Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L ) Terhadap Gambaran Histopatologis Fatty Streak Pada Dinding Aorta Abdominalis Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik

PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH PEPAYA (Carica Papaya L ) TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGIS FATTY STREAK PADA
DINDING AORTA ABDOMINALIS TIKUS WISTAR JANTAN HIPERKOLESTEROLEMIK TESIS
Oleh
HENDRA SUTYSNA 097008011/BM
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU BIOMEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Pertama sekali peneliti memanjatkan rasa syukur yang sedalam-dalamnya atas kehadirat ALLAH SWT, atas petunjuk dan rahmat-Nya yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menjalani pendidikan pasca sarjana Ilmu Biomedik dan menyelesaikan proposal penelitian ini.
Proposal penelitian ini merupakan salah satu syarat yang harus dikerjakan dalam rangka memenuhi persyaratan untuk membuat tugas akhir Tesis. Dengan selesainya usulan penelitian ini, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Prof.dr.Gontar A Siregar, Sp.PD, KGEH dan sejumlah jajarannya, yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk menjalani pendidikan Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran USU.
Ketua Program Studi Ilmu Biomedik, dr. Yahwardiah Siregar, PhD atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan bagi saya untuk mengikuti dan menyelesaikan pendidikan magister pada program studi ilmu biomedik.
Terima Kasih yang tak terhingga dan penghargaan setinggi-tingginya saya sampaikan kepada para pembimbing penelitian saya, Prof. Dr. dr. Iskandar Japardi, Sp.BS dan dr. H. Soekimin, Sp.PA yang dengan penuh perhatian dan kesabaran dalam memberikam dorongan, bimbingan, bantuan serta saran yang bermanfaat dalam menyelesaikan penelitian ini.
Universitas Sumatera Utara

Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada komisi penguji, dr.H. Joko Loekito, Sp.PA dan dr. Sri Suryani Widjaja, M.Kes yang telah bersedia dengan sabar membantu saya dalam menyempurnakan, menguji dan menilai penelitian ini. Tidak lupa juga saya sampaikan terima kasih kepada semua dosendosen yang telah membimbing saya selama mengikuti pendidikan program magister ilmu biomedik ini. Semoga kebaikan dan bantuan yang diberikan mendapatkan balasan berlipat ganda dari ALLAH SWT Tuhan Yang Maha Esa.
Persembahan terima kasih yang tulus, rasa hormat dan sembah sujud kepada ayahanda dan ibunda tercinta, Suwarno dan Tumiati yang telah membesarkan dan mendidik saya dengan penuh rasa kasih sayang sampai saat ini.
Kepada Istriku Rosma Dewi, AMKeb dan anak-anakku Talitha Az Zahra dan Muhammad Rifqy Az Zikri, tiada kata yang setara terima kasih atas dukungan dan doa yang diberikan kepada saya selama menyelesaikan usulan penelitian ini.
Saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan usulan penelitian ini masih banyak kekurangan didalamnya, oleh karena itu peneliti menerima segala masukan dan saran demi untuk kesempurnaannya. Akhirnya saya memohon maaf atas segala kekurangan dalam penulisan usulan penelitian ini semoga usulan penelitian ini dapat dilanjutkan dalam sebuah penelitian sebagai tugas akhir saya untuk mendapatkan gelar magister biomedik.
Medan, September 2013 Peneliti
Hendra Sutysna
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pepaya (Carica Papaya L) merupakan buah tropis yang dapat tumbuh subur di Indonesia. Pepaya dikenal sebagai buah meja karena sering sekali tersedia di meja makan, restoran, rumah makan, bahkan setiap jamuan makan sebagai buah pencuci mulut sebelum atau sesudah makan yang penyajiannya tidak perlu diolah lagi sehingga buah pepaya bisa langsung dikonsumsi dengan memakan daging buahnya atau juga dalam bentuk jus. Buah pepaya merupakan salah satu buah yang merupakan sumber antioksidan. Pepaya mengandung betakaroten yang merupakan salah satu bentuk pigmen karoten (carotenoid). Betakaroten merupakan salah satu bentuk senyawa karoten sebagai penawar yang kuat untuk senyawa oksigen reaksif (ROS) dan menstimulasi kemampuan tubuh untuk mengubah substansi toksik menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Pemberian antioksidan pada lesi aterosklerotik akan menghambat oksidasi kolesterol LDL dan mencegah stres oksidatif sehingga mengurangi timbulnya disfungsi endotel pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek buah pepaya secara oral terhadap gambaran histopatologis jumlah sel busa dan ketebalan dinding aorta abdominalis tikus wistar jantan yang hiperkolesterolemik.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang didisain rancangan Randomized Post-test Only Control Group Design dengan menggunakan sampel 24 ekor tikus wistar jantan dewasa yang dibagi dalam 5 kelompok; satu kelompok kontrol negatif (K0) yang diberi diet pakan standar selama 2 minggu, satu kelompok kontrol positif(K1) diberi diet kuning telur 5 mg/ekor/hari selama 2 minggu dan tiga kelompok perlakuan: (P1) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 2 minggu (P2) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 4 minggu (P3) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 6 minggu lewat sonde. Setelah masa perlakuan masing-masing kelompok sampel didekapitasi, kemudian diukur kadar kolesterol total, LDL serum darah dan mengamati gambaran histopatologis sel busa dan dinding aorta abdominalisnya. Hasil data dianalisis dengan uji Oneway- Anova dan dilanjutkan dengan uji PostHoc.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa pemberian jus buah pepaya 2,6 gram/ekor selama 2 minggu, 4 minggu, dan 6 minggu berturut-turut dapat menurunkan jumlah sel busa pada dinding aorta abdominalis dan dapat menurunkan ketebalan dinding aorta abdominalis tikus wistar jantan yang diberi hiperkolesterolemik dibandingkan dengan tanpa diberikan jus pepaya.
Kata kunci: Pepaya, hiperkolesterolemik, antioksidan, histopatologis, fatty streak.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Papaya (Carica Papaya L) is a tropical fruit that can flourish in Indonesia. Papaya is known as table fruit because it is often available at the dining table, restaurant, eating house, even every meal is used as a dessert fruit before or after eating that no longer need to be processed so that papaya can be directly consumed by eating the flesh or also in the form of fruit juice. Papaya fruit is one fruit that is a source of antioxidants. Papaya contains betacarotene, which is one form of carotene pigments (carotenoids). Betacarotene is one form of carotene compound as a powerful antidote to reaksif oxygen compound (ROS) and stimulate the body’s ability to convert toxic substances into harmless compounds. By giving antioxidants on atherosclerotic lesions will inhibit the oxidation of LDL cholesterol and prevent oxidative stress thereby reducing the incidence or vascular endothelical dysfunction. This study aims to determine whether or not the effect of the papaya fruit orally histopathologic number of foam cells and abdominal aortic wall thickness of male wistar rats were hiperkolesterolemik.
This research is experimental research which design using a sample of 24 adults male wistar rats were divided into 5 groups; the negative control group (K0) fed a standard diet feed for 2 weeks. The positive control group (K1) fed a diet of egg yolks 5 mg/head/day for 2 weeks and three treatment groups: (P1) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 2 weeks (P2) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 4 weeks (P3) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 6 weeks over the sonde.After the treatment period of each sample groups were decapitated, then measured levels of total cholesterol, LDL and blood serum observe histopathologic foam cells and abdominal aortic wall thickness. Data Results were analyzed by Oneway-Anova test and followed by Post-Hoc test.
The experimental results showed that administration of 2,6 grams/head papaya juice for 2 weeks, 4 weeks, and 6 weeks in a row can reduce the amount of foam cells in the wall of the abdominal aorta and can reduce abdominal aortic wall thickness of male wistar rats were given hiperkolesterolemik compared without given papaya juice.
Key Words : Papaya, hiperkolesterolemik, antioxidants, histopatology, fatty streak.
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

