Peran guru PAI sebagai motivasi dalam meningkat kedisiplinan siswa di SMP Nusantara Plus Ciputat

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Vina Zumrotul A’la

NIM

: 206011000089

Tempat/Tgl lahir

: Pekalongan, 11 Oktober 1988

Jurusan

: Pendidikan Agama Islam

Judul Skripsi

: Peranan Guru PAI Sebagai Motivator Dalam
Meningkatkan Disiplin Siswa SMP Nusantara Plus

Dosen Pembimbing

: Dra. Hj. Eri Rossatria, M.Ag

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang saya buat benar-benar hasil
karya sendiri dan saya bertanggung jawab secara akademis atas apa yang saya
tulis.

Jakarta, 29 Maret 2011

Vina Zumrotul A’la
NIM: 206011000089

i

ABSTRAK
Vina Zumrotul A’la
“Peran Guru PAI Sebagai Motivator dalam
Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Di SMP Nusantara Plus Ciputat.
Sekolah merupakan pendidikan lanjutan setelah pendidikan keluarga dan
guru sebagai pendidik setelah kedua orang tua. Guru sebagai pendidik di sekolah
tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan tetapi lebih dari itu, seorang
guru juga bertugas sebagai motivator dituntut untuk mampu meningkatkan
kedisiplinan dalam diri siswa.
Kedisiplinan merupakan modal dasar yang harus dikembangkan kepada
peserta didik di sekolah. Karena dengan kedisiplinan maka proses pendidikan
yang berlangsung di sekolah dapat berjalan lancar dan tertib serta tujuan
pendidikan dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Dengan pembiasaan
kedisiplinan di sekolah bukan mustahil dapat menjadikan anak kita menjadi
generasi yang memiliki pemahaman yang kuat tentang kedisiplinan yang akhirnya
akan membekas dan menghasilkan disiplin diri atau self dicipline pada diri
mereka. Akan tetapi fungsi guru sebagai pembentuk nilai dan norma dalam diri
peserta didik sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Indikasi adanya
tantangan tersebut dapat dilihat dengan munculnya kenakalan peserta didik atau
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik terhadap aturan dan
tata tertib sekolah, yang merupakan salah satu unsur penghambat terhadap
keberhasilan belajar peserta didik khususnya dalam pencapaian tujuan pendidikan
pada umumnya.
Dan agar pelaksanaan disiplin siswa di sekolah bisa maksimal, guru
harus bisa memberikan motivasi baik dengan memberikan bimbingan, contoh
tauladan, pengawasan, maupun memberikan hukuman bahkan ganjaran. Tetapi
lebih dari usaha-usaha tersebut, pihak sekolah sudah sepatutnya dapat menggugah
kesadaran siswa akan pentingnya kedisiplinan.
Penelitian dalam skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui peranan guru
PAI sebagai motivator dalam meningkatkan kedisiplinan siswa. Untuk itu
metodologi penelitian ini menggunakan Deskriptif Analisis dengan rumus

P

F
x100% . Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Guru PAI sebagai
N

motivator mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatkan
kedisiplinan siswa.

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur tiada terhingga penulis sampaikan ke hadirat Ilahi Rabbi
Allah SWT., yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Shalawat dan salam tak lupa penulis sampaikan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW., keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya yang telah
mengenalkan Islam kepada seluruh umat manusia.
Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa dalam penyelesaian skripsi ini
berbagai kesulitan, hambatan, dan gangguan baik yang berasal dari penulis sendiri
maupun dari luar. Namun berkat bantuan, motivasi, bimbingan dan pengarahan
dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Oleh karena itu dengan penuh ketulusan hati penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
2. Bpk Bahrissalim, M.Ag Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta
3. Bpk Drs. Sapiuddin Sidiq, M.Ag, Sekertaris Jurusan Pendidikan Agama
Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
4. Ibu Dra. Hj Eri Rossatria. M. Ag, sebagai Dosen Pembimbing Skripsi
yang telah memberikan perhatian dan waktunya dengan segala
profesionalitas dan kesabaran, semoga segala kebaikan dan ketulusan yang
ibu berikan menjadi amal yang shaleh yang tiada akan pernah putus.
5. Semua Staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
6. Cecep Setiawan MA, sebagai Kepala sekolah SMP Nusantara Plus
Ciputat yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di sana.
beserta guru PAI (Bu Irma) dan staf TU yang telah membantu proses

iii

penelitian serta memberikan data-data yang diperlukan peneliti dalam
skripsi.
7. Bapak-bapak dan Ibu-ibu dosen serta seluruh staf Fakultas Ilmu Tarbiyah
dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta,
yang telah dengan sabar dan tekun, rela mentransfer ilmunya kepada
penulis selama penulis menempuh studi di UIN Jakarta ini.
8. Kedua orang tuaku tercinta, Ayahanda H. A.Rifa’i Arif dan Ibunda Hj Nok
Hasanah dalam setiap hari-harimu selalu bermunajat untuk anakmu ini,
kaulah sahabat sekaligus seorang ibu, kau ajarkan aku kejujuran,
kesabaran dan ketulusan, kaulah sebaik-baik pengajar di dunia ini. Ayah
yang begitu bijak, baik dan sabar dalam mendidik. Tiada putus kau berikan
yang terbaik untuk anakmu. Kecup sayang dari anakmu.
9. Adikku tersayang Lana Qotrun Nada terima kasih atas dukungan do’a
yang selalu memberikan kerinduan canda dan tawa, serta sepupuku
tersayang (Mba Sakin dan De’ Ariz) dan semua saudaraku yang berada di
pulau seberang yang selalu tanya kapan skripsinya selesai, terima kasih
banyak atas dukungannya selama ini.
10. Untuk sahabat-sahabat kelasku (Semy, Uyung, Mahe, Mba Masning, Cici,
Mba Nung, Ocy, Mahfudz, Bu Masmidah, de2 Syahri) kalian semua
adalah inspirasi bagi penulis, makasih sudah mau mendukung, berbagi
cerita, share skripsi dan bai makanan. Bersama kalian telah menggoreskan
banyak kenangan manis, canda tawa, selama menjalani perkuliahan.
Smoga tali silaturrahmi kita selalu terjalin.
11. Untuk teman-teman tercinta Ekstensi 2006, khususnya kelas B PAI semua
pihak yang tidak disebutkan namanya yang memberikan sumbangsi
pikiran untuk kelancaran peneliti,

