Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) Dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa Di Medan

FORUM SOLIDARITAS MAHASISWA MEDAN (FORSOLIMA) DAN KELOMPOK STUDI MAHASISWA MERDEKA (KSMM) 1990-1998: STUDI GERAKAN MAHASISWA DI MEDAN

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN

O L E H

NAMA NIM

: JAKOB SIRINGORINGO : 080706023

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

Universitas Sumatera Utara

FORUM SOLIDARITAS MAHASISWA MEDAN (FORSOLIMA) DAN KELOMPOK STUDI MAHASISWA MERDEKA (KSMM) 1990-1998: STUDI GERAKAN MAHASISWA DI MEDAN

SKRIPSI SARJANA

DIKERJAKAN
O L E H

NAMA NIM

: JAKOB SIRINGORINGO : 080706023

Pembimbing

Dr. Budi Agustono Nip: 196008051987031001

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
FORUM SOLIDARITAS MAHASISWA MEDAN (FORSOLIMA) DAN KELOMPOK STUDI MAHASISWA MERDEKA (KSMM) 1990-1998: STUDI GERAKAN MAHASISWA DI MEDAN Yang diajukan oleh : Nama : Jakob Siringoringo Nim : 080706023
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh:
Dosen Pembimbing,

Dr. Budi Agustono NIP. 196008051987031001

Tanggal 11 November 2013

Ketua Departemen Sejarah,
Drs. Edi Sumarno, M. Hum NIP. 196409221989031001

Tanggal 12 November 2013

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi

FORUM SOLIDARITAS MAHASISWA MEDAN (FORSOLIMA) DAN KELOMPOK STUDI MAHASISWA MERDEKA (KSMM) 1990-1998: STUDI GERAKAN MAHASISWA DI MEDAN
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN

O L E H

NAMA NIM

: JAKOB SIRINGORINGO : 080706023

Pembimbing

Dr. Budi Agustono NIP. 196008051987031001
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana sastra dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013

Universitas Sumatera Utara

Disetujui oleh:

Lembar Persetujuan Ketua Departemen

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH Ketua,
Drs. Edi Sumarno, M. Hum NIP. 196409221989031001

Medan, Desember 2013

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi oleh Dekan dan Panitia Ujian

PENGESAHAN

Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Sastra dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya USU Medan

Pada Hari Tanggal

: :

Fakultas Ilmu Budaya Dekan,

Drs. Syahron Lubis, M. A. NIP. 195110131976031001 Panitia Ujian:
No. Nama 1. Drs. Edi Sumarno, M. Hum
2. Dra. Nurhabsyah, M. Si
3. Dr. Budi Agustono
4. Dra. Fitriaty Harahap, SU
5. Dra. Haswita, M. Sp

Tanda Tangan (............................) (............................) (............................) (............................) (............................)

Universitas Sumatera Utara

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi sampai jauh, jauh di kemudian hari”
-Pramoedya Ananta Toer-
Buat: Bapak-Ibu terhormat dan abang-kakak tercinta
Sersta buat KDAS dan almamater
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Judul: Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa di Medan
Kompleksnya sisi kelam demokrasi di Indonesia selama tiga dekade membuat mahasiswa tidak henti-hentinya melakukan kreasi melawan pemerintah otoriter Soeharto. Hilangnya gerakan mahasiswa di Medan sebagai dampak negatif dari pembredelan terhadap gerak kritis dan friksi internal di Kelompok Cipayung akhirnya menjadi stimulus munculnya Kelompok Studi. Skripsi ini bertujuan menjelaskan ruang lingkup Forsolima dan KSMM serta keterkaitan keduanya, sebagai KS, terhadap gerakan mahasiswa di Medan dalam kurun 19901998. Metode penelitian yang dilakukan adalah heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Forsolima dan KSMM terlahir sebagai respons terhadap sedikitnya gerakan mahasiswa dengan intensitas pemikiran dan aksi relatif banyak di Medan. Baik Forsolima maupun KSMM didasari pemahaman yang kurang lebih sama yaitu kekecewaan terhadap organisasi asalnya: Cipayung dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi atas ketidakgelisahnya terhadap rezim otoritarian Orde Baru. Kaderisasi dalam pelaksanaannya, baik Forsolima maupun KSMM memiliki cara tersendiri. Diskusi, aksi demonstrasi maupun turun ke basis adalah tiga hal yang tidak pernah luput dari metode perekrutan kader yang diadakan. Tahuntahun prareformasi sampai reformasi di Medan, Forsolima dan KSMM kerap mengambil bagian dalam aksi-aksi turun ke jalan. Penangkapan terhadap aktivis Forsolima dan KSMM adalah hal lain yang menjadi bagian dari sejarah keduanya dalam melakukan protes terhadap penguasa Orde Baru. Dengan demikian, kesimpulannya bahwa Kelompok Studi telah berkontribusi bagi gerakan mahasiswa di Medan dalam dasawarsa 1990.
Kata kunci: Kelompok Studi, Orde Baru, dan reformasi
Universitas Sumatera Utara

PRAKATA
Ide penulisan skripsi ini terbetik di benak penulis, bermula dari suatu proses diskusi setelah bergabung dengan Kelompok Diskusi dan Aksi Sosial (KDAS), sebuah organisasi mahasiswa ekstrakampus. Dalam berproses di KDAS, ide menulis tentang gerakan mahasiswa perlahan terus terbersit. Sebab melalui komunitas inilah pola pikir penulis secara perlahan menyadari betapa pentingnya rasionalitas berpikir dalam memandang segala sesuatunya. Dengan demikian, kesadaran diri sebagai manusia membentuk kegelisahan dalam diri dalam kaitannya sebagai warga negara Indonesia.
Adapun pemahaman kecil mengenai gerakan mahasiswa ataupun gerakan rakyat lainnya menumbuhkan semangat dan kedekatan emosional untuk menulis kajian ilmiah pertama penulis. Kedekatan emosional tersebut telah mengarahkan sekaligus mempermudah ide untuk membuat skripsi yang menceritakan sebuah masa lalu gerakan mahasiswa di Medan.
Oleh sebab itu, kepada orangtua tercinta penulis, Sabar Siringoringo dan Rospita Sitinjak yang telah lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, terima kasih telah menjadi inspirasi dalam hidup penulis. Meskipun telah tiada, namun mengingat nama kedua orang tua tercinta, semangat untuk menulis skripsi ini terasa lebih besar.
Sebagai bapak dan ibu “kecil”, ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Tunggul Siringoringo dan Rusmi Pakpahan. Bapak Uda dan Inang Uda ini telah membesarkan dan membimbing penulis dalam berbagai kesulitan yang penulis hadapi. Kebaikan mereka yang tak terbalas juga telah terukir indah di sanubari. Sebab oleh mereka
Universitas Sumatera Utara