1. Nama

: Hendra Sutysna

2. Tempat/tanggal lahir : Medan / 09 April 1982

3. Agama

: Islam

4. Nama Istri

: Rosma Dewi, AM.Keb

5. Alamat

: Jl. Stasiun No.40 Pasar VI Marendal

6. Pendidikan

SD Negeri o66658

: tamat tahun 1994

SMP Negeri 20

: tamat tahun 1997

SMA Negeri 16 Medan

: tamat tahun 2000

S1 Fakultas Kedokteran UISU Medan : tamat tahun 2006

7. Pekerjaan

2002-2004 : Asisten dosen Anatomi-Histologi di Fak. Kedokteran

UISU

Medan

2006-2007 : Dokter Umum Klinik Bina Center Kawasan Industri

Medan.

2007-2012 : Dokter Umum RSU. Tembakau Deli PTP Nusantara 2

Medan.

2008-2009 : Dosen Tidak Tetap Departemen Anatomi-Histologi di

Fak.Kedokteran UISU Medan

2009-sekarang : Dosen Tetap Departemen Anatomi Fak. Kedokteran

UMSU Medan.

2012-sekarang: Kordinator klinis Kesehatan Ibu dan Anak Program

EMAS (Expanding maternal and Neonatal Survival) Sumatera Utara.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR........................................................................... i

ABSTRAK............................................................................................. iii,iv

RIWAYAT HIDUP ............................................................................. v

DAFTAR ISI ......................................................................................... vi

DAFTAR TABEL.................................................................................. ix

DAFTAR GAMBAR............................................................................ x

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1.2. Perumusan Masalah ................................................................... 1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................ 1.4. Hipotesa ...................................................................................... 1.5. Manfaat Penelitian ......................................................................

1 7 8 8 9

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lipid.................... ................................................................ 10 2.1.1. Defenisi Lipid............................................................. 10 2.1.2. Klasifikasi Lipid.......................................................... 11 2.1.3. Fungsi Lipid................................................................ 12 2.1.4. Hiperlipidemia............................................................. 12 2.2. Kolesterol.............................................................................. 13 2.2.1. Manfaat Kolesterol....................................................... 14 2.3. Trigliserida..................................…... ................................... 14 2.4. Lipoprotein....................................... ............................................. 15 2.4.1 Kadar Kolesterol Serum Darah......................................... 17 2.5 Radikal Bebas dan LDL oksidasi..................................................... 18 2.6. Antioksidan................................................................................... 19 2.6.1. Beta Karoten..................................................................... 20 2.7. Pembentukan Lesi Aterosklerotik................................................. 22 2.8. Hewan Percobaan......................................................................... 26 2.8.1. Karakteristik Utama Hewan Percobaan............................ 26 2.8.2. Tikus Wistar Jantan........................................................... 27 2.8.3 Klasifikasi Biologi Tikus................................................... 27 2.9. Buah Pepaya............................................................................... 28 2.9.1. Sejarah Singkat... .............................................................. 28 2.9.2. Morfologi Pepaya............................ .............................. 28 2.9.3. Taksonomi Pepaya............ ................................................. 29

Universitas Sumatera Utara

2.9.4. Pepaya Sebagai Antioksidan............................................... 30 2.9.5. Komposisi....................................................................... 30 2.9.6 Manfaat Lain Pepaya......................................................... 31 2.10. Anatomi – Histologi Pembuluh Darah ....................................... 31 2.10.1. Arteri........................... ...................................................... 32.
2.10.1.1 Arteri Besar............................................................. 34 2.10.1.2 Arteri Sedang....................................................... 35 2.10.1.3 Arter Kecil............................................................... 36 2.10.1.4 Arteri Khusus.......................................................... 37 2.10.2. Vena................................... ................................................ 38
2.10.2.1 Venula Pascakapiler dan Kapiler............................ 39 2.10.2.2 Vena Sedang.......................................................... 40 2.10.2.3 Vena Besar............................................................. 40

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Teori...........……….................................................... 3.2. Kerangka Konsep....................................................................... 3.3. Desain Penelitian …................................................................... 3.4. Tempat dan Waktu Penelitian.................................................... 3.5. Populasi Penelitian..................................................................... 3.6. Sampel Penelitian....................................................................... 3.7. Kriteria Inklusi, Eklusi dan Drop Out........................................ 3.8. Variabel Penelitian ………………............................................. 3.8.1 Klasifikasi Variabel............................................................ 3.8.2 Defenisi Operasional Variabel........................................... 3.9. Alat dan Bahan........................................................................... 3.9.1 Alat..................................................................................... 3.9.2 Bahan.................................................................................. 3.10. Rancangan Penelitian............................................................... 3.10.1. Persiapan Hewan Percobaan ......................................... 3.10.2. Perhitungan Dosis Perlakuan...................... .................. 3.10.3. Persiapan Pakan Standar ............................................... 3.10.4. Persiapan Diet Kuning Telur........................................... 3.10.5. Pembagian Kelompok dan Pemberian Perlakuan …… 3.10.6. Pemberian Jus Pepaya................................................... 3.10.7. Penghitungan Jumlah sel Busa ..................................... 3.10.8. Pengukuran Ketebalan Dinding Aorta Abdominalis..... 3.11. Cara Pengolahan Data..................... ...................................... 3.11.1. Cara Pengumpulan Data................................................ 3.11.2. Analisa Data.................................................................. 3.11.2.1. Analisa Statistik Deskriptif.................................. 3.11.2.2. Analisa Statistik Inferensial............................... 3.9. Jadwal Penelitian ...................................................................

