Analisis kebutuhan dasar anak di yayasan yatim piatu Bina Yatama Kelurahan Pondok Jaya Depok

ANALISIS KEBUTUHAN DASAR ANAK DI YAYASAN YATIM
PIATU BINA YATAMA KELURAHAN PONDOK JAYA DEPOK
Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh:
FAIZ FAUZAN
NIM. 106054102069

PROGRAM STUDI KESEJAHTERAAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H / 2011 M

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu
persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penelitian ini telah dicantumkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang
berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 10 Juni 2011

Faiz Fauzan
106054102069

Abstrak
Faiz Fauzan
Analisis Kebutuhan Keluarga Penerima Layanan dalam Memenuhi Kebutuhan
Dasar Anak di Yayasan Yatim Piatu Bina Yatama
Anak yatim adalah anak yang ayahnya telah tiada sebelum ia mencapai usia
baligh. Sedangkan anak yatim piatu adalah anak yang kedua orang tuanya telah tiada,
baik ayah maupun ibu, sebelum ia mencapai usia baligh. Salah satu lembaga swasta
yang peduli terhadap anak-anak yatim piatu adalah Yayasan Bina Yatama. Yayasan
ini bertujuan untuk membantu anak-anak yatim piatu dengan mengasihi, menyantuni
dan mengayomi mereka. Santunan yang diberikan oleh Yayasan Bina Yatama
diarahkan dalam mengentaskan pendidikan formal melalui santunan pendidikan dari
tingkat Sekolah Dasar (SD) dan sederajat sampai dengan Sekolah Menengah Atas
(SMA) dan sederajat. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa kebutuhan keluarga
penerima layanan dalam memenuhi kebutuhan dasar anak yang berada di Yayasan
Bina Yatama.
Anak merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain terutama
keluarga untuk bisa membantu mengembangkan kemampuannya maupun memenuhi
kebutuhan hidupnya. Dengan demikian, apabila pada saat ini anak-anak terpenuhi
kebutuhannya, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas
yang ditandai dengan cerdas, kreatif, mandiri, berakhlak mulia dan setia kawan.
Kebutuhan dasar anak yang perlu dipenuhi dibagi menjadi lima yaitu, kebutuhan
fisik, kebutuhan belajar, kebutuhan psikologis, kebutuhan religius dan kebutuhan
sosial. Selain itu, kebutuhan dasar ini juga harus disesuaikan dengan empat hak anak
yang perlu diberikan agar anak-anak dapat tumbuh kembang secara optimal yaitu,
hak kelangsungan hidup, hak perlindungan, hak pengembangan diri dan hak
partisipasi.
Penulis melakukan penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu metode
penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana
peneliti adalah sebagai instrumen kunci. Teknik pengumpulan data dilakukan secara
triangulasi (gabungan) melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data
bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada
generalisasi.
Dari hasil penelitian ini diperoleh data bahwa: Pertama, tidak semua
kebutuhan dasar anak dapat dipenuhi oleh keluarga penerima layanan. Kedua,
Yayasan Bina Yatama belum mampu membantu keluarga penerima layanan untuk
memenuhi kebutuhan dasar anak.

i

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT Tuhan
semesta alam, Tuhan yang telah menjadikan langit dan bumi ini penuh dengan
tanda-tanda kebesaranNnya, penguasa kehidupan dan penentu kematian atas
segala anugerah, nikmat, dan petunjuk yang dikaruniakanNya sehingga penulis
bisa memikirkan, merefleksikan dan menuangkan pikiran dalam bentuk tulisan
ini. Shalawat dan salam semoga selalu disampaikan untuk junjungan nabi besar
Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setianya.
Suatu kenikmatan yang luar biasa yang tidak bisa diungkapkan dengan
ungkapan kata adalah selesainya skripsi ini. Harus diakui, dengan serba
keterbatasan yang ada sangatlah berat menyelesaikan skripsi ini, akan tetapi
motivasi dalam diri penulis mendongkrak semangat dan memecah hambatanhambatan yang ada. Skripsi ini berjudul “Analisis Kebutuhan Keluarga Penerima
Layanan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak di Yayasan Yatim Piatu Bina
Yatama”.
Harapan penulis, skripsi ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap
wawasan mahasiswa secara umum, khususnya mahasiswa UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta. Penulis menyadari skripsi ini masih banyak kekurangan,
maka kritik yang membangun tentu menjadi masukan yang sangat penting.
Perlu penulis sampaikan, banyak sekali orang yang berjasa dan membantu
dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua
orang tua penulis, berkat doa dan wejangan-wejangan mereka sehingga penulis

ii

mampu menangkap sari-sari pengalaman dan memecah kebuntuan dalam
menghadapi permasalahan. Kepada adikku yang membantu dan mendorong
penulis menyelesaikan skripsi ini. Dukungan moril dan materil ini memberikan
sumbangsih besar dalam penyelesaian skripsi ini, semoga Allah SWT membalas
kebaikan dan cinta yang mereka berikan dengan balasan yang berlipat. Ucapan
terimakasih juga penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Komarudin Hidayat, M.A. selaku Rektor Universitas
Islam Negeri, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Arief Subhan, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan
Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas wejangannya.
3. Ibu Lisma Dwayati Fuaida, M.Si. selaku pembimbing yang dengan tulus
memberikan pengarahan, petunjuk dan motivasi kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Siti Napsiyah, MSW ketua Program Studi Kesejahteraan Sosial UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta atas arahannya.
5. Bapak Ahmad Zaky, M.Si selaku sekretaris Program Studi Kesejahteraan
Sosial UIN Syarif Hidayatullah Jakarta atas dukungan dan bantuannya.
6. Dosen-dosen Program Studi Kesejahteraan Sosial yang telah mendidik dan
memberikan dispensasi waktunya terhadap skripsi ini.
7. Pihak Yayasan Bina Yatama yang sudah mengizinkan penulis melakukan
penelitian skripsi ini (Bapak Abu, Bapak Acep, Bapak Awi dan Mas Dani)
dan keluarga penerima layanan (anak asuh) Yayasan Bina Yatama (Ibu
Wati, Ibu Fajriyah, Ibu Nurhasanah dan Ibu Yuliana).

iii

8. Kepada semua teman-teman kessos angkatan 2006 yang selalu mendorong
penulis untuk tetap semangat menyelesaikan skripsi ini.
9. Kepada adik-adik mahasiswa kessos 2007-2010 dan kakak-kakak
mahasiswa kessos 2003-2005 yang banyak memberikan saran.
10. Kepada Ni’matul Farida yang selalu mendorong dan memberikan
semangat tanpa henti.
11. Kepada teman-teman HMI Komisariat Fakultas Dakwah dan Komunikasi
yang sering berbagi pengalaman dengan penulis.
12. Kepada teman-teman Paduan Suara VOC yang tak pernah lelah untuk
berkarya.
Akhirnya, segala kebenaran hanya milik-Nya, semoga Allah SWT
membalas jasa kebaikan mereka dengan balasan yang setimpal. Dan mudahmudahan skripsi ini membawa berkah bagi yang membaca. Amin...

