Efficacy of orally administered kappa-carrageenan to enhance nonspecific immune responses and resistance of african catfish Clarias sp. against Aeromonas hydrophilla

PEMBERIAN KAPPA-KARAGENAN SECARA ORAL
PADA IKAN LELE DUMBO Clarias sp. UNTUK MENINGKATKAN
RESPONS IMUN NON-SPESIFIK DAN RESISTENSI
TERHADAP Aeromonas hydrophila

JAKOMINA METUNGUN

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ii

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul Pemberian KappaKaragenan secara Oral pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp. untuk Meningkatkan
Respons Imun Non-Spesifik dan Resistensi terhadap Aeromonas hydrophila
adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan
dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang
berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir tesis ini.

Bogor, Juni 2012

Jakomina Metungun
C151090111

iii

ABSTRACT
JAKOMINA METUNGUN. Efficacy of orally administered kappa-carrageenan
to enhance nonspecific immune responses and resistance of african catfish Clarias
sp. against Aeromonas hydrophilla. Under direction of SUKENDA and SRI
NURYATI.
A study to evaluate the role of k-carageenan in varying dose to prevent A.
hydrophilla infection was conducted. Experiment comprised by two stages. The
first stage which to obtain the best dose, had performed by suplementation the kcarageenan at rate 5 g/kg, 10 g/kg, 20 g/kg of fish feed, and control. After four
weeks rearing all fish except in negative group was chalenged by A. hydrophilla
with consentration 108 cfu/fish that performed by means intramusculary injection.
The best dose then determined according to survival and hematology assay of fish.
The second stages studied about efficacy of duration administration at daily, seven
days, 14 days, and 21 days of the best outcoming dose, where the efficacy
determined through the growth rate and survival rate of fish during14 days postinfection. The results showed that fish in group 10g kg-1 had better performance
compared to other chalenged group. The value of suvival rate, total haemoglobin,
hematocrite, eritrocyte count, leucocyte count, and phagocytic activity were
95,83%; 10,40±1,25 g%; 33,47±1,47%; 2,19±0,06 (106 cell/mm3); 14,47 ± 0,96
(105 sel/mm3); and 16,35 ±1,10% respectively. Moreover, even not support
survival rate of fish at best (only 71%, lower than 80% at 21 days treatment),
application at 14 days had considered as the best duration administration due to
it’s support to the growth rate of fish at best (28g) when compared to others.
Then, it was conclude that administration at rate 10 g/kg in combination with 14
days application, had better effect to elevate the immune system of catfish.
keyword : immune response, k-carageenan, A.hydrophilla, Clarias sp

