Efektivitas Terumbu Buatan Berbahan Dasar Tempurung Kelapa sebagai Fish Aggregating Device di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu




ABSTRAK
FRISTI MARSELIA PARDEDE, C44080055. Efektivitas Terumbu Buatan
Berbahan Dasar Tempurung Kelapa sebagai Fish Aggregating Device di Pulau
Pramuka Kepulauan Seribu. Dibimbing oleh ROZA YUSFIANDAYANI dan
DANIEL R MONINTJA.
Terumbu buatan merupakan habitat buatan yang dibuat menyerupai karakteristik
terumbu alami untuk memperbaiki komunitas terumbu karang alami yang telah
rusak di suatu perairan. Efektivitas terumbu buatan berbahan dasar tempurung
kelapa diteliti selama 3 bulan yaitu Maret-Mei 2012 di perairan Pulau Pramuka,
Kepulauan Seribu, Jakarta. Metode yang digunakan adalah experimental fishing,
dimana menggunakan alat tangkap bubu tambun untuk dapat menganalisis
tingkat kematangan gonad hasil tangkapan. Terumbu buatan dilakukan
pengamatan dengan metode sensus visual dengan 2 luasan yaitu 1 meter dan 2
meter yang nantinya dianalisis dengan indeks keanekaragaman (H’), indeks
keseragaman (E) dan indeks dominansi (C). Hasil penelitian menunjukkan pada
terumbu buatan tercacat sebanyak 10 famili dengan 13 spesies yang dominan
berkumpul sedangkan pada terumbu alami terdiri dari 8 famili dengan 25 spesies.
Hasil tangkapan dengan bubu tambun terdiri dari 10 famili (Pomacentridae,
Balistidae, Chaetodontidae, Holocentridae, Labridae, Scaridae, Serranidae,
Siganidae, Xanthidae, Muraenidae). Tingkat kematangan gonad (TKG) hasil
tangkapan adalah TKG I (46%) ; TKG II (28%) ; TKG III (22%) dan TKG IV
(4%). Terumbu buatan dengan luasan pengamatan 1 meter mempunyai nilai
indeks keanekaragaman berkisar antara 1,68-2,5; dan indeks keseragaman
berkisar antara 0,68-1,07 serta indeks dominansi yaitu 0,11-0,16. Terumbu
buatan dengan luasan pengamatan 2 meter diperoleh nilai indeks keanekaragaman
1,79-2,15; indeks keseragaman 0,59-0,79 dan indeks dominansi 0,09-0,16. 

Kata kunci : terumbu buatan, terumbu karang, tempurung kelapa, fish aggregating
device




ABSTRACT
FRISTI MARSELIA PARDEDE, C44080055. The Effectivity of Artficial Reef
Made of Coconut Shell as Fish Aggregating Device on the Pramuka Island
Kepulauan Seribu. Supervised by ROZA YUSFIANDAYANI dan DANIEL R
MONINTJA.
Artificial reefs is an artificial habitat which is created to resemble the
characteristics of natural reefs to improve the community of coral reefs that have
been damaged in natural waters ecosystem. The effectiveness of artificial reefs
made of coconut shell is observed during the period of March 2012 - May 2012 in
the waters of Pramuka island, Kepulauan Seribu, Jakarta. The method used
experimental method, where bubu tambun is used to capture the specimen that
will be analyze for it’s level of gonad maturity. The observations is done with the
visual census method with 2 areas i.e. 1 meter and 2 meter that would later be
analyzed for it’s index of diversity (H’), index homogeneity (E) and the
dominance index (C) at the artificial reefs site. The results showed that 10 family
with 13 species are dominant to stay while in the natural coral reef consists of 8
family with 25 described species. The result of fishing capture, it consist of 10
family (Pomacentridae, Balistidae, Chaetodontidae, Holocent, Labridae, Scaridae,
Siganidae, Xanthidae, Muraenidae). Gonado Stomato Index (GSI) of fishing
capture are GSI I (46%); GSI II (28%); GSI III (22%) and GSI IV (4%). Artificial
reefs with 1 meter areas has a range of diversity index between 1.68 -2.5; and the
uniformity index ranged between 0,68-1.07 and dominance index 0.11-0.16.
Artificial reefs with 2 meters areas has a range of diversity index between 1,79 –
2,15; range of uniformity index 0.59-0.90 and the index of the dominance of 0.090.16.

Keywords : Artificial reef, coconut shell, coral reef, fish aggregating device

1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia memiliki hamparan terumbu karang terluas ke dua di dunia setelah
Australia, yaitu mencakup areal sekitar 50.000 km2 (Supriharyono, 2000). Perairan
Kepulauan seribu merupakan salah satu kawasan terumbu karang yang terdapat di
Indonesia. Perairan Kepulauan Seribu mempunyai potensi sumberdaya hayati laut
yang cukup besar. Potensi sumberdaya ikan laut yang terdapat di perairan Kepulauan
Seribu seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Sumberdaya perikanan yang
tetap tersedia, akan terus mendukung usaha perikanan tangkap di perairan Kepulauan
Seribu dalam peningkatan produksi perikanan.
Faktanya keadaan saat ini kawasan terumbu karang tersebut telah mengalami
degradasi. Banyak hal yang menjadi penyebab kerusakan terumbu karang di
Kepulauan Seribu, seperti kegiatan pengeboman, peracunan karang merupakan
penyebab utama kerusakan terumbu karang di daerah tersebut, serta banyaknya
wisatawan yang menjadikan area terumbu alami sebagai kawasan wisata yang
terkadang secara tidak sengaja merusak terumbu akibat tersentuh maupun terinjak.
Permasalahan yang ada serta upaya untuk mencari alternatif lain untuk
meningkatkan

eksplorasi

sumberdaya

tanpa

menimbulkan

kerusakan

dan

meningkatkan produktivitas lingkungan maka dicoba suatu cara untuk mengurangi
masalah tersebut dengan adanya terumbu buatan (artificial reefs).
Penggunaan terumbu buatan atau artificial reefs merupakan alternatif yang dapat
digunakan untuk mengurangi tekanan penangkapan ikan dan perusakan terumbu
karang alami. Artificial reefs juga merupakan penerapan teknologi yang memberikan
kepastian dalam

hal

daerah penangkapan ikan dan hal ini diharapkan akan

memberikan solusi bagi masalah yang dihadapi, khususnya yang berkaitan dengan
produktivitas dan efisiensi penangkapan.
Berbagai macam konstruksi dan material yang biasa digunakan dalam pembuatan
artificial reefs dengan meniru beberapa karakteristik terumbu karang alami sehingga
dapat memikat jenis-jenis organisme laut untuk hidup dan menetap serta

meningkatkan produksi perikanan. Material yang biasa digunakan dalam pembuatan
artificial reefs seperti ban bekas, cetakan semen atau beton, bangkai kerangka kapal,
badan mobil bekas, bambu dan sebagainya (Delmendo, 1991). Kerangka penelitian
untuk pendekatan penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Kegiatan yang bertujuan memaksimumkan hasil terumbu buatan perlu dirancang
bentuk dan bahan yang sesuai, dimana perlu memperhatikan hal-hal seperti bahan
tidak beracun di dalam air, tahan lama, mudah diperoleh, mudah ditangani dan mudah
diangkut (Seaman dan Sprague, 1991), dari penjelasan tersebut maka penggunaan
tempurung kelapa sebagai bahan dasar artificial reef

perlu dikaji. Penggunaan

tempurung kelapa ini juga diharapkan dapat memacu masyarakat khususnya di Pulau
Pramuka untuk kembali melakukan penanaman pohon kelapa. Tahap-tahap
pelaksanaan penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.

