Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.

ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL “GROTESQUE” KARYA NATSUO KIRINO
NATSUO KIRINO NO SAKUHIN NO "GROTESQUE" NO SHOUSETSU NI OKERU FUTATSU NO GAKUSEITACHI NO GURUPU SHAKAITENI
NA SAYOU NO BUNSEKI SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam
bidang Ilmu Sastra Jepang OLEH :
RANI LESTARI FARIDA SIMBOLON 070708035
DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO

NATSUO KIRINO NO SAKUHIN NO "GROTESQUE" NO SHOUSETSU NI OKERU FUTATSU NO GAKUSEITACHI NO GURUPU SHAKAITENI
NA SAYOU NO BUNSEKI

Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian sarjana dalam bidang Ilmu Sastra Jepang

Oleh : RANI LESTARI FARIDA SIMBOLON
070708035

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Eman Kusdiyana, M.Hum NIP. 19600919 198803 1 001

Prof.Hamzon Situmorang.M.S,Ph.D NIP. 19580704.1984.12.1.001

DEPARTEMEN SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatNya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi yang berjudul ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO ini diajukan untuk memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar sarjana di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Jepang Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih, penghargaan, serta penghormatan yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan studi dan skripsi ini, antara lain kepada : 1. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M.hum selaku ketua Departemen Sastra Jepang dan juga selaku Dosen pembimping pertama saya, terimakasih untuk waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya.
3. Bapak Prof. Hamzon Situmorang.M.S,Ph.D selaku Dosen pembimbing dua saya, terimakasih atas waktu dan bimbingan yang bapak berikan kepada saya.
4. Kepada orangtua saya yang sangat saya sayangi S. Simbolon dan K.Purba, terimakasih atas dukungan materi, semangat, kasih saying dan segala bantuan yang telah kalisn berikan kepada saya. Terimakasih karena selalu ada untukku di saat sedih maupun bahagia.
Universitas Sumatera Utara

5. Kepada kakakku Nora dan adik-adik yang sangat saya sayangi, Tohom, Grace dan Lija, terimakasih atas segala bantuan dan dukungan semangat yang telah kalian berikan.
6. Kepada teman-teman seperjuangan Eka, Kristin dan teman-teman stambuk 2007 lainnya, yang sudah banyak memberikan bantuan kepada saya.
7. Kepada sahabat-sahabatku Vita, Hesti, Femy, David, Ellya yang senantiasa memberikan dukungan semangat kepada saya. Terimakasih untuk semua yang sudah kita jalani selama ini.
8. Kepada kakak abang senior dan juga adik stambuk yang sudah memberikan dukungan semangat kepada saya. Medan, September 2011 Penulis, Rani Lestari F Simbolon.
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ………………………………………………………….. i DAFTAR ISI …………………………………………………………………… ii BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah ……………………………………………. 1 1.2.Perumusan Masalah ………………………………………………… 5 1.3.Ruang Lingkup Pembahasan ………………………………………... 6 1.4.Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori ……………………………… 7 1.5.Tujuan dan Manfaat Penelitian ……………………..……………... 11 1.6.Metodologi penelitian ……………………………..………………. 12
BAB II. TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTESQUE
2.1. Setting Novel Groteque………………………………………....... 14 2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque ………………………………... 17 2.3. Interaksi Sosial …………………………………….…………….. 19 2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque ….……. 22
BAB III. ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL GROTEQUE KARYA NATSUO KIRINO
3.1. Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino……………………………...…... 28
Universitas Sumatera Utara

BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan…………………………………………………………. 44 4.2. Saran ……………………………………………………….………. 45
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 47
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM NOVEL
GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO Novel adalah adalah salah satu hasil karya sastra fiksi yang dapat dijadikan sebagai cerminan dari kehidupan nyata. Isi cerita dalam novel merupakan hasil imajinasi pengarang yang di dapat dari pengalamannya dalam menjalani kehidupannya sehari-hari. Dalam hal ini bukan hanya pengalaman yang dialami sendiri bisa saja sesuatu yang di lihat dan di ketahuinya dari orang lain. Novel dibangun dengan dua unsur yaitu unsur intrinstik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur yang membangun novel secara langsung misalnya tema, alur, gaya bahasa, penokohan dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang secara tidak langsung mempengaruhi novel misalnya keadaan sosial, ekonomi, kebudayaan dll. Dalam sebuah novel sering dijumpai permasalahan yang sama seperti pada kehidupan nyata. Permasalahan dapat dilihat melalui hubungan yang di bangun oleh para tokoh dalam novel tersebut. Para tokoh harus melakukan interaksi supaya dapat membentuk sebuah cerita yang dapat dipahami pembaca. Seperti dalam kehidupan nyata, dalam interaksi sosial salah satu pihak akan melakukan aksi dan pihak lain akan memberikan reaksi. Pada skripsi ini penulis akan menganalisis interaksi sosial dua kelompok siswa dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino.. Kedua kelompok itu adalah kelompok orang dalam dan kelompok orang luar. Kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa melalui ujian, mereka masuk secara otomatis karena sudah merupakan siswa di perguruan Q pada tingkat sebelumnya. Dan kebanyakan siswa yang ada di kelompok orang
Universitas Sumatera Utara

dalam berasal dari keluarga yang kaya. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui ujian dan mereka hanya berasal dari keluarga yang biasa saja.
Untuk menganalisis novel ini penulis menggunakan teori interaksi sosial untuk mengetahui bagaimana interaksi kedua kelompok siswa tersebut dan untuk mengetahui bagaimana sikap siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa dari kelompok orang luar dan sebaliknya. Penulis menganalisis apa saja yang dapat menunjukkan bentuk interaksi dua kelompok siswa tersebut melalui cuplikan-cuplikan pada novel.
Setelah melakukan analisis dengan menggunakan teori interaksi sosial, penulis menemukan bahwa interaksi yang dilakukan kedua kelompok siswa menunjukkan bahwa siswa dari kelompok orang dalam selalu bersikap semenamena terhadap siswa dari kelompok orang luar. Siswa dari kelompok orang dalam mendapatkan kekuasaan dan kebebasan yang sangat besar di sekolah yang mengakibatkan siswa di kelompok orang luar mendapatkan banyak tekanan. Antara kedua kelompok siswa yaitu kelompok orang dalam dan kelompok orang luar yang tidak terdapat persamaan hak. Siswa di kelompok orang luar sering mendapatkan diskriminasi dan perlakuan yang tidak baik. Dari cuplikan terlihat bahwa siswa dari kelompok orang luar ada yang berusaha mendapatkan hak yang sama seperti siswa dari kelompok orang dalam yaitu Kazue Sato. Ada juga yang mencari cara untuk dapat selamat dari gangguan yang di berikan siswa dari kelompok orang dalam. Cara tersebut diantaranya berusah menyembunyikan asal tempat tinggalnya yang bukan di perumahan mewah, berusaha meniru perilaku
Universitas Sumatera Utara

