Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara.

GERAKAN SOSIAL KAUM TANI
(Studi Kasus Pengorganisasian Tani di Dewan Pengurus Wilayah
Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara)

SKRIPSI

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat
Untuk Memenuhi Gelar Sarjana Sosial
Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial
Disusun Oleh:

DIKA YUDHISTIRA RIZQY
070902052

DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

 
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Pertama sekali penulis ingin mengucapkan syukur Alhamdulillah kepada
Allah SWT atas limpahan taufiq dan ‘inayah Nya, karena skripsi yang telah lama
penulis harapkan kehadirannya ini dapat diselesaikan. Walaupun penulis
menyadari bahwa masih banyak kecatatan dan kekurangan terlebih lagi untuk
dikonsumsi oleh orang-orang yang rindu akan sebuah gerakan sosial. Sholawat
dan Salam penulis sampaikan kepada junjungan alam Nabi Muhammad SAW
yang telah berhasil memerankan fungsi kehambaan dan kekhalifahannya secara
sempurna di alam ini. Sejatinya Nabi Muhammad SAW harus dijadikan uswat
hasanah bagi manusia. Sehingga regenerasi manusia yang ada dapat
mentransformasikan ajaran dan sikap seorang Nabi akhir zaman tersebut.
Penelitian ini dilakukan dengan orientasi awalnya adalah guna memenuhi
persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan Strata satu (S-1) pada Departemen
Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Sumatera Utara. Bahan yang diambil berasal dari studi kepustakaan dan studi
lapangan yang penulis lakukan. Kehadiran penelitian ini bermaksud untuk
mengangkat tema “Gerakan Sosial” yang dijadikan alat untuk melihat organisasi
masyarakat Tani sebagai sebuah gerakan sosial. Penelitian ini memfokuskan pada
perjuangan SPI (Serikat Petani Indonesia). Adapun judul skripsi ini adalah
“Gerakan Sosial Kaum Tani (Studi kasus pengorganisasian tani di DPW SPI
Sumut)”.
Jujur diakui, skripsi ini banyak sekali kekurangannya, jika pembaca
sekalian merasa memilikinya, berikanlah saran dan kritikan yang konstruktif agar
skripsi ini lebih baik lagi. Namun apapun bentuknya, hanya inilah yang dapat
penulis berikan untuk penambahan amunisi keilmuan bagi kita semua.
Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak
yang bersinggungan langsung dan pernah bersentuhan pemikiran dengan penulis
dalam proses penyelesaian skripsi ini. karena sedikit banyaknya pengerjaan
skripsi ini adalah kristalisasi dari diskusi-diskusi serta pemikiran-pemikiran

 
Universitas Sumatera Utara

penulis selama menjalani tugas dan tanggungjawab sebagai seorang mahasiswa.
Ucapan terimakasih penulis ucapkan kepada :
1. Bapak Prof. Badaruddin Rangkuti, selaku dekan FISIP USU.
2. Bapak/ibu Pembantu Dekan FISIP USU, Pak Zakaria Taher (PD 1), Ibu
Rosmiani (PD 2) dan Pak Edward (PD 3).
3. Ibu Hairani Siregar S.sos, MSP selaku Ketua departemen Ilmu
Kesejahteraan Sosial.
4. Bapak Agus suriadi S.sos, M.si selaku Dosen pembimbing yang selalu
memberikan arahan, masukan dan pemikiran-pemikiran untuk pemantapan
skripsi ini. Thank’s a lot sir.
5. Terimakasih juga saya ucapkan kepada staff pengajar dan staff
kepegawaian di kampus FISIP USU. Yang telah memberi banyak
kesempatan untuk saya menimba ilmu dan meminta pertolonganpertolongan sehingga menghantarkan saya pada akhir masa studi ini.
6. Thank’s to my parent, buat orangtuaku H.Tumino dan Hj. Yuslinar
Siregar. Terimakasih semua yang telah diberikan selama ini serta harus
sabar menunggu sampai gelar S.sos itu didapatkan.
7. Buat dua my little sister ku, Tya Maghfirah R dan Nazwa Annisa R,
melihat

kalian

berdua

membuat

Mas

lebih

termotivasi

untuk

menyelesaikan studi ini. Don’t stop to study n fly away into your dreams.
8. Sepupu-sepupu awak merangkap teman se-rumah awak di kota Medan.
Doi, Didit n Pupa. akhirnya satu persatu dari kita beranjak dewasa, dan ini
saat awak untuk menyusul apa yang udah kalian lakukan. Buat yang lain,
Bou-Bou dan Tulang ku dikampung semua, sepupu q Nita,Rika,Ery,Pu2t,
denny, ovi dll, terimakasih atas perhatian dan kehangatan yang udah kita
buat, semoga bisa jadi hal positif untuk keluarga kita kedepan.


 
Universitas Sumatera Utara

9. Miftah “Lady Rose” Khairuza, Thank’s udh bisa beradaptasi dengan Mas
yaa. Serta support dan “bimbingan-bimbingan khusus nya” selama ini.
dengan itu semua lah proses-proses yang ada ini bisa menjadi lebih indah.
10. Kawan-kawan Mokondo dan Mokondowati Kesos, Amir (Jgn asik mw
pulkam aja bawaan geng, selesaikan dulu itu), Rholand (duluan aku yaa
ketua), Acong (siapa lagi korban yg kau tipuin cinaa.he), Ridho (Kapan
serius nya do. Fokus dulu), Ferdy (apalagi yg dtggu cuy, sembari2 selesai
nya itu), Ojan (jgn byk “haaa?!” nya, responsive dikit), Baim (marcepatcepat pulak selesai lae ya). Boy (apa yg bs kami bantu?!), Endika (Si
perfectsionis man) Rizal Bolang, Billy, Sunario, Ody, Asep, Manuk, Timo,
Petrus dll (Mantap laah utk kalian semua GBU). Aing, Wirda, Malida,
Vi2n, Titik, Ayu dll (kalo udah sama kalian, kek sama bou2 ku, bising,
he..).
11. Kawan-kawan seperjuangan Batu Kristal, sungguh banyak yang kita
hadapi dan nikmati selama masa-masa asik itu. Terima kasih banyak telah
menjadi kawan berjuang. Sebagai kesimpulan akhir semoga kita bisa
mengerti dan merasakan apa yg disebut dgn konsolidasi, friends.
12. Keluarga Besar HMI Komisariat FISIP USU. Tidak cukup kata
terimakasih yang dihantarkan kepada kakanda dan adinda semua yang ada
disana. Pastinya, setiap jejak rekam proses yang dilewati disana menjadi
amunisi yang berguna untuk struggle kedepannya. Semoga Allah SWT
memberi yang terbaik untuk kita semua dan rumah ini. YAKUSA!!
13. Kepengurusan PEMA FISIP USU Periode 2010-2011. Siapapun itu, yang
telah bersentuhan pemikiran dengan saya. Terimakasih banyak.
14. Kepengurusan IMIKS FISIP USU Periode 2009-2010. Terus bergerak
kawan untuk sesuatu yang lebih baik lagi untuk kita semua, kalau ada
yang salah dengan kerendahan diri saya meminta maaf.
15. Keluarga besar DPW SPI Sumatera Utara. Bang Henry, Bang Wagimin,
Bang Edy, Bang Dhani, Bang Syahmana, Bang Tumpak, Bang Chandra,