jugalah penulis terinspirasi untuk tegar dalam memandang segala persoalan. Tanpa itu, penulis tidak ada apa-apanya.
Skripsi ini tidak akan berwujud seperti sekarang tanpa bimbingan dan arahan bermutu dari Dr. Budi Agustono selaku dosen pembimbing penulis. Selain itu juga, penulis mengucapkan terima kasih kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Sejarah FIB USU, Drs. Edi Sumarno, M. Hum dan Dra. Nurhabsyah, M.Si. Saat waktu telah cukup lama dalam pengerjaan skripsi ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Dra. Ratna, M.Si., atas komunikasi yang telah terbangun akrab. Demikian juga kepada staf pengajar lainnya di Departemen Sejarah serta kepada Bang Ampera Wira, terima kasih.
Ketika pasang-surut semangat dalam proses mengerjakan skripsi ini, penulis dikuatkan oleh rekan-rekan sekampus, seperti Arenda Mehaga, Marco Limbong, Eri Arianto, Jansarman Sinaga, Shinta Agnesia Silalahi, Eri Arianto, Erni Friska Nababan dll. Meskipun rekan-rekan seangkatan sebagian telah menyelesaikan skripsinya, terima kasih atas dukungannya yang tidak melupakan penulis dan rekan lainnya yang menyusul belakangan. Terima kasih kepada Eko Tambunan di Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah (HIMIS) dan Sere Murni di Kelompok Kecil Kebaktian Mahasiswa Kristen (KMK).
Untuk informan, penulis haturkan penghargaan kepada: Iswan Kaputra, Elfenda Ananda, Mulana Samosir, Sahat Lumbanraja, Siswanto, Turunan Gulo, Diapari Marpaung, Tohap Simamora, Rizal, dan Pdt. Nelson Siregar dan sebagainya yang tidak bisa disebutkan satu per satu, atas diskusi dan kesediaan waktunya memberikan informasi yang menjadi bahan baku dari “bangunan” skripsi ini.
Mimpi bersama di KDAS menyulut motivasi penulis untuk mewujudkan sebuah karya bisa berarti bagi siapa pun. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada
Universitas Sumatera Utara

rekan-rekan KDAS. Sebagai oposan permanen, tetaplah nyalakan obor veritas di tengahtengah masyarakat.
Akhirnya skripsi ini selesai dalam rentang waktu yang lewat dari ketentuan akademis. Jika ketentuan akademis berlaku enam bulan, penulis malah menyelesaikannya dalam 12 bulan lebih. Hal ini bukan bermaksud gagah-gagahan. Sebaliknya, penulis merasa masih terlalu singkat untuk mengerjakan suatu karya ilmiah yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Biar bagaimanapun, skripsi ini tidak merupakan karya ilmiah yang objektif murni. Kekurangan dan kelemahan masih banyak dalam isi skripsi ini. Penulis menyadari betul akan hal tersebut.
KDAS Medan, Oktober 2013 Jakob Siringoringo NIM: 080706023
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI ABSTRAK ......................................................................................................................... i PRAKATA............................................................................................................................... ii DAFTAR ISI.............................................................................................................................v DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR............................................................................................................. vii BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah...................................................................................................1 1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................................10 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian.......................................................................................10 1.4 Tinjauan Pustaka ............................................................................................................11 1.5 Metode Penelitian...........................................................................................................15 1.6 Pendekatan Teori............................................................................................................15
BAB II TERBENTUKNYA FORSOLIMA DAN KSMM .................................................24 2.1 Munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat...................................................................24 2.2 Pengaruh Politik Lokal (Konflik HKBP dan Gerakan Buruh).......................................32 2.2.1 Konflik HKBP ...................................................................................................32 2.2.2 Gerakan Buruh ...................................................................................................34 2.3 Berdirinya Forsolima dan KSMM..................................................................................37 2.4.1 Forsolima ...........................................................................................................37 2.4.2 KSMM ................................................................................................................44
BAB III KADERISASI..........................................................................................................51 3.1 Pendidikan Politik ..........................................................................................................51 3.3.1 Pelatihan Forsolima ............................................................................................53 3.3.2 Pendidikan Politik KSMM..................................................................................55 3.2 Diskusi Rutin..................................................................................................................59 3.3 Menyatu dengan Rakyat.................................................................................................61
BAB IV AKSI-AKSI FORSOLIMA DAN KSMM DALAM GERAKAN MENJELANG REFORMASI ...........................................................................................................63
4.1 Aksi-aksi Forsolima .......................................................................................................65 4.1.1 Delegasi 1995......................................................................................................65
Universitas Sumatera Utara

