72 pada usia yang sama. Hasilnya adalah ketika remaja putera masih bersifat
egosentris, remaja puteri sudah beralih kepada konformitas sosial.Selanjutnya ketika remaja putera mulai memasuki masa konformitas, maka remaja puteri
sudah mulai memiliki kesadaran diri selfawareness.Hal ini menjadi karakteristik tersendiri dalam perkembangan kepribadian remaja puteri.
4.11 Remaja Perempuan Dalam Perkembangan Lingkungan
Perkembangan lingkungan yang semakin kompleks pada era globalisasi ini, akan berdampak terhadap usaha meningkatkan kemampuan untuk bersaing
bagi setiap individu agar dapat tetap bertahan. Kebiasaan untuk memilih aktivitas yang memberikan prospek perbedaan yang jelas merupakan suatu aspek ciri
pengambilan keputusan yang bebas dan lebih luas. Mereka telah memilih arah yang akan diikuti berdasarkan alasan yang masuk akal, dan ini adalah alasan
mereka bukan alasan yang diberikan orang lain. Pandangan seseorang tentang ukuran keberhasilan dapat berubah, hal ini
disebabkan meningkatnya tuntutan hidup di zaman sekarang.Orang yang ingin bertahan hidup dan tidak kalah dengan persaingan memang harus bekerja lebih
keras dan cermat dalam melihat peluang usaha.Kadangkala dengan satu pekerjaan saja
orang masih
kurang puas
dan ingin
melakukan pekerjaan
sampingan.Demikian juga dengan mahasiswa yang sedang melakukan pekerjaan sampingan di luar kegiatan kuliahnya.
Bagi sebagian mahasiswa yang tidak terlalu sibuk dengan kegiatan kampus bisa memanfaatkan waktu luangnya disela-sela kuliah dengan mencari pekerjaan
paruh waktu.Meskipun tidak semua mahasiswa melakukan hal tersebut. Kerja paruh waktu akan sangat bermanfaat bagi mahasiswa baik itu pada saat masih
Universitas Sumatera Utara
73 kuliah ataupun ketika sudah lulus, karena selain tentunya ada insentif yang
didapat juga sekaligus ajang mencari pengalaman kerja, menambah wawasan, berusaha mandiri, menambah relasi, mengisi waktu luang, dan juga mendapat
tambahan uang saku hasil wawancara. Sebagai mahasiswa, tidak ada larangan jika ingin kuliah sambil bekerja.
Tetapi yang menjadi masalah adalah kondisi dimana kuliah sebagai prioritas
utama bergeser
posisinya menjadi
prioritas kedua
setelah pekerjaan.Sehingga banyak dijumpai pada kasus-kasus tertentu, kuliah menjadi
terlantar karena mahasiswa keasyikan bekerja. Dengan demikian, pilihan mereka untuk kuliah sambil bekerja yang semua itu dilakukan oleh individu dengan
sungguh-sungguh dan mengarah ke masa depan yang sungguh mereka perlukan. Pandangan pendidikan lama untuk lulus kuliah, sarjana, baru mencari kerja
kini mulai bergeser. Beberapa mahasiswa yang duduk di bangku perkuliahan kini mulai merasakan keresahan, kegelisahan dan keraguan tentang bagaimana mereka
menempuh kehidupan di kampus dan sekeluarnya mereka dari kampus.Apalagi ditambah semakin banyak cerita beredar di kampus maupun melalui hasil-hasil
penelitian tentang sedikitnya lulusan kampus yang diterima bekerja sesuai dengan bidang keilmuannya.Masa-
masa „nyaman‟ di mana mahasiswa hanya duduk tenang di kelas telah sedikit-demi-sedikit berubah seiring banyaknya mahasiswa
yang berwirausaha. Paradigma lama tentang pendidikan adalah lulus kuliah, sarjana baru
kemudian mencari kerja. Sehingga mahasiswa yang kuliah sambil berwirausaha atau bekerja malah dipandang sebagai mahasiswa-mahasiswa yang terdesak
secara finansial. Akibat dari pandangan kerja setelah lulus tersebut, sarjana yang
Universitas Sumatera Utara
74 lulus dalam keadaan nol pengalaman semakin menumpuk dan prosentasenya
semakin besar. Stereotype berpikir untuk berpikir kerja setelah lulus kuliah mengakibatkan calon mahasiswa asal-asalan dalam memilih bidang studi
perkuliahan. Bidang apapun akhirnya diambil asal bisa kuliah atau asal bergengsi walaupun
tidak sesuai
dengan minat
bakat dan
bayangan masa
depannya.Akhirnya, setelah bekerja, orang-orang tersebut memilih pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang ilmunya.Perkuliahan seakan menjadi beban, kuliah
hanya mengejar ijazah. Padahal sekali lagi, fakta menunjukkan bahwa ijazah sudah tidak lagi relevan dalam menentukan masa depan seseorang apabila tidak
diimbangi dengan life skill yang baik. Mahasiswa yang kuliah sambil berwirausaha atau bekerja berarti sudah
mencuri start masa depan. Ketika kebanyakan orang berpendapat bahwa bekerja itu setelah lulus kuliah, mereka berpikir lebih cepat. Mereka merintis karir sejak
duduk di bangku perkuliahan sehingga pada waktu lulus sudah memiliki skill tambahan baik di bidang usaha yang mereka ambil maupun dalam hal-hal umum
seperti manajemen diri, manajemen waktu, manajemen konsentrasi, perencanaan finansial, skill kepemimpinan, komunikasi, dan lain lain. Pada saat itulah
mahasiswa yang sudah berwirausaha atau bekerja sejak duduk di bangku kuliah bisa lebih bebas menentukan pilihan dalam meraih masa depannya.Entah mau
meneruskan jenjang akademis, menjadi profesional, ataukah meraih kemandirian lebih dengan jalan berwirausaha.