 
Universitas Sumatera Utara

Bang foo, Bang Dika, Kak Andre, Kak dewi, Kak Ri2 dll serta keluarga
besar SINTESA bang Pian, Ca’ kardi, Kak Lisda, Kak Novi dll serta juga
seluruh petani anggota DPW SPI Sumut yang tidak bisa disebut satu
persatu. Terimakasih atas kesempatan belajar yang diberikan disana
sehingga saya mengerti apa artinya perjuangan itu.
16. Semua pihak yang pernah bersentuhan pemikiran dengan penulis. Sedikit
banyaknya skripsi ini adalah kristalisasi pemikiran yang selama ini ada.
Terimakasih semuanya.
Akhirul kallam, setiap fase yang terlewati merupakan pijakan untuk
berbuat sesuatu yang lebih baik lagi kedepan, skripsi ini pun tidak ada apa-apanya
tanpa dilanjutkan dengan hal-hal kongkrit untuk sebuah kebenaran. Oleh karena
itu, ucapan terimakasih mesti penulis ucapkan kepada semua support, bantuan dan
motivasi dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengan penulis. Semoga
skripsi ini bermanfaat bagi kita semua dan khusus bagi pergerakan petani di SPI
sebagai amunisi keilmuan. Suarakan terus kebenaran dan keadilan itu, karena kita
selalu di janjikan kedamaian tanpa keadilan yang nyata.

Medan, 21 September 2011

Dika Yudhistira Rizqy


 
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ABSTRAK
Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia
Sumatera Utara.
(Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 105 Halaman, 2 tabel, 3 bagan, lampiran, serta 15
kepustakaan dan 15 sumber lain yang berasal dari internet, karya ilmiah, dan
lembaran Negara.)
Salah satu sektor publik yang paling di dominasi oleh masyarakat
Indonesia adalah pertanian. Adapun masalah yang mengakar di sektor pertanian
adalah ketimpangan terhadap pola penguasaan lahan/tanah dalam struktur sosial.
Konflik yang ada pun tidak terlepas dari pandangan ekonomi nasional yang
mengacu kepada hasil konstruksi kekuatan capital global. Akibatnya tanah
menjadi komoditas dan memunculkan pasar tanah, sehingga investor lebih tertarik
menanamkan modalnya dalam bentuk tanah karena akan sangat menguntungkan.
Oleh karena itu, petani juga tidak berhenti pada satu titik saja, petani akan
mengalami dinamika kehidupan. Mereka senantiasa terkait dengan perubahan
sosial, dimana salah satu caranya adalah melakukan gerakan petani.
Masalah yang ingin diangkat adalah “Bagaimana pola pengorganisasian
tani dan implementasi perjuangan yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah
Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pola pengorganisasian dan implementasi perjuangan di
Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. Metode
penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian dilakukan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani
Sumatera Utara serta di areal yang secara struktur menjadi tanggungjawabnya
dengan jumlah informan sebanyak 12 orang. Teknik pengumpulan data dengan
wawancara mendalam dan observasi ke lapangan. Data yang didapat kemudian
dinarasikan secara kualitatif dengan melakukan proses triangulasi.
Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan telah dianalisis dapat
disimpulkan bahwa pola pengorganisasian dan perjuangan yang dilakukan di
Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara adalah
gerakan yang organik. Artinya gerakan yang dibangun atas kesadaran kolektif
untuk berjuang. Perjuangan organisasi yang ditimbulkan dipandang untuk
membangkitkan semangat juang petani atas kondisi yang dihadapi dengan cara
memberi suatu proses kaderisasi (pendidikan dan konsolidasi) bagi petani.
Kata Kunci

: Kaum Tani, Pengorganisasian, Gerakan Sosial.


 
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE
SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE
ABSTRACT

Social movement peasant in sub organization of Indonesian peasant of North
Sumatera.
(This thesis is composed of 6 chapters, 105 pages, 2 tables, 3 charts, appendix and
15 literature and other sources from the internet, scientific labour, journalist and
sheet of state)
One of the public sector dominate by the people of Indonesia is a farming.
The main problem in farming sector is the injustice rule to own land model in
social structure. The conflict come out because of national economic persfective
related to the result of the power capital global construction. The feed back is
going to the land and become comuditty and create the land market. So the
investor are more interested to put their investment in land sector. Because it is
big profit for them. Inspite of the peasant don’t stop in one line. They always
move to the dynamica of life. They always be related to social change. Where
there one way is doing to peasant movement.
The that is going to be picked up problem. “Here is about the model in
organizing peasant and implementation struggle that be created by sub
organization of Indonesian peasant of North Sumatera”. This research has aim for
knowing “how is the model in organizing peasant and implementation struggle by
sub organizing of Indonesian peasant of North Sumatera”. This method research
use explorative method research in qualitative approach. The research was made
in sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera and also in area that
the structurebecome their responsibility with size of informant about 12 man.
Method in collecting data by interview guide and observation of the field. The
data that was got by researcher is being narrated by qualitative method with the
triangulasi process.
Based on the data that has been analayzed the researcher take conclusion
that organizing model and struggle that was made in sub organization of
Indonesian peasant of North Sumatera is organic movement. The point is
movement that built based on conclusion collective. Organization struggle that
was created to built spirit peasant based on condition that they face by giving
training (education and consolidate) for peasant.
Keyword : peasant, organizing, social movement.

 
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Kata pengantar .................................................................................

i

Abstraksi .......................................................................................

v

Daftar isi ...........................................................................................

vii

BAB I PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Masalah ............................................

1

1.2

Perumusan Masalah ...................................................

15

1.3

Tujuan dan Manfaat Penelitian .................................

16

1.3.1 Tujuan Penelitian .............................................

16

1.3.2 Manfaat Penelitian ...........................................

16

Sistematika Penulisan ...............................................

