Analisis Penerapan Total Quality ManagementTerhadap Produktivitas Produksi Pada PT. Rahayu Santosa, Bogor

ANALISIS PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT
TERHADAP PRODUKTIVITAS PRODUKSI PADA
PT. RAHAYU SANTOSA

Oleh
BAGUS INDRA GUNANTA
H24104123

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

 
 

 

ANALISIS PENERAPAN TOTAL QUALITY MANAGEMENT
TERHADAP PRODUKTIVITAS PRODUKSI PADA
PT. RAHAYU SANTOSA

SKRIPSI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA EKONOMI
pada Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor

Oleh
BAGUS INDRA GUNANTA
H24104123

PROGRAM SARJANA ALIH JENIS MANAJEMEN
DEPARTEMEN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012
 

 
 

 

Judul usulan penelitian : Analisis Penerapan Total Quality Management
Terhadap Produktivitas Produksi Pada PT. Rahayu
Santosa
Nama
: Bagus Indra Gunanta
NIM
: H24104123

Disetujui,
Dosen Pembimbing

Prof.Dr.Ir.H.Musa Hubeis, MS, Dipl.Ing, DEA

NIP. 195506261980031002
 

Mengetahui,
Ketua Departemen

Dr. Ir. Jono M Munandar, M.Sc
NIP. 19610123 1986011002

Tanggal Lulus :

 

 
 

 

RINGKASAN

BAGUS INDRA G. H24104123. Analisis Penerapan Total Quality
ManagementTerhadap Produktivitas Produksi Pada PT. Rahayu Santosa, Bogor.
Dibawah bimbingan H. MUSA HUBEIS
Bahan baku, pekerja, metode dan mesin adalah faktor-faktor yang sangat
penting didalam industri manufaktur dan sangat menentukan kelancaran dari
proses produksi, karena bila salah satu faktor mengalami masalah, atau kendala,
maka ketiga faktor lainnya dapat memengaruhi mutu yang dihasilkan oleh
perusahaan. Mutu yang dimaksud bukan hanya tentang output produk yang
dihasilkan, melainkan juga kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yang
diberikan perusahaan, seperti pengiriman barang yang tepat waktu, sehingga dapat
memengaruhi iklim bisnis kepada perusahaan di masa mendatang. Untuk itu
dibutuhkan sistem manajemen bersaing yang mengutamakan mutu sebagai
strategi usaha dan selalu berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan selalu
melibatkan seluruh karyawan sebagai pendukung untuk mencapai tujuan
organisasi. Dalam hal ini, PT. Rahayu santosa merupakan merupakan perusahaan
manufaktur yang hasil produksinya berupa big bus, medium bus, small bus dan
mini bus.PT. Rahayu Santosa yang terletak di Jalan Raya Jakarta-Bogor KM. 48
Kabupaten Cibinong Jawa Barat 16916.
Tujuan penelitian adalah : (1) Mengidentifikasi penerapan Total Quality
Management (TQM) pada PT. Rahayu Santosa; (2) Menganalisis pengaruh
penerapan TQM terhadap produktivitas produksi PT. Rahayu Santosa; (3)
Menganalisis faktor-faktor yang paling dominan yang mempengaruhi
keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas kerja karyawan dalam melakukan
proses produksi di PT. Rahayu Santosa
Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan
sekunder yang bersifat kualitatif dan kuantitatif. Data primer yang digunakan
diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak perusahaan, khususnya wawancara
dengan bagian produksi dan pengamatan langsung. Data sekunder diperoleh dari
data dokumen perusahaan yang telah ada.
Metode dalam penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan
data kualitatif dilakukan secara deskriptif, meliputi gambaran dan kondisi
perusahaan menggunakan diagram fishbone. Pengolahan data kuantitatif meliputi
seberapa besar nilai kontribusi faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan TQM
terhadap produktivitas dan seberapa besar faktor-faktor yang mempengaruhi
produktivitas. Faktor TQM dapat dilihat dari faktor Sumber Daya Manusia
(SDM), Standar, Sarana dan Audit. Sedangkan faktor-faktor yang memengaruhi
produktivitas meliputi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), Kemauan kerja,
Kemampuan kerja dan Lingkungan kerja. Alat analisis yang digunakan, adalah
Partial Least Squares (PLS) dan software yang digunakan untuk mengolah data
dengan SmartPLS. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa standar memiliki
kontribusi 0,536 dalam meningkatkan TQM dan kemauan kerja memiliki
kontribusi 0,833 dalam memengaruhi produktivitas produksi.

 

 
 

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 3 Juni 1989, sebagai anak
pertama dari Ir. Made Gunanta dan Ir. Yuanita Hafil. Penulis merupakan lulusan
pendidikan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pengadilan 2 Bogor pada tahun 2001,
kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2
Bogor dan kemudian melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas Negeri
(SMAN) 2 Bogor pada tahun 2004. Pada tahun 2007, penulis diterima di Institut
Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor
(USMI) untuk Program Diploma.
Penulis memperoleh gelar Ahli Madya pada tahun 2010 dari Program
Diploma dengan predikat sangat memuaskan. Pada tahun yang sama yaitu tahun
2010, penulis melanjutkan pendidikan ke Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian
Bogor melalui jalur tes. Selama menuntut Ilmu di Program Sarjana Alih Jenis
Manajemen, penulis cukup aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan seperti
EXOM (Executive of Management) departemen Pengembangan Sumber Daya
Manusia (PSDM).

iii 
 

 
 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan hidayah-Nya sehingga dapat menyusun dan menyelesaikan Skripsi dengan
judul

”Analisis

Penerapan

Total

Quality

Management

Terhadap

Produktivitas Produksi Pada PT. Rahayu Santosa, Bogor ”. Skripsi ini
merupakan hasil pengamatan penulis selama melakukan kegiatan lapang di PT.
Rahayu Santosa dengan waktu kurang lebih 3 (tiga) bulan.
Penulis berharap bahwa penulisan laporan ini dapat memberikan kontribusi
positif dan menimbulkan sikap kritis kepada para pembaca khususnya dan
masyarakat pada umumnya untuk senantiasa memperoleh wawasan dan
pengetahuan. Penulis menyadari bahwa dalam pelaksanaan dan penulisan laporan
ini masih terdapat banyak kekurangan, maka mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca sekalian, agar skripsi ini lebih baik dan bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Atas perhatiannya, di ucapkan
terima kasih.

Bogor, November 2012

Penulis

iv 
 

 
 

UCAPAN TERIMA KASIH

Skripsi ini tidak akan selesai tanpa adanya dukungan dari berbagai pihak,
maka penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.

Bapak

Prof.Dr.Ir.H.Musa

Hubeis,MS,Dipl.Ing,

DEA

selaku

dosen

pembimbing yang telah memotivasi, membimbing dan mengarahkan
penulis dalam menyusun skripsi ini.
2.

