Pengaruh Penggunaan berbagai Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan Caisim (Brassica juncea L)

1

I.

1.1.

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang berarti pertanian memegang

peranan penting dalam mendukung sektor ekonomi, sosial, dan budaya bangsa.
Dalam rangka mendukung peningkatan sektor pertanian maka dilakukan berbagai
upaya di antaranya adalah melalui program intensifikasi pertanian berupa
pengelolaan pemupukan. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk
menyebabkan meningkat pula kebutuhan konsumsi pangan, sehingga menjadikan
pupuk bagian dari rantai suplai pangan.
Iklim tropis Indonesia menjadi salah satu faktor terjadinya pencucian hara
berlangsung dengan cepat. Hal tersebut secara umum dapat menurunkan tingkat
kesuburan tanah sehingga menjadi faktor pembatas dalam pengusahaan pertanian
jangka panjang. Untuk mencapai produktivitas yang optimal, tanaman
membutuhkan tanah yang produktif, subur, dan kaya akan unsur hara.
Penggunaan pupuk merupakan salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas
tanaman dengan cara memberikan sejumlah unsur hara kepada tanaman dengan
tepat dan seimbang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal
tanaman.
Pupuk dijual di pasaran dengan beragam pilihan berdasarkan bentuk,
senyawa, cara penggunaan, dan sebagainya. Kandungan hara yang lengkap serta
praktis dalam pemakaian menjadi pertimbangan dalam memilih pupuk.
Berdasarkan hal tersebut, pupuk daun dapat menjadi salah satu alternatif dalam
pemupukan. Menurut Harjowigeno (2003), pupuk daun merupakan salah satu
jenis pupuk anorganik yang cara pemberiannya dilakukan dengan penyemprotan
ke daun. Kelebihan dari pupuk daun adalah penyerapan hara melalui stomata
berjalan cepat sehingga perbaikan tanaman cepat terlihat.
Selain pupuk anorganik, pupuk daun yang umum digunakan petani saat ini
di antaranya berasal dari limbah organik. Mengingat Indonesia memiliki populasi
ternak yang cukup banyak dan beragam, limbah ternak dapat dijadikan sumber
pupuk daun organik sebagai alternatif dalam memilih pupuk untuk meningkatkan
produktivitas.

Salah satu ternak yang berpotensi adalah kambing Kacang.

2

Limbah urin kambing Kacang dapat dijadikan sebagai pupuk daun. Selain itu
dapat pula dibuat sebagai pupuk tiruan berdasarkan kandungan hara yang terdapat
pada urin kambing Kacang.
Penelitian ini merupakan suatu kajian untuk mengetahui efektivitas
berbagai jenis pupuk, khususnya pupuk daun, baik yang beredar di pasaran
maupun yang dibuat secara alami untuk menunjang pertumbuhan optimal
tanaman.

Pupuk daun yang digunakan adalah pupuk anorganik dan akan

dibandingkan dengan pupuk organik.
Caisim digunakan sebagai tanaman uji untuk melihat pengaruh
penggunaan berbagai pupuk di atas. Caisim tergolong ke dalam famili Cruciferae
dan dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Pertumbuhan caisim
dipengaruhi oleh faktor eksternal, fisiologis dan genetik tanaman. Tanaman ini
menekankan daun dan batang sebagai unsur produksi dan konsumsi.

1.2.

Tujuan
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membuat pupuk daun artifisial dan

dibandingkan dengan pupuk lainnya untuk mengetahui pupuk daun terbaik dalam
meningkatkan produktivitas tanaman.

3

II.

2.1.

TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Pupuk
Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004), pupuk adalah bahan untuk

diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak langsung guna mendorong
pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya,
sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman sedangkan pemupukan artinya
pemberian pupuk kepada tanaman atau kepada tanah dan substrat lainnya.
Penggolongan pupuk umumnya didasarkan pada asal, senyawa, bentuk, cara
penggunaan, jumlah unsur hara yang dikandung, dan jumlah unsur hara yang
dibutuhkan tanaman.
2.1.1. Klasifikasi Berdasarkan Asal
1) Pupuk alam, yakni pupuk yang terbentuk di alam dan dipakai tanpa atau
dengan sedikit proses, di antaranya berupa pupuk kandang, pupuk hijau,
gambut, serasah, lumpur, tinja, abu, kapur, batuan, fosfat, dan sebagainya.
2) Pupuk buatan, yakni pupuk yang diproduksi dengan teknologi khusus di
pabrik, melalui perubahan-perubahan kimia dari pupuk alam atau dari bahan
dasar sederhana (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
2.2.2. Klasifikasi Berdasarkan Tipe Senyawa Kimia
1) Pupuk organik, yaitu pupuk yang mengandung satu atau lebih senyawa
organik tetapi dalam tanah segera diubah menjadi senyawa anorganik melalui
proses amonifikasi (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
2) Pupuk anorganik atau mineral, merupakan pupuk yang dibuat di pabrik secara
kimia dan mengandung satu atau lebih senyawa anorganik (Kasno, 2009).
2.2.3. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk
1) Pupuk padat, yakni pupuk yang umumnya mempunyai kelarutan beragam
mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut air.
2) Pupuk cair, yakni pupuk yang berupa cairan yang cara penggunaannya
dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Umumnya, pupuk ini disemprotkan ke
daun. Karena mengandung banyak hara, baik makro maupun mikro, harga
pupuk ini relatif mahal. (Yuwomo, 2010).

4

2.2.4. Klasifikasi Berdasarkan Cara Penggunaan
1) Pupuk daun, yakni pupuk yang cara pemupukan dilarutkan terlebih dahulu
dalam air, kemudian disemprotkan pada permukaan daun.
2) Pupuk akar atau pupuk tanah, yakni pupuk yang diberikan ke dalam tanah di
sekitar akar agar diserap oleh akar tanaman (Yuwomo, 2010).
2.2.5. Klasifikasi Berdasarkan Jumlah Unsur Hara yang Dikandung Pupuk
1) Pupuk Tunggal, yaitu pupuk yang hanya mengandung satu macam unsur
pupuk (N, P, K).
2) Pupuk majemuk, yakni pupuk yang mengandung beberapa unsur pupuk.
Pupuk majemuk dibuat melalui proses dekomposisi kimia di pabrik atau
dicampur.

Komposisi dan kadar dari pupuk majemuk dibuat berdasarkan

kebutuhan (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
2.2.6. Klasifikasi Berdasarkan Jumlah Unsur Hara yang Dibutuhkan
Tanaman
1) Pupuk makro, yakni pupuk yang mengandung hara makro saja, misalnya
NPK.
2) Pupuk mikro, yakni pupuk yang hanya mengandung hara mikro saja, misalnya
mikrovet, mikroplek, dan metalik.
3) Campuran makro dan mikro, misalnya pupuk gandasil, bayfolan, dan rustika
(Yuwomo, 2010).

2.2. Urin Kambing Kacang sebagai Pupuk Organik
Pangan organik makin diminati sejalan dengan meningkatnya kesadaran
masyarakat

akan kelestarian

lingkungan.

Sejalan dengan

meningkatnya

permintaan bahan pangan organik maka kebutuhan akan pupuk organik makin
bertambah pula. Salah satu alternatif dalam menyediakan pupuk organik adalah
dengan memanfaatkan limbah ternak, baik diolah terlebih dahulu maupun
langsung digunakan pada tanaman. Ternak yang berpotensi dalam menghasilkan
pupuk organik adalah kambing Kacang. Petani umumnya memelihara kambing
sebagai usaha sampingan.
Menurut Devendra dan Burn (1994), kambing Kacang (Capra aegagrus
Hiras) merupakan kambing yang tahan derita, lincah, dan mampu beradaptasi

5

dengan baik dan tersebar luas di wilayah Indonesia.