1.2

Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Pengembangan rancang bangun terumbu karang buatan dari tempurung kelapa
sebagai fish aggregating device;
2. Mengetahui dan membandingkan komposisi serta jumlah ikan yang
berkumpul di sekitar terumbu karang buatan dan terumbu karang alami;
3. Mengkaji peluang pemanfaatan terumbu karang buatan tersebut untuk
kegiatan penangkapan ikan.

1.3

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan gambaran bahwa terumbu karang

buatan berbahan dasar tempurung kelapa dapat sebagai tempat berkumpul ikan
karang, sehingga meminimalisasi kerusakan terumbu karang yang ada di Kepulauan
Seribu serta memudahkan dalam proses kegiatan penangkapan ikan.

Terumbu buatan

Habitat
Biota Laut

Natural
stock

Penunjang Sumberdaya
Perikanan

Perbaikan
terumbu karang

Ketersediaan tempurung
kelapaberlimpah
Latar belakang

Terumbu
karang buatan

Terumbu alami

Dampak Kegiatan Penangkapan Ikan
terhadap kondisi karang alami

Tekanan penangkapan ikan yang
tinggi

Efektivitas penggunaan tempurung
kelapa sebagai terumbu buatan

Permasalahan
Indikator biologis

Input

• Pengamatan visual ikan di terumbu buatan

• Analisis perbandingan hasil tangkapan

• Pengamatan visual ikan di terumbu alami

• Analisis berat dan panjang ikan
• Analisis tingkat kematangan gonad ikan

Proses
Tingkat keanekaragaman, keseragaman
dan dominanasi ikan

• Potensi untuk penangkapan ikan
• Potensi sebagai fish aggregating device

Output
Pengembangan rancang bangun terumbu
buatan sampai dengan terdapatnya ikan

Perbandingan komposisi jumlah ikan di
terumbu buatan dan terumbu alami

Peluang pemanfaatan terumbu buatan
untuk penangkapan ikan

Tujuan

Gambar 1 Kerangka pemikiran pendekatan penelitian.
Mulai

Fakta, isu-isu, pendapat

Pembuatan alat : terumbu buatan dan bubu
Tidak
Cukup
Ya
Peletakan terumbu buatan : Pengamatan spesies dan famili ikan
Tidak
Cukup
Ya
Kegiatan penangkapan: struktur ekologis hasil tangkapan nelayan
Tidak
Cukup
Ya
Efektivitas terumbu buatan : Indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi
Tidak
Aplikatif
Ya


Selesai
Gambar 2 Tahap-tahap pelaksanaan penelitian

ϱ


2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ekosistem Terumbu Karang Alami
2.1.1 Definisi dan fungsi terumbu karang
Terumbu (reef) terbentuk dari endapan-endapan massif terutama kalsium
karbonat yang dihasilkan oleh hewan karang (filum Scnedaria, kelas Anthozoa, ordo
Madreporia Scleractinia), alga berkapur dan organism-organisme lain yang
mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1986).
Di dunia terdapat dua kelompok karang yaitu karang hermafitik dan karang
ahermatifik. Perbedaan kedua kelompok karang ini terletak pada kemampuan karang
hermafitik di dalam menghasilkan terumbu (reef). Kemampuan menghasilkan
terumbu ini disebabkan oleh adanya sel-sel tumbuhan yang bersimbiosis di dalam
jaringan karang hermafitik. Sel-sel tumbuhan ini dinamakan zooxanthellae.
Selanjutnya distribusi karang hermafitik hanya ditemukan di daerah tropis, sedangkan
karang ahermafitik tersebar di seluruh dunia. Itulah yang menyebabkan bahwa
terumbu karang (coral reef) hanya ditemukan di perairan laut tropis (Dahuri, 2003).
Terumbu karang (coral reef) merupakan ekosistem yang khas terdapat di daerah
tropis. Ekosistem ini mempunyai produktivitas organic yang sangat tinggi. Demikian
pula keanekaragaman biota yang ada di dalamnya. Komponen biota terpenting di
suatu terumbu karang ialah hewan karang batu (stony coral), hewan yang tergolong
Scleractinia yang kerangkanya terbuat dari bahan kapur (Nontji, 1987).
Nybakken (1986) yang diacu dalam Dahuri (2003) mengatakan bahwa
ekosistem terumbu karang mempunyai produktivitas organik yang tinggi. Hal ini
disebabkan oleh kemampuan terumbu karang untuk menahan nutrien dalam sistem
dan berperan sebagai kolam untuk menampung segala masukan dari luar. Sebagai
contoh, zooxanthellae dalam jaringan karang dapat mencegah terjadinya kehilangan
nutrient. Setiap nutrien yang dihasilkan oleh karang sebagai hasil metabolisme dapat
digunakan langsung oleh tumbuhan tanpa mengedarkannya terlebih dahulu ke dalam
perairan.

ϲ


Terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang sangat rentan terhadap
gangguan akibat kegiatan manusia, dan pemulihannya memerlukan waktu yang lama.
Berbagai pendapat menyatakan hal yang sebaliknya, bahwa ekosistem terumbu
karang merupakan ekosistem yang dinamis, tidak mapan, dan mampu memperbaiki
dirinya sendiri dari gangguan alami. Kasus yang terjadi di Pulau Banda, Maluku,
menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang mampu memperbaiki dirinya dalam
waktu relatif cepat jika parameter-parameter lingkungan utama bagi pertumbuhannya
sangat mendukung, misalnya tingkat kecerahan yang tinggi dan tidak banyak run-off
polutan dan sedimen dari daratan (Dahuri, 2003).
Adapun fungsi terumbu karang (Wibisono, 2005) antara lain :
1) Sebagai tempat berteduh (shelter) dan tempat mencari makan bagi sebagian
biota laut;
2) Sebagai penahan erosi pantai karena deburan ombak;
3) Sebagai cadangan sumber daya alam (natural stock) untuk berbagai jenis
biota yang bernilai ekonomis penting;
4) Sebagai wilayah yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kegiatan
wisata alam bahari yang bisa menghasilkan devisa;
5) Sebagai sarana pendidikan yang dapat menumbuh kembangkan rasa cinta laut.
Mengingat hal tersebut diatas, maka jelas bahwa kawasan terumbu karang
mempunyai tingkat produktivitas yang sangat tinggi. Transfer energi dari hutan
mangrove dalam hal ini sangat menentukan produktivitas terumbu. Oleh karena itu
wajar bila terumbu karang perlu mendapat perhatian dari berbagai sektor kegiatan
secara terpadu dan terkoordinasi.