Bapak Dr. Ir. Muhammad Syamsun, M.Sc dan Bapak Nur Hadi Wijaya, STP, MM
selaku dosen penguji yang telah memberikan masukan dan saran dalam
penyusunan skripsi ini.

3.

Mama Nita dan Papa Made, kedua orang tua yang selalu memberikan ridho,
doa, motivasi hidup, moril dan materil kepada penulis.

4.

Nitya Indriani, adik yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.

5.

Seluruh staf pengajar pada Program SarjanaAlih Jenis Manajemen Institut
Pertanian Bogor, Bogor

6.

Bapak Catur dan Bapak Uut yang telah mengizinkan dan membantu penulis
untuk melakukan penelitian di PT. Rahayu Santosa

7.

Seluruh Rekan-rekan Angkatan 8 Program Sarjana Alih Jenis Manajemen
khususnya teman-teman satu perjuangan dari PPMJ : Riesty, Linggar,
Randy, Shanty dan Wahyu atas dukungan dan memberikan semangat
selama ini.

8.

Seluruh teman-teman Kateda IPB : Trian, Seto, Dede, Jiwo, Irma dan Sara
untuk dukungannya setiap latihan.

9.

Someone special yang tidak pernah bosan memberikan semangat kepada
penulis dalam menyelesaikan tugas akhir ini.

10.

Seluruh karyawan PT. Rahayu Santosa yang telah membantu penulis dalam
memberikan informasi, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tugas
akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana.


 

 
 

DAFTAR ISI

Halaman
RINGKASAN
RIWAYAT HIDUP .............................................................................................. iii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv
UCAPAN TERIMA KASIH ................................................................................ v
DAFTAR TABEL .............................................................................................. viii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ ix
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... x
I PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1
1.2
1.3
1.4

Latar Belakang .......................................................................................... 1
Perumusan Masalah .................................................................................. 3
Tujuan ....................................................................................................... 3
Ruang lingkup ........................................................................................... 3

II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 4
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7
2.8

Manajemen ................................................................................................ 4
Manajemen Produksi dan Operasi ............................................................ 5
Pengertian TQM........................................................................................ 7
Manfaat Penerapan TQM ........................................................................ 11
Produktivitas ........................................................................................... 14
Sistem Manajemen Kualitas ISO 9001:2008 .......................................... 15
Fishbone Diagram .................................................................................. 30
Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan ............................................... 31

III METODE PENELITIAN ............................................................................. 33
3.1
3.2
3.3
3.4

Kerangka Pemikiran Penelitian............................................................... 33
Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................. 35
Pengumpulan Data .................................................................................. 35
Pengolahan dan Analisis Data ................................................................ 36

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................................... 37
4.1 Gambaran Umum Perusahaan................................................................. 37
4.1.1 Sejarah Perusahaan ........................................................................ 37
4.1.2 Visi, Misi dan Kebijakan Mutu Perusahaan .................................. 38
4.1.3 Struktur Organisasi ........................................................................ 38
4.2 Proses Produksi Perusahaan .................................................................... 41
4.3 Implementasi TQM ................................................................................. 44
4.4 Penerapan ISO 9001 pada perusahaan .................................................... 45
4.4.1 Pengendalian Produk yang Tidak Sesuai Proses .......................... 46
vi 
 

 
 

4.4.2 Perlakuan Ketidaksesuaian Produk ............................................... 46
4.5 Fishbone Diagram .................................................................................. 48
4.6 Karakteristik Responden ......................................................................... 51
4.6.1. Jenis Kelamin ................................................................................ 51
4.6.2. Usia ............................................................................................... 51
4.6.3. Pendidikan..................................................................................... 51
4.6.4. Lama bekerja ................................................................................. 52
4.7 Analisis Partial Least Squares ................................................................. 53
4.7.1 Model TQM terhadap produktifitas Sukses .................................. 53
4.7.2 Analisis Model Outer ..................................................................... 55
4.7.3 Analisis Model Inner...................................................................... 58
4.8 Implikasi Manajerial ............................................................................... 60
KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................................... 63
1.
2.

Kesimpulan ............................................................................................. 63
Saran ....................................................................................................... 63

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 65
LAMPIRAN ......................................................................................................... 67

vii 
 

 
 

DAFTAR TABEL

No

Halaman

1. Data sekunder produksi PT. Rahayu Santosa pada tahun 2010-2011................. 2
2. Tiga proses umum manajemen mutu .................................................................. 9
3. Hasil penelitian kriteria dan standar nilai.......................................................... 57
4. Analisis validitas diskriminan – cross loading ................................................. 58
5. Nilai analisis model inner ................................................................................. 59
6. Nilai Hasil bootstrap koefisien path ................................................................. 60

 

viii 
 

 
 

DAFTAR GAMBAR

No

Halaman

1. Manfaat penerapan TQM bagi perusahaan ....................................................... 13
2. Diagram fishbone .............................................................................................. 31
3. Kerangka pemikiran penelitian ......................................................................... 34
4. Diagram Fishbone ............................................................................................. 48
5. Usia responden penelitian ................................................................................. 51
6. Tingkat pendidikan responden .......................................................................... 52
7. Tingkat pengalaman kerja responden................................................................ 52
8. Hasil analisis model awal .................................................................................. 53
9. Hasil analisis model penyesuaian akhir ............................................................ 55

ix 
 

 
 

DAFTAR LAMPIRAN

No

Halaman

Lampiran 1. Kuesioner penelitian dengan bagian Manufacturing ........................ 68
Lampiran 2. Data kuesioner penelitian ................................................................. 73
Lampiran 3. Sebagian Output Smart PLS ............................................................. 77
Lampiran 4. Model Bootstrap ............................................................................... 79
Lampiran 5. Peta proses operasi perakitan Bis ..................................................... 80

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 


 


 

 

