Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015

(1)

EVALUASI SISTEM PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI APUNG

KECAMATAN TANJUNG BALAI KABUPATEN ASAHAN

TAHUN 2015

SKRIPSI

OLEH PUTRI NOVELAN

NIM: 131021073

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA


(2)

EVALUASI SISTEM PELAKSANAAN PROGRAM PENGENDALIAN MALARIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEI APUNG

KECAMATAN TANJUNG BALAI KABUPATEN ASAHAN

TAHUN 2015

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Sarjana Kesehatan Masyarakat

OLEH PUTRI NOVELAN

NIM: 131021073

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2015


(3)

ABSTRAK

Malaria berasal dari bahasa Italia yaitu dari kata “Mal” artinya buruk dan “Area” yang artinya udara. Secara harfiah (bahasa) malaria adalah penyakit yang sering terjadi pada daerah dengan udara buruk akibat lingkungan yang juga buruk. Jadi definisi dari Malaria berarti suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk Protozoa) dan di tularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Angka kasus malaria di Indonesia secara nasional selama periode 2005-2012 berdasarkan indikator API telah mengalami penurunan yaitu tahun 2005 sebesar 4,1 per 1.000 penduduk menurun menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012. Jumlah kasus positif malaria tahun 2013 di Puskesmas Sei Apung adalah 244 kasus.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan koordinasi, kegiatan diagnosis dan pengobatan malaria, skrining malaria pada ibu hamil, pemberian kelambu berinsektisida, penyemprotan dinding rumah dan penyuluhan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 8 informan yang terdiri dari Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan, Kepala Puskesmas, Pengelola Program Malaria, Bidan Desa, Kepala Desa, Kader, Ibu hamil yang pernah menderita Malaria dan Masyarakat yang tidak pernah menderita Malaria. Analisa data dengan metode Miles dan Huberman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria yang dilakukan di Puskesmas Sei Apung belum maksimal. Hal ini ditandai dengan penyuluhan hanya dilakukan jika sudah terjadi kasus bersamaan dengan pelaksanaan posyandu, dana yang belum memadai, tenaga kesehatan yang belum maksimal karena kurangnya pelatihan , dan sarana dan prasarana belum memadai, kurangnya koordinasi dengan lintas sektor, penyemprotan diding rumah hanya dilakukan ketika banyak kasus malaria.

Berdasarkan hasil penelitian, di harapkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan agar meningkatkan pelatihan, memberi reward, meningkatkan sarana dan prasarana di Puskesmas Sei Apung, Puskesmas Sei Apung agar meningkatkan penyuluhan terutam tentang pemakaian kelambu berinsektisida, keterlibatan masyarakat untuk pemberantasan malaria dengan meelakukan gotong royong dan seharusnya penyemprotan dinding rumah dilakukan sebelum puncak kasus malaria.


(4)

ABSTRACT

Malaria is a term in Italian, i.e. “Mal” means poor and “Area” means

air. Literarily, malaria is a disease found In the poor air caused by the bad environment. The definition of malaria is an infectious disease with regular fever caused by parasite Plasmodium (Protozoa) and transmitted by mosquito Anopheles. The number of case in Indonesia during 2005-2012 based on API indicator is decrease in which in 2005 is 4.1 per 1000 population and to be 1.69 per 1.000 popolation in 2012. The number of positive malaria in 2013 at Puskesmas Sei Apung is 244 cases.

The Objective og this research is to study the activity of coordination, diagnosis and treatment of malaria, screening of malaria to the pregnant woment, the using of mosquito net with insecticide, spraying of wall and extension in evaluation of control system of malaria in the area of Puskesmas Sei Apung. This research is qualitative research with depth interview method to 8 informant that consist of officers of health office of Asahan Regency, Head of Puskesmas, Organizer of malaria program, midwife, head of village, cadre, pregnant woman with malaria and society who never with malaria. The data was analyzed by Miles and Huberman method.

The results of research indicates that Evaluation of Control System of malaria in Puskesmas Sei Apung has not yet maximal. this is indicated by the condition where the health extension is conducted after there is case when do the Posyandu, the insufficient available fund, the health staff that has not yet maximal for the lack of training, facilities and infrastructures, the lack of coordination of the sector, the spraying of wall only when there are malaria case.

Based on this research, it hope the head of Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan regency to increase training, provide reward, and to increase the availability of facility and infrastructure in Puskesmas Sei Apung and suggested that Puskesmas Sei Apung must to increase the haealth extension about the using of mosquito net with insecticide, the involvement of society in eradication of malaria by mutual cooperation and spraying of the wall of houses before the peak of malaria case.


(5)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Putri Novelan

Tempat/ Tanggal Lahir : Medan/ 20 Maret 1991

Jenis Kelamin : Perempuan

Suku Bangsa : Batak

Agama : Islam

Nama Ayah : Ruslan

Suku Bangsa Ayah : Batak

Nama Ibu : Nova Julinda

Suku Bangsa Ibu : Batak

Riwayat Pendidikan

1. Tahun 1996-1997 : TK Raudhatul Athfal Kota Tanjung Balai 2. Tahun 1997-2003 : SDN 130004 Pematang Pasir

3. Tahun 2003-2006 : MTsN Tanjung Balai 4. Tahun 2006-2009 : MAN Tanjung Balai

5. Tahun 2009-2012 : DIII Kebidanan STIKes Flora Medan

6. Tahun 2013-2015 : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara


(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Banyak pengalaman yang diperoleh penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan semua itu berkat bantuan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Drs. Surya Utama, MS, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Dr. Drs. Zulfendri, M. Kes, selaku Dosen Pembimbing I skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan, masukan dan saran kepada penulis dalam perbaikan skripsi ini serta memberikan dukungan dan bimbingan selama penulis menjalani pendidikan.

3. Bapak dr. Fauzi, SKM, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, saran dan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan dan menyempurnakan skripsi ini.

4. Bapak dr. Heldy B.Z., M.PH, selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, sekaligus sebagai Dosen Penguji I yang telah memberikan masukan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan dan menyempurnakan skripsi ini

5. Ibu dr. Rusmalawaty, M.Kes, selaku Dosen Penguji II yang telah banyak memberikan masukan dan arahan kepada penulis dalam menyelesaikan dan menyempurnakan skripsi ini


(7)

6. Ibu Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Akademi yang telah memberikan bimbingan selama penulis menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

7. Seluruh Dosen serta Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis menjalani pendidikan.

8. Syahruddin, SKM , selaku Staff PMK Petugas Malaria di Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan.

9. dr. Susi Irmayani, selaku kepala Puskesmas Sei Apung dan seluruh staf Puskesmas Sei Apung Kabupaten Asahan yang telah memberikan bantuannya dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Ibu Asmidar, Am.Keb, selaku pemegang program malaria yang telah membantu dalam penelitian sehingga penelitian ini selesai tepat pada waktunya.

11. Ibu Julila, Am.Keb, selaku Bidan Desa di Desa Pematang Sei Baru yang juga telah membantu dalam penelitian ini.

12. Bapak Sahrul, Selaku Kepala Desa Pematang Sei Baru yang telah membantu penelitian penulis.

13. Terkhusus dan teristimewa kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Ruslan dan ibunda Nova Julinda, Am.Keb yang telah memberikan kasih sayang, motivasi, perhatian dan doa yang tiada henti kepada penulis yang selama ini berjuang untuk penulis agar dapat menyelesaikan pendidikan tinggi demi masa depan yang lebih baik.

14. Terkhusus kepada yang tersayang Adik-adikku Muhammad Syah Putra Novelan, S.Kom dan Sabilal Haqqi Novelan yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

15. Sahabat-sahabat terbaik Wan Elida, Nanda Fitrianda, Marini Lestari, Kak Eka Ginting, Ernida, Dwi, Tika, Dila, Kak Nurma dan Tira serta teman-teman LKP (Bang Martiman, Kak Adek, dan Widia), yang telah membantu dan memberikan penulis motivasi-motivasi yang membangun dan juga teman-teman PBL (Ummi, Prisil, Desrifa, Sarah dan Reza) terima kasih atas semua


(8)

kerja samanya, dan semua teman di peminatan AKK serta teman-teman seperjuangan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan dukungan dan semangat serta bantuan kepada penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

16. Seluruh pihak yang telah membantu terselesaikannya skripsi ini dan penulis tidak dapat menyebutkannya satu persatu.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Dengan segala keterbatasan yang ada, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua terutama untuk kemajuan ilmu pengetahuan.

Medan, 27 Oktober 2015 Penulis

Putri Novelan NIM .131021073


(9)

DAFTAR ISI

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

ABSTRAK ... iii

ABSTRAK ... iv

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan Penelitian ... 10

1.4 Manfaat Penelitian ... 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 12

2.1 Konsep dasar Evaluasi ... 12

2.1.1 Pengertian Evaluasi ... 12

2.2 Konsep tentang Malaria ... 15

2.2.1 Pengertian Malaria ... 15

2.2.2 Penyebab Malaria ... 16

2.2.3 Gejala Malaria ... 16

2.2.4 Proses Penularan Malaria ... 18

2.2.5 Alur Penemuan Penderita ... 18

2.2.6 Indikator Program Malaria ... 19

2.3 Program Pengendalian Malaria ... 20

2.3.1 Visi dan Misi ... 20

2.3.2 Kebijakan ... 20

2.4 Kegiatan Program... 21

2.4.1 Diagnosis Malaria ... 22

2.4.2 Pengobatan malaria ... 27

2.4.3 Skrining Malaria Pada Ibu Hamil ... 29

2.4.4 Kelambu Berinsektisida ... 30

2.4.5 Penyemprotan Rumah Dengan Insektisida (IRS) ... 32


(10)

