Penilaian tingkat risiko dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit paru obstruktif kronik pada Masyarakat Binaan KPKM Buaran Tahun 2015

(1)

PENILAIAN TINGKAT RISIKO DAN

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA

MASYAKARAT BINAAN KPKM BUARAN FKIK UIN

SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2015

Laporan penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

Disusun oleh:

Raka Petra Prazasta

NIM: 1112103000074

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1436 H/2015 M


(2)

ii Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Laporan penelitian ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar strata I di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 12 Oktober 2015


(3)

iii

PENILAIAN TINGKAT RISIKO DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK

PADA MASYARAKAT BINAAN KPKM BUARAN FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2015

Laporan Penelitian

Ditujukan kepada Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana

Kedokteran (S.Ked)

Oleh

Raka Petra Prazasta NIM: 1112103000074

Pembimbing 1 Pembimbing 2

dr. Marita Fadhilah, PhD NIP. 19780314 200604 2 001

dr. Zulhafdy M., Sp.M NIP. 19570808 198612 1 001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 1436 H/2015 M


(4)

iv

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA MASYARAKAT BINAAN KPKM BUARAN FKIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2015 yang diajukan oleh Raka Petra Prazasta (NIM 1112103000074) telah diujikan dalam ividing Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan pada 12 Oktober 2015. Laporan penelitian ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) pada program studi Pendidikan Dokter.

Ciputat, 12 Oktober 2015 DEWAN PENGUJI

Ketua Sidang

dr. Marita Fadhilah, PhD NIP. 19780314 200604 2 001

Pembimbing I Pembimbing II

dr. Marita Fadhilah, PhD NIP. 19780314 200604 2 001

dr, Zulhafdy M., Sp.M NIP. 19570808 198612 1 001

Penguji I Penguji II

dr. Sayid Ridho, Sp.PD, FINASIM NIP. 19660629 199807 1 001

dr. Fika Ekayanti, Dpl.FM, M.Med.Ed NIP. 19790130 200604 2 001

PIMPINAN FAKULTAS

DEKAN FKIK UIN Kaprodi PSPD FKIK UIN

Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.Kes NIP. 19650808 198803 1 002

dr. Achmad Zaki, M.Epid, Sp.OT NIP. 19780507 200501 1 005


(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, berkah, dan karunia yang senantiasa tercurahkan kepada penulis.Segala kemudahan, kesehatan, dan kesemangatan senantiasa dilimpahkan oleh-Nya kepada penulis sehingga mampu menyelesaikan penelitian ini. Tidak lupa, shalawat serta salam penulis haturkan ke jungjungan Nabi Besar Muhammad SAW serta keluarga dan para sahabatnya yang telah menjadi suri tauladan bagi penulis. Dalam penelitian ini, penulis menyadari bahwa banyak sekali pihak yang turut memberikan bantuan serta dukungan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M.kes selaku dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. dr. Sardjana, SpOG (K), SH, Maftuhah, M.Kep, Ph.D, dan Fase Badriah, SKM, Mkes, Ph.D selaku pembantu dekan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2. dr. Achmad Zaki, SpOT, M.Epid selaku Kepala Program Studi Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. dr. Marita Fadhilah, PhD selaku pembimbing 1 yang telah membimbing serta memberikan motivasi dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

4. dr. Zulhafdy M, Sp.M selaku pembimbing 2 yang telah meluangkan waktunya untuk memberi saran dan kritik dalam membantu penulis menyelesaikan penelitian ini.

5. dr. Nouval Shahab, Sp.U, FICS FACS dan dr. Flori Ratna Sari, PhD selaku penanggung jawab riset PSPD 2012 yang telah memfasilitasi penulis untuk melakukan penelitian ini.

6. dr. Dwi Tyastuti, MPH, PhD selaku ketua KPKM Buaran yang ikut serta memberi saran dan kritiknya untuk uji validasi dan reliabilitas dalam penelitian ini.

7. Gubernur Sumatera Selatan, Ir. Alex Noerdin yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mendapatkan beasiswa Santri Jadi Dokter. 8. Ayahanda Agus Media Chandra, SP dan Ibunda Gaya Ratna Juwita yang

tak pernah lelah memberikan doa, dukungan, cinta dan kasih sayang. Terima kasih yang tak terhingga penulis ucapkan atas semua yang telah diberikan.

9. Adinda Raras Diva Pradipta dan Muhammad Raihan yang selalu menjadi pemacu semangat penulis untuk menyelesaikan penelitian ini.

10.Melia Fatrani Rufaidah yang selalu memberikan dan menjadi motivasi selama berlangsungnya penelitian ini, terima kasih atas segala waktu yang sudah diluangkan.


(6)

vi

perancangan judul hingga mengolah data selalu bersama-sama, semoga selalu saling menolong hingga sukses nanti.

12.Fakhri Muhammad, Fajr Muzammil, Najib Askar, Rakha Faturachman, Rizky Ananda, Hipni Solehudin, Alwi Muarif, Ahmad Khoiron, Ahmad Sofyan, Azwar Lazuardi dan teman teman lain yang selalu mengingatkan dan memberikan saran sehingga penelitian ini berjalan dengan lancar, semoga kekeluargaan kita terus berlanjut hingga nanti.

13.Official CIMSA UIN 2014/2015 khususnya Fiizhda Baqarizky dan Sari Dewi Apriana yang selalu memberikan dukungan dan doanya sehingga proses pengambilan data penelitian ini lancar.

14.Rohman Sungkono, Faisal Ravif, Siti Fauziah, dan Aris Rivaldi Wicaksono, adik-adikku yang telah memberikan semangat dan dukungannya.

15.Hisyam Ismail Hamzah, Muhammad Hanifsyah O, Muhammad Azdahar Alwi, dan Hermansyah yang bersedia meluangkan waktunya untuk berdiskusi dengan penulis.

16.Seluruh teman sejawat PSPD 2012, terima kasih atas segala yang telah kalian berikan. Semoga kesejawatan kita terus terjaga hingga kita menjadi seorang profesional.

Penelitian ini masih jauh dari kata sempurna.Penulis berharap mendapatkan saran dan kritik demi kebaikan di kemudian hari.Demikian laporan penelitian ini penulis susun, semoga dapat memberikan manfaat di dunia dan akhirat.

Ciputat, 12 Oktober 2015


(7)

vii ABSTRAK

Raka Petra Prazasta. Program Studi Pendidikan Dokter. Penilaian Tingkat Risiko dan Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada Masyarakat Binaan KPKM Buaran Tahun 2015. Penyakit Paru Obstrukktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyakit degeneratif yang paling banyak menyebabkan kematian.Peningkatan prevalensi PPOK di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan faktor risiko berupa angka konsumsi rokok dan tingkat polusi udara.Hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan angka kejadian PPOK paling banyak terdapat pada negara berkembang.Tindakan preventif merupakan cara terbaik untuk mengurangi angka kejadian PPOK.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat risiko PPOK pada komunitas KPKM Buaran. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel sebesar 134 responden yang terpilih menggunakan metode two stages cluster sampling. Responden yang terpilih akan mengisi kuesioner yang diadaptasi dari COPD Risk Screener.Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa individu pada komunitas KPKM Buaran yang memiliki risiko tinggi untuk PPOK sebanyak 5,2% dan individu yang memiliki risiko rendah untuk terjadinya PPOK sebanyak 94,8%. Berdasarkan Fisher’s Exact Test, terdapat hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, gejala awal PPOK, dan merokok dengan tingkat risiko PPOK (p-value<0,05).

Kata kunci: Penyakit Paru Obstruktif Kronik, faktor risiko, tingkat risiko, COPD Risk Screener.

ABSTRACT

Raka Petra Prazasta.Medical Education Study Program. The Assessment of Chronic Obstructive Pulmonary Disease Risk Levels and Associated Factors in the Community of KPKM Buaran in 2015.

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is currently one of degenerative disease causes most death. Increase in prevalence of COPD in Indonesia is straightly correlate with increase of risk factor such as tobacco smoking and air pollution level. It shows that the most of COPD incidence found in developing country. Prevention is the best way to reduce the incidence of COPD. The aim of this study is to identify the risk level of COPD in the community around the KPKM Buaran.This studyused cross sectional design with 134 respondents taken by two stages cluster sampling. Respondents filled the questionnaire adapted from COPD Risk Screener. The results showed the community around KPKM Buaran have risk levels COPD respectively 5,2% at high risk and 94,8% at low risk. Based on Fisher’s Exact Test, there is a significant correlation between the risk levels and age, gender, the early symptoms COPD, and tobacco smoking (p<0,05).

Key words: Chronic Obstructive Pulmonary Disease, risk factors, risk levels, COPD Risk Screener.