2.1.2 Parameter lingkungan utama
Distribusi dan pertumbuhan ekosistem terumbu karang tergantung dari
beberapa parameter fisika (Dahuri, 2003; Nontji, 1987;Wibisono, 2005), yaitu :
1)

Kecerahan atau cahaya
Cahaya matahari merupakan salah satu parameter utama yang berpengaruh
dalam pembentukan terumbu karang. Penetrasi cahaya matahari merangsang

ϳ


zooxanthellae simbiotik dalam jaringan karang. Tanpa cahaya yang cukup, laju
fotosintesis akan berkurang dan bersamaan dengan itu kemampuan karang
untuk membentu terumbu (CaCO3) akan berkurang pula. Kebanyakan terumbu
karang dapat berkembang dengan baik pada kedalaman 25 meter atau
kedalaman maksimum membentuk terumbu karang adalah 40 meter. Lebih dari
itu cahaya sudah terlampau lemah (Dahuri, 2003; Nontji, 1987).
2)

Suhu
Suhu yang dibutuhkan untuk pembentukan terumbu karang secara optimal pada
kisaran suhu perairan laut rata-rata antara 25-300 C (Nontji, 1987). Namun suhu
di luar kisaran tersebut masih bisa ditolerir oleh spesies tertentu dari jenis
karang hermafitik untuk dapat berkembang dengan baik. Karang hermafitik
dapat bertahan pada suhu di bawah 200C selama beberapa waktu, dan
mentolerir suhu sampai 360C dalam waktu singkat (Dahuri, 2003). Suhu
mempunyai peranan penting dalam membatasi sebaran terumbu karang, oleh
karena itu terumbu karang tidak ditemui di daerah dingin. Berdasarkan hasil
penelitian laboratorium ternyata hewan koral mengalami bleaching pada suhu
320C secara terus menerus. Selain itu bleaching juga bisa terjadi akibat
pencemaran, peningkatan turbiditas, penurunan salinitas (Wibisono, 2005).

3)

Salinitas
Banyak spesies karang peka terhadap perubahan salinitas yang besar. Hewan
karang mempunyai toleransi terhadap salinitas sekitar 27-40ŽͬŽŽ. Adanya aliran
air tawar akan menyebabkan kematian. Itulah sebabnya di pantai timur
Sumatra, pantai selatan Kalimantan dan pantai selatan Irian Jaya di mana
banyak sungai-sungai besar bermuara, jarang dijumpai terumbu karang (Nontji,
1987).

4)

Sirkulasi arus dan sedimentasi
Dahuri (2003) mengatakan bahwa arus diperlukan dalam proses pertumbuhan
karang dalam hal menyuplai makanan berupa mikroplankton. Arus juga
berperan dalam proses pembersihan dari endapan-endapan material dan
menyuplai oksigen yang berasal dari laut lepas. Oleh karena itu, sirkulasi arus

ϴ


sangat berperan penting dalam proses transfer energi. Arus dan sirkulasi air
berperan dalam proses sedimentasi. Sedimentasi dari pertikel lumpur padat
yang dibawa oleh aliran permukaan (surface run off) akibat erosi dapat
menutupi permukaan terumbu karang, sehingga tidak hanya berdampak negatif
terhadap karang tetapi juga terhadap biota yang hidup berasosiasi dengan
habitat tersebut. Partikel lumpur yang tersedimentasi tersebut dapat menutupi
polip sehingga respirasi organisme terumbu karang dan proses fotosintesis oleh
zooxanthellae akan terganggu.

2.1.3 Penyebaran
Terumbu karang (coral reef) merupakan komunitas organisme yang hidup di
dasar laut dangkal daerah tropis. Binatang karang (coral reef) adalah sebagai individu
organisme atau komponen komunitas, sedangkan terumbu karang (coral reef) adalah
sebagai suatu ekosistem yang didalamnya termasuk organisme-organisme karang.
Terdapat dua tipe karang yaitu: karang yang membentuk bangunan kapur atau
hermatypic corals, dan karang yang tidak dapat membentuk bangunan kapur atau
ahermatypic corals (Supriharyono, 2000).
Menurut Supriharyono (2000), secara umum jumlah spesies karang (reefbuilding corals) di Indo-Pasifik cenderung lebih banyak dibandingkan dengan di
Atlantik. Keanekaragaman spesies karang terbesar di Indo-Pasifik terdapat di daerah
Melanesia dan Asia Tenggara, dan yang paling tinggi tercatat di Indonesia.
Dahuri (2003) menyatakan bahwa lebih dari 95% wilayah Indonesia (sekitar
17.500 pulau) dikelilingi oleh terumbu karang. Berdasarkan hubungan dengan daratan
terumbu karang di Indonesia diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok besar sebagai
berikut:
1)

Terumbu tepi (fringing reef) adalah terumbu karang yang dekat dan sejajar
dengan garis pantai. Contoh tipe terumbu tepi adalah terumbu karang yang
terdapat di daerah Mentawai, Pangandaran dan Parangtritis di pantai selatan
P.Jawa, di Lombok dan Sumbawa, di Nusa Tenggara Timur serta di utara dan
barat Papua.

ϵ


2) Atol (atol) adalah terumbu tepi yang berbentuk seperti cincin dan di tengahnya
terdapat goba (danau) dengan kedalaman mencapai 45 meter. Contoh atol atau
terumbu cincin adalah atol Takabonerate di Sulawesi Selatan.
3) Terumbu Penghalang (barrier reef) serupa dengan karang tepi, dengan terkecuali
jarak antara terumbu karang dengan garis pantai atau daratan cukup jauh, dan
umumnya dipisahkan oleh perairan yang dalam. Karang penghalang dapat
ditemukan di Kep. Togean, Sulawesi Tengah, dan di beberapa tempat di
Kalimantan Timur dan Selat Makasar.
Selain ketiga kelompok besar di atas, di Indonesia terdapat jenis terumbu gosong
(patch reef), seperti terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Seribu di utara P.
Jawa.

2.2 Terumbu Karang Buatan
2.2.1 Definisi dan fungsi terumbu buatan
Terumbu buatan merupakan habitat buatan yang di bangun di laut dan diletakkan
di dasar perairan yang tidak produktif dengan meniru beberapa karakteristik terumbu
alami dengan maksud memperbaiki ekosistem yang rusak, sehingga memikat
organisme laut untuk hidup dan menetap serta menigkatkan produksi perikanan,
biasanya terbuat dari ban bekas, bangkai kerangka kapal, badan mobil bekas, bambu
dan sebagainya (Christy, 1991).
Pembuatan terumbu buatan didasari oleh teori yang mengatakan jenis ikan-ikan
tertentu mempunyai kecenderungan untuk mendekati atau menyukai benda-benda
keras, untuk berkumpul satu sama lainnya, mencari perlindungan serta memperoleh
makanan (White et al., 1990 yang diacu dalam Mayasari, 2008).
Terumbu buatan, dilihat dari fungsinya yang multiguna, adalah salah satu solusi
yang perlu dipertimbangkan secara komprehensif, untuk menangani degradasi
lingkungan, memperbaiki sumberdaya perikanan dan habitatnya, serta dapat
memberikan kesejahteraan bagi desa di pantai. Menurut Seaman (2000) bahwa
minimal terdapat 13 jenis tujuan penggunaan terumbu buatan, yaitu untuk:
1) Meningkatkan produksi perikanan tangkap

ϭϬ


2) Meningkatkan produksi perikanan komersial
3) Lokasi budidaya laut dan marine ranching
4) Meningkatkan recreational fishing (memancing dan spear)
5) Lokasi rekreasi skin diving
6) Lokasi pariwisata bawah laut (submarine tourism)
7) Mengendalikan mortalitas penangkapan ikan
8) Mengendalikan life history organisme laut
9) Melindungi habitat ikan
10) Daerah konservasi keanekaragaman hayati laut
11) Mengurangi degradasi dan kehilangan habitat
12) Meningkatkan kualitas air dan kualitas habitat
13) Penelitian dan pendidikan
Tujuan yang paling penting adalah meningkatkan produksi perikanan tangkap secara
lestari dan ramah lingkungan dalam segi meningkatkan hasil tangkapan maupun
biomassa ikan di daerah terumbu.
Mottet (1981) yang diacu dalam Mayasari (2008) mengatakan bahwa terumbu
buatan memiliki ciri khas, yaitu peningkatan biomassa ikan yang berasal dari spesies
yang benar-benar menghabiskan sebagian besar siklus hidupnya dalam zona terumbu
buatan.
Pengembangan terumbu buatan di negara ASEAN adalah kejadian baru sebagai
konsekuensi dari perlunya untuk meningkatkan sumber daya perikanan penangkapan
ikan. Negara Malaysia, Filipina, Thailand, Singapura, Brunei Darussalam melakukan
pengembangan terumbu buatan sesuai dengan kondisi serta kebiasaan nelayan
tradisional setempat. Bagi negara tersebut konsep penggunaan terumbu buatan tidak
menjadi hal baru. Nelayan Filipina contohnya, dengan menumpukan cabang–cabang
pohon dan ranting di muara sungai untuk memperoleh ikan (Delmendo, 1991).