2.5 Puskesmas ... ... 35

2.5.1 Pengertian Puskesmas ... 35

2.5.2 Fungsi Puskesmas ... 36

2.6 Kerangka Pikir ... 38

BAB II METODE PENELITIAN ... 41

3.1 Jenis Penelitian ... 41

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41

3.2.1 Lokasi Penelitian ... 41

3.2.2 Waktu Peneitian ... 41

3.3 Informan Penelitian ... 42

3.4 Metode Pengumpulan Data ... 43

3.5 Uji Validitas Data ... 45

3.6 Teknik Analisa Data ... 45

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 47

4.1 Deskripsi Daerah Penelitian ... 47

4.1.1 Letak Geografi... 47

4.1.2 Keadaan iklim ... 48

4.1.3 Demografi... 48

4.1.4 Sumber Daya Manusia Puskesmas Sei Apung ... 49

4.2 Input ... ... 50

4.2.1 Ketersediaan SDM ... 50

4.2.1.1 Tenaga Kesehatan yang dilatih ... 50

4.2.1.2 Pelatihan ... 51

4.2.2 Ketersediaan Peralatan ... 51

4.2.3 Ketersediaan Obat Anti Malaria ... 51

4.2.4 Ketersediaan Sumber dana ... 54

4.3 Proses ... ... 54

4.3.1 Kegiatan Program Pengendalian Malaria ... 55

4.3.2 Kegiatan Skrining malaria ... 56

4.3.3 Kegiatan Pemberian Kelambu Berinsektisida ... 56

4.3.4 Kegiatan Penyemprotan dinding Rumah (IRS) ... 58

4.3.5 Kegiatan Penyuluhan... 58

4.3.6 Pentingnya Koordinasi ... 60

4.3.7 Keterlibatan Masyarakat ... 60

4.3.8 Pengawasan ... 61

BAB V PEMBAHASAN ... 63

5.1 Input ... ... 63

5.2.1 Ketersediaan SDM ... 64

5.2.1.1 Tenaga Kesehatan yang dilatih ... 65

5.2.1.2 Pelatihan ... 66


(11)

5.2.3 Ketersediaan Obat Anti Malaria ... 67

5.2.4 Ketersediaan Sumber dana ... 70

5.2 Proses ... 71

5.2.1 Koordinasi ... 71

5.2.2 Diagnosis malaria dan Pengobatan ... 72

5.2.3 Skrining malaria pada Ibu hamil ... 73

5.2.4 Pemberian Kelambu Berinsektisida ... 75

5.2.5 Penyemprotan Dinding Rumah (IRS) ... 77

5.2.6 Penyuluhan ... 80

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN... 81

6.1 Kesimpulan ... 81

6.2 Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83 DAFTAR LAMPIRAN


(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pengobatan Malaria yang di berikan kepada Ibu Hamil ... 24 Tabel 2.2 Perbandingan dgn Kelambu Biasa Dengan Kelambu Berinsektisida ... 25 Tabel 3.1 Karakteristik Informan ... Tabel 4.1 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk dan Jumlah Dusun di Wilayah Kerja

Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Tahun 2013 ... 45 Tabel 4.2 Jumlah KK, Jumlah Rata-Rata Jiwa/RT dan Kepadatan Penduduk Per

Km2 di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Tahun 2013 ... 46 Tabel 4.3 Sumber Daya Manusia Puskesmas Sei Apung ... 46


(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses Penularan Malaria ... 18

Gambar 2.2 Bagan Alur Penemuan Penderita Malaria ... 18

Gambar 2.3 Uraian/Penjelasan Tes RDT ... 22

Gambar 2.4 Penyemprotan Rumah Dengan Insektisida (IRS)... 32


(14)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Pedoman Wawancara Mendalam (In-Depth Interview)

Lampiran 2 Standar Ketenagaan Program

Lampiran 3 Tatalaksana Kasus Malaria dan Tingkat Primer dan Sekunder Lampiran 4 Hasil Wawancara Mendalam (In-Depth Interview)

Lampiran 5 Surat Izin Penelitian dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Lampiran 6 Surat Izin Penelitian dari Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan

Lampiran 7 Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian dari Puskesmas Sei Apung

Lampiran 8 Surat Keterangan Telah Selesai Penelitian dari Kantor Kepala Desa Pematang Sei Baru


(15)

ABSTRAK

Malaria berasal dari bahasa Italia yaitu dari kata “Mal” artinya buruk dan “Area” yang artinya udara. Secara harfiah (bahasa) malaria adalah penyakit yang sering terjadi pada daerah dengan udara buruk akibat lingkungan yang juga buruk. Jadi definisi dari Malaria berarti suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk Protozoa) dan di tularkan oleh nyamuk Anopheles betina. Angka kasus malaria di Indonesia secara nasional selama periode 2005-2012 berdasarkan indikator API telah mengalami penurunan yaitu tahun 2005 sebesar 4,1 per 1.000 penduduk menurun menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012. Jumlah kasus positif malaria tahun 2013 di Puskesmas Sei Apung adalah 244 kasus.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kegiatan koordinasi, kegiatan diagnosis dan pengobatan malaria, skrining malaria pada ibu hamil, pemberian kelambu berinsektisida, penyemprotan dinding rumah dan penyuluhan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap 8 informan yang terdiri dari Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan, Kepala Puskesmas, Pengelola Program Malaria, Bidan Desa, Kepala Desa, Kader, Ibu hamil yang pernah menderita Malaria dan Masyarakat yang tidak pernah menderita Malaria. Analisa data dengan metode Miles dan Huberman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria yang dilakukan di Puskesmas Sei Apung belum maksimal. Hal ini ditandai dengan penyuluhan hanya dilakukan jika sudah terjadi kasus bersamaan dengan pelaksanaan posyandu, dana yang belum memadai, tenaga kesehatan yang belum maksimal karena kurangnya pelatihan , dan sarana dan prasarana belum memadai, kurangnya koordinasi dengan lintas sektor, penyemprotan diding rumah hanya dilakukan ketika banyak kasus malaria.

Berdasarkan hasil penelitian, di harapkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan agar meningkatkan pelatihan, memberi reward, meningkatkan sarana dan prasarana di Puskesmas Sei Apung, Puskesmas Sei Apung agar meningkatkan penyuluhan terutam tentang pemakaian kelambu berinsektisida, keterlibatan masyarakat untuk pemberantasan malaria dengan meelakukan gotong royong dan seharusnya penyemprotan dinding rumah dilakukan sebelum puncak kasus malaria.


(16)

ABSTRACT

Malaria is a term in Italian, i.e. “Mal” means poor and “Area” means

air. Literarily, malaria is a disease found In the poor air caused by the bad environment. The definition of malaria is an infectious disease with regular fever caused by parasite Plasmodium (Protozoa) and transmitted by mosquito Anopheles. The number of case in Indonesia during 2005-2012 based on API indicator is decrease in which in 2005 is 4.1 per 1000 population and to be 1.69 per 1.000 popolation in 2012. The number of positive malaria in 2013 at Puskesmas Sei Apung is 244 cases.

The Objective og this research is to study the activity of coordination, diagnosis and treatment of malaria, screening of malaria to the pregnant woment, the using of mosquito net with insecticide, spraying of wall and extension in evaluation of control system of malaria in the area of Puskesmas Sei Apung. This research is qualitative research with depth interview method to 8 informant that consist of officers of health office of Asahan Regency, Head of Puskesmas, Organizer of malaria program, midwife, head of village, cadre, pregnant woman with malaria and society who never with malaria. The data was analyzed by Miles and Huberman method.

The results of research indicates that Evaluation of Control System of malaria in Puskesmas Sei Apung has not yet maximal. this is indicated by the condition where the health extension is conducted after there is case when do the Posyandu, the insufficient available fund, the health staff that has not yet maximal for the lack of training, facilities and infrastructures, the lack of coordination of the sector, the spraying of wall only when there are malaria case.

Based on this research, it hope the head of Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan regency to increase training, provide reward, and to increase the availability of facility and infrastructure in Puskesmas Sei Apung and suggested that Puskesmas Sei Apung must to increase the haealth extension about the using of mosquito net with insecticide, the involvement of society in eradication of malaria by mutual cooperation and spraying of the wall of houses before the peak of malaria case.


(17)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keberhasilan pembangunan Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk mendapatkan sumber daya tersebut, pembangunan kesehatan merupakan salah satu unsur penentu karena masyarakat harus bebas dari berbagai penyakit terutama penyakit menular. Penyakit infeksi menular masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menonjol, termasuk didalamnya penyakit malaria, penyakit menular ini dapat menyerang semua kelompok umur khususnya pada kelompok risiko tinggi yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil yang berdampak menurunkan kualitas dan produktivitas sumber daya manusia bahkan menyebabkan kematian (Kemenkes, 2013).

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2012

menyebutkan bahwa malaria terjadi di 104 negara, bahkan 3,3 milyar penduduk dunia tinggal di daerah berisiko tertular malaria. Jumlah penderita malaria di dunia sebanyak 219 juta kasus, dimana 28 juta kasus terjadi di ASEAN. Setiap tahunnya sebanyak 660 ribu orang meninggal dunia karena malaria, 6% diantaranya berada di Asia Tenggara termasuk Indonesia (WHO, 2013).

Upaya pengendalian malaria telah dilakukan sejak tahun 1952-1959, pada akhir periode yaitu pada tanggal 12 Nopember 1959 di Yogyakarta, Presiden Soekarno telah mencanangkan dimulainya program pembasmian malaria yang dikenal dengan sebutan “Komando Operasi Pembasmian Malaria” (KOPEM).


(18)

Tanggal 12 November tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Kesehatan Nasional (Kemenkes, 2013).

Penggalakkan pemberantasan malaria melalui gerakan masyarakat yang dikenal dengan Gerakan Berantas Kembali Malaria atau ”Gebrak Malaria” yang telah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan di Kupang tanggal 8 April 2000. Gerakan ini merupakan embrio pengendalian malaria yang berbasis kemitraan berbagai sektor dengan slogan “Ayo Berantas Malaria” (Kemenkes, 2013).

Pengendalian malaria di Indonesia tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor.293/MENKES/SK/IV/2009 tanggal 28 April 2009 tentang Eliminasi Malaria di Indonesia yang bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, yang terbebas dari penularan malaria secara bertahap sampai tahun 2030. (Depkes, 2009).

Malaria merupakan salah satu indikator dari target Pembangunan Milenium

Development Goals (MDGs) tahun 2015 yang terdapat pada tujuan ke-6 MDGs

ditargetkan untuk menghentikan penyebaran dan mulai menekan jumlah kasus malaria. Hal ini juga sesuai dengan RPJMN 2010-2014 dalam rangka upaya penurunan angka kesakitan malaria. Berdasarkan Inpres No.3 tahun 2010 tentang percepatan pencapaian MDGs salah satunya Program Pengendalian Malaria dengan angka API (Annual Parasite Incidence) tahun 2015 adalah <1 ‰ (Kemenkes, 2013).