siswa dari kelompok orang dalam dan berusaha menunjukkan dirinya melalui prestasi dalam pelajaran.
Banyak pelajaran dan yang penulis dapatkan dari penelitian ini. Seperti pembedaan siswa di sekolah berdasarkan kekayaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Setiap siswa seharusnya mendapatkan hak dan kewajiban yang sama di sekolah. Setiap siswa seharusnya bisa berhubungan dengan siapa saja tanpa melihat berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarganya. Dengan demikian penulis berharap skripsi ini dapat berguna bagi pembaca dalam menjalani kehidupan ke depannya.
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Jepang adalah salah satu negara maju yang cukup berpengaruh di dunia saat ini. Jepang banyak menghasilkan teknologi-teknologi canggih dan sekarang digunakan juga oleh negara-negara lain. Masyarakat Jepang dikenal dengan sikap disiplin dan kerja kerasnya. Hal inilah yang menyebabkan Jepang mengalami kemajuan yang sangat pesat setelah kejatuhan mereka pada perang dunia ke-2. Jepang negara yang memiliki budaya yang sangat unik. Mereka menjalani dua hal yang menjadi kebalikan secara bersamaan misalnya, Jepang sangat maju dalam bidang teknologi, tetapi masyarakat Jepang juga sangat menghargai alam dan menyukai sesuatu yang bersifat alami, dan peduli tentang keadaan alamnya. Dalam menjalani kehidupannya masyarakat Jepang didukung dengan fasilitasfasilitas yang praktis dan canggih, dan saat ini kehidupan masyarakat Jepang juga sudah banyak dipengaruhi oleh budaya mayarakat barat tetapi budaya tradisional mereka juga tetap mereka jaga dan tetap memberi pengaruh dalam setiap kehidupan masyarakat Jepang. Budaya-budaya tradisional Jepang yang memberi pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat Jepang diantaranya adalah budaya kelompok dan budaya malu. Selain teknologi, dalam bidang kesusastraan Jepang juga terus mengalami perkembangan. Jepang menghasilkan banyak karya sastra dan dikenal di dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya novel hasil karya sastra Jepang yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga memiliki banyak peminat.
Universitas Sumatera Utara

Novel Jepang sebagai salah satu karya sastra Jepang, sama seperti novel lainnya yaitu banyak berisi tentang hal-hal yang terjadi dalam masyarakat.Hal ini sesuai dengan pengertian sastra menurut wellek dalam Melani Budianto (1997:109), bahwa sastra adalah lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambar kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan. Menurut Jan Van Luxemburg (1986:23-24) sastra dapat dipandang sebagai suatu gejala sosial, sastra yang di tulis pada kurun waktu tertentu langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat-istiadat zaman itu. Sastra pun di pergunakan sebagai sumber untuk menganalisa sistim masyarakat. Sastra juga mencerminkan kenyataan dalam masyarakat dan merupakan sarana untuk memahaminya.
Menurut Iswanto dalam Jabrohim (http://blognyaphie.blogspot.com/), Karya sastra lahir di tengah-tengah masyarakat sebagai hasil imajinasi pengarang serta refleksinya terhadap gejala-gejala sosial di sekitarnya. Pendapat tersebut mengandung implikasi bahwa karya sastra (terutama cerpen, novel, dan drama) dapat menjadi potret kehidupan melalui tokoh-tokoh ceritanya.
Karya sastra terbagi atas dua jenis yaitu karya sastra fiksi dan non fiksi. Menurut Aminuddin (2000 : 66), fiksi adalah kisahan atau cerita yang diemban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Sedangkan menurut Nurgiyantoro (1995: 166) fiksi adalah suatu bentuk kreatif, maka bagaimana pengarang mewujudkan dan mengembangkan tokoh-tokoh cerita pun tidak lepas dari kebebasan kreatifitas. Karya sastra fiksi
Universitas Sumatera Utara

lebih lanjut dapat dibedakan menjadi berbagai macam bentuk yaitu roman, novel, novelet maupun cerpen.
Dalam bahasa Jepang novel disebut dengan shousetsu. Kawabata Takeo dalam Muhammad Pujiono (2006:6) mengatakan bahwa novel timbul sebagai sesuatu yang menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat, meskipun kejadiannya tidak nyata. Tetapi itu merupakan sesuatu yang dapat dipahami dengan prinsip yang sama dengan kehidupan sehari-hari.
Menurut Moeliono (1988:618) dijelaskan bahwa novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang-orang disekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Novel sebagai karya sastra fiksi memiliki dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri atau unsur-unsur yang secara langsung membangun cerita. Unsur-unsur yang dimaksud adalah tema, plot, latar, penokohan, sudut pandang, gaya bahasa dll. Sedangkan unsur ekstrinsik adalah unsur yang ada di luar karya sastra tetapi secara tidak langsung mempengaruhi karya sastra tersebut atau dapat dikatakan sebagai unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Unsur-unsur ekstrinsik itu yaitu kebudayaan, ekonomi, keyakinan dll. Untuk membuat suatu cerita maka diperlukan semua unur-unsur tersebut untuk menciptakan hubungan antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain. Dalam sebuah novel antara satu tokoh dan tokoh yang lain tentu terjadi saling interaksi untuk menunjukkan watak, sifat dan peran tokoh tersebut dalam cerita. Setiap interaksi yang terjadi dalam cerita bisa menunjukkan banyak hal seperti pertentangan, kerja sama, persaingan dll.
Universitas Sumatera Utara

Dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino juga terdapat interaksi antara tokoh-tokohnya. Dalam novel ini ada dua kelompok siswa sekolah lanjutan atas yang saling membangun hubungan melalui interaksi-interaksi yang mereka lakukan. Dua kelompok siswa ini diceritakan oleh pengarang saat menceritakan kehidupan Kazue Sato saat berada di sekolah lanjutan atas.
Kazue Sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Dia menghadapi masalah saat berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok orang dalam, yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q, yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain disebut kelompok orang luar, yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue Sato termasuk ke dalam kelompok orang luar. Perbedaan kelompok orang dalam dan kelompok orang luar sangat jelas terlihat, kelompok orang dalam adalah siswa-siswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu. Sedangkan kelompok orang luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kelompok orang dalam memiliki kekuasan dan kebebasan di sekolah, berbeda dengan siswa kelompok orang luar mereka sering mendapat diskriminasi. Dengan kekuasaan yang dimiliki oleh siswa kelompok orang dalam
Universitas Sumatera Utara

mereka sering bertindak sesuka hati dan memperlakukan siswa kelompok orang luar dengan semena-mena. Kazue sato yang berasal dari keluarga yang biasa selalu ingin menjadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Oleh karena itu, dia tidak setuju kalau dirinya ditempatkan di kelompok orang luar yang merupakan kelompok yang ada di bawah kelompok orang dalam. Sehingga dia berusaha untuk bisa mendapatkan hak yang sama seperti kelompok orang dalam. Temanteman Kazue di kelompok orang luar lainnya juga merasa tidak suka atas sikap kelompok siswa orang dalam terhadap mereka. Antara siswa kelompok orang dalam yang berkuasa dan siswa kelompok orang luar yang sering mendpatkan diskriminasi saling melakukan interaksi saat menjalankan keseharian mereka di sekolah. Siswa kelompok dalam memberikan sebuah aksi dan siswa kelompok orang luar memberikan reaksi, begitupun sebaliknya.
Dari hal di atas maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana interaksi kedua kelompok yang sangat berbeda tersebut.Oleh karena itu penulis memilih judul Analisis Interaksi Sosial Dua kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.
1.2.Perumusan Masalah Dalam novel Grotesque ini pengarang yaitu Natsuo Kirino menyebutkan
adanya pembagian siswa menjadi dua kelompok saat menceritakan kehidupan Kazue sato saat berada di sekolah lanjutan atas. Kedua kelompok tersebut adalah siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Perbedaan antara kedua kelompok ini sangat jelas. Siswa kelompok orang dalam adalah siswa dari keluarga yang kaya sedangkan siswa kelompok orang luar adalah siswa yang
Universitas Sumatera Utara

berasal dari keluarga biasa saja. Siswa di kelompok dalam, dianggap sebagai siswa yang terbaik, mereka disegani dan memiliki kekuasaan. Sedangkan siswa di kelompok luar cenderung tidak memiliki kebebasan dan sering mendapatkan diskriminasi. Kazue Sato yang berasal dari kelompok luar ingin menjadi yang terbaik, dia juga ingin mendapatkan hak yang sama seperti siswa di kelompok dalam. Dia melakukan banyak usaha untuk bisa seperti siswa di kelompok dalam dan mendapatkan pengakuan dari siswa-siswa lainnya. Dia berusaha menentang segala sesuatu yang membatasi dirinya yang juga dialami siswa dari kelompok luar lainnya. Tetapi ketidakpuasan atas sikap siswa kelompok orang dalam juga ditunjukkan oleh siswa kelompok orang luar lainnya.
Dari hal di atas yang ingin diteliti dalam skripsi ini adalah bagaimana interaksi yang terjadi antara kedua kelompok tersebut saat menjalani kehidupan mereka di Sekolah. Dalam bentuk pertanyaan masalah yang akan di teliti dalam skripsi ini adalah :
1. Bagaimana interaksi sosial golongan atas dan golongan bawah yang terlihat dalam novel Grotesque karya Natsuo ?
1.3. Ruang Lingkup Pembahasan Analisis ini difokuskan kepada bagaimana interaksi sosial dua kelompok
siswa yang ditunjukkan oleh interaksi siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar yang terdapat pada novel Grotesque. Kelompok orang dalam maksudnya adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa ujian dan mereka berasal dari keluarga-keluarga yang kaya. Sedangkan kelompok orang luar maksudnya mereka yang masuk ke selokah lanjutan atas melalui ujian
Universitas Sumatera Utara

dan berasal dari keluarga yang biasa saja. Interaksi yang akan dilihat disini adalah tindakan semena-mena yang ditunjukkan oleh siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa di kelompok orang luar, dan bagaimana sikap siswa di kelompok orang luar menanggapi perlakuan tersebut. Untuk menganalisisnya penulis akan menggunakan teori interaksi dan pendekatan semiotik.
Untuk menghindari permasalahan melebar dan tidak fokus maka perlu adanya pembatasan ruang lingkup pembahasan. Sebelum melakukan kajian mengenai interaksi sosial dua kelompok siswa pada novel “Grotesque” ini, penulis akan mencoba membahas mengenai beberapa hal yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu: setting novel “Groteque” , sinopsis cerita novel “Grotesque”, interaksi sosial dan pembentukan kelompok siswa dalam novel “Grotesque”
1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori a. Tinjauan Pustaka
Sastra adalah bagian dari hasil budaya manusia. Sastra tidak bisa terlepas dari kehidupan manusia. Menurut Semi dalam ( http://asemmanis.wordpress.com/ 2009/10/03/pengertian-sastra-secara-umum-dan-menurut-para-ahli/) Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai medianya. Menurut Rene wellek dalam Melani budianto (1995:109) bahwa sastra adalah lembaga sosial yang memakai medium bahasa dalam menampilkan gambaran kehidupan dan kehidupan itu sendiri adalah kenyataan sosial. Setiap karya sastra yang dihasilkan tentunya mempunyai tujuan memberikan manfaat bagi para pembaca. Oleh karena
Universitas Sumatera Utara