4.1.2 Kudatuli 1996......................................................................................................69 4.1.3 Krisis 1997 ..........................................................................................................70 4.1.4 Aksi 1998 ............................................................................................................71 4.2 Aksi-aksi KSMM ...........................................................................................................73 4.2.1 Aksi 1996 ............................................................................................................75 4.2.2 Krisis 1997 ..........................................................................................................77 4.2.3 Aksi 1998 ............................................................................................................78 BAB V KESIMPULAN .........................................................................................................88 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................................84 DAFTAR INFORMAN .........................................................................................................88 LAMPIRAN............................................................................................................................90 GAMBAR .............................................................................................................................102
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Pendidikan politik Forsolima ................................................................................103 Gambar 2 Pendidikan politik Forsolima ................................................................................103 Gambar 3 Pendidikan politik Forsolima ................................................................................103 Gambar 4 Pendidikan politik KSMM ....................................................................................104 Gambar 5 Pendidikan politik KSMM ....................................................................................104 Gambar 6 Aksi mahasiswa 1 Mei 1998 .................................................................................105 Gambar 7 Aksi mahasiswa 17 Mei 1998 ...............................................................................105 Gambar 8 Aksi mahasiswa 21 Mei 1998 ...............................................................................105 Gambar 9 Mahasiswa menuntut reformasi ............................................................................106 Gambar 10 Mahasiswa menduduki DPRD SU......................................................................106
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 ...............................................................................................................................91 Lampiran 2 ...............................................................................................................................92 Lampiran 3 ...............................................................................................................................93 Lampiran 4 ...............................................................................................................................94 Lampiran 5 ...............................................................................................................................95 Lampiran 6 ...............................................................................................................................96 Lampiran 7 ...............................................................................................................................97 Lampiran 8 ...............................................................................................................................98 Lampiran 9 ...............................................................................................................................99 Lampiran 10 ...........................................................................................................................100 Lampiran 11 ...........................................................................................................................101
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Judul: Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) 1990-1998: Studi Gerakan Mahasiswa di Medan
Kompleksnya sisi kelam demokrasi di Indonesia selama tiga dekade membuat mahasiswa tidak henti-hentinya melakukan kreasi melawan pemerintah otoriter Soeharto. Hilangnya gerakan mahasiswa di Medan sebagai dampak negatif dari pembredelan terhadap gerak kritis dan friksi internal di Kelompok Cipayung akhirnya menjadi stimulus munculnya Kelompok Studi. Skripsi ini bertujuan menjelaskan ruang lingkup Forsolima dan KSMM serta keterkaitan keduanya, sebagai KS, terhadap gerakan mahasiswa di Medan dalam kurun 19901998. Metode penelitian yang dilakukan adalah heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Forsolima dan KSMM terlahir sebagai respons terhadap sedikitnya gerakan mahasiswa dengan intensitas pemikiran dan aksi relatif banyak di Medan. Baik Forsolima maupun KSMM didasari pemahaman yang kurang lebih sama yaitu kekecewaan terhadap organisasi asalnya: Cipayung dan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi atas ketidakgelisahnya terhadap rezim otoritarian Orde Baru. Kaderisasi dalam pelaksanaannya, baik Forsolima maupun KSMM memiliki cara tersendiri. Diskusi, aksi demonstrasi maupun turun ke basis adalah tiga hal yang tidak pernah luput dari metode perekrutan kader yang diadakan. Tahuntahun prareformasi sampai reformasi di Medan, Forsolima dan KSMM kerap mengambil bagian dalam aksi-aksi turun ke jalan. Penangkapan terhadap aktivis Forsolima dan KSMM adalah hal lain yang menjadi bagian dari sejarah keduanya dalam melakukan protes terhadap penguasa Orde Baru. Dengan demikian, kesimpulannya bahwa Kelompok Studi telah berkontribusi bagi gerakan mahasiswa di Medan dalam dasawarsa 1990.
Kata kunci: Kelompok Studi, Orde Baru, dan reformasi
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Sejarah gerakan mahasiswa bermula sejak pembentukan nation-Indonesia yang
diletakkan pada awal abad XX. Lahirnya Politik Etis1 menyebabkan perkembangan politik terutama bagi kalangan berpendidikan. Mereka kala itu, baik di Belanda maupun di Indonesia, berefleksi untuk memperjuangkan kemerdekaan. Dengan kata lain, arti penting kesadaran akan hak kebebasan diperoleh melalui lembaga pendidikan pasca-Politik Etis.
Pentingnya berorganisasi menandai cara berjuang yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, dampak positif pendidikan menumbuhkan bibit organisasi modern pada 1908, di antaranya Boedi Oetomo (BO) dan Indische Vereeninging (IV).2 Keduanya lahir di dua tempat berbeda: Jawa (Hindia Belanda) dan Belanda. Kedua organisasi ini menjadi awal dimulainya pergerakan kaum terpelajar Indonesia. pemerintah kolonial Belanda sendiri belum mengganggap secara serius dampak yang akan ditimbulkan nantinya. Pembentukan organisasi seiring berlakunya Politik Etis masih dianggap sejalan dengan tujuan Politik Etis
1 Politik Etis lahir tahun 1900. Pada hakikatnya, hal itu merupakan sebuah kebijakan lunak Belanda guna menenangkan rakyat Indonesia terutama dari perhatian internasional. Jadi, bukan balas budi sebagaimana sering ditafsirkan orang. Paling tidak berbagai gelombang kecaman lahir terhadap stelsel Belanda yang dianggap sebagai akibat buruk liberalisme. Kecaman berasal dari golongan Kristen, liberal progresif, dan sosial demokrat. Parakitri T. Simbolon, Menjadi Indonesia (Jakarta: Kompas, 1995), hlm. 168.
2 Boedi Oetomo didirikan oleh Sutomo bersama beberapa rekannya dari sekolah dokter Jawa, Stovia, sekolah guru, sekolah pertanian, dan kehewanan dan sekolah pamong praja. Berdiri pada 20 Mei 1908, Budi Utomo menjadi jelmaan awal kebersamaan dalam corak modern atau sekarang ini disebut berorganisasi. Selengkapnya lihat Dawam Rahardjo dalam Denny J.A. Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda era 80-an (Yogyakarta: LKIS, 2006) hlm. xiii. Sedangkan Indische Vereeninging terbentuk pada 25 Oktober 1908. Indische Vereeninging dibentuk di Belanda oleh siswa asal Hindia. Lihat Parakitri Simbolon, ibid., hlm. 319.
Universitas Sumatera Utara

itu sendiri, yaitu salah satunya, mendapatkan asisten dalam mengurusi bagian administrasi. Perhitungan ini menguntungkan pihak kolonial sesuai perkembangan zaman sebab Belanda cukup hanya mengawasi dan memberi komando yang mempermudah pekerjaan mereka. Meskipun lembaga pendidikan masih diperuntukkan bagi anak bangsawan atau orang kaya, kesempatan langka ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemuda/pelajar Indonesia.
Periode 1920-an, sebagian dari mereka membentuk Kelompok Studi (selanjutnya disingkat KS).3 KS adalah organisasi yang beranggotakan beberapa mahasiswa/pelajar dengan kegiatan utamanya berdiskusi. Irene H. Gayatri mendefinisikan KS sebagai suatu bentuk kegiatan sekelompok mahasiswa di luar kampus yang masih tetap mempertahankan posisi mahasiswa sebagai pelaku utama dan sekaligus kelompok sasaran yang dituju, dengan penekanan kepada intelektualisme, khususnya mengkaji masalah-masalah teoritis.4
Satu hal yang menarik dari KS adalah peranannya dalam proses membangun kebangsaan sejak awal abad XX. KS, dengan semangat nasionalismenya, telah memberikan pengaruh besar berwujud penolakan terhadap kebijakan pemerintah kolonial Belanda.
Meskipun zaman silih berganti, pemikiran untuk membentuk KS memiliki alasan yang sama, yaitu adanya kekuasaan yang melarang mahasiswa berkelompok atau
3 KS yang terbentuk, misalnya Kelompok Studi Indonesia (Indonesisce Studie-club) yang dibentuk pada 1924 di Surabaya. Di samping itu, berdiri Kelompok Studi Umum (Algemeen Studie-club) yang berdiri pada 1925. Adi Suryadi Cula, Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Sejarah Politik Indonesia, 1990-1998 (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 24.
4 Irene H. Gayatri, Arah Baru Gerakan Mahasiswa 1989-1993 dalam Muridan S. Widjojo, (et.al.), Penakluk Orde Baru: Gerakan Mahasiswa ’98 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hlm. 71.
Universitas Sumatera Utara