2.2.2 Bahan dan konstruksi terumbu buatan
Berbagai jenis bahan yang digunakan untuk pembuatan sebuah terumbu karang
buatan antara lain ban mobil bekas digunakan di beberapa negara seperti Malaysia,

ϭϭ


Thailand, Singapura, Philipina dan Indonesia. Terumbu karang buatan berbahan
beton dikembangkan di Thailand, Indonesia, Singapura, Brunei dan Malaysia. Kapal
rusak dikembangkan di Jepang dan Indonesia khususnya di Bali (Delmendo, 1991).
Menurut Sinanuwong (1991) yang diacu dalam Mayasari (2008) mengatakan
bahwa di Thailand, bahan-bahan untuk terumbu karang buatan dalam percobaan di
Rayong menggunakan tiga tipe yaitu ban bekas, konkrit dan batu. Hasil studi
memperlihatkan adanya peningkatan spesies komposisi ikan dan ditemukan bahwa
penggunaan ban bekas dan konkrit sangat tepat dibanding batu karena konstruksi batu
sering menyebar di sana-sini sehingga ikan-ikan yang masuk lebih sedikit.
Bahan-bahan yang digunakan dalam membangun terumbu karang terdiri dari
concrete cylindrical, culvert cemen pipes, concrete rings dan rubber wood
(Delmendo, 1991). Menurut Soedharma (1995) yang diacu dalam Mayasari (2008)
terumbu buatan bisa dibuat dari karang-karang bebas (mobil, kapal, ban bekas dan
bahan-bahan buatan lainnya) diletakkan di dasar laut secara mendatar pada dasar
perairan berpasir halus atau lumpur dengan tujuan untuk merubah habitat yang miskin
menjadi habitat yang kaya akan ikan serta biota lainnya.
Seaman dan Sparague (1991) mengatakan bahwa untuk memaksimuman hasil
terumbu karang buatan perlu dirancang bentuk dan bahan terumbu buatan yang sesuai
dengan target yang ingin dicapai. Dalam menentukan konstruksi terumbu buatan yang
perlu diperhatikan yaitu :
1) Bahan tidak beracun di dalam air, tahan lama, mudah diperoleh, mudah ditangani
dan mudah diangkut;
2) Memperhatikan kestabilan hidrodinamik;
3) Bersifat fungsional artinya bahan-bahan terumbu buatan mampu mengumpulkan
ikan;
4) Bahan yang digunakan harus memiliki celah untuk tempat berlindung serta
permukaan;
5) Memperhatikan skala dimensi yang efisien.

ϭϮ


Kriteria yang berguna yang dibuat oleh Badan Sumberdaya Perikanan dan
Perairan Filipina untuk peletakan terumbu buatan adalah sebagai berikut (Miclat dan
Miclat, 1989 yang diacu dalam Yuspardianto, 1998) :
1) Berjarak antara 50-100 meter dari terumbu karang alami;
2) Dekat dengan sumber makanan alternatif (misalnya padang lamun atau sea
grass);
3) Dibangun di daerah yang datar atau sedikit miring dan memiliki kecerahan yang
baik;
4) Berada pada kedalaman 5-20 meter, terlindung dari gelombang, tetapi mudah
dicapai oleh nelayan setempat.

2.3 Tempurung Kelapa
Kelapa merupakan tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dan
famili Palmae. Kata coco pertama kali digunakan oleh Vasco da Gama (Suhardiman,
1985).
Tanaman kelapa (Cocos nucifera) merupakan tanaman serba guna atau tanaman
yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Seluruh bagian pohon kelapa dapat
dimanfaatkan untuk kepentingan manusia, sehingga pohon ini sering disebut pohon
kehidupan (tree of life) karena hampir seluruh bagian dari pohon, akar, batang, daun,
buah serta tempurung kelapa dapat dipergunakan untuk memenuhi kehidupan
manusia sehari-hari.
Buah kelapa terdiri dari sabut, tempurung, daging buah dan air kelapa. Berat
buah kelapa yang telah masak kira-kira 2 kg per butir. Buah kelapa dapat
dipergunakan hampir seluruh bagiannya. Airnya untuk minuman segar atau dapat
diproses lebih lanjut menjadi nata de coco (Suhardiman, 1985).
Tempurung kelapa dikategorikan oleh sebagai kayu keras, tetapi mempunyai
kadar lignin lebih tinggi dan kadar selulosa lebih rendah (Rasyid 2010). Pirolisa
tempurung kelapa menghasilkan senyawa fenol 4,13%, karbonil 1,30% dan keasaman
10,2% (Tranggono et al., 1996; Darmadji, 1995).

ϭϯ


Tempurung kelapa merupakan bagian buah kelapa yang fungsinya secara
biologis adalah pelindung bagian inti buah dan terletak dibagian dalam setelah sabut.
Tempurung merupakan lapisan yang keras dengan ketebalan 3-5 mm. Sifat kekerasan
ini disebabkan kandungan silikat (SIO2) di tempurung tersebut. Berat total buah
kelapa, 15-19% merupakan berat tempurungnya, selain itu juga tempurung kelapa
banyak mengandung lignin. Sedangkan kandungan methoxyl dalam tempurung kelapa
hampir sama dengan yang terdapat di kayu. Namun jumlah kandungan unsur-unsur
bervariasi tergantung kandungan tumbuhnya (Palangkung, 1993 mengacu pada
Anshari, 2009).
2.4 Alat Tangkap Bubu Tambun
2.4.1 Definisi dan klasifikasi
Bubu merupakan salah satu jenis alat tangkap yang bersifat pasif. Bubu
termasuk klasifikasi perangkap (traps) dan penghadang (guiding barriers) dimana
semua alat penangkap yang berupa jebakan (Subani dan Barus, 1989). Brandt (2005),
bubu digolongkan ke dalam kelompok perangkap (trap).
Metode panangkapan ikan dengan bubu mempunyai beberapa karakteristik
yang memberikan keuntungan, yaitu pembuatan alatnya mudah, pengoperasiannya
mudah, kesegaran hasil tangkapan baik, daya tangkapnya dapat diandalkan dan dapat
dioperasikan di tempat-tempat yang alat tangkap lain tidak bisa dioperasikan
(Yuspardianto, 1998).
Menurut Martasuganda (2003), ada beberapa alasan utama pemakaian bubu di
suatu daerah penangkapan, yaitu:
1) Adanya larangan pengoperasian alat tangkap selain bubu
2) Topografi daerah penangkapan yang tidak mendukung alat tangkap lain untuk
dioperasikan
3) Kedalaman daerah penangkapan yang tidak memungkinkan alat tangkap lain
untuk dioperasikan
4) Biaya pembuatan alat tangkap bubu murah
5) Pembuatan dan pengoperasian alat tangkap bubu tergolong mudah
6) Hasil tangkapan dalam keadaan hidup

ϭϰ


7) Kualitas hasil tangkapan baik
8) Hasil tangkapan umumnya bernilai ekonomis tinggi, dan pertimbangan
lainnya.