(8)

viii

LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... ii

LEMBAR PENGAJUAN...iii

LEMBAR PENGESAHAN ...iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTARGAMBAR ... xi

DAFTARBAGAN ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Hipotesis ... 2

1.4. Tujuan Penelitian ... 2

1.5. Manfaat Penelitian ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penyakit Paru Obstruktif Kronik ... 4

2.1.1 Definisi ... 4

2.1.2 Etiologi dan Faktor Risiko ... 4

2.1.3 Klasifikasi ... 7

2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi ... 8

2.1.5 Gejala klinis ... 9

2.1.6 Pencegahan ... 10

2.2. Chronic Obstructive Pulmonary Disease Population Screener ...10

2.3. Peranan penilaian risiko penyakit degeneratif ... 11

2.4. Kerangka Teori ... 12

2.5. Kerangka Konsep... 13

2.6. Definisi Operasional ... 13

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis dan Desain Penelitian ... 15

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 15

3.2.1. Lokasi ... 15

3.2.2. Waktu Penelitian ... 15

3.3. Populasi dan Sampel ... 15

3.3.1. Populasi ... 15

3.3.2. Sampel ... 15

3.3.3. Cara pengambilan sampel ... 16

3.3.4. Kriteria Inklusi ... 16

3.3.5. Kriteria Eksklusi ... 16

3.4. Cara Kerja Penelitian ... 17


(9)

ix

3.5.1. Pengumpulan data ... 17

3.5.2. Pengolahan data ... 17

3.5.3. Analisis data... 18

3.5.3.1. Analisis Univariat ... 18

3.5.3.2. Analisis Bivariat ... 18

3.5.4. Penyajian data ... 18

3.6. Etika Penelitian ... 18

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil uji validitas dan reliabilitas ... 19

4.1.1. Uji validitas ... 19

4.1.2. Uji reliabilitas ... 20

4.2. Analisis univariat ... 22

4.2.1. Gambaran karakteristik responden ... 22

4.2.2. Gambaran gejala awal PPOK pada responden ... 23

4.2.3. Gambaran faktor risiko PPOK pada responden ... 25

4.2.4. Gambaran tingkat risiko PPOK pada responden ... 26

4.3. Analisis bivariat ... 26

4.3.1. Hubungan karakteristik responden dengan tingkatan risiko PPOK ... 27

4.3.2. Hubungan gejala awal dengan tingkatan risiko PPOK ... 29

4.3.3. Hubungan faktor risiko dengan tingkatan risiko PPOK ... 31

4.4 Kelebihan penelitian ... 32

4.5 Kekurangan penelitian ... 32

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan ... 33

5.2. Saran ... 33

DAFTAR PUSTAKA ... 34


(10)

x

Tabel 2.1 Definisi Operasional ... 13

Tabel 4.1 Hasil uji validitas pada item kuesioner ... 20

Tabel 4.2 Hasil uji reliabilitas ... 21

Tabel 4.3 Hasil uji reliabilitas item kuesioner ... 21

Tabel 4.4 Sebaran karakteristik responden... 22

Tabel 4.5 Sebaran gejala awal PPOK pada responden ... 24

Tabel 4.6 Sebaran faktor risiko PPOK pada responden ... 25

Tabel 4.7 Sebaran tingkat risiko PPOK pada responden... 26

Tabel 4.8 Hubungan jenis kelamin dengan tingkat risiko PPOK ... 27

Tabel 4.9 Hubungan usia dengan tingkat risiko PPOK ... 28

Tabel 4.10 Hubungan status pekerjaan dengan tingkat risiko PPOK ... 28

Tabel 4.11 Hubungan sesak dengan tingkat risiko PPOK... 29

Tabel 4.12 Hubungan masalah pernapasan dengan tingkat risiko PPOK... 30

Tabel 4.13 Hubungan produksi dahak dengan tingkat risiko PPOK ... 30

Tabel 4.14 Hubungan konsumsi rokok dengan tingkat risiko PPOK ... 31


(11)

xi

DAFTAR GAMBAR


(12)

xii

Bagan 2.1 Skema pelayanan kesehatan pribadi dan hubungan antara

pasien dengan komponen lainnya ... 11

Bagan 2.2 Aplikasi pelayanan prospektif di komunitas ... 12

Bagan 2.3 Kerangka teori ... 12


(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat permohonan komite etik ... 36

Lampiran 2 Surat tanda terima komite etik ... 37

Lampiran 3 Lembar surat persetujuan responden ... 38

Lampiran 4 COPD Risk Screener ... 40

Lampiran 5 Kuesioner penelitian... 41

Lampiran 6 Hasil uji validitas dan reliabilitas ... 44

Lampiran 7 Hasil uji statistik ... 46

Lampiran 8 Dokumentasi ... 53


(14)

1 1.1 Latar Belakang Penelitian

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut World Health Organization (WHO), 65 juta orang menderita PPOK dan lebih dari 3 juta orang meninggal dunia akibat menderita PPOK. Pada tahun 2002, PPOK masuk ke dalam kategori lima besar penyakit dengan tingkat mortalitas yang tinggi. Angka kematian akibat PPOK diperkirakan akan meningkat sebesar 30% dalam 10 tahun mendatang jika tidak ada tindakan preventif untuk mengurangi kebiasaan yang menjadi faktor risiko penyebab PPOK, terutama konsumsi rokok. WHO mengestimasikan PPOK akan masuk kategori tiga besar penyakit dengan angka mortalitas yang tinggi pada tahun 2030.1,2,3

Di Indonesia, PPOK adalah salah satu penyebab kematian utama. Perkiraan prevalensi PPOK pada laki-laki berusia ≥ 30 tahun sebesar 1,6% dan pada perempuan sebesar 0,9 dengan angka prevalensi keseluruhan adalah sebesar 3,7%. Peningkatan prevalensi PPOK di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan faktor risiko berupa angka konsumsi rokok, tingkat polusi udara, dan umur harapan hidup.4

Menurut WHO, penyebab utama terjadinya PPOK adalah rokok, baik perokok aktif maupun pasif. WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2005 sekitar 5,4 juta orang meninggal karena merokok. Kematian yang terkait dengan konsumsi rokok diproyeksikan dapat mencapai angka 8,3 juta kematian per tahun pada tahun 2030.1,5,6

Beberapa faktor risiko penyebab PPOK selain rokok adalah usia, polusi udara, senyawa kimia yang berbentuk gas. Meskipun merokok merupakan penyebab utama PPOK, data yang didapatkan dari WHO menyebutkan bahwa sekitar 400.000 kematian per tahun terjadi akibat paparan gas sisa bahan bakar.1,3

PPOK merupakan penyakit kronik progresif yang ireversibel. Pengobatan untuk penyakit PPOK diberikan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup dari penderita. Namun, PPOK merupakan penyakit yang dapat


(15)

 

 

2

dicegah. WHO menyebutkan bahwa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan mencegah pemaparan terhadap faktor risiko penyebab PPOK.3,6

Upaya pencegahan PPOK di Indonesia sendiri masih sangat kurang. Tidak ada penjaringan atau program khusus yang dilakukan institusi kesehatan untuk mencegah terjadinya PPOK. Menurut Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), pencegahan yang dilakukan berupa upaya untuk menghindari asap rokok, polusi udara, infeksi saluran napas berulang, dan mengenali gejala awal dari PPOK tersebut.7

Pencegahan seperti menghindari asap rokok baik untuk perokok aktif atau pasif bisa menjadi salah satu pencegahan yang efektif karena perokok aktif di Indonesia masih cukup banyak terutama di usia 30-34 tahun sebesar 33,4% dan lebih banyak pada laki-laki. Selain asap rokok, kejadian infeksi saluran napas berulang juga bisa menjadi faktor risiko yang perlu dicegah karena angka kejadian infeksi saluran napas di Indonesia sebesar 25%.4

Penilaian tingkat risiko untuk mengalami PPOK pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bagi individu untuk mengendalikan atau menghindari paparan faktor risiko dan lebih mengenal gejala-gejala awal PPOK sehingga angka kejadian PPOK ini semakin tahun akan semakin dapat berkurang.

1.2 Rumusan Masalah

Mengetahui bahwa PPOK merupakan penyakit yang tidak bisa diobati dan mudah terjadi karena faktor risiko yang dimiliki oleh seorang individu, maka diperlukan adanya identifikasi dini dari tingkat risiko individu untuk mengalami PPOK sehingga dapat mengurangi angka kejadian PPOK. Dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana gambaran tingkat risiko penyakit paru obstruktif kronik pada masyarakat di Kelurahan Buaran?

2. Bagaimana hubungan antara tingkat risiko PPOK dengan jenis kelamin, usia, status pekerjaan, gejala awal PPOK, dan perilaku merokok?


(16)

 

1.3 Hipotesis

1. Masyarakat binaan KPKM Buaran tahun 2015 lebih dari 30% berisiko tinggi untuk mengalami PPOK.

2. Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat risiko PPOK dengan jenis kelamin, usia, status pekerjaan, gejala awal PPOK, dan perilaku merokok.

1.4 Tujuan Penelitian 1.4.1 Tujuan Umum

Teridentifikasinya individu dengan risiko tinggi terhadap penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui sebaran tingkat risiko PPOK pada masyarakat binaan KPKM Buaran.

b. Untuk mengetahui hubungan antara paparan faktor risiko dan gejala awal dengan tingkat risiko yang dimiliki oleh subyek penelitian.

1.5 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, yaitu

a. Bagi subyek penelitian, dapat memberikan informasi paparan faktor risiko sehingga dapat dilakukan pencegahan terhadap PPOK.

b. Sebagai data untuk institusi agar dapat membantu menurunkan angka kejadian PPOK.


(17)

4

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Paru Obstruktif Kronik 2.1.1 Definisi

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) adalah penyakit obstruksi saluran napas yang bersifat kronik dan progresif, karakteristik penyakit ini berupa keterbatasan aliran udara yang bersifat ireversibel dan penurunan fungsi paru yang disebabkan oleh bronkitis kronik, emfisema, atau keduanya. Penyebab utama PPOK adalah respon inflamasi berlebihan pada organ paru yang berlangsung kronis dan progresif. Respon inflamasi ini disebabkan oleh polusi udara, terutama asap rokok.1,3,5,16

Bronkitis kronik merupakan peradangan saluran napas di bagian bronkus yang terjadi secara progresif dan kronik. Inflamasi pada saluran napas akan menimbulkan manifestasi berupa batuk, sehingga pada pasien dengan bronkitis kronik akan muncul gejala klinis berupa batuk yang terjadi hampir setiap hari selama sekurang-kurangnya tiga bulan dalam satu tahun.3,5,16

Emfisema merupakan penyakit paru obstruktif dimana permukaan alveolus menjadi rusak akibat paparan zat-zat polusi udara sehingga menyebabkan pengembangan berlebihan alveolus paru. 3,5,16

2.1.2 Etiologi dan Faktor Risiko

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko dan mempengaruhi perkembangan penyakit PPOK, yaitu:

a. Kebiasaan merokok

Pada individu yang merupakan perokok berat, kemungkinan untuk menderita PPOK menjadi lebih tinggi daripada individu yang tidak mengonsumsi rokok.

