18
lingkungan dimana dia tinggal. Pada sisi lain remaja seringkali tidak mempunyai tempat mengadu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Sehingga seringkali
remaja terjerumus melakukan perilaku yang menyimpang sebagai pelarian, seperti mabuk-mabukan, narkotika, pergi ke diskotik untuk dugem.
Menurut Hurlock 1994, hal.207 pada masa ini pula timbul banyak perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis, seiring dengan tugas-
tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja. Berkaitan dengan hubungan sosial, remaja harus menyesuaikan diri dengan orang di luar lingkungan keluarga,
seperti meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya peer group. Kuatnya pengaruh kelompok sebaya terjadi karena remaja lebih banyak berada di luar rumah
bersama dengan teman sebaya sebagai kelompok. Kelompok teman sebaya memiliki aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh remaja sebagai anggota kelompoknya.
Penyesuaian remaja terhadap norma dengan berperilaku sama dengan kelompok teman sebaya disebut konformitas Monks, 2004, hal.282.
2.4 Tindakan Sosial Talcott Parsons
Dalam bukunya The Structure of Social Action, Parsons mengkaji konsep tindakan sosial rasional. Dalam analisanya, Parsons banyak menggunakan kerangka
alat-tujuan means-ends framework. Inti pemikiran Parsons adalah bahwa: 1 tindakan itu diarahkan pada tujuannya atau memiliki suatu tujuan; 2 tindakan
terjadi dalam suatu situasi, dimana beberapa elemennya sudah pasti, sedangkan elemen-elemen lainnya digunakan oleh yang bertindak itu sebagai alat menuju
tujuan itu; dan 3 secara normatif tindakan itu diatur sehubungan dengan penentuan alat dan tujuan. Singkatnya, tindakan itu dilihat sebagai satuan kenyataan sosial yang
paling kecil dan paling fundamental Doyle Paul Johnson 1986: 113.
Universitas Sumatera Utara
19
Komponen-komponen dasar dari satuan tindakan adalah tujuan, alat, kondisi dan norma. Alat dan kondisi berbeda dalam hal di mana orang yang bertindak itu
mampu menggunakan alat dalam usahanya mencapai tujuan; kondisi merupakan aspek situasi yang tidak dapat dikontrol oleh orang yang bertindak itu. Ide-ide
mengenai hakekat tindakan sosial sesuai dengan pikiran sehat dan pengalaman setiap hari. Misalnya, pasti banyak orang mengenal tindakannya sendiri sebagai
mempunyai arti dan tujuan yang diatur secara normatif dan banyak pula yang mengakui bahwa situasi di mana tindakan itu terjadi juga penting. Pentingnya analisa
Parsons tidak terletak pada kaitannya dengan pikiran sehat atau pengalaman setiap hari, melainkan dalam kenyataan bahwa apabila itu merupakan suatu jembatan
penghubung posisi-posisi yang saling bertentangan dan berat sebelah Soedjono Dirdjosisworo 1996: 153.
Teori Parsons pada dasarnya merupakan suatu sintesa dari titik pandangan positivisme dan idealisme yang saling bertentangan. Keempat tokoh yang dianalisa
yaitu Alfred Marshall, Vilfredo Pareto, Emile Durkheim yang bertitik tolak dari positivis, sedangkan yang ke-4 yaitu Max Weber bertolak dari konteks idealisme
Jerman pada umumnya. Tetapi dalam masing-masing kasus, Parsons mengemukakan bahwa keempatnya menuju ke suatu pengakuan akan validitas posisi lawan. Parsons
melihat analisanya itu sebagai suatu sintesa antara idealisme dan positivisme Soedjono Dirdjosisworo 1996: 154.
Analisa Parsons dengan menggunakan bahan sekunder dari Marshall, Pareto, Durkehim, dan Weber dengan mudah dapat dimengerti dalam hubungannya dengan
konflik utama antara positivisme dengan idealisme. Marshall, seperti ahli ekonomi Inggris lainnya dan seperti pemikir-pemikir utilitarian, memberi tekanan pada
rasionalitas perilaku manusia, khususnya seperti yang tercermin dalam pilihan alat
Universitas Sumatera Utara
20
dalam mencapai tujuan tertentu. Namun proses subyektif menurut Parsons tidak bersungguh-sungguh merupakan sesuatu yang berdiri sendiri secara analistis, proses-
proses itu hanya mencerminkan lingkungan eksternal untuk memungkinkan individu menyesuaikan diri dengannya Soedjono Dirdjosisworo 1996: 157.