I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Bahan baku, pekerja, metode dan mesin adalah faktor-faktor yang
sangat penting didalam industri manufaktur dan sangat menentukan
kelancaran dari proses produksi. Jika salah satu faktor tersebut mengalami
masalah, atau kendala, maka ketiga faktor lainnya dapat mempengaruhi
mutu yang dihasilkan oleh perusahaan. Mutu yang dimaksud bukan hanya
tentang output produk yang dihasilkan melainkan juga kepuasan pelanggan
terhadap pelayanan yang diberikan perusahaan seperti pengiriman barang
yang tepat waktu, sehingga dapat mempengaruhi iklim bisnis kepada
perusahaan di masa mendatang. Untuk itu dibutuhkan sistem manajemen
bersaing yang mengutamakan mutu sebagai strategi usaha dan selalu
berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan selalu melibatkan seluruh
karyawan sebagai pendukung untuk mencapai tujuan organisasi.
Perusahaan manufaktur besar bukan hanya mengutamakan kuantitas,
melainkan mutu yang memiliki produktivitas optimal dalam proses
produksinya. Dalam hal ini, PT. Rahayu Santosa memiliki kemampuan
bersaing dengan menerapkan Total Quality Management (TQM). TQM
merupakan suatu pendekatan yang dapat dilakukan perusahaan untuk
memperbaiki mutu produk, meningkatkan produktivitas dan menekan biaya
produksi. TQM mencoba meningkatkan daya saing perusahaan melalui
perbaikan secara terus menerus terhadap produk, tenaga kerja, proses dan
lingkungannya (Nasution, 2004).
Salah satu perusahaan manufaktur adalah PT. Rahayu Santosa.
PT. Rahayu santosa merupakan merupakan perusahaan manufaktur yang
hasil produksinya berupa big bus, medium bus, small bus dan mini bus
untuk lokal yang bermutu dalam proses produksinya menggunakan
peralatan modern, sistem kerja yang baik dan para pekerja bermutu, serta
terampil. PT. Rahayu Santosa yang terletak di Jalan Raya Jakarta-Bogor
KM. 48 Kabupaten Cibinong Jawa Barat 16916. Perkembangan produksi PT

 


 

Rahayu Santosa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun
2010 hingga 2011 sebesar 355 unit (Tabel 1).
Tabel 1. Data sekunder produksi PT. Rahayu Santosa (2010-2011)
Keterangan

Jumlah (unit)

(Jenis Produk)

2010

2011

Big Bus

426

409

Medium Bus

211

324

Small Bus

62

91

Minibus

62

292

Total

761

1116

Sumber : PT. Rahayu Santosa Divisi Manufacturing, tahun 2010-2011

Dengan melihat peningkatan produktivitas pada Tabel 1, salah satu
cara yang digunakan PT. Rahayu Santosa untuk meningkatkan produktivitas
tersebut adalah dengan menerapkan TQM, dengan didukung sertifikasi ISO
9001:2008.
perencanaan

Manajemen
dan

PT.

Rahayu

pengembangan

Santosa

kendaraan,

menjalankan
pembuatan

proses

prototype

kendaraan, penerimaan order, pengadaan, manufacturing, perakitan produk
standar hingga penyerahan kendaraan kepada pelanggan dengan sistem
manajemen yang memiliki SOP (Standard Operating Procedures) ISO
9001:2008
Namun penerapan ISO 9001:2008 belum sepenuhnya berjalan dengan
efektif, hal ini dapat dilihat dari beberapa hal yang masih tidak berjalan
sesuai dengan SOP (Standard Operating Procedures) ISO 9001:2008
seperti penggunaan APD pada setiap karyawan untuk mencegah kecelakaan
kerja. Penerapan TQM dapat memberikan pengaruh positif bagi
produktivitas didalam perusahaan, Salah satunya adalah produktivitas
tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan faktor yang paling menentukan
tingkat produktivitas karena dua hal. Pertama, tenaga kerja merupakan
bagian dari biaya yang terbesar dalam pengadaan barang atau jasa. Kedua,
masukan pada sumber daya manusia (SDM) lebih mudah dihitung
 


 

dibandingkan dengan masukan faktor lain seperti modal (Kussriyanto dalam
Kintarti, 2005).
Penelitian dengan menganalisis pengaruh TQM terhadap produktivitas
kerja pada PT. Rahayu Santosa diharapakan dapat memberikan jawaban
mengenai penerapan TQM dan pengaruhnya terhadap produktivitas kerja di
perusahaan, sehingga PT. Rahayu Santosa tetap bersaing di era yang
kompetitif ini. maka dilakukan penelitian berjudul “Analisis Penerapan
Total Quality Management terhadap Produktivitas PT. Rahayu
Santosa”.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan

latar

belakang

yang

telah

dikemukakan,

maka

permasalahan yang diteliti adalah :
1.

Bagaimana penerapan TQM pada PT. Rahayu Santosa ?

2.

Bagaimana pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas produksi
PT. Rahayu Santosa ?

3.

Faktor-faktor

apakah

yang

paling

dominan

dalam

memengaruhi

keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas kerja di PT. Rahayu
Santosa ?

1.3. Tujuan
Tujuan penelitian adalah :
1.

Mengidentifikasi penerapan TQM pada PT. Rahayu Santosa.

2.

Menganalisis pengaruh penerapan TQM terhadap produktivitas
produksi PT. Rahayu Santosa

3.

Menganalisis faktor-faktor paling dominan yang mempengaruhi
keberhasilan penerapan TQM dan produktivitas kerja karyawan dalam
melakukan proses produksi di PT. Rahayu Santosa.

1.4. Ruang lingkup
Penelitian ini difokuskan kepada aspek TQM dari peningkatan
produktivitas yang baik dalam menjalankan proses produksi pada PT.
Rahayu Santosa
 

 
 

 

 

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manajemen
Menurut Herujito (2001) Istilah manajemen berasal dari kata kerja to
manage berarti control. Dalam bahasa Indonesia dapat diartikan :
mengendalikan, menangani atau mengelola. Manajemen dapat dipandang
sebagai ilmu dan seni. Manajemen sebagai ilmu, artinya manajemen
memenuhi kriteria ilmu dan metode keilmuan yang menekankan kepada
konsep-konsep, teori, prinsip dan teknik pengelolaan. Manajemen sebagai
seni artinya kemampuan pengelolaan sesuatu itu merupakan seni
menciptakan (kreatif). Secara umum pengertian manajemen adalah
pengelolaan pekerjaan itu terdiri dari bermacam ragam, misalnya berupa
pengelolaan industri, pemerintahan, pendidikan, pelayanan sosial, olahraga,
kesehatan, keilmuan, dan lain-lain.
Oleh karena itu, manajemen ada dalam setiap aspek kehidupan manusia
dimana terbentuk suatu kerja sama (organisasi). Menurut Terry dalam
Herujito (2001), ada enam (6) sumber daya pokok dari manajemen, yaitu
Men and woman, Materials, Machines, Methods, Money dan Markets. Dari
semua pandangan teori para ahli mengenai unsur sumber daya manajemen
menunjukan, manusia merupakan unsur manajemen yang pokok. Manusia
tidak dapat disamakan dengan benda, karena mempunyai peranan, pikiran,
harapan dan gagasan. Reaksi psikisnya terhadap keadaan sekeliling dapat
menimbulkan pengaruh yang lebih jauh dan mendalam, serta sukar untuk
diperhitungkan secara seksama. Terdapat fungsi-fungsi dari manajemen,
fungsi dalam hal ini adalah sejumlah kegiatan yang meliputi berbagai jenis
pekerjaan yang dapat digolongkan dalam satu kelompok, sehingga
membentuk suatu kesatuan administratif.
Menurut Allen dalam Herujito (2001), manajemen adalah suatu jenis
pekerjaan khusus yang menghendaki usaha mental dan fisik yang diperlukan
untuk memimpin, merencana, menyusun, mengawasi dan meneliti.