iv

RINGKASAN

JAKOMINA METUNGUN. Pemberian Kappa-Karagenan secara Oral pada Ikan
Lele Dumbo Clarias sp. untuk Meningkatkan Respons Imun Non-Spesifik dan
Resistensi terhadap Aeromonas hydrophila. Dibimbing oleh SUKENDA dan SRI
NURYATI.
Ikan lele dumbo (Clarias sp.) merupakan ikan air tawar yang banyak
dibudidaya secara intensif hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini
disebabkan ikan lele dumbo merupakan salah satu komoditas unggulan, sangat
popular serta mempunyai prospek pasar yang baik. Salah satu cara untuk
memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun internasional adalah budidaya intensif
dengan padat tebar tinggi dan pemberian pakan yang intensif serta penggunaan air
secara berulang, berpotensi menimbulkan stress pada ikan yang akan
mempengaruhi kondisi kesehatan ikan. Salah satu kendala penyebab kegagalan
budidaya ikan lele adalah penyakit. Penyakit yang umumnya menyerang ikan lele
adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian
ikan lele yang tinggi dalam jangka waktu yang pendek. Pengendalian penyakit ini
sering dilakukan dengan menggunakan antibiotik ataupun bahan-bahan kimia
lainnya namun memberikan efek yang negatif bagi ikan, lingkungan, dan juga
bagi konsumen ikan. Imunostimulan merupakan senyawa kimia, obat atau bahan
lain yang mampu meningkatkan mekanisme respon spesifik dan non spesifik ikan.
Penggunaan imunostimulan dari makro alga telah banyak dilakukan yaitu dari
jenis Kappaphycus alvarezii yang diketahui mengandung k-karagenan yang dapat
meningkatkan sistem imun ikan. Tujuan penelitian ini adalah 1). Menguji
pengaruh pemberian κ-karagenan dengan dosis berbeda dalam pakan terhadap
infeksi bakteri A. hydrophila 2). Menguji pengaruh dosis terbaik dalam pakan
terhadap perubahan parameter makroskopis dan mikroskopis. 3). Menguji durasi
pemberian κ-karagenan yang efektif untuk ketahanan ikan lele terhadap infeksi
bakteri A. hydrophila.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2011 di
Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Intitut Pertanian Bogor. Tahap penelitian meliputi
tiga tahap penelitian yaitu 1). pengaruh pemberian κ-karagenan dengan dosis
berbeda dalam pakan terhadap infeksi bakteri A.hydrophila. Tahap ini terdiri dari
lima perlakuan dan tiga kali ulangan yaitu kontrol positif pakan tanpa kkaragenan, diuji tantang dengan bakteri A.hydrophila, kontrol negatif pakan tanpa
k-karagenan, diinjeksi PBS, 5g/kg-1 pakan, 10g/kg-1 pakan dan pemberian kkaragenan 20g/kg-1 pakan. Tahap 2). Pengaruh dosis terbaik dalam pakan terhadap
perubahan parameter makroskopis dan mikroskopis. Tahap ini terdiri dari tiga
perlakuan dan tiga kali ulangan yaitu kontrol negatif, kontrol positif, dan
perlakuan dosis terbaik (PDT). Tahap ke-3). Menguji durasi pemberian κkaragenan yang efektif untuk ketahanan ikan lele terhadap infeksi bakteri A.
hydrophila. Tahap ini terdiri dari enam perlakuan dan tiga kali ulangan yaitu
Kontrol negatif (K-), Kontrol positif (K+), PB1:1 kali pemberian pada minggu I

v

(selama 7 hari), PB2: 2 kali pemberian pada minggu I dan II (selama 14 hari) dan
PB3: 3 kali pemberian pada minggu I, III dan V.
Hasil penelitian menunjukkan hemoglobin, hematokrit dan eritrosit total
tertinggi diperoleh pada perlakuan 10gkg-1pakan yaitu berturut-turut
10,40±1,25(g%), 33,47±1,47 (%), 2,19±0,06(106 sel/mm3). Leukosit total,
differensial leukosit dan aktivitas fagositik tertinggi selama penelitian juga
diperoleh pada perlakuan 10 g kg-1pakan yaitu leukosit total sebesar 14,47 ± 0,96
(105 sel/mm3), limfosit sebesar 68,42±1,00%, monosit sebesar 10, 88 %, netrofil
11,58% dan trombosit 15,27%, aktivitas fagositik sebesar 16,35 ±1,10%. Dari
hasil uji statistik, perlakuan 10g kg-1pakan mempunyai tingkat kelangsungan
hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya yaitu sebesar
95,83% berturut-turut perlakuan A sebesar 91,67%, perlakuan C sebesar 83,33%,
kontrol positif sebesar 53,33%. Sedangkan kontrol negatif sebesar 100% karena
tidak disuntik bakteri A.hydrophila namun disuntik dengan PBS. Hasil uji lanjut
duncan menunjukkan bahwa perlakuan A, B dan C berbeda nyata (P3) D–Galaktosa–4 sulfat dan (1 - > 4) 3,6 anhydro–D–
Galaktosa. Iota karagenan mengandung 4–sulfat ester pada setiap residu D–
galaktosa dan 2 sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhydro D–Galaktosa,
sedangkan lamda karagenan memiliki sebuah residu disulfhated (1 – 4) D–
Galaktosa (Akbar et al. 2001). Kadar k-karagenan dalam setiap species
Kappaphycus alvarezii berkisar antara 54%-73% di Tanzania, sedangkan di
Indonesia berkisar antara 61,5 % - 67,5 % (Atmadja et al. 1996 dan Silva et al.
1996).