Kambing Kacang pada

umumnya berwarna hitam, kadang-kadang dengan beberapa bercak putih.
Tanduknya berbentuk pedang lengkung, melengkung ke atas dan ke belakang, dan
tumbuh dengan baik pada kedua jenis kelamin. Umumnya memiliki telinga
pendek dan tegak, janggut selalu terdapat pada hewan jantan namun jarang
terdapat pada hewan betina. Lehernya pendek dan punggungnya melengkung
sedikit lebih tinggi daripada bahunya serta mempunyai bulu surai yang panjang
dan kasar.

Kegunaan utama dari kambing Kacang adalah sebagai penghasil

daging.
Menurut Ensminger (2001), pakan yang diberikan untuk ternak kambing
harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan bereproduksi. Kebutuhan nutrisi
yang diperlukan kambing ialah energi, protein, mineral, vitamin, dan air. Jumlah
pakan yang diberikan tergantung pada ukuran tubuh, kondisi kambing (masa
pertumbuhan, bunting, dan laktasi), dan jenis kelamin.
Kajian

mengenai

limbah kambing berupa urin dilakukan untuk

mengetahui kandungan hara yang terkandung di dalamnya melalui analisis di
laboratorium.

Tabel 1 berikut ini menunjukkan unsur hara yang terkandung

dalam pupuk urin dan kompos cair dari limbah kambing.
Tabel 1. Kandungan Unsur Hara Pupuk Urin dan Kompos Cair dari
Limbah Kambing
Kandungan hara
Jenis Bahan
N
P
K
C-organik
(%)
(ppm)
(ppm)
(ppm)
Tanpa perlakuan
0.34
94
759
3390
Urin
Dengan perlakuan
0.89
89
1770
3773
Kompos
Tanpa perlakuan
0.27
69
422
2811
cair
Dengan perlakuan
1.22
84
962
3414
Keterangan
Perlakuan pada urin : fermentasi 7 hari, pemutaran 6 jam
Perlakuan pada feses : fermentasi 7 jam
Sumber: Lundra (2008)

Konsentrasi amonia dalam rumen tergantung pada kelarutan dan jumlah
protein pakan. Protein pakan yang didegradasi menjadi asam amino akan
mengalami proses perubahan menjadi asam organik, CO2 dan NH3. Senyawa
NH3 yang dihasilkan dapat diubah menjadi protein mikroba kemudian mengalir ke
abomasum, usus halus, dan hati. Senyawa NH3 yang masuk ke dalam hati diubah

6

menjadi urea, urea yang dihasilkan sebagian akan masuk kembali ke dalam rumen
melalui saliva ataupun dinding rumen dan sebagian lagi akan diekresikan melalui
urin.

2.3. Pupuk Daun sebagai Pupuk Buatan
Pupuk buatan merupakan pupuk yang dibuat di pabrik secara kimia dan
dapat berupa senyawa organik maupun anorganik. Pupuk anorganik dapat
dikelompokkan berdasarkan jumlah hara yang menyusunnya, yaitu pupuk tunggal
dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal merupakan pupuk yang mengandung hanya
satu unsur hara sedangkan pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung
lebih dari satu unsur hara (Kasno, 2009).
Pupuk daun adalah pupuk majemuk yang dapat diberikan melalui daun
karena daun merupakan salah satu organ tanaman yang dapat menyerap unsur
hara. Pemupukan lewat daun dapat dilakukan pada beberapa jenis pupuk yang
larut dalam air.

Lingga dan Marsono (2004) menyatakan, pupuk daun ada dua

bentuk yaitu: cair dan padat.
Keuntungan dari pemupukan melalui daun di antaranya dapat memberikan
hara sesuai kebutuhan tanaman, penyerapan hara pupuk yang diberikan berjalan
lebih cepat dibandingkan pupuk yang diberikan melalui akar. Kelarutan pupuk
daun lebih baik dibanding pupuk akar, pemberiannya dapat lebih merata,
kepekatannya dapat diatur sesuai pertumbuhan tanaman, dapat menghindari
hilangnya unsur hara akibat pencucian dan volatilisasi sebelum dapat diserap oleh
akar atau mengalami fiksasi dalam tanah yang berakibat tidak dapat lagi diserap
oleh tanaman, serta dapat menjaga struktur tanah tetap remah atau gembur.
Penggunaan pupuk daun juga memiliki kekurangan, di antaranya adalah tidak
semua pupuk daun dapat digunakan untuk tanaman yang langsung dikonsumsi,
jumlah unsur yang diberikan terbatas, laju penetrasi rendah (terutama pada daun
dengan kutikula tebal), adanya aliran permukaan pada permukaan hidrofobik,
larutan pupuk yang disemprotkan cepat kering dan konsentrasi atau dosis yang
terlalu tinggi dapat menyebabkan keracunan.
oleh air, terutama oleh air hujan.

Pupuk daun juga mudah tercuci

7

Pemupukan lewat daun sangat menguntungkan bila tanaman dihadapkan
pada kondisi: ketersediaan hara di tanah sangat rendah, topsoil kering, dan terjadi
penurunan aktivitas akar selama fase reproduktif. Dosis dan waktu penyemprotan
adalah hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pupuk daun. Dosis yang
tepat untuk setiap tanaman berbeda sesuai dengan jenis dan usia tanaman.
Pemberian pupuk daun yang tepat adalah antara jam 7-9 pagi atau 3-5 sore dengan
catatan tidak terjadi hujan. Pemberian pupuk daun sebaiknya tidak diberikan pada
malam hari, panas terik, atau menjelang hujan. Pupuk daun sebaiknya diberikan
pada saat ada cahaya matahari karena cahaya secara langsung merangsang
penyerapan hara melalui daun (Lingga dan Marsono, 2004).

2.4. Unsur Hara Pupuk
2.4.1. Unsur Makro
Unsur hara makro adalah unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam
jumlah banyak. Ada enam unsur hara makro, yaitu nitrogen (N), fosfor (P),
kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S).
a.

Nitrogen
Sebagian besar nitrogen (N) tanah berada dalam bentuk N organik maka

pelapukan N organik merupakan proses menjadikan N tersedia bagi tanaman.
Senyawa N dibebaskan dalam bentuk amonium, dan bila keadaan baik amonium
dioksidasikan menjadi nitrit kemudian nitrat (Soepardi, 1983). Senyawa N
digunakan tanaman untuk membentuk asam amino yang akan diubah menjadi
protein dan membentuk klorofil serta berperan dalam memperbaiki pertumbuhan
vegetatif tanaman. Tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N akan
berwarna lebih hijau. Gejala kekurangan N akan menyebabkan tanaman menjadi
kerdil, pertumbuhan tanaman terbatas, daun-daun menguning, dan gugur. Gejala
kelebihan N menyebabkan keterlambatan kematangan tanaman yang diakibatkan
terlalu banyaknya pertumbuhan vegetatif, batang lemah dan mudah roboh serta
mengurangi daya tahan tanaman terhadap penyakit (Hardjowigeno, 2003).
b.

Fosfor (P)
Mobilitas hara P dalam tanah sangat rendah karena reaksi dengan

komponen tanah maupun dengan ion–ion logam dalam tanah seperti Ca, Al, Fe,

8

dan lain–lain membentuk senyawa yang kurang larut dengan tingkat kelarutan
berbeda–beda. Reaksi tanah (pH) memegang peranan sangat penting dalam
mobilitas unsur ini (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
Unsur P berperan dalam proses pemecahan karbohidrat untuk energi,
Penyimpanan dan peredarannya ke seluruh tanaman dalam bentuk ADP dan ATP,
merangsang pembelahan sel melalui peranan nukleoprotein yang ada dalam inti
sel, menentukan pertumbuhan akar seta mempercepat kematangan dan produksi
buah dan biji (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).