Memang berat pada awalnya, apalagi sistem perkuliahan yang ketat seakan tidak mengizinkan mahasiswa untuk mencari alternatif mengambil jalan
berwirausaha sambil kuliah.Juga ditambah „kenyamanan sesaat‟ yang menjanjikan
Universitas Sumatera Utara
75 jika mahasiswa mau fokus dalam menjalani perkuliahan.Karena itulah, selama ini
muncul pandangan bahwa mahasiswa yang berwirausaha atau bekerja adalah mahasiswa yang terdesak secara finansial.Padahal tidak selamanya seperti
itu.Mahasiswa yang berwirausaha adalah mahasiswa yang visioner memiliki pandangan, yang lebih cepat menyadari bahwa masa depannya telah dimulai hari
ini. Mahasiswa yang kuliah sambil bekerja adalah mahasiswa yang tidak puas dengan hanya mendapatkan „ilmu-ilmu otak kiri‟ di bangku perkuliahan dan haus
akan ilmu-ilmu yang bisa di dapat melalui kegiatan-kegiatan ekstra yang berguna untuk masa depan mereka.
Apabila mahasiswa yang sedang duduk tenang di bangku perkuliahan belum tergambar rencana masa depan dan tujuan hidupnya maka keluar dari zona
nyaman untuk kuliah sekaligus berwirausaha akan membuatnya Anda menjadi mahasiswa yang memiliki nilai plus. Mahasiswa yang berjuang dari kegagalan
satu ke kegagalan lain, mahasiswa yang tahan banting, mahasiswa yang lebih siap untuk memasuki dunia kerja riil, dan mahasiswa yang lebih cepat menyadari
bahwa masa depan dimulai sedetik setelah ini, bukan setelah lulus kuliah. Salah satu contohnya adalah mereka mampu mempromosikan suatu
produk, menawarkan jasa, melayani konsumen, memenuhi kebutuhan, dan yang paling utama mereka memiliki skill yang justru tidak diajarkan di bangku
perkuliahan. Mereka berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru dan kreatif, berusaha mencari umpan balik feedback tentang pekerjaannya, berusaha
memilih resiko yang moderat dalam perbuatannya, dan berusaha mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatannya.
Universitas Sumatera Utara
76 Pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh mahasiswa antara lain bekerja
sebagaipengajar les privat, SPG Sales Promotion Girl, penyiar radio, penerjemah, penulis, wirausaha,reporterfreelance, pramuniaga, penjaga warnet
dan rental, dan tenaga administrasi Tirta,2005. Mahasiswa yang bekerja diharapkan memiliki kemampuan tertentu seperti penguasaanilmu dasar yang
akan diajarkan dan kemampuan berkomunikasi dengan siswa pada pengajar lesprivat, kemampuan berbicara dan memiliki wawasan yang luas di bidang musik
pada penyiarradio, kemampuan berkomunikasi dan penampilan yang menarik pada SPG, kemampuan dan bakat menulis pada penulis, ahli di bidang bahasa
pada penterjemah, memiliki daya kreativitas yang tinggi pada wirausaha, ketekunan dan keuletan pada pramuniaga, kemampuan di bidang jurnalistik dan
memiliki banyak jaringan kerja pada reporter freelance, serta menguasai komputer dengan baik pada penjaga warnet dan rental.