7

Dinding sel dari alga laut kaya akan polisakarida sulfat (SPs) seperti
karagenan

dalam

alga

merah,

yang

memiliki

senyawa

bioaktif

yang

menguntungkan sebagai anti koagulan, antiviral, anti oksidatif, anti kanker, dan
aktivitas modulasi sistem imun (Wijesekara 2011). Kegunaan struktur molekul
polisakarida dalam aktivitas immunomodulatory telah diketahui dari beberapa
penelitian polisakarida dari beberapa spesies rumput laut dapat menstimulasi
aktivitas respiratory burst dari fagosit turbot, proses yang berperan penting dalam
membunuh mikroba (Castro et al. 2006). Metabolit primer yang umumnya
merupakan senyawa poliskarida dan bersifat ”Hidrokoloid” seperti karagenan,
agar, alginate dan turcelaran digunakan sebagai senyawa ”additive” dalam industri
farmasi. Metabolit primer asam-asam amino sebagai sumber gizi, serta metabolit
sekunder yang merupakan senyawa ”bioactive substances” dikembangkan dan
dimanfaatkan sebagai obat (Angadiredja et al. 1996).
Fungsi utama karagenan antara lain sebagai pengatur keseimbangan, bahan
pengental pembentuk gel dan pengemulsi. (Akbar et al. 2001). Beberapa
penelitian tentang penggunaan karagenan, antara lain menggunakan ekstrak panas
dari G. amansii dan G. tenuistipitatai dan karagenan menunjukan pengaruh positif
pada ketahanan ikan dan udang terhadap infeksi patogen (Fujiki et al. 1992 ; Hou
dan Chen 2005 ; Fujiki et al. 1997a ; Fujiki et al. 1997b), dan terjadi peningkatan
Total Hemocyte Count (THC), aktivitas Phenoloxsidase pada L. vanamei melalui
injeksi, perendaman dan pengaturan pada pakan dengan ekstraksi dari G. amansii
dan peningkatan ketahanan terhadap injeksi bakteri Vibrio alginolyticus (Fu et al.
2007).

2.3 Respon Imun Ikan
Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan keutuhannya
terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan hidup.
Sistem imun adalah gabungan sel, molekul dan jaringan yang berperan dalam
resistensi terhadap infeksi sedangkan imunitas adalah resistensi terhadap penyakit
terutama penyakit infeksi. Sistem pertahanan imun terdiri atas sistem imun
alamiah atau non spesifik (natural/innate/native) dan didapat atau spesifik

8

(adaptive/acquired) (Baratawidjaja 2006). Aktivitas respon imunitas tersebut
dapat distimulasi oleh imunostimulator (Anderson 1992).
Respon imunitas dibentuk oleh jaringan limfoid (organ yang merespon
antigen) yang menyatu dengan jaringan myeloid (organ penghasil darah) dan
dikenal dengan nama jaringan limfomyeloid. Jaringan tersebut dibentuk dari
jaringan granolopoietik yang kaya dengan enzim lisozim yang diduga mempunyai
peranan penting dalam reaksi kekebalan tubuh. Organ limfomyeloid pada ikan
teleostei adalah limpa, timus dan ginjal anterior (Fange 1982). Produknya berupa
sel-sel darah dan respon pertahanan seluler dan humoral (Anderson 1992). Ada
beberapa substansi sel dan organ yang berperan dalam sistem pertahanan tubuh
suatu organisme. Elemen-elemen tersebut sering disebut dengan sistem kekebalan
(immune system). Organ yang termasuk dalam sistem kekebalan adalah sistem
“Reticulo Endothelial” , limfosit, plasmosit, dan fraksi serum protein tertentu.
Sistem reticulo endothelial pada ikan terdiri atas : bagian anterior ginjal, thymus,
limfa (spleen), dan hati (pada awal perkembangan). Suatu jaringan yang
menyerupai jaringan limfoid pada usus ikan diduga mempunyai peranan dalam
mekanisme kekebalan tubuh.
Sel yang berperan dalam sistem tanggap kebal terdiri dari dua jenis sel limfosit
yaitu limfosit –B dan limfosit-T. Aktivitas yang pasti dari sel –T pada ikan belum
banyak diketahui tapi yang jelas peran utamanya adalah dalam sistem kekebalan
seluler dan biasanya disebut dengan keimunan perantara sel (cell mediated
immunity). Sel –B berperan dalam produksi imunoglobulin melalui rangsangan
pada limfa dan mungkin hati pada ikan. Ikan tidak memiliki nodulus limfatikus
(Supriyadi 1995).
Mekanisme pertahanan tubuh dari hewan yang paling sederhana ialah
fagositosis (Supriyadi 1995). Meskipun berbagai sel dalam tubuh dapat
melakukan fagositosis, tetapi sel utama yang berperan dalam pertahanan
nonspesifik

adalah

sel

mononuklear

(monosit

dan

makrofag)

serta

polimorfonuklear atau granulosit. Sel-sel ini berperan sebagai sel yang
menangkap antigen, mengolah dan selanjutnya mempresentasikannya kepada sel
T, yang dikenal sebagai sel penyaji (APC). Fagositosis yang efektif pada invasi
kuman dini akan dapat mencegah timbulnya infeksi (Baratawidjaja 2006).