itu sebuah karya sastra dihasilkan dengan melihat lingkungan dan kehidupan sehari-hari dan diharapkan memberikan manfaat juga bagi kehidupan.
Novel adalah karya sastra yang sangat popular. Meskipun novel merupakan hasil karya fiksi namun isi cerita dalam novel merupakan penggambaran dari sebuah kehidupan. Sehingga pembuatan sebuah novel juga dipengaruhi dengan budaya atau keadaan lingkungan dan sosial masyarakat.
Dalam kehidupan nyata setiap individu tidak dapat terlepas dari interaksi sosial. Setiap individu selalu akan melakukan interaksi sosial dalam menjalani kehidupannya. Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/ pengertian-interaksi-sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Dalam novel, setiap tokoh harus melakukan interaksi satu sama lain untuk menunjukkan permasalahan yang ada sehingga menghasilkan sebuah cerita yang dapat di pahami pembaca. Dalam novel Grotesque juga terdapat interaksi antara tokoh-tokohnya. Sama seperti kehidupan nyata para tokohnya melakukan interaksi dan membangun sebuah hubungan. Interaksi yang akan dilihat dalam novel ini adalah interaksi antara dua kelompok siswa sekolah lanjutan atas. Kedua kelompok itu adalah siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Siswa kelompok orang dalam adalah siswa yang masuk ke sekolah atas perguruan Q tanpa melalui ujian karena sudah merupakan siswa di perguruan Q pada tingkat sebelumnya, dan mereka adalah siswa yang berasal dari keluarga yang kaya. Sedangkan siswa kelompok orang luar adalah siswa yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui ujian dan mereka berasal dari keluarga
Universitas Sumatera Utara

yang biasa saja. Siswa kelompok orang dalam memiliki kekuasaan dan kebebasan di sekolah. Hal ini menyebabkan siswa kelompok orang dalam bersikap semenamena terhadap kelompok orang luar. Siswa kelompok orang luar yang sering mendapat diskriminasi merasa tidak suka atas sikap siswa kelompok orang dalam. Hal ini menyebabkan Kazue Sato salah satu siswa kelompok orang luar berusaha mendapatkan hak yang sama dengan kelompok orang dalam. Dan kelompok orang luar lainnya pun berusaha untuk menghindar dan terlepas dari tekanan siswa kelompok orang dalam. Kedua kelompok ini saling berhubungan dan menghasilkan suatu interaksi yang menunjukkan sikap siswa dari kelompok orang dalam selalu mendominasi.
b. Kerangka Teori Untuk mengetahui bagaimana interaksi antara dua kelompok siswa yang
terdapat dalam novel Grotesque, penulis akan menggunakan teori interaksi sosial serta pendekatan semiotik.
Kehidupan sehari-hari tidak bisa terlepas dari interaksi sosial. Satu indivudu harus melakukan interaksi dengan individu lainnya agar dapat menjalani kehidupannya. Dalam novel setiap tokoh juga harus melakukan interaksi dengan tokoh lain untuk membangun suatu cerita. Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya. Sebagai mahluk sosial kehidupan sehari-hari tidak pernah terlepas dari interaksi sosial. Antara individu yang satu dengan yang lain saling membangun
Universitas Sumatera Utara

hubungan dan melakukan interaksi. Pihak yang satu akan melakukan aksi dan yang lain akan memberikan reaksi, begitu sebaliknya saling mempengaruhi. Dalam novel grotesque terdapat interaksi dua kelompok siswa yaitu siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar. Dalam interaksi kedua kelompok siswa ini terdapat aksi dan reaksi yang ditunjukkan satu sama lain dan juga saling mempengaruhi. Dari interaksi itu juga dapat diketahui sikap siswa dari kelompok orang dalam terhadap siswa di kelompok orang luar dan bagaimana tanggapan siswa kelompok orang luar terhadap sikap tersebut, begitu juga sebaliknya.
Dalam penelitian ini pendekatan yang akan digunakan peneliti adalah pendekatan semiotik. Pradopo dkk (2001 : 71) menyatakan bahwa semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Menurut Hoed (dalam Nurgiyantoro 1995;40), semiotik adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda. Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan, dan lain-lain. Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rambut, pakaian, karya seni sastra, patung, dan lain-lain yang berada di sekitar kita. Bahasa juga merupakan tanda. Dalam karya sastra bahasa digunakan sebagai tanda untuk menunjukkkan suatu pemikiran, keadaan atau gejala sosial. Sehingga dalam meneliti sebuah novel pendekatan semiotik digunakan untuk melihat tandatanda yang ada dalam novel tersebut. Setelah mendapatkan tanda-tanda yang ada dalam sebuah novel, tanda-tanda itu akan dideskripsikan berdasarkan konteksnya, dan ditafsirkan maknanya.
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan pendekatan semiotik tersebut penulis akan menginterpretasikan sikap dan interaksi pada tokoh ke dalam tanda. Tanda-tanda tersebut diperoleh dari teks-teks cerita yang ada dalam novel. Tanda yang ada dalam novel Grotesque ini akan dipilih bagian mana yang menunjukkkan adanya interaksi sosial antara dua kelompok siswa. Dengan demikian maka interaksi sosial antara dua kelompok siswa yang terlihat dalam novel ini dapat ditemukan dan dapat mengambil makna dari interaksi tersebut.
1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian a.Tujuan Penelitian
Dengan mencoba meneliti tentang budaya kelompok di Jepang melalui novel Grotesque ini maka tujuan dari penelitian ini yaitu:.
1. Untuk mengetahui bagaimana interaksi sosial dua kelompok siswa yang ada dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino.
b.Manfaat Penelitian Dengan melakukan penelitian tentang permasalahan di atas penulis dan
juga pembaca dapat memperoleh manfaat diantaranya: 1. Menambah wawasan penulis dan pembaca tentang interaksi sosial. 2. Sebagai referensi tentang bentuk interaksi sosial antara kelompok siswa di sekolah.
Universitas Sumatera Utara