Gejala defisiensi unsur P

mengakibatkan pertumbuhan terhambat (kerdil) karena pembelahan sel terganggu
dan daun menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun (Hardjowigeno, 2003).
c.

Kalium (K)
Kalium merupakan unsur kedua terbanyak setelah nitrogen dalam

tanaman.

Unsur K diserap dalam bentuk kation K monovalensi.

Unsur K

berperan dalam pembelahan sel, pembukaan stomata, fotosintesis (pembentukan
karbohidrat), translokasi gula, reduksi nitrat dan selanjutnya sintesis protein serta
dalam aktivitas enzim. Unsur K juga merupakan unsur logam yang paling banyak
terdapat dalam cairan sel sehingga dapat mengatur keseimbangan garam–garam
atau mengatur tekanan osmotik dalam sel tanaman sehingga memungkinkan
pergerakan air ke dalam akar. Tanaman yang kekurangan unsur K akan kurang
tahan kekeringan dibandingkan dengan yang cukup K, lebih peka terhadap
penyakit dan kualitas produksi biasanya rendah baik daun, buah, maupun biji
(Soepardi, 1983). Unsur K mudah bergerak (mobile) di dalam tanaman sehingga
gejala defisiensi unsur K pada daun terutama terlihat pada daun tua, karena daundaun muda yang masih tumbuh dengan aktif menghisap K dari daun–daun tua.
Selain itu gejala defisiensi unsur K menyebabkan pinggir–pinggir daun berwarna
coklat, mulai dari daun tua (Hardjowigeno, 2003).
d.

Kalsium (Ca)
Kalsium merupakan bagian dari setiap sel tanaman. Sebagian besar

terdapat dalam bentuk kalsium pektat di dalam dan di sepanjang dinding sel
tanaman. Penyebaran unsur Ca di dalam tanaman tidak merata, bagian produktif
yaitu bunga dan biji mengandung sedikit unsur Ca sedangkan daun berkadar
tinggi. Peranan unsur Ca dalam tanaman di samping sebagai penguat dinding sel,

9

juga mendorong perkembangan akar, memperbaiki vigor tanaman dan kekuatan
daun, merangsang proses pemanjangan sel, sintesis protein dan mitosis.
Kekurangan unsur Ca menunjukkan gejala pembengkokan daun–daun muda dan
akar muda, akar memendek, membengkak dan menyatu (Leiwakabessy dan
Sutandi, 2004).
e.

Magnesium (Mg)
Magnesium diambil tanaman dalam bentuk ion Mg

2+

, terutama berperan

sebagai penyusun klorofil. Secara umum rata-rata menyusun 0,2% bagian
tanaman. Sebagian besar terdapat di daun tetapi sering dijumpai dalam proporsi
cukup banyak pada bagian bebijian padi, jagung, sorghum, kedelai, dan kacang
tanah. Kekurangan unsur Mg dapat menyebabkan pucuk bagian di antara jari-jari
daun tampak tidak berwarna. Kondisi ini akan tampak pertama kali di bagian
bawah daun, kemudian meningkat ke bagian atas.

Sementara itu daun akan

berbentuk tipis, tampak mengering dan melengkung ke atas (Hadisuwito, 2007).
f.

Sulfur (S)
Seperti pada unsur P dan K, sulfur (S) juga berperan dalam proses sintesis

protein, memperkeras protoplasma untuk daya tahan terhadap kekeringan dan
hawa dingin, menyusun asam amino sistein dan metionin, serta penyusun koenzim
A dan vitamin-vitamin tertentu.

Sulfur juga berfungsi memperlancar kinerja

unsur lain dan memproduksi energi (Budiana, 2007).

2.4.2. Unsur Mikro
Unsur mikro dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit. Namun unsur ini
harus selalu tersedia di dalam jaringan tanaman. Unsur-unsur mikro itu adalah
besi (Fe), tembaga (Cu), boron (B), mangan (Mn), molybdenum (Mo), klor (Cl),
dan seng (Zn). Bila tanaman kekurangan salah satu unsur mikro maka
pertumbuhannya akan terganggu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa unsur
mikro merupakan unsur esensial bagi tanaman (Budiana, 2007).
a.

Boron (B)
Boron (B) berperan penting dalam pertumbuhan tanaman untuk

mengangkut karbohidrat dari daun ke bagian jaringan lain. Boron juga berperan
dalam pembelahan sel sehingga bagian-bagian tanaman dapat tumbuh aktif. Pada

10

fase generatif, Boron sangat mempengaruhi perkembangan serbuk sari
(Budiana, 2007).
b.

Tembaga (Cu)
Tembaga diambil tanaman dalam bentuk ion kupri Cu2+ dan molekul

kompleks organik. Bentuk–bentuk ini dapat diambil melalui daun sehingga untuk
mengatasi kekurangan Cu biasanya dilakukan penyemprotan pada daun.
Tembaga berfungsi sebagai aktivator untuk berbagai enzim dan photosynthetic
electron

transport

serta

dalam

pembentukan

nodul

(tidak

langsung)

sistem

enzim

arginase

(Leiwakabessy, Wahjudin, dan Suwarno, 2003) .
c.

Mangan (Mn)
Mangan

merupakan

komponen

dari

phototransferase, berperan dalam menggantikan unsur Mg dalam banyak enzim
glikolisis (metabolisme gula), dan dalam fotosintesis khusus dalam revolusi
oksigen, transport electron, dan sebagainya.

Defisiensi unsur Mn umumnya

ditemukan pada tanah–tanah dengan kandungan bahan organik dan pH tinggi,
tanah–tanah yang sangat tercuci kemudian dikapur, dan tanah–tanah yang selalu
tergenang air kemudian dikeringkan (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
d.

Seng (Zn)
Reaksi Zn dengan senyawa organik menghasilkan senyawa kompleks yang

stabil antara lain dengan karboksilat dan fenolat. Namun bentuk ini masih dinilai
lebih baik dibandingkan dengan pengikatan oleh tanah mineral, karena dapat
dimanfaatkan tanaman. Oleh karena itu penambahan bahan organik ke tanah
dapat meningkatkan ketersediaan unsur Zn di tanah, selain penambahan dari
bahan organik sendiri.

Defisiensi Zn terjadi pada tanah yang dipupuk berat

dengan P. Pada tanah yang kekurangan Zn penyerapan unsur P tidak dapat
dikendalikan tanaman sehingga pada dosis P yang tinggi akan terjadi keracunan P
dengan gejala seperti kekurangan Zn (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).
e.

Besi (Fe)
Besi merupakan hara mikro yang cukup banyak terdapat dalam kerak bumi

dalam bentuk Fe (III) –oksida, –silikat, –sulfida, dan karbonat. Kehadiran bentukbentuk tersebut ditentukan oleh keadaan lingkungannya. Pada kondisi oksidatif,
bentuk Fe(III) yang terutama dijumpai karena bentuk FeO dan Fe(II) diubah ke

11

dalam bentuk tersebut. Sebaliknya dalam keadaan reduktif, akibat tergenang atau
pengaruh bahan organik, Fe(III) akan diubah menjadi Fe(II).
Tanaman mengambil besi dalam bentuk Fe2+, Fe3+ , dan Fe-khelat seperti
NaFe dan EDTA. Peranan Fe dalam tanaman banyak antara lain mempertahankan
klorofil dalam daun, metabolisme RNA dari kloroplas, merupakan bagian penting
dari haemoglobin, sitokrom dan komponen-komponen lain dari sistem respirasi
enzim, dan berperan melalui sejenis protein yaitu ferredoxin (Leiwakabessy dan
Sutandi, 2004).
f.