17

1.4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1

2.2

Gerakan Sosial ...........................................................

19

2.1.1 Pengertian Gerakan Sosial...............................

19

2.1.2

Pendekatan Melalui Teori Marxist .................

23

2.1.3

Pendekatan Interaksionisme Simbolik............

27

Kesejahteraan Sosial ..................................................

28

2.2.1 Pengembangan Masyarakat dalam
Ilmu kesejahteraan sosial.....................................

32

2.3

Kerangka Pemikiran ....................................................

32

2.4

Defenisi Konsep ..........................................................

35

BAB III METODE PENELITIAN
3.1

Jenis Penelitian ...........................................................

36

3.2

Lokasi Penelitian .........................................................

37


 
Universitas Sumatera Utara

3.3

Unit Analisis dan Informan...........................................

37

3.3.1 Unit Analisis .......................................................

37

3.3.2 Informan .............................................................

38

3.4

Teknik Pengumpulan Data ........................................

39

3.5

Teknik Analisa Data ..................................................

40

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
4.1

Sejarah Organisasi .....................................................

42

4.2

Tujuan Organisasi .....................................................

45

4.3

Program Organisasi ...................................................

47

4.4

Platform Organisasi ..................................................

49

4.5

Struktur Organisasi ....................................................

51

4.6

Jumlah Satuan Organisasi ..........................................

63

4.7

Keanggotaan Organisasi ............................................

70

4.7.1 Syarat Keanggotaan ..........................................

70

4.7.2 Jenis dan Jenjang Keanggotaan ........................

71

BAB V ANALISA DATA
5.1

Semangat Lahirnya Gerakan Serikat
Petani Indonesia .........................................................

5.2

73

Pendidikan Kader dan Konsolidasi
Dalam Organisasi .......................................................

80

5.2.1

Pendidikan Kader ...........................................

80

5.2.2

Konsolidasi ....................................................

84

5.3

Perjuangan Pembaharuan Agraria dan Pedesaan .........

86

5.4

Gerakan Pertanian ........................................................

91

5.4.1 Pertanian Berkelanjutan Berbasis

 
Universitas Sumatera Utara

5.5

Keluarga Petani ...................................................

91

5.4.2 Kedaulatan Pangan ..............................................

93

5.4.3 Hak Asasi Petani .................................................

95

5.4.4 Perlawanan Terhadap Neoliberalisme .................

97

Pembentukan Perjuangan Organisasi ...........................

98

5.5.1 Penyadaran Kelas Petani ....................................

98

5.5.2 Tekanan Politik ..................................................

100

BAB VI PENUTUP
6.1

Kesimpulan ................................................................

103

6.2

Saran ..........................................................................

104

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN


 
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL
ABSTRAK
Gerakan Sosial Kaum Tani di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia
Sumatera Utara.
(Skripsi ini terdiri dari 6 BAB, 105 Halaman, 2 tabel, 3 bagan, lampiran, serta 15
kepustakaan dan 15 sumber lain yang berasal dari internet, karya ilmiah, dan
lembaran Negara.)
Salah satu sektor publik yang paling di dominasi oleh masyarakat
Indonesia adalah pertanian. Adapun masalah yang mengakar di sektor pertanian
adalah ketimpangan terhadap pola penguasaan lahan/tanah dalam struktur sosial.
Konflik yang ada pun tidak terlepas dari pandangan ekonomi nasional yang
mengacu kepada hasil konstruksi kekuatan capital global. Akibatnya tanah
menjadi komoditas dan memunculkan pasar tanah, sehingga investor lebih tertarik
menanamkan modalnya dalam bentuk tanah karena akan sangat menguntungkan.
Oleh karena itu, petani juga tidak berhenti pada satu titik saja, petani akan
mengalami dinamika kehidupan. Mereka senantiasa terkait dengan perubahan
sosial, dimana salah satu caranya adalah melakukan gerakan petani.
Masalah yang ingin diangkat adalah “Bagaimana pola pengorganisasian
tani dan implementasi perjuangan yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah
Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara”. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana pola pengorganisasian dan implementasi perjuangan di
Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara. Metode
penelitian ini menggunakan metode penelitian eksploratif dengan pendekatan
kualitatif. Penelitian dilakukan di Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani
Sumatera Utara serta di areal yang secara struktur menjadi tanggungjawabnya
dengan jumlah informan sebanyak 12 orang. Teknik pengumpulan data dengan
wawancara mendalam dan observasi ke lapangan. Data yang didapat kemudian
dinarasikan secara kualitatif dengan melakukan proses triangulasi.
Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan dan telah dianalisis dapat
disimpulkan bahwa pola pengorganisasian dan perjuangan yang dilakukan di
Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara adalah
gerakan yang organik. Artinya gerakan yang dibangun atas kesadaran kolektif
untuk berjuang. Perjuangan organisasi yang ditimbulkan dipandang untuk
membangkitkan semangat juang petani atas kondisi yang dihadapi dengan cara
memberi suatu proses kaderisasi (pendidikan dan konsolidasi) bagi petani.
Kata Kunci

: Kaum Tani, Pengorganisasian, Gerakan Sosial.


 
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITY OF NORTH SUMATRA
FACULTY OF SOCIAL SCIENCE AND POLITICAL SCIENCE
SCIENCE DEPARTMENT OF SOCIAL WELFARE
ABSTRACT

Social movement peasant in sub organization of Indonesian peasant of North
Sumatera.
(This thesis is composed of 6 chapters, 105 pages, 2 tables, 3 charts, appendix and
15 literature and other sources from the internet, scientific labour, journalist and
sheet of state)
One of the public sector dominate by the people of Indonesia is a farming.
The main problem in farming sector is the injustice rule to own land model in
social structure. The conflict come out because of national economic persfective
related to the result of the power capital global construction. The feed back is
going to the land and become comuditty and create the land market. So the
investor are more interested to put their investment in land sector. Because it is
big profit for them. Inspite of the peasant don’t stop in one line. They always
move to the dynamica of life. They always be related to social change. Where
there one way is doing to peasant movement.
The that is going to be picked up problem. “Here is about the model in
organizing peasant and implementation struggle that be created by sub
organization of Indonesian peasant of North Sumatera”. This research has aim for
knowing “how is the model in organizing peasant and implementation struggle by
sub organizing of Indonesian peasant of North Sumatera”. This method research
use explorative method research in qualitative approach. The research was made
in sub organization of Indonesian peasant of North Sumatera and also in area that
the structurebecome their responsibility with size of informant about 12 man.
Method in collecting data by interview guide and observation of the field. The
data that was got by researcher is being narrated by qualitative method with the
triangulasi process.
Based on the data that has been analayzed the researcher take conclusion
that organizing model and struggle that was made in sub organization of
Indonesian peasant of North Sumatera is organic movement. The point is
movement that built based on conclusion collective. Organization struggle that
was created to built spirit peasant based on condition that they face by giving
training (education and consolidate) for peasant.
Keyword : peasant, organizing, social movement.