 


 

Menurut Allen pekerjaan manajer itu mencakup empat (4) fungsi, yaitu:
1. Memimpin (leading)
2. Merencana (planning)
3. Menyusun (organizing)
4. Mengawasi dan meneliti (controlling), yaitu menentukan dengan langkah
– langkah yang lebih baik.
Setiap manajer, atau pimpinan harus menjalankan keempat (4) fungsi
tersebut di dalam organisasi, sehingga hasilnya merupakan suatu
keseluruhan yang sistematik
2.2. Manajemen Produksi dan Operasi
 

  Menurut Assauri (2008) Manajemen produksi dan Operasi merupakan
kegiatan untuk mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan sumbersumber daya yang berupa sumber daya manusia (SDM), sumber daya alat
dan sumber daya dana serta bahan, secara efektif dan efisien, untuk
menciptakan dan menambah kegunaan (utility) sesuatu barang dan jasa.
Menurut Handoko (2000), Manajemen produksi dan operasi merupakan
usaha-usaha pengelolaan secara optimal penggunaan sumber daya-sumber
daya (faktor-faktor produksi) tenaga kerja, mesin-mesin, peralatan, bahan
mentah dan sebagainya dalam proses transformasi bahan mentah dan tenaga
kerja menjadi berbagai produk atau jasa.
Manajemen

produksi

operasi

dapat

juga

didefinisikan

sebagai

pelaksanaan kegiatan-kegiatan manajerial yang dibawakan dalam pemilihan,
perancangan, pembaharuan, pengoperasian dan pengawasan sistem-sistem
produktif. Kegiatan-kegiatan ini secara ringkas dapat diuraikan sebagai
berikut :
1. Pemilihan :

Keputusan strategik yang menyangkut pemilihan proses
melalui mana berbagai barang, atau jasa akan diproduksi,
atau sediakan.

2. Perancangan :

Keputusan-keputusan taktikal yang menyangkut kreasi
metode-metode pelaksanaan suatu operasi produktif.

 


 

3. Pengoperasian : Keputusan-keputusan

perencanaan

tingkat

keluaran

jangka panajng atau dasar forecast permintaan dan
keputusan-keputusan

penjadwalan

pekerjaan

dan

pengalokasian karyawan jangka pendek.
4.Pengawasan :

Prosedur-prosedur

yang

menyangkut

pengambilan

tindakan korektif dalam operasi-operasi produksi barang
dan jasa.
5. Pembaharuan : Implementasi
dalam

sistem

perbaikan-perbaikan
produktif

yang

berdasarkan

diperlukan
perubahan-

perubahan permintaan, tujuan-tujuan organisasional,
teknologi dan manajemen.
Lima (5) kegiatan-kegiatan manajerial tersebut dapat dibedakan lebih
lanjut atas dasar fekuensi relatif terjadinya dan kegiatan-kegiatan pemilihan,
perancangan dan pembaharuan pada umumnya terjadi dengan frekuensi
lebih jarang daripada kegiatan-kegiatan pengoperasian kegiatan-kegiatan
periodik, atau kelompok pertama dan terus menerus (continual) untuk
kelompok lainnya.
Menurut Assauri (2008) pembahasan dalam pengoperasian sistem
produksi dan operasi akan mencakup :
1. Penyusunan rencana produksi dan operasi
Kegiatan pengoperasian sistem produksi dan operasi harus dimulai
dengan penyusunan rencana produksi dan operasi. Dalam rencana
produksi dan operasi harus tercakup penetapan target produksi.
2. Perencanaan dan pengendalian persediaan dan pengadaan bahan
Kelancaran kegiatan produksi dan operasi sangat ditentukan oleh
kelancaran tersedianya bahan atau masukan yang dibutuhkan bagi
produksi dan operasi tersebut.

 


 

3. Pemeliharaan atau perawatan mesin dan peralatan
Mesin atau peralatan digunakan dalam proses produksi dan operasi yang
harus selalu terjamin tetap tersedia untuk dapat digunakan, sehingga
dibutuhkan adanya kegiatan pemeliharaan, atau perawatan.
4. Pengendalian Mutu
Terjaminnya hasil, atau keluaran dari proses produksi dan operasi
menentukan keberhasilan dari pengoperasian sistem produksi dan
operasi. Dalam rangka ini perlu dipelajari kegiatan pengendalian mutu.
5. Manajemen SDM
Pelaksanaan pengoperasian sistem produksi dan operasi ditentukan oleh
kemampuan dan keterampilan para tenaga kerja, atau SDM
2.3. Pengertian TQM
Menurut Nasution (2004), Total Quality Management (TQM) merupakan
suatu pendekatan dalam menjalankan usaha yang mencoba untuk
memaksimumkan daya saing organisasi melalui perbaikan terus menerus
atas produk, jasa, tenaga kerja, proses dan lingkungan. TQM merupakan
suatu falsafah manajemen komprehensif dan sekaligus alat (tool kit) untuk
implementasinya. Gasperz

(2003) menyatakan bahwa TQM merupakan

pendekatan Manajemen sistematik yang berorientasi pada organisasi,
pelanggan dan pasar melalui kombinasi menciptakan peningkatan secara
nyata dalam mutu, produktifitas manajemen merupakan antara pencarian
fakta praktis dan penyelesaian masalah, guna menciptakan peningkatan
secara nyata dalam mutu, produktifitas dan kinerja lain dari organisasi.
Esensi TQM merupakan integrasi dari semua fungsi dan proses dalam
organisasi untuk mendapatkan perbaikan mutu produk dan jasa secara
berkelanjutan (continuous improvement). Dalam hal ini terdapat empat (4)
prinsip utama dalam TQM, yaitu:
1. Kepuasan Pelanggan
Dalam TQM konsep mengenai mutu dan pelanggan diperluas. Mutu
tidak hanya bermakna kesesuaian dengan spesifikasi-spesifikasi tertentu,
tetapi ditentukan oleh pelanggan. Kebutuhan pelanggan diusahakan
untuk
 

dipuaskan

dalam

segala

aspek,

termasuk

di

dalamnya


 

