Minat belajar pendidikan agama islam pada siswa kelas VIII SMP al-Mubarak Pondok Aren-Tangerang Selatan

MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PADA SISWA KELAS VIII SMP AL-MUBARAK
PONDOK AREN – TANGERANG SELATAN

Oleh :
NUR FAIZAH
106011000140

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010 M/1432 H

MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PADA SISWA KELAS VIII SMP AL-MUBARAK
PONDOK AREN – TANGERANG SELATAN

SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I)
Program Strata 1

Oleh :
NUR FAIZAH
106011000140

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010 M/1432 H

MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PADA SISWA SMP AL-MUBARAK
PONDOK AREN TANGERANG SELATAN

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

Oleh
NUR FAIZAH
106011000140

Di Bawah Bimbingan
Pembimbing

Drs. H. Alisuf Sobri
NIP. 150 033 454

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
1431 H/2010 M

LEMBAR PENGESAHAN
Skripsi berjudul : “Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa Kelas
VIII SMP Al-Mubarak Pondok Aren Tangerang Selatan” diajukan kepada
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasyah pada, 15 Desember 2010 di
hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1
(S.Pd.I) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.

Jakarta, 15 Desember 2010

Panitia Ujian Munaqasyah
Ketua Panitia (Ketua Jurusan/Program Studi)

Tanggal

Tanda Tangan

Bahrissalim, M.Ag
NIP : 19680307.199803.1.002

………….

……………….

………….

………………

………….

……………….

………….

……………….

Sekretaris (sekretaris Jurusan/Program Studi)
Drs. Sapiuddin Siddiq, M.Ag
NIP: 19670328.20000.3.001
Penguji I
Drs. Abdul Haris, M.Ag
NIP: 196609011995031001
Penguji II
Yudhi Munadhi, M.Ag
NIP: 197012031998031003
Mengetahui,
Dekan,

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA.
NIP: 19571005.198703.1.003

LEMBAR PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Nur Faizah

NIM

: 106011000140

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam

Fakultas

: Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli yang saya ajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan untuk memperoleh gelar strata satu (S1) di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan skripsi ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
3. Jika kemudian hari terbukti bahwa skripsi saya bukan asli karya saya atau
merupakan jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi
berdasarkan undang-undang yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2010
Penulis

Nur Faizah
NIM:106011000140

ABSTRAK
Nur Faizah, 2010. Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa Kelas VIII
SMP Al-Mubarak Pondok Aren Tangerang Selatan. Skripsi. Jurusan Pendidikan
Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah diajarkan guna
menumbuhkan pemahaman serta penghayatan siswa terhadap agama Islam, selain
itu juga siswa diharapkan mampu mengamalkan ajaran-ajaran yang ada dalam
agama Islam yang ia dapatkan dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
sekolah, yang kemudian ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya
kemampuan siswa dalam melaksanakan wudhu, shalat, puasa, zakat, sadaqah dan
ibadah lainnya.
Dari pengamatan sementara penulis melihat kurangnya minat siswa
terhadap pelajaran agama. Untuk itu penulis ingin mengetahui bagaimana kondisi
minat belajar PAI pada siswa SMP Al-Mubarak khususnya kelas VIII.
Dalam penelitian ini populasinya sebanyak 35 siswa. Karena terbatasnya populasi,
maka penulis menggunakan teknik sensus yakni dengan mengambil seluruh
populasi yang ada untuk menjadi responden guna pengisian angket.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, yaitu
menggambarkan dan menginterpretasikan sesuai data yang diperoleh.
Sedangkan untuk pengumpulan datanya dengan menyebarkan angket/kuisioner
kepada responden. Kemudian dari hasil angket dilakukan pengolah data sebagai
berikut:
1. Editing, yaitu memeriksa kembali jawaban daftar pertanyaan yang
diserahkan kepada responden.
2. Scoring, yaitu merupakan tahap pemberian skor terhadap butir-butir
pernyataan yang terdapat dalam angket.
3. Tabulating, yaitu setelah diketahui setiap indikatornya, maka seluruh data
tersebut ditabulasikan dalam sebuah tabel untuk kemudian diketahui
perhitungannya
Setelah itu dilakukan teknik analisis data yaitu dengan menggunakan rumus:
P=
F
x 100%
N
Berdasarkan analisis data dapat disimpulkan bahwa hampir seluruhnya
(71,43 %) siswa memiliki minat yang tinggi terhadap pelajaran PAI, sedikit
(28,57 %) siswa memiliki minat yang sedang terhadap pelajaran PAI dan tidak
ada sama sekali (0 %) siswa yang sama sekali tidak berminat terhadap pelajaran
PAI. Dengan demikian itu berarti siswa SMP Al-Mubarak kelas VIII memiliki
minat yang tinggi terhadap mata pelajaran PAI.

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah Swt yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa Kelas
VIII SMP Al-Mubarak Pondok Aren-Tangerang Selatan”. Shalawat serta salam
semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW., beserta keluarga,
shahabat dan para pengikutnya.
Penulis dalam menyelesaikan skripsi mendapat banyak bantuan dan
dukungan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Tak pantas kiranya bila
penulis tidak mengucapkan terima kasih serta memberikan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA. selaku Dekan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan sekaligus selaku Dosen Penasehat Akademik.
2. Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Bapak Bahrissalim, M.Ag dan
Sekjur PAI Bapak Drs. Sapiuddin Siddiq, M.Ag.
3. Bapak Drs. H. M. Alisuf Sabri, selaku pembimbing skripsi yang telah
banyak memberikan bimbingan, saran dan kritik kepada penulis dalam
proses penyusunan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu dosen yang telah mengajarkan ilmu dan pengetahuannya
selama saya menuntut ilmu di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Kepala Perpustakaan dan segenap pegawai yang telah melayani
peminjaman buku dan lain-lain.
6. Bapak H. Nahrawi S.Pd.I selaku Kepala SMP Al-Mubarak dan Ibu
Popon Rupaidah, S.Ag selaku guru PAI SMP Al-Mubarak, guru-guru
dan staf sekolah serta siswa/i kelas VIII SMP AL-Mubarak yang telah
membantu dalam penyusunan skripsi ini.
7. Kedua orang tuaku tersayang Bapak H. Abdillah Hidayat dan Mama
Sholihah, Kakak-kakakku tersayang Fauzi, Fachruddin, Fathiyah,
Fadhli, Farida, Fithriyah, Fauzan, yang telah memberikan dorongan
moril maupun materiil kepada penulis.

