PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBASIS INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP.

i

PENERAPAN METODE PROJECT BASED
LEARNING BERBASIS
CHEMOENTREPRENEURSHIP PADA MATERI
KOLOID UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS XI

Skripsi
disusunsebagaisalahsatusyarat
untukmemperolehgelarSarjanaPendidikan
Program StudiPendidikan Kimia

oleh
Kiki Setyandari
4301411005

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2015

i

ii

ii

iii

iii

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”
(Q.S Al-Baqoroh: 286)
“ Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah” (Lessing)

Skripsi ini untuk :
Bapak Legimin dan Ibu Pujiati atas segala pengorbanan, doa, dan kasih saying
untuk mencapai cita dan cinta
Teman-teman Pendidikan Kimia angkatan 2011

iv

v

PRAKATA
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan inayah-Nya yang
selalu tercurah sehingga tersusunlah skripsi yang berjudul “Penerapan Metode
Project Based Learning Berbasis Chemoentrepreneurship pada Materi Koloid
untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas XI”.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini selesai berkat bantuan,
petunjuk, saran, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis
menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.
2. Ketua Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah
memberikan ijin peneltitian.
3. Dr. Sri Susilogati S., M.Si, dosen pembimbing 1 yang selalu mengarahkan,
memotivasi dan membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini.
4. Dr. Sri Haryani, M. Si, dosen pembimbing 2 memberikan pengarahan dan
saran dalam penyusunan skripsi ini.
5. Dra. Sri Nurhayati, M. Pd, dosen penguji utama yang telah memberikan
pengarahan dan saran dalam penyusunan skripsi ini.
6. Kepala SMA N 1 Bergas yang telah memberikan izin penelitian.
7. Wahyu Puji Astuti, S.Pd, guru kimia kelas XI SMA N 1 Bergas yang
telah banyak membantu dalam proses penelitian.
8. Semua pihak yang telah membantu penyusunan skripsi ini.

v

vi

Akhirnya penulis berharap, semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca
pada khususnya dan perkembangan pendidikan Indonesia pada umumnya.

Semarang, 11 September 2015

Penulis

vi

vii

ABSTRAK
Setyandari, Kiki. 2015. Penerapan Metode Project Based Learning Berbasis
Chemoentrepreneurship pada Materi Koloid untuk Meningkatkan Keterampilan
Proses Sains Siswa Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. Sri
Susilogati S., M.Si. dan Pembimbing Pendamping Dr. Sri Haryani, M.Si.
Kata Kunci:. Metode Project Based Learning; Keterampilan proses sains; Penerapan
Mata pelajaran kimia merupakan mata pelajaran yang dianggap sulit dipahami
oleh siswa. Dibutuhkan pembelajaran yang inovatif yang dapat mengkaitkan materi
dengan objek nyata yang menghasilkan proyek dalam pembelajran kimia, salah
satunya penggunaan metode Project Based Learning. Permasalahan yang dikaji
dalam penelitian apakah metode Project Based Learning dapat meningkatakan
keterampilan proses sains siswa pada materi koloid? Tujuan dari penelitian
meningkatkan keterampilan proses sains siswa melalui penggunaan metode Project
Based Learning pada materi koloid. Populasi penelitian siswa kelas XI SMA Negeri
1 Bergas tahun ajaran 2014/2015 sebanyak 95siswa yang terbagi dalam 3 kelas.
Sampel penelitian siswa kelas XI-1 sebagai kelas kontrol dan kelas XI-2 sebagai
kelas eksperimen. Sampel diperoleh setelah homogenitas populasi dihitung hasilnya
0,86 lebih kecil disbanding
= 5, 99. Variabel bebas penelitian ini metode
Project Based Learning, sedangkan variable terikat keterampilan proses sains. Desain
penelitian ini pretest-posttest control group desaign. Teknik pemilihan sampel
dilakukan dengan cluster random sampling. Instrumen penelitian soal keterampilan
proses sains, lembar keterampilan laboratorium, serta angket. Berdasarkan hasil
perhitungan, uji Chi-kuadrat kelas control diperoleh 6,95, sedangkan kelas
eksperimen 6,62 dengan
= 7,81 sehingga populasi dinyatakan berdistribusi
normal. Dari data hasil penelitian diperoleh rata-rata nilai soal tes keterampilan
proses sains kelas kontrol 80,32, sedangkan kelas eksperimen 80,45. Hasil analisis
menunjukkan metode Project Based Learning meningktakan keterampilan proses
sains. Hal ini ditunjukkan dengan uji t diperoleh Thitung= 3,606 lebih besar dari Ttabel =
1,99. Begitu pula dengan nilai N-gain kelas kontrol 0,57, sedangkan kelas eksperimen
0,71. Hal ini menunjukkan metode Project Based Learning dapat meningkatkan
keterampilan proses sains. Untuk rata-rata soal keterampilan proses sains posttest
kelas kontrol 75,96, sedangkan kelas eksperimen 83,7. Keterampilan laboratorium
kelas kontrol 67% sedangkan kelas eksperimen 71%. Simpulan dari penelitian
metode Project Based Learning berbasis chemoentrepreneurship meningkatkan
keterampilan proses sains materi koloid siswa kelas XI SMA Negeri 1 Bergas tahun
pelajaran 2014/2015. Saran yang diberikan penulis adalah perlu ada penelitian lebih
lanjut untuk kondisi siswa atau sekolah yang berbeda.

