The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency

STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR
TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR

Oleh :
BAKRI M.
H252074075

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

2

PERNYATAAN MENGENAI TUGAS AKHIR DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tugas akhir ”Strategi Peningkatan
Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor” adalah karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tugas akhir ini.

Bogor, 19 September 2011

B a k r i M.
NRP. H252074075

3

ABSTRACT

BAKRI M. “The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness
to Seller at Bogor Regency”. Directed by MUHAMMAD FIRDAUS and
LUKMAN M. BAGA
Traditional market in Bogor Regency is a place to meet transaction
between producers and consumers which has the strategic value for the
developing people’s economic growth. But, the embeded problem, the traditional
market is still low competitiveness if it is compared to the modern market (hyper
market, super marker, etc) competitiveness. In that condition, it’s necessary to get
the strategies of competitiveness of the traditional market increased in Bogor
Regency.
The objective of the research is to formulate strategy and program to
achieve more competitiveness of the traditional market in Bogor Regency. The
specific aims are to identify the condition of traditional market, to analyze the
perception of consumers and to formulate the strategies for the increasing
competitiveness of the traditional market in Bogor Regency.
Research uses the method that has the descriptive quantitative with it for
identificating of condition of the traditional market, IPA Analysis for the Analysis
perception customer to traditional market and SWOT and QSPM Analysis for
formulating strategy and program to increase competitiveness the traditional
market in Bogor Regency.
Results of the research show the three priority strategics for increasing the
competitiveness of the traditional market in Bogor Regency, those are 1) to
increase quality of service market, 2) to increase quality of infrastructure market,
and 3) to control the PKL trader those belong to the traditional market.

Key words: Bogor Regency, Traditional Market, Increase Competitiveness, Analysis of Customer
Perception, SWOT, QSPM.

4

RINGKASAN
BAKRI M. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap
pedagang di Kota Bogor. Komisi pembimbing terdiri dari MUHAMMAD
FIRDAUS sebagai ketua dan LUKMAN M. BAGA sebagai anggota komisi
pembimbing.

Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan
konsumen yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar
domestik dan bagi perkembangan perekonomian masyarakat. Nilai stategis yang
dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100 persen barang dan jasa yang
diperdagangkan merupakan hasil produksi dan dikonsumsi di dalam negeri dan
sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan meningkatkan transaksi ekonomi yang
terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor akan dinikmati oleh masyarakat.
Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional lebih memberikan manfaat bagi
masyarakat di Kota Bogor.
Selain memiliki nilai strategis, terdapat beberapa kelemahan pasar
tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan basah,
tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih tawar
menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar
tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat
masyarakat untuk berbelanja ke pasar, hal ini berkaitan dengan kualitas dan
kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan.
Beberapa hal yang menjadi permasalahan yang terdapat di pasar
tradisional yang sesuai dengan penelitian ini adalah ; 1) kondisi pasar tradisional
yang terdapat di Kota Bogor, 2) persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan
pelayanan PD Pasar Pakuan Jaya di Kota Bogor, 3) Strategi apa yang digunakan
untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan
program peningkatan posisi tawar pasar tradisional terhadap pedagang yang
terdapat di Kota Bogor. Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah :
mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor,
menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor dan
merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota
Bogor.
Dalam rangka untuk mencapai tujuan penelitian, data yang digunakan
adalah data sekunder yang bersumber dari data PD Pasar Pakuan Jaya, BPS Kota
Bogor dan Bappeda Kota Bogor, dan sebagian dari data primer yang diperoleh
dari hasil wawancara dan pengisian kuisioner. Sementara metode analisis yang
digunakan adalah Deskriptif Kuantitatif, IPA Analysis, SWOT dan QSPM.
Berdasarkan pada hasil analisis dan pembahasan penelitian, bahwa strategi
peningkatan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor harus di fokuskan pada
program peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan sarana dan prasarana
pasar dan pengaturan PKL di pasar. Kondisi pasar tradisional di Kota Bogor dapat
diketahui melalui Kondisi bangunan fisik pasar yang berupa kondisi kios dan los,
kondisi dasar dan lantai bangunan, kondisi gedung, kondisi fasilitas listrik,

5

kondisi fasilitas drainase, kondisi fasilitas keamanan, ketertiban dan kebersihan
dan kondisi terdapatnya PKL.
Kondisi bangunan fisik pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor
perlu direnovasi. Kondisi fisik yang perlu direnovasi terutama di tiga pasar yang
dilakukan kajian yaitu Pasar Bogor, Pasar Sukasari, dan Pasar Kebon Kembang
adalah kondisi fisik kios dan los pasar, kondisi koefisien dasar bangunan dan
koefisien lantai bangunan, dan kondisi gedung pasar. Di pasar tradisional di Kota
Bogor kondisi ketertiban, keamanan dan kebersihan perlu ditingkatkan, dan masih
terdapat banyak PKL yang perlu ditertibkan. Untuk itu diperlukan pengelolaan
PKL dengan baik salah satunya dengan relokasi/ memindahkan ketempat yang
tidak mengganggu ketertiban umum.
Mengenai persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional berdasarkan pada
hasil penelitian ini adalah secara umum persepsi pelanggan terhadap kinerja pasar
tradisional di Kota Bogor adalah rendah, sementara harapan pelanggan terhadap
pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi. Begitu juga dengan tingkat
kepentingan pelanggan pasar tradisional di Kota Bogor terhadap dimensi kinerja
adalah rendah, sedangkan tingkat kepentingan pelanggan terhadap dimensi
harapan atribut pengelolaan pasar tradisional di Kota Bogor adalah tinggi.
Dimensi yang paling penting menurut responden adalah dimensi assurance, yang
mencakup keamanan dan ketertiban pasar, kemudahan mendapat izin berdagang,
kejujuran petugas penarik retribusi, kualitas barang dan kelengkapan jenis barang.
Jika dikaitkan dengan peranan pemerintah sebagai pembuat kebijakan, maka
pemerintah harus lebih menekankan pada aspek-aspek ini. Mengingat sekarang
persaingan antara pasar modern dan pasar tradisional sangat ketat, dimana para
pembeli lebih senang berbelanja di pasar modern dikarenakan beberapa hal seperti
nyaman, bersih dan terjamin.
Terdapat tiga strategi prioritas dari sembilan strategi yang dapat dilakukan
untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional di Kota Bogor yaitu :
peningkatan kualitas pelayanan pasar, peningkatan kualitas sarana dan prasarana
pasar, dan pengaturan PKL di sekitar pasar tradisional

6

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.