8. Abdurrahman, SHI yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah
penulis dan selalu memberikan motivasi serta bantuan kepada penulis.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan di Jurusan PAI kelas D angkatan 2006
Nana, Idoh, Wiwi, Azizah, Neni, Koyah.
10. Dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Hanya tengadahan tangan serta iringan do’a, semoga bantuan dan
dukungan yang telah diberikan mendapat balasan pahala yang berlipat dari Allah
SWT. Dan semoga selalu diberikan barokah ilmu, umur, serta rizqi oleh Allah
SWT.
Akhirnya penulis menyadari bahwa segala sesuatu pasti tidak sempurna
demikian pula dengan skripsi ini. Saran dan kritik sangat penulis harapkan demi
perbaikan skripsi ini.

Jakarta, Desember 2010
Penulis

Nur Faizah
NIM. 106011000140

DAFTAR ISI
Surat Pernyataan Penulis……………………………………………………………….i
Lembar Persetujuan……………………………………………………………….........ii
Lembar Pengesahan…………………………………………………………………….iii
Abstrak………………………………………………………………………………….iv
Kata Pengantar………………………………………………………………………….v
Daftar Isi………………………………………………………………………………..vii
Daftar Tabel…………………………………………………………………………….ix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………...1
B. Identifikasi Masalah……………………………………………………..3
C. Pembatasan Masalah…………………………………………………….4
D. Perumusan Masalah……………………………………………………..4
E. Tujuan Penelitian………………………………………………………..4
F. Kegunaan Penelitian…………………………………………………….4
G. Tinjauan Pustaka………………………………………………………..5

BAB II KAJIAN TEORI
A. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam……………………………...6
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam………………………………….7
3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam………………………...8
4. Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar PAI…………..9

B. Minat Belajar
1. Pengertian Minat Belajar……………………………………….…11
2. Fungsi Minat Dalam Belajar……………………………………...15
3. Faktor Yang Mempengaruhi Minat ………………………………16
4. Indikator Minat……………………………………………………18

vii

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………………...23
B. Metode Penelitian………………………………………………………23
C. Populasi dan Sampling………………………………………………….23
D. Teknik Pengumpulan Data……………………………………………...24
E. Teknik Pengolahan Data dan Analisis Data………...….……………….26

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMP Al-Mubarak……...……………………………30
B. Deskripsi Data…………………………………………………………..37
C. Analisa dan Interpretasi Data………..………………………………….37

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………………..46
B. Saran……………………………………………………………………46

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………...48

LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL
1.

Kisi-Kisi Instrument Penelitian Tentang Minat Belajar PAI Siswa…………26

2.

Kategori Penilaian…………………………………………………………...28

3.

Data Guru dan Karyawan SMP Al-Mubarak Tahun ajaran 2010-2011..........31

4.

Rombel dan Siswa…………………………………………………………...33

5.

Kegiatan Ekstrakurikuler yang ada di SMP Al-Mubarak...............................34

6.

Data Sarana Pendukung SMP Al-Mubarak.....................................................34

7.

Struktur Kurikulum KTSP SMP Al-Mubarak.................................................35

8.

Meskipun nilai pelajaran agama saya kurang, saya akan terus
belajar pendidikan agama Islam…………………………………………......37

9.

Siswa selalu ingin menguasai materi agama yang diberikan oleh guru……..38

10. Siswa merasa senang terhadap pelajaran pendidikan agama Islam……...….38
11. Dalam belajar pendidikan agama Islam, siswa harus memiliki
buku pegangan………………………………………………………………39
12. Pelajaran pendidikan agama Islam itu pelajaran yang mudah,
sehingga membuat siswa dapat memahaminya……………………………..39
13. Siswa dapat menyampaikan kembali materi yang telah disampaikan
oleh guru agama……………………………………………………………..40
14. Siswa selalu mengulangi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru
di rumah……………………………………………………………………..40
15. Untuk lebih memahami pelajaran agama, siswa selalu membaca
buku-buku agama setiap hari………………………………………………..41
16. Siswa selalu mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru……...…..41
17. Siswa selalu bertanya pada guru agama, apabila siswa belum paham
pelajarannya…………………………………………………………………42
18. Frekuensi Nilai Rata-Rata (Minat Belajar PAI)……………………………..43

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan.1
Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20
tahun 2003, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting yang
mempunyai tujuan sebagaimana dijelaskan pula dalam Undang-undang
Nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 3, bahwa
tujuan pendidikan nasional adalah untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan

1

Tim Penyusun Kamus dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1995), Cet. IV, h. 232