42 43 44 45 45 45 46 47 47 47 48 48 48 49 49 49 50 50 50 52 52 53 54 54 54 55 55 55

Universitas Sumatera Utara

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian...........……….............................................. 4.1.1. Kadar Kolesterol Tikus Wistar Jantan....................... 4.1.2. Kadar LDL Serum Darah Tikus Wistar Jantan.......... 4.1.3. Jumlah Sel Busa Pada Dinding Aorta Abdominalis. 4.1.4. Tebal Dinding Aorta Abdominalis.............................. 4.2. Pembahasan......................................................................... 4.2.1. Kadar Kolesterol Tikus Wistar Jantan......................... 4.2.2. Kadar LDL Serum Darah Tikus Wistar Jantan.......... 4.2.3. Jumlah Sel Busa Pada Dinding Aorta Abdominalis... 4.2.4. Tebal Dinding Aorta Abdominalis.............................
BAB V. SIMPULAN DAN SARAN 4.1. Simpulan Penelitian...........………................................ 4.2. Saran.................................................................................
LAMPIRAN Lampiran 1. Data Kadar Kolesterol, LDL dan Jumlah Sel Busa. Lampiran 2. Data Tebal Dinding Aorta Abdominalis..... ..............
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................

57 57 58 59 61 63 64 65 65 67
68 68
70 78
84

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor

Judul

Halaman

2.1. Kandungan Gizi dan unsur penting dalam pepaya per 100 gram.... 31

2.4.1 Kadar Kolesterol Darah.................................................................. 17

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

2.1. Struktur Elektron Molekul Stabil dan Radikal Bebas........... 18

2.2 Mekanisme pembentukan Sel Busa........................................ 21

2.3. Mikroskopis Pembuluh Darah Arteri Aterosklerosis............ 24

2.4. Migrasi Monosit menembus Endotel dan berdifferensiasi.... 25

2.5. Mikroskopis Sel Busa pada dinding Aorta Abdominalis...... 26

2.6. Buah Pepaya.......................................................................... 30

2.7. Mikroskopis pembuluh darah Arteri dan Vena..................... 32

2.8. Mikroskopis pembuluh darah Arteri....................................... 33

2.9. Mikroskopis pembuluh darah Aorta......................…………. 35

2.11 Mikroskopis pembuluh darah Arteri & vena........................... 41

3.1 Kerangka Teori pembentukan Aterosklerosis.......................... 42

3.2 Kerangka Teori pengaruh Antioksidan Betakaroten................ 44

3.3 Kerangka Konsep pengaruh Antioksidan jus buah pepaya...... 45

4.1 Grafik hasil pemeriksaan kadar kolesterol(mg/dl)................. 58

4.2 Grafik hasil pemeriksaan kadar LDL (mg/dl)......................... 59

4.3 Grafik hasil pengukuran jumlah sel busa ............................... 60

4.4 Histopatologis sel busa pada dinding aorta abdominalis.......... 61

4.5 Grafik hasil pengukuran tebal dinding aorta abdominalis .......... 62

4.6 Histopatologis ketebalan dinding aorta abdominalis..................... 63

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pepaya (Carica Papaya L) merupakan buah tropis yang dapat tumbuh subur di Indonesia. Pepaya dikenal sebagai buah meja karena sering sekali tersedia di meja makan, restoran, rumah makan, bahkan setiap jamuan makan sebagai buah pencuci mulut sebelum atau sesudah makan yang penyajiannya tidak perlu diolah lagi sehingga buah pepaya bisa langsung dikonsumsi dengan memakan daging buahnya atau juga dalam bentuk jus. Buah pepaya merupakan salah satu buah yang merupakan sumber antioksidan. Pepaya mengandung betakaroten yang merupakan salah satu bentuk pigmen karoten (carotenoid). Betakaroten merupakan salah satu bentuk senyawa karoten sebagai penawar yang kuat untuk senyawa oksigen reaksif (ROS) dan menstimulasi kemampuan tubuh untuk mengubah substansi toksik menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Pemberian antioksidan pada lesi aterosklerotik akan menghambat oksidasi kolesterol LDL dan mencegah stres oksidatif sehingga mengurangi timbulnya disfungsi endotel pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya efek buah pepaya secara oral terhadap gambaran histopatologis jumlah sel busa dan ketebalan dinding aorta abdominalis tikus wistar jantan yang hiperkolesterolemik.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang didisain rancangan Randomized Post-test Only Control Group Design dengan menggunakan sampel 24 ekor tikus wistar jantan dewasa yang dibagi dalam 5 kelompok; satu kelompok kontrol negatif (K0) yang diberi diet pakan standar selama 2 minggu, satu kelompok kontrol positif(K1) diberi diet kuning telur 5 mg/ekor/hari selama 2 minggu dan tiga kelompok perlakuan: (P1) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 2 minggu (P2) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 4 minggu (P3) diberi jus pepaya 2,6 gram/ekor/hari selama 6 minggu lewat sonde. Setelah masa perlakuan masing-masing kelompok sampel didekapitasi, kemudian diukur kadar kolesterol total, LDL serum darah dan mengamati gambaran histopatologis sel busa dan dinding aorta abdominalisnya. Hasil data dianalisis dengan uji Oneway- Anova dan dilanjutkan dengan uji PostHoc.
Hasil Penelitian menunjukan bahwa pemberian jus buah pepaya 2,6 gram/ekor selama 2 minggu, 4 minggu, dan 6 minggu berturut-turut dapat menurunkan jumlah sel busa pada dinding aorta abdominalis dan dapat menurunkan ketebalan dinding aorta abdominalis tikus wistar jantan yang diberi hiperkolesterolemik dibandingkan dengan tanpa diberikan jus pepaya.
Kata kunci: Pepaya, hiperkolesterolemik, antioksidan, histopatologis, fatty streak.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Papaya (Carica Papaya L) is a tropical fruit that can flourish in Indonesia. Papaya is known as table fruit because it is often available at the dining table, restaurant, eating house, even every meal is used as a dessert fruit before or after eating that no longer need to be processed so that papaya can be directly consumed by eating the flesh or also in the form of fruit juice. Papaya fruit is one fruit that is a source of antioxidants. Papaya contains betacarotene, which is one form of carotene pigments (carotenoids). Betacarotene is one form of carotene compound as a powerful antidote to reaksif oxygen compound (ROS) and stimulate the body’s ability to convert toxic substances into harmless compounds. By giving antioxidants on atherosclerotic lesions will inhibit the oxidation of LDL cholesterol and prevent oxidative stress thereby reducing the incidence or vascular endothelical dysfunction. This study aims to determine whether or not the effect of the papaya fruit orally histopathologic number of foam cells and abdominal aortic wall thickness of male wistar rats were hiperkolesterolemik.
