PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI POKOK SISTEM PERTAHANAN TUBUH OLEH SISWA (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 1 Bandar Sri

ABSTRAK
PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS
BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI POKOK SISTEM
PERTAHANAN TUBUH OLEH SISWA
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 1
Bandar Sribhawono Kabupaten Lampung Timur
Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
SRI WIRAHAYU

Aktivitas belajar berperan penting dalam kegiatan pembelajaran, salah satunya
yaitu mempengaruhi kemampuan siswa dalam menguasai materi pelajaran. Hasil
observasi di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono, menunjukkan
bahwa aktivitas belajar dan penguasaan materi oleh siswa masih rendah. Oleh
karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model
pembelajaran NHT dalam meningkatkan aktivitas belajar dan penguasaan materi
oleh siswa.

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimen dengan desain pretes-postes kelompok
tak ekuivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA1 dan XI IPA2 yang
dipilih dari populasi secara purposive sampling. Data penelitian ini berupa data
kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa deskripsi aktivitas belajar yang

Sri Wirahayu

diperoleh melalui observasi serta data pendukung berupa deskripsi tanggapan
siswa terhadap penggunaan model pembelajaran NHT yang diperoleh melalui
penyebaran angket. Data kuantitatif diperoleh melalui pemberian pretes dan
postes, kemudian rata-rata nilai pretes, postes, dan N-gain dianalisis secara
statistik menggunakan uji t dan uji U dengan SPSS 17.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran NHT
meningkatkan semua aspek aktivitas belajar dengan rata-rata peningkatan
berkriteria baik (78,89 ± 12,60). Pada aspek membentuk kelompok (92,22);
memberikan ide/pendapat (83,33); menjawab pertanyaan (77,78); dan
menanggapi jawaban pertanyaan (62,22). Penguasaan materi juga meningkat
dengan rata-rata nilai pretes (31,99); postes (72,22); dan N-gain (61,52). Besarnya
peningkatan penguasaan materi pada indikator C2 (58,37) dan C4 (63,15); dengan
rata-rata peningkatan (60,76 ± 3,38). Adapun kriteria peningkatan perbutir soal
pada indikator C2 dan C4 adalah sama, yaitu sangat tinggi (soal no. 4 dan 2);
tinggi (soal no. 5 dan 6); dan sedang (soal no. 3 dan 1). Selain itu, sebagian besar
siswa memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model pembelajaran
NHT. Dengan demikian, pembelajaran menggunakan model pembelajaran NHT
berpengaruh dalam meningkatkan aktivitas belajar dan berpengaruh signifikan
dalam meningkatkan penguasaan materi oleh siswa.

Kata kunci: aktivitas belajar, model pembelajaran NHT, penguasaan materi,
sistem pertahanan tubuh

iii

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL............................................................................................. xv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ xvii
I. PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang ......................................................................................
Rumusan Masalah .................................................................................
Tujuan Penelitian ..................................................................................
Manfaat Penelitian ................................................................................
Ruang Lingkup Penelitian .....................................................................
Kerangka Pikir ......................................................................................
Hipotesis................................................................................................

1
5
5
5
6
7
9

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning) .................................
B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together
(NHT) ....................................................................................................
C. Aktivitas Belajar Siswa .........................................................................
D. Penguasaan Materi Belajar oleh Siswa .................................................

10
12
15
17

III. METODE PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Waktu dan Tempat Penelitian ...............................................................
Populasi dan Sampel .............................................................................
Desain Penelitian...................................................................................
Prosedur penelitian ................................................................................
Jenis dan Teknik Pengumpulan Data ....................................................
Teknik Analisis Data .............................................................................

20
20
20
21
28
34

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ....................................................................................... 39
B. Pembahasan ........................................................................................... 44
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ...........................................................................................
B. Saran .....................................................................................................
xiv

54
54

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

56

LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Silabus ...................................................................................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)...........................................
Lembar Kerja Siswa (LKS)...................................................................
Pretes dan Postes ...................................................................................
Angket Tanggapan Siswa ......................................................................
Data-data Hasil Penelitian .....................................................................
Foto-Foto Penelitian ..............................................................................

xiv

60
64
96
112
117
118
129

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan merupakan usaha yang mempunyai tujuan, yang dengan
sistematis terarah pada perubahan tingkah laku menuju ke kedewasaan anak
didik (Sardiman, 2008: 12). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan di
Indonesia berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa. Tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab
(Depdiknas, 2003: 4).

Tercapai atau tidaknya tujuan pendidikan tersebut sangat bergantung kepada
proses pendidikan yang dialami oleh anak didik. Adapun kegiatan yang
paling pokok dalam keseluruhan proses tersebut adalah belajar. Slameto
(2003: 1-2) mengungkapkan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam

2

interaksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, selama proses belajar
mengajar guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun
berbuat.

Proses pendidikan di Indonesia terutama pendidikan formal (sekolah) dapat
dikatakan belum maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
Trianto (2010: 5) mengungkapkan bahwa masalah utama saat ini adalah
masih rendahnya hasil belajar peserta didik yang merupakan hasil kondisi
pembelajaran konvensional yang dalam proses pembelajaran memberikan
dominasi guru dan tidak memberikan akses bagi siswa untuk berkembang
secara mandiri. Menurut Sardiman (2008: 98-99) dominasi guru
mengakibatkan siswa menjadi lebih pasif, aktivitasnya terutama terbatas pada
mendengarkan, mencatat, dan menjawab pertanyaan bila guru memberikan
pertanyaan. Oleh karena itu, proses belajar mengajar semacam ini tidak dapat
mendorong siswa untuk berpikir dan beraktivitas.

Hasil observasi dan wawancara dengan guru Biologi di SMA Negeri 1
Bandar Sribhawono menunjukkan bahwa aktivitas belajar dan penguasaan
materi oleh siswa belum tercapai secara optimal. Hal tersebut diperkuat
dengan hasil ujian akhir semester genap siswa kelas XI IPA tahun pelajaran
2011/2012, khususnya untuk materi Sistem Pertahanan Tubuh hanya terdapat
sekitar 35 % siswa mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu
75. Selain itu, hanya terdapat sekitar 40 % siswa yang aktif dalam kegiatan
belajar, seperti mendengarkan, mencatat, bertanya, serta menjawab
pertanyaan yang diberikan guru. Sedangkan siswa lainnya hanya sekedar

3

menjadi pendengar, bahkan beberapa siswa melakukan kegiatan yang kurang
relevan dengan kegiatan pembelajaran seperti membaca buku ketika guru
menjelaskan materi, mengobrol, mengganggu teman, tiduran, dan mencoretcoret buku atau meja.

