Hubungan cerita rakyat riau dengan pendidikan multikultural (penelitian eksperimen implementasi pendidikan multikultural di kelas xi ilmu-ilmu sosial SMA Negeri 7 kota Tangerang)

Hubungan Cerita Rakyat Riau dengan Pendidikan Multikultural
(Penelitian Eksperimen Implementasi Pendidikan Multikultural
di Kelas XI Ilmu-Ilmu Sosial SMA Negeri 7 Kota Tangerang)

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Pd.)

oleh
Rifka Fitrotuzzakia
1110013000038

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

ABSTRAK
Rifka Fitrotuzzakia, NIM. 1110013000038, skripsi “Hubungan Cerita
Rakyat

Riau

dengan

Pendidikan

Multikultural

Penelitian

Eksperimen

Implementasi Pendidikan Multikultural di Kelas XI IIS (Ilmu-Ilmu Sosial) SMA
Negeri 7 Kota Tangerang”. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dosen
Pembimbing : Jamal D. Rahman, M.Hum. September 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang
signifikan antara cerita rakyat yang didengarkan atau didongengkan di dalam
kelas dengan pemahaman siswa terhadap pendidikan multikultural di SMA Negeri
7 Kota Tangerang kelas XI IIS (Ilmu-Ilmu Sosial). Metode penelitian yang
digunakan adalah metode kuantitatif. Dengan menggunakan desain eksperimen,
dan product moment. Sumber data dalam penelitian ini adalah data kuesioner
siswa sebelum mendapatkan perlakuan media cerita rakyat, dan kuesioner siswa
sesudah mendapatkan perlakuan media cerita rakyat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang
signifikan dengan korelasi sebesar 0,8 antara media cerita rakyat Burung Puyuh
dan Burung Tempua dengan pendidikan multikultural. Artinya terdapat hubungan
yang positif dan kuat antara media cerita rakyat dengan pendidikan multikultural.
Ini berarti semakin sering cerita rakyat digunakan sebagai media pembelajaran,
maka semakin baik pemahaman siswa terhadap pendidikan multikultural.

Kata kunci: Korelasi, Pendidikan, Multikultural, Media, Cerita rakyat, Burung
Puyuh dan Burung Tempua, Kurikulum 2013, Eksperimen, Product Moment.

i

ABSTRACT
Rifka Fitrotuzzakia, 1110013000038, “The Relationship between
Folklore with the Multicultural Education. Experimental Study of Implementation
of Multicultural Education at XI Grade of Social Science Class or IIS (Ilmu-ilmu
Sosial) of SMAN 7 Kota Tangerang. Indonesian Language and Literature
Department. Faculty of Tarbiya and Teachers’ Training. Syarif Hidayatullah State
Islamic University Jakarta. Advisor: Jamal D. Rahman,. M.Hum. September 2014.
The objective of this study is to find out the significant correlation
between folklore which is listened or told in the class and students’
comprehension towards multicultural education at the eleventh grade of Social
Science Class or IIS (Ilmu-ilmu Sosial) of SMAN 7 Kota Tangerang. Research
methodology which is used is statistical quantitative method by using
experimentaldesign and product moment statistical method. Data collecting of this
research is questionnaire, before and after the treatment of folklore.
The result of this study shows that there is significant relationship (0,8)
between media of folklore entitled Burung Puyuh dan Burung Tempua with
multicultural education. It means that there is positive and strong relationship
between the medium of multicultural education. The writer concluded that if the
folklore is taught as the medium in the teaching and learning process oftenly,
student’ comprehension toward multicultural education will be better.
Keywords: Correlation, Education, Multicultural, Medium, Folklore, Burung
Puyuh dan Burung Tempua, Curriculum 2013, Experiment, Product Moment.

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah SWT, yang telah memberikan nikmat bagi
seluruh makhluk di dunia. Alhamdulilah, skripsi yang berjudul “Hubungan Cerita
Rakyat

Riau

dengan

Pendidikan

Multikultural,

Penelitian

Eksperimen

Implementasi Pendidikan Multikultural di Kelas XI IIS (Ilmu-Ilmu Sosial) SMA
Negeri 7 Kota Tangerang” telah selesai. Skripsi ini dibuat penulis sebagai syarat
untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan pada Program Studi Pendidikan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi kepentingan mahasiswa,
maupun pembacanya. Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak luput dari
berbagai hambatan dan rintangan. Tanpa bantuan dan peran serta berbagai pihak,
skripsi ini tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah,
Dra Nurlena Rifa’i, M.A. Ph.D.
2. PLT Ketua Jurusan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Didin
Syafruddin,. MA., Ph.D.
3. Sekretaris Jurusan Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Hindun,
M.Pd.
4. Dosen Pembina Akademik, dari semester satu hingga kini, Dra Mahmudah
Fitriyah ZA. M. Pd.
5. Dosen pembimbing skripsi, Bapak Jamal D. Rahman, M.Hum.
6. Seluruh dosen PBSI yang saya sayangi.
7. Kedua orang tua ( Ibu Ati Kurniati dan Bapak Solihin), serta adik saya.
8. Guru-guru SMA Negeri 7 Kota Tangerang.
9. Kepada keluargabesar saya. Kakak saya, ka Shidiq, yang paling saya
hormati dan memberikan banyak nasihat, sahabat dekat saya Herlina dan
Rere yang menjadi teman saya selama di fakultas dan banyak membantu
saya selama skripsi.

iii

10. Kepada teman kosan Sedap Malam.
11. Keluarga Besar PBSI angkatan 2010 dan Keluarga Besar PBSI A angkatan
2010.
12. Keluarga Besar Tarbiyah dan UIN Syarif Hidayatullah.

Semoga semua yang membantu, memberi dukungan, dan partisipasi kepada
penulis, mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Aamiin.