1.6. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriftif yang termasuk dalam
cakupan penelitian kumulatif dan menggunakan pendekatan semiotik. Menurut Koentjaraningrat (1976 : 30) bahwa penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberi gambaran yang secermat mungkin mengenai individu , keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Metode deskriftif merupakan metode yang menggambarkan keadaan atau objek penelitian yang dilakukan berdasarkan faktafakta yang tampak atau sebagaimana adanya dan dipakai untuk memecahkan masalah dengan cara mengumpulkan, menyusun, mengklasifikasi, mengkaji dan menginterpretasi data. Muhammad nazir (1988:84) menerangkan bahwa penelitian deskriftif mempelajari masalah masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh dari suatu fenomena. Oleh karena itu, dengan metode itu peneliti akan meneliti bagaimana interaksi sosial dua kelompok siswa yang ada dalam novel Grotesque karya Natsuo Kirino. Dengan menggunakan teori interaksi sosial dan pendekatan semiotik yang akan digunakan untuk menunjukkan interaksi tersebut.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kata tulisan yang dikutip dari buku-buku yang berhubungan dengan sastra, novel, interaksi sosial, dan lain sebagainya. Adapun teknik pengumpulan data adalah dengan cara studi pustaka (library research), yaitu dengan menyusuri sumber-sumber kepustakaan dengan cara membaca buku referensi yang berkaitan dengan masalah yang akan dijelaskan. Data yang diperoleh dari berbagai referensi tersebut kemundian di
Universitas Sumatera Utara

analisa untuk mendapatkan kesimpulan dan saran. Teknik penelitian adalah dengan penelaahan terhadap buku-buku kepustakaan. Penulis akan mempelajari buku-buku tersebut kemudian menganalisis unsur-unsur ekstrisik yang terkandung di dalamnya, dan menginterpretasikanya ke dalam teks-teks cerita dari novel Grotesque. Dalam hal ini teks yang diambil merupakan teks-teks yang berkaitan dengan tentang interaksi sosial dua kelompok siswa dalam novel grotesque.
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP NOVEL GROTESQUE, SINOPSIS
CERITA NOVEL GROTESQUE, INTERAKSI SOSIAL DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK SISWA PADA NOVEL GROTESQUE
2.1. Setting Novel Grotesque Menurut Ikram (1980:21), setting adalah tempat secara umum dan dan
waktu atau masa terjadi. Menurut Abrams dalam Nurgiyantoro (1995:216), latar atau setting yang disebut juga sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan.
Setting merupakan bagian intrinstik dalam novel. Setting menunjukkan tempat, waktu dan menjelaskan suasana terjadinya suatu kejadian dalam sebuah cerita novel. Setting merupakan bagian penting dalam novel, tanpa adanya setting pembaca akan sulit untuk mengerti isi cerita dalam sebuah novel. Dengan adanya setting para pembaca juga bisa mudah menghayati dan membayangkan suasana saat kejadian dalam cerita novel tersebut terjadi.
Unsur latar atau setting dapat dibedakan ke dalam tiga unsure pokok yaitu tempat, waktu, dan sosial. Meskipun ketiga unsur itu masing-masing menawarkan permasalahan yang berbeda dan dapat dibicarakan secara sendiri, pada kenyataannya saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Nurgiyantoro, 1995 : 227) 1.Latar Tempat
Universitas Sumatera Utara

Latar tempat menyangkut deskripsi tempat suatu peristiwa cerita terjadi. Unsur-unsur tempat yang dipergunakan bisa berupa tempat dengan nama-nama tertentu, inisial tertentu atau mungkin juga dengan suatu penggambaran lokasi tertentu tanpa menyebutkan nama. Cuplikan halaman 61. Kazue dan aku lulus ujian masuk dan masuk ke sistim perguruan Q di sekolah lanjutan atas. Aku yakin kau tahu, bahwa sekolah lanjutan atas Q untuk perempuan mudah sangat kompetitif dan hanya menerima mereka yang nilai ujiannya paling tinggi.
Dari cuplikan di atas digambarkan bahwa latar tempat pada cerita “Grotesque” berada di sebuah Sekolah Lanjutan atas yang merupakan bagian dari Perguruan Q yang sangat kompetitif. Dan tidak mudah untuk bisa menjadi salah satu dari siswanya. 2.Latar Waktu
Latar waktu mengacu kepada saat terjadinya peristiwa, dalam plot secara historis. Melalui pemberian waktu secara jelas, akan tergambar tujuan fiksi tersebut secara jelas pula. Dengan adanya latar waktu akan tergambar jelas urutan setiap kejadian-kejadian yang ada dalam cerita, sehingga akan mudah untuk memahami cerita. Cuplikan halaman 68
Waktu kami pertama mulai bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk perempuan muda, aku tidak tahu nama Kazue dan tidak tertarik untuk mencari tahu. Waktu itu, semua orang luar berkumpul bersama dan kelihatan bingung dan dungu sehingga tidak mungkin membedakan masing-masing.
Universitas Sumatera Utara

Dari cuplikan di atas diganbarkan bahwa kejadian terjadi saat tokoh baru bersekolah di Sekolah lanjutan Atas Q untuk perempuan muda. Saat itu semua siswa yang merupakan siswa baru belum saling mengenal. 3.Latar Sosial
Latar sosial menyaran pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan sosial masyarakat mencakup berbagai masalah dalam lingkup yang cukup kompleks, dapat berupa kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara bersiakap dan lain-lain. Disamping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya kalangan bawah, menengah atau atas. Cuplikan halaman 63
Waktu aku pertama mulai tinggal bersama kakekku, aku bermimpi tentang bagaimana hidupku sebagai siswa di Sekolah Lanjutan Atas Q untuk perempuan muda yang sangat didambakan itu. Imajinasiku subur sekali, adegan demi adegan berkembang. Menuruti khayalan-khayalan ini memberiku kenikmatan besar, seperti sudah kukatakan. Aku akan bergabung dengan kelab-kelab, berteman dan menjalani kehidupan normal seperti orang normal lainnya. Namun kenyataan mencabik-cabik impian-impian ini hingga berkeping-keping. Pada dasarnya, keberadaan kubu-kubu menghancurkan diriku. Kau tidak bisa begitu saja berteman dengan siapa saja, tahu. Bahkan kegiatan kelab-kelab diberi peringkat dan disusun dalam hierarki masing-masing, jelas dibedakan antara yang didambakan dan yang pinggiran. Dasar dari pemeringkatan ini tentu saja pengertian elit ini.
Universitas Sumatera Utara

