d. Dapat memberikan persetujuan e. Tidak terdapat halangan perkawinan.
17
2. Syarat- syarat calon mempelai wanita a. Beragama Islam
b. Perempuan c. Jelas orangnya
d. Dapat diminati persetujuan e. Tidak terdapat halangan perkawinan.
18
3. Syarat- syarat wali nikah a. Laki-laki
b. Dewasa c. Mempunyai hak perwalian
d. Tidak terdapat halangan perwalian.
19
4. Syarat- syarat saksi nikah a. Baligh
b. Berakal c. Mendengar dan memahamiijab qabul
d. Sekurang-kurangnya dua orang saksi e. Adil
f. Beragama Islam
17
Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Tarigan, op.cit. h. 62.
18
Ahmad Rafiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Rajawali Press, 1998, h. 71.
19
Ahmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta: Rajawali Press, 1995, h. 34.
g. Merdeka dan melihat.
20
5. Syarat-syarat ijab qabul a. Adanya pernyataan mengawinkan dari wali
b. Adanya pernyataan penerimaan dari calon mempelai pria c. Memakai kata-kata nikah atau semacamnya
d. Antara ijab dan qabul bersambungan e. Antara ijab dan qabul jelas maksudnya
f. Orang yang terkait dengan ijab tidak sedang melakukan ihram haji umrah g. Majlis ijab qabul itu harus di hadiri mnimal 4 empat orang, yairu calon
mempelai pria atau yang mewakilinya, wali dari mempelai wanita atau yang mewakilinya, dan dua orang saksi.
21
C. Hukum Perkawinan
Dalam perspektif fiqih, nikah disyariatkan berdasarkan al-Quran, as-Sunnah dan ijma’. Ayat yang menunjukan nikah disyariatkan adalah firman Allah SWT dalam surat
an-Nur ayat 32, yaitu:
☺
Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-
orang yang layak berkawin dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
QS. An-Nuur:32
20
Wahbah Zuhaily, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuhu, Damaskus: Daar al-Fikr, 1984,h.73-77
21
Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1996, h. 50.
Adapun hadist Nabi SAW yang menerangkan masalah ini adalah hadist riwayat Abdullah bin Mas’ud ra:
جﱠوﺰﺘ ﻓ ةءﺎﺒ ا ﻜﻨ عﺎﻄﺘﺳا ﻦ ب ﺎﺒﺸ اﺮﺸﻌ ﺎ
Artinya: “Hai para pemuda, siapa di antara kamu yang mampu menanggung beban nikah, maka kawinlah”
Terlepas dari pendapat para imam madzhab, berdasarkan nash-nash Al-Quran maupun As-Sunnah, Islam sangat menganjurkan kaum muslimin yang mampu untuk
melakukan perkawinan. Namun demikian, kalau dilihat dari segi kondisi orang yang melaksanakannya, maka melakukan perkawinan itu dapat dikenakan hukum wajib,
sunnat, haram makruh ataupun mubah. Adapun perinciannya menurut Sayyid Sabiq didalam kitabnya Fiqih Sunnah adalah sebagai berikut:
a Wajib hukumnya bagi orang yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk menikah dan khawatir akan melakukan perbuatan zina. Alasannya, dia wajib
menjaga dirinya agar terhindar dari perbuatan haram. b Sunnah hukumnya bagi orang yang telah mempunyai kemauan dan kemampuan
untuk melangsungkan perkawinan, tetapi apabila tidak kawin sanggup menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan haram, dan apabila ia menikah ia yakin
tidak akan mendzalimi dan membawa mudarat kepada istrinya. c Haram hukumnya bagi orang yang khawatir akan mendzalimi dan membawa
mudarat kepada istrinya karena ketidakmampuan dalam memberi nafkah lahir dan batin.
d Makruh hukumnya bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan perkawinan dan juga kemampuan untuk menahan diri sehingga tidak
memungkinkan dirinya berbuat zina sekiranya tidak kawin. e Mubah hukumnya bagi orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan
perkawinan, apabila melakukan tidak khawatir akan menterlantarkan istri dan apabila tidak melakukannya tidak khawatir akan berbuat zina.
22
D. Tujuan dan Hikmah Perkawinan
1. Tujuan Perkawinan
Menurut para ulama diantaranya Muhammad Abu Zahrah, nikah merupakan sunnah rasul karena ia mempunyai makna yang bermuatan sosial kemasyarakatan
individu dan agama.
23
Tujuan perkawinan menurut agama Islam adalah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis, sejahtera dan bahagia.
Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga. Sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir dan batin disebabkan terpenuhinya kebutuhan
hidup Melihat dua tujuan di atas, dan mamperhatikan uraian Imam Al-Ghazali
dalam Ihyanya tentang faedah melangsungkan perkawinan, maka tujuan perkawinan itu dapat dikembangkan menjadi lima yaitu:
1. Mendapatkan dan melangsungkan keturunan.
22
Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, Beirut : Dar Al-Fikr, 983, cet Ke-4, h. 110-112.
23
Muhammad Abu Zahrah, Al-ahwalusy-Syakhsyiyyah, Darul Fikri: Arabi Qahirah, 1957, h.19.