2.4.2 Konstruksi alat penangkap ikan
Secara umum, bubu terdiri dari mulut dan badan bubu. Adapun tempat umpan
dan pintu khusus untuk mengeluarkan hasil tangkapan tidak terdapat pada setiap
bubu.
Schlack dan Smith (2001) menyatakan bahwa bubu terdiri dari:
1) Rangka
Rangka dibuat dari material yang kuat dan dapat mempertahankan bentuk bubu
ketika dioperasikan dan disimpan. Pada umumnya rangka bubu dibuat dari besi
atau baja. Namun demikian dibeberapa tempat rangka bubu dibuat dari papan atau
kayu. Rangka beberapa jenis bubu dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dilipat
ketika bubu tersebut tidak dioperasikan. Hal ini bertujuan untuk mempermudah
ketika bubu tersebut disimpan di atas kapal. Beberapa jenis bahan seperti bambu
digunakan sebagai rangka pada bubu loster (Brandt 1984). Di Indonesia bubu
untuk menangkap ikan karang sebagian besar terbuat dari besi, karena biasanya
untuk menangkap ikan karang diperlukan bubu dengan ukuran besar. Di
Kepulauan Seribu bubu untuk menangkap ikan karang menggunakan rangka yang
terbuat dari bambu dan besi, bahkan untuk bubu tambun, hampir seluruhnya
terbuat dari bambu (Susanti, 2005).
2) Badan
Badan pada bubu modern biasanya terbuat dari kawat, nylon, baja, bahkan plastik.
Pemilihan material badan bubu tergantung dari kebudayaan atau kebiasaaan
masyarakat setempat, kemampuan pembuat dan ketersediaan material, serta biaya
dalam pembuatan. Selain itu, pemilihan material tergantung pula pada target hasil
tangkapan dan kondisi daerah penangkapan. Dibeberapa tempat masih dijumpai
badan bubu yang terbuat dari anyaman rotan dan bambu.
3) Mulut

ϭϱ


Salah satu bentuk mulut pada bubu adalah corong. Lubang corong bagian dalam
biasanya mengarah ke bawah dan dipersempit untuk menyulitkan ikan keluar dari
bubu. Jumlah mulut bubu bervariasi ada yang hanya satu buah dan ada pula yang
lebih dari satu.
4) Tempat umpan
Tempat umpan pada umumnya terletak di dalam bubu. Umpan terdiri dari dua
macam yaitu umpan yang dicacah menjadi potongan potongan kecil dan umpan
yang tidak dicacah. Untuk umpan yang dicaca biasanya dibungkus menggunakan
tempat umpan yang terbuat dari kawat atau plastik. Sedangkan untuk umpan yang
tidak dicacah biasanya umpan tersebut hanya diikatkan pada tempat umpan dengan
menggunakan kawat atau tali. Tempat umpan tidak terdapat pada semua jenis
bubu, misalnya pada bubu gurita dan beberapa bubu ikan karang.
5) Pintu untuk mengeluarkan hasil tangkapan
6) Celah pelolosan
Celah pelolosan dibuat agar ikan–ikan yang belum layak tangkap dari segi ukuran
dapat keluar dari bubu. Pada beberapa negara seperti Australia, New Zealand, dan
Kuba, celah pelolosan digunakan pada bubu rock lobster untuk meloloskan lobster
yang masih juvenil.
7) Pemberat
Pemberat dipasang pada bubu untuk mengatasi pengaruh pasang surut, arus laut,
dan gelombang, sehingga posisi bubu tidak berpindah pindah dari tempat setting
semula. Pemberat diperlukan terutama untuk bubu yang terbuat dari kayu dan
material ringan lainnya. Pemberat pada bubu bisa terbuat dari besi, baja, batu bata,
dan jenis-jenis batuan lainnya. Pemasangan pemberat juga berfungsi untuk
memastikan bubu mendarat di dasar perairan secara benar.
Monintja dan Martasuganda (1990) menjelaskan beberapa faktor yang
menyebabkan ikan dasar, ikan karang dan udang terperangkap dalam bubu, yaitu :
1)

Tertarik Umpan;

2)

Digunakan sebagai tempat berlindung;

3)

Karena sifat thigmotaksis ikan itu sendiri;

ϭϲ


4)

Digunakan sebagai tempat beristirahat sewaktu ikan bermigrasi.
Alat tangkap bubu banyak digunakan oleh nelayan Indonesia, baik oleh nelayan

skala kecil, menengah, dan skala besar. Perikanan bubu umumnya ditujukan untuk
menangkap kepiting, udang, keong, dan ikan dasar di perairan yang tidak begitu
dalam. Adapun untuk perikanan bubu skala menengah dan skala besar biasanya
dilakukan di lepas pantai yang ditujukan untuk menangkap ikan dasar, kepiting, atau
udang pada kedalaman 200 m sampai 700 m (Martasuganda, 2003).
Bahan yang digunakan oleh nelayan untuk membuat badan bubu sangat
bergantung pada ketersediaan bahan pembuat di lokasi pemukiman nelayan. Di
Indonesia bubu masih banyak yang terbuat dari bahan alami seperti bambu, kayu,
maupun rotan. Hal ini terlihat pada bubu tambun yang bahan utamanya adalah bambu
(Nugraha, 2008).

2.5 Sumberdaya Ikan Karang
Daerah habitat karang mempunyai produktivitas dan keanekaragaman jenis fauna
yang tinggi. Disamping itu ekosistem terumbu karang juga merupakan tempat hidup,
tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground) dan tempat
memijah (spawning ground) untuk biota laut yang antara lain adalah ikan karang.
Ikan karang banyak dimanfaatkan sebagai makanan maupun dijadikan ikan hias laut.
Diperkirakan 12.000 jenis ikan laut sebanyak 7000 spesies hidup di daerah terumbu
karang atau di sekitarnya, di perairan dekat pantai. Karakteristik yang paling
mengemuka dari ikan-ikan yang hidup di habitat karang adalah keanekaragamannya
dalam hal jumlah spesies dan perbedaan morfologi (Murdiyanto, 2003 mengacu pada
Nugraha, 2008).
Menurut Hutomo (1995), kelompok ikan karang yang erat kaitannya dengan
lingkungan terumbu karang adalah:
1) Tiga famili dalam sub ordo Labridei, yaitu famili Labridae (cina-cina), Scaridae
(kakatua) dan Pomacentridae (betok laut). Ketiganya bersifat diurnal;

ϭϳ


2) Tiga famili dari sub ordo Acanthuridae, yaitu famili Acanthuridae (butana),
Siganidae (baronang) dan Zanclidae (bendera atau moorish idol). Ketiganya
bersifat herbivora;
3) Dua famili dari sub ordo Chaetodontidae yang mempunyai warna yang cerah;
4) Famili Blennidae dan Gobiidae yang bersifat demersal dan menetap;
5) Famili Apogonidae (beseng) nokturnal, memangsa avertebrata terumbu dan ikan
kecil;
6) Famili Ostraciidae, Tetraodontidae dan Balestidae (pakol) yang menyolok dalam
bentuk dan warnanya;
7) Pemangsa dan pemakan ikan (piscivorous) yang besar jumlahnya dan bernilai
ekonomis tinggi, meliputi famili Serranidae (kerapu), Lutjanidae (kakap),
Lethrinidae (lecam), Holocentridae (swanggi).
Menurut Dahuri (2003), beberapa sumberdaya ikan yang hidup di karang
mempunyai nilai ekonomis sebagai berikut :
1)

Suku Chaetodontidae (butterflyfish). Ikan yang termasuk suku ini mempunyai
bentuk tubuh yang pipih serta lebar, sehingga gerakannya meliuk-liuk mirip
karpet. Sampai sekarang diperkirakan terdapat sekitar 114 jenis ikan kepe-kepe
yang tersebar di seluruh dunia, antara lain di Australia (50 jenis), Philippines
(45 jenis), Indonesia (44 jenis), Taiwan (33 jenis) dan Papua Nugini (42 jenis)
(Kvalvagnes, 1980). Ikan jenis ini hidup di perairan laut tropis pada kedalaman
perairan sampai 20 meter.

