Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Pekerja PT. X 2015

(1)

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA PT. X

TAHUN 2015

TESIS

Oleh

AGNES FERUSGEL 137032090/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA PT. X

TAHUN 2015

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Minat Studi Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Oleh

AGNES FERUSGEL 137032090/IKM

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(3)

Judul Tesis : PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA PT. X TAHUN 2015

Nama Mahasiswa : Agnes Ferusgel Nomor Induk Mahasiswa : 137032090

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi : Kesehatan Kerja

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE) (Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S)

Ketua Anggota

Dekan

(Dr. Drs. Surya Utama, M.S)


(4)

Telah diuji

Pada Tanggal : 15 April 2015

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E Anggota 1. Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S

2. dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K 3. Ir. Kalsum, M.Kes


(5)

PENGARUH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS PEKERJA PT. X

TAHUN 2015

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis di acu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, April 2015

Agnes Ferusgel 137032090/IKM


(6)

ABSTRAK

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktivitas kerja. Perusahaan mengadakan program keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan dan produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap produktivitas pekerja di PT. X Tahun 2015.

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan desain cross sectional, penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2015. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan pemanen sawit di PT X sebanyak 206 orang. Sampel dalam penelitian ini yaiti sebanyak 60 pemanen sawit. Metode analisis data menggunakan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menggambarkan hubungan variabel laten dengan indikatornya (measurement model) dan untuk menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten (structural model).

Keselamatan kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas dengan nilai koefisien jalur 0,31. Keselamatan kerja dibentuk oleh indikator konstruk peraturan keselamatan, dukungan dn komunikasi, alat pelindung diri, dan pelatihan. Kesehatan kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas dengan nilai koefisien jalur 0,46. Kesehatan kerja dibentuk oleh indikator konstruk kondisi fisik, pemeriksaan kesehatan dan sarana pelayanan kesehatan. keselamatan dan kesehatan mampu menjelaskan variabel produktivitas sebesar 52%

Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi keselamatan kerja dan membuat variasi yang baru dalam mengkomunikasikan keselamatan kerja, meningkatkan kesehatan fisik para pekerja dengan cara menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang memadai.


(7)

ABSTRACT

Job Safety and Health is one of the attempts to create a work place which is safe, healthy, and free from pollution so that it can reduce and/or be free from accidence and illness because of job which will eventually increase work system and productivity. A company which performs job safety and health is expected to increase its performance and its employees’ work productivity. The objective of the research was to find out the influence of job safety and health program on the employees’ productivity at PT. X, in 2015.

The research used an analytic method with cross sectional design. It was conducted in March, 2015. The population was 206 palm oil harvesters at PT X, and 60 of them were used as the samples. The data were analyzed by using Structural Equation Modeling (SEM) to describe the correlation of latent variable with its indicator (measurement model) and to describe the correlation among the latent variables (structural model).

Job Safety had positive influence on productivity at the linear coefficient value of 0.31. It was formed by the indicators of safety regulation construction, support and communication, personal safety device, and training. It had positive influence on productivity at linear coefficient value of 0.46. It was formed by the indicator of physical condition construction, health examination and health service facility, and it could explain the variable of productivity of 52%.

It is recommended to the company to improve safety and communication skills make a new variation in communicating safety. Company can improve the physical health of workers through improved services and health facilities.


(8)

KATA PENGANTAR

Segala Puji Syukur penulis dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan pertolonganNya yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini dengan judul “Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Pekerja PT. X 2015”.

Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Proses penulisan tesis dapat terwujud berkat dukungan, bimbingan, arahan dan bantuan moral maupun material dari banyak pihak. Untuk itu izinkan penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

1. Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 FKM Universitas Sumatera Utara.

4. Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, M.S.I.E, selaku ketua komisi pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai.


(9)

5. Dra. Lina Tarigan, Apt, M.S, selaku anggota komisi pembimbing dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari proposal hingga penulisan tesis selesai. 6. dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K, selaku komisi penguji yang telah banyak

memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.

7. Ir. Kasum, M.Kes, selaku komisi penguji yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini

8. Ketua P2K3 PT. Lonsum RSE yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di PT Lonsum RS.E

9. Dosen dan staf di lingkungan Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

10.Ayahanda Pertoton Ginting dan Ibunda Karolina Surbakti serta adik-adikku Arya Mandala, Yunus Abednego, Besda Bethania yang selalu memberikan dukungan dan doa kepada penulis agar bisa menyelesaikan pendidikan ini.

11.Untuk teman-teman seperjuangan 5 cm (Arifa, Suryati, Alprida, dan Mawaddah) yang telah memberikan semangat dalam menjalani dan menyelesaikan pendidikan di Program Magister IKM FKM-USU.

12.Untuk rekan-rekan seperjuangan mahasiswa S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat tahun 2013 yang (Benny, Bapak Evraim, Bang Tumbur, Kak Fitri, Bang Leo dan Bang Ugi) yang telah membantu dalam menjalani dan menyelesaikan pendidikan di Program Magister IKM FKM-USU.


(10)

Penulis menyadari atas segala keterbatasan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi pengambil kebijakan di bidang kesehatan, dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi penelitian selanjutnya.

Medan, April 2015 Penulis

Agnes Ferusgel 137032090/IKM


(11)

RIWAYAT HIDUP

Agnes Ferusgel lahir pada tanggal 15 Juni 1990 di Gresik. Anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Ayanda Pertoton Ginting dan Ibunda Karolina Surbakti.

Pendidikan formal penulis dimulai dari pendidikan di TK Dharma Wanita selesai tahun 1996, Sekolah Dasar Negeri 1 Gresik selesai tahun 2002, Sekolah Menengah Pertama Negeri 26 Surabaya selesai tahun 2005, Sekolah Menengah Atas Negeri 6 Surabaya selesai tahun 2008, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara selesai tahun 2012.

Penulis mengikuti pendidikan lanjutan di Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat minat studi Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat Univeristas Sumatera Utara sejak tahun 2013 dan akan menyelesaikan studi tahun 2015.


(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Permasalahan ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 9

1.4. Hipotesis ... 9

1.5. Manfaat Penelitian ... 9

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 10

2.1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ... 10

2.1.1. Keselamatan Kerja ... 12

2.1.2. Kesehatan Kerja ... 15

2.1.3. Tujuan K3 ... 17

2.1.4. Manfaat K3 ... 20

2.2. Produktivitas Kerja ... 22

2.2.1. Jenis Produktivitas ... 25

2.2.2. Metode Pengukuran Produktivitas Kerja ... 26

2.2.3. Manfaat Produktivitas Kerja ... 27

2.2.4. Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja ... 29

2.2.5. Faktor-faktor yang Memengaruhi Produktivitas Kerja ... 31

2.3. Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Produktivitas ... 37

2.4. Landasan Teori ... 39

2.5. Kerangka Konsep ... 41

BAB 3. METODE PENELITIAN ... 42

3.1. Jenis Penelitian ... 42


(13)

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 42

3.2.2. Waktu Penelitian ... 42

3.3. Populasi dan Sampel ... 43

3.3.1. Populasi ... 43

3.3.2. Sampel ... 43

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 44

3.4.1. Data Primer ... 44

3.4.2. Data Sekunder ... 44

3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 44

3.5.1. Variabel ... 44

3.5.2. Definisi Operasional ... 44

3.6. Aspek Pengukuan ... 46

3.7. Metode Analisis Data ... 46

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 48

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 48

4.2 Karakteristik Pemanen ... 49

4.2.1 Umur Pemanen ... 49

4.2.2 Pendidikan Pemanen ... 49

4.2.3 Masa Kerja Pemanen ... 50

4.3 Univariat ... 50

4.3.1 Keselamatan ... 50

4.3.2 Kesehatan ... 53

4.3.3 Produktivitas ... 56

4.4 Analisis SEM ... 58

4.4.1 Pengujian Asumsi Normalitas Multivariat ... 59

4.4.2 Measurent Model ... 60

4.4.3 Keselamatan Kerja ... 62

4.4.4 Kesehatan Kerja ... 63

4.4.5 Produktivitas Kerja ... 65

4.4.6 Struktural Model ... 67

BAB 5. PEMBAHASAN ... 71

5.1 Pengaruh Keselamatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja 71 5.2 Pengaruh Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja ... 78

5.3 Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap Produktivitas Kerja ... 84

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 88

6.1 Kesimpulan ... 88

6.2 Saran ... 88

DAFTAR PUSTAKA ... 90


(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1 Kasus Kecelakaan 2008-2012 ... 4

4.1. Distribusi Umur Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 49

4.2. Distribusi Pendidikan Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 49

4.3. Distribusi Masa Kerja Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 50

4.4. Distribusi Jawaban Pemanen tentang Keselamatan di PT. X Tahun 2015 52 4.5. Distribusi Frekuensi Keselamatan Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 53

4.6. Distribusi Jawaban Pemanen tentang Kesehatan di PT. X Tahun 2015 54 4.7. Distribusi Frekuensi Kesehatan Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 55

4.8. Distribusi Jawaban Pemanen tentang Produktivitas di PT. X Tahun 2015 57 4.9. Distribusi Frekuensi Produktivitas Pemanen di PT. X Tahun 2015 ... 58

4.10. Nilai SLF pada Variabel Keselamatan Kerja ... 62

4.11. Nilai SLF pada Variabel Kesehatan Kerja ... 64

4.12. Nilai SLF pada Variabel Produktivitas Kerja ... 66


(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1. The Finish Work Environment Fund (EANPC, 2005) ... 41

2.2. Kerangka Konsep Penelitian ... 41

3.1. Pemodelan SEM ... 47

4.1. Uji Normalitas Multivariata ... 60

4.2. Gambara Path Analisis ... 60

4.3. Gambaran t-value ... 61

4.4. Konfirmatori Analisis Keselamatan Kerja ... 63

4.5. Konfirmatori Analisis Kesehatan Kerja ... 65

4.6. Konfirmatori Analisis Produktivitas Kerja ... 66

4.7. Output Korelasi Model SFM ... 68


(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 94

2. Master Data ... 97

3. Output ... 101

4. Dokumentasi Penelitian ... 117

5. Surat Izin Penelitian ... 119


(17)

ABSTRAK

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktivitas kerja. Perusahaan mengadakan program keselamatan dan kesehatan kerja diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan dan produktivitas kerja karyawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) terhadap produktivitas pekerja di PT. X Tahun 2015.

Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan desain cross sectional, penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2015. Populasi penelitian ini adalah seluruh karyawan pemanen sawit di PT X sebanyak 206 orang. Sampel dalam penelitian ini yaiti sebanyak 60 pemanen sawit. Metode analisis data menggunakan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menggambarkan hubungan variabel laten dengan indikatornya (measurement model) dan untuk menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten (structural model).

Keselamatan kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas dengan nilai koefisien jalur 0,31. Keselamatan kerja dibentuk oleh indikator konstruk peraturan keselamatan, dukungan dn komunikasi, alat pelindung diri, dan pelatihan. Kesehatan kerja berpengaruh positif terhadap produktivitas dengan nilai koefisien jalur 0,46. Kesehatan kerja dibentuk oleh indikator konstruk kondisi fisik, pemeriksaan kesehatan dan sarana pelayanan kesehatan. keselamatan dan kesehatan mampu menjelaskan variabel produktivitas sebesar 52%

Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi keselamatan kerja dan membuat variasi yang baru dalam mengkomunikasikan keselamatan kerja, meningkatkan kesehatan fisik para pekerja dengan cara menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang memadai.


(18)

ABSTRACT

Job Safety and Health is one of the attempts to create a work place which is safe, healthy, and free from pollution so that it can reduce and/or be free from accidence and illness because of job which will eventually increase work system and productivity. A company which performs job safety and health is expected to increase its performance and its employees’ work productivity. The objective of the research was to find out the influence of job safety and health program on the employees’ productivity at PT. X, in 2015.

The research used an analytic method with cross sectional design. It was conducted in March, 2015. The population was 206 palm oil harvesters at PT X, and 60 of them were used as the samples. The data were analyzed by using Structural Equation Modeling (SEM) to describe the correlation of latent variable with its indicator (measurement model) and to describe the correlation among the latent variables (structural model).

Job Safety had positive influence on productivity at the linear coefficient value of 0.31. It was formed by the indicators of safety regulation construction, support and communication, personal safety device, and training. It had positive influence on productivity at linear coefficient value of 0.46. It was formed by the indicator of physical condition construction, health examination and health service facility, and it could explain the variable of productivity of 52%.

It is recommended to the company to improve safety and communication skills make a new variation in communicating safety. Company can improve the physical health of workers through improved services and health facilities.


(19)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat pekerja maupun pengusaha sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan akibat kerja dan penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif apabila terjadi kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Tujuannya adalah untuk menciptakan tempat kerja yang nyaman, dan sehat sehingga dapat menekan serendah mungkin resiko kecelakaan dan penyakit (Friend & Khon, 2007).

Keselamatan dan kesehatan merupakan hal yang penting secara ekonomi, moral, dan hukum, keselamatan dan kesehatan kerja telah menjadi isu penting. Perusahaan sedang berusaha untuk tetap menguntungkan dalam ekonomi global yang semakin kompetitif, untuk ini perusahaan menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja agar praktik bisnis tetap berjalan dengan baik. Bagi banyak perusahaan besar program keselamatan, kesehatan, dan lingkungan merupakan bentuk perlindungan kelangsungan hidup pekerjanya (Friend & Khon, 2007).

Persaingan industri yang semakin kompetitif menuntut perusahaan lebih mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimilikinya, secara garis besar sumber daya yang dimilikinya. : (1) finansial, (2) fisik, (3) manusia, (4) teknologi. Sumber daya yang dimiliki perusahaan terbatas jumlahnya, maka perusahaan dituntut mampu


(20)

memberdayakan dan mengoptimalkan untuk mencapai tujuan perusahaan. Sumber Daya Manusia (SDM) menempati tempat strategis dan penting diantara sumber daya lainnya (Sedarmayanti, 2007).

SDM yang handal dan tangguh dibutuhkan dalam menunjang bisnis perusahaan agar dapat bersaing, oleh karena itu suatu perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan produktivitas sumber daya manusia yang ada. Produktivitas sumber daya manusia ditentukan oleh sejauh mana sistem yang ada di perusahaan mampu menunjang dan memuaskan keinginan seluruh pihak (Sedarmayanti, 2007).

Produktivitas adalah kemampuan dalam memproduksikan barang atau jasa secara efisien dan efektif. Produktivitas tenaga kerja mengandung pengertian yakni perbandingan antara hasil yang dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Berdasarkan teori produktivitas, dikemukakan bahwa produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: latar belakang pendidikan dan keterampilan, disiplin, motivasi, sikap dan etika kerja, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, teknologi, sarana produksi dan kesempatan berprestasi (Sumarsono, 2003).

Naiknya produksi tidaklah selalu diikuti oleh naiknya produktivitas, karena produksi sebagai aktivitas untuk menghasilkan barang atau jasa memerlukan masukan yang berkenaan dengan efisiensi penggunaan sumber-sumber dalam menghasilkan barang atau jasa, oleh karena itu bertambah besarnya produksi tidaklah selalu berarti bahwa produktivitasnya naik. Keselamatan dan kesehatan kerja para karyawan perlu


(21)

juga diperhatikan, agar mereka terus dapat meningkatkan dan menjaga kualitas dan kuantitas kinerja mereka bagi perusahaan.

Salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas karyawan adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Menurut Hariandja (2007) K3 merupakan aspek yang penting dalam usaha meningkatkan kesejahteraan serta produktivitas karyawan. Keselamatan kerja tinggi akan menekan tingkat kecelakaan yang menyebabkan sakit, cacat, dan kematian dapat ditekan sekecil mungkin. Keselamatan kerja rendah maka akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan sehingga berakibat pada produktivitas yang menurun. Dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi lebih dari 5.000 kematian saat bekerja (Friend & Khon, 2007).

Menurut data Internasional Labour Organitation (ILO) pada tahun 2010 tercatatnya setiap tahunnya lebih dari 2 juta orang yang meninggal akibat kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sekitar 160 juta orang menderita penyakit akibat kerja dan terjadi sekitar 270 juta kasus kecelakaan kerja pertahun di seluruh dunia (Ramli 2012). Menurut International Labor Organization (ILO), tingkat kecelakaan kerja dan berbagai ancaman Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Indonesia masih cukup tinggi, di Indonesia setiap 100.000 tenaga kerja terdapat 20 korban fatal akibat kecelakaan kerja. Sehingga menurut kalkulasi ILO, kerugian yang harus ditanggung akibat kecelakaan kerja di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia juga tinggi, mencapai 4% dari produk nasional bruto (PNB) (Budianto, 2014).


(22)

Di Indonesia, angka kecelakaan kerja menunjukkan angka yang sangat mengkuatirkan. Bahkan menurut penelitian International Labor Organization (ILO), Indonesia menempati urutan ke 52 dari 53 negara dengan manajemen K3 yang buruk. Padahal biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan akan sangat besar apabila sampai terjadi kecelakaan ditempat kerja (Hanggraeni, 2012).

Berdasarkan data PT Jamsostek jumlah kasus dalam 10 tahun terakhir berfluktasi. Hal ini sejalan dengan jumlah peserta aktif yang juga bersifat fluktulatif. Adapun mengenai rincian jumlah kasus kecelakaan selama tahun 2008-2012 dapat dijabarkan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1.1 Kasus Kecelakaan 2008-2012

Tahun Jumlah Kecelakaan

2008 93.823

2009 96.135

2010 86.692

2011 92.000

2012 103.074

Sumber: PT Jamsostek

Kecelakaan kerja yang terjadi tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan suatu usaha. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satu-satunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun (Gravel, Rheaume & Legendre, 2011). Kecelakaan akan mengurangi produktivitas dan meningkatkan biaya produksi. Praktek-praktek


(23)

keselamatan yang diperlukan di tempat kerja, untuk mengurangi kecelakaan kerja suatu perusahaan akan melaksanakan praktek keselamatan tersebut dituangkan dalam aturan dan kebijakan yang akan mengatur tindakan pekerja saat kerja. Peraturan tersebut diatur di dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3).

Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja mempunyai peranan penting dalam perusahaan, karena dampak kecelakaan dan penyakit yang diakibatkan karena kurangnya manajemen keselamatan dan kesehatan kerja tidak hanya merugikan tenaga kerja, tetapi juga merugikan perusahaan dan negara baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Undang-Undang Keselamatan Kerja No. 1 Tahun 1970, setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatannya dalam melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional. Hal ini dilakukan karena adanya perbedaan status sosial antara tenaga kerja dan pengusaha sebagai pemberi kerja dalam melakukan hubungan kerja dengan banyak sektor industri yang ada di Indonesia ini, salah satunya adalah industri pada bidang pertanian.

