Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa/I di Kota Medan dengan Teori Tindakan Sosial Talcott Parsons

(1)

LAMPIRAN

1. Draft Wawancara

Nama :

Umur :

Jenis Kelamin : Kuliah di Universitas : Pekerjaan Orang Tua :

1. Dari mana anda mengenal kegiatan dugem?

2. Dari tahun berapa dan umur berapa anda mengenal kegiatan dugem? 3. Jelaskan alasan pertama kali anda melakukan kegiatan dugem? 4. Bagaimana pengalaman anda saat pertama kali dugem?

5. Berapa kali dalam seminggu anda pergi dugem? 6. Apa yang menjadi motivasi anda untuk sering dugem? 7. Siapa yang anda ajak untuk menemani anda pergi dugem? 8. Apa yang anda rasakan saat anda sering dugem?

9. Berapa biaya yang anda bawa untuk dugem?

10.Usaha apa yang anda lakukan jika anda tidak memiliki uang untuk pergi

dugem?

11.Berapa biaya yang anda habiskan untuk dugem? 12.Apa yang menjadi tujuan anda dugem?

13.Perilaku apa saja yang anda lakukan saat dugem?

14.Apa anda menggunakan obat- obatan seperti narkoba dan minuman beralkohol saat dugem?

15.Dari mana anda mengenal obat- obatan seperti narkoba dan minuman beralkohol?


(2)

16.Bagaimana tanggapan teman anda apabila anda menolak saat teman

menyarankan untuk menggunakan obatan terlarang dan minuman beralkohol? 17.Bagaimana tanggapan teman anda jika anda menolak pergi dugem bersama

mereka?

18.Mengapa anda memilih kelab malam Entrance/ Elegant/ New Zone? 19.Jam berapa anda pergi dan pulang dari aktivitas dugem?

20.Anda pergi kemana selesai dugem? 21.Apa anda merasa puas saat anda dugem? 22.Bagaimana fashion anda saat pergi dugem? 23.Apakah anda melakukan sexafter dugem? 24.Dengan siapa anda melakukan dugem?

25.dugemtidak menganggu aktivitas perkuliahan anda?

26.Apakah dugem mempengaruhi nilai akademik anda diperkuliahan? 27.Apakah keluarga anda mengetahui kegiatan dugem yang anda lakukan? 28.Bagaimana reaksi keluarga anda terhadap aktivitas dugem anda?

29.Perilaku dugem merupakan perilaku yang negatif bagi masyarakat, menurut anda apakah perilaku dugem yang anda lakukan bersifat negatif atau positif? 30.Menurut Anda dugem itu apa?

2. Profil Informan

1. Nama : Aji (Nama Samaran)

Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : PNS


(3)

Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta

3. Nama : Pratam (Nama Samaran)

Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : PNS

4. Nama : Luis (Nama Samaran)

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta

5. Nama : Dita (Nama Samaran)

Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : PNS

6. Nama : Dino (Nama Samaran)

Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Negeri Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta


(4)

Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta

8. Nama : Galih (Nama Samaran)

Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta

9. Nama : Jack (Nama Samaran)

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki Universitas : Negeri Pekerjaan Orang Tua : PNS

10.Nama : Dera (Nama Samaran)

Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan Universitas : Swasta Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta

11.Nama : Bapak Bagindo Uno Harahap Jenis Kelamin : Laki-laki

Pekerjaan : PNS di Disbudpar Medan 12.Nama : Ibu Dewi

Umur : 48 tahun


(5)

Pekerjaan : Ibu rumah tangga 13.Nama : Ibu Santi

Umur : 42 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : PNS

3. Dokumentasi Foto

Gambar 1.1 Lobby Entrance Gambar 1.2 Table di Entrance

Gambar 1.3Dugemers yang menari di hall Gambar 1.4 Brosur sebagai event yang diadakan di Entrance


(6)

Gambar 1.6 Pratama yang lagi dugem di Elegant KTV

Gambar 1.4 Elegant KTV Gambar 1.5 Salah satu room KTV yang terdapat di Elegant


(7)

Gambar 1.8 Screen shot dari aplikasi BBM yang dimiliki oleh Dera. Dera di ajak temannya untuk dugem di Elegant

Gambar 1.9 Screen shot BBM milik Dera yang melakukan negosiasi dengan salah satu kenalannya.


(8)

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M, & Asrori, M. 2005. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik). Jakarta: Bumi Aksara.

Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Dirdjosisworo, Soedjono. 1996. Esensi Moralitas Dalam Sosiologisme: Studi

Tentang Korelasi Sosiologi, Psikologi dan Filsafat Dari Emile Durkheim, Talcott Parsons, dan Pakar-Pakar Sosiologi Terkemuka Lainnya. Bandung:

Mandar Maju.

Furchan, Arief. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha Nasional.

Hurlock, E. B. 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang

Rentang Kehidupan (5 th ed). Jakarta: Erlangga.

Moleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.

Monk, F. J, dkk. 1996. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai

Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

P. Johnson, Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Diterjemahkan oleh Robert M. Z. Lawang. 1994. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Perdana, G. A. Divana. 2004. Ekpresi, Cinta, Sex, dan Jati Diri. Yogyakarta: Divana Press.


(9)

Peter Beilharz. 2002. Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosof

Terkemuka. Jakarta: Salemba Humanika.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2013. Sosiologi Ilmu Pengetahuan

Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Pers.

Sarwono, Sarlito W. 2003. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press.

Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.

Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Mengenai Kesejahteraan Anak.

Veeger, K. J. 1993. Realitas Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Wirawan, I. B. 2012. Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Definisi

Sosial, & Perilaku Sosial. Jakarta: Kencana.

Sumber Skripsi

Budi Utami, Mila. 2007. Gaya Hidup Dugem di Kalangan Mahasiswa di

Yogyakarta: Studi Kasus Tentang Ekspresi Gaya Hidup dan Keberagaman Mahasiswa Pelaku Dugem di Yogyakarta. Yogyakarta: Skripsi Universitas

Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Liyansyah, Muhammad. 2009. Dugem Gaya Hidup Para Clubbers: Studi Deskriptif

Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective. Medan: Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara.

Yuliancella, Dessy. 2015. Perilaku Seks Bebas Sebagai Implikasi Dari Gaya Hidup

Dugem (Dunia Gemerlap) Pada Mahasiswa di Semarang. Semarang:


(10)

Sumber Internet

Kamus Besar Bahasa Indonesi Maret 2016, pada pukul 13.08 WIB.

Kamus Besar Bahasa Indonesi Maret 2016, pada pukul 14.00 WIB.

Kamus Besar Bahasa Indonesia.http://kbbi.we.id/mahasiswa diakses pada tanggal 28

Maret 2016, pada pukul 14.10 WIB.

pada tanggal 01 Februari 2016, pukul 18.23 WIB.

Jumibe. 2012. Dunia Malam Sebagai Gaya Hidup dan Pengaruhnya Terhadap Anak Muda di Yogyakarta.

Kamus Besar Bahasa Indonesai April 2016, pada pukul 12.25 WIB.

diakses pada tanggal 19 April 2016, pada pukul 20.50 WIB.

Parahita, Gilang Desti. 2008. 70 Persen Mahasiswa Penikmat Dugem.


(11)

pada tanggal 03 Mei 2016, pada pukul 13.00 WIB

pada tanggal 05 Mei 2016, pada pukul 20.00 WIB.


(12)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif dan menggunakan paradigma sosiologi yaitu paradigma definisi sosial. Metode kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan data, ucapan, tulisan dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek) itu sendiri (Arief Furchan, 1992). Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang berusaha menggambarkan, memahami, dan menafsirkan makna suatu peristiwa tingkah laku manusia dalam situasi tertentu serta menginterpretasikan objek sesuai dengan apa adanya (Moleong, 2006: 46).

Menurut Veeger (1993) dalam I. B Wirawan (2012), paradigma definisi sosial adalah paradigma dimana dalam merancang atau mendefinisikan makna dari interaksi sosial, individu dilihat sebagai pelaku tindakan yang bebas tetapi bertanggung jawab. Menurut paradigma ini, hakikat dari realitas sosial lebih bersifat subjektif dibandingkan objektif yang menyangkut keinginan dan tindakan individual. Dengan kata lain, realitas sosial itu lebih didasarkan kepada definisi subjektif dari pelaku-pelaku individual.

Data deskriptif dapat dilihat sebagai indikator bagi norma-norma dan nilai-nilai kelompok serta kekuatan sosial lainnya yang menyebabkan atau menentukan perilaku manusia. Dengan demikian peneliti akan memperoleh data atau informasi lebih mendalam mengenai analisis perilaku dugem mahasiswa/i di Kota Medan dengan teori tindakan sosial Talcott Parsons.


(13)

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kota Medan tepatnya di Kelab Malam Entrance Music Temple, Elegant KTV, dan New Zone. Alasan peneliti memilih lokasi ini karena:

1. Entrance Music Temple di Jalan Balai Kota No.1, Grand Aston City Hall Medan.

Tempat hiburan ini merupakan tempat yang cukup elit dan banyak didatangi sebagian mahasiswa kalangan ekonomi ke atas dan kelab malam ini sering mengundang DJ kalangan artis. Untuk harga makanan dan minuman yang ada di Entrance juga termasuk kategori mahal.

2. Elegant KTV di Jalan Gatot Subroto Medan.

Nama Elegant KTV di Jalan Gatot Subroto Medan tidak asing lagi bagi para pecinta dunia gemerlap. Elegant KTV adalah kelab malam yang menjadi favorit bagi sebagian mahasiswa dari kalangan lapisan ekonomi menengah. Di lokasi ini, pengunjung cukup ramai mulai dari siang hari hingga malam hari.

3. New Zone di Jalan Wajir Medan.

New Zone di Jalan Mangkubumi atau nama jalan barunya di Jalan Wajir, Medan Maimun memang termasuk salah satu kelab malam terfavorit yang banyak dikunjungi oleh mahasiswa/i yang berasal dari kalangan lapisan ekonomi bawah di Medan.


(14)

3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian

atau keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis atau objek kajiannya adalah mahasiswa/i yang melakukan perilaku dugem di Kota Medan yaitu di Kelab Malam Entrance Music Temple, Elegant KTV, dan New Zone.

3.3.2 Informan

Peneliti memilih informan dengan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah salah satu teknik menentukan informan yang paling

umum di dalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah penelitian tertentu. Ukuran sampel purposif sering kali ditentukan atas dasar teori kejenuhan (titik dalam pengumpulan data saat data baru tidak lagi membawa wawasan tambahan untuk pertanyaan penelitian). Namun informan berikutnya akan ditentukan bersamaan dengan perkembangan review dan analisis hasil penelitian saat pengumpulan data berlangsung (Bungin, 2007).

Pemilihan informan tidak selalu wakil dari seluruh objek penelitian, tetapi yang penting informan memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu menjelaskan masalah penelitian. Informan penelitian diperoleh melalui key person karena peneliti sudah memahami informasi awal tentang objek penelitian maupun informan penelitian, sehingga hanya membutuhkan key person untuk melakukan wawancara atau observasi.