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam melaksanakan program pengendalian malaria seperti diagnosis dini melalui pemeriksaan sediaan darah dengan konfirmasi labolatorium maupun Rapid Diagnostic Test (RDT) malaria dan


(19)

mengobati semua penderita malaria (kasus positif) dengan obat malaria efektif dan aman yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu ACT (Artemisinin

Combination Therapy), skrining malaria pada ibu hamil, pemberian kelambu

berinsektisida, penyemprotan dinding rumah dan penyuluhan (Kemenkes, 2014). Upaya penanggulangan penyakit malaria di Indonesia sejak tahun 2007 dapat dipantau dengan melihat angka kesakitan malaria dengan menggunakan indikator

Annual Parasite Incidence (API). API adalah jumlah penderita positif malaria per

1.000 penduduk. Angka kasus malaria di Indonesia secara nasional selama periode 2005-2012 berdasarkan indikator API telah mengalami penurunan yaitu tahun 2005 sebesar 4,1 per 1.000 penduduk menurun menjadi 1,69 per 1.000 penduduk pada tahun 2012, tetapi disparitas setiap daerah berbeda, ada daerah bebas endemis, endemis tinggi, endemis sedang dan rendah (Kemenkes,2013). Berdasarkan cakupan konfirmasi laboratorium belum semua suspek malaria dilakukan pemeriksaan sediaan darahnya baik secara mikroskopis (laboratorium) maupun dengan Rapid Diagnostic Test (RDT) Malaria. Dari tahun 2008-2012

pemeriksaan sediaan darah terhadap jumlah suspek malaria terus meningkat secara signifikan yaitu pada tahun 2008 sebesar 48% sedangkan pada tahun 2012 meningkat menjadi 93% (Kemenkes, 2013).

Semua kasus positif malaria harus diobati dengan pengobatan kombinasi berbasis artemisinin atau ACT (Artemisinin Combination Therapy), ACT yang

direkomendasikan WHO saat ini antara lain Artesunat, Amodiakuin dan primakuin digunakan untuk pengobatan plasmodiumfalciparum dan vivax, kedua


(20)

Cakupan kasus yang dinyatakan positif dan mendapatkan pengobatan, diukur melalui indikator persentase penderita malaria yang diobati. Capaian indikator ini pada tahun 2012 sebesar 81,78%. Angka ini lebih besar dibandingkan tahun 2010 sebesar 66,3%. Pengobatan terhadap penderita spositif malaria belum 100% karena masih adanya pengobatan malaria dengan menggunakan obat selain ACT (misal kloroquin, suldox atau fansidar) dan larangan konsumsi ACT bagi ibu hamil trimester pertama. (Riskesdas,2013)

Untuk mengendalikan malaria selain pengobatan sangat penting melakukan upaya pencegahan terjadinya malaria, salah satu strategi untuk mengurangi faktor resiko penularan malaria adalah pemakaian kelambu berinsektisida. Maka kegiatan program pengendalian malaria terkait yang telah dijalankan saat ini adalah dengan pembagian kelambu yang bertujuan untuk melindungi penduduk dari gigitan nyamuk penyebab penyakit malaria terutama untuk balita dan ibu hamil (Kemenkes, 2013).

Saat ini di Indonesia, jumlah penduduk berisiko sekitar 149 juta jiwa dan jumlah kelambu yang telah tersedia dimasyarakat sampai dengan tahun 2012 sekitar 6,4 juta kelambu. Jumlah kelambu yang tersedia dimasyarakat adalah jumlah kelambu yang sudah didistribusikan dikurangi dengan jumlah kelambu yang sudah kadaluarsa (lebih dari 3 tahun sejak didistribusikan). Apabila 1 kelambu diperkirakan mampu melindungi 2-3 orang dari anggota keluarga maka sekitar 12,8-19,2 juta jiwa yang terlindungi dengan kelambu. Pada tahun 2012 jumlah kelambu yang dibagikan sebanyak 642.210 buah, dibagikan ke seluruh


(21)

Provinsi di Indonesia kecuali : DKI Jakarta, Jawa Barat dan Aceh (Kemenkes, 2013)

Sumatera Utara adalah salah satu provinsi yang melakukan upaya pengendalian malaria dan menargetkan eliminasi malaria di tahun 2020 mendatang, hal ini sesuai dengan keputusan menteri kesehatan Indonesia tahun 2009, pada tahun 2013 jumlah angka kesakitan (API) provinsi Sumatera Utara adalah 1,30 per 1000 penduduk, di Sumatera Utara masih terdapat beberapa kabupaten/kota endemis malaria diantaranya adalah Kabupaten Mandailing natal, Batubara, Nias Selatan, Asahan, dan Padang lawas utara. (Kemenkes, 2014) Adapun pola penanganan malaria yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara antara lain : Peningkatan kerjasama lintas program dan sektoral, penambahan jumlah peralatan (spray can), penerapan metode

pengobatan malaria baru, peningkatan frekwensi penyuluhan kesehatan masyarakat, menyampaikan informasi kepada sarana-sarana kesehatan tentang perlunya pencatatan/pengiriman pelaporan kasus ke Dinkes setempat dalam upaya pencegahan & penanggulangan lebih awal dan peningkatan peran serta masyarakat serta perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan. (Profil Dinkes Sumut, 2014)

Berdasarkan Data dan informasi dari Profil Kesehatan Indonesia 2014, pada tahun 2012 dijelaskan bahwa Jumlah angka kesakitan (Annual Parasite Incidence)

Malaria di Provinsi Sumatera utara sebesar 0,84‰, pada tahun 2013 sebesar 1,30‰, terlihat mengalami peningkatan, maka upaya pengendalian malaria tetap terus dilakukan. (Kemenkes, 2014)


(22)

Kabupaten Asahan adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang merupakan daerah endemis malaria dengan jumlah kasus tertinggi ke empat di Sumatera Utara terutama pada kecamatan yang berada pada daerah-daerah dataran rendah di kawasan sepanjang timur yaitu terdapat di Kecamatan Sei Kepayang Barat, Kecamatan Sei Kepayang Timur, Kecamatan Tanjung Balai dan Kecamatan Air Joman (Profil Dinkes Kabupaten Asahan, 2013)

Jumlah Kasus Baru Malaria di Kabupaten Asahan tahun 2013 adalah pada Kecamatan Sei Kepayang Barat dan Sei Kepayang Timur hanya memiliki 1 Puskesmas yaitu Puskesmas Sei Kepayang Barat, dengan jumlah 816 kasus, sedangkan Kecamatan Tanjung Balai memiliki 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Sei Apung dan Puskesmas Bagan Asahan, Puskesmas Sei Apung terdapat 244 kasus, sedangkan Puskesmas Bagan Asahan terdapat 698 kasus dan Kecamatan Air Joman memiiki 1 Puskesmas yaitu Puskesmas Binjai Serbangan dengan jumlah 68 kasus. (Profil dinkes Kabupaten Asahan, 2013)

Puskesmas Sei Apung adalah salah satu Puskesmas yang berada di Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan melaksanakan 6 program pokok puskesmas salah satu diantaranya adalah program pencegahan penyakit menular (P2M) termasuk di dalamnya program pengendalian malaria. Keberhasilan suatu program tersebut tidak terlepas dari pelaksanaan koordinasi, pertemuan koordinasi dapat dilakukan pertemuan tingkat kelurahan atau desa, sedangkan di puskesmas dapat dilakukan pertemuan misalnya dalam kegiatan minilog. Pelaksanaan penyuluhan juga di lakukan dalam program pengendalian malaria, penyuluhan di lakukan di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung terutama di desa yang sangat


(23)

endemis malaria seperti Desa Pematang Sei Baru. Penyuluhan yang dilakukan dengan tujuan memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya penyakit malaria.

Adapun kegiatan program pengendalian malaria yang dilakukan adalah diagnosis dini dengan pemeriksaaan sediaan darah dengan menggunakan Rapid

Diagnostict Test (RDT) dan pengobatan malaria, skrining malaria pada ibu hamil

kegiatan tersebut dilakukan dengan melakukan diagnosis dini dan bila hasilnya positif maka dilanjutkan dengan pemberian obat malaria bila tidak maka dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk mencari penyebab penyakit malaria, kegiatan dalam upaya pencegahan malaria dapat dilakukan dengan pemberian kelambu berinsektisida, serta penyemprotan rumah dengan insektisida (IRS) serta dilakukan penyuluhan.

Dilihat dari Sumber daya manusia yang bertugas dalam program tersebut adalah 1 orang bidan sebagai penanggung jawab pengelola program malaria, kemudian bidan desa merupakan perpanjangan tangan dari puskesmas dan dia bertugas melaporkan jumlah kasus malaria di setiap desa kepada penanggung jawab pengelola program malaria. Adapun wilayah kerja Puskesmas Sei Apung terdiri dari Desa Sei Apung, desa Sei Apung Jaya, desa Kapias Batu VIII, dan desa Pematang Sei Baru dan Desa yang memiliki jumlah kasus tertinggi adalah desa Pematang Sei Baru karena desa tersebut merupakan daerah yang sangat endemis malaria dan dilihat dari geografisnya, desa tersebut berada di dekat pantai.


(24)

Berdasarkan hasil laporan Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan yang digabungkan dengan hasil laporan Puskesmas Pembantu dan Poskesdes maka hasil yang diperoleh ditemukan penderita positif malaria pada tahun 2013 sebanyak 168 orang serta pada tahun 2014 ditemukan sebanyak 209 orang positif malaria, obat yang diberikan adalah ACT (Arthemisin

Combination Therapy), sedangkan pada tahun 2013 jumlah penderita yang

mengonsumsi obat ACT adalah 161 orang sedangkan tahun 2014 sejumlah 203 orang, Vektor malarianya adalah nyamuk Anopeles dan parasit penyebab malaria

yang paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung adalah

PlasmodiumFalciparum.