2

menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.2 Tujuan
ini sangat sesuai dengan fitrah manusia, salah satunya adalah fitrah
beragama. Dengan demikian pendidikan sangat penting bagi manusia,
terutama pendidikan agama.
Pendidikan Agama di Indonesia mempunyai posisi yang strategis,
mengingat bangsa Indonesia bangsa yang beragama dan di Indonesia agama
dijadikan sebagai modal dasar pembangunan dan diharapkan berperan
sebagai penggerak dan pengendali, pembimbing dan pendorong hidup
warganya ke arah suatu penghidupan yang lebih baik dan sempurna.3
Pendidikan Agama Islam di sekolah diajarkan guna menumbuhkan
pemahaman serta penghayatan siswa terhadap agama Islam, selain itu juga
siswa diharapkan mampu mengamalkan ajaran-ajaran yang ada dalam
agama Islam yang ia dapatkan dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam
di sekolah, yang kemudian ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya kemampuan siswa dalam melaksanakan wudhu, shalat, puasa,
zakat, sadaqah dan ibadah lainnya.
Dalam mencapai suatu keberhasilan dari proses pendidikan tentu
sangat dipengaruhi oleh kesiapan pendidik dan peserta didik itu sendiri.
Untuk mengetahui kesiapan peserta didik dapat dilihat dari minat belajar
siswa itu sendiri.
Dengan adanya minat pada diri peserta didik dalam mempelajari
suatu pelajaran akan membantu siswa tersebut untuk mencapai keberhasilan
belajarnya. Keberhasilan yang dicapai bukan hanya berupa nilai atau prestasi
saja tetapi juga adanya perubahan tingkah laku pada peserta didik tersebut.
Apabila siswa berminat pada mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam maka ia akan tekun dan merasa senang mempelajarinya yang pada
akhirnya prestasi yang dicapainya akan memuaskan, tidak hanya itu tetapi
juga pengamalan dari isi Pendidikan Agama Islam yakni dalam bentuk
perilaku atau akhlak yang baik yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
2

Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 20, Th. 2003, Sistem Pendidikan Nasional,
(Semarang: Aneka Ilmu, 2003), Cet. I, h. 4
3
M. Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. I, h. 74

3

Sesuai dengan Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003,
pasal 37 ayat 1 poin (a) yang berbunyi: Kurikulum pendidikan dasar dan
menengah wajib memuat pendidikan Agama. Sehingga sebagai lembaga
sekolah di tingkat menengah, SMP Al-Mubarak berkewajiban untuk
mencantumkan atau memasukkan kurikulum pendidikan agama dalam hal
ini khususnya pendidikan agama Islam.
Namun demikian, sebagaimana umumnya di sekolah-sekolah lain,
terkadang ada beberapa siswa yang kurang begitu berminat terhadap mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam sehingga mau tidak mau keadaan ini
menjadikan tujuan diajarkannya PAI di sekolah-sekolah kurang dapat
mencapai hasil yang maksimal.
Untuk itu penulis ingin membahas tentang minat siswa terhadap
pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP AL-Mubarak, di mana siswa
SMP Al-Mubarak diharapkan dapat mencapai tujuan PAI yang pada
akhirnya dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam hal ini penulis
merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan mengangkat judul:
“MINAT BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA SISWA
KELAS VIII SMP Al-MUBARAK PONDOK AREN TANGERANG
SELATAN.”

B. Identifikasi Masalah
1. Apakah siswa SMP Al-Mubarak berminat terhadap mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam?
2. Apakah siswa memiliki minat yang tinggi terhadap Pendidikan Agama
Islam?
3. Bagaimana teknik guru agama dalam mengajar Pendidikan Agama
Islam?

4

C. Pembatasan Masalah
Supaya pembahasan terfokus dan tidak meluas, maka masalah yang
akan diteliti dibatasi pada:
1. PAI yang dimaksud adalah pendidikan bidang studi/mata pelajaran
agama yang ada di SMP Al-Mubarak.
2. Faktor eksternal yang mempengaruhi minat belajar siswa terhadap mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah yang telah dijelaskan sebelumnya,
maka perumusan masalahnya adalah: “Bagaimana kondisi minat belajar siswa
SMP Al-Mubarak terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu: secara umum
dan khusus. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh
mana minat siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP
Al-Mubarak. Kemudian secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:
1. Dapat mengetahui bagaimana proses pembelajaran di SMP Al-Mubarak
pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
2. Dapat mengetahui sejauh mana minat belajar siswa SMP Al-Mubarak
terhadap Pendidikan Agama Islam.
3. Dapat mengetahui kendala apa saja yang dihadapi oleh siswa yang kurang
berminat terhadap Pendidikan Agama Islam.

F. Kegunaan Penelitian
1. Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar S. Pd.I pada Program Strata 1
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Program Studi Pendidikan Agama
Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

5

2. Sebagai masukan bagi guru-guru di SMP Al-Mubarak terutama guru
pendidikan agama Islam agar dapat menarik minat peserta didik dalam
belajar pendidikan agama Islam.
3. Untuk menambah dan memperluas wawasan penulis dalam bidang ilmu
pendidikan agama Islam.
4. Untuk menambah perbendaharaan bacaan di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

G. Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang minat memang sudah banyak dilakukan, namun
demikian yang membedakan penelitian terdahulu dengan penelitian yang
peneliti lakukan adalah bahwa pada penelitian sebelumnya pembahasan lebih
kepada faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi timbulnya minat
siswa, sementara penulis mencoba membahas hanya faktor dari luar yang
mempengaruhi timbulnya minat siswa terhadap pelajaran pendidikan agama
Islam.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pendidikan Agama Islam di SMP
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Menurut penjelasan pasal 37, Bab X, ayat 1 Undang-Undang
Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003, Pendidikan Agama dimaksudkan untuk
membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
Berdasarkan

pengertian

umum

Pendidikan

Agama,

Dirjen

Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama RI,
merumuskan pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI) yaitu usaha sadar
untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati
dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan, bimbingan pengajaran
dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati
agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam
masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional. 1
Menurut Zakiah Daradjat pendidikan agama Islam adalah suatu
usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat
memahami ajaran Islam secara menyeluruh, menghayati, mengamalkan
serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup.
1

M. Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1999), Cet. I, h. 74

7

Tayar Yusuf mengartikan pendidikan agama Islam sebagai usaha
sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan,
kecakapan dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi
manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Sedangkan menurut Ahmad
Tafsir pendidikan agama Islam adalah bimbingan yang diberikan
seseorang kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai
dengan ajaran Islam.2
Dalam Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam SMP dan MTs, pendidikan agama Islam adalah
upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk
mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani, bertakwa, dan
berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber
utamanya kitab suci Al-Quran dan Hadits, melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman. 3

2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan pendidikan agama Islam atau tujuan-tujuan pendidikan
lainnya di dalamnya mengandung nilai-nilai tertentu sesuai dengan
pandangan dasar masing-masing yang harus direalisasikan melalui proses
yang terarah dan konsisten.
Peningkatan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana
dimaksudkan oleh GBHN, hanya dibina melalui pengajaran agama yang
intensif dan efektif, yang pelaksanaannya dilakukan dengan cara, yang
sekaligus juga menjadi tujuan pengajaran agama, yaitu: membina manusia
beragama, berarti manusia yang mampu melaksanakan ajaran-ajaran
agama Islam dengan baik dan sempurna, sehingga tercermin pada sikap

2

Abd. Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004), Cet. I, h. 130
3
Dep. Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Pendidikan Agama Islam SMP & MTs, (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003), h.
7

8

dan tindakan dalam seluruh kehidupannya, dalam rangka mencapai
kebahagiaan dan kejayaan hidup dunia dan akhirat.4
Pendidikan agama Islam di SMP bertujuan untuk menumbuhkan dan
meningkatkan keimanan melalui pemberian dan pemupukan pengetahuan,
penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta didik tentang agama
Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang dalam
hal keimanan, ketakwaannya kepada Allah SWT. serta berakhlak mulia
dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta
untuk dapat melanjutkan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi.5

3. Ruang Lingkup Materi Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam di SMP meliputi keserasian,
keselarasan dan keseimbangan antara:
a. Hubungan manusia dengan Allah SWT.
b. Hubungan manusia dengan sesama manusia, dan
c. Hubungan manusia dengan alam (selain manusia) dan lingkungan.
Adapun ruang lingkup bahan pelajaran Pendidikan Agama Islam di
Sekolah Menengah Pertama terfokus pada aspek:
a. Keimanan
b. Al-Qur’an/ Hadits
c. Akhlak
d. Fiqh/ Ibadah
e. Tarikh6

4

Zakiah Darajat, dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama, (Jakarta: Bumi Aksara,
2008), Cet. IV, h. 172
5
Dep. Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004…, h. 8
6
Dep. Pendidikan Nasional, Kurikulum 2004… , h. 9

9

4. Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Belajar PAI
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar
siswa di sekolah yang secara garis besarnya dapat dibagi dalam dua bagian
yaitu faktor internal dan faktor eksternal siswa.
Faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa (eksternal) terdiri
dari faktor lingkungan dan faktor instrumental; sedangkan faktor-faktor
yang berasal dari dalam diri siswa (internal) adalah berupa faktor fisiologis
dan faktor psikologis pada diri siswa.

a. Faktor-faktor Lingkungan
Faktor lingkungan siswa ini dapat dibagi menjadi dua bagian,
yaitu: faktor lingkungan alam/non sosial dan dan faktor lingkungan
sosial.
Yang termasuk faktor lingkungan non sosial/alami ini ialah seperti:
keadaan suhu, kelembaban udara, waktu (pagi, siang, malam), tempat
letak gedung sekolah, dan sebagainya.
Faktor

lingkungan

sosial

baik

berwujud

manusia

dan

representasinya termasuk budayanya akan mempengaruhi proses dan
hasil belajar siswa. 7
Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi,
dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang
siswa. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang
simpatik dan memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya
dalam hal belajar, misalnya rajin membaca dan berdiskusi, dapat
menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan belajar siswa.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar
ialah orang tua dan keluarga siswa itu sendiri.8 Suasana keluarga yang

7

M. Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan Berdasarkan Kurikulum Nasional, (Jakarta: CV.
Pedoman Ilmu Jaya, 1996), Cet. II, h. 59
8
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. XII, h. 137

10

tenang dan adanya dorongan dari keluarga dapat memberi kenyamanan
pada diri siswa untuk semangat belajar.

b. Faktor-faktor Instrumental
Faktor instrumental ini terdiri dari gedung/sarana fisik kelas,
sarana/alat pengajaran, media pengajaran,

dan kurikulum/materi

pelajaran serta strategi belajar mengajar yang digunakan akan
mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa.9
Keberadaan sarana atau alat pengajaran yang cukup memadai serta
strategi guru yang sangat menarik dalam mengajar maka akan
memberikan pengaruh terhadap proses maupun hasil belajar siswa
tersebut, siswa akan cenderung merasa tertarik untuk mengikuti
pelajaran tersebut.

c. Faktor-Faktor Kondisi Internal Siswa
Faktor kondisi siswa ini sebagaimana telah diuraikan di atas ada
dua macam yaitu kondisi fisiologis siswa dan kondisi psikologis siswa.
Faktor kondisi fisiologis siswa terdiri dari kondisi kesehatan dan
kebugaran fisik dan kondisi panca inderanya terutama penglihatan dan
pendengarannya.
Adapun faktor psikologis yang akan mempengaruhi keberhasilan
belajar siswa adalah faktor: minat, bakat, intelegensi, motivasi dan
kemampuan-kemampuan kognitif seperti kemampuan persepsi, ingatan,
berfikir, dan kemampuan dasar pengetahuan (dasar appersepsi) yang
dimiliki siswa.10
Faktor-faktor tersebut selain merupakan faktor keberhasilan belajar
secara umum, tetapi juga bisa dijadikan sebagai faktor keberhasilan
belajar Pendidikan Agama Islam secara khusus di sekolah-sekolah.