7

STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR
TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA BOGOR

B a k r i M.

Tugas Akhir
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Profesional pada
Program Studi Manajemen Pembangunan Daerah

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

8

Penguji luar pada ujian tugas akhir : A. Faroby Falatehan, SP, ME

9

Judul Tugas Akhir

:

Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
terhadap Pedagang di Kota Bogor

Nama

:

B a k r i M.

NRP

:

H 252074075

Program Studi

:

Manajemen Pembangunan Daerah

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec
Anggota

Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si
Ketua

Diketahui,

Ketua Program Studi
Manajemen Pembangunan Daerah

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Yusman Syaukat, M.Ec

Dr. Ir. Dahrulsyah, MSc

Tanggal Ujian :

Tanggal Lulus :

10

PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena
dengan rahmat dan karuniaNya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir dengan
judul “Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap pedagang di
Kota Bogor”.
Penulisan ini merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi sebagai
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Profesional dalam program
Pascasarjana Manajemen Pembangunan Daerah Institut Pertanian Bogor.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr. Muhammad Firdaus, SP. M.Si
selaku ketua komisi pembimbing dan Ir. Lukman M. Baga, MA.Ec

selaku

anggota komisi pembimbing dan A. Faroby Falatehan, SP ME sebagai penguji.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada para dosen dan pimpinan
serta pengelola Program Magister Manajemen Pembangunan Daerah Sekolah
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Ucapan terima kasih juga secara khusus penulis sampaikan kepada Istri
tercinta dan anak-anakku yang telah memberikan dukungan kepada penulis berupa
semangat, moril maupun materil sehingga penulis dapat menyelesaikan
pendidikan ini. Kepada Bapak Jenal Abidin, MP sebagai ketua kelas Bogor 10 dan
teman teman seangkatan yang tidak bisa saya sebut satu persatu dan seluruh
keluarga besar MPD IPB yang telah banyak mendorong, menyemangati dan
memberikan bantuannya sampai selesainya pendidikan ini.

Tak lupa kepada

Bappeda Kota Bogor, BPS Kota Bogor, Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Bogor, Kabag Perekonomian Pemda Kota Bogor, PD Pasar Pakuan Jaya
Kota Bogor, para kepala pasar, penulis ucapkan terimakasih atas kerjasamanya
yang selama ini di bangun.
Terlepas dari berbagai bentuk kekurangan dari kajian ini, penulis berharap
tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, 19 September 2011

B a k r i M.

11

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Batang Kapas pada tanggal 8 Agustus 1962 dari
seorang Ayah bernama Ismael dan Ibu bernama Manyar.
Pendidikan Dasar penulis diselesaikan di SD Negeri Anakan pada tahun
1974. Penulis melanjutkan ke SMP Negeri Batang Kapas dan lulus pada tahun
1977. Kemudian penulis melanjutkan ke SMA Negeri Painan dan lulus tahun
1980. Pada tahun 2002 kemudian penulis melanjutkan ke Universitas Ibnu
Kholdun (UIK) Bogor di Fakultas Ekonomi dan lulus pada tahun 2006. Pada
tahun 2008, penulis melanjutkan kuliah di Program Studi Magister Manajemen
Pembangunan Daerah pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor dan
menamatkannya pada tahun 2011.
Penulis pernah bekerja sebagai Pedagang di Pasar Cibinong dan Pasar
Cileungsi Bogor, serta aktif di organisasi sosial dan Profesi. Pada tahun 2007
sampai tahun 2010 sebagai Badan Pengawas PD Pasar Tohaga di Kabupaten
Bogor. Sekarang penulis bekerja sebagai Direktur Umum PD Pasar Pakuan Jaya
Kota Bogor.
Penulis menikah dengan Farianis dan di karuniai empat orang anak yaitu
Alfian Bakti, Sari Gumala Bakti, Incim Gumala Sari dan Para Seno Bakti.

12

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xvii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... xx
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xxi
I. PENDAHULUAN ........................................................................................
1.1 Latar Belakang .......................................................................................
1.2 Perumusan Masalah ...............................................................................
1.3 Tujuan....................................................................................................
1.4 Manfaat ..................................................................................................

1
1
2
4
4

II. TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................
2.1 Definisi Pasar .........................................................................................
2.2 Pasar Tradisional dan Modern ................................................................
2.3 Permasalahan Utama Pasar.....................................................................
2.4 Manajemen Pasar ...................................................................................
2.5 Pedagang dan Struktur Kegiatannya .......................................................
2.6 Persepsi Pelanggan .................................................................................
2.7 Kajian Penelitian Terdahulu ...................................................................

6
6
7
9
12
13
14
18

III. METODOLOGI KAJIAN .......................................................................
3.1 Kerangka Pemikiran ...............................................................................
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian ..................................................................
3.3 Data dan Metode Analisis ......................................................................
3.4 Metode Perumusan Strategi dan Perancangan Program ..........................

21
21
22
23
31

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH ..........................................................
4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor ...............................................................
4.2 Pemerintahan .........................................................................................
4.3 Penduduk ...............................................................................................
4.4 Kondisi Perekonomian ...........................................................................
4.5 Keberadaan Pasar di Kota Bogor ............................................................

34
34
36
36
37
38

V. KONDISI PASAR TRADISIONAL DI KOTA BOGOR ..................
5.1 Kondisi Bangunan Fisik Pasar Tradisional di Kota Bogor ......................
5.2 Kondisi Fasilitas Listrik Pasar Tradisional Kota Bogor ...........................
5.3 Kondisi Fasilitas Drainase Pasar Tradisional Kota Bogor .......................
5.4 Kondisi Fasilitas Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar
Tradisional di Kota Bogor ......................................................................
5.5 Kondisi PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor........................................