vii

viii

ABSTRACT
Setyandari, Kiki. 2015. Application of Project Based Learning method
Chemoentrepreneursip Based on Colloidal Materials for Improving Science Process
Skills student class XI. Thesis, Department of Chemistry Facultyof Mathematics and
Natural Sciences, state University of Semarang. Main Supervisor Dr. Sri Susilogati
S., M.Sc and Supervisor companion Dr. Sri Haryani, M.Sc.
Keywords:.The Project Based Learning method; Science process skills; Application
Chemical subjects are that are considered difficult to understand by students. It takes
innovative learning and can link the material with real objects that produce project in
chemistry, one of them using Project Based Learning method. Issues examined in the
study whether the method can increase the Project Based Learning science process
skills of students through the use of Project Based Learning in colloidal
material.Population studies class XI student of SMA N 1 Bergas 2014/2015 school
year as many as 95 students were divided into three classes. The research sample
class XI-1 as a control class and class XI-2 as the experimental class. Samples were
obtained after the homogeneity of the population is calculated result of 0.86 was
smaller than x2table =5,99. The independent variable of this research method Project
Based Learning, while the dependent variable science prosess skills. The study design
was pretest-posttest control group desaign. Engineering sample selection is done by
cluster random sampling. The research instrument about science process skills,
laboratory skills sheet, as well as questionnaires.Based on calculations, chi-square
test was obtained control class 6.95, while the experimental class whit a 6.62 x 2table
= 7.81 so the table is expressed normally distributed population. From the research
date obtained by the average value of science process skills test item control class
80.32, while the experimental class 80.45. The analysis showed the method Project
Based Learning Enhancing science process skills. This is indicated by test was
obtained T arithematic = 3.606 greater than T table = 1.99. Similarly, the value of Ngain control class 0.57, while the experimental class 0.71. It shows a method Project
Based Learning can improve the science process skills. For the average about science
process skills posttest control class 75.96, while the experimental group 83.7. Skills
class laboratory controls 67% while the experimental group 71%. The conclusions of
the research method of Project Based Learning based chemoentrepreneurship
improve colloidal materials science process skills class XI student of SMA N 1
Bergas school year 2014/2015. Advice given writer is there needs to further research
to student or school conditions were different.

viii

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………........

i

PERNYATAAN………………………………………………………...........

ii

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………..

iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN……………………………………............

iv

PRAKATA……………………………………………………………...........

v

ABSTRAK………………………………………..........................................

viii

ABSTRACT ………………………………………………………………....

ix

DAFTAR ISI……………………………………………………………........

x

DAFTAR TABEL………………………………………………………........

xii

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………............

xiii

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………........

xiv

Bab 1

Bab 2

PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangMasalah………………………………………...

1

1.2 Rumusan Masalah……………………………………………….

4

1.3 Tujuan Penelitian………………………………………………..

4

1.4 Manfaat Penelitian………………………………………………

5

1.5 Penegasan Istilah………………………………………………..

5

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Project Based Learning....………………………………………

8

2.2 Chemoentrepreneurship..............................................................

19

2.3 Keterampilan Proses Sains………………………………………

21

2.4 Koloid…………………………………………….....................

26

2.4 Penelitian yang Relevan……………………………...………….

33

2.5 KerangkaBerpikir……………………………………………….

34

2.6 Hipotesis………………………………………………………...

36

ix

x

Bab 3

Bab 4

Bab 5

METODE PENELITIAN
3.1 Penentuan Subjek Penelitian…………………………………….

37

3.2 Variabel Penelitian………………………………………………

38

3.3 Metode Pengumpulan Data……………………………………...

39

3.4 Prosedur Penelitian ……………………………………………..

40

3.5 Desain Penelitian……………………………………………......

41

3.6 Instrumen Penelitian…………………………………………….

41

3.7 MetodeAnalisis Data…………………………………………....

48

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian………………………………………………….

57

4.2 Pembahasan……………………………………………………..

71

PENUTUP
5.1 Simpulan…………………………………………………….......

85

5.2 Saran………………………………………………………….....

85

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………….

87

LAMPIRAN………………………………………………………....

90

x

xi

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1

Ragam Jenis Keterampilan Proses Sains……………………….

24

Tabel 2.2

Keterampilan Proses Sains dan Indikator………………………

25

Tabel 2.3

Perbedaan Sifat Larutan, Koloid, dan Suspensi….…………….

27

Tabel 2.4

Perbandingan Sistem Koloid.………………………..................

28

Tabel 2.5

Perbandingan Sifat Sol Hidrofil dengan Sol Hidrofob..………..

31

Tabel 3.1

Jumlah Siswa Kelas XI SMA N 1 Bergas...................................

37

Tabel 3.2

Desain Penelitian Pretest-Posttest Control Group Design….…

41

Tabel 3.3

Hasil Analisis Daya Pembeda Soal Objektif…………………..

46

Tabel 3.4

Kriteria Rata-rata Nilai Sikap dan Keterampilan
Laboratorium………………………………………………….

53

Tabel 4.1

Data Awal Populasi Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bergas…….

58

Tabel 4.2

Hasil Uji Normalitas Populasi…….……………………………

59

Tabel 4.3

Data Nilai Siswa Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen……….

61

Tabe l4.4

Hasil Uji Normalitas………….………………………………...

61

Tabel 4.5
Tabel 4.6

Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Pretest dan Data
Posttes…………………………………………………………...........
Hasil Uji t Posttest……………………………………………...

62
63

Tabel 4.7

Uji Average Normalized Gain (G)……………………………..

63

Tabel 4.8

Data Penilaian Sikap Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen…

65

Tabel 4.9

Data Rata-rata Hasil Keterampilan Laboratorium……………..

66

Tabel 4.10 Rata-rata Proyek Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas
Eksperimen……………………………………………………..
Tabel 4.11 Hasil Angket Tanggapan Siswa………………………………..

68
69

Tabel 4.12 Rincian Kegiatan Pembelajaran Kelas Kontrol………………..

77

Tabel 4.13 Rincian Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen…………...

78

xi

xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1

Kerangka Berfikir……………………………………………

36

Gambar 4.1

Hasil Uji N-Gain Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen…….

64

Gambar 4.2

Hasil Aspek Sikap Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen…...

65

Gambar 4.3

Persentase Hasil Analisis Tanggapan Siswa Terhadap
Pemebelajaran dengan Metode Project Based Learning……..

71

xii

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1

Silabus………………………………………………........

91

Lampiran 2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen…

94

Lampiran 3

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Kontrol……..

108

Lampiran 4

Kisi-kisi Soal Keterampilan Proses Sains……………….