Pertanian merupakan sektor ekonomi yang tangguh dalam menghadapi perkembangan ekonomi dunia. Salah satu subsektor penting dari sektor pertanian adalah perkebunan yang cakupan usahanya mencapai lebih dari seratus komoditi. Beberapa jenis komoditas perkebunan yang memberikan kontribusi besar bagi devisa


(24)

Di tengah-tengah perkembangan dan pembangunan berbagai komoditas konversional tersebut, muncul satu komoditas yang hingga akhir 1970 an hanya dikelola oleh perkebunan besar yaitu kelapa sawit. Pada saat itu pasar dunia menunjukkan tren permintaan minyak kelapa sawit yang meningkat sejalan dengan kemajuan teknologi pemanfaatan minyak kelapa sawit untuk kesejahteraan manusia. Inilah pemicu berbagai pihak, baik pemerintah dan swasta mengembangkan perkebunan kelapa sawit dalam skala besar dan direncanakan dengan baik (Badrun, 2006).

Peningkatan ataupun penurunan produksi dan produktivitas suatu perusahaan dipengaruhi oleh peningkatan dan penurunan produksi dan produktivitas tenaga kerja yang tercakup didalamnya. Tenaga kerja pada perusahaan-perusahaan seperti perkebunan umumnya adalah karyawan. Karyawan yang berhubungan secara langsung dengan produk yang dihasilkan perkebunan adalah karyawan pemanen. Karyawan panen adalah karyawan yang kegiatannya memotong tanda buah yang sudah matang kemudian mengutip tandan dan brondolan yang berceceran didalam dan diluar piringan. Selanjutnya menyusun tandan buah di tempat pengumpulan hasil. PT. X merupakan salah satu perusahaan besar yang bergerak di bidang perkebunan yang mempekerjakan sekitar 787 karyawan. Pemanen sawit yang bekerja di PT. X hingga saat ini mencapai sebanyak 206 orang. Karyawan PT. X, terutama pemanen sawit dalam kegiatannya adalah orang yang paling membutuhkan jaminan keselamatan dan kesehatan karena kondisi tempat kerja mereka yang berisiko mengalami kecelakaan kerja, seperti tertimpa tandan sawit, luka pada mata saat memanen, terkena pelepah sawit, terkena biji kelapa sawit yang ujungnya terdapat


(25)

duri dan juga berisiko menimbulkan Musculoskeletal Disorsers (MSDs). Mengatasi hal ini perusahaan menetapkan pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dengan harapan karyawan dapat mematuhi peraturan-peraturan yang ada dalam perusahaan seperti pada saat bekerja karyawan harus menggunakan alat pelindung diri seperti helm, sepatu, dan penggunaan sarung tangan dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Perusahaan ini sudah melaksanakan program Kesehatan dan Keselamatan Kerja sejak tahun 2004. Dengan adanya program keselamatan dan kesehatan kerja karyawan akan merasa aman, terlindungi dan terjamin keselamatannya, sehingga diharapkan dapat mencapai efisiensi baik dari segi biaya, waktu dan tenaga serta dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Kesehatan dan keselamatan karyawan mempengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja secara produktif. Hasil OHS (Occupational Health and Safety) menyatakan ada empat alasan utama yang menghubungkan kesehatan dan keselamatan kerja dengan produktivitas antara lain: (1) Kebutuhan untuk menemukan cara yang lebih inovatif untuk mengurangi tingginya tingkat kecelakaan kerja dan penyakit. (2) Tekanan untuk mengurangi biaya sosial dan ekonomi cedera dan penyakit, khususnya biaya kompensasi. (3) Kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang tidak mengakibatkan karyawan bekerja lebih lama dan mengambil lebih banyak pekerjaan. (4) Kebutuhan untuk menyediakan kondisi kerja yang baik dengan cara merekrut dan mempertahankan pekerja terampil di pasar tenaga kerja yang ketat (OEHF, 2004).


(26)

Perusahaan mengadakan program keselamatan dan kesehatan kerja yang diharapkan dapat menurunkan tingkat kecelakaan kerja, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja perusahaan dan produktivitas kerja karyawan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Katsuro (2010) pada industri makanan di Zimbabwe menyatakan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja yang dilakukan di industri makanan komersil mempengaruhi produktivitas karyawannya. Hasil penelitian Umoh tahun 2013 pada perusahaan manufaktur di Nigeria menyatakan bahwa kepatuhan karyawan dalam menjalankan peraturan keselamatan kerja mempengaruhi produktivitas kerja karyawan.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan sistem dan produktivitas kerja, oleh karena itu, peneliti tertarik meneliti tentang pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas karyawan di PT. X Tahun 2015.

1.2Permasalahan

Berdasarkan keterangan di atas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas pekerja di PT. X Tahun 2015?


(27)

1.3Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas pekerja di PT. X Tahun 2015.

1.4Hipotesis

Terdapat pengaruh keselamatan dan kesehatan kerja terhadap produktivitas pekerja di PT. X Tahun 2015.

1.5 Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini di harapkan akan memberikan manfaat kepada berbagai pihak yaitu :

1. Bagi PT. X dapat memberikan informasi tentang seberapa besar hubungan keselamatan dan kesehatan kerja dengan produktivitas karyawan.

2. Sebagai masukan referensi untuk penulis/peneliti selanjutnya yang berhubungan dengan bidang keselamatan dan kesehatan kerja dan pengaruhnya dengan produktivitas kerja.


(28)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

ILO (International Labor Organitation) mendefinisikan K3 sebagai promosi dan pemeliharaan derajat, fisik, mental, dan kesejateraan sosial yang tinggi dan semua pekerja pada semua pekerjaan; pencegahan diantara para pekerja dari penurunan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan pekerja terhadap risiko-resiko yang dihasilkan oleh faktor-faktor buruk terhadap risiko-resiko yang dihasilkan oleh faktor-faktor buruk terhadap kesehatan; penempatan dan pemeliharaan pekerja di dalam lingkungan pekerjaan yang diadaptasi untuk peralatan fisiologi dan psikologi, dan untuk menyimpulkan adaptasi pekerja terhadap manusia dan setiap manusia terhadap pekerjaan, sedangkan menurut OSHA (occupational Health and Safety Administration) K3 diartikan sebagai aplikasi atau penerapan prinsip-prinsip sains atau ilmiah di dalam memahami pola resiko terhadap keselamatan orang dan benda baik dalam lingkungan industri maupun non-industri (OSHA, 2004).

Secara fisiologi keselamatan dan kesehatan kerja menunjukkan kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan perusahaan. Kondisi fisiologis-fisikal meliputi penyakit-penyakit dan kecelakaan kerja seperti cedera, kehilangan nyawa, atau anggota badan. Kondisi-kondisi psikologis diakibatkan oleh stress pekerjaan dan


(29)

kehidupan kerja yang berkualitas rendah. Hal ini meliputi ketidakpuasan, sikap menarik diri, kurang perhatian, mudah marah, selalu menunda pekerjaan dan kecenderungan untuk mudah putus asa terhadap hal-hal remeh (Rivai, 2006).

Menurut Lalu (2005), bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melindungi pekerja/buruh guna mewujudkan kinerja yang optimal. Upaya tersebut dilakukan dengan tindakan pencegahan untuk memberantas penyakit dan kecelakaan akibat kerja, bagaimana upaya pemeliharaan serta peningkatan gizi dan juga bagaimana mempertinggi efisiensi dan produktivitas manusia sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai dengan baik dengan tidak meninggalkan masalah. Kemudian perlindungan terhadap masyarakat di sekitar lingkungan perusahaan agar terbebas dari polusi dan limbah produksi.

Yusra (2008) Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dan tindakan antisipatif bila terjadi hal yang demikian.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus diterapkan dan dilaksanakan di setiap tempat kerja (perusahaan). Tempat kerja adalah setiap tempat yang didalamnya terdapat 3 (tiga) unsur, yaitu :

1. Adanya suatu usaha, baik itu usaha yang bersifat ekonomi maupun usaha sosial. 2. Adanya sumber bahaya.


(30)

3. Adanya tenaga kerja yang bekerja di dalamnya, baik secara terus-menerus maupun hanya sewaktu-waktu.

2.1.1 Keselamatan Kerja

Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata „safety’ dan biasanya selalu dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau nyaris celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan dan berupaya mengembangkan berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil resiko terjadinya kecelakaan (Syaaf, 2007).

Sedangkan pendapat Leon C Meggison yang dikutip oleh Prabu Mangkunegara (2000) bahwa istilah keselamatan mencakup kedua istilah yaitu resiko keselamatan dan resiko kesehatan. Keselamatan kerja menunjukan kondisi yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian ditempat kerja. Resiko keselamatan merupakan aspek-aspek dari lingkungan kerja yang dapat menyebabkan kebakaran, ketakutan aliran listrik, terpotong, luka memar, keseleo, patah tulang, kerugian alat tubuh, penglihatan, dan pendengaran. Semua itu sering dihubungan dengan perlengkapan perusahaan atau lingkungan fisik dan mencakup tugas-tugas kerja yang membutuhkan pemeliharaan dan latihan.