41
41
44
44
46
48

VI. PERSEPSI PELANGGAN TERHADAP PASAR
TRADISIONAL DI KOTA BOGOR ....................................................... 50
6.1 Karakteristik Pelanggan Pasar Tradisional di Kota Bogor ........................ 50
6.2 Persepsi Pelanggan Terhadaap Pasar Tradisional di Kota bogor .............. 52

13

6.3 Tingkat Kepentingan Atribute Kualitas Pengelolaan Pasar ...................... 62
6.4 Implikasi Pengembangan Pasar Tradisional terhadap Pembangunan Kota
Bogor ..................................................................................................... 66
VII. STRATEGI PENINGKATAN POSISI TAWAR PASAR
TRADISIONAL TERHADAP PEDAGANG DI KOTA
BOGOR.................................................................................................... 69
7.1 Analisis Lingkungan Internal ................................................................. 69
7.2 Analisis Lingkungan Eksternal .............................................................. 72
7.3 Evaluasi Faktor Internal (IFE)................................................................ 74
7.4 Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) ............................................................ 76
7.5 Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
t erhadap Pedagang di Kota Bogor......................................................... 77
7.6 Penentuan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
t erhadap Pedagang di Kota Bogor......................................................... 79
7.7 Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional ............................ 81
VIII. KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 84
8.1 Kesimpulan ............................................................................................ 84
8.2 Saran ..................................................................................................... 85
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 86
LAMPIRAN

14

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Pendapatan Operasional Pasar di Kota Bogor………………………………

3

2. Jenis Usaha Ritel di Indonesia ……………..………………………………

7

3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional dan Pasar Modern …………

8

4. Data dan Metode Analisis ................................................................... …..

23

5. Atribut Kualitas Pengelolaan Pasar Pakuan Jaya .......................................... 25
6. Matrik IFE ..................................................................................................... 30
7. Matrik EFE .................................................................................................... 30
8. Matrik SWOT ................................................................................................ 31
9. Matrik Analisis QSPM ................................................................................... 33
10. Kondisi Kios dan Los tahun 2009................................................................. 41
11. Kondisi Koefisien Dasar Bangunan dan Koefisien Lantai Bangunan ............ 42
12. Bangunan yang perlu diperbaiki ................................................................... 44

13. Sarana Listrik yang Perlu Renovasi .............................................................. 45
14. Sarana Drainase yang Perlu Perbaikan ......................................................... 46
15. Sarana Ketertiban dan Keamanan yang Perlu Renovasi ................................ 47
16. Sarana Kebersihan yang Perlu Renovasi ....................................................... 48
17. Jumlah PKL di Pasar Tradisional Kota Bogor .............................................. 49
18. Karakteristik Pelanggan Berdasarkan Status Pernikahan............................... 51
19. Pendidikan Responden di Pasar Tradisional Kota Bogor .............................. 51
20. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ................................... 52
21. Persepsi Pelanggan Pasar Bogor terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat
Kepentingan.....................................................................................................53

15

22. Persepsi Pelanggan Pasar Sukasari terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat
Kepentingan.....................................................................................................56
23. Persepsi Pelanggan Pasar Kebon Kembang Terhadap Tingkat Kinerja dan
Tingkat Kepentingan .................................................................................... 58
24. Persepsi Seluruh Pelanggan Pasar Terhadap Tingkat Kinerja dan Tingkat
Kepentingan.................................................................................................. 61
25. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Bogor................

63

26. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Sukasari.............

64

27. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Pasar Kebon Kembang.. 64
28. Tingkat Kepentingan Atribut Pengelolaan Pasar di Semua Pasar................ 65
29. Matrik IFE dari Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
terhadap Pedagang di Kota Bogor ................................................................ 75
30. Matrik EFE Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
terhadap Pedagang di Kota Bogor................................................................ 76
31. Matrik SWOT Perumusan Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar
Tradisional terhadap Pedagang di Kota Bogor .......................................... 78
32. Strategi Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional terhadap Pedagang
di Kota Bogor ............................................................................................ 80
33. Matrik Program Peningkatan Posisi Tawar Pasar Tradisional
terhadap Pedagang di Kota Bogor ............................................................ 83

16

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka Pemikiran Kajian ....................................................................... 22
2. Diagram Kartesius ..................................................................................... 27
3. Peta Lokasi Kota Bogor ............................................................................. 34
4. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Bogor ..........................................
54
5. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Sukasari .....................................
57
6. Hasil Diagram Kartesius untuk Pasar Kebon Kembang ........................
59
7. Hasil Diagram Kartesius untuk Gabungan Pasar di Kota Bogor .............
62

17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Kota Bogor yang memiliki visi menjadi kota jasa yang nyaman dengan

masyarakat madani dan pemerintahan yang amanah merupakan visi yang harus di
jalankan oleh pemerintah dan mendapat dukungan dari masyarakat secara
keseluruhan. Syarat untuk mewujudkan Kota Bogor sebagai kota jasa, pemerintah
Kota Bogor memiliki empat program prioritas diantaranya adalah: penyelesaian
persoalan transportasi, penyelesaian pedagang kaki lima (PKL), pengentasan
kemiskinan dan kebersihan lingkungan hidup. Keempat program prioritas ini
sangat erat kaitannya dengan keberadaan pasar tradisional sebagai salah satu pusat
kehidupan ekonomi masyarakat di Kota Bogor.
Pasar dalam arti sempit adalah tempat dimana permintaan dan penawaran
bertemu, dalam hal ini pengertian pasar lebih mengarah pada pasar tradisional
(Umar, 2005). Sedangkan dalam arti luas, pasar adalah proses transaksi antara
permintaan dan penawaran, dalam hal ini lebih mengarah pada pasar modern.
Pasar tradisional merupakan tempat transaksi masyarakat produsen dan konsumen
yang sarat dengan nilai strategis dalam mengembangkan pasar domestik dan bagi
perkembangan perekonomian masyarakat. Beberapa nilai strategis pasar
tradisional adalah 1) barang dan jasa kebutuhan masyarakat sebagian besar
merupakan produksi nasional dan lokal; 2) bahan baku untuk memproduksi
barang dan jasa tersebut sebagian besar merupakan produksi nasional (local
content); 3) uang sebagai hasil transaksi akan beredar sebanyak mungkin di dalam
negeri/ lokal; 4) meminimalisir pengeluaran devisa negara; 5) peningkatan
penyerapan tenaga kerja; dan 6) meningkatkan pendapatan masyarakat.
Nilai strategis lain yang dimiliki pasar tradisional adalah hampir 100
persen barang dan jasa yang diperdagangkan merupakan hasil produksi dan
dikonsumsi di dalam negeri dan sangat sedikit hasil impor. Kondisi ini akan
meningkatkan transaksi ekonomi yang terjadi di pasar tradisional di Kota Bogor