119

Lampiran 5

LKS………………………………………………………

140

Lampiran 6

Penilaian Keterampilan Laboratorium…………………..

150

Lampiran 7

Panduan Observasi Aspek Sikap Siswa………………..

164

Lampiran 8
Lampiran 9

Angket Respon Siswa Terhadap Model Project Based
Learning…………………………………………………
Soal Tes…………………………………………………..

167
169

Lampiran 10

Analisis Butir Soal……………………………………….

175

Lampiran 11

Lampiran 15

Daftar Nilai Ulangan Tengah Semester Genap Tahun
2013-2014………………………………………………...
Uji Normalitas Data Hasil Ulangan Tengah Semester
Genap Kelas XI IPA 1……………………………………
Uji Normalitas Data HasilUlangan Tengah Semester
Genap Kelas XI IPA 2……………………………………
Uji Normalitas Data Hasil Ulangan Tengah Semester
Genap Kelas XI IPA 3……………………………………
Uji Homogenitas Populasi………………………………..

186
187

Lampiran 16

Uji Kesamaan Keadaan Awal Populasi ( UjiAnava)……

188

Lampiran 17

Daftar Nilai Ulangan Pre-test…………………………….

190

Lampiran 18

Lampiran 22

Uji Normalitas Data Pretest Kelas Eksperimen
XI IPA 2…………………………………………………
Uji Normalitas Data Pretest Kelas Eksperimen
XI IPA 1………………………………………………….
Uji Kesamaan Dua Varians Data Nilai Pretest Kelompok
Eksperimen dan Kontrol………………………………….
Uji Perbedaan Dua Rata-rata Nilai Pre-test Kelas
Eksperimen dan Kontrol………………………………….
Daftar Nilai Ulangan Post-Test…………………………..

195
197

Lampiran 23

Uji Normalitas Data Posttest Kelas Kontrol……………..

199

Lampiran 24

UjiNormalitas Data PosttestKelasEksperimen…………

200

Lampiran 12
Lampiran 13
Lampiran 14

Lampiran 19
Lampiran 20
Lampiran 21

xiii

183
184
185

191
192
193

xiv

Lampiran 25

Uji Kesamaan Dua Varians Posttest……………………..

201

Lampiran 26

Uji t Nilai Post-Test………………………………………

202

Lampiran 27

Lampiran 31

N-Gain Hasil Kognitif antara Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol…………………………………………….
Skor Rata-rata Aspek Sikap Kelas Kontrol dan Kelas
Eksperimen………..........................................................
Nilai Rata-rata Aspek Keterampilan Laboratorium Kelas
Kontrol dan Kelas Eksperimen………………………….
Nilai Rata-rata Angket Tanggapan Siswa Kelas
Eksperimen……………………………………………….
Foto-foto Penelitian………………………………………

Lampiran 32

Surat Keterangan Penelitian……………………………...

Lampiran 28
Lampiran 29
Lampiran 30

xiv

203
206
213
221
228
230

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyiapan SDM yang berkualitas menjadi sebuah kebutuhan mutlak bagi
suatu Negara dan pendidikan merupakan senjata jitu untuk menciptakan SDM yang
berkualitas (Mulyasa, 2004). Namun saat ini, masalah utama yang dihadapi dunia
pendidikan adalah menyangkut mutu pendidikan, terutama kualitas keterampilan
proses sains yang masih sangat rendah (Nurhadi & Senduk, 2004).
Keterampilan Proses Sains merupakan keterampilan dalam menemukan fakta,
prinsip, konsep-konsep dasar melalui suatu kegiatan ilmiah (Rustaman, 2004), atau
dijelaskan pula keterampilan-keterampilan proses adalah suatu pendekatan ilmu
pengetahuan alam didasarkan atas pengamatan terhadap apa yang dilakukan oleh
seorang ilmuwan (Rusmianti & Yulianto, 2009).
Penelitian menurut (Widyaningrum, dkk, 2014) disebutkan juga bahwa
keterampilan proses sains siswa dapat dilakukan pada ranah kognitif dan
psikomotorik peserta didik, karena keterampilan proses sains siswa merupakan
keterampilan dasar untuk meningkatkan nilai sikap serta keterampilan siswa.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada bulan Januari di SMA
Negeri 1 Bergas diketahui bahwa banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam
memahami pelajaran kimia pada kelas XI IPA khususnya pada materi koloid.
Separuh lebih dari siswa di tiap kelas memiliki nilai dibawah dengan Kriteria

2

Ketuntasan Minimum (KKM) yaitu 75. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan,
masalah ini terjadi disebabkan beberapa faktor, diantaranya pembelajaran yang
digunakan masih berpusat kepada guru, sehingga dominasi guru dalam proses
pembelajaran masih jelas terlihat sementara siswa cenderung pasif mendengarkan.
Guru hanya mengajarkan konsep-konsep dan teori yang kadang susah dijangkau oleh
pemikiran siswa. Selain itu guru juga jarang menggunkan metode yang berkaitan
dengan laboratorium sehingga keterampilan proses sains siswa kurang. Hal inilah
yang membuat siswa merasa bosan dan kurang tertarik dengan pelajaran kimia
khususnya materi koloid.
Salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut

yaitu melalui metode

Project Based Learning berbasis Chemoentrepreneurship. Metode ini cukup
menantang dan dianggap sebagai suatu alat yang efektif karena mereka didorong
untuk tidak bergantung sepenuhnya pada guru, tetapi diarahkan untuk dapat belajar
lebih mandiri. Metode pembelajaran Project Based Learning adalah metode yang
menyelenggarakan pembelajaran di sekitar proyek. Menurut definisi yang ditemukan
di buku pegangan Project Based Learning untuk guru, proyek adalah tugas-tugas
kompleks, berdasarkan pertanyaan-pertanyaan atau masalah yang melibatkan siswa
dalam desain, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau investigasi kegiatan.
Memberikan siswa kesempatan untuk bekerja terstruktur, terjadwal, dan berujung
pada produk yang realistis atau presentasi.
Menurut Lasonen, sebagaimana dikutip oleh (Rais, 2010) Project Based
Learning dapat membantu membekali peserta didik untuk persiapan memasuki dunia