semoga jasa dan segala amal

kebaikanya dibalas oleh sang pencipta alam semesta ini.
12. Sahabat kozku (Reny, Mey-mey, Acy) kalian semua adalah adalah
saudaraku yang paling mengerti, bersama kalian penulis menemukan
sosok sahabat yang tanpa pamrih memberikan perhatiannya dan bersama
kalian adalah suka cita bersama, perjuangan yang tak tergantikan, nasehat,

iv

candaan, kekesalan dan saling tukar Fikiran adalah masa kita
mendewasakan dan didewasakan oleh waktu dan keadaan. I Miss U all.
13. Special thank for SomeOne M.Muharrom Ar-Rasyid (Jodie) yang telah
banyak mengisi hari-hari penulis dengan keceriaan dan support yang luar
biasa.
Bagi mereka semua, tiada untaian kata dan ungkapan hati selain ucapan
terima kasih penulis, semoga Allah SWT., membalas semua amal baik mereka,
dan akhirnya peneliti berharap skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi
peneliti dan umumnya kepada pembaca.

Jakarta, 16 Maret 2011
Penulis

Vina Zumrotul A’la

v

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN DOSEN PEMBIMBING .......................................... i
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI ................................................................... ii
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI ........................................................ iii
ABSTRAK ................................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR .............................................................................................. v
DAFTAR ISI ............................................................................................................. viii
DAFTAR TABEL ...................................................................................................x
LAMPIRAN .............................................................................................................xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................................. 5
C. Pembatasan dan Perumusan Masalah....................................................... 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...............................................................6

BAB II KAJIAN TEORI

A. Kedisiplinan Siswa ................................................................................... 7
1. Pengertian Disiplin ............................................................................. 7
2. Macam-macam Disiplin .....................................................................11
3. Tujuan dan Fungsi Disiplin ................................................................13
4. Cara Menanamkan Disiplin ...............................................................16
5. Penanggulangan Pelanggaran Disiplin ...............................................20

B. Guru PAI Sebagai Motivator ...................................................................22
1. Pengertian dan Karakteristik Guru PAI .............................................22
2. Tugas dan Peran Guru PAI ................................................................26
3. Guru PAI Sebagai Motivator .............................................................31

vi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ..................................................................37
B. Metode Penelitian.....................................................................................37
C. Populasi dan Sampel ................................................................................37
D. Instrumen Penelitian.................................................................................38
E. Teknik Pengumpulan Data .......................................................................39
F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data ....................................................40

BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Sekolah SMP Nusantara Plus Ciputat .......................42
1. Biodata Sekolah ................................................................................42
2. Visi, Misi, dan Strategi SMP Nusantara Plus Ciputat .......................42
3. Keadaan Siswa ...................................................................................43
4. Keadaan Guru dan Karyawan ............................................................44
5. Sarana dan prasarana ..........................................................................45
B. Pengolahan dan Analisa Data...................................................................47
C. Interpretasi Data .......................................................................................67

BAB V PENUTUP
1. Kesimpulan ....................................................................................................69
2. Saran-saran .....................................................................................................71

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

1. Kisi-kisi instrumen angket ............................................................................41
2. Kriteria penskoran Alternatif Jawaban...........................................................42
3. Tafsiran persentase .........................................................................................44
4. Memakai seragam sekolah sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan
sekolah............................................................................................................51
5. Masuk tepat waktu setelah bel masuk berbunyi .............................................52
6. Keluar kelas ketika jam pelajaran belum selesai............................................52
7. Mengobrol dengan teman pada saat guru menerangkan ................................53
8. Mengikuti upacara bendera dengan rutin .......................................................54
9. Mengikuti upaca bendera sambil bercanda ....................................................55
10. Berbicara ketika pembina upacara menyampaikan amanat upacara ..............55
11. Berbaris rapi pada saat upacara ......................................................................56
12. Membuat keributan diluar jam pelajaran .......................................................56
13. Langsung bergegas pulang ketika jam pelajaran selesai ................................57
14. Terlibat tawuran antar sekolah .......................................................................57
15. Merokok diluar jam sekolah...........................................................................58
16. Mejeng di mall dengan memakai seragam sekolah........................................59
17. Menegur siswa yang tidur di dalam kelas pada saat pembelajaran ................59
18. Mengingatkan siswa dalam masalah disiplin .................................................60
19. Memberikan semangat untuk berdisiplin baik secara lisan maupun
perbuatan ........................................................................................................61
20. Langsung menegur pada saat siswa melakukan kesalahan ............................61
21. Berpakaian rapi dan sopan setiap hari ............................................................62
22. Hadir sebelum bel masuk sekolah berbunyi...................................................63
23. Mengumpulkan tugas siswa setelah pembelajaran selesai .............................63
24. Memberikan nilai tepat waktu .......................................................................64
25. Memeriksa kehadiran siswa setiap pagi .........................................................64
26. Memeriksa kembali kehadiran siswa setelah jam istirahat ............................65

viii

27. Mencatat siswa yang terlambat datang ke sekolah ........................................66
28. Mengadakan pemeriksaan pakaian dan rambut gondrong secara rutin .........66
29. Mengadakan razia seperti:handphone,benda-benda tajam, bacaan porno
serta obat-obatan terlarang .............................................................................67
30. Memukul siswa yang terlambat hadir di sekolah ...........................................67
31. Memarahi siswa yang terlambat hadir di sekolah ..........................................68
32. Memberikan pujian kepada siswa yang mentaati peraturan sekolah .............68
33. Memberikan penghargaan kepada siswa yang mentaati peraturan sekolah ...69

