Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA
DENGAN STRES KERJA PADA WANITA BEKERJA

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan
Ujian Sarjana Psikologi

Oleh:
MUCHTI YUDA PRATAMA
041301025

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2010

Universitas Sumatera Utara

SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA
DENGAN STRES KERJA PADA WANITA BEKERJA

Dipersiapkan dan disusun oleh :
MUCHTI YUDA PRATAMA
041301025

Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
Pada tanggal ___________________

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Psikologi

Prof. dr. Chairul Yoel, Sp.A(K)
NIP. 140 080 762

Dewan Penguji
1. Dra. Gustiarti Leila, M.Psi, M.Kes, psikolog
NIP. 132 255 306
2. Ferry Novliadi, M.Si.

Penguji I

____________

merangkap pembimbing
Penguji II

____________

Penguji III

____________

NIP. 132 316 960
3. Eka Danta Jaya Ginting, M.A, psikolog
NIP. 132 315 377

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini,

menyatakan dengan

sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul:

Hubungan Antara Konflik Peran Ganda
Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja
adalah hasil karya sendiri dan belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di suatu perguruan tinggi manapun.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan skripsi ini yang saya kutip
dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan adanya kecurangan di dalam skripsi
ini, saya bersedia menerima sanksi pancabutan gelar akademik yang saya sandang
dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku

Medan, Maret 2010

MUCHTI YUDA PRATAMA
NIM: 041301025

Universitas Sumatera Utara

Hubungan Antara Konflik Peran Ganda
Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja

Muchti Yuda Pratama dan Gustiarti Leila
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan
mengetahui hubungan konflik peran ganda dengan stres kerja pada wanita bekerja.
Berdasarkan fenomena yang ada, bahwa jumlah wanita berperan ganda yang
meningkat dari tahun ke tahun dan tidak jarang peran ganda itu sendiri banyak
menimbulkan permasalahan bagi wanita yang menjalaninya. Secara konseptual
Konflik peran ganda adalah salah satu bentuk konflik antar peran yang
diakibatkan peran dalam pekerjaan dan keluarga saling tidak cocok satu sama lain.
Subjek penelitian ini berjumlah 86 orang wanita dewasa dini, berusia 20 sampai
40 tahun, sudah menikah dan memiliki pekerjaan di luar rumah, memiliki anak
minimal 1, dan memiliki suami. Tehnik pengambilan sampel dengan
menggunakan incidental sampling. Tehnik pengolahan data menggunakan
pearson product moment untuk melihat hubungan antara konflik peran ganda
(independent variable) dengan stres kerja (dependent variable) pada wanita
bekerja. Alat ukur yang digunakan adalah skala konflik peran ganda yang disusun
sendiri oleh peneliti dengan dimensi-dimensi konflik peran ganda.. Skala tingkat
stres kerja dengan gejala-gejala stres kerja yang dikemukakan oleh Rice (1992).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif dengan nilai
korelasi (rxy) rxy = 0.344 dengan p = 0.000 dimana p < 0,05, yang artinya semakin
tinggi nilai konflik peran gandanya maka semakin tinggi tingkat konflik peran
ganda pada wanita bekerja, sebaliknya semakin rendah konflik peran gandanya
maka semakin rendah tingkat stres kerja pada wanita bekerja. Kontribusi konflik
peran ganda dengan stres kerja pada wanita bekerja adalah sebesar 12 %. hal ini
terlihat dari nilai r square yang diperoleh dari hubungan antara konflik peran
ganda sebesar 0,12.
Kata Kunci: konflik peran ganda, stres kerja, wanita bekerja

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim.
Tulisan kecil ini adalah skripsi yang diajukan untuk memperoleh gelar
sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara. Pembuatan skripsi ini
merupakan pengalaman pertama penulis, sehingga penulis mohon maaf jika
sekiranya dalam skripsi ini terdapat kejanggalan-kejanggalan, baik isi maupun
cara penulisannya, yang masih banyak terdapat kesalahan.
Alhamdulillah. Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T karena
berkat rahmat, hidayah dan anugerah yang diberikanNya sehingga penulis mampu
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Konflik Peran Ganda
Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja” ini. Penulis juga bersyukur kepada
Allah SWT berkat rahmat, hidayah, anugerah, kesehatan dan rezeki yang telah
diberikanNya kepada kedua orangtua penulis, karena berkat itu semua kedua
orangtua penulis tetap bisa berdoa, memberikan semangat, motivasi, dan
dukungan materil kepada penulis, oleh karena itu penulis sangat berterima kasih
kepada kedua orangtua penulis yang tidak pernah menyerah dalam hal apapun
demi kehidupan penulis dari dalam kandungan sampai sekarang, tanpa mereka
berdua penulis tidak akan bisa seperti sekarang ini.
Selama proses penulisan skripsi ini, tidak sedikit tantangan serta suka dan
duka yang dilalui oleh penulis, terlepas dari itu maka penulis ingin menyampaikan
terima kasih kepada:

Universitas Sumatera Utara

1. Bapak Prof. Dr. Chairul Yoel, Sp. A(K) selaku Dekan Fakultas Psikologi USU.
2. Ibu Dra. Gustiarti Leila, M.Psi, M.Kes, psikolog selaku dosen pembimbing
dalam penelitian ini. Terima kasih ya ibu atas waktu yang ibu berikan, terima
kasih atas arahannya, petunjuk dalam penyusunan, dan kesabarannya dalam
membimbing saya dalam satu tahun terakhir ini.
3. Bapak Ferry Novliadi, M.Si dan Bapak Eka Danta Jaya Ginting, M.A. psikolog
yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menjadi dosen penguji
skripsi ini. Terima kasih atas perhatiannya, masukannya, dan bimbingannya.
4. Ibu Prof. Dr. Irmawati, M.Si, psikolog (Pembantu Dekan I) dan Ibu Lili
Garliah, M.Si, psikolog (Pembantu Dekan II) yang telah memberikan masukan
dan arahan kepada saya pada saat-saat terkahir akan maju sidang. Terima
kasih ya bu, diskusi kita di penghujung hari yang singkat tapi sangat
bermanfaat, terima kasih juga atas motivasi dan dukungan yang ibu berikan
kepada saya.
5. Ibu Rodiatul Hasanah, M.Si, psikolog selaku dosen pembimbing akademis
penulis. Terima kasih ya bu atas bimbingan yang ibu berikan selama ini, dan
terima kasih juga atas kepercayaan yang ibu berikan kepada saya.
6. Ibu Filia Dina (trima kasih bu atas motivasi yang ibu berikan), Ibu Lita, Ibu
Rika, Ibu Yossi, Kak Cherly, dan Seluruh staf pengajar Fakultas Psikologi,
Universitas Sumatera Utara yang tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah
membekali penulis dengan berbagai disiplin ilmu. Khusus buat Kak Lisa, Kak
Juli, dan Kak Ridoy, maaf kalau becanda kita selama ini berlebihan.

