Sampling for Determining Stop-Or-Go Sample Size and Upper Precision Limit Population Occurance Rate Base on Sample Result Number of Occurance Convidance Levels 90 95 97,5 2,4 3,0 3,7 1 3,9 4,8 5,6 2 5,4 6,3 7,3 3 6,7 7,8 8,8 4 8,0 9,2 10,3 5 9,3 10,6 11,7 6 10,6 11,9 13,1 7 11,8 13,2 14,5 - - - - - - - - 51 61,5 64,5 67,0 Sumber: Mulyadi 2002:268-269 Langkah 2: Jika kesalahan yang dijumpai dalam pemeriksaan anggota sampel = 1 maka confidence level factor pada R = 95 adalah 4,8 dan AUPL = 4,860 adalah 8. Karena AUPL DUPL maka perlu mengambil sampel tambahan dengan rumus: ܵ ܽ ݉ ݌ ݈ ݁ ܵ ݅ ݖ ݁ = ܥ ݋ ݊ ݂ ݅ ݀ ݁ ݊ ܿ ݁ ݈ ݁ ݒ ݁ ݈ ݂ ܽ ܿ ݐ ݋ ݎ ܽ ݐ ݀ ݁ ݏ ݅ ݎ ݁ ܽ ݊ ݀ ݎ ݁ ݈ ݅ ܽ ܾ ݅ ݈ ݅ ݐ ݕ ݂ ݋ ݎ ܽ ܿ ܿ ݑ ݎ ܽ ݊ ܿ ݁ ݂ ݅ ݈ ݁ ݋ ܾ ݏ ݁ ݎ ݒ ݁ ݀ ܦ ݁ ݏ ݅ ݎ ݁ ݑ ݌ ݌ ݁ ݎ ݌ ݎ ݁ ܿ ݅ ݏ ݅ ݋ ݊ ݏ ݅ ݖ ݁ Besar sampel dihitung sebagai berikut 4,85 = 96. Angka besarnya sampel kemudian dicantumkan dalam kolom “besarnya sampel kumulatif yang digunakan” pada baris langkah 2. Jika kesalahan yang dijumpai dalam pemeriksaan terhadap 96 anggota sampel = 1, maka AUPL = 4,896 adalah 5. Karena AUPL = DUPL, maka pengambilan sampel dihentikan. Langkah 3: Jika pemeriksaan terhadap 96 anggota sampel pada langkah 2 ditemukan dua kesalahan maka perlu diambil sampel tambahan. Besarnya sampel dihitung sebagai berikut 6,35 = 126. Angka besarnya sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam kolom “besarnya sampel kumulatif yang digunakan” pada baris langkah 3. Jika 126 anggota sampel tersebut hanya terdapat dua kesalahan, maka AUPL = 6,3126 adalah 5. Karena AUPL = DUPL maka pengambilan sampel dihentikan. Langkah 4: Jika dalam pemeriksaan terhadap 126 anggota sampel ditemukan 3 kesalahan atau penyimpangan, maka harus diambil sampel tambahan. Besarnya sampel dihitung sebagai berikut: 7,85 adalah 156. Angka besarnya sampel ini kemudian dimasukkan ke dalam kolom “ besarnya sampel kumulatif yang digunakan” pada baris langkah 4. Jika 156 anggota tersebut hanya terdapat tiga kesalahan, penulis akan mengambil keputusan bahwa sistem pengendalian internal adalah efektif, dan penulis akan menghentikan pengambilan sampelnya kaena AUPL = DUPL. Namun jika dari 156 anggota sampel tersebut penulis menemukan 4 kesalahan maka AUPL menjadi sebesar 5,9 9,2156. Dalam keadaan ini penulis beralih ke langkah kelima yaitu mengambil kesimpulan bahwa elemen sistem pengendalian internal yang diperiksa tidak dapat dipercaya atau penulis dapat menggunakan fixed-sample-size- attribute sampling sebagai alternatif. h. Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap sampel Evaluasi hasil pemeriksaan terhadap sampel dilakukan dengan cara membandingkan antara tingkat kesalahan maksimum yang dapat diterima DUPL dengan tingkat kesalahan yang dicapai AUPL. Apabila AUPL = DUPL, dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal efektif. Tetapi bila AUPL DUPL, maka dapat disimpulkan bahwa pengendalian internal belum efektif. Fungsi, catatan, prosedur, dan dokumen pengendalian internal tidak semuanya memiliki kelemahan, ada juga yang tidak memiliki kelemahan. Fungsi, catatan, prosedur, dan dokumen yang tidak memiliki kelemahan juga akan dijelaskan bahwa ketiga hal tersebut sudah berjalan dengan baik. Kemudian untuk fungsi, catatan, prosedur, dan dokumen pengendalian internal yang masih lemah atau memiliki kelemahan akan diberikan rekomendasi yang akan dibahas di langkah ketiga. Perekomendasian tersebut dapat dilakukan dengan menceritakan kelemahan-kelemahan terkait pengendalian internal dalam sistem informasi akuntansi penerimaan kas yang ditemukan dalam bentuk narasi. 92