berorganisasi.5 Kekuatiran terhadap kelompok mahasiswa oleh penguasa Orde Baru turut
memengaruhi KS hadir sebagai organisasi alternatif.6
Di awal Orde Baru, 1968, KS terbentuk setelah kelompok mahasiswa yang tergabung
dalam KAMI meredup.7 KS yang ketika itu dinamakan dengan Studi Grup,8 berdiri sebagai
simbol kekecewaan terhadap mantan aktivis mahasiswa yang masuk parlemen sebagai wakil
rakyat.
Studi Grup (SG) berkembang dari Bandung yang dipelopori oleh kelompok
Mahasiswa Indonesia.9 Setelah KAMI melemah, SG kemudian muncul hingga ke berbagai
kota, misalnya Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, Denpasar dan sebagainya.
SG era enam puluhan muncul sebagai bentuk kekecewaan terhadap sikap aktivis,
terutama bagi mereka yang terpilih menjadi anggota legislatif, yang meninggalkan idealisme
yang diusung saat menjatuhkan Soekarno. Dalam sikap politik mahasiswa yang acapkali
5 Lahirnya KS pada 1930-an, era Soekarno muda, diakibatkan oleh tiga hal: pertama, pemuda tidak bisa menyesuaikan diri dan kecewa pada partai politik yang ada; kedua, KS bisa menjadi media alternatif ketika pemerintah represif; ketiga, tidak dibatasi sekat-sekat kedaerahan. Muhammad Umar Syadat Hasibuan, Revolusi Politik Kaum Muda (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), hlm. 38.
6 KS dikatakan sebagai alternatif yang lahir karena ketidakmampuan organisasi mahasiswa formal di kampus untuk menyatakan ide-ide kritis mahasiswa agar terciptanya suatu perubahan sosial. Suharsih dan Ign Mahendra K., Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia (Yogyakarta: Resist Book, 2007), hlm. 91.
7 Tertanggal 25 Oktober 1965, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) berdiri. KAMI dibentuk sebagai wadah penggalangan berbagai pandangan mahasiswa yang tampak beragam, namun memiliki keinginan bersama dalam memberikan koreksi bagi pemerintah Orde Lama. Selama dua tahun lebih, KAMI memiliki posisi tawar yang cukup besar terhadap konstelasi politik nasional. Satu di antaranya adalah aksi besar yang berlangsung sepanjang 1966 dan KAMI merupakan kesatuan mahasiswa yang turut menggalang aksi tersebut. Namun di akhir 1968, KAMI perlahan-lahan menghilang sejak adanya masalah wakil-wakil mahasiswa di DPR. Francois Raillon, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 19661974, Cetakan I (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 12-15.
8 Studi Grup Mahasiswa Indonesia, Grup Diskusi Universitas Indonesia, Club Diskusi Kita, Kelompok Diskusi Generasi Muda adalah beberapa KS yang berdiri di penghujung 1960-an. Francois Raillon, ibid., hlm. 71-74.
9 Mahasiswa Indonesia merupakan tabloid mingguan yang menonjol dalam pemberitaan situasi politik di Indonesia ketika itu. Tabloid ini juga dianggap sebagai salah satu media kritis dalam mengritik kebijakan pemerintah. Nomor perdana Mahasiswa Indonesia terbit pada 19 Juni 1966, dengan bentuk tabloid berukuran 30x45 cm, tebal 8 halaman. Francois Raillon, ibid., hlm. 30.
Universitas Sumatera Utara

menyedot perhatian, kali ini SG kelihatan tidak mampu berbicara banyak. SG tidak mampu mengembalikan posisi tawar mahasiswa seperti halnya KAMI yang sanggup menyatukan berbagai organisasi mahasiswa.
Peran SG tidak tampak jelas dalam dinamika politik yang kembali menggeliat sejak memasuki tahun 1970. Sebaliknya aksi mahasiswa justru dilakukan oleh pimpinan organisasi intrakampus, seperti Dewan Mahasiswa.
Masih di tahun yang sama, ternyata situasi politik semakin memanas. Hal ini ditandai dengan retaknya, atau meminjam pernyataan Arif Budiman, sebagai kandasnya bulan madu antara mahasiswa dan ABRI. Ditambah maraknya kasus korupsi seperti yang terjadi di tubuh Permina (Pertamina) pimpinan Mayjend Ibnu Sutowo dan Bulog yang dipimpin oleh Mayjend Ahmad Tirtosudiro. Sejak dari situasi yang tidak tenang inilah, mahasiswa mulai kecewa terhadap rezim Soeharto.10
Sementara di sisi lain, mahasiswa mulai menyusun aksi protes atas perilaku pejabat, korupsi yang merajalela, dan terutama terhadap kenaikan harga minyak tanah. Tidak hanya sampai di situ, mahasiswa juga mulai menyoroti persoalan investasi asing yang tergolong dalam IMF, World Bank, Inter-Govermental Group on Indonesia (IGGI) yang dipimpin J.P. Pronk. “Namun terkait modal asing ini, kami lebih fokus kepada kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka,” demikian menurut pimpinan Dewan Mahasiswa UI ketika itu.11 Saat itu dualisme investasi asing sedang bertarung: pro-investasi Amerika versus pro-investasi Jepang. Jepang dipilih sebagai investor yang mendorong model perekonomian.
10 Imran Hasibuan, (et.al.), Hariman dan Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing (Jakarta: Q-Communication, 2011), hlm. 25.
11 Imran Hasibuan, Ibid., hlm. 63.
Universitas Sumatera Utara