Menurut Lalu (2005), keselamatan kerja bertalian dengan kecelakaan kerja yaitu kecelakaan yang terjadi di tempat kerja atau dikenal dengan istilah kecelakaan industri. Kecelakaan industri ini secara umum dapat diartikan suatu kejadian yang


(31)

tidak diduga semula dan tidak dikehendaki yang mengacaukan proses yang telah diatur dari suatu aktivitas. Ada 4 (empat) faktor penyebabnya yaitu:

1. Faktor manusianya.

2. Faktor material/bahan/peralatan.

3. Faktor bahaya/sumber bahaya.

4. Faktor yang dihadapi (pemeliharaan/perawatan mesin-mesin).

Menurut Lalu (2005) bahwa disamping ada sebabnya maka suatu kejadian juga akan membawa akibat. Akibat dari kecelakaan industri ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

1. Kerugian yang bersifat ekonomis, antara lain :

a. Kerusakan/kehancuran mesin, peralatan, bahan dan bangunan

b. Biaya pengobatan dan perawatan korban

c. Tunjangan kecelakaan

d. Hilangnya waktu kerja

e. Menurunnya jumlah maupun mutu produksi

2. Kerugian yang bersifat non ekonomis pada umumnya berupa penderitaan manusia yaitu tenaga kerja yang bersangkutan, baik itu merupakan kematian, luka/cidera berat maupun luka ringan.

Menurut Glendon dan Literland (2001) indikator dari pengukuran keselamatan kerja adalah:


(32)

1. Dukungan dan komunikasi

Dukungan dan komunikasi antara supervisiors dengan pekerja dapat dilakukan dengan cara diskusi, pekerja bisa mengkomunikasikan masalah masalah yang berhubungan dengan pekerjaan, dan komunikasi menganai faktor risiko diinformasikan kepada pekerja pada saat pelatihan awal masuk bekerja.

2. Prosedur yang adekuat

Prosedur yang dikatakan adekuat adalah prosedur yang berisi berbagai informasi yang lengkap, teknik yang akurat, menjelaskan hal-hal yang boleh dilakukan maupun yang tidak boleh dilakukan beserta alasannya dan pekerja dapat dengan mudah menerapkan prosedur pekerjaan mereka.

3. Beban kerja

Beban kerja yang tidak terlalu tinggi dapat diukur dengan masih adanya waktu bekerja untuk beristirahat, target yang ditentukan masih realistis, dan pekerja memiliki cukup waktu menyelesaikan tugasnya.

4. Alat Pelidung Diri

Alat pelindung diri digunakan pekerja untuk menghindari kecelakaan yang dapat menggagngu pekerja saat bekerja, dan yang paling penting adalah APD yang digunakan nyaman bagi pekerja.

5. Hubungan dengan perusahaaan

Hubungan dengan perusahaaan diukur dengan adanya hubungan yang baik antara supervisiors dengan pekerja, pekerja dengan pekerja dan juga berhubungan dengan sikap moral pekerja.


(33)

6. Peraturan keselamatan

Peraturan keselamatan harus selalu dilakukan dan peraturan keselamatan dapat diikuti tanpa adanya konflik dengan praktek kerja.

2.1.2 Kesehatan Kerja

Selain faktor keselamatan, hal penting yang juga harus diperhatikan adalah faktor kesehatan. Kesehatan berasal dari bahasa Inggris „health’, yang dewasa ini tidak hanya berarti terbebasnya seseorang dari penyakit, tetapi pengertian sehat mempunyai makna sehat secara fisik, mental dan juga sehat secara sosial. Dengan demikian pengertian sehat secara utuh menunjukkan pengertian sejahtera. Menurut Lalu (2005), kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial sehingga memungkinkan dapat bekerja secara optimal. Pada dasarnya kesehatan itu meliputi empat aspek, antara lain :

1. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

2. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.

a. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.

b. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.


(34)

c. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.

3. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.

4. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial.

Menurut Gary Dessler (1997), indikator kesehatan kerja terdiri dari : 1. Keadaan dan Kondisi Karyawan

Keadaan dan kondisi karyawan adalah keadaan yang dialami oleh karyawan pada saat bekerja yang mendukung aktivitas dalam bekerja.

2. Lingkungan kerja adalah lingkungan yang lebih luas dari tempat kerja yang mendukung aktivitas karyawan dalam bekerja.

3. Perlindungan karyawan merupakan fasilitas yang diberikan untuk menunjang kesejahteraan karyawan


(35)

Tujuan kesehatan kerja menurut Lalu (2005) adalah:

1. Meningkatkan dan memelihara derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, maupun sosial.

2. Mencegah dan melindungi tenaga kerja dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja.

3. Menyesuaikan tenaga kerja dengan pekerjaan atau pekerjaan dengan tenaga kerja.

4. Meningkatkan produktivitas kerja. 2.1.3 Tujuan K3

Tujuan Pemerintah membuat aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dapat dilihat pada Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yaitu:

1. Suhu dan lembab mencegah dan mengurangi kecelakaan; 2. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran; 3. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;

4. Memberi kesempatan atau jalan menyelematkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya

5. Memberikan pertolongan pada kecelakaan

6. Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja

7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluaskan suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran


(36)

8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun psikhis, peracunan, infeksi dan penularan;

9. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai; 10. Menyelenggarakan udara yang baik

11. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup; 12. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

13. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya

14. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau batang

15. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

16. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan penyimpanan barang

17. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya

18. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang berbahaya

19. Angka kecelakaan turun

Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian secara cermat dilakukan atau tidak.


(37)

Tujuan dari penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah (Direktorat Pengawasan Norma K3, 2006):

1. Menempatkan tenaga kerja sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia

2. Meningkatkan komitmen pimpinan perusahaan dalam melindungi tenaga kerja 3. Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja untuk menghadapi kompetisi

perdagangan global

4. Proteksi terhadap industri dalam negeri

5. Perlunya upaya pencegahan terhadap masalah sosial dan ekonomi yang terkait dengan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja.

Rivai (2006) menyatakan tujuan keselamatan kerja antara lain: 1. Manfaat lingkungan kerja yang aman dan sehat

Jika perusahaan dapat menurunkan tingkat dan beratnya kecelakaan-kecelakaan kerja, penyakit, dan hal yang berkaitan dengan stres, serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan kerja para pekerjanya, perusahaan akan semakin efektif. Peningkatan–peningkatan terhadap hal ini akan menghasilkan :

a. Meningkatnya produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang b. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih berkomitmen

c. Menurunnya biaya – biaya kesehatan dan asuransi

d. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim


(38)

e. Fleksibilitas dan adaptibilitas yang lebih besar sebagai akibat dari meningkatnya partisipasi dan rasa kepemilikian

f. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan. Perusahaan kemudian bisa meningkatkan keuntungannya secara substansial.

2. Kerugian lingkungan kerja yang tidak aman dan tidak sehat

Jumlah biaya yang besar sering muncul karena ada kerugian – kerugian akibat kematian dan kecelakaan di tempat kerja dan kerugian menderita penyakit-penyakit yang berkaitan dengan pekerjaan. Selain itu ada juga yang berkaitan dengan kondisi–kondisi psikologis. Perasaan pekerja yang menganggap dirinya tidak berarti dan rendahnya keterlibatannya dalam pekerjaan, barangkali lebih sulit dihitung secara kuantitatif, seperti gejala–gejala stress dan kehidupan kerja yang bermutu rendah.

2.1.4 Manfaat K3

Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan satu upaya pelindungan yang diajukan kepada semua potensi yang dapat menimbulkan bahaya. Hal tersebut bertujuan agar tenaga kerja dan orang lain yang ada di tempat kerja selalu dalam keadaan selamat dan sehat serta semua sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien (Suma‟mur, 2004). Perhatian pada kesehatan karyawan dapat mengurangi terjadinya kecelakaan dalam melaksanakan pekerjaannya, jadi antara kesehatan dan keselamatan kerja bertalian dan dapat mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.


(39)

Menurut Sculler dan Jackson (Cantika, 2005), apabila perusahaan dapat melaksanakan program keselamatan dan kesehatan kerja dengan baik maka perusahaan akan dapat memperoleh manfaat sebagai berikut :

1. Meningkatkan produktivitas karena menurunnya jumlah hari kerja yang hilang. 2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas pekerja yang lebih komitmen.

3. Menurunnya biaya-biaya kesehatan dan asuransi.

4. Tingkat kompensasi pekerja dan pembayaran langsung yang lebih rendah karena menurunnya pengajuan klaim.

5. Fleksibilitas dan adaptabilitas yang lebih besar sebagai akibat dari partisipasi dan rasa kepemilikan.

6. Rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan. 7. Perusahaan juga dapat meningkatkan keuntungannya secara substansial.

Menurut Siagian (2002) ada 5 hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan Kesehatan dan Keselamatan Kerja, yaitu:

1. Apa pun bentuknya berbagai ketentuan formal itu harus ditaati oleh semua organisasi.

2. Mutlak perlunya pengecekan oleh instansi pemerintah yang secara fungsional bertanggung jawab untuk itu antara lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan lain dengan inspeksi untuk menjamin ditaatinya berbagai ketentuan formal oleh semua organisasi.

3. Pengenaan sanksi yang keras kepada organisasi yang melalaikan kewajibannya menciptakan dan memelihara Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


(40)

4. Memberikan kesempatan yang seluas mungkin kepada para karyawan untuk berperan serta dalam menjamin keselamatan dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan kesehatan dan keselamatan kerja dalam organisasi.

