Analisis Hukum Putusan Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G

ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG
MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH
TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS : PUTUSAN
PENGADILAN AGAMA TEBING TINGGI NO.
52/PDT.G/2008/PA-TTD JO. PUTUSAN PENGADILAN TINGGI
AGAMA SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTA-MDN)

TESIS

OLEH

CATUR MUHAMMAD SARJONO
097011059/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG
MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK MILIK ATAS TANAH
TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS : PUTUSAN
PENGADILAN AGAMA TEBING TINGGI NO.
52/PDT.G/2008/PA-TTD JO. PUTUSAN PENGADILAN TINGGI
AGAMA SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTA-MDN)

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh
CATUR MUHAMMAD SARJONO
097011059/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: ANALISIS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN
AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT
HAK
MILIK
ATAS
TANAH
TIDAK
BERKEKUATAN HUKUM (STUDI KASUS :
PUTUSAN PENGADILAN AGAMA TEBING
TINGGI
NO.
52/PDT.G/2008/PA-TTD
JO.
PUTUSAN PENGADILAN TINGGI AGAMA
SUMATERA UTARA NO. 145/PDT.G/2008 /PTAMDN)
: Catur Muhammad Sarjono
: 097011059
: Kenotariatan

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Pembimbing

(Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD)

Pembimbing

(Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH MHum)

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Dekan,

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 19 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 19 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

Anggota

:

1. Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD
2. Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH MHum
3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum
4. Dr. Idha Aprilyana, SH, MHum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Salah satu tugas dan wewenang dari Pengadilan Agama sesuai UU No. 3 Tahun
2006 tentang Peradilan Agama memutus perkara antara orang-orang yang beragama
Islam mengenai masalah kewarisan. Bidang kewarisan ini meliputi penentuan siapa-siapa
yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian dari masingmasing pihak dan melaksanakan pembagian tersebut. Jika terjadi perselisihan,
persengketaan mengenai harta peninggalan, harta warisan atau harta warisan yang
dikuasai orang lain yang bukan haknya, ahli waris dapat dan berhak mengajukan gugatan
kepada Pengadilan Agama. Pembatalan hak atas tanah yang menjadi objek sengketa
waris dapat dikarenakan cacat administrasi dalam penerbitan surat keputusan pemberian
hak atas tanah maupun untuk melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap. Amar putusan Pengadilan Agama yang menyatakan sertipikat hak milik
atas tanah tidak berkekuatan hukum, secara administasi harus ditindaklanjuti oleh
Pemerintah, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional dengan mengeluarkan surat
keputusan pembatalan surat keputusan pemberian hak atas tanah yang serta merta
membatalkan sertipikat hak atas tanah. Namun kenyataannya, Badan Pertanahan
Nasional menolak membatalkan sertipikat hak milik atas tanah atas dasar putusan
Pengadilan Agama.
Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan serta
menganalisis data yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
pembatalan hak atas tanah atas dasar putusan Pengadilan Agama. Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian kepustakaan dengan
pendekatan perundang-undangan terutama untuk mengkaji peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan pembatalan hak atas tanah. Metode pengumpulan data yang
dipergunakan adalah penelitian kepustakaan dan analisisnya dilakukan secara kualitatif
dengan menggunakan metode deduktif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa persoalan pembatalan hak atas
tanah yang merupakan objek perkara waris terkait dengan kompetensi peradilan. Hal ini
disebabkan sulitnya mengidentifikasi yurisdiksi materiil gugatan karena biasanya
gabungan antara aspek perdata dengan aspek tata usaha Negara. Masih terdapat
kekeliruan Hakim di lingkungan Peradilan Agama dalam memeriksa dan memutus
perkara waris yang objek perkaranya berupa tanah yang sudah bersertipikat. Apabila
tanah yang menjadi objek perkara waris belum bersertipikat maka hal tersebut merupakan
kewenangan mengadili Pengadilan Agama, tetapi apabila tanah yang menjadi objek
perkara waris sudah bersertipikat maka menjadi kewenangan dari Pengadilan Tata Usaha
Negara. Sertipikat hak atas tanah memiliki sisi ganda, pada satu sisi sebagai Keputusan
Tata Usaha Negara (KTUN) dan di sisi lain sebagai Tanda Bukti Hak Keperdataan
(kepemilikan) seseorang atau badan hukum atas tanah. Oleh karena itu, ada 2 (dua) badan
peradilan yang berwenang memeriksa perkara dengan objek gugatan Sertipikat hak atas
tanah, yaitu Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara.
Kata kunci : Putusan Pengadilan Agama, Sertipikat.
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

One of the rights and Obligations of Religious Court, according to Law
No.3/2008 on Religious Jurisdiction is making the ruling for the Moslems about
inheritance. This inheritance case is composed of the rulings about who will be the
heirs, about the inheritance, about the parties who will share the inheritance, about
the implementation of the allotment, about the potential dispute on the inheritance,
and about the real inheritance or the inheritance which is given to the wrong person
so that the real heir can have the right to claim a lawsuit to the Religious Court. The
revocation of land rights which becomes the dispute among the heirs can be caused
by the defect of the administration in issuing the directive of giving the land rights or
in implementing the Court’s ruling which has been final and conclusive. The court’s
ruling which decides that the land certificate is not final and conclusive will
administratively be followed up by the government; in this case, the National Land
Board which issues a directive of the revocation of the land certificate will eventually
revoke the directive of the land certificate itself. But, in reality, the National Land
Board refuses to revoke the land certificate which is based on the Religious Court’s
ruling.
This research was descriptive which was aimed to describe and analyze the
data which had been collected systematically, factually, and accurately regarding the
revocation of the land rights which was based on the Religious Court’s ruling. The
type of the research was legal normative; namely, a literature study with legal
approach, especially in studying regulations which were related to the revocation of
land rights. The method of the research was literature study and the analysis was
done qualitatively by using deductive method.
The result of the research showed that the problem of the revocation of land
rights which was about the case of inheritance was related to the competence of the
judicial administration. This was due to the difficulty in identifying jurisdiction
materials of the complaint because usually they comprised the combination of civil
aspects and State Administration. Besides that, there was the judge’s error in the
Religious Court in investigating and handing down a ruling about an inheritance
case when the land had its certificate. If the land which was in dispute did not have
any certificate, the Religious Court had the competence to pass the judgment on it.
On the other hand, if the land which was in dispute had already had its certificate,
the State Administrative Court had the competence to pass the judgment on it. The
land rights certificate has two sides: on the one hand, it is the Directive of State
Administration; on the other hand, it is an Affidavit of Civil Rights (ownership) of an
individual or a legal entity of the land. Therefore, there are two courts which have
the competence to investigate the case of the complaint about land certificate: Court
of General Jurisdiction and State Administrative Court.
Keywords: Religious Court Ruling, Certificate
ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi kemudahan sehingga
Penulis dapat menyelesaikan penelitian tesis ini yang berjudul “ANALISIS HUKUM
PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MEMUTUSKAN SERTIPIKAT HAK
MILIK ATAS TANAH TIDAK BERKEKUATAN HUKUM (Studi Kasus : Putusan
Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan
Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G/2008/PTA-MDN).”
Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam
menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara.
Dalam kesempatan ini dengan kerendahan hati, Penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc (CTM), SpA(K), selaku Rektor
Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada
Penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister
Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, MHum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program Studi Magister
Kenotariatan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus
Pembimbing Utama yang dengan penuh perhatian member bimbingan dan saran
kepada Penulis.
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum, selaku Sekretaris Program Studi
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Penguji yang
telah memberikan masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.
5. Bapak Prof. Dr. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD, selaku dosen pembimbing yang
telah memberikan perhatian, dukungan dan masukan kepada Penulis.