This research is experimental research which design using a sample of 24 adults male wistar rats were divided into 5 groups; the negative control group (K0) fed a standard diet feed for 2 weeks. The positive control group (K1) fed a diet of egg yolks 5 mg/head/day for 2 weeks and three treatment groups: (P1) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 2 weeks (P2) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 4 weeks (P3) was given papaya juice 2,6 grams/head/day for 6 weeks over the sonde.After the treatment period of each sample groups were decapitated, then measured levels of total cholesterol, LDL and blood serum observe histopathologic foam cells and abdominal aortic wall thickness. Data Results were analyzed by Oneway-Anova test and followed by Post-Hoc test.
The experimental results showed that administration of 2,6 grams/head papaya juice for 2 weeks, 4 weeks, and 6 weeks in a row can reduce the amount of foam cells in the wall of the abdominal aorta and can reduce abdominal aortic wall thickness of male wistar rats were given hiperkolesterolemik compared without given papaya juice.
Key Words : Papaya, hiperkolesterolemik, antioxidants, histopatology, fatty streak.
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Di Eropa diperhitungkan 20.000-40.000 orang dari 1 juta penduduk
menderita Penyakit Jantung Koroner (PJK). Penyakit jantung, stroke, dan aterosklerosis merupakan penyakit yang mematikan. Di seluruh dunia, jumlah penderita penyakit ini terus bertambah. World Health Organization (WHO) dan World Hearth Federation (WHF) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada tahun 2010. Saat ini, sedikitnya 78% kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan masyarakat miskin dan menengah. Di negara berkembang dari tahun 1990 sampai 2020, angka kematian akibat penyakit jantung koroner akan meningkat 137% pada laki-laki dan 120% pada wanita, sedangkan di negara maju peningkatannya lebih rendah yaitu 48% pada laki-laki dan 29% pada wanita. Di tahun 2020 diperkirakan penyakit kardiovaskuler menjadi penyebab kematian 25 orang setiap tahunnya (WHO, 2010).
Di Amerika Serikat dan tempat lain, selama beberapa dekade terakhir telah dicapai kemajuan berarti tentang dampak penyakit terkait atherosklerosis pada kesehatan. Antara tahun 1963 (tahun puncak) dan 2000 terjadi penurunan sekitar 50% angka kematian akibat penyakit jantung hipertensi dan penurunan 70% kematian akibat stroke, suatu penurunan mortalitas yang meningkatkan usia harapan hidup rerata sebesar 5 tahun di Amerika Serikat. Tiga faktor yang
Universitas Sumatera Utara

berperan dalam perbaikan mengesankan ini adalah (1) pencegahan atherosklerosis melalui perubahan gaya hidup, termasuk mengurangi merokok, mengubah kebiasaan makan dengan mengurangi konsumsi kolesterol dan lemak jenuh hewani, serta mengendalikan hipertensi; (2) perbaikan metode pengobatan infark miokardium dan penyulit iskemik heart deases (IHD) lainnya; dan (3) pencegahan kekambuhan pada pasien yang pernah menderita penyakit serius yang berkaitan dengan atherosklerosis (Kumar,2007).
Menurut Nadesul (2002) mengatakan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi akibat aterosklerosis menyebabkan aspek pengobatan dan pencegahan aterosklerosis begitu penting. Upaya pencegahan aterosklerosis dengan menggunakan obat-obatan sintesis begitu mahal, sehingga kini perlu alternatif menggunakan bahan-bahan dari alam (phytopharmaca).
Kolesterol pada beberapa tahun ini masih menjadi suatu hal yang menarik untuk diteliti, karena sering dikaitkan dengan beberapa penyakit mematikan diantaranya adalah penyakit jantung koroner (PJK). Penyebab PJK multifaktor namun telah terbukti salah satu faktor penyebab utamanya adalah dislipidemi dan peningkatan oksidasi kolesterol low density lipoprotein (LDL)( Kumar,2007). Kadar kolesterol LDL yang tinggi bersifat aterogenik dan peningkatan kadar kolesterol high density lipoprotein (HDL) yang tinggi bersifat protektif karena berperan dalam mengeluarkan kolesterol dari jaringan dan mengembalikannya ke hati (Wijaya,1998; Down et al,2000).
Hiperkolesterolemi dan hipertrigliserid adalah keadaan kadar kolesterol dan trigliserid darah berlebihan; sehingga berpotensi menyebabkan penyakit
Universitas Sumatera Utara

kardiovaskuler seperti stroke, penyakit jantung koroner, dll. Data terakhir menyebutkan, hingga tahun 2010 penyakit kardiovaskuler masih akan menduduki peringkat teratas penyebab kematian. Di Indonesia sebagai negara berkembang angka prevalensi penyakit ini juga terus meningkat dan merupakan penyebab kematian tersering (Ardiansyah 2005).
Radikal-radikal bebas memainkan peranan penting dalam pembentukan plak atheromatosa. Bila LDL teroksidasi oleh radikal bebas maka akan lebih mudah baginya untuk menempel pada dinding bagian dalam pembuluh darah arteri dan selanjutnya akan menjadi plak. Juga dapat melalui mekanisme penghancuran dinding pembuluh darah oleh radikal bebas, sehingga memudahkan terbentuknya plak. Sehingga cara pencegahan atherosklerosis yang utama adalah dengan mengurangi kolesterol dan mengurangi radikal bebas( Guyton,1997; Bock, Boyette,1995)
Kemajuan ilmu biologi molekuler saat ini memunculkan peran oksidan dan anti oksidan. Pada keadaan normal terjadi keseimbangan antara keduanya didalam tubuh. Beberapa penelitan terakhir mengindikasikan faktor pemicu penyakit adalah adanya stress oksidatif, yang terjadi karena peningkatan radikal bebas sehingga kemampuan pertahanan tubuh melalui sistem antioksidan jadi berkurang. Keadaan ini dipengaruhi oleh Reactive Oksigen Species (ROS). ROS merupakan suatu oksidan yang tingi, bersifat sangat tidak stabil sehingga sangat mudah bereaksi dengan molekul lain. ROS terjadi baik secara endogen atau eksogen, melalui aktifitas metabolik regular, aktifitas gaya hidup dan diet(Stahl, Sies,1997; Trilling, Jaber,1996).
Universitas Sumatera Utara