Merokok merupakan faktor risiko utama terjadinya PPOK. Sebanyak 80% kematian penderita PPOK merupakan pasien yang mengonsumsi rokok. Wanita perokok mempunyai kemungkinan meninggal oleh karena PPOK


(18)

13 kali lebih banyak dibandingkan wanita yang bukan perokok. Pria yang merokok mempunyai kemungkinan 12 kali lebih besar dibandingkan yang bukan perokok.2,9,10

Prevalensi dari individu yang mengalami obstruksi saluran napas ringan sampai berat banyak terjadi pada individu berusia 35-60 tahun yang mengonsumsi rokok.2,9

b. Genetik

Faktor genetik yang diketahui paling berpengaruh adalah defisiensi alfa-1 antitrypsin (AAT). AAT merupakan enzim yang berfungsi sebagai inhibitor serin protease. Protease merupakan enzim yang berfungsi untuk mendegradasi protein. Dalam kasus ini, protein yang dipecah merupakan komponen penyusun dinding alveolus. Protease dapat dihasilkan oleh bakteri, PMN, monosit, dan makrofag ketika terjadi proses peradangan. AAT berperan mencegah porses degradasi dinding alveolus, sehingga pada individu yang menderita defisiensi AAT tidak akan ada enzim yang mencegah protease sehingga terjadi degradasi dinding alveolus.6

c. Polusi udara

Paparan pasif asap rokok (environmental tobacco smoke atau ETS) juga berperan dalam menimbulkan masalah pada PPOK. Asap rokok yang terhirup perokok pasif dapat meningkatkan peradangan pada sistem respirasi.2,6,8

Paparan akibat zat-zat kimia pada pekerja, baik zat organic, inorganic, dan bahan kimia merupakan faktor risiko PPOK yang kurang diperhatikan. Menurut survei yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Survey (US-NHANES) dengan populasi hampir sepuluh ribu orang dewasa berusia 30-75 tahun, didapatkan data bahwa penderita PPOK yang disebabkan paparan akibat kerja mencapai angka 19,2% dan terdapat sekitar 30,1% penderita PPOK yang tidak mengonsumsi rokok. Kotoran hewan, kayu, dan zat-zat residu pembakaran merupakan penyebab utama polusi udara.2,6,8


(19)

  6

d. Asma/Hipersensitivitas Bronkus

Asma mungkin juga merupakan faktor risiko PPOK meskipun belum ada bukti yang pasti mengenai hal tersebut. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh European Community Respiratory Health Survey, hipersensitivitas bronkial merupakan faktor risiko PPOK tertinggi kedua setelah merokok. Sekitar 15% penderita PPOK merupakan individu yang mengidap hipersensitivitas bronkial. 6,8,12

e. Infeksi

Riwayat penyakit infeksi saluran respirasi yang berat pada usia muda diketahui berpengaruh terhadap penuurunan fungsi paru. Kerentanan terhadap infeksi berperan dalam eksaserbasi PPOK, namun belum diketahui secara pasti hubungan antara infeksi dan progresivitas PPOK. Infeksi HIV dapat mempercepat onset dari smoking-related emphysema. Tuberkulosis juga merupakan faktor risiko PPOK dan dapat digunakan sebagai diagnosis banding terhadap PPOK. 2,6,12

f. Faktor lainnya

Status sosioekonomi merupakan salah satu faktor risiko terjadinya PPOK meskipun hubungan diantara keduanya masih belum terlalu jelas. Individu dengan status ekonomi yang rendah lebih rentan terpapar polutan, rentan terhadap infeksi, dan intake nutrisi yang rendah.8,12

g. Jenis kelamin

Jenis kelamin diketahui berpengaruh terhadap PPOK. Sebanyak 2,3-8,4% kematian yang disebabkan PPOK, laki-laki mempunyai proporsi yang lebih besar dibandingkan perempuan. Beberapa studi menyebutkan bahwa perempuan lebih rentan terhadap efek asap rokok dibandingkan pria. Perempuan yang berusia di bawah 55 tahun lebih rentan untuk menderita PPOK. Hal ini disebabkan karena saluran napas dan volume paru yang dimiliki oleh perempuan lebih kecil jika dibandingkan dengan laki-laki.3,6


(20)

2.1.3 Klasifikasi

Pedoman PPOK yang ditulis oleh Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (GOLD) dan National Institute for Health and Care

Excellence merekomendasikan bahwa obstruksi dapat didefinisikan sebagai rasio

dari Forced Expiratory Volume (FEV1)/ Forced Vital Capacity (FVC) yang

kurang dari 0,70.9

Berikut ini merupakan klasifikasi dari PPOK : a. Stadium 1 (PPOK ringan)

Keterbatasan aliran udara ringan (FEV1/FV C < 70%, FEV1 ≥ 80%).

Terkadang disertai batuk kronik dan produksi sputum berlebihan. Pada stadium ini, individu yang mengalami gejala tersebut tidak mengetahui bahwa fungsi parunya abnormal.9,19,20

b. Stadium II (PPOK sedang)

Terjadi perburukan aliran udara (FEV1/FVC < 70%, 50% ≤ FEV1 <

80%). Terdapat sesak napas yang timbul pada saat melakukan aktivitas berat. Pada stadium ini, pasien biasanya akan melakukan konsultasi dengan dokter karena mengalami gejala respirasi yang kronik. 9,19,20 c. Stadium III (PPOK berat)

Terjadi perburukan yang lebih berat dibandingkan stadium sedang (FEV1/FVC < 70%, 30% ≤ FEV1 < 50%). Terdapat sesak napas yang lebih berat. Keterbatasan melakukan latihan dan peningkatan frekuensi eksaserbasi. 9,19,20

d. Stadium IV (PPOK sangat berat)

Keterbatasan aliran udara yang sangat berat (FEV1/FVC < 70%; FEV1 < 30% atau FEV1< 50%). Terdapat gagal napas kronik. Pada stadium

ini, kualitas hidup pasien sangat terganggu dengan eksaserbasi yang mengancam nyawa pasien. 9,19,20


(21)

  8

2.1.4 Patogenesis dan Patofisiologi

Pasien penderita PPOK akan mengalami proses inflamasi pada saluran napas. Proses inflamasi pada PPOK tidak diketahui dengan pasti karena terdapat gabungan beberapa proses yang bergantung kepada etiologi dan pengaruh genetik yang dimiliki oleh pasien. Stres oksidatif dan produksi enzim protease berlebihan yang terjadi pada paru dapat mengubah proses inflamasi yang terjadi. Stres oksidatif yang terjadi dapat ditandai dengan munculnya biomarker seperti hidrogen peroksida, 8-isoprostan, dll.1,2,10,

Beberapa mekanisme inflamasi tersebut dapat memberikan gambaran patognomonik PPOK. Zat-zat oksidan tersebut berasal dari rokok yang dikonsumsi, partikel kimia yang terinhalasi, dan zat yang dilepaskan oleh sel-sel inflamasi yang teraktivasi seperti makrofag dan neutrofil. 9,10,17

Pada pasien-pasien PPOK juga didapatkan ketidakseimbangan antara protease yang memecah jaringan ikat dan komponen dinding alveolus dan enzim-enzim yang mencegah proses tersebut seperti alfa-1 antitrypsin (AAT). Beberapa protease yang dihasilkan oleh sel-sel proinflamasi mengalami peningkatan pada pasien PPOK. Elastin yang merupakan komponen utama jaringan parenkim paru mengalami destruksi ireversibel yang diinduksi oleh protease. Hal ini merupakan salah satu gambaran khas yang terjadi pada PPOK.8,9,16

Beberapa studi menunjukkan bahwa sel endotel dan epitel paru pada pasien PPOK mengalami kematian. Selain itu, peningkatan jumlah kematian sel septal alveolus juga berhubunbgan dengan penurunan vascular endothelial growth

factor (VEGF) dan reseptor VEGFR-2 yang terdapat pada pasien dengan


(22)

2.1.5 Gejala klinis

Gejala klinis yang paling sering muncul pada PPOK adalah batuk, peningkatan produksi mukus, dan sesak napas akibat peningkatan aktivitas. Gejala klinis dari PPOK akan berjalan progresif. Peningkatan frekuensi dan kualitas gejala klinis akan terjadi dalam proses bertahap. Pada stadium yang sangat parah, sesak napas akan dirasakan pasien dalam keadaan melakukan aktivitas yang sangat minimal. Pada keadaan ini, akan didapatkan manifestasi berupa hipoksemia dan pasen membutuhkan suplementasi oksigen.8,16

Stadium awal PPOK tidak akan menimbulkan gejala apapun sehingga pada saat pemeriksaan fisik pasien akan didapatkan hasil normal. Tanda-tanda perokok aktif akan tercium aroma rokok dan tanda warna nikotin pada kuku pasien. Pada pasien dengan stadium berat, ketika pemeriksaan fisik akan didapatkan pemanjangan fase ekspirasi dan wheezing ekspiratorik. Hiperinflasi yang ditandai dengan barrel chest dan peningkatan volume paru akan terlihat jika dilakukan perkusi. Pasien dengan predominan emfisema dideskripsikan ‘pink puffer’ karena tidak terdapatnya sianosis, namun terlihat penggunaan otot aksesoris untuk bernapas. Pasien dengan bronkhitis kronik akan dideskripsikan ‘blue bloater’ karena sianosis lebih terlihat dan terjadi retensi cairan. Stadium

Gambar 2.1


(23)

  10

yang sangat berat terkadang disertai systemic wasting yang ditandai dengan penurunan berat badan.5,8,16

2.1.6 Pencegahan

PPOK merupakan penyakit dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Tindakan preventif akan sangat berguna untuk mengurangi angka penderita PPOK. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mencegah PPOK, yaitu :

1. Hindari konsumsi rokok

Penghentian konsumsi rokok dapat mengurangi risiko terjadinya PPOK, terutama pada penderita defisiensi AAT. Individu dengan defisiensi AAT, jika diberikan AAT akan menurunkan risiko untuk menderita PPOK.4,18

2. Hindari polusi udara

Polusi udara seperti zat kimia dan zat sisa pembakaran dapat menyebabkan PPOK meskipun dengan kemungkinan jauh lebih kecil dibandingkan dengan konsumsi rokok. Namun, paparan zat tersebut dapat memperparah kondisi pasien yang sudah menderita PPOK.4,18

2.2 Chronic Obstructive Pulmonary Disease Population Screener

Chronic Obstructive Pulmonary Disease Population Screener (COPD-PS)

adalah kuesioner yang sudah pernah divalidasi pada 698 pasien dengan usia lebih dari 35 tahun yang mengunjungi klinik paru di United States. COPD-PS ini bisa digunakan untuk orang yang belum pernah didiagnosis PPOK. Kuesioner COPD-PS berisi 5 pertanyaan yang merupakan pertanyaan tersering yang ditanyakan untuk mendiagnosis PPOK (kuesioner terlampir di lampiran). 13