9
10

Sabri, Psikologi Pendidikan…, h. 59
Sabri, Psikologi Pendidikan…, h. 60

11

Dari semua faktor tersebut, faktor internal siswa khususnya minat
merupakan subjek belajar yang akan banyak mempengaruhi keberhasilan
belajar. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Kurt Singer dalam
bukunya yang berjudul Membina Hasrat Belajar, bahwa minat
merupakan suatu landasan yang paling meyakinkan demi keberhasilan
suatu proses belajar. Jika seorang murid memiliki rasa ingin belajar, ia
akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya. 11

B. Minat Belajar
1. Pengertian Minat Belajar
Dalam

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia,

minat

berarti

kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, atau keinginan. 12
Minat adalah suatu landasan yang paling meyakinkan demi
keberhasilan suatu proses belajar. Jika seorang murid memiliki rasa ingin
belajar, ia akan cepat dapat mengerti dan mengingatnya. Belajar akan
merupakan suatu siksaan dan tidak akan memberi manfaat jika tidak
disertai sifat terbuka bagi bahan-bahan pelajaran. Guru yang berhasil
membina kesediaan belajar murid-muridnya berarti telah melakukan hal
yang terpenting yang dapat dilakukan demi kepentingan belajar muridmuridnya. Sebab, minat bukanlah sesuatu yang ada begitu saja, melainkan
sesuatu yang dapat dipelajari.13
Minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu obyek, seseorang,
suatu soal atau suatu situasi mengandung sangkutpaut dengan dirinya. 14
Menurut istilah psikologi, minat berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.15
11

Kurt Singer, Membina Hasrat Belajar di Sekolah, (Bandung: Remadja Karya CV.,
1987), h. 78
12

Tim Penyusun Kamus dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 1995), Cet. IV, h. 656
13
Kurt Singer, Membina Hasrat …, h. 78
14
Carl Witherington, Psikologi Pendidikan, Terj. dari Educational Psychology oleh M.
Buchori, (Jakarta: Aksara Baru, 1978), h. 124
15
Syah, Psikologi Pendidikan…, h. 136

12

Hilgard (dalam Slameto, (1991)) menyatakan bahwa minat adalah
kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa
kegiatan. Kegiatan termasuk belajar

yang diminati siswa,

akan

diperhatikan terus-menerus yang disertai dengan rasa senang.16
Menurut M. Alisuf Sabri dalam buku Psikologi Pendidikan bhawa
yang dimaksud dengan minat adalah suatu kecenderungan untuk selalu
memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus. 17
Menurut Crow and Crow, dalam bukunya Educational Psychology,
sebagaimana yang dikutip oleh Abdul Rachman Abror,
mengatakan bahwa minat atau interest bisa berhubungan dengan
daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik
pada orang, benda, atau kegiatan atau pun bisa berupa pengalaman
yang afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata
lain minat dapat menjadi penyebab kegiatan dan penyebab
partisipasi dalam kegiatan. Minat mengandung unsur kognisi
(mengenal), emosi (perasaan), dan konasi (kehandak). Unsur
kognisi, yaitu minat itu didahului pengetahuan dan informasi
mengenai objek yang dituju oleh minat tersebut. Unsur emosi,
yaitu perasaan tertentu (biasanya perasaan senang). Sedangkan
unsur konasi merupakan kelanjutan dari kedua unsur tersebut yaitu
yang diwujudkan dalam bentuk kemauan dan hasrat untuk
melakukan suatu kegiatan, termasuk kegiatan yang dilakukan di
sekolah.18
Cony Semiawan mengatakan bahwa minat (interest), adalah
keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada sesuatu, situasi
atau obyek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan
kepadanya. Demikian juga minat dapat menimbulkan sikap yang
merupakan suatu kesiapan berbuat bila ada stimulasi sesuai dengan
keadaan tersebut.19

16

Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2006), h. 130
17

Sabri, Psikologi Pendidikan …, h. 84
Abd. Rachman Abror, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya,
1993), Cet. IV, h. 112
19
www.edukasi.kompasiana.com, 23 November 2010
18

13

Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan
untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan
bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di
dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk
mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu.
Menurut Bimo Walgito, minat adalah suatu keadaan dimana
seseorang mempunyai perhatian sesuatu dan disertai dengan keinginan
untuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut.20
Dengan melihat beberapa pengertian yang telah dikemukakan oleh
beberapa ahli di atas terlihat saling melengkapi, sehingga dapat
disimpulkan

bahwa

minat

adalah

kecenderungan

untuk

selalu

memperhatikan dan mengingat secara terus menerus terhadap sesuatu
(orang, benda, atau kegiatan) yang disertai dengan keinginan untuk
mengetahui dan mempelajari serta membuktikannya lebih lanjut.
Belajar selalu berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri
orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik ataupun
mengarah kepada yang kurang baik, direncanakan atau tidak.21
Belajar, seringkali didefinisikan sebagai perubahan yang secara
relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang diperoleh kemudian
dari pengalaman-pengalaman.22
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, belajar adalah berusaha
memperoleh kepandaian atau ilmu, berubah tingkah laku atau tanggapan
yang disebabkan oleh pengalaman. 23

20

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2006), Cet. V, h. 257
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007), Cet. IV, h. 155
22
Fadhilah Suralaga, dkk., Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Jakarta: UIN
Jakarta Press, 2005), Cet. I, h. 60
23
Tim Penyusun Kamus dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar …, h. 14
21

14

Menurut Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relative
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan
atau pengalaman.24
Menurut Chaplin, belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku
yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Sedangkan
menurut Wittig, belajar adalah perubahan yang relatif menetap yang
terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme
sebagai hasil pengalaman.25
Menurut