Jakarta, 08 Juni 2011

Faiz Fauzan
(106054102069)

iv

DAFTAR ISI

ABSTRAK .......................................................................................................

i

KATA PENGANTAR ......................................................................................

ii

DAFTAR ISI .....................................................................................................

v

DAFTAR TABEL ............................................................................................ viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................
BAB I

ix

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .....................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah .................................

9

1. Pembatasan Masalah .........................................................

9

2. Perumusan Masalah .......................................................... 10
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................ 10
1. Tujuan Penelitian ............................................................. 10
2. Manfaat Penelitian............................................................ 10
D. Metodologi Penelitian .......................................................... 11
1. Metode ............................................................................. 11
2. Jenis Penelitian ................................................................ 12
3. Teknik Pengumpulan Data............................................... 12
4. Teknik Analisa Data ........................................................ 13
5. Sumber Data .................................................................... 14
6. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................... 14
E. Tinjauan Pustaka .................................................................. 15

v

F. Sistematika Penulisan ........................................................... 16
BAB II.

LANDASAN TEORI
A. Kebutuhan Dasar Manusia .................................................. 18
B. Kebutuhan Dasar Anak ........................................................ 20
C. Pengertian Anak Yatim Piatu .............................................. 23
D. Pelayanan Sosial Anak ........................................................ 27

BAB III.

GAMBARAN UMUM LEMBAGA
A. Sejarah Singkat Lembaga ..................................................... 34
B. Profil Lembaga ..................................................................... 35
C. Visi dan Misi......................................................................... 39
1. Visi ................................................................................. 39
2. Misi................................................................................. 40
D. Tujuan ................................................................................... 40
E. Landasan Hukum .................................................................. 41
F. Landasan Konseptual ............................................................ 41
1. Konsep Ideologi Religius ............................................... 41
2. Konsep Akhlaq ............................................................... 42
3. Konsep Sosial ................................................................. 42
4. Konsep Ekonomi ............................................................ 43
G. Struktur Organisasi ............................................................... 43
H. Program Kerja ...................................................................... 45
1. Program Jangka Pendek ................................................. 45
2. Program Jangka Panjang ................................................ 46
I. Realisasi Program Kerja ....................................................... 52
vi

J. Sarana dan Prasarana ............................................................ 53
K. Sumber Dana ........................................................................ 54
L. Kerja Sama dengan Lembaga Lain ...................................... 54
BAB IV.

ANALISA DATA
A. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak ..................................... 56
1. Profil Keluarga Penerima Layanan (Anak Asuh) .......... 56
2. Usaha Keluarga dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak
........................................................................................ 61
3. Usaha Yayasan dalam Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak
........................................................................................ 84
B. Hasil Analisis Kebutuhan Dasar Anak di Yayasan Bina Yatama
.............................................................................................. 87

BAB V.

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 94
B. Saran .................................................................................... 95

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN- LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Model Pelayanan Sosial Anak ............................................................... 30
Tabel 2. Data Anak Asuh di Yayasan Bina Yatama ............................................. 36
Tabel 3. Profil Keluarga Ibu Wati ......................................................................... 56
Tabel 4. Profil Keluarga Ibu Fajriyah ................................................................... 57
Tabel 5. Profil Keluarga Ibu Nurhasanah ............................................................. 59
Tabel 6. Profil Keluarga Ibu Yuliana .................................................................... 60
Tabel 7. Kebutuhan Dasar Anak yang Terpenuhi dan Belum Terpenuhi oleh
Keluarga Penerima Layanan ................................................................................. 87

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.

Kebutuhan Dasar Manusia menurut Abraham Maslow ................... 22

ix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Anak merupakan penting untuk masa depan bangsa yang harus dilindungi
oleh berbagai pihak, baik dari lingkup terkecil seperti keluarga, masyarakat,
maupun negara. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan
melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan,
serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi1. Perlindungan ini
harus dilakukan karena anak sebagai asset penting suatu negara memerlukan
pembekalan yang cukup untuk mengarungi hidupnya saat dewasa kelak. Karena
awal kemajuan pembangunan dari suatu bangsa, pada dasarnya bersumber dari
seorang anak. Jika anak tersebut telah memiliki pembekalan yang cukup saat dia
masih kecil, baik pembekalan jasmani, rohani, dan sosial maka niscaya saat dia
besar nanti, dia akan menjadi tulang punggung suatu negara dalam kemajuan
pembangunan nasional maupun pembangunan sosial. Atas dasar inilah
pemerintah membuat UU Perlindungan Anak.
Perlindungan terhadap anak-anak sudah diatur dalam Undang-Undang,
yaitu UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (PA). Di dalam UndangUndang tersebut telah diatur tentang hak anak, pelaksanaan kewajiban dan

1

Majalah Perlindungan Anak: Anak Kami, Perlindungan Anak: Bukan Basa-Basi, Vol.1,
No.II, Maret 2007, Jakarta: Resource Centre SFFCCB CPSW-IPSPI, h.11

1

2

tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk
memberikan perlindungan pada anak. Perlindungan dimaksud, seperti termaktub
dalam pasal 1 ayat 2 UU PA, “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh,
berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat
kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”2.
Tetapi tidak semua anak di Indonesia mendapatkan perlindungan yang
layak, sehingga anak kurang memiliki pembekalan yang cukup selama dia
berproses menjadi dewasa. Ada saja permasalahan-permasalahan anak yang
membuat seorang anak menjadi tidak bisa tumbuh dengan jasmani dan rohani
yang sehat. Ada contoh kasus di Indonesia yang mencatat tentang permasalahan
anak. Contoh kasus di Jawa Barat. Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat mencatat,
ada sekitar 851.433 anak yang memiliki masalah sosial. Anak bermasalah sosial
di antaranya adalah anak yatim, piatu dan yatim piatu, anak terlantar, anak yang
tidak mampu melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, anak cacat,
anak jalanan, serta anak yang bermasalah dengan hukum. Usia anak yang paling
rentan terkena masalah sosial adalah 15-18 tahun. Anak pada usia tersebut banyak
yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Akibatnya,
mereka menjadi anak-anak yang sangat rentan dengan permasalahan sosial. Mulai