(15)

Adapun kriteria informan dalam penelitian ini adalah:

1. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i,

2. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i yang berumur 18-24 tahun,

3. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i dengan frekuensi kunjungan ke kelab malam tersebut minimal satu kali dalam seminggu.

Dalam penelitian ini ditentukan dua jenis informan, yaitu: 1. Informan Kunci

Informan kunci dalam penelitian ini adalah para mahasiswa/i yang melakukan perilaku dugem yang berumur 20-23 tahun dan melakukan aktivitas dugem minimal satu kali dalam seminggu. Dalam penelitian ini, mahasiswa/i yang menjadi informan kunci sebanyak 10 orang yaitu Aji, Andri, Pratama, Luis, Dita, Dino, Andi, Galih, Jack, Dera.

2. Informan Biasa

Informan biasa dalam penelitian ini bisa siapa saja yang dianggap sesuai dan bisa dijadikan sebagai informan. Dalam penelitian ini yang menjadi informan biasa adalah para personil manajemen dari tiga kelab malam yaitu Entrance, Elegant, dan New Zone sebanyak 3 orang meliputi 1 karyawan kelab malam Entrance, 1 karyawan Elegant, dan 1 karyawan New Zone, Kasi Hiburan Bidang ODTW Disbudpar Medan yaitu Bapak Bagindo Uno Harahap, Ibu Dewi, dan Ibu Santi.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar mendapat kesesuaian peneliti dengan fokus dan kebutuhan


(16)

peneliti dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik pengumpulan data primer adalah peneliti melakukan kegiatan

langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan yang menyeluruh terhadap gejala-gejala sosial yang dilihat dilapangan. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data peneliti melalui pengamataan dan penginderaan (Bungin, 2007). Metode observasi yang dilakukan penulis yaitu semi-partisipasi yaitu penulis terlibat langsung dengan sebagian kegiatan dugem yang dilakukan oleh mahasiswa/i. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk mengamati situasi sosial yang berhubungan dengan mahasiswa/i yang melakukan perilaku

dugem, seperti karakteristik fisik dan perilaku-perilaku yang dilakukan mahasiswa/I

saat dugem.

2. Wawancara Mendalam

Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap secara langsung antara pewawancara dengan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama. Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam kehidupan informan (Bungin, 2007). Para informan yang dijadikan sumber data yaitu mahasiswa/i di Kota Medan yang melakukan aktivitas dugem. Untuk mendapatkan


(17)

informasi, penulis melakukan wawancara secara mendalam terhadap para informan dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Dari wawancara secara mendalam tersebut penulis mendapatkan data berupa faktor yang menjadi motivasi mahasiswa/i melakukan dugem, usaha-usaha yang dilakukan mahasiswa/i untuk pergi dugem, dan tujuan mahasiswa/i melakukan perilaku dugem.

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data yang diperoleh dari buku-buku ilmiah, jurnal ilmiah, dan situs-situs internet yang dianggap relevan dengan masalah yang diteliti.

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan suatu tahap pengolahan data, baik itu data primer dan data sekunder yang telah didapatkan dari catatan lapangan. Analisa data merupakan proses menganalisis suatu fenomena sosial dan memperoleh gambaran yang tuntas terhadap fenomena yang diteliti dan kemudian menganalisis makna yang ada di balik informasi dan proses suatu fenomena sosial.

Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh dari setiap informasi baik secara pengamatan, wawancara ataupun catatan-catatan lapangan,dipelajari dan ditelaah kemudian tahap selanjutnya adalah mereduksi data yaitu melalui pembuatan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti. Langkah selanjutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan. Satuan-satuan ini diseleksi dan dikategorikan. Berbagai kategori tersebut dikaitkan satu dengan yang lainnya dan diinterpretasikan secara kualitatif, yaitu proses pengolahan data


(18)

dimulai dari tahap mengedit data sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti, kemudian diolah secara deskriptif berdasarkan penelitian yang ada dilapangan.

3.6 Jadwal Kegiatan

No. Kegiatan Bulan Ke -

1 2 3 4 5 6 7 8 9

1 Pra Observasi 

2 ACC Judul Penelitian 

3 Penyusunan Proposal   

4 Seminar Desain Penelitian

5 Revisi Proposal Penelitian

6 Penelitian Ke Lapangan   

7 Pengumpulan dan Interpretasi Data  

8 Bimbingan Skripsi   

9 Penulisan Laporan Akhir   

10 Sidang Meja Hijau 

3.7 Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan dalam penelitian adalah adanya kesulitan untuk mendapatkan hasil w awancara yang benar-benar jujur dari informan. Mengingat penelitian ini menyangkut dengan perilaku dugem mahasiswa, ada beberapa keterbatasan yang ditemukan dalam penelitian ini antara lain:

1. Penelitian tentang perilaku dugem mahasiswa/i khususnya wawancara yang terkait dengan penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku sex setelah

dugem sangat sulit diperoleh.

2. Pada saat observasi, banyak mahasiswa/i yang dugem di kelab malam Entrance, Elegant, dan New Zone tidak bersedia untuk dijadikan sebagai


(19)

informan dan tidak bersedia untuk memberikan identitas sehingga menyulitkan penulis untuk menambah jumlah informan yang diperlukan dalam penelitian.

3. Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup kemampuan dan pengalaman yang dimiliki oleh penulis untuk melakukan penelitian ilmiah. Penulis menyadari bahwa pengalaman dan pengetahuan penulis terkait kehidupan dunia malam masih sedikit. Walaupun demikian, penulis berusaha melakukan semaksimal mungkin agar data tentang perilaku dugem mahasiswa/i di Kota Medan diperoleh dan dianalisis dengan menggunakan teori tindakan sosial Talcott Parsons.


(20)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Deskripsi Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Kota Medan

Kota Medan merupakan salah satu daerah otonom berstatus kota di Provinsi

Sumatera Utara. Kedudukan, fungsi, dan peranan Kota Medan cukup penting dan strategis secara regional. Bahkan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Kota Medan digunakan sebagai barometer dalam pembangunan dan penyelenggaraan pemerintah daerah. Kota Medan merupakan kota yang termasuk dalam kategori kota metropolitan. Kota Medan terdiri dari Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21 kecamatan dan 151 kelurahan. Kecamatan yang terdapat di Kota Medan yait


(21)

4.1.1.1Keadaan Geografis Kota Medan

Kota Medan terletak antara 3º.27’-3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’-98º.44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah, Selatan, Barat dan Timur, sementara di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka. Kota Medan merupakan salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera Utara.Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli.

4.1.1.2Keadaan Demografi Kota Medan

Penduduk Kota Medan memiliki ciri penting yaitu yang meliputi unsur agama, suku etnis, budaya dan keragaman (plural) adat istiadat. Hal ini memunculkan karakter sebagian besar penduduk Kota Medan bersifat terbuka. Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam suku atau etnis. Sebelum kedatangan bangsa asing ke wilayah Medan yang merupakan bagian dari wilayah Sumatera Timur pada saat itu, penduduk Kota Medan masih dihuni oleh suku- suku asli, seperti Melayu, Simalungun, dan Karo. Namun, seiring dengan hadir dan berkembangnya perkebunan tembakau di Sumatera Timur maka demografi penduduk Medan berubah dengan hadirnya suku-suku pendatang seperti Jawa, Batak Toba, Cina, dan India. Suku-suku pendatang itu tinggal dan menetap dan telah bercampur baur dengan penduduk asli sehingga Kota Medan saat ini dihuni oleh berbagai macam etnis, seperti Melayu, Simalungun, Batak Toba, Mandailing, Cina, Angkola,


(22)

Karo, Tamil, Benggali, Jawa, dan lain sebagainya. Suku-suku yang ada di Kota Medan ini hidup secara harmonis dan toleran antara satu suku dengan yang lain.

Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mengindahkan kelestarian sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran penduduk tercapai optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk yang optimal, berdasarkan pada adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Persebaran penduduk yang tidak didukung oleh lingkungan dan pembangunan akan menimbulkan masalah sosial yang kompleks, dimana penduduk menjadi beban bagi lingkungan maupun sebaliknya.

Adapun Tabel Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kota Medan Tahun 2009- 2013 dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2009- 2013

Tahun Luas Wilayah (Km2)

Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk

2009 265, 1 2.121.053 8.001,00

2010 265, 1 2.097.610 7.913,00

2011 265, 1 2.117.224 7.987,00

2012 265, 1 2.122.804 8.007,56

2013 265, 1 2.135.516 8.055,51

Sumber data: BPS Kota Medan.

Dari data tabel 4.1 di atas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2010 jumlah penduduk menurun sebanyak 23.443 jiwa dari tahun 2009. Pada tahun 2011 jumlah penduduk meningkat sebanyak 19.614 jiwa dari tahun 2010. Pada tahun 2012 jumlah penduduk meningkat sebesar 5.580 jiwa dari tahun 2011. Pada tahun 2013, jumlah


(23)

penduduk meningkat sebanyak 12.712 jiwa. Meski jumlah penduduk mengalami penurunan dari tahun 2009 sampai 2010, namun dari tahun 2010 sampai tahun 2013, jumlah penduduk mengalami peningkatan.

4.1.2 Tempat Hiburan Malam Yang Menjadi Lokasi Penelitian

Di Kota Medan, keberadaan hiburan malam berawal dari keinginan warga kota yang haus akan hiburan akibat aktivitas dan rutinitas kehidupan yang sangat padat sekaligus simbol pergaulan ala metropolitan. Saat itu beberapa kawasan yang menjadi simbol hiburan di Kota Medan adalah meliputi Jalan Pemuda, Jalan Padang Bulan, Jalan Ahmad Yani, Jalan di sekitar Bundaran Majestyk menuju arah Jalan Nibung Raya yang dikenal dengan daerah ekspresi kebebasan bagi warga Kota Medan khususnya Jalan Nibung Raya yang berkonotasi sebagai gambaran kehidupan malam dengan berbagai hiburan didalamnya. Hal ini ditandai dengan berdirinya Diskotik Super pada tahun 1980. Kawasan ini berada di tengah Kota Medan, persisnya di Kecamatan Medan Petisah. Selain itu, sekitar tahun 1980-an sampai 1990-an tempat hiburan malam di Kota Medan di kenal sebagai tempat yang sarat akan kejahatan, perempuan binal, mafia-mafia dan bos-bos besar yang ingin mencari kesenangan

Lokasi tempat hiburan malam yang telah penulis teliti sebagai fokus penelitian ini, mengambil tiga lokasi tempat yaitu Entrance yang beralamat di Jalan Balai Kota No.1, Grand Aston City Hall Medan, Elegant KTV yang beralamat di Jalan Gatot Subroto Medan, dan New Zone di Jalan Wajir Medan. Berdasarkan hasil observasi ketiga tempat ini merupakan tempat dimana memiliki pengunjung yang memiliki segi perbedaan umur, misalnya di Entrance dan Elegant KTV para


(24)

pengunjung atau dugemers lebih didominasi oleh pengunjung yang berumur 20 tahun ke atas baik yang berstatus sebagi mahasiswa maupun orang-orang yang sudah bekerja. Sedangkan di New Zone didominasi dari kalangan ABG (Anak Baru Gede) sampai mahasiswa S1 tingkat semester pertengahan.