 
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang masalah
Runtutan penjajahan dari satu masa kemasa lainnya telah membawa

Indonesia kedalam struktur ekonomi kolonialistik. Sistem ekonomi yang berwatak
penjajahan ini hanya difungsikan untuk memenuhi kepentingan segelintir orang
dengan merampas kedaulatan rakyat. Sementara itu, kesalahan masa lalu tidak
pernah menjadi cermin bagi pemerintah Indonesia. Pembangunan secara umum
masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yakni berorientasi pada pertumbuhan
tanpa memperdulikan proses distribusi kesejahteraan yang semakin timpang.
Akibatnya terjadi pemusatan kapital yang hanya didominasi oleh kekuatan
korporat dan konglomerasi. Padahal secara prinsipil, kita mengenal trilogi
pembangunan yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas nasional yang
dinamis dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Hal ini menjadi ciri
struktur ekonomi bangsa. Sementara itu, sebagian besar rakyat hanya menjadi kuli
di negerinya sendiri.
Paradigma pembangunan yang mengejar pertumbuhan telah membawa
kondisi sosial dan ekonomi Indonesia menjadi terpuruk. Saat ini arah
pembangunan masih diarahkan semata-mata pada pertumbuhan ekonomi dan
peningkatan ekspor. Ujung-ujungnya, kondisi sosial ekonomi menjadi keropos
dan negara tidak mampu memenuhi hak sebagian besar rakyatnya untuk hidup
layak dan bermartabat.


 
Universitas Sumatera Utara

Hal di atas juga menimpa salah satu sektor publik yang paling di dominasi
oleh masyarakat Indonesia yaitu pertanian. Sektor pertanian merupakan jantung
kehidupan pedesaan. Selain berfungsi sebagai penjamin kedaulatan pangan
bangsa, sektor ini juga telah menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi
nasional. Sebagai negara agraris, bagian terbesar dari penduduk Indonesia
bermata pencaharian pokok sebagai petani. Hal ini berarti sumber ekonomi dan
sosial penduduk sangat tergantung pada tata produksi dan hasil-hasil pertanian.
Dengan demikian, persoalan pertanian sesungguhnya merupakan masalah pokok
bagi masyarakat Indonesia. Masalah pertanian merupakan indikator penting untuk
mengukur tingkat kesejahteraan kehidupan masyarakat Indonesia secara
keseluruhan.
Sekitar 46 persen rakyat Indonesia terserap di sektor ini, dan dari sembilan
sektor yang ada, sektor pertanian adalah sektor penyumbang upah terbesar dari
kontribusinya terhadap PDB yaitu sebesar 47.8 persen. Sementara itu sektor
lainnya seperti pertambangan, listrik, gas dan air, serta sektor keuangan dan jasa
hanya menyumbangkan pengembalian berupa upah/pendapatan masing-masing
sebesar 5,6 persen, 21,67 persen dan 7,55 persen dari GDP yang disumbangkan.
Namun sayang, peran pertanian yang sangat vital ini tidak menjadi alasan bagi
pemerintah untuk memprioritaskan penguatan dan pembangunan sektor pertanian
dan pedesaan. (BPS,2009)
Dalam

pemenuhan

mengimplementasikannya

melalui

kebutuhan
revolusi

pangan,
hijau

yang

pemerintah
berideologi

developmentalisme-modernisme. Ideologi inilah yang akhirnya membawa dampak
buruk terhadap struktur ekonomi, sosial budaya, demografi, dan struktur

 
Universitas Sumatera Utara

penguasaan sumber agraria. Dalam struktur ekonomi revolusi hijau telah
membawa ketimpangan dalam kecepatan pertumbuhan ekonomi yang akhirnya
menimbulkan polarisasi asset. Hal ini berimbas pada struktur sosial yang
menyebabkan adanya ketimpangan pendapatan dan penguasaan lahan antar
kelompok yang semakin menajam dan semakin meningkatkan potensi konflik
serta melumpuhkan etika kehidupan sosial di desa.
Konflik yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat tani adalah
konflik agraria. Salah satu penyebab konflik agraria adalah ketidakadilan dalam
struktur penguasaan dan pemilikan terhadap sumber-sumber agraria. Penguasaan
atas perkebunan, kehutanan, pertambangan saat ini hanya didominasi segelintir
individu dan perusahaan-perusahaan besar nasional dan asing seperti London
Sumatera, Exxon, New mont, Freeport, Caltex dan lainnya yang luasnya hingga
mencapai jutaan hektar. Situasi tersebut telah mendorong timbulnya ribuan
konflik-konflik yang bersandar kepada perebutan penguasaan, pengelolaan,
pemanfaatan dan kepemilikan atas sumber-sumber agraria, baik yang sifatnya
vertikal, horizontal maupun gabungan antara keduanya. Umumnya konflik yang
terjadi selalu mengakibatkan petani, masyarakat adat ataupun yang termarjinalkan
lainnya. (Ya’kub, 2007:vii).
Jelas memang hal yang paling mendasari timbulnya perlawanan kaum tani
adalah ketimpangan yang terjadi akibat pola penguasaan lahan dalam struktur
sosial. Pola penguasaan tanah di desa tempat petani melakukan usaha
pertaniannya menyangkut masalah sebegitu rumitnya untuk dikuasai karena
meliputi aspek yang sangat erat dengan nilai ekonomi, politik, hukum maupun
sosialnya. Pada akhirnya dari beberapa pandangan tersebut menempatkan posisi