3

kerja, karena peserta didik belajar bukan hanya secara teori melainkan praktik di
lapangan. Metode Project Based Learning juga memiliki potensi yang amat besar
untuk membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna. Selain itu
Project Based Learning juga memfasilitasi peserta didik untuk berinvestigasi,
memecahkan masalah, bersifat students centered, dan menghasilkan produk nyata
berupa hasil proyek. Peserta didik akan masuk ke dalam sebuah kompetensi bersama
kelompoknya, dan masing-masing kelompok bersaing untuk menjadi yang paling
unggul diantara yang lain. Pada saat yang bersamaan, peserta didik merasa senang
dalam melakukan proyek, mencoba sesuatu yang berbeda dan membuat mereka
merasa memiliki pengetahuan dan dihargai (Bas, 2011).
Chemoentrepreneurship

itu

sendiri

merupakan

suatu

pendekatan

pembelajaran kimia yang kontekstual, yaitu pendekatan kimia yang mengaitkan
materi yang sedang dipelajari dengan objek nyata. Selain memperoleh materi
pelajaran siswa juga memiliki kesempatan untuk mempelajari proses pengolahan
suatu bahan menjadi suatu produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan
menumbuhkan semangat berwirausaha. Melalui pendekatan Chemoentrepreneurship
ini diharapkan siswa lebih kreatif sehingga dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang
sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari (Supartono, dkk., 2009).
Menurut (Supartono, 2006) disebutkan Chemoentrepreneurship pembelajaran
kimia akan lebih menyenangkan dan memberikan kesempatan peserta didik untuk
mengoptimalkan potensialnya agar menghasilkan suatu produk. Peserta didik yang

4

sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan
akan memotivasi peserta didik untuk berwirausaha.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk mengadakan penelitian
dengan

judul

“Penerapan

Metode

Project

Based

Learning

Berbasis

Chemoentrepreneurship pada Materi Koloid untuk Meningkatkan Keterampilan
Proses Sains Siswa Kelas XI”.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah metode Project Based Learning Berbasis Chemoentrepreneurship
dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa pada materi koloid?
2. Bagaimana tanggapan siswa mengenai pembelajaran menggunakan metode
Project Based Learning?

1.3 Tujuan Penelitian
1. Meningkatkan keterampilan proses sains siswa melalui penggunaan metode
Project Based Learning pada materi koloid.
2. Mengetahui tanggapan siswa mengenai pembelajaran dengan menggunakan
metode Project Based Learning pada materi koloid.

1.4 Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian diharapkan dapat mempunyai manfaat antara lain:
1. Bagi

siswa

berwirausaha.

dapat

meningkatkan

serta

memberikan

semangat

untuk

5

2. Bagi guru, sebagai bahan petimbangan dan informasi dalam memilih model
pembelajaran yang efektif dan efisien sehingga dapat meningkatkan keterampilan
proses sains bagi para siswa.
3. Bagi sekolah, memberikan perbaikan kondisi pembelajaran, sehingga dapat
membantu menciptakan panduan pembelajaran bagi mata pelajaran lain dan
bahan pertimbangan dalam membuat keputusan metode pembelajaran yang akan
diterapkan untuk perbaikan.
4. Meningkatkan kualitas lulusan yang tidak hanya unggul dalam prestasi melainkan
juga mampu berwirausaha.

1.5 Penegasan Istilah
Berikut ini dijelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul
penelitian istilah yang berkaitan yaitu:
1.5.1 Keterampilan Proses Sains
Keterampilan proses sains merupakan keterampilan-keterampilan yang
dimiliki oleh para ilmuwan untuk memperoleh dan mengembangkan produk sains
(Anitah, 2007). Adapun lingkup keterampilan berpikir proses sains (Dahar, 2003),
yaitu

mengamati,

mengajukan

mengelompokkan/klasifikasi,

pertanyaan,

merumusakan

hipotesis,

menafsirkan,
merencanakan

menggunakan alat/bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi.

meramalkan,
percobaan,

6

Keterampilan proses sains yang akan dinilai yaitu mengamati,
merencanakan percobaan, klasifikasi, menafsirkan, menggunakan alat/bahan, dan
berkomunikasi.
1.5.2

Project Based Learning
Project based learning dapat diartikan sebagai model pembelajaran yang

bertujuan untuk mendorong peserta didik membangun pengetahuan dan ketrampilan
siswa secara mandiri, mendorong siswa untuk memecahkan masalah. Project based
learning adalah sebuah model atau pendekatan pembelajaran yang inovatif, yang
menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan kegiatan yang kompleks (Cord,
2001).
Project based learning disini siswa diberi proyek dimulai dari menentukan
jadwal, merancang percobaan, melakukan percobaan, dan mempersentasikannya.
Proyek yang dihasilkan yaitu es krim dan VCO.
1.5.3

Chemoentrepreneurship
Chemoentrepreneurship adalah pendekatan

pembelajaran kimia

yang

dikembangkan dengan mengkaitkan langsung pada objek nyata atau fenomena di
sekitar kehidupan manusia sebagai peserta didik, sehingga selain mendidik selain
pembelajaran Chemoentrepreneurship ini memungkinkan peserta didik dapat
mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat,
bernilai ekonomi dan memotivasi peserta didik untuk berwirausaha. Dengan
pendekatan Chemoentrepreneurship, pembelajaran kimia akan lebih menarik,
menyenangkan dan lebih bermakna (Supartono, 2009).

7

Chemoentrepreneurship yang akan dilakukan membuat makanan sehat.
Makanan sehat disini yang akan dibuat yaitu es krim dan VCO. Di akhir pertemuan
siswa akan mendiskusikan berapa keuntungan dan harga untuk produk makanan
tersebut.
1.5.4

Koloid
Koloid adalah campuran yang berada antara larutan sejati dan suspensi.