4.1.2.1Kelab Malam Entrance

Entrance Music Temple merupakan salah satu kelab malam yang berada di

Kota Medan tepatnya di dalam bagian Hotel Grand Aston City Hall Medan di Jalan Balai Kota No. 1, Medan. Entrance sebagai usaha pariwisata memiliki Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata 503/873/SK/LUP.DU/BIS/MBRT/2013/14 Nov 2013. Pada tahun 2010 Kelab Malam Entrance Kota Medan mendapat penghargaan yaituThe Sumatera Best Club of The Year Redma 2010dan #3 Best Club

of The Year Redma 2011. Kelab malam Entrance Medan yang sudah menjadi The Sumatera Best Club of The Year Redma 2010 ini merupakan salah satu kelab malam

elite di Kota Medan. Kelab malam ini menjadi pintu masuk yang paling eksklusif bagi penikmat hiburan dunia malam. Entrance memiliki karyawan sebanyak 50 orang yang terdiri dari bartender, juru masak, cleaning service, DJ, resepsionis, dancer, satpam, karyawan yang bekerja di bagian manajemen Entrance.

Entrance buka setiap hari Senin sampai hari Minggu mulai pukul 22.00 WIB sampai dengan pukul 03.00 WIB. Namun untuk hari libur atau akhir pekan, kelab malam Entrance dapat tutup sampai pukul empat pagi atau bahkan melebihi jam tersebut. Harga tiket untuk masuk ke dalam kelab malam Entrance pada hari weekend yaitu hari Jumat sampai Minggu dikenakan biaya sebesar Rp. 150.000 sampai dengan Rp. 200.000 per orang, sedangkan untuk hari biasa yaitu hari Senin sampai Kamis tidak dikenakan biaya tiket masuk. Harga tiket masuk tersebut belum


(25)

termasuk dengan biaya sewa meja (table) dan sofa VIP. Harga tiket dapat berubah sesuai dengan event-event yang disediakan oleh Entrance di hari-hari tertentu. Syarat untuk masuk kelab malam Entrance yaitu pengunjung yang berumur 18+, tidak boleh memakai sandal, tidak boleh memakai celana pendek, tidak boleh membawa senjata tajam, dan tidak boleh menggunakan obat terlarang.

Entrance juga menyediakan ruangan KTV bagi para penikmat dunia malam yang ingin melakukan party atau acara lainnya. Adapaun jenis KTV dan harga biaya yang dikenakan untuk setiap room di KTV Entrance yaitu:

1. Small room untuk kapasitas 6 orang dikenakan dengan biaya Rp. 1.500.000,

2. Medium room untuk kapasitas 8 orang dikenakan dengan biaya Rp.

2.000.000,

3. VIP room untuk kapasitas 15 orang dikenakan biaya sebesar Rp. 3.500.000,

4. President room untuk kapasitas 20 orang dikenakan biaya sebesar Rp.

4.000.000 (Hasil wawancara dengan seorang karyawan Kelab Malam

Entrance pada Mei 2016).

Kelab malam Entrance juga menampilkan aksi-aksi sensual dari para penari perempuan. Para penikmat hiburan dunia malam biasanya mengenal penari-penari tersebut dengan sebutan sexy dancer yaitu penari perempuan yang mengenakan pakaian ketat dan seksi yang meliuk-liukkan badannya di depan para penikmat hiburan dunia malam. Selain itu Entrance juga mengadakan event-event tertentu yang sering mendatangkan artis dan DJ baik dari lokal maupun nasional, bahkan internasional. Live DJ yang memiliki keahlian dalam memainkan musik membuat para dugemers menari mengikuti musik yang dimainkan. Penampilan bartender yang melakukan aksi jugling dalam meracik minuman juga menjadi bagian penting dalam


(26)

Entrance. Minuman yang diracik oleh bartender memiliki citra rasa tersendiri bagi para dugemers. Banyak minuman beralkohol yang diimpor dengan merk-merk ternama di dunia, seperti Red Wine, Jack Daniel Double Black Label, Chivas, dan lain sebagainya yang disediakan di Entrance. Hal tersebut membuat harga makanan dan minuman di Entrance menjadi mahal.

Kelab malam Entrance juga memiliki hari khusus yang dinamakan Ladies

Night. Namun hari khusus untuk event ladies night tidak menetap ditentukan. Ladies Night merupakan suatu strategi yang dilakukan pengelola kelab malam Entrance

untuk menarik pengunjung agar banyak datang ke Entrance. Ladies Night adalah hari khusus dimana setiap wanita yang mengunjungi Entrance tidak dikenakan biaya masuk dan wanita tersebut diberikan segelas minuman beralkohol secara gratis. Kehadiran wanita di kelab malam dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung pria. Semakin banyak pengunjung wanita maka semakin banyak pengunjung pria. Volume musik yang kuat dan lampu yang berkelap-kelip membuat suasana di dalam Entrance begitu meriah sehingga membuat para dugemers berteriak dan berjoget secara bebas.

4.1.2.2Elegant KTV

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan pada tahun 2014, Elegant KTV merupakan salah satu jenis usaha yang berupa kelab malam dengan Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata 503/399/SK/LUP.DU/KLN/MPT/2012/31 Mei 2013. Selain menyediakan KTV, Elegant juga menyediakan hotel dan spa. Hotel yang berlokasi di bundaran Majestyk di Jalan Gatot Subroto Medan ini dikenal sebagai salah satu tempat hiburan malam di Medan. Karyawan yang bekerja di Elegant yaitu sebanyak 200 orang meliputi


(27)

karyawan yang bekerja di hotel, spa, lounge, dan KTV. Karyawan yang bekerja di KTV sebanyak 50 orang yang terdiri dari dua pembagian waktu yaitu 25 orang pada

shift pagi dan 25 orang pada shift malam. Karyawan yang bekerja di Elegant KTV

terdiri dari karyawan yang bekerja sebagai waitress, DJ, cleaning service, dan lain sebagainya.

Kelab malam ini berupa sebuah karaoke, namun juga menyediakan musik-musik disko sehingga dugemers tidak hanya untuk berkaraoke saja, tetapi juga bisa joget dengan memutar musik disko. Bagi para penikmat hiburan malam di Kota Medan, tentu tidak asing lagi dengan lokasi hiburan malam Elegant di Jalan Waringin No. 2/16 D-H (Jalan Gatot Subroto Medan). Di lokasi ini, pengunjung cukup ramai, mulai dari siang hingga malam hari. Dulunya sebelum berganti nama Elegant, lokasi ini menggunakan nama Majestyk Entertainment atau M City. Namun kebakaran hebat menghanguskan M City pada 4 Desember 2009 silam. Meski kini M City sudah berganti nama menjadi Elegant, namun fungsinya tetap sama yaitu karaoke, spa, dan hotel.

Elegant buka setiap hari yaitu mulai pukul 13.00 WIB sampai pukul 20.00WIB dan pukul 20.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB. Syarat masuk Elegant yaitu pengunjung umur 18+, tidak boleh membawa senjata tajam, dan tidak menggunakan obat terlarang. Adapun tipe-tipe room yang terdapat di Elegant KTV, yaitu:

1. Standart room dengan kapasitas 10 orang dengan tarif Rp. 1.000.000,

2. Medium room dengan kapasitas 15 orang dengan tarif Rp. 1.500.000,

3. Recident room dengan kapasitas 40 orang dengan tarif RP. 6.000.000,


(28)

5. VVIP room dengan kapasitas 30 orang dengan tarif Rp. 3.500.000.

Dari kelima tipe room di atas, room yang paling diminati oleh pengunjung yaitu medium room. Yang menjadi pembeda dari setiap room yaitu pengaturan suhu pendingin ruangan (Air Conditioner/ AC) dan perangkat sound system-nya. Semakin mahal harga room, maka suhu pendingin ruangan akan semakin dingin. Begitu juga dengan perangkat sound system, semakin mahal harga room, maka perangkat sound

system yang disediakan semakin bagus (Hasil wawancara dengan seorang karyawan Kelab Malam Elegant pada 03 Juni 2016). Suara dentuman musik dari luar pintu

KTV di lantai dua itu terdengar cukup keras hingga terdengar di luar ruangan, tepatnya di lorong jalan itu. Elegant memang tempat favorit buat para pecinta dugem, khususnya para mahasiswa yang berasal dari kalangan lapisan ekonomi menengah.

4.1.2.3Kelab Malam New Zone

Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan, New Zone merupakan salah satu jenis usaha hiburan malam yang masuk dalam kategori kelab malam.New Zone sebagai usaha pariwisata dengan Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata 503/398/SK/LUP.DU/KR/MM/2013/31 Mei 2013. Kelab malam New Zone terletak di Jalan Mangkubumi atau nama jalan barunya di Jalan Wajir (Jalan Kolonel Sugiono No.16 CDEF), Medan Maimun. Karyawan yang bekerja di New Zone yaitu sebanyak 60 orang. New Zone termasuk salah satu kelab malam terfavorit di Kota Medan. New Zone menyediakan fasilitas berupa hotel, KTV, dan bar.New Zone di isi oleh DJ senior di Kota Medan. Lokasinya berada di antara Jalan Pemuda dan Jalan Jendral Suprapto. Orang-orang sering menyebut New Zone dengan singkatan NZ.


(29)

New Zone buka setiap hari yaitu dari hari Senin sampai dengan hari Minggu. New Zone buka pada pukul 13.00 WIB sampai 04.00 WIB. Harga tiket hari biasa untuk masuk ke kelab malam New Zone yaitu dikenakan sebesar Rp. 30.000 per orang. Untuk akhir pekan harga tiket New Zone yaitu Rp.50.000 per orang. Harga tiket masuk tersebut belum termasuk dengan biaya sewa table dan minuman beralkohol. Untuk biaya sewa table dikenakan sekitar Rp. 150.000 (Hasil

wawancara terhadap karyawan New Zone). Harga KTV yang ada di New Zone

bervariasi.Untuk siang hari pukul 13.00 WIB sampai 20.00 WIB biasanya harga KTV sekitar Rp. 750.000-Rp 1.000.000. Sementara untuk malam hari pukul 20.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB biasanya harga KTV mulai dari Rp. 850.000-Rp. 1.300.000.

New Zone banyak dikunjungi oleh remaja-remaja yang duduk di bangku sekolah atau biasa disebut dengan ABG (Anak Baru Gede). New Zone termasuk kelab malam yang banyak diminati oleh ABG dan mahasiswa/i yang berasal dari kalangan lapisan ekonomi bawah. Hal ini karena harga tiket masuk sangat murah dan mudah dijangkau oleh ABG maupun mahasiswa.