Dari cuplikan diatas menggambarkan adanya keadaan sosial yang masyarakatnya dibagi ke dalam kelas-kelas atau kubu-kubu dan menjadikan sesuatu yang dianggap elit sebagai dasar dari pembagian peringkat setiap kelas. Setiap orang tidak bisa begitu saja berteman dengan siapa saja. Semua diatur berdasarkan peringkat kelasnya. Dengan siapa berteman sampai kelab yang bisa dimasuki sesuai dengan kelasnya.
2.2. Sinopsis Cerita Novel Grotesque Novel Grotesque ini menceritakan tentang kehidupan dua orang wanita
yang berprofesi sebagai seorang pelacur yang terbunuh secara sadis. Kedua wanita tersebut adalah Kazue Sato dan Yuriko. Dalam novel ini kehidupan kedua wanita tersebut diceritakan oleh kakak yuriko dan juga teman satu sekolah kazue. Dan cerita tentang kehidupan kedua wanita ini juga di dapat dari buku harian mereka.
Yuriko adalah seorang anak keturunan swiss dan Jepang. Ayahnya adalah sosok yang otoriter yang selalu mengganggap dirinya benar. Sedangkan Ibunya adalah sosok penurut. Dia memiliki rupa yang sangat cantik dan di kagumi banyak orang. Bahkan orang-orang tidak percaya kalau dia adalah salah satu dari keluarganya karena tidak mirip. Orang-orang juga tidak percaya kalau yuriko mempunyai ayah, ibu dan kakak yang sangat biasa. Kecantikan yang membuat semua orang kagum kepadanya membuat yuriko sangat mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan itulah yang membuat kakaknya sangat benci kepadanya. Sehingga kakaknya memutuskan untuk tetap tinggal di Jepang bersama kakeknya saat keluarganya akan pindah ke swiss, agar berada jauh dari Yuriko. Di Swiss ibunya akhirnya bunuh diri karena depresi akibat tanggapan negatif dari
Universitas Sumatera Utara

masyarakat tentang bagaimana mungkin seorang yang biasa saja memiliki anak yang sangat cantik. Kecantikan yuriko jugalah yang membuat banyak pria yang tertarik kepadanya. Hal ini membuat yuriko terobsesi menjadi seorang pelacur.
Kazue sato adalah seorang wanita yang sangat taat kepada peraturan ayahnya. Semua yang dia lakukan sesuai dengan perintah ayahnya. Permasalahan terjadi saat dia berada di sekolah lanjutan atas. Dia sangat berusaha untuk bisa masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q yang sangat terkenal. Saat dia akhirnya masuk ke sekolah menengah atas perguruan Q dia dihadapkan pada pembagian kelompok siswa. Kelompok pertama disebut kelompok dalam yaitu kelompok yang masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim perguruan Q yaitu mereka adalah siswa sekolah menengah perguruan Q yang otomatis bisa melanjut ke sekolah lanjutan atas perguruan Q tanpa harus mengikuti ujian seleksi. Sedangkan kelompok yang lain di sebut kelompok luar yaitu mereka yang baru masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q dengan cara lulus seleksi. Kazue sato termasuk ke dalam kelompok luar. Perbedaan kelompok dalam dan kelompok luar sangat jelas terlihat, kelompok dalam adalah siswasiswa yang berasal dari keluarga kaya dan sangat berpengaruh di sekolah itu. Sedangkan kelompok luar adalah siswa yang baru masuk ke perguruan Q dengan seleksi dan mayoritas berasal dari keluarga yang biasa saja. Kazue sato dalam keluarga selalu dituntut untuk jadi nomor satu dan menjadi yang terbaik. Hal ini berdampak pada sekolahnya. Di sekolah dia melakukan segala hal untuk bisa menjadi yang terbaik dan semua itu harus dimulai dengan masuk kelompok dalam. Berbagai usaha dilakukannya untuk bisa masuk ke dalam kelompok dalam tetapi ternyata itu tidak mudah. Kegagalan usaha Kazue yang ingin masuk ke
Universitas Sumatera Utara

dalam kelompok dalam pada akhirnya menjadikan dia terobsesi untuk menjadi nomor satu tanpa mempedulikan orang lain. Bahkan sampai saat dia sudah memiliki pekerjaan dia yang bagus dia tetap ingin menjadi pusat perhatian orang disekitarnya, dan ini membuat orang-orang disekitarnya merasa tidak nyaman dan menjauhinya.
Yuriko dan Kazue diduga dibunuh oleh orang yang sama yaitu Zhang warga negara china yang datang ke Jepang secara illegal, demi mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Dia adalah salah satu orang yang memakai jasa Yuriko dan Kazue. Dia membunuh Yuriko karena terlibat perkelahian. Sedangkan untuk pembunuhan Kazue dia tidak mengakuinya.
2.3.Interaksi Sosial Menurut Bonner dalam Ali (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-
sosial/) interaksi sosial merupakan suatu hubungan antara dua orang atau lebih individu, dimana kelakuan individu mempengaruhi, mengubah atau mempengaruhi individu lain atau sebaliknya.
Kehidupan bermasyarakat tidak mungkin terlepas dari interaksi sosial. Sebagai makhluk sosial setiap anggota masyarakat harus melakukan interaksi dengan anggota masyarakat lain untuk bisa menjalani kehidupannya.
Ada beberapa bentuk-bentuk interaksi sosial menurut Park dan Burgess dalam Santosa (http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/) yaitu :
a. Kerja sama
Universitas Sumatera Utara

