Tujuan Penelitian Respons Kepiting Bakau (Scylla serrata Forskal 1775) terhadap Tingkat Kebusukan Umpan Keong Emas (Pomacea canaliculata Lamarck 1822)

Menurut Ong 1977 dalam Moosa et al. 1985, kepiting bakau mulai dari telur hingga dewasa mengalami beberapa tingkat perkembangan. Tingkat perkembangan tersebut adalah zoea, megalopa, kepiting muda, dan kepiting dewasa. Pada setiap kali pergantian kulit zoea tumbuh dan berkembang yang antara lain ditandai dengan setae renang pada endopod maxilliped-nya Warner 1977 dalam Kasry 1996. Megalopa yang lebih mirip kepiting dewasa sering dirujuk sebagai kepiting pada tingkat pasca larva. Dari tingkat megalopa ke tingkat kepiting muda diperlukan waktu 11 – 12 hari Motoh 1977 dalam Dianthani 2002.

2.4 Pergerakan Kepiting Bakau

Respons kepiting bakau terhadap rangsangan umpan dapat dilihat dari kecepatan pergerakan speed of movement kepiting bakau menuju umpan. Hill 1978 mengungkapkan bahwa melalui transmiter ultrasonik disimpulkan bahwa Scylla serrata selama 24 jam rata-rata aktif selama 13 jam, mayoritas pada malam hari. Jarak yang ditempuh per malam mencapai rata-rata 461 m pada kisaran 219 m dan 910 m. Mayoritas pergerakan lambat, dengan modal speed 10 – 19 mdt. Pergerakan lambat tersebut tidak bergantung pada arah arus dan diasumsikan berhubungan dengan contact chemoreseption terhadap lokasi mangsa. Kurang lebih sepertujuh gerakan lebih cepat daripada 70 mdt, lebih sering karena melawan arus dan mungkin berhubungan dengan rangsang penciuman terhadap lokasi mangsa.

2.5 Teknologi Penangkapan Kepiting Bakau

Cholik dan Hanafi 1992 mengungkapkan wadong, pintur, rakkang, tangkul, dan pancing adalah alat tangkap yang banyak digunakan untuk penangkapan kepiting bakau di Indonesia Gambar 3. Empat alat tangkap tersebut secara berurutan adalah jenis perangkap sedangkan pancing yang digunakan adalah dengan atau tanpa hook. Semua alat tangkap tersebut menggunakan umpan bait. Ada pula alat tangkap tanpa umpan berupa batang besi dengan ujung bengkok hooked end yang disebut cangkok.