BAB IV GAMBARAN UMUM ORGANISASI

A. Sejarah dan Perkembangan Paroki

1. Sejarah Paroki Santo Antonius Padua Kendal Perjalanan Gereja Kendal tidak dapat dilepaskan dari keberadaan orang-orang Belanda yang bertugas di perkebunan tebu dan pabrik gula Cepiring. Tidak ada satupun orang Kendal yang memeluk agama Katolik. Pada tahun 1945, orang-orang Belanda mulai meninggalkan Kendal dan bersamaan itu pula datanglah orang-orang Jawa yang beragama Katolik ke perkebunan tebu dan pabrik gula Cepiring. Situasi Kendal mulai berubah. Sekitar tahun 1950-an, puluhan orang Katolik pendatang hidup di Kendal, yang bekerja sebagai guru, polisi, pegawai pemerintah daerah, pegawai kejaksaan dan pengadilan, pegawai pabrik gula Cepiring dan perhutani. Pada tahun 1948, Rm. Petrus Chrisologus Soetapanitra, SJ, yang tinggal di paroki Gedangan Semarang, mulai memperhatikan kehidupan iman umat di Kendal, Weleri, dan Sukorejo secara intensif. Romo sering mengadakan kunjungan keluarga, sehingga terbentuklah paguyuban keluarga-keluarga Katolik yang diyakini sebagai perintis dan dasar berkembangnya umat Katolik di Kaliwungu, Kendal, dan Pegandon. Di Kaliwungu ada keluarga bapak Supardjono, bapak Sukirman, dan bapak Soejadi. Di Pegandon ada keluarga bapak Tamsi PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dan bapak Tjipto Carik Magangan. Di Pabrik Gula Cepiring ada keluarga Ibu Sumodarmono. Di Kendal ada keluarga bapak Atmowijoyo Ketua Partai Katolik Kabupaten Kendal, bapak Sudarmo, ibu Nanik, dan bapak van Ersen orang Belanda. Pada tahun 1969-1972, Rm. Constantinus Harsasuwita SJ. ditugaskan menjadi pastor di Weleri-Kendal-Kaliwungu, sekaligus menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat II Kabupaten Kendal. Keterlibatan beliau di DPRD, menjadikan Gereja Katolik dikenal di seluruh kabupaten, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat luas. 2. Pelindung Paroki Santo Antonius Padua Antonius dilahirkan pada tahun 1195 di Lisabon, ibu kota Portugal. Ayahnya adalah kapten dari angkatan bersenjata kerajaan di situ. Ketika berumur lima belas tahun, pemuda ini telah masuk Kongregasi Regular Kanon dari St. Agustinus dan sangat memusatkan diri sungguh-sungguh dalam studi dan melakukan kesalehan dalam biara di Coimbra. Pada tahun 1220 terjadilah suatu kejadian penting yang mengubah kariernya seumur hidup. Relikui St. Bernardus dan kawan-kawannya, para martir Ordo Fransiskan yang pertama, dipindahkan dari Afrika ke Coimbra. Ketika menyaksikan hal itu, Antonius terasuki dengan kerinduan yang sangat kuat untuk menderita kemartiran sebagai seorang misionaris Fransiskan di Afrika. Sebagai jawaban atas permohonannya yang PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI sederhana dan berulang-ulang itu, akhirnya dengan berat hati atasannya memberikan ijin untuk berpindah ke Ordo Fransiskan. Ketika dia berpamitan meninggalkan mereka, salah seorang Kanon berkata kepadanya dengan sedikit mengejek, “Pergilah saja, mungkin engkau akan menjadi seorang santo dalam Ordo yang baru itu.” Antonius menjawab: “Saudara, bila engkau mendengar bahwa saya menjadi seorang santo, engkau akan memuji Tuhan karenanya.” Dalam sebuah biara Fransiskan yang kecil dan sepi di Coimbra dia diterima dengan ramah tamah dan dalam tahun yang sama itu kerinduannya yang besar untuk dapat diutus sebagai misionaris ke Afrika terpenuhi. Tetapi Tuhan telah memutuskan sesuatu yang lain. Begitu Antonius menginjakkan kakinya di Afrika, dia langsung tertimpa sakit berat. Bahkan setelah sembuh, dia menjadi begitu lemah, sehingga dia menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan dan naik ke sebuah perahu dan kembali ke Portugal. Tetapi angin badai menerpa perahu itu dan menghanyutkannya ke pantai Sisilia. Dari sana Antonius pergi ke Asisi. Dan di sana tengah diadakan kapitel general Ordo, pada bulan Mei 1221. Antonius dikirim ke Forli dengan beberapa saudara lain, untuk menghadiri upacara pentahbisan. Di biara itu, atasan menghendaki seseorang memberikan sambutan. Setiap orang memberikan dalih bahwa dirinya tidak siap dan akhirnya Antonius diminta untuk memberi sambutan. Ketika dia juga dengan sangat rendah hati minta PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI dimaafkan, atasan itu pun memerintahkannya demi kaul ketaatan untuk memberikan kotbah. Antonius mulai berbicara dalam nada yang sangat sederhana; tetapi segera semangat yang kudus menyergapnya, dan dia pun berbicara dengan kefasihan, keilmuan dan keagungan yang sedemikian menakjubkan, sehingga setiap orang menjadi tercengang-cengang. St. Antonius sendiri memberikan nilai yang lebih besar pada keselamatan jiwa-jiwa daripada pada studi. Dengan alasan itulah dia tidak pernah berhenti melaksanakan tugasnya sebagai pengkhotbah, di samping karyanya sebagai pengajar. Jumlah para pendengarnya seringkali sedemikian besar sehingga tidak ada gereja yang cukup luas untuk menampungnya; dan dia harus berkhotbah di tempat terbuka. Dia dihiasi dengan mukjizat-mukjizat pentobatan yang sejati. Orang- orang yang sudah bermusuhan sampai mati dapat dirujukkan kembali satu sama lain. Pencuri-pencuri dan pemeras-pemeras memberikan kembali barang-barang yang telah diperolehnya dengan tidak halal. Orang-orang pemfitnah dan pengumpat menjadi saling minta maaf. Dia sedemikian bersemangat mempertahankan kebenaran Iman Katolik, sehingga banyak orang-orang tersesat kembali masuk ke naungan Gereja, sehingga Paus Gregorius IX menggelarinya “tabut perjanjian.” Berkat-berkat khotbah St. Antonius tidaklah terhalang oleh perbatasan Italia. St. Fransiskus mengirim dia ke Perancis, di mana PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI selama hampir tiga tahun 1225-1227 dia berjerih payah dengan hasil-hasil yang melimpah baik di biara-biara maupun dari mimbar. Dalam semua kerja kerasnya itu, dia tidak pernah melupakan nasehat dari Bapa rohanianya, bahwa semangat doa tidak boleh dipadamkan. Bila dia menghabiskan hari itu dengan pengajaran, dan dia mendengar pengakuan orang-orang berdosa sampai jauh malam, maka kemudian dia menghabiskan berjam-jam malam itu dalam kesatuan yang mesra dengan Tuhan. Pada 1227, Antonius dipilih menjadi Minister Provinsial dari Italia Utara. Sesudah itu dia mulai lagi karya khotbahnya. Karena terhisap oleh kerja keras dan laku hidup matiraganya yang keras, segeralah dia merasa bahwa kekuatannya sedemikian terkuras sehingga dia mempersiapkan diri menghadapi ajalnya. Setelah menerima Sakramen Terakhir, dia tetap melihat ke atas dengan senyum kebahagiaan. Ketika dia ditanya ada apa di atas sana, dia menjawab, “Aku melihat Tuhanku.” Lalu dia pun menghembuskan nafasnya yang terakhir pada 13 Juni 1231, dan baru berumur 36 tahun saja. Serta merta anak-anak di jalanan kota Padua itu berteriak-teriak, “Sang Santo telah meninggal. Antonius telah wafat.” Tahun berikutnya Paus Gregorius IX memasukkan Antonius di antara para Santo. Di Padua sebuah basilika yang megah dibangun untuk menghormatinya. Relikwi kudusnya dimakamkan di sana pada 1263. Sejak waktu kematiannya sampai hari ini, tak terbilang jumlah PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI mukjizat telah terjadi berkat pengantaraan St. Antonius, sehingga dia terkenal dengan nama Pembuat Mukjizat. Pada 1946 dia juga dinyatakan sebagai Doktor Gereja. 3. Pembangunan Gereja a. Pembangunan Gereja Kendal Pada saat itu, Kendal memiliki sebuah gereja yang sangat kecil dan sederhana sehingga tidak mampu lagi untuk menampung umat yang mulai berkembang jumlahnya. Umat berusaha untuk mendirikan gereja yang lebih baik dan besar. Usaha ini juga didukung oleh Bupati Kendal, bahkan beliau juga memberikan sumbangan dana untuk pendirian gereja. Gereja mulai dibangun pada tahun 1969 di atas tanah milik Yayasan Kanisius, yaitu bekas gedung Sekolah Katolik Budi Murni telah dibubarkan dan dipindahkan ke Weleri. Pada tahun 1971, gereja selesai dibangun, diberkati, dan diresmikan pemakaiannya dengan berlindung di bawah naungan Santo Antonius Padua. Gedung gereja lama, sesuai dengan kehendak umat, dijadikan pastoran dan ruang pertemuan dalam mengadakan aktivitas paroki. Pada Tahun 1996, gereja dibangun lebih besar dan ditinggikan dari permukaan tanah sebab sering terkena banjir. Sampai sekarang gereja masih berdiri dengan megahnya. b. Pembangunan Gereja Kaliwungu PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dokumen yang terkait