harga,keamanan, dan ketepatan waktu. Oleh karena itu, segala aktivitas
perusahaan harus dikoordinasikan untuk memuaskan para pelanggan.
2. Respek terhadap setiap orang
Dalam perusahaan yang mutunya tergolong kelas dunia, setiap
karyawan dipandang sebagai individu yang memiliki talenta dan
kreativitas khas. Dengan demikian, karyawan merupakan sumber daya
organisasi yang paling bernilai.
3. Manajemen berdasarkan fakta
Perusahaan harus berdasarkan data dalam menunjukkan fakta, bukan
berdasarkan perasaan (feeling). Ada dua (2) konsep pokok yang berkaitan
dengan hal ini. Pertama, prioritas yakni suatu konsep bahwa perbaikan
tidak dapat dilakukan pada semua aspek pada saat yang bersamaan
mengingat keterbatasan sumber daya yang ada. Oleh karena itu dengan
menggunakan data, maka manajemen dan tim dalam organisasi dapat
memfokuskan usahanya pada situasi tertentu yang vital. Kedua, variasi
kinerja manusia.
4. Perbaikan berkesinambungan
Agar dapat sukses, setiap perusahaan perlu melakukan proses
sistematis dalam melaksanakan perbaikan secara berkesinambungan.
Siklus PDCAA (plan-do-check-act-analyse) yang terdiri atas langkahlangkah perencanaan dan melakukan tindakan korektif terhadap hasil
yang diperoleh.
Juran dalam Muhandri dan Kadarisman (2008) mengemukakan
bahwa TQM dapat diimplementasikan apabila mengikuti tiga (3) proses
manajerial, yaitu (1) perencanaan mutu, (2) pengendalian mutu dan (3)
peningkatan/perbaikan mutu. Proses yang dikembangkan Juran ini
dikenal dengan istilah “Trilogi Juran”. Kegiatan dari masing-masing
proses tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.

 


 

Tabel 2. Tiga proses umum manajemen mutu
Perencanaan Mutu

- Menetapkan tujuan mutu

Pengendalian Mutu

Peningkatan Mutu

- Mengevaluasi kinerja
aktual

- Menguji kebutuhan
- Menetapkan infrastruktur

- Mengidentifikasi pelanggan
- Menentukan kebutuhan
pelanggan
- Membangun keistimewaan
produkyang direspon

- Membandingkan
kinerja aktual
- Bertindak menangani
perbedaan

- Mengembangkan proses yang
mampu menghasilkan
keistimewaan produk
- Menetapkan pengendalian
proses; menerjemahkan
rencana ke kegiatan
operasional

- Mengidentifikasi proyek
peningkatan mutu
- Menetapkan tim proyek
- Menyediakan tim dengan
sumber daya, pelatihan
dan motivasi untuk
mendiagnosis penyebab
dan upaya untuk
mengatasinya
- Menetapkan
pengendalian agar tetap
pada jalurnya

Sumber : Muhandri dan Kadarisman (2008)
Menurut Ibrahim dalam Arthatiani (2008), konsep dasar TQM
memuat prinsip-prinsip dasar yang pada akhirnya akan menentukan berhasil
atau gagalnya penerapan TQM, oleh karena itu prinsip-prinsip dasar dari
TQM sangat berperan dalam pelaksanaannya. Prinsip-prinsip tersebut
adalah :
1. Komitmen Manajemen
Manajemen sebagai penanggungjawab dalam bidang kepemimpinan
yang bertugas sebagai penunjuk dan pemberi semangat bagi perusahaan,
karena keberadaannya sangat didukung dalam penerapan TQM, agar
terlaksana dengan baik.
2. Perbaikan Mutu dan Sistem Secara Berkesinambungan
Mutu sebagai hal yang penting dalam produksi harus terus dilakukan
perbaikan secara terus menerus. Hal ini tidak hanya dilakukan pada akhir

 

10 
 

proses saja, tetapi juga harus dilakukan dari awal proses sehingga produk
yang dihasilkan tidak memiliki cacat.
3. Perspektif Jangka Panjang
Waktu yang singkat tidak hanya dapat menunjukkan keberhasilan
ataupun kegagalan dari penerapan TQM, tetapi butuh waktu yang
panjang.
4. Fokus Pada Pelanggan
Perbaikan yang dilakukan secara terus menerus diharapkan akan dapat
menghasilkan produk yang sesuai dengan harapan konsumen.
5. Keterlibatan dan Pemberdayaan Karyawan
Keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan akan menanamkan
rasa loyalitas karyawan terhadap perusahaan dan timbul rasa memiliki
dari karyawan tersebut terhadap perusahaan. Cara untuk meningkatkan
keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan tersebut adalah
memberikan pelatihan serta kompensasi tidak hanya dalam bentuk uang,
tetapi pujian dan penghargaan, agar apa yang dilakukan dihargai
perusahaan.
6. Kerjasama Tim
Kerjasama tim sangat dibutuhkan dalam TQM, sehingga produk X tidak
hanya dilakukan oleh Departemen X melainkan tanggungjawab semua
departemen.
Menurut Ibrahim dalam Arthatiani (2008), unsur-unsur dari TQM
yang mempengaruhi pelaksanaan TQM adalah :
1. SDM
Pihak-pihak yang berhubungan dengan dengan kegiatan perusahaan.
2. Standar
Spesifikasi produk yang dihasilkan dan acuan dalam menjalankan semua
kegiatan untuk menghasilkan produk sesuai yang diinginkan perusahaan.

 

11 
 

3. Sarana
Peralatan yang digunakan untuk menjalankan kegiatan pengendalian
mutu.
4. Audit Internal
Kegiatan pengendalian berkala untuk mengidentifikasi penyimpangan
terhadap standar.
2.4. Manfaat Penerapan TQM
Menurut Muhandri dan Kadarisman (2008). Perusahaan yang
menghasilkan mutu produk yang lebih baik dan mampu memberikan
jaminan kepada konsumen, akan mendapatkan citra positif dari konsumen.
Selanjutnya, posisi persaingan semakin baik, pemasaran semakin luas,
bahkan sampai ke posisi ekspor. Harga produk dapat lebih ditingkatkan,
sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih besar.
Menurut Hardjosoedarmo (2004), penerapan TQM akan memberikan
dampak yang positif bagi karyawan, yaitu :
1. Karyawan akan menjadi lebih loyal kepada organisasinya dan
menganggap bahwa keberhasilan organisasi identik dengan keberhasilan
pribadi.
2. Karyawan akan menunjukkan pekerjaan mutu, karena percaya akan mutu,
sehingga organisasi tidak lagi terlalu bertumpu pada struktur untuk
menciptakan tatalaku mutu.
3. Karyawan akan mengorganisasikan dirinya secara sukarela untuk
melakukan perbaikan proses tanpa campur tangan, tekanan, ataupun
dorongan manajemen.
4. Karyawan baru, terlepas dari latar belakang dan orientasinya, dengan
mudah akan menyesuaikan diri pada budaya mutu yang telah terbentuk
dalam organisasi, sehingga pergantian, absensi dan unjukrasa dapat
dikurangi, bahkan ditiadakan.
Menurut Tjiptono dan Diana (2003) ada empat (4) perbedaan pokok
antara TQM dengan metode manajemen lainnya, yaitu :