Antioksidan merupakan agen protektif yang menonaktifkan spesies oksigen reaktif (ROS) sehingga secara signifikan dapat mencegah kerusakan oksidatif. Antiokksidan secara alami berada dalam sel manusia (endogen) diantaranya adalah Superokside Dismutase (SOD), Catalase (CAT) dan Gluthatione Peroxidase (GPx). Glutathion peroksidase merupakan salah satu antioksidan endogen yang berperan dalam perlindungan terhadap peroksidase lipid. Pada keadaan stres oksidatif kerja glutathioneperoksidase akan meningkat( Trilling JS, Jaber,1996; Stiphanuk,2000). Selain antioksidan tersebut, sumbersumber antioksidan eksogen yang berasal dari makanan sehari-hari juga diperlukan untuk meminimalkan stres oksidatif, seperti vitamin-vitamin (vitamin C, vitamin E, beta-karoten), dan senyawa fitokomia (karotenoid, isoflavon, saponin, polifenol) (Rock et al,1996; Steinmtz, Potter,1996).
Stres oksidatif adalah keadaan ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan. Keadaan stress oksidatif sebetulnya dapat diinduksi oleh berbagai faktor, antara lain adalah kurangnya antioksidan atau kelebihan produksi radikal bebas. Radikal bebas sebetulnya diproduksi secara fisiologis oleh sel sebagai konsekuensi logis pada reaksi biokimia dalam kehidupan aerobik. Namun, jika radikal bebas berlebihan dan antioksidan seluler tetap jumlahnya atau lebih sedikit, maka kelebihan radikal bebas ini tidak bisa dinetralkan dan akan berakibat pada kerusakan sel itu sendiri. Kondisi stres oksidatif yang berakibat pada kerusakan sel, dapat menyebabkan terjadinya percepatan proses penuaan, dan bisa menimbulkan penyakit jantung, kanker dan diabetes mellitus. Oksigen sangat penting bagi kehidupan, tetapi juga terlibat dalam proses oksidasi yang
Universitas Sumatera Utara

menghasilkan senyawa tunggal oksigen yang sangat reaktif dan spesies lainnnya. "radikal bebas" ini Juga disebut ROS yang dibutuhkan untuk proses fisiologis tertentu seperti system kekebalan tubuh, tetapi kondisi stres oksidatif dimana kelebihan molekul ini bisa mengakibatkan kerusakan sel sel lipid, protein atau DNA, sehingga menghambat fungsi normalnya ( Halwell B,1996).
Sesungguhnya Allah SWT menciptakan segala yang ada di alam ini termasuk manusia dalam keadaan yang seimbang dalam proses kehidupannya. Sebagaimana yang difirmankanNya dalam Al Quran Surat Al-Infithar ayat 7: Artinya: Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, (Q.S. al-Infithar:7)
Keseimbangan dalam tubuh manusia yang dimaksud dalam ayat di atas adalah suatu keadaan yang seimbang berupa keadaan yang tidak berlebihan antara satu faktor dengan faktor lainnya dalam proses metabolisme tubuh. Jika terdapat salah satu faktor lebih tinggi dari faktor lainnya dalam suatu proses metabolisme tubuh, maka akan terjadi kelainan yang kita kenal dengan penyakit
Untuk meredam kerusakan oksidatif tersebut diperlukan antioksidan. Peningkatan antioksidan yang cukup akan membantu pencegahan komplikasi klinis mikrovaskular( Rahbani-Nobar et al,1999)
Meskipun data penelitian belum konsisten. Penelitian pada hewan percobaan membuktikan bahwa antioksidan dapat menghambat tahap awal dari retinopati, nefropati, dan neuropati (Ueno et al,2002; Kowlum et al,2001). Demikian juga pada penelitian manusia bahwa antioksidan dapat menghambat komplikasi mikrovaskular, penurunan insidens penyakit jantung koroner dan
Universitas Sumatera Utara

perbaikan sistem saraf otonom jantung dan perbaikan vasodilatasi (Becman et al,2001).
Pemberian antioksidan pada lesi aterosklerotik akan menghambat oksidasi kolesterol LDL dan mencegah stres oksidatif sehingga mengurangi timbulnya disfungsi endotel (Jialial, Grundy,1992; Chopra et al, 2000).
Sejumlah faktor, seperti polusi udara, racun disekitar lingkungan, sinar UV, dan pada tidak adekuatnya asupan makanan yang mengandung antioksidan, dapat menempatkan kita pada resiko stress oksidatif(Palva, Russel, 1999).
Bahan pangan yang dapat menjadi sumber antioksidan alami, seperti rempah-rempah, coklat, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran seperti tomat, pepaya, jeruk dan sebagainya( Prakash,2001).
Kita sebagai manusia yang diberikan kelebihan akal oleh Allah dibanding dengan makhluk lain, sudah seharusnya kita selalu memperhatikan, memikirkan dan merenungkan segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di alam ini. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Asy-Syu'araa' ayat 7 disebutkan: Artinya: '' Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik? '' Pada ayat ini dapat memberikan makna bahwa Allah SWT telah menumbuhkan berbagai macam tumbuhan yang baik yang dapat diambil manfaatnya, baik untuk dimakan maupun digunakan sebagai bahan obat dalam pengobatan suatu penyakit. Pepaya termasuk salah satu jenis tumbuhan yang banyak sekali mendatangkan manfaat bagi kehidupan manusia. Selain buahnya nikmat untuk dimakan, buah pepaya bisa juga dijadikan untuk salah satu alternatif pencegahan ataupun obat terhadap suatu penyakit karena kandungan manfaatnya yang besar.
Universitas Sumatera Utara