Manuver-manuver politik pun menjadi ramai dalam perbincangan media. Baik Ali Murtopo maupun Soemitro sama-sama melakukan manuver politik antara lain dengan mengundang mahasiswa berdialog. Ali Murtopo mendirikan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) dan membangun koalisi dengan kelompok keagamaan. Lain Murtopo, Soemitro pun berkeliling kampus-kampus di Jawa, kecuali Universitas Indonesia. Bahkan Soemitro berkunjung ke Pulau Buru dan berniat akan membebaskan para tahanan politik.
Pemantik perseteruan kekuasaan antara dua pembantu presiden telah terpicu sebelum meletusnya gerakan 1973/1974. Yaitu antara Ali Murtopo yang menjabat asisten pribadi presiden (aspri) dan Jenderal Soemitro selaku Pangkopkamtib. Keduanya berseteru dalam kapasitas posisinya masing-masing yang banyak menunjukkan drama keintelijenan. Drama ini menggambarkan kerumitan dalam mencari posisi kekuasaan dan mencair sejak peristiwa Malari.12
Puncaknya pertikaian berujung pada Lima Belas Januari (Malari) 1974. Huru-hara ketika itu terjadi setelah kedatangan PM Jepang Tanaka. Mahasiswa berdemonstrasi di jalan dengan rute dari Salemba Universitas Indonesia dan berakhir di Universitas Trisakti, Grogol. Di Grogol mereka membakar patung bergambar Ali Murtopo, Sudjono Hoemardani, dan Tanaka. Akhirnya peristiwa 1974 ditutup dengan berbagai penangkapan terhadap aktivis mahasiswa.
12 Lihat Heru Cahyono, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74 (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998).
Universitas Sumatera Utara

Empat tahun kemudian, gerakan mahasiswa kembali bersuara. Waktu itu kondisi ekonomi mengalami disparitas yang mencolok dengan perbedaan pendapatan yang tidak seimbang. Statistik mengungkapkan bahwa 40% penduduk miskin menguasai kekayaan nasional hanya 15%. Sementara itu 40% penduduk menengah memegang kekayaan nasional sebesar 40%. Namun ironinya, hanya 20% penduduk lapisan atas justru menguasai 45% kekuasaan negara. Hal ini menyebabkan mahasiswa menilai bahwa pemerintah telah gagal dan berbohong atas janjinya memperbaiki distribusi kesempatan dan hasil pembangunan.13
Gerakan mahasiswa muncul mengkritisi persoalan di atas. Keprihatinan ditunjukkan dengan menggelar protes seperti menggelar spanduk yang berisi tuntutan menguak isu penolakan terhadap pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden untuk yang ketiga kalinya. Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menerbitkan Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Buku ini berisi protes dan mencerca pemerintah terkait korupsi yang meluas, kebijakan ekonomi yang akrab hanya memperkaya diri sendiri, dan hilangnya komunikasi dengan rakyat.14
Akan tetapi pemilihan umum tahun 1976 tetap membawa Soeharto menuju singgasana RI-1. Sesuai dengan penolakan sebelumnya, mahasiswa kembali memprotes hasil pemilihan tersebut. Mereka tidak mengakui Soeharto sebagai presiden terpilih. Di sini mereka menolak tegas dengan berunjuk rasa hingga ke depan istana negara. Mereka menyatukan diri dari pelbagai Dewan Mahasiswa dan menghindari afiliasi dengan faksi elite. Dengan demikian, mereka melakukan aksi demonstrasi di mana tuntutan diarahkan kepada Presiden Soeharto, bukan pembantu-pembantunya sehingga dianggap melawan hukum.
13 Suharsih, op.cit., hlm. 84. 14 Suharsih, ibid., hlm. 85.
Universitas Sumatera Utara

Praduga ini kemudian direalisasikan melalui Staf Komando Soedomo yang menyatakan bahwa mahasiswa telah melawan hukum dan melanggar konstitusi. Hal ini diperjelas lagi ketika kedatangan mahasiswa ke MPR pada 07 Januari 1978 yang dianggap sebagai pelecehan terhadap lembaga tertinggi di Indonesia.
Menanggapi aksi protes mahasiswa, Presiden Soeharto angkat bicara. Ia menyatakan bahwa demonstrasi sah-sah saja asalkan sesuai dengan fakta dan kebenaran. Sebab jika unjuk rasa dilakukan dengan tidak benar apalagi tanpa fakta yang tepat, maka bisa membahayakan Pancasila dan melanggar konstitusi. Oleh karena itu, beliau berharap agar mahasiswa hatihati dalam mempergunakan hak kebebasannya.
Meskipun pidato tersebut menyerupai himbauan, namun melalui pidato inilah keluar kebijakan untuk membubarkan lembaga resmi mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa. Dengan demikian, lahirlah SK Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) 21 Januari 1978 tentang pembubaran Dewan Mahasiswa semua universitas dan pendudukan kampus oleh militer. Tidak hanya itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga mengeluarkan instruksi nomor 1/U/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 037/U/1979. Sejak saat itu, mahasiswa hanya diperbolehkan berkegiatan seputar kesejahteraan, rekreasi, dan persoalan akademik.
Pemerintah melalui Panglima Kopkamtib Sudomo (Militer) dan Daoed Joesoef (Mendikbud) mengeluarkan kebijakan baru tentang aktivitas mahasiswa yang dipandang mengganggu stabilitas nasional. Kebijakan pembekuan gerakan mahasiswa adalah
Universitas Sumatera Utara