iii

Universitas Sumatera Utara

6. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH, MHum, selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan perhatian, dukungan dan masukan kepada Penulis.
7. Ibu Dr. Idha Aprilyana, SH, MHum, selaku dosen penguji yang telah memberikan
masukan serta kritik yang membangun kepada Penulis.
8. Bapak-bapak dan Ibu-ibu staf pengajar serta para pegawai di Program Studi Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
9. Kepada yang terhormat dan terkasih kedua orang tuaku H. Lopo dan Hj. Sardiyem,
yang telah sabar dan ikhlas membesarkan dan memberi dukungan kepada Penulis
hingga memperoleh gelar Magister Kenotariatan.
10. Buat Isteriku tersayang Ika Marina Pohan dan anakku yang solehah Shayna
Althafunnisa, do’a dan dukungan kalian akan menjadi motivasi bagi Penulis untuk
menjadi yang terbaik hari ini dan di hari yang akan datang.
11. Buat keluarga besar Abang-abangku Eko Sukono dan isteri, Dwi Prayitno, SP, dan
isteri, Tridhi Hartono, ST, dan isteri, serta keponakan-keponakan yang lucu-lucu dan
membanggakan, terima kasih yang tulus buat doa dan semangatnya.
12. Keluarga besar mahasiswa Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara Angkatan 2009, terkhusus kelas A, semoga kekeluargan
kita terjaga selalu dan abadi sepanjang masa.
Kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan perhatiannya sehingga
Penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan tesis ini. Penulis menyadari tesis
ini masih jauh dari sempurna, namun diharapkan semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak.

Medan,

Agustus 2011
Penulis,

Catur Muhammad Sarjono

iv

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi
Nama

: Catur Muhammad Sarjono

Tempat/Tanggal lahir

: Medan, 24 April 1982

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Jl. Teratai No. 42A Medan

II. Keluarga
Nama Ayah

: H. Lopo

Nama Ibu

: Hj. Sardiyem

III. Pendidikan
1. SD Swasta Nurul Huda Medan (1988-1994)
2. SLTP Swasta Tunas Kartika I-1 Medan (1994-1997)
3. SMU Negeri 15 Medan (1997-2000)
4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (2000-2005)
5. S-2 Program Studi Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara (2009-2011)

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ..................................................................................................

i

ABSTRACT ..................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR.................................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP .....................................................................................

v

DAFTAR ISI................................................................................................

vi

DAFTAR ISTILAH ....................................................................................

ix

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................

1

B. Perumusan Masalah.............................................................

16

C. Tujuan Penelitian.................................................................

16

D. Manfaat Penelitian...............................................................

17

E. Keaslian Penelitian ..............................................................

18

F.

Kerangka Teori dan Konsepsi .............................................

20

1. Kerangka Teori................................................................

20

2. Konsepsi ..........................................................................

24

G. Metodologi Penelitian .........................................................

27

1. Sifat Penelitian ................................................................

27

2. Jenis Penelitian ................................................................

27

3. Metode Pengumpulan Data .............................................

28

4. Alat Pengumpulan Data ..................................................

30

5. Analisis Data ...................................................................

30

KEWENANGAN MENGADILI PENGADILAN AGAMA
DALAM SENGKETA WARIS ISLAM
A. Jangkauan Kewenangan Mengadili Perkara Warisan .........

32

B. Kewenangan Pengadilan Agama Mengenai Sengketa
Milik Menurut UU No. 7 Tahun 1989 ................................

43

vi

Universitas Sumatera Utara

BAB III

C. Kewenangan Pengadilan Agama Mengenai Sengketa
Milik Menurut UU No. 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 ......................

47

D. Analisis Hukum Terhadap Kewenangan Mengadili
Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak
Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Putusan
Agama
dalam
Perkara
No.
Pengadilan
52/Pdt.G/2008/PA-TTD).....................................................

49

STATUS HUKUM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA
YANG
MEMUTUS
PERKARA
YANG
BUKAN
KEWENANGANNYA
A. Kasus Posisi......................................................................... 54
B. Duduk Perkara ..................................................................... 55
C. Pembuktian dalam Putusan Sela.......................................... 61
D. Pertimbangan Hakim dalam Putusan Sela........................... 62
E. Jawaban Tergugat................................................................ 65
F.

Replik .................................................................................. 74

G. Duplik.................................................................................. 74
H. Pembuktian dalam perkara .................................................. 75
I.

Pertimbangan Hukum Hakim Pengadilan Agama
dalam Perkara No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD ...................... 78

J.

Pertimbangan Hukum Hakim Pengadilan Tinggi
Agama dalam Perkara No. 145/Pdt.G/2008/PTA-MDN ... 91

K. Status Hukum Putusan Pengadilan Agama yang Memutus
Perkara Yang Bukan Kewenangannya .............................

92

BAB IV PUTUSAN PENGADILAN AGAMA YANG MENJADI
DASAR PERMOHONAN PEMBATALAN SERTIPIKAT
HAK MILIK ATAS TANAH DI BADAN PERTANAHAN
NASIONAL (BPN)
A. Kewenangan Pembatalan Hak Atas Tanah ......................... 100
B. Subjek Pembatalan Sertipikat Hak Atas Tanah................... 102
C. Objek Pembatalan Hak Atas Tanah..................................... 103
D. Syarat Permohonan Pembatalan Hak Atas Tanah ............... 105
E. Prosedur Permohonan Pembatalan Hak Atas Tanah ........... 106
vii

Universitas Sumatera Utara

F.