Keseluruhan teori Pareto didasarkan pada pokok pikiran bahwa sebagian besar perilaku manusia bersifat tidak logis dan mencerminkan perasaan atau
keadaan-keadaan pikiran lebih daripada perhitungan alat dan tujuan yang bersifat rasional. Misalnya seorang petani yang menggunakan suatu formula khusus untuk
pupuk supaya sayur kolnya bertumbuh lebih besar, dia sedang melaksanakan tindakan yang logis. Sebaliknya, mempergelarkan tarian hujan untuk meyakinkan
turunnya hujan bersifat tidak logis. Perasaan-perasaan dasar yang merupakan sumber motivasi yang riil bagi tindakan orang yang disebut dengan istilah residu, sedangkan
pelbagai penjelasan atau pembenaran yang diberikan sebagai alasan untuk tindakannya disebut dengan istilah derivasi Soedjono Dirdjosisworo 1996: 158.
Kategori lain mengenai tindakan tidak logis yang paling penting dalam kerangka Parsons adalah yang nonrational atau nonscientific. Artinya pembenaran
atau penjelasan teoritis mengenai tindakan yang mungkin diberikan seseorang bersifat non-empiris atau berada di luar bidang penjelasan ilmiah atau rasional.
Penjelasan seperti itu dikatakan Parsons sebagai “tidak dapat dibuktikan, bukan ‘salah’. Misalnya, apabila tujuan yang ingin dicapai itu adalah suatu tujuan subyektif
dan bukan tujuan yang obyektif empiris. Sebagai ilustrasi, kalau seseorang terlibat dalam ritus meditasi untuk memperoleh perasaan damai dalam hati, atau untuk
bersatu dengan kuasa ilahi, kriterium akhir untuk menilai tindakan serupa itu adalah pengalaman subyektif individu itu, bukan pembuktian yang logis atau ilmiah. Dalam
kasus tarian hujan, para penari mungkin benar-benar mengalami penguatan
Universitas Sumatera Utara
21
kepercayaan dalam menghadapi ketidakpastian; di sini kita lihat pengalaman subyektif, dan bukan hasil empiris obyektif dari tarian hujan itu yang merupakan
dorongan penguat yang nyata bagi penari itu Soedjono Dirdjosisworo 1996: 159. Sementara Durkheim pada mulanya menekankan paksaan eksternal dari
lingkungan sosial. Paksaan-paksaan ini diperhitungkan kalau individu mengejar pelbagai tujuan, sangat mirip dengan fakta obyektif dalam lingkungan fisik yang juga
diperhitungkan. Manusia bertindak secara rasional dalam memperhitungkan paksaan- paksaan sosial seperti kode hukum dalam merencanakan tindakannya sendiri.
Kemudian dalam mengembangkan konsep kesadaran kolektif atau collective conscience dan kesadaran akan hadirnya kelompok dalam diri seseorang atau
collective representation, Durkheim memandang dan memperlakukan faktor-faktor sosial itu tidak hanya sebagai seperangkat fakta eksternal yang diperhitungkan
individu tetapi sebagai seperangkat ide, kepercayaan, nilai dan pola normatif yang dimiliki individu secara subyektif bersama orang-orang lain dalam kelompoknya atau
masyarakat keseluruhan. Faktor-faktor sosial di sini tidak hanya sekedar bagian dari lingkungan eksternal yang harus dihadapi individu dalam mengejar kepentingan
pribadi. Sebaliknya hakekat atau isi kepentingan individu akan mencerminkan nilai dan norma kelompok bersama Soedjono Dirdjosisworo 1996: 162.