normalisasi kehidupan kampus (NKK) yang digunakan sebagai alat untuk mendepolitisasi kampus.15
Selain itu, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi juga mengeluarkan instruksi nomor
002/DK/Inst/1978 yang menempatkan semua aktivitas mahasiswa berada di bawah kendali
Pembantu Rektor III dan Pembantu Dekan III di setiap fakultas. Kebijakan ini bermuara bagi
adanya koordinasi kampus demi menjalankan normalisasi politik kampus seperti diharapkan
pemerintah. Dengan demikian, pada 24 Februari 1979, Mendikbud mengeluarkan SK nomor
037/U/1979 tentang susunan lembaga/organisasi kemahasiswaan lingkungan Perguruan
Tinggi Departemen P dan K. Wujudnya adalah di setiap Perguruan Tinggi dibentuk badan
koordinasi kemahasiswaan (BKK) sebagai badan non-struktural yang membantu rektor untuk
merencanakan kegiatan mahasiswa. Sesuai peraturan tersebut, kampus berbenah untuk tidak
berdiskusi seputar tema politik yang cenderung dianggap menjadi akar perlawanan
mahasiswa.
Pertengahan 1980-an, setelah legislasi pemagaran ditetapkan, KS16 hadir sebagai
respons terhadap kebijakan baru pemerintah yang mengekang mahasiswa berpolitik praktis. Dengan mengangkat isu-isu lokal,17 mereka mencoba untuk membangkitkan semangat kritis
15 Gerakan mahasiswa sejak 1974 sampai 1978 direspons oleh pemerintah Orde Baru dengan cara-cara represif dan militeristik. Tindakan ini kemudian diperkuat dengan Keputusan Pangkopkamtib No. SKEP.02.KOPKAM/1978 tentang pembekuan Dewan Mahasiswa diikuti dengan keputusan Menteri P & K, Dr. Daoed Joesoef, No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus. Muchtar E. Harahap dan Adris Basril, Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia (Jakarta: Network for South East Asian Studies, 2000), hlm. 55. Lihat juga Adi Suryadi Cula, op.cit., hlm. 118-120.
16 Pembungkaman pemerintah terhadap kampus-kampus dalam 1980-an memunculkan format baru gerakan mahasiswa. Beberapa KS yang lahir ketika itu, di antaranya Kelompok Diskusi Nommensen (KDN), Kelompok Studi Mahasiswa Hukum (KSMH), Kelompok Kerja Studi Perkotaan, Forum Komunikasi Nommensen.
17 Isu-isu lokal tidak kalah menariknya menjadi isu dalam gerakan mahasiswa. Selain isu nasional yang kerap menjadi wacana gerakan mahasiswa seperti pada gerakan mahasiswa era: 1966, 1974 dan 1978 bahkan 1998, isu lokal tidak kalah pentingnya. Isu lokal pada dekade 1980-an, misalnya kasus tanah. Contoh kasus
Universitas Sumatera Utara

dan daya juang mahasiswa yang berlangsung hingga dekade berikutnya.18 Gerakan dalam era ini secara kasat mata berbeda dengan gerakan periode sebelumnya.
Perbedaan yang dapat dilihat terhadap gerakan mahasiswa era 1980-an adalah dalam bentuk aksi yang mereka lakukan. Jika pada periode 1966, 1974, dan 1978, gerakan mahasiswa akrab dengan aksi massa, turun ke jalan dan dalam kurun waktu yang cukup lama, maka gerakan mahasiswa 1980-an justru bergerak dalam aksi informasi seperti melalui pers mahasiswa, membagikan selebaran, dan melakukan penyadaran. Aksi informasi tentu tidak membutuhkan massa sampai ratusan bahkan ribuan orang.19
Jika gerakan mahasiswa sebelum 1980 selalu menonjolkan isu-isu nasional, maka isu lokal menggantikannya sebagai bentuk perlawanan baru dengan pertimbangan ketidaksiapan mendobrak pusat kekuasaan. Pergeseran isu dari nasional ke lokal merupakan keunikan tersendiri dari gerakan mahasiswa. Jika menelaah gaya hidup mahasiswa, maka tampaklah betapa mereka jarang memberi waktu untuk memperhatikan kehidupan masyarakat kelas bawah seperti petani, buruh dan sebagainya. Namun, para aktivis mahasiswa 1980-an membuktikan kalau mereka juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kaum tani, buruh, nelayan ataupun kaum miskin kota.
Pada masa ini mahasiswa memiliki kesempatan luas mempelajari berbagai literatur dan juga membantu advokasi kasus-kasus rakyat. Itulah yang mereka lakukan selama
tanah di Tapanuli Utara yang dirampas oleh PT. Inti Indorayon Utama (IIU) atau kini berganti nama menjadi PT. Toba Pulp Lestari dengan lokasi pabrik terletak di Sosor Ladang, Porsea, Toba Samosir. Selain itu terdapat juga Sei Belumai, Sei Lepan di Sumatera Utara. Lihat Dimpos Manalu, Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik: Studi Kasus Gerakan Perlawanan Masyarakat Batak vs PT. Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2009).
18 Syadat Hasibuan, op.cit., hlm. 69. 19 Denny, J.A., Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda era 80-an (Jogjakarta: LkiS, 2006), hlm. 13.
Universitas Sumatera Utara

tindakan pemerintah masih mengekang aktivitas politik mahasiswa. Hilangnya peranan negara dalam mensejahterakan rakyat mengakibatkan munculnya ketimpangan sosial atau ketidakadilan.20
Selanjutnya di era 1990-an sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia meninggalkan catatan yang panjang. Berlarutnya sterilisasi politik kampus dari kepekaan terhadap sosialpolitik akhirnya membawa dampak pada organisasi mahasiswa ekstra-kampus. Organisasi ekstra-kampus, salah satunya KS, pada era ini adalah sebentuk bandul baru dalam membangun gerakan mahasiswa.
Berbicara mengenai gerakan mahasiswa di Indonesia, tentu tidak dapat dipisahkan dari faktor-faktor khusus yang mendukungnya. Betapapun gerakan mahasiswa berperan dan ikut dalam setiap perubahan politik, umumnya diperankan oleh organisasi mahasiswa.
Skripsi ini membahas tentang dua organisasi mahasiswa di Medan, yaitu Forum Solidaritas Mahasiswa Medan (Forsolima) dan Kelompok Studi Mahasiswa Merdeka (KSMM) dalam kurun 1990-1998. Dalam konteks menjelang reformasi, kapasitas KS merupakan satu bagian yang mendapat perhatian. Hal ini disebabkan oleh KS menjadi inspirasi gerakan mahasiswa waktu itu.
20 Zaiyardam Zubir, Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi tentang Ideologi, Isu, Strategi, dan Dampak Gerakan (Yogyakarta: Insist Press, 2002).
Universitas Sumatera Utara