BAB V

Putusan Pengadilan Agama Tidak Dapat Menjadi Dasar
Permohonan Pembatalan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah
di Badan Pertanahan Nasional (BPN) ................................. 109

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...................................................................... ... 113
B. Saran ................................................................................ ... 114

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................117

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISTILAH

ashobah

beschikkingsbevoegd
condemnatoir
constitutif

contentiosa

declaratoir

directive interview
executionary power
executorial verkoop
executoriale kracht

fardhu kifayah

fundamentum petendi
inkracht van gewijsde zaak
legal culture
legal structure
legal substance
mal waris
muamalah

mutatis mutandis

: menghabisi seluruh harta pusaka dengan
ketentuan bagian seorang anak laki-laki
adalah sama dengan bagian dua orang anak
perempuan.
: kewenangan bertindak.
: putusan yang berisi penghukuman.
: putusan yang meniadakan suatu keadaan
hukum atau menimbulkan suatu keadaan
hukum baru.
: perkara sengketa antara dua pihak dimana
pihak Penggugat berhadapan dengan pihak
Tergugat.
: putusan
yang
bersifat
menerangkan,
menegaskan suatu keadaan hukum sematamata.
: wawancara yang dilakukan secara terarah.
: putusan
mempunyai
kekuatan
yang
dilaksanakan.
: penjualan lelang.
: putusan yang telah memperoleh kekuatan
hukum yang tetap atau memperoleh kekuatan
yang pasti.
: harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang dalam
satu kelompok masyarakat, namun kalau
sudah ada satu atau beberapa orang yang
mengerjakan (melaksanakan), kewajiban telah
terpenuhi.
: uraian termasuk fakta-fakta hukum yang
menjadi dasar suatu gugatan.
: putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.
: budaya hukum.
: struktur hukum.
: substansi hukum.
: harta waris.
: kegiatan antara manusia dalam kehidupan
bersama (manusia dengan manusia/manusia
dengan masyarakat).
: perihal mengubah apa yang perlu diubah.

ix

Universitas Sumatera Utara

: Hakim tidak boleh memutus lagi perkara yang
pernah diputus sebelumnya antar pihak yang
sama serta mengenai pokok perkara yang
sama.
niet onvankelijk verklaard
: gugatan tidak dapat diterima.
objektum litis
: objek perkara.
obscuur
: tidak jelas/kabur.
onrechtmatige overheids daadzaken : perbuatan melawan hukum penguasa.
plaatsvervulling
: dalam hal ahli waris lebih dulu meninggal dari
pewaris, kedudukannya dapat digantikan
anaknya.
plurium litis consortium
: kurang pihak dalam gugatan.
rechtsbevoegd
: memiliki hak.
res judicata pro veritate habetur
: apa yang telah diputus oleh Hakim harus
dianggap benar.
tirkah
: harta peninggalan.
volledigs bewijs
: suatu nilai pembuktian yang sempurna.

nebis in idem

x

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Salah satu tugas dan wewenang dari Pengadilan Agama sesuai UU No. 3 Tahun
2006 tentang Peradilan Agama memutus perkara antara orang-orang yang beragama
Islam mengenai masalah kewarisan. Bidang kewarisan ini meliputi penentuan siapa-siapa
yang menjadi ahli waris, penentuan harta peninggalan, penentuan bagian dari masingmasing pihak dan melaksanakan pembagian tersebut. Jika terjadi perselisihan,
persengketaan mengenai harta peninggalan, harta warisan atau harta warisan yang
dikuasai orang lain yang bukan haknya, ahli waris dapat dan berhak mengajukan gugatan
kepada Pengadilan Agama. Pembatalan hak atas tanah yang menjadi objek sengketa
waris dapat dikarenakan cacat administrasi dalam penerbitan surat keputusan pemberian
hak atas tanah maupun untuk melaksanakan putusan Pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap. Amar putusan Pengadilan Agama yang menyatakan sertipikat hak milik
atas tanah tidak berkekuatan hukum, secara administasi harus ditindaklanjuti oleh
Pemerintah, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional dengan mengeluarkan surat
keputusan pembatalan surat keputusan pemberian hak atas tanah yang serta merta
membatalkan sertipikat hak atas tanah. Namun kenyataannya, Badan Pertanahan
Nasional menolak membatalkan sertipikat hak milik atas tanah atas dasar putusan
Pengadilan Agama.
Penelitian ini bersifat deskriptif, yaitu bertujuan untuk menggambarkan serta
menganalisis data yang diperoleh secara sistematis, faktual dan akurat mengenai
pembatalan hak atas tanah atas dasar putusan Pengadilan Agama. Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian hukum normatif, yaitu penelitian kepustakaan dengan
pendekatan perundang-undangan terutama untuk mengkaji peraturan-peraturan yang
berkaitan dengan pembatalan hak atas tanah. Metode pengumpulan data yang
dipergunakan adalah penelitian kepustakaan dan analisisnya dilakukan secara kualitatif
dengan menggunakan metode deduktif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan bahwa persoalan pembatalan hak atas
tanah yang merupakan objek perkara waris terkait dengan kompetensi peradilan. Hal ini
disebabkan sulitnya mengidentifikasi yurisdiksi materiil gugatan karena biasanya
gabungan antara aspek perdata dengan aspek tata usaha Negara. Masih terdapat
kekeliruan Hakim di lingkungan Peradilan Agama dalam memeriksa dan memutus
perkara waris yang objek perkaranya berupa tanah yang sudah bersertipikat. Apabila
tanah yang menjadi objek perkara waris belum bersertipikat maka hal tersebut merupakan
kewenangan mengadili Pengadilan Agama, tetapi apabila tanah yang menjadi objek
perkara waris sudah bersertipikat maka menjadi kewenangan dari Pengadilan Tata Usaha
Negara. Sertipikat hak atas tanah memiliki sisi ganda, pada satu sisi sebagai Keputusan
Tata Usaha Negara (KTUN) dan di sisi lain sebagai Tanda Bukti Hak Keperdataan
(kepemilikan) seseorang atau badan hukum atas tanah. Oleh karena itu, ada 2 (dua) badan
peradilan yang berwenang memeriksa perkara dengan objek gugatan Sertipikat hak atas
tanah, yaitu Peradilan Umum dan Peradilan Tata Usaha Negara.
Kata kunci : Putusan Pengadilan Agama, Sertipikat.
i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