Penilaian kuesioner yang sudah diisi menggunakan skoring yang terdapat pada kuesioner tersebut. Jika hasil skoringnya adalah 5 atau lebih maka individu tersebut sudah termasuk ke dalam risiko tinggi mengalami PPOK. Skor 5 atau lebih dari hasil kuesioner COPD-PS ini mempunyai sensitivitas sebesar 84,4% dan spesifisitas 60,7%. Walaupun hasil dari spesifitasnya kecil tetapi dengan


(24)

sensitivitas yang tinggi ini bisa menentukan pasien untuk pemeriksaan lanjutan berupa spirometri.13

Validasi yang dilakukan tidak hanya pada pasien yang mendatangi klinik paru di US, tetapi juga dilakukan pada masyarakat umum dengan menggunakan survey online pada website www.copd-screener.com.13

2.3 Peranan Penilaian Risiko Penyakit Degeneratif

Penyakit degeneratif seperti salah satunya penyakit paru obstruktif kronik merupakan sesuatu yang dapat dicegah dengan melakukan penilaian faktor risiko yang ada pada pasien. Faktor risiko tersebut berupa genetik, lingkungan, dan aspek gaya hidup. Upaya promosi kesehatan yang baik memerlukan beberapa komponen, salah satunya berupa profil kesehatan pasien. Dari profil kesehatan pasien tersebut diharapkan dokter dapat melihat risiko apa yang ada di pasien dan melakukan intervensi yang sesuai sebelum risiko tersebut menjadi suatu penyakit kronis. Penilaian risiko pada pasien di komunitas terbagi menjadi tiga kelompok yaitu risiko rendah, tinggi, dan penderita penyakit kronis.14

Bagan 2.1 Skema pelayanan kesehatan pribadi dan hubungan antara pasien dan komponen lainnya.14


(25)

  12

Bagan 2.2 Aplikasi pelayanan prosektif di komunitas.14

2.4 Kerangka Teori


(26)

2.5 Kerangka Konsep

Bagan 2.4 Kerangka konsep

2.6 Definisi Operasional

Tabel 2.1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi operasional Alat ukur Skala

ukur Hasil ukur 1. Sesak

Nafas

Kesulitan bernafas selama 4 bulan terakhir.13

Kuesioner Ordinal 0. Tidak pernah 0. Jarang (kurang dari

10 kali)

1. Beberapa kali (kurang dari 25 kali)

2. Sering (lebih dari 25 kali) 2. Setiap saat

2. Aktivitas Mengalami

keterbatasan dalam aktivitas sehari-hari selama 12 bulan terakhir akibat sesak nafas.13

Kuesioner Ordinal 0. Sangat tidak setuju 0. Tidak setuju 0. Tidak yakin 1. Setuju 2. Sangat setuju


(27)

  14

3. Produksi dahak

Mengalami atau merasakan saluran napas dipenuhi oleh dahak atau lendir.13

Kuesioner Ordinal 0. Tidak pernah 0. Hanya ketika infeksi saluran nafas atas

1. Ya, beberapa hari per bulan.

1. Ya, beberapa hari per minggu. 2. Ya, setiap hari 4. Merokok Sedang

mengkonsumsi rokok selama hidup lebih dari 100 batang.13

Kuesioner Ordinal 0. Tidak/tidak tahu 2. Ya

5. Usia Usia partisipan > 35 tahun.13

Kuesioner Ordinal 0. 35 - 49 tahun

1. 50 - 59 tahun

2. 60 - 69 tahun 2. >70 tahun 6. Tingkat

risiko PPOK

Tingkat risiko PPOK ini digunakan untuk melihat kemungkinan mengalami PPOK dalam beberapa tahun kemudian sebagai bentuk pencegahan awal.13

COPD-PS Ordinal 1. Risiko tinggi: skoring 5-10 2. Risiko rendah:


(28)

15

3.1. Jenis dan Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif-analitik dengan menggunakan desain cross sectional.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi

Penelitian ini dilaksanakan di RT 001/003, RT 001/004, dan RT 003/005 di wilayah binaan KPKM Buaran FKIK UIN Syarif Hidayatullah.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan September tahun 2014 sampai bulan Agustus tahun 2015.

3.3. Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah masyarakat di RT 001/003, RT 001/004, dan RT 003/005 di wilayah binaan KPKM Buaran FKIK UIN Syarif Hidayatullah yang berusia lebih dari 35 tahun pada tahun 2015.

3.3.2 Sampel

Untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini digunakan rumus seperti berikut:

1=2=(

�� 2��+�� �11+22) ! (�1−�2) !

Keterangan:

n = Jumlah sampel yang dibutuhkan

Z� = Deviat baku alfa pada derajat kepercayaan 95% dengan hipotesis

dua arah yaitu sebesar 1,96


(29)

 

 

16

P1 = Proporsi kejadian PPOK yang mendapat pengaruh dari usia ≥ 60 

tahun sebesar 0,714.13

P2 = Proporsi kejadian PPOK yang mendapat pengaruh dari usia < 60 tahun sebesar 0,286.13

P = Proporsi total: (P1+P2)/2 Q1 = 1-P1

Q2 = 1-P2 Q = 1-P

1=2=(1,

96 2 0,5 0,5 +0,84 0,714 0,286 + 0,286 0,714 ) ! (0,7140,286) !

1=2=(1,

386+0,537!

0,183 �1=2=20,20218

Sampel yang digunakan untuk penelitian ini berdasarkan perhitungan besar sampel adalah sebesar 20 orang di setiap kelompok sehingga jumlah total minimal sampel adalah sebesar 40 orang.

3.3.3 Cara Pengambilan Sampel

Penelitian ini menggunakan two stage random sampling. Pemilihan awal yaitu dipilih RW yang menjadi binaan KPKM Buaran FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dari RW tersebut dipilih satu RT di setiap RW. Warga dari setiap RT dipilih random sebanyak 40 orang.

3.3.4 Kriteria Inklusi

‐ Masyarakat yang tinggal di daerah binaan KPKM Buaran FKIK UIN Syarif Hidayatullah

‐ Usia responden diatas 35 tahun

‐ Belum pernah didiagnosis oleh dokter menderita PPOK

3.3.5 Kriteria Eksklusi


(30)

 

3.4. Cara Kerja Penelitian

Penelitian ini menggunakan kuesioner yang sudah dikembangkan dari

COPD Risk Screener untuk menilai tingkat risiko seseorang terhadap Penyakit Paru Obstruktif Kronik.

Responden yang sudah terpilih dengan two stage cluster sampling

didatangi oleh peneliti dan dilakukan wawancara terpimpin dengan lima pertanyaan yang ada pada COPD Risk Screener yang sudah diadaptasi. Setelah dilakukan wawancara terpimpin, hasil dimasukan kedalam skoring yang terdapat pada COPD Risk Screener tersebut untuk dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada 30 responden dan selanjutnya dianalisis dengan analisis univariat dan bivariat.

3.5. Manajemen Data

3.5.1 Pengumpulan Data

- Data primer

Data primer diperoleh dari hasil kuesioner yang dibagikan pada masyarakat RT 001/003, RT 001/004 dan RT 003/005 disekitar KPKM Buaran yang telah dipilih dengan two stage cluster sampling serta memenuhi kriteria inklusi.

- Alur pengumpulan data

3.5.2 Pengolahan Data

Data yang telah dikumpulkan dari responden akan diolah dengan menggunakan program computer software SPSS versi 20. Tahapan pengolahan data yaitu coding, editing, entry data, dan cleaning.


(31)

 

 

18

3.5.3 Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan dua tahapan yaitu analisis univariat dan analisis bivariat.

3.5.3.1 Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik dari variabel independen dan dependen. Keseluruhan data yang ada dalam kuesioner diolah dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

3.5.3.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara variable independen dan variabel dependen dengan menggunakan analisis uji chi-square, bila syarat uji chi-square tidak terpenuhi maka akan digunakan uji fisher exact.

3.5.4 Penyajian Data

Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tekstular dan tabular.

3.6. Etika Penelitian

Jenis penelitian ini sudah melewati kaji etik serta dalam pelaksanaannya telah melewati informed consent.


(32)

19

4.1 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas

Uji validitas isi kuesioner ini dilakukan untuk menilai apakah isi instrumen mempunyai validitas yang baik atau kurang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, maka uji validitas dilakukan untuk menilai item kuesioner yang valid maupun kurang valid. Selain itu, validitas juga dilakukan untuk mengukur kesesuaian alat yang digunakan untuk penelitian eksperimenter.

Uji reliabilitas berfungsi untuk mengukur ketepatan alat ukur yang digunakan dalam penelitian. Ketepatan alat ukur dapat diketahui dengan analisis statistik untuk mengetahui kesalahan ukur. Instrumen dapat dianggap reliabel jika instrumen tersebut dapat dipercaya sebagai alat ukur data yang diambil dalam penelitian.

Uji validitas dan reliabilitas dilakukan di daerah KPKM Buaran dengan jumlah responden sebanyak tiga puluh orang. Responden terdiri dari 18 orang perempuan dan 12 orang laki-laki dengan rata-rata usia 50 tahun. Pengolahan data uji validitas dan reliabilitas ini menggunakan program aplikasi SPSS versi 20.

4.1.1 Uji Validitas

Suatu item dalam instrument dapat dikatakan mempunyai validitas yang baik jika hasil Pearson Correlation lebih besar daripada koefisien korelasi sederhana (tabel r). Tabel r yang digunakan pada uji validitas ini bernilai 0,361 dengan N=30 dan tingkat signifikansi sebesar 1%.


(33)

 

 

20

No. Item Kuesioner Pearson

Correlation

P Value

(2-tailed) Tabel r Keterangan

1. Usia 0,523 0,003 0,361 Baik

2. Perokok 0,707 0,000 0,361 Baik

3. Sesak nafas dalam 4 minggu

terakhir 0,795 0,000 0,361 Baik

4. Dahak dan lendir saat batuk 0,829 0,000 0,361 Baik

5.