Molybdenum (Mo)
Bagi tanaman, unsur ini membantu mengikat nitrogen dari udara bebas.

Hal ini karena unsur Mo menjadi komponen pembentuk enzim pada bintil akar
(Budiana, 2007).
g.

Klor (Cl)
Klor dibutuhkan tanaman pada fase vegetatif maupun fase generatif. Klor

sangat

penting

untuk

mengeluarkan

oksigen

dari

hasil

fotosintesis

(Budiana, 2007).

Caisim (Brassica juncea L)

2.5.

Menurut Rubatzky dan Yamaguchi (1998), Brassica juncea L dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi

: Spermathophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Ordo

: Crassicales

Famili

: Cruciferae

Genus

: Brassica

Spesies

: Brassica juncea
Brassica juncea tampaknya berasal dari wilayah tengah Asia, dekat kaki

pegunungan Himalaya. Brassica juncea adalah tanaman setahun yang menyerbuk
sendiri, umumnya tahan terhadap suhu rendah, dan dikenal luas sebagai sawi
India, sawi coklat atau sawi kuning. Klasifikasi anggota Brassica juncea amat
membingungkan karena terdapat berbagai bentuk yang berbeda. Brassica juncea

12

memiliki beberapa varietas dan banyak bentuk dan hasil seleksi terutama di Asia
Tenggara (Williams et al., 1993).
Ada dua tipe penting pada Brassica juncea dari banyak varietas dan
bentuk dan hasil seleksi, terutama yang berada di daerah Asia Tenggara. Yang
pertama Brassica juncea var. sareptana yang diusahakan sebagai pertanaman
musim dingin di Hongkong. Adapun tipe lain yaitu Brassica juncea var. ruqosa
merupakan sayuran daun yang tumbuh cepat (60-90 cm) dengan daun-daun
berlilin. Banyak kultivar tersedia di Asia Tenggara (Taiwan, Hongkong,
Singapura) dan sayuran ini diusahakan sangat luas di bagian-bagian ini
(Williams et al., 1993).
Brassica juncea dapat tumbuh baik di tempat yang berudara panas maupun
berudara dingin sehingga dapat diusahakan di daerah dataran tinggi maupun
dataran rendah namun akan lebih baik jika ditanam di dataran tinggi. Daerah
penanaman yang cocok adalah pada ketinggian 5-1200 mdpl, namun biasanya
Brassica juncea dibudidayakan di daerah berketinggian 100–300 mdpl. Tanaman
ini tergolong tahan terhadap air hujan sehingga dapat ditanam sepanjang tahun.
Selama pertumbuhannya tanaman ini memerlukan hawa yang sejuk maka akan
lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Tanaman ini juga
tidak cocok pada air yang menggenang, sehingga tanaman ini cocok bila ditanam
pada akhir musim penghujan. Brassica juncea sangat cocok ditanam pada tanah
gembur yang bertekstur lempung dan banyak mengandung humus, subur, serta
pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman optimum untuk pertumbuhan
Brassica juncea berkisar antara 6-7 (Haryanto, 2003).
Penyakit yang menyerang tanaman ini adalah busuk basah Erwina yang
dapat menjadi parah jika tanaman terluka pada waktu kegiatan budidaya.
Penyakit akar pekuk dapat menjadi sangat parah dan menyebabkan pertumbuhan
kerdil yang nyata, tetapi penyakit bercak daun Alternaria biasanya tidak menjadi
masalah. Penyakit rebah semai (Phythium spp) akan merusak jika tanaman terlalu
banyak diairi. Tanaman ini merupakan tanaman yang cepat tumbuh, oleh karena
itu pemeliharaan bedengan benih yang bersih merupakan satu-satunya persyaratan
untuk mengendalikan gulma (Williams et al., 1993).

13

2.6.

Latosol Darmaga
Menurut Dudal dan Soepraptoharjdo (1957), Latosol adalah tanah yang

berkembang dari bahan induk tufa vulkan dan turunannya. Di Indonesia, Latosol
umumnya berada pada ketinggian 0-900 mdpl, di sekeliling kipas volkan dan
kerucut volkan. Area Latosol umumnya beriklim basah dan tropikal, curah hujan
antara 2500-7000 mm/tahun, mengalami proses pencucian dan pelapukan lanjut,
perbedaan horizon tidak jelas, dengan kandungan mineral primer dan hara rendah,
pH rendah 4.5-5.5, kandungan bahan organiknya relatif rendah, konsistensinya
lemah dan stabilitas agregatnya tinggi, serta terjadi akumulasi seskuioksida dan
pencucian silika. Warna tanah merah, coklat kemerah-merahan atau kekuningkuningan atau kuning tergantung dari komposisi bahan induk, umur tanah, iklim,
dan elevasi
Latosol memiliki penyebaran yang cukup luas di Indonesia. Tanah ini di
antaranya dijumpai di daerah Darmaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Daerah

Darmaga memiliki ketinggian 220 mdpl dan memiliki curah hujan 3552
mm/tahun.

Latosol coklat kemerahan Darmaga Bogor termasuk ke dalam order

Inceptisols menurut sistem klasifikasi USDA dan terletak pada zona fisiografi
Bogor bagian barat, dengan bahan induk vulkanik kuarter berasal dari Gunung
Salak (Yogaswara, 1977).
Soepardi (1983) menyebutkan bahwa Latosol terbentuk di bawah kondisi
iklim dengan curah hujan dan suhu yang tinggi di daerah tropik dan semi tropik,
gaya-gaya hancuran bekerja lebih cepat dan yang besar pengaruhnya lebih
ekstrem dari pada di daerah sedang. Di banyak tempat di daerah tropik, musim
basah dan kering yang silih berganti sangat mengintensifkan kegiatan kimia,
terutama dari bahan organik. Proses yang berperan dalam pembentukan latosol
disebut latosolisasi yaitu proses penimbunan Fe dan pencucian Si. Beberapa
Latosol bereaksi sedang bahkan hingga sangat masam tetapi tidak semasam liat
silikat dengan presentase kejenuhan basa seperti Latosol. Tanah-tanah itu
biasanya memberikan respon baik terhadap pemupukan dan pengapuran.

14

III.

3.1.

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret 2010–Juli 2011. Pengambilan

sampel urin kambing Kacang dilakukan selama bulan Oktober–Desember 2010
dengan waktu pengambilan sampel per 10 hari dengan 3 kali ulangan. Percobaan
rumah kaca dilaksanakan di rumah plastik yang berada di belakang Laboratorium
Pengembangan Sumberdaya Fisik Lahan, Departemen Ilmu Tanah dan
Sumberdaya Lahan, Institut Pertanian Bogor. Pembuatan pupuk MTA, analisis
urin dan tanaman dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, dan
Laboratorium Pengembangan Sumberdaya Fisik Lahan, Departemen Ilmu Tanah
dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Percobaan
rumah kaca berlangsung selama bulan Desember 2010–Juni 2011.
3.2