Universitas Sumatera Utara

7. Pak Iskandar dan Pak Aswan (trima kasih pak atas motivasi, canda, dan tawa
dari bapak), Pak Anto, Ibu Titi, Kak Sari, Kak Devi, dan Kak Ari yang telah
banyak membantu saya dalam memberikan bantuan administrasi.
8. Seluruh pegawai Psikologi USU yang telah mengurus segala administrasi
setiap semester.
9. Buat abang Khairul dan kak Dyah serta kakak-kakakku: kak Ita dan bang
Herman, kak Rosimah dan bang Husin, kak Yani (trima kasih uga atas
pengorbanan waktunya dalam penyebaran skala di TSI) dan as Doni, dan yang
terakhir buat adikku Ilmi yang juga telah emberikan motivasi dalam penulisan
skripsi ini. Semoga kita tetap isa sama-sama terus dan bisa berbagi di istana
ceria yang kita cintai. egalanya sangat berarti dalam menjalani hidup dengan
kalian, terima asih atas pelajaran-pelajaran kehidupan yang telah kalian
berikan.
13. Debby Oktaria, telah menjadi inspirasi dalam penulisan skripsi ini. Terima
kasih atas waktu dan kebersamaan kita selama ini, terima kasih atas
motivasinya, terima kasih sudah membangkitkan motivasi penulis saat sedang
berada dalam keterpurukan, you are the best. Semoga ini bisa jadi kado
terindah di hari ulang tahunmu, and finally pertanyaan ”kapannya” terjawab
juga.
14. Sahabat lamaku Indra, Mila dan Kristo yang rajin menanyakan ”kapan
selesai?”, semoga kita akan menjadi orang sukses seperti yang kita citacitakan dari dulu.

Universitas Sumatera Utara

16. Sahabat di tim Labsosku: Sugi dan Nina (semoga kalian cepat menyusul),
Dewi (semoga jadi ibu Bhayangkara yang baik), Yola (jalan hidupmu ada di
tanganmu), Reni (semoga jadi PNS yang baik dan loyal), untuk semuanya:
semoga kebersamaan kita sampai anak cucu. Teman seperjuangan PIO: mas
Yuda, Kakas (sabar ya), Onya, Hadi, Carles dkk. Johan, Kris, Indy, Ikun
(trima kasih kebersamaan, canda dan tawa kita selama ini), Bima, Hendra,
Rayez, Fani, dan seluruh rekan sebaya di angkatan 2004 yang yang telah
memberikan kisah klasik selama berada di Psikologi USU.
17. Fahmi (semoga segera mendapatkan penggantinya), Bang Ronal (ma kasih
untuk ngeprint dan internetnya), Bang Ahmad (semoga terus sukses di
BTPN), Bang Hamdi (ma kasih atas ilmu yang abang berikan selama ini),
terima kasih atas kebersamaan, kekeluargaan, dan tumpangan dalam
mengerjakan penelitian.
18. Senior-seniorku di Psikologi, Bang Iseq, Bang Ichsan, Bang Boy, Bang Zizou,
Kak Rizka, Bang Prant, Kak Ririn, Kak Nina, Bang Indra dan semua yang
tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah memberikan pelajaran hidup di
Psikologi. Buat Junior-Juniorku, Hario, Mitha, Yeni, Stevi, Fahmi, Toni, Uon,
Andre, Uje, Geo, Hanan, sarah dan yang lainnya, terima kasih atas bantuan
dan dukungannya.
19. Semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada penulis
yang tidak tersebutkan, penulis ucapkan terima kasih sebesarbesarnya telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skiripsi ini.Tanpa bantuan mereka
semua mungkin skripsi ini tidak akan pernah selesai dan semoga

Universitas Sumatera Utara

pengorbanan dan jasa baik yang diberikan kepada penulis mendapat imbalan
yang setimpal dari Allah SWT.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak terdapat kekurangan
dalam penulisan skripsi ini, semua itu adalah kesalahan dan kekhilafan dari
penulis. Semoga, skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, amiinn.

Medan, Maret 2010

Muchti Yuda Pratama

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii
LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................ iii
ABSTRAK ...................................................................................................... iv
ABSTRAK ...................................................................................................... v
KATA PENGANTAR .................................................................................... vi
DAFTAR ISI .................................................................................................. xii
DAFTAR TABEL DAN GRAFIK ................................................................. xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xvi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 6
C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 7
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 7
E. Sistematika Penulisan ...................................................................... 8
BAB II LANDASAN TEORI
A. Komitmen Karyawan ......................................................................... 10
1. Definisi Komitmen Karyawan terhadap Organisasi ..................... 10
2. Aspek Komitmen .......................................................................... 12
3. Faktor yang Mempengaruhi Komitmen ....................................... 14
4. Menciptakan Komitmen .............................................................. 17
B. Persepsi terhadap Kualitas kehidupan bekerja ................................. 19

Universitas Sumatera Utara

1. Persepsi ......................................................................................... 19
2. Kualitas Kehidupan Bekerja ......................................................... 20
3. Definisi Persepsi terhadap Kualitas Kehidupan Bekerja .............. 21
4. Kriteria Kualitas Kehidupan Bekerja ........................................... 21
C. PT Tirta Investama (AQUA Group) ................................................. 23
D. Hubungan Kualitas Kehidupan Bekerja dengan Komitmen Karyawan
terhadap Organisasi ................................................................................ 25
D. Hipotesa Penelitian ............................................................................ 30
BAB III METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian .......................................................... 31
B. Definisi Operasional Variabel Penelitian ............................................ 31
1. Komitmen Karyawan Terhadap Organisasi .................................. 31
2. Persepsi terhadap Kualitas Kehidupan Bekerja ............................ 32
C. Populasi, Sampel, dan Metode pengambilan Sampel ........................ 33
1. Populasi dan Sampel ..................................................................... 33
2. Metode pengambilan Sampel ........................................................ 34
3. Jumlah Sampel Penelitian ............................................................. 34
D. Metode dan Alat pengumpulan data .................................................. 35
1. Metode skala ................................................................................ 35
2. Skala Komitmen Karyawan terhadap Organisasi.......................... 36
3. Skala Persepsi terhadap Kualitas Kehidupan Bekerja .................. 37
4. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ............................................ 39
a. Uji Validitas ........................................................................... 39

