Konsep diri, harapan, dan proyeksi hidup berkeluarga orang dengan HIV AIDS (ODHA) (kehidupan penderita HIV-AIDS ditengah keluarga dan masyarakat).

(1)

KONSEP DIRI, HARAPAN DAN PROYEKSI HIDUP BERKELUARGA ORANG DENGAN HIV AIDS (ODHA)

Bonaventura Edho Widiaji Universitas Sanata Dharma

2015

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri, harapan dan proyeksi hidup berkeluarga Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Penelitian ini membahas mengenai perubahan konsep diri seseorang sebelum dan sesudah ia terinfeksi HIV AIDS serta hidup dengan status sebagai ODHA, harapan mengenai perlakuan masyarakat dan keluarga terhadap ODHA serta proyeksi atau gambaran mengenai berkeluarga.

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian ini dikumpulkan dengan wawancara secara mendalam dan pengamatan. Validitas data diuji dengan teknik triangulasi dimana peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang terkait dengan ODHA. Subjek yang diwawancarai bernama Melati (nama samaran) dengan usia 29 tahun, yang terinfeksi HIV AIDS karena latar belakang mantan suaminya yang dulu sebelum menikah dengan subjek menikahi seorang wanita bekas Pekerja Seks Komersial. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelumnya subjek mempunyai konsep diri yang positif. Namun, setelah dinyatakan terinfeksi HIVAIDS, subjek kemudian mengembangkan konsep diri negatif, yang menyebabkan penarikan diri (dari teman dan masyarakat) dan kurangnya kepercayaan diri. Setelah dinyatakan menderita HIVAIDS, keluarga dan masyarakat cenderung bersikap diskriminatif terhadapnya seperti memisahkan alat makan dan tempat pakaian serta menjauhkan dari interaksi dengan anak. Subjek berharap keluarga dan masyarakat menerima kondisinya dan tidak bersikap diskriminatif terhadapnya. Subjek ingin memiliki kehidupan keluarga lagi, tetapi merasa tidak layak. Akan tetapi, subjek berharap jika ada kesempatan, ia siap membangun keluarga lagi di masa mendatang.


(2)

SELF-CONCEPT, EXPECTATION, AND FAMILY LIFE PROJECTION OF PEOPLE WITH HIV AIDS

Bonaventura Edho Widiaji Sanata Dharma University

2015

This study aims at finding out the self-concept, expectation and family life projection of people with HIV AIDS. It is to analyze the change in self-concept of people before and after he/she was infected by HIV AIDS, the life with a status as people with HIV AIDS, the expectation for better treatment by family and society, and the projection of family life.

It was conducted by a qualitative method with a case study approach. Data in the study were collected by an in-depth interview and observation. The validity of the data was examined by a triangulation technique where the researcher made interviews with several parties related to the subject with HIV AIDS. The subject interviewed was Melati (pseudonymous) of 29 years old, being infected by HIV AIDS because her former husband was previously married with former prostitute. The data collected were analyzed by a descriptive qualitative technique.

The results of the study indicate that formerly the subject had the positive self-concept, but after being claimed as suffering HIV AIDS, she has immediately become to develop the negative concept, resulting in withdrawal (from her friends and society) and less self-confidence. After being claimed as suffering HIV AIDS, family and society have been more discriminative against her, such as separating tableware and cloths equipment, and keeping at a distance from the interaction with her child. The subject expected that family and society can accept her condition and do not discriminate against her. She wants to have a family life again, but she was discouraged to have it. However, she expected that if there is opportunity, she is willing to build a family once more in the future.


(3)

(Kehidupan Penderita HIV-AIDS Ditengah Keluarga dan Masyarakat) STUDI KASUS

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh:

Bonaventura Edho Widiaji NIM: 101114008

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2015


(4)

(5)

(6)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

SUKSES DIBENTUK DARI AIR MATA, KERINGAT, DAN

KERJA KERAS SERTA DOA…

BUKAN DARI

HEDONISME SESAAT…

( bonaventuraedho w)

SESUATU YANG INDAH TAKKAN BERARTIJIKA

DIDAPATKAN DENGAN CARA YANG

INSTAN…”

( bonaventuraedho w)

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

Tuhan Yesus Kristus

Orangtuaku tercinta

Program Studi Bimbingan dan Konseling USD

Orang-orang yang ku cinta

Teman-teman BK Angkatan 2010


(7)

v

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 18 November 2015 Penulis,


(8)

vi

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Bonaventura Edho Widiaji

NIM : 101114008

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

KONSEP DIRI, HARAPAN, DAN PROYEKSI HIDUP BERKELUARGA ORANG DENGAN HIV AIDS (ODHA) (Kehidupan Penderita HIV AIDS Ditengah Keluarga dan Masyarkat), STUDI KASUS

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 18 November 2015 Yang menyatakan


(9)

vii

KONSEP DIRI, HARAPAN DAN PROYEKSI HIDUP BERKELUARGA ORANG DENGAN HIV AIDS (ODHA)

Bonaventura Edho Widiaji Universitas Sanata Dharma

2015

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep diri, harapan dan proyeksi hidup berkeluarga Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Penelitian ini membahas mengenai perubahan konsep diri seseorang sebelum dan sesudah ia terinfeksi HIV AIDS serta hidup dengan status sebagai ODHA, harapan mengenai perlakuan masyarakat dan keluarga terhadap ODHA serta proyeksi atau gambaran mengenai berkeluarga.

Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian ini dikumpulkan dengan wawancara secara mendalam dan pengamatan. Validitas data diuji dengan teknik triangulasi dimana peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak yang terkait dengan ODHA. Subjek yang diwawancarai bernama Melati (nama samaran) dengan usia 29 tahun, yang terinfeksi HIV AIDS karena latar belakang mantan suaminya yang dulu sebelum menikah dengan subjek menikahi seorang wanita bekas Pekerja Seks Komersial.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelumnya subjek mempunyai konsep diri yang positif. Namun, setelah dinyatakan terinfeksi HIVAIDS, subjek kemudian mengembangkan konsep diri negatif, yang menyebabkan penarikan diri (dari teman dan masyarakat) dan kurangnya kepercayaan diri. Setelah dinyatakan menderita HIVAIDS, keluarga dan masyarakat cenderung bersikap diskriminatif terhadapnya seperti memisahkan alat makan dan tempat pakaian serta menjauhkan dari interaksi dengan anak. Subjek berharap keluarga dan masyarakat menerima kondisinya dan tidak bersikap diskriminatif terhadapnya. Subjek ingin memiliki kehidupan keluarga lagi, tetapi merasa tidak layak. Akan tetapi, subjek berharap jika ada kesempatan, ia siap membangun keluarga lagi di masa mendatang.


(10)

viii

SELF-CONCEPT, EXPECTATION, AND FAMILY LIFE PROJECTION OF PEOPLE WITH HIV AIDS

Bonaventura Edho Widiaji Sanata Dharma University

2015

This study aims at finding out the self-concept, expectation and family life projection of people with HIV AIDS. It is to analyze the change in self-concept of people before and after he/she was infected by HIV AIDS, the life with a status as people with HIV AIDS, the expectation for better treatment by family and society, and the projection of family life.

It was conducted by a qualitative method with a case study approach. Data in the study were collected by an in-depth interview and observation. The validity of the data was examined by a triangulation technique where the researcher made interviews with several parties related to the subject with HIV AIDS. The subject interviewed was Melati (pseudonymous) of 29 years old, being infected by HIV AIDS because her former husband was previously married with former prostitute. The data collected were analyzed by a descriptive qualitative technique.

The results of the study indicate that formerly the subject had the positive self-concept, but after being claimed as suffering HIV AIDS, she has immediately become to develop the negative self-concept, resulting in withdrawal (from her friends and society) and less self-confidence. After being claimed as suffering HIV AIDS, family and society have been more discriminative against her, such as separating tableware and cloths equipment, and keeping at a distance from the interaction with her child. The subject expected that family and society can accept her condition and do not discriminate against her. She wants to have a family life again, but she was discouraged to have it. However, she expected that if there is opportunity, she is willing to build a family once more in the future.


(11)

ix

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yesus atas hikmat, dan berkatNya dalam mempersiapkan, melakukan penelitian serta penyelesaian laporan penelitian dalam bentuk skripsi ini.

Skripsi ini ditulis dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan dari program studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis menyadari bahwa terselesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih yang tulus kepada:

1. Dr. Gendon Barus, M.Si., sebagai Kepala Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma.

2. Drs. Budi Sarwono, M.A selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan tulus telah memberikan waktu, motivasi, masukan, dan banyak pembelajaran berharga kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

3. Bapak dan Ibu Dosen di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis.

4. Subjek bernama Melati yang bersedia meluangkan waktu untuk menjadi subjek dalam penelitian ini.


(12)

x

sayang, dan biaya yang diberikan selama menempuh studi di Universitas Sanata Dharma.

6. Sahabat-sahabatku (Aap, Fee, Sinyo, Sigit, Fabian, Peny) atas sharing dan dukungannya. Terimakasih kawan. Your Best Friends!!!

7. Cornelia Winur Hayati terimakasih atas dukungan dan motivasi selama pengerjaan skripsi.

8. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memberikan dukungan dalam proses penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu masukan, saran, dan kritik terhadap karya ini sangat diperlukan. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang membaca.

Yogyakarta, 23 Oktober 2015


(13)

xi

HALAMAN JUDUL………..…... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING……….……… ii

HALAMAN PENGESAHAN ………. . iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN……… iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………. v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA.…… vi

ABSTRAK………. vii

ABSTRACT………...……….…... viii

KATA PENGANTAR……….…... xi

DAFTAR ISI……….. . x

DAFTAR TABEL………... xv

DAFTAR LAMPIRAN……….. xvi

BAB I PENDAHULUAN………... 1

A. Latar Belakang Masalah……… 1

B. Identifikasi Kasus………. 4

C. Pembatasan Masalah dan Fokus Penelitian……… 4

D. Rumusan Masalah Penelitian………. 7

E. Tujuan Penelitian……… 8

F. Manfaat Penelitian………. 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA……… 10


(14)

xii

2. Jenis-jenis Konsep Diri……… 12

3. Pembentukan Konsep Diri……… 13

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri………. 15

B. HIV-AIDS………. 16

C. ODHA ……….. 18

D. Konsep Diri ODHA……….. 19

E. ODHA di dalam Keluarga dan Masyarakat………..……… 19

F. Harapan………. 20

G. Membangun Keluarga………... 22

H. Kajian Penelitian yang Relevan……… 22

I. Kerangka Berpikir………. 25

J. Deskripsi Rencana Penelitian……… 25

BAB III METODOLOGI PENELITIAN……… 26

A. Jenis Penelitian……….. 26

B. Tempat dan Waktu Penelitian……… 26

C. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian……… 27

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data……… 28

E. Keabsahan Data………. 40

F. Teknik Analisis Data………. 41

BAB IV………. 44


(15)

xiii

C. Pembahasan………... 66

BAB V KESIMPULAN dan SARAN………. 69

A. KESIMPULAN……… 69

B. SARAN……… 70


(16)

xiv

Tabel 1. Panduan Wawancara………... Tabel 2. Lembar Pengamatan……… Tabel 3. Agenda Pertemuan Peneliti dengan Subjek dan Informan………….