2)

Suku Pomancanthidae (angelfishes). Bentuk ikan ini menarik dan dikenal
sebagai ikan bidadari atau angel. Suku ini hidup di terumbu karang di perairan
tropis. Diperkirakan ada 74 jenis yang termasuk dalam suku pomacanthidae.
Ikan ini hidup pada kedalaman 1-50 meter, seperti marga Centropype dan
Genicanthus. Daerah penyebaran dan jumlah jenis ikan angel di perairan Indopasifik adalah sebagai berikut, Australia (23 jenis), Papua New Guinea (22
jenis), Indonesia (21 jenis), Taiwan (20 jenis) dan Filipina (19 jenis). Jenis ikan
ini memiliki corak warna yang indah dan menarik.

ϭϴ


3)

Suku Balistidae (triggerfish). Ikan pelatuk atau ikan trigger banyak ditemukan di
perairan Indonesia. Di Perairan Kepulauan Seribu, jenis ikan ini dikenal sebagai
ikan pakol. Ikan pelatuk biasanya hidup soliter atau menyendiri di habitat
terumbu karang.

4)

Suku Labridae (wrasses). Kelompok ikan ini di Indonesia disebut ikan keling.
Suku ini merupakan ikan diurnal yang aktif mencari makan di siang hari dan
sebagian besar merupakan ikan karnivor. Mangsanya berupa moluska, cacing,
krustase dan ikan kecil.
Widodo et al. (1998) menjelaskan bahwa ada sepuluh famili utama dari

perairan Indonesia yang menyumbang produksi ikan karang
Caesionidae;

Holocentridae;

Serranidae;

Siganidae;

konsumsi, yaitu

Scaridae;

Lethrinidae;

Priacanthidae; Labridae; Lutjanidae dan Haemulidae. Beberapa jenis ikan karang
konsumsi yang banyak terdapat di pasaran, yaitu kerapu (Serranidae), lencam
(Lethrinidae), ekor kuning dan pisang-pisang (Caesionidae), baronang (Siganidae),
kakap merah (Lutjanidae), kakak tua (Scaridae), serta napoleon atau marning atau
siomay (Labridae). Ekor kuning atau pisang-pisang merupakan kelompok ikan karang
yang dapat dieksploitasi secara besar-besaran. Ikan ini pemakan plankton dan
membentuk kelompok (school) yang relatif besar. Penyebaran ikan karang konsumsi
terdapat di seluruh terumbu yang tersebar sepanjang Kepulauan Indonesia.
Menurut Adrim (1993), kelompok ikan karang dibagi menjadi tiga kategori,
yaitu:
1)

Kelompok ikan target, yaitu ikan karang yang mempunyai manfaat sebagai ikan
konsumsi, seperti kelompok ikan famili Serranidae, Lutjanidae, Haemulidae dan
Lethrinidae;

2)

Kelompok ikan indikator, yaitu kelompok ikan karang yang dinyatakan sebagai
indikator kelangsungan hidup terumbu karang. Hanya satu famili yang termasuk
jenis kelompok ikan indikator, yaitu ikan dari famili Chaetodontidae;

3)

Kelompok ikan utama atau mayor, yaitu ikan yang berperan dalam rantai
makanan, seperti ikan dari famili Pomacentridae, Scaridae, Achanturidae,
Caesionidae, Labridae, Mullidae dan Apogonidae.

ϭϵ


2.5.1

Biologi ikan betok susu (Dischitodus perspicillatus)

Klasifikasi betok susu (Cuvier, 1830) :
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Pomacentridae

Genus

: Dischitodus

Spesies

: Dischistodus perspicillatus

Gambar 3 Betok susu (Dischitodus perspicillatus)
Ikan betok susu atau mempunyai nama internasional white damsel, termasuk
ikan famili Pomacentridae. Ikan betok susu mempunyai ciri-ciri panjang maksimal
(TL) 18 cm, putih krem dengan 2-3 spot hitam agak memanjang. Bagian depan
kepala kehijaun, garis pangkal dengan batas biru di antara mata dan mulut,
mempunyai jumlah duri dorsal keras maksimal 13 buah; duri dorsal lunak sekitar 1315 buah ; sedangkan anal keras 2 buah ; anal lunak sekitar 14-15 buah. Ikan ini
termasuk mudah diidentifikasi karena warnanya yang kebanyakan putih dan terdapat
bercak hitam kecil ditubuhnya.
Ikan betok susu biasa tinggal atau hidup di daerah patch reef, laguna dangkal,
pasir di daerah karang, dan padang lamun. Range kedalaman 1–10, akan tetapi hal
tersebut dapat juga disesuaikan dengan keadaan dasar atau daerah. Ikan betok susu
merupakan ikan pemakan alga bentik dan detritus.

ϮϬ


Distribusi ikan ini banyak di Indo Pasifik. Di Indonesia daerah penyebarannya
banyak di daerah yang mempunyai karang seperti Kepulauan Karimun Jawa,
Kepulauan Seribu, Laut Banda dan sebagainya.

Sumber : Metadata fishbase (Aqua maps GBIF OBIS, 2012)

Keterangan : titik merah = penyebaran ikan betok susu

Gambar 4 Peta penyebaran ikan betok susu (Dischitodus perspicillatus)
2.5.2 Biologi ikan triger (Balistapus undulatus)
Klasifikasi ikan triger (Park, 1797) :
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Balistidae

Genus

: Balistapus

Spesies

: Balistapus undulates

Gambar 5 Ikan Triger (Balistapus undulates)

Ϯϭ


Ciri-ciri ikan triger adalah panjang maksimal (TL) 30 cm, badan hijau gelap
kecokelatan dengan garis kuning diagonal di badan dan muka. Sirip berwarna oranye.
Memiliki spot hitam dipangkal ekor.
Habitat ikan triger di daerah kaya karang di laguna dan terumbu karang. Jenis
yang territorial, biasa meletakkan telur dalam lubang di daerah pasir atau rubble di
daerah karang. Kisaran kedalaman 1-50 m.
Distribusi ikan di area Indo-Pasifik seperti Laut merah, Afrika Selatan, Kep.
Line, Marquesan dan Tuamoto, Jepang-GBR dan New Caledonia. Ikan triger
termasuk pemakan zoobenthos (echinodermata, moluska, tunikata, sponge dan
hydrozoa), ikan kecil dan alga bentik.