 

12 
 

Pertama, dasar teoritis dari TQM adalah statistika. Inti dari TQM
adalah pengendalian proses statistikal yang didasarkan pada penarikan
contoh (sampling) dan analisis varians (ragam)
Kedua, sumber inovasinya. Inovasi TQM sebagian besar dihasilkan
para pionir yang pada umumnya adalah insinyur teknik industri dan ahli
fisika yang bekerja di sektor industri dan pemerintah.
Ketiga, asal Negara kelahirannya. Sebaliknya TQM semula berasal
dari Amerika serikat, kemudian lebih banyak dikembangkan di Jepang dan
kemudian berkembang ke Amerika Utara dan Eropa. Jadi TQM
mengintegrasikan keterampilan teknikal dan anlisis dari Amerika, keahlian
imlementasi dan pengorganisasian Jepang, serta tradisi keahlian dan
integritas dari Eropa dan Asia.
Keempat, proses diseminasi atau penyebaran. Penyebaran sebagian
besar

manajemen

modern

bersifat

hirarkis

dan

top-down.

Yang

mempelopori biasanya adalah perusahaan-perusahaan raksasa seperti
General Electric, IBM dan General Motors. Sedangkan gerakan perbaikan
kualitas merupakan proses bottom up, yang dipelopori perusahaanperusahaan kecil. Dalam implementasi TQM, penggerak utamanya tidaklah
selalu Chief Executive Officer (CEO), tetapi seringkali malah manajer
departemen, atau manajer divisi.

 

13 
 

Perbaikan Mutu

Perbaikan Posisi

Peningkatan

Persaingan

Produk bebas cacat

Harga lebih Tinggi

Peningkatan Pangsa
Pasar

Peningkatan

Penurunan Biaya

Penghasilan

Produksi

Peningkatan Laba
Perusahaan

Gambar 1. Manfaat penerapan TQM bagi perusahaan
(Muhandri dan Kadarisman, 2008)
Penerapan TQM di perusahaan akan memberikan dampak positif bagi
perusahaan (Gambar 1) maupun karyawannya. Dengan menerapkan TQM, maka
manfaat yang diperoleh perusahaan dapat dilihat dari dua (2) sisi, yaitu dari
perbaikan dari posisi persaingan dan pengurangan cacat produk yang dihasilkan.
Jika produk cacat dapat diminimumkan, maka biaya mutu (produk gagal,
pekerjaan ulang, pemeriksaan dan pengembalian dari konsumen) akan
berkurang, dan lebih jauh lagi mengurangi total biaya produksi. Perusahaan yang
menghasilkan mutu produk yang lebih baik dan mampu memberikan jaminan
kepada konsumen, akan mendapatkan citra positif dari konsumen. Selanjutnya,
posisi persaingan semakin baik, pemasaran semakin luas, bahkan sampai ke
posisi ekspor. Harga produk dapat lebih ditingkatkan, sehingga keuntungan yang
diperoleh menjadi lebih besar (Muhandri dan Kadarisman, 2008).

 

14 
 

2.5. Produktivitas
Menurut Mangkuprawira dan Hubeis (2007), input terdiri dari
manajemen, tenaga kerja, biaya produksi, peralatan dan waktu. Output
meliputi produksi, produk, penjualan, pendapatan, pangsa pasar dan
kerusakan produk. Dalam perspektif normatif, pengertian produktivitas
adalah jika hari ini karyawan lebih baik daripada kemarin dan hari esok
lebih baik daripada sekarang.
Nasution (2004) mengemukakan bahwa individu yang produktif
memiliki karakteristik berikut :
1. Secara konsisten selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik dan
cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi.
2. Selalu memberi saran-saran untuk perbaikan secara sukarela.
3. Menggunakan waktu secara efektif dan efisien.
4. Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu.
5. Bersikap positif terhadap pekerjaannya.
6. Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik, sebagaimana
menjadi seorang pemimpin yang baik.
7. Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam.
8. Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik.
9. Bersedia mendengar ide-ide orang lain yang lebih baik.
10. Hubungan antarpribadi dengan semua tingkatan dalam organisasi
berlangsung dengan baik.
11. Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan biayabiaya.
12. Mempunyai tingkat kehadiran yang baik (tidak banyak absen dalam
pekerjaannya).
13. Sering melampui standar yang telah ditetapkan.
14. Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat.
15. Tidak selalu mengeluh dalam bekerja.
Menurut

Simanjuntak

(2001),

faktor-faktor

yang

produktivitas kerja digolongkan pada tiga kelompok, yaitu :

 

mempengaruhi

15 
 

1. Mutu dan kemampuan fisik pekerja yang dipengaruhi oleh tingkat
pendidikan, latihan, motivasi kerja, etos kerja, mental dan kemampuan
fisik pekerja bersangkutan.
2. Sarana pendukung kerja mencakup lingkungan kerja dan kesejahteraan
tenaga kerja. Lingkungan kerja termasuk teknologi dan cara produksi,
sarana dan peralatan produksi yang digunakan, tingkat keselamatan dan
kesehatan kerja, serta suasana dalam lingkungan itu sendiri, sedangkan
kesejahteraan tenaga kerja tercermin dalam sistem pengupahan dan
jaminan sosial serta jaminan kelangsungan kerja.
3. Supra sarana, meliputi kebutuhan pemerintah, hubungan industrial dan
kemampuan dalam mencapai sistem kerja optimal.
2.6. Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008
 

 

Menurut Tjiptono dan Diana (2003), salah satu kunci sukses agar dapat

bersaing di pasar global adalah kemampuan untuk memenuhi atau melampaui
standar-standar yang berlaku.Salah satu standar yang paling penting adalah
ISO 9000, yang dihasilkan Internasional Organization for Standarization di
Jenewa, Swiss. ISO 9000 adalah sekumpulan standar sistem mutu universal
yang memberikan kerangka yang sama bagi jaminan mutu yang dapat
digunakan di seluruh dunia. Tujuan utama dari ISO 9000 adalah :
1. Organisasi harus mencapai dan mempertahankan mutu produk, atau jasa
yang dihasilkan, sehingga secara berkesinambungan, agar memenuhi
kebutuhan para pembeli
2. Organisasi harus memberikan keyakinan terhadap pihak manajemennya
sendiri bahwa mutu yang dimaksudkan itu telah dicapai dan dapat
dipertahankan.
3. Organisasi harus memberikan keyakinan kepada pihak pembeli bahwa
kualitas yang dimaksudkan itu telah atau akan dicapai dalam produk, atau
jasa yang dijual
ISO 9001 adalah Standar yang paling komprehensif dan digunakan
untuk menjamin mutu pada tahap perancangan dan pengembangan,
 