5. Melibatkan serikat pekerja dalam semua proses penciptaan dan pemeliharaan kesehatan dan keselamatan kerja.

2.2 Produktivitas Kerja

Istilah produktivitas kerja berasal dari kata produktivitas dan kerja. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), produktivitas berarti kemampuan untuk menghasilkan sesuatu daya untuk berproduksi. Kata kerja atau bekerja secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu aktivitas kehidupan manusia ditandai oleh suatu aktivitas, yaitu bekerja untuk mempertahankan hidup.

Secara umum, produktivitas diartikan sebagai pengaruh antara hasil nyata maupun fisik (barang-barang dan jasa) dengan masukan yang sebenarnya. Produktivitas adalah ukuran efisiensi produktif. Suatu perbandingan antara hasil keluaran dan masukan atau output : input. Masukan sering dibatasi dengan masukan tenaga kerja, sedangkan keluaran diukur dalam kesatuan fisik bentuk dan nilai. Produktivitas di bidang industri mempunyai arti ukuran yang ditampilkan oleh daya produksi yaitu campuran dari produksi dan aktivitas, sebagai ukuran yaitu seberapa baik kita menggunakan sumber daya dalam mencapai hasil yang diinginkan (Edy, 2009).


(41)

Dikemukakan oleh Yuniasih dan Suwatno dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia bahwa produktivitas dapat diukur dengan dua standar utama, yaitu produktivitas fisik dan produktivitas nilai. Produktivitas fisik dapat diukur dari aspek kuantitas dan kualitas produk yang dihasilkan, sedangkan produktivitas nilai dapat diukur atas dasar nilai-nilai kemampuan sikap, perilaku, disiplin, motivasi, dan komitmen terhadappekerjaan (Yuniasih dan Suwatno, 2008).

Adapun alat ukur produktivitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengaju pada teori Hameed & Amjad (2009). Menurutnya faktor-faktor yang digunakan dalam produktivitas kerja meliputi:

1. Kuantitas kerja adalah merupakan suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam jumlah tertentu dengan perbandingan standrt yang ada atau ditetapkan perusahaan

2. Kualitas kerja adalah merupakan suatu stanar hasil yang berkaitan dengan mutu dari suatu produk yang dihasilkan karyawan. Dalam hal ini merupakan suatu kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaanya secara teknis dengan perbandingan standart yang ditetapkan oleh perusahaan

3. Ketepatan waktu merupakan tingkat suatu aktivitas diselesaikan pada wal waktu yang dinyatakan, dilihat dari sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas lain

Produktivitas merupakan perbandingan antara pemasukan dan pengeluaran atau dapat pula dibuat rumusan sebagai berikut: Produktivitas = hasil yang dicapai/sumber daya yang digunakan. Jumlah sumber daya yang dipakai ada beberapa


(42)

unsur yang secara relatif dapat menunjang proses produktivitas tenaga kerja yakni : (Melayu, 2002)

1. Peranan tenaga kerja dalam perusahaan

Dalam hal ini diharapkan adanya kesungguhan hati untuk mematuhi dan menjalankan peraturan yang berlaku di dalam perusahaan. Menghindari adanya sifat kelalaian dan kecorobohan dalam menjalankan tugas yang merupakan pangkal kesulitan.

2. Peranan para pemimpin perusahaan

Penanganan manajemen dalam pola yang lebih menguatamakan pendekatan manusiawi merupakan inti dari diperolehnya dorongan semangat dan kegairan kerja untuk berproduksi tinggi. Untuk kepentingan ini ada dua macam cara yang dapat ditempuh yaitu: pendekatan spiritual dan pendekatan behavioristik.

3. Pendekatan spiritual

Pendekatan spiritual merupakan suatu usaha untuk meningkatkan semangat yang lahir dari hati nurani secara manusiawi yang sangat diperlukan untuk berproduksi tinggi.

4. Pendekatan behavioristik

Pendekatan behavioristik merupakan suatu usaha untuk meningkatkan semangat dan kegairahan kerja serta menggerakkan hati sangat diperlukan sebagai modal merubah perilaku untuk lebih produktif.


(43)

5. Peranan masyarakat pemakai barang atau jasa.

Proses produktivitas tenaga kerja secara tidak langsung juga perlu memperhatikan sikap para pelanggan, seperti adanya kritik, saran-saran. Pujian-pujian yang didasarkan atas pengalaman mereka memakai produk selama ini. Dengan demikian masyarakat pemakai barang dan jasa tetap berperan secara tidak langsung, serta ikut memperbaiki proses produksi dari perusahaan penghasil produk tersebut.

6. Peranan pemerintah

Peranan pemerintah sangat penting, terutama program pendayagunaan sumber daya manusia dalam pembangunan nasional secara terpadu. Pemerintah berkewajiban memberi ijin, pengawasan, pembinaan serta perlindungan bagi masyarakat pemakai barang dan jasa. Dengan kata lain pemerintah perlu secara langsung menggerakkan aktifitas kerja secara maksimal dan penuh tanggung jawab.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan perbandingan anatara keluaran dan masukan serta mengutarakan cara pemanfatan baik terhadap sumber-sumber dalam memproduksi suatu barang atau jasa.

2.2.1 Jenis Produktivitas

Bila dikelompokkan akan dijumpai tiga-tipe dasar produktivitas (Gasperz, 2000). Tiga dasar ini merupakan model pengukuran produktivitas yang paling sederhana berdasarkan pendekatan rasio output/input, yaitu :


(44)

Perbandingan dari keluaran terhadap salah satu faktor masukan. Sebagai contoh, produktivitas tenaga kerja (perbandingan dari keluaran dan masukan tenaga kerja) merupakan salah satu ukuran produktivitas parsial. Pada pengukuran produktivitas parsial produktivitas unit proses secara spesifik dapat diukur. 2. Produktivitas faktor-total

Perbandingan dari keluaran dengan jumlah tenaga kerja dan modal. Keluaran bersih adalah keluaran total dikurangi jumlah barang dan jasa yang dibeli. Berdasarkan faktor di atas jenis inputyang digunakan dalam pengukuran produktivitas faktor total hanya tenaga kerja dan modal.

3. Produktivitas total

Perbandingan dari keluaran dengan jumlah keseluruhan faktor-faktor masukan, pengukuran total produktivitas faktor mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam menghasilkan keluaran.

2.2.2 Metode Pengukuran Produktivitas Kerja

Pengukuran produktivitas merupakan suatu alat manajemen yang penting disemua tingkat ekonomi. Di beberapa negara maupun perusahaan pada akhir-akhir ini telah terjadi kenaikan minat pada pengukuran produktivitas. Karena itu sudah saatnya kita membicarakan alasan mengapa kita harus mengukur produktivitas tersebut. Indeks produktivitas juga bermanfaat dalam menentukan perbandingan antara negara seperti tingkat pertumbuhan dan tingkat produktivitas.

Secara umum pengukuran produktivitas berarti perbandingan yang dapat dibedakan dalam 3 (tiga) jenis yang sangat berbeda, menurut Sinungan (2009) yaitu:


(45)

1. Perbandingan-perbandingan antara pelaksanaan sekarang dengan pelaksanaan secara historis yang tidak menunjukkan apakah pelaksanaan sekarang ini memuaskan.

2. Perbandingan perlawanan antara satu unit (perorangan tugas, seksi, proses) dengan lainnya. Pengukuran seperti ini menunjukkan pencapaian relatif.

3. Perbandingan pelaksanaan sekarang dengan target yang akan dicapai, dan inilah yang terbaik untuk memusatkan perhatian pada sasaran/tujuan.

Dari pengertian sebelumnya dapat diambil suatu cara di dalam penyusunan perbandingan-perbandingan ini dengan mempertimbangkan tingkatan daftar susunan dan perbandingan pengukuran dari produktivitas. Tujuan dari pengukuran produktivitas antara lain untuk membandingkan hasil-hasil:

1. Pertambahan produksi dari waktu ke waktu. 2. Pertambahan pendapatan dari waktu ke waktu. 3. Pertambahan kesempatan kerja dari waktu ke waktu. 4. Jumlah hasil sendiri dengan hasil orang lain.

5. Komponen prestasi utama sendiri dan komponen prestasi utama orang lain. 2.2.3 Manfaat Produktivitas

Setiap manajer perusahaan sangat penting mengetahui tingkat produktivitas organisasi yang sedang dikelola agar dapat menyusun rencana perbaikan produktivitas setiap sumber daya yang akan dimanfaatkan pada periode berikutnya. Secara lebih rinci, Sumanth menjelaskan sejumlah manfaat bagi menajemen perusahaan apabila melakukan pengukuran produktivitas, (Tarigan, 2009) yaitu:


(46)

1. Perusahaan dapat menilai efisiensi dari proses konversi sumber daya yang dioperasikan sehingga dapat diperkirakan banyaknya output yang akan dihasilkan pada setiap penambahan sumber daya.

2. Perusahaan akan dapat menyusun secara lebih akurat rencana pengembangan sumber daya baik untuk jangka panjang maupun jangka pendek apabila pengukuran produktivitas dilakukan dengan berkesinambungan.

3. Sasaran perusahaan, baik yang bersifat ekonomis maupun nonekonomis dapat ditentukan prioritasnya dengan memperhatikan upaya pengukuran produktivitas. 4. Target perbaikan produktivitas pada masa yang akan datang dapat

direvisi/dimodifikasi secara realistis.

