Penerapan Electronic Government Dalam Pelayanan Publik Pada Kantor Pengawasan Dan Pelayanan Bea Dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan

(1)

PENERAPAN ELECTRONIC GOVERNMENT

DALAM PELAYANAN PUBLIK PADA KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN BELAWAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sumatera Utara Oleh:

HILDA ERWINA SIMATUPANG 070903010

DEPARTEMEN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN


(2)

ABSTRAKSI

Penerapan Electronic Government dalam Pelayanan Publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan

Nama : Hilda Erwina Simatupang NIM : 070903010

Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pembimbing : Prof. Dr. Erika Revida, Msi

Peranan teknologi informasi dalam menunjang sistem operasional dan manajerial pada instansi pemerintahan dewasa ini dirasakan sangat penting. Karena pada dasarnya mayoritas bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, dan penyediaan berbagai data informasi, pengetahuan, maupun kebijakan dan penyebarannya kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi tersebut dikenal dengan istilah Electronic Government. Dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Electronic Government perlu diterapakan pada setiap instansi pemerintah termasuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi serta menganalisis kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi Distribusi Data dan Dokumen, petugas Analiizng Point Impor, dan petugas Analizing Point Ekspor. Sedangkan yang menjadi informan utama adalah para pengusaha yang terdaftar pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari aspek sumber daya manusia dan fasilitas yang sudah memadai guna mendukung penerapan e-Government dalam pelayanan kepabeanan dan cukai. Penerapan e-Government memberikan pelayanan yang efisien, efektif, ekonomis dan transparan. Namun masih terdapat kekurangan terutama dalam hal sosialisasi dan pelatihan baik kepada para pengusaha maupun para pegawai. Oleh sebab itu, perlu adanya pelatihan kepada para pegawai guna meningkatkan kualitas pelayanan dan sosialisasi kepada para pengusaha untuk dapat berpartisipasi lagi dalam menggunakan pelayanan dengan sistem online.


(3)

KATA PENGANTAR

Rasa syukur serta sembah penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yesus Kristus untuk segala hikmat, karunia dan kasihNya serta untuk setiap berkat yang telah dianugerahkanNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Penerapan Electronic Government dalam Pelayanan Publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan”.

Selama penyusunan skripsi ini, penulis menyadari akan sejumlah kekurangan dan kelemahan, untuk itu penulis membuka diri untuk saran dan kritik yang dapat membangun guna perbaikan di masa yang akan datang.

Mengingat keterbatasan kemampuan, waktu dan pengetahuan, penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak akan mungkin dapat terselesaikan dengan lancar tanpa bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Drs. M. Husni Thamrin Nst, M.Si, selaku Ketua Departemen Ilmu Admnistrasi Negara FISIP USU

3. Ibu Dra. Elita Dewi, M.SP, selaku sekretaris Depatemen Ilmu Admnistrasi Negara FISIP USU

4. Ibu Prof.Dr. Erika Revida Saragih, M.Si, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, pemikiran serta pengertian untuk membantu,


(4)

membimbing dan mengarahkan penulis dengan sabar hingga selesainya penulisan skripsi ini.

5. Seluruh staf pegawai Departemen Ilmu Administrasi Negara FISIP USU yang telah membantu penulis dalam segala urusan administrasi.

6. Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan Bapak...

7. Bapak M. Dian Anhar, Amd, selaku Kepala Seksi DTDD KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan.

8. Bapak ErwinM.Tua S.SE dan Bapak Termen R.Sianturi, selaku petugas Analizing Point ekspor dan impor KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan. 9. Untuk kedua orang tuaku, M.Simatupang dan R.Siagian yang terkasih.

Terima kasih buat kasih sayang yang tak terhingga sepanjang waktu, motivasi, serta doa yang Bapak/Mamak berikan bagi anak-anaknya. Untuk adik-adik ku tersayang Ndut (City), Ridho, Hermina, Nike, dan Abang (Binsar) yang turut memberikan motivasi dan juga doa.

10.Untuk sahabat ku Nino’ (Niena Bouman) teman seperjuangan dan sependeritaan ku, terima kasih untuk kebersamaannya mulai dari awal kuliah sampai sekarang dan untuk selamanya.

11.Buat teman-teman GMKI Koms FISIP USU, Gunawan, Nino’ (Niena Bouman lagi), Castri, Jenk, Oche, Lukas, Petrus, Herbin. Adek-adek ku di GMKI, dewi, firsty, rasna, septi, sinta dkk. Abang/kakak yang terkasih B’Melki, B’Frans, B’Zidan, K’yus dkk. Makasih buat kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin selama ini. UOUS


(5)

12.Buat teman-teman seperjuangan AN 07, Afnong, Elsi, Nandez, Paul, Gun, Sumandoro, Afandi, Wilfried, Jhoni, Tere, Maria, dan teman-teman lainnya, trima kasih buat kebersamaan yang baru dirasakan pada tingkat akhir kuliah (karna stambuk 07 memang gk kompak!!)

13.Untuk teman-teman Adelpothes Medan, B’jekson dan K’Naning (Pembina), B’kiki (ketua), Lasmi (Bendahara), Dame, Santi, B’hasan, B’Tomi, B’feri, K’Cristin yang memberikan semangat dan juga doa. 14. Terakhir untuk My Bee, Abangku (Bima Gustav Saragih) yang selalu

memberikan motivasi dan doa buat ku. Makasih buat perhatian dan pengertian Abang selama aku nyusun skripsi. Maaf ya bang terlalu sering sering bad mood.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Medan, 25 Mei 2011


(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi... v

Daftar Tabel ... v

Daftar Gambar ... v

Daftar Lampiran ... vi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Penelitian... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

1.5 Kerangka Teori ... 9

I.5.1 Implementasi Kebijakan Publik ... 9

1.5.2 Electronic Government ... 11

I.5.2.1 Pengertian Electronic Government ... 11

I.5.2.2 Tujuan dan Manfaat E-Government ... 12

I.5.2.3 Jenis-Jenis Pelayanan E-Government ... 14

I.5.2.4 Tipe-Tipe Relasi E-Government ... 15

I.5.2.5 Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan E-Government ... 17

I.5.2.6 Gambaran Umum Kebijakan E-Government di Indonesia... 19


(7)

1.5.3.1 Pengertian Pelayanan Publik ... 22

1.5.3.2 Sendi-Sendi Pelayanan Publik ... 23

1.5.3.3 Standar Pelayanan Publik ... 24

1.5.3.4 Penerapan Electronic Government Dalam Pelayanan Publik 24 I.6 Definisi Konsep ... 28

BAB II METODE PENELITIAN ... 29

2.1 Bentuk Penelitian ... 29

2.2 Lokasi Penelitian ... 29

2.3 Informan Penelitian ... 29

2.4 Teknik Pengumpulan Data ... 31

2.5 Teknik Analisa Data ... 33

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN ... 34

3.1 Sekilas Tentang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai ... 34

3.1.1 Tugas dan Fungsi DJBC ... 34

3.1.2 Kewenangan DJBC ... 36

3.1.3 Reformasi Pelayanan DJBC ... 38

3.1.4 Kantor Wilayah DJBC ... 41

3.2 Profil KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan ... 42

3.3 Visi dan Misi KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan ... 43

3.4 Jumlah Pegawai KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan ... 44

3.5 Bidang Kerja dan Uraian Tugas Pokok Tiap-tiap Seksi ... 47

BAB IV PENYAJIAN DATA ... 59


(8)

4.2 Variabel Penelitian ... 62

BAB V ANALISIS DATA ... 83

BAB VI PENUTUP ... 83

6.1 Kesimpulan... 96

6.2 Saran ... 98 Daftar Pustaka


(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Jumlah Pegawai Berdasarkan Pendidikan ... 44

Tabel 2 Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan ... 45

Tabel 3 Jumlah Pegawai Berdasarkan Eselon... 46

Tabel 4 Karakteristik Partisipan Berdasarkan Jenis Kelamin ... 60

Tabel 5 Karakteristik Partisipan Berdasarkan Usia... 60

Tabel 6 Karakteristik Partisipan Berdasarkan Pendidikan Terakhir... ... 61

Tabel 7 Karakteristik Partisipan Berdasarkan Pekerjaan... 61

Tabel 8 Distribusi Jawaban Mengenai Fasilitas Atau Perawatan Teknologi dan Komunikasi yang Tersedia di Tempat Pelayanan ... 62

Tabel 9 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Jumlah Pegawai Tempat Pelayanan Beserta Keterampilan dan Keahlian Mereka Dalam Menggunakan Peralatan Teknologi ... ... 63

Tabel 10 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Adanya Sosialisasi Penerapan e-Government Dalam Pelayanan Publik ... 63

Tabel 11 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Pemakaian Fasilitas Pelayanan Kepabeanan dan Cukai Yang Tersedia di Internet ... ... 64

Tabel 12 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Akses Untuk Memperoleh Informasi Maupun Menjalankan Aplikasi Melalui Internet ... ... 65

Tabel 13 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kemudahan dari Pelayanan Melalui Internet ... 67


(10)

Tabel 14 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kepuasan Mereka Terhadap

Pelayanan Kepabeanan dan Cukai Melalui Internet ... 68 Tabel 15 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Informasi yang Diberikan

oleh DJBC Tentang Kebijakan, Perencanaan, Pelaksanaan, dan

Pengawasan Pelayanan Kepabeanan dan Cukai ... 69 Tabel 16 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Prosedur Pelayanan

Kepabeanan dan Cukai yang Dilakukan Melalui Internet ... 70 Tabel 17 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Waktu Penyelesaian

Pelayanan yang Dilakukan Melalui Internet ... 71 Tabel 18 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Pemberian Saran Maupun

Kritik oleh Para Pengguna Jasa Melalui Website 72 Tabel 19 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kendala Atau Masalah

Dalam Memperoleh Pelayanan Kepabeanan dan Cukai Melalui

Website 73

Tabel 20 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kejelasan Prosedur dan Mekanisme Kerja Sudah Sederhana Sesuai dengan Ketentuan

yang Ditetapkan ... 73 Tabel 21 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kebenaran dan

Kesesuai Prosedur Pelayanan dengan Ketentuan

Peraturan Perundang-undangan. ... 74 Tabel 22 Distribusi Jawaban Partisipan Mengenai Kesesuaian Biaya Pelayanan


