Tinjauan Pustaka Visi, Misi dan Tujuan PKPU Visi:

d. Teknik Analisis Data

Dalam menganalisis data penulis menggunakan metode deskriptif analisis, yaitu suatu teknik analisis data; di mana penulis terlebih dahulu memaparkan semua data yang diperoleh dari pengamatan, kemudian menganalisisnya dengan berpedoman kepada sumber-sumber yang tertulis.

e. Teknik Penulisan

Dalam penulisan ini, penulis berpedoman pada buku. Pedoman penulisan karya ilmiah skripsi, tesis, dan disertasi, yang disusun oleh tim penulis UIN JAKARTA dan di terbitkan oleh CEQDA UIN Jakarta pada tahun 2007.

E. Tinjauan Pustaka

Dari beberapa skripsi yang penulis baca, banyak pendapat yang harus diperhatikan dan menjadi perbandingan selanjutnya. Adapun setelah penulis mengadakan suatu kajian kepustakaan, akhirnya penulis menemukan beberapa skripsi yang membahas tentang zakat, judul-judul skripsi tersebut adalah: Skripsi ditulis oleh Ahmad Fahmi Azzahra Mahasiswa Manajemen Dakwah 2008, “Pendayagunaan Dana Zakat Pada Lembaga Amil Zakat AL-Azhar Peduli Umat”. Pada penulisan skripsi tersebut sang peneliti mendapatkan hasil bahwa dana zakat dapat membantu dalam upaya pengembangan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pemerataan dan membantu stabilitas politik ekonomi. Skripsi berikutnya ditulis oleh Novitasari Mahasiswa Manajemen Dakwah 2010, “Manajemen Pos Keadilan Peduli Umat PKPU Dalam Pengelolaan Zakat Online”. Pada skripsi tersebut sang peneliti mendapatkan hasil penelitiaan bahwa pengelolaan zakat online dapat memudahkan para muzakki dalam membayar zakat, serta adanya bentuk-bentuk zakat online yang dilakukan PKPU seperti Zakat Via ATM Banking, Zakat Internet, Zakat SMS, dan Zakat melalui kantor Pos. Dilihat dari beberapa judul skripsi diatas, berbeda dengan penelitian- penelitian sebelumnya. Penelitian kali ini penulis menggambarkan bagaimana pendayagunaan dana ZIS Pada Pos Keadilan Peduli Umat dalam hal gizi masyarakat. Dalam hal ini dari segi judul berbeda, baik itu dari segi pembahasan yang diteliti pun berbeda, yaitu materi yang penulis bahas tentang “Pendayagunaan Dana ZIS Pada Pos Keadilan Peduli Umat PKPU Dalam Upaya Meningkatkan Gizi Masyarakat Bintaro – Tangerang Selatan Melalui Program Ibu Sadar Gizi BUDARZI.”

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan ini terdiri dari lima bab, adapun pembahasannya secara rinci adalah sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah, Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Tinjauan Pustaka dan Sistematika Penulisan.

BAB II : LANDASAN TEORI

Pengertian Zakat, Infak, dan Shadaqah Dasar Hukumnya, Tujuan dan Hikmah Zakat, Infak dan Shadaqah, Pengertian Pendayagunaan, Bentuk dan Sifat Pendayagunaan, Pendayagunaan Dana Zakat Reinterpretasi 8 Asnaf, Pengertian, Fungsi, dan Sifat Gizi Masyarakat, Ruang Lingkup Gizi Masyarakat, Status Gizi Masyarakat, Kelompok Rentan Gizi, Masalah Gizi di Indonesia

BAB III : GAMBARAN UMUM TENTANG POS KEADILAN PEDULI

UMAT DAN PROGRAM IBU SADAR GIZI Latar Belakang Berdirinya Pos Keadilan Peduli Umat PKPU, Visi Misi dan Tujuan Pos Keadilan Peduli Umat PKPU, Struktur Organisasi Pos Keadilan Peduli Umat PKPU, Program Kerja Pos Keadilan Peduli Umat PKPU, Pengertian Program Ibu Sadar Gizi BUDARZI, Tujuan Program Ibu Sadar Gizi BUDARZI

BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN

Pendayagunaan Dana ZIS Pada Pos Keadilan Peduli Umat Dalam Meningkatkan Gizi Masyarakat, Peran Pos Keadilan Peduli Umat Dalam Meningkatkan Status Gizi Masyarakat

BAB V : PENUTUP

Kesimpulan dan saran. 15

BAB II TINJAUAN TEORITIS

PENDAYGUNAAN ZAKAT, INFAQ, SHADAQAH ZIS DAN GIZI A. Pendayagunaan Zakat, Infak dan Shadaqah