One of the rights and Obligations of Religious Court, according to Law
No.3/2008 on Religious Jurisdiction is making the ruling for the Moslems about
inheritance. This inheritance case is composed of the rulings about who will be the
heirs, about the inheritance, about the parties who will share the inheritance, about
the implementation of the allotment, about the potential dispute on the inheritance,
and about the real inheritance or the inheritance which is given to the wrong person
so that the real heir can have the right to claim a lawsuit to the Religious Court. The
revocation of land rights which becomes the dispute among the heirs can be caused
by the defect of the administration in issuing the directive of giving the land rights or
in implementing the Court’s ruling which has been final and conclusive. The court’s
ruling which decides that the land certificate is not final and conclusive will
administratively be followed up by the government; in this case, the National Land
Board which issues a directive of the revocation of the land certificate will eventually
revoke the directive of the land certificate itself. But, in reality, the National Land
Board refuses to revoke the land certificate which is based on the Religious Court’s
ruling.
This research was descriptive which was aimed to describe and analyze the
data which had been collected systematically, factually, and accurately regarding the
revocation of the land rights which was based on the Religious Court’s ruling. The
type of the research was legal normative; namely, a literature study with legal
approach, especially in studying regulations which were related to the revocation of
land rights. The method of the research was literature study and the analysis was
done qualitatively by using deductive method.
The result of the research showed that the problem of the revocation of land
rights which was about the case of inheritance was related to the competence of the
judicial administration. This was due to the difficulty in identifying jurisdiction
materials of the complaint because usually they comprised the combination of civil
aspects and State Administration. Besides that, there was the judge’s error in the
Religious Court in investigating and handing down a ruling about an inheritance
case when the land had its certificate. If the land which was in dispute did not have
any certificate, the Religious Court had the competence to pass the judgment on it.
On the other hand, if the land which was in dispute had already had its certificate,
the State Administrative Court had the competence to pass the judgment on it. The
land rights certificate has two sides: on the one hand, it is the Directive of State
Administration; on the other hand, it is an Affidavit of Civil Rights (ownership) of an
individual or a legal entity of the land. Therefore, there are two courts which have
the competence to investigate the case of the complaint about land certificate: Court
of General Jurisdiction and State Administrative Court.
Keywords: Religious Court Ruling, Certificate
ii

Universitas Sumatera Utara

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Peradilan Agama telah hadir dalam kehidupan hukum di Indonesia sejak
masuknya agama Islam. Guna memenuhi kebutuhan masyarakat muslim akan
penegakan keadilan, pemerintah mewujudkan dan menegaskan kedudukan Peradilan
Agama sebagai salah satu badan kekuasaan kehakiman di Indonesia. Dalam Al
Qur’an, Hadits Rasul dan ijtihad para ahli hukum Islam, terdapat aturan-aturan
hukum materiil sebagai pedoman hidup dan aturan dalam hubungan antar manusia
(muamalah) serta hukum formal sebagai pedoman beracara di Pengadilan Agama.
Dalam hukum Islam, kegiatan peradilan merupakan kegiatan muamalah, yaitu
kegiatan

antara

manusia

dalam

kehidupan

bersama

(manusia

dengan

manusia/manusia dengan masyarakat). Melaksanakan amalan (kegiatan) peradilan
hukumnya adalah fardhu kifayah; harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang dalam satu
kelompok masyarakat, namun kalau sudah ada satu atau beberapa orang yang
mengerjakan (melaksanakan), kewajiban telah terpenuhi. Al Mawardi di dalam buku
al-Ahkam as Shulthaniyah menegaskan kegiatan peradilan adalah merupakan bagian
pemerintah dalam rangka bernegara.1

1

Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Negara
Islam, Darul Falah, Jakarta, 2000, halaman 122-142.

1

Universitas Sumatera Utara

2

Peradilan Agama adalah salah satu dari tiga peradilan khusus di Indonesia.
Sebagai peradilan khusus, Peradilan Agama mengadili perkara-perkara perdata
tertentu dan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Dengan perkataan lain, Peradilan
Agama hanya berwenang di bidang perdata Islam tertentu saja dan hanya untuk
orang-orang Islam di Indonesia. Oleh karena itu, Peradilan Agama dapat disebut
sebagai peradilan Islam di Indonesia, yang pelaksanaannya secara limitatif telah
disesuaikan dengan keadaan di Indonesia.2
Dengan adanya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 jo. Undang-Undang
Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, secara formal maka keberadaan
Peradilan Agama diakui, namun mengenai susunan dan kekuasaan (wewenang) masih
beragam dan hukum acara yang dipergunakan adalah HIR serta peraturan-peraturan
yang diambil dari hukum acara Peradilan Islam.
Dalam perkembangan selanjutnya, dewasa ini telah dikeluarkan UndangUndang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang mengatur: susunan,
kekuasaan dan hukum acara Peradilan Agama. Undang-Undang ini kemudian
mengalami perubahan pada Pasal-Pasal tertentu untuk menyesuaikan dengan
perkembangan perundang-undangan yang ada maupun dengan kebutuhan di lapangan
praktis dengan keluarnya Undang-Undang No. 3 Tahun 2006.3
Tugas dan kewenangan Peradilan menurut Pasal 49 UU No. 7 Tahun 1989
yaitu memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara perdata bidang:
2

Roihan A. Rasjid, Hukum Acara Peradilan Agama, Rajawali Pers, Jakarta, 1991, halaman 6.
Sulaikin Lubis, Wismar ‘Ain Marzuki dan Gemala Dewi, Hukum Acara Perdata Peradilan
Agama di Indonesia, Kencana, Jakarta, 2008, halaman 2.
3

Universitas Sumatera Utara

3

perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam,
wakaf dan sedekah. Kewenangan Peradilan Agama tersebut berdasar atas asas
personalitas ke-Islaman, yaitu yang dapat ditundukkan ke dalam kekuasaan
lingkungan Peradilan Agama, hanya mereka yang beragama Islam.4
Saat ini dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, salah
satu yang diatur adalah tentang perubahan atau perluasan kewenangan lembaga
Peradilan Agama pada Pasal 49 UU No. 3 Tahun 2006, yang meliputi: perkawinan,
waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, infak, sedekah, dan ekonomi syariah.
Salah satu sentral dalam Undang-Undang ini adalah asas personalitas
keislaman. Asas personalitas ke-Islaman dalam bidang perdata kewarisan, meliputi
seluruh golongan rakyat beragama Islam. Dengan perkataan lain, dalam hal terjadi
sengketa kewarisan bagi setiap orang yang beragama Islam, kewenangan
mengadilinya tunduk dan takluk pada lingkungan Peradilan Agama, bukan ke
lingkungan Peradilan Umum. Jadi, luas jangkauan mengadili lingkungan Peradilan
Agama ditinjau dari subjek pihak yang berperkara, meliputi seluruh golongan rakyat
yang beragama Islam tanpa terkecuali.5
Sengketa keperdataan yang menyangkut hak kebendaan dalam perkara waris,
meliputi sengketa hak milik atas tanah. Kebutuhan akan adanya perlindungan hukum
dan jaminan kepastian hukum dalam bidang pertanahan berarti bahwa setiap warga
4

Ibid., halaman 109.
M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama, UU No. 7 Tahun
1989, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, halaman 147-148.
5

Universitas Sumatera Utara

4

Negara Indonesia dapat menguasai tanah secara aman dan mantap.6 Penguasaan yang
mantap

berarti

ditinjau

dari

aspek

waktu/lamanya

seseorang

dapat

mempunyai/menguasai tanah sesuai dengan isi kewenangan dari hak atas tanah
tersebut, sedangkan penguasaan secara aman berarti si pemegang hak atas tanah
dilindungi dari gangguan, baik dari sesama warga negara dalam bentuk misalnya
penguasaan illegal ataupun dari penguasa. Pada asasnya apabila pihak lain
memerlukan tanah untuk keperluan apapun, maka cara untuk memperoleh tanah yang
diperlukan harus ditempuh musyawarah dengan pemegang hak atas tanah hingga
tercapai kata sepakat yang benar-benar keluar dari maksud baik antara kedua belah
pihak.
Hak atas tanah memberikan kewenangan kepada pemegangnya untuk
memakai suatu bidang tanah tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan tertentu.
Sedangkan tujuan pemakaian tanah pada hakekatnya ada 2 (dua), yaitu : pertama,
untuk diusahakan, misalnya untuk pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan.
Kedua, tanah dipakai sebagai tempat membangun, misalnya bangunan gedung,
lapangan, jalan dan lain-lain.7 Hak atas tanah dapat diberikan kepada dan dipunyai
oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang-orang lain serta
badan-badan hukum. Hak-hak atas tanah dimaksud memberi wewenang untuk
mempergunakan tanah yang bersangkutan. Demikian pula tubuh bumi dan air serta

6

Arie Sukanti Hutagalung, Analisa Yuridis Keppres No. 55 Tahun 1993, (Diklat DDN :
Jakarta, 2001), halaman 1.
7
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia : Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaannya , Jilid i, Djambatan, Jakarta, 2008, halaman 285.

Universitas Sumatera Utara

5

ruang angkasa yang ada di atasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan yang
langsung berhubungan dengan penggunaan tanah itu, dalam batas-batas menurut
UUPA dan peraturan-peraturan hukum lain yang lebih tinggi.
Terhadap banyaknya kasus-kasus pertanahan yang terjadi di masyarakat maka
sangatlah perlu dicari cara penyelesaiannya yang sangat menguntungkan bagi kedua
belah pihak. Untuk itu penyelesaian sengketa perdata yang berkenaan dengan tanah
diluar lembaga peradilan menjadi ideal bagi penyelesaian sengketa tanah. Karena bila
ditempuh melalui jalur hukum/lembaga peradilan, sering kali tidak hanya
menyangkut aspek hukum, hak-hak penguasaan, kalkulasi ekonomi, tetapi tidak
sedikit yang menyentuh sisi sosio kultural. Penyelesaian melalui lembaga pengadilan
yang lebih berpola menang kalah seringkali justru memicu konflik-konflik non
hukum yang berkepanjangan. Apalagi jika masalah-masalah hukum yang diangkat
hanya berfokus pada satu sebab saja.
Munculnya ketidakpuasan terhadap putusan pengadilan yang berakumulasi
dengan berbagai aspek masalah pertanahan yang tidak terselesaikan melalui
pengadilan, ternyata dapat berkembang sampai kepada kekerasan fisik. Persoalan hak
penguasaan atas tanah dan sumberdaya alam di Indonesia, secara sepintas dapat
digambarkan melalui peta konflik agraria di Indonesia, yang dihasilkan oleh kerja
advokasi Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Dari data tersebut tampak bahwa
konflik agraria terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Dari tahun 1950-an
sampai akhir dekade 90-an terdapat 1455 kasus yang teridentifikasi oleh KPA; dari
jumlah itu tidak sampai 50 kasus yang terjadi sebelum 1980. Artinya, konsentrasi

Universitas Sumatera Utara

6

kasus terutama dalam duapuluhan tahun terakhir. Dari sekian ribu konflik yang
terjadi, tidak ada satu pun yang berakhir dengan kemenangan pihak masyarakat (adat
dan lokal) dalam berhadapan dengan pihak perusahaan dan negara melalui jalur
hukum. Seluruh masyarakat yang terlibat dalam berbagai kasus tersebut adalah
korban yang kalah dalam pengertian yang paling tragis: tergusur, diusir, tidak
mendapat ganti rugi, ditahan, ditembak dan kehilangan lahan untuk waktu yang tak
dapat diperkirakan dan dengan demikian kehilangan sumber hidup dan putusnya
pertalian dengan sumber budaya mereka. Data KPA tersebut menyebutkan bahwa
jumlah keluarga yang menjadi korban dalam kasus tersebut adalah 242.088 KK dan
jumlah korban individu manusia sebesar 533.866. Berarti dalam setiap kasus rata-rata
timbul korban 367 manusia, baik yang kehilangan nyawa, tanah, terusir dan tergusur,
mengalami kekerasan fisik dan berbagai bentuk pelanggaran hak asasi manusia
(HAM) lainnya.8
Masalah tanah dilihat dari segi yuridisnya saja merupakan hal yang tidak
sederhana pemecahannya. Kesamaan terhadap konsep sangat diperlukan agar terdapat
kesamaan persepsi yang akan menghasilkan keputusan yang solid dan adil bagi
pihak-pihak yang meminta keadilan. Persamaan yang memerlukan persamaan
persepsi tersebut, misalnya berkenaan antara lain dengan sertipikat sebagai tanda

8
Emil Kleden, Kebijakan-Kebijakan Transnational Institutions Yang Mempengaruhi Peta
Tenurial Security dalam Lingkup Masyarakat Adat di Indonesia, Makalah dipresentasikan dalam
Konferensi Internasional tentang Penguasaan Tanah dan Kekayaan Alam di Indonesia yang Sedang
Berubah: “Mempertanyakan Kembali Berbagai Jawaban,” 11 – 13 Oktober 2004, Hotel Santika,
Jakarta.

Universitas Sumatera Utara

7

bukti hak atas tanah, berkenaan dengan kedudukan sertipikat tanah, sertipikat yang
mengandung cacat hukum dan cara pembatalan dan atau penyelesaiannya. 9
Pengertian pendaftaran menurut Harun Al Rashid, berasal dari kata cadastre
(bahasa Belanda). Kadaster adalah suatu istilah teknis untuk suatu record (rekaman),
menunjukkan kepada luas, nilai dan kepemilikan (atau lain-lain atas hak) terhadap
suatu bidang tanah.10 Sedangkan pengertian Pendaftaran Tanah menurut Boedi
Harsono adalah : suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Negara/Pemerintah
secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu
mengenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan,
penyimpanan, dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka menjamin
jaminan kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda bukti dan
pemeliharaannya.11
Pengertian pendaftaran tanah menurut ketentuan Pasal 1 angka 1 Peraturan
Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 adalah : Rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh
pemerintah

secara

terus

menerus

berkesinambungan

dan

teratur

meliputi

pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik
dan data yuridis dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan
satuan rumah susun termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang tanah

9
Maria S.W.Sumardjono, Kebijakan Pertanahan antara Regulasi & Implementasi, Kompas,
Jakarta, 2001, halaman 163.
10
Harun Al Rashid, Sekilas Tentang Jual Beli Tanah (berikut peraturan-peraturan), Ghalia
Indonesia, Jakarta,1986, halaman 82.
11
Boedi Harsono, Op.Cit, halaman 72.

Universitas Sumatera Utara

8

yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu
yang membebaninya.
Sertipikat hak atas tanah berisi data fisik (keterangan tentang letak, batas, luas
bidang tanah serta bagian bangunan atau bangunan yang ada di atasnya bila dianggap
perlu) dan data yuridis (keterangan tentang status tanah dan bangunan yang didaftar,
pemegang hak atas tanah dan hak-hak pihak lain, serta beban-beban yang ada di
atasnya). Dengan memiliki sertipikat, maka kepastian hukum berkenaan dengan jenis
hak atas tanahnya, subyek hak dan obyek haknya menjadi nyata. Bagi pemegang hak
atas tanah, memiliki sertipikat mempunyai nilai lebih. Sebab dibandingkan dengan
alat bukti tertulis, sertipikat merupakan tanda bukti hak yang kuat, artinya harus
dianggap benar sampai dibuktikan sebaliknya di pengadilan dengan alat bukti yang
lain.12
Stelsel publikasi yang digunakan dalam UUPA adalah stelsel negatif yang
mengandung unsur positif karena akan menghasilkan surat tanda bukti hak yang
berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat, berdasarkan Pasal 19 ayat (2) huruf c,
Pasal 32 ayat (2) dan Pasal 38 UUPA.13 Sistem publikasi negatif bertendensi positif
artinya walaupun Negara tidak menjamin kebenaran data yang disajikan dalam bukti
hak, namun bukti hak tersebut dikategorikan sebagai bukti hak yang kuat (selama
tidak ada putusan hakim yang menyatakan sebaliknya maka data yang disajikan
dalam bukti hak tersebut merupakan data yang benar, sah dan diakui serta dijamin

12
13

Maria S.W. Soemarjono, Ibid, halaman 182.
Boedi Harsono, Op.Cit, halaman 477.

Universitas Sumatera Utara

9

menurut hukum). Ketentuan tersebut ditambah lagi dengan adanya proses
pemeriksaan tanah dalam rangka penetapan hak, yakni pengumpulan dan penelitian
data yuridisnya sehingga dengan pemeriksaan tanah tersebut hasilnya diharapkan
dapat mendekati kebenaran materil dari alas hak yang menjadi dasar penetapan
haknya.14
Jaminan kepastian hukum pendaftaran tanah atau kebenaran data fisik dan
data yuridis bidang tanah dalam sertipikat, sangat tergantung pada alat bukti
kepemilikan tanah yang digunakan dasar bagi pendaftaran tanah. Didalam Peraturan
Pemerintah No. 10 tahun 1960 yang telah diganti dengan Peraturan Pemerintah No.
24 Tahun 1997 telah diatur penentuan alat-alat bukti untuk menentukan adanya hakhak atas tanah secara jelas dan mudah dilaksanakan serta memberikan kepastian
hukum bagi pemilik hak yang bermaksud mendaftarkan haknya. Alat bukti
pendaftaran tanah dimaksud adalah alat bukti hak baru dan alat bukti hak lama.
Terungkapnya kasus-kasus berkenaan dengan gugatan terhadap pemegang
sertipikat oleh pemegang hak atas tanah semula, telah memunculkan rasa tidak aman
bagi para pemegang sertipikat. Perorangan atau badan hukum yang merasa
kepentingannya dirugikan terhadap hak atas tanah yang terdaftar dan diterbitkan
sertipikatnya, berhak mengajukan gugatan ke Pengadilan. Hak atas tanah dan/atau
sertipikat dapat dibatalkan berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan
hukum tetap, yang berbunyi amar putusannya menyatakan batal atau tidak

14

Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Edisi Revisi, CV.
Mandar Maju, Bandung, 2010, halaman 148.