(17)

xv Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian

Lampiran 2. Surat Persetujuan Informan Lampiran 3. Verbatim Wawancara Lampiran 4. Lembar Pengamatan


(18)

BAB I PENDAHULUAN

Dalam bab ini diuraikan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian serta definisi operasional dari istilah-istilah pokok yang digunakan dalam penelitian. Pada latar belakang masalah akan diapaparkan mengenai gambaran masalah yang akan diteliti. Selain itu, dipaparkan juga mengenai fokus masalah yang akan diteliti.

A. Latar Belakang Masalah

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyebab dari AIDS. Virus ini merusak tubuh dengan cara menyerang sistem imun atau kekebalan tubuh seseorang. Sementara itu, pengertian AIDS (Acquied Immune Defiency Syndrome) adalah sejenis penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan disebabkan oleh virus HIV seperti yang dijelaskan sebelumnya. AIDS tersebut dapat disebarkan melalui beberapa hal seperti: hubungan seksual yang beresiko yaitu berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan pengaman (kondom), penularan dari ibu hamil yang terinfeksi HIV-AIDS karena perilaku seks yang salah atau pengaruh suntik liar kepada calon bayinya, serta penggunaan jarum suntik secara bersamaan dengan orang lain.


(19)

Proses perkembangan sejarah penyebaran HIV-AIDS ini dimulai dari Afrika Tengah sebelum merambah ke Amerika Serikat, Eropa serta Asia. Penyebaran mengenai HIVAIDS di Indonesia ini termasuk meningkat secara cepat, hal ini dikarenakan pengetahuan masyarakat masih terbilang rendah mengenai HIVAIDS. Berdasarkan data penelitian dari Komisi Penganggulan AIDS Nasional tahun 2013, jumlah penderita HIVAIDS mencapai 103759 orang (http://aidsyogya.or.id/data-kasus-hiv-dan-aids-di-diy-2013.Diunduh pada tanggal 3 Mei 2015). Sementara di Yogyakarta jumlahnya semakin hari semakin bertambah, berdasarkan data yang dimiliki oleh Komisi Penanggulan AIDS (KPAI) kota Yogyakarta sampai dengan tahun 2013 berjumlah sekitar 677 orang yang terinfeksi AIDS, dengan rincian 458 orang mengidap HIV dan 219 Orang Mengidap AIDS(http://www.beritasatu.com

/kesehatan/jumlah-penderita-hivaids-di-kota-yogyakarta-tahun-2013.html.Dikutip pada tanggal 3 Mei 2015, pukul 20.47 WIB).

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Komisi Penanggulan AIDS provinsi Yogyakarta pada tahun 2001 menyatakan bahwa para penderita HIVAIDS merasa terkucilkan dari masyarakat bahkan bisa dari pihak keluarganya sendiri. Hal ini dikarenakan telah menyandang status sebagai ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS) yaitu sebutan untuk orang-orang yang telah dinyatakan positif mengidap HIV-AIDS. Orang dengan status sebagai ODHA ini, membuat masyarakat umum menilai dan beranggapan bahwa orang yang teridap AIDS sebagai aib dan harus diasingkan. Sementara perlakuan mengucilkan ODHA tersebut, juga dapat muncul dari pihak


(20)

keluarga pengidap ODHA itu sendiri, seperti : adanya rasa malu atas apa yang menimpa pada salah satu keluarganya yang mengidap AIDS dan menyandang sebagai ODHA, merasa selalu jadi bahan pembicaraan negatif dari masyarakat sekitar tempat tinggalnya, dan lain sebagainya. Dengan adanya perlakuan di atas, maka dapat mempengaruhi munculnya konsep diri. Konsep diri yang muncul dapat berupa konsep diri positif atau konsep diri negatif. Perlakuan dan anggapan negatif dari masyarakat serta status sebagai ODHA, ODHA beranggapan bahwa dirinya seakan-akan seperti momok yang harus diasingkan, dijauhkan, dikucilkan bahkan tidak boleh hidup berdampingan dengan orang lain. Hal diatas dapat terjadi karena wawasan masyarakat maupun anggota keluarga ODHA masih sangat kurang.

Perlakuan dan anggapan yang muncul dari masyarakat maupun keluarga mengenai ODHA, membuat ODHA berharap agar kehadirannya diterima baik, berpartisipasi seperti orang normal dalam bersosialisasi serta mendapat dukungan dari keluarga dan masyarakat. Dukungan dari keluarga dan masyarakat membuat ODHA merasa diterima. Hal ini akan menumbuhkan konsep diri positif ODHA. Diharapkan pula kepada keluarga ODHA dan masyarakat agar dapat mengubah wawasan mengenai ODHA. Hal-hal positif mengenai ODHA diatas berguna bagi Bimbingan dan Konseling karena berkaitan dengan mempelajari perubahan pribadi pada diri seseorang, hal ini berkaitan dengan perubahan konsep diri dari positif ke negatif.


(21)

B. IDENTIFIKASI KASUS

Berdasarkan latar belakang mengenai HIV AIDS dan ODHA di atas, peneliti memfokuskan penelitian ini mengenai konsep diri ODHA. Konsep diri ODHA ini bisa muncul dari dalam dirinya terkait kehidupannya sebagai penderita HIVAIDS ditengah-tengah masyarakat dan keluarga. Peneliti juga memfokuskan mengenai konsep diri ODHA karena masyarakat dan keluarga dari pihak ODHA masih kurang wawasan untuk bisa menerima keberadaan ODHA. Diharapkan keluarga ODHA maupun pihak masyarakat dapat mengubah wawasan mengenai ODHA, peneliti juga mengharapkan masyarakat dan keluarga pihak ODHA mau menerima kehadiran ODHA dengan baik, sertadapat merangkul ODHA sebagai saudara yang perlu diperhatikan. Dengan begitu, ODHA tidak akan merasa sendirian dalam menghadapi masalah serta merasa hidupnya jauh lebih berarti meski terlambat dalam merubah status ODHA tersebut. Penelitian konsep diri ODHA ini penting untuk diteliti karena konsep diri adalah faktor utama perkembangan dari dalam diri manusia untuk merbuah cara berpikir, berprasangka, serta perilaku manusia tersebut.

C. Pembatasan Masalah dan Fokus Penelitian 1. Konsep Diri

Konsep diri adalah penilaian pribadi individu yang muncul dari pola pikir individu berkaitan atas pandangan orang lain terhadap diri individu tersebut. Konsep diri ada dua jenis, yaitu: konsep diri positif, dan konsep diri negatif. Ketika konsep diri seseorang positif maka akan muncul pula penilaian positif


(22)

dari orang tersebut. Begitu sebaliknya, apabila konsep diri seseorang negatif maka negatif pula orang itu menggambarkan dan menilai diri orang tersebut.

Dalam penelitian ini, peneliti meneliti mengenai konsep diri ODHA terkait kehidupannya sebagai penderita HIV AIDS ditengah keluarga dan masyarakat. Dari hasil penelitian ini, diharapkan peneliti dapat mengetahui perubahan pada konsep diri ODHA sebelum dan sesudah terinfeksi HIV. 2. HIV AIDS

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang mengakibatkan terkena AIDS. AIDS (Acquired Deficiency Syndrome) adalah menurunnya kekebalan tubuh yang terjadi karena telah terinfeksi oleh virus HIV. Seseorang dapat dinyatakan terinfeksi HIV apabila hasil tes VCT (Voluntary Counselling and Testing) pada laboratorium medis menunjukkan positif. 3. Keluarga

Keluarga yang tinggal dengan subjek berjumlah dua orang, yaitu: Ibu kandung subjek dan anak perempuan subjek dengan usia 7 tahun. Subjek dan Ibu beserta anak subjek tinggal di sebuah rumah kost putri.

4. Masyarakat

Masyarakat sekitar yang tinggal berdampingan dengan subjek di kost putri sebagaian besar adalah dengan status mahasiswi dan beberapa diantaranya sudah bekerja.

5. ODHA

ODHA adalah singkatan dari kata Orang Dengan HIV-AIDS yaitu orang yang hidup dan terinfeksi HIV-AIDS. ODHA dapat diketahui terinfeksi HIV


(23)

melalui test VCT (Voluntary Counselling and Testing) dilakukan di laboratorium rumah sakit yang telah direkomendasi. HIV (Human Immunodeficiency Virus) ini menyerang pada imun atau kekebalan tubuh seseorang dan bisa berujung pada kematian (mortalitas).

6. Harapan

Harapan adalah sebuah keinginan atau cita-cita yang didamba-dambakan pada masa yang akan datang. Harapan yang muncul dari subjek adalah agar hidupnya lebih berguna bagi keluarga dan masyarakat sekitar, serta supaya pandangan negatif terhadap kehadiran ODHA tidak lagi disinggung-singgung. 7. Perlakuan Masyarakat

Masyarakat akan memperlakukan sesuai dari sikap, perilaku dan kondisi yang muncul dalam diri orang tersebut. Perlakuan yang muncul dapat berupa perlakuan positif atau perlakuan negatif. Perlakuan positif akan muncul jika masyarakat mempunyai dasar wawasan yang cukup luas serta mampu mengolah wawasan tersebut menjadi hasil perlakuan yang baik. Sementara, jika wawasan masyarakat sempit dan satu arah maka akan timbul perlakuan negatif. Perlakuan negatif akan membuat posisi orang merasa didiskriminasi, diacuhkan, dan diasingkan dari pihak masyarakat tersebut. Perlakuan positif maupun perlakuan negatif akan berpengaruh pada konsep diri yang akan muncul dari pribadi tersebut.