5. Strategi perbaikan produktivitas di masa yang akan datang dapat dirumuskan lebih baik berdasarkan gap antara target pencapaian dan aktual produktivitas yang diperoleh.

6. Pengukuran produktivitas dapat membantu dalam membandingkan suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis.

7. Nilai-nilai produktivitas yang diperoleh dari hasil pengukuran merupakan masukan yang berharga dalam perencanaan profit perusahaan.

8. Manajemen perusahaan dapat memanfaatkan hasil pengukuran produktivitas sebagai dasar tindakan dalam memotivasi persaingan.

9. Collective bargaining dapat dilaksanakan secara lebih rasional apabila data estimasi produktivitas tersedia.


(47)

2.2.4 Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja

Edy Sutrisno (2009) mengemukakan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas kerja :

1. Perbaikan terus menerus

Dalam upaya meningkatkan produktivitas kerja, salah satu implikasinya ialah bahwa seluruh komponen organisasi harus melakukan perbaikan secara terus menerus. Upaya meningkatkan produktivitas kinerja, salah satu implikasinya ialah bahwa seluruh komponen organisasi harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu etos kerja yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen mutakhir. Pentingnya etos kerja ini terlihat dengan lebih jelas apalagi diingat bahwa suatu organisasi selalu dihadapkan kepada tuntutan yang terus-menerus berubah, baik secara internal maupun eksternal. Tambahan pula ada ungkapan yang mengatakan bahwa satu-satunya hal yang konstan di dunia ini adalah perubahan. Secara internal, perubahan yang terjadi adalah perubahan strategi organisasi, perubahan pemanfaatan teknologi, perubahan kebijaksanaan, dan perubahan dalam praktik-praktik SDM sebagai akibat diterbitkan perundang-undangan baru oleh pemerintah dan berbagai faktor lain yang tertuang dalam keputusan manajemen. Sedangkan perubahan tindakan suatu organisasi yang dominan peranannya di masyarakat.


(48)

2. Peningkatan mutu hasil pekerjaan

Berkaitan dengan upaya perbaikan secara terus-menerus adalah peningkatan mutu hasil kerja oleh semua orang dan segala komponen organisasi, dan dalam hal ini peningkatan mutu sumber daya manusia adalah hal yang sangat penting. Padahal, mutu tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan dan dipasarkan, baik berupa barang maupun jasa, akan tetapi menyangkut segala jenis kegiatan dimana organisasi terlibat. Berarti mutu menyangkut semua jenis kegiatan yang diselenggarakan oleh semua satuan kerja, baik pelaksana tugas pokok maupun pelaksana tugas penunjang, dalam organisasi. Peningkatan mutu tersebut tidak hanya penting secara internal, akan tetapi juga secara eksternal karena akan tercermin dalam interaksi organisasi dengan lingkungannya yang pada gilirannya turut membentuk citra organisasi dimata berbagai pihak disemua organisasi.

3. Pemberdayaan sumber daya manusia

Memberdayakan sumber daya manusia yang ada di dalam organisasi dapat dilakukan dengan memberikan hak-haknya sebagai manusia, seperti kebebasan untuk memperoleh pekerjaan yang layak, memperoleh imbalan yang wajar, memperoleh rasa aman, melibatkan dalam pengambilan keputusan, dll. SDM merupakan unsur yang paling strategik dalam organisasi. Karena itu memberdayakan SDM merupakan etos kerja yang sangat mendasar yang harus dipegang teguh oleh semua eselon organisasi dalam hierarki organisasi. Memberdayakan SDM mengandung berbagai kiat seperti mengakui harkat dan


(49)

martabat manusia, perkayaan mutu kekaryaan dan penerapan gaya manajemen yang partisipatif melalui proses demokratisasi dalam kehidupan organisasi 4. Filsafat organisasi

Cakupan dalam hal ini seperti memberikan perhatian kepada budaya organisasi, karena budaya organisasi merupakan persepsi yang sama tentang hakiki kehidupan dalam organisasi. Selain itu, perlunya ketentuan formal dan prosedur, seperti standar pekerjaaan yang harus dipenuhi, disiplin organisasi, system imbalan, serta prosedur penyelesaian pekerjaan

Berdasarkan definisi teoritik di atas, dapat diartikan bahwa upaya-upaya yang dapat meningkatkan produktivitas kinerja diantaranya adalah pertama, perbaikan terus-menerus dimana hal tersebut implikasinya secara menyeluruh di dalam komponen organisasi dapat memicu sebuah perubahan. Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Ketiga, pemberdayaan SDM. Ketiga upaya tersebut penting untuk dilakukan dalam meningkatkan etos kerja yang akan meningkatkan mutu dari hasil pekerjaan serta pemberdayaan SDM salah satu upaya yang penting dalam peningkatan produktivitas kerja yang tinggi.

2.2.5 Faktor-faktor yang Memengaruhi Produktivitas Kerja

Meningkatkan produktivitas kerja yang tinggi, pimpinan perusahaan harus memiliki sikap mental yang berorientasi produktif dan selalu menggunakan potensi yang maksimal, optimis, tekun, dan berusaha sungguh-sungguh dalam menghadapi tantangan pembangunan.


(50)

Produktivitas tenaga kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor lain seperti pendidikan, keterampilan, displi, sikap dan etika kerja, motivasi, gizi dan kesehatan, tingkat penghasilan, jaminan sosial, lingkungan dan iklim kerja, teknologi, sarana produktivitas, manejemen dan kesempatan berprestasi.

Faktor- faktor yang harus dipertimbangkan dalam peningkatan produktivitas kerja karyawan, antara lain :

1. Faktor usia

Dalam rangka menempatkan karyawan, faktor usia pada diri karyawan yang lulus dalam seleksi perlu mendapatkan pertimbangan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari rendahnya produktivitas yang dihasilkan oleh karyawan yang bersangkutan. Petani (dalam penelitian ini disebut karyawan panen) berusia lanjut berumur 65 tahun keatas, biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian yang dapat mengubah cara berpikir, cara kerja, dan cara hidupnya. Karyawan panen bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru. Karyawan panen dan pemupuk yang berusia lanjut tidak mempunyai kekuatan tenaga dalam mengusahakan usahataninya sehingga hanya mampu mengusahakan dalamskala kecil. Usia tenaga kerja yang produktif berumur 16-64 tahun, sedangkan pada usia 65 keatas sudah dikatakan usia lanjut (Van den ban dan Hakwiks, 1999).


(51)

2. Faktor prestasi akademis

Prestasi akademis yang telah dicapai oleh karyawan yang bersangkutan selama mengikuti jenjang pendidikan harus mendapatkan pertimbangan. Dengan mempertimbangkan faktor prestasi akademis, maka dapat ditetapkan dimana karyawan yang bersangkutan akan ditempatkan sesuai dengan prestasi akademisnya. Pendidikan yang minim mengakibatkan kurangnya pengetahuan dalam memanfaatkan sumber sumber alam yang tersedia. Hal ini berakibatkan pada setiap usaha usaha penduduk yang hanya mampu menghasilkan pendapatan yang rendah. Rendahnya mutu SDM (pengetahuan dan keterampilan karyawan pemanen dan pemupuk) karena kurangnya pendidikan dan pelatihan yang mereka peroleh. Lemahnya pendidikan karyawan pemanen dan pemupuk dapat mengakibatkan kemiskinan (Van den ban dan Hakwiks, 1999).

3. Faktor status perkawinan (jumlah tanggungan)

Mengenai status perkawinan karyawan adalah merupakan hal yang sangat penting. Selain untuk kepentingan ketenagakerjaan juga sebagai bahan pertimbangan dalam penempatan karyawan. Jumlah tanggungan semakin banyak menekankan akan adanya lahan tanaman yang luas untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Jumlah tanggungan semakin tinggi dan rendahnya pendidikan disektor pertanian dapat mengakibatkan tingkat pendapatan yang rendah dan pengembangan pertanian akan terlambat, hal ini mengakibatkan tabungan rendah, investasi pengembangan rendah, sulit memperoleh modal pinjaman (Van den ban dan Hakwiks,1999).


(52)

4. Faktor pengalaman

Pengalaman bekerja pada pekerjaan yang sejenis yang telah dialami sebelumnya perlu mendapatkan pertimbangan dalam rangka penempatan karyawan tersebut. Hal tersebut berdasarkan pada kenyataan yang menunjukkan bahwa makin lama bekerja maka makin banyak pengalaman yang dimiliki oleh karyawan yang bersangkutan. Banyaknya pengalaman bekerja memberikan kecenderungan bahwa karyawan yang bersangkutan memiliki keahlian dan pengalaman yang relatif tinggi. Pengalaman seseorang dalam berusaha tani berpengaruh pula dalam menerima inovasi dari luar. Lamanya pengalamaan diukur mulai sejak kapan karyawan panen dan pemupuk itu aktif secara mandiri mengusahakan usaha taninya tersebut sampai diadakan penelitian. Petani yang sudah mempunyai pengalaman dalam mengelolah usaha taninya merasa sudah mempunyai keterampilan dan pengetahuan yang tinggi, sehingga sebagian petani tidak percaya terhadap penyuluhan. Seseorang yang mempunyai pengalaman yang tinggi tidak dapat dikatagorikan mempunyai tingkat produksi yang tinggi. Tingginya produksi tergantung pada pemeliharaan tanaman yang dibudidayakan (Van den ban dan Hakwiks,1999).