(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1 Kerangka Proses Kebijakan Publik ... 46


(12)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran i... Pedoman Wawancara

Lampiran ii... Surat Pengajuan Judul Skripsi

Lampiran iii... Surat Permohonan Persetujuan Judul Skripsi Lampiran iv ... Surat Penunjukan Dosen Pembimbing Lampiran v... Jadwal Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi

Lampiran vi... Undangan Seminar Proposal Usulan Penelitian Skripsi

Lampiran vii... Daftar Hadir Peserta Seminar Proposal

Rancangan Usul Penelitian (RUP) Mahasiswa Fisip USU

Lampiran viii... Berita Acara Seminar Proposal Rencana Usulan Penelitian

Lampiran ix... Surat Izin Penelitian

Lampiran x... Surat Rekomendasi Izin Penelitian


(13)

ABSTRAKSI

Penerapan Electronic Government dalam Pelayanan Publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan

Nama : Hilda Erwina Simatupang NIM : 070903010

Departemen : Ilmu Administrasi Negara Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Pembimbing : Prof. Dr. Erika Revida, Msi

Peranan teknologi informasi dalam menunjang sistem operasional dan manajerial pada instansi pemerintahan dewasa ini dirasakan sangat penting. Karena pada dasarnya mayoritas bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, dan penyediaan berbagai data informasi, pengetahuan, maupun kebijakan dan penyebarannya kepada masyarakat. Pemanfaatan teknologi informasi dan teknologi tersebut dikenal dengan istilah Electronic Government. Dalam upaya meningkatkan pelayanan publik Electronic Government perlu diterapakan pada setiap instansi pemerintah termasuk Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi serta menganalisis kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh. Informan kunci dalam penelitian ini adalah Kepala Seksi Distribusi Data dan Dokumen, petugas Analiizng Point Impor, dan petugas Analizing Point Ekspor. Sedangkan yang menjadi informan utama adalah para pengusaha yang terdaftar pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan sudah berjalan dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari aspek sumber daya manusia dan fasilitas yang sudah memadai guna mendukung penerapan e-Government dalam pelayanan kepabeanan dan cukai. Penerapan e-Government memberikan pelayanan yang efisien, efektif, ekonomis dan transparan. Namun masih terdapat kekurangan terutama dalam hal sosialisasi dan pelatihan baik kepada para pengusaha maupun para pegawai. Oleh sebab itu, perlu adanya pelatihan kepada para pegawai guna meningkatkan kualitas pelayanan dan sosialisasi kepada para pengusaha untuk dapat berpartisipasi lagi dalam menggunakan pelayanan dengan sistem online.


(14)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Globalisasi merupakan sebuah fenomena dimana negara-negara di dunia secara langsung maupun tidak langsung mengharapkan terjadinya sebuah interaksi antar masyarakat yang jauh lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan sebelumnya. Proses interaksi dan komunikasi antar negara-negara di dunia akan jauh lebih intens dibanding dengan apa yang selama ini terjadi. Proses interaksi ini telah membuka isolasi batasan antar negara baik dalam hubungan bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun hukum. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang dengan sedemikian pesatnya, telah menempatkan informasi sebagai salah satu sumber daya yang sangat penting. Teknologi informasi melingkupi masalah sistem yang mengumpulkan, menyimpan, memproses, memproduksi dan mengirimkan informasi dari dan ke industri ataupun masyarakat secara efektif dan efisien. Teknologi informasi ini telah digunakan dalam berbagai sektor kehidupan, mulai dari perdagangan/bisnis, pendidikan, kesehatan, transportasi, industri, pariwisata, lingkungan sampai pada sektor hiburan.

Peranan teknologi informasi dalam menunjang sistem operasional dan manajerial pada instansi pemerintahan dewasa ini dirasakan sangat penting. Karena pada dasarnya mayoritas bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat adalah hal-hal yang berkaitan dengan pengumpulan, pengolahan, dan


(15)

penyediaan berbagai data informasi, pengetahuan, maupun kebijakan beserta penyebarannya ke seluruh anggota masyarakat yang membutuhkan. Menyadari akan pentingnya peranan sistem informasi dalam sistem pemerintahan, dan didorong dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dalam era milenium ini, perencanaan yang baik sangat diperlukan dalam pemilihan teknologi ataupun implementasi teknologi informasi pada pemerintahan.

Melalui pemanfaatan teknologi informasi pada instansi pemerintahan, masyarakat menginginkan pemerintahan yang bersih, transparan, efektif, efisien, dan akuntabel dalam penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance) dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Untuk menjawab tuntutan tersebut, pemerintah Indonesia harus mengadakan berbagai perubahan. Jika dahulu pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui birokrasinya dikenal bersifat kaku, lambat, berbelit-belit, boros, dan manajemennya dengan sistem hierarki kewenangan yang panjang yang menyebabkan panjangnya lini pengambilan keputusan, maka saat ini pelayanan publik perlu menjadi efektif dan efisien, dapat memenuhi kepentingan masyarakat luas, dapat diandalkan, terpercaya, dan mudah dijangkau.

Di negara-negara maju, hasil dari pemanfaatan teknologi digital (Electronic Digital Services) telah melahirkan sebuah bentuk mekanisme birokrasi pemerintahan yang baru, yang mereka istilahkan sebagai Electronic Government (e-Government). Dengan mekanisme yang baru ini diharapkan agar terdapat perubahan dimana interaksi pemerintah dengan masyarakatnya dapat menjadi lebih efektif dan efisien serta tidak terlampau birokratis seperti saat-saat


(16)

sebelumnya. Negara-negara Uni Eropa telah sukses melaksanakan e-Government. Bahkan Canada, Singapura, dan Amerika telah mangungguli Uni Eropa dalam area e-Government. (Jusuf dalam Hexagraha, 2006:75).

Inisiatif e-Government di Indonesia telah diperkenalkan melalui Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi. Selanjutnya keluarnya Instruksi Presiden RI No.3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government merupakan langkah serius pemerintah Indonesia untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses pemerintahan dan menciptakan masyarakat Indonesia yang berbasis informasi. Oleh karena itu, e-Government wajib diperkenalkan dan diterapkan di kantor-kantor pemerintahan termasuk di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Belawan.

Penerapan e-Government di KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan merupakan wujud modernisasi administrasi kepabean dan perizinan ekspor dan impor untuk menjawab tuntutan pelayanan yang cepat, mudah, dan akurat. Penerapan e-Government di KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan berupa penerapan sistem National Single Window (NSW) yaitu sistem berupa portal yang diterapkan untuk melayani pengurusan dokumen kepabeanan dan perizinan impor dan ekspor secara elektronik. Penerapan sistem National Single Window


(17)

(NSW) membantu memperbaiki kondisi aktivitas ekspor dan impor sehingga kualitas pelayanan publik pun meningkat.

Sistem NSW ini dapat menjadi solusi atas permasalahan yang terjadi pada proses kelancaran arus barang ekspor dan impor, mulai dari produksi hingga transaksi. Dengan penanganan pelayanan yang umumnya masih dilakukan secara manual, masih banyaknya jumlah dokumen, kurangnya transparansi sehingga menyebabkan terjadinya penyalahgunaan wewenang, serta masi kurangnya informasi kebijakan ekspor dan impor serta kepabean menjadi hambatan dalam proses kelancaran arus barang.

Sistem NSW untuk pelayanan impor sudah dilakukan tanggal 17 Desember 2007 hingga saat ini sudah diterapkan secara mandatori di lima pelabuhan utama, yaitu Tanjung Priok, Tanjung Emas, Tanjung Perak, Belawan dan Bandara Soekarno Hatta. Sementara untuk sistem NSW pelayanan ekspor penerapannya diawali dengan penerapan secara mandatory di Pelabuhan Tanjung Perak pada tanggal 18 januari 2010, kemudian di Tanjung Emas mulai tanggal 17 Juni 2010, Pelabuhan Belawan mulai tanggal 15 juli 2010, Tanjung Priok mulai tanggal 5 Agustus 2010 dan di Bandara Soekarno Hatta pada tanggal 23 September 2010. Januari 2011 pukul 21.35).

National Single Window (NSW) merupakan vitural office, dalam bahasa sederhana proses perizinan ekspor impor dilakukan secara full electronic. Dimana sebelumnya pengusaha menggunakan paper (manual) atau disket/USB (semi


(18)

elektronik) untuk mengurus dokumen. NSW juga memangkas pengulangan-pengulangan data yang ada diberbagai instansi. Misalnya untuk mengeluarkan barang, pengusaha harus dilengkapi dengan dokumen yang dikeluarkan dari Departemen Perdagangan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Untuk memperoleh dokumen dari Departemen Perdagangan, pengusaha harus melampirkan data seperti nama perusahaan, NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) , alamat perusahaan dan sebagainya. Begitu pula untuk memperoleh dokumen dari Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, pengusaha harus melampirkan data-data sama dengan yang dibutuhkan Departemen Perdagangan. Data-data tersebut dapat disatukan untuk mengurangi reduksi data. (Warta Bea Cukai Edisi 380 Juli 2006)

Dalam portal ini, semua fitur yang disediakan dikelompokkan dalam dua lapis. Pada lapis pertama berisi informasi untuk publik, di mana terdapat semua informasi yang terkait dengan penerapan sistem NSW di Indonesia. Sedangkan lapis kedua, diperuntukkan bagi para pelaku usaha di bidang ekspor dan impor. Layar ini bisa diakses setelah mengisi user ID dan password yang disediakan untuk mengakses sistem pelayanan perizinan di instansi pemerintah terkait. Dengan layanan ini, pengguna jasa NSW dapat mengurus kepabeanan dan perizinan impor atau ekspornya cukup melalui portal NSW. Pengguna juga dapat mengikuti perkembangan pengurusan dokumennya melalui fasilitas track and trace yang dapat diakses di mana saja. Penerapan sistem NSW juga memudahkan petugas dalam melaksanakan fungsi pengawasan, terutama untuk mengawasi masuknya barang-barang impor yang terkena larangan dan pembatasan.