Witherington

(1952:

h.165)

“belajar

merupakan

perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola
respons yang baru yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan,
pengetahuan dan kecakapan”.26
Slameto (1991:2) dan Ali (1987:14) menyatakan bahwa belajar
merupakan suatu usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.27
Reber dalam kamus susunannya, dictionary of Psychologgy
membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah
proses pengetahuan. Kedua, belajar adalah suatu perubahan kemampuan
bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat.28
Pendapat ahli pendidikan modern merumuskan pengertian belajar
sebagai suatu pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang
dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman
dan latihan.29
Berdasarkan beberapa definisi tentang belajar di atas, maka dapat
disimpulkan sebagai berikut:

24
M. Nagalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2007), Cet. XXII, h. 84
25
Syah, Psikologi Pendidikan …, h. 90
26
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, h. 155
27
Tohirin, Psikologi Pembelajaran …, h. 8
28
Syah, Psikologi Pendidikan …, h. 91
29
Fadhilah Suralaga, dkk., Psikologi Pendidikan …, h.62

15

1. Dalam belajar ada perubahan tingkah laku, baik yang dapat diamati
maupun yang tidak dapat diamati secara langsung.
2. Perubahan tingkah laku terjadi melalui pengalaman atau latihan.
3. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap yang
terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam
interaksinya dengan lingkungannya.
4. Perubahan tingkah laku akibat belajar itu dapat berupa memperoleh
perilaku yang baru atau memperbaiki/meningkatkan perilaku yang
sudah ada.
5. Perubahan tingkah laku yang ditimbulkan oleh belajar dapat berupa
perilaku yang baik (positif) atau perilaku yang buruk (negatif).

Jadi, yang dimaksud dengan minat belajar adalah kecenderungan
untuk selalu memperhatikan dan mengingat secara terus menerus terhadap
sesuatu (orang, benda, atau kegiatan) yang disertai dengan keinginan untuk
mengetahui dan mempelajarinya serta membuktikannya dalam perubahan
tingkah laku atau sikap yang sifatnya relatif menetap.
Yang menjadikan siswa berminat belajar terhadap suatu pelajaran
adalah siswa akan selalu memperhatikan dan mengingat secara terusmenerus karena ia senang atau suka dengan pelajaran tersebut.

2. Fungsi Minat dalam Belajar
Banyak faktor yang mempengaruhi kuantitas dan kualitas belajar
siswa, salah satunya adalah minat. Minat dapat mempengaruhi kualitas
pencapaian belajar siswa dalam bidang studi tertentu.30
Minat juga merupakan suatu hal yang penting dalam pendidikan,
sebab hal itu merupakan sumber dari usaha peserta didik. 31

30

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), h. 151
Wayan Nurkanca dan Sunarta, Evaluasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,
1986), Cet. IV, h. 230
31

16

Minat berperan sebagai “motivating force” yaitu sebagai kekuatan
yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang berminat (sikapnya
senang) kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun
belajar.32
Pada setiap manusia, minat memegang peranan penting dalam
kehidupannya dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap,
minat menjadi sumber motivasi yang kuat untuk belajar, anak yang
berminat terhadap sesuatu kegiatan baik itu bekerja maupun belajar, akan
berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Siswa akan merasa senang dalam mengikuti mata pelajaran yang
mereka senangi sehingga siswa merasa terdorong dan terus berusaha untuk
mencapai hasil yang memuaskan sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dengan adanya minat pada diri peserta didik, maka proses
pembelajaran akan berjalan lancar dan tujuan pendidikan dapat tercapai
sesuai dengan yang diharapkan.
Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila bahan
pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa atau tidak
diminati siswa, maka siswa yang bersangkutan tidak akan belajar sebaikbaiknya, karena tidak adanya daya tarik baginya. Sebaliknya bahan
pelajaran yang diminati siswa, akan lebih mudah dipahami dan disimpan
dalam memori kognitif siswa karena minat dapat menambah kegiatan
belajar.33

3. Faktor yang Mempengaruhi Minat
Secara sederhana, minat berarti kecenderungan dan kegairahan
yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.34 Minat itu tidak
muncul dengan sendirinya melainkan adanya faktor yang menyebabkan
timbulnya minat dalam diri peserta didik tersebut. Adapun faktor yang
mempengaruhi minat di antaranya:
32

Sabri, Psikologi Pendidikan …, h. 85
Tohirin, Psikologi Pembelajaran …, h. 131
34
Syah, Psikologi Pendidikan …, h. 136

33

17

1) Orang tua. Orang tua adalah orang yang terdekat dalam keluarga, oleh
karenanya orang tua sangat besar pengaruhnya dalam menentukan
minat dalam diri siswa terhadap pelajaran sebagaimana yang dikutip
oleh Abd. Rahman Abror bahwa tidak semua siswa memulai bidang
studi baru karena faktor minatnya sendiri. Ada yang mengembangkan
minatnya terhadap bidang pelajaran tersebut karena pengaruh dari
gurunya, teman sekelasnya, atau orang tuanya. 35

2) Guru. Sikap guru yang diperlihatkankepada siswa memiliki peranan
penting dalam membangkitkan minat siswa. Apabila siswa tidak
berminat terhadap gurunya maka siswa tidak akan mau belajar. Oleh
karena itu apabila siswa tidak berminat terhadap gurunya maka
sebaiknya dibangkitkan sikap positif (sikap menerima) kepada gurunya
agar siswa mau belajar memperhatikan pelajaran.36

