Profil Informan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

55

4.3 Profil Informan

• Informan Kunci 1. Nama : Aji Nama Samaran Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta Aji adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan dan mengambil jurusan Akuntansi. Aji tinggal bersama kedua orang tuanya.Orang tua Aji bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil PNS. Aji adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Aji memiliki seorang kakak yang sudah bekerja dan Aji merupakan tanggungan orang tuanya. “…aku kenal dugem itu dari teman, waktu itu aku masih SMA. Teman-teman yang dekat rumah mengajakku untuk dugem. Mereka memaksaku untuk dugem. Kalo aku gak ikut mereka gak mau berteman denganku. Ya udah akhirnya aku ikut aja daripada gak punya teman dan lagian aku juga penasaran dengan dugem. Awal aku dugem rasanya malu. Kalo dugem biasanya aku joget, ngobrol, minum alkohol. Aku juga pake obat inex. Aku kenal obat ya dari mereka juga. Mereka paksa dan cekokin aku untuk pake obat. Awalnya aku takut tapi setelah obat bereaksi rasanya enak aja gitu. Sebenarnya aku mau nolak, tapi kan gak mungkin. Jadi aku make karna aku menghargai mereka. Aku juga pernah berhubungan intim dengan pacarku selesai dugem. Ya tau lah waktu SMA itu jaman-jaman anak muda lagi bandal- bandalnya. Aku kan udah pake obat jadi rasanya cepat on. Dan waktu aku on aku ajak pacarku untuk check-in hotel. Pacarku awalnya gak mau, tapi aku paksa akhirnya dia mau…” Hasil wawancara pada 16 Mei 2016 Aji mulai mengenal dugem sejak berumur 18 tahun pada saat kelas 3 SMA. Alasan pertama kali motivasi dia melakukan aktivitas dugem yaitu karena adanya ajakan dari teman-temannya dan ia merasa penasaran atau ingin tahu tentang Universitas Sumatera Utara 56 kegiatan dugem. Teman-temannya memaksa Aji untuk dugem. Jika Aji tidak mau pergi, maka teman-temannya akan men-cap dia sebagai teman yang tidak setia dan bukan anak gaul. Namun karena teman-temannya sering mengajak dia untuk dugem, maka lama-kelamaan Aji mulai sering melakukan aktivitas dugem. Saat pertama kali melakukan aktivitas dugem, Aji merasa malu-malu dan tidak percaya diri PD. Namun setelah beberapa kali pergi dugem, Aji semakin terbiasa untuk pergi dugem. Alasan Aji sering pergi dugem yaitu karena perempuan- perempuanyang ada di kelab malam menggunakan pakaian minim, sehingga kelihatan sexy. Setiap dua minggu sekali yaitu weekend dan hari biasa Aji selalu pergi dugem bersama teman-temannya. Aji merasakan kepuasan dan kesenangan pada saat dia melakukan aktivitas dugem bersama teman-temannya. Aji selalu membawa uang cash sebesar lima ratus ribu rupiah untuk pergi dugem dan membawa credit card .Uang yang diperoleh untuk dugem yaitu berasal dari penyisihan uang saku. Dia diberi uang saku oleh orang tuanya sebesar Rp. 700.000 per minggu. Uang tersebut digunakan untuk biaya masuk ke kelab malam, beli minuman, dan buka table. Uang cash yang dibawa oleh Aji selalu habis digunakan untuk dugem. Kendaraan yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu sepeda motor. Pakaian yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu kemeja, celana jeans, dan sepatu. Bagi Aji jika memakai kemeja kelihatan lebih elegant. Aji pergi dugem pada pukul 22.00 WIB dan biasanya pulang ke rumah pukul 04.00 WIB. Aji mengakui bahwa selesai dugem, terkadang dia tidak langsung pulang ke rumah tetapi nongkrong bersama teman-temannya untuk cari makan. Aji mengakui bahwa dia suka dugem di Entrance karena Entrance merupakan kelab malam yang cukup berkelas di Kota Medan. Aji mengakui bahwa musik di Universitas Sumatera Utara 57 Entrance tidak membuat telinga sakit. Di dalam kelab malam tersebut, perilaku yang sering Aji lakukan yaitu joget, mengobrol, minum-minuman beralkohol, dan terkadang memakai obat vitamin dalam hal ini obat-obatan terlarang yang berupa inex. Aji mengakui bahwa dia memakai obat-obatan terlarang karena ajakan teman- temannya dan mengkonsumsi obat-obatan tersebut hanya terkadang saja. Aji mengakui bahwa jika tidak minum-minuman beralkohol maka rasanya tidak enak untuk joget. Obat-obatan dikonsumsi jika ingin cepat on atau tinggi sehingga bisa menari dengan bebas tanpa ada rasa malu. Aji juga mengakui bahwa dia pernah melakukan hubungan intim perilaku sex bersama pacarnya selesai dugem sebanyak dua kali. Dia mengakui bahwa dia check-in di salah satu hotel di Kota Medan. Orang tua Aji tidak mengetahui kalau