(19)

Untuk registrasi importir dan eksportir, pengusaha mengajukan permohonan ekspor ataupun impor dengan cara mengisi formulir isian registrasi yang terdapat dalam portal secara online. Formulir isian dan tata cara registrasi dapat didownload dari website NSW (www.insw.go.id). Formulir isian registrasi imortir meliputi data tentang eksistensi, identitas pengurus dan penanggung jawab, jenis usaha, dan kepastian penyelenggaraan pembukuan. Importir yang merangkap eksportir dan sudah melakukan registrasi INSW tidak perlu melakukan registrasi lagi. Otomatis menu ekspor akan diterima dalam portal. Kemudian pejabat bea dan cukai melakukan penelitian terhadap kebenaran data pada formulir isian. Importir ataupun eksportir yang telah memenuhi syarat registrasi diberikan Nomor Identitas Kepabeanan (NIK). Nomor Identitas Kepabeanan adalah nomor identitas yang bersifat pribadi yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai kepada importir yang telah melakukan registrasi untuk mengakses atau berhubungan dengan sistem kepabeanan yang menggunakan teknologi informasi maupun secara manual.

Dengan adanya NSW, proses perizinan dilakukan dengan cepat, menghemat waktu dan biaya karena tidak perlu datang ke kantor pelayanan sehingga tidak terjadi contact person dengan pejabat bea dan cukai. Barang bisa tiba dengan cepat sampai di tujuan, biaya produksi dan transaksi menjadi rendah sehingga mampu menekan ekonomi biaya tinggi.


(20)

Penerapan e-Government dalam pelayanan publik tidak saja dapat meningkatkan efektifitas, efisiensi, transparansi dan akuntabilitas, tetapi juga dapat memungkinkan masyarakat untuk berpartisipasi dalam mengawasi, mendiskusikan, mengkritik, dan menganalisis keputusan dan tindakan yang berhubungan dengan kepabean dan cukai. Pelayanan publik pun dapat meningkat kualitasnya, dapat dijangkau oleh masyarakat luas secara interaktif, cepat, mudah, murah, dan akurat untuk mewujudkan good government. Mengingat pentingnya penerapan e-Government dalam pelayanan publik, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “Penerapan Electronic Government dalam Pelayanan Publik di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan”

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang, maka yang menjadi perumusan masalah dalam penelitian ini adalah; Bagaimana penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisis penerapan Electronic Government dalam pelayanan publik di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.


(21)

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dapat diperoleh dalam penelitian ini adalah:

1. Secara subjektif, penelitian diharapkan bermanfaat untuk melatih, meningkatkan dan mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah, sistematis dan metedologi penulis dalam menyusun suatu wacana baru dalam memperkaya mengenai penerapan ilmu pengetahuan dan wawasan khususnya Electronic Government dalam pelayanan publik.

2. Secara praktis, penelitian ini menjadi sumbangan pemikiran bagi instansi terkait mengenai pentingnya Electronic Government dalam meningkatkan pelayanan ekspor dan impor. Penelitian ini juga diharapkan dapat dijadikan referensi untuk mengambil kebijakan yang mengarahkan pada kemajuan institusi dan pelayanan publik yang lebih berkualitas.

3. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan memperkaya ragam penelitian yang telah dibuat oleh para mahasiswa bagi Departemen Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta dapat menjadi bahan referensi bagi terciptanya suatu karya ilmiah.


(22)

1.5. Kerangka Teori

1.5.1 Implementasi (Penerapan) Kebijakan

Implementasi atau penerapan dari suatu kebijakan merupakan kegiatan yang penting dari keseluruhan proses kebijakan. Suatu program kebijakan harus diimplementasikan agar mempunyai dampak atau tujuan yang diinginkan. James P. Lester dan Joseph Steward berpendapat bahwa implementasi kebijakan dalam pengertian luas, merupakan alat administrasi hukum dimana berbagai aktor, organisasi, prosedur, dan teknik yang bekerja sama untuk menjalankan kebijakan guna meraih dampak dan tujuan yang diinginkan. (Winarno,2002:102)

Selanjutnya Patton dan Sawicki (dalam Tangkilisan, 2003:9) menjelaskan lebih lanjut tentang konsep implementasi kebijakan yakni

“Implementasi berkaitan dengan berbagai kegiatan yang diarahkan untuk merealisasikan program, dimana pada posisi ini eksekutif mengatur cara untuk mengorganisisr, menginterpretasikan dan menerapkan kebijakan yang telah diseleksi. Sehingga dengan mengorganisir, seorang eksekutif mampu mengatur secara efektif dan efisien sumber daya, unit-unti dan teknik yang dapat mendukung pelaksanaan program, serta melakukan interpretasi terhadap perencanaan yang telah dibuat, dan petunjuk yang dapat diikuti dengan mudah bagi realisasi program yang dilaksanakan”. Jadi, tahapan implementasi merupakan peristiwa yang berhubungan dengan apa yangterjadi setelah perundang-undangan ditetapkan dengan memberikan otoritas pada suatu kebijakan dengna membentuk output yang jelas dan dapat diukur. Dengan demikian tugas implementasi kebijakan sebagai suatu penghubung yang memungkinkan tujuan-tujuan kebijakan mencapai hasil melalui aktivitas atau kegiatan program pemerintah. (Tangkilisan 2003:9)

Menurut Rippley dan Franklin (dalam Tangkilisan 2003:18) ada dua hal yang menjadi fokus perhatian dalam implementasi, yaitu compliance (kepatuhan)


(23)

dan What’s happening? (Apa yang terjadi?). Kepatuahn menunjuk pada apakah para implementor pada prosedur atau standar aturan yang telah ditetapkan. Sementara untuk “what’s happening?” mempertanyakan bagaimana proses implementasi itu dilakukan, hambatan yang muncul, apa yang berhasil dicapai, mengapa dan sebagainya.

Dalam tahapan implementasi atau penerapan suatu kebijakan yang telah ditetapkan perlu memperhatikan unsur-unsur yang terdapat dalam proses kebijakan publik agar kebijakan tersebut dapat terlaksana dengan baik. Menurut Tankilisan (2003:24), kerangka proses kebijakan publik adalam sebagai berikut:

Gambar 1

Kerangka Proses Kebijakan Publik

1. Input, sumber daya-sumber daya yang digunakan sebagai ujung tombak dalam proses administrasi maupun organisasi pelaksana.

2. Poses, adalah interaksi antara aktor yakni antara instansi teknis sebagai pelaksana dengan pengusaha dan masyarakat.

3. Output, yaitu keluaran yang dihasilkan langsung dari proses kebijakan tersebut.

4. Outcomes, yaitu hasil yang diharapkan dimana akan memberikan tujuan kebijakan positif kepada pemerintah dan masyarakat sebagai penerima manfaat.


(24)

1.5.2 Electronic Government

1.5.2.1 Pengertian Electronic Government

World Bank (dalam Indrajit, 2002:2), mendefinisikan e-Government sebagai berikut:

E-Government refers to the use by government agencies of information technologies (such as Wide Area Network, the internet, and mobile computing) that have the ability to transform relations with citizens, businesses, and other arms of government.

Sedangkan UNDP (United Nation Development Programme) mendefinisikan e-Government secara lebih sederhana, yaitu e-Government is the application of Information and Communication Technology (ICT) by government agencies.

Menurut Kurniawan (dalam Hexagraha 2006:196), terminologi e-Government dapat diartikan sebagai kumpulan konsep untuk semua tindakan dalam sektor publik (baik di tingkat Pemerintahan Pusat maupun Pemerintahan Daerah) yang melibatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam rangka mengoptimalisasikan proses pelayanan publik yang efisien, transparan, dan efektif. Hal ini dimungkinkan karena secara internal pertukaran informasi antar unit organisasi publik menjadi lebih cepat, mudah, dan terintegrasi.

Sedangkan untuk Pemerintah Indonesia yang dikemukakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi yang dikutip dari artikel Wartaekonomi.com, bahwa e-Government adalah aplikasi teknologi informasi yang berbasis internet dan perangkat digital lainnya yang dikelola oleh pemerintah ke masyarakat, mitra bisnis, pegawai, badan usaha, dan lembaga-lembaga lainnya


(25)

secara online. tanggal 15 Januari 2011 pukul 19.25)

Dari berbagai definisi e-Government di atas, maka dapat disimpulkan bahwa e-Government berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh pemerintah dalam pelayanan publik untuk penyelengaraan pemerintahan lebih efisien dan efektif.

1.5.1.2. Tujuan dan Manfaat Electronic Government

Konsep e-government diterapkan dengan tujuan bahwa hubungan pemerintah baik dengan masyarakatnya maupun dengan pelaku bisnis dapat berlangsung secara efisien, efektif dan ekonomis. Hal ini diperlukan mengingat dinamisnya gerak masyarakat pada saat ini, sehingga pemerintah harus dapat menyesuaikan fungsinya dalam negara, agar masyarakat dapat menikmati haknya dan menjalankan kewajibannya dengan nyaman dan aman.

Menurut Inpres RI No.3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government, tujuan dari e-Government yaitu:

1. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat terjangkau di seluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat waktu dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.

2. Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan perkembangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan perdagangan internasional.

3. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara.


(26)

4. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah otonom.

Secara jelas dua negara besar terdepan dalam mengimplementasikan konsep e-Government, yaitu Amerika dan Inggris melalui Al Gore dan Tony Blair, telah secara jelas dan terperinci menggambarkan manfaat yang diperoleh dengan diterapkannya konsep e-Government bagi suatu negara, antara lain: (Indrajit, 2002:5)

1. Memperbaiki kualitas pelayanan pemerintah kepada para stakeholder-nya (masyarakat, kalangan bisnis, dan industri) terutama dalam hal kinerja efektivitas dan efisiensi di berbagai bidang kehidupan bernegara.

2. Meningkatkan trasnparansi, kontrol, dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintah dalam rangka penerapan konsep Good Corporate Governance.

3. Mengurangi secara signifikan total biaya administrasi,relasi, dan interaksi yang dikeluarkan pemerintah maupun stakeholdernya untuk keperluan aktivitas sehari-hari.

4. Memberikan peluang bagi pemerintah untuk mendapatkan sumber-sumber pendapatan baru melalui interaksinya dengan pihak-pihak berkepentingan.

5. Menciptakan suatu lingkungan masyarakat baru yang dapat secara tepat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi sejalan dengan berbagai perubahan global dan trend yang ada.

6. Memberdayakan masyarakat dan pihak-pihak lain sebagai mitra pemerintah dalam proses pengambilan berbagai kebijakan publik secara merata dan demokratis.