1. Pengertian Zakat, Infak, Shadaqah dan Dasar Hukumnya

a. Pengertian Zakat dan Dasar Hukumnya Zakat berasal dari kata bentukan kata zaka yang berarti suci, baik, berkah, tumbuh dan berkembang. 1 Dalam kitab-kitab hukum islam perkataan zakat itu diartikan dengan suci, tumbuh dan berkembang serta berkah. Dan jika pengertina ini dihubungkan dengan harta, maka menurut ajaran islam, harta yang dizakati itu akan tumbuh dan berkembang, bertammbah karena suci dan berkah membawa kebaikan bagi hidup dan kehidupan bagi yang punya harta. 2 Sedangkan menurut istilah, zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. 3 Sehingga kaitan makna zakat secara bahasa dan istilah mempunyai makna bahwa setiap harta yang telah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, tumbuh dan berkembang. 1 Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, Shadaqah Jakarta: Gema Insani Press, 1998, Cet ke-1, h. 13 2 M.Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf Jakarta: UI-press, 1998, h. 41 3 Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis Tentang Zakat, Infak, Shadaqah, h. 13 Hubungan antara pengertian menurut bahasa dengan pengertian menurut istilah, yaitu bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan menjadi berkah, tumbuh, berkembang, suci, dan beres baik. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi pemerataan karunia Allah SWT sebagian fungsi sosial ekonomi sebagai perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusiaan dan keadilan, pembuktian persaudaraan islam, pengikat persatuan umat, sebagi pengikat batin antara golongan kaya dengan miskin, zakat sebagi sarana membangun kedekatan antara yang kuat dengan yang lemah, mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera, rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi tentram, aman kahir bathin. Dalam kehidupan masyarakat bahaya komunisme, sebab dengan fungsi ganda zakat, kesenjangan sosial yang dihadapi seperti kapitalisme maupun sosialisme dengan sendirinya akan terkikis menuju terciptanya tatanan masyarakat yang baldatun thoyibatun wa rabbun ghafur. Hasan Rifa’i, 1996, yang dikutip oleh Lili Bariadi dkk. 4 Zakat dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 82 kali. M. Firdaus Baqi,tt Ini menunjukkan hukum dasar zakat yang sangat kuat, antara lain:  ð                                4 Lili Bariadi et.al, Zakat dan Wirausaha Jakarta: CED, 2005, h. 6 Artinya: “Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Apapun yang diusahakan oleh dirimu, tentu kamua akan mendapat pahalanya di sisi Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui kegiatan apapun yang kamu kerjakan”. Al-Baqarah: 110                  Artinya: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka merka itu saudara-saudaramu seagama. Dan kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui”. At-Taubah:11                             Artinya: “sesungguhnya zakat diperuntukan itu hanya kepada orang fakir, miskin pengurus zakat, para muallaf untuk memerdekakan budak, orang yang berhutang, untuk jalan allah dan orang yang sedang perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah maha mengetahui lagi mah bijaksana”. At-Taubah: 60 Dari uraian nash diatas dapat dipahami mengenai kewajiban mengeluarkan zakat. Pemahaman ini berdasarkan pada kejelasan sighat berupa redaksi dalam bentu fi’il amar yang berarti kewajibanperintah dan dalil berupa petunjuk dalil yang bersifay qothi’i. Zakat merupakan salah satu rukun islam dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya syariat islam. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib Fardhu atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah seperti shalat, haji, dan puasa yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah, sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan umat manusia. b. Pengertian Infaq Infak adalah pengeluaran sukarela yang dilakukan seseorang setiap kali ia memperoleh rizki, sebanyak yang kehendakinya. 5 Ditinjau dari segala bahasa infaq berasal dari kata Anfaqa-yunfiqu-anfaaqa yanga berarti mengeluarkan sesuatu harta. Menurut kamus bahasa Indonesia infaq berarti “pemberian sumbangan harta dan sebagainya selain zakat wajib untuk kebaikan. Sedangkan dalam buku pengelolaan ZIS propinsi jawa barat, infaq adalah kewajiban pengeluaran harta kekayaan seorang muslim, sejumlah yang dikehendaki secara ikhlas tanpa memperhatikan nishabnya dan disalurkan menurut syariat islam. Perbedaan infaq dengan zakat adalah: jika zakat memiliki nishabnya sedangkan infaq tidak memakai syarat nishabnya, zakat dikeluarkan oleh orang-orang yang memang sudah wajib zakat muzakki kepada para mustahik orang yang berhak 5 M. Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf Jakarta: UI-Press, 1998 h. 23 menerima zakat, sedangkan infaq dikeluarkan oleh orang yang beriman baik itu orang yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, apakah disaat yang diberikan kepada keluarga maupun orang lain. c. Pengertian Shadaqah Dalam syariat islam Shadaqah memiliki arti yang sama dengan infaq, akan tetapi dalam hal cukupnya berbeda, jika infaq lebih mengarah kepada pengertian materil, sedangkan shadaqah memiliki cukupan yang lebih luas menyangkut hal-hal yang bersifat materil dan immateril. Perbedaan shadaqah dan zakat ; shadaqah berarti memberi termasuk memberi derma untuk mematuhi hukum dimana kata zakat digunakan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Zakat telah disebut juga dengan shadaqah karena zakat merupakan sejenis derma yang diwajibkan, hanya saja kita dapat bedakan bahwa zakat adalah pemberian wajib sedangkan shadaqah adalah sukarela, zakat dikumpulkan oleh pemerintah sebagai pungutan wajib sedangkan shadaqah lainnya dibayarkan secara sukarela. 6 Jadi shadaqah adalah suatu derma bersifat sukarela, yang dapat meliputi material maupun immaterial. Tidak ada batasan wajib harta bagi muslim untuk mengeluarkan shadaqah, sebagaimana zakat yang memiliki nishab harta untuk mengeluarkannya. Selama tujuan shadaqah untuk pemberdayaan umat dan agama, siapapun diperbolehkan untuk melaksanakannya. 6 Afzalur Rahman, Doktrin Ekonomi Islam, Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa, 2002, jilid III, h. 241

2. Tujuan dan Hikmah Zakat, Infaq, Shadaqah a. Tujuan zakat, infaq dan shadaqah

Tujuan zakat yang dinisbatkan kepada si pemberi, orang kaya yang wajib mengeluarkan zakat. Tujuan zakat yang dihubungkan dengan si penerima dan orang yang memnfaatkannya, yaitu orang yang mempunyai kebutuhan yang merupakan sasaran zakat. 1 Bagi Pemberi a Mensucikan para mukmin dari penyakit bakhil yang menjadi penghalang bagi keberuntungan dan membiasakan para mukmin bersifat murah tangan yang membawa kepada keberuntungan.QS. Al-Hasyr: 9 b Mendekatkan para mukmin kepada Allah SWT, dan menimbulkan perasaan bahwa kebahagiaan itu adalah dapat mengeluarakan harta di jalan Allah SWT. c Membawa para mukmin mensyukuri tuhan yang telah memelihara dari meminta-minta dan memberi harta yang banyak kepadanya, hingga terhindarlah ia menjadi orang fakir. Barang siapa mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah karena rasa syukur kepada nimat, niscaya mendapat tambahan dari Allah SWT. d Membawa para mukmin menepati tauhidnya dan tasyahudnya, apabila orang gemar mengeluarkan harta yang menjadi hiasan hidupnya dijalan Allah SWT, menjadilah suatu bukti tentang kebenaran tauhidnya dan kebenaran syahadatnya. QS. Ibrahim: 7 e Menghindari jalan yang gelap dan tidak berujung dan menggariskan tujuan hidup untuk mencari ridha Allah SWT. f Menyedikitkan kecurangan yang membawa kesesatan. QS. Al-Alaq: 6-7 g Berperangai dengan perangai Allah SWT. Yaitu mencurahkan kebajikan dan rahmat kepada sesama manusia. h Memelihara diri jatuh kelembah kikir yang merugikan i Memindahkan orang yang menerima nikmat itu ke derajat yang lebih baik yaitu dari derajat kekurangan ke derajat mencukupi. j Memelihara harta dari hilang percuma, jelasnya harta yang kita berikan di jalan Allah SWT. Itulah yang akan tinggal sepanjang masa, di dunia kita mendapat pujian di akhirat memperoleh nikmat. k Membentengkan diri dari binasa. l Menolak bencana kemelaratan, apabila orang fakir merasa diri tidak diperhatikan oleh orang kaya, timbullah dendam dan dengki kepada orang- orang kaya itu dan amat mudah untuk dihasut m Menunaikan kewajiban dan melaksanakan anjuran Allah SWT untuk menitipkan harta-Nya kepada seorang hamba-Nya. Orang-orang fakir itu adalah orang-orang yang dibelanjai Allah SWT. Maka apabila orang-orang kaya menyampaikan harta-harta Allah SWT kepada orang-orang fakir itu, berarti ia telah menunaikan tugasnya. n Mengobati penyakit hati dan cinta dunia. o Menarik rasa cintasimpati. 7 2 Bagi Penerima a Memelihara orang fakir dan orang miskin dari kehinaan kefakiran dan kemiskinan. b Menetapkan orang yang dijinakkan hatinya atas iman serta membangkitkan yang lain untuk masuk ke dalam islam. c Menolong orang-orang yang berhutang untuk mencapai kemerdekaannya. d Membantu orang-orang yang berhutang untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi. e Menyokong orang-orang yang berjihad di jalan Allah SWT. f Menguatkan persekutuan manusia. g Memenuhi hajat orang-orang yang menyelesaikan urusan zakat. h Memudahkan ibnu sabil dalam perjalanannya.

