Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa dengan Fungsi AGIL Talcott Parsons

94 CK, dengan melakukan pekerjaan sampingan, dengan menggunakan undangan, dan key card IBS. Nilai-nilai dan norma-norma yang terdapat dalam pergaulan teman sebaya mengikat mereka untuk melakukan aktvitas dugem. Nilai-nilai seperti menghargai teman, nilai kesetiakawanan, nilai kesolid-an membuat mereka tidak bisa menolak ajakan teman untuk pergi dugem. Begitu juga dengan norma yaitu aturan-aturan yang terdapat dalam lingkungan pergaulan mahasiswa dengan teman sebayanya yang berupa untuk melakukan aktivitas dugem setiap minggunya. Apabila aturan tersebut tidak dilakukan, maka sanksi yang diterima oleh informan berupa cap tidak trenddan tidak layak bergaul dengan teman-temannya.

4.8 Analisis Perilaku Dugem Mahasiswa dengan Fungsi AGIL Talcott Parsons

Teori Parsons menyatakan bahwa semua sistem yang hidup harus memenuhi empat prasyarat fungsional yaitu adaptasi adaptation, pencapaian tujuan Goal Attainment, Integrasi Integration, dan lattent pattern maintenance. Salah satu sub- kelas dari sistem hidup itu adalah sistem tindakan, termasuk sub-sistem perilaku, sub-sistem psikologi, sub-sistem kultural, dan sub-sistem sosial. Sistem sosial yang paling berswadaya ialah masyarakat, yang berfungsi mengintegrasikan sistem sosial Poloma, 2003:195. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan, bahwa informan melakukan dugem tanpa sepengetahuan orang tua. Orang tua kurang melakukan control terhadap perilaku yang dilakukan terhadap beberapa informan. Pengawasan orang tua sangat mempengaruhi perilaku dugem yang dilakukan oleh mahasiswa. Universitas Sumatera Utara 95 Dari skema tersebut dapat dilihat bahwa kurangnya pengawasan dari orang tua, tersedianya tempat hiburan malam yang disediakan oleh pengusaha, dan diijinkannya tempat hiburan malam oleh Disbudpar mendorong mahasiswa untuk melakukan dugem. Dalam fungsi adaptasi ini, tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh mahasiswa merupakan hasil adaptasi mereka terhadap lingkungan eksternal sesuai dengan kebutuhannya. Tersedianya tempat hiburan malam yang disediakan oleh pengelola tempat hiburan malam, dibukanya tempat hiburan malam oleh persetujuan Disbudpar, dan tersedianya uang saku yang diperoleh mahasiswa dari orang tua mendorong mahasiswa untuk mencoba dugem. Selain itu, ahasiswa melakukan dugem disebabkan adanya ajakan teman-teman. Konformitas yang terjalin dalam sebuah kelompok teman sepermainan akan mempengaruhi perilaku mahasiswa untuk melakukan dugem. Agar terlihat conform dalam kelompok bermain, mahasiswa mencoba-coba untuk melakukan dugem. Dugem Mahasis wa Tempat Hiburan Malam yang disediakn oleh pengusaha Disbudpar Keluarga Universitas Sumatera Utara 96 Dalam fungsi pencapaian tujuan Goal Attainment, semua tindakan yang dilakukan yang dilakukan oleh individu setelah mengalami proses adaptasi memiliki tujuan tertentu yang harus dicapai. Dari hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa diketahui bahwa uang yang mereka gunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan oleh orang tua mereka. Para mahasiswa melakukan upaya agar tujuannya untuk dugem tercapai. Upaya tersebut dapat berupa menyisihkan uang jajan, bekerja, melakukan sistem patungan bersama teman. Tujuan dibangunnya tempat hiburan malam yaitu untuk memberikan hiburan bagi pengunjungnya. Dan berdasarkan hasil wawancara dengan mahasiswa, mereka mengakui bahwa tujuan mereka dugem yaitu untuk mencari kesenangan. Dalam fungsi integrasi Integration, mahasiswa yang sudah memiliki suatu tujuan yang sama dengan temannya yang lain maka secara tidak langsung kumpulan mahasiswa tesebut membentuk suatu komunitas yakni berupa kumpulan mahasiswa dengan kelompok temannya yang memiliki tujuan untuk dugem. Mahasiswa terintegrasi dalam kelompok bermainnya dan integrasi tersebut membuat intensitas mahasiswa untuk dugem sering atau minimal satu kali seminggu. Dan pola pergaulan seperti ini akan terus berlangsung selama mereka memiliki tujuan yang sama yaitu dugem. Dalam fungsi pemeliharaan pola Lattent Pattern Maintenance, semua hal yang dilakukan oleh mahasiswa telah menjadi suatu kebiasaan dimana mahasiswa melakukan hal tersebut karena sudah terbentuk dan melekat sebagai perilaku yang selalu dilakukan. Berdasarkan hasil wawancara, mahasiswa mengaku bahwa dalam kelompok bermainnya menetapkan sebuah ketentuan yang telah disepakati yaitu untuk melakukan aktivitas dugem minimal satu kali dalam seminggu. Apabila tidak mengikuti aturan tersebut, maka individu akan dicap sebagai teman yang tidak solid, Universitas Sumatera Utara 97 teman yang tidak setia, dan pada akhirnya akan dijauhi dari teman-temannya. Untuk menghargai kelompok bermainnya, maka mahasiswa mengikuti aturan tersebut dengan alasan menghargai temannya. Matriks 4.4 Motivasi, Tujuan, dan Dampak Mahasiswa Melakukan Dugem Nama Universitas Motivasi Dugem Tujuan Dugem Dampak Dugem Aji Swasta Ingin tahu, ajakan teman. Happy dan kumpul bersama teman. IP rendah rata- rata 2,5 dan tidur tidak menentu. Andri Swasta Ingin tahu, ajakan teman, kelihatan gaul, dan media elektronik TV. Menambah relasi. IP rendah, kurang fokus kuliah, dan telat bangun. Pratama Swasta Penasaran, ajakan teman, dan broken home. Menghilangkan beban keluarga, happy. Nilai akademik bagus dan sering kurang tidur. Luis Swasta Ingin tahu, ajakan teman. Happy dan menghibur diri. Nilai akademik rendah bahkan mengulang mata kuliah, terlambat bangun. Dita Swasta Ingin tahu dan ajakan Happy dan Nilai akademik Universitas Sumatera Utara 98 teman. kumpul bersama teman. bagus, pusing karena kurang tidur. Dino Negeri Ingin tahu, ajakan teman, TV, dan faktor ekonomi. Menambah relasi, mendapat penghasilan. Nilai akademik bagus dan merasa lelah. Andi Swasta Ingin tahu dan ajakan teman. Berkumpul bersama teman. Nilai akademik pas-pasan dan membuat tubuh lemas. Galih Swasta Ingin tahu dan ajakan teman. Menambah relasi. Nilai akademik rendah dan tubuh cepat lelah. Jack Negeri Penasaran, ajakan teman, dan jauh dari orang tua ngekost. Menghilangkan kejenuhan dari kegiatan perkuliahan. Nilai akademik pas-pasan dan telat makan sampai sakit maag. Dera Swasta Ingin tahu, ajakan teman, kelihatan gaul, dan faktor ekonomi. Menambah relasi dan penghasilan. Nilai akademik rendah dan pola makan terganggu, kurang istirahat. Universitas Sumatera Utara 99