Aktivitas terganggu karena pernapasan selama 12 terakhir

0,761 0,000 0,361 Baik

Hasil uji validitas item kuesioner yang ditanyakan pada penelitian ini menunjukkan bahwa semua item yang memiliki validitas yang baik. Semua item kuesioner tersebut dapat dimasukkan ke dalam kuesioner untuk menentukan penilaian risiko yang mengacu pada kuesioner COPD Risk Screener.

4.1.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur ketepatan alat ukur. Instrumen dapat dianggap reliabel jika instrumen tersebut dapat dipercaya sebagai alat ukur data yang diambil dalam penelitian. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha. Hasil dari uji reliabilitas ini dapat dilihat dengan kriteria pembagian dari interpretasi nilai Cronbach’s Alpha, yaitu sebagai berikut :

1. Reliabilitas sangat lemah : Cronbach’s Alpha 0,00 - 0,20 2. Reliabilitas lemah : Cronbach’s Alpha 0,21 - 0,40 3. Reliabilitas sedang : Cronbach’s Alpha 0,42 - 0,60 4. Reliabilitas kuat : Cronbach’s Alpha 0,61 - 0,80 5. Reliabilitas sangat kuat : Cronbach’s Alpha 0,81 - 1,00


(34)

 

Tabel 4.2 Hasil uji reliabilitas

Hasil Cronbach’s Alpha dari uji reliabilitas tersebut menyatakan bahwa instrumen kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini bernilai adalah 0,768. Jika dimasukkan ke dalam kriteria pembagian interpretasi nilai Cronbach’s Alpha maka instrumen tersebut termasuk ke dalam kriteria reliabilitas yang kuat.

Tabel 4.3 Hasil uji reliabilitas item kuesioner

No. Item Kuesioner Cronbach’s Alpha if

item deleted Keterangan

1. Usia 0,784 Baik

2. Perokok 0,680 Baik

3. Sesak nafas dalam 4 minggu

terakhir 0,548 Baik

4. Dahak dan lendir saat batuk 0,556 Baik

5.

Aktivitas terganggu karena pernapasan selama 12 terakhir

0,568 Baik

Dari hasil uji reliabitilitas pada item kuesioner, didapatkan bahwa reliabilitas dari setiap item kuesioner kuat. Hal ini mengartikan bahwa pertanyaan yang diberikan kepada responden konstan atau stabil. Setiap item yang terdapat dalam kuesioner tersebut akan dimasukkan ke dalam kuesioner untuk kepentingan scoring dan analisis data. Beberapa pertanyaan akan ditambahkan untuk mengantisipasi ketidakpahaman responden.

Cronbach’s Alpha Jumlah item


(35)

 

 

22

4.2 Analisis Univariat

Variabel yang terdapat pada penelitian ini akan dideskripsikan dengan analisis univariat yang akan memberikan gambaran terhadap karakteristik responden. Variabel bebas pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, pekerjaan, jenjang pendidikan terakhir, faktor risiko dan gejala PPOK. Variabel terikat pada penelitian ini adalah risiko rendah dan tinggi dari PPOK. Sampel pada penelitian ini berjumlah 134 responden dengan batas minimal sampel berjumlah 40 responden.

4.2.1 Gambaran karakteristik responden

Karakteristik responden penelitian ini digambarkan melalui sebaran responden berdasarkan jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan jenjang pendidikan terakhir.

Tabel 4.4 Sebaran karakteristik responden. (N=134)

Variabel Kategori N %

Jenis kelamin Laki-laki 41 30,6

Perempuan 93 69,4

Usia 35-59 tahun 109 81,3

60 tahun 25 18,7

Pekerjaan Bekerja 46 34,3

Tidak bekerja 88 65,7

Pendidikan terakhir Rendah 76 56,7

Menengah 56 41,8

Tinggi 2 1,5

Dari tabel 4.3 didapatkan bahwa responden laki-laki berjumlah 41 orang (30,6%) dan responden perempuan berjumlah 93 orang (69,4%)

Responden pada range usia 35-59 tahun berjumlah 109 orang (81,3%) sedangkan responden yang berusia lebih dari 60 tahun berjumlah 25 orang (18,7%). Usia seluruh responden sesuai dengan kriteria inklusi, yaitu lebih dari 35 tahun.


(36)

 

Pekerjaan responden terbagi menjadi dua kategori, yaitu bekerja dan tidak bekerja. Sebanyak 46 responden (34,3%) bekerja sedangkan sebanyak 88 responden (65,7%) tidak bekerja.

Pendidikan terakhir responden dibagi menjadi tiga kategori, yaitu pendidikan terakhir rendah, menengah, dan tinggi. Kelompok yang termasuk dalam kategori pendidikan terakhir rendah adalah responden yang tidak sekolah, tidak lulus SD, dan lulus SD. Kelompok yang termasuk dalam kategori pendidikan terakhir menengah adalah responden yang telah lulus SMP dan lulus SMA. Kelompok yang termasuk dalam kategori pendidikan terakhir tinggi adalah responden yang telah lulus perguruan tinggi atau sarjana. Dari tabel diatas, sebanyak 76 responden (56,7%) termasuk dalam kategori pendidikan rendah, 56 responden (41,8%) termasuk dalam kategori pendidikan terakhir menengah, dan 2 responden (1,5%) berpendidikan tinggi.

4.2.2 Gambaran gejala awal PPOK pada responden

Variabel gejala PPOK pada penelitian ini diambil berdasarkan gejala yang termasuk ke dalam item kuesioner COPD Risk Screener. Gejala-gejala tersebut merupakan gejala PPOK yang dapat dideteksi sedini mungkin sehingga responden dapat menghindari faktor yang berisiko menyebabkan PPOK.


(37)

 

 

24

Tabel 4.5 Sebaran gejala awal PPOK pada responden

Variabel Kategori N %

Sesak napas

Tidak pernah 114 85,1

Jarang 11 8,2

Beberapa kali 2 1,5

Sering 3 2,2

Setiap saat 4 3,0

Produksi dahak

Tidak pernah 53 39,6

Ketika ISPA 70 52,2

Beberapa hari setiap bulan 4 3,0

Setiap hari 7 5,2

Aktivitas anda terganggu oleh masalah pernapasan

Sangat tidak setuju 65 48,5

Tidak setuju 49 36,6

Tidak yakin 4 3,0

Setuju 13 9,7

Sangat setuju 3 2,2

Dari tabel 4.5 didapatkan bahwa sebanyak 114 responden (85,1%) tidak pernah mengalami sesak napas, 11 responden (8,2%) jarang mengalami sesak napas, 2 responden (1,5%) beberapa kali mengalami sesak napas, 3 responden (2,2%) sering mengalami sesak napas, dan 4 responden (3,0%) mengalami sesak napas setiap saat.

Untuk responden yang sering dan setiap saat mengalami sesak napas segera disarankan untuk melakukan pemeriksaan spirometri untuk mengetahui apakah responden tersebut mengalami sesak napas yang dikarenakan PPOK atau sesak napas karena penyakit lain seperti gagal jantung, asma, dan lain sebagainya. Selain itu juga responden tersebut diberikan pertanyaan lebih lanjut mengenai sesak napas yang dialami untuk mengetahui etiologi penyebab sesak napas. 5,10,14


(38)

 

Dari tabel 4.5 didapatkan bahwa sebanyak 53 responden (39,6%) tidak pernah mengeluarkan dahak atau lendir, 70 responden (52,2%) mengeluarkan dahak hanya ketika ISPA, 4 responden (3,0%) mengeluarkan dahak hanya beberapa hari setiap bulan, dan 7 responden menyatakan setiap hari merasakan setiap hari mengeluarkan dahak.

Responden yang merasakan saluran pernapasannya dipenuhi oleh dahak atau lendir memiliki faktor risiko untuk terjadinya PPOK. Dahak merupakan hasil sekresi dari sel goblet saluran pernapasan akibat adanya proses inflamasi yang terjadi. Hal ini dapat disebabkan oleh asap rokok, polusi udara, maupun riwayat alergi yang dimiliki oleh responden. Proses inflamasi yang terjadi dalam jangka waktu yang lama merupakan patofisiologi penyebab terjadinya PPOK. 5,10,14

Dari tabel 4.5 didapatkan bahwa sebanyak 65 responden (48,5%) menyatakan sangat tidak setuju jika aktivitas mereka terganggu oleh masalah pernapasan, 49 responden (36,6%) tidak setuju, 4 responden (3,0%) tidak yakin, 13 responden (9,7%) setuju, dan 2 responden (2,2%) menyatakan sangat setuju jika aktivitas mereka berkurang akibat masalah pernapasan yang dirasakan.

Produksi dahak atau mukus akibat teproses inflamasi kronik menyebabkan terjadinya penyempitan lumen saluran napas. Hal ini mengakibatkan penurunan asupan oksigen ketika seorang individu melakukan aktivitas fisik. Penurunan asupan oksigen ini akan membuat pasien merasa sesak ketika melakukan aktivitas fisik. 5,10,14

4.2.3 Gambaran faktor risiko PPOK pada responden

Variabel faktor risiko pada penelitian ini diambil berdasarkan faktor risiko yang ada di dalam kuesioner COPD Risk Screener tentang PPOK. Selain usia, konsumsi rokok merupakan faktor yang paling berisiko menimbulkan PPOK.

Tabel 4.6 Sebaran faktor risiko PPOK pada responden. (N=134)

Perokok N %

Tidak 100 74,6


(39)

 

 

26

Dari tabel 4.6 didapatkan bahwa 100 responden (74,6%) bukan perokok, sedangkan 34 responden lainnya (25,4%) mengonsumsi rokok. Jumlah responden non-perokok lebih banyak jumlahnya dibandingkan perokok dapat dikarenakan jumah responden perempuan yang lebih banyak.