8. Perlakuan Keluarga

Perlakuan keluarga dapat mempengaruhi pada konsep diri subjek. Perlakuan positif dari keluarga akan memberikan dampak positif pada subjek


(24)

terhadap konsep dirinya. Dampak positif tersebut, seperti: penerimaan diri yang baik, pola pikir terhadap diri yang baik. Sementara perlakuan negatif akan memberikan dampak negatif pada konsep diri pada subjek tersebut. Dampak negatifnya, seperti: konsep diri yang negatif, tidak bisa menerima diri dengan baik. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti mengenai harapan dari subjek untuk perlakuan keluarga terhadap diri subjek setelah diketahui terinfeksi HIV.

9. Proyeksi Berkeluarga

Proyeksi adalah sebuah gambaran dalam membangun keluarga. Membangun keluarga adalah impian setiap manusia. Dengan membangun sebuah keluarga maka akan ada sebuah gambaran keluarga. Gambaran tersebut adalah akan tercipta sebuah hubungan yang lebih baik, serta mampu membuat keluarga yang harmonis, sejahtera dan damai. Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti mengenai proyeksi hidup berkeluarga ODHA. Yaitu gambaran hidup berkeluarga ODHA terkait masa depannya akan membangun keluarga atau tidak.

D. Rumusan Masalah Penelitian

Rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana konsep diri ODHA sebelum maupun sesudah diketahui terinfeksi HIV?

2. Bagaimana harapan ODHA akan perlakuan masyarakat terhadapnya? 3. Bagaimana harapan ODHA akan perlakuan keluarga terhadapnya?


(25)

4. Bagaimana proyeksi ODHA terkait masa depannya tentang rencana membangun keluarga?

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

1. Mengetahui konsep diri ODHA sebelum maupun sesudah diketahui terinfeksi HIV.

2. Mengetahui harapan ODHA akan perlakuan masyarakat terhadapnya. 3. Mengetahui harapan ODHA akan perlakuan keluarga terhadapnya.

4. Mengetahui proyeksi ODHA terkait masa depannya tentang rencana membangun keluarga.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan manfaat, antara lain:

1. Manfaat teoritis

Memberikan sumbangan bagi pengembangan pengetahuan mengenai kehidupan ODHA secara umum, khususnya menyangkut konsep diri kaum ODHA.

2. Manfaat praktis

a. Bagi Kaum ODHA

Penelitian ini bermanfaat bagi kaum ODHA khususnya bagi yang belum atau masih ragu akan konsep dirinya setelah dinyatakan positif mengidap HIV-AIDS.


(26)

b. Bagi keluarga

Penelitian ini diharapkan mampu mengubah pandangan negatif yang selama ini terjadi dikalangan keluarga agar tidak mengucilkan kaum ODHA dan nantinya agar keluarga mau mendampingi (kasih sayang, penerimaan, perhatian, semangat) kaum ODHA.

c. Bagi Masyarakat

Penelitian ini diharapkan agar mampu menjadi informasi tentang ODHA kepada masyarakat. Masyarakat diharapkan dapat mengubah wawasan, pandangan serta perlakuan terhadap ODHA agar ODHA tidak merasa didiskriminasi dari sosialnya.

d. Bagi Konselor

Penelitian ini berguna untuk materi bimbingan klasikal atau sebagai pengetahuan Konselor dalam memahami kondisi psikologis kaum ODHA serta dapat menjadi materi dalam bimbingan dan konseling. e. Bagi Peneliti

Penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan, pengetahuan dan mengenal kepribadian serta memahami ODHA tersebut. Bermanfaat sebagai bekal nanti jika dalam hidup bermasyarakat, peneliti menemukan dan hidup berdampingan dengan kaum ODHA.


(27)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Dalam bab ini diuraikan mengenai hakikat konsep diri, konsep diri menurut ahli, jenis-jenis konsep diri, dan pembentukan konsep diri serta faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri. Pengertian mengenai HIV AIDS. Pengertian konsep diri ODHA serta ODHA di dalam keluarga dan masyarakat. Pengertian mengenai ODHA.

A. Konsep Diri

1. Hakikat Konsep Diri

Secara umum konsep diri adalah pemikiran, penerimaan serta penilaian diri baik dari diri sendiri maupun atau orang lain yang dapat menggerakkan diri seseorang menjadi seperti yang dipikirkan. Menurut Verderber & Brook (dalam Sobur, 2003)“konsep diri adalah semua persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, aspek sosial, dan aspek psikologis yang didasarkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”.Hurlock (1990)“konsep diri merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang diri mereka sendiri”. Hurlock (1990) “individu tersebut memiliki keyakinan mengenai segala yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi, dan prestasi”. Hurlock (1990) mengatakan bahwa “keyakinan inilah yang menjadi karakteristik seseorang namun tak selalu didapatkan dari orang lain sebagai pemberi informasi”. Seseorang bisa menggali dan mengolah sendiri menjadi sebuah kepribadian


(28)

yang khas. Seseorang juga bisa saja mengganggap diri kita cantik, pintar, tampan, sederhana baik dan semua hal yang menjadi kepercayaan diri kita sendiri.

Hurlock (1990) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri, yaitu:

a. Aspek fisik, merupakan konsep yang dimiliki oleh individu tentang penampilannya, termasuk didalamnya adalah kesesuaian dengan seksnya. Fungsi tubuhnya yang berhubungan dengan semua perilakunya, serta pengaruh gengsi yang diberikan oleh tubuhnya dimata orang lain yang melihatnya.

b. Aspek Psikologis, terdiri dari konsep individu yang berkaitan dengan kemampuan dan ketidakmampuannya, harga dirinya dan juga pandangan dari orang lain terhadap individu. Semua persepsi individu yang berkaitan dengan perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita, harapan, dan keinginan, tipe orang yang diidam-idamkan serta nilai diberikan dari orang lain.

Hurlock (1990) juga mengatakan bahwa konsep diri ada dua bagian, yaitu: konsep diri positif dan konsep diri negatif. “Konsep diri positif akan berkembang jika seseorang mengembangkan sifat-sifat yang berkaitan dengan good self esteem, good self confidence dan kemampuan melihat diri secara realistik”.“ Sifat-sifat ini sangat memungkinkan bagi seseorang untuk berhubungan dengan orang lain secara akurat dan mengarah pada penyesuaian diri yang baik”. “Seseorang


(29)

dengan konsep diri positif akan terlihat optimis, penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu”.

Menurut Hurlock (1991)“konsep diri negatif akan muncul jika seseorang mengembangkan perasaan rendah diri, merasa ragu, kurang puas, serta kurang percaya diri”. “Seseorang dikatakan mempunyai konsep diri negatif jika Ia menyakini dan memandang bahwa dirinya lemah, tidak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa, tidak kompeten, gagal, malang, tidak menarik, tidak disukai, dan tidak memliki daya tarik terhadap hidup”.

2. Jenis-jenis Konsep Diri

Hurlock (1973) mengatakan bahwa ada empat jenis konsep diri, yaitu: a. Konsep Diri Dasar

Konsep diri dasar meliputi persepsi mengenai penampilan kemampuan dan peran status dalam kehidupannya, nilai-nilai, kepercayaan serta aspirasinya. Konsep diri dasar ini cenderung memiliki kenyataan yang sebenarnya.

b. Konsep Diri Sementara

Konsep diri sementara adalah konsep diri yang sifatnya hanya sementara saja untuk dijadikan sebuah gambaran. Apabila tempat dan situasi berbeda, konsep-konsep ini dapat menghilang. Konsep diri sementara ini terbentuk dari interaksi dengan lingkungan dan biasanya dipengaruhi oleh suasana hati, emosi, dan pengalaman baru yang dialaminya.


(30)

c. Konsep Diri Sosial

Konsep diri sosial ini timbul berdasarkan cara seseorang mempercayai persepsi orang lain tentang dirinya, hal itu tergantung dari perkataan dan perbuatan orang lain kepada dirinya, misalnya: seorang anak yang selalu dikatakan nakal oleh teman-temanya. Positif atau negatif konsep diri sosial ini tergantung dari perlakuan kelompok pada individu. Konsep diri sosial ini merupakan awal mulai dasar pembentukan individu.

d. Konsep Diri Ideal

Konsep diri ideal terbentuk dari persepsi seseorang dan keyakinan oleh apa yang terjadi pada dirinya di masa yang akan datang. Konsep diri ini berhubungan dengan pendapat individu mengenai keadaan fisik dan psikologisnya. Konsep diri ideal ini, menurut Hurlock dapat menjadi kenyataan apabila berada dalam jangkauan kehidupan nyata.

3. Pembentukan Konsep Diri

Konsep diri terbentuk bukan dalam waktu yang singkat, pembentukan konsep diri initidak bisa diartikan sebagai reaksi yang tidak biasa dari seseorang dalam mengubah konsep diri. Apabila reaksi ini muncul karena orang lain yang memiliki arti, maka reaksi ini akan berpengaruh terhadap konsep diri. Hadi Pranata (dalam Handayani, 2003) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen dalam proses pembentukan konsep diri yaitu: “physical self, personal self, family self, dan sosial self”


(31)

a. Physical self

Merupakan bayangan kebanggaan seseorang akan citra tampang-tubuh maupun keseluruhan pribadinya. Hal ini merupakan gambaran pandangan individu terhadap tubuhnya dan hal-hal yang berhubungan dengan tubuhnya, seperti: kesehatan, penampilan, ketampanan, dan sebagainya.

b. Personal Self

Merupakan bayangan kebanggaan seseorang terhadap jangkauan hidup dan kehidupannya atau akan menjadi apa kehidupannya kelak yang merupakan aspirasi setiap individu. Hal ini menggambarkan seberapa besar penilaian individu terhadap dirinya, merasakan sebagai diri yang kuat dan menggambarkan pilihan terhadap tubuh dan hubungan dengan orang lain di sekitarnya.

c. Family Self

Merupakan bayangan kebanggaan seseorang terhadap citra ayah, ibu, dan sanak saudaranya. Ini menggambarkan persepsi diri individu dalam kaitannya dengan kelompok primer seperti keluarga dan teman-teman dekatnya.

d. Social Self

Merupakan bayangan seseorang terhadap citra kelompok sosialnya dimanapun orang tersebut terkait dengan komitmennya. Hal ini menggambarkan diri individu dalam kaitannya dengan interaksi sosialnya dengan orang lain.