Pemeriksaan hanya dilakukan dengan RDT (Rapid Diagnostic Test) jumlah

ibu hamil yang melakukan skrining malaria pada tahun 2013 dengan target 468 orang ibu hamil yang terrealisasi hanya 264 orang ibu hamil, sedangkan pada tahun 2014 dengan target 429 orang ibu hamil yang terrealisasi sebanyak 300 orang. Pemberian kelambu berinsektisida secara gratis pada tahun 2014 sebanyak 212 kelambu dan kelambu diberikan berdasarkan jumlah KK, ataupun diberikan kepada ibu hamil dan balita. Penyemprotan rumah dengan insektisida di lakukan dibeberapa rumah warga terutama pada desa yang sangat endemis malaria. penyemprotan di lakukan 1 kali dalam setahun.

Hasil Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dalimunthe (2003) di Kecamatan Si Abu Kabupaten Mandailing Natal dijelaskan bahwa keberhasilan pengembangan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan program pencegahan malaria terkait dengan ketersediaan tenaga kesehatan dan fasilitas yang digunakan


(25)

dalam program pencegahan penyakit malaria. Kemudian penelitian sebelumnya yang dilakukan Mayasari (dkk) 2012 menjelaskan bahwa salah satu upaya pencegahan malaria ialah melalui peningkatan pengetahuan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan. Dimana hasil uji statistik variabel pengetahuan dan sikap menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara penyuluhan dengan perubahan pengetahuan dan sikap dari masyarakat.

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas maka penting dilakukan penelitian tentang Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria Di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana dengan koordinasi dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?

2. Bagaimana kegiatan diagnosis malaria dan pengobatan evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?

3. Bagaimana kegiatan skrining malaria pada ibu hamil dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?


(26)

4. Bagaimana kegiatan pemberian kelambu berinsektisida dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?

5. Bagaimana kegiatan penyemprotan dinding rumah (IRS) dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?

6. Bagaimana kegiatan penyuluhan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015 ?

1.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui kegiatan koordinasi dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015

2. Mengetahui kegiatan diagnosis Malaria dan pengobatan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

3. Mengetahui kegiatan skrining malaria pada ibu hamil dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

4. Mengetahui kegiatan pemberian kelambu berinsektisida dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja


(27)

Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

5. Mengetahui kegiatan penyemprotan dinding rumah (IRS) dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

6. Mengetahui kegiatan penyuluhan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Sebagai bahan informasi bagi Pemerintah terutama Dinas Kesehatan Kabupaten Asahan dan Puskesmas tentang Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria di Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.

2. Untuk meningkatkan kemampuan peneliti dalam mengadakan research

ilmiah dan meningkatkan pemahaman peneliti tentang Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015. 3. Sebagai sumber referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai

Evaluasi Sistem Pelaksanaan Program Pengendalian Malaria di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung Kecamatan Tanjung Balai Kabupaten Asahan Tahun 2015.


(28)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep tentang Evaluasi

2.1.1 Pengertian Evaluasi

Evaluasi merupakan bagian dari sistem manajemen yaitu perencanaan, organisasi, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Tanpa evaluasi, maka tidak akan diketahui bagaimana keadaan kondisi objek evaluasi tersebut dalam rancangan, pelaksanaan serta hasilnya. Istilah evaluasi sudah menjadi kosa kata dalam bahasa Indonesia. Akan tetapi kata ini adalah kata sarapan dari bahasa inggris yaitu evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran. (Echols, Shadily,

2000).

Menurut Crowford dalam Lababa bahwa “penilaian (Evaluation) sebagai suatu proses untuk mengetahui/menguji apakah suatu kegiatan, proses kegiatan, keluaran suatu program telah sesuai dengan tujuan atau kriteria yang telah ditentukan”, maka dapat dipahami bahwa evaluasi merupakan sebuah proses yang dilakukan oleh seseorang untuk melihat sejauh mana keberhasilan sebuah program. Keberhasilan program itu sendiri dapat dilihat dari dampak atau hasil yang dicapai oleh program tersebut. Karenanya, dalam keberhasilan ada dua konsep yang terdapat didalamnya yaitu efektifitas dan efisiensi. Lababa memaparkan bahwa “efektifitas merupakan perbandingan antara output dan inputnya sedangkan efisiensi adalah taraf pendayagunaan input untuk menghasilkan output lewat suatu proses” (Lababa,2008).


(29)

Definisi evaluasi yang dikemukakan oleh Edwind Wandt dan Gerald W. brown (dalam Sudijono, 2005:1) adalah ”suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu”. Kata-kata yang terkandung dalam definisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan evaluasi harus dilakukan secara hati-hati, bertanggung jawab, menggunakan strategi, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan Suchman dalam Anderson (dalam Arikunto dan Jabar, 2004:1) memandang ”evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya tujuan”.

Kemudian seorang ahli yang sangat terkenal dalam evaluasi program bernama Stufflebeam dalam Fernandes (dalam Arikunto dan Jabar, 2004:1) mengatakan bahwa ”evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian, dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.”Sedangkan dalam PP No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan dijelaskan bahwa ”evaluasi adalah rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), keluaran (output), dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar”.

Lebih lanjut dalam Penjelasan Atas PP No. 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan juga dijelaskan bahwa: Evaluasi dilakukan dengan maksud untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah pencapaian hasil, kemajuan dan kendala yang dijumpai dalam pelaksanaan rencana pembangunan dapat dinilai dan dipelajari untuk perbaikan pelaksanaan rencana pembangunan di masa yang akan datang. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (output), hasil (outcome), dan dampak (impact) dari pelaksanaan


(30)

rencana. Oleh karena itu, dalam perencanaan yang transparan dan akuntabel, harus disertai dengan penyusunan indikator kinerja pelaksanaan rencana, yang sekurang-kurangnya meliputi indikator masukan, indikator keluaran, dan indikator

Secara umum, evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses setidak-tidaknya memiliki tiga macam fungsi pokok, yaitu:

1.Mengukur kemajuan.

2.Menunjang penyusunan rencana.

3.Memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali (Sudijono, 2005:8). Sedangkan menurut Akdon (2007:176), fungsi evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi dan memberikan masukan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Keuntungan dari evaluasi bermanfaat untuk perbaikan perencanaan, strategi, kebijakan; untuk pengambilan keputusan; untuk tujuan pengendalian program/kegiatan; untuk perbaikan input, proses, dan output , perbaikan tatanan atau sistem prosedur. Bagi para manajer yang melakukan evaluasi atau penilaian akan menemukan satu dari tiga bentuk temuan, yaitu: (a) hasil yang dicapai melebihi harapan dan target, (b) hasil yang dicapai sama dengan harapan dan target, (c) hasil yang dicapai kurang dari harapan dan target (Siagian, 2007:262


(31)

2.1 Konsep Tentang Malaria 2.1.1 Pengertian Malaria

Malaria berasal dari bahasa Italia yaitu dari kata “Mal” artinya buruk dan “Area” yang artinya udara. Secara harfiah (bahasa) malaria adalah penyakit yang sering terjadi pada daerah dengan udara buruk akibat lingkungan yang juga buruk. Jadi definisi dari Malaria berarti suatu penyakit infeksi dengan demam berkala yang disebabkan oleh parasit Plasmodium (termasuk Protozoa) dan di

tularkan oleh nyamuk Anopheles betina (Zulkhoni,2010).

2.1.2 Penyebab Malaria

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang disebut Plasmodium yang hidup dalam sel darah merah. Plasmodium tersebut

sangat kecil dan tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Manusia harus menggunakan mikroskop untuk melihatnya.

Parasit tidak dapat hidup sendiri, tetapi harus mendapat makanan dari organisme lain untuk hidup dan berkembang. Plasmodium yang menyebabkan

malaria pada manusia terdiri dari 4 jenis : a. Plasmodium falciparum

b. Plasmodium vivax

c. Plasmodium malariae

d. Plasmodium ovale.

(Baru-baru ini ditemukan 1 jenis plasmodium yang secara mikroskopis


(32)

P.falciparum yang paling sering menyebabkan malaria berat (dengan

komplikasi). Seorang penderita dapat terinfeksi oleh lebih dari satu jenis

plasmodium, infeksi demikian disebut infeksi campuran (mix infection).

(Kemenkes,2013). 2.2.3 Gejala Malaria

Gejala-gejala malaria ada yang tanpa komplikasi dan ada yang dengan komplikasi (Malaria Berat).

1. Gejala malaria tanpa komplikasi

Malaria tanpa komplikasi biasanya dimulai dengan perasaan lemah, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah. Kemudian diikuti dengan gejala-gejala malaria yang klasik.

Gejala-gejala tersebut adalah sebagai berikut :

a. Stadium Dingin : Merasa sangat dingin, nadi cepat tapi lemah, bibir dan jari-jari berwarna kebiruan, kulit kering dan pucat, bulu-bulu berdiri, kadang muntah. Pada anak-anak dapat terjadi kejang. lama gejala ini 15 menit sampai 1 jam.

b. Stadium Panas : Muka memerah, kulit kering dan panas, sakit kepala menghebat, mual dan muntah, denyut nadi penuh dan cepat, rasa sangat haus, demam sampai 410C atau lebih. Lama gejala ini 2 sampai 4 jam. c. Stadium Berkeringat : Keringat berlebihan, suhu turun kembali sampai

normal, biasanya penderita tertidur lelap dan bangun dengan rasa lemah, tetapi gejala lain tidak ada. Lama gejala ini 2 sampai 4 jam.


(33)

Namun tidak semua pasien menunjukkan semua gejala diatas, dan lamanya gejala tersebut bisa pula berbeda-beda. Selain itu, banyak pasien yang menunjukkan gejala-gejala tambahan seperti diare.

2. Gejala Malaria Berat (Dengan komplikasi)

Malaria berat terutama disebabkan oleh infeksi P.falciparum. Jika tidak segera

dirawat, infeksi ini bisa merusak otak serta menimbulkan kematian. Ada

banyak gejala klinis malaria berat dan penderita bisa mengalami salah satu atau beberapa gejala berikut :

a. Demam tinggi

b. Denyut nadi cepat dan lemah

c. Seluruh tubuh lemah (tidak bisa duduk dan berdiri) d. Kejang berulang > 2 kali per 24 jam setelah demam turun e. Mata atau tubuh berwarna kuning

f. Darah mengucur dari hidung, gusi atau saluran pencernaan g. Napas memburu atau pendek-pendek

h. Tidak bisa makan dan minum i. Muntah terus menerus

j. Warna air seni seperti teh hitam sampai berwarna kopi kental k. Air seni bercampur darah


(34)

2.2.4 Proses Penularan Malaria

Gambar 2.1 Proses Penularan Malaria 2.2.5 Alur Penemuan Penderita Malaria


(35)

2.2.6 Indikator Program Malaria

Angka kesakitan penyakit malaria dapat diukur dengan Annual Parasite

Incidence (API) dan Annual Malaria Incidence (AMI).

a. Annual Parasite Incidence atau API (‰) adalah jumlah penderita malaria positif per 1000 penduduk.