b. Hikmah Zakat, Infaq dan Shadaqah

Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, transedental dan horizontal. Oleh karena itu zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan manusia, terutama umat islam. Zakat memilki banyak hikmah, baik yang berkaitan dengan 7 Yusuf Qardawi, Hukum Zakat, Jakarta; Litera Antar Nusa, 1991,h. 848 hubungan manusia dan tuhannya maupun hubungan sosial kemasyarakatan di antara manusia, antara lain; 1. Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa dan lemah papa, untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajiban terhadap Allah SWT. 2. Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri manusia yang biasa timbul di kala ia melihat orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup apalagi mewah, sedang ia sendiri tidak punya apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka orang kaya kepadanya. 3. Dapat mensucikan diri pribadi dari kotoran dosa, memurnikan jiwa menumbuhkan akhlak mulia, menjadi rendah hati, memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi dan mengikis sifat bakhil kikir dan serakah menjadi tabiat manusia, sehingga dapat menjadi ketenangan bathin karena terbebas dari tuntunan Allah SWT dan tuntunan kewajiban kemasyarakatan. 4. Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan islam yang berdiri atas prinsip-prinsip; Ummatan wahidah umat yang satu, musawah kesamaan derajat, hak dan kewajiban, ukhuwah islamiah persaudaraan islam, dan takaful ijtima’i tanggungjawab bersama. 5. Menjadi unsur penting dalam mewujudkan keseimbangan dalam distribusi harta social distribution keseimbangan dalam kepemilikan harta soownership, dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat. 6. Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi ekonomi atau pemerataan karunia Allah dan merupakan perwujudan solidaritas sosial, pembuktian persaudaraan islam, pengikat persaudaraan umat dan bangsa sebagai penghubung antara golongan kuat dan lemah. 7. Dapat mewujudkan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan lainnya rukun, damai, harmonis, aman dan tentram lahir dan bathin. Dalam masyarakat seperti itu tidak akan timbul lagi bahaya komunisme atheis dan paham atau ajaran yang sesat atau menyesatkan, sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme sudah terjawab, yang akhirnya terciptalah masyarakat bernegara yang baik dan sejahtera.

3. Pengertian Pendayagunaan

Pendayagunaan berasal dari kata “guna” yang berarti manfaat, adapun pengertian pendayagunaan sendiri menurut kamus besar bahasa Indonesia : a. Pengusahaan agar mampu mendatangkan hasil dan manfaat. b. Pengusahaan tenaga dan sebagainya agar mampu menjalankan tugas dengan baik. 8 Maka dapat disimpulkan bahwa pendayagunaan adalah bagaimana cara atau usaha untuk mendatangkan hasil dan mnfaat yang lebih besar serta lebih baik.

4. Bentuk dan Sifat Pendayagunaan

Ada dua bentuk penyaluran dana zakat antara lain: 1. Bentuk sesaat, dalam hal ini berarti zakat hanya diberikan kepada seseorang satu kali atau sesaat saja. Dalam hal ini juga berarti bahwa penyaluran kepada mustahik tidak disertai target terjadinya kemandirian ekonomi dalam diri mustahik. Hal ini dikarenakan mustahik yang bersangkutan tidak mungkin lagi mandiri, seperti pada diri orang tua yang sudah jompo, orang cacat. Sifat bantuan sesaat ini idealnya adalah hibah. 2. bentuk pemberdayaan, merupakan penyaluran zakat yang disertai target merubah keadaan penerima dari kondisi kategori mustahik menjadi kategori muzakki. Target ini adalah target besar yang tidak dapat dengan mudah dan dalam waktu yang singkat. Untuk itu, penyaluran zakat harus disertai dengan pemahaman yang utuh terhadap permasalahan yang ada pada penerima. Apabila pemasalahannya adalah permasalahan kemiskinan, harus diketahui penyebab kemiskinan tersebut sehingga dapat mencari solusi yang tepat demi tercapainya target yang telah dicanangkan. 9 8 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus BesarBahasa Indonesia, h. 189 9 Lili Bariadi et.al, Zakat dan Wirausaha Jakarta: CED, 2005, h. 25 Menurut Widodo yang dikutip dalam buku Lili Bariadi dan kawan-kawan, bahwa sifat dana bantuan pemberdayaan terdiri dari tiga yaitu: 1. Hibah, zakat pada asalnya harus diberikan berupa hibah artinya tidak ada ikatan antara pengelola dengan mustahiksetelah penyerahan zakat. 2. Dana bergulir, zakat dapat diberikan berupa dana bergulir oleh pengelola kepada mustahik dengan catatan harus qardhul hasan, artinya tidak boleh ada kelebihan yang harus diberikan oleh mustahik kepada pengelola ketika pengembalian pinjaman tersebut. Jumlah pengembalian sama dengan jumlah yang dipinjamkan. 3. Pembiayaan, penyaluran zakat oleh pengelola kepada mustahik tidak boleh dilakukan berupa pembiayaan, artinya tidak boleh ada ikatan seperti shahibul maal dengan mudharib dalam penyaluran zakat. 10 Menurut M. Daud Ali pemanfaatan dana zakat dapat dikategorikan sebagai berikut: 1. pendayagunaan yang produktif dan tradisional sifatnya, dalam kategori ini penyaluran diberikan kepada orang yang berhak menerimanya untuk dimanfaatkan secara langsung oleh yang bersangkutan seperti: zakat fitrah yang diberikan kepada fakir miskin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau zakat harta yang diberikan kepada korban bencana alam. 2. pendayagunaan yang konsumtif kreatif, maksudnya penyaluran dalam bentuk alat-alat sekolah atau beasiswa dan alin-lain. 10 Ibid, h. 85-86 3. pendaygunaan produktif tradisional, maksudnya penyaluran dalam bentuk barang-barang produktif, misalnya kambing, sapi, mesin jahit, alat-alat pertukangan dan sebagainya. Tujuan dari kategori ini adalah untuk menciptakan suatu usaha atau memberikan lapangan kerja bagi fakir miskin. 4. pendayagunaan produktif kreatif, pendayagunaan ini diwujudkan dalam bentuk modal yang dapat digunakan baik untuk membangun sebuah proyek social maupun untuk membantu atau menambah modal seorang pedagang atau pengusaha kecil. 11