(32)

Menurut Baldwin dan Holmes ( dalam Calhoun dan Acccoela, 1990) berpendapat bahwa “konsep diri adalah ciptaan sosial, hasil belajar, dan hubungan kita dengan orang lain”. Berdasarkan uraian diatas, pembentukan konsep diri seseorang dapat saja berubah tergantung bagaimana individu tersebut bereaksi terhadap lingkungannya. Ketika individu mendapatkan situasi yang berbeda dari sebelumnya dan mendapat penilaian serta anggapan secara terus menerus maka pandangan terhadap dirinya juga akan berubah.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsep Diri

Sobur, (2003) mengungkapkan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri antara lain :

a. Memandang Diri sebagai Objek

Istilah yang menunjukkan bahwa suatu pandangan yang menjadikan diri membentuk kesan-kesan terhadap dirinya sendiri. Menurut Verderber (dalam Sobur, 2003) “semakin besar pengalaman positif yang diperoleh, maka senakin positif pula konsep diri seseorang”.“Begitu sebaliknya, semakin besar pengalaman negatif yang diperoleh, maka semakin negatif konsep diri orang tersebut”. b. Reaksi dan Respon Orang Lain

Konsep diri tidak hanya berkembang melalui persepsi atau pandangan seseorang terhadap diri sendiri, namun juga berkembang dalam rangka interaksi dengan masyarakat. Oleh karena itu, konsep diri dipengaruhi oleh reaksi serta respon orang lain terhadap diri individu.


(33)

c. Bermain Peran

Bermain peran merupakan cara belajar yang sangat besar manfaatnya. Melalui observasi, seseorang dapat mengikuti dan mengambil aturan serta cara orang lain bertingkah laku. Lebih banyak peran yang dimainkan dan dianggap positif oleh orang lain, maka semakin positif pula konsep diri yang dimiliki.

d. Kelompok Rujukan

Kelompok rujukan adalah kelompok yang menajdi anggota di dalamnya. Apabila kelompok tersebut dianggap berguna oleh individu dapat menilai individu, hal ini akan menjadi kekuatan untuk sebuah konsep diri seseorang.

B. HIV- AIDS

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (sindrom)yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Virus HIV membutuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS yang mematikan dan berbahaya. Virus HIV(Human Immunodeficiency Virus) ini adalah virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah atau menghilangnya sistem kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel CD4 (sel kekebalan tubuh) pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh virus HIV.


(34)

Saat seseorang terkena virus HIV, maka orang tersebut tidak langsung terkena AIDS. Untuk menjadi AIDS butuh waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk menjadi AIDS yang mematikan. Semenjak itu seseorang menjadi HIV positif dan mendapat status Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA). Metode penularan HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti:

1. Darah

Contoh : Transfusi darah yang terinfeksi HIV positif pada kulit yang terluka, terkena darah menstruasi dari penderita hiv positif pada bagian atau kulit yang luka, jarum suntik yang tidak steril.

2. Cairan Air Mani, Sperma Laki-laki

Contoh : Laki-laki berhubungan badan tanpa pengaman (kondom laki-laki) dan berganti-ganti pasangan, oral seks, dan anal seks.

3. Cairan vagina pada Perempuan

Contoh : Perempuan berhubungan badan tanpa pengaman (kondom wanita) dan berganti-ganti pasangan, pinjam-meminjam alat bantu seks, oral seks, anal seks.

4. Air Susu Ibu (ASI)

Contoh : Bayi minum ASI dari wanita yang terinfeksi HIV positif, laki-laki minum ASI pasangannya (HIV positif).


(35)

Dibawah ini beberapa cairan tubuh yang tidak mengandung virus HIV pada penderita ODHA, seperti :

1. Air liur / Air Ludah / Saliva 2. Feses / kotoran / tinja 3. Air mata

4. Air keringat

5. Air seni / air kencing / urine

(http://www.organisasi.org /kesehatan/penyakit/pengertian-definisi-dan-cara-penularan-serta-penyebaran-virus-hiv-aids.html.Dikutip pada tanggal 30 Juli 2015, pukul 20.40 WIB).

C. ODHA

ODHA adalah singkatan dari Orang Dengan HIV-AIDS. Istilah orang dengan HIV-AIDS apabila disingkat yaitu menjadi ODHA. Seseorang mendapat status ODHA karena terinfeksi HIV. HIV dapat diketahui ketika telah melakukan tes VCT (Voluntary Counselling and Testing) dan hasilnya menunjukkan pada positif terkena HIV. HIV adalah virus yang menyerang kekebalan atau imun seseorang(http://www.ilmudokter.com /kepanjangan-odha.html.Dikutip pada tanggal 3 Mei 2015, pukul 21.35 WIB).


(36)

D. Konsep Diri ODHA

Suzana, dkk (2007) mengatakan bahwa banyak orang dengan HIV-AIDS sungguh-sungguh mencoba untuk memperbaiki tingkah laku mereka, tetapi sikap yang negatif dari masyarakat terhadap mereka semata-mata mengkonfirmasikan konsep diri mereka. Pendapat ini menyatakan bahwa sikap negatif dari masyarakat dapat merubah konsep diri ODHA.

ODHA seringkali menghadapi permasalahan yang berat, selain menghadapi keluarga dan masyarakat mengenai sikap negatif tentang ODHA. ODHA juga harus merasakan sakit di dalam tubuhnya yang semakin hari semakin menurunkan sistem kekebalan tubuhnya. Hal diatas, secara langsung maupun tidak langsung akan sangat mempengaruhi konsep diri yang akan muncul pada diri ODHA. ODHA akan berpikiran bahwa hidupnya sangat tidak berguna untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarga dan masyarakat. Hal ini juga dapat memicu akan timbulnya putus asa yang sangat mendalam dari diri ODHA tersebut.

E. ODHA di dalam Keluarga dan Masyarakat

Wawasan yang kurang dari keluarga dan masyarakat terhadap ODHA dapat mengakibatkan ODHA memiliki pandangan diri yang negatif. Rendahnya wawasan keluarga dan masayarakat ini disebabkan oleh adanya stigma negatif dimasyarakat terkait dengan penularan penyakit menular HIVAIDS. Dicontohkan adanya kasus ODHA yang dikucilkan oleh masyarakat dengan cara dibuatkan rumah di pinggiran desa yang sangat tidak


(37)

layak, keluarga juga tidak mau menerima keberadaan mereka dan tidak mengakui sebagai anggota keluarga, adanya pasangan yang suaminya meninggal karena HIVAIDS kemudian istri dan keluarganya dijauhi masyarakat dan diusir dari desa, dan adanya anak yang dikeluarkan dari sekolah yang didapat positif HIV serta ada anak usia sekolah yang tidak diterima masuk sekolah disebabkan ibunya menderita HIV/AIDS (Setyoadi & Endang Triyanto, 2012).

Secara langsung ODHA akan semakin terpuruk secara psikologis, karena sikap dan pandangan negatif dari keluarga dan masyakat ini akan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan ODHA. Prayitno dan Erlamsyah, (2002) bahwa apabila individu dihukum, dipenjarakan dan dihina, maka kesalahan mereka tidak mungkin dapat diatasi karena cara itu makin memperburuk konsep diri mereka. Akibat yang lebih buruk lagi adalah menimbulkan pemahaman diri sendiri sebagai individu yang tidak diinginkan dan tidak mungkin menjadi orang yang berguna dan tidak mungkin berfungsi secara normal di dalam masyarakat sehingga membuat ODHA memiliki pandangan diri yang negatif. F. Harapan

Teori mengenai harapan sering pula disebut dengan teori ekspektasi atau expectancy theory of motivation. Teori ini dikemukakan oleh Victor Vroom pada tahun 1964. Dalam hal ini, Vroom lebih menekankan pada faktor hasil (outcomes), daripada kebutuhan (needs).


(38)

Teori ini menyatakan bahwa intensitas kecenderungan untuk melakukan dengan cara tertentu tergantung pada intensitas harapan bahwa kinerja akan diikuti dengan hasil yang pasti dan pada daya tarik dari hasil kepada individu.

Vroom (1990) mengemukakan bahwa orang-orang akan termotivasi untuk melakukan hal-hal tertentu guna mencapai tujuan. Hal tersebut akan terlihat pada keyakinan mereka bahwa tindakan mereka akan mengarah pada tujuan tersebut.

Teori yang dikemukakan oleh Victor Vroom ini mendasarkan teorinya pada dua konsep penting, yaitu:

1) Harapan (expectancy)

Harapan adalah suatu kesempatan yang diberikan karena adanya perilaku. Harapan merupakan tingkat yang memiliki nilai berkisar dari nol yang berarti tidak ada kemungkinan hingga satu yang berarti kepastian.

2) Nilai (valance)

Nilai adalah akibat dari perilaku tertentu yang menghasilkan suatu nilai atau maratabat tertentu bagi setiap individu tertentu.

Menurut Nurul Arifin, (2005) ODHA akan mempunyai sebuah harapan bagi keluarga dan masyarakat, harapan tersebut agar keluarga dan masyarakat tetap memberikan dukungan, penerimaan dan semangat dalam menjalani kehidupan mereka. Dukungan dan penerimaan akan sangat berarti bagi diri ODHA dalam menjalani hidupnya. (http:


(39)

G. Membangun Keluarga

Setiap individu ODHA mempunyai harapan untuk menikah dan berkeluarga serta memiliki anak dengan pasangannya yang tidak terinfeksi HIV AIDS. Dengan dukungan dari keluarga maka akan menumbuhkan rasa semangat dalam diri ODHA untuk membangun kehidupan yang lebih baik

lagi, salah satunya dengan mempunyai

keluarga(http://www.mitrainti.org/harapan-odha.html.Dikutip pada tanggal 3 Mei 2015, pukul 22.40 WIB).

ODHA terkadang masih merasa ragu untuk membangun keluarga karena ODHA takut keturunannya kelak terinfeksi HIV, dan kurang bisa membahagiaan pasangannya karena status ODHA tersebut. Namun, adanya dukungan dari keluarga, pasangan ODHA tersebut seperti diatas dapat mengurangi ragu yang dirasakan ODHA(http:www.anehira.com/harapan-odha-dan-ketakutan-odha-dalam-membangun-keluarga.html.Dikutip pada tanggal 20 November 2015, pukul 22.45 WIB).

H. Kajian Penelitian yang Relevan

Dua kajian penelitian yang relevan, yaitu :

1. Penelitian yang dengan judul Konsep Diri Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) yang menerima label negatif dan diskriminasi dari lingkungan sosial

Dengan tiga Peneliti : a. Hasnah Sarikusuma


(40)

b. Ika Herani c. Nur Hasanah

Asal Universitas : Universitas Brawijaya

Penelitian ini untuk mengetahui tentang gambaran pemaknaan subjektif konsep diri Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) yang menerima label dan diskriminasi dari lingkungan. Dengan menggunakan pendekataan kualitatif fenomenologis. Dengan dua subjek ODHA yang telah diwawancarai secara mendalam.

