12
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Konsep Perilaku
Perilaku adalah setiap cara, reaksi atau respon manusia atau makhluk hidup terhadap lingkungannya. Dengan kata lain, perilaku adalah aksi, reaksi terhadap
rangsangan. Perilaku adalah suatu tindakan rutin dilakukan oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi ataupun kehendak untuk mencapai suatu
tujuan yang diinginkannya dan hal itu mempunyai arti baginya. Baron Byrne Rusli Ibrahim, 2011, perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap
orang lain. Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, atau rasa hormat terhadap orang lain.
Perilaku sosial juga diartikan sebagai tindakan sosial. Dalam hal ini Max Weber mengartikan tindakan sosial sebagai seorang individu yang dapat
mempengaruhi individu-individu lainnya dalam masyarakat dalam bertindak atau berperilaku. Individu hendaknya memperhitungkan keberadaan individu lainnya
dalam masyarakat, hal ini perlu diperhatikan mengingat tindakan sosial menjadi perwujudan dan hubungan atau perilaku sosial.
2.2 Dugem
Awal munculnya hiburan malam di mulai dari manusia mengenal musik. Musik adalah beberapa nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga
mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Musik merupakan bagian dari kebudayaan yang terus berkembang sepanjang waktu. Tempat dugem pun muncul
ketika musik disco sedang booming sedang hangat-hangatnya. Musik disco adalah
Universitas Sumatera Utara
13
gaya dalam musik pop yang lincah dan digemari oleh remaja.
http:repository.usu.ac.idbitstream123456789405923Chapter20II.pdf. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, sebenarnya tidak ada istilah dugem. Dugem
adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata yaitu dunia gemerlap. Istilah ini menjadi sangat terkenal di Indonesia seiring dengan kebutuhan para eksmud
eksekutif muda untuk menyeimbangkan diri dari tumpukan emosi dan rutinitas pekerjaan di kantor dan bisnis yang dikelolanya sendiri
http:binjainewstoday.blogspot.co.id201009normal-0-false-false.html?m=1. Menurut Divana Perdana 2003, dugem adalah sebagai suatu istilah prokem
yang merujuk pada suatu dunia malam yang bernuansa kebebasan, ekspresif, modern, teknologis, konsumeristik dan metropolis yang menjanjikan segala bentuk
kegembiraan sesaat. Dugem adalah kebiasaan sebagian besar orang yang gemar menghabiskan waktu malamnya untuk berpesta pora dengan teman atau pasangannya
yang dilakukan dengan berbagai suguhan menu makanan dan minuman beralkohol. Menurut Gerungan Perdana, 2003, faktor utama yang menyebabkan remaja
untuk dugem adalah kaum remaja yang memliki status ekonomi yang cukup baik. Hal ini terlihat dari kebutuhan-kebutuhan material financial yang menopang
aktivitas dugem yang jelas membutuhkan dana yang besar. Mulai dari kebutuhan kostum, properti, kendaraan, hingga perangkat di dugem itu seperti minuman keras
atau narkoba. Mila Budi Utami 2007, dugem merupakan suatu istilah trend dan menjadi
sebuah gaya hidup yang digemari oleh kebanyakan remaja saat ini, karena menurut mereka dugem bisa menjadi sarana ekspresi untuk mencari jati diri. Dugem telah
menjadi istilah yang familiar dan populer dikalangan remaja. Munculnya dugem
Universitas Sumatera Utara
14
bermula dari faktor internal pelaku, didukung oleh informasi dari media massa dan lingkungan pergaulan remaja.
Dugem atau dunia gemerlap merupakan istilah popular untuk menunjukkan gaya hidup masyarakat perkotaan pada akhir pekan. Kegiatan dugem yang dibuat
dengan suasana meriah dengan sorotan lampu dan suara musik yang keras menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmatnya. Dugem biasanya dilakukan di diskotik, kelab
malam, pub, dan lain-lain. Rokok, narkoba dan minuman beralkohol sudah menjadi bagian dari dugem itu sendiri, bahkan dugem juga tidak dapat lepas dari seks bebas.
Pada umumnya yang gemar mengunjungi atau tempat-tempat hiburan malam adalah kaum lelaki, karena di tempat inilah mereka dapat merasa enjoy dengan
musik, minuman, dan banyak wanita yang berpakaian sexy. Wanita-wanita yang datang ke diskotik biasanya akan mengenakan pakaian yang sexy. Rok mini, baju
ketat, baju tanpa lengan, dan sepatu high hills akan menjadi pemandangan yang biasa di dalam diskotik. Wanita-wanita yang ada di tempat hiburan malam seperti kelab
malam juga sepertinya sudah terbiasa dengan rokok dan minuman keras, karena mereka juga tidak merasa segan atau takut untuk merokok dan minum.
Pesatnya perkembangan teknologi memudahkan setiap masyarakat untuk mengakses informasi yang berkenaan dengan dugem. Beberapa tayangan televisi
misalnya kerap menampilkan budaya serta kehidupan ala barat, sehingga perlahan- lahan masyarakat mengikuti gaya hidup tersebut. Ironisnya lagi, siaran televisi yang
ditayangkan menggambarkan kehidupan malam yang penuh dengan hedonisme, hura-hura, pergaulan bebas, sehingga remaja memiliki keinginan untuk mencoba
kehidupan malam.
Universitas Sumatera Utara
15
2.3 Remaja