 
Universitas Sumatera Utara

tanah menjadi rentan terhadap manipulasi pandangan yang bersifat ekonomis dan
memposisikan tanah menjadi faktor produksi mutlak. Sehingga akibat dari
paradigma berikut makin lama tanah menjadi barang yang langka dan mendorong
perbandingan antara tanah dengan jumlah manusia terjadi ketimpangan yang
begitu lebar.
Hal ini dikarenakan oleh fungsi tanah yang mewadahi semua kegiatan
manusia. Dimana pada zaman romawi kuno, konsep-konsep tentang lingkungan
sumber daya alam dan pertambangan belum dikenal akibat terpusatnya kegiatan
manusia pada kegiatan berburu dan bercocok tanam. Tetapi yang perlu
diperhatikan adalah, agraria tidak hanya dapat diartikan sederhana sekadar
“tanah” atau “pertanian” saja. Kata-kata pedusunan, bukit dan wilayah atau
teritori jelas menunjukkan arti yang lebih luas karena didalamnya termaktub
segala sesuatu yang terwadahi olehnya. (Yakub,2007:2)
Dalam setiap sumber agraria terlihat hubungan-hubungan agraria yang
sangat kompleks. Hubungan agraria bukan hanya berupa hubungan antara
manusia dengan objek-objek agraria khususnya tanah melainkan juga menyangkut
hubungan subjek-subjek agraria secara sosial dan ekonomi bahkan politis. Situasi
tersebut membentuk suatu struktur penguasaan, kepemilikan dan kepengelolaan
dari sumber-sumber agraria. Jika setiap hubungan berjalan harmonis maka konflik
relatif tidak muncul, sebaliknya jika terjadi ketimpangan maka konflik akan
datang. Konflik agraria terjadi apabila terdapat benturan kepentingan intra dan
antar subjek agraria ataupun tumpang tindih klaim atas akses terhadap objek
agraria. Pada dasarnya, gejala konflik dalam hubungan agraria itu selalu ada baik


 
Universitas Sumatera Utara

itu bersifat laten maupun manifest. Gejala konflik berakar dari tiga hal yaitu
sebagai berikut :
1. Siapa yang berhak menguasai sumber-sumber agraria dan kekayaan
alam yang menyertainya.
2. Siapa yang berhak memanfaatkan sumber-sumber agraria dan kekayaan
alam itu.
3. Siapa yang berhak mengambil keputusan atas penguasaan dan
pemanfataan sumber-sumber agraria dan kekayaan alam tersebut.
(Yakub,2007 : 3)
Secara umum konflik agraria diawali dengan persengketaan atas sumber
agraria, yang pada perkembangannya menjelma menjadi konflik yang kompleks.
Intensitas konflik makin tinggi seiring dengan kebijakan-kebijakan di bidang
agraria dikawal oleh suatu kekuatan besar berupa alat pemerintah maupun
terlibatnya alat Negara seperti kepolisian dan militer. Sehingga yang terjadi
adalah praktek dalam bentuk pemaksaan kehendak.
Berbicara tentang penguasaan atas tanah tidak terlepas dengan penguatan
legalitas kebijakan hukum di dalamnya. Jika kita lebih melihat secara sejarah
kebijakan tanah yang ada ketika inggris menjajah Indonesia (1811-1816), legalitas
agraria diatur melalui Domain Theory Raffles , yaitu kebijakan agraria didasarkan
atas dan bertujuan untuk menarik pajak bumi dengan dalil bahwa tanah adalah
milik Raja/Negara/Pemerintah. Setelah Van den bosch memegang kendali
pemerintahan, selain dikeluarkan sistem tanam paksa, para petani juga diwajibkan


 
Universitas Sumatera Utara

ikut membangun proyek-proyek besar (waduk, jalan raya, kereta api) dan bekerja
diperkebunan. Kebijakan ini kemudian diganti oleh Agrarische Wet yang
menetapkan asas domain veklaring, suatu prinsip yang mengatakan semua tanah
tidak ada bukti kepemilikannya atau tanah terlantar adalah domain Negara.
Setelah

itu

dikeluarkanlah

Undang-Undang

Agraria

1870

yang

mengakomodasikan swasta Belanda berbisnis di Indonesia. Kenyataannya,
perilaku berbisnis swasta Belanda yang eksploitatif terhadap petani dan lebih dari
itu selalu berusaha memperoleh kepastian menjangkau penyediaan tanah dalam
waktu yang panjang.
Mengingat struktur kepemilikan dan penguasaan tanah masih timpang,
maka setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno membuat kebijakan untuk
penataan agraria, suatu kebijakan yang sangat populis dan nasionalis. Asumsinya,
penataan kepemilikan dan penguasaan agraria perlu dilakukan sebelum dilakukan
industrialisasi (Suhendar dan Kasim,1995 : 15)
Para pendiri bangsa telah merumuskan suatu kebijakan hukum yang populis
dan mampu menjamin tanggung jawab nilai kerakyatan pertanian pemerintah.
Lahirnya Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) menjadi sinyal tersendiri bagi keadilan atas penguasaan
tanah tersebut, karena UU ini dianggap representatif untuk menyelesaikan konflik
agraria yang ada. Karena UUPA dijalankan dengan orientasi penyediaan tanah
untuk penggarap. Akan tetapi dalam proses implementasi dari undang-undang
tersebut mengalami banyak kesulitan tentang frame berpikir penguasa di negeri
ini.

 
Universitas Sumatera Utara

UUPA tahun 1960 menegaskan batasan agraria sebagai "bumi, air dan
angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya". Artinya
pengertian agraria jauh lebih luas dari pengertian tanah seperti yang di anut di
mata masyarakat umum. Ruang lingkup agraria mencakup pertanahan (UUPA
1960 menyebutnya sebagai "permukaan bumi"), termasuk tubuh bumi
dibawahnya serta yang berada di bawah air (sehingga mencakup pertambangan);
Air, termasuk air pedalaman maupun laut di wilayah indonesia (termasuk
kekayaan laut itu sendiri); dan ruang angkasa, yaitu ruang atas bumi dan air
tersebut. Prinsip Negara sebagai penguasa tertinggi dilandasi pasal 33 ayat 3 UUD
1945 yang menempatkan negara sebagai pemilik agraria, melainkan penguasa
agraria. Penjabaran Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 ini tertuang dalam Pasal 1 ayat 2
UUPA yang menyatakan " ... bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk kekayaan
alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh
negara ...".
Pengkhianatan terhadap UUPA dimulai ketika berkuasanya rezim orde
baru. Relasi kekuasaan antara petani yang diklasifikasikan sebagai rakyat dengan
kekuasaan Negara terbentuk saling berkonfrontasi. Hal ini disebabkan karena
cerminan pemerintahan orde baru sangat jauh dari harapan mengenai penjaminan
kesejahteraan petani. Kondisi tersebut sangat jelas terlihat dengan banyaknya
kebijakan dan perundangan yang banyak mengadopsi pengaruh modal daripada
mewujudkan nilai-nilai dan semangat kerakyatan.
Kebijakan tersebut dapat dilihat dengan banyak dikeluarkannya peraturan
perundang-undangan yang ditujukan untuk eksploitasi sumber-sumber agraria
dengan menyandarkan aktivitasnya kepada lembaga-lembaga pembangunan