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengambil kesimpulan yaitu dalam Kamus Bahasa Indonesia, sebenarnya tidak ada istilah dugem. Dugem adalah istilah gaul yang berasal dari singkatan dua kata yaitu dunia gemerlap. Dugem adalah suatu kebiasaan sebagian besar orang yang gemar menghabiskan waktu malamnya untuk berpesta pora dengan teman atau pasangannya yang dilakukan dengan berbagai suguhan menu makanan dan minuman beralkohol. Faktor yang menjadi motivasi mahasiswa untuk melakukan perilaku dugem terdiri dari dua faktor yaitu faktor internal rasa ingin tahu, dan faktor eksternal pergaulan dengan teman, media massa, broken home, gaul, jauh dari orang tua, dan faktor ekonomi. Adapun usaha-usaha yang dilakukan mahasiswa agar dapat pergi dugem yaitu menyisihkan uang jajan dan cari kawan, undangan invitation, menggunakan membershi, dan pekerjaan sampingan. Tujuan mahasiswa melakukan dugem adalah happy dan kumpul bersama teman-teman, menambah relasi, dan pekerjaan. Perilaku dugem yang dilakukan mahasiswa yaitu menikmati musik, menari, merokok, minum- minuman beralkohol, mengobrol, menggunakan obat-obatan terlarang, bahkan ada sebagian mahasiswa yang melakukan sex setelah dugem. Menurut Parsons, “tindakan” adalah perilaku yang disertai oleh adanya “upaya” subyektif dengan tujuan untuk mendekatkan kondisi-kondisi “situasional” atau “isi kenyataan” pada keadaan yang “ideal” atau yang ditetapkan secara alternatif. Individu benar-benar memiliki kebebasan memilih alat dan tujuan; pilihan Universitas Sumatera Utara