Penerapan model pembelajaran kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar pendidikan agama islam pada siswa SD islam An-Nizomiyah

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN
AGAMA ISLAM PADA SISWA SD ISLAM AN-NIZOMIYAH

Oleh :

IMRON HS
NIM: 1810011000004

PROGRAM PENINGKATAN KUALIFIKASI AKADEMIK
JENJANG S-1
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013/2014

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SD Islam
An-Nizomiyah disusun oleh Imron HS, NIM. 1810011000004, Jurusan Pendidikan
Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasah pada
tanggal 1 Oktober 2014 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak
memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pdi) dalam bidang Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 1 Oktober 2014
Panitia Ujian Munaqasah
Tanggal

Tanda Tangan

_______________

_________________

_______________

_________________

_______________

_________________

Ketua Panitia (Pjs. Ketua Jurusan PAI)
Dr. Muhbib Abd. Wahab, MA.
NIP. 196810231993031002
Penguji I
Drs. Masan AF, M.Pd.
NIP. 195107161981031005
Penguji II
Muhammad Soleh Hasan, Lc., MA.
NIP. 197102142006041018

Mengetahui,
Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan

Dra. Nurlena Rifa’i, MA, Ph.D.
NIP. 195910201986032001

ABSTRAK

Imron HS. Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan. Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dalam
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SD Islam
An-Nizomiyah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran
kontekstual dalam upaya meningkatkan hasil belajar PAI dan tingkat keberhasilan
belajar peserta didik kelas V SD Islam An-Nizomiyah pada mata pelajaran PAI
melalui penerapan pembelajaran kontekstual.
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian
tindakan yang dilakukan dengan tujuan memperbaiki dan meningkatkan mutu
praktik pembelajaran secara berkesinambungan.
Hasil dari penelitian ini menjunjukkan bahwa Penggunaan pendekatan
pembelajaran kontekstual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat
meningkat, yaitu pada pra siklus persentase aktivitas peserta didik sebesar 58,6%,
pada siklus I aktivitas peserta didik mengalami peningkatan menjadi 73,96%,
sedangkan pada siklus II persentase aktivitas peserta didik meningkat menjadi
90,2%, sehingga dapat dikatakan bahwa banyak peserta didik yang melakukan
aktivitas dalam proses pembelajaran berkriteria baik sekali. Penerapan
pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan prestasi belajar Pendidikan Agama
Islam peserta didik kelas V-A SD Islam An-Nizomiyah Pasarminggu Jakarta
Selatan terhadap materi PAI. Peningkatan prestasi belajar peserta didik
meningkat, yang semula nilai rata-rata pra siklus 67 meningkat menjadi 72,9 atau
sekitar 8.81% pada siklus I, pada siklus II lebih meningkat lagi menjadi 80,25 atau
meningkat sekitar 10,08%.

Kata kunci: Pembelajaran Kontekstual, Hasil belajar, Pendidikan Agama Islam

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur Alhamdulilah, Segala puji dan syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya. Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad
SAW, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada seluruh muslimin dan
muslimat.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, senantiasa penulis panjatkan kepada-Nya.
Karena atas ridho-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang
tidak mungkin dapat hidup mandiri. Begitu pula dengan proses pelaksanaan
penyusunan skripsi, penulis membutuhkan bimbingan, bantuan, dukungan, dan
do’a dari berbagai pihak. Sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
baik. Sebagai ungkapan rasa hormat yang teramat sangat, penulis menyampaikan
ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Nurlena Rifa’i, Ph.D., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Bahrissalim, M.Ag., Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, berkat jasa beliau penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik, beliau juga yang senantiasa memberikan yang terbaik
untuk seluruh mahasiswa Pendidikan Agama Islam.
3. Bapak Bahrissalim, M.Ag., selaku dosen pembimbing, berkat jasa beliau,
penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini dengan baik.
4. Drs. H. Muhammad Nozom Chotib, kepala sekolah SD Islam An-Nizomiyah
Jakarta Selatan, yang telah memberikan penulis kesempatan

untuk

mengadakan penelitian di sekolah.
5. Keluarga Besar SD Islam An-Nizomiyah Jakarta Selatan.
6. Seluruh civitas akademika Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

i

7. Keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan pengorbanan selama
penyusunan skripsi ini.
8. Kawan-kawan seperjuangan Pendidikan Agama Islam, yang telah memberikan
banyak inspirasi kepada penulis.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, baik secara
langsung maupun tidak langsung yang turut memberikan do’a dan dukungan
selama proses penyusunan skripsi.
Penulis panjatkan do’a dan rasa syukur kepada Allah SWT, semoga jasa
yang telah mereka berikan menjadi amal shaleh dan mendapatkan balasan yang
jauh lebih baik dari-Nya. Amin.
Akhirul kalam, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala
kekurangan yang terdapat dalam skripsi ini, dan dengan kerendahan hati penulis
menerima kritik dan saran yang konstruktif. Besar harapan penulis, semoga
skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Jakarta, Juni 2014
Penulis

Imron HS

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................

i

DAFTAR ISI .................................................................................................

iii

DAFTAR TABEL .........................................................................................

v

DAFTAR GAMBAR.....................................................................................

vi

PENDAHULUAN .........................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah .............................................................

