Analysis of The Influences of Entrepreneurial Marketing and Government Policies to The Competitiveness of The Footwear Industry in Bogor.

ANAL
LISIS PEN
NGARUH
H ENTRE
EPRENEU
URIAL MA
MARKETIN
NG
DAN KEBIJAKA
K
AN PEME
ERINTA
AH TERH
HADAP DA
AYA SAIING
INDUSTRI ALAS KAKI
K
DI BOGOR
B

STE
EVIA SE
EPTIANI

SEKOLA
AH PASC
CASARJA
ANA
NSTITUT
T PERTA
ANIAN BO
OGOR
IN
2012
2

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Analisis Pengaruh
Entrepreneurial Marketing dan Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing
Industri Alas Kaki di Bogor adalah merupakan karya saya dengan arahan Komisi
Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi
mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan
maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan
dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Oktober 2012

Stevia Septiani
NRP.H251100274


 

ABSTRACT

STEVIA SEPTIANI. Analysis of The Influences of Entrepreneurial Marketing
and Government Policies to The Competitiveness of The Footwear Industry in
Bogor. Under supervision of MA’MUN SARMA and WILSON H. LIMBONG.
Entrepreneurial marketing is the suitable approach in terms of resource
constraints and problems that exist in small and medium enterprises (SMEs).
Footwear industry is a sector of Small and Medium Enterprises (SMEs) that is
supported by the government of Bogor. Problems of development of footwear
industry are divided into two main factors: the competence of SMEs and local
government policy. Based on these problems, this study aims to (1) Identify the
characteristics of entrepreneurs, business characteristics and linkages both of
them, (2) Identify and analyze the ability of entrepreneurial marketing,
implementation of government policies and the ability of the competitiveness of
small industrial footwear in Bogor, and (3) Identify and analyze the influence of
entrepreneurial marketing and government policies on the competitiveness of the
footwear industry in Bogor. Sample selection is done by purposive cluster
sampling method. The samples in this study were 100 small business owners. This
study employs three data analysis: descriptive analysis, index transformation
analysis, and analysis of structural equation modeling (SEM) with partial least
squares (PLS). Characteristics of footwear SME owners in Bogor is included the
low-educated group. However, they have excellent expertise in the producing of
footwear. Characteristics of footwear enterprises in Bogor, is categorized as the
long standing and major businesses. Based on the analysis of SEM with PLS
approach, it is known that the entrepreneurial marketing variables have a positive
impact on the competitiveness of small industrial footwear in Bogor, while the
government policies variables have an indirect effect on competitiveness through
entrepreneurial marketing variables. 
Keyword: entrepreneurial marketing, competitiveness, government policy, small
and medium enterprises (SMEs), footwear industry, partial least squares (PLS)

ii 
 

RINGKASAN

STEVIA SEPTIANI. Analisis Pengaruh Entrepreneurial Marketing dan
Kebijakan Pemerintah terhadap Daya Saing Industri Alas Kaki di Bogor. Di
bawah bimbingan MA’MUN SARMA dan WILSON H. LIMBONG.
Penerapan konsep pemasaran oleh para pelaku IKM dipraktekkan dengan
cara yang berbeda dari buku teks pemasaran tradisional. Entrepreneurial
marketing merupakan pendekatan yang lebih sesuai ditinjau dari keterbatasan
sumber daya dan permasalahan yang ada pada industri kecil dan menengah
(IKM). Dalam penerapan entrepreneurial marketing, pemilik IKM cenderung
berorientasi pada inovasi serta melakukan strategi bottom-up (menyesuaikan
produk dengan permintaan konsumen). Hal ini sangat relevan dengan karakteristik
industri alas kaki yang peka pada perubahan varian model yang begitu cepat,
sehingga membutuhkan strategi inovasi yang tepat dari para pelaku usaha.
Industri alas kaki merupakan salah satu sektor Industri Kecil dan
Menengah (IKM) non migas yang didukung oleh pemerintah. Meski Bogor
merupakan salah satu sentra industri kecil alas kaki yang potensial, namun
perkembangan industri ini masih kurang signifikan. Permasalahan dalam
pengembangannya terbagi menjadi dua faktor utama, yaitu kompetensi IKM dan
kebijakan pemerintah daerah. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini
bertujuan: (1) Mengidentifikasi karakteristik pelaku usaha, karakteristik usaha dan
keterkaitan keduanya pada IK alas kaki di wilayah Bogor, (2) Mengidentifikasi
dan menganalisis kemampuan entrepreneurial marketing, implementasi kebijakan
pemerintah dan kemampuan daya saing pelaku usaha IK alas kaki di wilayah
Bogor, serta (3) Mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh entrepreneurial
marketing dan kebijakan pemerintah terhadap daya saing industri alas kaki di
wilayah Bogor.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni hingga Agustus 2012,
berlokasi di Kabupaten Bogor (Kecamatan Ciomas) dan Kota Bogor (Kecamatan
Bogor Selatan). Data yang digunakan mencakup data primer dan data sekunder.
Data primer penelitian ini diperoleh dari informasi yang diberikan oleh pihak UPT
(Unit Pelayanan Teknis) dan pelaku usaha IK alas kaki setempat. Data sekunder

