Analisis Kualitas Udara Dan Keluhan Kesehatan Yang Berkaitan Dengan Saluran Pernapasan Pada Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011

(1)

ANALISIS KUALITAS UDARA DAN KELUHAN KESEHATAN YANG BERKAITAN DENGAN SALURAN PERNAPASAN PADA PEMULUNG DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH (TPA) NAMO BINTANG

KECAMATAN PANCUR BATU KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2011

SKRIPSI

Oleh :

NIM. 071000117

FIANI RAHMADANI SIREGAR

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2011


(2)

ABSTRAK

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah merupakan tempat akhir yang digunakan untk mengumpulkan semua sampah kota. Metode open dumping merupakan salah satu cara pengumpulan sampah yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas udara di sekitar TPA.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi pemulung di sekitar tenda darurat sebanyak 210 orang dengan jumlah sampel sebanyak 96 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana. Analisa data dilakukan secara deksriptif.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas udara dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan disekitar tenda darurat pemulung, parameter yang melebihi baku mutu udara sesuai dengan PP No.41 Tahun 1999 adalah sulfur dioksida (SO2) yaitu sebesar 1199,29 µg/m3 (Baku mutu < 900 µg/m3

Pentingnya dilakukan perbaikan sistem pengelolaan sampah di TPA Namo Bintang sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara. Pentingnya meningkatkan penelitian, survey dan pemantauan terhadap kualitas udara secara berkelanjutan. Pentingnya bagi pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang untuk menggunakan masker ketika bekerja sebagai upaya pencegahan terhadap keluhan gangguan saluran pernapasan

). Seluruh pemulung mengalami keluhan gangguan pernapasan selama bekerja di TPA.

Kata kunci : Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Kualitas Udara, Keluhan Gangguan Pernapasan


(3)

ABSTRACT

Dumping site is the final place that is used to collect all the solid waste of the city. Open dumping is one way of solid waste management that could cause in reduced air quality around the dumping site.

The study was descriptive with a population of scavengers around the bad tents as much as 210 people with the number of samples as much as 96 people. The sampling technique was done by simple random. The data analysis was done descriptively.

The purpose of this study was to determine the air quality and health complaints associated with respiratory scavengers in the Dumping Site Namo Bintang Pancur Batu district of Deli Serdang Regency Year

Based on the measurements result which is done in the scavengers tents, parameter the which exceed the standard of the ambient air quality is sulfur dioxide (SO

2011.

2) in the amount of 1199.29 μg/m3(standard quality < 900 μg/m3). All scavengers

had ever experience the complaints the respiratory symptoms during had been working in the dumping site.

It is important to repair waste management system in the Dumping Site Namo Bintang so doesn’t cause air pollution. It is important to increase the research, survey and monitoring of the air quality improvement. It is important for scavengers who works in the Dumping Site Namo Bintang to use mask when working to prevent from respiratory complaints.


(4)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Fiani Rahmadani Siregar Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 02 April 1989 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Kawin Jumlah Bersaudara : - Orang

Alamat Rumah : Jl. Eka Warni Gg. Setia No.10 Medan Johor

Riwayat Pendidikan : 1. TK IKAL MEDAN (1994-1995) 2. SD AL-AZHAR MEDAN (1995-2001) 3. SLTP AL-AZHAR MEDAN (2001-2004) 4. SMA Negeri 2 MEDAN (2004-2007)


(5)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan kasihNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Analisis Kualitas Udara Dan Keluhan Kesehatan yang Berkaitan Dengan Saluran Pernapasan Pada Pemulung Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011”

Skripsi ini disusun guna untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih yang sangat tak terhingga terutama buat orangtua tercinta Ayahanda Drs. H. Alinafiah Siregar dan Ibunda drg.Hj. Aslaini Tarihoran yang telah banyak memberikan kasih sayang, motivasi, doa, dan bantuan moril maupun materil mulai dari perkuliahan hingga penyelesaian skripsi ini.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Taufik Ashar, MKM dan dr. Surya Dharma, MPH selaku dosen pembimbing skripsi yang telah menyediakan waktu, tenaga, pemikiran dan kesabarannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Dalam penelitian skripsi ini penulis juga mendapatkan bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :


(6)

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Ir.Evi Naria,M.Kes selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Bapak dr. Taufik Ashar, MKM selaku dosen penasehat akademik yang telah banyak memberi pengarahan dan nasehat-nasehat selama penulis duduk di bangku kuliah.

4. Seluruh dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat khususnya bapak/ ibu staf pengajar Departemen Kesehatan Lingkungan yang banyak membantu dan memberi pengarahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Bapak Anshari, SKM selaku kepala BTKL & PPM Kelas 1 Medan dan Bapak A. Faisal dan Bapak Irfan Munthe selaku analis Laboratorium dan Pembimbing Lapangan.

6. Bapak Amin Simbolon selaku kepala TPA Namo Bintang yang banyak membantu dalam penyelesaian penelitian.

7. Sahabat-sahabatku yang terkasih Fiani Ramadhani, Rizki Wahyuni, Yulan Yanti, Dina Erika, Rina Ardhiana, dan Rezeki Putri Raudhah yang telah memberikan dukungan terhadap kelancaran skripsi ini.

8. Semua teman di peminatan Kesling, terima kasih bantuan dan dukungannya. 9. Semuan pihak yang telah banyak memberikan dukungan yang tidak dapat

disebutkan penulis satu persatu.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun bahasanya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang


(7)

sifatnya membangun demi menyempurnakan skripsi ini di masa yang akan datang. Akhirnya penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat membawa manfaat terutama bagi penulis sendiri dan para pembaca sekalian.

Medan, Juni 2011


(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang ... 1

1.2.Perumusan Masalah ... 6

1.3.Tujuan Penelitian ... 6

1.3.1.Tujuan Umum ... 6

1.3.2.Tujuan Khusus ... 6

1.4.Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Lingkungan dan Pancemaran Lingkungan ... 8

2.2. Pengertian Pencemaran Udara ... 8

2.3. Penyebab Pencemaran Udara ... 10

2.4. Komponen Pencemar Udara Yang Terdapat Di TPA ... 10

2.4.1. Sulfur Dioksida (SO2) ... 11

2.4.2. Nitrogen Dioksida (NO2) ... 13

2.4.3. Karbon Monoksida (CO) ... 15

2.4.4. Dioksin ... 16

2.4.5. Metana ... 18

2.4.6. Hidrogen Sulfida (H2S) ... 19

2.4.7. Amonniak (NH3) ... 20

2.4.8. Partikel Debu ... 22

2.5. Pembakaran Sampah ... 24

2.6. Baku Mutu Udara Ambient ... 24

2.7. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Gangguan Saluran Pernapasan 25 2.7.1. Anatomi Pernapasan ... 25

2.7.2. Mekanisme Pernapasan ... 26

2.7.3. Gangguan Saluran Pernapasan ... 28

2.7.4. Gejala- Gejala Gangguan Saluran Pernapasan ... 29

2.8. Tinjauan Tentang Tempat Pembuangan Akhir Sampah ... 35

2.9. Kerangka Konsep ... 36

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ... 37

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37

3.2.1. Lokasi Penelitian ... 37

3.2.2. Waktu Penelitian ... 37


(9)

3.3.1. Data Primer ... 38

3.3.2. Data Sekunder ... 38

3.4. Parameter dan Subjek Penelitian ... 38

3.4.1. Parameter Penelitian ... 38

3.4.2. Subjek Penelitian ... 38

3.5. Populasi dan Sampel ... 39

3.5.1. Populasi ... 39

3.5.2. Sampel ... 39

3.6. Lokasi Pengukuran ... 40

3.7. Defenisi Operasional ... 40

3.8. Aspek Pengukuran ... 42

3.8.1. Kadar Sulfur Dioksida (SO2) ... 42

3.8.2. Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) ... 42

3.8.3. Kadar Karbon Monoksida (CO) ... 42

3.8.4. Kadar Hidrogen Sulfida (H2S) ... 43

3.8.5. Kadar Partikel Debu ... 43

3.8.6. Keluhan Gangguan Pernapasan ... 43

3.9. Prosedur Pengukuran Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2), dan Hidrogen Sulfida (H2S) ... 44

3.10. Prosedur Pengukuran Karbon Monoksida (CO) ... 45

3.11. Prosedur Pengukuran Partikel Debu ... 45

3.12. Metode Analisa SO2 dengan Pararosanilin ... 46

3.12.1. Prinsip Kerja ... 46

3.12.2. Peralatan dan Bahan ... 46

3.12.3. Cara Pembuatan... 47

3.13. Metode Analisa NO2 dengan Saltman ... 48

3.13.1. Prinsip Kerja ... 48

3.13.2. Peralatan dan Bahan ... 48

3.13.3. Cara Pembuatan... 48

3.14. Metode Analisa H2S dengan Braverman ... 49

3.14.1. Prinsip Kerja ... 49

3.14.2. Peralatan dan Bahan ... 49

3.14.3. Cara Pembuatan... 50

3.15. Teknik Pengolahan Data ... 51

3.16. Teknik Analisis Data ... 51

BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1. Gambaran Umum TPA Namo Bintang ... 52

4.2. Mekanisme Sistem Pembuangan Sampah di TPA Namo Bintang ... 54

4.3. Karakteristik Responden ... 54

4.3.1. Umur Responden ... 54

4.3.2. Jenis Kelamin Responden ... 55

4.3.3. Jam Kerja Responden ... 56

4.3.4. Masa Kerja Responden... 56


(10)

4.4. Riwayat Penyakit Responden ... 58

4.4.1. Riwayat TB Paru Responden ... 58

4.4.2. Riwayat Asma Responden ... 58

4.5. Hasil Penelitian ... 59

4.5.1. Kadar Kualitas Udara ... 59

4.5.2. Keluhan Batuk Responden ... 60

4.5.3. Keluhan Flu Responden ... 60

4.5.4. Keluhan Batuk Darah Responden ... 61

4.5.5. Keluhan Sesak Napas Responden ... 61

4.5.6. Keluhan Nyeri Dada Responden ... 62

4.5.7. Keluhan Sakit Tenggorokan Responden ... 62

4.5.8. Keluhan Saluran Pernapasan Responden ... 63

4.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Keluhan Gangguan Pernapasan 63 4.6.1. Umur Responden ... 63

4.6.2. Jenis Kelamin Responden ... 64

4.6.3. Jam Kerja Responden ... 65

4.6.4. Masa Kerja Responden... 65

4.6.5. Responden Yang Merokok ... 66

BAB V PEMBAHASAN 5.1. Kadar Kualitas Udara Di TPA Namo Bintang ... 68

5.2. Keluhan Gangguan Pernapasan Pada Pemulung Yang Bekerja Di TPA NAmo Bintang ... 70

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan ... 73

6.2. Saran ... 74 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


(11)

ABSTRAK

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah merupakan tempat akhir yang digunakan untk mengumpulkan semua sampah kota. Metode open dumping merupakan salah satu cara pengumpulan sampah yang dapat mengakibatkan menurunnya kualitas udara di sekitar TPA.

Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan populasi pemulung di sekitar tenda darurat sebanyak 210 orang dengan jumlah sampel sebanyak 96 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara acak sederhana. Analisa data dilakukan secara deksriptif.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas udara dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011.

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan disekitar tenda darurat pemulung, parameter yang melebihi baku mutu udara sesuai dengan PP No.41 Tahun 1999 adalah sulfur dioksida (SO2) yaitu sebesar 1199,29 µg/m3 (Baku mutu < 900 µg/m3

Pentingnya dilakukan perbaikan sistem pengelolaan sampah di TPA Namo Bintang sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara. Pentingnya meningkatkan penelitian, survey dan pemantauan terhadap kualitas udara secara berkelanjutan. Pentingnya bagi pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang untuk menggunakan masker ketika bekerja sebagai upaya pencegahan terhadap keluhan gangguan saluran pernapasan

). Seluruh pemulung mengalami keluhan gangguan pernapasan selama bekerja di TPA.

Kata kunci : Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah, Kualitas Udara, Keluhan Gangguan Pernapasan


(12)

ABSTRACT

Dumping site is the final place that is used to collect all the solid waste of the city. Open dumping is one way of solid waste management that could cause in reduced air quality around the dumping site.

The study was descriptive with a population of scavengers around the bad tents as much as 210 people with the number of samples as much as 96 people. The sampling technique was done by simple random. The data analysis was done descriptively.

The purpose of this study was to determine the air quality and health complaints associated with respiratory scavengers in the Dumping Site Namo Bintang Pancur Batu district of Deli Serdang Regency Year

Based on the measurements result which is done in the scavengers tents, parameter the which exceed the standard of the ambient air quality is sulfur dioxide (SO

2011.

2) in the amount of 1199.29 μg/m3(standard quality < 900 μg/m3). All scavengers

had ever experience the complaints the respiratory symptoms during had been working in the dumping site.

It is important to repair waste management system in the Dumping Site Namo Bintang so doesn’t cause air pollution. It is important to increase the research, survey and monitoring of the air quality improvement. It is important for scavengers who works in the Dumping Site Namo Bintang to use mask when working to prevent from respiratory complaints.


(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup untuk hidup secara optimal (Depkes, 2007).

Udara merupakan perbandingan dari beberapa campuran gas yang tidak tetap, yang tergantung dari keadaan suhu udara, tekanan udara dan lingkungan disekitarnya. Udara dapat disebut juga atmosfer yang mengelilingi bumi yang sangat penting bagi kehidupan. Komposisi udara kering dan basah diantaranya nitrogen (78,09%), oksigen (21,94%), argon (0,93%), dan karbon dioksida (0,032%). Selain gas-gas tersebut, gas-gas lain yang terdapat dalam udara antara lain nitrogen oksida, hydrogen, metana, belerang dioksida, ammonia, dan lain-lain. Apabila susunan udara mengalami perubahan dari keadaan normal dan menganggu kehidupan manusia dan hewan maka udara tersebut telat tercemar (Wardhana, 2004).

Pencemaran udara dewasa ini semakin menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara


(14)

bebas. Selain itu pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari udara tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia (Depkes, 2007).

Manusia dalam aktivitasnya tidak telepas dari kebutuhan terhadap ruang. Ruang tempat mereka tinggal dalam upaya meningkatkan status dan kualitas hidupnya yaitu dengan mengolah sumber daya, baik itu sumber daya alam atau pun sumber daya manusia itu sendiri. Disadari atau tidak dalam proses pemanfaatan sumber daya itu manusia menghasilkan sampah, dan sampah tersebut akan penyebabkan pencemaran lingkungan (Nandi, 2005).

Penguraian sampah sendiri disebabkan oleh aktifitas mikroorganisme. Pembusukan sampah ini akan menghasilkan gas metana (CH4) yang bersifat racun bagi tubuh makhluk hidup. Sampah yang tidak dapat membusuk adalah sampah yang memiliki bahan dasar plastik, logam, gelas dan karet. Untuk pemusnahannya dapat dilakukan pembakaran. Proses pembakaran sampah tersebut dapat menghasilkan gas karbon dioksida (CO2

Proses akhir dari rangkaian penanganan sampah yang biasa dijumpai di Indonesia adalah dilaksanakan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pada umumnya pemerosesan akhir sampah yang dilaksanakan di TPA adalah berupa proses landfilling (pengurugan), dan sebagian besar dilaksanakan dengan open-dumping, yang mengakibatkan permasalahan lingkungan, seperti pencemaran udara akibat gas, ) yang dapat menimbulkan dampak lingkungan. Peningkatan jumlah sampah disebabkan oleh bertambahnya jumlah penduduk, keadaan sosial ekonomi dan kemajuan teknologi (Nandi, 2005).


(15)

bau dan debu. Ketiadaan tanah penutup akan menyebabkan polusi udara tidak teredam. Produksi gas yang timbul dari degradasi materi sampah akan menyebabkan bau yang tidak sedap dan juga ditambah dengan debu yang beterbangan (Anonimous, 2010).

Tempat pembuangan akhir sampah dengan system open dumping menimbulkan bau telur busuk karena tumpukan sampah mengalami dekomposisi secara alamiah menghasilkan gas H2

Pada tahun 2005, terjadi longsor pada timbunan sampah di TPA Leuwigajah dan beberapa tempat lain di Jawa Barat yang memakan korban jiwa. Longsor disebabkan oleh ledakan gas metan (CH

S, metana dan amoniak. Bau ini dapat menyebar di TPA dan sekitarnya sehingga menurunkan kualitas udara (Soemirat, 2009).

4).

Selain gas metan (CH

Jika gas metan sudah mencapai 12 persen terhadap total udara, terjadilah ledakan. Metan adalah gas alam tanpa warna, berbau, dan mudah terbakar. Gas berbahaya ini dihasilkan dari penguraian sampah organik seperti dedaunan atau sisa makanan yang menumpuk di tempat pembuangan sampah.

4), gas-gas lain yang sering dijumpai di tempat pembuangan akhir sampah diantaranya adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), hidrogen sulfide (H2S), ammonia (NH3

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara pada bulan Oktober dan November (2009) di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Namo Bintang ditemukan bahwa asam sulfide (H

), karbon monoksida (CO) dan partikel debu.

2S) telah melewati baku mutu yaitu senilai 0,025 ppm dan 0,022 ppm. Apabila dilihat


(16)

dari Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 Tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan batas yang diperbolehkan adalah 0,02 ppm.

Menurut hasil penelitian Sianipar (2009) tentang analisis risiko paparan hidrogen sulfida pada masyarakat sekitar TPA sampah Terjun kecamatan Medan Marelan menunjukkan bahwa

Meirinda (2008) melakukan pengambilan sampel udara terhadap seluruh rumah masyarakat di TPA sampah Terjun Kecamatan Medan Marelan. Dari hasil pemeriksaan parameter gas polutan menunjukkan konsentrasi gas H

rata-rata konsentrasi hidrogen sulfida di TPA Terjun sudah melebihi baku mutu yaitu sebesar 0,0290 mg/m³.

2S dan SO2

Tercemarnya udara di sekitar TPA menyebabkan kesehatan lingkungan terganggu, termasuk kualitas udara disekitar TPA terutama meningkatnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Data dari Puskesmas Pancur Batu menyatakan bahwa penyakit ISPA dengan jumlah kasus sebanyak 15.093 berada di urutan pertama dari sepuluh penyakit terbanyak selama tahun 2009.

di dalam rumah penduduk tidak memenuhi syarat kesehatan yaitu masing-masing sebesar 0,9 ppm dan 0,03 ppm.

Pemulung adalah orang-orang yang melakukan kegiatan mengumpulkan barang bekas yang dikumpulkan dari tempat sampah. Kegiatan yang bergerak di sektor informal ini dipengaruhi oleh sistem pengelolaan sampah yang dilakukan di Indonesia, yang pada umumnya terdiri dari sistem pengumpulan, sistem pemindahan, sistem pengangkutan dan sistem pembuangan akhir. Pemulung termasuk pekerja sektor informal yang sampai saat ini belum mendapatkan pelayanan kesehatan sebagaimana mestinya. Kondisi lingkungan kerja para pemulung berada di


(17)

lingkungan terbuka sehingga kondisinya berhubungan langsung dengan sengatan matahari, debu, dan bau dari sampah. Dengan kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja seperti ISPA, alergi kulit, pilek, pusing, dan infeksi kulit (Kurniawati, 2006).

Tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Namo Bintang merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah yang terdapat di Kecamatan Pancur Batu, Sumatera Utara. Metode pembuangan sampah yang digunakan di TPA Namo Bintang adalah metode open dumping. Sampah yang sudah diangkut oleh truk sampah, akan langsung dibuang dengan cara menumpuk sampah di TPA, sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu, di TPA tersebut juga banyak terdapat tenda-tenda sementara untuk para pemulung yang bekerja di TPA tersebut. Di tenda tersebut, mereka meletakkan barang-barang dari hasil pencarian barang bekas, selain itu mereka beristirahat dan makan siang di tenda tersebut. Di TPA Namo Bintang juga sering terjadi pembakaran. Pembakaran tersebut tidak dilakukan secara sengaja. Maka dari itu, jumlah titik pembakaran tidak dapat dihitung, karena selalu berbeda setiap hari. Pembakaran terjadi akibat dari puntung rokok yang dibuang secara sembarangan oleh pemulung.

Berdasarkan hal tersebut diatas Penulis tertarik melakukan penelitian di TPA Namo Bintang , untuk mengetahui kualitas udara di TPA dan juga untuk mengetahui keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung yang bekerja di Tempat Pembuangan Akhir Sampah tersebut.


(18)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana kualitas udara di sekitar pemulung berkumpul dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui kualitas udara dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui karakteristik responden (umur, jenis kelamin, lama kerja perhari, masa kerja, merokok) berdasarkan keluhan gangguan pernapasan pada pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

2. Untuk mengetahui kualitas udara (SO2, NO2, CO, H2

3. Untuk mengetahui keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

S dan partikel debu) di sekitar tempat para pemulung berkumpul di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.