5. Pendayagunaan Dana Zakat Reinterprestasi 8 Ashnaf

Pembicaraan tentang sistem pendayagunaan zakat, berarti membicarakan usaha atau kegiatan yang salaing berkaitan dalam menciptakan tujuan tertentu dari penggunaan hasil zakat secara baik, tetap dan terarah sesuai dengan tujuan zakat itu disyariatkan. Dalam pendekatan fiqh, dasar pendayagunaan zakat umumnya di dasarkan pada surat At-Taubah ayat 60 di bawah ini:                              11 M.Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf Jakarta: UI-Press, 1998, h. 62-63 Artinya: “sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’alaf yang dibujuk hatinya untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. Ayat ini menjelaskan tetang peruntukan kepada siapa zkat itu diberikan, tetapi tidak merinci cara-cara dan perimbangan pembagian antara orang yang terdapat dalam satu golongan dan antara golongan yang satu dengan golongan yang lain. Ayat tersebut hanya menetapkan kategori-kategori yang berhak menerima zakat hanya ada delapan golongan. Nabi SAW sendiri pun tidak pernah menerangkan cara pembagian itu, bahkan beliau memberi mustahik sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dan disesuaikan dengan jumlah persiapan harta benda zakat yang ada. Hal demikian berarti membukakan keluasan pintu ijtihad bagi kepala negara bagi kepala negara badan amil zakat untuk medistribusikan dan mendayagunakan zakat sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi, sesuai dengan kemaslahatan yang dapat dicapai dari potensi zakat tersebut. 12 Kalau berbicara tentang kemaslahatan, senantiasa berkembang sesuai dengan perkembanagan dan tuntutan kebutuhan umat. Untuk penetuan tingkat kemaslahatan, biasa dikenal dengan adanya skala prioritas. Metode prioritas ini dapat dipakai sebagai alat yang efektif untuk melaksanakan fungsi alokatif dan distribusi dalam 12 Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995 cet ke-2, h. 46 kebijaksanaan pendayagunaan zakat, misalnya kita ambil contoh salah satu yang menerima zakat adalah ibnu sabil, ibnu sabil mempunyai pengertian secara bahasa berarti anak jalanan atau musafir yang kehabisan bekal, tetapi untuk saat ini tentunya mengalami perkembangan makna, kata ibnu sabil dapat diartikan bukan saja untuk keperluan musafir yang kehabisan bekal, tetapi juga untuk keperluan pengungsi bencan alan dan sejenisnya 13

a. Fakir Miskin

Fakir miskin adalah mustahik yang mempunyai dua ciri 1 kelemahan dalam bidang fisik 2 kelemahan dalam bidang harta benda penyerahannya bisa disampaikan secara langsung kepada fakir miskin atau melalui badan pengelola, sedangkan sistem pendayagunaan bisa bersifat konsumtif bisa juga bersifat produktif. 14 Untuk pendayagunaan secara produktif, asyairazi dalam mahzabnya mengutip dari Sjechul Hadi Pernomo, menerangkan bahwa seorang fakir yang mampu tenaganya diberi alat kerja, yang mengerti dagang diberikan modal dagang. Dana zakat dapat didayagunakan untuk investasi produktif, untuk membiayai bermacam-macam proyek pembangunan dalam bidang pendidikan, 13 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h. 9-10 14 Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995 cet ke-2, h. 53 pemeliharaan kesehatan, air bersih dan aktivitas-aktivitas kesejahteraan sosial yang lain, yang digunakan semata-mata untuk kepentingan fakir miskin. 15 Menurut Masdar F. Masudi dalam konteks kehidupan sosial kita sekarang, dan zakat untuk sektor fakir miskin bisa mencakup: a. Pembagunan saran dan prasarana pertanian, pembangunan sektor industri yang secara langsung berorientasi pada peningkatan kesejahteraan rakyat. b. Penyelenggaraan sentra-sentra pendidikan keterampilan untuk mengatasi pengangguran. c. Pembangunan pemukiman rakyat tunawisma atau gelandangan. d. Pengadaan sarana dan prasarana kesehatan. e. Pengadaan sarana dan prasarana yang berkaitan dengan usaha mensejahterakan rakyat. 16 Orang miskin di samping tidak mampu di bidang finansial, mereka juga tidak memiliki pengetahuan dan akses. Untuk mencapai tujuan zakat, maka disamping dana zakat yang bersifat konsumtif dan produktif, juga dapat dipergunakan untuk program yang mengarah pada upaya mendapatkan hak kaum miskin, seperti pendampingan kaum miskin advokasi, HAM dan sejenisnya. Bantuan finansial saja tidak akan meningkatkan taraf hidup mereka, apabila 15 Ibid., h.55-57 16 Masdar F. Masudi, Menggagas Ulang Zakat Bandung: Mizan, 2005, h.115-116 penyebab dari ketidakmampuan dan ketidakberdayaan mereka diatasi. 17 Sehingga mampu untuk menolong semua permasalahan yang ada pada fakir miskin untuk lebih mendapatkan kehidupan yang sejahtera.

b. Amil

Yusuf Qardawi memberikan batasan yang rinci tentangamil yaitu semua orang yang terlibat atau aktif dalam lembaga atau organisasi zakat, termasuk penaggung jawab, para pengumpul, pembagi, bendaharawan, sekretaris, dan sebagainya. 18 Sedangkan Ibnu Rusyd memahami bahwa amil bukan hanya terbatas pada amil zakat, tetapi termasuk dalam pengertian mereka yang mengabdikan dirinya untuk kepentingan umum umat islam. 19 Meskipun dari dua pendapat diatas terdapat perbedaan, yang pasti bahwa orang yang menyibukkan dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan umum umat islam mendapat dana zakat, besarnya dana zakat yang dipakai disesuaikan dengan berat ringannya kerja mereka.

c. Muallaf

Muallaf pada umumnya dipahami dengan orang ynag baru masuk islam, namun dilihat dari sejarahnya pada masa awal islam muallaf yang diberikan dana zakat dibagi kepada dua kelompok yaitu orang kafir, yang diharapkan dapat masuk islam dan yang dikhawatirkan menyakiti umat islam. Orang islam, terdiri dari pemuka muslim yang disegani oelh orang kafir, muslim yang masih lemah 17 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h.20 18 Yusuf Qardawi, Fiqh al-Zakat Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1981, cet ke-6, juz 2, h.265 19 Ibnu Rusyd, Biyadatul Mujtahidin, juz 1, h.276 imannya agar dapat konsisten pada keimanannya, dan muslim yang berada di daerah musuh. 20 Yusuf Qardawi mengungkapkan mengutip dari Abidin bahwa zakat yang diberikan kepada muallaf dengan tujuan agar hatinya tetap dalam islam, mengokohkan orang yang lemah imannya atau usaha untuk menolongnya dan menahan tindakan jahat dari kelompok lain. 21 Dengan demikian, secara praktik muallaf pun lalu dipahami sebagai orang yang dijinakkan hatinya agar mau menerima kesadaran islam. Dalam kitab-kitab fiqh dengan orientasi berfikirnya yang formalistik sampai sekarang, hanya dikatakan bahwa muallaf adalah orang yang dijinakkan hatinya untuk masuk islam dalam pengertian formal. Khalifah umar sebnarnya sudah melihat lemahnya pandangan keagamaan yang formalistik ini, baginya tidak ada gunanyaorang yang hanya mengaku islam, tetapi dalam tingkah lakunya jauh dari “laku” kemanusiaan. Ia memandang keislaman sebagai suatu yang bersifat subtansial. Atas pandangan umar itu pada saat ini dana zakat untuk muallaf digunakan bukan hanya untuk membujuk seseorang masuk kedalam komunitas islam atua agama islam, tetapi untuk membujuk anggota masyarakat yang karena satu atau lain hal terperosok mengambil jalan yang berlawanan dengan fitrah kemanusiaan, sehingga dengan konteks kemasyarakatan kita sekarang sasarannya adalah untuk: 20 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h.22 21 Ibid, h.23 a. Usaha penyadaran kembali orang-orang terperosok ke dalam kejahatan dan kriminal. b. Biaya rehabilitasi mental atas orang-orang yang terjerumus ke dalam dunia narkoba. c. Pengembangan masyarakat dan suku-suku terasing, dan lain- lain. 22 Sjechul Hadi Purnomo menambahkan bahwa dana zakat untuk muallaf dapat digunakan untuk pembiayaan lembaga dakwah yang khusus melakukan kegiatan untuk pembinaan kepada orang-orang yang baru masuk islam dan lembaga dakwah yang melakukan kegiatan-kegiatan pendekatan terhadap kaum non muslim. 23