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu contoh urin kambing

Kacang yang diambil dari peternakan kambing di Sentul dan Latosol Darmaga
yang diambil dari kebun percobaan Cikabayan, Bogor sebagai media tanam.
Pupuk yang digunakan diantaranya berupa urea, ZA, pupuk GDP, GDL, Gandasil
D, dan MTA. Pupuk GDP dan GDL adalah pupuk yang dikembangkan oleh staf
pengajar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor dan belum tersedia di pasaran. Pupuk Gandasil D adalah
pupuk yang digunakan untuk daun dan sudah tersedia di pasaran. Pupuk MTA
adalah pupuk yang dikembangkan oleh penulis yang dibuat berdasarkan
kandungan hara pada urin kambing Kacang. Benih yang digunakan adalah benih
caisim. Bahan–bahan kimia di laboratorium digunakan untuk menganalisis
tanaman dan pembuatan pupuk MTA.
Alat yang digunakan untuk pengambilan contoh tanah dan pengeringan
terdiri dari: cangkul, skop, karung, penumbuk tanah, saringan 5 mm, plastik.
Alat yang digunakan di rumah kaca terdiri dari: polybag, label, timbangan, ember,
botol semprot, kamera, dan alat tulis. Alat yang digunakan untuk analisis kadar
hara urin, pembuatan pupuk MTA dan analisis tanaman adalah gelas ukur, gelas
piala, oven, pipet volumetrik 5 ml, pipet volumetrik 1 ml, grinder tanaman,

15

mortar, labu Kjeldahl, destilator, Spectrophotometer, Flamephotometer, EC
meter, pH meter, dan AAS.
3.3.

Metode Penelitian

3.3.1. Analisis Urin Kambing Kacang
Penelitian pendahuluan ini terdiri dari pengambilan contoh urin kambing
Kacang yang diambil dari peternakan kambing di Sentul. Urin tersebut kemudian
dianalisis meliputi pengukuran pH, pengukuran EC, kandungan N-Total, nitrat
(NO3-), amonium (NH4+), P, K, Fe, Cu, Zn, Mn, Ca, dan Mg. Tabel 2 berikut
menunjukkan metode analisis yang dilakukan untuk setiap kandungan hara urin
yang dianalisis.
Tabel 2. Metode Analisis Kandungan Hara Urin
Parameter Urin
Metode Analisis
Pengukuran pH
pH meter
Kandungan N-Total
Kjeldahl
Pengukuran EC
EC meter
Kandungan nitrat (NO3-)
FIASTAR 5000
Kandungan amonium (NH4+)
FIASTAR 5000
Kandungan phospor (P)
Spectrophotometer
Kandungan kalium (K)
Flamephotometer
Kandungan besi (Fe)
AAS
Kandungan tembaga (Cu)
AAS
Kandungan seng (Zn)
AAS
Kandungan mangan (Mn)
AAS
Kandungan kalsium (Ca)
AAS
Kandungan magnesium (Mg)
AAS
3.3.2. Pembuatan Pupuk MTA
Berdasarkan hasil analisis maka didapatkan standar kandungan hara dalam
urin kambing Kacang. Pembuatan pupuk cair MTA berpedoman pada jumlah
kandungan hara yang terdapat pada urin kambing namun dalam proses
peniruannya tidak sama 100% yaitu terdapat perbedaan kadar hara pada unsur
hara P, K, dan Fe.
Pupuk cair sebagai pupuk daun yang digunakan dalam penelitian ini terdiri
dari 5 jenis mencakup 1 pupuk organik cair (pupuk cair urin kambing Kacang)
dan 4 pupuk anorganik (pupuk MTA, GDP, GDL, dan Gandasil D).

Masing-

masing memiliki kandungan hara yang berbeda. Tabel 3 berikut ini menunjukkan
kandungan hara dari masing-masing pupuk cair.

16

Tabel 3. Kandungan Hara Pupuk Daun Anorganik
Kandungan Hara (%)
Pupuk Daun
N
P
K
Unsur Tambahan
Pupuk MTA
2,80
0,30
0,36
Unsur mikro
Pupuk GDP
10,00
6,00 11,00
Mg 0,5% + Unsur mikro
Pupuk GDL
1,20
1,00
1,80
Unsur mikro
Pupuk Gandasil D
14,00
5,24 11,57
Unsur mikro
3.3.3. Rancangan Percobaan
Percobaan pot di rumah plastik merupakan percobaan faktor tunggal
dengan 6 perlakuan dengan 3 ulangan sehingga jumlah satuan percobaan
sebanyak 18. Rancangan yang dipakai adalah rancangan acak lengkap (RAL).
Perlakuan yang diperuntukkan untuk pengujian efektivitas pupuk daun ini
meliputi:
1.

Kontrol (K)

2.

Pupuk MTA (PA)

3.

Pupuk GDP (PB)

4.

Pupuk GDL (PC)

5.

Pupuk Gandasil D (PG)

6.

Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)
Dosis masing-masing pupuk cair yang diberikan pada tanaman disajikan

pada Tabel 4 berikut ini.
Tabel 4. Dosis Pupuk Cair untuk Setiap Perlakuan Percobaan
Perlakuan
Kontrol (K)
Pupuk MTA (PA)
Pupuk GDP (PB)
Pupuk GDL (PC)
Pupuk Gandasil D (PG)
Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)

Dosis
Semprot/Polybag
10 semprot
10 semprot
10 semprot
10 semprot
10 semprot
10 semprot

Dalam pengolahan data menggunakan ANOVA (Analysis of Variance)
(program SPSS 16) dan apabila berpengaruh nyata selanjutnya dilakukan analisis
lanjutan dengan menggunakan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) atau uji
wilayah Duncan pada taraf α = 5%.

17

3.3.4. Penanaman
1. Persiapan Media Tanam
Bahan tanah yang digunakan adalah Latosol Darmaga yang berasal dari
lahan Kebun Percobaan University Farm di Cikabayan, Darmaga, Bogor.
Pengambilan tanah pada dilakukan pada kedalaman 0-20 cm lalu dikering
udarakan selama 1 hari, lalu diayak dengan ayakan 5 mm. Tanah yang sudah
diayak kemudian dimasukkan ke polybag sebanyak 5 kg BKM pada 18 pot.
Bahan tanah yang sudah berada di dalam pot ditambah dengan 0,75 g Urea/pot
dan 0,5 g ZA/pot.
2. Penanaman dan Pemeliharaan
Penanaman caisim diawali dengan penyemaian. Benih tanaman caisim
terlebih dahulu ditanam di persemaian dalam bedengan kecil atau tray selama
kurang lebih 2 minggu. Benih tanaman dipindahkan ke pot setelah muncul daun
sebanyak 4 buah.

Tanaman caisim yang dipindahkan ke pot berjumlah tiga

tanaman per pot.
Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari (pagi dan sore) untuk menjaga
ketersediaan air bagi tanaman, sedangkan pemupukan dilakukan seminggu sekali
dengan cara menyemprotkan pupuk cair ke bagian bawah daun tanaman.

Selain

itu, dilakukan penyemprotan pestisida dengan menggunakan Decis dan Kelthane.
Penyemprotan dilakukan secara bergilir setiap 3 hari setelah penanaman untuk
masing-masing pestisida.
3. Pengamatan
Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel pertumbuhan
vegetatif dan produksi.

Variabel pertumbuhan tanaman yang diamati adalah

tinggi tanaman dan banyaknya helaian daun. Pengukuran tinggi tanaman
dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman mulai dari permukaan tanah sampai
dengan ujung daun tertinggi setelah diluruskan. Variabel produksi tanaman yang
diukur terdiri dari bobot basah dan bobot kering tanaman.
4. Pemanenan
Panen dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu setelah masa
tanam. Biomassa tanaman yang berupa akar, daun, dan batang dicuci hingga
bersih untuk dilakukan penimbangan berat basah, berat kering dan analisis

18

tanaman. Analisis yang dilakukan pada biomassa tanaman meliput penetapan
kadar hara N, P, K, Ca dan Mg total.
3.4.