 
Universitas Sumatera Utara

multilateral dan perusahaan-perusahaan internasional. Bahkan didapati peraturan
perundang-undangan berkenaan dengan alokasi sumber-sumber agraria tersebut
justru tidak berorientasi dari UUPA dan menjadikan pengaturan masalah ini
kepada masalah sektoral. Di tambah lagi dengan timbulnya UU yang secara asas
bertentangan dengan UUPA tersebut, seperti Undang-undang No. 18 tahun 2004
tentang perkebunan, Undang-undang No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan,
Undang-undang No. 7 tahun 2004 sumber daya air, Undang-undang No. 11 tahun
1967 tentang pertambangan dan Undang-undang No.25 tahun 2007 tentang
penanaman modal. Yang kesemua produk undang-undang tersebut sangat jelas
menjurus pada sebuah akumulasi modal dan memberikan jalan untuk pemodal
untuk menanamkan asetnya di pedesaan. Akibatnya, dengan adanya Undangundang yang ada setelah itu dengan secara tidak langsung me”mandul”kan UUPA
yang telah ada.
Nasib petani di pedesaan semakin terpuruk ketika pemerintah memilih
paradigma pembangunan yang mengacu kepada hasil konstruksi kekuatan capital
global. Yang kenyataannya sangat problematika kepada petani dengan ditopang
investasi modal asing secara besar-besaran melalui industrialisasi yang untuk
keperluan operasionalnya memerlukan tanah. Akibatnya tanah menjadi komoditas
dan memunculkan pasar tanah, sehingga investor lebih tertarik menanamkan
modalnya dalam bentuk tanah karena akan sangat menguntungkan. Proses ini
tanpa disadari telah mengintegrasikan petani dengan tanahnya kedalam sistem
kapitalisme melalui ekspansi pasar dengan fasilitas intervensi kebijakan Negara.
Selain munculnya kebijakan nasionalisasi aset kolonial yang sebenarnya
terdapat pula tanah rakyat didalamnya, juga terjadi konversi hak erfpacht yang

 
Universitas Sumatera Utara

diperebutkan dengan rakyat menjadi HGU untuk diberikan pada perusahaan
perkebunan swasta maupun pemerintah dalam bentuk perusahaan daerah
perkebunan. Meskipun kebijakan agraria dalam UUPA terdapat peraturan yang
memfasilitasi perlunya peninjuan kembali tentang terhadap penguasaan tanah
untuk rakyat, namun makna Land reform yang populistik yang menjiwai UUPA
tak pernah dijalankan. Situasinya semakin problematik dimana intervensi
kekuatan dan kekuasaan bukan saja dilakukan oleh Negara, melainkan juga
kekuatan pasar.
Kecenderungan tersebut telah menegaskan bahwa yang dihadapi petani
tidak saja Negara, tetapi juga kekuatan pasar global (global capitalism) yang
pengaruhnya semakin kuat. Pada zaman orde baru yang sebegitu kuat, Negara
dengan aparatnya yang tersebar di pelosok pedesaaan telah menjadi agen
pembangunan secara efektif dan efisien. Sementara dalam konteks kekinian,
kekuatan pasar justru semakin merajalela dan sulit dikontrol, termasuk oleh
Negara sekalipun. Pasar mampu dan dengan leluasa membentuk dan menawarkan
sesuatu yang menguntungkan bagi siapa saja baik individual, kelompok,
organisasi sosial keagamaan dan bahkan pemerintahan lokal untuk bisa menjadi
agen kepentingannya.
Berbagai kebijakan Negara dan pengaruh ekonomi global sebagaimana
dikemukakan diatas secara langsung atau tidak telah menyebabkan petani semakin
banyak kehilangan tanahnya. Paling tidak ada 25% petani memiliki 74,8% lahan
dengan luas 1-5 ha. 75 % sisanya hanya menguasai 25,8% lahan dengan luas 0,10,99 ha (KPA, 2002). Dari data yang ada tersebut selain mengindikasikan
bagaimana petani di pedesaan harus berjuang menyambung hidup pada lahan

 
Universitas Sumatera Utara

pertanian yang semakin terbatas, juga memperlihatkan bagaimana para petani
mempertaruhkan eksistensinya sebagai petani. Faktor kesenjangan penguasaan
dan kepemilikan tanah dan terancamnya eksistensi diri para petani pada gilirannya
menjadi penyebab utama terjadinya konflik pertanahan di pedesaan yang sejak
belakangan ini kian marak.
Arah dari serangkaian kebijakan neoliberalisme ini pada garis besarnya
adalah mencabut kedaulatan petani pada sumber-sumber agraria, tidak hanya
tanah tetapi benih, pupuk, teknologi, kredit, termasuk juga pasar.
Kehidupan petani yang sebelumnya dihantui ketidakjelasan, dengan
demikian semakin parah dengan rasa ketidakmenentuan. Kehidupan petani
semakin hari bukannya semakin membaik, melainkan justru semakin tertekan dan
terperosok ke dalam arus kemiskinan struktural. Semuanya itu mengakibatkan
kemarahan dan rasa frustasi yang mendalam. Pada saat yang sama, rakyat petani
selain tidak dapat memperjuangkan kepentingan dan kebutuhannya melalui
institusi-institusi, juga tidak cukup mempunyai kemampuan mengekspresikan
emosi secara wajar sehingga persoalan-persoalan yang muncul kemudian
diarahkan menjadi kekerasan massa yang kerapkali brutal, destruktif dan radikal
terhadap sasaran-sasaran yang dianggap menjadi simbol-simbol kekuasaan
(Negara dan pasar).
Masyarakat petani merupakan bagian dari sistem sosial yang lebih luas.
Tata kehidupannya merupakan bagian dari sistem sosial yang lebih makro, seperti
sistem sosial kemasyarakatan, budaya, ekonomi, politik dan sebagainya. Dengan
demikian, persoalan pertanian sesungguhnya merupakan masalah pokok bagi