Zat yang terkandung dalam asap rokok merupakan penyebab terjadinya inflamasi saluran pernapasan. Paparan asap rokok yang berkelanjutan dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan inflamasi kronis yang menyebabkan terjadinya PPOK. 5,10,14

4.2.4 Gambaran tingkat risiko PPOK pada responden

Tabel 4.7 Sebaran tingkat risiko PPOK pada responden

Data di dalam tabel 4.7, faktor risiko dan gejala yang terdapat dalam kuesioner yang dijumlahkan sesuai dengan aturan scoring pada COPD Risk Screener. Hasil penilaian tersebut dibagi menjadi dua kategori, yaitu risiko rendah dan risiko tinggi untuk terjadinya PPOK.

Sebanyak 127 responden (94,8%) termasuk dalam kategori risiko rendah, sedangkan 7 responden (5,2%) termasuk dalam kategori risiko tinggi untuk terjadinya PPOK. Banyaknya responden yang mempunyai risiko rendah dikarenakan rata-rata usia dalam penelitian ini adalah 49 tahun.

Pencegahan primer PPOK sejak usia muda sangat diperlukan karena seiring dengan bertambahnya usia maka risiko untuk terjadinya PPOK semakin tinggi ditambah dengan pola hidup yang kurang baik seperti merokok dapat menyebabkan bertambah tingginya risiko terhadap PPOK. 11,12,14,15

4.3 Analisis Bivariat

Uji yang dilakukan untuk analisis bivariat adalah Fisher’s karena semua variabel distribusinya tidak normal dan syarat penggunaan uji chi-square tidak

Tingkat risiko N %

Risiko rendah 127 94,8


(40)

 

terpenuhi yaitu jumlah expected count yang <5 terdapat pada >33% sel dimana seharusnya hanya boleh <20% sel.

Variabel bebas yang digunakan adalah jenis kelamin, usia, gejala dan faktor risiko PPOK yang akan dianalisis terhadap variabel terikat yaitu tingkatan risiko PPOK. Jika p-value bernilai < 0,05 maka terdapat hubungan yang bermakna antara variabel bebas dan terikat dengan derajat kepercayaan mencapai 95%.

4.3.1 Hubungan karakteristik responden dengan tingkat risiko PPOK Tabel 4.8 Hubungan jenis kelamin dengan tingkat risiko PPOK

Jenis kelamin

Tingkat risiko PPOK

Total

Rendah Tinggi

Laki-laki 35 6 41 Perempuan 92 1 93 Total 127 7 134

P-value = 0,003

Dari tabel 4.8 didapatkan hasil laki-laki memiliki risiko tinggi terhadap PPOK sebanyak 8 responden dibandingkan perempuan yang hanya berjumlah 1 orang. Sebaliknya perempuan memiliki risiko rendah lebih besar sebanyak 92 responden dibandingkan laki-laki yang hanya berjumlah 35 responden. Hasil ini memiliki hubungan bermakna karena hasil p-value = 0,003 (<0,05).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rycroft5 bahwa 2,3% sampai 8,4% kematian yang disebabkan PPOK, proporsi laki-laki lebih besar jika dibandingkan dengan proporsi wanita dengan rentang usia 65-74 tahun. Meskipun konsumsi rokok dapat menjelaskan perbedaan proporsi antara laki-laki dan perempuan, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menjelaskan perbedaan proporsi tersebut tanpa faktor yang mempengaruhi seperti konsumsi rokok. 5,10,16


(41)

 

 

28

Tabel 4.9 Hubungan usia dengan tingkat risiko PPOK

Dari tabel 4.9 didapatkan bahwa jumlah responden risiko tinggi PPOK dengan ≥ 60 tahun berjumlah 4 orang dibandingkan dengan responden dengan usia 35-59 tahun sebanyak 3 orang responden. Sebaliknya, responden dengan usia 35-59 tahun yang berisiko rendah PPOK berjumlah 106 orang, lebih banyak jika dibandingkan responden dengan usia ≥ 60 tahun yang berjumlah 21 orang responden. Hasil ini memiliki hubungan bermakna karena hasil p-value = 0,023 (< 0,05).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Rycroft5 bahwa kematian yang disebabkan oleh PPOK sebagian besar merupakan individu yang berusia 65-74 tahun. Hal ini dijelaskan juga oleh Akkermans8 dalam studinya bahwa prevalensi individu yang terdiagnosis PPOK melalui pemeriksaan spirometri merupakan individu yang berusia lanjut. Menurut Akkermans8, terdapat hubungan bermakna antara usia lanjut dengan angka kejadian PPOK (p-value = < 0,001).5,8

Tabel 4.10 Hubungan status pekerjaan dengan tingkat risiko PPOK

Dari tabel 4.10 didapatkan jumlah responden risiko tinggi yang bekerja sebanyak 3 orang, sedangkan responden risiko tinggi yang tidak bekerja

Usia

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

35-59 tahun 106 3 109

60 tahun 21 4 25

Total 127 7 134

P-value = 0,023

Status pekerjaan

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

Bekerja 86 3 89

Tidak bekerja 41 4 45

Total 127 7 134


(42)

 

berjumlah 4 orang. Sebaliknya, responden risiko rendah yang bekerja berjumlah 86 orang, lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko rendah yang tidak bekerja dengan jumlah 41 orang. Hasil ini memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan p-value = 0,224 (> 0,05).

Hasil yang kurang bermakna dapat terjadi karena penelitian ini tidak mencantumkan jenis pekerjaan responden. Jenis pekerjaan sangat berpengaruh terhadap risiko terjadinya PPOK karena ada beberapa pekerjaan yang mempunyai paparan langsung terhadap polusi udara. Zat-zat polusi udara merupakan salah satu penyebab terjadinya proses inflamasi kronik pada kasus PPOK.3,5

4.3.2 Hubungan gejala awal dengan tingkatan risiko PPOK Tabel 4.11 Hubungan sesak dengan tingkat risiko PPOK

Dari tabel 4.11 didapatkan bahwa jumlah responden risiko tinggi yang pernah mengalami gejala sesak sebanyak 5 orang responden lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko tinggi yang tidak pernah mengalami gejala sesak, yaitu sebanyak 2 orang respoden. Sebaliknya, jumlah responden risiko rendah yang tidak pernah mengalami gejala sesak berjumlah sebanyak 123 orang responden lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko rendah yangpernah mengalami gejala sesak napas. Hasil ini memiliki hubungan bermakna karena nilai p-value = 0,0001 (< 0,05).

Gejala sesak

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

Tidak pernah 123 2 125

Pernah sesak 4 5 9

Total 127 7 134


(43)

 

 

30

Tabel 4.12 Hubungan masalah pernapasan dengan tingkat risiko PPOK

Dari tabel 4.12 didapatkan bahwa jumlah responden risiko tinggi yang menyatakan setuju jika aktivitasnya terganggu akibat masalah pernapasan sebanyak 5 orang lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko tinggi yang tidak setuju jika aktivitasnya terganggu oleh masalah pernapasan yang berjumlah sebanyak 2 orang responden. Sebaliknya responden risiko rendah yang tidak setuju jika aktivitasnya terganggu akibat masalah pernapasan yang berjumlah sebanyak 116 orang lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko rendah yang tidak setuju jika aktivitasnya terganggu akibat masalah pernapasan yang yang berjumlah sebanyak 11 orang responden. Hasil ini bermakna karena nilai p-value = 0,0001 (< 0,05).

Tabel 4.13 Hubungan produksi dahak dengan tingkat risiko PPOK

Selalu mengeluarkan

dahak

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

Tidak setuju 121 2 123

Setuju 6 5 11

Total 127 7 134

p-value = 0,0001

Dari tabel 4.13 didapatkan bahwa responden risiko tinggi yang setuju jika merasa selalu mengeluarkan dahak berjumlah sebanyak 5 orang lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko tinggi yang setuju jika merasa selalu

Aktivitas terganggu akibat

masalah pernapasan

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

Tidak setuju 116 2 118

Setuju 11 5 16

Total 127 7 134


(44)

 

mengeluarkan dahak berjumlah sebanyak 2 orang responden. Sebaliknya, responden risiko rendah yang tidak setuju jika merasa selalu mengeluarkan dahak berjumlah sebanyak 121 orang lebih banyak jika dibandingkan dengan responden risiko rendah yang setuju jika merasa selalu mengeluarkan dahak yang berjumlah sebanyak 6 orang responden. Hasil ini bermakna karena nilai p-value = 0,0001 (< 0,05).

Hasil ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Roberto de Marco14 yang menyebutkan bahwa gejala awal yang disebabkan oleh hiperresponsivitas saluran pernapasan mempunyai hubungan yang bermakna untuk angka kejadian PPOK. Hiperresponsivitas saluran pernapasan mempunyai manifestasi berupa sesak napas dan peningkatan produksi mukus. Hiperresponsivitas saluran pernapasan merupakan salah satu tanda kardinal asma bronkial, namun apabila proses ini terjadi secara kronik maka akan terjadi kerusakan irreversibel jaringan saluran pernapasan yang mengakibatkan PPOK.3,9,10,12,14

4.3.3 Hubungan faktor risiko dengan tingkat risiko PPOK

Tabel 4.14 Hubungan konsumsi rokok dengan tingkat risiko PPOK

Dari tabel 4.14 didapatkan bahwa responden risiko tinggi yang merokok berjumlah sebanyak 6 orang sedangkan responden risiko tinggi yang tidak merokok berjumlah sebanyak 1 orang. Sebaliknya, responden risiko rendah yang tidak merokok berjumlah sebanyak 99 orang sedangkan responden risiko rendah yang merokok berjumlah sebanyak 28 orang responden. Hasil ini bermakna karena nilai p-value = 0,0001 (< 0,05).

Hasil ini diperkuat oleh penelitian Akkermans8 yang menyatakan bahwa terdapat hubungan bermakna antara konsumsi rokok dengan kejadian PPOK

(p-Perokok

Tingkat risiko PPOK

Total Rendah Tinggi

Tidak 99 1 100

Ya 28 6 34

Total 127 7 134


(45)

 

 

32

value = 0,006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Agusti9 disebutkan bahwa konsumsi rokok merupakan penyebab utama terjadinya proses inflamasi kronik yang merupakan patofisiologi terjadinya PPOK.5,8,10,14

4.4 Kelebihan Penelitian

Penyakit paru obstruktif kronik merupakan penyakit degeneratif yang memiliki faktor risiko yang dapat diubah. Jika seorang individu terdiagnosis menderita PPOK, pengobatan yang diberikan hanya berguna untuk meredakan eksaserbasi. Intervensi untuk mencegah PPOK adalah dengan cara mengurangi paparan penyebab utama terjadinya PPOK. Penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat risiko individu untuk mengalami PPOK. Semakin cepat seorang individu teridentifikasi mempunyai risiko untuk menderita PPOK, maka semakin mudah untuk mengurangi angka kejadian PPOK.