Pepaya merupakan salah satu buah yang merupakan sumber antioksidan. Kandungan antioksidan yang tinggi pada buah pepaya membuatnya dipercaya sebagai zat yang dapat melindungi tubuh dari berbagai kerusakan yang disebabkan radikal bebas. Pepaya adalah buah tropis yang merupakan sumber vitamin C yang baik, sehingga mampu mencegah kerusakan sel yang disebabkan oleh radikal bebas (Kumalaningsih, 2006). Selain vitamin C, pepaya juga mengandung beta-karoten yang merupakan salah satu bentuk pigmen karoten (carotenoid). Karoten berfungsi sebagai antioksidan, sedangkan betakaroten merupakan salah satu bentuk senyawa karoten sebagai penawar yang kuat untuk senyawa ROS dan menstimulasi kemampuan tubuh untuk mengubah substansi toksik menjadi senyawa yang tidak berbahaya (Tim redaksi Vitahealth,2004).
Berdasarkan uraian diatas, maka penelitian ini mengambil sebuah tema: "pengaruh pemberian jus buah pepaya (Carica papaya. L) terhadap gambaran fatty streak pada dinding pembuluh darah tikus wistar jantan yang hiperkolesterolemik”
1.2 Perumusan Masalah Dari latar belakang tersebut diatas, maka rumusan masalah ini adalah :
Bagaimanakah pengaruh pemberian jus buah pepaya terhadap resiko terjadinya fatty streak pada dinding pembuluh darah Aorta Abdominalis tikus wistar jantan yang hiperkolesterolemik.
Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Mengetahui pengaruh pemberian jus pepaya terhadap resiko terbentuknya

fatty streak pada dinding pembuluh darah aorta abdominalis tikus wistar jantan

hiperkolesterolemik yang diinduksi dengan kuning telur

1.3.2

Tujuan Khusus

1. Menganalisis pengaruh jus buah pepaya terhadap jumlah sel busa yang

terbentuk pada dinding pembuluh darah aorta abdominalis tikus wistar

jantan hiperkolesterolemik yang diinduksi dengan kuning telur.

2. Menganalisis pengaruh jus buah pepaya terhadap ketebalan dinding

pembuluh darah aorta abdominalis tikus wistar jantan

hiperkolesterolemik yang diinduksi dengan kuning telur.

1.4. Hipotesis 1. Pemberian jus buah pepaya pada tikus yang hiperkolesterolemik dapat menurunkan jumlah terbentuknya sel busa pada lapisan intima aorta abdominalis berdasarkan gambaran histopatologisnya. 2. Pemberian jus buah pepaya pada tikus yang hiperkolesterolemik dapat menurunkan ketebalan dinding aorta abdominalis berdasarkan gambaran histopatologisnya.

Universitas Sumatera Utara

1.5 Manfaat Penelitian 1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada masyarakat luas tentang efek protektif dari buah pepaya terhadap pembuluh darah dari resiko terjadinya fatty streak. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perkembangan obat-obatan fitofarmaka selanjutnya terutama dalam pengobatan penyakit dengan gangguan metabolisme lipid darah demi peningkatan derajat kesehatan masyarakat. 3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lipid 2.1.1 Defenisi Lipid
Sejumlah senyawa kimia dalam makanan dan dalam tubuh digolongkan dalam lipid. Senyawa tersebut adalah lemak netral dikenal juga sebagai Trigliserida, fosfolipid, kolesterol dan beberapa senyawa lain yang kurang penting (Guyton, 2007).
Lipid adalah segolongan besar substansi biologi heterogen yang mudah larut dalam pelarut organik seperti metanol, aseton, khloroform dan benzena (Koolman et al, 2005). Dan pendapat lain mengatakan seperti Baynes (2007) mengatakan lipid adalah salah satu kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Untuk memberikan defenisi yang jelas tentang lipid sangat sukar, sebab senyawa yang termasuk lipid tidak mempunyai rumus struktur yang serupa atau mirip. Para ahli biokimia sepakat bahwa lemak dan senyawa organik yang mempunyai sifat fisika seperti lemak, dimasukkan kedalam satu kelompok yang disebut lipid. Adapun sifat fisika yang dimaksud ialah: (1) tidak larut dalam air, tetapi larut dalam satu atau lebih dari satu pelarut organik misalnya ester, aseton, kloroform, benzena yang sering disebut “pelarut organik”: (2) ada hubungan dengan asam lemak atau esternya; (3) mempunyai kemungkinan digunakan oleh mahluk hidup. Jadi berdasarkan sifat fisika tersebut, lipid dapat diperoleh dari
Universitas Sumatera Utara

hewan atau tumbuhan dengan cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut lemak tersebut. Jaringan bawah kulit di sekitar perut, jaringan sekitar ginjal mengandung banyak lipid terutama lemak kira-kira sebesar 90%, dalam jaringan otak atau dalam telur terdapat lipid kira-kira sebesar 7,5 sampai 30% (Poedjiadi, 2006).
2.1.2 Klasifikasi Lipid Menurut Tirtawinata (2006), lemak dibagi menjadi tiga jenis lemak yakni
lemak sederhana, lemak gabungan dan derivat-derivatnya, seperti diperlihatkan pada gambar berikut ini: a) Lemak Sederhana
Lemak sederhana terdiri atas lemak netral dan malam (Waxes). Lemak netral disebut juga trigliserida, karena tersusun atas satu gliserol dan tiga asam lemak. Ketiga asam lemak tersebut bisa dari jenis yang sama atau dapat pula dari jenis yang berbeda (Tirtawinata, 2006). b) Lemak Gabungan atau Lemak Majemuk
Menurut Tirtawinata (2006), lemak gabungan adalah lemak yang bergabung dengan unsur atau senyawa organik lain misalnya fosfat, nitrogen, karbohidrat atau protein. Glikolipid, fosfolipid dan lipoprotein merupakan lemak majemuk yang terpenting. Glikolipid tersusun atas asam lemak, nitrogen dan karbohidrat. Glikolipid terutama terdapat dalam otak, yang berfungsi sebagai komponen jaringan syaraf otak, oleh karena itu disebut juga sebagai cerebrosid.
Fosfolipid selalu mengandung satu molekul asam lemak atau lebih dan satu radikal asam fosfat, dan mereka biasanya mengandung basa nitrogen.
Universitas Sumatera Utara