 
Universitas Sumatera Utara

masyarakat Indonesia. Masalah pertanian merupakan indikator penting untuk
mengukur tingkat kesejahteraan kehidupan masyarakat Indonesia secara
keseluruhan.
Oleh karena itu, petani juga tidak berhenti pada satu titik saja, petani akan
mengalami dinamika kehidupan. Mereka senantiasa terkait dengan perubahan
sosial, dimana salah satu caranya adalah melakukan gerakan petani. Gerakan ini
bukan sebagai suatu reaksi tetapi juga sebaga wahana untuk mencapai tujuantujuan perubahan.
Gerakan petani merupakan salah satu jenis dari gerakan sosial, artinya
gerakan petani itu adalah gerakan sosial yang dilakukan oleh petani. Gerakan
petani merupakan gerakan reformatif, karena ia menghendaki perubahan terhadap
sebagian sistem yang melingkupi kehidupannya. Gerakan petani dapat masuk
dalam gerakan fase kedua, yakni fase dimana gerakan sosial sering disebut
sebagai proses politik, tindakan rasional, model mobilisasi sumber tentang
tindakan kolektif serta tentang gerakan itu sendiri. (wahyudi, 2005 : 6).
Dikalangan petani berkembang anggapan, bahwa tidak banyak pihak yang
bersedia membantu secara penuh untuk membantu mengentas meeka dari posisi
keterpurukan. Dalam perspektif marxis, Bahwasanya hanya suatu pihak yang
dapat mengambil inisiatif revolusioner untuk melakukan reformasi agraria yaitu
petani itu sendiri (Mustain,2007:15).
Proses perlawanan yang dilakukan oleh kaum tani tersebut tidak terlepas
dari aktivitas-aktivitas organisasi yang banyak muncul untuk memperjuangkan
kaum tani. Karena dalam berprilaku secara organisasilah petani dapat di stimulus

 
Universitas Sumatera Utara

kesadaran

akan

ketertindasan

mereka.

Pada

bulan

November

1945,

diselenggarakan kongres petani yang pertama dan dalam kongres tersebut lahirlah
Barisan Tani Indonesia (BTI). Kemudian disusul kelahiran Rukun Tani Indonesia
(RTI) dan Sarekat Kaum Tani Indonesia (Sakti). Pada tahun 1947 berdiri Serikat
Tani Islam Indonesia (STII) yang disponsori oleh Masyumi. Menyusul PETANI
yang banyak dinilai dekat dan PNI dan PETANU yang dekat dengan NU.
Organisasi-organisasi tani tersebut, khususnya BTI kemudian berkembang dengan
pesat, bahkan pada akhir tahun1955, anggota BTI telah mencapai angka 3 juta
lebih dan tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Gerakan petani paska berdirinya
organisasi tani modern tersebut tidak dapat dilepaskan dari gerakan massa rakyat
dalam revolusi Indonesia. Program perjuangan dari organisasi tani khususnya
BTI, RTI dan Sakti yang dikemudian hari meleburkan diri menjadi BTI digariskan
dengan tegas yakni anti imperialisme dan juga anti feodalisme dengan
memperjuangkan terlaksananya land reform. Organisasi tani inilah yang secara
aktif menuntut nasionalisasi perusahaan asing dan pelaksanaan secara konsisten
UUPA 1960.
Pasca 1966, orde baru mempraktekkan kebijakan yang sangat mengekang
kebebasan berorganisasi bagi kaum tani. Satu-satunya organisasi yang 'direstui'
oleh orde baru adalah HKTI, dan apabila kaum tani menolak masuk HKTI atau
mendirikan organisasi sendiri maka akan dicap sebagai pembangkangan terhadap
pemerintah. Demikian juga aturan tentang partai politik yang tidak diperbolehkan
membentuk ranting sampai tingkat desa, merupakan upaya dan strategi orde baru
untuk memberangus kesadaran politik kaum tani. Dan ini terbukti berhasil, di
mana selama 32 tahun, kaum tani di Indonesia dibuat buta tentang politik dan

 
Universitas Sumatera Utara

menganggap hal yang tabu untuk berbicara atau berurusan dengan politik. Protes
dan ketidakpuasan petani juga banyak dihadapi dengan kekerasan oleh orde baru,
sehingga menimbulkan ketakutan yang mendalam di kalangan kaum tani. Dapat
dikatakan, selama Soeharto berkuasa, gerakan tani mengalami kemunduran yang
luar biasa.
Pasca Soeharto jatuh pada tahun 1998, kebebasan demokratik terbuka
lebih lebar dibanding masa sebelumnya. Sehingga kemudian gerakan petani
mengalami kebangkitan kembali. Aksi aksi petani menuntut dikembalikannya
tanah-tanah yang dulu dirampas orde baru semakin marak terjadi di mana-mana
bahkan sampai dilakukannya reklaiming dan pendudukan tanah. Demikian juga
tuntutan untuk dilaksanakannya UUPA 1960 semakin bertambah besar.
Organisasi-organisasi independen yang didirikan oleh kaum tani sendiri, baik di
tingkat desa, kabupaten, provinsi bahkan nasional banyak bermunculan.
Keberanian kaum tani dalam menyuarakan pendapat dan memperjuangkan
kepentingannya semakin bertumbuh-kembang. Sekalipun demikian tetap harus
menghadapi sikap yang keras dan represif dari negara,
Khusus di Sumatera Utara, semangat perjuangan tani merupakan upaya
untuk pemecahan masalah sosial yang mengakibatkan kondisi petani hanya
menjadi kuli dirumah sendiri. Ketimpangan model penguasaan agraria terjadi
akibat mengencangnya intervensi modal dan penjajahan fisik zaman kolonial
Pada tahun 1950, banyak bermunculan organisasi tani yang secara tidak langsung
saling bersaing dalam menguasai basis massa. Sehingga menjadi perhatian dari
organisasi yang berskala nasional. Organisasi PETANI (Persatuan Tani Nasional
Indonesia) yang bernaung dibawah payung Partai Nasional Indonesia (PNI),

 
Universitas Sumatera Utara

Barisan Tani Indonesia (BTI) sebagai underbouw PKI muncul sebagai organisasi
yang kuat dan mendapat pengaruh yang luas ditingkatan nasional dan berdiri
tahun 1951 di Sumatera utara.
Era kekinian pasca reformasi, semangat perjuangan tani di Sumatera Utara
belum berubah secara substansi. Gejolak perlawanan yang dilakukan oleh kaum
petani menjadi alternatif sikap petani untuk mendapatkan keadilan. Karena jika
melewati prosedural resmi tersebut tidak mungkin dapat memperoleh persetujuan,
maka mereka menempuh dengan cara kekerasan, sehingga gerakan ini disebut
dengan aksi sepihak.
Kondisi di atas persis dengan metode perjuangan yang dilakukan oleh
Serikat Petani Indonesia Wilayah Sumatera Utara yang berorientasi pada reforma
agraria (pembaharuan agraria), reforma agraria sendiri adalah suatu upaya korektif
untuk menata ulang struktur agraria yang timpang, yang memungkinkan
eksploitasi manusia atas manusia, menuju tatanan baru dengan struktur yang
bersendi kepada keadilan agraria. Keadilan agraria itu sendiri adalah suatu
keadaan dimana tidak ada konsentrasi berlebihan dalam penguasaan dan
pemanfaatan atas sumber-sumber agraria pada segelintir orang. (Yakub,2007 : 10)
Adapun semangat perjuangan Serikat petani wilayah Sumatera utara
tersebut menuju pada upaya pelaksanaan pembaharuan agraria dimulai dari
dilaksanakannya program land reform, yaitu suatu upaya yang mencakup
pemecahan dan penggabungan satuan-satuan usaha tani, dan perubahan skala
pemilikan. Kemudian dilanjutkan dengan peningkatan kemampuan petani dengan
berbagai program-program pendidikan, upaya penyediaan kredit, pemilikan