Penelitian ini juga dilakukan pada komunitas. Populasi yang terjaring pada penelitian ini dapat menggambarkan frekuensi individu yang mempunyai risiko tinggi terhadap PPOK.

COPD Risk Screener merupakan kuesioner untuk mengidentifikasi risiko seorang individu terhadap PPOK. Kuesioner ini sudah dipakai di berbagai negara dan telah melalui proses validasi untuk penelitian ini.

4.5 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan berusia lanjut sehingga ada beberapa pertanyaan yang kurang dimengerti oleh responden. Kuesioner yang digunakan juga diambil dari COPD Risk Screener sehingga harus dilakukan uji validasi terlebih dahulu untuk melihat kesesuaian item kuesioner untuk diterapkan di Indonesia.

Kuesioner ini merupakan gabungan dengan beberapa kuesioner yang membahas penyakit degeneratif lainnya sehingga uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada item yang berkaitan dengan PPOK.


(46)

33

BAB 5 PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Pada masyarakat binaan KPKM Buaran FKIK UIN Syarif

Hidayatullah tahun 2015, sebaran tingkat risiko untuk mengalami PPOK yaitu risiko tinggi sebesar 5,2% dan risiko rendah sebanyak 94,8%.

2. Terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin, usia, gejala awal PPOK, dan perilaku merokok dengan tingkat risiko untuk mengalami PPOK dengan p-value bernilai kurang dari 0,05.

3. Tidak terdapat hubungan bermakna antara status pekerjaan dengan tingkat risiko untuk mengalami PPOK dengan p-value = 0,224 (>0,05)

5.2 Saran

1. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat mencakup populasi yang lebih besar sehingga dapat dilakukan tindakan preventif pada masyarakat yang termasuk dalam tingkatan risiko tinggi.

2. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan status pekerjaan pada responden harus lebih spesifik untuk menilai ada atau tidaknya hubungan antara status pekerjaan dengan tingkat risiko PPOK.

3. Untuk sampel dengan risiko tinggi, dapat dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menilai fungsi pernapasan menggunakan spirometri. 4. Untuk sampel dengan risiko tinggi, dapat dilakukan penelitian lebih


(47)

34

DAFTAR PUSTAKA

1. World Health Organization, 2014. Chronic Obstructive Pulmonary Disease. [Cited 26 Oct 2014] Available from :

www.who.int/tobacco/research/copd/en/index.html.

2. COPD International, 2014. COPD Statistics. [Cited 26 Oct 2014] Available from: http://www.copd-international.com/library/statistics.html. 3. Raherison C, Girodet PO. (Review) Epidemiology of COPD. EurRespir

Rev. 2009;18:114,213-221.

4. Halbert RJ, Natoli JL, Gano A, Badamgraw E, Buist AS, Mannino DM. Global burden of COPD: systematic review and meta-analysis.EurRespir J. 2006;28:523-532.

5. Rycroft CE, Heyes A, Lanza L, Becker K. Epidemiology of chronic obstructive pulmonary disease: a literature review. International Journal of COPD. 2012;7:457-494.

6. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI; 2013.

7. Burge S, Wedzicha JA. COPD Exacerbations: Definitions and Classifications.EurRespir J. 2003;21:46-53.

8. Akkermans RP, Biermans M, Robberts B, terRiet G, Jacobs A, van Weel C, Wensing M, Schermer T. COPD Prognosis in Relation to Diagnostic Criteria for Airflow Obstruction in Smokers. EurRespir J. 2014;43:54-63. 9. Agusti AGN, Noguera A, Sauleda J, Sala E, Pons J, Busquets X. (Review)

Systemic effects of chronic obstructive pulmonary disease. EurRespir J. 2003;21:347-360.

10. Patriani, Ana A., Paramastri I., Priyanto, M.A., 2010. Pemberdayaan keluarga dalam rehabilitasi medic paru pada penderita penyakit paru obstruktif kronik di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru Yogyakarta. Yogyakarta: Berita Kedokteran Masyarakat.

11. Karen D, Gerrad WF. Identifying chronic obstructive pulmonary disease in primary care of urban underserved patients: tools, applications, and challenges. J Natl med Assoc. 2010;102:570-578.


(48)

 

12. Ralph S, RS Williams. Prospective medicine: the next health care transformation. Acad Med. 2003;78:1079-1084.

13. Octaria P. Hubungan antara derajat merokok dengan kejadian PPOK [skripsi]. Surakarta: FK Universitas Sebelas Maret; 2010.

14. De Marco R, Accordini S, Marcon A, et al. Risk factors for Chronic Obstructive Pulmonary Disease in a European cohort of young adults. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 2011:Vol 183.

15. Mosenifar Z, Kamangar N, Byrd RP. Chronic Obstructive Pulmonary Disease Clinical Presentation. [Cited 18 Jul 2015]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/297664-clinical

16. Spruit MA, Singh SJ, Garvey C, et al. An Official American Thoracic Society/European Respiratory Society Statement: Key Concepts and Advances in Pulmonary Rehabilitation. American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 2013:Vol 188.

17. Penyakit Paru Obstruktif Kronik: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2003.

18. Chronic Obstructive Pulmonary Disease COPD. American Lung Association: State of Lung Disease in Diverse Communitites. 2010.

19. Centers for Disease Control and Prevention. Public Health Strategic Framework for COPD Prevention. Atlanta, GA: Centers for Disease Control and Prevention. 2011.

20. Qaseem A, Wilt TJ, Weinberger SE, et al. Diagnosis and Management of Stable Chronic Obstructive Pulmonary Disease: A Clinical Practice Guideline Update from the American College of Physicians, American College of Chest Physicians, American Thoracic Society, and European Respiratory Society. American College of Physicians. 2011;155:179-191. 21. Rudolf M, O’Reilly J, Parnham J, et al. Chronic Obstructive Pulmonary

Disease: Management of Chronic Obstructive Pulmonary Disease in Adults in Primary and Secondary Care. National Institute for Health and Care Excellence. 2010:9-36.


(49)

 

36


(50)

   

37


(51)

 

38

Lampiran 3. Lembar surat persetujuan responden

KUESIONER PENELITIAN

Penilaian Tingkat Risiko dan Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronik pada Masyarakat Binaan KPKM Buaran

FKIK UIN Syarif Hidayatullah Tahun 2015 SURAT PERSETUJUAN PARTISIPAN

Assalamualaikum Wr.Wb.

Saat ini, kami mahasiswa/i Program Studi Pendidikan Dokter dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah sedang melakukan penelitian sebagai salah satu syarat menjadi sarjana kedokteran. Penelitian ini tentang penilaian faktor risiko terhadap penyakit usia lanjut yaitu penyakit paru obstruktif kronik.

Pada penelitian ini kami akan menanyakan beberapa pertanyaan tentang riwayat kesehatan Bapak/Ibu dan keluarga. Setelah itu kami akan melakukan pemeriksaan berupa berat badan, tinggi badan, gula darah puasa, kolesterol, dan tekanan darah.

Dengan surat ini, kami meminta persetujuan Bapak/Ibu untuk menjadi partisipan penelitian kami. Data dari Bapak/Ibu hanya akan kami gunakan sebagai bahan penelitian dan akan kami rahasiakan.

Atas pengertian dan pertisipasinya kami ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jakarta, 28 April 2015 Mengetahui,

Raka Petra Prazasta 1112103000074


(52)

   

(lanjutan)

LEMBAR PERSETUJUAN PARTISIPAN

Setelah membaca penjelasan diatas, bahwa yang bertanda tangan dibawah ini:

Nama : _____________________________ Usia : ___________ tahun

Alamat : _____________________________ No. Hp : _____________________________

Dengan ini menyetujui menjadi partisipan dalam penelitian oleh mahasiswa/I Pendidikan Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah. Segala hal yang menyangkut kerahasiaan tentang partisipan akan terjaga dengan baik oleh peneliti.

                         

Buaran, .… Mei 2015

(___________________) Partisipan


(53)

   

   

40 


(54)

41

Lampiran 5. Kuesioner penelitian

KUESIONER PENILAIAN TINGKAT RISIKO DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK PADA MASYARAKAT BINAAN KPKM BUARAN FKIK UIN

SYARIF HIDAYATULLAH TAHUN 2015

Silakan isi pada titik-titik yang tersedia dan centang pada pilihan yang sesuai A. IDENTITAS RESPONDEN

NO. VARIABEL HASIL INDIKATOR

A01 Nama

...

A02 Usia ... tahun

o

30 - 34 tahun

o

35 - 39 tahun

o

40 - 44 tahun

o

45 - 49 tahun

o

50 – 54 tahun

o

55 - 59 tahun

o

60 - 64 tahun

o

65 - 69 tahun

o

70 – 74 tahun

o

>75 tahun

A03 Jenis Kelamin

o

Perempuan

o

Laki – laki

A04 Pekerjaan

o

PNS

o

Wiraswasta

o

Karyawan

o

Honorer

o

TNI/ABRI/ POLISI

o

Satpam

o

Ibu Rumah Tangga

o

Lainnya ...

A05 Pendidikan Terakhir

o

Tidak sekolah

o

SD

o

SMP

o

SMA

o

Sempat/sedang kuliah

o

Diploma

o

Sarjana

o

Pascasarjana


(55)

42  

   

(lanjutan) B. RIWAYAT KESEHATAN PRIBADI

B01

Selama 4 minggu terakhir, seberapa sering anda mengalami sesak napas?

o

Tidak pernah

o

Jarang (kurang dari 10 kali)

o

Beberapa kali (kurang dari 25

kali)

o

Sering (lebih dari 25 kali)

o

Setiap saat

B02

Ketika batuk, apakah anda pernah mengeluarkan sesuatu seperti dahak atau lendir?

o

Jarang batuk

o

Hanya ketika menderita flu dan infeksi saluran napas

o

Ya, beberapa hari per bulan (5-7 hari)

o

Ya, beberapa hari per minggu (3-4 hari)

o

Ya, setiap hari

                              B03 Pilihlah jawaban yang sangat

mendeskripsikan keadaan anda dalam 12 bulan terakhir.