d. Riqab

Dilihat dari makna harfiah, dan demikian lah kitab-kitab fiqh mengartikannya, riqab artinya budak. Untuk masa sekarang manusia dengan status budak belian sudah tidak ada. Akan tetapi jika menengok pada maknanya yang lebih dalam lagi, arti riqab secara jelas menunjukkan pada gugus manusia yang tertindas dan tereksploitasi oleh manusia lain baik secara personal atuapun struktural. 24 22 Masdar F. Masudi, Menggas Ulang Zakat Bandung: Mizan, 2005, h.120-121 23 Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, h.65 24 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h.20 Berdasarkan hal itu, maka kebijaksanaan pendayagunaan zakat untuk riqab dapat diarahkan untuk: a. Mengentaskan buruh-buruh rendahan dan buruh kasar dari belenggu majikan dan yang menjeratnya. b. Mengusahakan pembebasan orang-orang tertentu yang dihukum atau dipenjara hanya lantaran manggunakan hak dasarnya untuk berpendapat atau memilih. 25 c. Untuk membantu negara islam atau negara yang sebagian besar penduduknya beragama islam yang sedang berusaha melepaskan diri dari belenggu perbudakan modern oleh kaum penjajah modern. d. Untuk membantu membebaskan pedagang, pengusaha, petani kecil dan sebagainya tergantung pada lintah darat. 26

e. Gharimin

Pemahaman terhadapa gharimin dalam sebagian besar literatur tafsir atua fiqh dibatasi pada orang yang punya hutang untuk keperluannya sendiri. Namun beberapa pendapat membedakannya kepada kedua kelompok, yaitu orang yang berhutang untuk keperluannya sendiri dan orang yang berhutang untuk kepentingan orang lain. Bahkan hutang yang diakibatkan karena program dan 25 Masdar F. Masudi, Menggas Ulang Zakat Bandung: Mizan, 2005, h.122 26 Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, h.67 kegiatan untuk kepentinga sosial seperti dana yayasan anak yatim, rumah sakit untuk pengobatan masyarakat miskin atau sekolah untuk kaum fakir miskin. 27 Dalam hal ini dapat dipahami bersama bahwa dana zakat dapat digunakan untuk melunasi hutang masyarakat miskin atau pedagang kecil yang mengalami kemunduran dalam bidang usahanya, atau dapat pula digunakan bagi lembaga sosial yang yang memiliki hutang untuk orang lain bukan untuk dirinya sendiri.

f. Sabilillah

Sabilillah pada awal masa Islam dipahami dengan jihad fisabilillah, namun dalam perkembangannya sabilillah tidak hanya terbatas pada jihad, akan tetapi mencakup semua program dan kegiatan yang memberikan kemaslahatan pada umat. 28 Dari pemahaman tersebut dapat dipahami bahwa dana zakat dalam hal sabilillah diberikan bukan hanya bagi orang yang berjihad dan berperang untuk Islam, melainkan pada saat ini dapat dberikan kepada pribadi yang mencurahkan perhatiannya untuk kebaikan umum umat islam, sebagai bantuan atas pekerjaan yang mereka lakukan. Disamping itu juga diberikan untuk pelaksanaan program atau kegiatan untuk mewujudkan kemaslahatan umum umat Islam, seperti mendirikan benteng, mendirikan rumah sakit dan pemberi pelayanan kesehatan. Team penelitian dan seminar zakat DKI Jakarta menyatakan bahwa pendayagunaan zakat alokasi fisabilillah agar dapat digunakan untuk: 27 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h.21 28 Hamid Abidin, Reintreprestasi Pendayagunaan ZIS Jakarta: PIRAC, 2004, h.25 a. Peningkatan dakwah melalui lembaga-lembaga dakwah. b. Peningkatan penilaian fisik bagunan-bangunan keagamaan, misalnya masjid dan madrasah-madrasah. c. Penyedian nafkah bagi orang-orang yang sibuk dengan tugas agama. d. Penyelenggaraan kursus-kursus keterampilan dan kewiraswastaan untuk memungkinkan terbukanya lapangan kerja. 29

g. Ibnu sabil

Para fuqaha selama ini mengartikan ibnu sabil anak jalanan dengan “musafir yang kehabisan bekal”. Pengetian ini masih relevan, akan tetapi pengertian ini pasti belum mencakup keseluruhannya. Makna anak jalanan sebagaimana yang lazim kita pahami, mengacu pada pengertian orang yang tengah berada dalam keadaan tunawisma atau terpental dari tempat tinggalnya semula. Bukan lantaran kemiskinan yang diderita, melainkan karena hal-hal yang lain, misalnya kecelakaan. Maka dari tu menurut Masdar F Masudi dan zakat untuk sektor ibnu sabil dapat dialokasikan bukan hanya untuk keperluan musafir yang kehabisan bekal melainkan juga untuk keperluan para pengungsi baik karena alasan politik maupun karena alasan lingkungan atau bencan alam. 30 29 Sjechul Hadi Permono, Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995, h.72 30 Masdar F. Masudi, Menggas Ulang Zakat Bandung: Mizan, 2005, h.128