18

akan dinikmati oleh masyarakat. Sehingga transaksi ekonomi di pasar tradisional
lebih banyak memberikan manfaat bagi masyarakat di Kota Bogor.
Banyaknya nilai strategis yang dimiliki oleh pasar tradisional belum tentu
dapat meningkatkan posisi tawar pasar dan menjadi pilihan utama masyarakat
dalam berbelanja, hal ini dikarenakan terdapatnya beberapa kelemahan yang
dimiliki oleh pasar tradisional dan rendahnya daya saing jika dibandingkan
dengan pasar modern (mall, supermarket, minimarket, dll). Beberapa kelemahan
pasar tradisional antara lain tidak aman, kumuh dan tidak nyaman, kotor dan
basah, tidak tertib, timbangan/takaran tidak sesuai, kualitas kurang baik, masih
tawar menawar, macet, dan lain-lain. Lemahnya daya saing (posisi tawar) pasar
tradisional dibandingkan dengan pasar modern akan menjadikan kurangnya minat
masyarakat untuk berbelanja ke pasar tradisional, hal ini berkaitan dengan kualitas
dan kuantitas sarana dan prasarana pasar yang harus dikembangkan. Dengan
kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor seperti diatas, maka
diperlukan sebuah penelitian strategi peningkatan posisi tawar pasar tradisional di
Kota Bogor guna meningkatkan minat masyarakat untuk berbelanja di pasar
tradisional.

1.2

Perumusan Masalah
Pasar tradisional selain merupakan tempat interaksi antara penjual dan

pembeli, juga merupakan potensi yang dimiliki oleh Kota Bogor sebagai
penghasil Pendapatan Asli Daerah (PAD). Nilai PAD dari pengelolaan tujuh
pasar dan pendapatan perizinan kartu kuning, mandi cuci kakus dan pendapatan
kerja sama dengan pihak ketiga dalam mengoperasionalkan sebagian pasar, dapat
dilihat pada Tabel 1.
Nilai PAD dari pengelolaan pasar, retribusi, mandi cuci kakus dan
pendapatan kerja sama dengan pihak ketiga dari tahun 2006 hingga tahun 2010
adalah 12.308 juta, pendapatan tersebut dari tahun ke tahun selalu meningkat.
Pendapatan dari pasar tradisional dan Pendapatan tertinggi dari tahun 2006 hingga
tahun 2010 berasal dari Pasar Bogor, yaitu sebesar Rp 3.911 juta, selanjutnya
adalah Pasar Kebon Kembang sebesar Rp 2.608 juta.

19

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa penerimaan pendapatan operasional dari
pasar tradisional pada tahun 2006 hingga 2010 mengalami penurunan, walaupun
secara nominal mengalami peningkatan. Peningkatan penerimaan tertinggi pada
tahun 2006 ke tahun 2007 rata-rata sebesar 16,8 persen, selanjutnya menurun
menjadi 6,6 persen, 4,8 persen dan 0,7 persen. Penurunan terbesar terjadi di Pasar
Jambu Dua, sebesar 10,3 persen.
Secara keseluruhan, pada Tabel 1, pertumbuhan pendapatan operasional
pasar tertinggi adalah dari tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 12,68 persen,
selanjutnya menurun hingga 2,08 persen pada tahun 2009/2010. Pertumbuhan
rata-rata dari tahun 2006 hingga tahun 2010 adalah 6,57 persen.

Tabel 1. Pendapatan Operasional Pasar di Kota Bogor (dalam Rp juta)

1
a

Sumber
Pendapatan
Retribusi
Pasar Bogor

b

Kb. Kembang

No

2006

2007

TAHUN
2008

2009

2010

Total
Pendapatan

672

799

804

808

826

3.911

467

505

526

552

557

2.608

197
114
74
60
50
100
38

200
122
77
65
53
129
47

207
125
80
59
54
112
48

906
584
379
292
235
342
212

480
28
30
2.505
6,01

528
28
30
2.643
5,51

528
67
30
2.698
2,08
6,57

2.461
202
170
12.308

c
d
e
f
g
2
3
4
a
b
c

Merdeka
108
191
Sukasari
107
113
Gunung Batu
71
74
Jambu Dua
53
54
Padasuka
38
39
Kartu Kuning
44
34
MCK
Kontraktor
Bina Citra
440
485
PROPINDO
45
32
Cardo Lestari
47
32
JUMLAH
2.097
2.363
Pertumbuhan (%)
12,68
Pertumbuhan rata per tahun (%)

Sumber: Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kota Bogor, 2011

Penurunan pertumbuhan pendapatan operasional yang terjadi pada pasar
tradisional di Kota Bogor yang dikelola oleh PD Pasar Pakuan Jaya dari tahun
2006 hingga 2010 antara lain dikarenakan oleh berbagai kelemahan, seperti segi
manajemen

pengelolaan,

infrastruktur,

kualitas

sumberdaya

keberpihakan kebijakan pemerintah dan lemahnya karakter pedagang.

manusia,

20

Pasar modern berkembang sangat pesat, dengan sarana dan prasarana yang
lengkap, lahan parkir yang cukup luas, keamanan terjamin, antar lantai
dihubungkan dengan eskalator dan lif, diruangan pasar memakai ac dan koridor
yang cukup lapang serta dikelola dengan mempergunakan teknologi tinggi dan
sumber daya manusia yang handal, dan jumlah pasar modern lebih banyak dari
pasar tradisional di Kota Bogor.
Kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh pasar tradisional ini menjadi
tantangan bagi PD Pasar Pakuan Jaya dalam upaya mengembangkan pasar, agar
pasar tradisional dapat memiliki posisi tawar di mata masyarakat dan pasar
modern. Oleh karenanya yang menjadi rumusan permasalahan dari penelitian ini
adalah :
1. Bagimana kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor?
2. Bagaiman persepsi pelanggan terhadap pengelolaan dan pelayanan PD Pasar
Pakuan Jaya di Kota Bogor?
3. Strategi apa yang digunakan untuk meningkatkan posisi tawar pasar
tradisional yang terdapat di Kota Bogor?