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah skripsi ini terdiri atas:
a) Bagaimana latar belakang, kelahiran dan bentuk kaderisasi Forsolima dan KSMM?
b) Bagaimana aktivitas Forsolima dan KSMM dalam aksi pra-reformasi di Medan.
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan penulisan skripsi ini adalah menjelaskan ruang lingkup Forsolima dan KSMM serta keterkaitan keduanya, sebagai KS, terhadap gerakan mahasiswa di Medan dalam kurun waktu 1990-1998.
Adapun manfaat yang diharapkan dari skripsi ini: a) Menambah perbendaharaan atau melengkapi sejarah gerakan sosial di Medan. b) Sebagai pengayaan tentang perjalanan gerakan mahasiswa di Medan. 1.4 Tinjauan Pustaka Dalam kajian gerakan mahasiswa 1990-an, Gunawan21 mendeskripsikan mereka sebagai “semak kering yang mudah dibakar.” Refleksi atas kondisi sosial politik, dan ekonomi pada masa Orde Baru menjadi dasar utama hadirnya gerakan mahasiswa yang lebih kritis. Gerakan mahasiswa 1990-an itu sendiri tidak bisa dilepaskan dari pergerakan periode sebelumnya. Seperti telah disinggung di atas, gerakan mahasiswa pasca-kebijakan yang mengekang perpolitikan mahasiswa, memfokuskan diri terhadap penanganan kasus-kasus
21 FX Rudi Gunawan (et.al.), Menyulut Lahan Kering Perlawanan Gerakan Mahasiswa: Tribute to Andi Munajat (Jakarta: Penerbit Spasi & VHR Book bekerja sama dengan Friedrich Ebert Stiftung, 2009).
Universitas Sumatera Utara

rakyat. Misalnya, kasus Kedung Ombo di mana KS turun ke basis membantu petani untuk melawan perampas tanah.
Gunawan juga memperbincangkan pertumbuhan awal gerakan mahasiswa dasawarsa itu dari KS hingga forum-forum mahasiswa lintas kota. Selain itu, turut ikut terlibat adalah Persatuan Rakyat Demokratik (PRD).22
Karya lain, Daniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru menjelaskan dengan panjang lebar dan terperinci, turut membantu bagi penulisan skripsi ini.23
Dhakidae membahas wacana intelektualitas dalam interval Orde Baru. Di mana sepanjang tiga dasawarsa tersebut, Dhakidae mengkaji kedudukan kaum cendekiawan yang masih secuil dari segudang persoalan kecendekiaan yang tidak maksimal dan tepat sasaran selama masa pembangunan. Bahkan kelompok cendekiawan dikatakan memiliki kepentingan politis yang terlalu bercampur-baur dengan kegiatan akademis-ilmiah murni. Dengan kata lain, kaum cendekia tidak bisa lepas dari intervensi politis dalam lingkungan kekuasaan Orde Baru.
Diterbitkannya kebijakan yang ditujukan untuk mempersempit peran politik mahasiswa merupakan salah satu buah dari miringnya tugas kaum cendekiawan di Indonesia. Lingkungan kekuasaan yang teknokratis oleh Dhakidae disebut menjadi salah kaprah dalam
22 PRD merupakan salah satu kelompok yang sifatnya lintas kota dan ditujukan untuk menampung aktivis-aktivis yang dianggap radikal. Persatuan Rakyat Demokratik dibentuk pada 02 Mei 1994 di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) Jakarta bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Ketua Umum PRD terpilih adalah Sugeng Bahagijo, mahasiswa filsafat UGM didampingi Tumpak Sitorus, mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) Jakarta Selatan sebagai Sekretaris Jenderal. (Tabloid MomenT, No. 04/Tahun I/1994)
23 Daniel Dhakidae, Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003).
Universitas Sumatera Utara

kapasitas seorang Mendikbud sebagai cendekiawan. Mahasiswa justru disuruh hanya memenuhi pekerjaan belajar dan tidak perlu mencampuri urusan politik. Padahal mahasiswa adalah bagian dari kelompok cendekiawan yang tidak sedikit menyumbang ilmu pengetahuan dan juga semangat mudanya yang menjadi penerus dalam menahkodai bangsa Indonesia.
Tomagola memerinci Cendekiawan dan Kekuasaan sebagai berikut:
“Dengan memanfaatkan, baik kerangka pikiran maupun cara pendekatan Foucaultian yang sangat menekankan pentingnya peneropongan realitas sebagai sesuatu yang terus bergerak dalam suatu proses relasional yang dialektis, Dhakidae menggeledah-periksa ruang bawah tanah dan loteng penuh laba-laba di mana bertebaran dokumen-dokumen tentang cengkeraman kuku rezim Orde Baru dan kiprah-geliat perlawanan para cendekiawannya.”24
Kajian lain yang memberikan deskripsi mengenai mahasiswa adalah Patah Tumbuh Hilang Berganti: Sketsa Pergolakan Mahasiswa dalam Politik Sejarah Indonesia (19901998).25 Buku ini menguraikan proses gerakan mahasiswa di Indonesia sejak prakemerdekaan hingga reformasi 1998. Isinya merunut gerakan-gerakan mahasiswa yang telah terjadi di tiap zamannya. Sebagaimana judulnya, gerakan mahasiswa diurutkan bagai anak tangga dengan catatan-catatan peristiwanya. Demikianlah secara ringkas buku ini merekapitulasi perjalanan gerakan mahasiswa yang berimplikasi langsung terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kajian berikutnya yang membahas tentang KS adalah karya Denny J.A., mantan aktivis mahasiswa. Ia mengatakan bahwa akurasi pergerakan dengan sasaran patutnya
24 Tamrin Amal Tomagola, Republik Kapling (Yogyakarta: Resist Book, 2006), hlm. 170. 25 Adi Suryadi Cula, loc.cit.
Universitas Sumatera Utara