B. Gizi 1. Pengertian, Fungsi, dan Sifat Gizi

a. Pengertian Gizi Gizi merupakan suatu ilmu yang merujuk dari ilmu “kesehatan masyarakat”. Kata “gizi” berasal dari bahasa Arab ghidza, yang artinya berarti “makanan”. Sedangkan ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan dalam hubungannya dengan kesehatan optimal. Di satu sisi ilmu gizi berkaitan dengan makanan dan di sisi lain dengan tubuh manusia. 31 Definisi lengkap ilmu gizi yang merupakan modifikasi dari National Academy of Sciences 1994 oleh organisasi profesi yang berkaitan dengan gizi pada seminar Pengembangan Ilmu Gizi pada tahun 2000, yaitu ilmu yang mempelajari zat-zat dari pangan yang bermanfaat bagi kesehatan dan proses yang terjadi terhadap pangan sejak dikonsumsi, dicerna, diserap, sampai dimanfaatkan tubuh srta dampaknya terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kelangsungan hidup manusia serta faktor yang mempengaruhinya. 32 Dari definisi tersebut ada dua komponen penting, yaitu makanan dan kesehatan tubuh. Ahli gizi harus mendalami persoalan pangan makanan dan kesehatan tanpa harus menjadi ahli pangan ataupun ahli kesehatan dokter. 31 Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi Jakarta: Gramedia, 2005, h.3 32 Depertemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat, Gizi dan Kesehatan Masyarakat, Jakarta: Raja Grafindo, 2007, h.4 b. Fungsi Gizi Dalam kehidupan manusia sehari-hari, orang tidak terlepas dari makanan karena makanan adalah salah satu persyaratan pokok untuk manusia, disamping udara oksigen. Empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia adalah untuk:  Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan atau perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak.  Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari-hari.  Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral, dan cairan tubuh yang lain.  Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit. Agar makanan dapat berfungsi seperti itu maka makanan yang kita makan sehari-hari tidak hanya sekedar makanan. Makanan harus mengandung zat-zat tertentu sehingga memenuhi fungsi tersebut, dan zat- zat ini disebut gizi. Makanan yang kita makan setiap hari harus dapat memelihara dan dapat meningkatkan kesehatan. Zat-zat makanan yang diperlukan untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan ini dikelompokkan menjadi 5 macam, yakni protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. 33 33 Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni Jakarta: Rineka Cipta, 2007, h.221-222 c. Sifat Gizi Dilihat dari segi sifatnya ilmu gizi dibedakan menjadi dua, yakni gizi yang berkaitan dengan kesehatan perorangan yang disebut gizi kesehatan perorangan lalu berkembang menjadi cabang ilmu sendiri yaitu disebut dengan gizi klinik, dan gizi yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat yang disebut gizi kesehatan masyarakat public health nutrition, lalu berkembang pula menjadi cabang ilmu sendiri yaitu disebut dengan gizi masyarakat. Kedua cabang ilmu gizi dibedakan berdasarkan hakikat masalahnya. Gizi klinik berkaitan dengan masalah gizi pada individu yang sedang menderita gangguan kesehatan akibat kekurangan atau kelebihan gizi. Oleh sebab itu, sifat dari gizi klinik adalah lebih menitikberatkan pada kuratif daripada preventif dan promotifnya. Sedangkan gizi masyarakat berkaitan dengan gangguan gizi pada kelompok masyarakat, oleh sebab itu sifat dari gizi masyarakat lebih ditekankan pada pencegahan prevensi dan peningkatan promosi. 34 Masalah gizi masyarakat bukan menyangkut aspek kesehatan semata, melainkan aspek-aspek terkait lain, seperti ekonomi, sosial budaya, pendidikan, kependudukan dan sebagainya. Oleh sebab itu penanganan serta perbaikan gizi tidak diarahkan pada gangguan gizi atau kesehatan 34 Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni Jakarta: Rineka Cipta, 2007, h.223-224 semata, melainkan juga kearah aspek-aspek yang lain. Misalnya masalah gizi pada anak-anak balita tidak hanya dengan pemberian makanan tambahan saja, tetapi juga dilakukan perbaikan ekonomi keluarga, peningkatan pengetahuan dan sebagainya.

2. Ruang Lingkup Gizi

Bila dikaji pengertian ilmu gizi lebih mendalam, dapat disimpulkan bahwa ruang lingkupnya cukup luas. Perhatian ilmu gizi dimulai dari cara produksi pangan agronomi dan peternakan. Perubahan-perubahan yang terjadi pada tahap pascapanen dari mulai penyediaan pangan, distribusi dan pengolahan pangan; konsumsi makanan; dan cara-cara pemanfaatan makanan oleh tubuh dalam keadaan sehat atau sakit. Oleh karena itu ilmu gizi sangat erat kaitannya dengan ilmu-ilmu agronomi, peternakan, ilmu pangan, mikrobiologi, biokimia, faal, biologi molekular dan kedokteran. Karena konsumsi makanan dipengaruhi oleh kebiasaan makan, prilaku makan, dan keadaan ekonomi, maka ilmu gizi juga berkaitan dengan ilmu- ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, psikologi dan ekonomi. 35

3. Kelompok Rentan Gizi

Kelompok rentan gizi adalah suatu kelompok dalam masyarakat yang paling mudah menderita gangguan kesehatannya atau rentan kekurangan 35 Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi Jakarta: Gramedia, 2005, h.4 gizi. Biasanya kelompok rentan gizi ini berkaitan dengan proses kehidupan manusia, oleh sebab itu kelompok ini terdiri dari kelompok umur tertentu dalam siklus kehidupan manusia. Pada kelompok-kelompok umur tersebut berada dalam suatu siklus pertumbuhan atau perkembangan yang memerlukan zat-zat gizi dalam jumlah yang lebih besar dari kelompok umur yang lain. Oleh sebab itu apabila kekurangan zat gizi maka akan terjadi gangguan gizi atau kesehatan. Kelompok-kelompok rentan gizi ini terdiri dari: a Kelompok bayi umur 0-1 tahun b Kelompok di bawah lima tahun balita: 1-5 tahun c Kelompok anak sekolah umur 6-12 tahun d Kelompok remaja umur 13-20 tahun e Kelompok ibu hamil dan menyusui f Kelompok usia lanjut. Kelompok usia lanjut termasuk kelompok rentan gizi meskipun kelompok ini tidak dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini disebabkan karena usia lanjut terjadi proses degenerasi yang menyebabkan kelompok usia ini mengalami kelainan gizi. 36 36 Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni Jakarta: Rineka Cipta, 2007, h.229-230

4. Masalah Gizi di Indonesia

Pada saat ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yaitu masalah gizi kurang dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang pada umumnya disebabkan oleh kemiskinan; kurangnya persediaan pangan; kurang baiknya kualitas lingkungan sanitasi; kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan kesehatan; dan adanya daerah miskin gizi iodium. Sebaliknya masalah gizi lebih disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu disertai denga kurangnya pengetahuan gizi, menu seimbang dan kesehatan. 37 a. Masalah Gizi Kurang Keberhasilan pemerintah dalam peningkatan produksi pangan pada Pembangunan Jangka Panjang PJP disertai dengan perbaikan distribusi pangan, perbaikan ekonomi, dan peningkatan daya beli masyarakat, telah banyak memperbaiki keadaan gizi masyarakat. Akan tetapai empat masalah gizi kurang hingga sekarang masih ada walau dalam taraf jauh berkurang. Di antaranya adalah: 1. Kurang Energi Protein KEP 2. Anemia Gizi Besi AGB 3. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium GAKI 4. Kurang Vitamin A KVA 37 Sunita Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi Jakarta: Gramedia, 2005, h.301 Adapun cara penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu antar departemen dan kelompok profesi, melalui upaya- upaya peningkatan pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan konsumsi pangan, peningkatan status sosial ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat, serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi pangan. Semua upaya ini bertujuan untuk memperoleh perbaikan pola konsumsi pangan masyarakat yang beranekaragam dan seimbang dalam mutu gizi. 38 Untuk itu perlu adanya tingkat kesadaran dari setiap elemen-elemen yang terkait dalam permasalahan ini, untuk lebih peduli akan masalah kesehatan yang terutama adalah masalah gizi. b. Masalah Gizi Lebih Masalah gizi lebih baru muncul di permukaan pada awal tahun 1990- an. Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu, terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, terutama dalam pola makan. Pola makan tradisional yang tadinya tinggi karbohidrat, tinngi serat kasar dan rendah lemak berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidrat, rendah serat dan tinggi lemak, sehingga menggeser mutu makanan kearah tidak seimbang. Perubahan pola makan ini dipercepat oleh makin kuatnya arus budaya makanan asing yang disebabkan oleh 38 Soekidjo Notoatmodjo, Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni Jakarta: Rineka Cipta, 2007, h. 303-306 kemajuan teknologi informasi dan globalisasi ekonomi. Di samping itu perbaikan ekonomi menyebabkan berkurangnya aktifitas fisik masyarakat tertentu. Perubahan pola makan dan aktifitas fisik ini menyebabkan semakin bayaknya penduduk golongan tertentu mengalami masalah gizi lebih berupa kegemukan dan obesitas. Makanan berlebih dikaitkan pula dengan tekanan hidup atau stress. 39 Dampak masalah gizi berlebih pada orang dewasa tampak dengan makin meningkatnya penyakit degeneratif, seperti jantung koroner, diabetes, hipertensi dan penyakit hati.