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Surat pengajuan skripsi

Lampiran 2

: Surat bimbingan skripsi

Lampiran 3

: Surat permohonan izin penelitian

Lampiran 4

: Surat observasi

Lampiran 5

: Surat izin wawancara

Lampiran 6

: Surat keterangan dari sekolah

Lampiran 7

: Berita wawancara

Lampiran 8

: Angket

Lampiran 9

: Profil SMP Nusantara Plus Ciputat

Lampiran 10 : Kartu inventaris ruangan SMP Nusantara Plus Ciputat

x

ABSTRAK
Vina Zumrotul A’la (206011000089). Peran Guru PAI Sebagai
Motivator dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa. Skripsi dibawah
bimbingan Dra. Hj. Eri Rossatria, M.Ag. jurusan Pendidikan Agama Islam.
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta 2011.
Sekolah merupakan pendidikan lanjutan setelah pendidikan keluarga dan
guru sebagai pendidik kedua setelah orang tua. Guru sebagai pendidik di sekolah
tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan tetapi lebih dari itu, seorang
guru juga bertugas sebagai motivator dituntut untuk mampu meningkatkan
kedisiplinan dalam diri siswa.
Kedisiplinan merupakan modal dasar yang harus dikembangkan kepada
peserta didik di sekolah. Karena dengan kedisiplinan maka proses pendidikan
yang berlangsung di sekolah dapat berjalan lancar dan tertib serta tujuan
pendidikan dapat dicapai dengan efektif dan efisien. Dengan pembiasaan
kedisiplinan di sekolah bukan mustahil dapat menjadikan anak kita menjadi
generasi yang memiliki pemahaman yang kuat tentang kedisiplinan yang akhirnya
akan membekas dan menghasilkan disiplin diri atau self dicipline pada diri
mereka. Akan tetapi fungsi guru sebagai pembentuk nilai dan norma dalam diri
peserta didik sekarang ini banyak menghadapi tantangan. Indikasi adanya
tantangan tersebut dapat dilihat dengan munculnya kenakalan peserta didik atau
pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik terhadap aturan dan
tata tertib sekolah, yang merupakan salah satu unsur penghambat terhadap
keberhasilan belajar peserta didik khususnya dalam pencapaian tujuan pendidikan
pada umumnya.
Dan agar pelaksanaan disiplin siswa di sekolah bisa maksimal, guru
harus bisa memberikan motivasi baik dengan memberikan bimbingan, contoh
tauladan, pengawasan, maupun memberikan hukuman bahkan ganjaran. Tetapi
lebih dari usaha-usaha tersebut, pihak sekolah sudah sepatutnya dapat menggugah
kesadaran siswa akan pentingnya kedisiplinan.
Penelitian dalam skripsi ini dimaksudkan untuk mengetahui peranan guru
PAI sebagai motivator dalam meningkatkan kedisiplinan siswa. Metodologi
penelitian ini menggunakan Deskriptif Analisis yang dilakukan di SMP Nusantara
Plus Ciputat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru PAI sebagai motivasi
mempunyai peranan yang sangat besar dalam meningkatkan kedisiplinan siswa.
Untuk melihat bagaimana peranan guru PAI sebagai motivator, penulis
menggunakan rumus

P

F
x100% .
N

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Disiplin memiliki kontribusi yang sangat penting dalam membentuk
pribadi-pribadi yang memiliki komitmen tinggi dalam melaksanakan setiap
kewajiban. Dengan kata lain, disiplin

dapat membentuk karakter bangsa.

Pembiasaan-pembiasaan penerapan disiplin sejak dini akan memudahkan setiap
individu untuk melaksanakan setiap kewajiban dengan komitmen tinggi. Para
guru khususnya guru PAI memiliki peran yang signifikan untuk membentuk
pribadi yang berdisiplin tinggi, karena disiplin merupakan bagian terpenting yang
tidak bisa dipisahkan dari sebuah proses pendidikan.
Disiplin, sebagaimana dikemukakan oleh Alisuf Sabri dalam bukunya Ilmu
Pendidikan, merupakan salah satu alat pendidikan preventif dalam pendidikan
yaitu alat yang bersifat pencegahan. Yang bertujuan untuk mencegah atau
menghindarkan hal-hal yang dapat mengganggu kelancaran proses pelaksanaan
atau pencapaian tujuan pendidikan.1
Sedangkan menurut S Margono, “disiplin merupakan suatu gambaran yang
menyatakan hasil kegiatan atau perubahan yang telah dicapai oleh seseorang
melalui keuletan bekerja, baik secara kualitas maupun kuantitas, dengan kata lain
disiplin adalah sebuah penilaian yang memang menjadi standarisasi bagi

1

Alisuf sabri, Ilmu Pendidikan, (Jakarta:CV.Pedoman Ilmu Jaya,1999),h.36

1

2

keberhasilan tujuan pendidikan.”2 Disiplin termasuk salah satu upaya dan
perbuatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, karena dengan disiplin
segala kegiatan pembelajaran akan teratur dan terarah, sehingga tujuan
pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai dengan baik. Maka dengan demikian
disiplin sebagai salah satu upaya meningkatkan proses pembelajaran penting
dilaksanakan oleh siswa, guru beserta seluruh tenaga kependidikan.
Dalam Penerapan disiplin peserta didik dapat belajar untuk hidup dengan
kebiasaan baik, positif dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya.
Pembiasaan dengan lingkungan sekolah mempunyai pengaruh positif pula bagi
kehidupan peserta didik di masa yang akan datang. Mengingat akan pentingnya
disiplin pada siswa , maka pihak-pihak yang terkait seperti sekolah, masyarakat,
dan keluarga, semestinya menanamkan disiplin itu terhadap siswa. Disiplin
sekolah tidak hanya diterapkan dan dilakukan kepada siswa, akan tetapi disiplin
juga harus diterapkan dan dilaksanakan oleh seorang guru.
Muhammad zuhaili, dalam bukunya yang berjudul Pentingnya Pendidikan
Islam Sejak Dini menyatakan, bahwa guru merupakan tenaga kependidikan
terdepan dalam melaksanakan tugas pokok lembaga pendidikan, sehubungan
dengan fungsinya sebagai pengajar, pendidik, dan pembimbing serta motivator,
untuk itu diperlukan adanya berbagai peranan pada diri guru. Peranan guru ini
akan senantiasa menggambarkan pada kepribadian, prilaku dan pengaruhnya yang
sangat besar terhadap jiwa anak didik. Banyak anak didik yang kepribadiannya
meniru salah satu gurunya dalam setiap tindakan, akhlak, pemikiran dan
prilakunya, khususnya dalam tingkat pendidikan awal dan kemudian menengah.3
Demikian juga bagi guru khususnya guru PAI, tugas dan tanggung jawab
mereka tidaklah mudah dan ringan, bahkan mungkin lebih berat dari guru bidang
studi lain, sebab terkait dengan siswa yang memiliki latar belakang beragamaan
yang berbeda serta permasalahan yang sangat kompleks. Oleh karena itu, guru
PAI harus memiliki persyaratan khusus, salah satunya adalah pengetahuan yang
mendalam tentang pendidikan agama dan keahlian dalam bidang studi PAI secara
professional.

2

4,h.54.