Hasil penelitian menyimpulkan sebagai berikut:

1) Konsep diri ODHA terbentuk melalui hasil interaksi sosial dengan lingkungan.

2) Label negatif yang diterima kedua partisipan dari lingkungan adalah mayat hidup, pembawa penyakit menular, penyakit kutukan dan aib untuk lingkungan sekitar. Label negatif yang diterima oleh dua subjek telah membuat kedua subjek tersebut merasa dan berperilaku seperti apa yang telah dilabelkan kepada mereka berdua.

3) Bentuk diskriminasi yang diterima oleh kedua subjek ini adalah penolakan dari pihak keluarga mulai dari pemisahan alat makan, dikucilkan dan penolakan dari warga kampung tempat mereka tinggal. Penolakan ini terjadi karena wawasan keluarga dan warga masih terlalu minim. Keluarga dan warga takut jika mereka tertular HIV AIDS. Hal ini lalu berdampak kepada kedua subjek yang mersa harus menarik diri dari limgkungan sosial.


(41)

4) Pemberian label negatif serta diskriminasi yang diberikan keluarga dan warga, membuat kedua subjek mempunyai konsep diri yang negatif (merasa tidak berharga, tidak berguna, tidak berdaya, serta menurunnya motivasi untuk menjalani kehidupan dan menarik diri dari lingkungan). (http://download.portalgaruda.org).Diunduh pada tanggal 24 Agustus 2015, pada pukul 00.20 WIB).

2. Penelitian yang dengan judul KONSEP DIRI DAN MASALAH YANG DIALAMI ORANG TERINFEKSI HIV/AIDS

Tiga Peneliti : Surahma Wahyu, Taufik, Asmidirllyas Asal Universitas : Universitas Negeri Padang

Penelitian ini berlatarbelakang dari semakin meningkatkan penderita HIV/AIDS di Sumatera Barat. Penderita HIV/AIDS mengalami kecemasan, stress, depresi, kegoncangan jiwa, diskriminasi dan stigmanisasi. Hal tersebut menghambat pengembangan konsep diri odha secara positif sehingga memunculkan rendah diri, merasa diri tidak berharga dan tingkah laku yang salah. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui konsep diri dan masalah-masalah yang terjadi pada odha.

Kesimpulan hasil penelitian :

a. Dampak fisik berupa penurunan berat badan berlebihan, penampilan berubah dan lesu.

b. Dampak emosi berupa stress, dan kekecewaan yang berlebihan, perasaan gelisah, kehilangan kontrol, bingung, depresi, ketakutan.


(42)

c. Dampak sosial berupa diskriminasi akibat ketakutan dan kecurigaan orang lain.

http://ejournal.unp.ac.id/jurnal-ilmiah-konseling).Diunduh pada tanggal 24 Agustus 2015, pada pukul 02.20 WIB).

I. Kerangka Berpikir

Berikut adalah kerangka berpikir yang telah dibuat oleh peneliti sesuai dengan penelitian yang dilakukan:

Keterangan :

ODHA akan berinteraksi

dengan masyarakat dan keluarga, masyarakat dan keluarga akan memunculkan konsep diri yang muncul dari diri ODHA dan berkesinambungan dengan harapan kepada masyarakat, harapan kepada keluarga, serta proyeksi atau gambaran dalam membangun keluarga.

J. Deskripsi Penelitian

Penelitian yang akan digunakan oleh peneliti ada melalui proses wawancara. Peneliti memperkirakan dengan proses wawancarakan jauh lebih mudah untuk dilakukan.

Orang Dengan HIV AIDS

(ODHA)

Masyarkat dan Keluarga

Konsep Diri

Harapan kepada masyarakat

Harapan kepada Keluarga

Proyeksi Berkeluarga


(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab ini akan dijelaskan mengenai jenis penelitian dan subjek penelitian. Selain hal diatas, peneliti juga akan memaparkan tentang metode pengumpulan data daninstrumen pengumpulan data. Pada bab ini pula akan dijelaskan mengenai teknik analisis data, dan validitas data yang akan digunakan dalam penelitian ini. Metode dalam penelitian ini menjelaskan mengenai tentang pendekatan yang akan digunakan oleh peneliti. Selain hal tersebut yang telah dijelaskan diatas akan dipaparkan juga tentang metode yang digunakan oleh peneliti dalam data subjek.

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Furchan, (1982) mengatakan bahwa di dalam penelitian studi kasus mengupayakan penyelidikan terhadap individu atau suatu unit sosial secara mendalam. Penelitian diawali dengan adanya kenyataan di lapangan yang ditemukan oleh peneliti. Hasilnya peneliti menemukan seseorang mengalami penyakit kronis atau yang sulit disembuhkan seperti HIV-AIDS.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian studi kasus ini dilaksanakan di LSM tempat subjek bekerja di daerah Yogyakarta, penelitian juga dilaksanakan di kost subjek. Sasaran penelitian adalah mengenai konsep diri, harapan dan proyeksi hidup berkeluarga


(44)

ODHA (terkait kehidupannya ditengah masyarakat dan keluarga). Peneliti juga diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan di kost subjek penelitian.

C. Subjek Penelitian dan Objek Penelitian

Proses penentuan subjek dalam penelitian ini, pada awalnya peneliti mengirimkan surat penelitian kepada Komisi Penanggulangan AIDS (KPAI) provisi Yogyakarta. Selang beberapa hari Komisi Penanggulangan AIDS memberikan informasi kepada peneliti untuk datang ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang telah ditunjuk. Dari Lembaga Swadaya Masyarakat tersebut, peneliti diberikan izin ke salah satu anggota LSM yang terinfeksi HIV yaitu Melati.

Menurut Moloeng (2009) teknik purposive adalah pemilihan subjek penelitian berdasarkan pertimbangan, kriteria, atau ciri-ciri tertentu yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Responden (subjek) bernama Melati (samaran) usia 29 tahun

2. Teman subjek bernama Gino (samaran) usia 30 tahun

3. Keluarga responden bernama Ibu Anggrek (samaran) usia 58 tahun 4. Berdomisili di Yogyakarta

Subjek dalam penelitian ini berjumlah 1 orang subjek, peneliti memliki penilaian bahwa satu subjek sudah memiliki data yang cukup komperehensif untuk menjadi subjek dalam penelitian studi kasus ini.


(45)

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Agar penulis semakin memahami gambaran diri respoden, maka penulis menerapkan beberapa metode pengumpulan data sehingga diperoleh data yang lengkap serta mendalam mengenai responden penelitian.

1. Wawancara

Wawancara merupakan alat mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan peneliti secara lisan. Peneliti menggunakan teknik wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Langkah-langkah yang dilakukan peneliti adalah menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan, menyiapkan panduan wawancara yang akan dibicarakan, menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan, dan mengidentifikasi tindak lanjut wawancara seperti yang telah diperoleh dalam Sugiyono (2010). Selain itu peneliti juga menyiapkan alat perekam suara seperti handphone untuk merekam hasil wawancara dengan subjek. Hasil wawancara sendiri akan dirubah dalam bentuk verbatim dengan cara menuliskan setiap kata per kata percakapan dalam wawancara. Dalam penelitian ini peneliti telah menyiapkan panduan wawancara terstruktur. Panduan wawancara terstruktur dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Panduan wawancara terhadap subjek

NO Kategori ASPEK ITEM PERTANYAAN

1. Konsep Diri Sebelum dan Sesudah

Fisik a. Bagaimana awal mula Anda mengetahui bahwa Anda terinfeksi HIV?


(46)

Terinfeksi HIV

c. Berapa kali Anda datang ke layanan tersebut?

d. Apa yang Anda rasakan ketika Anda melakukan layanan VCT itu?

e. Apa yang Anda rasakan ketika mengetahui bahwa Anda telah diketahui terinfeksi HIV?

f. Apa yang Anda lakukan setelah Anda diketahui terinfeksi HIV?

g. Perubahan atau hal-hal apa saja yang berubah dari segi bentuk tubuh (fisik) anda setelah terdekteksi HIV?

h. Ketika anda merasakan perubahan pada fisik, apa yang Anda rasakan dan pikiran pertama kali?

i. Apa yang Anda lakukan ketika terjadi perubahan fisik tersebut?

j. Bagaimanakah kesehatan fisik anda sebelum terdekteksi HIV?

k. Perubahan atau hal-hal apa saja yang berubah dari dalam diri (psikis) anda setelah terdekteksi HIV?

l. Setelah melakukan VCT, layanan atau test apa lagi yang Anda lakukan? m.Bagaimana kesehatan fisik Anda

setelah terdekteksi HIV?

n. Apakah Anda merasa puas dengan keadaan fisik anda sekarang?


(47)

Psikologis a. Siapakah orang pertama kali yang Anda beri tahu mengenai hal yang terjadi pada Anda?

b. Bagaimana reaksi orang yang pertama kali Anda beritahu mengenai apa yang telah menimpa Anda

c. Bagaimana reaksi keluarga ketika Anda beritahu?

d. Apakah berpengaruh pada kedekatan Anda pada keluarga?

e. Bagaiamana perlakuan keluarga terhadap Anda setelah diketahui terinfeksi HIV?

f. Setelah Anda diberitahu terdeteksi HIV, apakah ada perubahan dari segi pergaulan sosial anda?

g. Bagaimanakah reaksi teman-teman anda setelah anda diketahui terinfeksi HIV?

h. Apakah berpengaruh pada kedekatan Anda dengan teman-teman?

i. Apakah dengan status ODHA mempengaruhi rasa percaya diri anda?


(48)

j. Apakah Anda berkeinginan membangun sebuah keluarga lagi? k. Jika iya, keluarga seperti apa yang

Anda dambakan?

l. Bagaimana penilaian keluaraga terhadap Anda setelah diketahui terinfeksi HIV?

m. Bagaimana penilaian teman-teman Anda terhadap Anda setelah diketahui terinfeksi HIV?

n. Bagaiamana penilaian Anda terhadap diri Anda sebelum terdeteksi HIV? o. Bagaimana penilaian Anda terhadap

diri Anda setelah terdekteksi HIV? 2. Harapan

ODHA akan Perlakuan Masyarakat Terhadapnya

Fisik a. Perlakuanapa yang Anda harapkan dari masyarakat?

b. Setelah Anda diberitahu terdeteksi HIV, apakah ada perubahan perlakuan dari teman-teman pergaulan Anda?