dikonsentrasikan agar dalam pergerakan mahasiswa memiliki tendensi yang dinantinantikan.26 Buku ini menjelaskan refleksi terhadap gerakan mahasiswa yang telah berkalikali terjun menyuarakan aspirasinya, namun acapkali tidak menemukan hasil memuaskan. Kemudian di dalam buku ini juga diuraikan bagaimana refleksi terhadap perkembangan gerakan mahasiswa yang selanjutnya melahirkan KS. KS dalam dinamikanya juga mengalami pro dan kontra sebagai wadah yang tepat dalam memompa kekritisan mahasiswa. Singkatnya, maju-mundurnya politik kaum muda dalam era KS merupakan fokus yang menarik untuk dikaji.
Selain itu ada karya Muchtar E. Harahap dan Andrias Basril dalam Gerakan Mahasiswa dalam Politik Indonesia.27 Buku ini menjelaskan tentang sikap mahasiswa yang militan, progresif, dan posisi politik (bargaining) yang kuat. Mahasiswa disebut sebagai gerakan oposan paling mungkin dan ideal. Tetapi sehubungan dengan hal itu, buku ini menekankan bahwa gerakan mahasiswa bukanlah faktor utama, melainkan salah satu faktor dalam gerakan sosial menentang pemerintah, termasuk pada rezim Soeharto. Di samping itu, Harahap dan Basril juga memberi analisis terhadap politik mahasiswa dan sebab-sebab kemunculan aksi-aksi politik dan serangkaian teori. Terkait aksi, dijelaskan secara periode per periode.
Dalam perspektif lain, Bergerak Bersama Rakyat: Sejarah Gerakan Mahasiswa dan Perubahan Sosial di Indonesia karangan Suharsih dan Ign Mahendra K. memuat deskripsi untuk memenuhi ruang teori dalam memandang skripsi ini.28 Isinya memuat analisis seputar
26 Denny J. A., loc.cit. 27 Muchtar E. Harahap dan Adris Basril, loc.cit. 28 Suharsih, loc.cit.
Universitas Sumatera Utara

resistensi mahasiswa terhadap sikap dan kebijakan rezim neo-liberal yang didukung oleh penguasa-penguasa dalam negeri. Hal ini juga mengungkapkan bahwa perjuangan mahasiswa harus terus digelorakan dengan banyak bercermin dari sejarah. Gerakan mahasiswa diharapkan dapat lebih kritis, bermutu, kuat, dan agar lebih cepat mencapai cita-citanya: memperjuangkan kepentingan rakyat. Memperjuangkan rakyat merdeka sepenuhnya tanpa harus dijajah kekuatan asing, sehingga mendongkel impian seluruh anak bangsa.
Karya lain adalah Kisah Perjuangan Reformasi oleh Selo Soemardjan (ed.) yang merupakan kumpulan tulisan dari para akademisi tentang kajian sosiologi dan ekonomi. Kajian yang sedikit-banyak membantu menjelaskan peristiwa reformasi 1998 di Indonesia serta menguraikan sebab-sebab munculnya aksi-aksi politik yang berujung pada reformasi secara nasional.29
Buku lain yang mengkaji tentang pergerakan mahasiswa adalah Radikalisme Kaum Pinggiran: Studi tentang Ideologi, Isu, Strategi dan Dampak Gerakan.30 Karya ini menuturkan bahwa gerakan mahasiswa yang terjadi di Medan tergolong lambat, terbukti dari masih banyaknya kelompok mahasiswa yang konsisten dengan peraturan kampus. Di sinilah dapat digolongkan beberapa jenis mahasiswa mulai dari yang apatis hingga yang kritis. Penggolongan tersebut tidak dijabarkan dalam skripsi ini karena sudah cukup jelas betapa gerakan mahasiswa masih terlihat belum berani keluar dari zona nyaman mereka.
29 Selo Soemardjan (ed.), Kisah Perjuangan Reformasi (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999). 30 Zayardam Zubir, loc.cit.
Universitas Sumatera Utara

1.5 Metode Penelitian Dalam penelitian sejarah terdapat empat tahapan sebagaimana disebut Kuntowijoyo,31
yaitu heuristik, verifikasi, kritik sumber, dan terakhir historiografi atau tahap penulisan. Tahap pertama adalah yang paling penting karena bergelut dengan data dan fakta atau sumber, sebab sumberlah yang berbicara dalam penelitian sejarah yang apa adanya. Selebihnya, penambahan oleh penulis sebagai eksplanasi agar data dan fakta itu tidak tercerabut, melainkan terjalin utuh. Sehubungan dengan hal itu, studi pustaka diperlukan dengan mempergunakan buku-buku dan dokumen. Studi kepustakaan juga dilakukan untuk mengumpulkan studi-studi lain yang sedikit banyak membahas tema yang sama sebagai bahan perbandingan.
Dalam kajian ini juga dilakukan wawancara. Dalam hal penelitian, wawancara merupakan salah satu bentuk implementasi penelitian yang sangat penting. Setelah pengumpulan data, maka dilanjutkan dengan kritik ekstern dan kritik intern. Langkah berikutnya adalah membuat interpretasi atau penafsiran berdasarkan data dan fakta seobjektif mungkin. Terakhir, melakukan eksplanasi peristiwa secara kronologis dan sistematis dalam historiografi.32
1.6 Pendekatan Teori Gerakan mahasiswa berhubungan langsung dengan kondisi sosial-politik yang terjadi
di masyarakat. Kondisi sosial-politik masyarakat di bawah dominasi politik Orde Baru melahirkan kemiskinan dan kebodohan. Ekspresi demokrasi yang hampa telah membuat kualitas kesejahteraan rakyat jauh dari harapan. Di samping itu, kenyataan bahwa selama 30
31 Lihat Kuntowijoyo, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka, 1993). 32 Lihat Kuntowijoyo, Penjelasan Sejarah (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2008).
Universitas Sumatera Utara

tahun lebih masyarakat Indonesia hidup di bawah represifnya Orde Baru berdampak bagi psikologi masyarakat yang tidak mampu melakukan usaha atau inovasi.
Selama Orde Baru berkuasa, bangsa Indonesia tenggelam dalam pusaran politik kekuasaan otoriter dan manipulatif. Bangsa ini dibuai dengan konsep kapitalis yang lebih menekankan modal daripada melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan demikian, kondisi sosial sulit dapat dikatakan berpihak kepada rakyat sekalipun sering disebut sebagai masa pembangunan. Kesan pembangunan yang dikumandangkan tidak berbanding lurus terhadap kehidupan rakyat yang larut dalam kemiskinan.
Berangkat dari situasi sosial, ekonomi, dan politik yang melandasi kekecewaan masyarakat menjadi fokus dalam pendekatan teori. Dalam kaitan tersebut, pengalaman kesulitan di atas pada akhirnya akan menciptakan kesadaran masyarakat. Sehubungan dengan itu, penulis juga mengaitkannya dengan teori gerakan sosial. Pendapat Marx bahwa kesadaran dipengaruhi oleh keadaan sosial di sekitarnya, misalnya tampak seperti berikut: “Menurut Marx, kesadaran itu berakar pada praxis manusia yang pada gilirannya bersifat sosial. Inilah pengertian dari bukan kesadaran yang menentukan eksistensi orang, tetapi sebaliknya keh

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2954 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 970 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 885 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 956 23