“Aktivitas saya berkurang karena permasalahan pernapasan saya.”

Aktivitas : Pekerjaan yang biasa anda lakukan sehari-hari

o

Sangat tidak setuju

o

Tidak setuju

o

Tidak yakin

o

Setuju

o

Sangat setuju


(56)

   

(lanjutan) C. KEBIASAAN

D01 Apakah Anda

seorang perokok?

o

Saya bukan perokok (bila merokok kurang dari 100 rokok dan tidak merokok dalam 1 bulan terakhir)

o

Saya sedang mencoba untuk berhenti

merokok (bila merokok lebih dari 100 rokok tetapi sudah tidak merokok dalam 1 bulan terakhir)

o

Ya, saya seorang perokok (bila merokok lebih dari 100 rokok dan tetap merokok dalam 1 bulan terakhir)

D02

Apakah ada anggota keluarga Anda sering merokok di dalam rumah?

o

Tidak ada

o

Ya, ada. Siapa Anda? ...

D03

Berapa jumlah rokok yang Anda konsumsi?

o

Kurang dari 1 bungkus per hari

o

1-2 bungkus per hari

o

Lebih dari 2 bungkus per hari (sekitar...bungkus)


(57)

 

44

Lampiran 6. Hasil uji validitas dan reliabilitas 1. Uji Validitas

                                                                                   

Correlations Total

Usia

Pearson

Correlation .523

**

Sig. (2-tailed) .003

N 31

Sesak

Pearson

Correlation .795

**

Sig. (2-tailed) .000

N 31

Lendir

Pearson

Correlation .829

**

Sig. (2-tailed) .000

N 31

Masalah napas

Pearson

Correlation .761

**

Sig. (2-tailed) .000

N 31

Perokok

Pearson

Correlation .707

**

Sig. (2-tailed) .000

N 31

Total

Pearson

Correlation 1

Sig. (2-tailed)


(58)

   

(lanjutan)  

2. Uji Reliabilitas

  Item-Total Statistics Scale Mean if Item Deleted Scale Variance if Item Deleted Corrected Item-Total Correlation Cronbach's Alpha if Item

Deleted

Usia .94 3.462 .156 .784

Sesak 1.45 3.189 .680 .548

Lendir 1.48 3.391 .756 .558

Masalah

napas 1.39 3.312 .640 .568

Perokok 1.06 2.729 .385 .680

    Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items

.678 5

                                     


(59)

 

46  

Lampiran 7. Hasil uji statistik

ANALISIS UNIVARIAT

1. Sebaran karakteristik responden

UsiaFix

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

35-59 thn 109 81.3 81.3 81.3

≥ 60 thn 25 18.7 18.7 100.0 Total 134 100.0 100.0

 

Gender

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Laki-laki 41 30.6 30.6 30.6

Perempuan 93 69.4 69.4 100.0

Total 134 100.0 100.0  

Pekerjaan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Bekerja 46 34.3 34.3 34.3

Tidak bekerja 88 65.7 65.7 100.0

Total 134 100.0 100.0  

Pendidikan terakhir

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Sarjana 2 1.5 1.5 1.5

SD 48 35.8 35.8 37.3

SMA 35 26.1 26.1 63.4

SMP 21 15.7 15.7 79.1


(60)

   

 

Sesak

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Beberapa kali 2 1.5 1.5 1.5

Jarang 11 8.2 8.2 9.7

Sering 3 2.2 2.2 11.9

Setiap saat 4 3.0 3.0 14.9

Tidak pernah 114 85.1 85.1 100.0

Total 134 100.0 100.0  

Lendir

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Jarang batuk 53 39.6 39.6 39.6

Ketika ISPA 70 52.2 52.2 91.8

Ya, beberapa hari per bulan 4 3.0 3.0 94.8

Ya, setiap hari 7 5.2 5.2 100.0

Total 134 100.0 100.0  

PerokokAktif

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Tidak 100 74.6 74.6 74.6

Ya 34 25.4 25.4 100.0

Total 134 100.0 100.0

(lanjutan) MasalahNapas

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Sangat setuju 3 2.2 2.2 2.2

Sangat Tidak setuju 65 48.5 48.5 50.7

Setuju 13 9.7 9.7 60.4

Tidak setuju 49 36.6 36.6 97.0

Tidak yakin 4 3.0 3.0 100.0


(61)

48            

2. Analisis Bivariat

 

CodingGender * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total

Rendah Tinggi

CodingGender

Laki-laki

Count 35 6 41

Expected Count 38.9 2.1 41.0

Perempuan

Count 92 1 93

Expected Count 88.1 4.9 93.0

Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 10.566a 1 .001 Continuity Correctionb 8.005 1 .005 Likelihood Ratio 9.763 1 .002

Fisher's Exact Test .003 .003

Linear-by-Linear Association 10.487 1 .001 N of Valid Cases 134

            (lanjutan) Risiko

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

Risiko Rendah 127 94.8 94.8 94.8

Risiko Tinggi 7 5.2 5.2 100.0


(62)

   

(lanjutan) UsiaFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total

Rendah Tinggi

UsiaFix

35-59 thn

Count 106 3 109

Expected Count 103.3 5.7 109.0

≥ 60 thn

Count 21 4 25

Expected Count 23.7 1.3 25.0

Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 7.209a 1 .007 Continuity Correctionb 4.781 1 .029 Likelihood Ratio 5.498 1 .019

Fisher's Exact Test .023 .023

Linear-by-Linear Association 7.155 1 .007 N of Valid Cases 134

 

SesakFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total

Rendah Tinggi

SesakFix

Pernah

Count 123 2 125

Expected Count 118.5 6.5 125.0

Tidak pernah

Count 4 5 9

Expected Count 8.5 .5 9.0

Total

Count 127 7 134


(63)

50  

   

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 49.366a 1 .000 Continuity Correctionb 39.070 1 .000 Likelihood Ratio 22.081 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 48.998 1 .000 N of Valid Cases 134

NapasFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total

Rendah Tinggi

NapasFix

Tidak setuju

Count 116 2 118

Expected Count 111.8 6.2 118.0

Setuju

Count 11 5 16

Expected Count 15.2 .8 16.0

Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 24.858a 1 .000 Continuity Correctionb 19.247 1 .000 Likelihood Ratio 14.804 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 24.673 1 .000 N of Valid Cases 134


(1)

(lanjutan)

UsiaFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total Rendah Tinggi

UsiaFix

35-59 thn

Count 106 3 109

Expected Count 103.3 5.7 109.0

≥ 60 thn

Count 21 4 25

Expected Count 23.7 1.3 25.0 Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 7.209a 1 .007

Continuity Correctionb 4.781 1 .029 Likelihood Ratio 5.498 1 .019

Fisher's Exact Test .023 .023

Linear-by-Linear Association 7.155 1 .007 N of Valid Cases 134

 

SesakFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total Rendah Tinggi

SesakFix

Pernah

Count 123 2 125

Expected Count 118.5 6.5 125.0

Tidak pernah

Count 4 5 9

Expected Count 8.5 .5 9.0

Total

Count 127 7 134


(2)

50

 

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 49.366a 1 .000

Continuity Correctionb 39.070 1 .000 Likelihood Ratio 22.081 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 48.998 1 .000 N of Valid Cases 134

NapasFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total Rendah Tinggi

NapasFix

Tidak setuju

Count 116 2 118

Expected Count 111.8 6.2 118.0

Setuju

Count 11 5 16

Expected Count 15.2 .8 16.0

Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 24.858a 1 .000

Continuity Correctionb 19.247 1 .000 Likelihood Ratio 14.804 1 .000

Fisher's Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 24.673 1 .000 N of Valid Cases 134


(3)

(lanjutan)

LendirFix * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total Rendah Tinggi

LendirFix

Tidak Pernah

Count 121 2 123

Expected Count 116.6 6.4 123.0

Pernah

Count 6 5 11

Expected Count 10.4 .6 11.0

Total

Count 127 7 134

Expected Count 127.0 7.0 134.0

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 39.176a 1 .000

Continuity Correctionb 30.823 1 .000 Likelihood Ratio 19.353 1 .000

Fisher’s Exact Test .000 .000

Linear-by-Linear Association 38.883 1 .000 N of Valid Cases 134

 

 

 

 

CodingPerokok * RiskScoreCoding Crosstabulation

RiskScoreCoding Total Rendah Tinggi

CodingPerokok

Tidak merokok

Count 99 1 100

Expected

Count 94.8 5.2 100.0

Merokok

Count 28 6 34

Expected

Count 32.2 1.8 34.0

Total

Count 127 7 134

Expected


(4)

52

 

(lanjutan)

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)

Exact Sig. (2-sided)

Exact Sig. (1-sided) Pearson Chi-Square 14.202a 1 .000

Continuity Correctionb 11.039 1 .001 Likelihood Ratio 12.067 1 .001

Fisher's Exact Test .001 .001

Linear-by-Linear Association 14.096 1 .000 N of Valid Cases 134

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


(5)

Lampiran 8. Dokumentasi

1. Pengecekan kuesioner, registrasi, dan pengukuran antropometri

2. Pemeriksaan gula darah dan kolesterol 3. Pemeriksaan nadi dan

tekanan darah


(6)

 

Lampiran 9. Daftar riwayat hidup

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Raka Petra Prazasta

Tempat, tanggal lahir

: Palembang, 12 Mei 1995

Alamat

: Jln. Kapt. A. Rivai, No. 175/26 Palembang

No. HP

: 08997998071

Email

:

raka.prazastaa@gmail.com

Riwayat Pendidikan

1.

SD Muhammadiyah 1 Palembang

(2000-2006)

2.

MTs Negeri 1 Palembang

(2006-2009)

3.

MA Negeri 3 Palembang

(2009-2011)

4.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

(2012-Sekarang)