Ciputat, Kota Tangerang Selatan, 1 September 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQOSAH
ABSTRAK…………………………………………………………………………..i
ABSTRACT………………………………………………………………………...ii
KATA PENGANTAR…………………………………………………………......iii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………….v
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………..…viii
BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah…………………………………………….1
B. Identifikasi Masalah…………………………………………...……5
C. Pembatasan Masalah………………………………………………..5
D. Perumusan Masalah……………...…………………………………6
E. Tujuan Penelitian……………………...……………………………6
F. Kegunaan Penelitian
1. Manfaat Teoritis……...…………………………...….…………..6
2. Manfaat Praktis………...……………………………….......……7

BAB II

KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat Pendidikan………………………………….………….8
2. Pendidikan di Indonesia…………………………….…………..9
3. Hakikat Media Pendidikan………………………….…..……..11
4. Tradisi Lisan dan Cerita Rakyat……………………..………...12
5. Hakikat Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural……..17
v

6. Kurikulum 2013 di Indonesia…………………………….……24
7. Pendidikan Multikultural dalam Kurikulum 2013…………..…25
8. Media Cerita Rakyat sebagai Perwujudan dari Pendidikan
Multikultural………………………………………………….…..26
9. Cerita Rakyat yang Dipilih dan Sinopsis Cerita……….………26
B. Hasil Penelitian yang Relevan………………………….…….…..28
C. Kerangka Berfikir………………………………………….….….29
D. Hipotesis Penelitian……………………………………………....30
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat………………………………………………..…..……31
2. Waktu Penelitian…………………………………….……..…..31
B. Metode dan Desain Penelitian
1. Metode Kuantitatif…………………………………….…..…..32
2. Desain Eksperimen……………………………………….…....32
3. Desain Kelompok Tunggal dengan Pretes dan Postes….....….34
C. Populasi dan Sampel………………………………….…...…..….35
D. Teknik Pengumpulan Data………………………………...…..…35
E. Kontrol Terhadap Validitas Internal……………………….....….36
F. Teknik Analisis Data……………………………………….....…38
1. Variabel Penelitian……………………………………….....…39
G. Hipotesis Statistik………………………………………...…..….40
1. Instrumen Penelitian………………………………..…………41

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Profil Sekolah………………………………………………...47
2. Sampel dan Populasi…………………………………………48
3. Deskripsi Penelitian di Lapangan……………………………49
4. Deskripsi Statistika…………………………………………..52

vi

B. Pengujian Persyaratan Analisis dan Pengujian Hipotesis……….55
1. Uji Normalitas Data…………………………………….…….56
2. Uji Linearitas Data……………………………………….…...58
3. Tabel dan Grafik Distribusi Pancaran…………………….…..60
4. Nilai Variabel…………………………………………………61
5. Perhitungan Korelasi………………………………………….61
C. Temuan Penelitian………………………………………..……..66
D. Pembahasan terhadap Temuan Penelitian…………………...…..68
1. Pembahasan terhadap Hasil Temuan Pertama…………....…..68
2. Pembahasan terhadap Hasil Temuan Kedua…………………68
3. Pembahasan terhadap Hasil Temuan Ketiga……………....…69
E. Implikasi………………………………………………..………69
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………….……....71
B. Implikasi………………………………………………….……72
C. Saran…………………………………………………………...72

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP

vii

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Peradaban bangsa diciptakan melalui polapikir-polapikir individu yang
menghasilkan prilaku nyata di lingkungan sosial. Peradaban bangsa tidak hadir
bedasarkan proses yang singkat dan sederhana, melainkan melalui pemikiran
falsafah-falsafah yang dinilai paling cocok untuk diterapkan pada bangsa
Indonesia kemudian diterapkan langsung dalam kehidupan nyata. Banyak para
ahli mengatakan bahwa peradaban bangsa Indonesia merupakan peradaban yang
menjungjung tinggi nilai moral dan nilai kehidupan bangsanya. Pancasila
digunakan sebagai dasar dari pemikiran dan cita-cita bangsa, kemudian tertuang
langsung di dalam pendidikan yang di dalamnya terdapat tradisi-tradisi, nilai-nilai,
dan budaya bangsa Indonesia. Salah satu pelajaran dan pengajaran tertua yang
terjadi di Indonesia adalah tradisi lisan, atau bercerita.
Indonesia terdiri dari berbagai suku dan budaya. Begitu pula dengan cerita
di dalamnya. Indonesia merupakan negara yang kaya akan kebudayaan daerah,
sangat lekat dengan kekayaan peradaban atau kekayaan cerita. Cerita rakyat
memiliki ciri khas. Beberapa di antaranya adalah sebuah cerita yang hadir dan
berkembang di tengah masyarakat pada zaman tradisional. Penyebaran cerita
didapat dari mulut ke mulut, penuh dengan nilai adat sekaligus tradisi yang berisi
peraturan dan sistem kepercayaan masyarakat pada saat itu, memiliki alur yang
mudah ditebak, cerita selalu dimenangkan oleh tokoh yang berwatak baik, berisi
kepahlawanan, dan tokoh berwatak baik menjadi pahlawan atas tokoh yang
berwatak jahat.
Cerita rakyat lahir pada masa lampau serta berkembang pada zaman
tradisional.Kondisi peradaban rakyat Indonesia pada saat itu sangat berwarna,
dimulai dengan hidup berdagang, berlayar, bertani, bercocok tanam, hidup secara

2

berkelompok, memiliki sistim kepercayaan yang terikat dengan roh nenek
moyang serta percaya dngan benda-benda gaib (animisme dan dinamisme).
Setelah itu masuklah budaya ekstern yang mulai berkembang, seperti budaya
Hinduisme, Budhaisme, dan Islam. Sebelum kolonialisasi atau pihak barat datang
dan berinteraksi di Indonesia, nusantara sudah lebih dahulu berinteraksi dengan
multikulturalisme, yakni melalui kehidupan rakyat yang agrarisme, dan berlayar.
Masyarakat Indonesia menerima baik tamu dari bangsa-bangsa asing yang datang
oleh karena itu, penduduk Indonesia pada masa silam sudah beraneka ragam,
yakni terdiri dari beberapa macam ras, diantaranya ras china, dan ras india, serta
ras arab.
Kehidupan masyarakat Indonesia saat ini dinilai sangat dinamis dan
mengalami perubahan yang sangat cepat. Selain itu diiringi dengan tersebarnya
media massa, media elektronik hingga media komunikasi canggih. Media massa,
media elektronik, dan perubahan sosial yang menuju ke arah modernitas memiliki
dua sisi yang bertelingkahan. Di sisi positif kemajuan teknologi dan pembaharuan
dinilai akan menciptakan kemajuan diberbagai bidang, dimulai dari kemajuan
ekonomi, kemajuan teknologi, kemajuan pendidikan, pertanian, pertahanan hingga
kemajuan pola pikir bangsa. Namun di sisi lain kemajuan pola pikir ini lah yang
menjadi lokasi rawan atau kelemahan dari proses modernisasi. Kemajuan pola
pikir bangsa bisa berdampak tergantinya atau hilangnya kebiasaan-kebiasaan lama
yang positif dan pernah diwariskan oleh nenek moyang atau orang tua di masa
silam. Kekhawatiran akan hilangnya kebiasaan dan budaya tradisional sebagai
budaya peninggalan bangsa menjadi langkah urgensi semua pendidik yang ingin
menancapkan berbagai nilai kebudayaan dari proses pendidikan multikultural
yang plural.
Penanaman nilai saling toleransi dan saling menghargai budaya yang
berbeda, merupakan pendidikan yang sedang digalakkan saat ini.Bagaimanapun
pentingnya mendidik moral siswa. Siswa harus diajarkan sejak dini melalui
berbagai model pembelajaran tentang nilai-nilai luhur, meliputi budaya toleransi,
budaya menghargai dan kesadaran tentang perbedaan etnik yang indah dan
beragam, sehingga dengan pendidikan multikultural mereka dapat mengerti dan