Universitas Sumatera Utara

b. Uji Reliabilitas ....................................................................... 39
c. Hasil Uji Coba ....................................................................... 40
E. Prosedur pelaksanaan penelitian ....................................................... 43
1. Tahap Persiapan Penelitian .......................................................... 44
2. Tahap Pelaksanan ........................................................................ 46
3. Tahap Pengolahan Data ............................................................... 47
F. Metode Analisis Data ........................................................................ 47
BAB IV ANALISA DAN INTERPRETASI DATA
A. Gambaran Umum Subjek Penelitian ................................................. 49
1. Penggolongan Subjek Berdasarkan Usia……….. ...................... 49
2. Penggolongan Subjek Berdasarkan Pendidikan Terakhir ........... 50
3. Penggolongan Subjek Berdasarkan Pekerjaan... ......................... 50
4. Penggolongan Subjek Berdasarkan Masa Kerja.......................... 51
5. Penggolongan Subjek Berdasarkan Jumlah Anak …………….. 52
6. Penggolongan Subjek Berdasarkan Usia Anak Terkecil………. 52
B. Hasil Penelitian ................................................................................ 52
1. Hasil Uji Asumsi Penelitian ............................................................. 52
2. Hasil Utama Penelitian .................................................................... 56
3. Hasil Tambahan Penelitian .............................................................. 61
C. Pembahasan...................................................................................... 64
BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN
A. KESIMPULAN ................................................................................ 69
B. SARAN ............................................................................................ 70

Universitas Sumatera Utara

1. Saran Praktis ................................................................................ 70
2.Saran Metodologis .......................................................................... 71
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 72
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL DAN GRAFIK

Halaman
Tabel 1: Distribusi Aitem-aitem Skala Konflik Peran Ganda Sebelum
Uji Coba .................................................................................................37
Tabel 2: Distribusi Aitem-aitem Skala Stres Kerja
Sebelum Uji Coba.................................................................................. 38
Tabel 3: Distribusi Aitem-aitem Skala Konflik Peran Ganda Setelah Uji Coba 41
Tabel 4: Distribusi Aitem-aitem Skala Konflik Peran Ganda Setelah Uji Coba
Untuk Penelitian.................................................................................... 41
Tabel 5: Distribusi Aitem-aitem Skala Stres Kerja Setelah Uji Coba ................. 42
Tabel 6: Distribusi Aitem-aitem Skala Stres Kerja Setelah Uji Coba untuk
Penelitian............................................................................................... 43
Tabel 7: Penyebaran Subjek Berdasarkan Usia................................................... 49
Tabel 8: Penyebaran Subjek Berdasarkan PendidikanTerakhir.......................... 50
Tabel 9: Penyebaran Subjek Berdasarkan Masa Kerja........................................ 51
Tabel 10: Penyebaran Subjek Berdasarkan Usia................................................. 51
Tabel 11: Hasil Uji Normalitas............................................................................ 53
Tabel 12: Hasil Uji Linearitas Hubungan............................................................ 54
Tabel 13: Korelasi antara Kualitas Kehidupan Bekerja dengan Komitmen
Karyawan terhadap Organisasi........................................................... 56
Tabel 14: Perbandingan Mean Hipotetik dengan Mean Empirik
Komitmen Karyawan terhadap Organisasi......................................... 57

Universitas Sumatera Utara

Tabel 15: Kategorisasi Data Pada Variabel Konflik Peran Ganda
terhadap Organisasi........................................................................... 58
Tabel 16: Perbandingan Mean Hipotetik dengan Mean Empirik Stres Kerja..... 59
Tabel 17: Kategorisasi Data Pada Variabel Stres Kerja ........................ 59
Tabel 19: Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin............................ 61
Tabel 20: Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Pendidikan Terakhir.................. 62
Tabel 21: Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Masa Kerja................................ 63
Tabel 22: Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Usia........................................... 64
Grafik 1 : Scatterplot hubungan konflik peran ganda dengan stres kerja ......... 55

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran A Halaman
1. Reliabilitas dan Daya Beda Item Skala Konflik Peran Ganda …....................77
2. Reliabilitas dan Daya Beda Item Skala Stres Kerja ……................................79
Lampiran B
1. Data Mentah Subjek Penelitian pada Skala Konflik Peran Ganda..................83
2. Data Mentah Subjek Penelitian pada Skala Konflik Peran Ganda .................87
3. Data Subjek Penelitian dan Kategorisasi Subjek Penelitian ..........................90
Lampiran C
1. Uji Normalitas Sebaran..................................................................................96
2. Uji Linearitas Hubungan ...............................................................................97
3. Uji Hipotesa ..................................................................................................98
Lampiran D
1. Gambaran Konflik Peran Ganda Berdasarkan Jenis Kelamin .......................100
2. Gambaran Konflik Peran Ganda Berdasarkan Pendidikan Terakhir ............101
3. Gambaran Konflik Peran Ganda Berdasarkan Lama Kerja ..........................102
4. Gambaran Konflik Peran Ganda Berdasarkan usia .......................................103
Lampiran E
1. Contoh Aitem Skala Konflik Peran Ganda ...................................................105
2. Contoh Aitem Skala Stres Kerja ……………………………………..........106
3. Surat Keterangan Bukti Penelitian ................................................................107

Universitas Sumatera Utara

Hubungan Antara Konflik Peran Ganda
Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja

Muchti Yuda Pratama dan Gustiarti Leila
ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan
mengetahui hubungan konflik peran ganda dengan stres kerja pada wanita bekerja.
Berdasarkan fenomena yang ada, bahwa jumlah wanita berperan ganda yang
meningkat dari tahun ke tahun dan tidak jarang peran ganda itu sendiri banyak
menimbulkan permasalahan bagi wanita yang menjalaninya. Secara konseptual
Konflik peran ganda adalah salah satu bentuk konflik antar peran yang
diakibatkan peran dalam pekerjaan dan keluarga saling tidak cocok satu sama lain.
Subjek penelitian ini berjumlah 86 orang wanita dewasa dini, berusia 20 sampai
40 tahun, sudah menikah dan memiliki pekerjaan di luar rumah, memiliki anak
minimal 1, dan memiliki suami. Tehnik pengambilan sampel dengan
menggunakan incidental sampling. Tehnik pengolahan data menggunakan
pearson product moment untuk melihat hubungan antara konflik peran ganda
(independent variable) dengan stres kerja (dependent variable) pada wanita
bekerja. Alat ukur yang digunakan adalah skala konflik peran ganda yang disusun
sendiri oleh peneliti dengan dimensi-dimensi konflik peran ganda.. Skala tingkat
stres kerja dengan gejala-gejala stres kerja yang dikemukakan oleh Rice (1992).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif dengan nilai
korelasi (rxy) rxy = 0.344 dengan p = 0.000 dimana p < 0,05, yang artinya semakin
tinggi nilai konflik peran gandanya maka semakin tinggi tingkat konflik peran
ganda pada wanita bekerja, sebaliknya semakin rendah konflik peran gandanya
maka semakin rendah tingkat stres kerja pada wanita bekerja. Kontribusi konflik
peran ganda dengan stres kerja pada wanita bekerja adalah sebesar 12 %. hal ini
terlihat dari nilai r square yang diperoleh dari hubungan antara konflik peran
ganda sebesar 0,12.
Kata Kunci: konflik peran ganda, stres kerja, wanita bekerja