(19)

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai informasi bagi pemerintah/Instansi yang terkait agar meningkatkan upaya penyehatan pengelolaan sampah.

2. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi masyarakat maupun pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

3. Memberi masukan bagi peneliti lainnya mengenai kualitas udara dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

4. Untuk menambah pengetahuan penulis tentang pencemaran udara di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.


(20)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Lingkungan dan Pencemaran Lingkungan

Menurut Undang-undang No.23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

2.2. Pengertian Pencemaran Udara

Udara adalah suatu campuran gas yang berbentuk lapisan yang mengelilingi bumi. Komposisi udara tersebut tidak selalu konstan. Komponen yang konsentrasinya paling bervariasi adalah air dalam bentuk uap H2O dan karbon dioksida (CO2). Jumlah uap air yang terdapat di udara bervariasi tergantung dari cuaca dan suhu. Udara di alam tidak pernah ditemukan bersih tanpa polutan sama sekali. Beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hydrogen sulfide (H2S), dan karbon monoksida (CO) selalu terdapat di udara sebagai hasil dari proses-proses alami seperti aktivitas vulkanik, pembusukan sampah tanaman, kebakaran hutan dan sebagainya. Selain itu partikel-partikel padatan atau pencemaran cairan berukuran


(21)

kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan vulkanik atau gangguan alam lainnya (Fardiaz, 2003).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 Pengendalian Pencemaran Udara yang dimaksud dengan pencemaran udara adalah masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam udara ambien oleh kegiatan manusia, sehingga mutu udara ambien turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan udara ambien tidak dapat memenuhi fungsinya.

Pencemaran udara ialah pencemaran yang terjadi jika udara di atmosfer dicampuri dengan zat atau radiasi yang berpengaruh buruk terhadap organisme hidup. Jumlah pengotoran ini cukup banyak sehingga tidak dapat di absorpsi atau dihilangkan. Pada umumnya pengotoran udara ini bersifat alamiah, misalnya gas pembusukan, debu akibatnya erosi, dan serbuk tepung sari yang terbawa angin. Kemudian ditambah oleh ulah manusia dan jumlah dan kadar bahayanya makin meningkat (Sastrawijaya, 2009).

Menurut Wardhana (2004) pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan (komposisi) udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup lama, akan dapat menganggu kehidupan manusia.


(22)

2.3. Penyebab Pencemaran Udara

Menurut Wardhana (2004), secara umum penyebab pencemaran udara ada dua macam, yaitu:

1. Faktor internal (secara alamiah), contoh: a. Debu yang beterbangan akibat tiupan angin.

b. Abu (debu) yang dikeluarkan dari letusan gunung berapi berikut gas-gas vulkanik.

c. Proses pembusukan sampah organik

2. Faktor eksternal (karena ulah manusia), contoh: a. Hasil pembakaran bahan bakar fosil.

b. Debu/serbuk dari kegiatan industri.

c. Pemakaian zat-zat kimia yang disemprotkan ke udara.

Pencemaran udara pada suatu tingkat tertentu dapat merupakan campuran dari satu atau lebih bahan pencemar, baik berupa padatan, cairan atau gas yang masuk terdispersi ke udara dan kemudian menyebar ke lingkungan sekitarnya. Kecepatan penyebaran ini tentu akan tergantung pada keadaan geografi dan meteorologi setempat.

2.4. Komponen Pencemar Udara yang Terdapat Di TPA

Dari beberapa macam komponen pencemar udara, maka yang paling banyak terdapat di TPA adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), Metana (CH4), dioksin, dan debu.


(23)

2.4.1. Sulfur Dioksida (SO2

Polusi oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO

)

2) dan sulfur trioksida (SO3), dan keduanya disebut SOx. Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif. Pembakaran dari bahan-bahan yang mengandung sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur oksida, tetapi memiliki jumlah yang relative yang tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang tersedia. Meskipun udara tersedia dalam jumlah cukup, SO2

Mekanisme pembentukan SO

selalu terbentuk dalam jumlah terbesar (Fardiaz, 2003). 2

S + O

dapat dituliskan dalam reaksi sebagai berikut:

2 SO

Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO

2

2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2

Sulfur dioksida didapat baik dari sumber alamiah maupun sumber buatan. Sumber-sumber SO

S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh bahan pencemar yang dibuat oleh manusia dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih tersebar merata (Depkes, 2007).

2 alamiah adalah gunung berapi, pembusukan bahan organik oleh mikroba, dan reduksi sulfat secara biologis. Sumber-sumber SO2 buatan adalah


(24)

pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan batu bara yang mengandung sulfur tinggi. Sumber-sumber buatan ini diperkirakan memberi kontribusi sebanyak sepertiganya saja dari seluruh SO2 atmosfir/tahun. Akan tetapi, karena hampir seluruhnya berasal dari buangan industri, maka hal ini dianggap cukup gawat. Apabila pembakaran bahan bakar fosil ini bertambah di kemudian hari, maka dalam waktu singkat sumber-sumber ini akan dapat memproduksi lebih banyak SO2

Dampak utama polutan SO

dari pada sumber alamiah (Soemirat, 2009).

x terhadap manusia adalah iritasi system pernapasan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa iritasi tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan pada beberapa individu yang sensitif iritasi terjadi pada konsentrasi 1-2 ppm. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua dan penderita yang mempunyai riwayat penyakit kronis pada system pernapasan dan kardiovaskuler. Individu yang memiliki gejala tersebut sangat sensitif terhadap kontak dengan SO2, meskipun dengan konsentrasi yang relatif rendah, misalnya 0,2 ppm atau lebih (Fardiaz, 2003).


(25)

Tabel 2.1. Pengaruh SO2 Konsentrasi

Terhadap Manusia

(ppm)

Pengaruh

3 – 5 Jumlah terkecil yang dapat dideteksi dari baunya

8 – 12 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi tenggorokan

20 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan iritasi mata 20 Jumlah terkecil yang segera mengakibatkan batuk

20 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak dalam waktu lama

500 – 100 Maksimum yang diperbolehkan untuk kontak dalam waktu singkat (30 menit)

400 – 500 Berbahaya meskipun kontak secara singkat Sumber: Kirk dan Othmer yang dikutip dari Fardiaz, 2003

2.4.2. Nitrogen Dioksida (NO2 Nitrogen oksida (NO

)

x) adalah gas yang terdapat di atmosfer yang terdiri dari gas nitrit oksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2

Pembentukan NO dan NO

). Kedua bentuk gas nitrogen oksida ini merupakan yang paling banyak ditemui sebagai polutan udara. Nitrit oksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, sebaliknya nitrit dioksida mempunyai warna coklat kemerahan dan berbau tajam (Fardiaz, 2003).

2 mencakup reaksi antara nitrogen dan oksigen di udara sehingga membentuk NO, kemudian reaksi selanjutnya antara NO dengan lebih banyak oksigen membentuk NO2

N

. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut: 2 + O2

2NO + O

2NO

2 2NO

Berbagai pengaruh merugikan yang ditimbulkan karena polusi NO 2

x bukan disebabkan oleh oksida tersebut, tetapi karena peranannya dalam pembentukan oksidan fotokimia yang merupakan komponen berbahaya di dalam asap. Produksi


(26)

oksidan terjadi jika terdapat polutan-polutan lain yang mengakibatkan reaksi-reaksi yang melibatkan NO dan NO2. Reaksi-reaksi tersebut disebut disebut reaksi fotolitik NO2 dan merupakan akibat langsung dari interaksi antara sinar matahari dengan NO2. Daur reaksi fotolitik NO2

NO

dapat dituliskan menjadi persamaan sebagai berikut: 2

O + O

+ sinar matahari ---> NO + O 2 ---> O3

O

(Ozon) 3 + NO ---> NO2 + O NO

2

2 mengabsorbsi energi dalam bentuk sinar ultraviolet dari matahari. Energi yang diabsorbsi tersebut memecah molekul NO2 menjadi molekul-molekul NO dan atom oksigen (O). atom oksigen yang terbentuk bersifat sangat reaktif. Atom-atom oksigen akan bereaksi dengan oksigen atmosfer (O2) membentuk ozon (O3) yang merupakan polutan sekunder. Ozon akan bereaksi dengan NO membentuk NO2 dan O3

Emisi nitrogen oksida dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NO

sehingga reaksi menjadi lengkap (Fardiaz, 2003).

x yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran, dan kebanyakan dari pembakaran yang disebabkan oleh kendaraan, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx

Oksida nitrogen seperti NO dan NO

yang dibuat manusia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas alam dan bensin (Fardiaz, 2003).

2 berbahaya bagi manusia. Penelitian menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan kematian. Diudara ambient yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi NO2 yang bersifat racun. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar


(27)

binatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2

2.4.3. Karbon Monoksida (CO)

dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas (Depkes, 2007).

Karbon dan Oksigen dapat bergabung membentuk senjawa karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran yang tidak sempurna dan karbon dioksida (CO2

Di udara gas CO terdapat dalam jumlah yang sangat sedikit, hanya sekitar 0,1 ppm. Di daerah perkotaan dengan lalu lintas yang padat konsentrasi gas CO berkisar antara 10-15 ppm (Wardhana, 2004).

) sebagai hasil pembakaran sempurna. Karbon monoksida merupakan senyawa yang tidak berbau, tidak berasa dan pada suhu udara normal berbentuk gas yang tidak berwarna. Tidak seperti senyawa CO mempunyai potensi bersifat racun yang berbahaya karena mampu membentuk ikatan yang kuat dengan pigmen darah yaitu haemoglobin (Depkes, 2007).

Karbon monoksida di lingkungan dapat terbentuk secara alamiah, tetapi sumber utamanya adalah dari kegiatan manusia. Karbon monoksida yang berasal dari alam termasuk dari lautan, oksida metal di atmosfer, pegunungan, kebakaran hutan dan badai listrik alam. Sumber CO buatan antara lain kendaraan bermotor, terutama yang menggunakan bahan bakar bensin. Berdasarkan estimasi, jumlah CO dari sumber buatan diperkirakan mendekati 60 juta ton per tahun. Separuh dari jumlah ini berasal dari kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar bensin dan


(28)

sepertiganya berasal dai sumber tidak bergerak seperti pembakaran batu bara dan minyak dari industri dan pembakaran sampah domestik (Depkes, 2007).

Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolis, ikut beraksi secara metabolis dengan darah.