2

http://www.pdat.co.id/hg/reference_pdat/2005/01/03/UU%20RI%20nomor%2023%20
Tahun% 202002%20tentang%20Perlindungan%20Anak.doc

3

dari

menjadi

pekerja

anak,

eksploitasi,

hingga

perdagangan

manusia

(trafficking)3.
Atas dasar inilah maka sangat diperlukan sekali orang atau lembaga yang
menangani permasalahan anak. Karena dengan bantuan tenaga-tenaga ahli, anakanak yang memiliki masalah sosial akan mampu dieksplorasi agar menjadi anakanak yang berkualitas sehingga berdampak pada kemajuan suatu negara, baik
kemajuan di dalam pembangunan nasional maupun kemajuan di dalam
pembangunan sosial.
Hadirnya

profesi

pekerja

sosial

dimaksudkan

untuk

membantu

memecahkan permasalahan anak yang terjadi. Pekerja sosial merupakan sebuah
profesi yang mengedepankan perubahan sosial, berfokus pada pemecahan
masalah pada hubungan antar manusia, pemberdayaan dan kesetaraan manusia
untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik4. Negara Indonesia sebagai salah
satu negara berkembang di dunia, banyak memiliki permasalahan-permasalahan
anak. Seperti kekerasan terhadap anak (child abuse), penjualan anak (child
trafficking), anak yang hidup di jalanan atau biasa yang disebut dengan anak
jalanan (anjal), anak-anak penyandang cacat (child disability), anak-anak yang
tidak bisa tumbuh kembang dengan baik karena orang tuanya telah tiada (anakanak yatim piatu), dan permasalahan-permasalahan lainnya.

3

4

http://bataviase.co.id/node/310130

Majalah Perlindungan Anak: Anak Kami, Perkembangan Program Perlindungan Anak di
Aceh, Vol.1, No.5, Juni 2007, Jakarta: Resource Centre SFFCCB CPWS-IPSPI, h.27

4

Pemerintah melalui Menteri Sosial menyatakan bahwa, dalam kenyataan
kehidupan sosial tidak semua orangtua mempunyai kesanggupan dan kemampuan
penuh untuk memenuhi kebutuhan pokok anak dalam rangka mewujudkan
kesejahteraan anak. Kenyataan yang demikian mengakibatkan anak menjadi
terlantar baik secara rohani, jasmani maupun sosial5. Begitu juga jika anak sudah
tidak memiliki orang tua (anak yatim piatu), maka anak tersebut dapat dipastikan
tidak akan menjadi anak yang sejahtera, bahkan akan menjadi terlantar jika tidak
ada yang bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik
kebutuhan jasmani, rohani, maupun sosial.
Anak-anak yatim piatu sebagai salah satu permasalahan sosial anak,
membutuhkan orang-orang atau lembaga (panti atau yayasan) yang mapan
sebagai tempat untuk berlindung dan berkembang menjadi anak-anak yang di
kemudian hari akan memimpin negara. Hal ini sesuai dengan Elizabethan Poor
Law yang dikeluarkan pada tahun 1601 mencakup tiga kelompok penerima
bantuan6:
1. Orang-orang miskin yang kondisi fisiknya masih kuat (the able-bodied poor).
2. Orang-orang miskin yang kondisi fisiknya buruk (the impotent poor).
3. Anak-anak yang masih tergantung pada orang yang lebih mapan (Dependent
Children).

5

Ahmad Kamil, M.Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia,
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008, h.49-50
6
Isbandi Rukminto Adi, Pengantar Ilmu Kesejahteraan Sosial, Edisi Kedua, Depok: FISIP
UI Press, 2005, h.2

5

Dari ketiga kelompok bantuan tersebut, jelas sekali bahwa anak-anak
yatim piatu termasuk di dalam kelompok ketiga, yaitu kelompok anak-anak yang
masih bergantung pada orang yang lebih mapan (Dependent Children). Dalam hal
ini, orang-orang atau lembaga (panti atau yayasan) yang telah mapan memegang
peranan penting untuk membantu anak-anak yatim piatu dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya.
Selain Elizabeth Poor Law yang mencakup tiga kelompok penerima
bantuan, terdapat pula empat jenis perawatan alternatif yang disebutkan dalam
pasal 20 Konvensi Hak-Hak Anak (KHA) atau dikenal dengan The Convention on
the Rights of the Child (CRC) yang disahkan oleh Majelis Umum PBB dalam
Sidang Umum PBB pada tanggal 20 November 1989. Keempat jenis perawatan
alternatif ini dapat menjadi tempat untuk mengasuh dan merawat anak-anak yatim
piatu.
Empat jenis perawatan alternatif itu antara lain7:
1. Penempatan Pengasuhan.
2. Kafala (suatu bentuk perawatan alternatif yang dimaksudkan untuk menjamin
hak-hak setiap anak atas lingkungan keluarga).
3. Adopsi.
4. Penempatan di lembaga/panti.
Untuk itulah, maka diperlukan pihak-pihak

yang peduli

untuk

memberikan pelayanan sosial anak dan fokus terhadap kepentingan anak-anak,
khususnya anak-anak yatim piatu. Hal ini bersinggungan dengan Undang7

Majalah Perlindungan Anak: Anak Kami, Perlindungan Anak, h.17

6

Undang, yaitu UU No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (PA) pasal 1
ayat 10 UU PA yang isinya adalah, “Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh
seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan,
pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak
mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar”8.
Di Indonesia, pemberian pelayanan sosial bagi anak mayoritas dilakukan
oleh panti atau yayasan. Panti atau yayasan secara etimologi berarti suatu nama
dari sebuah organisasi. Sedangkan ditinjau dari realita yang berlaku di Indonesia,
panti yatim adalah sebuah organisasi yang mewadahi dan menangani anak-anak
yatim9. Ditinjau dari kacamata fikih, keberadaan panti dan yayasan berstatus
sebagai jihah „ammah ―sesuatu yang berstatus umum dan tidak tertentu terhadap
seseorang, seperti masjid, madrasah, Pondok Pesantren, dll― yang sama dengan
status masjid atau Pondok Pesantren. Karena itu, penentuan hukum, penanganan,
pengelolaan dan segala hal yang terkait juga sama, harus ada seseorang atau
sekelompok orang yang menangani panti tersebut, yang biasanya diistilahkan
dengan wali10.
Dengan melaksanakan pelayanan sosial berbasis panti, diharapkan anakanak yatim piatu yang menjadi anak asuh di panti tersebut dapat terpenuhi
kebutuhan dasarnya. Namun ada kalanya di dalam perjalanan memberikan
pelayanan sosial, pelayanan yang diberikan tidak sesuai dengan apa yang

8

http://www.pdat.co.id/hg/reference_pdat/2005/01/03/UU%20RI%20nomor%2023%20
Tahun% 202002%20tentang%20Perlindungan%20Anak.doc
9
LPSI, Anak Yatim & Kajian Fikih Realitas Sosial, Jatim: Pustaka Sidogiri, h.31
10
Ibid, h.32

7

dibutuhkan oleh anak asuh tersebut. Hal ini terjadi karena belum ada panduanpanduan yang memastikan bahwa panti asuhan bisa memberikan kualitas
pelayanan secara baik11.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Sosial, Save the
Chidren dan Unicef tentang “Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Anak di
Indonesia” pada tahun 2007, mayoritas panti asuhan di Indonesia memberikan
pelayanan sosial dengan lebih mengedepankan dukungan terhadap pendidikan
anak asuh tanpa terlalu memperhatikan pola pengasuhannya. Padahal anak asuh
juga membutuhkan kasih sayang, perhatian dan dukungan psikososial bagi
mereka dengan memperhatikan tumbuh kembang anak12.
Tetapi kenyataannya adalah, menurut Tata Sudrajat (seorang peneliti dari
Save the Children), banyak panti asuhan yang memperlakukan anak asuh secara
kolektif dalam pemberian pelayanan sosial, bukan secara individual dikarenakan
tidak ada pekerja sosial yang mempunyai peran secara individual kepada anak13.
Ini yang membuat anak asuh tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, karena
sebenarnya, kebutuhan dasar setiap anak berbeda-beda.
Dari penelitian tersebut juga didapatkan hasil bahwa, mayoritas panti
asuhan tidak melakukan asesmen terhadap kondisi keluarga anak asuh sebelum
anak tersebut dimasukkan ke dalam panti asuhan, sehingga tidak diketahui apakah
anak tersebut memang membutuhkan panti asuhan untuk memenuhi kebutuhan

Tim Peneliti Departemen Sosial RI, Save the Chidren, dan Unicef, DVD “Seseorang yang
Berguna: Kualitas Pengasuhan di Panti Sosial Asuhan Anak di Indonesia”
12
Ibid
13
Ibid
11

8

hidupnya atau tidak, dan juga tidak diketahui apakah keluarganya masih mampu
atau tidak untuk mengasuh anak tersebut14.
Menurut Makmur Sunusi, Ph.D (Direktur Jenderal Pelayanan dan
Rehabilitasi Sosial), sebaiknya panti asuhan adalah tempat terakhir untuk anakanak asuh yang benar-benar sudah tidak memiliki keluarga ataupun kerabat yang
bisa memberikan asuhan dan pelayanan untuk mereka. Jadi, apabila anak tersebut
sudah tidak memiliki keluarga ataupun kerabat sehingga membuat dia hidup
sebatang kara, maka pemerintah maupun institusi-institusi masyarakat wajib
memelihara mereka dan memberikan pelayanan-pelayanan sosial yang sesuai
lewat panti asuhan. Dan untuk mendukung hal tersebut, menurut Makmur Sanusi,
pemerintah akan mengembangkan program yang disebut sebagai program “family
support”. Di dalam program ini, semua masalah anak yang mengalami hambatanhambatan dalam hal pengasuhan, akses kepada pendidikan, maupun perlindungan,
tidak harus melalui panti asuhan, melainkan bisa dilakukan secara langsung oleh
keluarga atau kerabat yang menjadi wali bagi anak tersebut. Jadi panti asuhan
hanya benar-benar akan dibutuhkan apabila anak sudah tidak memiliki keluarga
atau kerabat sama sekali dan lebih berperan sebagai “last resort”15.
Yayasan Bina Yatama merupakan yayasan yatim piatu yang bergerak di
bidang sosial yang memiliki peran di dalam pelayanan sosial anak. Yayasan Bina
Yatama berdiri pada tanggal 23 Juli 2002 dengan nama pertama yaitu Yayasan
Arrahman. Baru pada tanggal 09 Maret 2007 dimekarkan menjadi Yayasan Bina

14
15

Ibid
Ibid

9

Yatama setelah menjalani reorganisasi kepengurusan. Yayasan Bina Yatama
melayani anak-anak yatim piatu dan anak-anak dhuafa yang total berjumlah 108
anak asuh. Bentuk pelayanan yang dilakukan oleh Yayasan Bina Yatama adalah
santunan rutin tiap bulan berupa uang tunai untuk biaya pendidikan anak asuh.
Selain itu, ada juga santunan berupa uang tunai setiap Hari Raya Idul Fitri dan
Hari Raya Idul Adha. Yayasan Bina Yatama memiliki rencana untuk
menempatkan seluruh anak asuh di dalam yayasan, karena selama awal
berdirinya, Yayasan Bina Yatama hanya menyantuni anak asuh tanpa adanya
penempatan anak asuh di dalam yayasan. Selain itu, rencana pelayanan ke depan
adalah

adanya

pelatihan-pelatihan

yang

bertujuan

untuk

meningkatkan

keterampilan anak asuh.
Atas dasar hal tersebut, maka penulis bermaksud untuk mengadakan
penelitian yang akan menganalisis kebutuhan dasar anak yang diasuh oleh sebuah
yayasan yatim piatu. Penelitian ini akan dituangkan dalam skripsi dengan judul:
“Analisis Kebutuhan Dasar Anak di Yayasan Yatim Piatu Bina Yatama,
Kelurahan Pondok Jaya, Depok”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Mengingat terbatasnya waktu, dana dan demi terfokusnya pikiran
maka peneliti membatasi masalah pada usaha pelayanan yang dilakukan oleh
Yayasan Bina Yatama untuk membantu keluarga-keluarga anak asuh dalam
memenuhi kebutuhan dasar anak mereka.

10

2. Perumusan Masalah
Agar perumusan masalah lebih terarah dan terfokus, maka penulisan
skripsi ini dirumuskan dalam rangka menjawab permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana keluarga-keluarga penerima layanan (anak asuh) memenuhi
kebutuhan dasar anak mereka?
b. Bagaimana yayasan membantu keluarga-keluarga penerima layanan (anak
asuh) dalam memenuhi kebutuhan dasar anak mereka?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tentang:
a. Pemenuhan kebutuhan dasar anak oleh keluarga penerima layanan (anak
asuh).
b. Usaha yayasan membantu keluarga penerima layanan (anak asuh) dalam
memenuhi kebutuhan dasar anak mereka.
2. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
a. Manfaat Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan
mahasiswa mengenai keluarga-keluarga penerima layanan (anak asuh)
dalam memenuhi kebutuhan dasar anak. Selain itu, hasil penelitian ini
juga diharapkan mampu memberikan masukan kepada lembaga-lembaga
yang menangani permasalahan sosial anak, khususnya anak-anak yatim

11

piatu untuk menentukan model pelayanan sosial yang benar-benar sesuai
dengan kebutuhan.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan kepada
pihak yayasan untuk pengembangan pelayanan dalam memenuhi
kebutuhan dasar anak asuh sebagai penerima layanan.

D. Metodologi Penelitian
1. Metode
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti
adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara
triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian
kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi16.
Kriteria data dalam penelitian kualitatif adalah data yang pasti, yaitu
data yang sebenarnya terjadi sebagaimana adanya, bukan data yang sekedar
terlihat, terucap, tetapi data yang mengandung makna dibalik yang terlihat dan
terucap tersebut17. Oleh karena itu, pengumpulan data dilakukan secara
triangulasi yang menggunakan berbagai sumber dan berbagai teknik

16
17

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, Cetakan 5, Bandung: Alfabeta, 2009, h.1
Ibid, h.2

12

pengumpulan data secara simultan agar memperoleh data yang pasti18.
2. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif,
yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik
satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan, atau
penghubungan dengan variabel yang lain19. Jenis penelitian ini menghasilkan
data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan
perilaku yang diamati guna mendapat data-data yang diperlukan. Data yang
dikumpulkan adalah berupa kata-kata karena adanya penerapan metode
kualitatif. Laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi
gambaran penyajian laporan tersebut20.
3. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan pada natural
setting (kondisi yang alamiah), sumber data primer, dan teknik pengumpulan
data lebih banyak pada observasi berperan serta (participant observation),
wawancara mendalam (in depth interview), dan dokumentasi21. Untuk
memperoleh data yang diinginkan, maka penulis menggunakan teknik
pengumpulan data sebagai berkut :
a. Observasi berperan serta, yaitu peneliti terlibat dengan kegiatan seharihari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data
18

Ibid, h.3
http://ab-fisip-upnyk.com/files/Konsep%20Dasar%20Penelitian.pdf
20
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Cetakan 24, Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2007, h.11
21
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, Bandung: CV Alfabeta, 2003, h.186
19

13

penelitian22. Dalam observasi, penulis berusaha mendapatkan data melalui
pengamatan yang dilakukan dengan keterlibatan penulis dalam pelayanan
sosial yang dilakukan oleh Yayasan Bina Yatama. Selain itu untuk
memperoleh data yang lengkap tentang kebutuhan dasar anak, penulis
juga mengamati keluarga-keluarga penerima layanan sebagai pihak yang
paling bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar anak dengan
datang ke tempat tinggal mereka.
b. Wawancara, yaitu pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide
melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu
data tertentu23. Penulis melakukan wawancara dengan tujuh orang
informan, diantaranya tiga orang pengurus Yayasan Bina Yatama dan
empat orang dari keluarga-keluarga penerima layanan.
c. Dokumentasi, yaitu catatan peristiwa yang sudah berlalu yang merupakan
pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara24. Dalam hal
ini penulis memperoleh data melalui pengumpulan dokumen-dokumen
yang ada di Yayasan Bina Yatama.
4. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh, selanjutnya penulis melakukan analisa data.
Tujuan utama dari analisa data ialah untuk meringkaskan data dalam bentuk
yang mudah dipahami dan mudah ditafsirkan, sehingga hubungan antar

22

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, h.64
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian, h.190
24
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, h.82

23

14

problem penelitian dapat dipelajari dan diuji25. Dalam hal ini penulis
menganalisa dengan menggunakan analisa deskriptif, yaitu suatu metode
dalam penulisan sekolompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi, suatu
sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari
deskriptif ini adalah untuk berusaha menggambarkan objek penelitian apa
adanya sesuai dengan kenyataan yang ada.
5. Sumber Data
a. Data Primer, yaitu berupa data yang diperoleh langsung dari informan
penelitian, yaitu pengurus Yayasan Bina Yatama dan keluarga anak-anak
asuh.
b. Data Sekunder, yaitu berupa catatan atau dokumen yang diambil dari
buku, skripsi, artikel, buku elektronik, majalah atau internet yang
berkaitan dengan penelitian.
6. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat penelitan ini bertempat di Yayasan Bina Yatama, Jl. Raya
Citayam, Pondok Terong, RT. 01, RW. 01, No. 01. Kel. Pondok Jaya, Kec.
Pancoranmas, Kota Depok, Telp. (021) 77200714, Hotline: 08179131737,
Email: ya7binayatama@hotmail.com, Website: www.ya7binayatama.org.
Sedangkan waktu penelitan dilakukan pada bulan April 2011 s.d. Juni 2011.

25

Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian: Refleksi Pengembangan Pemahaman dan
Penguasaan Metodologi Penelitian, Cetakan I, Malang: UIN-Malang Press, 2008, h.128

15

E. Tinjauan Pustaka
Ada beberapa penelitian yang dijadikan tinjauan bagi penulis dalam
membuat skripsi ini. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Aan
Saputra (mahasiswa Jurusan Kesejahteraan Sosial angkatan 2003) dengan judul
“Pelayanan Sosial bagi Anak Yatim Piatu di Panti Sosial Asuhan Anak An-Najah
Petukangan Selatan Jakarta Selatan”. Penelitian yang dilakukan oleh Aan Saputra
menjelaskan tentang berbagai macam kegiatan pelayanan sosial yang diberikan
oleh panti asuhan anak kepada anak-anak asuh beserta dengan faktor pendukung
dan penghambatnya.
Ada juga penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis (mahasiswa Jurusan
Pengembangan Masyarakat Islam angkatan 2004) dengan judul “Peran Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyah dalam Pemberdayaan Yatim Piatu di Kelurahan Jurang
Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan”. Penelitian
yang dilakukan oleh Mukhlis menjelaskan tentang pemberdayaan yang diberikan
oleh Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah kepada anak-anak yatim piatu dan
menjelaskan tentang faktor pendukung, faktor penghambat, serta dampaknya
terhadap warga sekitar.
Lalu ada lagi penelitian yang dilakukan oleh Iin Nurhayati (mahasiswa
Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam angkatan 2006) dengan judul “Strategi
Panti Asuhan Baiturrahman dalam Pemberdayaan Anak Asuh di Yayasan Masjid
Jami Bintaro Jaya”. Iin melakukan penelitian tentang pemberdayaan anak asuh
melalui pelayanan pada strategi pengembangan bidang pendidikan, bidang
keagamaan, bidang fisik dan bidang bantuan sosial.

16

Kekurangan dari penelitian-penelitian ini adalah, para peneliti hanya
memberikan gambaran tentang keseluruhan proses pelayanan sosial yang
dilakukan oleh yayasan, baik itu lewat pemberdayaan maupun strategi-strategi
yang dilakukan tanpa melihat apakah anak-anak asuh yang berada di dalam
yayasan benar-benar terpenuhi kebutuhan dasarnya. Padahal, tidak semua anak
asuh terpenuhi kebutuhan dasarnya. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lebih
lanjut untuk menganalisa kebutuhan dasar anak asuh.

F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini, peneliti menggunakan Pedoman Penulisan
Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, dan Disertasi) yang diterbitkan CeQDA (Center for
Quality Development and Assurance) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta sebagai pedoman penulisan skripsi ini.
Untuk

mempermudah

pembahasan

skripsi

ini,

secara

sistematis

penulisannya dibagi ke dalam lima bab, yang terdiri dari sub-sub bab. Adapun
sistematikanya sebagai berikut :
BAB I

Pendahuluan
Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan
dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan
Sistematika Penulisan Skripsi.

BAB II

Landasan Teori
Kebutuhan Dasar Manusia, Kebutuhan Dasar Anak, Pengertian Anak
Yatim Piatu, Pelayanan Sosial Anak

17

BAB III

Gambaran Umum Lembaga
Sejarah Singkat Lembaga, Profil Lembaga, Visi dan Misi Lembaga,
Tujuan, Landasan Hukum, Landasan Konseptual, Struktur Organisasi,
Program Kerja, Realisasi Program Kerja, Sarana dan Prasarana,
Sumber Dana, dan Kerja Sama dengan Lembaga Lain.

BAB IV

Analisa Data
Hasil Pelaksanaan Penelitian dan Hasil Analisa Data Kebutuhan Dasar
Anak di Yayasan Yatim Piatu Bina Yatama.

BAB V

Penutup
Kesimpulan dan Saran.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kebutuhan Dasar Manusia
Untuk memahami kebutuhan dasar manusia, perlu diketahui pandanganpandangan mengenai hakekat manusia. Pandangan-pandangan tersebut antara
lain:
1. Pandangan tentang manusia sebagai makhluk individual dan unikum.
2. Pandangan tentang manusia sebagai makhluk sosial.
3. Pandangan tentang manusia sebagai sesuatu yang unitas-multiplex.
4. Pandangan tentang manusia ingin selalu bergerak dan berfungsi.
5. Pandangan tentang manusia yang selalu berusaha menyesuaikan diri dengan
lingkungannya.
6. Pandangan tentang manusia yang dalam usahanya untuk berfungsi dan
bergerak selalu menemui rintangan1.
Abraham H. Maslow menyebutkan macam-macam kebutuhan dasar
manusia, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk
menyayangi dan disayangi, kebutuhan untuk penghargaan, dan kebutuhan untuk
mengaktualisasikan diri dan bertumbuh2. Seperti yang terlihat pada gambar di
bawah ini:

1

C.Pramuwito, Pengantar Ilmu Kesejahteraan Sosial, Cetakan I, Yogyakarta: Departemen
Sosial RI Badan Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, 1997, h.6-12
2
Ibid, h.16

18

19

Gambar 1. Kebutuhan Dasar Manusia menurut Abraham Maslow

Pada dasarnya manusia dalam hidupnya membutuhkan tiga hal, yaitu
kebutuhan untuk sehat (kesehatan jasmani, kesehatan rohani, dan kesehatan
sosial), kebutuhan untuk bebas dari tekanan-tekanan (tekanan yang bersifat fisik,
rohani dan sosial), dan kebutuhan untuk berkembang (secara jasmani, rohani dan
sosial)3.
Kebutuhan dasar manusia merupakan kebutuhan riil bagi manusia (real
needs), hanya tidak semua manusia dapat merasakan kebutuhan itu. Kalau
usahanya untuk memenuhi kebutuhannya itu berhasil, manusia akan merasa
terpuaskan, merasa bahagia dan merasa senang. Kalau kebutuhan untuk bergaul
atau berkeinginan untuk pengakuan sosial dapat terpenuhi manusia akan merasa
damai, aman dan sentausa. Ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
itu pasti ada penyebabnya. Penyebab terebut lazim disebut sebagai masalah
sosial4.

3
4

Ibid, h.17-18
Ibid, h. 20

20

Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa kebutuhan dasar manusia
menurut Abraham Maslow adalah kebutuhan yang terdiri dari kebutuhan fisik,
kebutuhan rasa aman, kebutuhan untuk menyayangi dan disayangi, kebutuhan
untuk penghargaan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dan bertumbuh.
Namun tidak semua orang bisa mendapatkan semua kebutuhan dasar itu. Oleh
karena itu dibutuhkan bantuan dari pihak lain, baik individu maupun lembaga,
untuk membantu seseorang memenuhi semua kebutuhan dasarnya.