Evaluasi kualitas fungsi auditor internal dalam meningkatkan efektivitas pengendalian internal bank (Studi kasus Bank Permata Cabang Medan)

1 53 92

Evaluasai sistem informasi akutansi penerimaan dan pengeluaran kas dana program bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional pendidikan (BOP) sebagai penyedia informasi untuk pengendalian internal pada sekolah menengah pertama negeri (SMPN) 1

8 58 142

Rancang bangun sistem informasi manajemen berbasis web pada penerimaan dan pengeluaran zakat infaq dan sadaqah (studi kasus: masjid Jami' Baitul Mughi)

4 29 208

Pengaruh efektivitas penggunaan dan kepercayaan atas teknologi sistem informasi akuntansi terhadap kinerja auditor internal : studi pada auditor di Jakarta

1 24 121

Rancang bangun sistem informasi penerimaan karyawan berbasis WEB: studi kasus PT Desalite Esbang Jaya

19 75 269

Perancangan sistem informasi akuntansi pada organisasi nirlaba: studi kasus di Yayasan Islam Hanifa

1 5 88

Pengaruh internal audit dan sistem informasi akuntansi terhadap pengendalian internal : (studi kasus pada Bank BUMN di Wilayah Bandung yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

1 14 65

Pengaruh budaya organisasi terhadap pengendalian internal dengan sistem informasi akuntansi sebagai variabel intervening : (survey pada KPP di Kanwil Jawa Barat I)

1 13 96

Pengaruh budaya organisasi terhadap sistem nformasi akuntansi dan implikasinya pada pengendalian internal (survey pada 10 KPP Bandung Kanwil Jawa Barat I0

0 2 1

Pengaruh sistem informasi akuntansi dan audit sistem informasi terhadap pengendalian internal :(studi kasus pada PT.Telkom, tbk)

33 196 107

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2712 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 704 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 591 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 388 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 527 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 889 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

43 808 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 494 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 734 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 877 23