Efeknya terhadap kesehatan disebabkan karena CO dapat menggeser oksigen yang terikat pada hemoglobin dan mengikat hemoglobin menjadi karbon monoksida hemoglobin (COHb). Reaksi ini mengakibatkan berkurangnya kapasitas darah untuk menyalurkan O2

2.4.4. Dioksin

kepada jaringan- jaringan tubuh. Waktu paruh CO dalam tubuh berkisar antara 5-6 jam. Gejala yang terasa dimulai sebagai pusing-pusing, kurang dapat memperhatikan sekitarnya, kemudian terjadi kelainan fungsi susunan saraf pusat, perubahan fungsi paru-paru dan jantung, terjadi rasa sesak napas, pingsan pada 250 ppm, dan akhirnya dapat menyebabkan kematian pada 750 ppm (Soemirat, 2009).

Dioksin adalah senyawa yang terbentuk dari adanya karbon, hidrogen, oksigen, khlor dan panas. Dioksin dihasilkan dari pembakaran kendaran bermotor, pembakaran sampah di rumah-rumah, kebun, TPS dan TPA, kebakaran hutan, PLTU, tumpukan kompos, tumpukan sampah oganik yang membusuk, dan sebagainya. Dioksin tidak larut dalam air dan sangat kuat terikat dengan padatan, oleh sebab itu dioksin dapat dikeluarkan dari gas buang dengan penyaring debu. Dioksin terikat kuat


(29)

dalam tanah, dan tidak mencemari air tanah. Disungai dan danau, dioksin akan terikat dalam lumpur dan endapan di dasar.

Dioksin dapat dihasilkan dari hasil pembakaran komponen sampah yang mengandung Khlor seperti kertas, PVC, dan peralatan elektronik pada temperatur di bawah 400˚C. Dioxin dapat bertahan lama, tidak mudah hilang atau hancur di lingkungan. Meskipun semua penghasil dioxin bisa dihentikan,dioxin yang sudah di hasilkan dahulu akan tetap ada di lingkungan untuk beberapa tahun ke depan. Karena dioxin tidak bisa mengurai dioxin yang tertimbun dalam makhluk hidup (di lingkungan atau di tubuh). Ini artinya tubuh akan menyerap dan menyimpan dioxin. Dan dengan berjalannya waktu ini akan berpengaruh pada kesehatan (Aninomous, 2008).

Ilmuwan telah membuktikan bahwa kedapatan mengandung zat dioxin akan menyebabkan masalah kesehatan. Waktu paruh gas dioksin dalam tubuh berkisar antara 7-11 tahun. Sistem imunisasi (pada manusia) juga bisa rusak terutama pada anak-anak. Di tingkatan tinggi efek yang cepat yang ditimbulkan termasuk wabah chloracne (jerawat) penyakit kulit yang cukup keras dengan bintik seperti luka yang terjadi terutama pada wajah dan tubuh bagian atas , pada kulit lainnya, perubahan warna kulit, bulu pada tubuh yang berlebihan, dan kerusakan organ tubuh lainnya seperti,ginjal dan saluran pencernaan (Ricos, 2007).

Masalah kesehatan terbesar yang dapat disebabkan oleh dioksin adalah menyebaban kanker pada orang dewasa. Pekerja yang membakar sampah terkena dioksin dalam tingkat tinggi di tempat mereka bekerja selama bertahun tahun mempunyai resiko tinggi terkena kanker.


(30)

2.4.5. Metana

Gas metana merupakan senyawa hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas yang tidak berwarna dan juga tidak berbau dengan rumus kimia CH4. Metan (CH4

Metana (CH

) merupakan gas yang diproduksi oleh bakteri tertentu pada proses pemecahan bahan organik. Sebagai sumber metan adalah daerah pertanian padi-padian dan daerah peternakan. Terjadinya peningkatan jumlah penduduk, akan menyebabkan terjadinya peningkatan kegiatan pertanian, peternakan, dan industri, sehingga pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya peningkatan produksi gas metan pula (Mukono, 2008).

4) merupakan gas dominan selain karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari proses dekomposisi sampah di tempat pembuangan akhir. Keberadaan dan pergerakan metan sangan berbahaya pada TPA yang tidak dilengkapi dengan fasilitas pengelolaan gas. Pembuangan sampah terbuka di TPA mengakibatkan sampah organic yang tertimbun mengalami dekomposisi secara anaerobic, dan proses itu menghasilkan gas metan yang mempunyai kekuatan merusak hingga 20-30 kali lebih besar daripada CO2

Kandungan metana yang tinggi akan mengurangi konsentrasi oksigen di atmosfer. Jika kandungan oksigen di udara hingga di bawah 19,5%, akan mengakibatkan aspiksia atau hilangnya kesadaran makhluk hidup karena kekurangan asupan oksigen dalam tubuh. Meningkatnya metana juga meningkatkan risiko mudah terbakar dan meledak di udara (Anonimous, 2010).

. Jumlah emisi gas metana dari pembuangan akhir sampah secara keseluruhan mencapai kira-kira 30 – 70 juta ton per tahunnya. (Anonimous, 2008).


(31)

2.4.6. Hidrogen Sulfida (H2

Hidrogen sulfida adalah gas yang berbau telur busuk. Hidrogen sulfida juga bersifat korosif terhadap metal, dan menghitamkan berbagai material. Karena H

S)

2S lebih berat daripada udara, maka H2

Gas ini merupakan gas tidak berwarna, beracun, sangat mudah terbakar, karakteristik bau telur busuk (sudah tercium pada konsentrasi 0,5 ppb) dengan berat molekul 34,1 dan titik didih -77˚F pada tekanan mmHg, rapat gas: 1,2 serta sedikit larut dalam air. Bila terbakar menghasilkan SO

S ini sering terkumpul di udara pada lapisan bagian bawah dan sering di dapat di sumur-sumur, saluran air buangan, dan biasanya ditemukan bersama- sama gas beracun lainnya seperti metan dan karbon dioksida (Soemirat, 2009).

2

H

(US EPA, 2003). 2

Pada umumnya manusia dapat mengenali bau H

S didapat secara alamiah pada gunung-gunung berapi dan dekomposisi zat organik. Emisi hidrogen sulfida didapat pada industri kimia, industri minyak bumi, kilang minyak, dan terutama pada industri yang memproduksi gas sebagai bahan bakar (Soemirat, 2009)

2S ini dengan konsentrasi 0,0005 ppm sampai dengan 0,3 ppm. Bila konsentrasi tinggi menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan penciuman. Hidrogen sulfida dilepaskan dari sumbernya terutama sebagai gas dan menyebar di udara pada lapisan bawah, dekat dengan manusia. Gas ini dapat bertahan di udara rata-rata 18 jam – 3 hari. Selama waktu itu hydrogen sulfida dapat berubah menjadi sulfur dioksida (SO2

Absorbsi dari paparan inhalasi teruatama akibat ukuran partikel hidrogen sulfida yang kecil dapat mencapai saluran nafas bawah di mana hidrogen sulfida


(32)

dapat diabsorbsi. Partikel dengan ukuran kecil akan mengalami penetrasi pada sacus alveolaris yang sebagian dari partikel akan mengalami pembersihan oleh macrophage dan sebagian lainnya akan diabsorbsi dalam darah. Zona alveolar merupakan bagian dalam paru dengan permukaan 50 sampai 100 m2

Gas H

. Gas pada alveoli hamper selalu menyatu dengan aliran darah yang tergantung pada kelarutan gas tersebut (Mukono,2008).

2S dengan konsentrasi 500 ppm, dapat menimbulkan kematian,

edema pulmonary, dan asphyxiant. H2

2.4.7. Amoniak (NH

S digolongkan asphyxiant karena efek utamanya adalah melumpuhkan pusat pernapasan, sehingga kematian disebabkan oleh terhentinya pernapasan (Soemirat, 2009).

3

Amoniak merupakan bahan kimia yang bersifat basa, dalam bentuk gas bersifat iritan, tidak berwarna, dan memiliki bau yang sangat tajam. Sangat mudah larut dan membentuk larutan ammonium hidroksida yang dapat mengakibatkan iritasi dan terbakar. Amoniak sering digunakan dalam produksi peledakan, farmasi, pestisida, tekstil, bahan-bahan yang terbuat dari kulit binatang, pencegah api, kertas dan bubur kertas, karet, petroleum, dan sianida. Nilai ambang batas amoniak yang aman dihirup pekerja selama 8 jam sehari atau 40 jam seminggu adalah 25 ppm.

)

Pekerja dapat terpapar dengan amoniak dengan cara terhirup gas ataupun uapnya, tertelan, ataupun kontak dengan kulit, pada umunya adalah melalui pernafasan (dihirup). Amoniak dalam bentuk gas sangat ringan, lebih ringan dari udara sehingga dapat naik, dalam bentuk uap, lebih berat dari udara, sehingga tetap berada dibawah.


(33)

Gejala yang ditimbulkan akibat terpapar dengan amoniak tergantung pada jalan pemaparan, dosis, dan lama pemaparan. Gejala-gejala yang dialami dapat berupa mata berair dan gatal, hidung iritasi, gatal dan sesak, iritasi tenggorokan, kerongkongan dan jalan pernafasan terasa panas dan kering, batuk-batuk. Pada dosis yang tinggi dapat mengakibatkan kebutaan, kerusakan paru-paru, bahkan kematian. Amoniak juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

Efek yang ditimbulkan akibat pemaparan amoniak bervariasi tergantung kadarnya, yaitu:

a. 25 ppm, merupakan nilai ambang batas yang dapat diterima

b. 25-50 ppm, bau dapat ditandai, pada umunya tidak menimbulkan dampak

c. 50-100 ppm, mengakibatkan iritasi ringan pada mata, hidung, dan tenggorokan, toleransi dapat terjadi dalam 1-2 minggu tanpa memberikan dampak

d. 140 ppm, mengakibatkan iritasi tingkat menengah pada mata, tidak menimbulkan dampak yang lebih parah selama kurang dari 2 jam

e. 400 ppm, mengakibatkan iritasi tingkat menengah pada tenggorokan

f. 500 ppm, merupaka kadar yang memberikan dampak bahaya langsung pada kesehatan

g. 700 ppm, bahaya tingkat menengah pada mata h. 1000 ppm, dampak langsung pada jalan pernafasan i. 1700 ppm, mengakibatkan laryngospasm

j. 2500 ppm, berakibat fatal setelah pemaparan selama setengah jam

k. 2500-6500 ppm, mengakibatkan nekrosis dan kerusakan jaringan permukaan jalan pernafasan, sakit pada dada, edema paru, dan bronchospasm


(34)

l. 5000 ppm, berakibat fatal 2.4.8. Partikel debu

Partikulat debu melayang (Suspended Particulate Matter/SPM) merupakan campuran yang sangat rumit dari berbagai senyawa organik dan anorganik yang terbesar di udara dengan diameter yang sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayanglayang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan. Selain dapat berpengaruh negatif terhadap kesehatan, partikel debu juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan juga mengadakan berbagai reaksi kimia di udara. Partikel debu SPM pada umumnya mengandung berbagai senyawa kimia yang berbeda, dengan berbagai ukuran dan bentuk yang berbada pula, tergantung dari mana sumber emisinya. Karena Komposisi partikulat debu udara yang rumit, dan pentingnya ukuran partikulat dalam menentukan pajanan, banyak istilah yang digunakan untuk menyatakan partikulat debu di udara. Beberapa istilah digunakan dengan mengacu pada metode pengambilan sampel udara seperti : Suspended Particulate Matter (SPM), Total Suspended Particulate (TSP), black smoke (Depkes, 2007).