B. Kebutuhan Dasar Anak
Anak merupakan makhluk sosial yang membutuhkan orang lain terutama
keluarga untuk bisa membantu mengembangkan kemampuannya maupun
memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini dikarenakan anak pada dasarnya lahir
dengan segala kelemahan yang dimilikinya sehingga tanpa bantuan orang lain
terutama keluarga, seorang anak tidak mungkin dapat mencapai taraf
kemanusiaan yang normal.
Anak sebagai potensi dan generasi penerus cita-cita perjuangan bangsa,
dan oleh karenanya memiliki posisi sangat strategis dalam menjamin
kelangsungan eksistensi bangsa di masa depan. Artinya, kondisi anak pada saat
ini, sangat menentukan kondisi bangsa di masa depan. Dengan demikian, apabila
pada saat ini anak-anak terpenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan fisik, sosial
maupun mental-rohaninya, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi muda

21

yang berkualitas yang ditandai dengan cerdas, kreatif, mandiri, berakhlak mulia
dan setia kawan5. Kebutuhan anak yang perlu dipenuhi, yaitu:
1. Kebutuhan fisik. Kebutuhan fisik adalah jenis kebutuhan yang terkait
langsung dengan pertumbuhan fisik-organis anak. Jenis kebutuhan yang
diperlukan seperti sandang, tempat tinggal, makanan dan kesehatan.
Kebutuhan ini merupakan kebutuhan vital bagi anak karena menentukan
kelangsungan hidup maupun kualitas hidup anak.
2. Kebutuhan belajar. Kebutuhan belajar adalah jenis kebutuhan yang terkait
langsung dengan kecerdasan dan kepribadian anak. Jenis kebutuhan yang
diperlukan adalah sarana pendidikan dan bimbingan budi pekerti.
3. Kebutuhan psikologis. Kebutuhan psikologis adalah jenis kebutuhan yang
terkait dengan perkembangan psikis anak. Jenis kebutuhan tersebut adalah
rasa aman, kasih sayang, dan diperhatikan. Terhambatnya pemenuhan
kebutuan psikologis ini menyebabkan anak terhambat perkembangan
psikisnya, atau perkembangan mentalnya menjadi tidak wajar.
4. Kebutuhan religius. Kebutuhan religius adalah jenis kebutuhan yang terkait
dengan perkembangan rohani anak. Terpenuhinya kebutuhan rohani ini akan
memperkuat ketahanan mental anak, dan mengantarkan anak sebagai manusia
yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia (jujur, tidak sombomg, rajin, dan
lain-lain).

5

Informasi Kajian Permasalahan Sosial dan Usaha Kesejahteraan Sosial, Volume 10, No.1,
April 2005, Jakarta: Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial Badan Pelatihan dan
Pengembangan Sosial Departemen Sosial Republik Indonesia, 2005, h.42

22

5. Kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial adalah jenis kebutuhan yang terkait
dengan pengembangan kemampuan anak untuk berinteraksi dengan orang lain
sebagai anggota keluarga ataupun masyarakat (teman sebayanya). Jenis
kebutuhan sosial seperti kebutuhan untuk diterima sebagai anggota kelompok
atau menerima orang lain sebagai anggota kelompok, bermain bersama,
kepedulian dan tanggung jawab sosial terhadap temannya6.
Mengacu pada dokumen Konvensi Hak Anak, ada empat hak anak yang
perlu diberikan agar anak-anak dapat tumbuh kembang secara optimal, yaitu:
1. Kelangsungan hidup. Anak memiliki jenis kebutuhan yang disebut kebutuhan
fisik atau biologis. Jenis kebutuhan ini seringkali disebut dengan kebutuhan
pokok atau kebutuhan dasar manusia, yang meliputi sandang, pangan, tempat
tinggal, dan kesehatan, tidak terpenuhinya sejumlah kebutuhan dasar tersebut
akan mengakibatkan anak mengalami gangguan dalam pertumbuhannya, baik
fisik maupun intelegensinya.
2. Perlindungan. Dalam arti sempit perlindungan berarti menjaga agar anak tidak
mengalami gangguan, baik secara fisik maupun mental/emosional dan sosial.
Anak tidak mengalami ketelantaran, dieksploitasi secara ekonomi maupun
soial, korban tindak kekerasan, diskriminasi dan diperlakukan salah.
3. Pengembangan diri. Dalam diri anak terdapat potensi diri dalam bentuk mina
dan bakat. Potensi diri ini perlu dikembangkan secara optimal sesuai dengan
tingkat perkembangan anak. Untuk itu diperlukan situasi dan wahana yang
kondusif bagi anak, sehingga dalam proses pengembangan diri tersebut tidak
6

Ibid, h.45

23

terjadi penyalahgunaan dan atau eksploitasi anak. Secara alamiah, wahana
utama bagi pengembangan diri anak adalah sebuah keluarga asli. Namum
karena berbagai alas an, anak perlu dibantu untuk memperoleh wahana
pengganti keluarga asli apabila sudah tidak ada keluarga asli.
4. Partisipasi. Partisipasi dalam kaitannya dengan upaya perlindungan anak ini,
dipahami sebagai keterlibatan anak secara sukarela dalam membuat keputusan
yang menyangkut dirinya. Keputusan dimaksud, misalnya dalam mengikuti
pelatihan, sekolah, pengembangan hobi dan mengatur barang miliknya7.
Dapat disimpulkan bahwa kebutuhan anak yang harus dipenuhi adalah
kebutuhan fisik, kebutuhan belajar, kebutuhan psikologis, kebutuhan religius dan
kebutuhan sosial. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut dapat terpenuhi oleh
anak, maka anak akan tumbuh menjadi generasi muda yang berkualitas, cerdas,
kreatif, mandiri, berakhlak mulia dan setia kawan.