Sumber : Metadatafishbase (Aqua maps GBIF OBIS, 2012)
Keterangan : Titik merah : Penyebaran ikan triger

Gambar 6 Peta penyebaran ikan trigger (Balistapus undulates)
2.5.3

Biologi ikan marmut (Chaetodontoplus mesoleucus)
Klasifikasi ikan marmut (Bloch, 1787) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Pomacanthidae

Genus

: Chaetodontplus

Spesies

: Chaetodontoplus mesoleucus

ϮϮ


Gambar 7 Ikan Marmut (Chaetodontoplus mesoleucus)
Ikan marmut atau Chaetodontoplus maesoleucus termasuk dalam famili
Pomacantridae. Ikan ini mempunya ciri-ciri panjang maksimal (TL)18 cm, sekilas
mirip Chaetodontidae namun dibedakan dari opercula tulang belakangnya yang kuat,
badan 2/3 hitam abu-abu dan sisinya putih, garis hitam memanjang dari kepala
hingga bawah, sebagian muka depan kuning dengan mulut biru, ekor kuning.
Habitat ikan marmut ini di daerah terumbu karang dan jarang di laut terbuka.
Range kedalaman 1-20 meter. Ikan ini banyak ditemukan Indo-west pasifik
(Indonesia-Jepang, Srilanka-timur PNG) dan termasuk pemakan sponge, tunikata dan
alga berfilamen / zoobenthos.

Sumber : Metadata fishbase(Aqua maps GBIF OBIS, 2012)

Keterangan : titik merah = penyebaran ikan marmut

Gambar 8 Peta penyebaran ikan marmut (Chaetodontoplus mesoleucus)
2.5.4 Biologi ikan kenari merah (Cheilinus fasciatus)
Klasifikasi ikan kenari merah (Bloch, 1791) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Ϯϯ


Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Labridae

Genus

: Cheilinus

Spesies

: Cheilinus fasciatus

Gambar 9 ikan kenari merah (Cheilinus fasciatus)
Ikan kenari merah termasuk dalam famili Labridae, dimana memiliki ciri-ciri:
panjang maksimal (TL) 40 cm. Bentuknya sangat mudah dikenali dengan warna
merah terang mulai dari depan dorsal sampai sirip perut dan belakang mata serta garis
vertikal dibadan belakangnya.
Habitat tempat ikan ini banyak di temukan di area laguna, karang beralga dan
di area campuran antara karang, pasir dan rubble. Kisaran kedalaman 4-40 m
Distribusi Indo-pasifik dan termasuk tipe pemakan moluska, krustasea.

Sumber : Metadata fishbase (Aqua maps GBIF OBIS, 2012)

Keterangan : Titik merah = penyebaran ikan kenari merah

Gambar 10 Peta penyebaran ikan kenari merah (Cheilinus fasciatus)

Ϯϰ


2.5.5 Biologi ikan betok hitam (Dischistodua pseudochrysopoecilus)
Klasifikasi betok hitam (Allen, 1974) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Perciformes

Famili

: Pomacentridae

Genus

: Dischitodus

Spesies

: Dischistodus pseudochrysopoecilus

Gambar 11 Ikan betok hitam (Dischistodua pseudochrysopoecilus)
Ikan betok hitam (Neoglyphidodon melas) memiliki panjang maksimal 18
(TL) cm. Pada saat juvenil badan biru terang dengan garis kuning besar dari mulut
hinggga sirip dorsal serta sirip perut dan anal ujungnya biru kehitaman. Pada saat
dewasa berwarna hitam kebiruan. Perubahan warna terjadi pada ukuran 5-6 cm.
Habitat ikan ini daerah karang dan karang berbatu, biasa juga di anemone, di sekitar
bulu babi dan karang bercabang. Kisaran kedalaman 1-55 m
Distribusi ikan ini Indo-Pacific: Red Sea dan timur Afrika, Pulau Pitcairn,
utara Jepang, selatan Sydney, Australia. Ikan ini tidak ditemukan di Hawai. Habitat
ikan betok hitam ini akan berpindah atau berbeda ketika juvenil dan dewasa. Pada
saat juvenil ikan ini hidup di karang bercabang namun, pada saat dewasa banyak
ditemukan di area laguna-lereng karang. Ikan ini adalah pemakan bentik alga,
zoobenthos, zooplankton (Setiawan, 2010).

Ϯϱ


Sumber : Metadata fishbase (Aqua maps GBIF OBIS, 2012)

Keterangan : Titik merah= penyebaran ikan betok hitam

Gambar

12

Peta penyebaran ikan
pseudochrysopoecilus)

betok

hitam

(Dischistodus

2.6 Hubungan Panjang dan Berat Ikan
Panjang ikan dapat diukur dengan menggunakan sistem metrik (Effendie,
1979). Ada tiga macam pengukuran, yaitu:
1) Panjang total atau panjang mutlak, ialah panjang ikan yang diukur mulai dari
ujung terdepan bagian kepala sampai ujung terakhir bagian ekornya.
2) Panjang cagak atau fork length, ialah panjang ikan yang diukur dari ujung terdepan
sampai ujung bagian luar lekukan ekor.
3) Panjang standar atau panjang baku, ialah panjang ikan yang diukur mulai dari
ujung terdepan dari kepala sampai ujung terakhir dari tulang punggungnya. Ujung
itu letaknya sebelum pangkal jari-jari sirip ekor.
Menurut Effendie (1979), alat pengukur ikan yang baik digunakan untuk di
lapangan adalah alat pengukur yang terbuat dari kayu. Bentuk yang perlu
diperhatikan dari alat ini adalah bagian depannya, yaitu tempat menempel dari bagian
depan ikan harus bertepatan dengan angka nol, sedangkan untuk penimbangan,
diusahakan yang praktis dan tidak mudah rusak tetapi ketelitiannya cukup tinggi. Dari
beberapa macam alat penimbang ikan, yang paling tepat adalah timbangan duduk
atau gantung yang dapat langsung menunjuk berat ikan yang ditimbang.

Ϯϲ


Hasil studi hubungan panjang dan berat ikan memungkinkan nilai panjang ikan
berubah ke harga berat ikan atau sebaliknya. Berat ikan dapat dianggap sebagai suatu
fungsi dari panjangnya dan hubungan panjang-berat ini hampir mengikuti hukum
kubik yang dinyatakan dengan rumus: W = aL3 (W adalah berat ikan, L adalah
panjang ikan dan a adalah konstanta). Hal tersebut disertai dengan anggapan bahwa
bentuk serta berat jenis ikan itu tetap selama hidupnya. Tetapi karena ikan itu
tumbuh, dimana bentuk tubuh, panjang dan beratnya selalu berubah, maka menurut
Effendie (1979), persamaan umumnya adalah W = aLb (a dan b adalah konstanta).
Logaritma persamaan tersebut menjadi: log W = log a + b log L yang menunjukkan
hubungan linier (Effendie, 1979).