C. Peran 1. Pengertian Peran

Dalam proses interaksi manusia dengan manusia lain akan tercipta apa yang dinamakan peran sebagai sebuah harapan manusia satu terhadap manusia lainnya dalam prilaku. Tentu saja setiap manusia pasti mempunyai peran dan peranannya tergantung dengan kedudukan dalam sosial masyarakatnya masing-masing. Oleh karena itu berbicara mengenai peran, tentu tidak terlepas dari pembicaraan mengenai kedudukan status, walaupun keduanya berbeda tetapi salaing berhubungan dengan yang lainnya, seperti dua sisi mata uang yang berbeda tetapi akan menentukan nilai bagi mata uang tersebut, itu semua karena peran merupakan aspek dinamis kedudukan status. Apabila seseorang melaksanakan hak dan 39 Ibid, h.307 kewajibannya sesuai dengan kedudukannya berarti dia menjalankan sesuatu peranan. Peran adalah prilaku yang diharapkan seseorang dalam sesuatu status tertentu. 40 Pendapat Grass Massam dan A.W. Mc. Eachen yang dikutip oleh David Barry mendefinisikan peran sebagai seperangkat harapan-harapan yang dikenakan pada individu yang menempati kedudukan sosial tertentu. 41 Harapan-harapan tersebut masih menurut David Barry, merupakan hubungan dari norma-norma sosial. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa peran itu ditentukan oleh norma-norma di dalam masyarakat di dalam pekerjaannya dan dalam pekerjaan lainnya. Selanjutnya menurut Abu Ahmadi dalam bukunya menerangkan, bahwa peranan adalah suatu pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu berdasarkan status dan fungsi sosialnya. 42 Ini mengartikan bahwa setiap orang menginginkan seseorang menyesuaikan sikap dan tinkah laku sesuai dengan statusnya serta menjalankan hak dan kewajibannya. 40 Paul B. Harton, Chester L. Hunt, Sosiologi 6 ed Jakarta: Erlangga, 1993, h.120 41 David Barry, Pokok-Pokok Pikiran Dalam Sosiologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995, cet. Ke-3, h.99 42 Abu Ahmadi, Psikologi Sosial Jakarta: Rieneka Cipta, 1991, h.114

2. Jenis-jenis Peran

 Role position adalah kedudukan sosial sekaligus menjadikan status atau kedudukandan berhubungan dengan tinggi rendahnya posisi orang tersebut dalam struktur sosial tertentu.  Role behavior adalah cara seseorang memainkan perannya.  Role perception adalah bagaimana seseorang memandang peranan sosialnya serta bagaimana ia harus bertindak dan berbuat atas dasar pandangannya tersebut.  Role expectation adalah peranan seseorang terhadap peranan yang dimainkan bagi sebagian besar masyarakat. 43

3. Tinjauan Sosiologi Tentang Peran

Ditinjau dari segi sosiologi, tidak dapat dipungkiri bahwasanya manusia adalah mahluk sosial, yang tidak bisa melepaskan sikap ketergantungan pada mahluk lain atau manusia lainnya, maka pada posisi semacam inilah peran sangat menentukan kelompok sosial masyarakat tersebut, dalam artian diharapkan masing-masing individu sosial masyarakat berkaitan agar menjalankan peranannya yaitu : menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat di mana ia bertempat tinggal. 43 A. Sutarmadi dan Al Tirmizi, Peranan Dalam Pengembangan Hadist dan Fiqh Ciputat : Logos Wancana Ilmu, 1998, h.27 Di dalam perannya sebagaiman dikatakan David Berry terdapat dua macam harapan, yaitu : Pertama, harapan-harapan dari masyarakat terhadap pemegang peran atau kewajiban-kewajiban dari pemegang peran. Kedua, harapan-harapan yang dimiliki oleh si pemegang peran terhadap masyarakat atau terhadap orang-orang yang berhubungan dengannya dalam menjalankan peranannya atau kewajiban-kewajibannya. Dari kutipan tersebut begitu jelas bahwa ada suatu harapan dari masyarakat terhadap individu atau kelompok akan suatu peran agar dijalankan sebagaimana mestinya, sesuai dengan kedudukannya dalam lingkungan tersebut. Individu atau kelompok dituntut memegang peranan yang diberikan oleh masyarakat kepadanya, dalam hal ini peranan dapat dilihat sebagai bagian dari sturktur masyarakat, misalnya peran-peran dalam pekerjaan, keluarga, kekuasaan dan peran-peran lainnya yang diciptakan oleh masyarakat.