1.3

Tujuan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi dan

program peningkatan posisi tawar pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor.
Sementara tujuan spesifik dari penelitian ini adalah :
1. Mengidentifikasi kondisi pasar tradisional yang terdapat di Kota Bogor.
2. Menganalisis persepsi pelanggan terhadap pasar tradisional di Kota Bogor.
3. Merumuskan strategi untuk meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di
Kota Bogor.

1.4

Manfaat
Manfaat dari penelitian ini di harapkan menjadi bahan acuan bagi

pemerintah Kota Bogor dan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya dalam rangka
mengembangkan dan meningkatkan posisi tawar pasar tradisional di Kota Bogor,
serta dapat menjadi acuan bagi penelitian-penelitian lain dalam upaya

21

mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pengembangan pasar
tradisional di Indonesia.

22

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Pasar
Pasar merupakan suatu lapangan atau pelataran yang sebagian beratap atau

sebagian terbuka, seluruhnya terbuka atau tertutup yang sesuai berdasarkan
peraturan dan ketentuan pemerintah setempat. Menurut Umar (2005), pasar
merupakan tempat pertemuan antara penjual dan pembeli, atau saling bertemunya
antara kekuatan permintaan dan penawaran untuk membentuk suatu harga. Secara
fisik pasar merupakan pemusatan beberapa pedagang tetap yang selanjutnya para
pedagang tersebut menempati bangunan-bangunan. Sedangkan secara fungsional,
pasar adalah suatu tempat dimana terjadi proses tukar menukar dan proses itu
berlangsung bila sejumlah penjual dan pembeli bertemu satu sama lainnya yang
kemudian

sepakat

untuk

memindah

tangankan

barang-barang

yang

diperjualbelikan kepada pembeli yang dinyatakan dengan bentuk transaksi.
Secara ekonomi, pasar merupakan sebagai pusat sosial ekonomi suatu
lingkungan, dimana penduduk dapat memenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan
barang-barang pokok sehari-hari atau kebutuhan jasa-jasa dalam bentuk eceran,
sedangkan pengertian dari sudut pelayanannya pasar merupakan sarana umum
yang ditempatkan oleh pemerintah sebagai tempat transaksi jual beli umum
dimana pedagang secara teratur dan langsung memperdagangkan barang dan jasa
dengan mengutamakan adanya barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Pasar merupakan sebuah perwujudan kegiatan ekonomi yang telah
melembaga serta tempat bertemunya antara produsen (pedagang) dan konsumen
(pembeli) untuk melaksanakan transaksi dimana proses jual beli terbentuk yang
menurut kelas mutu pelayanan menjadi pasar tradisional dan pasar modern, dan
menurut pendistribusiannya dapat digolongkan menjadi pasar eceran dan pasar
perkulakan/ grosir (Yogi, 2000).
Jika dilihat dari jenis usahanya, maka pasar di Indonesia terbagi menjadi
beberapa jenis usaha, yaitu minimarket, supermarket, hypermarket, toko dengan
sistem pembayaran cash and carry, toko kecil dengan layanan penuh dan pasar

23

tradisional. Secara lengkap dan detil dapat dilihat pada Tabel 2 mengenai batasan
fisik dan barang yang dijualnya.

Table 2. Jenis Usaha Ritel di Indonesia
Usaha Ritel
Minimarket
“Convenience Stores”

Batasan Fisik
-

Supermarket

-

Hipermarket

-

-

Toko dengan sistem
pembayaran cash
and carry

-

Toko kecil dengan
layanan penuh

-

Mempekerjakan 2–6
orang
Luasnya kurang dari
350 m3
Luasnya 350–8000 m3
Memiliki lebih dari 3
mesin hitung
Berdiri sendiri (tanpa
bergabung dengan
yang lain)
Luasnya di atas 8.000
m3
Memiliki mesin hitung
untuk setiap 1.000 m3
Mempekerjakan 350–
400 orang
Luasnya lebih dari 500
m3
Perlu menjadi anggota
untuk masuk
Milik keluarga
Luasnya kurang dari
200 m3
Independen
Banyak pedagang
Lapak kecil dengan
ukuran 2–10 m3

Barang-barang yang
Tersedia
- Makanan
kemasan
- Barang-barang
higienis pokok
- Makanan
- Barang-barang
rumahtangga
- Makanan
- Barang
rumahtangga
- Elektronik
- Busana/Pakaian
- Alat olah raga

-

Makanan
Barang
rumahtangga

-

Makanan tertentu
Barang
rumahtangga
tertentu
Pasar tradisional
- Bahan-bahan
segar
- Barang-barang
produksi
rumahtangga
- Barang-barang
pokok
rumahtangga
Diadaptasi dari Collett & Wallace (2006), dalam Suryadarma, D et al, 2007