9

Selanjutnya dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan
sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat sebagai
berikut: kemotaksis, menangkap, memakan, fagositosis, memusnahkan dan
mencerna (Baratwidjaja 2006).
Supriyadi (1995), mengungkapkan bahwa antibodi atau zat anti adalah
suatu senyawa protein (gama-globulin, immunoglobulin) yang terbentuk karena
adanya antigen (benda asing) yang masuk kedalam tubuh. Sifat dari antibodi yang
dihasilkan biasanya sangat spesifik artinya hanya dapat bereaksi terhadap suatu
organisme yang memiliki susunan molekul yang sama dengan perangsangnya
(antigen asal). Antibodi memiliki tiga fungsi, yaitu 1) menetralisasikan toksin agar
tidak lagi bersifat toksik, 2) mengikatkan diri kepada sel-sel musuh, yaitu antigen
dan 3) membusukan struktur biologi antigen tersebut lalu menghancurkannya.
Antibodi akan terbentuk jika sel limfosit (sel B) telah berfungsi dengan baik
(Yahya 2000).
Mekanisme pertahanan tubuh yang sinergis antara pertahanan humoral dan
seluler dimungkinkan oleh adanya interleukin, interferon dan sitokin dan
berfungsi sebagai komunikator dan amplikasi dalam mekanisme pertahanan
humoral dan selular ikan (Anderson 1992).

2.4 Bakteri Aeromonas hydrophila
Aeromonas hydrophila merupakan bakteri bersifat gram negatif, berbentuk
batang, motil. Irianto (2005), mengungkapkan bahwa Aeromonas hydrophila
merupakan agensia penyebab hemoragik septikemia (Bakterial Hemorrhagic
Septicemia, BHS) atau MAS (Motile Aeromonas hydrophila) pada beragam
spesies ikan air tawar. Menurut Kabata (1985), Aeromonas hydrophila berukuran
panjang berkisar antara 1.0 – 1,5 µ. Bakteri ini bersifat motil (bergerak aktif)
dengan satu flagela polar yang terletak pada bagian ujung, dan dapat berkembang
biak dengan baik pada medium Tryp Soy Agar (TSA) pada suhu kamar (20-300C).
Irianto (2005) mengungkapkan bahwa Aeromonas hydrophila merupakan
patogen oportunistik. Dikenal sebagai patogen fakultatif yang masuk ke jaringan
ikan yang stres berat dan secara fisik lemah oleh penyebab penyakit lain (Plumb et
al. 1976). Faktor stres lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan kualitas air

10

yang buruk, mempertinggi perkembangan penyakit. Faktor-faktor tersebut
diantaranya suhu air tinggi, kadar amonia dan nitrat tinggi, gangguan pH, dan
oksigen terlarut rendah. Kepadatan parasit dan ikan yang tinggi, beban bahan
organik di air yang tinggi, aktivitas pemijahan, penanganan dan transportasi yang
kasar juga dapat memicu timbulnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Aeromonas hydrophila (Camus et al. 1998). Ikan yang terserang bakteri ini
biasanya memperlihatkan gejala-gejala berupa: warna tubuh ikan menjadi gelap,
kemampuan berenang menurun, mata ikan rusak dan agak menonjol, sisik
terkuak, seluruh siripnya rusak, insang berwarna merah keputihan, ikan terlihat
megap-megap di permukaan air, insangnya rusak sehingga sulit bernapas, kulit
ikan menjadi kasat dan timbul pendarahan selanjutnya diikuti dengan luka-luka
borok-borok, perut ikan kembung (dropsi), dan apabila dilakukan pembedahan
maka akan terlihat pendarahan pada hati, ginjal, dan limpa (Kordi dan Ghufran
2004).
Galur A. hydrophila menghasilkan berbagai toksin ekstraselular dan enzim
ekstraselular yang disebut ECP (Extracellular Product) yang mungkin adalah
faktor virulen dan virulen determinan ( Angka et al. 1995). Salah satu struktur
permukaan