Universitas Sumatera Utara

10

mempunyai kekuatan hukum atau yang pada intinya sama dengan itu. Putusan
pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap tersebut hanya dapat dijadikan dasar
pembatalan sertipikat hak atas tanah. Kewenangan membatalkan sertipikat hak atas
tanah mutlak merupakan kewenangan administrasi Menteri Negara/Kepala Badan
Pertanahan Nasional.
Keputusan penerbitan sertipikat hak atas tanah berhak dikeluarkan oleh Badan
Pertanahan Nasional (BPN), dimana BPN merupakan jabatan tata usaha Negara,
sehingga jika ada sengketa terhadap sertipikat hak atas tanah yang berhak memeriksa
dan mengadili adalah Peradilan Tata Usaha Negara (kompetensi/kewenangan
absolut).15
Sengketa tentang sertipikat hak atas tanah

sering terjadi disidangkan di

Pengadilan Negeri. Ada Jurisprudensi tetap HR sejak sebelum tahun Perang Dunia II
diikuti dan dianut oleh badan-badan peradilan di Indonesia. Pasal 2 RO Ind (bunyinya
sama dengan Pasal 2 RO Ned) masih berlaku sampai sekarang walaupun telah ada
Pasal 50 Undang-Undang Nomor 2 tahun 1986 dan berlakunya Undang-Undang
Nomor 14 tahun 1970 dan yang terakhir Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman. Jurisprudensi pada awalnya diikuti oleh Hakim
Pengadilan Negeri untuk memeriksa perkara Tata Usaha Negara terutama keputusankeputusan pemerintah atau penguasa yang sering merugikan hak-hak atau

15

Suriyati Tanjung, Pembatalan Sertifikat Hak Atas Tanah dan Perlindungan Pihak Ketiga
yang Beri’tikad Baik (Studi pada Pengadilan Tata Usaha Negara Medan), Tesis, Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, Medan, 2006, halaman 74.

Universitas Sumatera Utara

11

kepentingan masyarakat atau sering juga disebut dengan perbuatan melawan hukum
penguasa (onrechtmatige overheids daadzaken/OOD).16
Jurisprudensi tetap tersebut lama kelamaan menjadi pendapat umum sehingga
sampai sekarang sudah tidak asing lagi jika Pengadilan Negeri memeriksa dan
memutus perkara yang seharusnya menjadi kewenangan PTUN. Demikian juga
sengketa tentang sertipikat hak atas tanah yang banyak disidangkan di Pengadilan
Negeri. Perlu diketahui bahwa sebenarnya yang menjadi objek perkara (objektum
litis) dalam sengketa tersebut adalah bukan Keputusan Tata Usaha Negara atau bukan
sertipikat hak atas tanah tersebut melainkan hak-hak atau kepentingan-kepentingan
masyarakat yang dilanggar sebagai akibat keluarnya Keputusan Tata Usaha Negara
atau keluarnya sertipikat tersebut.17
Dalam hal sengketa hak milik dalam perkara waris Islam, seringkali pihakpihak yang berperkara mengajukan permohonan kepada Majelis Hakim di lingkungan
Peradilan Agama untuk memutus perkara yang salah satu objek gugatannya mengenai
status kepemilikan terhadap tanah waris. Hal ini tentunya menjadi kewenangan
mengadili Peradilan Agama untuk memeriksa dan mengadili perkara sengketa hak
milik dalam perkara warisan yang sebelumnya menjadi kewenangan mengadili
Peradilan Umum sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama.

16
17

Ibid, halaman 75.
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

12

Permasalahan semakin kompleks ketika Peradilan Agama memutuskan sertipikat Hak
Milik atas tanah waris tersebut dinyatakan tidak berkekuatan hukum.
Hapusnya hak atas tanah berdasarkan putusan Pengadilan ditentukan dalam
Pasal 52 jo. Pasal 55 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997. Hapusnya hak
atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun diatur di dalam Pasal 52,
menyatakan bahwa:
(1) Pendaftaran hapusnya suatu hak atas tanah, hak pengelolaan dan hak milik atas
satuan rumah susun dilakukan oleh Kepala Kantor Pertanahan dengan
membubuhkan catatan pada buku tanah dan surat ukur serta memusnahkan
sertipikat hak yang bersangkutan, berdasarkan:
a. Data dalam buku tanah yang disimpan di Kantor Pertanahan, jika mengenai
hak-hak yang dibatasi masa berlakunya.
b. Salinan surat keputusan pejabat yang berwenang bahwa hak yang
bersangkutan telah dibatalkan atau dicabut.
c. Akta yang menyatakan bahwa hak yang bersangkutan telah dilepaskan oleh
pemegang haknya.
(2) Dalam hal sertipikat hak atas tanah yang dihapus tidak diserahkan kepada Kepala
Kantor Pertanahan, hal tersebut dicatat pada buku tanah dan surat ukur yang
bersangkutan.
Perubahan data pendaftaran tanah berdasarkan putusan atau penetapan
Pengadilan diatur didalam Pasal 55 Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997, yang
menyatakan bahwa:
(1) Panitera Pengadilan wajib memberitahukan kepada Kepala Kantor Pertanahan
mengenai isi semua putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap dan penetapan Ketua Pengadilan yang mengakibatkan terjadinya perubahan
pada data mengenai bidang tanah yang sudah didaftar atau satuan rumah susun
untuk dicatat pada buku tanah yang bersangkutan dan sedapat mungkin pada
sertipikatnya dan daftar-daftar lainnya.
(2) Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat dilakukan juga atas
permintaan pihak yang berkepentingan, berdasarkan salinan resmi putusan
Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap atau salinan penetapan
Ketua Pengadilan yang bersangkutan yang diserahkan olehnya kepada Kepala
Kantor Pertanahan.

Universitas Sumatera Utara

13

(3) Pencatatan hapusnya hak atas tanah, hak pengelolaan dan hak milik atas satuan
rumah susun berdasarkan putusan Pengadilan dilakukan setelah diperoleh surat
keputusan mengenai hapusnya hak yang bersangkutan dari Menteri atau Pejabat
yang ditunjuknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 ayat (1).
Kedua ketentuan di atas, pada pokoknya mengatakan bahwa atas permintaan
yang berkepentingan maka Kepala Kantor Pertanahan segera melaksanakan
pendaftaran hapusnya hak atas tanah dengan membubuhkan catatan pada buku tanah
dan surat ukur serta memusnahkan sertipikat hak atas tanah yang bersangkutan. Hal
tersebut dilakukan setelah diperoleh Surat Keputusan dari Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional berdasarkan Keputusan Pengadilan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Kewenangan membatalkan sertipikat hak atas tanah merupakan kewenangan
administrasi Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional, sesuai
dipertegas Mahkamah Agung dalam putusannya tanggal 3 Nopember 1971 Nomor
383/K/Sip/1971 menyatakan bahwa: “Pengadilan tidak berwenang membatalkan
sertipikat hak atas tanah, karena hal tersebut termasuk kewenangan administrasi,
dalam hal ini adalah Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional.”
Berangkat dari uraian di atas, ada kasus yang terjadi di kabupaten Serdang
Bedagai mengenai sengketa Milik sebidang tanah dalam perkara gugatan waris mal
waris di Pengadilan Agama Tebing Tinggi, dimana putusan Pengadilan Agama No.
52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. 145/Pdt.G/2008/PTA.MDN, dijadikan dasar permohonan
pembatalan sertipikat hak milik atas tanah No. 249/Pematang Ganjang yang semula
atas nama RAHIM (almarhum), kemudian pemegang sertipikat beralih kepada