(49)

Psikologis a. Bagaimana harapan Anda terhadap pandangan masyarakat terkait diri Anda?

b. Bagaiamana harapan Anda terkait sikap masyarakat kepada Anda?

3. Harapan ODHA akan Perlakuan Keluarga Terhadapnya

Fisik a. Apa yang Anda harapkan dari keluarga ketika melihat Anda?

b. Perlakuan apa yang Anda harapkan dari keluarga?

Psikologis a. Apa harapan Anda terkait pemikiran keluarga terhadap Anda?

b. Apa harapan Anda terkait sikap keluarga kepada Anda?

4. Proyeksi Hidup Berkeluarga

Bagaimana proyeksi (program/gambaran) Anda terkait masa depan dalam rencana membangun sebuah keluarga?

Tabel 2. Panduan wawancara dengan Ibu subjek

DAFTAR PERTANYAAN

 Sebagai Ibu, apakah Anda cukup dekat dengan Melati?  Kedekatan seperti apa yang terjadi?


(50)

 Apakah Anda orang pertama dalam keluarga yang Melati beritahu mengenai yang terjadi pada Melati?

 Bagaimana reaksi Anda ketika mendengar hal tersebut?  Kaget?

 Sebagai keluarga, apa yang Anda lakukan pertama kali untuk membantu Melati setelah mengetahui Melati terinfeksi HIV?

 Apakah ada hal-hal yang berubah pada diri Melati sebelum dan sesudah terdekteksi HIV sejauh yang Anda ketahui?

 Contohnya Bu?

 Semacam boros gitu Bu?

 Kalau dari segi fisik, apakah ada yang berubah Bu pada diri mbak Melati?

Mudah ringkih yang bagaimana Bu yang sering Melati perlihatkan?  Selain itu Bu, apakah ada yang lain?

 Berarti kalau ada pikiran-pikiran yang memicu itu ya Bu?  Apakah Melati rajin minum obat untuk pengobatannya Bu?

 Kalau tes tes seperti VCT atau CD4 apa masih sering dijalani mbak Melati Bu?

 Bagaimana hasil dari CD4 itu Bu?  Tinggi Bu? Maksudnya hasil tinggi?

 Kalau dari anaknya sendiri, apakah sudah mengetahui mengenai apa yang dialami Melati?

 Kalau kedua anaknya bu, apakah juga sudah di tes VCT itu?

 Kalau dari keluarga sendiri apakah semua keluarga Melati mengetahui yang dialami Melati? Mungkin ayah atau sanak saudara gitu Bu?

 Mengapa hal tersebut tidak atau belum diberitahukan?

 Sejauh yang Anda ketahui, dari segi pergaulan sosial bagaimana pergaulan sosial Melati dengan temannya selama ini?

 Kalau boleh tahu, itu teman-teman yang dulu-dulu atau yang sekarang? Yang di LSM?

 Sejauh yang Anda ketahui, bagaimana pandangan atau respon teman mbak Melati terhadap Melati ketika sebelum diketahui terdekteksi HIV?

 Sejauh yang Anda ketahui, bagaimana pandangan atau respon teman Melati terhadap Melati ketika setelah diketahui terdekteksi HIV?  Bagaimana penilaian Ibu kepada Melati sebelum diketahui terinfeksi

HIV?

 Bagaimana penilaian Ibu kepada Melati sesudah diketahui terinfeksi HIV?

 Bagaimana penilaian Ibu kepada Melati sesudah diketahui terinfeksi HIV dari segi pergaulan?

 Sejauh yang Anda ketahui, apa harapan atau cita-cita Melati untuk masa depannya?

 Sebagai Ibu,apa yang Ibu ketahui mengenai proyeksi (program/gambaran) terkait masa depan Melati dalam rencana


(51)

membangun sebuah keluarga?

 Dilihat dari segi religius, apa yang Anda ketahui tentang Melati?  Perlakuan apa yang Ibu harapkan ketika masyarakat melihat Melati

dengan status ODHA?

 Sebagai Ibu, apa harapan Ibu terkait pandangan masyarakat kepada Melati?

 Sebagai dari pihak keluarga, apa harapan Ibu terhadap sikap masyarakat kepada Melati?

 Sebagai keluarga, apa harapan Ibu ketika melihat Melati?  Perlakuan apa yang Ibu harapkan dari keluarga kepada Melati?  Sebagai keluarga, apa harapan Ibu terkait pemikiran terhadap

Melati?

 Sebagai Ibu, apa harapan Ibu kepada keluarga terkait sikap kepada Melati?

Tabel 3. Panduan Wawancara dengan Teman Subjek

DAFTAR PERTANYAAN

 Sejak kapan Anda mengenal mbak Melati?  Sejak kapan mbak Melati ikut LSM ini?

 Sebagai teman, apakah Anda cukup dekat dengan mbak Melati?  Sejak kapan Anda mengetahui mbak Melati terdeteksi HIV?

 Apakah Anda orang pertama yang mbak Melati beritahu mengenai yang terjadi pada mbak Melati?

 Bagaimana reaksi Anda ketika mendengar hal tersebut?

 Sebagai teman, apa yang Anda lakukan pertama kali untuk membantu mbakMelati setelah mbak Melati masuk LSM ini dan diketahui terinfeksi HIV?

 Motivasi dan peneguhan seperti apa yang anda berikan terhadap mbak Melati?

 Sejauh yang Anda tahu, apakah ada hal-hal yang berubah pada diri (fisik) Melati ketika telah terdekteksi HIV?

 Apakah ada perubahan dari segi pergaulan setelah mbak Melati diketahui terinfeksi HIV?

 Sejauh yang Anda ketahui, apa yang Anda ketahui tentang keluarga mbak Melati?

 Dari dua anaknya tersebut, apakah ada yang sering ikut mbak Melati ke LSM ini?

 Apakah anak tersebut sudah mengetahui bahwa dia berada di LSM yang menaungi tentang HIV?


(52)

 Sejauh yang Anda ketahui, apakah anak mbak Melati sudah mengetahui jika mbak Melati terinfeksi HIV?

 Sebagai teman, apa harapan Anda ketika keluarga melihat Melati?  Sebagai teman, apa yang Anda harapkan dari perlakuan keluarga

terhadap Melati?

 Bagaimana penilaian Anda terhadap Melati setelah diketahui terdekteksi HIV?

 Sebagai teman Melati, perlakuan apa yang Anda harapkan kepada masyarakat ketika melihat Melati dengan status ODHA?

 Sebagai Teman, apa harapan Anda terkait pandangan masyarakat kepada Melati?

 Sebagai teman, apa harapan Anda terhadap sikap masyarakat kepada Melati?

 Sejauh yang Anda tahu, apa harapan atau cita-cita mbak Melati untuk masa depannya?

 Apakah mbak Melati sudah membangun sebuah hubungan relasi dekat dengan laki-laki?

 Apakah calon ini satu lingkup di LSM ini atau diluar LSM ini?  Apakah calonnya seorang pendamping atau sama yaitu orang yang

terinfeksi HIV?

 Lalu..apakah mbak Melati sudah memberi tahu mengenai dirinya yang terinfeksi atau bagaimana?

 Bagaimana respon calon mbak Melati tersebut ketika mengetahui mengenai mbak Melati?

 Sebagai teman, apakah Anda menyetujui hubungan relasi mbak Melati dengan calonnya tersebut?

 Sebagai teman, bagaimana penilaian Anda terhadap mbak Melati yang terinfeksi HIV?

 Sejauh yang Anda ketahui, apakah pernah melihat mbak Melati didiskriminasi oleh orang lain?

 Sejauh yang Anda tahu, dilihat dari segi religius, apa yang Anda ketahui tentang Melati?.

 Sebagai teman, Apa yang Anda ketahui mengenai proyeksi (program/gambaran) Melati terkait masa depan dalam rencana membangun sebuah keluarga?

2. Pengamatan

Pengamatan yang dilakukan disini adalah pengamatan langsung karena pengamatan langsung juga dapat diandalkan sebagai tambahan hasil wawancara. Dengan adanya observasi ini, maka data-data yang diperoleh akan lebih lengkap dan lebih berbobot. Dalam setiap observasi, peneliti akan


(53)

menyiapkan catatan untuk mencatat setiap perilaku subyek serta proses kerja subjek sebagai sumber data. Catatan ini juga dapat digunakan peneliti untuk proses menjalankan teknik wawancara secara terstruktur maupun tidak terstruktur.

Tabel 2. Lembar Pengamatan

(Terlampir)

No. Hari / Tanggal

Pukul

(WIB) Kegiatan Hasil

Pengamatan

1. 10 Mei 2015 10.00 Mengamati subjek

saat bekerja di LSM

Subjek sedang bekerja di LSM

11.00 Subjek

bekerja dengan giat Subjek Tetap Bekerja


(54)

tanpa lelah dalam keadaan sakit, walau pucat subjek tetap kerja dengan baik

12.00 Subjek

Makan siang dan meminu beberapa obat untuk menjaga kestabila CD4 atau kekebalan tubuh 13.00 Setelah makan siang,


(55)

peneliti pamit, karena subjek juga sedang akan melakukan rapat koordinasi

pengurus LSM

2. 26 Mei 2015 09.00 Subjek berada di

kost

Subjek sedang masak untuk ibunya dan anaknya 10.30 Ibunya sudah pulang

dari menjemput anak subjek di sekolah

Subjek Menyiap kan peralatan untuk makan subjek dengan ibu dan anaknya


(56)

11.00 Subjek menonton tv dengan anaknya

Subjek menanya kan apa saja yang dipelajari anaknya disekoah tadi dengan penuh canda dan rasa sayang ibu kepada anaknya 12.30 Anak subjek meminta

ditemani tidur oleh subjek

Dengan Senyuman dan pelukan subjek menemani -nya 12.35 Peneliti pamit, karena


(57)

E. Keabsahan Data

Gronlund dan Linn (dalam Moleong, 2009) menyebutkan bahwa validitas adalah ketepatan interpretasi yang dibuat dari hasil pengukuran dan evaluasi. Untuk mengetahui sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu instrumen pengukuran dalam melakukan fungsi ukurannya yaitu agar data yang diperoleh relevan atau sesuai dengan tujuan diadakannya pengukuran tersebut.

Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu, triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti menggunakan pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Sementara, trianggulasi dengan sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Data diperoleh dari beberapa pihak yang terkait dengan subjek. Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton, dalam Moleong, 2009). Hal tersebut dapat diperoleh dengan cara:membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi,

subjek dan keluarga akan beristirahat


(58)

serta membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang mempunyai hubungan berkaitan.