Misalnya adalah susu segar, yang terdiri dari butir-butir halus dari lemak mentega
yang terdispersi dalam fase air yang juga mengandung kasein (suatu protein) dan
beberapa zat lainnya. Dalam koloid seperti susu, partikel solutnya lebih besar dari
pada partikel larutan tetapi lebih kecil dari partikel yang mengandung pada suspensi.
Koloid yang akan di pelajari dalam penelitian ini yaitu sistem koloid, macammacam koloid, sifat-sifat koloid, pembuatan koloid, dan kegunaan koloid.

8

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Project Based Learning
2.1.1 Efinisi Project Based Learning
Project based

learning merupakan model pembelajaran yang berusaha

menumbuhkan motivasi dari dalam intrinsic peserta didik (Borich, 2007). Motivasi
intrinsik ini diharapkan dapat tumbuh secara alami dalam suasana pembelajaran
kelas. Proyek diberikan dalam bentuk tugas terstruktur untuk menghasilkan dan
meyelesaikan suatu produk yang menarik menurut minat peserta didik. Lebih lanjut,
Borich menjelaskan dua komponen penting dalam Project Based Learning yaitu:
1) Peserta didik akan terpusat pada permasalahan pokok yang memungkinkan
terbentuknya suasana kelas yang dinamis.
2) Peserta didik akan berusaha menghasilkan produk atau out come dalam rangka
menyelesaikan permasalahan dengan sukses.
Sejalan dengan pendapat di atas, (Sherman & Sherman, 2004) menyatakan
bahwa proyek di dalam Project Based Learning menitik beratkan pada tugas
kolaborasi sehingga aktivitas berpusat pada peserta didik Learner-centered activities.
Penelitian yang dilakukan oleh (Schneider et al., 2002) telah mendapatkan hasil
bahwa penggunaan Project Based Learning berhasil meningkatkan kinerja peserta
didik selama pembelajaran.

9

Pada Project Based Learning, pengajaran berperan sebagai fasilitator bagi
peserta didik untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan penuntun. Sedangkan pada
kelas “konvensional” pengajar dianggap sebagai seseorang yang paling menguasai
materi dan karenanya semua informasi diberikan secara langsung kepada peserta
didik. Pada kelas Project Based Learning, peserta didik dibiasakan bekerja secara
kolaborasi, penilaian dilakukan secara autentik, dan sumber belajar bisa sangat
berkembang. Hal ini berbeda dengan kelas “konvensioanal” yang terbiasa dengan
situasi kelas individual, penilaian lebih dominan pada aspek hasil daripada proses,
dan sumber belajar cenderung stagnan.
Model proyek ini adalah gabungan dari berbagai model pembelajaran seperti
belajar bersama, dan lain-lain. Pembelajaran model proyek ini bersifat kontruktivis,
yaitu peserta didik juga bersifat multiple intelligence, karena peserta didik
menggunakan berbagai intelegensi dalam melakukan proyek yang dilakukan seperti
intelegensi matematis-logis, ruang-visual, kinestetik, interpersonal, linguistik,
lingkungan, dan lain-lain.
Model ini biasanya menarik untuk peserta didik karena biasanya dilakukan
diluar kelas bahkan di luar sekolah, dan berlaku untuk beberapa waktu; bukan
terbatas pada satu jam sekolah. Banyak hal dapat didapat dari proyek ini antara lain :
1) Mengerti prinsip kimia lebih mendalam karena malakukan sesuatu
2) Kerjasama dengan teman lebih baik karena melakukan bersama
3) Ada keuntungan yaitu memperoleh hasil dari proyek sendiri (Suparno, 2007).

10

Pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang didukung
oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Strategi pembelajaran yang
menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar
kolaboratif, mengutamakan aktivitas peserta didik daripada aktivitas guru, mengenai
kegiatan laboratorium, pengalaman lapangan, studi kasus, pemecahan masalah, panel
diskusi, diskusi, brainstorming, dan simulasi.
Model
pembelajaran

pendekatan
yang

proyek

membantu

merupakan
peserta

didik

salah

satu

menggali

dari

model-model

informasi,

ide-ide,

keterampilan, nilai-nilai, cara berpikir, dan cara-cara mengekspresikan diri sendiri
dengan melihat proyek-proyek yang telah disediakan oleh guru. Selain itu guru juga
mengajari bagaimana cara menemukan ide-ide yang berkaitan dengan proyek yang
tersedia. Salah satu strategi mengajar yang menekankan keaktifan peserta didik
adalah metode pendekatan proyek. Menurut teori belajar ini, peserta didik di dalam
proses belajar membangun pengetahuannya sendiri melalui interaksi atas apa yang
sudah dimiliki dengan lingkungannya pada situasi baru. Model pembelajaran
pendekatan proyek member kesempatan kepada peserta didik untuk menguji
gagasannya, mengemukakan pendapat berdasarkan pengetahuan awal yang sudah
dimiliki sebelumnya dan pengetahuan yang di dapat selama proses belajar
berlangsung.
Karakteristik pembelajaran berbasis proyek didukung teori-teori belajar
konstruktivistik. Dalam konteks pembaruan di bidang teknologi pembelajaran,
pemebelajaran berbasis proyek dapat dipandang sebagai pendekatan penciptaan dan

11

keterampilan melalui pengalaman langsung. Proyek dalam pembelajaran berbasis
proyek dibangun berdasarkan ide-ide pebelajar sebagai bentuk alternatif pemecahan
masalah riil tertentu, dan pebelajar mengalami proses belajar pemecahan masalah itu
secara langsung (Waraskamdi, 2014).
2.1.2 Landasan Teori Pembelajaran Project Based Learning
Pembelajaran berbasis proyek dilandaskan pada teori yang dipaparkan oleh
beberapa ahli, yaitu :
1) John Dewey dan kelas demokratis
Metode proyek berasal dari gagasan John Dewwey tentang konsep “Learning by
doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakantindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak
tentang

bagaimana

melakukan

sesuatu

tujuan.