16 
 

produksi, instalasi dan pelayanan jasa. Standar ini digunakan khususnya
oleh perusahaan manufaktur yang merancang produk dan membuatnya
sendiri. Pada perkembangan berikutnya, versi 2008 lahir sebagai bentuk
penyempurnaan atas revisi tahun 2000. Perbedaan antara versi 2000 dengan
2008 secara nyata lebih menekankan pada efektivitas proses yang
dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Jika pada versi 2000 mengatakan
harus dilakukan corrective dan preventive action, maka versi 2008
menetapkan bahwa proses corrective dan preventive action yang dilakukan
harus secara efektif berdampak positif pada perubahan proses yang terjadi
dalam organisasi (Setyawan, 2010).
Persyaratan dari SMM ISO 9001:2008
Syukur (2010) menjelaskan sembilan (9) klausul yang penting dalam ISO
9001:2008, yaitu (1) ruang lingkup, (2) referensi normatif, (3) istilah dan definisi,
(4) Sistem Manajemen Mutu (SMM), (5) tanggungjawab manajemen, (6)
manajemen sumber daya, (7) realisasi produk, (8) pengukuran analisa dan
peningkatan.
Klausul 1. RUANG LINGKUP
Klausul 1.1 Umum
Organisasi apapun mendemonstrasikan kemampuannya secara konsisten
untuk menghasilkan produk memenuhi persyaratan pelanggan, peraturan dan
perundangan (statutory dan regulatory). Meningkatkan kepuasan pelanggan
melalui aplikasi yang efektif dari SMM, perbaikan terus menerus melalui
perbaikan proses dan menjamin kesesuaian persyaratan pelanggan dan peraturan
perundangan.
Klausul 2. REFERENSI NORMATIF
Klausul ini hanya memuat landasan/dasar-dasar dari SMM ISO 9001:2008.
Klausul 3. ISTILAH DAN DEFINISI
Klausul ini memuat istilah dan definisi yang berlaku pada ISO 9001:2008.
Istilah “produk” yang muncul dalam teks standar internasional ini juga berarti
“jasa”, istilah dan definisi sesuai ISO 9001. Penjelasan tentang pelanggan,
 

17 
 

organisasi, supplier dihilangkan. ISO 9001 menganggap bahwa “produk” juga
termasuk perangkat keras, perangkat lunak, jasa dan material yang digunakan
pada proses.
Klausul 4. SISTEM MANAJEMEN MUTU
Klausul 4.1 Persyaratan Umum
Klausul ini menetapkan, mendokumentasikan, melaksanakan, memelihara
dan secara terus-menerus meningkatkan SMM ISO 9001:2008, perusahaan harus
menentukan proses, menetapkan urutan dan interaksi dari proses. Menetapkan
kriteria dan metode, sehingga proses bisa berjalan efektif, memantau, mengukur
bila memungkinkan dan menganalisa proses-proses tersebut dan melaksanakan
tindakan untuk mencapai hasil yang telah direncanakan, serta terus-menerus
meningkatkan efektifitas proses.
Klausul 4.2 Persyaratan Dokumentasi
Klausul 4.2.1 Umum
SMM ISO 9001:2008 membutuhkan dokumentasi. Dokumen mencakup
kebijakan mutu, manual mutu, proses terdokumentasi (prosedur di ISO 9001).
Sistem dokumentasi ditentukan berdasarkan ukuran dan tipe organisasi, kerumitan
dan interaksi dari rangkaian proses dan kompetensi personil.
Klausul 4.2.2 Pedoman Mutu
Isi pedoman mutu adalah ruang lingkup dari SMM ISO 9001:2008,
termasuk pengecualiannya. Apabila persyaratan dari standar ini tidak dapat
diterapkan karena sifat sebuah organisasi atau produknya, maka ini dapat
dipertimbangkan untuk dikecualikan. Apabila ada pengecualian, tuntutan
kesesuaian standar ini tidak diterima, kecuali jika pengecualian tersebut tidak
mempengaruhi kemampuan, atau tanggungjawab organisasi dalam menyediakan
produk yang memenuhi persyaratan pelanggan dan peraturan yang berlaku.
Klausul 4.2.3 Pengendalian Dokumen
Dokumen eksternal yang ditentukan teridentifikasi perubahan dan status
terkini dari dokumen teridentifikasi jelas harus ada approval dokumen sebelum

 

18 
 

digunakan, yaitu dokumen tersedia di tempat, dapat terbaca dan teridentifikasi
untuk mencegah penggunaan dokumen yang sudah tidak terpakai, jika ingin
disimpan harus ada identifikasi yang jelas, yang menyatakan dokumen sudah
tidak terpakai, melakukan review, update dan re-approve dokumen.
Klausul 4.2.4 Pengendalian Rekaman
Klausul ini menyatakan bahwa record harus disimpan sebagai bukti
kesesuaian, sesuai ketentuan record tidak boleh hilang, rusak dan bisa diperoleh
kembali sistem pemusnahan record harus diatur. Dokumen yang terkait dengan
pengendalian rekaman adalah dokumen softcopy yang tidak tersambung dalam
jaringan (server) misalnya data di laptop, atau data di software mesin. Lokasi
penyimpanan backup server berada di gedung yang sama (hilang/rusaknya semua
data ketika terjadi kebakaran).
Klausul 5. TANGGUNGJAWAB MANAJEMEN
Klausul 5.1 Komitmen Manajemen
Demonstrasi komitmen manajemen, yaitu mengkomunikasikan pentingnya
memenuhi permintaan costumer dan peraturan terkait, penetapan kebijakan dan
sasaran mutu, mengadakan tinjauan manajemen, penyediaan sumber daya yang
diperlukan seperti SDM, infrastruktur, serta alat bantu kerja.
Klausul 5.2 Fokus kepada Pelanggan
Persyaratan pelanggan telah ditetapkan dan dipenuhi dengan tujuan untuk
memenuhi persyaratan pelanggan. Persyaratan pelanggan yang tertulis adalah
tanggal pengiriman, harga, persyaratan teknis dan non teknis lain yang tercantum
dalam kontrak.
Klausul 5.3 Kebijakan Mutu
Kebijakan mutu sejalan dengan tujuan perusahaan yaitu adanya misi
perusahaan yang menjadikan perusahaan klien untuk lebih kompetitif dan
memiliki sistem efektif dalam menghadapi persaingan global. Mengandung
komitmen untuk memenuhi persyaratan dan terus menerus meningkatkan
keefektifan dari SMM. Dikomunikasikan dan dimengerti oleh seluruh organisasi.