4.2 Karakteristik Informan

Informan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penelitian ini, yang merupakan salah satu kunci bagi peneliti untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya, maka peneliti akan mendeskripsikan karakteristik informan sebagai berikut:


(30)

4.2.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur

Tabel 4.2

Karakteristik Informan Berdasarkan Umur

No. Kategori Umur Jumlah (n) Persentase (%)

1. 20-21 tahun 6 60.0

2. 22-23 tahun 4 40.0

Total 10 100.0

Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)

Berdasarkan Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 6 orang (60.0%) berumur antara 20-21 tahun dan 4 orang (40.0%) berumur 22-23 tahun, sehingga mayoritas informan berumur antara 20-21 tahun.

4.2.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 4.3

Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin

No. Kategori Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)

1. Laki-laki 8 80.0

2. Perempuan 2 20.0

Total 10 100.0

Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)

Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 8 orang (80.0%) berjenis kelamin laki-laki dan 2 orang (20.0%) berjenis kelamin perempuan, sehingga mayoritas informan berjenis kelamin laki-laki.


(31)

4.2.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Universitas

Tabel 4. 4

Karakteristik Informan Berdasarkan Universitas

No. Kategori Universitas Jumlah (n) Persentase (%)

1. Negeri 2 20.0

2. Swasta 8 80.0

Total 10 100.0

Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)

Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 2 orang (20.0%) yang berkuliah di universitas negeri dan 8 orang (80.0%) yang berkuliah di universitas swasta, sehingga mayoritas informan adalah yang berkuliah di universitas swasta.

4.2.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua

Tabel 4.5

Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua

No. Kategori pekerjaan Orang Tua Jumlah (n) Persentase (%)

1 PNS 4 40.0

2 Wiraswasta 6 60.0

Total 10 100.0

Sumber: Hasil Penenlitian 2016 (data diolah)

Dari Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa dari 10 informan, 4 orang (40.0%) memiliki orang tua yang bekerja sebagai PNS dan 6 orang (60.0%) memiliki orang tua yang bekerja sebagai wiraswasta. Dengan demikian mayoritas informan memiliki orang tua yang bekerja sebagai wiraswasta.


(32)

4.3 Profil Informan

Informan Kunci

1. Nama : Aji (Nama Samaran) Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta

Aji adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan dan mengambil jurusan Akuntansi. Aji tinggal bersama kedua orang tuanya.Orang tua Aji bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Aji adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Aji memiliki seorang kakak yang sudah bekerja dan Aji merupakan tanggungan orang tuanya.

“…aku kenal dugem itu dari teman, waktu itu aku masih SMA. Teman-teman yang dekat rumah mengajakku untuk dugem. Mereka memaksaku untuk dugem. Kalo aku gak ikut mereka gak mau berteman denganku. Ya udah akhirnya aku ikut aja daripada gak punya teman dan lagian aku juga penasaran dengan dugem. Awal aku dugem rasanya malu. Kalo dugem biasanya aku joget, ngobrol, minum alkohol. Aku juga pake obat (inex). Aku kenal obat ya dari mereka juga. Mereka paksa dan cekokin aku untuk pake obat. Awalnya aku takut tapi setelah obat bereaksi rasanya enak aja gitu. Sebenarnya aku mau nolak, tapi kan gak mungkin. Jadi aku make karna aku menghargai mereka. Aku juga pernah berhubungan intim dengan pacarku selesai dugem. Ya tau lah waktu SMA itu jaman-jaman anak muda lagi bandal- bandalnya. Aku kan udah pake obat jadi rasanya cepat on. Dan waktu aku on aku ajak pacarku untuk check-in hotel. Pacarku awalnya gak mau, tapi aku paksa akhirnya dia mau…” (Hasil wawancara pada 16 Mei 2016)

Aji mulai mengenal dugem sejak berumur 18 tahun pada saat kelas 3 SMA. Alasan pertama kali (motivasi) dia melakukan aktivitas dugem yaitu karena adanya


(33)

kegiatan dugem. Teman-temannya memaksa Aji untuk dugem. Jika Aji tidak mau pergi, maka teman-temannya akan men-cap dia sebagai teman yang tidak setia dan bukan anak gaul. Namun karena teman-temannya sering mengajak dia untuk dugem, maka lama-kelamaan Aji mulai sering melakukan aktivitas dugem.

Saat pertama kali melakukan aktivitas dugem, Aji merasa malu-malu dan tidak percaya diri (PD). Namun setelah beberapa kali pergi dugem, Aji semakin terbiasa untuk pergi dugem. Alasan Aji sering pergi dugem yaitu karena perempuan-perempuanyang ada di kelab malam menggunakan pakaian minim, sehingga kelihatan sexy. Setiap dua minggu sekali yaitu weekend dan hari biasa Aji selalu pergi dugem bersama teman-temannya. Aji merasakan kepuasan dan kesenangan pada saat dia melakukan aktivitas dugem bersama teman-temannya.

Aji selalu membawa uang cash sebesar lima ratus ribu rupiah untuk pergi

dugem dan membawa credit card .Uang yang diperoleh untuk dugem yaitu berasal

dari penyisihan uang saku. Dia diberi uang saku oleh orang tuanya sebesar Rp. 700.000 per minggu. Uang tersebut digunakan untuk biaya masuk ke kelab malam, beli minuman, dan buka table. Uang cash yang dibawa oleh Aji selalu habis digunakan untuk dugem. Kendaraan yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu sepeda motor. Pakaian yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu kemeja, celana

jeans, dan sepatu. Bagi Aji jika memakai kemeja kelihatan lebih elegant. Aji pergi dugem pada pukul 22.00 WIB dan biasanya pulang ke rumah pukul 04.00 WIB. Aji

mengakui bahwa selesai dugem, terkadang dia tidak langsung pulang ke rumah tetapi nongkrong bersama teman-temannya untuk cari makan.

Aji mengakui bahwa dia suka dugem di Entrance karena Entrance merupakan kelab malam yang cukup berkelas di Kota Medan. Aji mengakui bahwa musik di


(34)

Entrance tidak membuat telinga sakit. Di dalam kelab malam tersebut, perilaku yang sering Aji lakukan yaitu joget, mengobrol, minum-minuman beralkohol, dan terkadang memakai obat/ vitamin (dalam hal ini obat-obatan terlarang yang berupa

inex). Aji mengakui bahwa dia memakai obat-obatan terlarang karena ajakan

teman-temannya dan mengkonsumsi obat-obatan tersebut hanya terkadang saja. Aji mengakui bahwa jika tidak minum-minuman beralkohol maka rasanya tidak enak untuk joget. Obat-obatan dikonsumsi jika ingin cepat on atau tinggi sehingga bisa menari dengan bebas tanpa ada rasa malu. Aji juga mengakui bahwa dia pernah melakukan hubungan intim (perilaku sex) bersama pacarnya selesai dugem sebanyak dua kali. Dia mengakui bahwa dia check-in di salah satu hotel di Kota Medan.

Orang tua Aji tidak mengetahui kalau Aji melakukan aktivitas dugem setiap minggu. Aji tidak memberi tahu kepada orang tuanya karena dia takut dimarahi oleh orang tuanya. Untuk pembagian waktu antara kuliah dan aktivitas dugem tidak pernah bermasalah. Dia masuk kuliah sore pada pukul 16.00 WIB dan pulang sekitar pukul 19.00 WIB. Jadi kegiatan perkuliahan tidak terganggu. Indeks Prestasi (IP) yang dia peroleh yaitu rata-rata 2,5 dan orang tua tidak pernah menanyakan hal tersebut. Dia mengakui bahwa dampak dia melakukan dugem yaitu membuat jam tidur jadi tidak menentu sehingga membuat badan lelah. Menurutnya dugem adalah suatu yang positif karena dengan dugem bisa memberikan kesenangan bagi dirinya.

2. Nama : Andri (Nama Samaran) Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta


(35)

Andri merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Medan. Orang tua Andri bekerja sebagai wiraswasta. Andri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Andri tinggal bersama kedua orang tuanya. Andri memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjual aksesoris handphone di salah satu aplikasi penjualan barang secara online. Pendapatan yang Andi tidak menentu karena berdasarkan dari hasil jual aksesoris, namun pendapatan yang diperoleh dapat member tambahan untuk biaya dugem.

Andri mengenal aktivitas dugem sejak dia memasuki bangku perkuliahan yaitu pada umur 19 tahun. Dia mengakui bahwa dia diajak oleh teman-temannya. Yang memotivasi Andri untuk pergi dugem yaitu karena dia merasa ingin tahu bagaimana kegiatan dugem. Keingintahuan akan dugem juga disebabkan karena dia melihat ada acara di televisi yang menayangkan pergaulan remaja masa kini yang kelihatan lebih modern. Dia mengakui bahwa awalnya dia hanya coba-coba atau minimal pernah coba agar terlihat lebih keren. Dia mengakui bahwa dugem adalah suatu perilaku yang wajar dilakukan oleh anak muda. Namun karena dia sudah memasuki kelab malam, maka dia semakin sering pergi dugem bersama teman-temannya. Dia mengakui bahwa dia sangat tertarik untuk dugem karena melihat perempuan-perempuan yang sexy. Dia mengakui bahwa pengalaman pertama kali

dugem yaitu heran melihat orang-orang yang ada di kelab malam yang lebih bebas

dalam berekspresi dan dia merasa malu untuk joget. Namun hal tersebut tidak membuat dia jera untuk dugem.

Andri mengakui bahwa setiap pergi dugem dia selalu membawa uang sekitar tiga ratus ribu rupiah. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan orang tua dan dari pendapatan yang diperoleh dari menjual aksesoris handphone. Uang saku yang diberikan orang tuanya setiap minggu yaitu


(36)

sebesar Rp. 350.000. Dia sering dugem di kelab malam New Zone karena biaya masuk New Zone murah jadi tidak terlalu menguras isi dompet. Uang yang dibawa untuk dugem juga digunakan untuk membeli minuman beralkohol. Dia mengakui bahwa terkadang uang yang dibawa untuk dugem bersisa lima puluh ribu rupiah. Dia mengakui bahwa dia pergi dugem minimal dua kali seminggu.

Dia pergi dugem biasanya pukul 23.00 WIB dan pulangnya pukul 03.00 WIB. Selesai dugem biasanya dia menginap di kost temannya. Andri selalu pergi dugem bersama temannya dan perilaku yang dia lakukan saat dugem yaitu joget dan minum-minuman beralkohol. Pakaian yang dia gunakan saat dugem yaitu kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Dia mengakui bahwa dugem itu sangat mengasyikkan dan ada kesenangan tersendiri jika dia dugem.