iii 
 

pada penelitian ini menggunakan sebagian dari data Penelitian Strategis Nasional
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Tahun Anggaran 2012,
dengan judul penelitian “Model Pengembangan Industri Kecil dan Rumah Tangga
Alas Kaki dalam Menuju Keberlanjutan Usaha dan Menghadapi CAFTA”.
Pemilihan sampel dilakukan dengan metode purposive cluster sampling. Jumlah
sampel pada penelitian ini adalah 100 orang pelaku usaha alas kaki yang termasuk
pada kategori industri kecil dan industri rumah tangga. Analisis data yang
digunakan meliputi: analisis deskriptif, analisis transformasi indek dan analisis
structural equation modeling (SEM) dengan pendekatan partial least squares
(PLS).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pelaku usaha alas kaki
di Bogor secara umum termasuk pada kategori berpendidikan rendah, masih
memiliki mindset jangka pendek, namun memiliki keahlian yang sangat baik
dalam memproduksi alas kaki. Karakteristik usaha alas kaki di Bogor termasuk
pada usaha yang telah lama berdiri dengan kategori industri kecil, serta
merupakan usaha pokok keluarga yang masih terbatas dalam hal alat produksi,
modal dan SDM. Secara umum kemampuan entrepreneurial marketing yang
dimiliki pelaku usaha alas kaki di wilayah Bogor termasuk pada kategori baik.
Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha alas kaki di Bogor berpotensi untuk
menjadi mandiri. Sedangkan untuk implementasi kebijakan pemerintah, sebagian
besar pelaku usaha masih belum merasakan dampak dan realisasinya. Meski
menghadapi berbagai macam kendala, mayoritas pelaku usaha alas kaki di
wilayah Bogor memiliki kemampuan daya saing yang cukup baik.
Berdasarkan analisis SEM dengan PLS, diketahui bahwa variabel laten
entrepreneurial marketing berpengaruh positif secara langsung terhadap daya
saing industri kecil alas kaki di Bogor. Variabel laten kebijakan pemerintah
berpengaruh positif secara langsung pada laten entrepreneurial marketing.
Sehingga, dapat diartikan bahwa terdapat pengaruh tidak langsung antara
kebijakan pemerintah terhadap daya saing melalui entrepreneurial marketing.

iv 
 

© Hak Cipta milik IPB, Tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB.


 

ANALISIS PENGARUH ENTREPRENEURIAL MARKETING
DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH TERHADAP DAYA SAING
INDUSTRI ALAS KAKI DI BOGOR

STEVIA SEPTIANI

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Manajemen

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

vi 
 

Judul

: Analisis Pengaruh Entrepreneurial Marketing dan Kebijakan
Pemerintah terhadap Daya Saing Industri Alas Kaki di Bogor

Nama

: Stevia Septiani

NIM

: H251100274

Program Studi : Ilmu Manajemen

Disetujui,
Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Ma’mun Sarma, MS, M.Ec

Prof. Dr. Ir. Wilson H. Limbong, MS

Ketua

Anggota

Diketahui,
Ketua Program Studi
Ilmu Manajemen

Dekan Sekolah Pascasarjana

Dr. Ir. Abdul Kohar Irwanto, M.Sc

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc. Agr

Tanggal Ujian : 29 Oktober 2012

Tanggal Lulus :

vii 
 

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemampuan dan kekuatan, serta limpahan berkah dan rahmat-Nya,
sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa
penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan, motivasi, do’a, dan kerjasama
dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Ma’mun Sarma, MS, M.Ec dan Bapak Prof. Dr. Ir. Wilson H.
Limbong, MS selaku Ketua dan Anggota Komisi Pembimbing, yang telah
memberikan waktu, pikiran, tenaga, motivasi, arahan, nasehat dan
kesabarannya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.
2. Bapak Dr. Ir. Muhammad Syamsun, M.Sc selaku Dosen Penguji Luar Komisi
atas arahan, bantuan dan saran untuk perbaikan tesis ini.
3. Bapak Dr. Mukhamad Najib, S.TP, MM selaku Dosen Penguji Program Studi
dan Sekretaris Program Studi Ilmu Manajemen atas saran dan masukan
perbaikan yang diberikan.
4. Ibu Lindawati Kartika, S.E, M.Si selaku dosen quality control yang telah
memberikan bimbingan perihal tata cara penulisan tesis yang baik dan benar.
5. Seluruh dosen pengajar PS Ilmu Manajemen IPB yang telah memberikan
bekal ilmu dan membuka wawasan secara luas dalam proses belajar penulis.
6. Seluruh staf administrasi PS Ilmu Manajemen IPB atas dukungan
pengorganisasian berbagai hal yang mendukung proses belajar hingga
penyelesaian studi.
7. Tim peneliti proyek Penelitian Strategis Nasional Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, Tahun Anggaran 2012, dengan judul
penelitian “Model Pengembangan Industri Kecil dan Rumah Tangga Alas
Kaki dalam Menuju Keberlanjutan Usaha dan Menghadapi CAFTA”, yang
telah mengizinkan dan membantu pelaksanaan penelitian.
8. Pihak UPT (Unit Pelayanan Teknis) Pengembangan Industri Alas Kaki
Kabupaten Bogor, pihak Desa Parakan, pelaku usaha alas kaki Bogor, dan

viii 
 

Mba Tika yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu
penulis dalam pengumpulan data penelitian.
9. Kedua orangtuaku, Ayahanda Asep Zaenal Muttaqin dan Ibunda Tati
Tarmilah, kedua adikku Indra dan Gina, serta seluruh keluarga tercinta yang
tak henti-hentinya memberikan do’a, semangat dan dukungan kepada penulis
untuk menyelesaikan tesis ini.
10. Galih Saputra Arista yang telah memberikan do’a, motivasi serta dukungan
kepada penulis dalam penyusunan tesis ini.
11. Teman-teman PS Ilmu Manajemen Kelas Khusus Angkatan I: Ka Nina, Mba
Desy, Pa Asep, Pa Ade, Teh Rinrin, Teh Yuli, Ojan, Ani, dan khususnya Ka
Jw, atas segala dukungan dan bantuan dalam pembelajaran pengolahan data
penelitian.
12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuannya, baik langsung maupun tidak langsung kepada penulis.
Penulis berharap kiranya tesis ini dapat memberikan kontribusi pemikiran
bagi semua pihak yang berkepentingan dan memberikan manfaat dalam
peningkatan kemampuan daya saing industri kecil alas kaki di Bogor, khususnya
melalui entrepreneurial marketing dan kebijakan pemerintah yang optimal.

Bogor, Oktober 2012

Penulis

ix 
 

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Indramayu, 18 Juli 1988, sebagai putri sulung dari
tiga bersaudara, dengan adik Indra Satria Purnama dan Gina Nurmalia, dari
pasangan ayahanda Ir. Asep Zaenal Muttaqin, MM dan ibunda Tati Tarmilah.
Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri Papandayan I
Bogor pada tahun 2000, setelah itu memasuki SMP Negeri 5 Bogor dan lulus pada
tahun 2003, lalu melanjutkan pendidikan di SMU Negeri 8 Bogor dan lulus pada
tahun 2006.
Tahun 2006, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui
jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB), dengan memilih mayor Manajemen,
minor Ilmu Konsumen dan berhasil menyelesaikan studi pada tahun 2010.
Kemudian penulis memulai pengalaman bekerja pada: perusahaan konsultan Daya
Bima Consulting, pusat pendidikan Global Reach College dan sebagai asisten
dosen di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, IPB.
Bersamaan dengan pengalaman bekerja tersebut, pada November 2010, penulis
mendalami bidang ilmu manajemen dengan melanjutkan kuliah S2 pada Program
Studi Ilmu Manajemen, Sekolah Pascasarjana IPB.


 

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRACT ................................................................................................................ii
RINGKASAN ......................................................................................................... iii
PRAKATA ............................................................................................................ viii
RIWAYAT HIDUP .................................................................................................. x
DAFTAR TABEL ................................................................................................. xiv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. xvi
DAFTAR LAMPIRAN .........................................................................................xvii
I.

PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Perumusan Masalah .................................................................................... 3
1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................................ 6
1.4 Ruang Lingkup Penelitian .......................................................................... 7
1.5 Manfaat Penelitian ...................................................................................... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 8
2.1 Alas Kaki ..................................................................................................... 8
2.2 Jenis Usaha dan Industri .............................................................................. 8
2.3 Pemasaran (Marketing) ............................................................................. 10
2.3.1 Pemasaran Pelaku Industri Kecil dan Menengah (Small Medium
Enterprises Marketing) .................................................................. 11
2.4 Kewirausahaan Pemasaran (Entrepreneurial Marketing) ........................ 12
2.4.1 Sejarah Entrepreneurial Marketing ............................................... 13
2.4.2 Prinsip Kunci Entrepreneurial Marketing ..................................... 14
2.5 Kebijakan Pemerintah ............................................................................... 16
2.6 Daya Saing ................................................................................................ 16
2.7 Purposive Cluster Sampling ...................................................................... 17
2.8 Participatory Action Research (PAR) ....................................................... 17
2.9 Skala Likert................................................................................................ 18
2.10 Tabulasi Silang (Cross Tabulation) ........................................................... 18
2.11 Transformasi Indek .................................................................................... 19
2.12 Structural Equation Modeling (SEM) ...................................................... 19
2.12.1 Bentuk SEM dengan Partial Least Squares (PLS) ....................... 21
2.13 Tinjauan Penelitian Terdahulu .................................................................. 24
2.14 Hipotesis Penelitian .................................................................................. 27

xi 
 

III. METODOLOGI PENELITIAN ...................................................................... 28
3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian ................................................................ 28
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .................................................................... 30
3.3 Jenis dan Sumber Data ............................................................................. 30
3.4 Jumlah Sampel dan Metode Penarikan Sampel ........................................ 30
3.5 Metode Pengumpulan Data ...................................................................... 31
3.6 Pengolahan dan Analisis Data .................................................................. 31
3.6.1 Analisis Deskriptif Frekuensi dan Tabulasi Silang ....................... 31
3.6.2 Analisis Transformasi Indek .......................................................... 32
3.6.3 Analisis Structural Equation Modeling (SEM) dengan
pendekatan Partial Least Squares (PLS)....................................... 32
3.7 Operasionalisasi Variabel ......................................................................... 32
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 37
4.1 Gambaran Umum Industri Kecil Alas Kaki di Bogor .............................. 37
4.2 Identitas Pelaku Usaha .............................................................................. 42
4.3 Karakteristik Pelaku Usaha ...................................................................... 44
4.4 Karakteristik Usaha .................................................................................. 48
4.5 Hubungan Karakteristik Pelaku Usaha dan Karakteristik Usaha ............. 52
4.6 Kemampuan Entrepreneurial Marketing ................................................ 55
4.7 Implementasi Kebijakan Pemerintah ....................................................... 59
4.8 Kemampuan Daya Saing ......................................................................... 62
4.9 Analisis SEM PLS Entrepreneurial Marketing dan Kebijakan
Pemerintah terhadap Daya Saing Industri Alas Kaki di Bogor ................. 64
4.9.1 Model Pengaruh Langsung EM dan KP terhadap DS ................... 65
4.9.1.1 Analisis Model Outer ....................................................... 65
4.9.1.2 Analisis Model Inner ....................................................... 70
4.9.2 Model Pengaruh Langsung EM terhadap DS dan Pengaruh
Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM .............................. 72
4.9.2.1 Analisis Model Outer ....................................................... 72
4.9.2.2 Analisis Model Inner ....................................................... 75
4.9.3 Model Pengaruh Langsung EM terhadap DS dan Pengaruh
Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM berdasarkan
Kepemilikan Alat Produksi ........................................................... 76
4.9.3.1 Analisis Model Outer ....................................................... 77
4.9.3.2 Analisis Model Inner ....................................................... 79
4.9.4 Model Pengaruh Langsung EM terhadap DS dan Pengaruh
Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM berdasarkan
Pemenuhan Kebutuhan Keluarga .................................................. 80
4.9.4.1 Analisis Model Outer ....................................................... 81
4.9.4.2 Analisis Model Inner ....................................................... 83

xii 
 

4.9.5

Model Pengaruh Langsung EM terhadap DS dan Pengaruh
Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM berdasarkan
Posisi Usaha Bagi Pengusaha ....................................................... 84
4.9.5.1 Analisis Model Outer ....................................................... 85
4.9.5.2 Analisis Model Inner ....................................................... 87
4.10 Implikasi Manajerial ................................................................................. 88
KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................ 96
1. Kesimpulan .................................................................................................. 96
2. Saran ............................................................................................................. 97
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 98
LAMPIRAN ........................................................................................................... 101

xiii 
 

DAFTAR TABEL

No.
Halaman
1. Potensi IKM Alas Kaki di Bogor .................................................................... 3
2. Perbandingan Pemasaran Tradisional dan Entrepreneurial Marketing ........ 14
3. Perbedaan antara VBSEM dan CBSEM ....................................................... 21
4. Kajian Penelitian Terdahulu ......................................................................... 24
5. Operasionalisasi Variabel Entrepreneurial Marketing ................................. 33
6. Operasionalisasi Variabel Kebijakan Pemerintah ......................................... 35
7. Operasionalisasi Variabel Daya Saing .......................................................... 36
8. Identitas Pelaku Usaha Alas Kaki di Bogor .................................................. 43
9. Karakteristik Pelaku Usaha Alas Kaki di Bogor ........................................... 47
10. Karakteristik Usaha Alas Kaki di Bogor....................................................... 51
11. Signifikansi Hubungan Karakteristik Pelaku Usaha dan Karakteristik
Usaha ............................................................................................................. 53
12. Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Jenis Usaha .................................. 53
13. Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Omset per Bulan (Rp) .................. 54
14. Tabulasi Silang Kepemilikan Modal dan Keinginan Pindah Usaha ............. 54
15. Tabulasi Silang Omset per Bulan (Rp) dan Terpenuhi Kebutuhan............... 55
16. Signifikansi Hubungan Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Concept ....... 56
17. Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Concept ................... 57
18. Signifikansi Hubungan Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Market
Intelligence .................................................................................................... 58
19. Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Market Intelligence
– Hubungan dengan Usaha Menengah.......................................................... 59
20. Tabulasi Silang Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Market Intelligence
– Hubungan dengan Usaha Besar ................................................................. 59
21. Hasil Penilaian Kriteria dan Standar Nilai Mode Reflektif (direct effect
EM dan KP terhadap DS).............................................................................. 66
22. Nilai Analisis Model Inner vs Standar (direct effect EM dan KP terhadap
DS) ................................................................................................................ 70
23. Hasil Penilaian Kriteria dan Standar Nilai Mode Reflektif (direct effect
EM terhadap DS dan indirect effect KP terhadap DS melalui EM) .............. 73
24. Nilai Analisis Model Inner vs Standar (direct effect EM terhadap DS dan
indirect effect KP terhadap DS melalui EM) ................................................ 75
25. Hasil Penilaian Kriteria dan Standar Nilai Mode Reflektif (direct dan
indirect effect berdasarkan kepemilikan alat produksi) ................................ 77
26. Perbandingan Outer Loading “alat produksi memadai” vs “alat produksi
kurang memadai” ......................................................................................... 78
27. Nilai Analisis Model Inner vs Standar (direct dan indirect effect
berdasarkan kepemilikan alat produksi)........................................................ 80

xiv 
 

28. Hasil Penilaian Kriteria dan Standar Nilai Mode Reflektif (direct dan
indirect effect berdasarkan pemenuhan kebutuhan keluarga) ....................... 81
29. Perbandingan Outer Loading “terpenuhi lebih dari 75%” vs “terpenuhi
kurang dari 75%” .......................................................................................... 82
30. Nilai Analisis Model Inner vs Standar (direct dan indirect effect
berdasarkan pemenuhan kebutuhan keluarga) .............................................. 84
31. Hasil Penilaian Kriteria dan Standar Nilai Mode Reflektif (direct dan
indirect effect berdasarkan posisi usaha)....................................................... 85
32. Perbandingan Outer Loading “sangat menjadi sumber pendapatan utama”
vs “menjadi sumber pendapatan utama” ....................................................... 86
33. Nilai Analisis Model Inner vs Standar (direct dan indirect effect
berdasarkan posisi usaha).............................................................................. 87
34. Implikasi Manajerial dalam Perencanaan, Pelaksanaan, dan Pengendalian
pada Pelaku Usaha dan Pemda Berdasarkan Hasil Penelitian ...................... 91

xv 
 

DAFTAR GAMBAR
No.
Halaman
1. Trend Jumlah Unit Usaha IKM Alas Kaki Kabupaten Bogor ........................ 4
2. Contoh Model Path PLS ............................................................................... 23
3. Kerangka Pemikiran Penelitian ..................................................................... 29
4. Indek Entrepreneurial Marketing ................................................................ 56
5. Indek Kebijakan Pemerintah ........................................................................ 60
6. Indek Daya Saing ......................................................................................... 63
7. Model Awal (direct effect & full sample) ..................................................... 67
8. Model Akhir (direct effect & full sample)..................................................... 67
9. Model Awal (indirect effect & full sample) .................................................. 74
10. Model Akhir (indirect effect & full sample) ................................................. 74

xvi 
 

DAFTAR LAMPIRAN

No.
Halaman
1. Milestones in The Evolution of Entrepreneurial Marketing ....................... 101
2. Kuesioner Penelitian .................................................................................. 103
3. Dokumentasi .............................................................................................. 107
4. Output PLS dan Bootstrapping Model Pengaruh Langsung EM dan KP
terhadap DS ................................................................................................. 109
5. Output PLS dan Bootstrapping Model Pengaruh Langsung EM terhadap
DS dan Pengaruh Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM ............... 112
6. Output PLS dan Bootstrapping Model Pengaruh Langsung EM terhadap
DS dan Pengaruh Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM
berdasarkan Kepemilikan Alat Produksi..................................................... 115
7. Output PLS dan Bootstrapping Model Pengaruh Langsung EM terhadap
DS dan Pengaruh Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM
berdasarkan Pemenuhan Kebutuhan Keluarga............................................ 121
8. Output PLS dan Bootstrapping Model Pengaruh Langsung EM terhadap
DS dan Pengaruh Tidak Langsung KP terhadap DS melalui EM
berdasarkan Posisi Usaha bagi Pengusaha ................................................. 127

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

xvii 
 

I.

1.1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Marketing (pemasaran) merupakan salah satu disiplin ilmu yang berperan
penting dalam berkembangnya suatu industri, baik industri skala besar maupun
industri kecil dan menengah (IKM). Akan tetapi, bagi mayoritas pengusaha kecil,
pemasaran masih menjadi salah satu masalah mendasar yang harus dihadapi.
Permasalahan pemasaran pada pengusaha kecil umumnya terfokus pada tiga hal,
yaitu (Hadiyati, 2009): (1) masalah persaingan pasar dan produk, (2) masalah
akses terhadap informasi pasar, dan (3) masalah kelembagaan pendukung usaha
kecil.
Meski pemasaran memegang peranan krusial dalam keberlanjutan sebuah
bisnis, mayoritas pelaku IKM, belum menganggap pemasaran sebagai elemen
kunci bisnis (Kraus et al., 2007). Pemasaran sering dilihat sebagai pemborosan
sumber daya, karena sebagian besar dari mereka menganggap pemasaran hanya
sebatas pada promosi penjualan yang memerlukan biaya tinggi. Para pelaku IKM
selama ini mempunyai anggapan bahwa konsep pemasaran sebagai sesuatu yang
dilakukan perusahaan besar (Stokes, 2000). Pemikiran ini muncul karena
banyaknya buku teks yang membahas studi kasus konsep pemasaran pada
perusahaan besar. Selain itu, pengetahuan mengenai masalah pemasaran
tampaknya agak rendah di kalangan pelaku IKM, sehingga praktek pemasaran
seperti iklan dan promosi penjualan dengan perencanaan jangka panjang,
seringkali dianggap membingungkan (Hakansson dan Klandt dalam Kraus et al.,
2007).
Berdasarkan kondisi tersebut diketahui bahwa konsep pemasaran yang ada
(pemasaran tradisional) yang awalnya dikembangkan untuk perusahaan besar,
tidak dapat langsung ditransfer ke dunia usaha kecil tanpa adaptasi. Hal itu atas
dasar penerapan konsep pemasaran oleh para pelaku IKM yang dipraktekkan
dengan cara yang berbeda dari buku teks pemasaran tradisional (Kraus et al.,
2007). Hasil penelitian tersebut memberi gambaran bahwa dibutuhkan keberadaan



konsep pemasaran yang lebih sesuai dengan karakteristik khas yang dimiliki IKM.
Entrepreneurial

marketing

(kewirausahaan

pemasaran)

merupakan

pendekatan konsep yang lebih sesuai ditinjau dari keterbatasan sumber daya dan
permasalahan yang ada pada IKM (Stokes, 2000). Konsep entrepreneurial
marketing merupakan konsep yang awalnya muncul pada pelaku usaha skala kecil
atau pelaku usaha yang baru memulai bisnisnya (Stokes, 2000), yang mempelajari
mengenai nilai, kemampuan dan perilaku seorang wirausaha dalam menghadapi
berbagai permasalahan serta mendapatkan peluang usaha (Hadiyati, 2009). Pada
penerapan entrepreneurial marketing, pemilik IKM cenderung melakukan strategi
bottom-up (menyesuaikan produk dengan permintaan konsumen) dan berorientasi
inovasi. Hal ini sangat relevan dengan karakteristik industri alas kaki yang
notabenenya peka terhadap perubahan varian model yang begitu cepat, sehingga
membutuhkan strategi inovasi yang tepat dari para pelaku usaha.
Industri alas kaki merupakan salah satu sektor Industri Kecil dan
Menengah (IKM) non migas yang didukung oleh pemerintah. Dukungan dari
pemerintah tersebut diperkuat dengan adanya regulasi dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang diatur oleh Peraturan
Presiden No. 7/2005 yaitu mengenai pengembangan industri alas kaki yang dinilai
berpotensi dalam pembangunan nasional. Penetapan industri alas kaki sebagai
salah satu industri prioritas pembangunan nasional cukup beralasan, mengingat
potensi industri alas kaki sangat menjanjikan di masa mendatang. Ketua Umum
Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menyatakan bahwa, sepanjang tahun
2011, potensi penjualan pasar dalam negeri produk alas kaki nasional mencapai
Rp 5 triliun1. Industri alas kaki memiliki pasar yang sangat besar karena
berkesinambungan dengan pertambahan jumlah penduduk.
Data Aprisindo menunjukkan bahwa hingga kini produk alas kaki impor
masih mendominasi pasar lokal yaitu sebesar 60 persen. Dalam lingkungan bisnis
yang turbulen, pelaku industri kecil (IK) alas kaki dituntut untuk melakukan
berbagai langkah strategis agar mampu berdaya saing. Peningkatan daya saing
salah satunya dapat dicapai melalui strategi inovasi yang merupakan wujud dari
                                                            
 http://www.republika.co.id. Inpres P3DN Naikkan Transaksi Alas Kaki Rp 5 T.

1

 



kreatifitas yang dihasilkan oleh pengelola usaha (Rofiaty, 2010), yang juga
merupakan cerminan dari penerapan konsep entrepreneurial marketing.

1.2

Perumusan Masalah
Bogor merupakan salah satu sentra IKM alas kaki di Jawa Barat setelah
Cibaduyut, Bandung. Baik wilayah Kota maupun Kabupaten Bogor, keduanya
begitu potensial untuk pengembangan industri alas kaki. Potensi IKM alas kaki
selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1, di mana data pada tabel tersebut
merupakan rekap data terkini yang dimiliki pihak Dinas terkait di masing-masing
wilayah.
Tabel 1. Potensi IKM Alas Kaki di Bogor
Indikator
Kapasitas produksi per tahun (kodi)
Jumlah unit usaha (orang)
Jumlah tenaga kerja (orang)

Kabupaten Bogor
(Tahun 2011)
1.863.360
1.941
18.108

Kota Bogor
(Tahun 2003)
3.568.272
240
3.200

Sumber: Data Diskoperindag Kabupaten Bogor dan Disperindag Kota Bogor,
diolah (2012)
Berdasarkan penelitian Widyastutik et al. (2010), diketahui bahwa Kota
Bogor memiliki banyak IKM, namun yang berpotensi untuk dijadikan klaster
industri adalah industri alas kaki dalam hal ini sepatu dan sandal. Beberapa daerah
yang menjadi sentra industri alas kaki di Kota Bogor adalah Kelurahan Cikaret,
Pamoyanan dan Mulyaharja yang ketiganya berada di Kecamatan Bogor Selatan.
Di sisi lain, untuk wilayah Kabupaten Bogor, posisi IKM alas kaki sudah sesuai
dengan RPJMN, yang menetapkan industri alas kaki sebagai salah satu industri
prioritas pembangunan nasional. Hal ini ditunjukkan oleh hasil penelitian
Depperin (2007) mengenai kajian pengembangan kompetensi inti daerah, dimana
produk alas kaki di wilayah Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai produk
unggulan prioritas, dengan sentra produksi berada di Kecamatan Ciomas. Potensi
IK alas kaki juga dapat dilihat dari peningkatan jumlah unit usaha tiap tahunnya.
Pihak UPT (Unit Pelayanan Teknis) alas kaki Kabupaten Bogor menyebutkan
bahwa rata-rata kenaikan jumlah pelaku usaha adalah 2,5 persen per tahun.
Dikarenakan data jumlah unit usaha yang tersedia hanya pada tahun 2010 dan
2011, maka untuk data tahun-tahun sebelumnya dilakukan penyesuaian
berdasarkan peningkatan rata-rata sesuai pernyataan dari pihak UPT (Gambar 1).



2000
1950
1933

1900
1850

1941

1844
1795

1800
1750

jumlah
unit usaha

1747

1700
1650
1600
2007

2008

2009

2010

2011

Gambar 1. Trend Jumlah Unit Usaha IKM Alas Kaki Kabupaten Bogor
Sumber: Data Diskoperindag Kabupaten Bogor, diolah (2012)
Meski keberadaannya begitu potensial, namun realisasi pengembangan
Industri Kecil (IK) alas kaki di wilayah Bogor masih belum optimal. Mayoritas IK
alas kaki di wilayah Bogor masih berada pada kondisi yang tidak ideal, dimana IK
alas kaki tidak mengalami perkembangan yang signifikan dan tidak jauh berbeda
kondisinya ketika awal didirikan. Pihak UPT alas kaki Kabupaten Bogor
menyebutkan bahwa hanya sekitar 5 persen IKM alas kaki yang berkembang
menjadi usaha besar.
Upaya pengembangan IK alas kaki di wilayah Bogor menghadapi berbagai
permasalahan, terkait dengan permodalan dan pemasaran (Widyastutik et. al,
2010). Keterbatasan modal membuat sebagian besar pelaku IK alas kaki
melakukan kemitraan dengan pengumpul dalam hal pengadaaan bahan baku dan
pemasaran produk. Depperin (2007) mengidentifikasi beberapa kelemahan dan
kendala yang dihadapi pengrajin industri alas kaki di wilayah Kabupaten Bogor,
antara lain: (a) keterbatasan modal untuk pengadaan bahan baku secara mandiri,
(b) pengrajin terpola untuk selalu mengerjakan order dari pengumpul, sehingga
kurang mampu dalam membaca peluang pasar yang masih sangat luas dan
terbuka, (c) model yang dikerjakan masih monoton karena posisinya sebagai
follower, (d) modal kurang dapat dikelola dengan baik karena pembayaran yang
diterima berupa cek mundur 2 bulan, dimana berpotensi mengurangi margin yang
seharusnya diterima karena dikenakan bunga sekitar 6% per bulan, dan (e)
teknologi proses produksi yang digunakan masih sederhana.



Jika ditelusuri lebih lanjut, permasalahan permodalan dapat bersumber
pada dua hal, yaitu: karakteristik pelaku usaha dan konsistensi dukungan
pemerintah daerah (Pemda). Meski sumber dana yang tersedia cukup banyak,
namun belum adanya titik temu antara debitur dan kreditur menyebabkan
minimnya pembiayaan melalui perbankan (Widyastutik et. al, 2010). Kesulitan
memperoleh kredit bank dimungkinkan oleh berbagai hal, antara lain: pelaku
usaha tidak memiliki laporan keuangan yang sesuai dengan persyaratan
perbankan, minimnya pengetahuan pelaku usaha terhadap akses permodalan, atau
rendahnya keinginan pelaku usaha untuk mandiri dalam permodalan. Di sisi lain,
konsistensi Pemda dalam mendukung industri alas kaki masih belum begitu fokus,
dimana seringkali bergantung pada kondisi pasar (Ermayani et al., 2010). Apabila
perdagangan alas kaki sedang lesu, Pemda cenderung beralih menggarap sektor
IK lainnya.
Dalam hal pemasaran, pola pemasaran yang dilakukan para pengrajin juga
cenderung konvensional dan terbatas. Pemasaran yang terjadi selama ini adalah
produk sepatu pesanan pengumpul diberikan kepada pengumpul, untuk dijual
kembali oleh para pengumpul di pasar-pasar lokal di Bogor (Ermayani et al.,
2010). Meski demikian, terdapat juga beberapa pelaku IK sepatu yang bersifat
mandiri, yang tidak meminjam atau menerima order dari pengumpul, berusaha
dengan modal sendiri, serta memasarkan sendiri produknya ke toko-toko.
Permasalahan pemasaran juga berkaitan erat dengan karakeristik pelaku usaha dan
berbagai keterbatasan sumberdaya yang mereka hadapi. Pelaku usaha yang
bersifat pengrajin cenderung memiliki jiwa wirausaha yang rendah sehingga
mereka kurang berani mengambil resiko untuk mandiri. Meski pada
kenyataannya, bertindak sebagai pengusaha mandiri lebih menguntungkan
dibandingkan hanya sebatas menjadi pengrajin.
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan dalam pengembangan IK alas
kaki di wilayah Bogor dapat dikelompokkan ke dalam dua faktor utama: (1) faktor
internal, yaitu kompetensi pelaku usaha dan (2) faktor eksternal, yaitu kebijakan
pemerintah daerah. Hal ini sesuai dengan penelitian Utami (2007) yang
menyatakan bahwa model pemberdayaan yang efektif bagi para pengrajin adalah
dengan meningkatkan kualitas perilaku wirausaha dan kemandirian usaha, yang



didukung oleh unsur penunjang dari pemerintah daerah dan organisasi non
pemerintah.
Agar tetap mampu bertahan dan berkelanjutan, maka pelaku IK alas kaki
harus concern terhadap daya saing usaha maupun daya saing produknya. Kunci
peningkatan daya saing IK terletak pada pengusaha IK yang memiliki jiwa
kewirausahaan dan jiwa inovasi yang tinggi (Susilo, 2010), yang mana hal ini
merupakan cerminan penerapan entrepreneurial marketing. Selain itu, pemerintah
juga berperan penting dalam peningkatan daya saing IK. Secara spesifik dan
operasional, Pemda berkewajiban menjadi fasilitator dalam akses permodalan
pengrajin alas kaki, menjadi regulator dalam melindungi usaha alas kaki melalui
kebijakan baik di tingkat input (modal dan bahan baku), hingga kebijakan di
tingkat pemasaran (Kusumawati et.al, 2010).
Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, maka perumusan masalah
penelitian yang dapat diajukan adalah:
1. Bagaimana karakteristik pelaku usaha, karakteristik usaha dan keterkaitan
keduanya pada IK alas kaki di wilayah Bogor?
2. Sejauh mana kemampuan entrepreneurial marketing, implementasi kebijakan
pemerintah dan kemampuan daya saing pelaku usaha IK alas kaki di wilayah
Bogor?
3. Bagaimana pengaruh entrepreneurial marketing dan kebijakan pemerintah
terhadap daya saing industri alas kaki di wilayah Bogor?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi karakteristik pelaku usaha, karakteristik usaha dan
keterkaitan keduanya pada IK alas kaki di wilayah Bogor.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis kemampuan entrepreneurial marketing,
implementasi kebijakan pemerintah dan kemampuan daya saing pelaku usaha
IK alas kaki di wilayah Bogor.
3. Mengidentifikasi dan menganalisis pengaruh entrepreneurial marketing dan
kebijakan pemerintah terhadap daya saing industri alas kaki di wilayah Bogor.



1.4

Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini merupakan studi kasus yang dilakukan pada IK alas kaki di
wilayah-wilayah sentra produksi alas kaki Bogor. Penelitian ini mengacu pada
proyek Penelitian Strategis Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
Kemendikbud, Tahun Anggaran 2012, dengan judul penelitian “Model
Pengembangan Industri Kecil dan Rumah Tangga Alas Kaki dalam Menuju
Keberlanjutan Usaha dan Menghadapi CAFTA”, yang menjadi sumber data
penelitian. Penelitian ini memiliki lingkup general, yang membahas alas kaki
secara umum. Pada penelitian ini juga tidak dilakukan perbedaan perlakuan antara
pengrajin dan pengusaha mandiri. Hal ini dilakukan untuk melihat potensi
kemandirian usaha secara umum. Entrepreneurial marketing dan daya saing
diukur berdasarkan kemampuan pelaku usaha alas kaki, sedangkan kebijakan
pemerintah diukur berdasarkan implementasinya yang dirasakan oleh pelaku
usaha. Berdasarkan kondisi yang ada di lapangan, maka daya saing pada
penelitian ini dibatasi hanya pada daya saing dalam negeri.

1.5

Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi
para stakeholder, khususnya para pelaku IK alas kaki dan pemerintah. Bagi para
pelaku IK alas kaki, penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai potensi
mereka untuk berkembang menjadi mandiri melalui pendekatan entrepreneurial
marketing, sehingga pada akhirnya memiliki kemampuan untuk berdaya saing.
Sedangkan bagi pemerintah (khususnya Pemda), hasil penelitian ini dapat
digunakan sebagai salah satu masukan untuk lebih mendukung dan memajukan
keberadaan industri kecil alas kaki di Bogor, melalui implementasi kebijakan
yang lebih optimal dan tepat sasaran. Bagi kalangan akademis, hasil penelitian
dapat dijadikan sebagai data dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Serta, bagi masyarakat yang ingin menambah wawasan dan
pengetahuan mengenai pengaruh entrepreneurial marketing dan kebijakan
pemerintah terhadap daya saing industri alas kaki di wilayah Bogor, dapat
menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan referensi.

II.

2.1

TINJAUAN PUSTAKA

Alas Kaki
Alas kaki merupakan suatu produk berupa sepatu atau sandal yang
digunakan sebagai penutup telapak kaki untuk melindungi kaki terutama disekitar
telapak kaki (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2012). Jika dilihat
dari fisiknya, sepatu dan sandal memiliki beberapa perbedaan. Sepatu merupakan
suatu jenis alas kaki yang biasanya terdiri dari sol, hak, kap, dan tali. Sedangkan
sandal merupakan salah satu model alas kaki yang terbuka pada bagian jari kaki
atau tumit dalam pemakaiannya. Selain fitur fungsional dari alas kaki sebagai
pelindung kaki, alas kaki juga banyak difungsikan sebagai trend fashion dalam
berbusana.

2.2

Jenis Usaha dan Industri
Peraturan perundang-undangan tentang usaha kecil telah mengalami
perubahan, yang mana Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha
Kecil, telah diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil dan Menengah. Berdasarkan total aset dan total penjualan tahunan
Undang-Undang tersebut mengelompokkan usaha menjadi empat kategori sebagai
berikut:
1. Usaha mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.
50.000.000,00 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha atau memiliki
hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 300.000.000,00.
2. Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, dilakukan
oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasasi, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah
atau Usaha Besar, dengan kriteria memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.
50.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp. 500.000.000,00 tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan



tahunan lebih dari Rp. 300.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp.
2.500.000.000,00.
3. Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha
Besar dengan jumlah kekayaan bersih lebih dari Rp. 500.000.000,00 sampai
dengan paling banyak Rp. 10.000.000.000,00 tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha, atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.
2.500.000.000,00 sampai dengan paling banyak Rp. 50.000.000.000,00.
4. Usaha besar adalah usaha ekonomi produktif yang dilakukan oleh badan usaha
dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan lebih besar dari
Usaha Menengah, yang meliputi usaha nasional milik negara atau swasta,
usaha patungan dan usaha asing yang melakukan kegiatan ekonomi di
Indonesia.
Pada pengelompokkan industri berdasarkan jumlah tenaga kerja, Badan Pusat
Statistik (Tambunan, 2002) mengklasifikasikannya ke dalam empat kategori,
yaitu:
1. Industri rumah tangga dengan jumlah tenaga kerja 1 sampai 4 orang.
Ciri industri ini adalah memiliki modal yang sangat terbatas, tenaga kerja
berasal dari anggota keluarga, dan pemilik atau pengelola industri biasanya
kepala rumah tangga itu sendiri atau anggota keluarganya. Misalnya: industri
anyaman, industri kerajinan, industri tempe/tahu, dan industri makanan ringan.
2. Industri kecil dengan jumlah tenaga kerja 5 sampai 19 orang.
Ciri industri kecil adalah memiliki modal yang relatif kecil, tenaga kerjanya
berasal dari lingkungan sekitar atau masih ada hubungan saudara. Misalnya:
industri genteng, industri batu bata, dan industri pengolahan rotan.
3. Industri sedang dengan jumlah tenaga kerja 20 sampai 99 orang.
Ciri industri sedang adalah memiliki modal yang cukup besar, tenaga kerja
memiliki

keterampilan

tertentu,

dan

pimpinan

perusahaan

memiliki

kemampuan manajerial tertentu. Misalnya: industri konveksi, industri bordir,
dan industri keramik.

10 

4. Industri besar dengan jumlah tenaga kerja lebih dari 100 orang.
Ciri industri besar adalah memiliki modal besar yang dihimpun secara kolektif
dalam bentuk pemilikan saham, tenaga kerja harus memiliki keterampilan
khusus, dan pimpinan perusahaan dipilih melalui uji kemampuan dan
kelayakan (fit and proper test). Misalnya: industri tekstil, industri mobil,
industri besi baja, dan industri pesawat terbang.

2.3

Pemasaran (Marketing)
Kotler (2005) mengungkapkan bahwa ruang lingkup utama pemasaran
adalah bagaimana memahami keinginan dan kebutuhan pelanggan untuk
memberikan kepuasan kepada pelanggan yang pada akhirnya menangkap nilai
dari pelanggan sebagai imbalannya. Di sisi lain, American Marketing Association
(AMA) dalam Hills (2008) memberikan definisi pemasaran yang lebih luas,
dimana pemasaran dianggap sebagai seperangkat proses untuk mengelola
hubungan pelanggan dengan tujuan menguntungkan organisasi dan perusahaan,
serta memberikan nilai optimal bagi para stakeholder. Ketika terjadi perubahan
nilai pada stakeholder, maka konsep pemasaran akan berubah sesuai dengan
perubahan tuntutan stakeholder dan perkembangan pasar.
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, konsep pemasaran juga
mengalami perkembangan dalam sudut pandang kontekstualnya. Crosier (2006)
menyatakan konsep dasar dalam pemasaran tradisional dapat diklasifikasikan
menjadi tiga sudut pandang, meliputi: (1) pemasaran sebagai budaya organisasi
yang memperhatikan pentingnya pasar atau konsumen, (2) pemasaran sebagai
proses strategis yang membahas mengenai kemampuan perusahaan dalam
bersaing dan bertahan di pasar, dan (3) pemasaran sebagai serangkaian fungsi atau
metode taktis dalam menetapkan pengembangan produk, menetapkan harga,
melakukan promosi dan menggunakan saluran distribusi. Di samping ketiga
elemen tersebut, elemen inteligensi pasar juga merupakan elemen penting dalam
konsep dasar pemasaran, dimana elemen ini berkaitan dengan sistem
pengumpulan informasi pasar melalui kegiatan riset pemasaran terstruktur (Kohli
dan Jaworski, 2005).

11 

2.3.1

Pemasaran Pelaku Industri Kecil dan Menengah (Small Medium
Enterprises Marketing)
Bagi mayoritas SMEs (Small Medium Enterprises) atau pelaku IKM,

pemasaran belum dianggap sebagai elemen kunci bisnis. Penelitian Kraus et al.
(2007) menemukan tingginya ketergantungan pelaku IKM terhadap kriteria
keuangan, khususnya laporan keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa
mayoritas pelaku IKM hanya berfokus pada jangka pendek, untuk kelangsungan
hidup mereka saja. Marketing sering dilihat sebagai pemborosan sumber daya.
Selain itu, pengetahuan tentang masalah pemasaran tampaknya agak rendah di
kalangan pelaku IKM, dan prakteknya seperti: iklan dan promosi penjualan
dengan perencanaan jangka panjang, seringkali dianggap membingungkan
(Hakansson dan Klandt dalam Kraus et al., 2007).
Pertumbuhan usaha sering terjadi tanpa strategi pemasaran formal atau
direncanakan selama tahun pertama pengembangan usaha. Banyak pemilik IKM
cenderung percaya bahwa langkah strategis formal juga tidak akan diperlukan di
kemudian hari (Kraus et al., 2007). Untuk menjaga kelangsungan hidup IKM,
hampir kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan bentuk pemasaran seperti
word of mouth serta pengumpulan informasi pasar secara informal, daripada
menerapkan bauran pemasaran terpadu atau riset pasar formal (Stokes, 2000).
Meski konsep pemasaran telah banyak dijelaskan dalam berbagai buku
teks, namun konsep pemasaran yang ada yang awalnya dikembangkan untuk
perusahaan besar, tidak dapat langsung ditr

Dokumen yang terkait

Analysis of The Influences of Entrepreneurial Marketing and Government Policies to The Competitiveness of The Footwear Industry in Bogor.