sel

yang

utama

pada

bakteri

gram

negatif

adalah

LPS

(lipopolisakarida) yang dikenal sebagai endotoksin. Toksin jenis ini penyebab
demam dan radang pada hewan inang. LPS dari patogen ikan Aeromonas
hydrophila mempunyai rantai polisakarida O dari panjang rantai homogenus, beda
dengan panjang rantai heterogenus dari polisakarida galur Aeromonas lain
(Dooley et al. 1985).
2.5 Imunostimulan
Imunostimulan merupakan senyawa kimia, obat atau bahan lainnya yang
mampu meningkatkan mekanisme respon spesifik dan non spesifik ikan
(Anderson 1992). Imunostimulan merupakan bahan yang bisa menigkatkan
resistensi organisme terhadap infeksi patogen (Treves-Brown 2000). Menurut
Dugger and Joy (1999), mengungkapkan bahwa pemberian imunostimulan secara
luas dengan maksud untuk mengaktifkan sistem imun non spesifik seperti
makrofag pada vertebrata dan hemocyte pada avertebrata.

11

Penggunaan imunostimulan dilakukan pada budidaya ikan karena
kemoterapi yang diberikan pada ikan menyebabkan resistensi pada bakteri
tertentu. Imunostimulan meningkatkan daya tahan terhadap penyakit infeksi,
bukan karena meningkatnya respon imun spesifik tapi oleh meningkatnya
mekanisme pertahanan imun non-spesifik. Imunostimulan penting untuk
mengontrol penyakit ikan dan berguna pada budidaya ikan (Sakai 1999).
Sedangkan menurut Tizard (1988), Beberapa materi atau substansi yang terlibat
dalam proses spesifik adalah imunisasi akrif dan pasif, baik oleh virus, bakteri
maupun cendawan, sedangkan yang non-spesifik berupa stimulasi limfosit dan
makrofag.
Raa et al. (1992), mengatakan bahwa masuknya imunostimulan akan
merangsang makrofag untuk memproduksi interleukin yang akan menggiatkan sel
limfosit yang kemudian membelah menjadi limfosit T dan B. Limfosit T
memproduksi interferon yang akan meningkatkan kemampuan makrofag sehingga
dapat memfagositosis sel bakteri, virus dan partikel asing lainnya yang masuk ke
tubuh ikan. Imunostimulan akan merangsang makrofag untuk memproduksi lebih
banyak lisozim dan komplemen. Interleukin menggiatkan limfosit B menjadi lebih
banyak memproduksi antibodi. Ikan yang diberikan imunostimulan biasanya
menunjukkan peningkatan aktifitas sel fagositik. Aktifitas sel fagositik dapat
dideteksi dengan fagositosis, killing dan chemotaxis (Kajita et al. 1990).
Imunostimulan yang diketahui dengan baik adalah komponen dari dinding
sel bakteri, seperti lipopolysaccharide (LPS) (Goets et al. 2004). Komponen
sintetis, polisakarida, ekstrak hewan dan tumbuhan atau vitamin dapat
meningkatkan respon imun non-spesifik (Siwicki 1987; siwicki 1989; Hardie et
al. 1991; Thampson et al. 1995). Beberapa adjuvan dan imunostimulan seperti bglukan, kitin dan polisakarida asal bakteri biasanya digunakan untuk mencegah
terjadinya penyakit dan untuk meningkatkan imunitas ikan (Anderson 1996; Sakai
1999). Imunostimulan dapat diaplikasikan melalui penyuntikan, perendaman atau
secara oral (Jeney dan Anderson 1993; Sakai 1999; Yin et al. 2006). Komponen
karbohidrat dan asam nukleat yang terdapat pada dinding bakteri gram-negatif
dipercaya sebagai imunostimulan, bila dicampur ke dalam pakan akan
memberikan respon kekebalan (Sakai 1998).