4. Peran Pekerja Sosial

Pekerja sosial adalah agen perubah. Sebagai seorang agen, pekerja sosial diharapkan mempunyai keterampilan untuk bekerja dengan individu, kelompok, dan keluarga dan menghasilkan perubahan masyarakat. 44 Sementara menurut pasal 1 ayat 4 undang-undang kesejahteraan sosial No. 44 Carles Zastrow, Introduction to Social Work and Social Welfare 6th ed California: Brook Publishing Company A Division of International Thomson Publishing, 1996 h.6 11 tahun 2009, pekerja sosial profesional adalah seseorang yang bekerja baik di lembaga pemerintahan maupun swasta yang memiliki kompetensi dan profesi pekerjaan sosial, dan kepedulian dalam pekerjaan sosial yang diperoleh melalui pendidikan, pelatihan dan atau melalui pengalaman praktek pekerjaan sosial untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan dan penanganan masalah sosial. Dalam melaksanakan tugasnya, pekerja sosial memiliki peran-peran tertentu sesuai dengan bidang yang ditanganinya. Berikut adalah penjelasan Zastrow mengenai peran-peran pekerja sosial : a. Enabler Pemungkin Dalam peran ini, seorang pekerja sosial membantu individu atau kelompok untuk mengartikulasikan kebutuhan dan mengidentifikasikan masalah mereka, dan mengemukakan kapasitas mereka agar dapat menangani masalah yang lebih efektif. b. Broker Penghubung Seorang broker menghubungkan individu dan kelompok yang membutuhkan bantuan dan tidak mengetahui dimana menemukannya dengan komunitas pelayanan. c. Advokat Pembela Menyediakan kepemimpinan dalam pengumpulan, pembuktian validitas kebutuhandan permintaan klien, dan melakukan keputusan institusi yang tidak menyediakan layanan tersebut. d. Empower Pekerja sosial menggunakan kekuasaan untuk mengembalikan kapasitas klien untuk mengerti lingkungan mereka, membuat pilihan bertanggung jawab pada organisasi advokasi. e. Aktivis Sebagai seorang aktivis, pekerja sosial melakukan perubahan institusional yang lebih mendasar, dan seringkali tujuannya adalah pengalihan sumber daya atupun kekuasaan pada kelompok yang kurang mendapatkan keuntungan. f. Mediator Peran mediator meliputi intervensi dalam perselisihan antara kelompok membantu mereka menemukan persetujuan yang paling menguntungkan. g. Negosiator Seorang negosiator membantu kelompok yang berada dalam konflik dan melakukan tawar menawar dan persetujuan untuk menemukan kesepakatan yang dapat diterima satu sama lainnya. h. Edukator Seorang pendidik memberikan informasi kepada klien dan mengajarkan mereka keterampilan menyesuaikan diri. Dalam menjalankan peran sebagai pendidik, pekerja sosial diharapkan memiliki kemampuan menyampaikan informasi dengan baik dan jelas, serrta mudah ditangkap oleh komunitas yang menjadi sasaran perubahan. i. Inisiator Seorang inisiator memberikan perhatian kepada masalah yang potensial. Ini sangat penting untuk menerima suatu masalah yang memerlukan perhatian. j. Peneliti Peneliti dalam praktek pekerjaan sosial dapat melibatkan membacapada literatur pada topik yang menarikdan mengevaluasihasil praktek seseorang. k. Fasilitator Kelompok Seorang fasilitator kelompok bersedia sebagai pemimpin sebuah diskusi kelompok dalm kelompok terapi, edukasi, membutuhkan bantuan, sensitivitas, terapi keluarga, dan sebuah kelompok dengan beberapa fokus masalah yang berbeda. 45 45 Carles Zastrow, Introduction to Social Work and Social Welfare 6th ed California: Brook Publishing Company A Division of International Thomson Publishing, 1996 h. 36-38 52

BAB III GAMABARAN UMUM TETANG POS KEADILAN PEDULI UMAT

PKPU DAN PROGRAM IBU SADAR GIZI BUDARZI A. Latar Belakang Berdirinya Pos Keadilan Peduli Umat PKPU Krisis yang terjadi padan tahun 1997 mempengaruhi kondisi perekonomian bangsa rakyat indonesia. Seperti menyikapi krisi yang berkembang, 17 September 1998 sejumlah anak-anak muda yang energik melakukan aksi sosial bertindak di sebagian besar wilayah Indonesia. Menindak lanjuti aksinya, mereka kemudian menggagas entitas kepedulian publik yang bisa bergerak secara sistematis, maka pada 10 Desember 1999 lahirlah lembaga sosial yang bernama Pos Keadilan Peduli Umat PKPU. 1 Dalam perkembangannya, PKPU menyadari bahwa potensi dana umat yang berasal dari zakat, infaq, dan shadaqah sangat besar. Sebagi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, indonesia bisa mengoptimalkan dana ZIS untuk memberdayakan masyarakat miskin. 8 Oktober 2001, PKPU mendapat pengukuhan sebagai lembaga amil zakat nasional dengan SK Menteri Agama RI No 441. Hal ini membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap PKPU semakin besar. Pada hari senin, 21 Juli 2008, lembaga kemanusian nasional PKPU telah memperoleh register di PBB sebagai lembaga dengan status “Special Consultative Status” dari economic and social council ecosoc. 1 www.pkpu.or.id PKPU berkomitmen dalam rangka menfasilitasi antara dermawan agniya disatu pihak dengan fakir miskin dhuafa dilain pihak, kerja yang amanah dan profesional merupakan keharusan bahkan tuntutan yang kami wujudkan dalam kultur dan etos kerja. Lembaga menunaikan dan menyampaikan kewajiban serta hak sesuai dengan amanah secara profesional, adil dan transparan hingga kepercayaan donatur dan bantuan yang diberikan pada dhuafa meningkat menjadi harapan kami.

B. Visi, Misi dan Tujuan PKPU Visi:

Visi menurut Agustinus Sri Wahyudi adalah; suatu impiankeadaan di masa akan datang yang dicita-citakan oleh seluruh personil organisasi dari jenjang Dewan Komisaris, hingga pesuruh untuk dicapai dengan melakukan aktifitas. Cita-cita di masa depan yang ada di pemikiran pendiri inilah yang disebut sebagai “Visi” dari sebuah organisasi. 2 Adapun visi PKPU adalah : “Menjadi lembaga terpercaya dalam membangun kemandirian”. Misi: Misi kemanusian yang dilakukan PKPU meliputi kegiatan: 2 Agustinus Sri Wahyudi, Manajemen Strategik Pengantar Proses Berpikir Strategik Binarupa Aksara, 1996, h.38 1. Mendayagunakan program rescue, rehabilitasi dan pemberdayaan untuk mengembangkan kemandirian. 2. Mengembangkan kemitraan dengan masyarakat, perusahaan, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat dalam dan luar negeri. 3. Memberikan pelayanan informasi, edukasi dan advokasi kepada masyarakat penerima manfaat beneficiaries Tujuan: Tujuan merupakan suatu pernyataan kualitatif mengenai keadaan hasil yang ingin dicapai dimasa yang akan datang. Dalam menjalankan misinya perusahaan akan menentukan tujuan-tujuan yamng harus dicapai dalam rangka menetapkan standar yang harus dipenuhi sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah misi. 3 Pendapat lain mengatakan, bahwa tujuan merupakan inti dari administrasi, yang merupakan suatu benda, sifat, nilai, atau kualitas, keadaan, yang harus diciptakan, diperoleh, dipelihara, disempurnakan, ditingkatkan, dipertahankan, ataupun harus dihindarkan, dikurangi, dan dilenyapkan. 4 Adapun tujuan-tujuan PKPU dalam hal misi kemanusiaan adalah: 1. Terdepan dalam memberikan solusi masalah kemanusiaan. 2. Terbangunnya loyalitas donatur dan mitra dalam dan luar negeri. 3 Ibid, h.73 4 Dann Suganda, Administrasi Startegi, taktik dan Teknik Penciptaan Efesiensi, Jakarta, Intermedia,1991, h. 78 3. Terciptanya pengembangan lembaga sesuai dengan dinamika dan perkembangan masyarakat. 4. Terbentuknya jaringan kerja dengan azas salaing memberikan manfaat. 5. Terbangunnya solidaritas dalam mengembangkan kemandirian masyarakat. Nilai Budaya: 1. Jujur Honest 2. Tanggung Jawab Responsible 3. Kerjasama Coorperation 4. Peduli Care 5 5. Cepat Fast

C. Sturuktur Organisasi PKPU