Dalam penelitian ini, triangulasi sumber berupa wawancara dengan pihak terkait yang dilaksanakan di lembaga swadaya masyarakat. Informan adalah subjek, teman dekat subjek serta salah satu anggota keluarga dari subjek. Dengan begitu akan lebih terlihat mengenai konsep diri yang muncul dari ODHA.

F. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data pada penelitian ini adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara serta catatan dari pengamatan yang didapat melalui pengamatan secara langsung, sehingga dapat secara mudah untuk dipahami dan hasilnya dapat diperlihatkan kepada orang lain. Proses analisis data ini dimulai dari pembuatan verbatim melalui rekaman wawancara, reduksi data, coding, dan analisisnya. Verbatim adalah percakapan wawancara dengan cara menuliskan setiap kata per kata jawaban dan pertanyaan yang sudah diajukan kepada subjek. Sebelum menganalisis, peneliti melakukan proses reduksi data. Setelah melakukan reduksi data, peneliti akan menentukan coding untuk masing-masing aspek pada daftar pertanyaan berupa kode. Pengertian dan tujuan dari kode itu sendiri hanya diketahui oleh peneliti. Selanjutnya, peneliti akanmembuat analisis berdasarkan data yang sudah ada, serta menyajikannya dalam bentuk teks deskriptif. Berikut ini merupakan prosedur kerja reduksi data dan coding dalam membantu analisis penelitian ini:


(59)

1. Reduksi Data

Dalam reduksi data peneliti mengidentifikasi adanya satuan yaitu bagian terkecil yang ditemukan dalam data yang memiliki makna bila dikaitkan dengan fokus dan masalah penelitian (Moleong, 2009). Setelah itu, peneliti mulai memilih hal-hal yang penting, merangkum data, serta mencari pola atau tema serta membuang data-data yang tidak digunakan.

2. Pengkodean atau Coding

Pengkodean atau coding yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengkodean terbuka atau open coding (Strauss & Corbin, 2003). Pengkodean terbuka adalah bagian dari analisis terutama berkaitan dengan pemberian nama dan pengelompokan fenomena melalui pemeriksaan data yang teliti. Dalam penelitian ini hanya ada dua prosedur yang digunakan oleh peneliti yaitu:

a. Pelabelan Fenomena

Dalam pelabelan fenomena, peneliti memisah-misahkan antara amatan, kalimat, paragraf, serta memberi nama insiden, ide, atau peristiwa-peristiwa dengan sesuatu yang mewakili fenomena. Kalau tidak, maka akan menemukan kesulitan dan sangat kebingungan karena akan terlalu banyak nama (Strauss & Corbin, 2003). Peneliti menggunakan kode yang sesuai dengan hasil lapangan baik wawancara maupun observasi.


(60)

b. Variasi cara pengkodean terbuka

Terdapat beberapa cara pendekatan terhadap proses pengkodean terbuka yaitu, analisis dengan pengkodean baris per baris, per kalimat atau paragraf, dan analisis dengan pengkodean yang menggunakan seluruh dokumen, pengamatan, atau wawancara. Penelitian ini menggunakan analisis dengan pengkodean kalimat per kalimat atau paragraf. Peneliti juga menentukan gagasan utama yang ada dalam kalimat atau paragraf dari wawancara serta catatan lapangan dan memberikannya nama atau kode. Selanjutnya dilakukan analisis yang lebih rinci melalui pengkodean yang telah dibuat oleh peneliti (Strauss & Corbin, 2003).


(61)

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini peneliti membahas mengenai pelaksanaan penelitian. Hasil penelitian berupa analisis data berbagai sumber. Proses trianggulasi data berupa data dari satu respoden. Pada bab ini, peneliti juga mendiskripsikan validitas data penelitian.

A. Deskripsi Data 1. Subjek

Dibawah ini adalah diskripsi subjek dari hasil pendataan peneliti:

Nama : Melati (nama samaran)

TempatTanggal Lahir : Klaten, 7 Juni 1985

Asal Daerah : Klaten

Jenis Kelamin : Perempuan

Usia : 29 tahun

Agama : Islam

Alamat : Klaten

Anak Ke- : Ke-4 dari 4 bersaudara Pendidikan Terakhir : SMK

Pekerjaan :Pendamping Panti Sosial dan Konselor sebaya di LSM

Hobby : Melakukan pendamping sosial


(62)

Motto Hidup : Jangan Pantang Menyerah, berkaryalah terus

Penampilan Fisik : Tinggi 170 cm, berat badan 50 kg, kulit

sawo matang, rambut tebal lurus agak di cat rambut warna coklat semu, bibir agak

tebal, mata agak sipit, wajah agak lonjong, alis tipis dan hidung agak pesek.

Sumber Informasi : Subjek, Ibu Subjek, Teman Subjek

2. Latar Belakang Keluarga

Melati lahir pada keluarga sederhana, Melati anak ke-4 dari 4 bersaudara. Ayah Melati bekerja sebagai petani dan memiliki ternak sapi, sementara Ibunya hanya di rumah saja. Melati menikah pada 24 Desember 2005. Latar belakang suami Melati dulu sempat menikah dengan istri pertamanya yang notabene adalah seorang wanita mantan Pekerja Seks Komersial (PSK). Akan tetapi istri pertamanya meninggal setelah tiga bulan pernikahan karena sakit. Pernikahan pertama suami Melati dikaruniai satu anak. Kehidupan pernikahan Melati dan suaminya awalnya cukup harmonis, dengan mengasuh dua orang anak.

Ketika awal tahun 2012 Melati berinisiatif serta disarankan dari Lembaga Rifka Anisa untuk mengetes dirinya menggunakan VCT (Voluntary Counselling and Testing) artinya konseling dan tes sukarela, tes ini gunanya untuk mengetahui HIV. Berdasarkan hasil tes VCT, dokter dan konselor yang


(63)

telah ditunjuk oleh Lembaga Rifka Anisa menyatakan bahwa Melati positif terinfeksi HIV. Ketika Melati memberi tahu suami Melati terkait hal diatas seketika itu pula suami Melati mulai menuduh Melati berselingkuh, berhubungan badan dengan pria yang lain. Dengan tuduhan itu membuat Melati semakin hancur, selama ini Melati tetap pada jalur benar dan positif, serta hanya melakukan hubungan badan dengan suaminya tanpa pernah punya pikiran atau perilaku menyimpang dengan orang lain.Semenjak itu juga, Melati sering mendapat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari suaminya, seperti: tamparan, tendangan dan sebagainya. Pada tahun 2014 terjadilah perceraian antara Melati dengan suaminya, karena sikap kasar yang membuat Melati tidak nyaman terhadap suaminya.

Peneliti : Bagaimana awal mula Anda mengetahui bahwa Anda terinfeksi HIV?

Melati : “Awalnya bulan Juni tahun 2012…ketika itu saya memang inisiatif sendiri, dari lembaga Rifka Anisa saya disarankan untuk test VCT terkait latar belakang suami.. yang dulu sempat menikahi seorang wanita bekas PSK namun tiga bulan setelah pernikahan wanita itu meninggal karena HIV tersebut.”(S/WF-1)

3. Perkembangan Jasmani dan Kesehatan

Perkembangan jasmani dan kesehatan ODHA mengalami perubahan setelah orang itu dinyatakan terinfeksi HIV.Dari yang dulu fisik jasmani tidak mudah lelah, kini badan mulai ringkih serta berat badan mulai berkurang.

Peneliti : Perubahan atau hal-hal apa saja yang berubah dari segi bentuk tubuh (fisik) anda sebelum dan setelah terdekteksi HIV?”

Melati : “Dulu tubuh saya ya cukup berisi mas…gak kaya sekarang yang turun berat badannya serta muncul ruam-ruam pada tubuh”(S/WF-7/PF)


(64)

Peneliti : Apa yang Anda lakukan ketika terjadi perubahan fisik tersebut?

Melati : “Yang pasti ketika badan saya mulai agak kurus serta munculruam-ruam pada tubuh, saya berusaha untuk tetap menjaga polamakan danobat-obatan supaya tidak gampang jatuh sakit karenaimun tubuh berkurang.(S/WF-9)

Sebelum subjek mengetahui terinfeksi HIV, subjek kurang begitu memperhatikan kesehatannya. Ketika subjek mengetahui kondisi kesehatannya mulai menurun karena terinfeksi HIV, subjek mulai memperhatikan kesehatannya. Menurut Sarafino (2006), sebagaian besar orang dengan HIV-AIDS yang mengalami lemahnya sistem kekebalan tubuh. Konsep diri juga terkait dengan fisik, psikologis, pengetahuan tentang diri sendiri, harapan terhadap diri sendiri dan evaluasi diri emosi (Hurlock, 1973: Coulhoun, 1990; Shavelson, 2008). Pada diri subjek terdapat penilaian tentang kondisi fisiknya.

4. Perkembangan Sosial

Perkembangan Sosial dari ODHA sangat berubah ketika belum diketahui terinfeksi HIV dengan segala kegiatannya dan pertemanan sosialnya. Semenjak diketahui terinfeksi HIV, maka ODHA tersebut mulai perlahan-lahan untuk menarik diri ketika ODHA tidak merasakan kenyamanan diri dengan teman-temannya. ODHA mendapatkan perlakuan secara beragam, dari keluarganya, saudaranya, lingkungan tetangganya, kelompok sebaya.

Peneliti : Bagaimana penilaian teman-teman Anda terhadap Anda setelah diketahui terinfeksi HIV

Melati : “Saya lebih menarik diri dari teman-teman saya yang lalu…dulu saya memang sering bersama-sama teman ntah jalan atau kumpul-kumpul..tapi semenjak temen temen saya sering menyindir..eh


(65)

jangan deket..deket ntar kena HIV..sejak itu saya mulai menarik diri.”(M/WP-27)

Perubahan cara berteman subjek mulai berubah setelah subjek diketahui terinfeksi HIV dan mulai dapat gunjingan atau sindiran dari teman-teman subjek yang dulu sering kumpul-kumpul bersama. Menurut Verderber (dalam Sobur, 2003) mengemukakan bahwa “semakin besar pengalaman positif yang diperoleh, maka semakin positif pula konsep diri seseorang”. “Begitu sebaliknya, semakin besar pengalaman negatif yang diperoleh, maka semakin negatif konsep diri orang tersebut”. Selain itu, Sobur (2003) juga mengemukakan bahwa pengaruh reaksi dan respon orang lain juga mempengaruhi munculnya konsep diri seseorang karena konsep diri tidak hanya berkembang melalui persepsi atau pandangan seseorang terhadap diri sendiri, namun juga berkembang dengan interaksi melalui masyarakat.