Singkatnya, analisa Parsons sejauh ini mengenai Marshall, Pareto, dan Durkheim memperlihatkan masing-masing menuju suatu posisi voluntaristik di mana
pentingnya orientasi normatif dan ideal-ideal yang dianut bersama diterima dan diakui. Tetapi, Weber adalah seorang ahli teori yang memperlihatkan dengan sangat
sistematis kemungkinan-kemungkinan untuk mempersatukan ideal-ideal budaya serta norma-norma ke dalam satu model perilaku yang juga mengakui pentingnya
Universitas Sumatera Utara
22
situasi materiil dan sosial di mana perilaku itu terjadi. Kedua tekanan yaitu orientasi normatif dan konteks situasional harus disatukan dalam teori tindakan yang umum
sifatnya. Orientasi normatif memberi arah pada pilihan individu akan alat dan tujuan, sedangkan konteks situasional memberikan kesempatan dan memberikan batas-batas
pada tindakan individu. Dengan teori voluntaristiknya, Parsons bermaksud untuk mempersatukan
semua wawasan posisi teoritis yang ditinjaunya. Khususnya, individu benar-benar memiliki kebebasan memilih alat dan tujuan; pilihan individu itu sangat dipengaruhi
oleh lingkungan dan pilihannya itu diatur oleh norma dan nilai bersama seperti yang ditekankan oleh kaum idealis Soedjono Dirdjosisworo 1996: 163. Pandangan
Parsons tentang tindakan manusia itu bersifat voluntaristik, artinya karena tindakan itu didasarkan pada dorongan kemauan, dengan mengindahkan nilai, ide dan norma
yang disepakati. Tindakan individu manusia memiliki kebebasan untuk memilih sarana alat dan tujuan yang akan dicapai itu dipengaruhi oleh lingkungan atau
kondisi-kondisi, dan apa yang dipilih tersebut dikendalikan oleh nilai dan norma. Basis dasar dari teori aksi Parsons ini yaitu apa yang dinamakan unit aksi,
yang memiliki empat komponen. Keempat komponen tersebut antara lain, eksistensi aktor, kemudian unit aksi yang terlibat tujuan, lalu situasi- kondisi, dan sarana-sarana
lainnya, yaitu norma dan nilai-nilai. Inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep voluntarisme dalam teorinya Parsons. Inti persoalannya adalah kemampuan individu
untuk melakukan tindakan dalam arti menetapkan cara atau alat dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka untuk mencapai tujuan. Perilaku tersebut
memiliki beberapa pokok, yaitu: 1.
Aktor sebagai individu,
Universitas Sumatera Utara
23
2. Aktor yang memiliki tujuan yang ingin dicapai,
3. Aktor yang memiliki berbagai cara yang mungkin dapat dilakukan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan tersebut, 4.
Aktor yang tengah dihadapkan pada berbagai kondisi dan situasi yang dapat memengaruhi pilihan cara-cara yang yang akan digunakan untuk mencapai
tujuan tersebut, 5.
Aktor yang dibatasi oleh nilai-nilai, norma dan ide-ide dalam menetukan tujuan yang diinginkan dan cara-cara mencapai tujuan tersebut, dan
6. Perilaku, termasuk bagaimana aktor mengambil keputusan tentang tata cara
yang akan digunakan untuk mencapai tujuan setelah dipengaruhi oleh ide dan situasi kondisi yang ada I. B. Irawan, 2012: 24.
Menurut Parsons, “tindakan” adalah perilaku yang disertai oleh adanya “upaya” subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi “situasional”
atau “isi kenyataan” pada keadaan yang “ideal” atau yang ditetapkan secara normatif Peter Beilharz, 2002. Tindakan sosial menekankan pada orientasi subjektif yang
mengendalikan pilihan-pilihan individu. Pilihan-pilihan ini secara normatif diatur atau dikendalikan oleh nilai atau standar normatif bersama. Hal ini berlaku untuk
tujuan-tujuan yang ditentukan individu serta alat-alat yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan itu juga dalam memenuhi kebutuhan fisik yang mendasar ada
pengaturan normatifnya Doyle Paul Johnson 1986: 113. Prinsip-prinsip dasar ini bersifat universal dan mengendalikan semua tipe
perilaku manusia tanpa memandang konteks budaya tertentu. Untuk mencapai tujuan ini penting untuk membentuk suatu strategi dalam mengidentifikasi elemen-elemen
dasar yang membentuk gejala dan untuk mengembangkan seperangkat kategori dan untuk membahas tipe-tipe kasus yang berbeda khususnya elemen-elemen dasar apa
Universitas Sumatera Utara
24
saja yang terdapat, orientasi apa yang berbeda yang dapat ditujukan dengan strategi ini, bagaimana orientasi subjektif yang terdapat pada individu berbeda, cocok satu
sama lain atau menghasilkan tindakan yang saling tergantung yang membentuk suatu sistem sosial.