Fenomena mahasiswa kerja sambilan kiranya bukan hal baru. Banyak dari mahasiswa tersebut mencari tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan
kuliah yang semakin menggunung. Kuliah sambil bekerja tidak lagi menjadi sesuatu hal yang langka dan hanya dilakukan mahasiswa yang lemah dalam
ekonomi, karena kenyataannya biaya hidup sehari-hari seringkali tidak sebanding dengan uang saku yang diberikan oleh orang tua. Fenomena ini sangat
menarik.Apalagi, ditambah adanya peluang berwirausaha bagi mahasiswa. Namun, seperti biasa suatu hal memiliki pengaruh positif dan negatif. Pengaruh
baik dan buruk tersebut dihadapkan pada prestasi kuliah. Pada akhirnya timbul pertanyaan, apakah mahasiswa yang kuliah dengan kerja sambilan mampu
mengikuti kegiatan kuliah dengan baik atau malah kuliahnya terabaikan?
Universitas Sumatera Utara
77 Menurut data dari Kompas Cyber Media dari mahasiswa bekerja ada
beberapa manfaat penting diantaranya: a.
Pertama, mahasiswa mampu berbuat praktis. Artinya, mahasiswa tidak lagi terjebak pada wacana-wacana teoretis saja, tetapi juga mampu
mengaplikasikan apa yang telah dia dapatkan di kampus ke dalam pekerjaannya. Sebab, dalam dunia kerja mahasiswa dihadapkan pada
persoalan-persoalan riil yang harus mampu mereka pecahkan secara tepat dan cepat.
b. Kedua, mahasiswa mampu bersikap lebih independen dan konsisten.
Kenyataan sering membuktikan, hanya karena diberi handphone, mendapat uang saku tambahan, dan tercukupinya beberapa keperluan
material lainnya, mahasiswa lantas mau bertindak yang bertentangan dengan kepentingan yang lebih besar.
c. Ketiga, mahasiswa mampu berpikir lebih kreatif. Pengalaman yang
didapat mahasiswa pada saat bekerja di luar jam kuliah akan berpengaruh terhadap jiwa kewirausahaannya.
d. Keempat, mahasiswa memiliki jiwa profesionalisme. Mahasiswa telah
terbiasa dalam lingkungan yang dinamis dan kompetitif, sehingga peluang untuk melakukan praktik-praktik manipulatif tidak diberi
ruang yang cukup. Kemudian yang muncul adalah benih-benih profesionalisme dan lambat laun akan menjadi ciri khas sang
mahasiswa tersebut. Pada saatnya nanti, sang mahasiswa tersebut kelak mampu membawa pengalamannya ke dunia riil.
Universitas Sumatera Utara
78 Dengan demikian, tidak ada lagi cibiran bagi mahasiswa yang
nyambikarena ternyata justru memunculkan pengalaman-pengalaman tambahan yang dapat bermanfaat bagi dirinya dan juga lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan oleh penulis di atas merupakan hasil dan kesimpulan yang telah diungkapkan informan dalam
wawancara penelitian.Hasil pengujian inipun sejalan dengan beberapa penelitian terdahulu, di antaranya adalah hasil penelitian dari Maylana Dirmantoro dalam
skripsi yang berjudul “Motivasi Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja”. Dari hasil penelitian tersebut didapatkan kesimpulan bahwa yang menjadi motivasi
mahasiswa yang bekerja sambil kuliah adalah untuk mendatangkan upah, uang, kepuasan atau barang yang dapat dinikmati oleh orang yang bersangkutan.
Universitas Sumatera Utara
79
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis wawancara dan keterangan pada bab sebelumnya maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Di zaman yang sudah tidak ada lagi pembatas bagi para remaja berbagi
informasi, melatih para remaja terutama remaja perempuan menjadi lebih kritis dan tau apa yang akan dia lakukan dalam kelangsungan karirnya
bahkan ketika dia belum menamatkan kuliah. Semakin banyaknya terbuka kesempatan membuat mereka menjadi mudah untuk memulai karirnya
sehingga banyak yang memilih sudah mulai bekerja. Dan ini dapat memberikan dampak positif agar para remaja bisa berkarya dan
menginspirasi para generasi seusianya. 2.
Remaja yang memilih bekerja sambil kuliah sudah tidak dianggap sepenuhnya negatif. Dikarenakan sudah semakin banyak jenis pekerjaan
yang membantu pekerja remaja perempuan menentukan jadwalnya sendiri. Didukung dengan orang tua yang sudah semakin terbuka pikirannya untuk
anak perempuan mereka. Namun tidak juga sepenuhnya positif, tergantung dengan apakah seorang remaja perempuan tertentu dapat memenuhi
komitmen mereka dalam mana yang dianggap prioritas bagi yang juga seorang mahasiswa.
Universitas Sumatera Utara