Andri mengakui bahwa orang tuanya tidak mengetahui kalau dia melakukan aktivitas dugem. Dia mengakui bahwa dia hanya minta ijin untuk berkumpul bersama teman-temannya di warnet. Dia juga mengakui bahwa saat ini dia tidak terlalu fokus dengan kuliah karena dia sering begadang bersama temannya dan akibatnya dia sering terlambat bangun dan terkadang bolos kuliah. Dia mengakui dia sering bolos kuliah dan orang tua tidak mengetahui. Dia juga mengakui bahwa tidak ada masalah jika dia mendapatkan IP rendah karena dia menyadari bahwa dia kurang fokus kuliah. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena bisa menambah teman.

3. Nama : Pratama (Nama Samaran) Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa


(37)

Universitas : swasta

Pratama merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu

universitas swasta di Kota Medan. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Orang tua Pratama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia tinggal bersama ibunya, meski begitu ayahnya tetap memberi uang saku setiap minggu kepadanya.

Pratama mengenal aktivitas dugem sejak dia duduk di bangku SMA pada umur delapan belas tahun. Dia mengatakan bahwa pada saat itu ada masalah keluarga dan dia diajak teman-temannya untuk pergi dugem. Awalnya dia hanya coba-coba, tapi karena di rumah sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya maka dia semakin sering dugem. Dari sejak itu setiap dia sedang ada masalah atau dia sedang jenuh, dia semakin sering pergi dugem bersama temannya. Dia mengakui bahwa dengan pergi dugem, semua masalah hilang.

Dia selalu diberi uang saku selama seminggu oleh orang tuanya sebanyak delapan ratus ribu rupiah. Setiap dugem dia selalu membawa uang sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Dan uang itu digunakan untuk menyewa room dengan sistem patungan bersama teman-temannya. Uang yang dia bawa untuk dugem selalu habis terpakai. Dia dan teman-temannya memilih mem-booking room agar lebih leluasa untuk joget. Dia pergi dugem bersama teman-temannya menggunakan mobil milik temannya. Dia pergi pukul 22.00WIB dan pulang sekitar pukul 05.00 WIB. Dia pergi

dugem setiap dua minggu sekali. Dia memakai kemeja, topi, aksesoris gelang, dan

celana jeans. Dia dan teman-temannya pergi ke minimarket untuk pergi membeli rokok, minuman kaleng yaitu susu beruang, dan pergi cari makan, terus langsung ke kost temannya.


(38)

Pratama sangat suka dugem di Elegant. Hal ini disebabkan karena tempatnya cukup elite, bersih dan volume musiknya cukup keras sehingga membuat kepala dan tubuh bergoyang mengikuti irama musik. Perilaku yang dilakukan Pratama saat

dugem yaitu minum-minuman beralkohol, merokok, joget, dan mengkonsumsi inex.

Dia mengenal minum-minuman beralkohol dan inex sejak kelas tiga SMP. Dia mengakui bahwa dugem tanpa minuman beralkohol dan inex rasanya hambar bagai sayur tanpa garam. Dia mengakui kalau tanpa inex dia tidak bisa enjoy untuk joget.

Orang tuanya mengetahui bahwa dia suka dugem, namun orang tuanya hanya memberi nasehat. Dia mengakui bahwa dia sering begadang bersama temannya sehingga menyebabkan kurang tidur. Dia mengakui bahwa aktivitas perkuliahan tidak terganggu dan dia mengakui bahwa meski dia sering dugem, tapi nilai-nilai akademiknya selalu bagus. Dia mengakui bahwa dugem itu adalah hidupnya. Dia mengakui bahwa dugem adalah suatu kebutuhan yang dapat membuatnya merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Menurutnya perliaku dugem adalah perilaku yang positif karena dengan dugem semua beban pikiran hilang.

4. Nama : Luis (Nama Samaran) Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta

Luis adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Luis berumur dua puluh tiga tahun. Dia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta. Luis tinggal bersama kedua orang tuanya.


(39)

Luis mengenal dugem saat memasuki bangku perkuliahan pada umur dua puluh tahun. Luis mengenal dugem karena ajakan teman-temannya dan dari media eletronik berupa televisi dan internet. Awalnya Luis merasa kurang percaya diri untuk dugem. Namun karena musik yang membuat anggota tubuh ikut joget dan karena ajakan temannya, maka Luis sering pergi dugem.

Luis pergi dugem ke Elegant pada pukul 22.00 WIB dan pulang pukul 03.00 WIB. Luis memilih Elegant termasuk kelab malam bagi kelas menengah. Pada awal memasuki bangku perkuliahan Luis sering dugem dengan frekuensi kunjungan sebanyak empat kali seminggu. Namun saat ini dia sudah semester akhir dan lagi menyusun skripsi, maka intensitas pergi ke Elegant hanya seminggu sekali. Luis pergi bersama teman-temannya. Uang yang dibawa saat dugem yaitu sekitar tiga ratus ribu rupiah. Uang tersebut diperoleh dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya sebesar Rp. 500.000 per minggu. Pakaian yang digunakan saat dugem yaitu kaos dan celana jeans. Selesai pulang dugem biasanya Luis menginap di kost temannya. Perilaku yang dilakukan Luis saat dugem yaitu merokok, minum alkohol, menggunakan obor, dan sex after dugem. Orang tuanya tidak mengetahui bahwa dia pergi dugem bersama teman-temannya. Dia mengakui bahwa nilai akademik yang dia peroleh hasilnya selalu rendah bahkan sering mengulang mata kuliah. Dia juga mengakui bahwa dia sering terlambat bangun karena pulang dugem selalu pagi hari. Menurutnya dugem adalah suatu aktivitas yang positif sebagai hiburan.

5. Nama : Dita (Nama Samaran) Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : perempuan Status : mahasiswi Universitas : swasta


(40)

Dita adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Medan. Dita berumur dua puluh dua tahun. Dita anak kedua dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai PNS. Dita tinggal bersama kedua orang tuanya.

Dita mengenal dugem sejak dia berumur tujuh belas tahun saat kelas dua SMA. Saat itu dia diajak oleh seorang laki-laki yang merupakan teman dekatnya. Awalnya dia tidak mau, tapi karena dipaksa akhirnya dia ikut dugem. Dita juga ingin tahu dan ingin merasakan dugem secara langsung. Pengalaman pertama kali dugem, dia merasa gugup. Namun karena dia bersama temannya yang laki-laki jadi dia tidak gugup dan takut. Dita mulai terbiasa dugem karena teman laki-lakinya selalu mengajak dia weekend ke New Zone.

Dita pergi ke New Zone seminggu sekali pada pukul 22.00 WIB dan pulang sekitar pukul 14.00WIB. Dana yang dibawa oleh Dita hanya dua ratus ribu. Dana tersebut berasal dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya yaitu sebesar Rp. 300.000 per minggu. Hal ini karena dia masuk secara free yaitu karena dibayarin sama temannya yang cowok. Perilaku yang dilakukan Dita saat dugem yaitu minum,

juice, mendengarkan musik, dan joget. Dita mengatakan bahwa dugem tidak harus

selalu identik dengan minum-minuman beralkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang. Dita menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills yang nyaman dipakai. Selesai dugem biasanya Dita menginap di kost temannya yang perempuan.

Orang tua Dita tidak mengetahui Dita pergi dugem karena Dita meminta ijin bahwa dia ingin kumpul bersama teman-temannya setiap weekend. Dita mengatakan bahwa kegiatan dugem yang dia lakukan tidak mengganggu aktivitas perkuliahannya. Dita mengakui bahwa nilai-nilai akademiknya selalu bagus. Dampaknya dugem yaitu


(41)

dai mengakui mudah ngantuk karena kurang tidur dan kepala pusing saat dia kurang istirahat. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena menghilangkan kejenuhan dari aktivitas perkuliahan.

6. Nama : Dino (Nama Samaran) Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : negeri

Dino adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu Akademi Pariwisata Negeri Medan dan mengambil jurusan di bagian makanan. Dino berumur dua puluh dua tahun. Dino anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua Dino bekerja sebagai wiraswasta yaitu pengusaha eletronik dan peralatan rumah tangga. Dino memiliki suatu pekerjaan sampingan yaitu sebagai bartender di salah satu tempat hiburan malam di Kota Medan. Penghasilan yang dia peroleh sebagai bartender yaitu sekitar dua juta rupiah beda dengan uang tip. Dan dia juga membantu biaya sekolah adiknya.

Dino mengenal dugem sejak kelas tiga SMA pada umur delapan belas tahun. Dia mengenal dugem karena ajakan oleh temannya, rasa ingin tahu, dan oleh media elektronik yaitu televisi. Yang Dino rasakan saat pertama kali dugem yaitu dia merasa malu, merasa belum dewasa karena pengunjung kelab malam terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa. Kedua kali dia pergi dugem juga masih merasa malu dan kurang percaya diri. Mau joget juga masih malu-malu. Namun yang membuat dia tertarik untuk sering dugem yaitu karena dia sangat menikmati musik di kelab malam dan dia sangat tertarik dengan aksi bartender yang jugling.


(42)

Dino pergi dugem di Entrance pukul 22.00WIB dan pulang dugem pukul 03.00WIB. Alasan Dino suka dugem di Entrance karena kelab malam Entrance sangat berkelas, pelayanannya bagus, dan musiknya juga bagus. Frekuensi pergi ke kelab malam untuk dugem yaitu enam kali seminggu, dan setiap hari Rabu dia libur dari pekerjaannya sebagai bartender. Dino pergi ke kelab malam Entrance seminggu sekali yaitu setiap hari Rabu bersama teman-temannya. Uang yang dibawa Dino saat pergi dugem yaitu sebesar delapan ratus ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk membeli minuman beralkohol yaitu long island dan dia tidak membayar uang masuk ke Entrance atau ke tempat hiburan malam lainnya karena dia memiliki sebuah kartu anggota bartender.

Dino pergi dugem dengan menggunakan kemeja, celana jeans, dan sepatu sehingga kelihatan lebih elegan. Dino biasanya sudah membuat janji dengan temannya untuk berjumpa di Entrance dan dia dugem bersama teman-temannya. Perilaku yang dilakukan saat dugem yaitu minum-minuman beralkohol, menikmati musik, dan joget. Selesai pulang dugem biasanya Dino pergi bersama teman-temannya untuk mencari makanan dan setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing.

Orang tua Dino mengetahui bahwa Dino memiliki pekerjaan sebagai

bartender dan mendukung Dino untuk lebih semangat dalam pekerjaannya. Dino

meyakinkan kepada orang tuanya bahwa dunia malam itu tidak selalu identik dengan perilaku yang negatif. Dino selalu bisa membagi waktu antara kuliah dan pergi

dugem. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai bartender membuatnya merasa

lelah, namun dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai bartender memberi hal yang positif terhadap perkuliahannya. Hal ini terbukti dengan nilai-nilai akademiknya yang sangat bagus.