2.2

Pasar Tradisional dan Modern
Pasar Tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh

pemerintah, swasta, koperasi, atau swadaya masyarakat dengan tempat usaha

24

berupa toko, kios atau los dan tenda, yang dimiliki atau dikelola oleh pedagang
kecil dan menengah dan koperasi, dengan usaha skala kecil dan modal kecil
dengan proses jual beli melalui tawar menawar. Sedangkan pasar modern adalah
pasar yang umumnya dimiliki oleh pemodal kuat, mempunyai kemampuan untuk
menggaet konsumen dengan cara memberikan hadiah langsung, hadiah khusus,
dan juga discount-discount menarik (Zumrotin, 2002). Pasar modern pada
umumnya diisi oleh retailer (pengecer besar), baik perusahaan pengecer dengan
skala lokal maupun nasional. Mereka ini merupakan pesaing yang mengancam
keberadaan pasar-pasar tradisional. Oleh karena itulah modernisasi pasar dengan
manajemen pengelolaan secara modern baik dari sistem pengelolaan maupun
kelembagaannya perlu ditingkatkan untuk mengembangkan perekonomian
pedagang kecil serta pemacu pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurut Yamato (2011) dalam blognya, kelebihan dan kelemahan pasar
tradisional dan pasar modern adalah sebagai berikut:
1. Pasar tradisional merupakan pasar yang memiliki keunggulan bersaing alamiah

yang tidak dimiliki secara langsung oleh pasar modern. Biasanya lokasi dari
pasar tradisional ini strategis, area penjualan yang luas, keragaman barang yang
lengkap, memiliki harga yang rendah, serta sistem tawar menawar yang
menunjukkan sikap keakraban antara penjual dan pembeli merupakan
keunggulan tersendiri yang dimiliki pasar tradisional. Sisi kekeluargaan inilah
yang menjadi salah satu pemandangan yang indah kala berada di pasar
2. Pasar tradisional memiliki kelemahan yang sangat urgen ialah pada kumuh dan

kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang mayoritas
diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tidak bertanggung jawab dengan
menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai, dan praktek seperti itu
marak sekali terjadi di pasar tradisional.

Bukan hanya itu saja, kurang

menariknya kemasan produk di pasar tradisional juga yang membuat kurang
dilirik konsumen, bahkan makin hari bukannya semakin bagus akan tetapi
malah semakin memburuk kondisinya. Dan jelas hal seperti itu cukup
membahayakan keberadaan pasar tradisional.
3. Kelebihan pasar modern dibanding pasar tradisional cukup jelas, mereka

memiliki banyak keunggulan yakni; nyaman, bersih serta terjamin. Dan tiga hal

25

tersebut yang membuat para konsumen mau membeli ke pasar modern. Sejuk,
bersih, nyaman mempunyai peranan penting bagi pasar modern, dan ketiga
komponen tadi menjadi andalan dari pasar modern dan hal tersebut tidak
dimiliki oleh pasar tradisional.
4. Secara sekilas, tidak terdapat kelemahan dari pasar modern ini. Mungkin

kelemahannya terdapat pada praktik jual belinya dimana konsumen tidak bisa
menawar harga barang yang hendak dibelinya.
Secara keseluruhan kelebihan dan kekurangan dari kedua pasar ini dapat dilihat
pada Tabel 3.

Tabel 3. Kelebihan dan Kekurangan Pasar Tradisional dan Pasar Modern
Pasar Tradisional
Kelebihan

Pasar Modern

lokasi yang strategis
- nyaman
area penjualan yang luas
- bersih
keragaman barang yang
- terjamin
lengkap
- harga yang rendah
- keakraban antara penjual dan
pembeli dengan adanya sistem
tawar menawar
- mendongkrak perekonomian
daerah untuk kalangan
menengah ke bawah
Kekurangan
- kumuh
- konsumen tidak
bisa menawar
- kotor
harga
- banyaknya produk yang
diperjualbelikan oleh oknum
pedagang yang tak
bertanggung jawab
menggunakan bahan kimia
yang tak seharusnya dipakai
- cara pengemasan di pasar
tradisional yang kurang baik
Sumber: http://fhryamato.blogspot.com/2011/03/kekurangan-dan-kelemahanpasar-modern.html
2.3

-

Permasalahan Utama Pasar
Pasar sebagai suatu infrastruktur publik yang disediakan oleh pemerintah

tentunya memiliki berbagai permasalahan yang perlu diselesaikan oleh pengelola.
Beberapa permasalahan utama pasar yang berasal dari Zumrotin, 2002:

26

1. Pengelolaan : Ketidakmampuan dalam mengelola pasar tradisional untuk
menciptakan pasar yang bersih, aman, nyaman, serta tidak adanya upaya
untuk melakukan pembinaan kepada para pedagang untuk berpraktek dagang
yang sehat dan jujur akan menyebabkan konsumen enggan berbelanja dipasar
tradisional. Selain itu pasar yang becek, berbau tidak sedap, tidak aman/
rawan keamanan, dan praktek dagang yang tidak sehat akan menimbulkan
kekecewaan dan ketidakpercayaan konsumen sehingga mereka lebih baik
meninggalkan pasar tradisional karena memiliki resiko tinggi
2. Tata Ruang dan Lokasi : Masalah timbul dari operasional tata ruang, lokasi
dan masih tersdianya tempat usaha yang tidak produktif.
3. Pola Pembangunan dan Pendanaan : Selama ini pemerintah melakukan
sistem pengadaan atau penyediaan pasar khususnya pasar tradisional sebagai
salah satu infrastruktur, yaitu dengan melakukan pembangunan fisik pasar
yang belum ada wujudnya, dimulai dengan penyediaan lahan sampai
berdirinya bangunan pasar yang dioperasikan (Thamrin, 2000). Keterbatasan
dan tantangan yang dihadapi oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)
sebagai pengelola pasar tradisional (Undang-undang No. 34 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah) saat ini adalah adanya kebijakan regulasi di
bidang dunia usaha nasional yang mulai menitikberatkan pada usaha
perekonomian rakyat. Situasi pasar yang lebih bebas dengan tingkat kepuasan
konsumen terhadap kualitas dan kuantitas menghasilkan produk yang lebih
tinggi. Kurang dan terbatasnya modal yang diperlukan oleh perusahaan untuk
operasional dan pemeliharaan perusahaan, dan rendahnya hasil usaha,
mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan pengembangan investasi,
kurangnya profesionalisme, transparansi, dan pengawasan dalam manajemen
pengelolaan perusahaan serta banyaknya BUMD yang mengalami kesulitan
keuangan (Subowo, 2002).
Pengembangan penyediaan prasarana yang efisien melalui keterlibatan
pihak swasta tidak lain karena untuk memenuhi keinginan masyarakat, artinya
tidak saja efisien dan ekonomis tetapi juga harus memiliki dimensi sosial.
Keterlibatan swasta dalam sektor prasarana dikarenakan hal-hal sebagai berikut
(Darrin dan Mervin, 2001) :