Malaria positif adalah kasus malaria yang didiagnosis (pemeriksaan

specimen/sediaan darahnya) secara mikroskopis atau rapid diagnostic test hasil

positif mengandung plasmodium.

Angka API dikatakan rendah apabila < 1‰, sedang 1 - < 5‰ dan tinggi apabila > 5‰.

b. Annual Malaria Incidence atau AMI (‰) adalah jumlah penderita malaria klinis per 1.000 penduduk.

Malaria Klinis adalah kasus dengan gejala malaria klinis (demam, menggigil dan berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot. Angka AMI dikatakan rendah apabila < 10‰, sedang 10 –50‰ dan tinggi apabila ≥ 50‰.


(36)

2.3 Program Pengendalian Malaria

2.3.1 Visi dan Misi  Visi :

“Masyarakat Sehat, Bebas MasalahMalaria, Mandiri Dan Berkeadilan”  Misi :

1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani dalam pengendalian malaria.

2. Menjamin ketersediaan pelayanan malaria yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan.

3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya pengendalian malaria. 4. Menciptakan tata kelola program malaria yang baik.

2.3.2 Kebijakan

Adapun kebijakan program pengendalian malaria adalah sebagai berikut: 1) Diagnosis malaria harus dilakukan dengan konfirmasi mikroskop atau tes

diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test /RDT).

2) Pengobatan yang menggunakan terapi kombinasi berbasis Artemisin

(Artemisinin Based Combination Therapy/ACT) sesudah konfirmasi

laboratorium.

3) Pencegahan dari penularan malaria melalui penggunaan kelambu berinsektisida berjangka panjang (Long Lasting Insecticidal Net’s/LLINs), penyemprotan dinding rumah (IRS/Indoor Residual Spraying), penggunaan


(37)

4) Layanan tata laksana kasus malaria dilaksanakan oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan dilakukan secara terintegrasi ke dalam sistem layanan kesehatan dasar.

5) Pengendalian malaria dilaksanakan sesuai dengan azas desentralisasi yaitu kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan, penilaian serta menjamin ketersediaan sumber daya manusia, sarana dan prasarana dan biaya operasional.

6) Penguatan kebijakan ditujukan untuk meningkatkan komitmen pemerintah pusat dan daerah meningkatkan tata kelola program yang baik serta peningkatan efektifitas, efisiensi dan mutu program.

7) Penggalangan kerjasama dan kemitraan diantara sektor pemerintah, dunia pendidikan, organisasi profesi, swasta dan masyarakat dilakukan dengan memanfaatkan Forum Nasional Gebrak Malaria.

8) Memperkuat inisiatif Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat yaitu dengan mengintegrasikan pembentukan Pos Malaria Desa (Posmaldes) ke dalam Desa Siaga.

2.4. Kegiatan Program

Adapun kegiatan program pengendalian malaria antara lain diagnosis malaria, pengobatan malaria, skrining pada ibu hamil, pemberian kelambu berinsektisida berjangka panjang (Long Lasting Insecticidal Net’s/LLINs) dan penyemprotan dinding rumah (IRS/Indoor Residual Spraying)


(38)

2.4.1 Diagnosis Malaria

Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang laboratorium. Sedangkan diagnosis pasti malaria bisa dilakukan dengan pemeriksaan darah, baik secara mikroskopis, maupun uji diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test /RDT).

A. Anamnesis

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan:

- Keluhan : demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal

- Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria - Riwayat berkunjung ke daerah endemis malaria.

- Riwayat tinggal di daerah endemis malaria

Setiap kasus dengan keluhan demam atau riwayat demam harus selalu ditanyakan riwayat kunjungan ke daerah endemis malaria.

B. Pemeriksaan fisik

a. Suhu tubuh aksiler > 37,5 °C

b. Konjungtiva atau telapak tangan pucat c. Sklera (mata) ikterik

d. Pembesaran Limpa (splenomegali) e. Pembesaran hati (hepatomegali)


(39)

C. Pemeriksaan laboratorium 1) Pemeriksaan mikroskopis

Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis untuk menentukan: - Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).

- Spesies dan stadium plasmodium - Kepadatan parasit

2) Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT)

Pemeriksaan dengan RDT tidak untuk evaluasi pengobatan.

Diagnosis pasti malaria bisa dilakukan dengan pemeriksaan darah, baik secara mikroskopis, maupun uji diagnosis cepat (Rapid Diagnostic Test /RDT),

dan saat ini metode pemeriksaan dengan mikroskopis merupakan standar baku emas (gold standard) karena dapat melihat parasit malaria, sehingga dapat

mendiagnosis penderita tanpa gejala. a. Pemeriksaan Mikroskopis Malaria

Pemeriksaan malaria secara mikroskopis adalah pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis, dengan pewarnaan Giemsa. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop pembesaran okuler 10 kali dan objektif 100 kali menggunakan minyak imersi. SD tebal ditujukan untuk mengidentifikasi parasit secara cepat dan menghitung jumlah parasit, sedangkan SD tipis untuk melihat morfologi (jenis dan stadium) parasit lebih detail.


(40)

Langkah-langkah pada pemeriksaan malaria secara mikroskopis meliputi : 1. Penyiapan Alat dan Reagensia

Alat yang digunakan adalah Mikroskop Binokuler

Bahan yang digunakan adalah Kaca sediaan/slide/objek glass, lenset steril, kapas alkohol 70%, minyak imersi, larutan buffer pH 7.2, Giemsa stok.

Giemsa stok harus selalu dilakukan pengujian mutu secara rutin untuk memastikan kualitasnya. Larutan Giemsa yang dibuat adalah 3% dan harus selalu dibuat baru bila ada pemeriksaan.

2. Pembuatan sediaan darah

Bahan pemeriksaan yang terbaik adalah darah dari ujung jari. Sediaan darah malaria yang dibuat adalah sediaan darah tebal dengan diameter 1-1,5 cm dan sediaan darah tipis yang berbentuk seperti ujung lidah.

3. Pembacaan sediaan darah (identifikasi)

Pembacaan sediaan darah meliputi identifikasi spesies dan stadium parasit malaria. Spesies yang diidentifikasi antara lain sebagai berikut: Plasmodium

falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae, dan Plasmodium ovale.

Stadium parasit malaria yang ada di dalam sel darah merah yang terinfeksi yaitu : stadium trofozoit, stadium skizon dan stadium gametosit.

Adapun proses kegiatannya adalah sebagai berikut :

Dimulai dengan pembuatan sediaan darah (SD) terdiri dari 2 jenis yaitu sediaan darah tebal dan tipis, bersihkan ujung jari dengan kapas alkohol dan kemudian tusuk ujung jari dengan lancet, teteskan 1 tetes darah di tengah object


(41)

glass diatas meja, tunggu proses pengeringan, setelah kering lakukan proses

pewarnaan dengan larutan giemsa tuangkan ke seluruh permukaan object glass

biarkan selama 30 menit kemudian tuang air bersih dari tepi object glass, angkat

dan keringkan maka SD siap untuk diperiksa kemudian identifikasi jenis spesies dan stadium parasit yang telah ditemukan (Kemenkes, 2014).

b. Diagnosis malaria menggunakan RDT Kebijakan penggunaan RDT :

1. Pada puskesmas terpencil di daerah endemis yang belum dilengkapi dengan mikroskop atau sarana laboratorium, di Pustu, Polindes dan Poskesdes. 2. Pada kondisi kegawatdaruratan pasien yang memerlukan penatalaksanaan

dengan segera (hanya untuk diagnosis awal).

3. Pada daerah dengan KLB malaria dan bencana alam di daerah endemis malaria yang belum dilengkapi fasilitas laboratorium malaria.

RDT merupakan alat diagnosis alternatif yang baik karena cepat dan akurat. cara menggunakannya sama halnya dengan pemeriksaan menggunakan mikroskop, butuh sedian darah bedanya darah yang udah diambil dengan loop dimasukkan kedalam kotak sampel darah kemudian teteskan cairan buffer, diamkan dan biarkan darah tercampur dan meresap pada kotak, dan setelah 15 menit baca hasil ditempat yang terang.


(42)

Gambar 2.3 : Uraian/Penjelasan Tes RDT

Cara membaca hasil tes RDT jenis single (contoh: Paracheck P.f):

• Bila terdapat 1 (satu) garis berwarna pada jendela Tes (T) dan 1 (satu) garis pada jendela kontrol (C) menunjukkan positif P.falciparum

• Bila tidak terdapat garis berwarna pada jendela kontrol (C) menunjukkan kesalahan pada RDT (tes harus diulangi).

• Bila terdapat garis pada jendela kontrol (C) menunjukkan negatif P.falciparum.

Jika RDT maupun Mikroskop tersedia maka pemilihan alat diagnostik tergantung dari jumlah pasien, ketersediaan tenaga labolatorium dan klinik yang terlatih dan kebutuhan penggunaan mikroskop untuk penyakit lain. Namun perlu diketahui bahwa sensitivitas dan spesifisitas pemeriksaan mikroskop lebih tinggi dibanding RDT bila dilakukan oleh tenaga yang terlatih, sedangkan RDT tergantung pada jenis dan jumlah parasit, kondisi RDT, teknik pemeriksaan dan interpretasi hasil yang benar (Depkes, 2010).


(43)

2.4.2 Pengobatan Malaria

Pengobatan malaria yang dianjurkan oleh program saat ini adalah dengan ACT (Artemisinin based Combination Therapy). Pemberian kombinasi ini untuk

meningkatkan efektifitas dan mencegah resistensi. Malaria tanpa komplikasi diobati dengan ACT oral. Malaria berat diobati dengan injeksi Artesunat atau Artemeter kemudian dilanjutkan dengan ACT oral.

a) Pengobatan Malaria tanpa Komplikasi

Pengobatan malaria falciparum dan vivax saat ini menggunakan ACT di

tambah primakuin. Dosis ACT untuk malaria falciparum sama dengan malaria

vivaks, sedangkan obat primakuin untuk malaria falciparum hanya diberikan pada

hari pertama saja dengan dosis 0,75 mg/kgBB dan untuk malaria vivaks selama

14 hari dengan dosis 0,25 mg/kgBB.