Sedangkan menurut Tjahjanto (dalam Salam, 2004:254), manfaat terpenting dari implementasi e-Government adalah terwujudnya pemerintahan yang lebih bertanggung jawab (accountable) bagi warganya. Selain itu, akan lebih banyak masyarakat yang bisa mengakses informasi, pemerintahan juga lebih efisien dan efektif, serta akan tercipta layanan pemerintahan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Diharapkan dengan pemanfaatan yang lebih baik


(27)

atas sumber daya, proses dan teknologi informasi bisa terjadi pula pemerintahan yang lebih baik.

1.5.1.3. Jenis-jenis Pelayanan pada Electronic Government

Jenis-jenis pelayanan pada e-Government (dalam Indrajit, 2002:30) adalah sebagai berikut:

1. Publish, dimana terjadi komunikasi satu arah antara pemerintah

mempublikasikan berbagai data dan informasi yang dimilikinya untuk dapat secara langsung dan bebas diakses oleh masyarakat dan pihak-pihak lain yang berkepentingan melalui internet. Kanal akses yang digunakan yaitu komputer atau handphone melalui medium internet. Alat-alat tersebut dapat digunakan untuk mengakses situs (website) departemen atau divisi terkait dimana kemudian user dapat melakukan browsing (melalui link yang ada) terhadap data atau informasi yang dibutuhkan. Contohnya peneliti dapat mengakses berbagai data statistik hasil pengkajian berbagai lembaga pemerintahan untuk dipergunakan sebagi data sekunder.

2. Interact, dimana telah terjadi komunikasi dua arah antara pemerintah

dengan mereka yang berkepentingan. Aplikasi yang digunakan ada dua yaitu dalam bentuk portal dimana situs terkait menyediakan fasilitas searching seperti pada jenis publish, dan dalam bentuk fasilitas untuk diskusi secara langsung melalui chatting, tele-conference, dan web-TV maupun secara tidak langsung melalui email, newsletter, dan mailing list. Contohnya departemen-departemen di pemerintahan dapat melakukan


(28)

wawancara melalui chatting atau email dalam proses perekrutan calon-calon pegawai negeri baru.

3. Transact, dimana terjadi komunikasi dua arah dan disertai dengan

terjadinya transaksi yang berhubungan dengan perpindahan uang dari satu pihak ke pihak lainnya dan masyarakat harus membayar jasa pelayanan yang diberikan pemerintah atau mitra kerjanya. Contohnya para wajib pajak dapat melakukan pembayaran pajak individu atau perusahaan secara online melalui internet.

1.5.1.4. Tipe-Tipe Relasi Electronic Government

Tipe-tipe relasi e-Government (Indrajit, 2002:41)adalah sebagai berikut:

1. Government to Citizen, dimana pemerintahan membangunan dan

menerapkan berbagai portofolio teknologi informasi melalui kanal-kanal akses yang beragam agar masyarakat dapat dengan mudah menjangkau pemerintahannya untuk pemenuhan berbagai kebutuhan pelayanan sehari-hari. Contohnya Departemen Agama membuka situs pendaftaran bagi mereka yang berniat untuk melangsungkan ibadah haji di tahun-tahun tertentu sehingga pemerintahan dapat mempersiapkan kuota haji dan bentuk pelayanan perjalanan yang sesuai.

2. Government to Business (G2B), dimana pemerintahan membangun relasi

yang baik dengan kalangan bisnis dengan menyediakan aplikasi situs yang berisi data dan informasi yang dapat diakses dengan mudah oleh kalangan bisnis sehingga dapat memperlancar para praktisi bisnis dalam


(29)

menjalankan aplikasi berbasis web untuk menghitung besarnya pajak yang harus dibayarkan ke pemerintahan dan melakukan pembayaran melalui internet.

3. Government to Government (G2G), dimana pemerintah membangun suatu

aplikasi sehingga pemerintah dalam suatu negara dapat berinteraksi dengan pemerintah negara lain. Contohnya hubungan administrasi antara kantor-kantor pemerintahan setempat dengan sejumlah kedutaan-kedutaan besar atau konsulat jenderal untuk membantu penyedian data dan informasi akurat yang dibutuhkan oleh para warga negara asing yang berada di tanah air.

4. Government to Employees (G2E), dimana aplikasi ini diperuntukan untuk

meningkatkan kinerja dan kesejahteraan para pegawai negeri atau karyawan pemerintahan yang bekerja di sejumlah institusi sebagai pelayan masyarakat. Contohnya sistem asuransi kesehatan dan pendidikan bagi para pegawai pemerintahan yang telah terintegrasi dengan lembaga-lembaga kesehatan (rumah sakit, poliklinik, apotek, dan lain-lain) dan institusi-institusi pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, kejuruan, dan lain-lain).


(30)

1.5.1.5. Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Electronic Government

Pacific Counsil Internasional Policy (PCIP) mengemukakan 10 (sepuluh) faktor utama penentu keberhasilan penerapan e-Government. Kesepuluh faktor ini pada saat yang bersamaan dapat dijadikan bahan introspeksi bagi para stakeholder dalam menilai status perkembangan dan pertumbuhan e-Government di dalam sebuah negara (Indrajit, 2005:3). Adapun kesepuluh faktor tersebut adalah sebagai berikut:

1. Why are we pursuing e-Government?

Sebelum menerapakan e-Government, harus dimengerti dahulu latar belakang yang menyebabkan insisiatif e-Government perlu diimplementasikan. Fokus pada penggunaan teknologi informasi dalam proses pemerintahan belum berarti konsep e-Government telah ditetapkan.

2. Do we have a clear vision and priorities fo e-Government?

Visi dari perkembangan e-Government harus didefinisikan dengan jelas. Visi tersebut berasal dari, oleh, dan untuk masyarakat dimana e-Government tersebut diimplementasikan. Oleh karena itu, visi yang dicanangkan harus mencerminkan visi bersama dari masyarakat yang nuansanya akan sangat bergantung pada situasi dan kondisi masyarakat setempat.

3. What kind of e-Government are we ready for?

Jenis e-Government yang siap dilaksanakan harus sesuai dengan kebutuhan yang menjadi prioritas utama masyarakat/daerah/ yang terkait dan ketersediaan sumber daya yang ada.


(31)

4. Is there enough political will to lead the e-Government effort?

Political will harus ada di dalam kerangka perencanaan dan pengembangan e-Government. Selain itu, diperlukan adanya pimpinan yang mampu menjadi inisiator utama di dalam mensosialisasikan dan memacu terimplementasinya konsep e-Government.

5. Are we selecting e-Government projects in the best way?

Dalam menentukan atau memilih proyek e-Government yang terbaik perlu dilakukan beberapa langkah krusial terkait dengan pemilihan proyek tersebut yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan maupun kapasitas kemampuan yang ada.

6. How should we plan and manage e-Government projects?

Dalam merencanakan proyek eGovernment diperlukan sebuah tim yang diketuai oleh seorang project manager, menyusun struktur rencana kerja proyek dan membangun suatu mekanisme yang efektif agar komunikasi antar tim dengan para stakeholder dari proyek e-Government dapat terjalin dengan baik.

7. How will we overcome resistance from within the Government?

Sulit ditemui pelaksanaan proyek e-Government yang bebas dari tantangan atau resistensi. Untuk itu diperlukan pemahaman terhadap proyek dan resistensi tersebut kemudian diambil jalan keluarnya.

8. How will we measure and communicate progess? How will we know if we


(32)

Untuk mengetahui apakah proyek e-Government sudah mengalami kemajuan atau gagal diperlukan ukuran kinerja dalam proyek e-Government dan selanjutnya melakukan pengukuran untuk menentukan sukses tidaknya proyek tersebut.

9. What should our relationship be with the private sector?

Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tetapi mereka didukung oleh partisipasi swasta. Oleh karena itu, pemerintah harus menganggap dan memperlakukan perusahaan-perusahaan pada sektor swasta sebagai mitra kerja.

10.How can e-Government improve citizen participant in public affairs? Target terakhir dari e-Government adalah perbaikkan dan peningkatan terhadap partisipasi publik dalam proses pemerintahan. Pengembangan e-Government dikatakan berhasil apabila partisipasi publik dalam menggunakan teknologi semakin bertambah dari hari ke hari.

1.5.1.6. Gambaran Umum Kebijakan Electronic Government di Indonesia Indonesia pada saat ini tengah mengalami perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara secara fundamental menuju ke sistem kepemerintahan yang demokratis, transparan serta meletakkan supremasi hukum. Pemerintahan dengan segala perangkatnya sebagai pilar utama penyelenggaraan negara semakin dihadapkan kepada kompleksitas global. Pemerintah harus mampu dan cermat serta proaktif mengakomodasikan segala bentuk perubahan. Karena merekalah yang berada pada posisi perumus dan penentu daya kebijakan, serta sebagai


(33)

pelaksana dari segala peraturan, melalui hierarki yang lebih tinggi sampai kepada hierarki yang terendah.

Pada dasarnya kebijakan publik berorientasi pada pemecahan masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Begitu juga dengan kebijakan mengenai e-Government yang berorientasi untuk meningkatkan layanan yang efektif dan efisien serta meningkatkan transparansi dan akuntabilitas agar dapat mengatasi masalah pelayanan publik yang berbelit-belit, boros, kurang informatif dan kurang transparan.

Inisiatif e-Government di Indonesia telah diperkenalkan melalui Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 Tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi.

Selanjutnya, keluarnya Instruksi Presiden RI No.3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-Government. Dalam instruksi tersebut dinyatakan bahwa pemerintah harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola, menyalurkan, dan mendistribusikan informasi dan pelayanan publik. Dengan demikian pemerintah harus segera melaksanakan proses transformasi menuju e-government agar dapat mengoptimasikan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk mengeliminasi sekat-sekat organisasi birokrasi, serta membentuk jaringan sistem manajemen dan proses kerja yang memungkinkan instansi-instansi pemerintah bekerja secara terpadu untuk menyederhanakan akses ke semua informasi dan


(34)

layanan publik yang harus disediakan oleh pemerintah. Namun, inisiatif tersebut di atas belum menunjukan arah pembentukan e-government yang baik. Beberapa kelemahan yang menonjol adalah :

1. Pelayanan yang diberikan melalui situs pemerintah tersebut, belum ditunjang oleh sistem manajeman dan proses kerja yang efektif karena kesiapan peraturan, prosedur dan keterbatasan sumber daya manusia sangat membatasi penetrasi komputerisasi ke dalam sistem manajemen dan proses kerja pemerintah.