Pada

John

Dewwey

menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan di mana sekolah seharusnya
mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium
untuk memecahkan masalah kehidupan nyata. Dewwey menganjurkan guru untuk
mendorong peserta didik terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah
dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial.
Dewwey dan kill Patrick mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah
seharusnya lebih memiliki manfaat daripada dilakukan oleh peserta didik dalam
kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan
mereka sendiri.

12

2)

Peaget, Vygotsky dan Kontruktivisme
Jean Piaget dan Lev Vygotsky adalah tokoh dalam pengembangan konsep
kontruktivisme. Pada konsep inilah dasar pijak pembelajaran berbasis proyek
diletakkan. Piaget mengemukakan bahwa peserta didik dalam segala usia secara
aktif terlibat dalam perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka
sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah
pada saat peserta didik menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka
membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Vygotsky, seperti
halnya Piaget percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu
berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang, ketika mereka berusaha
untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman tersebut.
Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan baru.
Namun berbeda dengan Piaget tentang perkembangan intelektual setiap individu
yang tanpa memandang latar konteks sosial. Vygotsky percaya bahwa interaksi
sosial dengan orang lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya
perkembanyan intelektual peserta didik.

2.1.3 Pelaksanaan Pembelajaran Project Based Learning
Pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek, dijalankan dengan melalui
beberapa tahap pembelajaran atau langkah-langkah kerja. Belum ada ketetapan baku
untuk menjalankan tahap-tahap pembelajaran berbasis proyek, namun pada umumnya
didasarkan dan mencontoh pada tahap pembelajaran konstruktivisme.

13

Langkah-langkah pembelajaran dalam Project Based Learning sebagaimana
yang dikembangakan oleh The George Lucas Educational Foundation (2005) terdiri
dari:
1) Star With the Essential Question
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang
dapat member penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
Mengambil topic yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan
sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topic yang diangkat relefan
untuk para peserta didik (The George Lucas Educational Foundation : 2005)
2) Design a Plan for the Project
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik.
Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek
tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat
mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan
berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat
diakses untuk membantu penyelesaian proyek (The George Lucas Educational
Foundation: 2005).
3) Create a Schedule
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas
dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain:
(1) membuat time line untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline
penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang

14

baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat
penjelasan (alas an) tentang pemilihan suatu cara (The George Lucas Educational
Foundation: 2005).
4) Monitor the Student and the Progress of the Project
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas
peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara
menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan
menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses
monitoring, dibuat sebuah rubric yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang
penting (The George Lucas Educational Foundation: 2005).
5) Assess the Outcome
Penilaian dilakukan untuk membantuk pengajar dalam mengukur ketercapaian
standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik,
memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta
didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya (The
George Lucas Educational Foundation: 2005).
6) Evaluate the Experience
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan
refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi
dilakukan baik secara individual maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik
diminta

untuk

mengungkapkan

perasaan

dan

pengalamannya

selama

15

menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam
rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya
ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang
diajukan pada tahap pertama pembelajaran (The George Lucas Educational
Foundational: 2005).
Tahapan pembelajaran yang dikemukakan di atas menunjukkan kerja sama
anatara guru dan peserta didik, yang saling memberikan kontribusi dalam proses
pembelajaran. Tahapan dalam model pembelajaran berbasis proyek memang belum
ada bentuk bakunya. Tahapan pembelajaran berbasis proyek juga didasarkan pada
tahap pembelajaran berbasis masalah, namun peserta didik lebih difokuskan untuk
merumuskan solusi dan mengimplementasikannya terhadap konsep lain. Tahapan
yang digunakan oleh peneliti adalah tahapan secara umum, yang digunakan dan
dicontohkan juga oleh Carbonaro dalam proses pembelajaran proyek lingkungan,
yaitu :
1) Engage, tahap awal untuk menstimulus peserta didik dalam mengetahui konsep
yang sudah dipahami dan tahap ketika guru memberikan pertanyaan essensial
yang memacu peserta didik untuk berfikir.
2) Explore, kegiatan untuk mencari materi dan sumber informasi sebagai referensi
dalam menyelesaikan masalah dan membuat jadwal kerja.
3) Investigate, membandingkan dan memfokuskan solusi yang akan digunakan
dalam memecahkan masalah.

16

4) Create, tahap pembuatan atau pengimplementasian solusi dan tahap dalam
menghasilkan suatu produk atau karya.
5) Share, tahap presentasi produk atau karya.
6) Evaluation, tahap evaluasi atau penilaian proses dan hasil belajar (Carbonaro,
2005).
Tahap pembelajaran yang terdiri dari engage, explore, investigate, create,
share, dan evaluation menekankan proses belajar pada aktivitas peserta didik. Dalam
tiap tahap pelaksanaannya peserta didik harus lebih aktif dalam proses belajar.
Peserta didik merumuskan informasi dan solusi serta harus dapat menyelesaikan hasil
akhir, bisa dalam bentuk produk, presentasi, dan lainnya.
2.1.4 Kelebihan Model Pembelajaran Project Based Learning
Penggunaan model pembelajaran berbasis proyek dapat memberikan
keuntungan bagi peserta didik, guru, dan perkembangan kualitas sekolah, seperti yang
disebutkan dibawah ini :
1) Mempersiapkan peserta didik menghadapi dan berkembang sesuai dengan dunia
nyata.
2) Meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar, dan mendorong kemampuan
mereka untuk melakukan pekerjaan penting.
3) Menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan dunia nyata. Dengan
melaksanakan proyek peserta didik tidak hanya menghafal fakta, namun
menghubungkan dan berpikir bagaimana mengaplikasikan ilmu yang dimiliki ke
dalam dunia nyata.