3) Materi Pelajaran. Bahan pelajaran akan menarik bagi siswa jika terlihat
adanya hubungan antara pelajaran dengan kehidupan nyata. Hai ini
dapat berhasil membangkitkan minat siswa jika bahan pelajaran
dikaitkan langsung dengan tematik kehidupan siswa pada saat itu.
Pelajaran akan lebih menarik jika siswa diberi kesempatan untuk dapat
giat sendiri. Kesempatan mengambil sendiri, giat secara mandiri, sudah
akan memungkinkan siswa dapat meresapkan bahan-bahan pelajaran.37

4) Media/alat pelajaran. Alat pelajaran erat hubungannya dengan cara
belajar siswa, karena alat pelajaran yang dipakai oleh guru waktu
mengajar dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan yang
diajarkan itu. Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan

35

Abror, Psikologi Pendidikan, …, h. 113
Sabri, Psikologi Pendidikan …, h. 84
37
Kurt Singer, Membina Hasrat …, h. 92

36

18

memperlancar penerimaan bahan pelajaran yang diberikan kepada
siswa.38
Media atau alat pelajaran yang menarik yang digunakan oleh guru
dalam proses pembelajaran juga dapat mempengaruhi timbulnya minat
siswa untuk mau belajar. Seorang guru yang menggunakan media
dapat menarik minat siswa untuk tetap dapat memperhatikan
penjelasan guru. Karena pada umumnya ada siswa yang cenderung
lebih giat belajarnya karena adanya penggunaan media oleh gurunya
terlebih jika siswa diikutsertakan dalam penggunaan media tersebut.

4. Indikator Minat
Ada beberapa indikator minat yang dapat dikenali atau dilihat
melalui proses belajar di kelas, di antaranya:
1. Keinginan
Keinginan itu datangnya dari nafsu/dorongan. Apabila yang dituju itu
sesuatu yang nyata/konkrit, maka nafsu itu disebut keinginan. Dari
nafsu aktif timbul keinginan untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan. 39
Dengan demikian pengertian keinginan ialah dorongan nafsu, yang
tertuju kepada sesuatu benda tertentu, atau yang kongkrit. Keinginan
yang dipraktikkan bisa menjadi kebiasaan. 40
Siswa yang berminat terhadap pelajaran pendidikan agama Islam,
maka ia akan memilki rasa keinginan yang tinggi untuk terus belajar
pendidikan agama Islam dan berusaha lebih giat untuk dapat
menguasai dan memahami materi pelajaran pendidikan agama Islam.

38

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,
2010), Cet. V, h. 67
39
M. Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Pedoman
Ilmu Jaya, 1993), Cet. I, h. 122
40
Agus Suyanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), Cet. XII, h. 86

19

2. Perasaan Senang
Perasaan termasuk gejala jiwa yang dimiliki oleh setiap orang, hanya
corak dan tingkah lakunya saja yang berbeda. Perasaan lebih erat
hubungannya dengan pribadi seseorang, oleh sebab itu perasaan antara
satu orang dengan orang lain terhadap hal yang sama pastilah berbedabeda.41
Perasaan merupakan faktor psikis non intelektual, yang khusus
berpengaruh

terhadap

semangat

belajar.

Jika

seorang

siswa

mengadakan penilaian yang agak spontan melalui perasaannya tentang
pengalaman belajar di sekolah, dan penilaian itu menghasilkan
penilaian yang positif maka akan timbul perasaan senang di hatinya,
akan tetapi jika penilaiannya negatif maka timbul perasaan tidak
senang.
Perasaan biasanya didefinisikan sebagai gejala psikis yang
bersifat subjektif yang umumnya berhubungan dengan gejala
mengenal, dan dialami dalam kualitas senang atau tidak senang
dalam berbagai taraf. Perasaan itu bersifat subjektif, banyak
dipengaruhi oleh keadaan diri seseorang. Apa yang enak, indah,
menyenangkan bagi seseorang tertentu, belum tentu juga enak,
indah menyenangkan bagi orang lain. Perasaan umumnya
bersangkutan dengan fungsi mengenal, artinya perasaan dapat
timbul karena mengamati, menanggap, mengkhayalkan,
mengingat-ingat, atau memikirkan sesuatu.42
Siswa yang berminat terhadap suatu mata pelajaran maka ia akan
memiliki perasaan senang terhadap pelajaran maupun guru mata
pelajaran tersebut. Siswa yang berminat pada pelajaran Pendidikan
Agama Islam, ia akan senang mempelajarinya dan mengikuti pelajaran
tersebut dengan penuh antusias tanpa ada beban ataupun paksaan
dalam dirinya.

41

Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju, 2004), Cet. I, h.

42

Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008),

149
h. 66

20

3. Pengetahuan
Pengetahuan atau informasi tentang seseorang atau suatu obyek pasti
harus ada lebih dahulu dari pada minat terhadap terhadap orang atau
obyek tadi. 43 Pengetahuan yang dimaksud di sini yaitu yang berkaitan
dengan seberapa besar tingkat pengetahuan siswa terhadap mata
pelajaran tertentu. Semakin besar pengetahuan yang dimiliki siswa
maka semakin besar pula minatnya untuk mempelajarinya.

Untuk mengetahui minat siswa pada suatu pelajaran tertentu maka
dapat dilihat dari pengetahuan yang dimilikinya. Siswa yang berminat
terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam, maka pengetahuan
tentang pelajaran tersebut akan lebih luas dibanding siswa yang kurang
atau tidak berminat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam,
karena siswa tersebut mengetahui manfaat yang ia dapat dari belajar
pendidikan agama Islam itu sendiri serta ia dapat lebih memahami
materi-materi yang disampaikan oleh gurunya.