3

memahami bahwa di kehidupan nyata, budaya Indonesia merupakan budaya yang
terdiri dari berbagai macam suku dan etnik yang berbeda, yang lahir secara
alamiah dari proses geografis, psikologis, sosiologis.
Siswa diajarkan untuk tidak rasis, tidak fanatik terhadap etnis tertentu
hingga memakai kekerasan untuk mengatasi perbedaan pendapat. Siswa sadar
bahwa perbedaan di Indonesia alamiah terjadi, tercermin dengan tersebarnya
cerita-cerita rakyat yang berbeda. Tercermin dengan prilaku-prilaku, logat-logat
daerah yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda, cara makan yang berbeda,
cara menyayangi yang berbeda bahkan cara memahami dengan cara yang bebeda.
Model

dan

media

pembelajaran

mengenal

pendidikan

berbasis

mulikultural sangat beraneka ragam mulai dari metode sosiodrama, metode
inkuiry, contekstual learning, metode ceramah dan masih banyak lagi. Sedangkan
media pembelajaran untuk pendidikan multikultural bisa berupa materi atau
sumber belajar yang beraneka ragam, dimulai dari dari internet, buku teks hingga
cerita dongeng atau cerita rakyat. Media pembelajaran merupakan sarana siswa
belajar, alat pembantu untuk memahami mengenai nilai-nilai budaya ataupun nilai
multikultural.Media juga digunakan guru sebagai sarana atau alat pembantu bagi
guru dalam mentransfer ilmu atau memberikan pemahaman mengenai materi,
nilai moral, nilai agama dan nilai sosial.
Media pembelajaran cerita rakyat merupakan suatu langkah atau cara
pembelajaran yang berfungsi untuk mentransfer pemahaman mengenai nilai
moral, nilai sosial, nilai pendidikan kepada siswa, sehingga nilai-nilai falsafah
luhur budaya Indonesia dapat terfahami, selain itu cerita rakyat juga berfungsi
untuk menanamkan nilai multikultural dan pengetahuan budaya-budaya bangsa,
sehingga arus perkembangan global tidak mengikis pemahaman siswa mengenai
kebudayaan Indonesia yang sangat kaya dan beraneka ragam. Jika kita temui
cerita rakyat yang berkembang saat ini masih sebatas cerita rakyat popular, seperti
Cerita Malin Kundang, Cerita Asal-usul Danau Toba, Cerita Sangkuriang, Cerita
si Pitung, Cerita Timun Mas, Cerita Bawang Putih dan Bawang Merah. Namun
belum dipopulerkan cerita rakyat yang mengandug nilai pendidikan multikultural,
serta belum dipopulerkan pula cerita rakyat melayu yang berisikan tentang nilai-

4

nilai luhur budaya, moral pengorbanan, menghormati orang tua dan menyayangi
sesama saudara. Masih banyak cerita rakyat nusantara yang kurang popular dan
kurang berkembang di kehidupan remaja, maupun di dalam lingkungan dunia
pendidikan di Indonesia. Belum ditemukan secara spesifik cerita rakyat nusantara
yang menggambarkan prilaku masyarakat yang menganut sistem multikultural,
yakni toleran, saling menghormati dan menghargai sesama manusia yang berbeda
budaya maupun adat di Indonesia.
Kekayaan cerita lisan di Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu cerita
selalu dikesampingkan dan dipandang hanya seperti cerita usang yang selalu kalah
dengan cerita-cerita modern yang lebih mengusung kepada cerita realitas sosial.
Dapat dikhawatirkan akan ada yang rumpang dalam kebudayaan yang luhur
sehingga

dengan

mudah

dapat

digantikan

dengan

kebiasaan-kebiasaan

menyimpang prilaku siswa seperti tauran remaja, kekerasan, kekejaman, prilaku
kebarat-baratan, prilaku seks bebas, prilaku tidak menghargai orang tua, teman
bahkan saudara. Prilaku-prilaku negatif tersebut mudah ditemui di kehidupan
nyata pada diri remaja di Indonesia saat ini. Pendidikan yang seharusnya mampu
menciptakan nilai cipta, rasa dan karsa di dalam jiwa siswa, diharapkan mampu
menuntaskan masalah degradasi dan rumpangnya ruh anak didik terhadap budaya
Indonesia. selain itu penulis ingin mengetahui secara nyata, apakah cerita rakyat,
kebudayaan tradisional, juga tradisi lisan dapat memperkukuh pemahaman siswa
tentang pendidikan multikultural menyangkut pengalaman saling toleransi, saling
menghargai dan saling menyayangi. Untuk itu penulis mengusung tema tulisan
yang bertajuk cerita tradisional dalam pendidikan di Indonesia. Penulis akan
menulis karya ilmiah skripsi yang berjudul,“Hubungan Cerita Rakyat dengan
Pendidikan Multikultural Penelitian Eksperimen Implementasi Pendidikan
Multikultural di Kelas XI IIS SMA Negeri 7 Kota Tangerang .”

5

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan judul yang diambil yaitu mengenai Hubungan Cerita Rakyat
dengan Pendidikan Multikultural penulis mengemukakan beberapa identifikasi
masalah, yaitu meliputi:
1. kurangnya pemahaman terhadap pendidikan multikultural,
2. kurangnya aplikasi nyata terhadap pendidikan multikultural di sekolah,
3. kurangnya pengetahuan tentang media cerita rakyat yang mengandung
nilai multikultural,
4. kurangnya pengetahuan apakah ada hubungan antara cerita rakyat sebagai
media pembalajaran dengan pendidikan multikultural.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan berbagai identifikasi masalah yang dipaparkan oleh penulis,
penulis lebih memfokuskan penelitian yaitu mengenai cerita rakyat nusantara
yang digunakan sebagai media pembelajaran pendidikan multikultural. Fokus
cerita yang akan diangkat yaitu cerita rakyat Riau yang berjudul Burung Puyuh
dan Burung Tampua. Cerita tersebut berkisah tentang persahabatan dua burung
yang berbeda habitat, namun tetap terbang beriringan dan bersama-sama. Penulis
memilih cerita rakyat tersebut, karena pada cerita rakyat tersebutterdapat nilainilai budaya toleransi dan persahabatan sesama hewan yang berbeda spesies dan
habitat. Peneliti menggunakan cerita rakyat tersebut menjadi media pembelajaran
yaitu dengan cara mendongeng di kelas, menafsirkan sekaligus menjelaskan,
bagaimana budaya menghargai dan toleransi harus ada dalam jiwa siswa SMA
kelas XI IIS. Penelitian ini diadakan secara eksperimen melalui tindakan kelas dan
pengambilan kuesioner berupa data pretes (data awal kuesioner jawaban siswa
sebelum mendapatkan perlakuan) dan data postes siswa (data akhir kuesioner
jawaban siswa setelah mendapatkan perlakuan). Data tersebut digunakan sebagai
instrumen atau ukuran bagaimana hubungan antara cerita rakyat dengan
pendidikan multikultural siswa kelas XI IIS SMA Negeri 7 Kota Tangerang, kelas