2. Belum mapannya strategi serta tidak memadainya anggaran yang dialokasikan untuk pengembangan egovernment pada masing-masing instansi.

3. Inisiatif-inisiatif tersebut merupakan upaya instansi secara sendiri-sendiri; dengan demikian sejumlah faktor seperti standardisasi, keamanan informasi, otentikasi, dan berbagai aplikasi dasar yang memungkinkan interoperabilitas antar situs secara andal, aman, dan terpercaya untuk mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja pada instansi pemerintah ke dalam pelayanan publik yang terpadu, kurang mendapatkan perhatian.

4. Pendekatan yang dilakukan secara sendiri-sendiri tersebut tidak cukup kuat untuk mengatasi kesenjangan kemampuan masyarakat untuk mengakses jaringan internet, sehingga jangkauan dari layanan publik yang dikembangkan menjadi terbatas pula.

Dengan melihat kondisi ini, maka diperlukan rencana dan strategi pengembangan e-Government sehingga pengembangan e-Government dapat dilaksanakan secara sistematik dan terpadu disetiap instansi pemerintah pusat dan pemerintah daerah di lingkungannya masing-masing. Rencana Strategis itu dengan jelas menjabarkan lingkup dan sasaran pengembangan e-government yang ingin dicapai, kondisi yang dimiliki pada saat ini, strategi dan tahapan pencapaian sasaran yang ditentukan, kebutuhan dan rencana pengembangan sumber daya manusia. Untuk menunjang hal tersebut, maka masih diperlukan peraturan, standarisasi, dan panduan yang konsisten dan saling mendukung.


(35)

1.5.2. Pelayanan Publik

1.5.2.1. Pengertian Pelayanan Publik

Pelayanan publik (public service) adalah suatu pelayanan atau pemberian terhadap masyarakat yang berupa penggunaan fasilitas-fasilitas umum, baik jasa maupun non jasa, yang dilakukan oleh organisasi publik yaitu pemerintahan. (Rohman, 2008:3)

Menurut Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.63 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Publik, pelayanan publik adalah segala bentuk pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah di pusat, daerah, dalam bentuk barang atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya, dalam Undang-undang No. 25 Tahun 2009, Pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.

Departemen Dalam Negeri (Pengembangan Kelembagaan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, 2004) menyebutkan bahwa pelayanan pubik (dalam Sinambela, 2008:5) adalah pelayanan umum dan pelayanan umum didefinisikan sebagai suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal, yang menghasilkan produk baik berupa barang maupun jasa untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam upaya pencapaian kesejahteraan masyarakat.


(36)

Jadi dapat disimpulkan, pelayanan publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam upaya pencapaian kesejahteraan masyarakat.

1.5.2.2. Sendi-sendi Pelayanan Publik

Sendi-sendi pelayanan publik menurut Boediono (2003:63) adalah sebagai berikut:

1. Kesederhanaan, yang meliputi kemudahan, lancar, cepat, tidak berbelit-belit, mudah dipahami, dan mudah dilaksanakan.

2. Kejelasan dan kepastian dalam prosedur/ tata cara, persyaratan, unit kerja atau pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan umum, rincian biaya, waktu penyelesain, hak dan kewajiban bagi pemberi dan penerima layanan, serta pejabat yang menerima keluhan masyarakat.

3. Keamanan, dalam proses dan hasil pelayanan umum dapat memberikan keamanan dan kenyamanan serta dapat memberikan kepastian hukum. 4. Keterbukaan, dimana prosedur/ tata cara, persyaratan, unit kerja atau

pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan umum, rincian biaya, waktu penyelesain, hak dan kewajiban bagi pemberi dan penerima layanan, serta pejabat yang menerima keluhan masyarakat, wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan dipahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.

5. Efisien, dimana persyaratan pelayanan dibatasi pada sasaran pelayanan dan dicegah adanya pengulangan pemenuhan kelengkapan.

6. Ekonomis, dalam arti pengenaan biaya pelayanan harus ditetapkan secara wajar.

7. Keadilan, dalam arti cangkupan atau jangkauan pelayanan harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil.

8. Ketepatan waktu, dimana pelayanan dapat diselesaiakn dalam kurun waktu yang telah ditentukan.


(37)

1.5.2.3. Standar-Standar Pelayanan Publik

Standar pelayanan publik merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan pelayanan publik sebagai pedoman yang wajib ditaati dan dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan, dan menjadi pedoman bagi penerima pelayanan dalam proses pengajuan permohonan, serta sebagai alat kontrol masyarakat dan/atau penerima layanan atas kinerja pelayanan publik.

Menurut Keputusan MENPAN Nomor 63 Tahun 2004, standar-standar pelayanan publik (dalam Ratminto, 2005:24), yaitu:

1. Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan penerima pelayanan termasuk pengaduan.

2. Waktu penyelesaian yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan penyelesaian termasuk pengaduan.

3. Biaya/tarif pelayanan termasuk rinciannya yang ditetapkan dalam proses pemberian layanan.

4. Produk pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

5. Sarana dan prasarana pelayanan yang memadai oleh penyelenggaraan pelayanan publik.

6. Kompetensi petugas pemberi pelayanan publik harus ditetapkan dengan tepat berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap dan perilaku yang dibutuhkan.

1.5.2.4. Penerapan Electronic Government dalam Pelayanan Publik

Dalam rangka mendukung berjalannya modernisasi pelayanan bea dan cukai dan peningkatan pelayanan publik kepada pengguna jasa (masyarakat usaha). Penerapan e-Government diwujudkan dengan pemanfaatan media elektronik dalam memberikan pelayanan pengurusan dokumen kepabeanan dan perizinan impor dan ekspor yaitu penerapan Portal Sistem National Single Window (NSW).


(38)

Dalam Peraturan Presiden RI No. 10 Tahun 2008 Tentang Penggunaan Sistem Elektronik dalam Kerangka National Single Window dinyatakan bahwa latar belakang dari penerapan NSW adalah untuk meningkatkan daya saing nasional dan memfasilitasi perdagangan dalam rangka menghadapi persaingan global, diperlukan upaya untuk mendorong kelancaran dan kecepatan arus barang ekspor dan/atau impor serta mengurangi biaya transaksi melalui peningkatan efisiensi waktu dan biaya dalam proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang serta untuk melaksanakan komitmen Indonesia dalam Agreement to Establish and Implement the ASEAN Single Window, perlu dibangun sistem National Single Window yang efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Peraturan Presiden RI No. 10 Tahun 2008 tentang Penggunaan Sistem Elektronik dalam Kerangka Indonesia National Single Window memberikan pengertian Portal INSW sebagai berikut:

“Sistem yang akan melakukan integrasi informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang, yang menjamin keamanan data dan informasi serta memadukan alur dan proses informasi antar sistem internal secara otomatis, yang meliputi sistem kepabeanan, perizinan, kepelabuhanan/kebandarudaraan, dan sistem lain yang terkait dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluran barang”.

Modul utama dalam portal sistem NSW meliputi 1) GA Interface Modul yaitu fasilitas yang digunakan untuk menjembatani dan melakukan komunikasi dengan sistem-sistem instansi perizinan terkait yang ada, 2) Customs System Interface Module yaitu fasilitas untuk menjembatani dan melakukan komunikasi dengan sistem bea dan cukai yang ada, 3) Workflow Manager (Smart Engine) untuk mengatur manajemen data dan informasi yang mengontrol semua proses, 4)


(39)

Track and Trace merupakan fasilitas pelacakan suatu dokumen, dan 5) Log Audit Trail, untuk mencatat secara detail semua transaksi penting.

Fungsi utama Portal NSW di Indonesia adalah:

a. Meningkatkan kecepatan dan kinerja pelayanan ekspor dan impor untuk mendukung kelancaran lalu lintas barang antar negara.

b. Meminimalisasi waktu dan biaya yang diperlukan dalam pelayanan ekspor dan impor, terutama terkait dengan proses customs release and clearance of cargoes.

c. Meningkatkan efektifitas dan pengawasan atas lalu lintas barang antar negara.

d. Meningkatkan validitas dan akurasi data yang terkait dengan kegiatan ekspor dan impor.

e. Mengoptimalkan penerimaan negara melalui pelayanan ekspor-impor dan pengawasan atas lalu lintas barang antar negara.

Fitur-fitur dalam Portal NSW yang dapat diakses di website www.insw.go.id adalah sebagai berikut:

1. Business Solution Forum adalah forum untuk user pengguna sistem NSW

dapat saling berkomunikasi dengan semua pihak. User dapat saling berbagi pengalaman, memberikan masukan/saran terhadap siapapun terkait dengan sistem INSW ini.

2. E-Service INSW, dengan mengakses web service ini, pengguna jasa dapat

mengintegrasikan data-data seperti; 1) info kurs yang update berdasarkan SKEP Menkeu, 2) Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI), 3)


(40)

Manifest, memberikan informasi no bc 11 untuk setiap pos manifest dan pengguna dari fitur ini adalah importir/PPJK yang akan mengajukan PIB (Pemberitahuan Impor Barang), tarif CEPT, tarif bea keluar, lartas impor dan lartas ekspor langsung di aplikasi internal perusahaan.

3. Info terkini, memberikan informasi terkini berkaitan dengan operasional portal NSW seperti update modul, tata cara penyampaian dokumen via portal, laporan-laporan, Surat Keputusan terbaru berkaitan dengan NSW, peraturan-peraturan terbaru berkaitan dengan NSW dan info ASW (ASEAN Single Window).

4. Tracking Dokumen, didalamnya terdapat transparansi jejak proses

dokumen pabean di dalam portal NSW secara detil meliputi waktu penyelesaian bagi importir.

5. Tracking Licensing, didalamnya terdapat transparansi dokumen perizinan

yang telah di upload ke dalam portal NSW dan realisasi perizinan terhadap dokumen PIB (Pemberitahuan Impor Barang)/PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang)

6. Registrasi Importir, importir mengajukan permohonan dengan cara mengisi formulir isian registrasi dan menyampaikannya melalui website NSW . Untuk formulir isian dan tata cara registrasi dapat di download dari website tersebut.