S. Margono.Drs, Metodologi Penelitian Pendidkan, (Jakarta.Rineka Cipta,2004)Cet.Ke-

Muhammada Zuhaili, Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta:A..H.Ba’adillah
Press, 2002),h.106.
3

3

Sebagai pendidik, segala sikap dan prilaku yang dilakukannya, tentu akan
dilihat dan dicontohkan oleh siswanya. Jika guru memiliki sikap disiplin maka
siswanya juga mengikuti perilaku sang guru yang disiplin tersebut. Guru yang
disiplin dapat memotivasi anak didik untuk dapat berperilaku disiplin.
Bahwasanya guru sangat berperan dalam memotivasi anak didik agar dapat
meningkatkan kedisiplinan mereka, yaitu dengan cara menerapkan kedisiplinan
terhadap anak didik. Selain guru menerapkan kedisiplinan terhadap siswa,
gurupun seharusnya membiasakan sikap disiplin untuk dirinya agar dapat
memberikan motivasi kepada anak didiknya. Misalnya dari faktor guru,
berpakaian sopan, hadir sebelum bel masuk berbunyi, memberikan semangat
untuk berdisiplin baik secara lisan maupun perbuatan, tidak sering bolos ketika
jam mengajar, tidak meninggalkan kelas sebelum waktu pelajaran selesai, dan
inilah merupakan contoh sikap disiplin pada guru. Dengan disiplin tersebut
diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam melaksanakan tata tertib
yang ada di sekolah.
Untuk menjamin terpeliharanya tata tertib sekolah, maka dibutuhkan guruguru yang penuh dengan kesetiaan dan ketaatan dalam mematuhi tata tertib atau
peraturan yang telah diberlakukan di sekolah tersebut. Karena ini merupakan salah
satu cara agar mewujudkan kelancaran dalam proses pembelajaran untuk
mencapai visi dan misi sekolah.
Dalam mencapai visi dan misi sekolah maka sekolah harus memiliki disiplin
yang tinggi. Disiplin siswa juga dapat dimulai dari kebiasaan yang sering
dilakukan diantaranya siswa mampu mempergunakan waktu yang baik, memiliki
rasa tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan dan menyusun jadwal
pelajaran. Namun kenyataan di masa sekarang, terjadi ketidaktertiban yang tiada
habis-habisnya. Setiap hari ada saja pelanggaran yang terjadi, mulai dari hal yang
sepele sekalipun, misalnya: cara berpakaian yang tidak rapi, tidak tepat waktu
datang ke sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) , berbicara pada
teman pada saat guru sedang menjelaskan pelajaran, keluar kelas saat jam
pelajaran belum habis, jajan disaat jam pelajaran berlangsung, terlambat datang ke
sekolah, ketidak ikutsertaan dalam upacara atau kegiatan sekolah, dan masih

4

banyaknya siswa yang pulang sebelum waktu pelajaran selesai (bolos), hingga
hal-hal yang cukup besar seperti merokok, rambut gondrong, membuat keributan
di kelas, melawan guru, berkelahi, mejeng di mall dengan menggunakan seragam
sekolah. E Mulyasa menambahkan,

bahwasanya, “siswa banyak melakukan

tawuran, perkelahian, pelanggaran moral yang dilakukan peserta didik sehingga
akan mengganggu efektifitas pembelajaran.”4
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kedisiplinan siswa itu sangat
diperlukan dalam melaksanakan peraturan-peraturan yang berlaku di sekolah, oleh
karena itu guru sebagai motivator diharapkan dapat memberikan motivasi yang
positif kepada siswa agar dapat meningkatkan kedisiplinan siswa khususnya bagi
guru PAI dalam menciptakan peserta didik yang memiliki kedisiplinan yang
tinggi dan memiliki sifat akhlakul karimah.
Disiplin yang diterapkan di SMP Nusantara plus ini tidak jauh berbeda
dengan disiplin yang ada di sekolah-sekolah pada umumnya. Disiplin-disiplin
yang ada tidak hanya berlaku untuk para siswa, melainkan juga bagi guru. Dengan
penanaman disiplin diharapkan siswa terbiasa untuk disiplin dan pada akhirnya
disiplin dapat menjadi karakter kepribadiannya. Namun dalam kenyataannya di
SMP Nusantara Plus ada siswa yang tidak disiplin dalam melaksanakan peraturanperaturan yang ada di sekolah. Misalnya siswa yang terlambat datang ke sekolah,
keluar kelas ketika jam pelajaran belum selesai, mengobrol dengan teman pada
saat guru menerangkan, mengikuti upacara sambil bercanda, membuat keributan
di luar jam sekolah, membawa telepon genggam ke sekolah, terlibat tawuran, dll.
Meskipun pelanggaran tata tertib sekolah tersebut angkanya tidak besar, namun
masalah tersebut tidak boleh dibiarkan dan harus segera diatasi. Oleh karena itu
diperlukan peran dari guru PAI dalam memotivasi disiplin siswa agar kedisiplinan
siswa meningkat.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk melakukan
penilitian yang akan dituangkan dalam skripsi dengan judul “Peran Guru PAI

4

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional : Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung:PT .Remaja Rosdakarya,2005), Cet.1,h.19

5

Sebagai Motivator dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di SMP
Nusantara Plus Ciputat”.

B. Identifikasi masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka timbul berbagai masalah
sebagai berikut:
1. Masih kurangnya peran guru PAI dalam menanamkan disiplin pada siswa
2. Kurangnya motivasi yang diberikan oleh guru dalam meningkatkan disiplin
siswa
3. Masih ada siswa yang melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam menjalankan
peraturan sekolah.
4. Peran guru PAI sebagai motivator dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di
SMP Nusantara Ciputat.

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Mengingat

luasnya

cakupan

yang berhubungan

dengan masalah

pendidikan, makla perlu diadakan pembatasan masalah. Agar pembatasan
dalam skripsi ini dapat terarah sehingga mempermudah dalam menjelaskan
permasalahan yang akan dibahas maka penulis akan membatasi pada Peran
Guru PAI sebagai motivator dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMP
Nusantara Ciputat.

2. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut: “Bagaimana peran guru PAI dalam memberikan motivasi kepada
siswa untuk meningkatkan disiplin siswa di SMP Nusantara Plus Ciputat”.