Untuk menjawab ini Parsons membuat sistem klasifikasi yang paling banyak dikenal atau sering dikutip adalah variabel berpola pattern variables. Dalam
konteks kerangka pilihan Parsons, variabel-variabel ini dilihat lebih umum sifatnya. Dalam kerangka umum itu orientasi orang yang bertindak terdiri dari dua 2 elemen
dasar yaitu: 1.
Orientasi motivasional Orientasi ini menunjuk pada keinginan individu yang bertindak untuk
memperbesar kepuasaan dan mengurangi kekecewaan. Orientasi ini terdiri dari tiga 3 dimensi yaitu:
a. Dimensi kognitif yaitu menunjuk pada pengetahuan orang bertindak
mengenai situasinya khususnya dihubungkan pada kebutuhan dan tujuan pribadi. Dimensi ini mencerminkan kemampuan dasar manusia untuk
membedakan antara rangsangan-rangsangan yang berbeda dan membuat generalisasi dengan satu rangsangan dengan rangsangan lainnya.
b. Dimensi katektif atau emosional yaitu menunjuk pada reaksi katektif atau
emosional dan orang yang bertindak terhadap situasi atau berbagai aspek didalamnya. Ini juga mencerminkan kebutuhan dan tujuan individu.
Umumnya, orang memiliki suatu reaksi emosional positif terhadap elemen-elemen dalam lingkungan itu yang memberikan kepuasan atau
dapat digunakan sebagai alat dalam mencapai tujuan, dan reaksi yang negatif terhadap aspek- aspek dalam lingkungan itu yang mengecewakan.
Universitas Sumatera Utara
25
c. Dimensi evaluatif yaitu menunjuk pada dasar pilihan sesorang antara
orientasi kognitif atau katektif secara alternatif. Evaluatif ada karena individu selalu memiliki banyak kebutuhan dan tujuan dan ada
kemungkinan banyak interpretasi kognitif dan reaksi katektif. Kriteria yang digunakan individu untuk memilih dari alternatif-alternatif ini
merupakan dimensi alternatif. 2.
Orientasi nilai Orientasi ini menunjuk pada standar-standar normatif yang mengendalikan
pilihan-pilihan individu alat dan tujuan dan prioritas sehubungan dengan adanya kebutuhan dan tujuan-tujuan yang berbeda. Orientasi ini terdiri dari tiga dimensi
yaitu: a.
Dimensi kognitif yaitu menunjuk pada standar-standar yang digunakan dalam menerima atau menolak berbagai interpretasi kognitif mengenai
situasi. b.
Dimensi apresiatif yaitu menunjuk pada standar yang tercakup pada pengungkapan perasaan atau keterlibatan emosi atau afektif.
c. Dimensi moral yaitu menunjuk pada standar-standar abstrak yang
digunakan unyuk menilai tipe-tipe tindakan alternatif menurut implikasinya terhadap sistem itu secara keseluruhan baik individual
maupun sosial dimana tindakan itu berakar. Orientasi nilai keseluruhan mempengaruhi dimensi evaluatif dalam orientasi
motivasional. Ketiga dimensi orientasi nilai itu mencerminkan pola-pola budaya yang diresapi individu. Dimensi-dimensi ini dapat juga digunakan untuk
mengklasifikasikan aspek-aspek sistem budaya yang berbeda. Singkatnya, dimensi kognitif berhubungan dengan sistem kepercayaan budaya, dimensi apresiatif dengan
Universitas Sumatera Utara
26
sistem budaya yang berhubungan dengan simbolisme ekspresif, dan dimensi moral berhubungan dengan sistem budaya dalam orientasi nilai Doyle Paul Johnson 1986:
113-115. Dalam kerangka umum ini, variabel-variabel berpola itu memperlihatkan lima
pilihan dikotomi yang harus diambil seorang secara eksplisit atau implisit dalam menghadapi orang lain dalam situasi sosial apa saja. Pilihan-pilihan itu antara lain
yaitu: 1.