Aji melakukan aktivitas dugem setiap minggu. Aji tidak memberi tahu kepada orang tuanya karena dia takut dimarahi oleh orang tuanya. Untuk pembagian waktu antara kuliah dan aktivitas dugem tidak pernah bermasalah. Dia masuk kuliah sore pada pukul 16.00 WIB dan pulang sekitar pukul 19.00 WIB. Jadi kegiatan perkuliahan tidak terganggu. Indeks Prestasi IP yang dia peroleh yaitu rata-rata 2,5 dan orang tua tidak pernah menanyakan hal tersebut. Dia mengakui bahwa dampak dia melakukan dugem yaitu membuat jam tidur jadi tidak menentu sehingga membuat badan lelah. Menurutnya dugem adalah suatu yang positif karena dengan dugem bisa memberikan kesenangan bagi dirinya. 2. Nama : Andri Nama Samaran Umur : 20 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta Universitas Sumatera Utara 58 Andri merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Medan. Orang tua Andri bekerja sebagai wiraswasta. Andri merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Andri tinggal bersama kedua orang tuanya. Andri memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjual aksesoris handphone di salah satu aplikasi penjualan barang secara online. Pendapatan yang Andi tidak menentu karena berdasarkan dari hasil jual aksesoris, namun pendapatan yang diperoleh dapat member tambahan untuk biaya dugem. Andri mengenal aktivitas dugem sejak dia memasuki bangku perkuliahan yaitu pada umur 19 tahun. Dia mengakui bahwa dia diajak oleh teman-temannya. Yang memotivasi Andri untuk pergi dugem yaitu karena dia merasa ingin tahu bagaimana kegiatan dugem. Keingintahuan akan dugem juga disebabkan karena dia melihat ada acara di televisi yang menayangkan pergaulan remaja masa kini yang kelihatan lebih modern. Dia mengakui bahwa awalnya dia hanya coba-coba atau minimal pernah coba agar terlihat lebih keren. Dia mengakui bahwa dugem adalah suatu perilaku yang wajar dilakukan oleh anak muda. Namun karena dia sudah memasuki kelab malam, maka dia semakin sering pergi dugem bersama teman- temannya. Dia mengakui bahwa dia sangat tertarik untuk dugem karena melihat perempuan-perempuan yang sexy. Dia mengakui bahwa pengalaman pertama kali dugem yaitu heran melihat orang-orang yang ada di kelab malam yang lebih bebas dalam berekspresi dan dia merasa malu untuk joget. Namun hal tersebut tidak membuat dia jera untuk dugem. Andri mengakui bahwa setiap pergi dugem dia selalu membawa uang sekitar tiga ratus ribu rupiah. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan orang tua dan dari pendapatan yang diperoleh dari menjual aksesoris handphone. Uang saku yang diberikan orang tuanya setiap minggu yaitu Universitas Sumatera Utara 59 sebesar Rp. 350.000. Dia sering dugem di kelab malam New Zone karena biaya masuk New Zone murah jadi tidak terlalu menguras isi dompet. Uang yang dibawa untuk dugem juga digunakan untuk membeli minuman beralkohol. Dia mengakui bahwa terkadang uang yang dibawa untuk dugem bersisa lima puluh ribu rupiah. Dia mengakui bahwa dia pergi dugem minimal dua kali seminggu. Dia pergi dugem biasanya pukul 23.00 WIB dan pulangnya pukul 03.00 WIB. Selesai dugem biasanya dia menginap di kost temannya. Andri selalu pergi dugem bersama temannya dan perilaku yang dia lakukan saat dugem yaitu joget dan minum- minuman beralkohol. Pakaian yang dia gunakan saat dugem yaitu kaos, celana jeans, dan sepatu kets. Dia mengakui bahwa dugem itu sangat mengasyikkan dan ada kesenangan tersendiri jika dia dugem. Andri mengakui bahwa orang tuanya tidak mengetahui kalau dia melakukan aktivitas dugem. Dia mengakui bahwa dia hanya minta ijin untuk berkumpul bersama teman-temannya di warnet. Dia juga mengakui bahwa saat ini dia tidak terlalu fokus dengan kuliah karena dia sering begadang bersama temannya dan akibatnya dia sering terlambat bangun dan terkadang bolos kuliah. Dia mengakui dia sering bolos kuliah dan orang tua tidak mengetahui. Dia juga mengakui bahwa tidak ada masalah jika dia mendapatkan IP rendah karena dia menyadari bahwa dia kurang fokus kuliah. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena bisa menambah teman. 