Dosis obat : Dihydroartemisinin = 2 – 4 mg/kgBB Piperakuin (DHP) = 16 – 32 mg/kgBB Primakuin = 0,75mg/kgBB

(P. falciparum untuk hari I)

Primakuin = 0,25 mg/kgBB (P. vivax selama 14 hari)

b) Pengobatan Malaria Pada Ibu Hamil

Pada prinsipnya pengobatan malaria pada ibu hamil sama dengan pengobatan pada orang dewasa umumnya, perbedaannya adalah pada pemberian obat malaria berdasarkan umur kehamilan. Pada ibu hamil tidak diberikan Primakuin.


(44)

Tabel 2.1 Pengobatan malaria yang diberikan kepada Ibu hamil

Umur Kehamilan Pengobatan

Trimester I (0-3 Bulan) Kina tablet + Klindamisin selama7 hari Trimester II (4-6 Bulan) ACT tablet selama 3 hari

Trimester III (7-9 Bulan) ACT tablet selama 3 hari

Menurut WHO obat malaria yang paling aman di trimester pertama adalah Kina, Klindamisin juga aman tetapi harus dikombinasikan. Obat Kina merupakan obat pilihan karena paling efektif dan dapat digunakan pada semua masa kehamilan. ACT hanya diberikan pada umur kehamilan trimester 2 dan 3 karena belum ada data klinis atau bukti yang menjelaskan efek buruk kehamilan bila mengonsumsi obat ACT pada trimester 1. Obat anti malaria yang tidak boleh diberikan selama kehamilan adalah tetrasiklin, doksisiklin, dan primaquin.

c) Pengobatan Malaria Berat

Semua kasus malaria berat harus ditangani di Rumah Sakit (RS) atau di puskesmas perawatan. Bila fasilitas maupun tenaga kurang memadai, maka kasus harus dirujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih lengkap.

1. Pengobatan malaria berat di Puskesmas / Klinik non Perawatan

Jika puskesmas/klinik tidak memiliki fasilitas rawat inap, pasien malaria berat harus langsung dirujuk ke fasilitas yang lebih lengkap. Sebelum dirujuk berikan artemeter intramuskular dosis awal (3,2mg/kgbb).

2. Pengobatan malaria berat di Puskesmas/Klinik Perawatan atau RS

Artesunat intravena merupakan pilihan utama. Jika tidak tersedia dapat diberikan artemeter intramuskular atau kina drip. Bila kasus sudah dapat minum


(45)

obat (per-oral), setelah pemberian Artesunat intravena atau artemeter intramuskular atau kina drip maka pengobatan dilanjutkan dengan regimen DHP + primakuin selama 3 hari atau Artesunat + Amodiakuin + primakuin selama 3 hari. Artesunat intravena merupakan pilihan utama. Jika tidak tersedia dapat diberikan artemeter intramuskular atau kina drip.

Semua obat anti malaria tidak boleh diberikan dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung. Oleh sebab itu harus makan terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria (Kemenkes,2014).

2.4.1 Skrining Malaria Pada Ibu Hamil

Skrining adalah upaya pemeriksaan atau tes yang sederhana dan mudah yang dilaksanakan pada populasi masyarakat sehat yang bertujuan untuk membedakan masyarakat yang sakit atau berisiko terkena penyakit diantara masyarakat yang sehat. Pemeriksaan yang dapat di lakukan adalah dengan pemeriksaan mikroskopis dan pemeriksaan uji cepat (RDT).

Dapat dilakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan labolatorium atau pemeriksaan penunjang lainnya.

1. Daerah Endemis

Dilakukan skrining rutin dengan RDT untuk semua ibu hamil 2. Daerah Non Endemis

Skrining dengan RDT pada ibu hamil dengan gejala klinis malaria. (Depkes,2010)


(46)

2.4.4 Memakai Kelambu Berinsektisida.

Memakai kelambu berguna untuk mencegah terjadinya penularan (kontak langsung manusia dengan nyamuk) dan membunuh nyamuk yang hinggap pada kelambu, WHO telah merekomendasikan bahwa ibu hamil harus segera mulai menggunakan kelambu saat tidur begitu tahu mereka hamil.

Tabel 2.2 Perbandingan antara kelambu biasa dengan kelambu berinsektisida

Kelambu Berinsektisda Kelambu Biasa Memberikan perlindungan

terhadap gigitan nyamuk

1. Membunuh atau menangkal nyamuk yang menyentuh kelambu

2. Mengurangi jumlah nyamuk di dalam maupun di luar kelambu

3. Membunuh serangga

lainnyaseperti tuma, laba-laba, kutu kasur dan kecoa

4. Aman digunakan untuk ibu hamil, anak-anak dan bayi

Memberikan perlindungan terhadap gigitan nyamuk

1. Tidak membunuh atau menangkal nyamuk yang menyentuh kelambu

2. Tidak mengurangi jumlah nyamuk di dalam maupun di luar kelambu

3. Tidak membunuh serangga lainnya seperti tuma, laba-laba, kutu kasur dan kecoa

4. Aman digunakan untuk ibu hamil, anak-anak dan bayi

Saat ini upaya pengendalian malaria menggunakan kelambu berinsektisida (Long Lasting Insecticidal Nets/LLINs) yang umur residu efektifnya relatif lama

yaitu lebih dari 3 tahun. Untuk memaksimalkan pemakaian kelambu berinsektisida, kelambu tersebut harus dirawat dengan benar. Kelambu berinsektisida bisa dicuci dengan sabun atau bubuk detergen dengan cara mencelup-celupkannnya saja, tidak disikat, dikucek ataupun direndam karena akan mengurangi kekuatan insektisidanya, dan pastikan menjemur kelambu di tempat yang teduh dan sinar matahari tidak mengenai secara langsung.


(47)

Adapun Sasaran dan kebutuhan kelambu berinsektisida dihitung berdasarkan sasaran penduduk di tiap lokasi yang ditetapkan mendapat distribusi kelambu adalah sebagai berikut:

a. Sasaran kepada seluruh penduduk

Jumlah kelambu yang dibutuhkan minimal satu kelambu untuk dua orang atau kebutuhan kelambu dihitung dengan rumus : Jumlah penduduk dibagi dua. b. Sasaran pada kelompok rentan (ibu hamil, bayi dan balita)

Kelambu berinsektisida dibagikan secara rutin melalui kegiatan integrasi dengan program/kegiatan lain seperti KIA, imunisasi dan gizi.

1) Program/kegiatan kesehatan Ibu Hamil dan Kesehatan Anak, kebutuhan kelambu dirinci sebagai berikut :

- Untuk Ibu Hamil per tahun : 1,1 x Crude Birth Rate (CBR) x jumlah

penduduk.

- Untuk Bayi per tahun : 1 x CBR x jumlah penduduk. - Untuk Anak Balita : 9 % x jumlah penduduk.

2) Program/kegiatan Imunisasi

Kebutuhan kelambu dihitung berdasarkan jumlah bayi yang sudah mendapat imunisasi lengkap yang ditandai dengan pemberian immunisasi campak setiap tahunnya.

3) Program/kegiatan Gizi

Kebutuhan kelambu dihitung berdasarkan jumlah bayi dan anak balita yang akan diberi vitamin A setiap tahun.


(48)

Sumber biaya berasal dari :

Anggaran Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota, Lintas Program (KIA, Imunisasi, Kesga), Lintas Sektor (Transmigrasi, Tenaga Kerja, TNI/POLRI), Lembaga Donor (GFATM, WHO, Unicef, PMI), LSM, swasta, dan lain-lain (Kemenkes, 2011).

2.4.5 Penyemprotan Rumah Dengan Insektisida (IRS : Indoor Residual Spraying)

Penyemprotan rumah dengan insektisida adalah suatu cara pengendalian vektor dengan menempelkan racun serangga dengan dosis tertentu secara merata pada permukaan dinding yang disemprot. Tujuannya adalah memutus rantai penularan dengan memperpendek umur populasi, sehingga nyamuk yang muncul adalah populasi nyamuk muda atau belum infektif (belum menghasilkan sporozoit di dalam kelenjar ludahnya).

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut harus lebih memperhatikan waktu pelaksanaan berdasarkan data kasus malaria yaitu 2 bulan sebelum puncak kasus atau data pengamatan vektor, atau 1 bulan sebelum puncak kepadatan vektor. Monitoring dan evaluasi dilakukan terhadap cakupan bangunan harus mencapai minimal 80% dari jumlah rumah di desa tersebut, sedangkan cakupan permukaan yang disemprot minimal 90% dari semua bagian rumah yang seharusnya disemprot (Kemenkes,2014).

Alat yang digunakan untuk pengendalian malaria adalah Spray Can yaitu


(49)

Alat semprot ini terutama digunakan untuk penyemprotan residual pada permukaan dinding dengan insektisida, terdiri dari tangki formulasi yang berbentuk silinder dilengkapi dengan pompa yang dioperasikan dengan tangan dengan 2 (dua) pegangan pada ujung batang pompa (bila dikehendaki), komponen pengaman tekanan, selang yang tersambung di bagian atas batang pengisap, trigger valve dengan pengunci, tangkai semprotan, pengatur keluaran dan nozzle dan komponen tambahan lainnya yang dinyatakan oleh produsen. Alat semprot harus mempunyai tempat meletakkan tangkai semprot ketika tidak digunakan, tidak ada bagian yang tajam sehingga dapat melukai operator dan tidak terdapat komponen yang terbuat dari kayu.

Jenis bahan termasuk penutup lubang pengisian harus dinyatakan secara jelas dan harus tahan terhadap korosi, tekanan dan sinar ultra violet. Tidak boleh terjadi kerusakan, kebocoran pada (las) sambungan atau keretakan ketika dilakukan uji daya tahan (Fatique test). Tidak boleh ada kandungan timbale atau seng pada

bahan penyolder kecuali pada sambungan, tangkai semprotan, trigger valve,

badan nozzle dan pipa pengisap. Dalam keadaan terisi penuh pada pengoperasian normal, beratnya harus dinyatakan dan tidak boleh melebihi 25 Kg.