Berbagai faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja diantaranya adalah :

1. Sikap kerja, berupa motivasi kerja, disiplin kerja, dan etika kerja. Sikap kerja erat kaitannya dengan ergonomis kerja. Ergonomis yang merupakan pendekatan multi dan interdisiplin yang berupaya menyerasikan alat, cara dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan dan batasan tenaga kerja sehingga


(53)

tercipta kondisi kerja yang sehat, selamat, aman, dan efisien. Dalam hal ini ergonomik juga berupaya menciptakan kesehatan dan keselamatan kerja bagi tenaga kerja sehingga mampu meningkatkan produktivitas kerjanya. Tujuan ergonomik dan K3 hampir sama yaitu untuk menciptakan kesehatan dan keselamatan kerja. Oleh karena itu ergonomik dan K3 perlu diterapkan di semua tempat kerja untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja tenaga kerja guna meningkatkan produktivitas kerja tenaga kerja.

2. Pendidikan, pada umumnya orang yang mempunyai pendidikan lebih tinggi akan mempunyai wawasan yang lebih luas yang berpengaruh terhadap produktivitas kerja.

3. Keterampilan, apabila pegawai semakin terampil maka akan lebih mampu bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik. Pendidikan merupakan salah satu hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas. Semakin tinggi pendidikan karyawan, semakin besar ia dapat bekerja dengan efektif dan efesien sehingga mampu meningkatkan prestasinya ke jenjang yang lebih baik dan lebih tinggi.

4. Manajemen, berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh pimpinan untuk memimpin serta mengendalikan staf. manajemen yang tepat menimbulkan semangat yang lebih tinggi baik pegawai untuk bekerja. Perilaku pemimipin sering disebut gaya kepemimpinan (style of leadership) yaitu pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegerasikan tujuan tertentu. Seorang pemimpin


(54)

yang efektif ádalah pimpinan yang dapat memotivisir dan bergairah dalam melaksanakan tugasnya.

5. Tingkat penghasilan, dapat menimbulkan konsentrasi kerja, kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk menigkatkan produktivitas.

6. Gizi dan kesehatan, apabila hal ini telah dipenuhi maka pegawai akan bekerja lebih kuat dan berpengaruh pada semangat kerja. Salah satu tugas pimpinan perusahaan adalah berusaha untuk mempertahankan kesehatan para karyawannya. Kesehatan fisik maupun mental karyawan yang buruk akan menyebabkan kecenderungan adanya tingkat absensi yang tinggi dan rendah tingkat produktivitasnya, dan sebaliknya karyawan yang memiliki kondisi yang prima dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Untuk itu gizi setiap karyawan perlu diperhatikan karena hal ini besar pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas.

7. Jaminan sosial, untuk menigkatkan pengabdian dan semangat kerja pegawai. 8. Lingkungan dan iklim kerja, akan mendorong pegawai senang bekerja dan

menigkatakan rasa tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan dengan baik menuju kearah peningkatan produktivitas.

9. Sarana produksi, apabila sarana produksi yang digunakan baik berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas.

10. Teknologi, apabila teknologi yang dipakai tepat dan lebih maju tingkatannya berakibat tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi, jumlah produksi


(55)

yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu, dan memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa.

11. Kesempatan berpretasi, akan menimbulkan dorongan psikologis untuk meningkatkan dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki untuk menigkatkan produktivitas.

Berbagai faktor yang diuraikan diatas dapat saling berpengaruh, dan dapat mempengaruhi penigkatan produktivitas baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.3 Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dengan Produktivitas

Keselamatan dan Kesehatan kerja baik sekarang maupun di masa datang merupakan sarana menciptakan situasi kerja yang aman nyaman, dan seha, ramah lingkungan sehingga dapat mendorong efisiensi dan produktivitas yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan semua pihak baik bagi perusahaan maupun pekerja. Dengan demikian pemantauan dan pelaksanaan norma-norma kesehatan dan keselamatan kerja di tempat kerja merupakan usaha meningkatkan kesejahteraan pekerja, keamanan aset produksi dan menjaga kelangsungan bekerja dan berusaha dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (Chandra, 2002).

Keselamatan dan Kesehatan Kerja berkaitan dengan melindungi sumber daya manusia dan fasilitas di tempat kerja. K3 sangat di perlukan dalam berbagai bidang industri dan merupakan suatu bentuk kepeduliaan kepada pekerja untuk terhindar dari berbagai bahaya yang ada di tempat kerja merekaa. Selain itu, bagi industri K3


(56)

diperlukan untuk mencegah kerugiaan bencana seperti ledakan, kebaran, dan sebagainya. Fungsi manajemen K3 dalam suatu industri berkaitan dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Keuntungan dari tempat kerja yang aman dan sehat dapat mengurangi tingkat dan parahnya kecelakaan kerja, penyakit, kekerasan di tempat kerja serta dengan meningkatkan kualitas kehidupan kerja bagi pekerjanya, perusahaan bisa lebih efektif. Beberapa manfaat positif dari tempat kerja yang aman dan sehat adalah: 1. Produktivitas lebih tinggi karena berkurangnya hari kerja yang hilang 2. Meningkatnya efisiensi dan kualitas tenaga kerja yang lebih sehat 3. Berkurangnya pengeluaran medis dan asuransi

4. Menurunnya tingkat pembayaran pegawai dan pembayaran langsung karena sedikitnya tuntutan yang diajukan

5. Serta meningkatnya reputasi sebagai perusahaa terbaik

Hasil penelitian yang dilakukan Hesapro Tahun 2013 menunjukkan bahwa kecelakaan kerja dan sakit yang berhubungan dengan pekerjaan memiliki dampak negatif baik pada tingkat perusahaan maupun di tingkat makro. Dampak negatif dari yang berhubungan dengan pekerjaan dan hubungan antara daya saing nasional dan tingkat insiden nasional kecelakaan kerja. Temuan penelitian mendukung bahwa langkah-langkah kesehatan dan keselamatan memiliki dampak positif tidak hanya pada keselamatan dan kinerja kesehatan tetapi juga pada produktivitas perusahaan.

Hasil penelitian juga mendukung keberadaan hubungan pentingnya antara lingkungan kerja yang baik dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian, kualitas


(57)

lingkungan kerja memiliki pengaruh yang kuat pada produktivitas dan profitabilitas. Hubungan antara program keselamatan dan kesehatan kerja dan efek positif dan hasil kinerja perusahaan telah ditunjukkan dengan jelas. Survei literatur juga menunjukkan bahwa K3 tidak harus dilihat sebagai murni biaya, tetapi juga sebagai investasi untuk meningkatkan kinerja keseluruhan perusahaan, yang berarti bahwa K3 harus menjadi komponen integral dari manajemen (Hesapro, 2013).

Mengintegrasikan kesehatan dan keselamatan dalam strategi perusahaan dan kebijakan merupakan bagian dari strategi bisnis dan juga lingkaran perbaikan terus-menerus yang mendorong perusahaan untuk mencapai yang terbaik. Hasil yang terlihat pada tingkat organisasi sejak kerja langkah-langkah keselamatan dan kesehatan menyebabkan perubahan dengan menciptakan kondisi kerja yang lebih baik, meningkatkan iklim sosial dan proses organisasi. Studi kasus, survei dan penelitian lain yang terkait dengan beberapa intervensi kesehatan mendukung gagasan bahwa intervensi hasilnya akan berkontribusi terhadap produktivitas perusahaan. Pengembangan program K3 dan tindakan saja tidak cukup, program K3 hanya dapat berkontribusi secara berkelanjutan jika tujuan perusahaan mengembangkan program yang dirancang dengan baik dan berdasarkan pendekatan partisipatif (Hesapro, 2013).

2.4 Landasan Teori

Strategi Community Uni Eropa 2007-2012 menyatakan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja meningkatkan kualitas dan produktivitas di tempat kerja.


(58)

Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kurangnya perlindungan yang efektif untuk menjamin kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dapat menyebabkan ketidakhadiran, setelah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, dan dapat menyebabkan kecacatan kerja permanen. Hal ini tidak hanya menjadi masalah pada SDM, tetapi juga memiliki dampak negatif yang besar pada perekonomian, biaya ekonomi yang sangat besar terkait dengan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja menghambat pertumbuhan ekonomi dan mempengaruhi daya saing bisnis, sebagian besar biaya ini juga jatuh pada sistem jaminan sosial dan keuangan publik.

Strategi Uni Eropa pada kesehatan dan keselamatan di tempat kerja menegaskan interaksi antara kesehatan dan keselamatan kerja di satu sisi dan produktivitas di sisi lain. Investasi di bidang kesehatan dan keselamatan di tempat kerja harus dipandang sebagai investasi, bukan biaya. Asosiasi Eropa untuk Pusat Produktivitas Nasional mengeluarkan memorandum pada tahun 2005, The High Road to Wealth, melihat pada produktivitas dari perspektif penciptaan nilai. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penciptaan nilai ini dapat dilihat pada Gambar 2.1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah salah satu dari faktor-faktor ini. Modal manusia merupakan prasyarat untuk pengembangan berorientasi masa depan. Inilah sebabnya mengapa perusahaan semakin membutuhkan pekerja berkualitas, termotivasi dan pekerja yang efisien yang mampu dan bersedia untuk berkontribusi secara aktif untuk inovasi teknis dan organisasi. Pekerja sehat bekerja dalam kondisi kerja yang sehat dengan demikian merupakan prasyarat penting bagi perusahaan untuk bekerja dengan lancar dan produktif .