3. Nama : Pratama Nama Samaran Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas Sumatera Utara 60 Universitas : swasta Pratama merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Orang tua Pratama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil PNS. Dia tinggal bersama ibunya, meski begitu ayahnya tetap memberi uang saku setiap minggu kepadanya. Pratama mengenal aktivitas dugem sejak dia duduk di bangku SMA pada umur delapan belas tahun. Dia mengatakan bahwa pada saat itu ada masalah keluarga dan dia diajak teman-temannya untuk pergi dugem. Awalnya dia hanya coba-coba, tapi karena di rumah sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya maka dia semakin sering dugem. Dari sejak itu setiap dia sedang ada masalah atau dia sedang jenuh, dia semakin sering pergi dugem bersama temannya. Dia mengakui bahwa dengan pergi dugem, semua masalah hilang. Dia selalu diberi uang saku selama seminggu oleh orang tuanya sebanyak delapan ratus ribu rupiah. Setiap dugem dia selalu membawa uang sebanyak tiga ratus ribu rupiah. Dan uang itu digunakan untuk menyewa room dengan sistem patungan bersama teman-temannya. Uang yang dia bawa untuk dugem selalu habis terpakai. Dia dan teman-temannya memilih mem-booking room agar lebih leluasa untuk joget. Dia pergi dugem bersama teman-temannya menggunakan mobil milik temannya. Dia pergi pukul 22.00WIB dan pulang sekitar pukul 05.00 WIB. Dia pergi dugem setiap dua minggu sekali. Dia memakai kemeja, topi, aksesoris gelang, dan celana jeans. Dia dan teman-temannya pergi ke minimarket untuk pergi membeli rokok, minuman kaleng yaitu susu beruang, dan pergi cari makan, terus langsung ke kost temannya. Universitas Sumatera Utara 61 Pratama sangat suka dugem di Elegant. Hal ini disebabkan karena tempatnya cukup elite, bersih dan volume musiknya cukup keras sehingga membuat kepala dan tubuh bergoyang mengikuti irama musik. Perilaku yang dilakukan Pratama saat dugem yaitu minum-minuman beralkohol, merokok, joget, dan mengkonsumsi inex. Dia mengenal minum-minuman beralkohol dan inex sejak kelas tiga SMP. Dia mengakui bahwa dugem tanpa minuman beralkohol dan inex rasanya hambar bagai sayur tanpa garam. Dia mengakui kalau tanpa inex dia tidak bisa enjoy untuk joget. Orang tuanya mengetahui bahwa dia suka dugem, namun orang tuanya hanya memberi nasehat. Dia mengakui bahwa dia sering begadang bersama temannya sehingga menyebabkan kurang tidur. Dia mengakui bahwa aktivitas perkuliahan tidak terganggu dan dia mengakui bahwa meski dia sering dugem, tapi nilai-nilai akademiknya selalu bagus. Dia mengakui bahwa dugem itu adalah hidupnya. Dia mengakui bahwa dugem adalah suatu kebutuhan yang dapat membuatnya merasakan arti hidup yang sesungguhnya. Menurutnya perliaku dugem adalah perilaku yang positif karena dengan dugem semua beban pikiran hilang. 4. Nama : Luis Nama Samaran Umur : 23 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta Luis adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Luis berumur dua puluh tiga tahun. Dia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta. Luis tinggal bersama kedua orang tuanya. Universitas Sumatera Utara 62 Luis mengenal dugem saat memasuki bangku perkuliahan pada umur dua puluh tahun. Luis mengenal dugem karena ajakan teman-temannya dan dari media eletronik berupa televisi dan internet. Awalnya Luis merasa kurang percaya diri untuk dugem. Namun karena musik yang membuat anggota tubuh ikut joget dan karena ajakan temannya, maka Luis sering pergi dugem. Luis pergi dugem ke Elegant pada pukul 22.00 WIB dan pulang pukul 03.00 WIB. Luis memilih Elegant termasuk kelab malam bagi kelas menengah. Pada awal memasuki bangku perkuliahan Luis sering dugem dengan frekuensi kunjungan sebanyak empat kali seminggu. Namun saat ini dia sudah semester akhir dan lagi menyusun skripsi, maka intensitas pergi ke Elegant hanya seminggu sekali. Luis pergi bersama teman-temannya. Uang yang dibawa saat dugem yaitu sekitar tiga ratus ribu rupiah. Uang tersebut diperoleh dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya sebesar Rp. 500.000 per minggu. Pakaian yang digunakan saat dugem yaitu kaos dan celana jeans. Selesai pulang dugem biasanya Luis menginap di kost temannya. Perilaku yang dilakukan Luis saat dugem yaitu merokok, minum alkohol, menggunakan obor, dan sex after dugem. Orang tuanya tidak mengetahui bahwa dia pergi dugem bersama teman-temannya. Dia mengakui bahwa nilai akademik yang dia peroleh hasilnya selalu rendah bahkan sering mengulang mata kuliah. Dia juga mengakui bahwa dia sering terlambat bangun karena pulang dugem selalu pagi hari. Menurutnya dugem adalah suatu aktivitas yang positif sebagai hiburan. 