Tali sandang dan gesper, minimal lebarnya 50 mm dan panjang yang dapat diatur dengan minmal 100 cm. Tali sandang dan pengencangnya harus mampu bertahan pada uji jatuh (drop test). Pompa dengan tangki yang berisi penuh sesuai

kapasitas dan semua komponen terpasang, harus mampu mencapai tekanan kerja maksimum dengan pemompaan tidak melebihi ke 60.


(50)

Gambar 2.4 Alat Spray Can (Kemenkes,2011) 2.4.6 Penyuluhan

Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke Puskesmas

2. Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuaan desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu, kunjungan posyandu, pertemuan PKK dan pertemuan karang taruna.

3. Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran film, ceramah umum, tabligh akbar. Selain itu penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (Balai desa, Posyandu, Poskesdes dan Lain-lain) (Kemenkes, 2011).


(51)

2.5 Puskesmas

2.4.1 Pengertian Puskesmas

Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya (Kemenkes RI, 2014). 2.5.2 Fungsi Puskesmas

Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat. Dalam melaksanakan tugasnya, puskesmas menyelenggarakan fungsi:

1. Penyelenggaraan UKM tingkat pertama di wilayah kerjanya

Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk :

a. Melaksanakan perencanaan berdasarkan analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan.

b. Melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan.

c. Melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan.

d. Menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait.


(52)

e. Melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat.

f. Melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusia puskesmas. g. Memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan.

h. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan cakupan Pelayanan Kesehatan.

i. Memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat, termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit.

2. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama di wilayah kerjanya

Dalam menyelenggarakan fungsi ini, puskesmas berwenang untuk :

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dasar secara komprehensif, berkesinambungan dan bermutu.

b. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif.

c. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

d. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang mengutamakan keamanan dan keselamatan pasien, petugas dan pengunjung.

e. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan dengan prinsip koordinatif dan kerja sama inter dan antar profesi.


(53)

g. Melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap mutu dan akses pelayanan kesehatan.

h. Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan.

i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pembinaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di wilayah kerjanya.

j. Melaksanakan penapisan rujukan sesuai dengan indikasi medis dan sistem rujukan.

Selain menyelenggarakan fungsi sebagaimana dimaksud, puskesmas dapat berfungsi sebagai wahana pendidikan tenaga kesehatan. Ketentuan mengenai wahana pendidikan tenaga kesehatan tersebut, dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan (Kemenkes RI, 2014).

Dalam konteks otonomi daerah saat ini, puskesmas mempunyai peran yang sangat penting sebagai intitusi pelaksana teknis. Puskesmas dituntut memiliki kemampuan manajerial dan wawasan jauh ke depan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. peran tersebut ditujukkan dengan ikut serta menentukan kebijakan daerah melalui sistem perencanaan yang matang dan realistis, tata laksana kegiatan yang tersusun rapi, serta sistem evaluasi dan pemantauan yang akurat. Puskesmas juga dituntut berperan dalam pemanfaatan teknologi informasi terkait upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara komprehensif dan terpadu (Mubarak, 2012).


(54)

2.6 Kerangka pikir

Gambar 2.5 Kerangka Pikir

Berdasarkan gambar diatas definisi dari kerangka pikir tersebut adalah sebagai berikut :

1. Input

Input adalah segala sesuatu yang dibutuhkan untuk dapat melakukan evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria seperti: Sumber daya Manusia (SDM), Sarana dan Prasarana serta Dana

a. Ketersediaan SDM adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang terlibat dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung.

b. Ketersediaan Sarana dan Prasarana adalah Ketersediaan seluruh bahan, peralatan, serta fasilitas yang digunakan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja puskesmas Sei Apung

Output Jumlah angka kesakitan malaria Input 1. Ketersediaan SDM 2. Ketersediaan

Sarana dan Prasarana 3. Ketersediaan Dana Proses -Koordinasi -Diagnosis dan Pengobatan -Skrining malaria -Kelambu

berinsektisida -Penyemprotan

dinding rumah -Penyuluhan


(55)

c. Ketersediaan Dana adalah Ketersediaan bagian yang mendukung dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria

2. Proses

Proses adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung yaitu dengan cara :

a. Koordinasi adalah kerja sama dengan pihak lain evaluasi sistem pelaksanaan program pengendalian malaria di wilayah kerja Puskesmas Sei Apung.

b. Diagnosis malaria dan pengobatan adalah suatu penentuan penderita positif malaria dengan melakukan pemeriksaan sediaan darah dengan tes uji cepat (RDT), sedangkan pengobatan adalah tindak lanjut dari diagnosis malaria c. Skrining malaria pada ibu hamil adalah kegiatan deteksi dini pada ibu

hamil tanpa memandang usia kehamilan dan pemeriksaan di lakukan dengan menggunakan RDT (Tes uji cepat).

d. Pemberian kelambu berinsektisida adalah kegiatan dalam upaya pencegahan malaria yang dapat diberikan kepada ibu hamil, bayi dan balita maupun masyarakatnya.

e. Penyemprotan dinding rumah adalah suatu kegiatan pengendalian vektor dengan menempelkan racun serangga dengan dosis tertentu secara merata pada permukaan dinding yang disemprot


(1)

Matriks 7. Pernyataan Informan Mengenai Kegiatan Skrining Malaria Pada Ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung

Informan Pernyataan

Informan 1 Setiap ibu hamil ee.. wajib di skrining pada kunjungan pertama tanpa memandang usia kehamilan, seumpamanya udah 3 bulan baru ketemu ama bidan desa kita maka wajib di skrining, bidan desa kalau dia lagi posyandu ..ada yang nampak di posyandu ibu hamil maka wajib di skrining atau adaa.. warga yang hamil yang mau periksa ke bidan wajib di skrining gitu jadi baik yang datang atau kita yang jumpa wajib skrining itu, kita tanyak udah pernah skrining belum? kan gitu. skrining cuma 1 kali, cuma nanti kalau dia

demam baru di periksa kemudian kita periksa lagi, tapi itu namanya bukan skrining, kita duga dah malaria, maka kita periksa tapi namanya bukan skrining karna skrining itu Cuma 1 kali.

Informan 2 Maksudnya skrining ibu hamil tu smua ibu hamil tu maunya di periksa, sebaiknya di periksa malarianya, gitu, karna takut membuat ee..plasmodiumnya apa namanya jadi keguguran jadi dia terutama usia muda, usia muda

kehamilannya gitu, makanya di lakukan skrining gitu sama halnya dengan HIV/AIDS, memang sih sebaiknya tau ibu hamil itu hamil maka sebaiknya di periksa langsung, tapi di desa pematang sei baru itu kalau mau melakukan skrining gitu harus di iming-imingi dengan pembagian kelambu gitu kalau gak kek gitu orang tu belum tentu maw datang. Informan 3 Kalau skrining pada waktu posyandu, rutin tiap bulannya

lah tapi posyandu ajanya sih, kalau ibu hamilnya ada ya di lakukan skrining law gak ya gak lah

Informan 4 Skrining ibu hamil ee.. itu setiap satu bulan sekali, oh bukan satu bulan sekali.. itu..itu apa itu..ee, apabila ada pasien bumil yang merasa dia positif malarialah, baru di

periksalah ee…udah tu..iyalah itulah, ee..oh ya skrining bumil ini di lakukan pada apa namanya itu ha.. kunjungan pertama, begitu awak tau dia hamil torus la awak periksa, ha begitulah kalau tau dio hamil langsung lah diperiksa begitulah putri, tak lah sebulan sekali,tak tontu lah, memang kek gitu seharusnyo tapi kadang kekmanolah selalu di periksa waktu dio udah domam, barulah di cek, kek gitu lah.

Informan 7 Apa namanya? skrining ibu hamil… apo itu? baru dengar pulak.. kek cek malaria itu ya? ada. tapi cek waktu domam itulah bukan waktu kena malaria


(2)

Matriks 8. Pernyataan Informan Mengenai Kegiatan Pemberian Kelambu berinsektisida di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung

Informan Pernyataan

Informan 1 Sasarannya sama ibu hamil, kemaren kita ada.. juga ee..pendistribusian massal, itu semua tiap KK dapat, cuma ada yang khusus untuk ibu hamil, itu namanya kalau dalam ekonomi ada yang satu pendistribusian massal dan kedua pendistribusian kelambu rutin, rutin tadi.. ibu hamil yang di skrining, yang dapat kelambu, pendistribusian massal tu untuk yang per KK tapi itu khusus untuk daerah yang

endemis tinggi gak semua, kalau apa namanya… HCI dia.. di daerah HCI, untuk pembagian yang rutin itu… seperti

ibu hamil yang di skrining itu di kasi kelambu, kemaren program kita ini terakhir kita ibu hamil aja, kemaren-kemaren memang ada, kalau kemaren-kemaren-kemaren-kemaren memang dia ada ibu hamil, bayi dan balita, sebelum-sebelumnya ada. Kalau menurut saya sih efektif, cuma begini..kan kelambunya ada di dalam rumah jadi kita lihat efektif tu dari indikator nya bayi, akses kurang, turun, berarti kan kelambunya efektif, kalau orang dewasa kan banyak di luar gak bisa jadi indikator, kasus terakhir ini banyak dewasa, anak-anak ke bawah berkurang..turun lah, sejak ada pembagian kelambu ini turunlah, khusus untuk anak-anak dan bayi.. turunlah, pemberian tergantung dari bantuan yaitu dari Global Fund, jadi yang membantu pembagian kelambu ini bidan desa, dan koordinasi juga sama kepala desa.