6

yang dipilih adalah kelas XI IIS (sebelas Ilmu-Ilmu Sosial) karena kelas tersebut
mempelajari bidang ilmu sosial, termasuk keterampilan siswa untuk lebih
bersosialisasi dan lebih mengerti budaya multikultural terhadap sesama siswa di
kelas maupun di luar kelas. Selain itu kelas XI (sebelas) merupakan kelas yang
dipilih peneliti, karena pada usia 17 tahun atau usia di kelas tersebut merupakan
usia adaptasi siswa dengan idealisme siswa yang dibentuk. Pada usia tersebut juga
siswa sedang rentan berinteraksi dengan kekerasan, ancaman, perbedaan,
bentrokan, konflik dan tawuran antar siswa.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan batasan tersebut, penulis merumuskan permasalahan yaitu:
Bagaimanakah hubungan antara cerita rakyat dengan pendidikan multikultural di
SMA kelas XI IIS (Ilmu-Ilmu Sosial) SMA Negeri 7 Kota Tangerang?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan
yang signifikan antara cerita rakyat dengan pendidikan multikultural dan
mengetahui seberapa besar hubungan yang signifikanantara cerita rakyat yang
didengarkan atau didongengkan di dalam kelas dengan pemahaman siswa
terhadap pendidikan multikulturaldi SMA Negeri 7 Kota Tangerang, kelas XI IIS.
F. Kegunaan Penelitian
I. F. 1. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan
mahasiswa, khususnya mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia tentang cerita rakyat, tradisi lisan, mendongeng, pendidikan
multikultural dan hubungan di antara keduanya. Menambah pengetahuan para
civitas pendidikan terhadap multikultural dalam kurikulum 2013. Serta untuk
mengetahui lebih kongkrit bagaimana hubungan cerita rakyat yang mengandung
nilai toleransi dengan pendidikan multikultural yang diterapkan di Indonesia.

7

I. F.2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini adalah untuk menyosialisasikembali
tradisi lisan, dongeng dan cerita rakyat daerah nusantara yang sudah usang dan
mulai menghilang. Melalui nilai dan pesan moral yang terkandung dalam tradisi
lisan, dongeng dan cerita rakyat, diharapkan dapat membantu menanamkan nilainilai karakter pada siswa, memperkaya pengetahuan siswa dengan pengetahuan
budaya-budaya di Indonesia. Melalui penelitian ini diharapkan siswa dapat ikut
serta dalam mempertahankan warisan budaya berupa budaya bercerita, dan
budaya mendongeng, sehingga cerita rakyat nusantara tidak punah sepenuhnya.
Dan melalui penelitian ini diharapkan semua kalangan, baik dosen, guru,
mahasiswa dan siswa dapat mewariskan sekaligus melestarikan kebudayaan
tradisional di Indonesia.

8

BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat Pendidikan
Pendidikan tidak terlepas dari berbagai proses mendidik dan mengajar.
Untuk itu berikut ini adalah konsep pendidikan jika ditnjau dari beberapa ahli
pendidikan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan berasal dari
“pen.di.dik.an yaitu proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang. Arti lain adalah usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan, proses, cara perbuatan mendidik”.1 Sedangkan
pendidikan yang dikatakan oleh Lengeveld dalam Halifud Sabri, ialah “pemberian
bimbingan atau bantuan rohani bagi yang seseorang masih memerlukan”.
Pendidikan itu terjadi melalui pengaruh dari seseorang yang telah dewasa kepada
orang yang belum dewasa, namun tidak semua pengaruh yang datangnya dari
orang dewasa kepada orang yang belum dewasa itu dapat disebut mendidik, sebab
mungkin saja pengaruhnya itu tidak mengandung unsur mendidik sama sekali.
Sifat dari pendidikan adalah semua usaha, pengaruh, perlindungan serta bantuan
yang diberikan harus tertuju pada kedewasaan anak didiknya atau dengan kata lain
membantu anak didiknya agar cukup cakap dalam melaksanakan tugas hidupnya
sendiri.2 Kemudian, H. A. R. Tilaar menyatakan bahwa pendidikan adalah suatu
proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta didik yang memasyarakat,
membudaya, dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal, nasional dan global.3
Hal ini senada dengan pendapat Nurani Soyomukti yang mengatakan bahwa
pendidikan adalah segala sesuatu dalam kehidupan yang mempengaruhi
pembentukan berpikir dan bertindak individu, dalam kurun waktu kehidupan yang
1

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka,2007), h. 263.
2
Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, (UIN Jakarta Press:Ciputat, 2005), h.8.
3
H.A.R. Tilaar, Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi
Reformasi Pendidikan Nasional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999),h. 28.

9

panjang dan saling berkaitan dengan perubahan-perubahan cara berpikir
masyarakat juga turut menjadi pembentuk seorang individu.4
Selain usaha untuk menumbuh kembangkan kedewasaan, pendidikan juga
merupakan suatu usaha dari berbagai dimensi, baik dimensi tataran kecil, hingga
ke dimensi global. Pengertian pendidikan di Indonesia pun telah tertuang di dalam
Undang-Undang RI, berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, pendidikan adalah:
“usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
Negara.”5
Dari uraian pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan
adalah suatu usaha atau proses mendewasakan individu atau sekelompok orang
melalui sebuah pengajaran atau pelatihan seumur hidup.
2. Pendidikan di Indonesia
H. Soedijarto mengatakan bahwa proses pendidikan di Indonesia seperti
yang sepintas disinggung dan berlangsung dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00
tidak akan dapat mengubah karakteristik manusia Indonesia yang beretos kerja
tinggi, yang berdisplin, bermoral, yang bertanggung jawab, yang menghormati
tegaknya hukum, dan yang mampu menguasai dan menerapkan iptek serta
bersikap demokratis. Tidak lain karena masyarakat di luar sekolah belum dapat
menjadi tempat yang mendorong tumbuh dan berkembangnya karakteristik
manusia Indonesia yang ideal. Maka perlu dirancang suatu sistem pendidikan
nasional yang memungkinkan proses pembelajaran yang bermakna yaitu proses
pembudayaan yang menyangkut berbagai kemampuan, nilai, dan sikap seorang
Indonesia
4

yang

modern.

Untuk

itu

Komisi

Internasional

UNESCO

Nurani Soyomukti, Teori-Teori Pendidikan: Tradisional, (Neo) Liberal, MarxisSosialis, Postmodern, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), h.29.
5
Anas Salahudin dan Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis
Agama dan Budaya Bangsa, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2013), h. 41.

10

merekomendasikan 4 pilar belajar, yaitu Learning to know, Learning to do,
Learning to Live Together, dan Learning to be.6
Pendidikan di Indonesia yang ideal harus mencangkup 4 macam pilar
belajar, belajar tidak hanya mempelajari sesuatu, tetapi dapat memperagakan,
mempraktikkan, dan mengaplikasikan, sehingga tujuan belajar bukan hanya untuk
pengetahuan saja, malainkan untuk hidup bersama, dan untuk dapat melakukan
sesuatu.
Theodore Brameld dalam H.A.R. Tilaar menyatakan bahwa terdapat
keterkaitan yang sangat erat antara pendidikan, masyarakat dan kebudayaan.
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti
keduanya, yakni berkenaan dengan nilai-nilai. Di dalam rumusan-rumusan
kebudayaan, mengandung tiga dimensi, ketiga dimensi tersebut adalah manusia,
masyarakat dan budaya. Oleh sebab itu pendidikan tidak dapat terlepas dari
kebudayaan dan hanya dapat terlaksana dalam suatu masyarakat. Apabila
kebudayaan mempunyai tiga unsur penting yaitu kebudayaan sebagai suatu tata
kehidupan (order), kebudayaan sebagai suatu proses, dan kebudayaan mempunyai
suatu visi tertentu (goals), maka pendidikan dalam rumusan tersebut adalah
sebenarnya proses pembudayaan. dengan demikian tidak ada suatu proses
pendidikan tanpa kebudayaan dan tanpa masyarakat, dan sebaliknya tidak ada
suatu kebudayaan dalam pengertian suatu proses tanpa pendidikan, dan proses
kebudayaan dan pendidikan hanya dapat terjadi di dalam hubungan antar manusia
di dalam suatu masyaraka tertentu.7 Jadi terdapat keterkaitan yang erat antara
pendidikan, masyarakat dan budaya, untuk itu ketiganya tidak dapat terlepaskan
dari proses pendidikan.
H.A.R. Tilaar menegaskan bahwa metode pendidikan Indonesia terbagi
menjadi dua, pendidikan agama dan pendidikan nasional.Namun pendidikan yang
dilaksanakan lebih ke arah dikotomis.8 Oleh karena itu sangat sulit menemukan
6

H. Soedijarto, Pendidikan yang Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Memajukan
Kebudayaan Nasional Indonesia dalam Kurikulum yang Mencerdaskan, (PT Kompas Media
Nusantara: Jakarta, 2007), h.21.
7
H.A.R. Tilaar, Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani Indonesia: Strategi
Reformasi Pendidikan Nasional, (PT Remaja Rosdakarya: Bandung, 1999), h.7.
8
Ibid.

11

konsep pendidikan yang komprehensif dan integral. dalam pendidikan
multikultural, terdapat pengungkapan hakikat manusia yaitu diantaranya, pertama
pendidikan multikultural memandang bahwa manusia memiliki beberapa dimensi
yang harus diakomodir dan dikembangan secara keseluruhan, orientasi pendidikan
multikultural adalah “memanusiakan manusia.” Kemanusiaan manusia pada
dasarnya adalah pengakuan akan pluralutas, heterogenitas dan keragaman manusia
itu sendiri. keragaman itu bisa berupa ideolog, agama, paradigm, pola pikir,
kebutuhan keinginan, tingkat ekonomi, strata sosial, suku, etnis, ras, budaya, dan
nilai-nilai tradisi.

3. Hakikat Media Pendidikan
Media itu berarti sebuah wadah, sebuah sarana, dan perantara seorang guru
atau pengajar mentransferkan ilmunya kepada anak didik atau siswa. hal ini
dikatakan pula oleh Yudhi Munadhi dalam buku yang berjudul Media
Pembelajaran yaitu,
“kata media berasal dari bahasa Latin, yakni Medius yang secara
harfiahnya berarti „tengah‟, „pengantar‟, atau „perantara‟. Dalam bahasa
Arab media disebut „wasail‟ berbentuk jama‟ dari „wasilah‟ yakni sinonim
al wast yang artinya juga „tengah‟. Kata tengah itu sendiri berarti berada di
antara dua sisi, maka disebut juga sebagai „perantara‟ (wasilah) atau yang
mengentarai kedua sisi tersebut.Karena posisinya berada di tengah ia bisa
juga disebut sebagai penghantar atau penghubung, yakni yang
mengantarkan atau menghubungkan atau menyalurkan sesuatu hal dari
satu sisi ke sisi lainnya.”9
Sedangkan berdasarkan KBBI Media adalah 1. Alat; 2. Alat (sarana)
komunikasi seperti koran, majalah, radio, telefisi film, poster dan spanduk; 3.
Terletak di antara dua pihak (orang, golongan, dsb); wayang bisa dipakai sebagai
– pendidikan; 4. Perantara, penghubung.10 Dari hal tersebut dapat disimpulkan
bahwa media menunjuk kedalam suatu saluran, atau perantara dari satu sisi ke
dalam sisi si penerima pesan.Pengertian media pendidikan menunjukkan pada
9

Yudhi Munadhi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, (Ciputat: Gaung
Perseda Press, 2012), h. 6.
10
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai
Pustaka, 2007), h. 726.

12

gabungan dari pengertian atau makna kata „media, dan makna kata „pendidikan‟.
Jika makna kata media adalah „sarana‟, maka, makna kata pandidikan adalah
suaru proses pendewasaan atau perubahan mental manusia ke arah konstruktif.
Maka media pendidikan adalah sarana atau saluran yang dipakai dalam
menunjang suatu pesan berupa proses pendewasaan, perubahan mental, psikis,
jiwa, rohaniah, kognitif, intelektual manusia secara positif yang berlandaskan
prinsip kemanusiaan dan hubungan manusia dengan alam, Tuhan, dan
masyarakat.
4. Tradisi Lisan dan Cerita Rakyat
Tradisi Lisan dalam KBBI adalah Folklor lisan.11 Namun tradisi lisan
lebih luas cakupannya dari folklor lisan, folklor, erat kaitannya dengan sebuah
cerita lisan yang menyangkut legenda, mite atau dongeng. Pada mulanya
informasi atau pesan ada dan berkembang melalui sebuah tradisi lisan, yakni yang
dikatakan oleh James Danadjaja hal itu disebut dengan ilmu menggosip, seni
bercerita dan mendongeng.12 Pada cara ini, maka mungkinlah suatu masyarakat
dapat menyampaikan sejarah lisan, sastra lisan, hukum lisan dan pengetahuan
lainnya ke generasi seterusnya tanpa melibatkan bahasa tulisan. Biasanya isi
informasinya agak bias dan terdapat lebih dari ribuan versi, tergantung dari
redaksi orang yang berceritanya. karena dongeng diceritakan dari mulut ke mulut,
selain itu seseorang yang memiliki kepentingan yang berlainan, bisa saja merubah
ceritanya, menjadi cerita yang lain, namun bertema atau bertokoh yang mungkin
sama. adapun James Danadjaya mengatakan bahwa Folklor tisan terbagi menjadi
legenda, mite dan dongeng. kemudian James Danadjaya dalam bukunya yang
berjudul Folklor Indonesia, mengatakan bahwa suatu foklor tidak berhenti
menjadi foklor jika ia berubah menjadi cetakan. Suatu folklor memiliki identitas,
selama ia berasal dari peredaran lisan.13 Transkripsi cerita rakyat yang diambil
dari tradisi lisan misalnya. Jadi cerita rakyat pada mulanya diawali dari tradisi
11

Ibid., h. 1208.
James Danadjaya, Folklor Indonesia: Ilmu Gosip Dongeng dan Lain-Lain, (Jakarta:
Grafitypers, 1986), h.5.
13
Ibid., h. 23.
12

13

lisan, diceritakan dari generasi ke generasi, hingga ditulis atau dicetak oleh
penulis. Agar cerita bisa dibaca oleh generasi berikutnya. Dongeng bersifat bias.
Bisa jadi pendongeng yang bercerita hari ini jika disuruh untuk mengulangi lagi
dongengnya pada saat ini juga. Maka ceritanya ada yang sedikit berbeda. Karena
batasan dari sebuah dongeng ataupun tradisi lisan adalah lisan.
Liaw Yock Fang dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik mengatakan
bahwa kesusastraan rakyat adalah sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat.
Dituturkan oleh ibu kepada anaknya yang dalam buaian.14 Tukang cerita juga
menuturkannya kepada penduduk kampung yang tidak bisa membaca (tukang
cerita sendiri belum tentu bisa membaca). Cerita yang semacam ini diturunkan
secara lisan dari satu generasi kepada generasi yang lebih muda. Cerita yang
tersebar di kalangan rakyat awalnya dilisankan, namun kemudian cerita tersebut
dikumpulkan oleh bangsawan atau raja yang memerintah, ditulis disesuaikan
dengan kehendak istana.15 Cerita rakyat merupakan cerita yang berkembang pada
masyarakat di daerah tertentu. Cerita rakyat kental dengan mitos, kepercayaan
masyarakat, kebiasaan-kebiasaan dan tokoh nama yang ditulis nyata dan banyak.
Cerita rakyat terlahir tanpa sebuah pengarang, atau anonim, karna itu cerita rakyat
merupakan cerita berkaitan dengan sejarah.16
Kuntowijoyo mengatakan bahwa sastra rakyat dikenal dengan nama
tradisi lisan mencakup suatu bidang yang cukup luas. Sastra rakyat terdiri dari
cerita-cerita, ungkapan, pribahasa, nyanyian, tarian, adat resmi, undang-undang,
teka-teki, permainan, kepercayaan dan perayaan, semuanya termasuk kedalam
sastra rakyat. Dalam masyarakat yang menekankan pentingnya pikiran kolektif
seperti masyarakat Indonesia adanya etika otoritarian.Pikiran-pikiran kolektif
lebih penting daripada pikiran individual dan kesadaran kolektif lebih diutamakan

14

Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor
Indonesia, 2011), h.1.
15
Ibid,. h.5.
16
Rane Wallek dan Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta :Gramedia, 1993), h.
280.

14

ketimbang kesadaran perorangan.17 Liaw Yock Fang mengatakan bahwa cerita
rakyat dapat dibagi atas empat jenis yaitu seperti berikut ini.
1. Cerita Asal-usul
Cerita asal-usul atau dongeng aetiologis adalah cerita rakyat yang
tertua.Cerita-cerita ini sebenarnya sudah bisa dimasukkan ke dalam bidang
mitos, cerita yang dianggap benar oleh penceritanya.18 Cerita asal usul
dapat pula berupa cerita babad asal usul sebuah masyarakat yang penuh
dengan keajaiban dan tokoh mitos yang digambarkan memiliki kekuatan
suppranatural.
2. Cerita Binatang
Cerita binatang adalah salah satu bentuk sastra rakyat yang sangat
popular.Tiap-tiap bangsa di dunia ini mempuyai cerita binatang.

C.

Hooykaas dalam Liaw Yock Fang, mengatakan bahwa sebagian dari
cerita-cerita binatang ini berasal dari India, kemudian tersebar ke benua
asia dan eropa. Ada pula yang berpendapat bahwa cerita binatang itu
timbul dalam masyarakat yang primitif, di mana saja. Jadi tidak mesti di
India. Dalam masyarakat primitif, manusia masih tinggal dalam gua, dan
tiap hari bergaul dengan binatang. Mereka juga bergantung kepada
binatang untuk hidup. Oleh karena itu mereka tahu betul sifat-sifat
binatang.Binatang juga diberi sifat-sifat manusia. Mereka dapat merasa
dan berpikir seperti manusia.Perbedaan bentuk fisik tidak penting. Dalam
masyarakat primitif, tidak terdapat perbedaan antara dewa, binatang dan
manusia. Dalam cerita binatang, biasanya ada seekor binatang yang
memegang peranan penting. Binatang itu biasanya binatang kecil dan
lemah. Tetepi dengan kecerdasannya ia dapat memperdaya binatangbinatang lain, sehingga seluruh hukum rimba takluk kepadanya.19 Dalam
masyarakat suku Jawa, cerita Si Kancil contohnya, sedangkan cerita

17

Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, (Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya, 1987),

h.138.
18
19

Liaw Yock Fang, op. cit., h.2.
Ibid., h. 4.

15

Sunda, Cerita Si Kera, contohnya. Cerita hewan ini disebut juga dengan
fabel.
3. Cerita Jenaka
Cerita jenaka adalah cerita yang jenaka. Jenaka diterangkan oleh Kamus
Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Nasional, 2008:577)
sebagai “mambangkitkan tawa, kocak, lucu: menggelikan.” Tetapi R. J.
Wilkinson yang dikutip dalam Liaw Yock Fang menerangkan bahwa
jenaka juga berarti “willy, full of stratagem” (cerdik, berakal, dan tahu
ilmu siasat). Ringkasnya cerita jenaka adalah cerita tentang tokoh yang
lucu, menggelikan, atau licik dan licin.20 Contoh cerita jenaka yang
terkenal adalah, cerita Abu Nawas, dalam kesusastraan Timur Tengah,
Cerita Kabayan, dalam kesusastraan Sunda, cerita Semar, dalam
kesusastraan Jawa, dan cerita jenaka lainnya.
4. Cerita Pelipur Lara
Cerita pelipur lara adalah cerita yang dipakai untuk melipur hati yang lara,
yang duka nestapa. Pada zaman dahulu kala, sebelum adanya radio,
televisi, dan wayang gambar (film), mendengar cerita pelipur lara
merupakan satu-satunya hiburan bagi orang kampung. Bila matahari sudah
tenggelam, dan orang kampung sudah makan malam dan mulai
beristirahat, mulailah si tukang cerita bercerita. Ia bercerita dengan nada
yang merata, seolah-olah membaca dari sebuah kitab. Cerita itu berlanjut
sampai jauh malam, dan bila tidak selesai, akan dilanjutkan pada esok
malamnya. Biarpun tukang cerita itu tidak bisa membaca dan menulis, ia
tidak pernah membuat kesalahan dalam certanya. Sebab, ia sudah biasa
mendengar cerita-cerita itu sejak kecill dari ayahnya, dan datuknya yang
juga adalah tukang cerita. Mereka inilah yang dinamai sahibul hikayat.
Dan dengan berceritalah mereka mencari nafkah dari satu kampung ke
kampung lain. Kedatangan mereka selalu disambut oleh orang kampung.
Mereka juga selalu diberi upah.

20

Ibid., h.13.

16

Ceritanya selalu tentang istana yang indah-indah buatannya, raja yang
memerintah juga sangat besar kerajaannya, tetapi sayang sekali permaisuri
mandul. Karena itu baginda hidup dalam kesedihan.21 Cerita pelipur lara
ini biasanya berisi tentang kesedihan.
Cerita rakyat, sangat erat kaitannya dengan budaya sosial yang
berkambang pada saat karya itu lahir.karenasastra mempunyai fungsi sosial atau
manfaat yang tidak sepenuhnya bersifat pribadi. Hal ini senada dikatakan oleh
Rane wellek dan Austin Werren yang menyatakan bahwa “menyamakan sastra
dengan sejarah kebudayaan berarti menolak sastra sebagai bidang ilmu dengan
metodenya sendiri.”22 menurut pendapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa
wilayah sastra itu menyangkut legenda atau cerita sejarah yang telah dicampur
dengan rekaan atau fiksi.
Cerita rakyat disebut juga cerita mitos, dan mitos merupakan suatu usaha
yang timbul untuk mengakrabi alam. Hal ini senada yang diungkapkan oleh Prih
Suharto, dkk., “dalam batas-batas tertentu dapat kita katakan bahwa unsur mitos
yang bersifat fantastis itu merupakan cerminan usaha nenek moyang kita untuk
mengakrabi alam, yang dengan demikian juga berarti mengakrabi diri sendiri,
sekaligus sebagai menifestasi pengakuan mereka terhadap kebesaran Sang Maha
Pencipta.”23 Hal-hal semacam itu misalnya kita jumpai pada cerita-cerita rakyat.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa cerita rakyat merupakan
cerita rekaan atau dongeng-dongeng berisi nilai-nilai moral, yang berfungsi
sebagai usaha nenek moyang untuk menasehati keluarga maupun kerabatnya.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat sama
halnya seperti dongeng yang mengandung nilai dan pesan moral yang tersirat, dan
kaya akan nasihat. Tradisi lisan merupakan tradisi menyampaikan informasi,
pesan dan nasihat, dari mulut ke mulut. Cerita rakyat, merupakan tradisi lisan atau

21

Ibid., h.33.
Rane Wallek dan Austin Warren, op. cit., h. 12.
23
Prih Suharto dkk., Beberapa Cerita Bermotif Penjelmaan dalam Sastra Nusantara,
(Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1994), h.3.
22

17

dongeng yang tertulis. Cerita tersebut, mengandung ajaran tradisional yang
memiliki nilai budaya yang luhur.
5. Hakikat Multikulturalisme dan Pendidikan Multikultural
Andre Ata Ujan, dkk., mengatakan bahwa “multikulturalisme memiliki
dua arti di satu pihak merupakan suatu paham dan di lain pihak merupakan suatu
pendekatan yang menawarkan paradigma kebudayaan untuk mengerti perbedaanperbedaan yang selama ini ada di tengah-tengah masyarakat kita dan dunia.”24Jadi
multikulturalisme terdapat dua arti, arti pertama merupakan suatu faham,
sedangkan arti kedua adalah suatu pendekatan seorang manusia untuk memahami
bagaimana adanya keberagaman dan perbedaan-perbedaan yang selama ini hidup
ditengah-tengah masyarakat yang modern dan ditengah kondisi masyarakat yang
mengglobal.
Alfons

Taryadi

yang

dikutip

oleh

Andre,

mengatakan

bahwa

multikulturalisme itu terdiri dari lima jenis25yaitu,
1. multikulturalisme isolasionis, mengacu pada visi masyarakat sebagai
tempat kelompok-kelompok budaya yang berbeda, menjalani hidup
mandiri dan terlibat dalam saling interaksi, minimal sebagai syarat yang
niscaya untuk hidup saling bersama;
2. multikulturalisme akomodatif, mengacu pada visi masyarakat yang
bertumpu pada satu budaya dominan, dengan penyesuaian-penyesuaian
dan pengaturan yang pas untuk kebutuhan budaya minoritas;
3. multikulturalisme mandiri, mengacu pada visi masyarakat yang mencari
kesetaraan antara kelompok-kelompok besar dengan budaya yang
dominan, dan bertujuan untuk menempuh hidup mandiri dalam politik
kolektif yang dapat diterima;
4. multikulturalisme kritis atau interaktif, merujuk pada visi masyarakat
sebagai tempat kelompok-kelompok kultural yang kurang peduli terhadap
24

Andre Ata Ujan, dkk., Multikulturalisme: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan,
(Jakarta: PT Indeks, 2009),h.15.
25
Ibid.,

18

hidup mandiri dan lebih peduli dalam menciptakan suatu budaya kolektif
yang mencerminkan dan mengakui perspektif mereka yang berbeda-beda;
5. multikulturalisme kosmopolitan, mengacu pada visi masyarakat yang
berusaha menerobos ikatan-ikatan kultural yang membuka peluang bagi
individu yang tidak terikat pada budaya khusus, secara bebas bergiat
dalam eksperimen-eksperimen antarkultur dan mengembangkan satu
budaya milik mereka sendiri.
Andre mengatakan bahwa Masyarakat multikultural sebaiknya memiliki
sikap rendah hati, (mau menerima kenyataan), dan mengembangkan sikap hormat
akan keunikan masing-masing pribadi/kelompok dengan cara-cara berada mereka
masing-masing.26 Jadi apabila masyarakat tidak mau bersikap rendah hati dan
tidak menjung-jung tinggi rasa hormat terhadap keunikan dari perbedaan masingmasing individu. Maka yang terjadi setelah itu adalah pertentangan dan konflik
berkepanjangan terhadap suatu masyarakat dan bangsa.
Indonesia merupakan masyarakat majemuk karena bukan hanya memiliki
beraneka ragam corak kesukubangsaan dan kebudayaan secara horizontal, tetapi
juga secara vertikal, baik dari sisi kemajuan ekonomi, teknologi, dan organisasi
sosial politiknya. Rusmin mengatakan bahwa,
“para ahli menyatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia
mewujudkan diri sebagai suatu masyarakat yang majemuk, dan sudah
menjadi pokok perhatian dari para ahli untuk waktu yang lama. Dengan
kalimat mewujudkan diri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia
atau NKRI pada hakikatnya setiap kelompok, golongan, suku, agama dan
yang berbeda satu dengan yang lainnya melebur dan bersepakat
membentuk kesukubangsaan yang satu, yaitu bangsa Indonesia”.27
Untuk

itu

pendidikan

multikultural

untuk

mewujudkan

dan

mempraktikkan NKRI terhadap Negara Indonesia sangat urgen dilakukan oleh
para pendidik di Indonesia saat ini.

26

Ibid.,h.15.
Rusmin Tumanggor, dkk., Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, (Jakarta: Kencana,
2010),h.96.
27

19

Hal tersebut dikatakan pula oleh Robert W Hefner, dalam penelitiannya
yang mengungkap deskripsi sejarah masyarakat multikultural di wilayah Asia
Tenggara. Robert W. Hefner, mengatakan bahwa,
“Di Asia Tenggara memiliki sejarah mereka sendiri yang kaya dengan
kebhinnekaan dan partisipasi. Sama halnya dengan Barat, di zaman
pramodern tak satu pun dari masyarakat Asia Tenggara itu menetapkan
rumusan rumusan, yang oleh orang-orang yang berpikiran demokratis
sekarang ini akan diterima untuk mengoordinasikan kewarganegaraannya
dan menjembatani jurang yang dalam dari kotak-kotak kebudayaan.
Namun, elemen-elemen dari warisan yang lebih tua itu masih juga
melekat, dan setidak tidaknya, elemen-elemen terbaiknya harus dilibatkan
jika usaha-usaha untuk mempromosikan suatu pluralisme yang lebih
partisipatoris diharapkan akan disambut baik oleh aktor-aktor dan
organisasi-organisasi lokal”.28
Berdasarkan kutipan di atas dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia
telah lebih dahulu berinteraksi dengan multikulturalisme, melalui kebiasaan
ataupun profesi sabagian penduduknya yang bermatapencaharian sebagai
pedagang atau pelayar. Selain itu jauh sebelum masa kolonialisme datang
membawa faham demokrasi, dalam masyarakat Indonesia sudah terdapat berbagai
ras yang ada, ras tersebut adalah ras Indonesia (pribumi), ras cina, ras india dan
ras arab, yang kemudian membawa budaya Islam. Hal ini senada dikatakan oleh
Robert yang berpandangan tentang wilayah Asia Tenggara dengan kalimatnya
yaitu “di kawasan Asia Tenggara terdapat budaya yang lebih diterima dan
menghargai budaya lainnya yang masuk.”29
Pendapat senada diujarkan oleh George F. Mc Lean, yang dalam teorinya
mengatakan bahwa nilai agama yang berpayung (penyebaran agama secara
damai), akan memudahkan interaksi masyarakat terhadap lingkungan baru,
budaya dan etnik yang baru. Seperti kutipan George F. Mc Lean”in contrast, an
attitude of authentic religious openness appreciates the nature of one’s own
finiteness. On this basis it both respects the past and is open to discerning the
future. In other words, it is an acknowledgement that our religious and cultural
28

Robert W. Hefner (ed.), Politik Multikulturalisme, (Jogjakarta: Penerbit Kanisius,
2007), h.77.
29
Ibid.

20

heritage has something new to say us”.30 Isi kutipan tersebut mengandung arti
sebaliknya, sikap keterbukaan agama otentik menghargai sifat keterbatasan sendiri
seseorang. Atas dasar ini keduanya menghormati masa lalu dan terbuka untuk
membedakan masa depan. Dengan kata lain, itu adalah pengakuan bahwa warisan
agama dan budaya kita memiliki sesuatu yang baru untuk dikatakan.
Terdapat penelitian yang menarik dari Ronald Inglehart yang mengatakan
bahwa masyarakat yang berpenduduk berfaham multikultural lebih sejahtera dan
berpendapatan besar/ kaya dibandingkan masyarakat yang memiliki tingkat anti
toleran yang rendah, seperti kutipan di bawah ini
“Wilayah-wilayah budaya yang berbeda memang ada dan mereka
mempunyai konsekuensi sosial dan politik yang besar, serta membantu
membentuk fenomena penting mulai tingkat kesuburan hingga perilaku
ekonomi dan institusi-institusi demokrasi. Satu dimensi utama dari variasi
lintas budaya secara khusus penting bagi demokrasi. Masyarakat sangat
bervariasi dalam tingkatan penekanan masyarakat itu pada “nilai-nilai
peninggalan” atau “nilai-nilai ekspresi diri”. Masyarakat yang
menekankan pada nilai yang terakhir sepertinya akan lebih demokratis dari
pada masyarakat yang menekankan pada nilai-nilai peninggalan.
Pembangunan ekonomi tampaknya membawa perubahan berangsur-angsur
dari nilai-nilai peninggalan menuju nilai-nilai ekspresi diri, yang
membantu menjelaskan mengapa masyarakat yang lebih kaya lebih
mungkin untuk demokratis. Korelasi antara nilai peninggalan/ ekspresi diri
dan demokrasi sangat kuat . apakah keduanya berjalan seiring karena nilainilai ekspresi diri (yang menyertakan kepercayaan antarpribadi, toleransi
dan partisipasi dalam pembuatan keputusan). Fakta menunjukkan bahwa
hal ini lebih merupakan masalah budaya yang membentuk demokrasi
daripada sebaliknya.”31
Pernyataan tersebut beranggapan bahwa di dalam suatu masyarakat
terdapat nilai ekspresi, nilai ekspresi merupakan suatu nilai yang menyertakan
suatu kepercayaan anatar pribadi, toleransi dan partisipasi dalam pembuatan
keputusan. nilai ekspresi meliputi nilai saling menghargai, nilai tol

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1837 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 481 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 430 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 256 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 379 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 561 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 497 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 317 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 488 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 575 23