Afektivitas versus netralitas afektif. Ini merupakan dilema mengenai apakah mencari atau mengharapkan
kepuasaan emosional dari orang lain atau tidak, dalam suatu situasi sosial. Pilihan yang jatuh ke afektivitas akan berarti bahwa orang-orang yang terlibat itu akan
berhubungan satu sama lain secara emosional, dan saling memberikan kepuasan secara langsung. Dimensi katektik akan mendapat prioritas tinggi. Hubungan dengan
kekasih atau antaranggota keluarga merupakan contoh yang tepat mengenai pilihan ini.
Sebaliknya, memilih netralitas afektif berarti orang itu menghindari keterlibatan emosional atau pemuasan yang langsung. Hubungan antara dokter dan
pasien atau pekerja sosial dan kliennya merupakan contoh pola ini. 2.
Orientasi diri versus orientasi kolektif. Dilema ini berhubungan dengan kepentingan yang harus diutamakan.
Orientasi diri akan berarti bahwa kepentingan pribadi orang itu sendirilah yang mendapat prioritas, sedangkan orientasi kolektif akan berarti bahwa kepentingan
orang lain atau kolektivitas secara keseluruhan yang harus diprioritaskan. Artinya dimensi moral kolektiflah yang diutamakan.
Universitas Sumatera Utara
27
3. Universalisme versus partikularisme.
Dilema ini berhubungan dengan ruang lingkup dari standar-standar normatif yang mengatur suatu hubungan sosial. Pola universalistik mencakup standar-standar
yang diterapkan untuk semua orang lain yang dapat diklasifikasikan bersama menurut kategori-kategori yang sudah dibatasi secara impersonal.
Sebaliknya, pola partikularistik mencakup standar-standar yang didasarkan pada suatu hubungantertentu yang terdapat pada kedua pihak. Hubungan tertentu itu
seperti kelompok, suku, agama ,dan sebagainya. 1.
Askripsi versus prestasi. Parsons melihat variabel ini dan yang berikutnya berbeda dengan ketiga
variabel sebelumnya dalam hal di mana yang diperlihatkan adalah persepsi orang yang bertindak atau klasifikasi orang lain dan bukan orientasi pribadinya. Intinya,
orang lain dapat dilihat dan dinilai menurut siapa mereka atau apa yang mereka buat. Dalam askripsi, orang lain diperlakukan menurut mutu atau sifatnya yang
khusus yang membatasi keterlibatannya dalam suatu hubungan sosial. Para anggota keluarga misalnya, diperlakukan lain dari orang lain hanya karena keanggotaannya
dalam keluarga itu. Sama halnya sifat-sifat atau mutu askriptif seperti latar belakang etnis atau rasial mungkin dipertimbangkan sebagai dasar penilaian perbedaan itu.
Sebaliknya, pola prestasi menekankan pada penampilan atau kemampuan yang nyata. 2.
Spesifitas versus kekaburan. Seperti variabel diatas, variabel ini juga dilihat Parsons dalam hubungannya
dengan persepsi orang lain. Pada dasarnya, variabel ini berhubungan dengan ruang lingkup keterlibatan seseorang dengan orang lain. Kalau kewajiban timbal-balik itu
Universitas Sumatera Utara
28
terbatas dan dibatasi dengan tepat, pola ini bersifat spesifik. Sebaliknya, kalau kepuasan yang diterima atau diberikan kepada orang lain amat luas sifatnya, pola itu
bersifat kabur atau tidak menentu. Dalam suatu hubungan yang bersifat spesifik, kewajiban untuk membuktikan
akan ada pada orang yang memberi tuntutan pada orang lain untuk membenarkan tuntutan itu, sedangkan dalam hubungan yang ditandai oleh kekaburan, kewajiban
untuk membuktikan akan ada pada orang kepada siapa tuntutan itu dijatuhkan untuk menjelaskan mengapa tuntutan itu tidak terpenuhi Doyle Paul Johnson 1986:116-
119.
2.5 Pendekatan Fungsi AGIL Talcott Parsons