Kurang optimalnya aktivitas dan penguasaan materi oleh siswa di SMA
Negeri 1 Bandar Sribhawono terjadi karena cara penyampaian materi yang
diterapkan guru seperti metode ceramah belum mampu memfasilitasi siswa
untuk mengembangkan aktivitas belajar dan meningkatkan pemahaman
materinya. Cara tersebut memungkinkan guru menjadi lebih dominan karena
perhatian siswa hanya terpusat pada guru (teacher centered). Meskipun guru
telah menerapkan beberapa cara penyampaian yang lain seperti metode tanya
jawab dan diskusi yang memfasilitasi siswa untuk lebih aktif, dalam
praktiknya cara tersebut memiliki kelemahan yaitu kurangnya tanggung
jawab setiap siswa dalam belajar dan mengerjakan tugas sehingga siswa yang
berkemampuan lebih tinggi dan rajin yang cenderung berperan aktif.
Sedangkan bagi siswa yang berkemampuan lebih rendah, kepercayaan diri
kurang, dan cenderung malas akan tetap pasif selama kegiatan pembelajaran.

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan mengubah
cara penyampaian materi yang digunakan guru agar berpusat pada siswa
(student centered) dan mampu meningkatkan tanggung jawab individual
melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads
Together (NHT). Menurut Trianto (2010: 82) model pembelajaran ini
memudahkan siswa berinteraksi dengan teman-temannya serta melibatkan

4

lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu
pelajaran. Model pembelajaran NHT juga dapat meningkatkan tanggung
jawab setiap siswa terhadap tugas yang diberikan pada kelompoknya, karena
pada saat fase menjawab guru akan memanggil salah satu siswa untuk
menjawab pertanyaan secara individual tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Sehingga dengan langkah tersebut setiap siswa akan lebih termotivasi untuk
melakukan aktivitas belajar dalam rangka memahami materi pelajaran.

Penggunaan model pembelajaran NHT untuk meningkatkan aktivitas belajar
dan penguasaan materi oleh siswa didukung oleh hasil penelitian Arbi (2006:
32) yang menyatakan bahwa melalui penerapan model pembelajaran tersebut,
siswa lebih aktif dalam belajar dan penguasaan materi oleh siswa pada materi
Sistem Ekskresi Manusia mengalami peningkatan. Selain itu, hasil penelitian
Erika (2011: 51) menunjukkan bahwa model pembelajaran NHT dapat
meningkatkan aktivitas belajar dan penguasaan konsep oleh siswa pada
materi Pencemaran Lingkungan.

Berdasarkan fakta tersebut, peneliti terdorong untuk melakukan penelitian
yang berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Numbered Heads Together (NHT) Terhadap Aktivitas Belajar dan
Penguasaan Materi Pokok Sistem Pertahanan Tubuh oleh Siswa (Kuasi
Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 1 Bandar
Sribhawono Kabupaten Lampung Timur Tahun Pelajaran
2012/2013)”.

5

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah pengaruh penggunaan model pembelajaran NHT dalam
meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi pokok sistem pertahanan
tubuh?
2. Apakah penggunaan model pembelajaran NHT berpengaruh signifikan
dalam meningkatkan penguasaan materi oleh siswa pada materi pokok
sistem pertahanan tubuh?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui:
1. Pengaruh penggunaan model pembelajaran NHT dalam meningkatkan
aktivitas belajar siswa pada materi pokok sistem pertahanan tubuh.
2. Pengaruh signifikan penggunaan model pembelajaran NHT dalam
meningkatkan penguasaan materi oleh siswa pada materi pokok sistem
pertahanan tubuh.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:
1. Bagi peneliti yaitu memberikan wawasan, pengalaman, dan bekal
berharga sebagai calon guru biologi yang profesional, terutama dalam
merancang dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan

6

menggunakan model pembelajaran NHT.
2. Bagi siswa yaitu memberikan pengalaman dan suasana belajar yang
berbeda sehingga diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan minat
belajar siswa.
3. Bagi guru/calon guru yaitu memberikan informasi mengenai model
pembelajaran NHT sehingga dapat dijadikan alternatif dalam memilih
model pembelajaran yang tepat dalam kegiatan pembelajaran biologi.
4. Bagi sekolah yaitu memberi sumbangan pada sekolah dalam rangka
perbaikan proses pembelajaran sehingga mutu pembelajaran meningkat
khususnya mutu pembelajaran biologi.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menghindari anggapan yang berbeda terhadap masalah yang akan
dibahas, maka peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe NHT yang digunakan dalam
penelitian ini terdiri dari 4 sintaks yaitu: (1) penomoran; (2) mengajukan
pertanyaan; (3) berpikir bersama; dan (4) menjawab pertanyaan (Trianto,
2010: 82-83).
2. Aktivitas belajar siswa yaitu (1) membentuk kelompok; (2) memberikan
ide/pendapat; (3) menjawab pertanyaan; dan (4) menanggapi jawaban
pertanyaan.
3. Penguasaan materi oleh siswa diperoleh dari hasil pretes-postes aspek
kognitif.

7

4. Materi pokok yang dipelajari adalah sistem pertahanan tubuh dengan
kompetensi dasar “menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda
asing berupa antigen dan bibit penyakit”.

5. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI IPA1 (kelas eksperimen) dan
kelas XI IPA2 (kelas kontrol) semester genap tahun pelajaran 2012/2013
di SMA Negeri 1 Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur.