Berbagai proses alami mengakibatkan penyebaran partikel di atmosfer, misalnya letusan gunung berapi dan hembusan debu serta tanah oleh angin. Aktivitas manusia juga berperan dalam penyebaran partikel, misalnya dalam bentuk partikel-partikel debu dan asbes dari bahan bangunan, abu terbang dari proses peleburan baja, dan asap dari proses pembakaran tidak sempurna, terutama dari batu arang. Sumber


(35)

partikel yang utama adalah dari pembakaran bahan bakar dari sumbernya, diikuti oleh proses-proses industri (Fardiaz, 2003).

Polutan partikel masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui sistem pernapasan, oleh karena itu pengaruh yang merugikan langsung terutama terjadi pada sistem pernapasan. Factor yang paling berpengaruh terhadap system pernapasan terutama adalah ukuran partikel, karena ukuran partikel yang menentukan seberapa jauh penetrasi partikel ke dalam system pernapasan (Fardiaz, 2003).

System pernapasan mempunyai beberapa system pertahanan yang mencegah masuknya partikel-partikel, baik berbentuk padat maupun cair, ke dalam paru-paru. Bulu-bulu hidung akan mencegah masuknya partikel-partikel berukuran besar, sedangkan partikel-partikel yang lebih kecil akan dicegah masuk oleh membrane mukosa yang terdapat di sepanjang system pernapasan dan merupakan permukaan tempat partikel menempel (Fardiaz, 2003).

Pada saat orang menarik napas, udara yang mengandung partikel akan terhirup ke dalam paru-paru. Ukuran partikel (debu) yang masuk ke dalam paru-paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran napas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3 sampai 5 mikron akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah. Partikel yang berukuran lebih kecil, 1 sampai 3 mikron, akan masuk ke dalam kantung udara paru-paru, menempel pada alveoli. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan ikut keluar saat napas dihembuskan (Wardhana, 2004).


(36)

2.5. Pembakaran Sampah

Pembakaran sampah merupakan metode pengolahan sampah secara kimiawi dengan proses oksidasi (pembakaran) dengan maksud stabilisasi dan reduksi volume dan berat sampah. Setelah proses pembakaran akan dihasilkan abu dengan volume serta beratnya jauh lebih kecil/rendah dibandingkan dengan sampah sebelumnya (Sastrawijaya, 2009). Hasil dari pembakaran sampah diantaranya:

a. Asap, yaitu karbon (C) yang berdiameter kurang dari 0,1 mikron, akibat dari pembakaran hidrat yang kurang sempurna. Dari 1 ton sampah kira-kira dihasilkan 9 kg artikel padat yang tak terbakar berupa asap cokelat. Suatu studi menyimpulkan, asap dari pembakaran sampah mengandung benzopirena 350 kali lebih besar dari asap rokok. Asap pembakaran sampah ini akan menghasilkan racun udara dioksin dan furan yang sama banyaknya dengan racun udara yang dikeluarkan oleh incinerator.

b. Partikulat, yaitu zat padat/cair yang halus dan tersuspensi di udara. Partikulat debu tersebut akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang-layang di udara dan masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernafasan.

c. Gas-gas pencemar udara, diantaranya adalah dioksin, metana, karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (NO2

2.6. Baku Mutu Udara Ambien

).

Menurut Srikandi Fardiaz (2003) untuk menghindari terjadinya pencemaran udara di lingkungan ditetapkan baku mutu udara yang dapat dibedakan atas baku mutu udara ambien dan baku mutu udara emisi. Baku mutu udara ambien


(37)

adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di udara, namun tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuh – tumbuhan dan atau benda.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tangal 26 Mei 1999 Baku Mutu Udara Ambien Nasional, menyatakan bahwa kadar SO2, NO2, H2S, CO dan PM10 di udara yang memenuhi syarat berturut-turut

adalah tidak melebihi dari 900 μg/m3, 400 μg/m3, 30.000 μg/m3, 150 μg/m3 . Sedangkan menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 Tentang Baku Mutu Tingkat Kebauan Kadar H2

2.7. Dampak Pencemaran Udara Terhadap Gangguan Saluran Pernapasan S di udara yang memenuhi syarat adalah tidak melebihi dari 0,02 ppm.

2.7.1. Anatomi Pernapasan

Saluran penghantar udara hingga mencapai paru-paru adalah hidung, faring, laring trakes, bronkus, bronkiolus. Saluran pernafasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi oleh membran mukosa bersilia. Ketika udara masuk ke dalam rongga hidung, udara akan disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Ketiga proses ini merupakan fungsi utama mukosa inspirasi yan terdiri dari epitel toraks bertingkat, bersilia dan bersel goblet. Permukaan epitel dilapisi mukosa yang ekskresi oleh goblet dan kelenjar serose. Paru merupakan organ elastik berbentuk kerucut yang terletak dalam rongga toraks atau dada. Kedua paru saling terpisah oleh mediastum sentral yang didalamnya terdapat jantung dan pembuluh darah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis. Jika arteri pulmonalis dan darah arteria bronkialis, bronkus, saraf, dan pembuluh limfe masuk ke setiap paru menunjukan telah terjadi


(38)

gangguan paru, yaitu terbentuknya hilus berupa akar paru. Paru kanan lebih besar dari paru kiri dan di bagi 3 lobus oleh fistrus interlobaris, sedangkan paru-paru kiriterbagi menjadi 2 lobus (Price dan Wilson, 1994).

2.7.2. Mekanisme Pernapasan

Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur sekalipun, karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonom. Menurut tempat terjadinya pertukaran gas maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam alveolus dengan darah dalam kapiler. Pernapasan dalam adalah pernapasan yang terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar, maka udara akan masuk. Sebaliknya, apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar (Anonimous, 2010).

Sehubungan dengan organ yang terlibat dalam pemasukkan udara (inspirasi) dan pengeluaran udara (ekspirasi)

1.

maka mekanisme pernapasan dibedakan atas dua macam, yaitu pernapasan dada dan pernapasan perut. Pernapasan dada dan perut terjadi secara bersamaan.

Pernapasan dada adalah pernapasan yang melibatkan otot antartulang rusuk. Mekanismenya dapat dibedakan sebagai berikut:

Pernapasan Dada


(39)

Fase inspirasi

Fase ini berupa berkontraksinya otot antartulang rusuk sehingga rongga dada mengembang. Pengembangan rongga dada menyebabkan volume paru-paru juga mengembang akibatnya tekanan dalam rongga dada menjadi lebih kecil daripada tekanan di luar sehingga udara luar yang kaya oksigen masuk.

b.

Fase ini merupakan fase relaksasi atau kembalinya otot antartulang rusuk ke posisi semula yang dikuti oleh turunnya tulang rusuk sehingga rongga dada menjadi kecil. Rongga dada yang mengecil menyebabkan volume paru-paru juga mengecil sehingga tekanan di dalam rongga dada menjadi lebih besar daripada tekanan luar. Hal tersebut menyebabkan udara dalam rongga dada yang kaya karbon dioksida keluar.

Fase ekspirasi

2.

Pernapasan perut merupakan pernapasan yang mekanismenya melibatkan aktivitas otot-otot diafragma yang membatasi rongga perut dan rongga dada. Mekanisme pernapasan perut dapat dibedakan menjadi dua fase, yakni:

Pernapasan Perut

a.

Fase inspirasi merupakan kontraksi Fase inspirasi

otot diafragma sehingga mengembang, akibatnya paru-paru ikut mengembang. Hal tersebut menyebabkan rongga dada membesar dan tekanan udara di dalam paru-paru lebih kecil daripada tekanan udara luar sehingga udara luar dapat masuk ke dalam.


(40)

b.

Fase ekspirasi merupakan fase relaksasi otot diafragma (kembali ke posisi semula) sehingga rongga dada mengecil dan tekanan udara di dalam paruparu lebih besar daripada tekanan udara luar, akibatnya udara keluar dari paru-paru.

Fase ekspirasi

2.6.3. Gangguan Saluran Pernapasan

Saluran pernapasan adalah organ dimulai dari hidung sampai alveoli beserta organ adneks seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah atau pleura. Gangguan saluran pernapasan adalah ganguan pada organ mulai dari hidung sampai alveoli serta organ-organ adneksnya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura (Depkes RI, 1999).

Infeksi saluran pernapasan diartikan infeksi pada berbagai area saluran pernapasan termasuk hidung, telinga tengah, pharing, laring, trakea, bronchi dan paru (WHO, 1995). Sedangkan gangguan saluran pernapasan menurut Wardhana (2004) adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya partikel atau debu yang masuk dan mengendap di dalam paru-paru dan polusi udara lainnya.

2.7.3. Gejala-gejala Gangguan Saluran Pernapasan

Gejala-gejala yang mungkin timbul akibat dari pencemaran udara, diantaranya adalah:

a. Batuk

Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada. Batuk adalah refleks normal yang melindungi tubuh kita. Tentu saja bila batuk itu berlebihan, ia akan terasa amat mengganggu. Penelitian menunjukkan bahwa pada penderita batuk kronik didapat 628 sampai 761 kali batuk/ hari. Penderita


(41)

TB paru jumlah batuknya sekitar 327 kali/hari dan penderita influenza bahkan sampai 154.4 kali/hari. Batuk dapat terjadi akibat berbagai penyakit/proses yang merangsang reseptor batuk. Selain itu, batuk juga dapat terjadi pada keadaan-keadaan psikogenik tertentu (Aditama, 1993).

Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu.

Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara refleks sudah terbuka. Volume udara yang diinspirasi sangat bervariasi jumlahnya, berkisar antara 200 sampai 3500 ml di atas kapasitas residu fungsional. Penelitian lain menyebutkan jumlah udara yang dihisap berkisar antara 50% dari tidal volume sampai 50% dari kapasitas vital. Ada dua manfaat utama dihisapnya sejumlah besar volume ini. Pertama, volume yang besar akan memperkuat fase ekspirasi nantinya dan dapat menghasilkan ekspirasi yang lebih cepat dan lebih kuat. Manfaat kedua, volume yang besar akan memperkecil rongga udara yang tertutup sehingga pengeluaran sekret akan lebih mudah.

Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50-100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup


(42)

adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glottis.

Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 3050 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap. Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%.

b. Flu

Influenza adalah infeksi virus yang menyerang sistem pernapasan, termasuk hidung, tenggorokan, cabang tenggorokan dan paru-paru (Anonimous, 2010). Beberapa tanda dan gejala yang biasa terjadi pada flu :

a. Demam lebih dari 38 Celsius pada orang dewasa, dan sering sampai 39,5 Celsius sampai 40,5 Celsius pada anak.

b. Panas dingin dan berkeringat. c. Batuk kering.

d. Nyeri otot, khususnya pada punggung, lengan dan kaki e. Kelelahan dan lemah

f. Hidung tersumbat g. Hilang nafsu makan


(43)

Virus flu menyebar lewat udara ketika seseorang terinfeksi batuk, bersin atau bicara. Anda dapat menghirup virus tersebut secara langsung, atau melalui suatu benda seperti telepon atau keyboard komputer, dan kemudian menghantarkannya ke mata, hidung atau mulut.

Flu disebabkan oleh tiga tipe virus – influenza A, B, dan C. Tipe A menyebabkan pandemi flu yang mematikan (epidemi pada belahan bumi) yang menyerang setiap 10 sampai 40 tahun. Tipe B menyebabkan pandemi dengan skala yang lebih kecil. Tipe A atau B dapat menyebabkan sirkulasi flu setiap musim dingin. Tipe C tidak pernah berkaitan dengan epidemi yang besar.

Tipe C cukup stabil, tapi tipe A dan B secara konstan berubah dan memunculkan kekhawatiran baru bagi masyarakat secara reguler. Sekali terkena flu, antibodi yang terbentuk akan menekan penyebabnya, tetapi tidak akan melindungi anda dari virus yang telah bermutasi.

Transimisi virus influenza lewat partikel udara dan lokalisasinya ditraktus respiratorius. Penularan bergantung pada ukuran partikel (droplet) tang membawa virus tersebut masuk ke dalam saluran nafas. Pada dosisi infeksius 10 virus/droplet 50% orang-orang terserang dosis ini akan menderita influenza. Virus akan melekat pada epitel sel di hidung dan bronkus. Setelah virus berhasil menerobos masuk ke dalam sel, dalam beberapa jam sudah mengalami replikasi. Partikel-partikel virus baru ini kemudian menggabungkan diri dekat permukaan sel, dan langsung dapat meninggalkan sel untuk pindah ke sel lain. Virus influenza dapat mengakibatkan demam tapi tidak sehebat efek pirogen lipopoli-sakarida kuman Gram negative.


(44)

c. Batuk darah

Batuk berdarah adalah batuk yang disertai darah. Jika darahnya sedikit dan tipis kemungkinan adalah luka lecet dari saluran napas, karena batuk yang terlalu kuat. Batuk berdarah dengan darah yang tipis dan sedikit bisa terjadi pada penderita maag kronis dimana maag penderita mengalami luka akibat asam lambung yang berlebih. Batuk berdarah dengan jumlah darah yang banyak biasanya terjadi pada penderita TB paru (tuberculosis paru) yang sudah lama dan tidak diobati. Batuk berdarah pada penderita TBC merupakan suatu hal gawat darurat (emergency) karena dapat menyebabkan kematian dan harus mendapat pertolongan yang cepat. Pengobatan batuk berdahak adalah memberikan antibiotik, dicari penyebabnya jika karena TBC maka harus diberikan obat TBC, diberikan obat penekan batuk (Sani, 2007).

d. Sesak napas

Sesak napas merupakan gejala klinis dari gangguan pada saluran pernapasan.sesak napas bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan manifestasi dari penyakit yang menyerang saluran pernafasan. Penyakit yang bisa menyebabkan sesak napas sangat banyak sekali mulai dari infeksi, alergi, inflamasi bahkan keganasan.

Hal-hal yang bisa menyebabkan sesak napas antara lain : 1. Faktor psikis.

2. Peningkatan kerja pernapasan.

a. Peningkatan ventilasi (Latihan jasmani, hiperkapnia, hipoksia, asidosis metabolik).


(45)

b. Sifat fisik yang berubah ( Tahanan elastis paru meningkat, tahanan elastis dinding toraks meningkat, peningkatan tahanan bronkial).

3. Otot pernapasan yang abnormal

a. Penyakit otot ( Kelemahan otot, kelumpuhan otot, distrofi). b. Fungsi mekanis otot berkurang.

Dispnea atau sesak napas bisa terjadi dari berbagai mekanisme seperti jika ruang fisiologi meningkat maka akan dapat menyebab kan gangguan pada pertukaran gas antara O2 dan CO2

Begitu juga jika terjadi peningkatan tahanan jalan napas maka pertukaran gas juga akan terganggu dan juga dapat menebab kan dispnea. Dispnea juga dapat terjadi pada orang yang mengalami penurnan terhadap compliance paru, semakin rendah kemampuan terhadap compliance paru maka makinbesar gradien tekanan transmural yang harusdibentuk selama inspirasi untuk menghasilkan pengembangan paru yang normal. Penyebab menurunnya compliance paru bisa bermacam salah satu nya adalah digantinya jaringan paru dengan jaringan ikat fibrosa akibat inhalasi asbston atau iritan yang sama.

sehingga menyebabkan kebutuhan ventilasi makin meningkat sehingga terjadi sesak napas. Pada orang normal ruang mati ini hanya berjumlah sedikit dan tidak terlalu penting, namun pada orang dalam keadaan patologis pada saluran pernapasn maka ruang mati akan meningkat.

e. Nyeri dada

Nyeri dada merupakan salah satu keluhan yang paling banyak ditemukan di klinik. Sebahagian besar penderita merasa ketakutan bila nyeri dada tersebut disebabkan oleh penyakit jantung ataupun penyakit paru yang serius. Diagnosa yang


(46)

tepat sangat tergantung dari pemeriksaan fisik yang cermat, pemeriksaan khusus lainnya serta anamnesa dari sifat nyeri dada mengenai lokasi, penyebaran, lama nyeri serta faktor pencetus yang dapat menimbulkan nyeri dada.

Salah satu bentuk nyeri dada yang paling sering ditemukan adalah angina pektoris yang merupakan gejala penyakit jantung koroner dan dapat bersifat progresif serta menyebabkan kematian, sehingga jenis nyeri dada ini memerlukan pemeriksaan yang lebih lanjut dan penangannan yang serius.

f. Sakit tenggorokan

Radang tenggorokan adalah infeksi pada tenggorokan (tekak) dan kadangkala amandel. Penyebab lainnya di antaranya adalah adanya polusi udara, alergi musiman dan merokok. Perubahan cuaca dan alergi musiman adalah penyebab yang paling sering terjadi.Terutamanya banyak terjadi pada anak-anak. Dan infeksi ini disebarkan melalui orang ke orang (person to person contact).

Penularan terjadi melalui dorplet.Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel terkikis maka jaringan limfoid superfisal bereaksi,terjadi pembendungan radangdengan infiltrasi leukosit polimorfonukloear.Pada stadium awal, terdapat hiperemia, kemudian edema dan sekresi yang meningkat. Eksudat mula-mula serosa tetapi menjadi menebal atau berbentuk mukus, dan kemudian cenderung menjadi kering dan dapat melekat pada dinding faring.

2.8. Tinjauan Tentang Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA)

Berdasarkan ketentuan pemerintah melalui SNI nomor 03-3241-1994 tentang tata cara pemilihan lokasi TPA sampah, yang dimaksud dengan tempat pembuangan akhir sampah adalah sarana fisik untuk berlangsungnya kegiatan


(47)

pembuangan akhir sampah berupa tempat yang digunakan untuk mengkarantinakan sampah kota secara aman.

Metode pembuangan sampah yang banyak dilakukan di Indonesia adalah metode open dumping. Open dumping atau pembuangan terbuka adalah metode yang paling sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi lalu dibiarkan terbuka tanpa pengamanan dan ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Metode pembuangan seperti ini sebenarnya tidak direkomendasikan karena dapat menyebabkan perkembangbiakan vektor seperti lalat dan tikus, pencemaran air karena banyaknya lindi (cairan sampah) yang muncul, gangguan estetika karena pemandangan yang kotor, dan juga pencemaran udara akibat bau dan gas yang dihasilkan.

Gas yang sering terdapat di tempat pembuangan akhir sampah akibat pembuangan secara open dumping biasanya adalah gas metan (CH4), karbon dioksida (CO2), hydrogen sulfide (H2S), amoniak (NH3) dan lain-lain. Gas metan dan karbon dioksida merupakan gas yang dapat menyebabkan pemanasan global.


(48)

2.9. Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan penelusuran pustaka, maka dapat digambarkan kerangka konsep penelitian sebagai berikut :

Kualitas Udara : - SO2

- NO2 - CO - H2S - PM10

Melebihi baku mutu menurut:

- PP No.41 Tahun 1999

- Kepmenlh No. 50 Tahun 1996

Tidak melebihi baku mutu menurut:

- PP No.41 Tahun 1999

- Kepmenlh No. 50 Tahun 1996

Keluhan gangguan saluran pernapasan: - Batuk-batuk - Flu

- Batuk darah - Nyeri dada

- Sakit tenggorokan

Karakteristik pemulung:

- Umur

- Jenis kelamin

- Jam kerja perhari

- Masa kerja


(49)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian bersifat deskriptif, yaitu untuk mengetahui kualitas udara dan keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan pada pemulung di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2011.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang Kec. Pancur Batu Kab. Deli Serdang. Adapun alasan penulis memilih lokasi tersebut sebagai tempat penelitian adalah karena:

1. Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang merupakan salah satu tempat pembuangan akhir sampah terbesar di kota Medan.

2. Banyak pemulung yang bekerja di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Namo Bintang.

3.2.2. Waktu Penelitian


(50)

3.3. Metode Pengumpulan Data 3.3.1. Data Primer

Melalui observasi lapangan, pengukuran kualitas udara dan melakukan wawancara kepada pemulung dengan bantuan kuesioner.

3.3.2. Data Sekunder

Diperoleh dari literatur perpustakaan, Kantor Kecamatan Pancur Batu, Badan Lingkungan Hidup, dan data penyakit dari Puskesmas Pancur Batu.

3.4. Parameter dan Subjek Penelitian 3.4.1. Parameter Penelitian

Adapun parameter yang diukur dalam penelitian adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2

3.4.2. Subjek Penelitian

), karbon monoksida (CO), dan Total Suspended Particulate (TSP) dengan pertimbangan tingginya kadar bahan pencemar udara di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

Adapun subjek dari penelitian ini adalah:

1. Pemulung yang bekerja di tempat pembuangan akhir sampah (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

2. Kualitas udara yang akan diambil di satu titik yaitu berada di tempat para pemulung bekerja dengan pertimbangan banyaknya aktivitas yang berlangsung di tempat tersebut sehingga pemulung banyak terpapar bahan polutan udara.


(51)

3.5. Populasi dan Sampel 3.5.1. Populasi

Populasi penelitian ini adalah seluruh pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang, yang berjumlah 350 orang dan populasi pemulung yang ada disekitar tenda darurat berjumlah 210 orang. 3.5.2. Sampel

Jumlah sampel yang menjadi subjek penelitian ini adalah berjumlah 96 orang pemulung. Penetapan jumlah sampel dilakukan dengan pendugaan proporsi populasi (Stanley L.dkk, 1997).

Penghitungan besar sampel:

Dimana: n = besar sampel

Z = tingkat kepercayaan 95% = 1,960

d = jarak proposi populasi = 0,10 sampai 0,50

Berdasarkan rumus di atas maka besar sampel yang digunakan adalah:

n = 96,04 96 orang pemulung

Berdasarkan penghitungan besar sampel tersebut maka ditetapkan jumlah sampel sebanyak 96 orang pemulung dengan cara pengambilan sistem acak sederhana.


(52)

1. Pemulung yang berumur di atas 17 tahun. 2. Masa kerja di TPA lebih dari 3 tahun.

3. Waktu minimal pemulung berada di tenda adalah 1 jam. 3.6. Lokasi Pengukuran

Lokasi pengukuran dilakukan di sekitar tenda darurat yang terletak di atas tumpukan sampah di TPA Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang.

3.7. Definisi Operasional

1. Kualitas udara adalah ada atau tidaknya bahan polutan udara disekitar tempat pembuangan akhir sampah yang terdiri dari sulfur dioksida, nitrogen dioksida, hidrogen sulfida, karbon monoksida dan partikel debu.

2. Sulfur dioksida (SO2) adalah gas pencemar yang terdapat di tempat pembuangan akhir sampah yang tidak berwarna, berbau tajam dan tidak mudah terbakar di udara. Nilai baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar SO2 sebesar 900 μg/m3

3. Nitrogen dioksida (NO .

2) adalah gas pencemar yang terdapat di tempat pembuangan akhir sampah yang tidak berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Nilai baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar NO2 sebesar 400 μg/m3 4. Karbon monoksida (CO) adalah gas pencemar yang terdapat di tempat

pembuangan akhir sampah yang berasal dari hasil pembakaran sampah yang merupakan gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.


(53)

Nilai baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar CO sebesar 30.000 μg/m3 5. Hidrogen sulfida (H

. 2

6. Partikel debu adalah salah satu komponen pencemar udara yang berukuran sangat kecil, mulai dari < 1 mikron sampai dengan maksimal 500 mikron yang berasal dari pembakaran sampah di sekitar tempat pembuangan akhir sampah.

S) adalah salah satu gas pencemar udara yang terdapat di tempat pembuangan akhir sampah yang berbau telur busuk. Nilai baku mutu yang diperbolehkan berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebauan adalah 0,02 ppm.

7. Melebihi baku mutu adalah apabila kualitas udara yang diukur melebihi dari nilai ambang batas yang diatur oleh Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara ambient dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebauan.

8. Tidak melebihi baku mutu adalah apabila kualitas udara yang diukur tidak melebihi dari nilai ambang batas yang diatur oleh Peraturan Pemerintah No.41 Tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran udara ambient dan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.50 Tahun 1996 tentang baku tingkat kebauan. 9. Ada keluhan kesehatan adalah adanya gangguan saluran pernapasan yang

dirasakan oleh pemulung berupa batuk, flu, batuk berdarah, sakit tenggorokan, nyeri dada maupun sesak nafas.


(54)

10. Keluhan Gangguan Saluran Pernafasan adalah gangguan saluran pernafasan yang didasarkan pada subjektifitas yang dirasakan responden berupa batuk, flu, batuk berdarah, sakit tenggorokan, nyeri dada maupun sesak nafas.

11. Tidak ada keluhan kesehatan adalah tidak adanya gangguan saluran pernapasan yang dirasakan oleh pemulung berupa batuk, flu, batuk berdarah, sakit tenggorokan, nyeri dada maupun sesak nafas.

3.8. Aspek Pengukuran

3.7.1. Kadar Sulfur Dioksida (SO2

Mengukur kadar sulfur dioksida (SO )

2) di udara dengan menggunakan alat Impinger Gas Sampler. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien Nasional Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar SO2 sebesar 900 μg/m3

3.8.2. Kadar Nitrogen Dioksida (NO

. Pengukuran dilakukan pada siang hari dengan alasan bahwa puncak kegiatan dan waktu berkumpul para pemulung terjadi pada waktu siang hari.

2

Mengukur kadar nitrogen dioksida (NO )

2) di udara dengan menggunakan alat Impinger Gas Sampler. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien Nasional Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar NO2 sebesar 400 μg/m3. Pengukuran dilakukan pada siang hari dengan alasan bahwa puncak kegiatan dan waktu berkumpul para pemulung terjadi pada waktu siang hari.


(55)

3.8.3. Kadar Karbon Monoksida (CO)

Mengukur kadar partikel debu di udara dengan menggunakan alat CO Analyzer. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien Nasional Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar karbon monoksida sebesar 30.000 μg/m3

3.8.4. Kadar Hidrogen Sulfida (H

. Pengukuran dilakukan pada siang hari dengan alasan bahwa puncak kegiatan dan waktu berkumpul para pemulung terjadi pada waktu siang hari.

2

Mengukur kadar partikel debu di udara dengan menggunakan alat Impinger Gas Sampler. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 50 Tahun 1996 mengenai baku tingkat kebauan H

S)

2

3.8.5. Kadar Partikel Debu (PM

S sebesar 0,02 ppm. Pengukuran dilakukan pada siang hari dengan alasan bahwa puncak kegiatan dan waktu berkumpul para pemulung terjadi pada waktu siang hari.

10

Mengukur kadar partikel debu di udara dengan menggunakan alat Low Volume Air Sampler. Hasil pengukuran dibandingkan dengan Baku Mutu Udara Ambien Nasional Peraturan Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 mengenai kadar debu partikel sebesar 150 μg/m

/ Particulate Matter 10)

3

3.8.6. Keluhan Gangguan Saluran Pernapasan

. Pengukuran dilakukan pada siang hari dengan alasan bahwa puncak kegiatan dan waktu berkumpul para pemulung terjadi pada waktu siang hari.

Untuk mengetahui keluhan gangguan pernafasan, dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang pengkategoriannya sebagai berikut:


(56)

a. Terjadi Keluhan Ganguan Pernafasan jika responden mengatakan adanya salah satu keluhan batuk , batuk berdahak batuk berdarah, flu, sesak nafas, nyeri dada atau sakit tenggorokan saat pengambilan data.

b. Tidak Terjadi Keluhan Gangguan Pernafasan jika responden tidak mengatakan adanya salah satu keluhan batuk, batuk berdahak, batuk berdarah, flu, sesak nafas, nyeri dada atau sakit tenggorokan saat pengambilan data.

3.9. Prosedur Pengukuran Sulfur Dioksida (SO2), Nitrogen Dioksida (NO2) dan Hidrogen Sulfida (H2

Prosedur Impinger Gas Sampler adalah sebagai berikut: S)

a. Kabel power dihubungkan dengan listrik, kemudian pompa vacumm dihidupkan dengan mengatur panel ke posisi ON.

b. Masing-masing skala flow meter diatur debitnya dan dalam posisi low atau high sesuai dengan aliran udara yang dikehendaki.

c. Jika pengambilan sampel telat selesai, matikan alat dengan merubah panel vacuum ke posisi OFF.

d. Masing-masing tabung impinger yang berisi larutan absorbans dilepas kemudian larutan absorbans dipindahkan ke dalam botol sampel warna gelap/coklat dan diberi tanda, kemudian disimpan dalam box pendingin tempat sampel.


(57)

3.10.Prosedur Pengukuran Karbon Monoksida (CO) Prosedur kerja CO Analyzer adalah:

a. Kalibrasikan alat CO Analyzer, dengan meletakkan alat CO Analyzer 1,5 meter di atas permukaan tanah.

b. Lalu tekan tombol ON dan tunggu selama 5 menit hingga muncul tanda “S” (Stand by).

c. Setelah itu, tekan tombol tanda panah ke atas (“↑”) sehingga muncul tanda “R” (Record).

d. Pada posisi “R” (Record) menunjukkan alat melakukan perekaman terhadap adanya indicator CO selama sampling.

e. Setelah perekaman selesai, tekan tombol tanda panah ke atas (“↑”) untuk menghentikan kerja alat CO Analyzer sehingga tanda “R” (Record) hilang. 3.11. Prosedur Pengukuran Partikel Debu

Prosedur kerja low volume sampler adalah: a. Tentukan lokasi yang akan diukur.

b. Detector dipasang pada tripod.

c. Selang bagian atas pada flow meter dihubungkan dengan bagian belakang alat detector, sedangkan selang bagian bawah dihubungkan dengan alat low volume sampler.

d. Kertas saring ditimbang (beratnya dicatat), kemudian dimasukkan ke detector dengan kedudukan bagian permukaan yang kasar menghadap ke depan.

e. Stel debit udara yang masuk dengan ukuran yang tersedia di flow meter. f. Hidupkan alat low volume sampler, biarkan bekerja selama 8 jam.


(58)

g. Setelah 8 jam, alat low volume sampler dimatikan, kertas saring kemudian ditimbang kembali (beratnya dicatat).

h. Hitung kadar debu dengan menggunakan rumus:

Dimana: a = berat kertas saring sebelum pengukuran (gram) b = berat kertas saring setelah pengukuran (gram) Q = debit udara yang diserap (1/menit)

t = lama pengukuran (menit) 3.12.Metode Analisa SO2

3.11.1. Prinsip Kerja

dengan Pararosanilin SO2

3.12.2.Peralatan dan Bahan

beraksi dengan Kalium tetrachloromerkurat (TCM) membentuk ion dichlorosulfitmerkurat yang bereaksi dengan pararosanilin hydrochloric dalam HCl dan formaldehyde membentuk warna merah ungu. Intensitasnya dapat diukur menggunakan spectrophotometer pada panjang gelombang 575 nm.

a. Peralatan:

- Spectrophotometer b. Bahan:

- Larutan absorban SO - Asam sulfanilat

2

- Formaldehyde - Larutan standar SO2


(59)

(60)

3.12.3. Cara Pembuatan

a. Larutan absorban dalam impinge hasil sampling dimasukkan dalam labu ukur 25 ml.

b. Ditambah 1 ml asam sulfanilat, dicampur ditambah 2 ml formaldehyde, dicampur, ditambah 5 ml pararosanilin, dicampur, ditambah aquabidest panas sampai batas tanda.

c. Dicampur hingga homogeny dan didiamkan selama 30 menit supaya bereaksi sempurna.

d. Diambil 10 ml larutan sampel uji masukkan dalam kuvet yang bersih dan dibaca dengan spectrophotometer pada panjang gelombang 575 nm.

e. Catat hasilnya, misalnya X.

f. Dari hasil pembacaan sampel uji (X) letakkan pada skala absorban.

g. Tarik garis horizontal kea rah garis linier sejajar garis konsentrasi

h. Tarik garis vertical kea rah skala konsentrasi sejajar absorban.

i. Titik pertemuan pada garis konsentrasi dibaca dan dicatat.

j. Setelah didapat hasil konsentrasi sampel dari pembacaan kurva, kemudian hasilnya dibaca lagi dengan menggunakan rumus:

Kadar SO2 =


(61)

Q = Volume udara terhisap (liter/menit) t = waktu sampling (menit)

3.13.Metode Analisa NO2 3.12.1. Prinsip Kerja

dengan Saltman NO2

3.13.2.Peralatan dan Bahan

bereaksi dengan N-(1-Naphtil) – Ethyline Diamine Dihydrochlorida akan membentuk warna merah violet. Intensitasnya akan diukur dengan spectrophotometer pada panjang gelombang 550 nm.

a. Peralatan:

- Spectrophotometer b. Bahan:

- Absorban NO - Larutan standar NO

2

- Aquabidest

2

3.13.3.Cara Pembuatan

a. Larutan absorban dalam impinger hasil sampling dimasukkan ke dalam kuvet 10 ml.

b. Ditambahkan aquabides sampai batas tanda, dicampur hingga homogen. c. Dibaca dengan spectrophotometer pada panjang gelombang 550 nm, dan hasil

pembacaannya dicatat.

d. Dari hasil pembacaan sampel uji (X) letakkan pada skala absorban. e. Tarik garis horizontal kearah garis linier sejajar garis konsentrasi f. Tarik garis vertical kearah skala konsentrasi sejajar absorban.


(62)

g. Titik pertemuan pada garis konsentrasi dibaca dan dicatat.

h. Setelah didapat hasil konsentrasi sampel dari pembacaan kurva, kemudian hasilnya dibaca lagi dengan menggunakan rumus:

Kadar NO2 =

Dimana: Y = Hasil pembacaan pada kurva standar (µg / m3 Q = Volume udara terhisap (liter/menit)

)

t = waktu sampling (menit) 3.14.Metode analisa H2

3.13.1.Prinsip Kerja

S dengan Braverman

Ion sulfida bereaksi dengan p-amino-dimetil-amilin dengan FeCl3

3.13.2.Peralatan dan Bahan

membentuk metilen biru, yang kemudian intensitasnya diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 670 nm.

a. Peralatan:

- Spektrofotometer b. Bahan:

- Larutan absorban H2

- Larutan amin-N, N dimethyl 1,4 phenylene diamine S

- Larutan FeCl - Larutan standar H

3

2

- Aquabidest

S


(1)

6.2. Saran

1. Untuk Dinas Kebersihan Kota Medan agar memperbaiki sistem pengelolaan sampah di TPA Namo Bintang sehingga tidak menimbulkan pencemaran udara. 2. Untuk Balai Lingkungan Hidup agar meningkatkan penelitian, survey dan

pemantauan terhadap kualitas udara secara berkelanjutan.

3. Kepada pemulung yang bekerja di TPA Namo Bintang sebaiknya menggunakan masker ketika bekerja sebagai upaya pencegahan terhadap keluhan gangguan saluran pernapasan.


(2)

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2010. Rangkaian Penanganan Sampah di Indonesia, www.kiathidupsehat.com, diakses tanggal 20 Desember 2010.

_________, 2010. TPA Leuwigajah, www.koran-jakarta.com, diakses tanggal 20 Desember 2010

_________, 2010. Jurus Baru Melumat Metana, www.sains.kompas.com, diakses tanggal 22 Desember 2010.

_________, 2010. Sistem Pernapasan Manusia, www.gurumuda.com, diakses tanggal 22 Desember 2010.

_________, 2008. Sampah Sumbang Laju Perubahan Iklim Global, Jakarta: Antara News

_________, 2010. Influenza, www.patofisiologi.wordpress.com, diakses tanggal 17 Maret 2011.

Anwar, Bahri.T., 2004. Nyeri Dada, www.repository.usu.ac.id, diakses tanggal 16 Maret 2011.

Depkes RI, 1999. Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta.

_________, 2007. Parameter Pencemaran Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatan, Jakarta.

Fardiaz, S., 2003.Polusi Air dan Udara. Kanisius, Yogyakarta.

Hundak, C., 1997. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, Volume Satu, Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Kurniawati, D.K., 2006. Faktor- faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Tinea Pedis pada Pemulung di TPA Jatibarang Semarang. Tesis Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang.

Lemeshow, S. dkk., 1997. Besar Sampel Dalam Penelitian Kesehatan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.


(3)

Meirinda, 2008. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Udara Dalam Rumah di Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Kelurahan Terjun Kecamatan Medan Marelan. Tesis Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, USU, Medan.

Mukono, H.J., 2008. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran Pernapasan, Airlangga University Press, Surabaya.

Nandi, 2005. Kajian Keberadaan Tampat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah Dalam Konteks Tata Ruang, Jurnal Jurusan Pendidikan Geografi, Bandung. Price, S.A. dan Wilson L.M., 1994. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-proses

Penyakit, Edisi ke Empat, Buku II, Judul Asli Pathophysiology Clinical Concept EGC, Jakarta.

Ricos, Michael.Dr., 2007. Pembakaran Sampah Meracuni Masyarakat Kita. Bali Sani, Asrul.dr., 2007. Gejala Batuk. www.dokter-herbal.com, diakses tanggal 16

Maret 2011.

Sastrawijaya, A.T., 2009. Pencemaran Lingkungan (Edisi Revisi), Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Sianipar, Reinhard.H., 2009. Analisis Risiko Paparan Hidrogen Sulfida Pada Masyarakat Sekitar TPA Sampah Terjun Kecamatan Medan Marelan, Tesis Program Pasca Sarjana, Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat, USU, Medan.

Standard Nasional Indonesia, 1994. Tata Cara Tempat Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah, Jakarta.

Soemirat, Juli, 2009. Kesehatan Lingkungan, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

U.S. EPA. 2003. Integrated Risk Information System Toxicity Summary For Hydrogen Sulfide.

Wardhana, W.A., 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan (Edisi Revisi)¸ Penerbit Andi, Yogyakarta.


(4)

WHO, 1995. Deteksi Dini Penyakit Akibat Kerja, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.


(5)

KUESIONER

ANALISIS KUALITAS UDARA DAN KELUHAN KESEHATAN YANG BERKAITAN DENGAN SALURAN PERNAPASAN PADA PEMULUNG

DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH (TPA) NAMO BINTANG KECAMATAN PANCUR BATU

KABUPATEN DELI SERDANG TAHUN 2011

No. Responden :

I. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : Jam kerja/hari :

Masa Kerja : Tahun 1. Apakah anda merokok?

Ya Tidak

2. Sudah berapa lama anda merokok? …….. Tahun 3. Apakah dalam bekerja anda juga merokok?

Ya Tidak

4. Berapa batang anda menghabiskan rokok dalam sehari? ……….. batang II. RIWAYAT PENYAKIT SEBELUMNYA

1. Apakah anda memiliki riwayat penyakit TB Paru?

Ya Tidak

2. Jika “Ya”, apakah anda pernah dirawat di rumah sakit? Pernah Tidak Pernah

3. Apakah anda memiliki riwayat penyakit asma? Ya Tidak

4. Jika “Ya”, sudah berapa lama anda menderita penyakit asma:……. Tahun III.KELUHAN KESEHATAN

1. Apakah selama bekerja, anda memiliki keluhan kesehatan yang berkaitan dengan saluran pernapasan?


(6)

Ya Tidak

2. Jika “Ya”, gejala apa saja yang anda rasakan?

a. Batuk-batuk Ya Tidak

b. Flu Ya Tidak

c. Batuk darah Ya Tidak

d. Sesak napas Ya Tidak

e. Nyeri dada Ya Tidak

f. Sakit tenggorokan Ya Tidak

3. Jika anda pernah merasakan keluhan tersebut apakah anda pernah berobat?

Ya Tidak

4. Jika pernah, apakah anda pernah dirawat di rumah sakit akibat dari gejala tersebut?

Ya Tidak 5. Apakah gejala-gejala tersebut terus berulang?

Ya Tidak

6. Apakah selama bekerja anda memiliki keluhan kesehatan lainnya?

Ya Tidak

7. Jika “Ya”, sebutkan:

a. ………. b. ………. c. ……….


Dokumen yang terkait

Hubungan Jarak Sumur Gali dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Terhadap Kandungan Fosfat (PO4-3) dan Nitrat (NO3-) pada Air Sumur Gali Masyarakat di Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang Tahun 2012

8 87 99

Hubungan Kebersihan Perorangan Dan Pemakaian Alat Pelindung Diri Dengan Keluhan Gangguan Kulit Pada Petugas Pengelola Sampah Di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Tahun 2010

11 92 95

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

5 82 169

Dampak Keberadaan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) “Namo Bintang” terhadap Masyarakat (Studi Kasus: Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang)

0 8 94

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 14

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 2

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 16

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 41

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 2

Dampak Peralihan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Namo Bintang Terhadap Kesejahteraan Sosial Rumah Tangga Pemulung di Desa Baru, Kecamatan Pancur Batu, Kabupatem Deli Serdang

0 0 24