Kerja sama ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok bekerja sama atau bantu-membantu untuk mencapai tujuan bersama. b. Persaingan
Persaingan ialah suatu bentuk interaksi sosial dimana orang-orang atau kelompok-kelompok berlomba untuk meraih tujuan yang sama c. Pertentangan
Pertentangan ialah suatu bentuk interaksi sosial berupa perjuangan yang langsung dan sadar antara orang dan orang atau kelompok dan kelompok untuk mencapai tujuan yang sama. d. Persesuaian
Persesuaian ialah proses penyesuaian dimana orang-orang atau kelompok-kelompok yang sedang bertentangan bersepakat untuk menyudahi pertentangan tersebut atau setuju untuk mencegah pertentangan yang berlarut-larut dengan melakukan interaksi damai baik bersifat sementara maupun bersifat kekal. Selain itu persesuaian juga memiliki arti yang lebih luas yaittu penyesuaian antara orang yang satu dengan yang lain, antara seorang dengan kelompok, dan antara kelompok yang satu dan kelompok yang lain. e. Perpaduan
Perpaduan adalah suatu proses sosial dalam taraf kelanjutan, yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan yang terdapat di antara individu atau kelompok. Dan juga merupakan usaha-usaha untuk
Universitas Sumatera Utara

mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan kepentingan dan tujuan bersama. Faktor-faktor yang mendasari proses terbentuknya interaksi sosial adalah : 1. Imitasi yaitu proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang
lain, baik sikap penampilan, gaya hidupnya, bahkan apa-apa yang dimilikinya. Imitasi pertama kali muncul di lungkungan keluarga, kemudian lingkungan tetangga dan lingkungan masyarakat. 2. Indentifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seorang individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Proses identifikasi tidak hanya terjadi melalui serangkain proses peniruan pola perilaku saja, tetapi juga melalui proses kejiwaaan yang sangat mendalam. 3. Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, stimulus yang diberikan sesorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional. 4. Motivasi yaitu rangsangan pengaruh, stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti tau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan penuh rasa tanggung jawab . Motivasi biasanya diberikan oleh orang yang memiliki status yang lebih tinggi dan berwibawa, misalnya dari seorang ayah kepada anak, seorang guru kepada siswa. 5. Simpati adalah proses kejiwaan , dimana seorang individu merasa tertarik kepada seseorang atau kelompok orang, karena sikapnya, penampilannya, wibawanya atau perbuatannya yang sedemikian rupa.
Universitas Sumatera Utara

6. Empati yaitu mirip dengan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja. Empati dibarengi dengan perasaan organisme tubuh yang sangat intens/dalam. (http://id.shvoong.com/social-sciences /sociology/ 1809953-interaksi-sebagai-proses-sosial/ )
Semua bentuk-bentuk interaksi sosial di atas selain dapat dilihat di dalam kehidupan sehari-hari juga bisa dilihat dalam karya sastra, khususnya novel. Tokoh yang satu dengan yang lain saling berinteraksi sehingga menghasilkan sebuah cerita. Dalam novel grotesque interaksi dilakukan oleh dua kelompok siswa. Siswa kelompok orang dalam menunjukkan golongan atas dan siswa kelompok orang luar menunjukkan golongan bawah. Setiap perilaku masingmasing kelompok ini memberikan pengaruh terhadap kelompok lainnya. Setiap tindakan dan sikap dari siswa kelompok orang dalam mendapat tanggapan dari siswa kelompok orang luar begitu juga sebaliknya. Dari setiap interaksi tersebut juga dapat di lihat bagaimana hubungan yang terjadi antara kedua kelompok ini.
2.4. Pembentukan Kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.
Berikut adalah cuplikan-cuplikan cerita yang akan menunjukkan pembentukan kelompok siswa dalam novel Grotesque.
Cuplikan halaman 62-63 Itu karena Universitas Q tidak begitu saja menerima siapa pun. Dan
karena itu siswa-siswa yang masuk ke system Q-yang akhirnya mampu meluncur
Universitas Sumatera Utara

masuk ke universitas Q-merasa berhak. Semakin awal si siswa masuk ke sistim ini, semakin kuat kesadaran elit mereka.
Justru karena sistim ekskalator inilah orang tua yang kaya raya berupaya keras agar anak mereka masuk sekolah Q tingkat dasar. Kudengar dari orang lain bahwa keseriusan mereka dalam menghadapi ujian awal ini sudah mendekati histeri.
Dari cuplikan diatas di jelaskan bahwa sistem perguruan Q bukanlah sistim yang menerima siswa dengan mudah, semakin cepat seorang siswa masuk ke dalam sistim ini maka mereka akan semakin dianggap elit. Perguruan Q memiliki sistim ekskalator maka siswa yang masuk saat sekolah dasar bisa masuk ke tingkat berikutnya dengan mudah tanpa test. Karena itulah maka para orang tua yang kaya raya berupaya keras agar anak mereka masuk dari tingkat dasar. Hal itu juga merupakan alasan kenapa semakin cepat siswa masuk ke dalam sistim perguruan Q semakin mereka dianggap elit karena siswa sekolah dasar perguruan Q merupakan siswa yang berasal dari keluarga yang kaya. Sistim perguruan Q ini juga menyebabkan siswa yang masuk pada tingkat berikutnya dianggap lebih rendah dibandingkan siswa yang masuk di tingkat sebelumnya dan melanjut tanpa ujian.
Cuplikan halaman 64 Siswa-siswa tingkat satu dibagi atas dua kelompok besar: mereka yang
melanjutkan dari dalam sistem sekolah Q dan mereka yang masuk tahun itu. Sekilas mudah melihat yang mana kelompok apa. Panjang rok seragam sekolah kamilah yang membedakan kami.
Universitas Sumatera Utara

Diantara kami yang masuk untuk pertama kali-masing-masing dari kamisesudah berhasil lulus ujian masuk, memakai rok yang panjangnya tepat di atas lutut, tepat sesuai peraturan sekolah. Tetapi, separuh siswa yang sudah sejak tingkat sekolah dasar atau sekolah menengah ada di sistem itu, memakai rok yang pendek hingga ke paha mereka. Nah, aku bukan bicara tentang jenis rok yang di pakai gadis-gadis sekarang, rok yang hampir tidak menutupi apa pun sehingga seperti sama sekali tidak ada.
Dari cuplikan di atas dijelaskan bagaimana kelompok siswa dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang masuk melalui sistim dan yang kedua yang masuk melalui test pada tahun itu. Pada cuplikan yang ingin dijelaskan bukanlah masalah panjang rok tetapi perbedaan yang sangat menonjol pada kedua kelompok tersebut. Kelompok pertama memakai rok yang sangat pendek yang tidak sesuai dengan peraturan sekolah, tanpa takut akan mendapat hukuman. Mereka merasa berkuasa di sekolah itu sehingga memiliki keberanian untuk melanggar peraturan yang ada. Sedangkan kelompok yang kedua adalah siswa-siswa baru yang taat dengan peraturan yang ada. Dari cuplikan sebelumnya kelompok pertama jelas merupakan siswa-siswa yang dianggap lebih elit dari pada siswa yang ada di kelompok kedua.
Cuplikan halaman 65 Upacara matrikulasi pun dimulai. Kami orang luar memperhatikan
dengan serius semua yang dikatakan. Tetapi sebaliknya siswa-siswa yang naik dari tingkat dasar hanya pura—pura mendengarkan. Mereka mengunyah permen karet, saling berbisik, dan bersikap seakan-akan mereka sama sekali tidak peduli
Universitas Sumatera Utara

dengan apa yang sedang berlangsung. Bukannya bersikap serius, mereka malah bertingkah laku seperti anak kucing yang lincah, sangat disayang, dan sulit diatur. Dan mereka tidak satu kali pun melirik kearah kami.
Kontras sekali dengan para siswa pendatang, yang ketika memperhatikan cara orang dalam bersikap, merasa semakin gelisah.
Cuplikan di atas juga menunjukkan bahwa siswa yang baru masuk disebut “orang luar” dan siswa yang masuk melalui sistim disebut “orang dalam”. Dalam cuplikan juga ditunjukkan bahwa perbedaan sikap antara dua kelompok siswa tersebut. Siswa yang termasuk ke dalam kelompok “orang dalam” bertindak sesuka hati dan sama sekali tidak mempedulikan siswa di kelompok “orang luar”
Cuplikan halaman 76-77 “Di sini kami punya masyarakat berdasarkan golongan dalam seluruh
kejayaan yang menjijikkan,” lanjut Mitsuru. “ Pasti lebih buruk di sini dari tempat lain mana pun di seluruh Jepang.
Penampilan menguasai segalanya. Karena itulah orang-orang di lingkaran dalam dan mereka yang berorbit di luarnya tidak pernah berbaur.”
“Lingkaran dalam? apa itu?” “Mereka yang mulai bersekolah disini sejak sekolah dasar adalah putriputri berdarah biru sejati, anak-anak perempuan dari para ayah yang memiliki kartel-kartel raksasa. Mereka tidak pernah harus bekerja sama sekali dalam hidup mereka. Bahkan, kalau punya pekerjaan malah memalukan.” “Bukankah itu agak kuno?” aku mendengus jijik, tetapi Mitsuru melanjutkan dengan serius sekali.
Universitas Sumatera Utara

“Nah, aku setuju tentu saja. Tetapi begitulah sikap lingkaran dalam terhadap penaksiran nilai. Mungkin agak lepas dari kenyataan, tetapi mereka sangat kokoh dalam posisi mereka, maka semua orang lain terbawa menyimpang.”
“Nah, bagaimana dengan orang-orang lain di sekeliling mereka?” “Mereka anak-anak orang upahan,” jawab Mitsuru dengan nada sedih. “ Anak perempuan dari orang yang bekerja untuk mendapatkan bayaran tidak pernah bisa menjadi bagian dari lingkaran dalam. Mungkin saja dia pintar dan berbakat, tetapi hal itu tidak menjadikannya berbeda. Ia bahkan tidak akan terperhatikan. Kalau ia mencoba bergerak dengan licin ke tengah mereka, ia akan diejek. Tambahan lagi, meskipun dia cukup cerdas, tetapi ia tidak keren dan jelek maka ia tidak lebih dari sampah di tempat ini.” Cuplikan diatas adalah merupakan percakapan antara tokoh pengarang sebagai tokoh “aku” dengan salah satu tokoh lain bernama Mitsuru. Cuplikan ini menjelaskan bagaimana keadaan kehidupan sosial dalam sekolah itu. Pembentukan kelompok siswa dalm novel ini terjadi didasarkan pada perbedaan kekayaan. Siswa kelompok orang dalam merupakan putri-putri orang-orang kaya dan di luarnya yaitu siswa kelompok orang luar merupakan putri dari orang-orang upahan. Siswa kelompok orang dalam dan siswa kelompok orang luar tidak dapat berbaur satu sama lain. Kepintaran dan bakat yang dimiliki siswa tidak memiliki pengaruh banyak, hal itu tidak bisa menjadikan siswa dari golongan luar biasa masuk ke golongan dalam. Bahkan jika ada yang berusa untuk masuk maka dia akan mendapatkan perlakuan buruk seperti diejek. Siswa-siswa yang berasal dari
Universitas Sumatera Utara

golongan luar atau anak dari orang upahan selalu dianggap tidak penting dan dianggap seperti sampah.
Dari cuplikan-cuplikan di atas dapat diketahui bagaimana kedua kelompok siswa ini terbentuk. Perbedaan kekayaan yang dimiliki oleh siswa menjadi pembeda kedua kelompok siswa ini. Siswa yang ada di kelompok orang dalam adalah siswa yang berasal dari keluarga yang kaya raya dan masuk ke sekolah lanjutan atas perguruan Q melalui sistim. Sedangkan siswa yang ada di kelompok orang luar adalah siswa yang masuk melalui ujian di tahun itu. Antara kedua kelompok ini tidak bisa saling berbaur satu sama lain. Berada di kelompok mana menentukan juga dengan siapa para siswa boleh berhubungan atau berteman. Kelompok orang dalam dianggap lebih elit daripada kelompok orang luar. Kelompok orang dalam memiliki kekuasaan di sekolah dan mendapatkan banyak kebebasan sedangkan kelompok orang luar tidak memiliki kekuasaan mereka patuh terhadap peraturan yang ada.
Universitas Sumatera Utara

BAB III ANALISIS INTERAKSI SOSIAL DUA KELOMPOK SISWA DALAM
NOVEL GROTESQUE KARYA NATSUO KIRINO
3.1. Analisis Interaksi Sosial Dua kelompok Siswa dalam Novel Grotesque Karya Na

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Analisis Interaksi Sosial Dua Kelompok Siswa Dalam Novel Grotesque Karya Natsuo Kirino.