5. Nama : Dita Nama Samaran Umur : 22 tahun Jenis Kelamin : perempuan Status : mahasiswi Universitas : swasta Universitas Sumatera Utara 63 Dita adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Medan. Dita berumur dua puluh dua tahun. Dita anak kedua dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai PNS. Dita tinggal bersama kedua orang tuanya. Dita mengenal dugem sejak dia berumur tujuh belas tahun saat kelas dua SMA. Saat itu dia diajak oleh seorang laki-laki yang merupakan teman dekatnya. Awalnya dia tidak mau, tapi karena dipaksa akhirnya dia ikut dugem. Dita juga ingin tahu dan ingin merasakan dugem secara langsung. Pengalaman pertama kali dugem, dia merasa gugup. Namun karena dia bersama temannya yang laki-laki jadi dia tidak gugup dan takut. Dita mulai terbiasa dugem karena teman laki-lakinya selalu mengajak dia weekend ke New Zone. Dita pergi ke New Zone seminggu sekali pada pukul 22.00 WIB dan pulang sekitar pukul 14.00WIB. Dana yang dibawa oleh Dita hanya dua ratus ribu. Dana tersebut berasal dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya yaitu sebesar Rp. 300.000 per minggu. Hal ini karena dia masuk secara free yaitu karena dibayarin sama temannya yang cowok. Perilaku yang dilakukan Dita saat dugem yaitu minum, juice, mendengarkan musik, dan joget. Dita mengatakan bahwa dugem tidak harus selalu identik dengan minum-minuman beralkohol dan penggunaan obat-obatan terlarang. Dita menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills yang nyaman dipakai. Selesai dugem biasanya Dita menginap di kost temannya yang perempuan. Orang tua Dita tidak mengetahui Dita pergi dugem karena Dita meminta ijin bahwa dia ingin kumpul bersama teman-temannya setiap weekend. Dita mengatakan bahwa kegiatan dugem yang dia lakukan tidak mengganggu aktivitas perkuliahannya. Dita mengakui bahwa nilai-nilai akademiknya selalu bagus. Dampaknya dugem yaitu Universitas Sumatera Utara 64 dai mengakui mudah ngantuk karena kurang tidur dan kepala pusing saat dia kurang istirahat. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena menghilangkan kejenuhan dari aktivitas perkuliahan. 6. Nama : Dino Nama Samaran Umur : 22 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : negeri Dino adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu Akademi Pariwisata Negeri Medan dan mengambil jurusan di bagian makanan. Dino berumur dua puluh dua tahun. Dino anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua Dino bekerja sebagai wiraswasta yaitu pengusaha eletronik dan peralatan rumah tangga. Dino memiliki suatu pekerjaan sampingan yaitu sebagai bartender di salah satu tempat hiburan malam di Kota Medan. Penghasilan yang dia peroleh sebagai bartender yaitu sekitar dua juta rupiah beda dengan uang tip. Dan dia juga membantu biaya sekolah adiknya. Dino mengenal dugem sejak kelas tiga SMA pada umur delapan belas tahun. Dia mengenal dugem karena ajakan oleh temannya, rasa ingin tahu, dan oleh media elektronik yaitu televisi. Yang Dino rasakan saat pertama kali dugem yaitu dia merasa malu, merasa belum dewasa karena pengunjung kelab malam terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa. Kedua kali dia pergi dugem juga masih merasa malu dan kurang percaya diri. Mau joget juga masih malu-malu. Namun yang membuat dia tertarik untuk sering dugem yaitu karena dia sangat menikmati musik di kelab malam dan dia sangat tertarik dengan aksi bartender yang jugling. Universitas Sumatera Utara 65 Dino pergi dugem di Entrance pukul 22.00WIB dan pulang dugem pukul 03.00WIB. Alasan Dino suka dugem di Entrance karena kelab malam Entrance sangat berkelas, pelayanannya bagus, dan musiknya juga bagus. Frekuensi pergi ke kelab malam untuk dugem yaitu enam kali seminggu, dan setiap hari Rabu dia libur dari pekerjaannya sebagai bartender. Dino pergi ke kelab malam Entrance seminggu sekali yaitu setiap hari Rabu bersama teman-temannya. Uang yang dibawa Dino saat pergi dugem yaitu sebesar delapan ratus ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk membeli minuman beralkohol yaitu long island dan dia tidak membayar uang masuk ke Entrance atau ke tempat hiburan malam lainnya karena dia memiliki sebuah kartu anggota bartender. Dino pergi dugem dengan menggunakan kemeja, celana jeans, dan sepatu sehingga kelihatan lebih elegan. Dino biasanya sudah membuat janji dengan temannya untuk berjumpa di Entrance dan dia dugem bersama teman-temannya. Perilaku yang dilakukan saat dugem yaitu minum-minuman beralkohol, menikmati musik, dan joget. Selesai pulang dugem biasanya Dino pergi bersama teman- temannya untuk mencari makanan dan setelah itu mereka pulang ke rumahnya masing-masing. Orang tua Dino mengetahui bahwa Dino memiliki pekerjaan sebagai bartender dan mendukung Dino untuk lebih semangat dalam pekerjaannya. Dino meyakinkan kepada orang tuanya bahwa dunia malam itu tidak selalu identik dengan perilaku yang negatif. Dino selalu bisa membagi waktu antara kuliah dan pergi dugem. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai bartender membuatnya merasa lelah, namun dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai bartender memberi hal yang positif terhadap perkuliahannya. Hal ini terbukti dengan nilai-nilai akademiknya yang sangat bagus. Universitas Sumatera Utara 66 7. Nama : Andi Nama Samaran Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta Andi adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan swasta di Kota Medan. Andi berumur dua puluh satu tahun. Andi anak pertama dari lima bersaudara. Orang tua Andi bekerja sebagai wiraswasta. Andi tinggal bersama kedua orang tuanya. Andi mengenal dugem sejak memasuki perkuliahan saat umur sembilan belas tahun. Andi mengenal dugem karena ajakan temannya dan rasa ingin tahu terhadap dugem. Saat pertama kali dugem, dia merasa malu-malu. Namun akhirnya karena teman-temannya mengajaknya untuk dugem setiap weekend, maka setiap akhir minggu Andi selalu pergi dugem. Andi pergi dugem bersama-sama dengan temannya ke kelab malam New Zone pada hari Sabtu pukul 23.00WIB dan pulang pukul 02.00WIB. Dia dan teman- temannya memilih kelab malam New Zone karena biaya masuk murah yaitu lima puluh ribu rupiah. Andi membawa uang untuk pergi dugem sekitar seratus lima puluh ribu rupiah dan uang tersebut selalu habis. Uang yang digunakan Andi untuk dugem yaitu berasal dari pemberiang uang saku dari orang tuanya sebanyak Rp. 300.000 dan disisihkan untuk dugem. Perilaku yang dilakukan Andi saat dugem yaitu merokok dan joget. Andi pergi dugem dengan menggunakan pakaian kaos dan celana jeans. Selesai dugem, Andi dan teman-temannya pulang ke rumah masing-masing. Universitas Sumatera Utara 67 Orang tua Andi tidak pernah tahu bahwa Andi pergi dugem sekali seminggu. Andi mengakui bahwa nilai-nilai akademiknya biasa-biasa saja di kampus. Andi mengakui bahwa dugem membuatnya kurang tidur sehingga menyebabkan tubuh lemas untuk melakukan aktivitas. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena bisa berkumpul bersama teman-teman untuk mencari kesenangan. 8. Nama : Galih Nama Samaran Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : swasta Galih adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Galih berumur dua puluh satu tahun. Galih merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Orang tua Galih bekerja sebagai wiraswasta. Galih tinggal bersama kedua orang tuanya. Galih mengenal dugem saat berumur dua puluh tahun. Galih mengenal dugem karena ajakan teman-temannya. Galih merasa malu-malu saat pertama kali dugem. Namun karena musik dan suasana di dalam kelab malam yang kelap-kelip, maka Galih sering dugem. Galih pergi ke kelab malam Entrance pada pukul 22.00 WIB dan pulang pukul 04.00WIB. Selesai dugem biasanya Galih dan teman-temannya pergi untuk nongkrong. Galih membawa uang sekitar lima ratus ribu rupiah saat pergi dugem. Uang tersebut habis digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan oleh orang tua yaitu sebesar Rp 700.000. Pakaian yang digunakan Galih saat dugem yaitu kemeja dan celana jeans. Universitas Sumatera Utara 68 Perilaku yang dilakukan Galih saat dugem yaitu merokok, menggunakan obor istilah yang digunakan untuk obat-obat terlarang yaitu inex, minum-minuman beralkohol, dan joget. Orang tua Galih tidak mengetahui bahwa Galih pergi dugem sekali seminggu. Galih mengatakan bahwa aktivitas dugem tidak mempengaruhi nilai-nilai akademiknya. Nilai-nilai akademik yang dia peroleh hanya biasa-biasa saja. Galih mengatakan bahwa dia sering begadang bersama temannya sehingga menyebabkan tubuhnya mudah lelah karena kurang istirahat. Menurutnya dugem adalah perilaku positif yang dapat menambah teman dan membuat dirinya merasa bebas. 