5. Ciri-ciri Kepribadian

Menurut pengamatan peneliti, Melati merupakan orang yang ramah, ceria, serta terbuka dalam memberikan informasi ketika proses wawancara. Namun di sisi lain, dulu Melati orangnya pendiam dan menarik diri secara penuh ketika dirinya diberitahu terinfeksi HIV. Selain itu, kehadiran Melati sebagai ODHA terkadang menjadi pandangan negatif serta penilaian negatif dari masyarakat dengan wawasan yang kurang.


(66)

B. Pelaksanakan Wawancara dan Hasil

Pelaksanaan wawancara ini dimulai pada tanggal 1 April 2015. Hal pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mengantarkan surat penelitian ke sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPAI) Provinsi Yogyakarta. Selang beberapa hari tepatnya pada tanggal 7 Mei 2015 setelah pengantaran surat penelitian, lalu KPAI Provinsi Yogyakarta menyaran serta memberikan rekomendasi kepada peneliti untuk mendatangi LSM yang telah ditunjuk oleh KPAI tersebut. Setelah mengetahui Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang akan digunakan peneliti untuk wawancara kepada responden, peneliti langsung bertemu pihak LSM terkait. Pada tanggal 11 Mei 2015 peneliti datang ke LSM yang telah ditunjuk, maksud kedatangan peneliti adalah untuk menjelaskan bahwa peneliti telah direkomendasi dari pihak Komisi Penanggulangan AIDS provinsi Yogyakarta untuk melakukan penelitian pada salah satu responden di LSM tersebut.

Beberapa hari kemudian, pada tanggal 12 Mei 2015 LSM menghubungi peneliti untuk bertemu responden bernama Melati (nama samaran) terlebih dahulu. Pada saat itu pula peneliti bertemu dengan Melati, peneliti menjelaskan maksud dan tujuan penelitianserta surat pernyataan kesediaan menjadi subjek penelitian. Setelah diberi ijin oleh Melati, untuk mewawancarai dirinya dan teman serta salah seorang dari pihak keluarga, peneliti lalu menyiapkan pedoman wawancara, handphone untuk merekam proses wawancara dan surat pernyataan kesediaan menjadi subjek penelitian/informan serta buku kecil untuk mencatat hal-hal yang penting.


(67)

Pada tanggal 19 Mei 2015, peneliti datang ke LSM sesuai perjanjian dengan Melati untuk melakukan wawancara dengan Melati, teman Melati. Peneliti juga bertanya kepada Melati mengenai kesediaan salah satu pihak keluarga Melati untuk diwawancarai.

Pada tanggal 25 Mei 2015, peneliti datang ke kost Melati untuk mewawancarai Ibu Melati. Setelah bertemu Melati, peneliti dikenalkan kepada Ibu Melati. Selang beberapa saat, proses wawancara dengan ibu Melati dimulai. Berikut agenda pertemuan dengan subjek, teman subjek, dan seorang dari pihak keluarga subjek.

Tabel 3. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek dan informan

NO TANGGAL PERTEMUAN

KETERANGAN TEMPAT

1. 12 Mei 2015 k Bertemu pihak LSM dan subjek untuk pengamatan, serta menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

LSM

2. 19 Mei 2015 Proses wawancara, perekamandan penggalian data dengan subjek serta teman subjek.

LSM 3. 25 Mei 2015 Proses wawancara, perekaman dan penggalian data

dengan salah satu pihak keluarga subjek yaitu ibu subjek.

KOST SUBYEK

Berdasarkan dari hasil pengumpulan data, peneliti menganalisis data penelitian serta pembahasan sebagai berikut:


(68)

1. Konsep Diri ODHA Sebelum dan Sesudah Terinfeksi HIV a. Aspek Fisik

Aspek fisik merupakan aspek yang mempengaruhi konsep diri seseorang seperti yang dikemukakan oleh Hurlock (1990) di dalam konsep diri aspek fisik seseorang sangat mempengaruhi. Di dalam aspek fisik ini mendeskripsikan mengenai penampilannya, fungsi tubuh yang berhubungan dengan semua perilakunya serta pengaruh diri yang diberikan tubuhnya dimata orang lain yang melihatnya.

Peneliti : Perubahan atau hal-hal apa saja yang berubah dari segi bentuk tubuh (fisik) anda setelah terdekteksi HIV?

Melati : Dulu tubuh saya ya cukup berisi mas…gak kaya sekarang yang turun berat badannya dan muncul ruam-ruam pada tubuh serta ringkih (mudah sakit) kalo kecapekan yang tinggi.”(S/WF-7/PF)

Peneliti : “Ketika anda merasakan perubahan pada fisik, apa yang Anda pikirkan dan rasakan pertama kali?”

Melati : Pertamanya ya saya kurang bisa percaya diri dan belum bisa menerima tapi lama kelamaan saya coba menerimanya.(S/WF-8/PF)

Peneliti : “Apa yang Anda lakukan ketika terjadi perubahan fisik

tersebut?”

Melati : “Yang pasti ketika mulai badan saya mulai agak kurus serta muncul ruam-ruam pada tubuh, saya berusaha untuk tetap menjaga pola makan dan obat-obatan supaya tidak gampang jatuh sakit karena imun tubuh berkurang.”(S/WF-9)

Peneliti : “Bagaimanakah kesehatan fisik anda sebelum terdekteksi HIV?

Melati :“Kondisi sehat sehat aja, badan lumayan berisi, dan gak pernah

merasa cepat lelah.”(S/WF-10)

Peneliti : Bagaimana kesehatan fisik Anda setelah terdekteksi HIV?

Melati : “Untuk beberapa waktu di awal saya terinfeksi saya mudah

lelah…dan saat saya harus minum obat yang segede-gede kancing

jas… efeknya pun buat saya sedikit fly..kalo buat tidur itu nyeyak…tapi kalo buat berdiri itu pusing.”(S/WF-13)


(69)

Peneliti : “Apakah Anda merasa puas dengan keadaan fisik anda

sekarang?”

Melati : “Ya puas gak puas mas…yang penting berusaha untuk tidak

kekurangan gizi dan selalu taat minum obat.”(S/WF-14)

Berdasarkan pernyataan Melati di atas, Melati menyatakan bahwa terjadi perubahan dari segi bentuk tubuh (fisik) setelah terdeteksi HIV seperti perubahan bentuk tubuh yang dulu berisi namun sekarang berat badan turun, lalu muncul ruam-ruam pada tubuh serta mudah ringkih atau mudah terserang sakit ketika kecapaian yang berlebihan. Hal yang pertama kali terlintas dari pikiran Melati menjadi kurang percaya diri terhadap perubahan pada fisiknya. Pernyataan Melati tersebut sama dengan salah satu pernyataan dari Ibu Melati. Salah satu pernyataan tersebut dapat dilihat dari kutipan wawancara dengan Ibu Melati dan teman Melati berikut:

Peneliti : Kalau dari segi fisik, apakah ada yang berubah Bu pada diri Melati?

Ibu Melati : “Kalau fisik…ya gimana ya…mbak Melati mudah ringkih mas.” (IB/IFS-01)

Peneliti : “Sejauh yang Anda tahu, apakah ada hal-hal yang berubah

pada diri (fisik) Melati ketika telah terdekteksi HIV?”

Teman Melati : “Kalo perubahan pada fisik gak ada yang terlalu signifikan sih …cuma kalo udah sangat-sangat kecapekan itu mbak Melati mulai muncul sakit..kayak pusing-pusingan..mudahmasuk angin..gitu mas..” (TS/PFO)

Berdasarkan hasil penelitian, terjadi kesesuaian pernyataan antara Melati dan Ibunya serta teman Melati. Diketahui bahwa seseorang yang terkena HIV mulai berubah pada aspek fisiknya. Perubahan tersebut dikarenakan sistem kekebalan tubuh seseorang yang terinfeksi HIV menurun. Dari pernyataan Melati dan Ibunya di atas, terjadikesesuaian antara hasil pernyataan. Hal ini sesuai


(1)

Bo

Teman

Bo

Teman

Bo

HIV..bukan berarti hidupmu hilang..bukan malah mencibir seperti orang-orang diluar sana bahwa orang yang terinfeksi HIV harus disingkirkan atau dijauhi.

Sejauh yang Anda ketahui, apakah

pernah melihat mbak Melati

didiskriminasi oleh orang lain?

Belum pernah..setahu saya mbak

Melati…tidak terlalu membuka diri

mengenai hal-hal tentang dirinya kepada orang kecuali dengan teman LSM.

Sejauh yang Anda tahu, dilihat dari

segi religius, apa yang Anda ketahui

tentang Melati?

Ya…mbak melati itu orangnya rajin

sholat dan gak pernah ketinggalan kok.

Sebagai teman, Apa yang Anda

ketahui mengenai proyeksi

(program/gambaran) Melati terkait

masa depan dalam rencana

membangun sebuah keluarga?


(2)

Teman

masih ingin mengurusi

anaknya…nampaknya juga belum ada

rencana untuk membangun sebuah keluarga lagi, setelah perceraiannya yang lalu.


(3)

Tabel 2. Lembar Pengamatan

No. Hari / Tanggal

Pukul

(WIB) Kegiatan Hasil

Pengamatan

1. 10 Mei 2015 10.00 Mengamati subjek

saat bekerja di LSM

Subjek sedang bekerja di LSM

11.00 Subjek

bekerja dengan giat Subjek Tetap Bekerja tanpa lelah dalam keadaan sakit, walau pucat


(4)

subjek tetap kerja dengan baik

12.00 Subjek

Makan siang dan meminu beberapa obat untuk menjaga kestabila CD4 atau kekebalan tubuh 13.00 Setelah makan siang,

peneliti pamit, karena subjek juga sedang akan melakukan rapat koordinasi


(5)

2. 26 Mei 2015 09.00 Subjek berada di kost

Subjek sedang masak untuk ibunya dan anaknya 10.30 Ibunya sudah pulang

dari menjemput anak subjek di sekolah

Subjek Menyiap kan peralatan untuk makan subjek dengan ibu dan anaknya 11.00 Subjek menonton tv

dengan anaknya

Subjek menanya kan apa saja yang dipelajari anaknya


(6)

disekoah tadi dengan penuh canda dan rasa sayang ibu kepada anaknya 12.30 Anak subjek meminta

ditemani tidur oleh subjek

Dengan Senyuman dan pelukan subjek menemani -nya 12.35 Peneliti pamit, karena

subjek dan keluarga akan beristirahat