6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian adalah Untuk mengetahui peranan guru agama

sebagai

motivator dalam meningkatkan disiplin Siswa di SMP Nusantara Plus Ciputat.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah:
a. Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi guru PAI
sebagai motivator dalam upaya meningkatkan disiplin siswa
b. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan rujukan untuk kajian lebih
lanjut mengenai disiplin siswa.
c. Menambah

Khazanah

ilmu

pengetahuan

bagi

kedisiplinan, khususnya di SMP Nusantara Plus.

penulis

dalam

hal

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Kedisiplinan siswa
1. Pengertian Disiplin
Sebelum berbicara tentang disiplin, penulis akan mengemukakan arti dari
disiplin terlebih dahulu. Sebenarnya disiplin bukanlah kata Indonesia asli, ia
adalah kata serapan dari bahasa asing “disciphline” (Inggris), “disciplin”
(Belanda) atau “disciplina” (Latin) yang artinya “belajar”.1
Berbeda dengan itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “disiplin adalah
tata tertib (di sekolah, kemiliteran dan lain sebagainya), ketaatan atau kepatuhan
kepada peraturan atau tata tertib.”2
Sedangkan menurut istilah, para ahli mengemukakan berbagai macam
pandangannya dalam memakai istilah disiplin, diantaranya adalah:
Istilah “disiplin” mengandung banyak arti. Good Dictionary of Education
menjelaskan “disiplin” sebagai berikut:
a. Proses atau hasil pengarahan atau pengendalian keinginan, dorongan, atau
kepentingan demi sesuatu cita-cita atau untuk mencapai tindakan yang lebih
efektif dan dapat diandalkan.
b. Pencarian cara-cara bertindak yang terpilih dengan gigih, aktif, dan
diarahkan sendiri, sekalipun menghadapi rintangan dan gangguan.
1

Alex Sobur, Anak Masa Depan, (Bandung: Penerbit Angkasa, 1986),Cet.Ke-21,h.114
Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
(Jakarta: Balai Pustaka, 2002), ed.3, cet.2, h. 268.
2

7

8

c. Pengendalian perilaku murid dengan langsung dan otoriter melalui hukuman
dan hadiah.3
Menurut Tulus Tu’u, istilah disiplin berasal dari Bahasa Latin yaitu
“disciplina yang menujuk pada kegiatan belajar dan mengajar, yang berarti
mengikuti orang-orang untuk belajar di bawah pengawasan seorang pemimpin,
dalam kegiatan belajar tersebut bawahan dilatih untuk patuh dan taat pada
peraturan-peraturan

yang dibuat

oleh

pemimpin.”4

Sejalan

dengan

itu

Ensiklopedia Nasional Indonesia mengartikan istilah disiplin sebagai “sikap yang
menunjukkan kesediaan untuk menepati atau mematuhi dan mendukung
ketentuan, peraturan, nilai serta kaidah yang berlaku.”5
Selanjutnya, menurut Elizabeth B.Hurlock, “disiplin sama dengan hukuman,
disiplin digunakan hanya bila anak melanggar peraturan dan perintah yang
diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang berwewenang mengatur
kehidupan bermasyarakat, tempat anak itu tinggal.”6 Sedangkan, Menurut E
Mulyasa, “disiplin adalah suatu keadaan tertib, ketika orang-orang yang
bergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan
senang hati.”7 Selanjutnya, Nitisemito S.Alex dalam bukunya Menejemen
Personalia merumuskan pengertian disiplin adalah: “sebagai suatu sikap,tingkah laku
dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan baik yang tertulis maupun tidak.”8
Lebih lanjut, disiplin menurut Soedijarto ialah “kemampuan untuk
mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu tindakan yang
tidak sesuai dan bertentangan dengan sesuatu yang telah ditetapkan dan
melakukan sesuatu yang mendukung dan melindungi sesuatu yang telah
ditetapkan.”9 Menurut Habiburrahman El Shirazi dalam sebuah tulisannya di
harian Seputar Indonesia, yang mengutip pendapat Soegeng Prijodarminto
mengartikan disiplin sebagai berikut: Suatu kondisi yang tercipta dan
3

Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis untuk Praktek Profesional,
(Bandung:Angkasa,1993), Cet.1,h.109.
4
Tulus Tu’u, Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. (Jakarta:PT Gramedia
Widia Sarana Indonesia.2004)h.30
5
Ensiklopedi Nasional Indonesia, (Jakarta:PT.Delta Pamungkas,2004), jilid IV,h.93.
6
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 2.Terj dari Child Development Sixth
Edition, oleh dr. Med. Meitasari Tjandrasa, (Jakarta: Erlangga,), h. 82.
7
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kemandirian Guru
dan Kepala Sekolah, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), h. 191.
8
Nitisemito S.Alex, Menejemen Personalia, (Jakarta: Balai Aksara,1984), cet.Ke-5, h. 1999
9
Soedijarto, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relefan Dan Bermutu, (Jakarta: Balai
Pustaka), cet.1,h.163

9

terbentuk melalui serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai
ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan atau ketertiban. Karena sudah
menyatu dalam dirinya sehingga, sikap atau perbuatan yang dilakukannya
bukan lagi atau sama sekali tidak dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya
akan membebani dirinya bilamana ia berbuat tidak sebagaimana lazimnya. 10
Berbeda dengan hal di atas, Nurcholish Madjid mengatakan bahwa “ditinjau
dari sudut ajaran keagamaan, disiplin adalah sejenis perilaku taat atau patuh yang
sangat terpuji.”11
Piet A. Sahertian menjelaskan bahwa “disiplin mempunyai makna dan
konotasi yang berbeda-beda. Ada yang mengartikan disiplin sebagai hukuman,
pengawasan, kepatuhan, latihan dan kemampuan tingkah laku”.12
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah
segala peraturan atau tata tertib yang telah ditetapkan oleh setiap lembaga baik
keluarga, sekolah, masyarakat dan lain-lain. Dimana yang seluruhnya itu harus
dijalankan, ditegakkan dan dipatuhi oleh semua individu yang ada di lembaga
tersebut, sehingga kedisiplinan dapat berjalan dengan baik. Maka segala tujuan
yang diharapkan dan dicita-citakan akan dapat tercapai secara maksimal.
Mengenai pengertian siswa, Sardiman berpendapat bahwa, siswa adalah
Salah satu komponen manusiawi yang menempati posisi sentral dalam proses
belajar-mengajar. Di dalam proses belajar-mengajar, siswa sebagai pihak
yang ingin meraih cita-cita, memiliki tujuan dan kemudian ingin
mencapainya secara optimal. Dalam berbagai statement dikatakan bahwa
siswa dalam proses belajar-mengajar sebagai kelompok manusia yang belum
dewasa dalam artian rohani maupun jasmani. Oleh karena itu memerlukan
pembinaan, pembimbingan dan pendidikan serta usaha orang lain yang
dipandang sudah dewasa, agar anak didik dapat mencapai tingkat
kedewasaannya.13
Menurut Al-Rasyid, Samsul Nizar peserta didik merupakan “orang yang
belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih
perlu dikembangkan. Peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki
Habiburrahman El Shirazi, “Mencintai Disiplin” dalam Seputar Indonesia, (Jakarta: 11
Februari 2010), h.32.
11
Nurcholish Madjid, Masyarakat Religius, (Jakarta: Paramadina, 1997), h. 87.
12
Piet A. Sahertian, Dimensi Administrasi Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional, 1994),
Cet ke-1, h. 126
13
Sardiman, A. M., Interaksi dan Motivasi belajar-Mengajar, (Jakarta:PT Raja Grafindo
Persada,2003), Cet.10,h.112.
10

10

fitrah jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik
bentuk, ukuran, maupun pertimbangan pada bagian-bagian lainnya.”14
Selain pendapat di atas, Abudin Nata dalam bukunya Filsafat Pendidikan
Islam, mengemukakan: Peserta didik dalam bahasa Arab dikenal tiga istilah
yang sering digunakan untuk menunjukkan pada anak didik. Tiga istilah
tersebut adalah murid yang secara harfiyah berarti orang yang menginginkan
atau membutuhkan sesuatu, tilmidz jamaknya talamidz yang berarti murid,
dan thalib al-„ilm yang menuntut ilmu, pelajar, atau mahasiswa. Ketiga istilah
tersebut seluruhnya mengacu kepada seseorang yang tengah menempuh
pendidikan. Perbedaannya hanya terletak pada penggunaannya pada
tingkatannya.15
Di dalam bukunya yang berbeda, Abudin Nata menyebutkan bahwa dari
“ketiga istilah yang telah beliau kemukakan seperti di atas, maka anak didik
merupakan semua orang yang belajar, baik pada lembaga pendidikan formal
maupun lembaga pendidikan non formal.”16
Dari pengertian disiplin dan siswa di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin
siswa adalah kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib
yang berlaku di sekolah. Sehingga dapat membiasakan perilaku yang disiplin, dan
tidak melanggar peraturan-peraturan yang ada di sekolah.
Selanjutnya, penulis membahas tentang pengertian disiplin sekolah.
Menurut Oteng Sutisna disiplin sekolah adalah: “sebagai kadar karakteristik dan
jenis keadaan serba teratur pada suatu sekolah tertentu atau cara-cara dengan
mana keadaan teratur itu diperoleh, pemeliharaan kondisi yang membantu kepada
pencapaian dengan efisiensi fungsi-fungsi sekolah.”17
Selanjutnya dari Dictionary of Education, yang dikutip oleh E Mulyasa
menyatakan disiplin sekolah adalah “the maintenance of conditions condusive to
the efficient achievement of the school’s function.”18

14

Al-Rasyid, Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan
Praktis, (Jakarta:PT Ciputat Press, 2005), Cet Ke-2,h.47
15
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:Logos Wacana Ilmu,1997),cet.3,h.79
16
Abudin Nata, Pendidikan Dalam Perspektif Hadits, (Jakarta:UIN
Press,2005),cet.1,h.249
17
Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan: Dasar Teoritis Untuk Praktek Professional,
(Bandung:Angkasa,1989),Cet.Ke-10,h.110
18
E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum …., h. 192.

11

Berdasarkan definisi yang dikutip oleh E Mulyasa, penulis memberi
kesimpulan bahwa disiplin sekolah dapat diartikan sebagai keadaan tertib, ketika
guru, kepala sekolah dan staf, serta peserta didik yang tergabung dalam sekolah
tunduk kepada peraturan yang telah ditetapkan dengan senang hati.
Dari beberapa pendapat di atas tentang disiplin sekolah, penulis
menyimpulkan bahwasanya disiplin di sekolah bukan bermaksud mempersulit
kehidupan peserta didik dan bukan pula menghalangi kesenangan orang-orang
yang tergabung dalam lembaga tersebut. Akan tetapi dengan adanya disiplin yang
konsisten maka sekolah dapat menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan
yang mampu meningkatkan kualitas tingkah laku siswa dan orang-orang yang
tergabung dalam lembaga tersebut.

2. Macam-macam Disiplin
Pembahasan berikutnya akan membahas tentang beberapa macam disiplin
yang akan dikemukakan oleh para ahli, diantaranya:
Menurut Piet A. Sahertian, disiplin dapat terbagi dalam tiga macam
yaitu:
a. Disiplin tradisional adalah disiplin yang bersifat menekan, menghukum,
mengawasi, memaksa dan akibatnya merusak penilaian yang terdidik.
b. Disiplin modern, pendidikan hanya menciptakan situasi yang
memungkinkan agar peserta didik dapat mengatur dirinya. Jadi,situasi yang
akrab, hangat, bebas dari rasa takut sehingga terdidik mengembangkan
kemampuan dirinya.
c. Disiplin liberal, disiplin yang diberikan sehingga anak merasa memiliki
kebebasan tanpa batas.19
Menurut Soedijarto, dalam bukunya Menuju Pendidikan Nasional yang
Relevan dan Bermutu, dalam kehidupan sehari-hari disiplin terbagi menjadi
tiga macam yaitu: Disiplin diri, disiplin belajar, dan disiplin kerja. Seseorang
dikatakan memiliki disiplin diri yang kuat bila ia dapat mengendalikan
dirinya sendiri. Seseorang anak yang menginjak dewasa akan memiliki
disiplin yang kuat apabila dalam proses perkembangannya memperoleh
pengalaman yang positif dari usahanya melaksanakan disiplin, tetapi

19

Piet A. Sahartian, Dimensi Administrasi Pendidikan, (Surabaya:Usaha
Nasional,1994),Cet.Ke1.h.127

12

sebaliknya akan goyah kalau dalam perjalanan menuju kedewasaan dalam
mencoba berdisiplin.20
Menurut bukunya Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar
disiplin dibedakan empat macam, yaitu: Disiplin buatan guru, disiplin buatan
kelompok, disiplin yang dibuat oleh diri sendiri dan disiplin karena tugas.
Disiplin yang dibuat oleh guru tersebut menurut Amir Achin dimaksudkan
untuk menciptakan situasi yang baik demi berlangsungnya proses belajar
mengajar. Situasi yang berstruktur itu (the structured situation) diciptakan dan
dibina serta dikembangkan oleh guru yang baik, tanpa melupakan peserta
didik. Menurut Amir Achin, kelompok peserta didik ini memiliki peran
penting dalam memusatkan nilai dan norma masyarakat kepada setiap diri
peserta didik. Dalam kaitan ini Amir achin berpendapat bahwa: apabila proses
ini bertumbuh terus di mana anak itu semakin menjadi remaja yang
bertanggung jawab dan matang berfikir, maka ia akan mulai berfikir
bagaimana menyumbang dan mengembangkan serta bertanggung jawab
terhadap kelompok dan akhirnya terhadap masyarakat lingkungannya. Amir
Achin berpendapat bahwa, yang terpenting bagi seorang murid adalah
bagaimana mempersiapkan dan memberikan tugas yang sesuai dengan tingkat
kematangan siswa, yang dapat memotivasi siswa agar di dalam mengerjakan
tugas para siswa dapat mendisiplinkan diri sehingga tujuan intruksional dapat
tercapainya dan pembentukan keadilan disiplin pribadi dapat terbentuk secara
wajar dan sehat.21
Sedangkan menurut John Pearce menyatakan macam-macam disiplin
sebagai berikut:
a. Keras dan otoriter.
Orang tua yang terlalu keras berisiko mempunyai anak yang pendiam yang
mungkin pada masa-masa selanjutnya akan menjadi anak yang pemberontak
dan mendendam terhadap orangtua serta orang lain yang berkuasa.
b. Tidak mau repot dan murah hati.
Orang tua yang lembut dan murah hati, anak biasanya merasa bahwa ia
dapat melakukan sebagian besar yang ia inginkan dan mendapatkan apa
yang ia inginkan.
c. Tidak konsisten dan tidak terduga.
Ini merupakan disiplin yang paling umum dan yang paling tidak efektif.
Namun, kita semua melakukannya karena tidaklah mungkin untuk
senantiasa bersikap konsisten. Karena anak tidak dapat menduga apa yang

20

Soedijarto ,Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu, (Jakarta:Balai
Pustaka, 1989), Cet.Ke-1,h.164
21
Amir Achin, Pengelolaan Kelas dan Interaksi Belajar Mengajar, (Ujung
Pandang:IKIP. Ujung Pandang Press,1990)Cet.Ke-2,h.62.

13

akan terjadi bila ia berbuat salah, ia menjadi kacau dan bingung dan
akhirnya biasanya melakukan apa saja yang ia sukai.22
Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa guru dapat memilih
macam-macam disiplin yang sesuai dengan kepribadian siswa tersebut. Sehingga
dengan disiplin yang di terapkan oleh guru, siswa diharapkan akan mampu
mengendalikan diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan atau tata tertib
yang berlaku baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat sekitar.

3. Tujuan dan Fungsi Disiplin.
a. Tujuan Disiplin.
Menurut T. Rusyadi dalam bukunya Menjadi Guru Tauladan, tujuan
dari kedisiplinan adalah Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,
dapat menuntaskan materi pelajaran (kognitif) yang telah ditentukan,
menanamkan sikap disiplin kepada para siswa (afektif), dan dapat
meminimalisir perilaku indisipliner yang dilakukan siswa dalam proses
belajar mengajar, dan agar siswa terampil dan terbiasa melakukan
kewajiban-kewajibannya (psikomotorik).23
Pendapat lainnya adalah dari Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi yang
mengatakan bahwa tujuan dari disiplin adalah sebagai berikut:
1) Membantu guru agar dapat menyesuaikan diri dengan keadaan
lingkungannya.
2) Membuat guru agar patuh terhadap peraturan dan kepentingan serta
kelancaran tugas di sekolah.
3) Membiasakan guru agar terbiasa hidup dengan baik, positif dan
bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya.
4) Mengontrol tingkah laku guru agar tugas-tugas di sekolah dapat berjalan
secara maksimal.24
Tholib Kasan dalam bukunya Teori dan Aplikasi Administrasi
Pendidikan mengemukakan disiplin mempunyai dua macam tujuan, yaitu:

22

John Pearce, Mengatasi Perilaku Buruk dan Menanamkan Disiplin pada Anak,
(Jakarta:Arcan,1999)h.43-44.
23
T. Rusyadi, Menjadi Guru Tauladan, (Cianjur: Kendala Cipta, 1996), h. 151
24
Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta:Rineka
Cipta,2004),Cet.Ke-2,h.133-134.

14

1) Membantu anak untuk menjadi matang pribadinya dan mengembangkan
dari sifat-sifat ketergantungan menuju tidak ketergantungan. Sehingga ia
mampu berdiri di atas tanggung jawab sendiri.
2) Membantu anak untuk mampu mengatasi, mencegah timbulnya problemproblem disiplin, dan berusaha menciptakan situasi yang favorable bagi
kegiatan belajar mengajar, di mana mereka mentaati segala peraturan
yang telah ditetapkan. Dengan demikian diharapkan bahwa disiplin dapat
merupakan bantuan kepada siswa agar mereka mampu berdiri sendiri
(help for self help).25
Kemudian menurut Elizabeth B. Hurlock dalam bukunya Perkembangan
Anak “disiplin mempunyai tujuan untuk membentuk perilaku sedemikian rupa
hingga ia akan menyesuaikan dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok
budaya, tempat individu itu diidentifikaksi.”26
Menurut E. Mulyasa, “disiplin bertujuan untuk membantu peserta didik
menemukan dirinya, mengatasi, mencegah timbulnya problem-problem
disiplin, serta berusaha menciptakan situasi yang menyenangkan dalam
pembelajaran sehingga mereka mentaati segala peraturan yang telah
ditetapkan.”27
Dari penjelasan di atas penulis menyimpulkan bahwa dengan adanya
tujuan

disiplin

kemungkinan

diperoleh

ketertiban,

keamanan,

serta

keberhasilan penyelenggaraan program-program sekolah dan Siswa belajar
hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat baginya serta
lingkungannya.

b. Fungsi Disiplin
Dalam dunia pendidikan, disiplin menjadi prasyarat dalam pembentukan
sikap, prilaku dan tata kehidupan berdisiplin. Menurut Elizabeth. B. Hurlock,
fungsi disiplin sebagai berikut:
1) Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang
boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
2) Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan
mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih
25

Tholib Kasan, Teori dan Aplikasi Administrasi Pendidikan, (Jakarta:Studia Press)h.80
Elizabeth Hurlock, Perkembangan Anak…,h.82
27
E. Mulyasa, Implementasi …., h. 192.