Metode Penilaian Efisiensi Pupuk
Menurut Leiwakabessy dan Sutandi (2004) metode perhitungan efisiensi

pupuk dapat digunakan untuk menilai sampai sejauh mana tanaman dapat
memanfaatkan unsur hara yang telah diserap untuk berproduksi lebih tinggi tanpa
menambah hara yang diperlukan. Perhitungan efisiensi pupuk berdasarkan rumus
berikut ini.
Efisiensi Pupuk (%) = Serapan Hara Perlakuan–Serapan Hara Kontrol x 100%
Dosis Pupuk yang Diberikan

19

IV.

4.1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

4.1.1. Karakteristik Latosol Darmaga
Hasil analisis bahan tanah awal menunjukkan bahwa pH tanah termasuk
masam, C-organik dan N total tergolong rendah, dan KTK termasuk sedang.
Kation yang terdapat dalam kompleks jerapan termasuk ke dalamnya yaitu kationkation basa seperti K+, Mg2+, dan Na+ tergolong rendah, sedangkan kation Ca2+
nilainya tergolong sangat rendah. Kejenuhan basa yang didapatkan tergolong
rendah sedangkan kejenuhan Al tergolong sedang. Tekstur tanah yang dominan
adalah liat 77.6%, debu 17.9%, dan pasir 4.48%. Oleh karena itu dapat
disimpulkan bahwa Latosol Darmaga mempunyai kesuburan tanah yang relatif
rendah, sehingga untuk penanaman berbagai jenis tanaman pertanian aktivitas
pemupukan perlu dilakukan (Pusat Penelitian Tanah, 1983). Karakteristik tanah
yang digunakan dalam percobaan disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Karakteristik Latosol Darmaga
Sifat Tanah
Nilai
Kriteria PPT
pH H2O
5.20
Masam
pH KCl
4.30
Masam
N-Total (%)
0.15
Rendah
C-Organik (%)
1.35
Rendah
P Bray (ppm)
6.10
Rendah
Kation Dapat Dipertukarkan
K (me/100g)
0.12
Sangat rendah
Mg (me/100g)
0.51
Rendah
Ca (me/100g)
0.59
Rendah
H (me/100g)
0.12
Rendah
Na (me/100g)
0.15
Rendah
Al (me/100g)
3.86
Rendah
KTK (me/100g)
17.54
Sedang
KB (%)
7.80
Sangat rendah
Kejenuhan Al (%)
22.00
Sedang
Tekstur Tanah
Pasir(%)
4.48
Debu (%)
17.90
Liat Berat
Liat (%)
77.60
Sumber: Wahyuningtyas (2011)

20

4.1.2. Karakteristik Kambing Kacang dan Urin Kambing Kacang
Kambing Kacang yang digunakan dalam percobaan berjumlah 3 ekor
dengan jenis kelamin betina dan bobot badan berkisar antara 23-26 kg dan umur
3-4 tahun. Pakan yang diberikan hanya satu kali yaitu berupa rumput gajah dan
daun jati. Dalam pengambilan urin, waktu dan musim disamakan agar kandungan
hara yang terkandung tidak jauh berbeda. Kebersihan kandang pun perlu
diperhatikan agar tidak mengganggu aktivitas saat pengumpulan urin tidak
tercampur dengan kotoran lainnya. Karakteristik kambing Kacang yang
digunakan dalam penelitian disajikan pada Tabel Lampiran 1.
Hasil analisis urin kambing Kacang menunjukkan bahwa pH urin tergolong
basa. Kadar N-total, NH4+, dan NO3- tergolong sedang namun kandungan hara
mikro tergolong rendah. Pada Tabel 6 disajikan data kandungan hara urin
kambing Kacang.
Tabel 6. Hasil Analisis Kandungan Hara Urin Kambing Kacang
Kandungan Hara
Kambing Kacang
pH
8.04
EC (mS/cm)
24.11
+
NH4 (%)
0.71
P (ppm)
7.73
K (ppm)
199.43
NO3 (%)
1.84
N-total (%)
2.80
Fe (ppm)
Tidak diukur
Mn (ppm)
0.004
Cu (ppm)
0.038
Zn (ppm)
0.066
Ca (ppm)
1.20
Mg (ppm)
1.57
Na (ppm)
2.63
4.1.3. Pengaruh Pemupukan terhadap Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun
Tanaman
Berdasarkan uji DMRT terhadap tinggi tanaman pada minggu ke-6, hanya
perlakuan PA berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan keempat perlakuan
lainnya (PB, PC, PG, dan PU) masing-masing tidak berbeda nyata terhadap
kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian pupuk MTA dapat

21

meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman lebih baik dibandingkan dengan
keempat perlakuan lainnya. Tabel 7 menunjukkan pengaruh pemupukan terhadap
tinggi tanaman.
Tabel 7. Pengaruh Pemupukan terhadap Tinggi Tanaman
Rataan Tinggi Tanaman pada 6
MST*
Perlakuan
cm
Kontrol (K)
20.02a
Pupuk MTA (PA)
22.98 b
Pupuk GDP (PB)
22.56ab
Pupuk GDL (PC)
22.26ab
Pupuk Gandasil D (PG)
21.68ab
Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)
20.99ab
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

Berdasarkan uji DMRT terhadap jumlah daun tanaman pada minggu ke-6,
perlakuan PA, PB, dan PU berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan perlakuan
PC dan PG menunjukkan sebaliknya. Namun antara perlakuan PA, PG, dan PU
masing-masing tidak berbeda nyata. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian
pupuk MTA dan pupuk urin kambing mampu bersaing dengan pemberian pupuk
Gandasil D dalam hal pertumbuhan daun tanaman. Tabel 8 menunjukkan
pengaruh pemupukan terhadap jumlah daun tanaman.
Tabel 8. Pengaruh Pemupukan terhadap Jumlah Daun Tanaman
Rataan Jumlah Daun Tanaman pada 6
MST*
Perlakuan
Helai
Kontrol (K)
5.45a
Pupuk MTA (PA)
7.22 b
Pupuk GDP (PB)
7.78 b
Pupuk GDL (PC)
6.22ab
Pupuk Gandasil D (PG)
7.00ab
Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)
7.44 b
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

4.1.4. Pengaruh Pemupukan terhadap Bobot Basah dan Bobot Kering
Tanaman
Berdasarkan uji DMRT pada bobot basah tanaman, kelima perlakuan (PA,
PB, PC, PG, dan PU) masing-masing berbeda nyata terhadap kontrol. Perlakuan
PA tidak berbeda nyata terhadap PG dan PU.