(43)

7. Nama : Andi (Nama Samaran) Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta

Andi adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan swasta di Kota Medan. Andi berumur dua puluh satu tahun. Andi anak pertama dari lima bersaudara. Orang tua Andi bekerja sebagai wiraswasta. Andi tinggal bersama kedua orang tuanya.

Andi mengenal dugem sejak memasuki perkuliahan saat umur sembilan belas tahun. Andi mengenal dugem karena ajakan temannya dan rasa ingin tahu terhadap

dugem. Saat pertama kali dugem, dia merasa malu-malu. Namun akhirnya karena

teman-temannya mengajaknya untuk dugem setiap weekend, maka setiap akhir minggu Andi selalu pergi dugem.

Andi pergi dugem bersama-sama dengan temannya ke kelab malam New Zone pada hari Sabtu pukul 23.00WIB dan pulang pukul 02.00WIB. Dia dan teman-temannya memilih kelab malam New Zone karena biaya masuk murah yaitu lima puluh ribu rupiah. Andi membawa uang untuk pergi dugem sekitar seratus lima puluh ribu rupiah dan uang tersebut selalu habis. Uang yang digunakan Andi untuk dugem yaitu berasal dari pemberiang uang saku dari orang tuanya sebanyak Rp. 300.000 dan disisihkan untuk dugem. Perilaku yang dilakukan Andi saat dugem yaitu merokok dan joget. Andi pergi dugem dengan menggunakan pakaian kaos dan celana


(44)

Orang tua Andi tidak pernah tahu bahwa Andi pergi dugem sekali seminggu. Andi mengakui bahwa nilai-nilai akademiknya biasa-biasa saja di kampus. Andi mengakui bahwa dugem membuatnya kurang tidur sehingga menyebabkan tubuh lemas untuk melakukan aktivitas. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena bisa berkumpul bersama teman-teman untuk mencari kesenangan.

8. Nama : Galih (Nama Samaran) Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta

Galih adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas

swasta di Kota Medan. Galih berumur dua puluh satu tahun. Galih merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Orang tua Galih bekerja sebagai wiraswasta. Galih tinggal bersama kedua orang tuanya.

Galih mengenal dugem saat berumur dua puluh tahun. Galih mengenal dugem karena ajakan teman-temannya. Galih merasa malu-malu saat pertama kali dugem. Namun karena musik dan suasana di dalam kelab malam yang kelap-kelip, maka Galih sering dugem.

Galih pergi ke kelab malam Entrance pada pukul 22.00 WIB dan pulang pukul 04.00WIB. Selesai dugem biasanya Galih dan teman-temannya pergi untuk nongkrong. Galih membawa uang sekitar lima ratus ribu rupiah saat pergi dugem. Uang tersebut habis digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan oleh orang tua yaitu sebesar Rp 700.000. Pakaian yang digunakan Galih saat dugem yaitu kemeja dan celana jeans.


(45)

Perilaku yang dilakukan Galih saat dugem yaitu merokok, menggunakan obor (istilah yang digunakan untuk obat-obat terlarang yaitu inex), minum-minuman beralkohol, dan joget.

Orang tua Galih tidak mengetahui bahwa Galih pergi dugem sekali seminggu. Galih mengatakan bahwa aktivitas dugem tidak mempengaruhi nilai-nilai akademiknya. Nilai-nilai akademik yang dia peroleh hanya biasa-biasa saja. Galih mengatakan bahwa dia sering begadang bersama temannya sehingga menyebabkan tubuhnya mudah lelah karena kurang istirahat. Menurutnya dugem adalah perilaku positif yang dapat menambah teman dan membuat dirinya merasa bebas.

9. Nama : Jack (Nama Samaran) Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : negeri

Jack adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Kota Medan. Jack berumur dua puluh tiga tahun. Jack merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Orang tua Jack bekerja sebagai PNS. Orang tua jack tinggal di Tarutung dan Jack tinggal di kost-kost-an di Kota Medan.

Jack mengenal dugem pada saat kelas dua SMA pada umur sembilan belas tahun. Dia mengenal dugem karena merasa penasaran dengan dugem dan karena ajakan teman-temannya. Awal pertama kali dugem dia merasa malu-malu. Saat SMA dan memasuki perkuliahan dia sering dugem dengan frekuensi kunjungan ke New Zone sebanyak tiga kali seminggu. Namun karena saat ini dia sudah semester akhir


(46)

dan menyusun skripsi, maka intensitas kunjungan ke New Zone hanya sekali seminggu pada akhir pekan.

Jack pergi dugem ke New Zone pada pukul 23.00WIB dan pulang pukul 03.00 WIB bersama teman-temannya. Selesai dugem biasanya Jack langsung pulang ke rumah untuk beristirahat. Jack pergi dugem dengan memakai kemeja dan celana

jeans. Jack membawa uang sebanyak dua ratus ribu rupiah dan uang tersebut habis

digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang dikirim oleh orang tuanya. Uang saku yang dikirim orang tuanya sebesar Rp. 500.000 per minggu. Perilaku yang dilakukan Jack lakukan saat dugem yaitu joget, minum soft drink, dan menikmati musik. Orang tua Jack tidak mengetahui bahwa Jack pergi dugem. Jack mengakui bahwa nilai akademik tidak terganggu meski dia melakukan aktivitas dugem. Nilai akademik yang diperoleh selalu pas-pasan. Dia mengatakan bahwa dugem membuatnya terlambat makan sehingga dia menderita sakit maag. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif untuk menghilangkan kejenuhan dari kegiatan perkuliahan.

10.Nama : Dera (Nama Samaran) Umur : 21 tahun

Jenis Kelamin : perempuan Status : mahasiswi Universitas : swasta

Dera adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Dera anak kedua dari lima bersaudara. Dera berumur dua puluh satu tahun. Dera berasal dari kota Pekan Baru dan saat ini dia tinggal di sebuah kost. Orang tua Dera bekerja sebagai wiraswasta yaitu buruh di perkebunan kelapa sawit.


(47)

Dera mengenal dugem sejak dia duduk dibangku perkuliahan pada umur dua puluh tahun. Dera mengatakan bahwa dia mengenal dugem karena diajak oleh temannya yang satu kost dengan dia. Awalnya Dera tidak ingin ikut dugem, tetapi karena temannya memaksa untuk ditemani dan mengatakan bahwa Dera kuper, akhirnya Dera ikut pergi dugem. Dera juga mengatakan bahwa dia sangat penasaran dan ingin tahu bagaimana dugem. Dera mengatakan bahwa dia merasa canggung saat pertama kali dugem. Dera mengatakan bahwa dia mulai tertarik dan sering dugem itu karena dia melihat kehidupan temannya yang glamour. Teman Dera bekerja sebagai wanita penghibur dan penghasilan yang didapatkan temannya tersebut cukup untuk memenuhi gaya hidup yang glamour. Santunan biaya yang dikirim orang tuanya buat Dera tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama merantau dan berkuliah di Medan. Karena santunan biaya yang dikirim orang tuanya tidak cukup maka Dera ikut menjadi wanita penghibur seperti temannya. Dera mengatakan bahwa penghasilan yang diperoleh lumayan dan dia bisa membeli pakaian-pakaian yang bagus, dia juga bisa pergi dugem secara gratis, dan dia dapat mengirim uang kepada orang tuanya.

Dera pergi dugem ke Elegant terkadang 4 kali seminggu tergantung job, namun yang pasti dia pergi dugem minimal seminggu sekali. Dera pergi ke Elegant dengan menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills, sehingga kelihatan elegan dan modis. Dana yang dibawa Dera untuk pergi dugem sekitar lima ratus ribu rupiah. Namun dana yang dia keluarkan hanya untuk naik taksi ke Elegant. Dera masuk Elegant dengan undangan dari seorang pria yang ingin memakai jasanya. Dera pergi dugem pukul 22.00 WIB dan pulang ke kost tidak menentu jamnya. Dera memilih Elegant sebagai tempat dugem karena dia merasa nyaman dengan KTV di


(48)

Elegant tersebut. Selesai dugem biasanya Dera pergi ke sebuah hotel bersama lelaki yang menginginkan jasanya.

Dera mengatakan bahwa kegiatan yang dia lakukan saat dugem yaitu joget, minum-minuman beralkohol, dan dia juga menggunakan inex. Dia mengakui bahwa dia mendapatkan inex dengan menukar jasanya sebagai wanita penghibur. Menurutnya dugem tanpa inex itu kurang asyik.

Orang tua Dera tidak mengetahui kegiatan Dera di Kota Medan. Dera mengakui bahwa sebenarnya dia sedih menjadi wanita penghibur, namun karena biaya hidup di Medan sangat kurang maka dia menjadi wanita penghibur. Untuk kegiatan perkuliahan tidak terganggu karena Dera masuk kuliah sore dan dia mengatakan bahwa nilai akademiknya rendah. Dera mengatakan dugem membuatnya kurang istirahat dan pola makan terganggu. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena menambah relasi dan menambah pendapatannya.

Informan Biasa

1. Bapak Bagindo Uno Harahap

Bapak Bagindo Uno Harahap bekerja di Disbudpar Kota Medan sebagai Kasi Kasi Hiburan ODTW Disbudpar Kota Medan. Beliau mengatakan bahwa pembangunan tempat hiburan malam bertujuan untuk menambah pendapatan daerah. Beliau mengatakan bahwa tempat hiburan malam dijadikan sebagi salah satu jenis usaha yang dapat menjadi tempat hiburan bagi para wisatawan yang ingin menikmati hiburan malam. Beliau juga mengatakan bahwa pembangunan tempat hiburan malam memiliki tujuan yang positif yaitu agar masyarakat yang lelah dan jenuh melakukan aktivitas seharian dapat menikmati hiburan malam. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tempat hiburan malam bukan tempat yang identik dengan perilaku


(49)

negatif. Hanya saja ada beberapa orang yang menggunakan obat-obatan terlarang dan melakukan seks di tempat hiburan malam maka masyarakat memandang bahwa

dugem adalah perilaku yang tidak baik. Beliau mengatakan bahwa pelajar dilarang

masuk ke dalam sebuah tempat hiburan malam. Pengunjung yang masuk ke dalam tempat hiburan malam adalah pengunjung yang berumur 18 tahun ke atas dan memiliki kartu identitas yaitu KTP.

Beliau mengatakan bahwa apabila ada seorang pengusaha yang ingin membuka tempat hiburan malam maka ada beberapa proses yang harus dilakukan. Proses pembukaan tempat hiburan malam tersebut meliputi adanya surat tidak keberatan dari ziran tetangga. Maksudnya adalah adanya surat dari lurah yang menyatakan bahwa tetangga yang bertempat tinggal di sekitar tempat tempat hiburan malam tersebut tidak merasa terganggu apabila tempat hiburan malam tersebut dibuka. Proses selanjutnya yaitu adanya surat domisili usaha dari lurah, adanya surat rekomendasi dari Kesbang Polinmas, surat ijin gangguan ke BPPT. Selanjutnya surat-surat tersebut diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan. Selanjutnya surat-surat tersebut diproses oleh pihak Disbudpar dan apabila sudah memenuhi dengan persyaratan maka tempat hiburan malam tersebut dapat dibuka dan setiap pengelola harus mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Disbudpar sesuai undang-undang yang berlaku.

Beliau juga mengatakan bahwa pihak Disbudpar selalu melakukan monitoring terhadap tempat hiburan malam di Kota Medan. Monitoring yang dilakukan oleh Disbudpar sesuai dengan ketentuan Perda. Disbudpar dapat menutup usaha tempat hburan malam yang tidak memiliki surat ijin dan usaha tempat hiburan malam yang beroperasi melebihi jam operasional yang telah ditetapkan oleh Disbudpar. Penutupan tersebut tidak langsung dilakukan, tetapi pihak Disbudpar


(50)

memberikan surat peringatan kepada pihak pengelola usaha tempat hiburan malam. Apabila pihak pengelola menyalahi aturan maka pihak Disbudpar akan memberikan surat edaran dan jika pihak pengelola tidak menggubris surat edaran tersebut maka usaha tersebut dapat ditutup.

2. Ibu Dewi (48 tahun)

Ibu Dewi merupakan seorang ibu rumah tangga. Ibu Dewi memilki 3 orang anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dan perkuliahan. Setiap hari Ibu Dewi hanya memiliki pekerjaan domestik selayaknya ibu rumah tangga. Suami beliau bekerja sebagai PNS dan memiliki penghasilan yang cukup. Dia memilki seorang putri yang saat ini duduk di bangku perkuliahan. Menurut Ibu Dewi dugem adalah perilaku yang lagi nge-trend yang dilakukan remaja untuk berfoya-foya. Beliau mengatakan bahwa dugem adalah perilaku yang negatif. Hal ini didasarkan karena

dugem selalu berkaitan dengan penggunaan obat-obatan terlarang, minum-minuman

alkohol, dan wanita-wanita yang berpakaian seksi.

Beliau mengatakan bahwa yang menyebabkan remaja khususnya mahasiswa melakukan dugem yaitu karena diajak oleh teman-temannya. Teman-teman dari mahasiswa tersebut mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan dugem. Beliau mengatakan bahwa apabila lingkungan tempat tinggal mahasiswa tersebut baik, maka mahasiswa tersebut tidak akan mempengaruhi mahasiswa untuk dugem. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa orang tua yang bercerai juga dapat menyebabkan anak mencari hiburan di tempat hiburan malam. Orang tua yang bercerai membuat anak tertekan sehingga anak mencari pelarian di luar rumah yaitu dengan pergi dugem bahkan bisa jadi anak tersebut terjerumus ke dalam dunia gelap dengan menggunakan obat-obatan terlarang.


(51)

Beliau mengatakan bahwa tujuan remaja melakukan perilaku dugem yaitu untuk happy-happy atau mencari kesenangan, sebagai tempat pelarian bagi remaja yang memiliki masalah keluarga. Beliau mengatakan remaja yang melakukan aktivitas dugem memiliki nilai-nilai akademik yang rendah. Hal ini disebabkan karena remaja cenderung begadang saat dugem, sehingga waktu untuk belajar menjadi terganggu.

Beliau mengatakan bahwa beliau selalu memberi uang saku untuk anaknya yang sedang kuliah sekitar Rp. 280.000 per minggu. Uang tersebut sudah termasuk uang untuk mengisi bensin motor dan uang jajan anaknya. Beliau tidak mengawasi penggunaan uang saku yang diberikan kepada anaknya. Beliau merasa percaya bahwa anaknya tidak akan menggunakan uang saku tersebut untuk dugem atau keperluan-keperluan yang tidak baik. Beliau juga tidak terlalu mengawasi pergaulan anaknya. Beliau percaya bahwa anaknya bergaul dengan teman-temannya yang baik karena anaknya sudah dididik dan diajar dengan pendidikan agama sejak kecil di dalam keluarga.

3. Ibu Santi (42 tahun)

Ibu Santi adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 42 tahun. Selain melayani anak dan suami, ibu Santi bekerja sebagai seorang guru di salah satu SMP swasta di Kota Medan. Ibu Santi memiliki 2 orang anak. Beliau memiliki seorang putra yang saat ini sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Kota Medan.

Beliau mengatakan bahwa dugem adalah suatu perilaku yang sudah tidak asing lagi dalam dunia pergaulan anak muda. Beliau mengatakan bahwa dugem adalah perilaku yang negatif karena kebanyakan dari penikmat dunia malam minum-minuman beralkohol dan cenderung ke arah yang lebih negatif yaitu adanya penggunaan obat-obatan terlarang bahkan seks setelah dugem. Beliau mengatakan


(52)

bahwa yang menyebabkan remaja melakukan dugem yaitu karena ajakan dari teman-temannya. Selain itu juga penayangan film-film di televisi juga dapat menyebabkan remaja melakukan dugem. Nilai-nilai budaya Barat yang masuk ke Indonesia bisa diperoleh dari tayangan-tayangan televisi dan internet. Nilai-nilai tersebut kemudian diadopsi oleh remaja yang tinggal diperkotaan.

Beliau mengatakan bahwa gaya hidup seperti budaya Barat membuat remaja berperilaku layaknya orang-orang Barat. Remaja melakukan gaya hidup seperti

dugem agar dilihat lebih trendy, mengikuti jaman atau biasanya disebut anak gaul.

Tujuan remaja melakukan dugem sangat banyak, salah satunya yaitu agar kelihatan gaul dan mencari kesenangan bersama teman-temannya.

Ibu Santi mengatakan bahwa uang saku yang diberikan kepada anaknya yaitu sekitar Rp. 400.000 per minggu. Beliau tidak mengawasi penggunaan uang saku yang digunakan anaknya tersebut. Beliau juga tidak mengawasi pergaulan anaknya. Beliau mengatakan bahwa tidak mungkin mengawasi anaknya dengan cari mengikuti kemana pun anaknya pergi. Beliau mengatakan bahwa dia percaya anaknya tidak akan melakukan hal-hal negatif bersama teman-temannya. Beliau mengatakan bahwa apabila ada perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh anaknya, maka beliau dan suaminya akan member nasehat kepada anaknya. Dan apabila perbuatan yang tidak baik tersebut terus-terus dilakukan, maka beliau akan memberikan sanksi kepada anaknya dengan mengurangi uang saku anaknya.


(53)

Matriks 4.1

Profil Informan

No. Nama Usia Frekuensi Kunjungan Ke Kelab Malam

Perilaku Dugem

1. Aji 21 2x seminggu Joget, mengobrol, minum alkohol, terkadang memakai vitamin/obat, dan pernah melakukan sex selesai dugem. 2. Andri 20 2x seminggu Joget dan minum alkohol

3. Pratama 21 2x seminggu Minum alkohol, merokok, dan menggunakan inex.

4. Luis 23 1x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan

obor, melakukan sex selesai dugem.

5. Dita 22 1x seminggu Minum juice, mendengarkan musik, dan joget.

6. Dino 22 Setiap hari Minum alkohol, menikmati musik, dan joget

7. Andi 21 1x seminggu Merokok dan joget.

8. Galih 21 1x seminggu Merokok, joget, dan menggunakan obor (istilah lain dari inex).

9. Jack 23 1x seminggu Joget, minum soft drink, dan menikmati musik.

10. Dera 21 4x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan

inex, melakukan sex selesai dugem. Sumber: Hasil penelitian 2016 (data diolah)

4.4 Motivasi Mahasiswa/i Melakukan Dugem

Motivasi merupakan salah satu aspek yang menentukan perilaku individu dalam masyarakat. Motivasi adalah dorongan kehendak yang membuat seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Dari hasil wawancara yang telah dilakukan, pada umumnya mahasiswa/i melakukan perilaku dugem karena


(54)

motif yang beragam. Ada beberapa faktor yang menjadi motivasi mahasiswa/i menjadi penikmat dugem. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat mahasiswa/i melakukan perilaku dugem, penulis melakukan wawancara terhadap beberapa informan.

Setiap orang memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar, bermacam-macam pertanyaan ada dalam pikiran seseorang, misalnya apa?, bagaimana?, mengapa?, dimana?, siapa? , dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat seseorang ingin tahu tentang sesuatu hal. Rasa ingin tahu yang besar ini membuat para mahasiswa/i ingin mencoba dan merasakan seperti apa jika berada di kelab malam.

Yang menjadi motivasi mahasiswa/i untuk melakukan perilaku dugem adalah rasa ingin tahu. Ketika pertama kali mengenal dugem, tentunya mahasiswa/i memiliki pengalaman tersendiri yang mungkin sama atau berbeda satu sama lainnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara yang dilakukan terhadap seorang informan, Aji (21 tahun):

“… awalnya aku mengenal dugem sih udah lama, yaitu dari kelas 3 SMA. Aku pergi dugem itu karena aku merasa pensaran dan ingin tahu bagimana sih sebenarnya kegiatan dugem itu. Dan pengalaman pertama kali aku dugem itu aku merasa malu-malu dan gak pede, mau joget juga gak berani. Tapi lama-lama jadi terbiasa juga, apalagi cewek-cewek di dalam kelab malam sexy-sexy jadi aku gak pernah bosen untuk pergi dugem…hehehe…”(Hasil wawancara pada 16 Mei 2016).

Hal serupa juga diungkapkan oleh seorang informan yaitu Andi (21 tahun):

“… awal aku kenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 19 tahun. Alasannya itu karena ingin tahu aja. Pertama kali dugem rasanya malu kali. Orang-orang pada joget dengan bebas, aku malah duduk dan diam karena malu-malu. Tapi lama-lama ya terbiasa aja…” (Hasil wawancara pada 27 Mei 2016).


(55)

Dari kedua pernyataan informan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa yang menjadi motivasi mahasiswa melakukan perilaku dugem yaitu karena adanya rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut mendorong mahasiswa untuk melakukan

dugem. Awalnya indvidu hanya ingin tahu dan minimal pernah mencoba dugem agar

dibilang keren (seperti yang diungkapkan oleh Andri). Namun ketika individu telah mencoba, individu malah semakin suka untuk pergi dugem. Rasa ingin tahu tersebut membuat individu merasa penasaran sehingga memaksa individu secara tidak sadar untuk mencoba dugem dan semakin suka untuk dugem.

Yang menjadi motivasi mahasiswa/i melakukan dugem yaitu karena adanya ajakan teman. Masa remaja merupakan masa akan beralihnya ketergantungan hidup kepada orang lain. Dimana dalam masa ini remaja mulai menentukan jalan hidupnya. Selama menjalani pembentukan kematangan dalam sikap, berbagai perubahan kejiwaan terjadi, bahkan mungkin kegoncangan. Kondisi semacam ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tinggal. Lingkungan sosial yang berupa lingkungan pergaulan antar sesama teman sebaya juga menjadi faktor yang memotivasi mahasiswa/i untuk melakukan dugem. Hal ini terungkap dari hasil wawancara dari salah satu informan, Galih (21 tahun):

“…aku kenal dugem itu karena teman-teman yang ngajak aku dugem. Pengalaman pertama kali dugem itu ya taulah malu-malu. Aku suka dugem karena lampunya kelap-kelip, musiknya oke buat kepala geleng-geleng. Aku selalu pergi dugem sama teman rumah karena sama mereka lebih enak dan gak ada rasa malu kalo mau joget…” (Hasil wawancara pada 30 Mei 2016).

Hal serupa juga diungkapkan oleh salah satu informan Dita (22 tahun):

“…aku pergi dugem pertama kali karena diajak sama teman dekatku yang cowok bisa dibilang pacar. Awalnya gak mau, tapi berhubung aku juga pengen tau tentang dugem ya aku ikut aja. Apalagi perginya bareng cowokku yang udah lama


(56)

aku kenal, jadi aku gak khawatir. Awal dugem ya malu, mau joget kaku banget nih badan, tapi karena sering diajak sama pacar ya jadi terbiasa aja buat joget. Aku kalo pergi dugem ya sama pacar dan teman-teman pacar yang kebetulan juga temanku, jadi ngerasa nyaman aja sama mereka…” (Hasil wawancara pada 24 Mei 2016).

Dari hasil wawancara dengan kedua informan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa individu mengenal dugem yaitu karena adanya ajakan dari teman-teman dekatnya. Berdasarkan pengamatan penulis, mereka yang sudah berpengalaman dugem lebih nyaman bila pergi bersama teman-temannya. Faktor yang memotivasi mahasiswa/i untuk dugem bukan karena kebutuhan terhadap hiburan atau hal lain yang menyangkut dugem, tetapi lebih kepada adanya hubungan dalam faktor pertemanan. Faktor pergaulan sangat mempengaruhi mahasiswa/i untuk melakukan perilaku dugem.

Tidak hanya itu, motivasi mahasiswa/i melakukan dugem yaitu disebabkan dari pengaruh media massa. Peran media massa sebagai pengantar untuk mengetahui sebuah peristiwa dalam kehidupan sosial tidak dapat disangkal juga memotivasi para mahasiswa/i untuk melakukan perilaku dugem. Pengetahuan mahasiswa/i tentang perilaku “dugem” didapat melalui media massa berupa media cetak dan media elektronik. Media cetak dan media elektronik berperan untuk menyampaikan sesuatu kepada masyarakat secara besar-besaran dalam jumlah wadah yang sangat banyak. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Luis (23 tahun):

“…awal saya mengenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 20 tahun. Motivasinya selain karena adanya rasa penasaran terhadap dugem, tetapi juga karena televisi dan internet yang memberikan informasi tentang dugem. Di tivi kan sering tuh ada pergaulan anak-anak muda. Gimana anak-anak muda sangat menikmati kehidupan bebas dengan cara dugem. Karena alasan itu saya mencoba dugem…”


(57)

Dari hasil wawancara di atas, dapat disimpulkan bahwa teknologi yang canggih seperti internet mempermudah mahasiswa/i untuk mengakses informasi tentang “dugem”. Tayangan-tayangan dalam televisi mengenai pergaulan anak-anak muda mempengaruhi para mahasiswa melakukan dugem. Sebagian program tayangan di TV ini mempertontonkan life-style yang bersifat glamour yang bisa diakses seluruh penduduk Indonesia, khususnya bagi remaja yang menjadikan tayangan tersebut sebagai referensi dalam kehidupannya sehari-hari agar terlihat lebih glamour.

Hubungan yang kurang hamonis di dalam keluarga (broken home) juga menjadi motivasi mahasiswa/i melakukan dugem. Broken home dapat digambarkan dengan keluarga yang berantakan atau kurang harmonis, dimana hubungan orang tua sudah renggang dan anak-anak kurang perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua akibat perceraian menyebabkan anak-anak menjadi stress dan berujung pada pergaulan yang tidak baik. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Pratama (21 tahun):

“…Jujur aja dulu saya tidak tahu masalah clubbing atau dugem. Saya tahunya ya dari teman-teman yang sama-sama bertempat tinggal dekat dengan rumah saya. Dan saya mengira kalo dugem itu cuma ngumpul bareng teman dan mendengarkan musik, tapi ternyata bukan hanya sekedar hal itu aja. Dan pada suatu ketika terjadi konflik keluarga antara ayah dan ibu saya, saat itu saya pusing mau ngapain. Pada akhirnya, teman saya mengajak saya ke salah satu kelab malam yaitu Elegant untuk dugem. Setelah itu, ok saya nurut aja sama teman saya, katanya asik bisa hilangin stress. Dan ketika saya dugem ternyata seru juga dan saya bilang kepada teman saya kayak gini, Wah seru juga dan musik yang dimainkan juga asik, kata saya kepada teman saya. Malam itu seakan tidak ada beban yang saya rasakan. Jadi setiap ada masalah di rumah atau saat saya lagi suntuk ya saya pergi dugem bersama teman-teman. Saya pergi dugem itu dua kali seminggu. Orang tua tau kalo saya suka dugem tapi mereka ya hanya sebatas peduli dengan memberi nasehat. Mereka tidak tahu


(58)

kalo sebenarnya saya tidak hanya butuh nasehat tapi saya juga butuh kasih sayang yang utuh kayak teman-teman yang orang tuanya gak cerai. Pokoknya saya ngerasa asik aja kalo dugem.” (Hasil wawancara pada 19 Mei 2016).

Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa keluarga yang tidak menjalankan fungsi keluarga secara baik maka berdampak buruk bagi anaknya. Anak mencari kesenangan di luar rumah karena disebabkan di dalam rumahnya sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya. Pratama bahkan lebih senang bila berada di luar rumah dan begadang bersama teman-temannya. Pratama mengakui bahwa bersama teman lebih nyaman daripada tinggal di rumah.

Gaul juga menjadi motivasi mahasiswa/i melakukan dugem. Mila (2007),

dugem merupakan suatu istilah trend dan menjadi sebuah gaya hidup yang digemari

oleh kebanyakan remaja saat ini, karena menurut mereka dugem bisa menjadi sarana ekspresi untuk mencari jati diri. Dugem telah menjadi istilah yang familiar dan populer dikalangan remaja.

Gaul adalah suatu istilah yang menjadi ciri khas bagi anak-anak muda. Agar kelihatan lebih gaul/keren/anak jaman, seseorang harus mengikuti segala pergaulan layaknya pergaulan remaja-remaja luar negeri (budaya Barat). Untuk menjadi seorang yang gaul yaitu harus bisa mencoba gaya hidup budaya Barat yang glamour. Alasan menjadi “anak gaul” ini menjadi faktor yang memotivasi individu untuk melakukan dugem. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara dengan Andri (20 tahun):

“… awal aku kenal dugem itu sejak masuk kuliah pada umur 19 tahun. Alasannya itu karena ingin tahu aja. Awalnya sih aku hanya coba-coba atau minimal pernah coba biar keliatan lebih keren dan gaul. Kalo gak coba nanti diejek cupu atau gak gaul. Pertama kali masuk kelab malam, serasa kayak orang katrok sendiri. Tapi lama-lama ya terbiasa aja. Menurutku dugem itu suatu perilaku yang wajar yang


(1)

3. Ibu Dra. Lina Sudarwati, M.Si selaku Ketua Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Drs. Henry Sitorus, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan dorongan dalam penyusunan skripsi ini sekaligus sebagai penasihat akademik yang telah banyak membantu semasa perkuliahan.

5. Bapak Drs. Junjungan SBP. Simanjuntak, M.Si selaku dosen penguji tamu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Seluruh dosen dan karyawan/staf Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara, atas ilmu, bimbingan dan bantuannya hingga penulis selesai menyusun skripsi ini.

7. Secara khusus penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada orang tua tercinta dan yang penulis banggakan, yaitu bapak Bistok Nainggolan dan ibu Rosmeri Situmorang yang telah membesarkan dan mendidik, serta memberikan dukungan dan doa kepada penulis.

8. Terima kasih kepada adik saya Marlina Nainggolan dan adik ipar saya Carles Banjarnahor serta seluruh keluarga yang penulis sayangi, yang telah banyak memberikan dukungan dan pengorbanan baik secara moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dengan baik.

9. Ucapan terima kasih penulis kepada semua sahabat Citra Novrita Sari Aritonang, Indah Permata Sari Tarigan, Lia Agustina Lubis, Novita Sari Tondang, Evelina Siagian yang juga telah banyak memberikan bantuan, dorongan serta motivasi yang membantu penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.


(2)

10.Teman serta rekan-rekan di Jurusan Sosiologi, Universitas Sumatera Utara stambuk 2012.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, baik dari segi materi maupun penyajiannya. Untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan hal yang bermanfaat dan menambah wawasan bagi pembaca dan khususnya bagi penulis juga.

Medan, Agustus 2016 Penulis,


(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... .ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.4.1 Manfaat Teoritis ... 8

1.4.2 Manfaat Praktis ... 8

1.5 Defenisi Konsep. ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Perilaku ... 12

2.2 Konsep Dugem ... 12

2.3 Remaja ... 15

2.4 Teori Tindakan Sosial Talcott Parsons. ... 18

2.5 Pendekatan Fungsi Agil Talcott Parsons………28


(4)

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian ... 35

3.2 Lokasi Penelitian ... 36

3.3 Unit Analisis dan Informan ... 37

3.3.1 Unit Analisis ... 37

3.3.2 Informan ... 37

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 38

3.4.1 Data Primer ... 39

3.4.2 Data Sekunder ... 40

3.5 Interpretasi Data ... 40

3.6 Jadwal Kegiatan ... 41

3.7 Keterbatasan Penelitian ... 41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... 43

4.1.1 Kota Medan ... 43

4.1.1.1 Keadaaan Geografis Kota Medan ... 44

4.1.1.2 Keadaaan Demografi Kota Medan ... 44

4.1.2 Tempat Hiburan Malam Lokasi Penelitian ... 46

4.2 Karakteristik Umum Responden ... .52

4.3 Profil Informan ... 55

4.4 Motivasi Mahasiswa Melakukan Dugem ... 75

4.5 Upaya Mahasiswa Melakukan Dugem... 84


(5)

4.7 Analisis Perilaku Dugem dengan Tindakan Sosial Talcott Parsons…...….92

4.8 Analisis Perilaku Dugem dengan Fungsi AGIL Talcott

Parsons…………95

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan... 100 5.2 Saran... 102 DAFTAR PUSTAKA ... 103


(6)

DAFTAR TABEL

TABEL JUDUL HALAMAN

Tabel 1.1 Beberapa Usaha Hiburan Malam di Kota Medan ... 5

Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2009- 2013 ... 45

Tabel 4.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur ... 53

Tabel 4.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 53

Tabel 4.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Universitas………54

Tabel 4.5 Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua…………...54