4. Kebiasaan
Kebiasaan, adalah cara bertindak atau berbuat yang seragam. Pada
umumnya kebiasaan berlangsung dengan cara yang agak otomatis dan
hanya

membutuhkan

kesadaran

yang

kecil

saja

atau

tidak

membutuhkannya sama sekali tentang aktivitet yang sedang terjadi. 44
Setiap siswa yang mengalami proses belajar, kebiasaan-kebiasaannya
akan tampak berubah. Menurut Burghardt, kebiasaan itu timbul karena
proses penyusunan kecenderungan respons dengan menggunakan
stimulasi yang berulang-ulang. Dalam proses belajar, pembiasaan juga
meliputi pengurangan perilaku yang tidak diperlakukan. Karena proses

43
Witherington, Psikologi Pendidikan, Terj. dari Educational Psychology oleh M.
Buchori, h. 124
44
Witherington, Psikologi Pendidikan, Terj. dari Educational Psychology oleh M.
Buchori, h. 129

21

pengulangan inilah, muncul suatu pola bertingkah laku baru yang
relative menetap dan otomatis.45

Siswa yang mempunyai kebiasaan belajar pendidikan agama Islam
maka siswa tersebut akan selalu mengulangi pelajaran agamanya di
rumah seperti membaca buku-buku agama yang ada kaitannya dengan
materi agama dan juga kebiasaan mengerjakan tugas pelajaran agama
(PR) di rumah.

5. Perhatian
Perhatian, adalah suatu aktivitas jiwa yang bertugas selektif terhadap
rangsangan-rangsangan yang sampai kepada kita. 46
Ada bermacam-macam perhatian, di antaranya:
a) Atas dasar cara kerjanya:
(1) perhatian spontan, yaitu perhatian yang tidak sengaja atau tidak
sekehendak subyek.
(2) Perhatian refleksif, yaitu perhatian yang disengaja atau
sekehendak subyek. 47
b) Atas dasar intensitasnya, yaitu banyak sedikitnya kesadaran yang
menyertai suatu aktivitas atau pengalaman batin, maka dibedakan
meliputi:
(1) perhatian intensif
(2) perhatian tidak intensif
Makin banyak kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas atau
pengalaman batin berarti makin intensiflah perhatiannya. 48
c) Menurut luasnya, perhatian dibedakan menjadi dua, yaitu:
(1) perhatian terpusat, yaitu perhatian yang tertuju kepada lingkup
obyek yang sangat terbatas.
45

Tohirin, Psikologi Pembelajaran …, h. 94
Sabri, Pengantar Psikologi …, h. 43
47
Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1990), Cet. III, h. 32
48
Suryabrata, Psikologi Pendidikan, h. 14

46

22

(2) Perhatian terpencar, yaitu perhatian yang pada suatu saat tertuju
kepada lingkup obyek yang luas atau tertuju kepada bermacammacam obyek.
Ditinjau dari segi kepentingan belajar, pemilihan jenis perhatian
yang efektif untuk memperoleh pengalaman belajar adalah hal
yang penting bagi subyek yang belajar.49

Agar perhatian kita mencapai hasil, ada tiga hal yang perlu
diperhatikan, yaitu:
b. Segala rangsang-rangsang yang tidak ada hubungannya dengan
objek yang kita perhatikan harus kita kesampingkan.
c. Objek yang kita perhatikan itu ada hubungannya/dihubungkan
dengan sesuatu yang pernah kita kenali, maka perhatian itu akan
berlangsung lebih baik.
d. Harus ada penyesuaian diri dengan objek yang kita perhatikan. 50

Perhatian merupakan suatu aktivitas jiwa yang bertugas selektif
terhadap rangsangan-rangsangan yang sampai pada peserta didik.
Perhatian sangatlah penting dalam proses pembelajaran dan sangat
berpengaruh terhadap minat siswa dalam belajar. Siswa yang
mempunyai perhatian dalam belajar, jiwa dan pikirannya akan terfokus
dengan apa yang dipelajarinya. Guru dapat memperhatikan siswasiswa mana yang paling memperhatikan selama pelajaran berlangsung,
sehingga dapat diketahui tingkat minat siswa terhadap pelajaran
tersebut. Siswa yang berminat pada pelajaran pendidikan agama Islam
maka ia akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa
lainnya.

49
50

Sumanto, Psikologi Pendidikan, h. 33
Sabri, Pengantar Psikologi …, h. 44

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitian dilaksanakan di SMP Al-Mubarak. Penulis tertarik
untuk melakukan penelitian di sekolah ini karena SMP Al-Mubarak
merupakan salah satu sekolah yang cukup ternama khususnya di daerah
Pondok Aren. Adapun waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober
2010.

B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penyusunan skripsi ini
adalah deskriptif kuantitatif, yaitu menggambarkan dan menginterpretasikan
sesuai data yang diperoleh, kemudian juga menggunakan distribusi frekuensi
guna penghitungan hasil angket yang disebarkan kepada responden.

C. Populasi dan Sampling
Yang
penelitian.

1

dimaksud

dengan

populasi

adalah

keseluruhan

subjek

1

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT
Rineka Cipta, 2006), Cet. XIII, h. 130

24

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi sasaran adalah siswa siswi
SMP Al-Mubarak. Sedangkan populasi terjangkau adalah siswa kelas VIII di
SMP Al-Mubarak. Peneliti hanya mengambil kelas VIII saja karena peneliti
ingin memfokuskan pengamatan terhadap proses pembelajaran di kelas VIII
selain itu juga menurut informasi guru PAI bahwa nilai siswa kelas VIII pada
pelajaran PAI lebih rendah jika dibandingkan dengan kelas VII dan kelas IX.
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.2
Populasi siswa siswi SMP Al-Mubarak kelas VIII bejumlah 35 orang,
karena terbatasnya populasi, maka penulis menggunakan cara sensus. Cara
sensus yaitu cara mengumpulkan data dari populasi dengan mengambil
seluruh anggota populasi itu untuk diambil datanya. 3 Sehingga penulis
mengambil sampel sebanyak populasi yang ada yakni berjumlah 35 orang.

D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam pen

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23