Pada bobot kering tanaman,

22

perlakuan PA dan PB berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan perlakuan PC,
PG, dan PU menunjukkan sebaliknya. Namun antara perlakuan PA, PG, dan PU
masing-masing tidak berbeda nyata. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian
pupuk MTA dan pupuk urin kambing dapat bersaing dengan pupuk Gandasil D
dalam hal meningkatkan bobot basah dan kering tanaman. Tabel 9 menunjukkan
pengaruh pemupukan terhadap bobot basah dan kering tanaman.
Tabel 9. Pengaruh Pemupukan terhadap Bobot Basah dan Bobot Kering
Tanaman
Bobot Tanaman(g)*
Perlakuan
Bobot Basah
Bobot Kering
Kontrol (K)
28.11a
2.99a
Pupuk MTA (PA)
62.83 c
4.55 b
Pupuk GDP (PB)
59.85 bc
4.32 b
Pupuk GDL (PC)
44.16 b
3.68ab
Pupuk Gandasil D (PG)
52.95 bc
3.69ab
Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)
54.96 bc
3.84ab
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

4.1.5. Pengaruh Pemupukan terhadap Kadar Hara Tanaman
Berdasarkan uji DMRT pada kadar hara N, kelima perlakuan (PA, PB, PC,
PG, dan PU) berbeda nyata terhadap kontrol. Perlakuan PA tidak berbeda nyata
terhadap PG dan PU. Pada kadar hara P, hanya perlakuan PA yang berbeda nyata
terhadap kontrol. Perlakuan PG dan PU berbeda nyata terhadap PA. Pada kadar
hara K, perlakuan PB, PG, dan PU berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan
pada perlakuan PA dan PC menunjukkan sebaliknya. Namun antara perlakuan
PA, PG, dan PU masing-masing tidak berbeda nyata. Pada kadar hara Ca, kelima
perlakuan (PA, PB, PC, PG, dan PU) tidak berbeda nyata terhadap kontrol.
Begitu pula pada perlakuan PA, PG, dan PU menunjukkan tidak berbeda nyata.
Pada kadar hara Mg, kelima perlakuan tidak berbeda nyata terhadap kontrol.
Perlakuan PA berbeda nyata terhadap PG namun tidak berbeda nyata terhadap
PU. Secara keseluruhan, penggunaan pupuk MTA, PU, dan Gandasil D
memberikan pengaruh yang beragam terhadap kadar hara tanaman. Tabel 10
berikut menunjukkan besarnya pengaruh pemupukan terhadap kadar hara
tanaman.

23

Tabel 10. Pengaruh Pemupukan terhadap Kadar Hara Tanaman
Kadar Hara Tanaman (%)*
Perlakuan
N
P
K
Ca
Mg
2.81a
0.35a
2.62a
2.34a 0.34ab
Kontrol (K)
4.95
b
0.86
b
3.20ab
2.14a 0.30a
Pupuk MTA (PA)
4.51 b 0.58ab 4.02 b 2.45a 0.34ab
Pupuk GDP (PB)
4.49 b 0.43a
3.09ab 2.36a 0.32ab
Pupuk GDL (PC)
3.88 b 0.51a
4.06 b 2.31a 0.41 b
Pupuk Gandasil D (PG)
4.93
b
0.53a
4.10 b 2.33a 0.37ab
Pupuk Urin Kambing Kacang (PU)
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

4.1.6. Pengaruh Pemupukan terhadap Serapan Hara Tanaman
Berdasarkan hasil uji DMRT pada serapan hara N, perlakuan PA, PB, PC,
dan PU berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan perlakuan PG menunjukkan
sebaliknya. Perlakuan PA berbeda nyata terhadap PG namun tidak berbeda nyata
terhadap PU. Pada serapan hara P, hanya perlakuan PA dan PB yang berbeda
nyata terhadap kontrol sedangkan perlakuan PC, PG, dan PU menunjukkan
sebaliknya. Perlakuan PA berbeda nyata terhadap PG dan PU. Pada serapan hara
K, perlakuan PA, PB, PG, dan PU berbeda nyata terhadap kontrol sedangkan
perlakuan PC menunjukkan sebaliknya. Namun antara perlakuan PA, PG, dan PU
masing-masing tidak berbeda nyata. Pada serapan hara Ca, kelima perlakuan (PA,
PB, PC, PG, dan PU) menunjukkan tidak berbeda nyata tehadap kontrol. Begitu
pula dengan perlakuan PA, PG, dan PU yang masing-masing menunjukkan tidak
berbeda nyata. Pada serapan hara Mg, hanya perlakuan Mg yang berbeda nyata
terhadap kontrol sedangkan keempat perlakuan lainnya (PA, PB, PC, dan PU)
menunjukkan sebaliknya. Perlakuan PA tidak berbeda nyata terhadap PU namun
berbeda nyata terhadap PG. Secara keseluruhan, penggunaan pupuk MTA, PU,
dan Gandasil D memberikan pengaruh yang beragam terhadap serapan hara
tanaman. Hasil uji lanjut serapan hara pada daun tanaman caisim serta rataan
pada perlakuan pemupukan ditampilkan dalam Tabel 11.

24

Tabel 11. Pengaruh Pemupukan terhadap Serapan Hara Daun Tanaman
Serapan hara (mg/polybag)*
Perlakuan
N
P
K
Ca
Mg
Kontrol (K)
83.08a
10.76a
79.09a
70.05a 10.23a
Pupuk MTA (PA)
225.62 c 39.52 c 144.30 bc 97.22a 13.68ab
Pupuk GDP (PB)
194.91 bc 24.95 bc 174.60 c 101.86a 14.42ab
Pupuk GDL (PC)
165.20 bc 15.93ab
109.20ab
86.47a 11.84ab
Pupuk Gandasil D
141.61ab
18.63ab
148.08 bc 88.03a 14.84 b
(PG)
Pupuk Urin Kambing
189.04 bc 20.50ab
156.51 c 87.81a 14.36ab
Kacang (PU)
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

4.1.7. Pengaruh Pemupukan terhadap Efisiensi Pemupukan
Berdasarkan hasil uji DMRT pada efisiensi pupuk N, perlakuan PA, PG,
dan PU masing-masing tidak berbeda nyata. Pada efisiensi pupuk P, perlakuan
PU tidak berbeda nyata terhadap PA namun berbeda nyata terhadap PG. Pada
efisiensi pupuk K, perlakuan PA, PG, dan PU masing-masing tidak berbeda nyata.
Begitu pula pada efisiensi pupuk Ca dan Mg, pada perlakuan PA, PG, dan PU
masing-masing tidak berbeda nyata. Efisiensi pemupukan hara N dan P tertinggi
terdapat pada perlakuan PA, hara K dan Ca tertinggi terdapat pada perlakuan PB
sedangkan hara Mg tertinggi terdapat pada perlakuan PC. Tabel 12 berikut ini
menunjukkan pengaruh pemupukan terhadap efisiensi pemupukan.
Tabel 12. Pengaruh Pemupukan terhadap Efisiensi Pemupukan
Efisiensi Pupuk (%)*
Perlakuan
N
P
K
Ca
Mg
Pupuk MTA (PA)
14.25a
2.88 b 6.52a
2.72a 0.34a
Pupuk GDP (PB)
11.18a
1.42ab 9.55a
3.18a 0.42a
Pupuk GDL (PC)
8.21a
0.52a
3.01a
1.64a 0.16a
Pupuk Gandasil D (PG)
5.85a
0.79a
6.90a
1.80a 0.46a
Pupuk Urin Kambing Kacang
10.60a
0.97a
7.74a
1.78a 0.41a
(PU)
Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
berbeda pada taraf nyata 5% dengan Uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT)

4.2.

Pembahasan
Pupuk merupakan salah satu sumber penting dalam kehidupan. Salah

satunya, produksi pangan dunia ditentukan oleh sumbangan unsur hara yang
didapat dari tanah dan pupuk-pupuk yang ditambahkan ke dalam tanah. Dalam

25

hal ini pupuk memberikan sejumlah unsur hara kepada tanaman dengan tepat dan
seimbang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, tetapi
menghindari sejumlah kelebihan unsur yang hilang dari lingkungannya. Oleh
karena itu diperlukan suatu kajian mengenai beragam jenis pupuk yang efektif
dalam

meningkatkan

pertumbuhan

maupun

produktivitas

tanaman

dan

meminimalisasikan efek negatif yang ditimbulkan akibat pemupukan.
Penelitian ini menggunakan pupuk daun yang berasal dari urin kambing
Kacang sebagai pupuk organik serta pupuk GDL, pupuk GDP, pupuk Gandasil D,
dan pupuk MTA sebagai pupuk anorganik. Kelebihan pupuk daun dibanding
pupuk akar adalah penyerapan hara melalui mulut daun (stomata) berjalan cepat
sehingga perbaikan tanaman cepat terlihat. Unsur hara yang diberikan lewat daun
hampir seluruhnya dapat diambil tanaman dan tidak menyebabkan kelelahan atau
kerusakan tanah.