7. Registrasi Eksportir, eksportir mengajukan permohonan dengan cara mengisi formulir isian registrasi dan menyampaikannya melalui website


(41)

NSW . Untuk formulir isian dan tata cara registrasi dapat di download dari website tersebut.

8. Fasilitas tracking melalui notifikasi Yahoo Mail dan mobile phone.

1.6. Definisi Konsep

Konsep merupakan istilah dan defenisi yang digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu kejadian, kelompok, atau individu yang menjadi pusat penelitian ilmu sosial (Singarimbun 1983:33). Agar mendapat pembatasan yang jelas dari setiap konsep yang akan diteliti, maka penulis mengemukakan defenisi dari beberapa konsep yang digunakan, yaitu:

1. Electronic Government adalah penggunaan teknologi informasi dan

komunikasi terutama internet oleh pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik dan mewujudkan pelayanan publik yang efisien, efektif, transparan, dan partisipatif.

2. Pelayanan Publik adalah segala bentuk kegiatan pelayanan umum yang dilaksanakan oleh instansi pemerintahan di pusat, di daerah, dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara/Daerah dalam bentuk barang dan atau jasa, baik dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.


(42)

BAB II

METODELOGI PENELITIAN

2.1. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Usman (2009:4) penelitian dengan menggunakan metode deskriptif bermaksud membuat penyandaraan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi tertentu.

Berdasarkan pengertian di atas, maka penelitian ini adalah penelitian yang diarahkan untuk memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadian-kejadian secara sistematis dan akurat mengenai sifat-sifat populasi serta menganalisa kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh.

2.2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan.

2.3. Informan Penelitian

Penelitian deskriptif kualitatif tidak dimaksudkan untuk membuat generalisasi dari hasil penelitiannya. Oleh karena itu, pada penelitian kualitatif tidak dikenal adanya populasi dan sampel. Subjek penelitian yang telah tercermin dalam fokus penelitian ditentukan secara sengaja. Subjek penelitian ini menjadi informan yang akan memberikan berbagai informasi yang diperlukan selama


(43)

proses penelitian, informan penelitian ini meliputi beberapa macam seperti: (1) informan kunci, yaitu mereka yang mengetahui dan memiliki berbagai informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian; (2) informan utama, yaitu mereka yang terlibat langsung dalam interaksi social yang diteliti; (3) informan tambahan, yaitu mereka yang dapat memberikan informasi walaupun tidak langsung terlibat dalam interaksi sosial yang diteliti (Suyanto, 2005:171).

Menurut Usman (2009:82) dalam penelitian kualitatif tidak dikenal istilah populasi, tetapi sampling yang merupakan pilihan peneliti sendiri dan yang ditentukan peneliti sendiri secara pusposif yang disesuaikan dengan tujuan penelitiannya, sampling tersebut dijadikan responden yang relevan untuk mendapatkan data.

Dalam penelitian ini, penulis hanya menggunakan informan kunci dan informan utama. Yang menjadi informan kunci yaitu Kepala Seksi Distribusi Data dan Dokumen (DTDD) satu orang, Petugas Analizing Point Impor satu orang dan Petugas Analizing Point Ekspor satu orang. Sedangkan informan utama yaitu pelaku usaha yang terdaftar di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan dijumpai secara accidental di lokasi penelitian.


(44)

2.4. Teknik Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

1. Data Primer

Teknik pengumpulan data primer yaitu data yang diperoleh melalui kegiatan penelitian langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang diteliti. Teknik ini dilakukan melalui:

a. Wawancara, yaitu dengan cara wawancara mendalam untuk memperoleh data yang lengkap dan mendalam dari informan. Metode ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara langsung dan terbuka kepada informan atau pihak yang berhubungan dan memiliki relevansi terhadap masalah yang berhubungan dengan penelitian. Dalam hal ini, peneliti akan melakukan wawancara terhadap Kepala Seksi Distribusi Data dan Dokumen (DTDD) satu orang, Petugas Analizing Point Impor satu orang dan Petugas Analizing Point Ekspor satu orang.

b. Kuesioner (angket), adalah suatu daftar yang berisi rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti, yang bertujuan memperoleh informasi yang relevan, serta informasi yang dibutuhkan dapat dibutuhkan secara serentak. Dalam penelitian ini angket digunakan sebagai alat pendamping dalam mengumpulkan data. Daftar pertanyaan dibuat semi terbuka yang memberi pilihan jawaban pada responden dan memberikan penjelasan-penjelasan yang diperlukan oleh peneliti. Kuesioner akan dibagikan kepada pelaku usaha yang terdaftar di Kantor Pengawasan dan


(45)

Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan yang dijumpai secara accidental di lokasi penelitian.

c. Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat gejala-gejala yang ditemukan di lapangan untuk melengkapi data-data yang diperlukan sebagai acuan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh baik yang belum diolah maupun telah diolah, baik dalam bentuk angka maupun uraian. Dalam penelitian ini data-data sekunder yang diperlukan antara lain literatur yang relevan dengan judul penelitian seperti buku-buku, artikel, makalah, peraturan-peraturan, struktur organisasi, jadwal, waktu, petunjuk pelaksana, petunjuk teknis, dan lain-lain yang memiliki relevansi dengan masalah yang diteliti.


(46)

2.5. Teknik Analisis Data

Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa data kualitatif yaitu menguraikan serta menginterpretasikan data yang diperoleh di lapangan dari para informan. Tujuan analisis data kualitatif yaitu: (1) menganalisa proses berlangsungnya suatu fenomena sosial dan memperoleh suatu gambaran yang tuntas terhadap proses tersebut; dan (2) menganalisasi makna yang ada dibalik informasi, data, dan proses suatu fenomena sosial (Bungin, 2007:153). Penganalisisan ini didasarkan pada kemampuan nalar dalam menghubungkan fakta, data, dan informasi, kemudian data yang diperoleh akan dianalisis sehingga diharapkan muncul gambaran yang dapat mengungkapkan permasalahan penelitian. Data-data yang terkumpul baik lewat studi kepustakaan dan kuesioner serta wawancara akan disajikan dalam bentuk analisis tabel tunggal.


(47)

BAB III

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

3.1. Sekilas tentang Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC)

Bea Cukai mulai terlembagakan secara nasional pada masa Hindia Belanda, dengan nama resmi De Dienst der Invoer en Uitvoerrechten en Accijnzen atau dalam terjemah bebasnya berarti Jawatan Bea Impor dan Ekspor serta Cukai. Tugasnya adalah memungut invoer-rechten (bea impor/masuk), uitvoererechten (bea ekspor), dan accijnzen (cukai). Tugas memungut bea (“bea” berasal dari bahasa Sansekerta), baik impor maupun ekspor, serta cukai (berasal dari bahasa India) inilah yang kemudian memunculkan istilah Bea dan Cukai di Indonesia. Lembaga Bea Cukai setelah Indonesia merdeka, dibentuk pada tanggal 01 Oktober 1945 dengan nama Pejabatan Bea dan Cukai, yang kemudian pada tahun 1948 berubah menjadi Jawatan Bea dan Cukai sampai tahun 1965. Setelah tahun 1965 hingga sekarang menjadi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). DJBC merupakan unit eselon I di bawah Departemen Keuangan, yang dipimpin oleh seorang Direktur Jenderal.

3.1.1. Tugas dan Fungsi DJBC

Tugas dari DJBC adalah melaksanakan sebagian tugas pokok Departemen Keuangan di bidang kepabeanan dan cukai, berdasarkan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri dan mengamankan kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean dan pemungutan bea masuk dan cukai serta pungutan negara lainnya berdasarkan


(48)

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai mempunyai fungsi :

1. Perumusan kebijaksanaan teknis di bidang kepabeanan dan cukai, sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pengamanan teknis operasional kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar daerah pabean, sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Menteri dan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3. Perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, evaluasi dan pengamanan teknis operasional di bidang pemungutan bea masuk dan cukai serta pungutan lainnya yang pemungutannya dibebankan kepada Direktorat Jenderal berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

4. Perencanaan, pembinaan dan bimbingan di bidang pemberian pelayanan, perijinan, kemudahan, ketatalaksanaan dan pengawasan di bidang kepabeanan dan cukai berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5. Pencegahan pelanggaran peraturan perundang-undangan kepabeanan dan cukai dan penindakan di bidang kepabeanan dan cukai serta penyidikan tindak pidana kepabeanan dan cukai sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.


(49)

3.1.2. Kewenangan DJBC a. Cukai

Cukai adalah pungutan oleh negara secara tidak langsung kepada konsumen yang menikmati/menggunakan obyek cukai. Obyek cukai pada saat ini adalah cukai hasil tembakau(rokok, cerutu dsb), etil alkohol, dan minuman mengandung etil alkohol / minuman keras.

Secara sederhana dapat dipahami bahwa harga sebungkus rokok yang dibeli oleh konsumen sudah mencakup besaran cukai didalamnya. Pabrik rokok telah menalangi konsumen dalam membayar cukai kepada pemerintah pada saat membeli pita cukai yang terdapat pada kemasan rokok tersebut. Untuk mengembalikan besaran cukai yang sudah dibayar oleh pabrik maka pabrik rokok menambahkan besaran cukai tersebut sebagai salah satu komponen dari harga jual rokok tersebut.

Filosofi pengenaan cukai lebih rumit dari filosofi pengenaan pajak maupun pabean. Dengan cukai pemerintah berharap dapat menghalangi penggunaan obyek cukai untuk digunakan secara bebas. Hal ini berarti adanya kontrol dan pengawasan terhadap banyaknya obyek cukai yang beredar dan yang dikonsumsi. Sisi lain dari pengenaan cukai di beberapa negara maju adalah membatasi barang-barang yang berdampak negatif secara sosial (pornografi dll) dan juga kesehatan (rokok, minuman keras dll). Tujuan lainnya adalah perlindungan lingkungan dan sumber-sumber alam (minuman kemasan, limbah dll), serta mengurangi atau membatasi konsumsi barang-barang mewah dan sebagainya.