Informan 2 Yaaa, sama jugalah kalau ada bantuan dari luar negri itu di beri lah kelambu, setau saya, ee.. 2 kali ya dalam 2 tahun ini, kelambu tu ya efektif lah ya tergantung dari

masyarakatnya menggunakannya, yaa.. kalau dia pakai gak kena malaria lah

Informan 3 Kalau kelambu itu target dari sana itu sasarannya umpanya

itu seperti ee…per kk, atau ee.. tergantung dari sana, instruksi dari sana harus sesuai dari sana gak bisa suka-suka hati kita, ini nanti datangnya hanya untuk ibu hamil, udah itu ada kadang untuk balita ama ibu hamil, yang

terbaru ini ee…per KK tiap KK di bagi untuk 1 kelambu

gitu lah, biasanya yang bantu itu bidan desa, kader, sumber dana dari GF ama APBD

Informan 4 Pemberian kelambu itu seingat aku ee..2 tahun sekali

diberikan, ee… pertama program pemerintah dan udah


(3)

disitu, kek gitu, yang di kasi kelambu ibu hamil bumil,

ee…tapi kalau yang ini waktu hari itu yang aponyo lah yo patokannya, ee… ibu hamil dan anak balita tpi terakhir ni

masyarakatnya, orang dinas tidak memberikan aja, yang bantu kerja tu kader posyandu dah yang rutin setiap bulannya.

Informan 5 ee..Sebelumnya orang dinas memberitahu saya la kalau ada pembagian kelambu, ya udah cuma tu aja

Informan 7 Kelambu, yaa kadang-kadang di bagilah ya

Informan 8 Oh, barusan ni kami dapat kelambu, kok dulu-dulu Cuma ibu hamil ajo, ini gak taw juga ya entah kenapa di kasi, ya..kalau uwak di kasi, ya di ambil aja la,hehehe,.. kan gratis..

Matriks 9. Pernyataan Informan Mengenai Kegiatan Penyemprotan Dinding Rumah (IRS) di Wilayah Kerja Puskesmas Sei Apung

Informan Pernyataan

Informan 1 Sebenarnya, kalau yang sebenarnya ya ee.. sebelum puncak penularan dilakukan penyemprotan, tapi karena kita di program ini dana-dana APBD, ya sesuai dengan dana keluar barulah kita kerjakan pertri wulan.

Informan 2 Kalau teorinya sih tidak harus.. jangan sampek ada kasus baru disemprot, bagus juga sih dinding rumahnya di semprot supaya nyamuknya jadi gak berkembang, yang penting orang-orangnya di bilangi, misalnya kalo saya dulu tinggal di sei kapayang, endemis ya, orang-orang di daerah tertentu itu hendaknya malam itu jangan banyak di luar, pakai kelambu, misalnya kalau orang sering begadang pasti kena malaria, begitu. karna nyamuk malaria itu

berkembang dan mengeluarkan penyakit dari mulai malam dari mulai jam 6 sampek besok, kalau nyamuk DBD dari mulai jam 10 pagi sampek jam 12 jam 2, asal gelap dia memang kek gitulah hidupnya.

Informan 3 Kalau penyemprotan tu ee..udah 2 kali la dalam setahun, ya kegiatannya ni tergantung dana, kalau dana tidak ada ya tidak ada penyemprotan, gak da jadwal tuk penyemprotan la, kalau ada dana, ya..ee..di semprotlah

Informan 4 Penyemprotan kemaren ee..baru 2 kali lah sekitar dua tahun sekali juga lah, kek gitulah, sebaiknya sebelum wabah lah di semprot sesuai dengan program pemerintah, tapi kan kalau di sini memang kan tak wabah tapi memang udah endemis dio ni


(4)

Informan 5 Kek fogging itu ya? iya ada juga orang dinas lapor sama saya kalau desa pematang sei baru tu, hmm.. mau di fogging, ee..apa itu,,semprot maksudnya

Informan 6 Kita kan melakukan persiapan alat-alat nya, diisi kedalam tabungnya tu kan dengan racun nya, udah satu air ama racunnya tadi, maka bersiaplah di laksanakanlah tugas penyemprotan, petugasnya ada 6 orang, maka

penyemprotan tu sekelilingnya, dari depan sampai ke belakang dengan secara sempurna, ada juga lah masyarakat yang tak mau, misalnya dia tak mau di semprot di belakang atau kamarnya, jadi kan penyemprotannya tak sempurna, sebenarnya saya sudah kasi pengertian tapi karena mereka tidak tau, menganggap tu adalah racun kan pasti bahaya, kek gitu lah

Informan 7 Ado jugo , tapi dibatasi la penyemprotannyo tu, rumah ku tak di semprot, kadang ado jugo masyarakat yang tak di semprot rumahnyo, ya.. orang tu mintak di semprot,

haahha…

Informan 8 Ee… ada, tapi jarang, kalau tak salah.. tahun semalam ado di semprot, kalau sekarang tak tau lah

Matriks 10. Pernyataan Informan Mengenai Penyuluhan malaria

Informan Pernyataan

Informan 1 Sebenarnya gini, ee... kita untuk melakukan khusus itu tidak ada, tinggal lagi, itu kita sarankan kepada bidan desa atau petugas posyandu tetap di apakan ke masyarakat, itu sudah penyuluhan, penyuluhan gak harus ngumpulin orang kan? kita ngomong-ngomong sama masyarakat itu sudah penyuluhan kan gitu? itu kami sarankan sama bidan desa, ada kegiatan-kegiatan lain, tolonglah di sampaikan tentang malaria ini kan gitu, sama orang KIA juga kita pesankan juga, sama orang promkes kita pesankan juga, kalau mereka dapat tolong lah ingatkan tentang malaria itu. Informan 2 Penyuluhan adalah.. promkes ada, ada petugasnya, tapi

kalau misalnyaaa lagi banyak masalah sihh, tapi kembali ke dana juga, misalnya kalau kita buat, apa ini meningkat

ni, ee… malaria, trus ayok kita buat Poanya yok, ada ni

dari dana BOK , ayok kita buat yok, Poanya, ha kita buat yok penyuluhan tentang itu, gitu.


(5)

bulan lah pertiga bulan atau enam bulan sekali gitu lah, gak tentulah , paling tentang malaria lah, terakhir pakek infokus tergantung lah mungkin bisa pakek infokus lah

Informan 4 Lakukan penyuluhan, ee..Ya tak palah perbulan lah, apa namanya itu, ee..ha setahun sekali atau setahun dua kali ya begitulah, itu bidan desa dan pengelolanya yang terjun, ya kalau media nya gambar, apa itu?gambar ajo poster la, ha poster la

Informan 5 Ada juga la penyuluhan, ee…kurang taw berapa kali Informan 6 Ee… ada lah, pernah

Informan 7 Kek nya ada la, Cuma tak pernah pulak kk

dtng,hehe…namanya kk ngajar juga kan, keknya ada lah tu

penyuluhan, kurang tau juga

Informan 8 Penyuluhan?ee…pernah lah mungkin

Matriks 11. Pernyataan Informan Mengenai Pentingnya Koordinasi

Informan Pernyataan

Informan 1 Koordinasi sama kepala desa, pernah sih kita ke

pendidikan pernah… kadang kurang apa juga memang

koordinasi, jadi kita masih lintas program kalau sektor

masih kurang juga…

Informan 2 Ada lah pasti koordinasi, kantor camat, kepala desa, kepala dusun, kader, kalau gak kita cuman ke desa aja, paling yang terlibat kepala desa ama kepala dusun saja sih Informan 3 Gak da pakek lintas sektor hanya lintas program ajanya Informan 4 Tak ado orang kesehatan sajo yang terjun kok

Informan 5 Biasanya kan orang dinas yang melapor ke kepala desa, ee..yang menyerahkan langsung tu orang dinas bukan kepala desanya kan gitu, kan kelambu itu biasanya dapat semua orang tanpa terkecuali kan gitu, ada lah mereka melapor untuk pembagian kelambu, itu aja

Matriks 12. Pernyataan Informan Mengenai Keterlibatan masyarakat Mendukung Program Pengendalian Malaria

Informan Pernyataan

Informan 1 Sebagian mendukung sebagiannya lagi masih.., kadang-kadang gak apa kita kasih tau, gak ada ngertinya, sulit gitu, taulah masyarakat.

Informan 2 Dari penyuluhan itu kan bisa di imbau masyarakatnya tuk

tahu bahaya malaria itu apa.., ee…yang sulitnya kan dari


(6)

berkembang nyamuk itu, agak sulit juga sih di ajak masyarakatnya,

Informan 3 Mereka aktif dalam menanggapinya, ada juga lah

masyarakat juga acuh tak acuh, ada juga yang aktif dalam menanggapinya

Informan 4 Kalau dari puskesmas tak ada tapi tak tau jugolah dari balai desa mungkin ada gotong royong, tapi setau ku tak ado la, kalau orang tu maw maw membersihkan, ya dibersihkan lah

Informan 5 Gak ada dari masyarakatnya, hmm,biasanya kan ada langsung di buat fogging gitu kan dari orang kesehatan itu ajalah

Informan 6 Gak ada, mereka andalkan penyemprotan ini ajalah.. Informan 7 Banyak yang tak open lah ya, udah biasa mungkin, lagi

pula kek mana juga bersihin nya, kalau udah pasang air,

kan tergenang lah tu di bawah sampah, ee…susah la

bersihinnya,

Informan 8 Yah kek gitulah ada yang aktif , hmm..ado juga lah yang tidak, gotong royong pun jarangnya di lakukan, yah kek gitulah orang disin

Matriks 13. Pernyataan Informan Mengenai Pengawasan Program Pengendalian Malaria

Informan Pernyataan

Informan 1 Kita punya supervisi seperti monitoring, jadi pengawasannya dalam pertri wulan

Informan 2 Kalau ada penyemprotan, mereka adalah datang memantau gitu

Informan 3 Ada lah orang dinas yang datang, mereka lakukan supervisi namanya ee.. biasanya orang tu datang pertri wulan gitu lah, gak tetap lah bulan ke berapa Cuma dalam setahun ada lah mereka lakukan supervisi gitu, ya dilihat nya hasil laporan kita tu.

Informan 4 Pernah lah di lakukan supervisi lah, ecek nyaa setahun 1 kali atau setahun 2 kali kek gitulah supervisi, kadang mereka terjun, terjun dari dinas-dinas provinsi terjun, datng

ke ee…puskesmas, habis tu bidan desanya di kumpul

ditanyainlah, melihat dari laporan-laporan kalian, banyak disana apo.. tinggi, misalnya yang di pematang sei baru, kenapa bisa tinggi apa.. malaria di sana? di jawab lah ya buk karna musim hujan samo musim pasang, kek gitu lah