C. Pengertian Anak Yatim Piatu
Ada yang menyatakan bahwa yatim bukan hanya anak yang ayahnya
sudah meninggal dunia, akan tetapi lebih dari itu, ia adalah anak yang tidak bisa
mendapatkan kesejahteraan hidup dan pendidikan yang layak, kendati orang
tuanya masih hidup. Sebagian lagi ada yang menyatakan bahwa yatim memiliki
pengertian yang luas dan amat beragam, yakni yatim al-maal (anak yang hidup
dalam keluarga pra sejahtera), yatim al-aqidah (mereka yang pemahaman
akidahnya masih lemah dan dangkal), bahkan yatim al-ilm (yatim dalam bidang
7

Ibid, h.44-45

24

ilmu pengetahuan). Ada juga yang berpedoman pada Q.S. An-Nisa: 6. Kalangan
ini beranggapan bahwa status yatim tidak dibatasi dengan masa dan usia. Selama
si yatim tidak bisa mandiri dan dapat mengelola hartanya dengan baik, meski ia
sudah baligh, tetap dianggap sebagai yatim. Dari berbagai pandangan mengenai
definisi yatim tersebut, definisi yatim yang dianggap shahih yang berlaku di
dalam kitab-kitab fikih dan berbagai literatur keislaman, dengan berlandaskan
pada al-Qur’an dan hadits Nabi adalah: “Anak yang ayahnya telah tiada sebelum
ia mencapai usia baligh”. Definisi ini berlandaskan pada hadits Nabi SAW, yang
artinya, “Tidak ada yatim setelah masa baligh (dewasa)8. Dalam konteks
keindonesiaan, nama yatim diperuntukkan anak yang bapaknya meninggal dunia.
Sedangkan bila yang meninggal adalah bapak dan ibunya sekaligus, maka anak
tersebut dikatakan yatim piatu9.
Seorang anak yang sudah menjadi yatim piatu, membutuhkan orang atau
lembaga untuk mengasuh dan memberikan perlindungan untuk mereka. Dengan
kata lain, untuk menggantikan peran orang tua, mereka membutuhkan adanya
wali. Istilah perwalian berasal dari bahasa Arab derivatif dari kata dasar, waliya,
wilayah atau walayah. Kata wilayah atau walayah mempunyai makna etimologis
lebih dari satu, di antaranya dengan makna, pertolongan, cinta, kekuasaan atau
kemampuan

yang

artinya

kepemimppinan

seseorang

terhadap

sesuatu.

Berdasarkan pengertian etimologis tersebut, maka dapat dipahami bahwa
perwalian adalah suatu bentuk perlindungan dengan otoritas penuh atas dasar

8
9

LPSI, Anak Yatim & Kajian Fikih Realitas Sosial, Jatim: Pustaka Sidogiri, h.10-12
Ibid, h.13

25

tanggung jawab dan cinta kasih, untuk memberikan pertolongan atas
ketidakmampuan seseorang dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum, baik
yang berhubungan dengan harta maupun dengan dirinya10.
Dalam terminologi fikih, wali didefinisikan sebagai orang yang memiliki
otoritas syar’i untuk mengelola dan mendistribusikan harta orang lain, tanpa
membutuhkan legalitas dari siapapun, termasuk pemerintah. Dalam konteks
pembahasan anak yatim, wali yatim, menurut madzhab syafi’I, secara berurut
(setelah ayah tiada) mulai kakek dari ayah, lalu penerima wasiat dari orang
terakhir yang meninggal dari salah satu ayah dan kakek. Bila semua wali di atas
tidak ada, maka status wilayah (kewalian) pindah pada qadli (pemerintah)11.
Wali memiliki hak-hak sebagai berikut:
1. Hak hajr. Merupakan hak penuh yang dimiliki oleh seorang wali yatim.
Secara etimologi, hajr berarti mencegah dan mempersempit. Sementara dalam
terminologi syara’ berarti mencegah seseorang untuk mengelola hartanya
sendiri. Semua penggunaan dan pengelolaan harta dari anak yatim, baik sudah
tamyiz atau belum, dihukumi batal selama status hajr masih melekat
kepadanya. Dalam Islam, hajr diberlakukan sebagai rahmah dan saling
tolong-menolong. Dalam hal ini adalah mengasihi anak yatim yang masih
belum bisa menangani dan mengelola harta kekayaannya sendiri dengan baik.
Jika harta itu terpaksa harus diberikan sebelum ia mampu mengelolanya, tentu
akan berdampak negatif terhadap anak yatim itu sendiri. Tetapi jika anak
10

Ahmad Kamil, M. Fauzan, Hukum Perlindungan dan Pengangkatan Anak di Indonesia,
Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2008, h.175
11
LPSI, op. cit., h.21

26

yatim itu sudah dianggap bisa mengelola hartanya dengan baik, maka harta
yang sebelumnya ada pada pengaturan dan kekuasaan wali, harus diberikan
sepenuhnya kepada anak yatim itu.
2. Hak finansial. Wali yatim berhak mengambil bagian dari harta anak yatim
sekedar untuk memenuhi nafkahnya bila si wali memang fakir dan tidak bisa
bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya sebab mengurusi
anak yatim yang menjadi tanggungannya tersebut. Tetapi jika si wali tersebut
kaya dan bisa memenuhi kebutuhan dari dan keluarganya, maka ia tidak boleh
mengambil bagian dari harta anak yatim tersebut. Apabila wali yatim yang
fakir sudah menjadi kaya atau bisa memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya,
ia tidak lagi diperbolehkan untuk mengambil bagian dari harta yatim12.
Selain itu, wali juga memiliki kewajiban. Seorang wali yatim
berkewajiban menjaga dan mengelola/mengembangkan harta anak yatim dengan
berlandaskan maslahah yang kembali pada diri yatim yang diasuhnya. Dan bentuk
kemaslahatan itu diserahkan sepenuhnya pada kebijakan dari wali yatim. Wali
juga wajib menerima segala pemberian yang diberikan kepada anak yatim dan
tidak boleh menolaknya. Wali juga tidak diperbolehkan menghutangkan harta
anak yatim, meskipun untuk keperluan wali itu sendiri13.
Dari teori tersebut, dapat dikatakan bahwa anak yatim piatu adalah anak
yang tidak memiliki ayah dan ibu dikarenakan keduanya telah tiada dan
membutuhkan orang untuk merawatnya sampai anak tersebut bisa mandiri dan

12
13

Ibid, h.22-27
Ibid, h.29-30

27

bisa mengelola hartanya dengan baik. Orang yang merawat anak yatim piatu
sampai bisa mandiri dan bisa mengelola hartanya dengan baik disebut dengan
wali. Wali inilah yang menggantikan peran sebagai orang tua untuk menjaga dan
melindungi anak yatim piatu sampai anak tersebut bisa mandiri.

D. Pelayanan Sosial Anak
Brenda Dubois dan Karl Krogsrud Miley menyebut pelayanan sosial
sebagai suatu dukungan untuk meningkatkan keberfungsian sosial atau untuk
memenuhi kebutuhan individu, antar individu maupun lembaga14. Sedangkan
Alfred J. Kahn menyebutkan pelayanan sosial sebagai pelayanan yang diberikan
oleh lembaga kesejahteraan sosial dan terbagi dalam dua golongan yaitu
peke

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23