12

Hasil penelitian Alifuddin (1999), menunjukkan bahwa pemberian
imunostimulan yaitu lipopolisakarida, levamisol dan S. cerevisiae dengan dosis 60
ppm secara perendaman selama 10 menit dapat meningkatkan: Respon non
spesifik (respon seluler) yakni leukosit (total dan jenis-jenis leukosit), aktivitas
fagositik respon seluler, respon spesifik (humoral) yakni antibodi terhadap infeksi
bakteri Aeromonas hydrophila. Selanjutnya Imunostimulan tidak berpengaruh
terhadap status kesehatan ikan dan tidak mengakibatkan penyimpangan kondisi
fisiologi ikan; dalam hal ini dilihat dari kadar hematokrit, hemoglobin, jumlah
eritrosit

dan

kadar

glukosa

plasma

darah.

pemaparan

imunostimulan

meningkatkan tingkat kelulushidupan ikan dan efektif terhadap bakteri Gram
negatif dan bakteri Gram positif.
Hasil Penelitian Junita (2002) menunjukkan bahwa Spirulina plantesis
dapat meningkatkan respon kekebalan ikan patin (Pangasius djambal) yang
terlihat dari meningkatnya respon kekebalan non-spesifik yang meliputi total
leukosit, jenis leukosit, dan aktifitas fagositik. Pemberian Spirulina plantesis 4%
secara diskontinyu memberikan hasil terbaik dalam mengingkatkan respon
kekebalan dengan lama waktu pemberian satu bulan. Selanjutnya pemberian
Spirulina plantesis 4% secara diskontinya menghasilkan tingkat persentase
kelangsungan hidup ikan patin 76.7 % setelah diuji tantang dengan Aeromonas
hydrophila.
Hasil Penelitian Jasmanindar (2009) menunjukkan Ekstrak Gracilaria
verrucosa memiliki kemampuan untuk menstimulasi sistem ketahanan pada udang
vaname Litopenaeus vannamei. Pemberian 50 µg/g bobot udang ekstrak G
verrucosa menghasilkan kelangsungan hidup udang vanamei hingga 73,3%. Dosis
ekstrak 50 µg/g bobot udang menunjukkan aktifitas phenoloxidase (0,42 ± 0,07
unit) dan clearance effciency (74,0 ± 3,3 %) dari hemosit udang mengalami
peningkatan hingga hari keempat pengamatan, sedangkan aktifitas fagositosis
(44,3 ±3,5%) mengalami peningkatan hingga hari kedua pengamatan. Pemberian
ekstrak G.verrucosa yang berulang dengan interval waktu tertentu yaitu 2 kali
pemberian selama 30 hari pemeliharaan sudah mampu memberikan kelangsungan
hidup hingga 86,7%.

13

Hasil penelitian Suryati (2009) menunjukkan bahwa pemberian kkaragenan sebagai imunostimulan dapat meningkatkan respon imun non-spesifik
pada ikan lele dumbo, yang terukur dari kadar hematokrit, kadar hemoglobin,
jumlah sel darah merah, jumlah sel darah putih, diferensial leukosit dan indeks
fagositik. Pemberian kappa karaginan dapat mencegah perkembangan infeksi
bakteri Aeromonas hydrophila, berdasarkan gejala klinis maupun histopatologi
pada organ kulit, ginjal dan hati, dengan tingkat kerusakan yang lebih ringan.
Pemberian kappa karaginan secara berulang dengan frekuensi empat kali, dapat
meningkatkan kelangsungan hidup ikan lele dumbo tertinggi yaitu 93,33±5,77%
pasca infeksi bakteri Aeromonas hydrophila.
Dengan pemberian imunostimulan maka status kesehatan ikan dapat lebih
terjaga, sehingga dapat meningkatkan produksi melalui peningkatan ketahanan
tubuh terhadap penyakit infeksi (Robertson et al. 1990; Anderson 1992).
Imunostimulan tidak memperlihatkan efek samping yang negatif sebagaimana
yang terjadi pada penggunaan vaksin dan antibiotik terhadap lingkungan dan
konsumen (Anderson 1996; Sakai 1999).

14

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2011 di
Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Sedangkan proses pengekstraksian K. alvarezii
dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan Institut Pertanian Bogor.
3.2 Persiapan Penelitian
Ikan uji yang akan digunakan adalah ikan lele dumbo dengan berat 15–30
gram yang berasal dari petani ikan lele di Ciampea Bogor. Sebelum digunakan
dalam percobaan, ikan lele dipelihara dalam bak pemeliharaan yang dilengkapi
dengan aerator. Selama pemeliharaan ikan diberi pakan komersial dua kali sehari
dengan FR (feeding rate) 3%. Air yang akan digunakan dalam percobaan, disaring
dan diendapkan, s

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Efficacy of orally administered kappa-carrageenan to enhance nonspecific immune responses and resistance of african catfish Clarias sp. against Aeromonas hydrophilla