F. Kerangka Pikir

Salah satu hal yang menjadi permasalahan bagi sebagian besar siswa untuk
mencapai tujuan pembelajaran Biologi adalah rendahnya aktivitas belajar dan
penguasaan materi oleh siswa. Hal tersebut terjadi karena kegiatan belajar
mengajar yang cenderung berpusat pada guru (teacher centered). Kondisi
tersebut mengakibatkan siswa menjadi pasif dan lebih banyak mengandalkan
informasi/pengetahuan yang datang dari guru sehingga siswa masih sulit
untuk menemukan pemahaman sendiri mengenai materi pelajaran. Oleh
karena itu, dibutuhkan suatu metode atau model pembelajaran yang berpusat
kepada siswa (student centered). Salah satunya adalah model pembelajaran
kooperatif tipe Number Head Together (NHT). Model ini memungkinkan
siswa untuk memperoleh pengetahuan baru dan mengontruksinya dengan
pengetahuan yang telah dimiliki berdasarkan pengalaman belajar sendiri.
Pengetahuan yang diperoleh dapat berasal dari berbagai sumber belajar
seperti buku dan lingkungan sekitar.

Tahapan model pembelajaran NHT memfasilitasi siswa belajar dalam
kelompok kecil dengan kemampuan akademik yang heterogen, tujuannya

8

agar setiap anggota kelompok saling membantu dalam memahami materi
pelajaran sehingga hasil belajar setiap siswa menjadi tinggi. Setiap anggota
kelompok juga mempunyai nomor anggota yang berbeda, tujuannya agar
setiap siswa mampu menguasai materi karena salah satu nomor siswa akan
dipanggil secara acak untuk mewakili kelompoknya menjawab pertanyaan
sesuai dengan LKS. Cara tersebut dapat meningkatkan motivasi dan tanggung
jawab siswa pada saat bekerja dan berpikir bersama dalam menyelesaikan
pertanyaan dan memahami jawaban pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Selain itu, pertanyaan tersebut juga memberikan kesempatan kepada siswa
untuk menemukan dan membangun pemahamannya sendiri melalui kegiatan
belajar yang dilakukan sehingga siswa lebih aktif. Oleh karena itu,
diharapkan aktivitas belajar dan penguasaan materi oleh siswa meningkat.

Adapun variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran NHT
dan variabel terikat adalah aktivitas belajar dan penguasaan materi oleh siswa.
Hubungan antara kedua variabel tersebut digambarkan dalam diagram
berikut.
Y1
X
Y2

Keterangan: X = Model pembelajaran kooperatif tipe NHT; Y1 = aktivitas
belajar siswa; dan Y2 = penguasaan materi oleh siswa
Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat

9

G. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh dalam
meningkatkan aktivitas belajar siswa pada materi pokok sistem
pertahanan tubuh.
2. H0 = Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT tidak
berpengaruh signifikan dalam meningkatkan penguasaan materi oleh
siswa pada materi pokok sistem pertahanan tubuh.
H1 = Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe NHT berpengaruh
signifikan dalam meningkatkan penguasaan materi oleh siswa pada
materi pokok sistem pertahanan tubuh.

10

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif (Cooperatife Learning)

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang
bernaung dalam teori konstruktivis. Pembelajaran ini muncul dari konsep
bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit
jika mereka saling berdiskusi dengan temannya (Trianto, 2010: 56-57).
Seperti yang dikemukakan oleh Slavin (2005: 4) bahwa pembelajaran
kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran yang
memungkinkan para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk
saling membantu satu sama lainnya dalam mempelajari materi pelajaran.

Selama melaksanakan pembelajaran kooperatif, para siswa diharapkan dapat
saling membantu, mendiskusikan, dan berargumentasi untuk mengasah
pengetahuan yang mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam
pemahaman masing-masing. Apabila diatur dengan baik, siswa-siswa dalam
kelompok kooperatif akan belajar satu sama lain untuk memastikan bahwa
tiap orang dalam kelompok telah menguasai konsep-konsep yang telah
dipikirkan. Huda (2011: 32) mengungkapkan bahwa pembelajaran kooperatif
umumnya melibatkan kelompok yang terdiri dari empat sampai lima siswa
dengan kemampuan yang berbeda dan ada pula yang menggunakan kelompok

11

dengan ukuran yang berbeda-beda.

Pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa kelebihan, menurut Johnson
dan Johnson (dalam Trianto, 2010: 57) pembelajaran kooperatif bertujuan
untuk memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik
dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok. Hal ini sesuai
dengan pendapat Ibrahim, dkk., (2000: 7-9), bahwa pembelajaran kooperatif
mencakup tiga jenis tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan
terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Selain itu,
pembelajaran ini juga disusun dalam sebuah usaha meningkatkan partisipasi
siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan
membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada
siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama siswa yang berbeda latar
belakangnya (Trianto, 2010: 58).

Pembelajaran kooperatif mengandung prinsip-prinsip yang membedakannya
dengan model pembelajaran lainnya serta menjadi konsep utama dari belajar
kooperatif. Menurut Slavin (dalam Trianto, 2009: 61) konsep utama tersebut
adalah sebagai berikut.
1.

Penghargaan kelompok, yang akan diberikan jika kelompok mencapai
kriteria yang ditentukan.

2.

Tanggung jawab individual, bermakna bahwa khususnya kelompok
tergantung pada belajar individual semua anggota kelompok.

3.

Kesempatan yang sama untuk sukses, bermakna bahwa siswa telah
membantu kelompok dengan cara meningkatkan belajar mereka sendiri.

12

Adapun tahapan atau langkah-langkah utama pembelajaran kooperatif dalam
pengaplikasiannya selama kegiatan belajar mengajar adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Langkah-langkah model pembelajaran koopeatif
Fase
Fase-1
Menyampaikan tujuan dan
memotivasi siswa

Peran Guru
Guru menyampaikan semua tujuan
pelajaran yang ingin dicapai pada
pelajaran tersebut dan memotivasi siswa
belajar.
Fase-2
Guru menyajikan informasi kepada siswa
Menyajikan informasi
dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Fase-3
Guru menjelaskan kepada siswa
Mengorganisasikan siswa ke bagaimana caranya membentuk kelompok
dalam kelompok kooperatif belajar dan membantu setiap kelompok
agar melakukan transisi secara efisien.
Fase-4
Guru membimbing kelompok-kelompok
Membimbing kelompok
belajar pada saat mereka mengerjakan
bekerja dan belajar
tugas mereka.
Fase-5
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang
Evaluasi
materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil
kerjanya.
Fase-6
Guru mencari cara-cara untuk menghargai
Memberikan Penghargaan
baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.
Sumber: Ibrahim, dkk., (2000: 10)

B. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT)

Salah satu model pembelajaran yang termasuk dalam model pembelajaran
kooperatif adalah NHT. Menurut Trianto (2010: 82) model pembelajaran
NHT atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajaran
kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan
sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. Model ini pertama kali
dikembangkan oleh Spencer Kagen untuk melibatkan lebih banyak siswa
dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek

13

pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Selain itu, menurut Lie
(2008: 59) model pembelajaran NHT juga memberi kesempatan kepada
siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang
paling tepat serta mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerjasama
mereka.

Model pembelajaran NHT pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi
kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa
yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang
akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin
keterlibatan total semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk
meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok serta
berdampak positif terhadap motivasi belajar siswa. Siswa akan berusaha
memahami konsep-konsep ataupun memecahkan permasalahan yang
disajikan oleh guru (Nur, 2005: 78).

Sintaks model pembelajaran NHT menurut Trianto (2010: 82-83) terdiri dari
struktur empat fase yaitu:
1.

Fase 1: Penomoran
Dalam fase ini, guru membagi siswa ke dalam kelompok tiga sampai
lima orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara satu
sampai lima.

2.

Fase 2: Mengajukan pertanyaan
Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat

14

tanya atau berbentuk arahan.
3.

Fase 3: Berpikir bersama
Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan
meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

4.

Fase 4: Menjawab pertanyaan
Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya
sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab
pertanyaan untuk seluruh kelas.

Ada beberapa manfaat model pembelajaran NHT bagi siswa yang hasil
belajarnya rendah seperti yang dikemukakan oleh Lundgren dalam Ibrahim,
dkk. (2000: 18), antara lain: rasa harga diri menjadi lebih tinggi, memperbaiki
kehadiran, penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar, perilaku
mengganggu menjadi lebih kecil, konflik antara pribadi berkurang,
pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan kebaikan budi, kepekaan
dan toleransi serta hasil belajar lebih tinggi.

Menurut Lie (2008: 47) model pembelajaran NHT mempunyai kelebihan dan
kelemahan. Kelebihan NHT diantaranya adalah masing-masing anggota
kelompok memiliki banyak kesempatan untuk berkontribusi, interaksi lebih
mudah, banyak ide yang muncul, lebih banyak tugas yang bisa dilaksanakan,
dan guru mudah untuk memonitor kontribusi. Adapun kelemahan dari NHT
yaitu membutuhkan lebih banyak waktu dan sosialisasi yang lebih banyak,
kurangnya kesempatan untuk kontribusi individu, siswa lebih mudah
melepaskan diri dari keterlibatan, dan tidak memperhatikan.

15

C. Aktivitas Belajar Siswa

Kegiatan pembelajaran yang efektif adalah kegiatan yang menyediakan
kesempatan bagi siswa untuk belajar sendiri, karena pada prinsipnya belajar
adalah berbuat atau beraktivitas (Sardiman, 2008: 95). Seperti yang
diungkapkan oleh Harjanto (2008: 171) bahwa belajar merupakan kegiatan
transfer of knowledge/skill yang dilakukan oleh siswa. Sardiman (2008: 99100) mengungkapkan lebih lanjut bahwa dalam kegiatan belajar tugas
pendidik adalah membimbing dan menyediakan kondisi agar anak didik dapat
mengembangkan bakat dan potensinya. Hal ini menunjukkan bahwa anak
didik yang harus melakukan aktivitas, berbuat dan aktif sendiri. Adapun yang
dimaksud aktivitas belajar itu adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun
mental. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus
selalu terkait agar membuahkan aktivitas belajar yang optimal.

Salah satu tempat yang menjadi pusat kegiatan belajar dan dapat digunakan
sebagai arena untuk mengembangkan aktivitas adalah sekolah. Banyak jenis
aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Diedrich (dalam
Hamalik, 2004: 172-173) membagi kegiatan belajar yang menunjukkan
adanya aktivitas dalam delapan kelompok sebagai berikut.
1.

Kegiatan-kegiatan visual
Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi,
pameran, dan mengamati orang lain bekerja atau bermain.

2.

Kegiatan-kegiatan lisan (oral)
Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian,

16

mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat,
wawancara, diskusi, dan interupsi.
3.

Kegiatan-kegiatan mendengarkan
Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi
kelompok, mendengarkan suatu permainan, mendengarkan radio.

4.

Kegiatan-kegiatan menulis
Menulis cerita, menulis laporan, memeriksa karangan, bahan-bahan kopi,
membuat rangkuman, mengerjakan tes, dan mengisi angket.

5.

Kegiatan-kegiatan menggambar
Menggambar, membuat grafik, diagram, peta, dan pola.

6.

Kegiatan-kegiatan metrik
Melakukan percobaan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran,
membuat model, menyelenggarakan permainan, menari, dan berkebun.

7.

Kegatan-kegiatan mental
Merenungkan, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, faktorfaktor, melihat, hubungan-hubungan, dan membuat keputusan.

8.

Kegiatan-kegiatan emosional
Minat, membedakan, berani, tenang, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan
dalam kelompok ini terdapat dalam semua jenis kegiatan dan overlap satu
sama lain.

Jika berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, maka
sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi
pusat aktivitas belajar yang maksimal (Sardiman, 2008: 101-102). Hamalik
(2004: 12) berpendapat bahwa dengan melakukan banyak aktivitas yang sesuai

17

dengan pembelajaran maka siswa mampu mengalami, memahami, mengingat
dan mengaplikasikan materi yang telah diajarkan.

Selanjutnya Hamalik (2004: 175-176) juga mengungkapkan bahwa
penggunaan asas aktivitas besar nilainya bagi pengajaran, oleh karena:
1.

Para siswa mencari pengalaman sendiri dan langsung mengalami sendiri.

2.

Berbuat sendiri akan mengembangkan seluruh aspek pribadi siswa secara
integral.

3.

Memupuk kerja sama yang harmonis di kalangan siswa.

4.

Para siswa bekerja menurut minat dan kemampuan sendiri.

5.

Memupuk disiplin kelas secara wajar dan suasana belajar menjadi
demokratis.

6.

Mempererat hubungan sekolah dan masyarakat, dan hubungan antara
orang tua dengan guru.

7.

Pengajaran diselenggarakan secara realistis dan konkret sehingga
mengembangkan pemahaman dan berpikir kritis serta menghindarkan
verbalistis.

8.

Pengajaran di sekolah mengajari hidup sebagaimana aktivitas dalam
kehidupan di masyarakat.

D. Penguasaan Materi Belajar oleh Siswa

Salah satu indikator yang menunjukkan bahwa kegiatan belajar mengajar di
sekolah dapat dikatakan berhasil adalah apabila siswa mampu menguasai
materi yang diberikan oleh guru secara tuntas sesuai dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM). Adapun pengertian penguasaan materi itu

18

sendiri yaitu kemampuan menyerap arti dari suatu bahan yang dipelajari.
Penguasaan bukan sekedar mengingat mengenai apa yang pernah dipelajari
tetapi meguasai lebih dari itu, yakni melibatkan berbagai proses kegiatan
mental sehingga lebih bersifat dinamis (Arikunto, 2003: 115).

Secara lebih spesifik, penguasaan materi dapat didefinisikan sebagai hasil
belajar dari ranah kognitif. Ada beberapa teori yang berpendapat bahwa
proses belajar itu pada prinsipnya bertumpu pada struktur kognitif, yakni
penataan fakta, konsep serta prinsip-prinsip, sehingga membentuk satu
kesatuan yang memiliki makna bagi subjek didik. Secara umum, belajar boleh
dikatakan juga sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan
lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori.
Hal ini menunjukkan bahwa proses interaksi adalah proses internalisasi dari
sesuatu ke dalam diri yang belajar dan dilakukan secara aktif, dengan segenap
panca indera ikut berperan (Sardiman, 2008: 22).

Anderson dan Krathwohl (2000: 67-68), merumuskan bahwa hasil belajar
ranah kognitif terdiri dari enam jenis perilaku sebagai berikut.
1.

Remember mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah
dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu meliputi fakta,
peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, dan metode.

2.

Understand mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang
dipelajari.

3.

Apply mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk
meghadapi masalah yang nyata dan baru.

19

4.

Analyze mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam
bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan
baik. Misalnya mengurai masalah menjadi bagian yang lebih kecil.

5.

Evaluate mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu.

6.

Create mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

Keberhasilan penguasaan materi oleh siswa dapat diukur dan diketahui melalui
evaluasi. Menurut Thoha (1994: 1) evaluasi merupakan kegiatan yang
terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan
instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan tolak ukur untuk memperoleh
kesimpulan. Secara umum dapat dikatakan bahwa evaluasi merupakan
kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai
(Arikunto, 2008: 25). Adapun salah satu instrumen atau alat ukur yang biasa
digunakan dalam evaluasi adalah tes.

Arikunto (2008: 53) mengungkapkan bahwa tes merupakan alat atau prosedur
yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dengan cara dan
aturan-aturan yang sudah ditentukan. Tes yang digunakan untuk mengukur
banyaknya atau persentase tujuan pembelajaran dicapai setelah satu kali
mengajar atau satu kali pertemuan adalah postest atau tes akhir. Disebut tes
akhir karena sebelum memulai pelajaran guru mengadakan tes awal atau
pretest. Kegunaan tes ini ialah terutama untuk dijadikan bahan pertimbangan
dalam memperbaiki rencana pembelajaran yang dijadikan sebagai umpan balik
dalam meningkatkan mutu pembelajaran (Daryanto, 1999: 195-196).

20

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMA Negeri 1 Bandar
Sribhawono Kabupaten Lampung Timur.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA semester
genap SMA Negeri 1 Bandar Sribhawono Tahun Pelajaran 2012/2013 yang
terdiri dari empat kelas. Dari populasi yang ada diambil dua kelas (XI IPA1
dan XI IPA2) sebagai sampel penelitian dengan cara purposive sampling.
Kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen dari sampel tersebut adalah
kelas XI IPA1 sedangkan kelas XI IPA2 terpilih sebagai kelas kontrol.

C. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment)
dengan desain pretes-postes kelompok tak ekuivalen. Kelompok eksperimen
yaitu kelas XI IPA1 diberi perlakuan dengan model pembelajaran NHT,
sementara kelompok kontrol yaitu kelas XI IPA2 diberi perlakuan dengan
metode diskusi. Setelah itu, kedua kelompok diberi tes/soal berupa soal
uraian yang sama di awal dan akhir kegiatan pembelajaran (pretes-postes).

21

Kemudian hasil pretes dan postes pada kedua subjek dibandingkan. Struktur
desainnya adalah sebagai berikut.

Kelas

Pretes

Perlakuan

Postes

I

O1

X

O2

II

O1

C

O2

Keterangan : I = Kelas eksperimen, II = Kelas kontrol, O1 = Pretes, O2 =
Postes, X = Perlakuan dengan model NHT; dan C = Perlakuan
menggunakan metode diskusi.
Gambar 2. Desain penelitian pretes-postes kelompok tak ekuivalen
(modifikasi dari Riyanto, 2001: 43)

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan
penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut.

1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian sebagai berikut:
a. Membuat surat izin penelitian pendahuluan ke fakultas untuk observasi
ke sekolah.
b. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian untuk
mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan menjadi
subjek penelitian.
c. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen dan kelas
Kontrol.
d. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Lembar Kerja Siswa (LKS).

22

e. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal pretes dan postes untuk
pertemuan pertama dan pertemuan terakhir.
f. Membuat lembar observasi aktivitas belajar siswa sesuai dengan sintaks
model pembelajaran NHT.
g. Membuat angket tanggapan siswa terhadap penerapan model
pembelajaran NHT.
h. Membentuk kelompok diskusi bersifat heterogen (berdasarkan tingkat
intelegensi dan jenis kelamin) pada kelas eksperimen berdasarkan nilai
akademik siswa semester ganjil.

2. Pelaksanaan Penelitian
Kegiatan penelitian dilaksanakan dengan menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe NHT untuk kelas eksperimen, dan metode diskusi untuk
kelas kontrol. Penelitian ini dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan
dengan langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut.
a. Kelas Eksperimen (Pembelajaran dengan model pembelajaran
NHT)
1) Kegiatan Awal
a) Siswa mengerjakan soal tes awal (pretes) mengenai materi pokok
sistem pertahanan tubuh (pertemuan I).
b) Apersepsi dilakukan oleh siswa dengan menanggapi pertanyaan
dan memperhatikan penjelasan dari guru.
1. Pertemuan I: “Kita semua pasti pernah mengalami sakit,
penyakit apa yang pernah kalian alami? Apakah diantara kalian
ada yang sering sekali sakit atau jika sakit membutuhkan waktu

23

untuk sembuh yang cukup lama? Mengapa hal tersebut bisa
terjadi? Jika ada yang tahu kemukakan pendapat kalian!”

2. Pertemuan II: “Apakah diantara kalian ada yang pernah terkena
penyakit cacar? Berapa kali kalian pernah mengalaminya?
mengapa demikian? Jika ada yang tahu kemukakan pendapat
kalian!”.

3. Pertemuan III: “Pernahkah kalian mendengar bahwa setelah
diimunisasi biasanya bayi akan demam? Mengapa hal tersebut
bisa terjadi? Jika ada yang tahu kemukakan pendapat kalian!”
c) Siswa memperoleh motivasi dari guru.
1. Pertemuan I: “Dengan mempelajari materi pertahanan tubuh
kita dapat mengetahui bahwa di dalam tubuh kita terdapat
komponen-komponen yang berperan dalam melindungi tubuh,
sehingga kita tidak mudah sakit dan dapat bertahan hidup
hingga saat ini. Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah yang diberikan
kepada kita”.
2. Pertemuan II: “Dengan mempelajari materi ini kita
memperoleh pengetahuan mengenai mekanisme sistem
kekebalan tubuh dalam menghadapi setiap serangan antigen
berbahaya serta akibat yang ditimbulkan jika sistem kekebalan
tubuh kita tidak mampu menghadapi antigen tersebut. Oleh
karena itu, sebaiknya kita harus selalu menjaga tubuh agar
antigen tidak dapat masuk dan menyerang tubuh kita,

24

salah satunya yaitu dengan mengonsumsi makanan yang
higienis”.
3. Pertemuan III: “Dengan pengetahuan mengenai sistem
pertahanan tubuh yang kita miliki, diharapkan agar kita tetap
menjaga kesehatan, karena jika sistem tersebut terganggu atau
diserang penyakit, maka akan berdampak negatif terhadap
kekebalan tubuh kita sehingga zat asing mudah menyerang
tubuh dan menimbulkan kelainan atau penyakit yang akan
berakibat fatal bagi kelangsungan hidup kita”.
2) Kegiatan Inti
a) Guru mengelompokkan seluruh siswa menjadi enam kelompok
yang heterogen, masing-masing terdiri dari lima orang. Kemudian
memberikan nama yang berbeda kepada setiap kelompok yaitu
kelompok merah, kuning, hijau, biru, nila dan ungu serta nomor
panggilan yang berurutan untuk setiap anggota yaitu mulai dari
nomor 1-5 (pertemuan I).
b) Setiap kelompok memperoleh Lembar Kerja Siswa (LKS) sesuai
dengan jumlah anggotanya dan mendengarkan penjelasan guru
mengenai komponen dan tata cara mengerjakan LKS tersebut.
c) Setiap siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam LKS.
d) Setiap anggota kelompok saling membantu dalam memahami
jawaban LKS dan memastikan agar semua anggotanya benarbenar paham.

25

e) Guru memanggil salah satu nomor siswa untuk menguraikan
jawaban salah satu pertanyaan dalam LKS kepada seluruh
anggota kelompok lainnya.
f) Guru memanggil anggota kelompok lain yang bernomor sama
dengan siswa yang menguraikan jawaban sebelumnya untuk
memberikan tanggapan mengenai jawaban yang telah diuraikan
tersebut.
g) Guru mengulang kembali langkah pada poin e dan f hingga
jawaban setiap soal selesai diuraikan seluruhnya.
h) Setiap siswa mengumpulkan LKS yang telah selesai dikerjakan.
i) Guru mengadakan penguatan dengan menjelaskan materi yang
belum dipahami oleh siswa.

3) Kegiatan Penutup
a) Siswa bersama guru mengadakan refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
b) Siswa bersama guru menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran
pada setiap pertemuan.
c) Siswa diberikan tes akhir (postes) untuk pertemuan terakhir.
d) Siswa diminta untuk membaca materi yang akan dibahas pada
pertemuan selanjutnya.

b. Kelas Kontrol (Pembelajaran dengan metode Diskusi)
1) Kegiatan Awal
a) Siswa mengerjakan soal tes awal (pretes) mengenai materi pokok

26

sistem pertahanan tubuh (pertemuan I).
b) Apersepsi dilakukan oleh siswa dengan menanggapi pertanyaan
dan memperhatikan penjelasan dari guru.
1. Pertemuan I: “Kita semua pasti pernah mengalami sakit,
penyakit apa yang pernah kalian alami? Apakah diantara kalian
ada yang sering sakit atau jika sakit membutuhkan waktu untuk
sembuh yang cukup lama? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?
Jika ada yang tahu kemukakan pendapat kalian!”

2. Pertemuan II: ”Apakah diantara kalian ada yang pernah terkena
penyakit cacar? Berapa kali kalian pernah mengalaminya?
Mengapa demikian? Jika ada yang tahu kemukakan pendapat
kalian!”.

3. Pertemuan III: ”Apakah kalian pernah mendengar bahwa
setelah diimunisasi biasanya bayi akan demam? Mengapa hal
tersebut bisa terjadi? Jika ada yang tahu kemukakan pendapat
kalian!”
c) Siswa memperoleh motivasi dari guru.
1. Pertemuan I : “Dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui bahwa di dalam tubuh kita terdapat komponenkomponen yang berperan dalam melindungi tubuh, sehingga
kita tidak mudah sakit dan dapat bertahan hidup hingga saat ini.
Oleh karena itu, kita harus bersyukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa atas segala anugerah yang diberikan kepada kita”.
2. Pertemuan II: “Dengan mempelajari materi ini kita
memperoleh pengetahuan mengenai mekanisme sistem