17

4) Membentuk sikap kerja peserta didik. Dalam mengerjakan proyek peserta didik
diajak untuk saling mendengarkan pendapat dan bernegosiasi untuk mencari
solusi.
5) Meningkatkan kemampuan-kemampuan komunikasi dan sosial.
6) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
7) Meningkatkan keterampilan peserta didik untuk menggunakan informasi dengan
beberapa disiplin ilmu yang dimiliki.
8) Meningkatkan kepercayaan diri peserta didik.
9) Meningkatkan kemampuan peserta didik menggunakan teknologi dalam belajar.
Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan menggunakan model
pembelajaran berbasis proyek. Guru di Whasington State menggunakan model
pembelajaran berbasis proyek dalam kelas matematika dan sains melaporkan bahwa
muridnya lebih memiliki semangat belajar ketika mengerjakan proyek. Namun, masih
ada kelemahan dan kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakan pembelajaran
berbasis proyek, seperti waktu dan biaya yang lebih banyak dibutuhkan. Bahkan
untuk mencapai proses pembelajaran yang maksimal dalam mengimplementasikan
Project Based Learning, diperlukan desain khusus untuk kelas atau sekolah yang
menggunakannya. Tahap pembelajaran dalam model pembelajaran proyek ini selalu
mengikutsertakan presentasi atau performance, maka dibutuhkan disain sekolah dan
kelas yang lebih efektif dan dinamis.
Penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat diterapkan dan disesuaikan
dengan kondisi yang ada pada kelas atau sekolah. Desain khusus untuk sekolah dapat

18

diwujudkan jika keadaan memang ideal. Namun, jika sekolah sekolah belum bisa
mewujudkan desain kelas atau sekolah yang sesuai dengan karakter pembelajaran
berbasis proyek, maka guru atau staf sekolah yang lain dapat memaksimalkan
fasilitas yang ada ataupun menyesuaikan dengan kemampuan sekolah dan
kemampuan murid. Peran guru sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran
berbasis proyek, walaupun keadaan terbatas, guru dapat memotivasi peserta didik dan
bermotivasi agar pembelajaran yang bermakna dapat terwujud.
2.1.5 Keuntungan Pembelajaran Project Based Learning
Menurut Foundation for the rood ahead, keuntungan menggunakan
pembelajaran proyek adalah :
1) Meningkatkan

motivasi.

Sebelum

menggunakan

pembelajaran

proyek

kebanyakan sisa menolak menggunakan banyak waktu dan sulit untuk dimintai
pertisipasinya untuk melakukan proyek.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian untuk meningkatkan
keterampilan kognitif peserta didik amat dibutuhkan dalam tugas-tugas yang
memerlukan pemecahan masalah dan instruksional yang spesifik tentang
bagaimana memecahkan masalah.
3) Meningkatkan keterampilan penelitian kepustakaan. Kebanyakan proyek yang
dikerjakan peserta didik membutuhkan sejumlah sumber informasi seperti bukubuku teks, dan kamus-kamus. Informasi teknologi termasuk sumber informasi
utama yaitu computer, cd rom, dan internet.

19

4) Meningkatkan kemampuan kolaborasi. Dalam bekerja yang dibutuhkan sebuah
kelompok bagi peserta didik adalah keterampilan dan berkomunikasi.
5) Meningkatkan sumber keterampilan manajemen. Bagian yang menjadikan
pembelajaran bebas adalah dalam mengambil tanggung jawab untuk melengkapi
tugas-tugas yang kompleks. Pelaksanaan pembelajaran proyek yang baik
memberikan kegiatan instruksi peserta didik dalam mengatur proyek mereka, dan
mengalokasi waktu dan sumber-sumber lainnya seperti perlengkapan untuk
melengkapi tugas-tugas yang sudah terjadwal.
Agar proyek sungguh menarik peserta didik untuk melakukan dan dapat
menambah kedalaman dari pengetahuan mereka, maka beberapa sifat proyek perlu
diperhatikan dalam memilih.
1) Proyek harus menantang peserta didik untuk melakukan dan menyelesaikan.
2) Hasilnya memang sungguh ada gunanya baik untuk masyarakat dan untuk peserta
didik sendiri.
3) Proyek itu tidak terlalu mudah sehingga menantang, tetapi tidak terlalu sulit
sehingga dapat diselesaikan.
4) Proyek itu ada unsurnya membuat sesuatu atau mneliti sesuatu yang belum biasa
dilakukan.
5) Dalam proyek sendiri dimungkinkan beberapa peserta didik bekerja sama secara
intensif.
6) Tentu proyek mengandung prinsip atau nilai kimia, diutamakan membutuhkan
beberapa atau banyak pendekatan.

20

7) Sebaiknya proyeknya bersifat multidisiplin, interdisipliner, sehingga lebih kaya
dan peserta didik dapat mengerti persoalannya secara menyeluruh.

2.2. Chemoentrepreneurship
Konsep pendekatan Chemoentrepreneurship merupakan suatu pendekatan
pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia dikaitkan
dengan

objek

nyata

sehingga

selain

mendidik,

dengan

pendekatan

Chemoentrepreneurship ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari proses
pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat, bernilai ekonomi dan
menimbulkan semangat berwirausaha. Pendekatan Chemoentrepreneurship ini
pengajaran kimia akan lebih mmenyenangkan dan memberi kesempatan peserta didik
untuk mengoptimalkan potensialnya agar menghasilkan suatu produk (Supartono,
2006). Peserta didik yang sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak
menutup kemungkinan akan memotivasi peserta didik untuk berwirausaha.
Berdasarkan pemikiran tersebut, pendekatan Chemoentrepreneurship menuntut
potensi peserta didik untuk belajar secara maksimal sehingga mampu menampilkan
kompetensi tertentu. Orientasi Proses belajar peserta didik tidak lagi berorientasi
kepada banyaknya materi pelajaran kimianya subject matter oriented, tetapi lebih
berorientasi kepada kecakapan yang dapat ditampilkan oleh peserta didik life-skill
oriented. Pendekatan pembelajaran yang demikian menjadikan sejumlah kompetensi
dapat dicapai, proses belajar-mengajar menjadi lebih menarik, peserta didik terfokus

