Motivasi Mahasiswai Melakukan Dugem

76 Matriks 4.1 Profil Informan No. Nama Usia Frekuensi Kunjungan Ke Kelab Malam Perilaku Dugem 1. Aji 21 2x seminggu Joget, mengobrol, minum alkohol, terkadang memakai vitaminobat, dan pernah melakukan sex selesai dugem. 2. Andri 20 2x seminggu Joget dan minum alkohol 3. Pratama 21 2x seminggu Minum alkohol, merokok, dan menggunakan inex. 4. Luis 23 1x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan obor, melakukan sex selesai dugem. 5. Dita 22 1x seminggu Minum juice, mendengarkan musik, dan joget. 6. Dino 22 Setiap hari Minum alkohol, menikmati musik, dan joget 7. Andi 21 1x seminggu Merokok dan joget. 8. Galih 21 1x seminggu Merokok, joget, dan menggunakan obor istilah lain dari inex. 9. Jack 23 1x seminggu Joget, minum soft drink, dan menikmati musik. 10. Dera 21 4x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan inex, melakukan sex selesai dugem. Sumber: Hasil penelitian 2016 data diolah

4.4 Motivasi Mahasiswai Melakukan Dugem

Motivasi merupakan salah satu aspek yang menentukan perilaku individu dalam masyarakat. Motivasi adalah dorongan kehendak yang membuat seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, pada umumnya mahasiswai melakukan perilaku dugem karena Universitas Sumatera Utara 77 motif yang beragam. Ada beberapa faktor yang menjadi motivasi mahasiswai menjadi penikmat dugem. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat mahasiswai melakukan perilaku dugem, penulis melakukan wawancara terhadap beberapa informan. Setiap orang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, bermacam-macam pertanyaan ada dalam pikiran seseorang, misalnya apa?, bagaimana?, mengapa?, dimana?, siapa? , dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat seseorang ingin tahu tentang sesuatu hal. Rasa ingin tahu yang besar ini membuat para mahasiswai ingin mencoba dan merasakan seperti apa jika berada di kelab malam. Yang menjadi motivasi mahasiswai untuk melakukan perilaku dugem adalah rasa ingin tahu. Ketika pertama kali mengenal dugem, tentunya mahasiswai memiliki pengalaman tersendiri yang mungkin sama atau berbeda satu sama lainnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap seorang informan, Aji 21 tahun: “… awalnya aku mengenal dugem sih udah lama, yaitu dari kelas 3 SMA. Aku pergi dugem itu karena aku merasa pensaran dan ingin tahu bagimana sih sebenarnya kegiatan dugem itu. Dan pengalaman pertama kali aku dugem itu aku merasa malu-malu dan gak pede, mau joget juga gak berani. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga, apalagi cewek-cewek di dalam kelab malam sexy-sexy jadi aku gak pernah bosen untuk pergi dugem…hehehe…”Hasil wawancara pada 16 Mei 2016. Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang informan yaitu Andi 21 tahun: “… awal aku kenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 19 tahun. Alasannya itu karena ingin tahu aja. Pertama kali dugem rasanya malu kali. Orang- orang pada joget dengan bebas, aku malah duduk dan diam karena malu-malu. Tapi lama-lama ya terbiasa aja…” Hasil wawancara pada 27 Mei 2016. Universitas Sumatera Utara 78 Dari kedua pernyataan informan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang menjadi motivasi mahasiswa melakukan perilaku dugem yaitu karena adanya rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut mendorong mahasiswa untuk melakukan dugem. Awalnya indvidu hanya ingin tahu dan minimal pernah mencoba dugem agar dibilang keren seperti yang diungkapkan oleh Andri. Namun ketika individu telah mencoba, individu malah semakin suka untuk pergi dugem. Rasa ingin tahu tersebut membuat individu merasa penasaran sehingga memaksa individu secara tidak sadar untuk mencoba dugem dan semakin suka untuk dugem. Yang menjadi motivasi mahasiswai melakukan dugem yaitu karena adanya ajakan teman. Masa remaja merupakan masa akan beralihnya ketergantungan hidup kepada orang lain. Dimana dalam masa ini remaja mulai menentukan jalan hidupnya. Selama menjalani pembentukan kematangan dalam sikap, berbagai perubahan kejiwaan terjadi, bahkan mungkin kegoncangan. Kondisi semacam ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal. Lingkungan sosial yang berupa lingkungan pergaulan antar sesama teman sebaya juga menjadi faktor yang memotivasi mahasiswai untuk melakukan dugem. Hal ini terungkap dari hasil wawancara dari salah satu informan, Galih 21 tahun: “…aku kenal dugem itu karena teman-teman yang ngajak aku dugem. Pengalaman pertama kali dugem itu ya taulah malu-malu. Aku suka dugem karena lampunya kelap-kelip, musiknya oke buat kepala geleng-geleng. Aku selalu pergi dugem sama teman rumah karena sama mereka lebih enak dan gak ada rasa malu kalo mau joget…” Hasil wawancara pada 30 Mei 2016. Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu informan Dita 22 tahun: “…aku pergi dugem pertama kali karena diajak sama teman dekatku yang cowok bisa dibilang pacar. Awalnya gak mau, tapi berhubung aku juga pengen tau tentang dugem ya aku ikut aja. Apalagi perginya bareng cowokku yang udah lama Universitas Sumatera Utara 79 aku kenal, jadi aku gak khawatir. Awal dugem ya malu, mau joget kaku banget nih badan, tapi karena sering diajak sama pacar ya jadi terbiasa aja buat joget. Aku kalo pergi dugem ya sama pacar dan teman-teman pacar yang kebetulan juga temanku, jadi ngerasa nyaman aja sama mereka…” Hasil wawancara pada 24 Mei 2016. Dari hasil wawancara dengan kedua informan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa individu mengenal dugem yaitu karena adanya ajakan dari teman- teman dekatnya. Berdasarkan pengamatan penulis, mereka yang sudah berpengalaman dugem lebih nyaman bila pergi bersama teman-temannya. Faktor yang memotivasi mahasiswai untuk dugem bukan karena kebutuhan terhadap hiburan atau hal lain yang menyangkut dugem, tetapi lebih kepada adanya hubungan dalam faktor pertemanan. Faktor pergaulan sangat mempengaruhi mahasiswai untuk melakukan perilaku dugem. Tidak hanya itu, motivasi mahasiswai melakukan dugem yaitu disebabkan dari pengaruh media massa. Peran media massa sebagai pengantar untuk mengetahui sebuah peristiwa dalam kehidupan sosial tidak dapat disangkal juga memotivasi para mahasiswai untuk melakukan perilaku dugem. Pengetahuan mahasiswai tentang perilaku “dugem” didapat melalui media massa berupa media cetak dan media elektronik. Media cetak dan media elektronik berperan untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat secara besar-besaran dalam jumlah wadah yang sangat banyak. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Luis 23 tahun: “…awal saya mengenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 20 tahun. Motivasinya selain karena adanya rasa penasaran terhadap dugem, tetapi juga karena televisi dan internet yang memberikan informasi tentang dugem. Di tivi kan sering tuh ada pergaulan anak-anak muda. Gimana anak-anak muda sangat menikmati kehidupan bebas dengan cara dugem. Karena alasan itu saya mencoba dugem…” Hasil wawancara pada 20 Mei 2016. Universitas Sumatera Utara 80 Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi yang canggih seperti internet mempermudah mahasiswai untuk mengakses informasi tentang “dugem”. Tayangan-tayangan dalam televisi mengenai pergaulan anak-anak muda mempengaruhi para mahasiswa melakukan dugem. Sebagian program tayangan di TV ini mempertontonkan life-style yang bersifat glamour yang bisa diakses seluruh penduduk Indonesia, khususnya bagi remaja yang menjadikan tayangan tersebut sebagai referensi dalam kehidupannya sehari-hari agar terlihat lebih glamour. Hubungan yang kurang hamonis di dalam keluarga broken home juga menjadi motivasi mahasiswai melakukan dugem. Broken home dapat digambarkan dengan keluarga yang berantakan atau kurang harmonis, dimana hubungan orang tua sudah renggang dan anak-anak kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua akibat perceraian menyebabkan anak-anak menjadi stress dan berujung pada pergaulan yang tidak baik. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Pratama 21 tahun: “…Jujur aja dulu saya tidak tahu masalah clubbing atau dugem. Saya tahunya ya dari teman-teman yang sama-sama bertempat tinggal dekat dengan rumah saya. Dan saya mengira kalo dugem itu cuma ngumpul bareng teman dan mendengarkan musik, tapi ternyata bukan hanya sekedar hal itu aja. Dan pada suatu ketika terjadi konflik keluarga antara ayah dan ibu saya, saat itu saya pusing mau ngapain. Pada akhirnya, teman saya mengajak saya ke salah satu kelab malam yaitu Elegant untuk dugem. Setelah itu, ok saya nurut aja sama teman saya, katanya asik bisa hilangin stress. Dan ketika saya dugem ternyata seru juga dan saya bilang kepada teman saya kayak gini, Wah seru juga dan musik yang dimainkan juga asik, kata saya kepada teman saya. Malam itu seakan tidak ada beban yang saya rasakan. Jadi setiap ada masalah di rumah atau saat saya lagi suntuk ya saya pergi dugem bersama teman- teman. Saya pergi dugem itu dua kali seminggu. Orang tua tau kalo saya suka dugem tapi mereka ya hanya sebatas peduli dengan memberi nasehat. Mereka tidak tahu Universitas Sumatera Utara 81 kalo sebenarnya saya tidak hanya butuh nasehat tapi saya juga butuh kasih sayang yang utuh kayak teman-teman yang orang tuanya gak cerai. Pokoknya saya ngerasa asik aja kalo dugem.” Hasil wawancara pada 19 Mei 2016. Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga yang tidak menjalankan fungsi keluarga secara baik maka berdampak buruk bagi anaknya. Anak mencari kesenangan di luar rumah karena disebabkan di dalam rumahnya sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya. Pratama bahkan lebih senang bila berada di luar rumah dan begadang bersama teman-temannya. Pratama mengakui bahwa bersama teman lebih nyaman daripada tinggal di rumah. Gaul juga menjadi motivasi mahasiswai melakukan dugem. Mila 2007, dugem merupakan suatu istilah trend dan menjadi sebuah gaya hidup yang digemari oleh kebanyakan remaja saat ini, karena menurut mereka dugem bisa menjadi sarana ekspresi untuk mencari jati diri. Dugem telah menjadi istilah yang familiar dan populer dikalangan remaja. Gaul adalah suatu istilah yang menjadi ciri khas bagi anak-anak muda. Agar kelihatan lebih gaulkerenanak jaman, seseorang harus mengikuti segala pergaulan layaknya pergaulan remaja-remaja luar negeri budaya Barat. Untuk menjadi seorang yang gaul yaitu harus bisa mencoba gaya hidup budaya Barat yang glamour. Alasan menjadi “anak gaul” ini menjadi faktor yang memotivasi individu untuk melakukan dugem. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Andri 20 tahun: “… awal aku kenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 19 tahun. Alasannya itu karena ingin tahu aja. Awalnya sih aku hanya coba-coba atau minimal pernah coba biar keliatan lebih keren dan gaul. Kalo gak coba nanti diejek cupu atau gak gaul. Pertama kali masuk kelab malam, serasa kayak orang katrok sendiri. Tapi lama-lama ya terbiasa aja. Menurutku dugem itu suatu perilaku yang wajar yang Universitas Sumatera Utara 82 harus dicoba oleh anak muda, karena dugem itu asyik…” Hasil wawancara pada 18 Mei 2016. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dera 21 tahun: “…aku kenal dugem karena diajak teman kost ku. Awalnya aku gak mau ikut. Tapi karena dia bilang aku gak gaul, yaudah deh aku ikut aja. Aku juga gak maulah dibilang cewek kuper. Gak enak aja kalo dibilang cewek kuper dan gak gaul. Aku juga liat kalo temanku ini gaya hidupnya glamour banget, dan aku juga mau kayak dia, biar keren, high class, bergengsi…” Hasil wawancara pada 08 Agustus 2016. Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa apabila individu tidak melakukan perilaku dugem, maka akan dianggap cupu. Sementara jika individu pergi dugem, maka dianggap gaul. Selain itu bagi anak muda yang sudah melakukan perilau dugem, hampir bisa dipastikan mendapat “label” buruk dari masyarakat, walaupun di kelab malam tersebut individu hanya duduk dan menikmati orange juice atau soft drink. Sementara bagi remaja khususnya mahasiswa, ada yang menilai bahwa menjadi anak gaul harus kenal dugem atau minimal pernah mencoba. Apabila belum pernah dugem berarti dianggap tidak “gaul”, “katrok kampungan”, “cupu”, “kuper”. Akibatnya banyak anak muda yang tersugesti untuk melakukan dugem. Hal ini menyebabkan remaja khususnya para mahasiswa melakukan dugem. Jauh dari orang juga merupakan faktor yang memotivasi mahasiswai untuk melakukan perilaku dugem. Kost merupakan pilihan yang harus dipilih oleh mahasiswai untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi yang jauh dari kotanya atau daerah tempat tinggalnya. Mahasiswai yang nge-kost merupakan mahasiswai yang bebas untuk melakukan segala hal karena tidak adanya pengawasan dari orang tua. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap Jack 23 tahun: “…aku kan tinggalnya di kost jadi orang tua tidak tau kalo tiap minggu aku dugem. Orang tua hanya tau aku kuliah baik-baik di Medan. Apalagi kan sekarang Universitas Sumatera Utara 83 tinggal nyusun skripsi, jadi waktu kosong ku banyak. Kadang aku nongkrong sama teman di cafe dan biasanya aku sama teman-teman pergi dugem setiap minggu. Dulu waktu aku semester 3, aku tinggal sama keluarga dari bapakku. Tapi gak enak karena gak bebas. Kalo ngekost kan enak karena bebas, mau pulang jam berapa aja pun gak ada yang marah. Mau aku dugem pun gak ada yang marah dan gak ada yang larang. Tapi meski gitu ya tetap jugalah bagus-bagus kuliahku, aku pun gak mau ngecewain orang tua ku…” Hasil wawancara pada 2 Mei 2016. Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang mengawasi individu saat meluangkan waktunya pergi dugem bersama temannya. Individu merasa bebas saat ngekost dan tidak ada yang melarangnya. Meskipun individu tinggal ngekost dan jauh dari orang tua, namun individu tetap memikirkan aktivitas perkuliahannya. Individu masih memiliki sikap untuk tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Faktor ekonomi juga menjadi penyebab mahasiswai melakukan dugem. Banyak orang yang mengartikan bahwa dunia malam adalah dunia yang berkaitan dengan hal-hal negatif seperti penggunaan narkoba, seks, dan lain sebagainya. Namun bagi beberapa orang, khususnya informan yang penulis wawancarai menganggap bahwa dugem tidak harus berkaitan dengan hal negatif. Misalnya seseorang yang bekerja sebagai bartender di kelab malam. Tempat hiburan malam seperti kelab malam hanya sebagai tempat mencari nafkah dan untuk mengembangkan keahliannya sebagai bartender dan sebagai mahasiswa yang mengambil jurusan di bidang makanan di Akademi Pariwisata Negeri Medan. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan Dino 22 tahun: “…Yang membuat saya tertarik pergi dugem yaitu karena saya suka melihat aksi bartender yang melakukan jugling. Aksi dari bartender tersebut membuat saya terpukau. Bagi saya itu adalah hal yang keren dimana bartender dituntut untuk melakukan aksi jugling dalam meracik minuman. Karena hal itulah saya tertarik Universitas Sumatera Utara 84 untuk bekerja sebagai bartender dan itu juga yang membuat saya mengambil jurusan di bidang makanan. Dan ya karena saya bekerja sebagai bartender maka saya tiap hari dugem.Itu aja sih…” Hasil wawancara pada 25 Mei 2016. Matriks 4.2 Motivasi Mahasiswa Melakukan Dugem No. Nama Informan Pengenalan Terhadap Dugem Motivasi Melakukan Dugem Faktor Internal Faktor Eksternal 1. Aji Sejak kelas 3 SMA umur 18 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman 2. Andri Sejak kuliah umur 19 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman, ingin kelihatan gaul, media massa berupa televisi 3. Pratama Sejak SMA umur 18 tahun Penasaran Ajakan teman dan broken home 4. Luis Sejak kuliah umur 20 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman, media masssa televisi dan internet 5. Dita Sejak kelas 2 SMA umur 17 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman 6. Dino Sejak kelas 3 SMA umur 18 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman dan televisi, faktor ekonomi 7. Andi Sejak kuliah umur 19 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman 8. Galih Sejak kuliah umur 20 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman 9. Jack Sejak kelas 2 SMA umur 19 tahun Penasaran Ajakan teman dan jauh dari orang tua Universitas Sumatera Utara 85 ngekost 10. Dera Sejak kuliah umur 20 tahun Rasa ingin tahu Ajakan teman, agar gaul, dan faktor ekonomi Sumber: Hasil Penelitian 2016 data diolah

4.5 Usaha yang Dilakukan Agar Tujuan Dugem Tercapai