(50)

b. Pabean

Pabean yang dalam bahasa Inggrisnya Customs atau Duane dalam bahasa Belanda memiliki definisi yang dapat kita temukan dan hafal baik dalam kamus bahasa Indonesia ataupun undang-undang kepabeanan. Untuk dapat memahami kata pabean maka diperlukan pemahaman terhadap kegiatan ekspor dan impor. Pabean adalah kegiatan yang menyangkut pemungutan bea masuk dan pajak dalam rangka impor. Akan tetapi tidak ada bea keluar untuk ekspor .

Filosofi pemungutan bea masuk adalah untuk melindungi industri dalam negeri dari limpahan produk luar negeri yang diimpor, dalam bahasa perdagangan sering disebut tariff barier yaitu besaran dalam persen yang ditentukan oleh negara untuk dipungut oleh DJBC pada setiap produk atau barang impor. Sedang untuk ekspor pada umumnya pemerintah tidak memungut bea demi mendukung industri dalam negeri dan khusus untuk ekspor pemerintah akan memberikan insentif berupa pengembalian restitusi pajak terhadap barang yang diekspor.

Produk mentah seperti beberapa jenis kayu, rotan dan sebagainya pemerintah memungut pajak ekspor dan pungutan ekspor dengan maksud agar para eksportir sedianya dapat mengekspor produk jadi dan bukanlah bahan mentah atau setengah jadi. Filosofi pemungutan pajak ekspor pada komoditi ini adalah untuk melindungi sumber daya alam Indonesia dan menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri dalam negeri.

c. Proses Impor dan Pabean

Kegiatan impor dapat dikatakan sebagai proses jual beli biasa antara penjual yang berada di luar negeri dan pembeli yang berada di Indonesia.


(51)

Kepabeanan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengawasan atas lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean dan pemungutan Bea Masuk. DJBC harus memungut bea masuk atas suatu jenis barang impor dengan suatu tarif tertentu pada hakikatnya telah dituangkan dalam perundang-undangan. Demikian pula tata cara pemeriksaan barang impor berdasarkan prosedur atau petunjuk pelaksanaan tertentu yang dituangkan dalam Surat Keputusan Menteri atau Surat Keputusan Direktur Jenderal Bea Cukai.

3.1.3. Reformasi Pelayanan DJBC

Perkembangan perdagangan internasional, baik yang menyangkut kegiatan di bidang impor maupun ekspor akhir-akhir ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pesatnya kemajuan di bidang tersebut ternyata menuntut diadakannya suatu sistem dan prosedur kepabeanan yang lebih efektif dan efisien serta mampu meningkatkan kelancaran arus barang dan dokumen.

Penerapan pelayanan kepabeanan yang didukung Teknologi Informasi menunjukkan kesungguhan DJBC untuk benar-benar serius dalam melakukan reposisi peran dan fungsinya dalam meningkatkan kualitas pelayanan, khususnya kepada para pengguna jasa kepabeanan. Dengan penerapan pemberitahuan pabean melalui media elektronik, DJBC dapat memberikan pelayanan tanpa kertas (paperless), tanpa antrian (queless), dan tanpa biaya tinggi (costless), sehingga kualitas pelayanan dapat dipercepat dan ditingkatkan. Disamping itu penerapan pemberitahuan melalui media elektronik dapat sangat membantu tersedianya data (informasi) secara baik dan tepat waktu baik untuk kebutuhan keputusan


(52)

operasional di kantor-kantor pelayanan bea dan cukai bersangkutan maupun untuk kebutuhan kebijaksanaan teknis ditingkat Direktorat Jenderal ataupun untuk kebutuhan kebijaksanaan makro ditingkat Menteri bahkan untuk kebutuhan kebijaksanaan nasional.

Pelaksanaan penerapan pemberitahuan pabean melalui media elektronik dimulai dengan penerapan sistem Customs Fast Release System untuk pelayanan dokumen impor didukung media komputer. Sistem yang diterapkan sejak awal 90-an ini kemudian lebih disempurnakan dengan pemanfaatan sistem EDI (Electronic Data Interchange) yang diuji coba mulai 1 April 1997. Kemudian sejak 1 April 1998, Sistem EDI Kepabeanan di bidang impor dinyatakan mandatory untuk digunakan dalam pengurusan dokumen impor (Pemberitahuan Impor Barang-EDI) di KPBC-KPBC Tanjung Priok I, II, III Jakarta serta KPBC SH-II Cengkareng. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, dengan berbagai keterbatasannya, penerapan sistem PIB-EDI memberikan manfaat yang cukup besar bagi masyarakat usaha mitra DJBC, terutama dalam bentuk pelayanan yang lebih cepat, nyaman dan mudah.

Selanjutnya, dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam wujud website bea cukai. Di dalam website tersebut terdapat berbagai jenis pelayanan mengenai bea dan cukai.

Tugas lain DJBC adalah menjalankan peraturan terkait ekspor dan impor yang diterbitkan oleh dari


(53)

lembaga lainya. Semua peraturan ini menjadi kewajiban bagi DJBC untuk melaksanakannya karena DJBC adalah barang di wilayah tersebut adalah demi terwujudnya efisiensi dan efektivitas dalam pengawasan dan pelayanan, karena tidak mungkin jika setiap instansi yang berwenang tersebut melaksanakan sendiri setiap peraturan yang berkaitan dengan hal ekspor dan impor, tujuan utama dari pelaksanaan tersebut adalah untuk menghidari panjang yang harus dilewati oleh setiap pengekspor dan pengimpor dalam beraktivitas. Oleh karena itu, perlu adanya suatu sistem yang dapat mengintegrasikan beberapa instansi tersebut dan pada akhirnya dapat meringankan pekerjaan dari DJBC. Sistem tersebut adalah sistem NSW (National Single Window).

Sistem INSW adalah sistem yang akan melakukan integrasi informasi berkaitan dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang , yang menjamin keamanan data dan informasi serta memadukan alur dan proses informasi antar sistem internal secara otomatis, yang meliputi sistem kepabeanan, perizinan, kepelabuhanan/kebandar-udaraan, dan sistem lain yang terkait dengan proses penanganan dokumen kepabeanan dan pengeluaran barang. Sistem elektronik wajib diberlakukan dalam penanganan dokumen perizinan yang berkaitan dengan impor alat dan perangkat telekomunikasi dalam kerangka INSW dilingkungan Departemen Komunikasi dan Informasi, yang pelaksanaannya


(54)

dilakukan oleh Direktorat Jenderal masing-masing, berdasarkan tata cara pelaksanaan prosedur operasional standar yang baku.

Dalam rangka mendukung peningkatan daya saing perekonomian nasional dan guna mendukung kebijakan pemerintah untuk meningkatkan pemberian pelayanan kepabeanan, perlu menetapkan waktu pelayanan kepabeanan di pelabuhan tertentu selama 24 (dua puluh empat) jam sehari dan 7 (tujuh) hari seminggu dan diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 504/Pmk.04/2009 tentang Pelayanan 24 Jam Sehari dan Tujuh Hari Seminggu pada Kantor Pabean di pelabuhan tertentu. Direktur Jenderal Bea dan Cukai mengatur penugasan pejabat/pegawai dengan mempertimbangkan beban kerja dan ketersediaan pejabat/pegawai, penugasan pejabat/pegawai dilakukan dengan giliran kerja (shift) dan/atau kerja lembur. Pelayanan kepabeanan yang belum dapat diselesaikan oleh pejabat/pegawai pada hari dan jam kerja, diluar hari dan/atau jam kerja, atau pada hari libur kerja, sebagaimana dimaksud dapat dilimpahkan penyelesaiannya kepada pejabat/pegawai yang ditugaskan pada giliran kerja (shift) berikutnya.

3.1.4. Kantor Wilayah DJBC

Direktorat Jenderal Bea Cukai memiliki kantor wilayah yang tersebar di wilayah Indonesia. Kantor Wilayah adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Untuk di Sumatera Utara terdapat Kantor Wilayah DJBC Sumatera Utara membawahi kantor pelayanan bea dan cukai sebagai berikut:


(55)

1. KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan 2. KPPBC Tipe A3 Medan

3. KPPBC Tipe A3 Teluk Bayur 4. KPPBC Tipe A4 Teluk Nibung 5. KPPBC Tipe B Kuala Tanjung 6. KPPBC Tipe B Pangkalan Susu 7. KPPBC Tipe B Pematang Siantar 8. KPPBC Tipe B Sibolga

3.2. Profil KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan sebagai kantor pengawasan dan pelayanan adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sumatera \Utara berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 74/PMK.01/2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Pada tanggal tanggal 24 Desember 2008, Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A1 Belawan secara resmi berubah menjadi Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan yang diresmikan oleh Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Anwar Suprijadi.

Perubahan yang dilakukan merupakan bagian dari pelaksanaan reformasi yang sedang dilakukan dilingkungan Departemen Keuangan, khususnya


(56)

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan sebagai salah satu unit DJBC, diharapkan dapat memberikan yang terbaik pada masyarakat dalam hal pelayanan dibidang kepabeanan dan sekaligus mampu meningkatkan pengawasan terhadap pemberian pelayanan prima dan pengawasan yang efektif kepada pengguna jasa kepabeanan dan cukai dengan mengimplementasikan cara kerja yang cepat, efisien, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan pengguna jasa, dengan dukungan instansi yang terkait.

3.3. Visi dan Misi KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan

Visi dari KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan adalah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sejajar dengan institusi kepabeanan dan cukai dunia dibidang kinerja dan citra. Sedangkan misinya adalah memberikan pelayanan yang terbaik kepada industri, perdagangan dan masyarakat.


(57)

3.4. Jumlah Pegawai dan Struktur Organisasi KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan

Jumlah pegawai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan sampai pada Maret 2011 sebanyak 198 orang dengan perincian sebagai berikut:

Tabel 1. Jumlah Pegawai Berdasarkan Pendidikan

No Pendidikan Frekuensi Persentase (%) 1 2 3 4 5 6 Master (S2) Sarjana (S1) D III D I SLTA SLTP 15 65 17 37 63 1 7,57 32,83 8,58 18,69 31,82 0,50

Jumlah 198 100,00

Sumber: Data Kepegawaian KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, 2011

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa pegawai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan paling banyak berpendidikan terakhir S1 yaitu sebanyak 65 orang atau 32,83%. Kemudian SLTA sebanyak 63 orang atau 31,82%. Sedangkan yang paling sedikit adalah yang berpendidikan terakhir SLTP yaitu sebanyak satu orang atau 0,50 % dari total jumlah pegawai.