21

perhatiannya dan termotivasi untuk mengetahui lebih jauh serta hasil belajarnya
menjadi lebih bermakna (Supartono, 2006).
Pendekatan pembelajaran kimia Chemoentrepreneurship juga memberi peluang
kepada peserta didik untuk dapat mengatakan dan melakukan sesuatu. Pendekatan
pembelajaran Chemoentrepreneurship diaplikasikan, maka peserta didik dapat
mengolah suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.
Pembuatan produk akan memotivasi minat belajar peserta didik sehingga peserta
didik bisa mengingat lebih banyak konsep atau proses kimia yang dipelajari. Dampak
dari penerapan Chemoentrepreneurship ini menjadikan belajar kimia bermakna,
sehingga dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2.3 Keterampilan Proses Sains
2.3.1 Pengertian Keterampilan Proses Sains
Keterampilan bebrarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar, dan perbuatan
secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu, termasuk kreativitas.
Sedangkan proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks yang
digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses juga merupakan
konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen-komponen yang harus
dikuasai seseorang bila akan melakukan penelitian ( Devi, 2011).
Keterampilan proses melibatkan keterampilan-keterampilan kognitif atau
intelektual, manual dan sosial. Keterampilan kognitif atau intelektual terlibat karena
dengan melakukan keterampilan proses peserta didik menggunakan pikirannya.

22

Keterampilan manual jelas terlibat dalam keterampilan proses karena mungkin
mereka melibatkan penggunaan alat dan bahan, pengukuran, penyusunan atau
perakitan alat. keterampilan sosial dimaksudkan bahwa mereka berinteraksi dengan
sesamanya dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan keterampilan
proses, misalnya mendiskusikan hasil pengamatan.
Berdasarkan

beberapa

pengertian

diatas,

dapat

disimpulkan

bahwa

keterampilan proses adalah keterampilan fisik dan mental yang meliputi aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dapat diaplikasikan dalam suatu kegiatan
ilmiah. Pembelajaran dengan keterampilan proses memberikan kesempatan kepada
peserta didik agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga dengan adanya
interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan fakta, konsep, serta
prinsip ilmu pengetahuan, akan mengembangkan sikap dan nilai ilmuwan pada diri
peserta didik.
2.3.2 Perlunya Pembelajaran Keterampilan Proses Sains
Pembelajaran keterampilan proses sains sangat dibutuhkan oleh peserta didik
diantanya yaitu:
1) Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga para guru
tidak mungkin lagi mengajarkan semua fakta dan konsep kepada anak didiknya.
2) Peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika
disertai dengan contoh-contoh yang wajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang
dihadapi dengan cara mempraktekan sendiri.

23

3) Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat mutlak namun penemuannya bersifat
relatif. Suatu teori mungkin terbantah dan ditolak setelah orang mendapatkan data
baru yang mampu membuktikan kekeliruan teori yang dianut. Muncul lagi teori
baru, yang prinsipnya mengandung kebenaran relatif.
4) Proses pembelajaran seharusnya pengembangan konsep tidak dilepaskan dari
pengembangan sikap dan nilai dari anak didik (Conny, 1992).
Memaknai keempat alasan yang dikemukakan diatas mendorong seorang
pendidik dalam proses pembelajarannya untuk menerapkan suatu pembelajaran yang
bersifat Children Oriented, yang memungkinkan peserta didik untuk bersifat aktif
dalam belajar dan menerapkan cara-cara seperti menerapkan cara-cara seperti yang
dilakukan deorang ilmuwan dalam memahami ilmu pengetahuan.
Penerapan keterampilan proses sains dalam kegiatan belajar mengajar menurut
Anwar Holil ada dua alas an yang melandasinya yaitu :
1) Bahwa dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka laju
pertumbuhan produk-produk ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi pesat,
sehingga tidak mungkin lagi guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada
peserta didik. Maka dari itu peserta didik perlu dibekali dengan keterampilan
untuk mencari dan mengolah informasi dari berbagai sumber, dan tidak sematamata dari guru.
2) Sains itu dipandnag dari dua dimensi, yaitu dimensi produk dan dimensi proses.
Dengan alas an ini betapa pentingnya keterampilan proses bagi peserta didik
untuk mendapatkan ilmu yang akan berguna bagi peserta didik di masa yang akan

24

dating, sehingga bangsa kita akan dapat sejajar dengan bangsa yang maju lainnya
(Holil, 2008).
2.3.3 Jenis-jenis Keterampilan Proses Sains
Jenis-jenis keterampilan proses sains dan karakteristiknya terdiri atas sejumlah
keterampilan yang satu sama lain sebenarnya tidak dapat dipisahkan, namun ada
penekanan khusus dalam masing-masing keterampilan proses tersebut.
Menurut (Ango, 2002) keterampilan proses sains terdiri dari sebelas
ketarmapilan yaitu, observing (observasi), classifying (klasifikasi), inferring
(menafsirkan), predicting (prediksi), communicating (komunikasi), interpreting data
(interpretasi data), making operational definitions (menerapkan konsep), posing
questions (mengajukan pertanyaan), hypothesizing (hipotesis), experimenting
(bereksperimen), and formulating models (membuat eksperimen).
Sedangkan menurut Yew Mei bahwa keterampilan dasar dalam keterampilan
proses merupakan dasar dari keterampilan terintegrasi yang pada umumnya lebih
kompleks dalam memecahkan suatu permasalahan dalam suatu eksperimen (Mei,
2007).

25

Tabel 2.1 Ragam Jenis Keterampilan Proses Sains

Menurut

Ragam jenis KPS menurut para ahli
Jenis KPS

No.
1. Nuryani Y. Rustaman

2.

Conny Semiawan

3.

Wynne Harlen

Observasi, menafsirkan, klasifikasi,
meramalkan, berkomunikasi, berhipotesis,
merencanakan percobaan, menerapkan
konsep, mengajukan pertanyaan.
Observasi, berhipotesis, merencanakan
penelitian, mengendalikan variable,
menafsirkan, menyus

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1618 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 416 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 376 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 237 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 345 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 488 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 429 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 277 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 446 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 511 23