9. Nama : Jack Nama Samaran Umur : 23 tahun Jenis Kelamin : laki-laki Status : mahasiswa Universitas : negeri Jack adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas negeri di Kota Medan. Jack berumur dua puluh tiga tahun. Jack merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Orang tua Jack bekerja sebagai PNS. Orang tua jack tinggal di Tarutung dan Jack tinggal di kost-kost-an di Kota Medan. Jack mengenal dugem pada saat kelas dua SMA pada umur sembilan belas tahun. Dia mengenal dugem karena merasa penasaran dengan dugem dan karena ajakan teman-temannya. Awal pertama kali dugem dia merasa malu-malu. Saat SMA dan memasuki perkuliahan dia sering dugem dengan frekuensi kunjungan ke New Zone sebanyak tiga kali seminggu. Namun karena saat ini dia sudah semester akhir Universitas Sumatera Utara 69 dan menyusun skripsi, maka intensitas kunjungan ke New Zone hanya sekali seminggu pada akhir pekan. Jack pergi dugem ke New Zone pada pukul 23.00WIB dan pulang pukul 03.00 WIB bersama teman-temannya. Selesai dugem biasanya Jack langsung pulang ke rumah untuk beristirahat. Jack pergi dugem dengan memakai kemeja dan celana jeans. Jack membawa uang sebanyak dua ratus ribu rupiah dan uang tersebut habis digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan uang saku yang dikirim oleh orang tuanya. Uang saku yang dikirim orang tuanya sebesar Rp. 500.000 per minggu. Perilaku yang dilakukan Jack lakukan saat dugem yaitu joget, minum soft drink, dan menikmati musik. Orang tua Jack tidak mengetahui bahwa Jack pergi dugem. Jack mengakui bahwa nilai akademik tidak terganggu meski dia melakukan aktivitas dugem. Nilai akademik yang diperoleh selalu pas-pasan. Dia mengatakan bahwa dugem membuatnya terlambat makan sehingga dia menderita sakit maag. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif untuk menghilangkan kejenuhan dari kegiatan perkuliahan. 10. Nama : Dera Nama Samaran Umur : 21 tahun Jenis Kelamin : perempuan Status : mahasiswi Universitas : swasta Dera adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Kota Medan. Dera anak kedua dari lima bersaudara. Dera berumur dua puluh satu tahun. Dera berasal dari kota Pekan Baru dan saat ini dia tinggal di sebuah kost. Orang tua Dera bekerja sebagai wiraswasta yaitu buruh di perkebunan kelapa sawit. Universitas Sumatera Utara 70 Dera mengenal dugem sejak dia duduk dibangku perkuliahan pada umur dua puluh tahun. Dera mengatakan bahwa dia mengenal dugem karena diajak oleh temannya yang satu kost dengan dia. Awalnya Dera tidak ingin ikut dugem, tetapi karena temannya memaksa untuk ditemani dan mengatakan bahwa Dera kuper, akhirnya Dera ikut pergi dugem. Dera juga mengatakan bahwa dia sangat penasaran dan ingin tahu bagaimana dugem. Dera mengatakan bahwa dia merasa canggung saat pertama kali dugem. Dera mengatakan bahwa dia mulai tertarik dan sering dugem itu karena dia melihat kehidupan temannya yang glamour. Teman Dera bekerja sebagai wanita penghibur dan penghasilan yang didapatkan temannya tersebut cukup untuk memenuhi gaya hidup yang glamour. Santunan biaya yang dikirim orang tuanya buat Dera tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama merantau dan berkuliah di Medan. Karena santunan biaya yang dikirim orang tuanya tidak cukup maka Dera ikut menjadi wanita penghibur seperti temannya. Dera mengatakan bahwa penghasilan yang diperoleh lumayan dan dia bisa membeli pakaian-pakaian yang bagus, dia juga bisa pergi dugem secara gratis, dan dia dapat mengirim uang kepada orang tuanya. Dera pergi dugem ke Elegant terkadang 4 kali seminggu tergantung job, namun yang pasti dia pergi dugem minimal seminggu sekali. Dera pergi ke Elegant dengan menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills, sehingga kelihatan elegan dan modis. Dana yang dibawa Dera untuk pergi dugem sekitar lima ratus ribu rupiah. Namun dana yang dia keluarkan hanya untuk naik taksi ke Elegant. Dera masuk Elegant dengan undangan dari seorang pria yang ingin memakai jasanya. Dera pergi dugem pukul 22.00 WIB dan pulang ke kost tidak menentu jamnya. Dera memilih Elegant sebagai tempat dugem karena dia merasa nyaman dengan KTV di Universitas Sumatera Utara 71 Elegant tersebut. Selesai dugem biasanya Dera pergi ke sebuah hotel bersama lelaki yang menginginkan jasanya. Dera mengatakan bahwa kegiatan yang dia lakukan saat dugem yaitu joget, minum-minuman beralkohol, dan dia juga menggunakan inex. Dia mengakui bahwa dia mendapatkan inex dengan menukar jasanya sebagai wanita penghibur. Menurutnya dugem tanpa inex itu kurang asyik. Orang tua Dera tidak mengetahui kegiatan Dera di Kota Medan. Dera mengakui bahwa sebenarnya dia sedih menjadi wanita penghibur, namun karena biaya hidup di Medan sangat kurang maka dia menjadi wanita penghibur. Untuk kegiatan perkuliahan tidak terganggu karena Dera masuk kuliah sore dan dia mengatakan bahwa nilai akademiknya rendah. Dera mengatakan dugem membuatnya kurang istirahat dan pola makan terganggu. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena menambah relasi dan menambah pendapatannya. • Informan Biasa 1. Bapak Bagindo Uno Harahap Bapak Bagindo Uno Harahap bekerja di Disbudpar Kota Medan sebagai Kasi Kasi Hiburan ODTW Disbudpar Kota Medan. Beliau mengatakan bahwa pembangunan tempat hiburan malam bertujuan untuk menambah pendapatan daerah. Beliau mengatakan bahwa tempat hiburan malam dijadikan sebagi salah satu jenis usaha yang dapat menjadi tempat hiburan bagi para wisatawan yang ingin menikmati hiburan malam. Beliau juga mengatakan bahwa pembangunan tempat hiburan malam memiliki tujuan yang positif yaitu agar masyarakat yang lelah dan jenuh melakukan aktivitas seharian dapat menikmati hiburan malam. Beliau mengatakan bahwa sebenarnya tempat hiburan malam bukan tempat yang identik dengan perilaku Universitas Sumatera Utara 72 negatif. Hanya saja ada beberapa orang yang menggunakan obat-obatan terlarang dan melakukan seks di tempat hiburan malam maka masyarakat memandang bahwa dugem adalah perilaku yang tidak baik. Beliau mengatakan bahwa pelajar dilarang masuk ke dalam sebuah tempat hiburan malam. Pengunjung yang masuk ke dalam tempat hiburan malam adalah pengunjung yang berumur 18 tahun ke atas dan memiliki kartu identitas yaitu KTP. Beliau mengatakan bahwa apabila ada seorang pengusaha yang ingin membuka tempat hiburan malam maka ada beberapa proses yang harus dilakukan. Proses pembukaan tempat hiburan malam tersebut meliputi adanya surat tidak keberatan dari ziran tetangga. Maksudnya adalah adanya surat dari lurah yang menyatakan bahwa tetangga yang bertempat tinggal di sekitar tempat tempat hiburan malam tersebut tidak merasa terganggu apabila tempat hiburan malam tersebut dibuka. Proses selanjutnya yaitu adanya surat domisili usaha dari lurah, adanya surat rekomendasi dari Kesbang Polinmas, surat ijin gangguan ke BPPT. Selanjutnya surat-surat tersebut diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan. Selanjutnya surat-surat tersebut diproses oleh pihak Disbudpar dan apabila sudah memenuhi dengan persyaratan maka tempat hiburan malam tersebut dapat dibuka dan setiap pengelola harus mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Disbudpar sesuai undang-undang yang berlaku. Beliau juga mengatakan bahwa pihak Disbudpar selalu melakukan monitoring terhadap tempat hiburan malam di Kota Medan. Monitoring yang dilakukan oleh Disbudpar sesuai dengan ketentuan Perda. Disbudpar dapat menutup usaha tempat hburan malam yang tidak memiliki surat ijin dan usaha tempat hiburan malam yang beroperasi melebihi jam operasional yang telah ditetapkan oleh Disbudpar. Penutupan tersebut tidak langsung dilakukan, tetapi pihak Disbudpar Universitas Sumatera Utara 73 memberikan surat peringatan kepada pihak pengelola usaha tempat hiburan malam. Apabila pihak pengelola menyalahi aturan maka pihak Disbudpar akan memberikan surat edaran dan jika pihak pengelola tidak menggubris surat edaran tersebut maka usaha tersebut dapat ditutup. 2. Ibu Dewi 48 tahun Ibu Dewi merupakan seorang ibu rumah tangga. Ibu Dewi memilki 3 orang anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dan perkuliahan. Setiap hari Ibu Dewi hanya memiliki pekerjaan domestik selayaknya ibu rumah tangga. Suami beliau bekerja sebagai PNS dan memiliki penghasilan yang cukup. Dia memilki seorang putri yang saat ini duduk di bangku perkuliahan. Menurut Ibu Dewi dugem adalah perilaku yang lagi nge-trend yang dilakukan remaja untuk berfoya-foya. Beliau mengatakan bahwa dugem adalah perilaku yang negatif. Hal ini didasarkan karena dugem selalu berkaitan dengan penggunaan obat-obatan terlarang, minum-minuman alkohol, dan wanita-wanita yang berpakaian seksi. Beliau mengatakan bahwa yang menyebabkan remaja khususnya mahasiswa melakukan dugem yaitu karena diajak oleh teman-temannya. Teman-teman dari mahasiswa tersebut mempengaruhi mahasiswa untuk melakukan dugem. Beliau mengatakan bahwa apabila lingkungan tempat tinggal mahasiswa tersebut baik, maka mahasiswa tersebut tidak akan mempengaruhi mahasiswa untuk dugem. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa orang tua yang bercerai juga dapat menyebabkan anak mencari hiburan di tempat hiburan malam. Orang tua yang bercerai membuat anak tertekan sehingga anak mencari pelarian di luar rumah yaitu dengan pergi dugem bahkan bisa jadi anak tersebut terjerumus ke dalam dunia gelap dengan menggunakan obat-obatan terlarang. Universitas Sumatera Utara 74 Beliau mengatakan bahwa tujuan remaja melakukan perilaku dugem yaitu untuk happy-happy atau mencari kesenangan, sebagai tempat pelarian bagi remaja yang memiliki masalah keluarga. Beliau mengatakan remaja yang melakukan aktivitas dugem memiliki nilai-nilai akademik yang rendah. Hal ini disebabkan karena remaja cenderung begadang saat dugem, sehingga waktu untuk belajar menjadi terganggu. Beliau mengatakan bahwa beliau selalu memberi uang saku untuk anaknya yang sedang kuliah sekitar Rp. 280.000 per minggu. Uang tersebut sudah termasuk uang untuk mengisi bensin motor dan uang jajan anaknya. Beliau tidak mengawasi penggunaan uang saku yang diberikan kepada anaknya. Beliau merasa percaya bahwa anaknya tidak akan menggunakan uang saku tersebut untuk dugem atau keperluan-keperluan yang tidak baik. Beliau juga tidak terlalu mengawasi pergaulan anaknya. Beliau percaya bahwa anaknya bergaul dengan teman-temannya yang baik karena anaknya sudah dididik dan diajar dengan pendidikan agama sejak kecil di dalam keluarga. 3. Ibu Santi 42 tahun Ibu Santi adalah seorang ibu rumah tangga yang berusia 42 tahun. Selain melayani anak dan suami, ibu Santi bekerja sebagai seorang guru di salah satu SMP swasta di Kota Medan. Ibu Santi memiliki 2 orang anak. Beliau memiliki seorang putra yang saat ini sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Kota Medan. Beliau mengatakan bahwa dugem adalah suatu perilaku yang sudah tidak asing lagi dalam dunia pergaulan anak muda. Beliau mengatakan bahwa dugem adalah perilaku yang negatif karena kebanyakan dari penikmat dunia malam minum- minuman beralkohol dan cenderung ke arah yang lebih negatif yaitu adanya penggunaan obat-obatan terlarang bahkan seks setelah dugem. Beliau mengatakan Universitas Sumatera Utara 75 bahwa yang menyebabkan remaja melakukan dugem yaitu karena ajakan dari teman- temannya. Selain itu juga penayangan film-film di televisi juga dapat menyebabkan remaja melakukan dugem. Nilai-nilai budaya Barat yang masuk ke Indonesia bisa diperoleh dari tayangan-tayangan televisi dan internet. Nilai-nilai tersebut kemudian diadopsi oleh remaja yang tinggal diperkotaan. Beliau mengatakan bahwa gaya hidup seperti budaya Barat membuat remaja berperilaku layaknya orang-orang Barat. Remaja melakukan gaya hidup seperti dugem agar dilihat lebih trendy, mengikuti jaman atau biasanya disebut anak gaul. Tujuan remaja melakukan dugem sangat banyak, salah satunya yaitu agar kelihatan gaul dan mencari kesenangan bersama teman-temannya. Ibu Santi mengatakan bahwa uang saku yang diberikan kepada anaknya yaitu sekitar Rp. 400.000 per minggu. Beliau tidak mengawasi penggunaan uang saku yang digunakan anaknya tersebut. Beliau juga tidak mengawasi pergaulan anaknya. Beliau mengatakan bahwa tidak mungkin mengawasi anaknya dengan cari mengikuti kemana pun anaknya pergi. Beliau mengatakan bahwa dia percaya anaknya tidak akan melakukan hal-hal negatif bersama teman-temannya. Beliau mengatakan bahwa apabila ada perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh anaknya, maka beliau dan suaminya akan member nasehat kepada anaknya. Dan apabila perbuatan yang tidak baik tersebut terus-terus dilakukan, maka beliau akan memberikan sanksi kepada anaknya dengan mengurangi uang saku anaknya. Universitas Sumatera Utara 76 Matriks 4.1 Profil Informan No. Nama Usia Frekuensi Kunjungan Ke Kelab Malam Perilaku Dugem 1. Aji 21 2x seminggu Joget, mengobrol, minum alkohol, terkadang memakai vitaminobat, dan pernah melakukan sex selesai dugem. 2. Andri 20 2x seminggu Joget dan minum alkohol 3. Pratama 21 2x seminggu Minum alkohol, merokok, dan menggunakan inex. 4. Luis 23 1x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan obor, melakukan sex selesai dugem. 5. Dita 22 1x seminggu Minum juice, mendengarkan musik, dan joget. 6. Dino 22 Setiap hari Minum alkohol, menikmati musik, dan joget 7. Andi 21 1x seminggu Merokok dan joget. 8. Galih 21 1x seminggu Merokok, joget, dan menggunakan obor istilah lain dari inex. 9. Jack 23 1x seminggu Joget, minum soft drink, dan menikmati musik. 10. Dera 21 4x seminggu Joget, minum alkohol, menggunakan inex, melakukan sex selesai dugem. Sumber: Hasil penelitian 2016 data diolah

4.4 Motivasi Mahasiswai Melakukan Dugem