(58)

Tabel 2. Jumlah Pegawai Berdasarkan Golongan

No Golongan Frekuensi Presentase (%) 1

2 3

Golongan IV Golongan III Golongan II

2 121

75

1,01 61,11 37,88

Jumlah 198 100,00

Sumber: Data Kepegawaian KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, 2011

Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa berdasarkan golongan pegawai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan paling banyak berada pada golongan III yaitu sebanyak 121 orang atau 61,11%. Kemudian yang berada pada golongan II sebanyak 75 orang (37,88%), sedangkan paling sedikit yaitu berada pada golongan IV sebanyak dua orang atau 1.01% dari total jumlah pegawai.


(59)

Tabel 3. Jumlah Pegawai berdasarkan Eselon

No Nama Jabatan Frekuensi Presentase

1 2

3

4 5 6

Kepala Kantor (Eselon III)

Kepala Seksi/Kepala Subbagian Umum (Eselon IV)

Pejabat Fungsional Pemeriksa Dokumen

Kepala Subseksi Pelaksana Pemeriksa Pelaksana Administrasi

1 10

7

30 106 44

0,50 5,05

3,53

15,15 53,53 22,22

Jumlah 198 100,00

Sumber: Data Kepegawaian KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, 2011

Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa berdasarkan eselon, pegawai di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean Belawan paling banyak sebagai pelaksana pemeriksa yaitu sebanyak 106 orang atau 53,53%. Sedangkan yang paling sedikit yaitu berada pada esolon III sebanyak satu orang atau 0,50% dari total jumlah pegawai.


(60)

3.5. Bidang Kerja dan Uraian Tugas Pokok Tiap-Tiap Seksi

Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean dipimpin oleh Kepala Kantor yang membawahi 10 seksi, yang terdiri dari:

1. Subbagian Umum

Subbagian Umum mempunyai tugas melakukan urusan tata usaha, kepegawaian, keuangan dan rumah tangga Kantor Pengawasan dan Pelayanan, serta penyusunan rencana kerja dan laporan akuntabilitas. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Subbagian Umum menyelenggarakan fungsi:

a. Pelaksanaan urusan tata usaha, kepegawaian, dan penyusunan rencana kerja dan laporan akuntabilitas.

b. Pelaksanaan urusan keuangan, anggaran, kesejahteraan pegawai, serta rumah tangga dan perlengkapan.

Subbagian Umum terdiri dari:

1. Urusan Tata Usaha dan Kepegawaian mempunyai tugas melakukan urusan tata usaha dan kepegawaian, serta penyusunan rencana kerja dan laporan akuntabilitas.

2. Urusan Keuangan mempunyai tugas melakukan urusan keuangan, anggaran, dan kesejahteraan pegawai.

3. Urusan Rumah Tangga mempunyai tugas melakukan urusan rumah tangga dan perlengkapan.


(1)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis kemukakan pada bab-bab sebelumnya, maka pada bab ini penulis akan mengambil beberapa kesimpulan dari hasil penelitian lapangan yang penulis lakukan selama ini serta memberikan saran sebagai langkah terakhir dalam penulisan hasil penelitian ini.

6.1. Kesimpulan

Penerapan e-Government merupakan bentuk reformasi pelayanan dilakukan di organisasi DJBC, baik Kantor Pusat, Kantor Wilayah, maupun Kantor Pelayanan dan Pengawasan (KPP). Penerapan e-Government di DJBC dapat dilihat dari aspek input, proses, output, dan outcomes.

a. Output, terdiri dari fasilitas atau peralatan teknologi dan sumber daya manusia. Fasilitas atau peralatan teknologi informasi dan komunikasi dan sumber daya manusia pada tempat pelayanan sudah memadai. Kemampuan dan keahlian pegawai dalam menggunakan peralatan dan teknologi informasi dan komunikasi, beserta latar belakang pendidikan dan jumlah pegawai yang bertugas sudah cukup memadai untuk mendukung penerapan

e-Government. Akan tetapi, KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan belum

pernah memberikan pelatihan kepada pegawai mengenai penerapan

e-Government. Pelatihan sangat diperlukan untuk meningkatkan kinerja dan


(2)

b. Proses, proses interaksi antara KPPBC sebagai petugas e-Government dengan para pengusaha diwujudkan dengan sosialisasi. KPPBC Tipe Madya Belawan telam melakukan sosialisasi mengenai penerapan e-Government dalam pelayanan kepabeanan dan cukai, namun sosialisasi tersebut belum maksimal. Beberapa pengusaha sebagai pengguna jasa tidak pernah mendapatkan sosialisasi. Selain itu, sosialisasi yang dilakukan hanya mempublikasikan adanya websit pada mengenalkan aplikasi pelayanan yang terdapat di website tersebut. Sehingga masih cukup banyak para pengusaha yang tidak mengetahui tentang aplikasi pelayanan.

c. Output, yaitu keluaran dari program e-Government yang meliputi jenis-jenis aplikasi yang diterapkan serta bagaimana akses ketika menggunakan aplikasi tersebut. Melalui website memberikan informasi mengenai kebijakan, peraturan, dan jenis-jenis pelayanan kepabeanan dan cukai yang dapat diakses seluruh masyarakat. Akses untuk membuka website informasi maupun menjalankan aplikasi yang ada didalamnya sudah bagus, cepat, dan mudah. Akan tetapi, dalam mengakses websit jaringan yang bermasalah seperti tidak terhubung dengan portal tersebut atau jaringan terputus sering terjadi. Server dan jaringan website dilakukan adalah hanya menunggu jaringan bagus. Hal ini mengakibatkan pemberian pelayanan tertunda.


(3)

d. Outcomes, manfaat dari penerapan e-Government baik bagi KPPBC maupun bagi para pengusaha. Manfaat yang dapat diraskan adalah pelayanan menjadi lebih sederhana, aman, transparan, ekonomis, efisien dan waktu penyelesaian pelayanan menjadi lebih cepat. Akan tetapi, manfaat yang diperoleh melalui penerapan e-Government ini tidak dapat dirasakan oleh semua pengusaha yang terdaftar pada KPPBC ini terutama bagi mereka yang tidak menggunakannya. Berbagai faktor seperti tidak mengetahui penggunaan internet, tidak mengetahui informasi tentang e-Government, dan belum semua para pengusaha membutuhkan pelayanan melalui internet turut mempengaruhi hal ini.

6.2. Saran

Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka penulis merekomendasikan berupa saran-saran sebagai berikut :

a. KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan perlu memberikan pelatihan penerapan e-Government kepada petugas pelayanan dan para pengusaha sebagai pengguna jasa. Pelatihan sangat penting dalam mendukung keberhasilan penerapan e-Government. Dengan adanya pelatihan, dapat meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan profesionalisme petugas pelayanan dalam memberikan pelayanan. Sedangkan untuk para pengusaha, pelatihan dapat meningkatkan pemahaman dalam memperoleh pelayanan melalui sistem online.

b. KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, perlu meningkatkan sosialisasi penerapan e-Government kepada para pengusaha, khususnya dalam


(4)

mengenalkan aplikasi pelayanan yang terdapat di website. Sehingga dapat meningkatkan partisipasi para pengusaha untuk menggunakan pelayanan yang disediakan di internet.

c. Jaringan dan server bahkan operator website disediakan di KPPBC Tipe Madya Pabean Belawan, sehingga jika terjadi kesalahan jaringan dalam mengakses pelayanan dapat segera diatasi.

d. Untuk para pengusaha sebagai pengguna jasa, perlu lebih berpartisipasi dalam mengunakan aplikasi pelayanan kepabeanan yang disediakan melalui internet sehingga manfaat dari penerapan e-Government dapat dirasakan semua pengusaha. Untuk itu, para pengusaha perlu menyadari bahwa saat ini adalah era informasi sehingga kemampuan untuk menggunakan peralatan teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan. Partisipasi dalam hal pemberian kritik dan saran melalui media elektronik juga harus ditingkatkan. Karena kritikan dan saran dari para pengusaha merupakan bentuk penilaian kinerja atau kebijakan yang dibuat oleh DJBC penting dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik.


(5)

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, B. 2003. Pelayanan Prima Perpajakan. Jakarta: PT Rieneka Cipta. Bungin, H.M.Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Rieneka Cipta. Hexagraha, Agus. 2006. Sistem Informasi dalam Berbagai Prespektif. Bandung:

Informatika Bandung.

Indrajit, Richardus Eko. 2002. Electronic Government. Yogyakarta: Andi. 2005. Electronic Government in Action: Ragam Kasus

Implementasi Sukses Berbagi Belahan Dunia. Yogyakarta: Andi

Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Rohman, Ahmad Ainur,dkk. 2008. Reformasi Pelayanan Publik. Malang: Program Sekolah Demokrasi Bekerja Sama dengan Averrodes Press. Salam, Dharma Setyawan. 2004. Manajemen Pemerintahan Indonesia. Jakarta:

Djambatan.

Sinambela, Lijan Poltak. 2008. Reformasi Pelayanan Publik. Jakarta: Bumi Aksara.

Suyanto, Bagong dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alernatif

Pendekatan. Jakarta: Kencana.

Tangkilisan, Hesel Nogi S. 2003. Kebijakan Publik yang Membumi. Yogyakarta: Lukman Offset.

Usman, Husaini. 2009. Metodelogi Penelitian Sosial. Jakarta: Bumi Aksara. Winarno, Budi. 2002. Teori dan Proses Kebijakan Publik. Yogyakarta: Media


(6)

Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang RI No.25 Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik

Instruksi Presiden RI No.6 Tahun 2001 Tetang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika)

Instruksi Presiden RI No.3 Tahun 2003 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government

Peraturan Presiden RI No.10 Tahun 2008 Tentang Penggunaan Sistem Elektronik dalam Kerangka Indonesia National Single Window

Keputusan Menteri Komunikasi dan Informasi No.57 Tahun 2003 Tentang Panduan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan E-Government Keputusan Menteri Pendayagunaan Aaratur Negara Nomor:

KEP/26/M.PAN/2/2004 Tentang Petunjuk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Pelayanan Publik.

Sumber Internet:

pukul 21.35

pukul 19.25

Sumber Lain:

Dokumen Kantor KPPBC Tipe Madya Belawan tentang Penjelasan Penerapan Sistem NSW di Inonesia