Universitas Sumatera Utara

14

KADIR berdasarkan Akta Jual Beli Nomor 368/19/S.R.H/1997 tanggal 7 Juli 1997
yang dibuat dihadapan H. BADAR selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah di kabupaten
Deli Serdang.
Dalam sengketa tersebut, yang menjadi obyek perkara adalah sengketa
kepemilikan antara ABDI, RAMLAH dan ZAIDAR yang merupakan ahli waris
RAHIM (almarhum) dengan KADIR Bin H. TARMAN (keponakan almarhum
RAHIM) atas

sebidang tanah yang dilekati oleh Sertipikat Hak Milik Nomor

249/Pematang Ganjang atas nama KADIR seluas 8.501 m2 yang terletak di desa
Pematang Ganjang, kecamatan Sei Rampah, kabupaten Serdang Bedagai, yang
merupakan harta peninggalan almarhum RAHIM dan almarhumah SARAH yang
meninggal pada tahun 2005 dan 2002. Bidang tanah tersebut

pada awalnya

diterbitkan sertipikat Hak Milik atas nama almarhum RAHIM kemudian diserahkan
dan dikuasai oleh KADIR dengan Akta Jual Beli.
Menurut para ahli waris almarhum RAHIM, KADIR tidak berhak atas tanah
tersebut karena tanah tersebut merupakan harta warisan dari kedua orang tua mereka.
Sedang KADIR bukan ahli waris almarhum RAHIM dan almarhumah SARAH. Hal
ini diperkuat dengan Akta Pengakuan No. 42 tanggal 20 Oktober 2006 yang dibuat
dihadapan RALIA, SH, Notaris di kabupaten Serdang Bedagai, KADIR dan istrinya,
yaitu Ramlah Saragih, mengakui Sertipikat Hak Milik Nomor 249/Pematang Ganjang
adalah milik ABDI, RAMLAH dan ZAIDAR (ahli waris almarhum RAHIM dan
almarhumah SARAH) dan menyatakan meminjam sertipikat tersebut selama satu
tahun sejak akta pengakuan tersebut dibuat.

Universitas Sumatera Utara

15

Oleh karena sertipikat dimaksud tidak diserahkan kepada ahli

waris

sebagaimana kesepakatan awal, ahli waris almarhum RAHIM dan almarhumah
SARAH mengajukan gugatan secara perdata kepada KADIR Bin H. TARMAN
melalui Pengadilan Agama Tebing Tinggi. Kemudian Pengadilan Agama Tebing
Tinggi memutus perkara tersebut dengan putusan No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD Jo.
No. 145/Pdt.G/2008/PTA-MDN, yang amar putusannya mengabulkan gugatan ahli
waris almarhum, yaitu ABDI, RAMLAH dan ZAIDAR. Salah satu amar putusannya
adalah menyatakan bahwa sertipikat tanah Hak Milik atas nama KADIR No.
249/Pematang Ganjang yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN)
kabupaten Serdang Bedagai tanggal 10-03-2006 tidak berkekuatan hukum.
Oleh karena petitum putusan tingkat banding tersebut telah disampaikan
kepada para pihak dan kesempatan para pihak untuk kasasi telah habis, maka
berdasarkan Surat Keterangan Nomor W2-A6/221/HK.05/III/2009 tanggal 10 Maret
2009 yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Tebing Tinggi dijelaskan bahwa
putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD tanggal 25
September 2008 jo. putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara Nomor
145/Pdt.G/2008/PTA-MDN tanggal 1

Dokumen yang terkait

Analisa Hukum Penetapan Ahli Waris (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan No. 1229/Pdt.G/2010/PA/Mdn)

10 177 117

Jatuhnya Hak Hadhanah Kepada Orang Tua Laki-Laki Karena Perceraian Berdasarkan Putusan Pengadilan Agama. (Studi Pada Putusan Pengadilan Agama Medan No. 1521/Pdt.G/2011/PA.Mdn)

1 59 103

Analisis Hukum Tentang Pembatalan Hibah (Studi Putusan Pengadilan Agama No : 887/PDT.G/2009/PA. MDN)

13 145 141

Analisis Hadhanah Pada Putusan Hadhanah Di Pengadilan Agama Medan (Studi Putusan Pengadilan Agama Medan Tahun 2010-2012)

2 91 165

Tinjauan Yuridis Hak Dan Bagian Anak Laki-Laki (Studi Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No.120/Pdt-G/2007/PA-TTD)

0 34 86

Analisis Hukum Putusan Pengadilan Agama Yang Memutuskan Sertipikat Hak Milik Atas Tanah Tidak Berkekuatan Hukum (Studi Kasus : Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No. 52/Pdt.G/2008/PA-TTD jo. Putusan Pengadilan Tinggi Agama Sumatera Utara No. 145/Pdt.G

3 62 135

Hak Pemeliharaan Dan Kewajiban Memberi Nafkah Terhadap Anak Di Bawah Umur Akibat Perceraian Berdasarkan Putusan Pengadilan Agama Di Kota Binjai (Studi Putusan Pada Wilayah Hukum Pengadilan Agama Binjai)

1 42 105

Penerapan Hermeneutika Hukum di Pengadilan Agama Dalam Penyelesaian Sengketa (Studi Analisis Putusan Pengadilan Agama Bekasi Tentang Harta Bersama)

0 12 172

Analisis Hadhanah Pada Putusan Hadhanah Di Pengadilan Agama Medan (Studi Putusan Pengadilan Agama Medan Tahun 2010-2012)

0 2 14

Tinjauan Yuridis Hak Dan Bagian Anak Laki-Laki (Studi Putusan Pengadilan Agama Tebing Tinggi No.120/Pdt-G/2007/PA-TTD)

0 0 9