 
Universitas Sumatera Utara

teknologi pertanian, sistem perdagangan yang adil, dan mendorong tumbuhnya
organisasi-organisasi massa petani dan koperasi petani, serta infrastruktur lainnya.
Secara umum, tujuan gerakan SPI ini adalah untuk tujuan sosial-ekonomi, sosialpolitik dan sosial-budaya
Dari peninjauan sebelumnya, tercatat ada 13 kabupaten/kota yang telah
menyebar organisasi ini. Secara struktural Dewan Pengurus Wilayah Serikat
Petani Indonesia di Sumatera Utara sebagai pimpinan tertinggi di wilayah
Sumatera Utara menanggung jawabi kesemua itu sampai ketingkatan desa.
Maka atas dasar orientasi perjuangan yang dilakukan oleh Serikat Petani
Indonesia wilayah Sumatera utara yang fokus terhadap permasalahan petani yang
semakin jauh dari rasa keadilan, dengan hal itulah penulis ingin melakukan
penelitian untuk melihat bagaimana pola pengorganisasian tani yang dilakukan
Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara secara
kongkrit.

1.2

Perumusan masalah
Berdasarkan penjabaran yang telah disebutkan dalam latar belakang, maka

penulis dapat merumuskan masalah yang nantinya akan diteliti. Agar studi
terhadap masalah tersebut bisa fokus dan tidak keluar jalur, dalam pembahasan
Skripsi ini penulis mengajukan rumusan permasalahan pokok sebagai berikut :
1. Bagaimana pola pengorganisasian tani yang dilakukan oleh Dewan
Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara?

 
Universitas Sumatera Utara

2. Bagaimana wujud implementasi dan bentuk perjuangan yang dilakukan
oleh Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia Sumatera Utara?

1.3

Tujuan dan manfaat penelitian

1.3.1 Tujuan penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk dapat mendeskripsikan dan mengetahui pola pengorganisasian tani
yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia
Sumatera Utara.
2. Untuk mengetahui wujud implementasi dan bentuk perjuangan tani yang
dilakukan oleh Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani Indonesia
Sumatera Utara.
1.3.2

Manfaat penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Secara akademis, dapat memberikan sumbangan yang positif terhadap
kajian dan bacaan di lingkungan mahasiswa Departemen Ilmu
Kesejahteraan Sosial yang berminat mengenai studi tentang gerakan
sosial.
2. Secara teoritis, dapat mempertajam kemampuan penulis dlam penulisan
karya ilmiah, menambah pengetahuan dan mengasah kemampuan berpikir


 
Universitas Sumatera Utara

terhadap fenomena dan gejala sosial secara kritis. Sehingga dapat di follow
up kan dalam dunia nyata bagi penulis.
3. Secara praktis, diharapkan mampu memberi masukan dan kontribusi yang
signifikan terhadap perluasan agenda perjuangan dan gerakan tani di
Sumatera Utara khususnya bagi Dewan Pengurus Wilayah Serikat Petani
Sumatera Utara.

1.4

Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

BAB I

: PENDAHULUAN
Bab ini berisikan latar belakang penelitian, perumusan masalah,
tujuan dan manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II

: TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisikan tentang uraian dan teori-teori yang berkaitan
tentang masalah dan objek yang akan diteliti, kerangka pemikiran,
definisi konsep dan definisi operasional

BAB III

: METODE PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang tipe penelitian, lokasi penelitian, teknik
pengumpulan data dan teknik analisa data.


 
Universitas Sumatera Utara

BAB IV

: DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Bab ini berisikan tentang profil organisasi Dewan Pengurus
Wilayah Serikat Petani Indonesia (SPI) Sumatera Utara.
Selanjutnya juga pada bab ini juga menjelaskan sejarah singkat,
visi, misi, platform organisasi, struktur organisasi dan jumlah
satuan organisasi yang tersebar didaerah yang meliputi ranah kerja
organisasi serta keanggotan organisasi.

BAB V

: ANALISA DATA
Bab ini berisikan tentang uraian data yang diperoleh dari hasil
penelitian baik melalui data kepustakaan maupun dengan
melakukan studi lapangan sehingga menjawab permasalahan yang
diangkat

BAB VI

: PENUTUP
Bab ini berisikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan
saran atas penelitian yang dilakukan. Bab ini juga akan
memberikan kritik dan saran dalam rangka proses membangun
kearah yang lebih baik lagi untuk semua objek yang terkait dalam
penelitian ini.


 
Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Gerakan sosial

2.1.1

Pengertian gerakan sosial
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gerakan sosial adalah tindakan

atau agitasi terencana yang dilakukan sekelompok masyarakat yang disertai
program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan
perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan lembaga masyarakat yang ada.
Dalam sosiologi, gerakan tersebut di atas diklarifikasikan sebagai suatu
bentuk perilaku kolektif tertentu yang diberi nama gerakan sosial. Sejumlah ahli
sosiologi menekankan pada segi kolektif dan gerakan sosial ini, sedangkan
diantara mereka ada pula yang menambahkan segi kesengajaan, organisasi dan
kesinambungan. Sebagai sebuah aksi kolektif, umur gerakan sosial tentu sama
tuanya dengan perkembangan peradaban manusia. Perubahan suatu peradaban ke
peradaban lain tidaklah selalu melalui jalan “damai” bahkan sejarah membuktikan
perubahan peradaban masyarakat kerap terjadi melalui gerakan-gerakan kolektif
atau yang lebih dikenal dengan istilah gerakan sosial sekarang ini (Situmorang,
2007).
Gerakan sosial lahir dari situasi dalam masyarakat karena adanya
ketidakadilan dan sikap sewenang-wenang terhadap masyarakat. Dengan kata
lain, gerakan sosial lahir dari raksi terhadap sesuatu yang tidak diing