Adapun kekurangan pupuk daun adalah bila dosis yang

diberikan terlalu besar maka daun akan rusak (Hardjowigeno, 2003).
Urin adalah salah satu limbah cair yang dihasilkan oleh kambing Kacang.
Secara umum, urin kambing Kacang betina secara fisiologis diduga memiliki
kadar Nitrogen lebih tinggi dibandingkan kambing Kacang jantan. Selain itu,
aktivitas kambing yang tinggi seperti grazing dan umur kambing juga
mempengaruhi kadar Nitrogen.

Semakin tua kambing maka kadar Nitrogen

semakin tinggi. Berat badan kambing hanya mempengaruhi volume urin yang
dikeluarkan namun tidak mempengaruhi unsur hara yang terkandung di dalamnya
Permasalahannya adalah terkadang petani enggan menampung urin
kambing. Oleh karena itu, dibuatlah pupuk cair MTA yang bertujuan mengatasi
masalah pengadaan urin juga sebagai alternatif pupuk daun di pasaran.
Kandungan hara pada urin kambing Kacang dijadikan sebagai pedoman namun
dalam proses peniruannya tidak 100% sama dengan urin kambing Kacang, yaitu
terdapat perbedaan pada kadar hara P, K, dan Fe.

Pengujian pupuk-pupuk

tersebut dilakukan pada tanaman caisim untuk melihat pengaruh pemupukan
terhadap pertumbuhan vegetatif, bobot basah dan kering, serapan hara, dan
efisiensi pemupukan.
Tinggi tanaman merupakan ukuran tanaman yang sering diamati baik
sebagai indikator pertumbuhan maupun sebagai parameter yang digunakan untuk

26

mengukur pengaruh lingkungan atau perlakuan yang diterapkan (Sitompul dan
Guritno, 1995).

Secara keseluruhan dapat terlihat bahwa adanya keterkaitan

antara pemberian pupuk dengan tinggi tanaman.

Berdasarkan pengamatan

tanaman pada minggu ke–6 (6 MST), hanya pupuk MTA yang berbeda nyata
terhadap kontrol.

Namun bila pupuk MTA dibandingkan dengan pupuk urin

kambing Kacang dan Gandasil D menunjukkan tidak berbeda nyata.

Pada

dasarnya, pertumbuhan tanaman tidak hanya dipengaruhi oleh pemupukan saja
melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, fisiologi dan genetik
tanaman. Faktor lingkungan yang memberikan mempengaruh besar terhadap
pertumbuhan tinggi tanaman adalah cahaya matahari, ketersediaan air, dan
kelembapan udara.
Daun merupakan organ tanaman tempat mensintesis makanan untuk
kebutuhan tanaman maupun sebagai cadangan makanan. Daun memiliki klorofil
yang berperan dalam melakukan fotosintesis. Semakin banyak helai daun yang
tumbuh maka semakin banyak pula tempat untuk melakukan proses fotosintesis
dan hasil fotosintesis pun akan lebih banyak.

Tinggi tanaman pupuk MTA,

pupuk kambing Kacang, dan Gandasil D tidak berbeda nyata begitu pula dengan
jumlah daun ketiga perlakuan tersebut tidak berbeda nyata. Namun, banyaknya
helai daun yang tumbuh pada tanaman bukan hanya dipengaruhi oleh tinggi
tanaman saja melainkan adanya perbedaan internode pada batang tanaman itu
sendiri.

Internode yang lebih pendek memungkinkan helai daun yang tumbuh

akan lebih banyak.
Perlakuan pupuk GDP memiliki helaian daun terbanyak dibandingkan
dengan perlakuan pupuk lainnya. Walaupun demikian, berdasarkan uji DMRT
perlakuan pupuk MTA dan pupuk urin kambing Kacang memiliki nilai yang tidak
berbeda nyata dengan perlakuan pupuk GDP. Ketiganya memiliki nilai lebih
tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan pupuk Gandasil D (PG). Oleh karena
itu dapat dikatakan bahwa pemberian pupuk MTA dan pupuk urin kambing
Kacang mampu bersaing dengan pemberian pupuk Gandasil D dalam hal
pertumbuhan daun tanaman.
Jumlah daun berpengaruh pada bobot basah tanaman.

Semakin besar

tinggi tanaman dan semakin banyak jumlah daun, maka bobot basah akan

27

meningkat. Perlakuan pupuk MTA dan pupuk urin kambing Kacang memiliki
bobot basah lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pupuk Gandasil D.
Kemampuan pupuk urin kambing Kacang dalam meningkatkan produksi diduga
terkait dengan adanya kandungan senyawa organik yang berperan sebagai hormon
atau enzim yang mampu merangsang pembentukkan protein yang memacu
metabolisme tanaman, merangsang pembelahan sel dan transfer energi serta dapat
merangsang pembukaan stomata daun.
Perlakuan pupuk MTA dan pupuk urin kambing Kacang memiliki nilai
bobot kering yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pupuk Gandasil D.
Menurut Parman (2007), bobot kering tanaman merupakan resultan dari tiga
proses yaitu penumpukan asimilat melalui melalui fotosintesis, penurunan
asimilat akibat respirasi dan akumulasi ke bagian cadangan makanan. Semakin
besar bobot kering suatu tanaman, maka proses metabolisme dalam tanaman
berjalan dengan baik, begitu juga sebaliknya jika bobot kering kecil maka
menunjukkan adanya suatu hambatan dalam proses metabolisme tanaman.
Pemupukan dapat berpengaruh nyata terhadap kadar hara N, P dan K pada
tanaman caisim. Ketiga hara tersebut cenderung memiliki kadar yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan uji DMRT, kadar hara N tertinggi
terdapat pada perlakuan pupuk MTA tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan
pupuk cair kambing Kacang dan Gandasil D.

Hal ini menunjukkan bahwa

pemberian pupuk organik dapat meningkatkan serapan unsur N pada tanaman.
Pada kadar hara P, perlakuan pupuk MTA paling tinggi dibandingkan perlakuan
lainnya.
Pada kadar hara K, perlakuan pupuk cair urin kambing Kacang lebih tinggi
dibandingkan pupuk MTA dan pupuk Gandasil D. Hal tersebut diduga karena
urin kambing Kacang mengandung N dan K, unsur makro dan mikro, hormon
pertumbuhan, serta asam amino yang mudah diserap tanaman (Sosrosoedirdjo et
al, 1981). Selain itu, dalam kotoran cair, kandungan K dalam urin 5 kali lipat
lebih banyak dibandingkan dengan kotoran padat dan kandungan N 2–3 kali lebih
banyak dibandingkan dalam kotoran padat (Anonymous, 2009).
Pada kadar hara Ca, perlakuan kontrol memiliki nilai yang lebih besar
dibandingkan dengan perlakuan pupuk MTA, Gandasil D, dan urin kambing

28

Kacang sedangkan pada kadar hara Mg, perlakuan kontrol memiliki nilai yang
lebih besar dibandingkan dengan perlakuan pupuk cair MTA dan pupuk cair
GDL.

Hal tersebut diduga karena adanya efek pengenceran, yaitu b

Dokumen yang terkait

Pengaruh Penggunaan berbagai Pupuk Daun terhadap Pertumbuhan Caisim (Brassica juncea L)