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bekerja bagi manusia sudah menjadi suatu kebutuhan, baik bagi pria
maupun bagi wanita. Bekerja mengandung arti melaksanakan suatu tugas yang
diakhiri dengan buah karya yang dapat dinikmati oleh manusia yang bersangkutan
(As’ad, 1990). Menurut Davis (1991) faktor yang mendorong manusia bekerja
adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Aktivitas dalam kerja mengandung
unsur kegiatan social, menghasilkan sesuatu, dan pada akhirnya bertujuan untuk
kebutuhan hidup manusia.
Keterlibatan wanita yang sudah kentara membawa dampak terhadap peran
wanita dalam kehidupan keluarga. Fenomena yang terjadi dalam masyarakat
adalah semakin banyaknya wanita membantu suami mencari tambahan
penghasilan, selain karena didorong oleh kebutuhan ekonomi keluarga, juga
wanita semakin dapat mengekspresikan dirinya di tengah-tengah keluarga dan
masyarakat. Keadaan ekonomi keluarga mempengaruhi kecenderungan wanita
untuk berpartisipasi di luar rumah, agar dapat membantu meningkatkan
perekonomian keluarga (Wolfman, 1994).
Motivasi untuk bekerja dengan mendapat penghasilan khususnya untuk
wanita golongan menengah tidak lagi hanya untuk ikut memenuhi kebutuhan
ekonomi keluarga, melainkan juga untuk menggunakan keterampilan dan

Universitas Sumatera Utara

pengetahuan yang telah mereka peroleh serta untuk mengembangkan dan
mengaktulisasikan diri (Ihromi, 1990).
Di kehidupan keluarga, suami dan istri umumnya memegang peranan
dalam pembinaan kesejahteraan bersama, secara fisik, materi maupun spiritual,
juga dalam meningkatkan kedudukan keluarga dalam masyarakat untuk
memperoleh penghasilan yang pada dasarnya dimaksudkan untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi keluarga (Ihromi, 1990).
Tugas untuk memperoleh penghasilan keluarga secara tradisional terutama
dibebankan kepada suami sebagai kepala keluarga, sedangkan peran istri dalam
hal ini dianggap sebagai penambah penghasilan keluarga. Dalam golongan
berpernghasilan rendah, istri lebih berperan serta dalam memperoleh penghasilan
untuk keluarga (Ihromi, 1990).
Seringkali kebutuhan rumah tangga yang begitu besar dan mendesak,
membuat suami dan istri harus bekerja untuk bisa mencukupi kebutuhan seharihari. Kondisi tersebut membuat sang istri tidak punya pilihan lain kecuali ikut
mencari pekerjaan di luar rumah. Ada pula ibu-ibu yang tetap memilih untuk
bekerja, karena mempunyai kebutuhan social yang tinggi dan tempat kerja mereka
sangat mencukupi kebutuhan mereka tersebut. Dalam diri mereka tersimpan suatu
kebutuhan akan penerimaan social, akan adanya identitas social yang diperoleh
melalui komunitas kerja. Bergaul dengan rekan-rekan di kantor, menjadi agenda
yang lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumah. Factor psikologis seseorang
serta keadaan internal keluarga, turut mempengaruhi seorang ibu untuk tetap
mempertahankan pekerjaannya (Yulia, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Hasil survey AC. Nelson (dalam Ubaydillah, 2003) menunjukkan adanya
kebangkitan kaum wanita di Asia Tenggara dalam hal jabatan bisnis, politik,
budaya, dan lain-lain. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari
pun kita juga bisa membuktikan bahwa jumlah kaum wanita yang keluar dari
rumah untuk

mengisi jabatan di organisasi tertentu semakin hari semakin

meningkat. Bahkan Indonesia dan Philifina mengangkat wanita menduduki
jabatan eksekutif tertinggi.
Banyak persoalan yang dialami oleh para wanita ibu rumah tangga yang
bekerja di luar rumah, seperti bagaimana mengatur waktu dengan suami dan anak
hingga mengurus tugas-tugas rumah tangga dengan baik. Ada yang bisa
menikmati peran gandanya, namun ada yang merasa kesulitan hingga akhirnya
persoalan-persoalan rumit semakin berkembang dala hidup sehari-hari (Yulia,
2007).
Pada umumnya, wanita banyak menghadapi masalah psikologis karena
adanya berbagai perubahan yang dialami saat menikah, antara lain perubahan
peran sebagai istri dan ibu rumah tangga, bahkan juga sebagai ibu bekerja.
(Pujiastuti dan Retnowati, 2000).
Wanita yang menjadi istri dan yang bekerja sering hidup dalam
pertentangan yang tajam antara perannya di dalam dan di luar rumah. Banyak
wanita yang bekerja full-time melaporkan bahwa mereka merasa bersalah karena
sepanjang hari meninggalkan rumah. Namun, setibanya di rumah mereka merasa
tertekan karena tuntutan anak-anak dan suami. Sering sekali timbul perselisihan
antara suami-istir yang terus-menerus tentang pekerjaan atau gaji siapa yang lebih

Universitas Sumatera Utara

penting bagi kelangsungan hidup maupun hal lainnya misalnya masalah tanggung
jawab dalam mendidik dan merawat anak-anak (Ubaydillah, 2003).
Berdasarkan Penelitian Moen dan McClain (1990) terbukti bahwa dimana
wanita yang bekerja full-time lebih ingin mempersingkat jam kerjanya untuk
mengurangi ketegangan akibat peran pekerjaan dan keluarga dibandingkan
dengan wanita yang bekerja part-time.
Meningkatnya peran wanita sebagai pencari nafkah keluarga dan
kenyataan bahwa mereka juga berperan untuk meningkatkan kedudukan keluarga,
maka bertambahlah pula masalah-masalah yang timbul. Kedua peran tersebut
sama-sama membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian, sehingga jika peran yang
satu dilakukan dengan baik, yang lain terabaikan sehingga timbullah konflik
peran. Masalah ini timbul apabila yang bekerja adalah ibu rumah tangga yang
mempunyai anak-anak dan masih membutuhkan pengasuhan fisik maupun
rohaniah (Ihromi, 1990).
Masalah lain yang timbul adalah akibat perubahan pola hubungan suami
istri. Seorang istri yang menjadi ibu rumah tangga dan menjadi pencari nafkah
(berperan ganda) harus memenuhi tugas sebagai ibu rumah tangga dan diharapkan
dapat menjalankan perannya sebagai seorang istri dan sekaligus pencari nafkah.
Dalam hal ini dapat dibayangkan konflik peran dapat terjadi (Ihromi, 1990).
Menurut Munandar (2001) konflik peran muncul jika seorang pekerja
mengalami pertentangan antara tangggung jawab yang dia miliki dengan tugastugas yang harus dilakukannya.

Universitas Sumatera Utara

House dan Rizzo (dalam Lui & Steven, 2000) mengatakan bahwa konflik
peran secara umum didefinisikan kemunculan yang simultan dari dua atau lebih
tekanan peran. Kehadiran salah satu peran akan menyebabkan kesulitan dalam
memenuhi tuntutan peran yang lain. Kahn dkk. (Hardyastuti, 2001) mengatakan
bahwa harapan orang lain terhadap berbagai peran yang harus dilakukan
seseorang dapat menimbulkan konflik. Konflik terjadi apabila harapan peran
mengakibatkan seseorang sulit membagi waktu dan sulit untuk melaksanakan
salah satu peran karena hadirnya peran yang lain.
Penelitian

mengenai konflik

peran kebanyakan difokuskan pada

ketidaksesuaian yang terjadi antara peran pekerjaan dan peran dalam keluarga,
terutama pada wanita (Settles, Seller & Robert, 2002). Hal ini dikarenakan wanita
yang bekerja akan memegang dua peranan yang penting, yaitu sebagai pekerja
dan perannya di rumah tangga.
Hardyastuti (2001) mengatakan bahwa konflik peran lebih dirasakan oleh
wanita dari pada laki-laki. Menurut Moen (dalam Hardyastuti, 2001) perbedaan
terjadi dikarenakan sifat permintaan peran yang berbeda. Wanita lebih dihadapkan
pada permintaan antara peran kerja dan peran keluarga secara serentak yang
memerlukan prioritas dalam menjalankan kedua peran tersebut. Hal tersebut dapat
menimbulkan konflik apabila wanita tidak dapat membagi waktu antara perannya
sebagai ibu rumah tangga dan sebagai pekerja.
Ihromi (1990) juga menyatakan bahwa konflik peran akan lebih dirasakan
oleh wanita yang bekerja. Hal ini disebabkan karena wanita yang bekerja akan
menghadapi konflik peran sebagai wanita karier sekaligus ibu rumah tangga.

Universitas Sumatera Utara

Terutama dengan alam kebudayaan Indonesia, wanita akan dituntut perannya
sebagai ibu rumah tangga yang baik, sehingga banyak wanita karier yang serba
salah ketika harus bekerja.
O’Driscoll dan Michael (1997) menyatakan bahwa konflik peran
berhubungan dengan ketidakhadiran (absent), kepuasan kerja, keadaan psikologis,
kesehatan fisik serta konsekuensi lainnya yang dirasakan seorang pekerja.
Mednick (dalam Zatz, 1996) dalam penelitiannya pada agen asuransi menyatakan
bahwa konflik peran akan berpengaruh pada keadaan keluarga. Efek yang timbul
antara lain adanya kecemasan, konflik keluarga, jumlah anak serta keterlibatan
yang rendah pada peran keluarga dan pekerjaan.
Hal tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Settless, dkk
(2002) yang menyebutkan bahwa peran ganda yang dijalankan wanita, baik
sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita yang bekerja, dapat
menimbulkan konflik, baik konflik intrapersonal maupun konflik interpersonal.
Konflik yang berkepanjangan dapat menyebabkan timbulnya respon fisiologis,
psikologis dan tingkah laku sebagai bentuk penyesuaian diri terhdap kondisi yang
mengancam yang disebut dengan stres.
Menurut Rice (1992), seseorang dapat dikategorikan mengalami stress
kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau
perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di dalam
perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah
pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab stres kerja.

Universitas Sumatera Utara

Untuk memahami sumber stres kerja, kita harus melihat stres kerja ini
sebagia interaksi dari beberapa factor, yaitu stres di pekerjaan itu sendiri sebagai
factor eksternal, dan faktor internal seperti karakter dan persepsi dari karyawan itu
sendiri. Dengan kata lain, stres kerja tidak semata-mata disebabkan masalah
internal, sebab reaksi terhadap stimulus akan sangat tergantung pada reaksi
subjektif individu masing-masing. Beberapa sumber stres dianggap sebagai
sumber stres kerja karena kondisi pekerjaan, stres karena peran, hubungan
interpersonal, kesempatan pengembangan karir, dan struktur organisasi (Rice,
1992).
Stres kerja yang dialami wanita bekerja tidak hanya berdampak pada
perannya sebagai wanita yang bekerja di rumah tetapi juga berdampak besar pada
perusahaan tempatnya bekerja sehingga stres kerja telah menjadi salah satu
masalah yang paling serius di dunia kerja, tidak hanya di negara-negara
berkembang tetapi juga di negara-negara maju (Marhaeni, 2006).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rini (2006) untuk
mengurangi tingkat stres kerja pada wanita yang bekerja membutuhkan
lingkungan kerja yang menyenangkan dan memberi ruang bagi individu untuk
melakukan berbagai permainan. Membentuk lingkungan yang kondusif seperti
sangatlah tidak mudah bagi sebuah perusahaan/organisasi.
Berdasarkan pemaparan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa wanita
sebagai ibu rumah tangga dan sebagai ibu bekerja (berperan ganda) yang mana
peran tersebut sama-sama membutuhkan waktu, tenaga dan perhatian, sehingga
apabila peran yang satu dilakukan dengan baik, yang lain terabaikan sehingga

Universitas Sumatera Utara

timbullah konflik. Apabila terjadi ketidaksesuaian antara situasi keluarga dan
situasi pekerjaan, maka hal inilah yang menyebabkan terjadinya konflik peran.
Peran ganda yang dijalankan wanita, baik sebagai ibu rumah tangga maupun
sebagai wanita yang bekerja, dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan
dan dapat menyebabkan timbulnya respon fisik, psikologis dan tingkah laku
sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi mengancam yang disebut dengan stres.
Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat kaitan antara konflik peran ganda dengan
stres kerja. Maka peneliti ingin melihat hubungan antara konflik peran ganda
dengan stres kerja pada wanita bekerja.

B. Batasan Masalah
1. Apakah wanita bekerja yang memiliki tingkat konflik peran ganda yang tinggi
memiliki stres kerja yang tinggi?
2. Apakah wanita bekerja yang memiliki tingkat konflik peran ganda yang rendah
memiliki stres kerja yang rendah?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara konflik peran
ganda dengan stres kerja pada wanita bekerja.

Universitas Sumatera Utara

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini :
a) Diharapkan mempunyai manfaat yang bersifat pengembangan ilmu
Psikologi, khususnya di bidang Psikologi Industri dan Organisasi.
b) Penelitian ini juga diharapkan memperkaya pengetahuan tentang
pengelolaan sumber daya manusia, terutama mengenai hubungan antara
konflik peran ganda dengan stress kerja pada wanita bekerja.
2. Manfaat Praktis
a) Karyawan, khususnya wanita yang sudah berumah tangga agar dapat
mengendalikan konflik peran ganda yang dialami dan dapat berperan
sesuai dengan peran yang dimiliki baik sebagai ibu rumah tangga maupun
sebagai karyawan.
b) Perusahaan, untuk mengetahui stres kerja para karyawannya apabila
mengalami konflik peran ganda khususnya pada wanita bekerja dan
memperhatikan kondisi psikis dari karyawannya, terutama yang telah
berumah tangga karena lebih berpeluang mengalami stres kerja.

E. Sistematika Penulisan
BAB I

:

Pendahuluan
Bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II

:

Landasan Teori

Universitas Sumatera Utara

Bab ini menguraikan landasan teori yang mendasari masalah
yang menjadi objek penelitian yang meliputi teori stress kerja,
teori konflik peran ganda, teori wanita bekerja, hubungan
antara konflik peran ganda dengan stres kerja pada wanita
bekerja dan hipotesis penelitian.
BAB III

:

Metode Penelitian
Bab ini dijelaskan mengenai identiikasi variabel penelitian,
definisi operasional variabel penelitian, populasi, sample, dan
metode pengambilan sampel, metode pengumpulan data, uji
coba alat ukur, prosedur pelaksanaan penelitian, dan metode
analisis data.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Stres Kerja
1. Pengertian stres kerja
Dalam hubungannya dengan pekerjaan, setiap orang pernah mengalami
stres. Adakalanya stres yang dialami seseorang itu adalah kecil dan hampir tak
berarti, namun bagi yang lainnya dianggap sangat mengganggu dan berlanjut
dalam waktu yang relatif lama (Efendi, 2001). Pekerjaan dapat menimbulkan stres
karena pekerjaan memainkan peran yang sangat penting dalam kehidupan
manusia (Dawis, dkk, 1990). Lingkungan kerja, sebagaimana lingkunganlingkungan lainnya, menuntut adanya penyesuaian diri dari individu yang
menempatinya. Oleh karena itu, individu akan memiliki kemungkinan untuk
mengalami suatu keadaan stres dalam lingkungan kerja (Rice, 1992).
Secara sederhana stres dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana
individu terganggu keseimbangannya (Dharmawan, dkk, 2005). Sering pula stres
diartikan sebagai perasaan khawatir dan takut (Dawis dkk, 1990). Hans Selye
(dalam Efendi, 2001) yang dikenal sebagai father of stress theory mendifinisikan
stres sebagai respon tubuh non-spesifik terhadap segala tekanan yang
menimpanya.
Stres atau ketegangan timbul sebagai suatu hasil ketidakseimbangan antara
persepsi orang tersebut mengenai tuntutan yang dihadapinya dan persepsinya
mengenai kemampuannya untuk menanggulangi tuntutan tersebut (Rice, 1992).

Universitas Sumatera Utara

Stres dapat disebabkan oleh apapun yang menstimulasi kita, hal itu adalah bagian
dari kehidupan. Beberapa tingkatan stres dapat distimulasi, namun bila terlalu
banyak akan bisa merusak (Lazarus, dalam Austin, 2004). Stres berhubungan
dengan dengan situasi lingkungan yang dipersepsikan sebagai suatu tekanan yang
melampaui kemampuan dan keadaan diri seseorang untuk mengatasinya
(McGrath, dalam Chandraiah, dkk, 2003). Penghayatan stres ditentukan oleh
penafsiran tentang tuntutan apa yang dihadapi dan oleh analisis dari sumbersumber yang dimiliki untuk mampu menghadapi tuntutan (Munandar, 2001).
Stres yang kemunculannya mengacu pada pekerjaan seseorang disebut
stres kerja (Austin, 2004). Stres kerja menurut Kahn, dkk (dalam Cooper, 2003)
merupakan suatu proses yang kompleks, bervariasi, dan dinamis dimana stressor,
pandangan tentang stres itu sendiri, respon singkat, dampak kesehatan, dan
variabel-variabelnya saling berkaitan. Cooper (1998) mengemukakan bahwa stres
kerja adalah ketidakmampuan untuk memahami atau menghadapi tekanan, di
mana tingkat stres tiap individu dapat berbeda-beda dan bereaksi sesuai perubahan
lingkungan atau keadaan.
Menurut Handoko (2000) Stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan
yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. Stres yang
terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi
lingkungan. Selye (dalam Beehr, 1995) menyatakan bahwa stres kerja dapat
diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu
berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku.
Menurut Rice (1992), seseorang dapat mengalami stres kerja jika :

Universitas Sumatera Utara

a. Urusan stres yang dialami seseorang melibatkan juga pihak organisasi atau
perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di
dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan
dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab
stres kerja.
b. Mengakibatkan dampak negatif bagi individu dan juga perusahaan. Oleh
karena itu diperlukan kerja sama antara kedua belah pihak untuk
menyelesaikan persoalan stress tersebut.
Stres kerja juga dapat dirumuskan sebagai suatu kondisi dari pekerjaan
yang mengancam indiviu. Ancaman ini dapat berasal dari tuntutan pekerjaan itu
atau karena kurang terpenuhinya kebutuhan individu. Stres kerja ini muncul
sebagai bentuk ketidakharmonisan individu dengan lingkungan kerjanya
(Diahsari, 2001).
Jadi dapat disimpulkan bahwa definisi stres kerja adalah interaksi antara
kondisi kerja dengan sifat-sifat karyawan yang bekerja yang merubah fungsi
normal secara fisik, psikologis maupun perilaku yang berasal dari tuntutan
pekerjaan yang melebihi kemampuan karyawan atau kondisi lingkungan yang
menimbulkan stres yang dapat menyebabkan pengaruh negatif bagi karyawan
maupun organisasi tempat dia bekerja yang membutuhkan solusi baik itu dari
personal maupun perusahaan.

Universitas Sumatera Utara

2. Gejala-gejala stres kerja
Beehr dan Newman (dalam Rice, 1992) telah memeriksa sejumlah
penelitian tentang stres kerja dan dirangkumkan ke dalam 3 tipe dari harisl negatif
individu terhadap stres kerja yaitu gejala fisik, gejala psikologis, dan gejala
perilaku.
a. Gejala fisik dari stres kerja
Yang termasuk dalam gejala-gejala fisik yaitu :
1) Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah
2) Meningkatnya sekresi adrenalin dan nonadrenalin
3) Timbulnya gangguan perut
4) Kelelahan fisik
5) Kematian
6) Timbulnya penyakit kardiovaskuler
7) Ketegangan otot
8) Keringat berlebihan
9) Gangguan kulit
10) Sakit kepala
11) Kanker
12) Gangguan tidur
Salah satu masalah yang membuat hubungan antara pekerjaan-streskesehatan adalah beberapa wanita yang bekerja membawa masalah kesehatan
fisiknya ke pekerjaan. Hal ini bisa berhubungan dengan perilaku yang berisiko
tinggi pada lingkungan sosial. Kondisi tempat kerja bisa memperberat masalah

Universitas Sumatera Utara

kesehatan, walaupun hal ini membuat lebih nyata tetapi pekerjaanlah yang
berindikasi besar pada masalah kesehatan.
b. Gejala psikologis dari stres kerja
Yang termasuk dalam gejala-gejala psikologis yaitu :
1) Ketegangan, kecemasan, kebingungan, dan mudah tersinggung
2) Perasaan frustasi, marah, dan kesal
3) Emosi yang menjadi sensitif dan hiperaktif
4) Perasaan tertekan
5) Kemampuan berkounikasi efektif menjadi kurang
6) Menarik diri dan depresi
7) Persaan terisolir dan terasing
8) Kebosanan dan ketidakpuasan dalam bekerja
9) Kelelahan mental dan menurunnya fungsi intelektual
10) Menurunnya harga diri
Kemungkinan besar prediksi efek stres kerja adalah ketidakpuasan
pekerjaan. Ketika hal ini muncul, seseorang merasa kurang termotivasi untuk
bekerja, tidak bekerja dengan baik, atau tidak melanjutkan pekerjaan. Gejalagejala ini muncul pada tahapan yang berbeda di dalam perjalanan dari pekerjaan
tersebut dan bervariasi antara satu orang dengan yang lainnya.
c. Gejala perilaku dari stres kerja
Yang termasuk dalam gejala-gejala perilaku yaitu :
1) Bermalas-malasan dan menghindari pekerjaan
2) Kinerja dan produktivitas menurun

Universitas Sumatera Utara

3) Meningkatnya penggunaan alcohol dan obat-obat terlarang
4) Melakukan sabotase pada pekerjaan
5) Makan berlebihan sebagai pelarian yang bisa mengakibatkan obesitas
6) Mengurangi makan sebagai perilaku menarik diri dan berkombinasi
dengan depresi.
7) Kehilangan selera makan dan menurunnya berat badan secara tiba-tiba
8) Meningkatnya perilaku yang berisiko tinggi
9) Agresif, brutal, dan mencuri
10) Hubungan yang tidak harmonis dengan keluarga dan teman
11) Kecenderungan melakukan bunuh diri.

Uraian di atas menunjukkan bahwa gejala stres kerja merupakan gejala
yang kompleks, yang meliputi kondisi fisik, psikologis, maupun perilaku. Namun
demikian gejala tersebut tidak muncul bersamaan waktunya pada seseorang,
kemunculannya bersifat kumulatif, yang sebenarnya telah terjadi dalam waktu
yang cukup lama, hanya saja tidak terdeteksi jika tidak menunjukkan perilaku
tertentu.

3. Sumber-sumber Stres Kerja
Kebanyakan orang menghabiskan waktu untuk bekerja daripada mereka
melakukan berbagai aktivitas lainnya. Wajarlah jika kemudian pekerjaan menjadi
sumber utama dari stres. Fakta menunjukkan bahwa stres pekerjaan berdampak

Universitas Sumatera Utara

pada kesehatan fisik dan mental dari karyawan. Menurut Cooper (dalam Rice,
1992) mengidentifikasikan sumber-sumber stres kerja sebagai berikut :
a. Kondisi pekerjaan
Kondisi pekerjaan meliputi :
1) Lingkungan kerja. Kondisi kerja yang buruk berpotensi menjadi penyebab
karyawan mudah jatuh sakit, mudah stres, sulit berkonsentrasi dan
menurutnya produktivitas kerja.
2) Overload. Dapat dibedakan secara kuantitatif dan kualititatif. Dikatakan
overload secara kuantitatif jika banyaknya pekerjaan yang ditargetkan
melebihi kapasitas karyawan tersebut. Akibatnya karyawan tersebut
mudah lelah dan berada dalam “tegangan tinggi”. Overload secara
kualitatif bila pekerjaan tersebut sangat kompleks dan sulit, sehingga
menyita kemampuan teknis dan kognitif karyawan.
3) Deprivational stress, yaitu kondisi pekerjaan yang tidak lagi menantang,
atau tidak lagi menarik bagi karyawan. Biasanya keluhan yang muncul
adalah kebosanan, ketidakpuasan, atau pekerjaan tersebut kurang
mengandung unsur sosial (kurangnya komunikasi sosial).
4) Pekerjaan beresiko tinggi. Jenis pekerjaan yang beresiko tinggi, atau
berbahaya bagi keselamatan, misalnya pekerjaan di pertambangan minyak
lepas pantai, tentara, dan pemadam kebakaran, berpotensi menimbulkan
stres kerja karena mereka setiap saat dihadapkan pada kemungkinan
terjadinya kecelakaan.

Universitas Sumatera Utara

b. Stres karena peran
Sebagian besar karyawan yang bekerja di perusahaan yang sangat besar,
khususnya para wanita yang bekerja dikabarkan sebagai pihak yang
mengalami stres lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Masalahnya, wanita
bekerja ini menghadapi konflik peran sebagai wanita karir sekaligus ibu
rumah tangga. Terutama dalam alam kebudayaan Indonesia, wanita sangat
dituntut perannya sebagai ibu rumah tangga yang baik dan benar sehingga
banyak wanita karir yang merasa bersalah ketika harus bekerja. Perasaan
bersalah ditambah dengan tuntutan dari dua sisi, yaitu pekerjaan dan ekonomi
rumah tangga, sangat berpotensi menyebabkan wanita bekerja mengalami
stres.
c. Faktor interpersonal
Hubungan interpersonal di tempat kerja merupakan hal yang sangat
penting di tempat kerja. Dukungan dari sesame pekerja, manajemen, keluarga,
dan teman-teman diyakini dapat menghambat timbulnya stres. Dengan
demikian perlu ada kepedulian pihak manajemen pada karyawannya agar
selalu tercipta hubungan yang harmonis.
d. Pengembangan karir
Karyawan biasanya mempunyai berbagai harapan dalam kehidupan karir
kerjanya, yang ditujukan pada pencapaian prestasi dan pemenuhan kebutuhan
untuk mengaktualisasikan diri. Apabila perusahaan tidak dapat memenuhi
kebutuhan karyawan untuk berkarir, misalnya sistem promosi yang tidak jelas,
kesempatan untuk meningkatkan penghasilan tidak ada, karyawan akan

Universitas Sumatera Utara

merasa kehilangan harapan, tumbuh perasaan ketidakpastian ang dapat
menimbulkan perilaku stres.
e. Struktur Organisasi
Struktur organisasi berpotensi menimbulkan stres apabila diberlakukan
secara kaku, pihak manajemen kurang mempedulikan inisiatif karyawan, tidak
melbatkan karyawan dalam proses pengambilan keputusan, dan tidak adanya
dukungan bagi kreativitas karyawan.

f. Tampilan rumah-pekerjaan
Ketika pekerjaan berjalan dengan lancer, tekanan yang ada di rumah
cenderung bisa dihilangkan. Bagi kebanyakan orang, rumah sebagai tempat
untuk bersantai, mengumpulkan dan membangun kembali kekuatan yang
hilang. Tetapi, ketika keheningan terganggu, bisa karena pekerjaan atau
konflik di rumah, efek dari stres cenderung meningkat.

4. Stres kerja pada wanita
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi stres kerja
Menurut Rini (2002), sejak jaman dahulu hingga kini, persoalan yang
dihadapi oleh kaum wanita yang bekerja di luar rumah sepertinya tidak jauh
berbeda. Berbagai hambatan dan kesulitan yang mereka alami dari masa ke masa,
berasal dari sumber-sumber bagi wanita yang bekerja dapat dibedakan sebagai
berikut :

Universitas Sumatera Utara

1) Faktor internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah persoalan yang timbul dalam
diri pribadi wanita yang bekerja tersebut. Ada di antara para wanita yang bekerja
tersebut lebih senang jika dirinya benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga,
yang sehari-harinya di rumah dan mengatur rumah tangga. Namun, keadaan
“menuntut”nya untuk bekerja, untuk menyokong keuangan keluarga. Kondisi
tersebut mudah menimbulkan stres karena bekerja bukanlah timbul dari keinginan
diri namun seakan tidak punya pilihan lain demi membantu ekonomi rumah
tangga. Biasanya, para wanita yang bekerja mengalami masalah yang demikian,
cenderung merasa sangat lelah (terutama secara psikis), karena seharian
“memaksakan diri” untuk bertahan di tempat kerja.

2) Faktor eksternal
a. Dukungan suami
Dukungan suami dapat diterjemahkan sebagia sikap penuh pengertian
yang ditunjukkan dalam bentuk kerja sama yang positif, ikut membantu
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, membantu mengurus anak-anak serta
memberikan dukungan moral dan emosional terhadap karir atau pekerjaan
istrinya. Di Indonesia, iklim patrilinial yang sangat kuat, turut menjadi faktor yang
membebani peran wanita yang bekerja, karena masih terdapat pemahaman bahwa
pria tidak boleh mengerjakan pekerjaan wanita, apalagi ikut mengurus masalah
rumah tangga. Masalah rumah tangga adalah kewajiban sepenuhnya seorang istri.
Masalah yang kemudian timbul akibat bekerjanya istri, sepenuhnya merupakan

Universitas Sumatera Utara

kesalahan dari istri dan untuk itu ia harus bertanggung jawab menyelesaikannya
sendiri.
Keadaan itu akan menjadi sumber tekanan yang berat bagi istri, sehingga
ia pun akan sulit merasakan kepuasan dalam bekerja. Kurangnya dukungan suami,
membuat peran wanita yang bekerja di rumah pun tidak optimal karena terlalu
banyak yang masih dikerjakan sementara dirinya juga merasa lelah sesudah
bekerja. Akibatnya, timbul rasa bersalah karena merasa diri bukan wanita yang
bekerja dan istri yang baik.
b. Kehadiran anak
Masalah pengasuhan terhadap anak, biasanya dialami oleh wanita yang
bekerja yang mempunyai anak kecil/balita. Semakin kecil usia anak, maka
semakin besar tingkat stres yang dirasakan. Rasa bersalah karena
meninggalkan anak untuk seharian bekerja, merupakan persoalan yang
sering dipendam oleh para wanita yang bekerja. Apalagi jika pengasuh
yang ada tidak dapat dipercaya, sementara tidak ada famili lain yang dapat
membantu.
c. Masalah pekerjaan
Pekerjaan bisa menjadi s

Dokumen yang terkait

Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Life Satisfaction Pada Wanita Bekerja

17 98 136

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA DENGAN STRES KERJA PADA WANITA DI PT PELITA TOMANGMAS Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Di Pt Pelita Tomangmas Karanganyar.

0 4 17

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA DENGAN STRES KERJA PADA WANITA DI PT PELITA TOMANGMAS Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Di Pt Pelita Tomangmas Karanganyar.

0 3 17

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KONFLIK PERAN GANDA PADA WANITA BEKERJA Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Konflik Peran Ganda Pada Wanita Bekerja.

0 2 17

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL KELUARGA DENGAN KONFLIK PERAN GANDA PADA WANITA BEKERJA Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Konflik Peran Ganda Pada Wanita Bekerja.

0 3 18

PENDAHULUAN Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Dengan Konflik Peran Ganda Pada Wanita Bekerja.

0 2 8

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA DENGAN STRES KERJA PADA WANITA BEKERJA Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja.

0 3 16

PENDAHULUAN Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja.

0 1 9

DAFTAR PUSTAKA Amalia, M.2005. Konflik Peran Ganda Ibu Bekerja ditinjau dari Dukungan Sosial Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja.

0 1 4

HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA DENGAN STRES KERJA PADA WANITA BEKERJA Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Dengan Stres Kerja Pada Wanita Bekerja.

0 2 25