2.7 Rumpon (Fish Aggregating Device)
Rumpon adalah suatu benda menyerupai pepohonan yang ditanam di suatu
tempat di laut. Rumpon merupakan alat pemikat ikan yang digunakan untuk
mengkonsentrasikan ikan sehingga operasi penangkapan ikan dapat dilakukan dengan
mudah (Subani, 1972). Cara pengumpulan ikan dengan pikatan berupa benda
terapung tersebut, menurut Bergstrom diacu dalam Sondita (1986) merupakan salah
satu bentuk dari Fish Agregating Device, yaitu metode benda atau bangunan yang
dipakai sebagai sarana untuk penangkapan ikan dengan cara memikat dan
mengumpulkan ikan-ikan tersebut.
Rumpon atau lure merupakan alat bantu penangkapan ikan yang fungsinya
sebagai pembantu untuk menarik perhatian ikan agar berkumpul di suatu tempat yang
selanjutnya diadakan penangkapan. Prinsip lain penangkapan ikan dengan alat bantu
rumpon disamping berfungsi sebagai pengumpul kawanan ikan, pada hakekatnya
adalah agar kawanan ikan tersebut mudah ditangkap sesuai dengan alat tangkap yang
dikehendaki. Selain itu dengan adanya rumpon, kapal penangkap ikan dapat
menghemat waktu dan bahan bakar, karena tidak perlu lagi mencari dan mengejar
gerombolan-gerombolan ikan (Subani, 1986).
Subani (1986) menerangkan bahwa biasanya kegiatan penangkapan di sekitar
rumpon dilakukan setelah sepuluh hari rumpon tersebut dipasang. Beberapa hari

Ϯϳ


setelah rumpon ditanam dan bila diketahui bahwa di sekitar rumpon tersebut banyak
kerumunan ikan kemudian diadakan penangkapan. Beberapa jenis ikan pelagis yang
berkumpul di sekitar rumpon antara lain ikan terbang, layang, selar, kembung, bawal,
lemuru, cakalang, tuna dan sebagainya. Alat tangkap yang dapat digunakan antara
lain pancing, payang dan pukat cincin.
Rumpon selama ini lebih banyak dikenal nelayan Indonesia sebagai alat bantu
untuk mengumpulkan ikan (fish aggregating device atau FAD), sehingga operasi
penangkapan ikan menjadi lebih efektif dan efisien (Sondita 1986; Monintja 1993).
Individu ikan yang tersebar atau kawanan ikan yang bergerak bebas, baik ketika
melakukan ruaya (migrasi) maupun sedang berada di suatu tempat, dirangsang oleh
nelayan agar berhenti, menetap atau berada tidak jauh dari lokasi yang diinginkan
nelayan, yaitu tempat pemasangan rumpon atau lampu pemikat. Teknik manipulasi
tingkah laku ikan ini telah lama diterapkan oleh nelayan-nelayan di tanah air dan
kawasan Asia Tenggara ketika mereka menangkap ikan-ikan pelagis yang biasa
membentuk gerombolan atau fish schools atau fish shoals. Hasil atau output dari
penggunaan rumpon ini tentu saja ikan yang jumlahnya tergantung pada beberapa
faktor, seperti di antaranya adalah jumlah ikan yang berkumpul di sekitar rumpon dan
keefektivan alat penangkapan ikan yang digunakan nelayan.
Faktor pertama berkaitan dengan dimensi bagian atraktor, kesesuaian tempat
pemasangan rumpon dengan jalur migrasi ikan, dan kelimpahan ikan yang ada di
perairan tempat pemasangan rumpon. Faktor kedua tersebut ditentukan oleh dimensi
alat tangkap dan cara atau metode penangkapan ikan yang diterapkan. Jika sejumlah
ikan yang berkumpul di sekitar rumpon maka hasil tangkapan tidak akan melebihi
jumlah tersebut. Jika alat tangkap sangat efektif maka semua ikan yang berkumpul
pada atau sekitar rumpon akan berhasil ditangkap.
Manfaat atau outcome dari penggunaan rumpon dalam operasi penangkapan
ikan telah diketahui, seperti dijelaskan oleh Monintja dan Mathews (1999). Manfaat
tersebut diantaranya adalah meningkatkan peluang keberhasilan operasi penangkapan
ikan dan efisiensi dalam arti penghematan biaya operasi penangkapan ikan. Hal lain
dari penggunaan rumpon adalah bukti adanya suatu pengelolaan pada kawasan atau

Ϯϴ


daerah penangkapan ikan, yang minimal dicerminkan oleh adanya pengakuan
masyarakat terhadap hak pemilik rumpon pada ikan-ikan yang berkumpul di sekitar
rumpon
Faktor penyebab berkumpulnya kawanan ikan di sekitar rumpon telah
menjadi topik penelitian sejak lama (Monintja et al., 2003). Faktor pertama adalah
ikan berkumpul karena mereka tertarik terhadap benda-benda terapung atau sifat yang
disebut thigmotaxis. Benda-benda terapung tersebut akan terlihat signifikan oleh
biota air yang mengandalkan panca indera penglihatan dibandingkan dengan kolom
air yang homogen. Semakin besar ukuran dan semakin kontras benda-benda tersebut
dalam lingkungan maka akan semakin mudah ikan mendeteksi atau mengetahuinya.
Tentu saja, kemudahan terlihat benda-benda tersebut juga ditentukan oleh daya
penglihatan ikan. Daya penglihatan ikan tersebut ditentukan oleh umur atau tingkat
perkembangan tubuh ikan. Faktor kedua adalah ikan berkumpul untuk keperluan
mencari makan. Ikan-ikan tersebut mencari makanan atau mangsa dan akhirnya
mendapatkannya di pada atau di sekitar rumpon karena rumpon menjadi habitat
berbagai jenis biota laut yang menjadi makanannya (Menard et al., 2000). Kedua
faktor tersebut secara bersama-sama menyebabkan terjadinya akumulasi individuindividu ikan menjadi kawanan ikan yang didukung oleh sebuah jaringan makanan
(foodweb) dan konstruksi rumpon, terutama bagian atraktor. Foodweb yang terbentuk
karena adanya rumpon tersebut dapat dipelajari lebih jauh, sama seperti penelitian
terhadap suatu ekosistem. Untuk mengembangkan usaha di bidang penangkapan ikan
tidak terlepas dari pengetahuan yang cukup tentang tingkah laku ikan yang hendak
ditangkap baik secara individu maupun berkelompok. Pengetahuan tentang tingkah
laku ikan adalah merupakan dasar dari metoda-metoda penangkapan yang ada, dan
juga merupakan kunci bagi perbaikan metoda penangkapan yang telah diketahui,
serta penemuan-penemuan dari metoda yang baru (Gunarso, 1974).
Dalam hal pikat memikat ikan, Gunarso (1985) mengungkapkan hal tersebut
dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain : rangsangan kimia, rangsangan
terhadap penglihatan, rangsangan terhadap pendengaran, rangsangan dengan
menggunakan aliran listrik dan rangsangan dengan menyediakan tempat belindung.

Ϯϵ


Asikin (1985) mengemukakan bahwa keberadaan ikan di sekitar rumpon
karena berbagai sebab, antara lain :
1. Ikan-ikan itu senang bersembunyi di bawah bayang-bayang daun rumpon;
2. Rumpon itu sebagai tempat berpijah bagi beberapa jenis ikan tertentu;
3. Rumpon sebagai tempat berteduh bagi beberapa jenis ikan tertentu;
4. Rumpon itu sebagai tempat berteduh bagi beberapa jenis ikan yang
mempunyai sifat fototaksis negatif.
Hunter dan Mitchell diacu dalam Laevastu dan Hela (1970) menjelaskan
bahwa ikan yang berukuran kecil pertama kali tertarik di sekitar rumpon, kemudian
disusul ikan berukuan besar. Rumpon merupakan suatu arena makan dan dimakan
yang terjadi sesuai dengan rantai makanan. Permulaan terjadinya arena ini dimulai
dengan tumbuhnya bakteri dan mikroalga ketika rumpon pertama kali dipasang.
Kemudian mahluk renik ini bersama dengan hewan-hewan kecil menarik perhatian
ikan-ikan pelagis ukuran kecil.

Ikan-ikan pelagis ini

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Efektivitas Terumbu Buatan Berbahan Dasar Tempurung Kelapa sebagai Fish Aggregating Device di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu