Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa di Kota Medan dengan Teori Tindakan Talcott Parson

91 untuk pergi dugem bertambah. Dan ada juga yang berharap mendapat kenalan yang bisa diajak untuk kencan sesaat. Tujuan dugem yang dilakukan mahasiswa yaitu ingin mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang dilakukan di kelab malam. Penghasilan yang mereka peroleh digunakan untuk meringankan beban orang tua. Hal ini dapat terlihat dari hasil wawancara terhadap Dino 22 tahun: “…saya bekerja sebagai bartender. Jadi tujuan saya ke kelab malam itu ya untuk bekerja agar dapat penghasilan. Saya juga mengambil jurusan makanan dan minuman di Akademi Pariwisata Negeri Medan. Nah jurusan saya itu cocok dengan pekerjaan saya sebagai bartender. Lumayan selain bisa untuk menambah penghasilan, saya juga menjadi mahir dalam meracik minuman. Penghasilan yang saya peroleh itu buat biaya kuliah dan bantuin biaya sekolah adik. Orang tua sebenarnya mampu, tapi karna saya mau mandiri ya gak ada salahnya juga membantu orang tua…” Hasil wawancara pada 25 Mei 2016 . Tujuan serupa juga diungkapkan oleh Dera 21 tahun: “…aku punya kegiatan sampingan selain kuliah yaitu cewek BO. Jadi tujuan aku dugem ya buat happy sekalian cari booking-an. Aku kalo transaksi kadang dari hape dan buat janji untuk ketemuan dengan klien di Elegant. Kadang ada temanku juga yang kenalin cowok sama aku. Nah uang yang aku dapet itu aku gunain untuk biaya kuliah, biaya kost, dan aku juga ngirim uang sama orang tua. Orang tua gak tau kalo aku ada kegiatan seperti ini di Medan…” Hasil wawancara pada 08 Agustus 2016.

4.7 Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa di Kota Medan dengan Teori Tindakan Talcott Parson

Perilaku adalah setiap cara, reaksi atau respon manusia atau makhluk hidup terhadap lingkungannya. Dengan kata lain, perilaku adalah aksi, reaksi terhadap rangsangan. Perilaku adalah suatu tindakan rutin yang dilakukan oleh seseorang Universitas Sumatera Utara 92 dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan motivasi ataupun kehendak untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkannya dan hal itu mempunyai arti baginya. Menurut Parsons, “tindakan” adalah perilaku yang disertai oleh adanya “upaya” subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi “situasional” atau “isi kenyataan” pada keadaan yang “ideal” atau yang ditetapkan secara alternatif Peter Beilharz, 2002. Tindakan sosial menekankan pada orientasi subjektif yang mengendalikan pilihan-pilihan individu. Pilihan-pilihan ini secara alternatif diatur atau dikendalikan oleh nilai atau standar alternatif bersama. Hal ini berlaku untuk tujuan-tujuan yang ditentukan individu serta alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan itu juga dalam memenuhi kebutuhan fisik yang mendasar ada pengaturan normatifnya Doyle Paul Johnson 1986: 113. Pandangan Parsons tentang tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana alat dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma. Basis dasar dari teori aksi Parsons ini yaitu apa yang dinamakan unit aksi, yang memiliki empat komponen. Keempat komponen tersebut antara lain, eksistensi aktor, kemudian unit aksi yang terlibat punya tujuan, lalu situasi-kondisi, dan sarana- sarana lainnya, yaitu norma dan nilai-nilai. Inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep voluntarisme dalam teorinya Parsons. Inti persoalannya adalah kemampuan individu untuk melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka untuk mencapai tujuan. Universitas Sumatera Utara 93 Para aktor mahasiswa yang melakukan perilaku dugem, bertindak untuk mengejar kepentingan secara rasional yaitu untuk memaksimalkan tujuan. Fokus analisis dari Teori Tindakan Sosial Talcott Parsons ini, lebih pada aktor dan strateginya untuk meraih tujuan. Penulis menemukan bahwa mahasiswa yang melakukan perilaku dugem di tiga kelab malam yang ada di Kota Medan, adalah individu- individu aktor yang telah merasakan tekanan yang berupa ajakan teman, broken home, dan faktor ekonomi situasi di lingkungan pergaulan dan keluarga. Para mahasiswa yang melakukan perilaku dugem tidak bisa menghindar dari paksaan ajakan teman- temannya begitu juga dengan penggunaan obat-obat terlarang seperti inex obor cecek vitamin, dan minum-minuman beralkohol, jika mereka menolak ajakan temannya maka mahasiswa tersebut akan dijauhi dan akan dianggap sebagai teman yang tidak setia. Hal ini membuat individu terpaksa mau pergi dugem dengan alasan yaitu menghargai teman yang mengajaknya. Broken home juga menjadi penyebab individu memilih untuk melakukan aktivitas dugem. Hubungan keluarga yang kurang harmonis membuat invidu merasa stress dan akhirnya memilih dugem sebagai hal yang membawa kesenangan bagi dirinya. Awalnya perilaku dugem tersebut hanya ingin dilakukan sekali saja atau minimal pernah coba. Tetapi karena tiap minggu teman selalu mengajak untuk pergi dugem, ditambah dengan aktivitas perkuliahan yang menjenuhkan atau karena ada masalah-masalah terhadap keluarga, maka perilaku tersebut menjadi sebuah kewajaran berdasarkan hasil wawancara terhadap informan. Perilaku dugem tersebut memberikan kepuasan dan kesenangan bagi mahasiswa tersebut. Untuk pergi dugem, para mahasiswa tersebut berusaha untuk mengumpulkan dana agar dapat pergi dugem. Usaha yang dilakukan mahasiswa tersebut berupa menyisihkan uang saku yang diberikan oleh orang tua, dengan sistem patungan dengan teman Universitas Sumatera Utara 94 CK, dengan melakukan pekerjaan sampingan, dengan menggunakan undangan, dan key card IBS. Nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat dalam pergaulan teman sebaya mengikat mereka untuk melakukan aktvitas dugem. Nilai-nilai seperti menghargai teman, nilai kesetiakawanan, nilai kesolid-an membuat mereka tidak bisa menolak ajakan teman untuk pergi dugem. Begitu juga dengan norma yaitu aturan-aturan yang terdapat dalam lingkungan pergaulan mahasiswa dengan teman sebayanya yang berupa untuk melakukan aktivitas dugem setiap minggunya. Apabila aturan tersebut tidak dilakukan, maka sanksi yang diterima oleh informan berupa cap tidak trenddan tidak layak bergaul dengan teman-temannya.

4.8 Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa dengan Fungsi AGIL Talcott Parsons