27

kekebalan tubuh dalam menghadapi setiap serangan antigen
berbahaya serta akibat yang ditimbulkan jika sistem kekebalan
tubuh kita tidak mampu menghadapi antigen tersebut. Oleh
karena itu, sebaiknya kita harus selalu menjaga tubuh agar
antigen tidak dapat masuk dan menyerang tubuh kita, salah
satunya yaitu dengan mengonsumsi makanan yang higienis”.
3. Pertemuan III : “Dengan pengetahuan mengenai sistem
pertahanan tubuh yang kita miliki, diharapkan agar kita tetap
menjaga kesehatan, karena jika sistem tersebut terganggu atau
diserang penyakit, maka akan berdampak negatif terhadap
kekebalan tubuh kita sehingga zat asing mudah menyerang
tubuh dan menimbulkan kelainan atau penyakit yang akan
berakibat fatal bagi kelangsungan hidup kita”.
2) Kegiatan Inti
a) Guru mengelompokkan seluruh siswa menjadi enam kelompok
yang heterogen, masing-masing terdiri dari lima sampai enam
orang (pertemuan I).
b) Setiap kelompok memperoleh Lembar Kerja Siswa (LKS) sesuai
dengan jumlah anggotanya dan mendengarkan penjelasan guru
mengenai komponen dan tata cara mengerjakan LKS tersebut.
c) Setiap siswa berdiskusi dengan anggota kelompoknya untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam LKS.
d) Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka secara
bergantian, dan kelompok yang lain dapat memberikan tanggapan

28

sehingga terjadi diskusi kelas.
e) Setiap siswa mengumpulkan LKS yang telah selesai dikerjakan.
f) Guru mengadakan penguatan dengan menjelaskan materi yang
belum dipahami oleh siswa.

3) Kegiatan Penutup
a) Siswa bersama guru mengadakan refleksi terhadap kegiatan yang
sudah dilaksanakan secara konsisten dan terprogram.
b) Siswa bersama guru menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran
pada setiap pertemuan.
c) Siswa diberikan tes akhir (postes) untuk pertemuan terakhir.
d) Siswa diminta untuk membaca materi yang akan dibahas pada
pertemuan selanjutnya.

E. Jenis dan Teknik Pengumpulan Data

Jenis dan teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Jenis Data
a. Data Kualitatif
Data kualitatif dalam penelitian ini berupa data aktivitas belajar siswa
yang diambil selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu,
digunakan data pendukung berupa tanggapan siswa mengenai
pembelajaran menggunakan model NHT yang diambil ketika
pembelajaran pada pertemuan III berakhir.

29

b. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yaitu penguasaan materi oleh siswa diperoleh dari
hasil pretes dan postes. Kemudian nilai pretes dan postes ditinjau
berdasarkan perbandingan gain yang dinormalisasi atau N-gain (g)
dengan menggunakan rumus Hake (1999: 1) sebagai berikut.
Spost - Spre
N-gain =

Smax - Spre

x 100

Keterangan: Spost = skor postes; Spre = skor pretes; Smax = skor
maksimum.

Adapun persentase peningkatan pada tiap indikator penguasaan materi
dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut.
%peningkatan = ̅ N-gain
Keterangan: ̅ N-gain = nilai rata-rata N-gain indikator penguasaan
materi yang dicari
Selanjutnya, untuk mengetahui rata-rata peningkatan penguasaan materi
siswa untuk tiap butir soal pretes dan postes digunakan rumus sebagai
berikut.
P = f x 100
N
Keterangan: P = poin yang dicari; f = jumlah skor penguasaan materi
yang diperoleh oleh siswa; N = jumlah poin maksimum
untuk tiap indikator penguasaan materi
Setelah presentase dan poin peningkatan penguasaan materi diperoleh,
presentase dan poin tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai kriteria

30

sesuai dengan Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Kriteria peningkatan penguasaan materi oleh siswa
Poin
Kriteria
80,1-100
Sangat tinggi
60,1-80
Tinggi
40,1-60
Sedang
20,1-40
Rendah
0,0-20
Sangat rendah
Sumber: Arikunto (2008: 245)

2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Lembar observasi aktivitas siswa berisi semua aspek kegiatan yang
diamati pada saat proses pembelajaran berlangsung. Setiap siswa
diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi skor pada
lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Adapun
pedoman penskoran setiap indikator aktivitas belajar siswa adalah
sebagai berikut.
1) 3 : jika semua kriteria muncul
2) 2 : jika ada dua kriteria yang muncul
3) 1 : jika hanya ada satu kriteria yang muncul
4) 0 : jika tidak ada kriteria yang muncul

31

Tabel 3. Lembar observasi aktivitas belajar siswa

No.

Nama Siswa

Skor Aspek Aktivitas Belajar
Siswa yang Diamati
A
B
C
D

1
2
3
4
5
dst.
Jumlah skor
Skor maksimum
Persentase (%)
Kriteria
Catatan: Berilah skor pada setiap item sesuai dengan kriteria penilaian.

Keterangan aspek aktivitas belajar siswa:
A. Membentuk kelompok
1) Berkumpul dengan kelompok masing-masing sesuai instruksi
guru.
2) Menempatkan diri dalam kelompok sesuai dengan instruksi guru.
3) Duduk dengan tenang dan teratur setelah kelompok terbentuk.
Cara mengamati:
- Memeriksa kesesuaian nama siswa dengan kelompoknya berdasarkan data
pembagian kelompok.
- Memeriksa posisi duduk siswa dalam kelompok berdasarkan data pembagian
kelompok.
- Memperhatikan tingkah laku dan posisi duduk siswa.

B. Memberikan ide/pendapat
1) Menyampaikan ide/pendapat yang relevan untuk menjawab
pertanyaan dalam LKS.
2) Menanggapi ide/pendapat yang disampaikan oleh anggota
kelompok.
3) Mempergunakan dan menyusun kembali ide/pendapat yang
relevan untuk menjawab pertanyaan dalam LKS.
Cara mengamati:
- Mendengarkan penyampaian ide/pendapat oleh siswa dan memeriksa catatan
siswa mengenai idenya.
- Mendengarkan penyampaian tanggapan ide/pendapat oleh siswa dan
memeriksa catatan siswa mengenai tanggapan anggota kelompok mengenai
idennya.
- Memeriksa jawaban pertanyaan dalam LKS.

32

C. Menjawab pertanyaan
1) Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tercantum dalam LKS.
2) Menyampaikan jawaban pertanyaan dalam LKS dengan benar
dan sistematis.
3) Menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan komunikatif.
Cara mengamati:
- Memeriksa jawaban pertanyaan dalam LKS.
- Memeriksa jawaban pertanyaan dan mendengarkan penyampaian jawaban
dalam LKS oleh siswa serta membuat catatannya.
- Memeriksa jawaban pertanyaan dan memperhatikan penggunaan bahasa siswa
selama menyampaikan jawaban dan membuat catatannya.

D. Menanggapi jawaban pertanyaan
1) Melengkapi jawaban yang diuraikan oleh anggota kelompok lain
dengan benar.
2) Memberikan saran/pendapat dan pertanyaan yang relevan
mengenai jawaban yang telah diuraikan anggota kelompok lain
maupun cara penyampaiannya.
3) Menjawab pertanyaan yang diajukan oleh anggota kelompok lain
dengan benar.
Cara mengamati:
- Mendengarkan penyampaian jawaban pertanyaan dalam LKS maupun cara
penyampaiannya.
- Memeriksa catatan siswa mengenai saran/pendapat dan pertanyaan yang
disampaikan anggota kelompok lain.
- Memeriksa catatan siswa mengenai jawaban pertanyaan yang disampaikan
anggota kelompok lain.

b. Pretes dan Postes
Data penguasaan materi berupa nilai pretes dan postes. Pretes
dilakukan di awal pertemuan I, dan postes dilakukan di akhir pertemuan
III. Pretes dan postes dilakukan pada kelas eksperimen maupun kelas
kontrol dengan bentuk dan jumlah soal yang sama yaitu berupa soal
uraian. Soal pretes dan postes yang diberikan juga mempunyai bentuk
dan jumlah yang sama.

33

Berikut ini merupakan teknik penskoran hasil pretes dan postes.
S = R x 100
N
Keterangan: S = Nilai yang diharapkan (dicari); R = Jumlah skor dari
item atau soal yang dijawab benar; N = Jumlah skor
maksimum dari tes tersebut (Purwanto, 2008: 112)

c. Angket Tanggapan Siswa
Angket ini berisi pendapat siswa tentang penerapan model
pembelajaran NHT yang telah dilaksanakan. Angket ini berupa tujuh
pernyataan, terdiri dari empat pernyataan positif dan tiga pernyataan
negatif. Setiap siswa memilih jawaban yang sesuai dengan pendapat
mereka pada lembar angket. Angket tersebut memiliki dua pilihan
jawaban yaitu setuju dan tidak setuju seperti pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Item pernyataan pada angket
No.

Pernyataan-pernyataan

1

Saya senang dan tertarik mempelajari materi pokok
sistem pertahanan tubuh dengan model pembelajaran
yang digunakan oleh guru biologi.
Saya lebih sulit memahami materi yang dipelajari
melalui model pembelajaran yang digunakan oleh guru
biologi.
Model pembelajaran yang digunakan menjadikan saya
lebih aktif selama kegiatan pembelajaran.
Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman dalam
proses pembelajaran yang berlangsung.
Saya termotivasi untuk mencari data/informasi dari
berbagai sumber (buku, internet, dan sebagainya)
untuk menyelesaikan setiap pertanyaan dalam LKS.
Saya merasa sulit mengerjakan setiap soal dalam LKS
dengan model pembelajaran yang digunakan oleh guru
biologi.
Saya memperoleh wawasan/pengetahuan baru tentang
materi pokok yang dipelajari.

2

3
4
5

6

7

S

TS

34

F. Teknik Analisis Data

1. Analisis Data Kualitatif
a. Aktivitas Belajar Siswa
Data aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran di kelas
eksperimen berlangsung merupakan data yang diambil melalui
observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis
deskriptif dengan menghitung persentase aktivitas belajar siswa.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk adalah sebagai berikut.
1) Menghitung persentase aktivitas dengan menggunakan rumus
sebagai berikut.

Persentase =

Skor perolehan
Skor maksimum

x 100%

2) Menafsirkan atau menentukan persentase aktivitas belajar siswa
sesuai kriteria pada Tabel 5.

Tabel 5. Kriteria persentase aktivitas belajar siswa
Persentase (%)
Kriteria
87,50 – 100
Sangat baik
75,00 – 87,49
Baik
50,00 – 74,99
Cukup
0 – 49,99
Kurang
Sumber: modifikasi dari Hidayati (2011: 17)

b. Tanggapan Siswa Terhadap Penggunaan model pembelajaran NHT
Data tanggapan siswa terhadap kegiatan pembelajaran menggunakan
model pembelajaran NHT dikumpulkan melalui penyebaran angket.

35

Angket tanggapan berisi tujuh pernyataan yang terdiri dari empat
pernyataan positif dan tiga pernyataan negatif. Pengolahan data angket
dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1) Menghitu

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SCRAMBLE TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI OLEH SISWA PADA MATERI CIRI-CIRI MAKHLUK HIDUP (Studi Eksperimen Semu pada Siswa Kelas VII SMPN 13 Bandar Lampung Semester Genap T.P 2011/2012

3 23 43

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI POKOK KEANEKARAGAMAN HAYATI (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Assalam Lampung Selatan Se

2 27 65

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN PENGUASAAN MATERI BIOLOGI PADA MATERI POKOK KINGDOM PLANTAE (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Semester Genap Tah

4 61 52

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI POKOK VIRUS OLEH SISWA

0 6 66

EFEKTIVITAS ANIMASI MULTIMEDIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH OLEH SISWA (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester

0 10 53

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP MINAT DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 3 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 28 57

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DANPENGUASAAN MATERI SISWA (Kuasi Eksperimen PadaSiswa Kelas VII SMP Negeri Natar Lampung Selatan Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 6 47

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR DAN PENGUASAAN MATERI POKOK SISTEM PERTAHANAN TUBUH OLEH SISWA (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Negeri 1 Bandar Sri

1 4 128

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA ANTARA PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) PADA MATERI EKOSISTEM (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 23 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2

0 3 120

PERBANDINGAN MODEL NUMBER HEAD TOGETHER (NHT) DENGAN MODEL THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PERTAHANAN TUBUH (Studi Eksperimental pada Siswa Kelas XI Semester Genap SMA Negeri 2 Gadingrejo Kabupate

6 22 62

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3876 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23