27

1. Keterbatasan pemerintah dalam membiayai pembangunan infrastruktur, di
satu sisi disebabkan oleh keterbatasan teknologi, daya dan dana. Sedangkan
di pihak lain kebutuhan akan infrastruktur semakin mendesak.
2. Partisipasi pembangunan berdasarkan keinginan masyarakat (Community
Driven Development) melalui pembagian resiko yang sebelumnya menjadi
tanggungjawab pemerintah, didistribusikan kepada pihak swasta.
3. Motivasi profit dari pihak swasta akan mendorong organisasi yang dikelola
menjadi lebih efisien, transparan dan kompetitif.
4. Capacity Building
5. Kebijakan pemerintah, diantaranya adalah terdapatnya peraturan perundangundangan yang mengatur mengenai perusahaan daerah yang masih berlaku
hingga saat ini adalah undang-undang No 5 tahun 1962 tentang Perusahaan
Daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut maka dalam rangka melakukan usaha
Perusahaan

Daerah

mengenai

“Bisnis

Birokrasi”

yaitu

kebijakan

pengembangan sangat ditentukan oleh pemerintah daerah sebagai pihak yang
mewakili daerah sebagai pemilik Perusahan Daerah. Pada masa itu direksi
dan mayoritas pegawai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
birokrasi pemerintahan daerah. Sehingga dalam prakteknya pengelolaan mirip
dengan pengelolaan lembaga birokrasi. Akibatnya dalam banyak kasus,
manajemen kurang memiliki independensi dan fleksibilitas inovasi usaha
guna mencapai tujuan organisasinya (Subowo, 2002).
Pengaturan misi Perusahaan Daerah secara luas yaitu memberi jasa,
menyelenggarakan kepentingan umum, dan memupuk pendapatan tanpa melihat
apakah usaha Perusahaan Daerah tersebut sesungguhnya merupakan bidang
komersial atau bukan. Keberadaan Perusahaan Daerah berorientasi ganda yaitu
public sevice oriented dalam rangka menyelenggarakan kemanfaatan umum dan
profit oriented dalam rangka memupuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Akan
tetapi jika dilihat secara profesional berdasarkan prinsip-prinsip koperasi, public
mission dan profit hal tersebut merupakan dua sisi yang sangat sulit untuk
disatukan.

Menurut

Davey

adalah

‘Bagaimana

Perusahaan

daerah

memaksimumkan keuntungan tanpa mengorbankan layanan terhadap masyarakat,
terutama kelas bawah dan menengah’ (Davey, 1983).

28

2.4

Manajemen Pasar
Manajemen berasal dari kata to manage yang mempunyai arti mengatur.

Pada hakikatnya manajemen merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan
yang diinginkan. Untuk dapat mengatur kegitan yang berlangsung maka harus
terdapat unsur-unsur manajemen yang menunjang proses kegiatan tersebut yaitu :
manusia, uang, metode, material, mesin dan pasar. Keenam unsur tersebut perlu
diatur agar lebih berdaya guna, berhasil guna, terintegrasi dan terkoordinasi dalam
mencapai tujuan yang dinginkan (Hasibuan, 1996). Adapun pengertian umum
manajemen adalah pendayagunaan sumberdaya manusia dengan cara yang paling
baik agar dapat mencapai rencana-rencana dan sasaran perusahaan (Madura,
2001).
Manajemen pasar merupakan proses pengaturan kegiatan perdagangan
yang berlangsung dipasar dengan sumber daya meliputi pedagang, tempat usaha
dan pengorganisasiannya. Serangkaian aktivitas yang dilakukan dalam fungsifungsi

manajemen

pasar

merupakan

sebuah

proses

manajemen.

Untuk

melaksanakan manajemen tersebut maka diperlukan adanya manajer yang dalam
pelaksanaan tugas kegiatan serta kepemimpinannya harus melakukan tahap-tahap
seperti dibawah ini :
1. Perencanaan, adalah suatu proses penentuan tujuan dan pedoman pelaksanaan
dengan memilih alternatif yang terbaik dan beberapa perencanaan yang ada.
2. Pengorganisasian, adalah suatu proses penentuan, pengelompokan, dan
pengaturan bermacam-macam aktivitas yang diperlukan untuk mencapai
tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitasnya masing-masing,
menyediakan alat-alat yang diperlukan, dan menetapkan wewenang secara
relatif untuk kemudian didelegasikan kepada setiap individu yang melakukan
aktivitas-aktivitas tersebut.
3. Pengarahan, adalah mengarahkan semua bawahan agar mau bekerjasama
secara aktif untuk mencapai tujuan. Tujuan dan pengarahan untuk membuat
semua anggota kelompok mau bekerjasama dan bekerja secara ikhlas untuk
mencapai tujuan dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian.
4. Pengendalian, adalah proses pengaturan berbagai faktor dalam suatu
perusahaan, agar sesuai dengan ketetapan-ketetapan dalam rencana. Tujuan

29

untuk mengukur dan memperbaiki kinerja bawahan, apakah sudah sesuai
dengan rencana sebelumnya atau tidak.

2.5

Pedagang dan Struktur Kegiatannya
Kegiatan perdagangan di pasar merupakan suatu kegiatan ekonomi pasar,