Sebanyak 90% fosfolipid atau lebih yang terkandung dalam darah dibentuk dalam sel hati, walaupun dalam jumlah yang cukup besar juga dapat dibentuk oleh sel mukosa usus (Guyton, 2007). Tirtawinata (2006), menambahkan bahwa fosfolipid dibagi menjadi tiga jenis utama yaitu fosfolipid empedu yang disintesis di hati, fosfolipid membran sel (lesitin dan asetilkolin), dan fosfolipid lain seperti sefalin dan sfingomielin.
2.1.3 Fungsi Lipid Fungsi biomedis utama lipid adalah sebagai cadangan energi, yang
berperan sebagai komponen struktural membran sel, dan berperan sebagai sinyal molekular yang penting. Lipid diangkut dalam plasma sebagai lipoprotein. Empat kelompok utama lipoprotein yang telah diidentifikasi yaitu kilomikron, Very Low Density Lipoprotein (VLDL), Low Density Lipoprotein (LDL) dan High DensitybLipoprotein (HDL) (Murray et al, 2003). Ditambahkan pernyataan dari Tirtawinata (2006), bahwa Lipoprotein berperan besar dalam pengangkutan lemak dari saluran pencernaan ke seluruh sel jaringan tubuh dan dari sel jaringan tubuh ke hati.
2.1.4 Hiperlipidemia Menurut Sherwood (2003) hiperlipidemia adalah terjadinya akumulasi
berlebih salah satu atau lebih lipid utama plasma dan merupakan manifestasi kelainan metabolisme atau transportasi lipid. Dalam klinis, hiperlipidemia dinyatakan sebagai hiperkolesterolemia, hipertrigliserida atau kombinasi
Universitas Sumatera Utara

keduanya. Hiperlipidemia bisa terjadi karena defek transportasi lipid atau karena produksinya berlebihan. Kelainan ini bisa secara primer (hiperlipidemia primer). Hiperlipidemia primer disebabkan karena kelainan genetik. Hiperlipidemia primer dibagi menjadi hiperlipidemia familial dan sporadik. Hiperlipidemia sekunder disebabkan peningkatan kadar lipid darah yang disebabkan suatu penyakit tertentu, misalnya diabetes mellitus, gangguan tiroid, penyakit ginjal serta obatobatan.
2.2 Kolesterol Kolesterol ialah molekul yang ditemukan dalam sel, sejenis lipid yang
merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid (Povey, 2002).
Struktur kimia dasar kolesterol berupa steroid. Terdapat dalam jaringan dan lipoprotein plasma dalam bentuk kolesterol bebas atau gabungan dari asam lemak rantai panjang sebagai ester kolesterol. Senyawa kolesterol ini disintesis dalam banyak jaringan dari asetil-Ko A dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh melalui empedu, sebagai garam kolesterol atau empedu. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan sehingga terdapat dalam semua bahan makanan yang berasal dari hewan, misalnya kuning telur, otak, daging dan hati (Wijaya, 1998).
Tekstur kolesterol lembut dan berlilin, dengan konsistensi seperti tetesan lilin panas. Warna putih kehijauan, substansi berlemak, merupakan bagian terbesar yang dibentuk oleh tubuh di hati. Sekitar dua pertiga kolesterol tubuh
Universitas Sumatera Utara

diproduksi dengan cara ini menggunakan substansi yang diperoleh dari lemak pada makanan kita, sehingga makin banyak lemak yang kita makan, hati makin terpacu untuk mensintesis lebih banyak kolesterol. Kolesterol yang berada di dalam tubuh berasal dari rute yang berbeda-beda, sebagian besar berasal dari dinding usus kecil sebagai hasil dari lemak yang kita makan (Povey, 2002).
2.2.1 Manfaat Kolestrol (Karina, 2012)  Pembentuk dinding sel tubuh : Kolesterol dibutuhkan sebagai salah satu komponen pembentuk dinding-dinding sel tubuh. Dinding-dinding sel itu lah yang membentuk tubuh dengan baik.  Pembentukan hormon : Kolesterol merupakan bahan penting yang dibutuhkan oleh tubuh sebagai bahan dasar pembentukan hormon testotero, estrogen dsn progesteron.  Pembentukan vitamin D : Kolesterol ini dibutuhkan untuk membuat vitamin D yang penting bagi kesehatan tulang dan kulit.  Membantu proses kerja tubuh di empedu : Sebagai bahan pembentukan asam dan garam empedu yang berfungsi mengemulsi lemak di dalam tubuh.
2.3 Trigliserida Triasilgliserol atau trigliserida merupakan ester dari alkohol gliserol
dengan asam lemak. Proporsi molekul triasilgliserol yang mengandung residu
Universitas Sumatera Utara

asam lemak yang sama pada ketiga posisi ester pada lemak alami sangatlah kecil (Harper, 2007).
Fungsi utama triasilgliserol adalah sebagai lemak penyimpan. Pada hampir semua sel hewan dan tumbuhan, triasilgliserol terdapat sebagai tetes minyak mikroskopi, terdispersi dan teremulsi di dalam sitosol dengan halus. Trigliserida berkaitan dengan kolesterol, bentuk lipid plasma (lemak darah). Trigliserida dalam plasma berasal dari lemak makanan kita, maupun dari dalam tubuh. Proses pencernaan lemak dari makanan selain meghasilkan kolesterol juga menghasilkan trigliserida dan lemak bebas. Kalori yang kita konsumsi, tetapi tidak digunakan segera, oleh jaringan tubuh kemudian diubah menjadi trigliserida dan disimpan didalam sel lemak. Trigliserida yang tinggi biasanya diikuti oleh kolesterol total dan LDL yang tinggi serta HDL yang rendah (Devinda, 2012).
2.4 Lipoprotein Lipoprotein adalah gabungan antara lemak dan protein yang merupakan
unsur pembentuk penting pada sel, yang terdapat baik pada membran sel maupun mitokondria di dalam sitoplasama, serta juga berfungsi sebagai sarana pengangkutan lipid didalam darah. Lipoprotein sendiri merupakan suatu partikel dengan struktur tertentu yang tersusun dari lipida-lipida polar, lipida-lipida non polar dalam protein khusus (apoprotein), sehingga larut dalam air dan berfungsi untuk mengangkut lipid dalam darah. Plasma lipoprotein sendiri berdasarkan densitasnya, terdiri atas kilomikron, VLDL,IDL, LDL dan HDL (Harper, 2008). a) Kilomikron (Chylomicron)
Universitas Sumatera Utara