26

15

sayang dan penerimaan. Hal ini esensial bagi penyesuaian yang berhasil
dan kebahagiaan.
3) Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi, sebagai motivasi
pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan
darinya.
4) Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani – “suara dari
dalam” pembimbing dalam pengembalian keputusan dan pengendalian
perilaku.28
Menurut Alex Sobur dalam bukunya Pembinaan Anak dalam Keluarga,
mengemukakan fungsi disiplin yang utama adalah “mengejar mengendalikan
diri, menghormati dan mematuhi otoritas. Disiplin diperlukan dalam mendidik
anak secara tegas terhadap hal yang harus dilakukan dan yang dilarang.”29
Selain pendapat di atas, Nakila mengemukakan fungsi disiplin, yaitu:
1) Menumbuhkan kepekaan.
Anak tumbuh menjadi pribadi yang peka/berperasaan halus dan percaya
pada orang lain.
2) Menumbuhkan kepedulian
Anak jadi peduli pada kebutuhan dan kepentingan orang lain. Disiplin
membuat anak memiliki integritas, selain dapat memecahkan masalah
dengan baik dan mudah mempelajari sesuatu.
3) Mengajarkan keteraturan
Anak jadi memiliki pola hidup yang teratur dan mampu mengelola
waktunya dengan baik.
4) Menumbuhkan ketenangan
Penelitian menunjukkan, bayi yang tenang/jarang menangis ternyata
lebih mampu memperhatikan lingkungan sekitarnya dengan baik dan bisa
cepat berinteraksi dengan orang lain.
5) Menumbuhkan sikap percaya diri
Sikap ini tumbuh saat anak diberi kepercayaan untuk melakukan sesuatu
yang mampu ia kerjakan sendiri.
6) Menumbuhkan kemandirian
Dengan kemandirian anak dapat diandalkan untuk bisa memenuhi
kebutuhan dirinya sendiri. Anak juga dapat mengeksplorasi
lingkungannya dengan baik
7) Menumbuhkan keakraban
Anak jadi cepat akrab dan ramah terhadap orang lain, karena
kemampuannya beradaptasi lebih terasah.
8) Membantu perkembangan otak
28

Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak Jilid 2, Terj. Child Development Sixth
Edition, oleh dr. Med. Meitasari Tjandrasa…., h. 83.
29
Alex Sobur, Pembinaan Anak dalam Keluarga, (Jakarta:BPK Gunung
Mulia,1988),h.84

16

Pada usia 3 tahun pertama, pertumbuhan otak anak sangat pesat. Di usia
ini, ia menjadi peniru perilaku yang sangat piawi.
9) Membantu anak yang sulit, misalnya anak yang hiperaktif,
perkembangan terlambat. Dengan menerapkan disiplin, maka anak
dengan kebutuhan khusus tersebut akan mampu hidup lebih baik.
10) Menumbuhkan kepatuhan
Hasil nyata dari penerapan disiplin adalah kepatuhan. Anak akan
menuruti aturan yang diterapkan orang tua atas dasar kemauan sendiri.30
Berdasarkan penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa
fungsi kedisiplinan adalah membuat siswa menjadi lebih tertib dan teratur
dalam menjalankan kehidupannya, serta siswa juga dapat mengerti bahwa
kedisiplinan itu amat sangat penting bagi masa depannya kelak, karena dapat
membangun kepribadian siswa yang kokoh dan bisa diharapkan berguna bagi
semua pihak. Dengan disiplin yang dimiliki siswa diharapkan akan dapat
mengendalikan perilakunya serta dapat membimbing, mengarahkan serta
menjadi pendorong bagi anak dalam mencapai apa yang menjadi tujuan dan
cita-citanya.

4. Cara Menanamkan Disiplin
Disiplin harus ditanamkan dan ditumbuhkan dihati para siswa, sehingga
disiplin itu akan tumbuh dari hati sanubari anak itu sendiri. Adapun langkahlangkah untuk menanamkan disiplin pada anak menurut Alisuf Sabri adalah:
a. Dengan Pembiasaan
Menurut Alisuf Sabri, Anak dibiasakan hidup atau melakukan sesuatu
dengan tertib, baik dan teratur. Misalnya berpakaian rapi, masuk dan keluar
kelas dengan teratur, menyimpan tas dan sepatu pada tempatnya dengan baik,
makan dan tidur pada waktunya, dan sebagainya sampai semua hal biasa
dilakukan dengan tertib dan teratur.31
Selain yang dicontohkan oleh Alisuf Sabri, ada contoh lain dalam
membiasakan anak untuk disiplin, seperti: siswa diharuskan memakai
seragam lengkap sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan, maka wujud
dari pembiasaan adalah adanya pemeriksaan kerapian berpakaian yang
dilakukan oleh guru kepada siswa. Contoh lainnya adalah pelaksanaan
upacara bendera. Karena dalam pelaksanaan upacara bendera banyak hal
30

Nakila , Manfaat Disiplin, http://axel-nakila-hiariej.blogspot.com/2009/04/15-manfaatdisiplin.html
31
Alisuf Sabri, Ilmu Pendidikan ….,h.40

17

yang jika dijalankan dengan baik maka hal itu akan mempunyai pengaruh
yang baik untuk kedisiplinan. Seperti deretan barisan yang lurus, sikap
sempurna yang benar, kepatuhan memenuhi aba-aba, tidak berbicara sendiri
ketika pembina upacara menyampaikan amanat dan mendengarkan dengan
tertib semua pengumuman sekolah adalah sejumlah perbuatan yang dilakukan
oleh siswa dalam upacara yang akan mendatangkan rasa hormat kepada para
guru dan menjalankan peraturan yang telah ada.32
b. Contoh dan tauladan
Menurut Alisuf Sabri, Untuk menanamkan disiplin agar anak terbiasa hidup
dan melakukan segala sesuatu dengan tertib, baik dan teratur perlu didukung
oleh adanya contoh dan teladan dari pihak orang tua di rumah dan dari guru di
sekolah. Tanpa adanya contoh dan tauladan dari pihak orang tua dan guru
maka membiasakan yang ditanamkan kepada anak akan dilakukan dengan rasa
terpaksa sehingga tidak mungkin d

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

91 2521 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 649 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 557 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 356 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 482 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 815 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 724 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 452 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 656 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 803 23