(59)

Gambar 2.1 The Finnish Work Environment Fund (EANPC, 2005)

2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep pada penelitian ini sebagai berikut:

Gambar. 2.2 Kerangka Konsep Penelitian Keselamatan

1. Peraturan keselamatan 2. Komunikasi dan

dukungan

3. Alat pelindung diri 4. Pelatihan K3

Kesehatan

1. Kondisi fisik pemanen 2. Pemeriksaan kesehatan 3. Sarana pelayanan kesehatan

Produktivitas 1.Kuantitas 2. Kualitas


(60)

BAB 3

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan desain cross sectional, yaitu suatu penelitian dimana cara pengukuran variabel bebas dan variabel terikat dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2007), untuk menganalisa pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja terhadap produktivitas pekerja di PT. X

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di PT. X tahun 2015, dikarenakan perusahaan ini sudah melaksanakan program K3 dan belum pernah ada penelitian mengenai pengaruh K3 terhadap produktivitas di PT. X.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari proses pengajuan judul, pencarian literatur, konsultasi dengan pembimbing, proposal, penelitian, pengolahan data, penyajian data, pembahasan, kesimpulan dan saran. Keseluruhan proses penelitian tersebut dilakukan pada bulan Februari-April 2015.


(61)

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan pemanen sawit di PT. X sebanyak 206 orang

3.3.2 Sampel

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Penentuan jumlah sampel dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Notoadmodjo, 2005) :

n =

) (

1 N d2

N

n = 2

) 11 , 0 ( 206 1 206  n = 59,02 n = 60 orang Keterangan :

N = Besar populasi karyawan pemanen 206 orang n = Besar sampel

d = Tingkat ketepatan yang diinginkan peneliti adalah 11%

Pengambilan sampel terpilih dengan metode simple random sampling yaitu mengambil secara acak dengan menggunakan tabel random sampai memenuhi besar sampel yang diinginkan yaitu 60 pemanen sawit.


(62)

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan wawancara langsung kepada responden dengan menggunakan metode kuesioner yang mengacu pada variabel yang akan diteliti.

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder di peroleh dari PT. X yang meliputi, profil perusahaan, jumlah pekerja, laporan produktivitas pekerja.

3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel

Variabel dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi :

1. Variabel independen, yaitu variabel yang tidak diprediksi oleh variabel lain dalam model (Ferdinand, 2002), dalam penelitian ini variabel independen adalah produktivitas.

2. Variabel dependen, yaitu variabel yang diprediksikan oleh satu atau beberapa variabel yang lain dalam model (Ferdinand, 2002), dalam penelitian ini variabel dependen adalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

3.5.2 Definisi Operasional Variabel

1. Produktivitas pekerja adalah kemampuan pekerja dalam menyelesaikan pekerjaannya meliputi kuantitas, kualitas, dan ketepatan waktu:


(63)

a. Kuantitas yaitu persepsi pemanen mengenai hasil kerja yang telah dicapai oleh pemanen

b. Kualitas yaitu persepsi pemanen tentang kemampuan pemanen dalam menyelesaikan pekerjaannya

c. Ketepatan waktu adalah persepsi pemanen terhadap tingkat aktivitas yang diselesaikan pada waktu kerja yang ditetapkan oleh perusahaan

2. Keselamatan Kerja adalah upaya perlindungan pemanen yang meliputi peraturan keselamatan, komunikasi dan dukungan, alat pelindung diri, dan pelatihan K3. Indikator dari keselamatan kerja yaitu:

a. Peraturan keselamatan adalah program mengenai keselamatan kerja pada pemanen sawit yang telah ditetapkan perusahaan.

b. Komunikasi dan dukungan adalah bentuk pemberian informasi dan dukungan mengenai program K3 dari perusahaan kepada pemanen sawit. c. Alat pelindung diri adalah peralatan untuk melindungi pemanen dari sumber

bahaya saat melakukan pekerjaannya.

d. Pelatihan K3 adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan keterampilan pemanen tentang K3. 3. Kesehatan Kerja

a. Kondisi fisik adalah keadaan kesehatan tubuh pemanen saat bekerja. b. Pemeriksaan kesehatan adalah kegiatan yang disediakan oleh perusahaan


(64)

c. Sarana pelayanan kesehatan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang disediakan perusahaan kepada pemanen saat mengalami keluhan kesehatan.

3.6 Aspek Pengukuran

Masing-masing item indikator diukur dengan menggunakan skala likert, dimana terdapat empat katagori penilaian antara lain sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor masing-masing indikator merupakan nilai total dari item indikator.

3.7 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk menggambarkan hubungan variabel laten dengan indikatornya (measurement model) dan untuk menggambarkan hubungan antar variabel-variabel laten (structural model).


(65)

Gambar 3.1 Pemodelan SEM

Keselamatan

Produktivitas

Kesehatan

X1 X2

X3

X4

X7 X5 X1 X6

X1

Y1 Y2 Y3


(66)

BAB 4

HASIL PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

PT. X Deli Serdang didirikan dengan akte pendirian No. 93 tanggal 18 Desember 1962. Lokasi kebun di Kecamatan Sei Rampah Kabupaten Deli Serdang. Batas Kebun dalam adalah:

Sebelah Utara : Kebun Tanah Raja Sebelah Selatan : Desa Bah si Dua-Dua Sebelah Timur : PT. X

Sebelah Barat : Desa Panglong Batas Kebun Luar (FD) adalah

Sebelah Utara : Kebun Tanah Raja Sebelah Selatan : Desa Belidaan Sebelah Timur : Desa Firdaus

Sebelah Barat : Desa Cempedak Lobang Batas Kebun Luar (SR) adalah

Sebelah Utara : Desa Pelitihan Sebelah Selatan : Desa Bamban Sebelah Timur : Desa Pon Sebelah Barat : Desa Bamban


(67)

4.2 Karakteristik Pemanen 4.2.1 Umur Pemanen

Responden dalam penelitian ini berjumlah 60 orang. Umur pemanen mayoritas pada umur 25-28 tahun sebesar 30,0%, diikuti pemanen berumur 33-36 tahun sebesar 28,3%, sebesar 18,3% pemanen berumur 29-32 tahun. Pemanen yang berumur 21-24 tahun sebesar 15,0%, pemanen yang berusia 37-40 tahun sebanyak 5,0% dan minoritas pemanen berumur 41-43 tahun sebesar 3,3%

Tabel 4.1 Distribusi Umur Pemanen di PT. X Tahun 2015

Umur Pemanen n %

21-24 tahun 9 15,0

25-28 tahun 18 30,0

29-32 tahun 11 18,3

33-36 tahun 17 28,3

37-40 tahun 3 5,0

41-43 tahun 2 3,3

4.2.2 Pendidikan Pemanen

Pendidikan pemanen mayoritas tamat SMA sebanyak 43,3%, tamat SMP sebesar 38,3%, tamat SD sebesar 16,7% dan tidak tamat SD sebesar 1,7%.

Tabel 4.2 Distribusi Pendidikan Pemanen di PT. X Tahun 2015

Pendidikan Pemanen n %

tidak tamat SD 1 1,7

SD 10 16,7

SMP 23 38,3


(68)

4.2.3 Masa Kerja Pemanen

Masa kerja pemanen mayoritas 1-4 tahun sebesar 66,7%, masa kerja 5-8 tahun sebesar 23,3%, masa kerja 9-12 tahun dan masa kerja 21-24 tahun masing-masing 3,3% , sedangkan masa kerja 13-16 tahun dan 17-20 tahun masing-masing 1,7%.

Tabel 4.3 Distribusi Masa Kerja Pemanen di PT.X Tahun 2015

Masa Kerja Pemanen n %

1-4 tahun 40 66,7

5-8 tahun 14 23,3

9-12 tahun 2 3,3

13-16 tahun 1 1,7

17-20 tahun 1 1,7

21-24 tahun 2 3,3

4.3 Univariat 4.3.1 Keselamatan

Indikator dari keselamatan mencangkup 4 variabel yaitu peraturan keselamatan, komunikasi dan dukungan, alat pelindung diri, dan pelatihan. Pada variabel peraturan keselamatan mayoritas pemanen menyatakan setuju bahwa peraturan mengenai keselamatan kerja yang ditetapkan perusahaan mendukung hasil kinerja mereka sebesar 71,7%. Mayoritas pemanen menyatakan setuju bahwa mereka selalu mengikuti peraturan keselamatan kerja bagi pemanen yang telah ditetapkan perusahaan dan peraturan keselamatan mudah mereka terapkan pada saat bekerja masing-masing sebesar 65,0%.


(1)

(2)

Ukuran Uji Kecocokkan Model secara Keseluruhan

Nilai Patokan untuk Kecocokkan Model

Kecocokkan Model terhadap Data

Probabilitas dari = 0,21 Ya

RMSEA = 0,056 Ya

NFI = 0,96 Ya

NNFI = 0,99 Ya

CFI = 0,99 Ya

IFI = 0,99 Ya

RFI = 0,95 Ya

RMR = 0,056 Ya

SRMR = 0,056 Ya

GFI = 1,00 Ya

AGFI = 0,99 Ya


(3)

(4)

(5)

(6)

Lampiran 6. Surat Selesai Penelitian