Kilomikron merupakan alat pengangkut lemak dari usus ke seluruh tubuh. Lemak utama yang diangkut oleh kilomikron adalah trigliserida, oleh karena itu kilomikron mengandung sekitar 86% trigliserida, 8,5% fosfolipid, 3% kolesterol dan 2% protein. Kilomikron adalah lipoprotein yang paling besar ukurannya dan mempunyai densitas paling rendah. Pembentukan kilomikron dalam dinding usus sesuai dengan jumlah trigliserida yang diserap (Guyton, 2007). b) VLDL (Very Low Density Lipoprotein)
VLDL sebagian dibentuk di dinding usus dan sebagian lain disintesis di dalam hati. VLDL merupakan lipoprotein yang paling banyak mengandung trigliserida yang diangkut dari usus ke seluruh jaringan tubuh. VLDL dijaringan tubuh melepaskan trigliserida dengan bantuan lipoprotein lipase untuk digunakan sebagai sumber energi dan sebagai lemak cadangan. Lepasnya trigliserida mengakibatkan VLDL dapat mengikat kolesterol, fosfolipid dan protein dari lipoprotein lain dalam aliran darah dan dengan demikian VLDL berubah menjadi LDL (Guyton, 2007). c) LDL (Low Density Lipoprotein)
Mengandung kolesterol dan fosfolipid yang cukup tinggi. LDL merupakan lipoprotein yang mengangkut kolesterol terbesar untuk disebarkan ke seluruh jaringan tubuh dan pembuluh darah. LDL sering disebut kolesterol jahat karena efeknya yang arterogenik (mudah melekat pada dinding pembuluh darah), sehingga dapat menyebabkan penumpukan lemak dan penyempitan pembuluh darah (arterosclerosis). Kadar LDL di dalam darah sangat tergantung dari lemak jenuh yang masuk. Semakin banyak lemak jenuh yang masuk, semakin
Universitas Sumatera Utara

menumpuk pula LDL. Hal ini disebabkan LDL merupakan lemak jenuh yang tidak mudah larut (Guyton, 2007). d) HDL (High Density Lipoprotein)
Mengandung protein yang tinggi dan rendah kolesterol dan fosfolipid. HDL merupakan lipoprotein yang mengandung Apo-A, yang memiliki efek antiarterogenik, sehingga disebut kolesterol baik. Fungsi utamanya adalah membawa kolesterol bebas dari dalam endotel dan mengirimkannya ke pembuluh darah perifer, lalu keluar tubuh lewat empedu. Dengan demikian, penimbunan kolesterol di perifer menjadi berkurang (Guyton, 2007).

2.4.1 Kadar Kolestrol Serum Darah

Kadar kolestrol Kadar kolestrol total (mg/dl) 240 Kadar kolestrol LDL (mg/dl) >100 100-129 130-159 160-189 >190 Kadar kolestrol HDL (mg/dl) 150

Optimal

150-199

Diinginkan

200-499

Tinggi

>500

Sangat tinggi

Dikutip dari: Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., K, Marcellus Simadibrata,

Setiati, S., 2007.

2.5 Radikal Bebas dan LDL oksidasi

Menurut Mc Kee (2003) beberapa penelitian sudah membuktikan efek

berbahaya yang akan ditimbulkan oleh reaksi kimia dari radikal bebas. Radikal

bebas adalah atom atau molekul yang tidak stabil atau sangat reaktif karena

mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbit terluarnya.

Untuk mencapai kestabilan atom atau molekul, radikal bebas akan beraksi dengan

molekul disekitarnya untuk memperoleh pasangan elektron.

Molekul stabil

Radikal Bebas

Gambar 2. 1 Struktur Elektron Molekul Stabil dan Radikal Bebas (Hellen & Lynn ,2000)
Oksigen dapat menerima elektron tunggal dan membentuk molekul tak stabil yang dikenal dengan molekul reactive oxygen species (ROS). Beberapa contoh reactive oxygen species antara lain radikal superoksid (O2), radikal
Universitas Sumatera Utara

hidroksil(HO) dan singlet oksigen (O). pada organisme hidup, normalnya pembentukan reactive oxygen species umumnya dijaga seminimal mungkin oleh mekanisme pertahanan antioksidan . Beberapa kondisi tertentu dimana mekanisme antioksidan tertutupi atau menjadi tak seimbang, akan menyebabkan kerusakan dalam jaringan, yang dikenal secara kolektif sebagai suatu stres oksidatif.
Reaksi ini akan berlangsung terus menerus dalam tubuh dan bila tidak dihentikan akan menimbulkan berbagai penyakit seperti kanker, jantung dan katarak, penuaan dini serta pnyakit degeneratif lainnya. Oleh karena itu tubuh memerlukan suatu substansi penting yaitu antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas tersebut sehingga tidak dapat mnginduksi suatu penyakit (Kikuzaki et al,2002; Sibuea 2003, Halliwell 2000).
Radikal bebas dapat terbentuk dari beberapa reaksi pada sel makrofag, sel endotel, maupun sel monosit, berupa superoksida, hidroksil serta peroksida. Pada sel kariotik, produksi radikal bebas endogen utama berasal dari mitokondria. Peran penting radikal bebas dalam proses aterosklerosis adalah keterlibatannya dalam proses oksidasi LDL, serta menginduksi terjadinya inflamasi. LDL teroksidasi akan memicu timbulnya dis

Dokumen yang terkait

Penentuan Lc50 Dari Getah Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Ikan Nila (Oreochromis Niloticus)

4 94 64

Uji Antimuagenik Ekstrak Etanol Bunga Jantan Pepaya (Carica papaya L.) pada Mencit Jantan yang Diinduksi dengan Siklofosfamid

3 63 76

Penggunaan Sari Buah Pepaya ( Carica papaya L.) Dalam Sediaan Krim Pelembab

35 151 58

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 1 21

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 0 2

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 0 9

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 0 16

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 2 4

Pengaruh Pemberian Jus Buah Pepaya (Carica Papaya L.) Terhadap Kadar Kolesterol Dan Tingkat Oksidasi Plasma Darah Tikus Wistar Jantan Hiperkolesterolemik Yang Diinduksi Dengan Kuning Telur

0 0 65

PENGARUH PEMBERIAN JUS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS JANTAN GALUR WISTAR HIPERKOLESTEROLEMIAPENGARUH PEMBERIAN JUS BIJI PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL TIKUS JANTAN GALUR

0 0 13