 

19 
 

Direview untuk melihat kesesuaiannya sebagai suatu kerangka kerja untuk
menetapkan dan mereview sasaran mutu.
Klausul 5.4 Perencanaan
Klausul 5.4.1 Sasaran Mutu
Sasaran mutu harus terukur dan konsisten dengan kebijakan mutu, sasaran
mutu merupakan bagian dari business plan, atau target sasaran mutu perusahaan.
Ditetapkan

departemen

penanggungjawab

terhadap

sasaran

perusahaan,

menetapkan sasaran perusahaan kemudian dijabarkan ke sasaran divisi dan
sasaran departemen.
Klausul 5.4.2 Perencanaan SMM
Integritas sistem manajemen mutu dipelihara ketika perubahan SMM
direncanakan dan diimplementasikan. Perubahan struktur organisasi, peningkatan
volume bisnis yang cukup besar dan penggantian lokasi proses.
Klausul 5.5 Tanggungjawab, wewenang dan komunikasi
Klausul 5.5.1 Tanggungjawab dan Wewenang
Tanggungjawab manajemen adalah membuat dan mengembangkan sistem
kontrol, sehingga mutu produk terjamin, melakukan kontrol terhadap seluruh
aktifitas mutu. Wewenang manajemen adalah memutuskan produk yang baik
dapat dikirim atau tidak. Komunikasi manajemen didalam organisasi menjadi
jelas yang bertanggungjawab terhadap mutu dan memiliki wewenang untuk
menyatakan produk yang baik dapat dikirim, atau tidak.
Klausul 5.5.2 Wakil Manajemen
Klausul ini menyatakan bahwa Top Manajemen menunjuk salah seorang
anggota manajemen untuk menjadi Management Representative (MR) yang
mempunyai tanggungjawab dan wewenang berikut :
a. Menjamin bahwa proses yang diperlukan untuk SMM telah ditetapkan,
diimplementasikan dan dipelihara.
b. Melakukan performa SMM.
c. Melaporkan kebutuhan akan peningkatan/improvement.
 

20 
 

d. Menjamin promosi kepedulian terhadap persyaratan customer di seluruh
organisasi.
e. Menjalin hubungan dengan pihak luar yang terkait SMM.
Klausul 5.5.3 Komunikasi Internal
Klausul ini menyatakan bahwa Top Manajemen menetapkan mekanisme
internal antara fungsi-fungsi terkait dalam organisasi, sehingga SMM ISO
9001:2008 dapat berjalan dengan efektif.
Klausul 5.6 Tinjauan Manajemen
Klausul 5.6.1 Umum
Top Management haru meninjau SMM ISO 9001:2008 pada interval yang
direncanakan untuk memastikan kecocokan, kecukupan dan keefektifan.
Klausul 5.6.2 Input Tinjauan Manajemen
Klausul ini menyatakan bahwa input tinjauan manajemen memiliki agenda
seperti berikut :
a. Hasil audit (internal dan eksternal audit).
b. Feedback dari customer.
c. Performa proses.
d. Kesesuaian produk.
e. Status tindakan perbaikan dan pencegahan.
f. Follow up hasil keputusan tinjauan manajemen sebelumnya.
g. Perubahan yang berpengaruh terhadap SMM, termasuk kebijakan mutu dan
sasaran mutu.
h. Peluang dan rekomendasi perbaikan/improvement.
Klausul 5.6.3 Output Tinjauan Manajemen
Output tinjuan manajemen berupa keputusan dan tindakan peningkatan
keefektifan dari SMM ISO 9001:2008 dan prosesnya, kebutuhan sumber daya,

 

21 
 

peningkatan produk terkait dengan persyaratan customer, yaitu membuat produk
lebih tahan lama dan mempermudah proses transaksi.
Klausul 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA
Klausul 6.1 Penyedia SDM
Penyedia SDM menetapkan dan menyediakan sumber daya yang
dibutuhkan untuk menjalankan dan memelihara SMM ISO 9001:2008, terusmenerus meningkatkan keefektifan dari SMM ISO 9001:2008, meningkatkan
kepuasan pelanggan dengan memenuhi persyaratan pelanggan.
Klausul 6.2 Sumber Daya Manusia
Klausul 6.2.1 Umum
Karyawan yang pekerjaannya mempengaruhi kesesuaian persyaratan produk
harus kompeten. Kompetensi meliputi pendidikan, pelatihan, kemampuan dan
pengalaman. Ukuran kompetensi ditentukan oleh masing-masing perusahaan
tergantung dari jenis usaha.
Klausul 6.2.2 Kompetensi, Pelatihan dan Kesadaran
Kompetensi bukan jabatan distruktur organisasi, tetapi kompetensi
berdasarkan fungsi kerja. Langkah penyusunan matriks kompetensi adalah
identifikasi fungsi kerja dan kompetensi kerja,tentukan standar kompetensi dan
membuat matriks kompetensi. Karyawan yang memiliki kompetensi di bawah
standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan harus diberi pelatihan, maka
matriks kompetensi adalah :
a. Menetapkan kebutuhan kompetensi personil yang pekerjaannya memengaruhi
kesesuaian persyaratan produk.
b. Menyediakan pelatihan atau tindakan lainnya untuk memenuhi kebutuhan
kompetensi, melakukan evaluasi keefektifan dari tindakan yang telah diambil.
c. Menjamin setiap personel peduli akan pentingnya aktifitas dan kontribusi
terhadap pencapaian sasaran mutu.
d. Memelihara catatan pendidikan, pelatihan, keahlian dan pengalaman.

 

22 
 

Klausul 6.3 Infrastruktur
Manajemen organisasi HARUS menetapkan, menyediakan dan memelihara
infrastruktur yang dibutuhkan untuk mencapai kesesuaian terhadap persyaratan
produk adalah :
a. Bangunan, ruang kerja dan perlengkapan lain.
b. Peralatan Hardware maupun Software
c. Peralatan pendukung seperti transportasi, komunikasi, atau sistem informasi.
d. Penyediaan infrastruktur dapat dilakukan melalui penyewaan.
Klausul 6.4 Lingkungan Kerja
Manajemen organisasi harus menetapkan dan mengatur lingkungan kerja
yang diperlukan untuk mencapai kesesuaian terhadap persyaratan produk. Istilah
“lingkungan kerja” berkaitan kondisi-kondisi pekerjaan dilakukan termasuk faktor
fisik, lingkungan dan faktor lain seperti kebisingan, temperature, kelembaban,
pencahayaan, atau cuaca.
Klausul 7. REALISASI PRODUK
Klausul 7.1 Perencanaan Realisasi Produk
Merencanakan dan mengemban

Dokumen yang terkait

Analisis Penerapan Total Quality ManagementTerhadap Produktivitas Produksi Pada PT. Rahayu Santosa, Bogor