seperti yang digambarkan oleh Geertz (1969), yaitu suatu perekonomian dimana
arus total perdagangan terpecah-pecah menjadi transaksi-transaksi orang ke orang
yang masing-masing tidak ada hubunganya yang mana jumlahnya sangat besar,
sangat berbeda dengan ekonomi barat yang berpusatkan firma, dimana
perdagangan dan industri dilakukan melalui serangkaian pranata sosial yang tidak
bersifat pribadi, yang mengorganisasikan berbagai pekerjaan yang bertalian
dengan tujuan-tujuan produksi dan distribusi tertentu, maka ekonomi jenis ini
adalah berdasarkan pada kegiatan yang independen dan pedagang terpacu untuk
bersaing secara sehat antara satu dengan lainnya (Nas, 1986).
Pedagang yang menempati kios dianggap telah masuk kedalam sektor
formal karena telah menjadi pedagang yang tetap di pasar. Pedagang tetap ini
merupakan kelompok pedagang yang telah mapan di kota, yang berusaha
mengorganisasikan kegiatan mereka dengan lebih sistematis dengan modal usaha
yang besar seperti yang dahulu pernah dilakukan oleh orang tua mereka.
Sedangkan pedagang yang tidak menempati kios menjadi sektor informal atau
yang lebih dikenal dengan pedagang kaki lima (PKL) atau pedagang pengecer,
hanya menggunakan jalan masuk dan wilayah sekitar pasar sebagai tempat
menggelar dagangannya. Jenis kegiatan usahanya cenderung berkelompok sesuai
dengan ciri-ciri khas daerah atau suku bangsa mereka. Barang dagangan mereka
peroleh dari juragan atau tokoh yang menjadi patron bagi pedagang kaki lima
sekaligus menyewakan peralatan jualan yang berupa gerobak ataupun meja
gelaran.
Mengingat Pasar Tradisional memiliki peranan yang sangat strategis,
selain akan menciptakan lapangan kerja juga akan menumbuhkan dunia usaha dan
kewiraswastaan baru dalam jumlah banyak sehingga kelompok ini mempunyai
keterkaitan dengan sektor industri dan jasa lainnya. Dalam kegiatan inilah
membangun pasar tradisional menjadi perlu dilakukan. Pembinaan dan penataan

30

melalui uluran tangan pemerintah secara terus menerus perlu dilakukan. Dengan
demikian, diharapkan karena peranannya maka pasar tradisional dapat
menumbuhkan tata perdagangan yang lebih mantap, lancar, efektif, efisien dan
berkelanjutan dalam satu mata rantai perdagangan nasional yang kokoh (Yogi,
2000).

2.6

Persepsi Pelanggan
Persepsi merupakan suatu proses memperhatikan dan menyeleksi,

mengorganisasikan dan menafsirkan stimulus lingkungan melalui panca indra
(pendengaran, penglihatan, perasa, penciuman, dan peraba). Namun demikian,
makna dari proses persepsi tersebut juga dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
individu yang bersangkutan. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap
persepsi pelanggan adalah harga, citra, tahap pelayanan dan momen pelayanan.
Persepsi pelanggan terhadap produk atau jasa berpengaruh terhadap tingkat
kepentingan pelangggan, kepuasan pelanggan, dan nilai pelanggan (Rangkuti,
2003).

2.6.1 Tingkat Kepentingan Pelanggan
Tingkat kepentingan pelanggan merupakan keyakinan pelanggan sebelum
mencoba atau membeli suatu produk jasa yang akan dijadikannya standar acuan
dalam menilai kinerja produk jasa tersebut (Rangkuti, 2003). Menurut Lovelock
dan Wraight (2005), menyatakan bahwa ada dua tingkat kepentingan pelanggan,
yaitu :
1.

Adequate service, adalah tingkat kinerja jasa minimal yang akan diterima
pelanggan tanpa merasa tidak puas.

2.

Desire service, adalah tingkat kualitas jasa yang diidam-idamkan yang
diyakini pelanggan dapat dan seharusnya diberikan.
Diantara adequate service dengan desire service terdapat zone of

tolerance, yaitu rentang dimana variasi pelayanan yang masih dapat diterima oleh
pelanggan.

2.6.2

Kepuasan Pelanggan

31

Kepuasan pelanggan merupakan persepsi pelanggan terhadap produk atau
jasa yang telah memenuhi harapannya (Irawan, 2007). Pelanggan tidak akan puas
apabila pelanggan mempunyai persepsi bahwa harapannya belum terpenuhi dan
sebaliknya pelanggan akan puas apabila persepsinya sama atau lebih dari yang
diharapkan. Kepuasan pelanggan, selain dipengaruhi oleh persepsi kualitas jasa,
juga ditentukan oleh kualitas produk, harga, kualitas pelayanan dan faktor-faktor
yang bersifat situasional.
Kepuasan didefinisikan juga sebagai perasaan senang atau kecewa
seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja (hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada
dibawah harapan maka pelanggan tidak puas, jika kinerja memenuhi harapan
maka pelanggan puas dan jika kinerja melebihi harapan pelanggan sangat puas
(Kotler, 2005). Sedangkan menurut Lovelock dan Wright (2005), kepuasan
pelanggan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat
berupa kemarahan, ketidakpuasan, kejengkelan, netralitas, kegembiraan, atau
kesenangan.

2.6.3

Nilai Pelanggan
Tugas pertama bagi sebuah perusahaan adalah untuk menciptakan

pelanggan. Nilai yang diterima pelanggan (Customer Delivered Value) adalah
selisih antara total customer value atau jumlah nilai bagi pelanggan dan total
customer cost atau biaya total pelanggan. Total customer value adalah kumpulan
manfaat yang diharapkan diperoleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu. Total
customer cost adalah kumpulan pengorbanan yang diperkirakan pelanggan akan
terjadi dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk jasa tersebut
(Druker dalam Kotler, 2005).
Menurut Lovelock dan Wright (2005), dalam menciptakan nilai untuk
pelanggan berkaitan dengan konsep 8 P, yaitu :
1.

Place and Time (tempat dan waktu), keputusan manajemen tentang kapan,
dimana, dan bagaimana menyampaikan jasa tersebut kepada pelanggan.

32

2.

Process (proses), metode pengoperasian atau serangkaian tindakan
tertentu, yang umumnya berupa langkah-langkah yang diperlukan dalam
suatu urutan yang telah ditetapkan.

3.

Productivity (produktivitas), seberapa efisien pengubahan input jasa
menjadi output yang menambah nilai bagi pelanggan.

4.

Product (produk), semua komponen kinerja jasa yang menciptakan nilai
bagi pelanggan.

5.

People (orang), karyawan (kadang-kadang pelanggan lain) yang terlibat
dalam proses produksi.

6.

Promotion and Education (promosi dan edukasi), semua aktivitas dan alat
yang menggugah komunikasi yang dirancang untuk membangun prefensi
pelanggan terhadap jasa dan penyedia jasa tertentu.

7.

Phisical Evidence (bukti fisik), pet

Dokumen yang terkait

The Strategies of Increasing Traditional Market of Competitiveness to Seller at Bogor Regency