1

B. Identifikasi Masalah ...................................................................

4

C. Pembatasan Masalah...................................................................

4

D. Perumusan Masalah....................................................................

5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian....................................................

5

KAJIAN TEORI ...........................................................................

7

A. Pembelajaran Kontekstual ..........................................................

7

BAB I

BAB II

B. Hasil belajar ............................................................................... 17
C. Pendidikan AgamaIslam ............................................................. 21
D. Hepotesis Tindakan .................................................................... 28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN................................................... 29
A. Jenis Penelitian........................................................................... 29
B. Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... 31
C. Pelaksana dan Kolaborator ......................................................... 32
D. Sumber Data dan Jenis Data ....................................................... 32
E. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... 33
F. Analisa Data ............................................................................... 35
G. Tahapan Penelitian ..................................................................... 37
H. Indikator Ketercapaian ............................................................... 43
I. Jadwal Pelaksanaan Penelitian .................................................... 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN............................. 45
A. Profil SD Islam An-Nizomiyah Jakarta Selatan .......................... 45
B. Paparan Data Sebelum Penelitian ............................................... 48
C. Siklus I ....................................................................................... 50
iii

D. Siklus II...................................................................................... 56
E. Pembahasan................................................................................ 32
BAB V

PENUTUP ..................................................................................... 66
A. Kesimpulan ............................................................................... 66
B. Saran ........................................................................................ 66

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iv

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa hanya dicapai melalui penataan pendidikan yang
baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat meningkatkan
harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus
adaptif terhadap perubahan zaman. Dalam konteks pembaharuan pendidikan, ada
3 isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaharuan kurikulum, peningkatan
kualitas

pembelajaran

dan

efektifitas

metode

pembelajaran.

Kurikulum

pendidikan harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial, relevan,
dan mampu mengakomodasikan keberagaman keperluan dan kemajuan teknologi.
Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil
pendidikan. Oleh karena itu, harus ditemukan strategi atau pendekatan
pembelajaran yang efektif dikelas, yang lebih memberdayakan potensi siswa.
Ketiga hal itulah yang sekarang menjadi fokus pembaharuan pendidikan di
Indonesia.
Pendidikan memerlukan inovasi-inovasi yang sesuai dengan kemajuan
ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengabaikan nilai-nilai manusia, baik
sebagai makhluk sosial maupun sebagai makhluk religius. Mengingat pendidikan
selalu berkenaan dengan upaya pembinaan manusia, maka keberhasilan
pendidikan sangat bergantung pada unsur manusianya. Unsur manusia yang
paling menentukan berhasilnya pendidikan adalah pelaksanaan pendidikan, yaitu
guru. Gurulah ujung tombak pendidikan sebab guru secara langsung berupaya
mempengaruhi, membimbing, membina, dan mengembangkan kemampuan siswa
agar menjadi manusia yang cerdas, terampil, dan bermoral tinggi.
Inilah hakikat pendidikan sebagai usaha memanusiakan manusia. Sebagai
ujung tombak, guru dituntut memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai
pendidik dan pengajar. Kemampuan tersebut tercermin dalam kompetensi guru.

1

2

Sebagai pengajar paling tidak guru harus menguasai bahan yang diajarkannya dan
terampil dalam hal cara mengajarkannya. Bahan yang harus diajarkan oleh guru
tercermin dalam kurikulum (program belajar bagi siswa), sedangkan cara
mengajarkan bahan tercermin atau berkaitan dengan proses belajar mengajar.
Proses belajar mengajar terjadi manakala ada interaksi antara guru dengan
siswa dan antara siswa dengan siswa. Dalam interaksi tersebut guru memerankan
fungsi sebagai pengajar atau pemimpin belajar atau fasilitator belajar, sedangkan
siswa berperan sebagai pelajar atau individu yang belajar. Keterpaduan kedua
fungsi tersebut mengacu kepada tujuan yang sama, yakni memanusiakan siswa
yang secara operasional tercermin dalam tujuan pendidikan dan tujuan
pengajaran, yang sekarang dikenal dengan istilah standar kompetensi, kompetensi
dasar dan indikator hasil belajar.
Belajar-mengajar sebagai suatu proses memerlukan perencanaan yang
saksama dan sistematis agar dapat dilaksanakan secara realistis. Perencanaan
tersebut dibuat oleh guru sebelum melaksanakan proses belajar mengajar yang
disebut dengan rancangan/skenario pembelajaran (RP) dan silabus.
Pendidik dituntut untuk benar-benar mengetahui dan mengerti metode
yang cocok dalam proses belajar mengajar yang disesuaiakan dengan kondisi dan
kemampuan peserta didik yang akhirnya pendidikan itu bisa mencapai tujuan
yang diinginkan serta mendapatkan hasil yang maksimal.
Penguasaan terhadap metodologi pengajaran adalah merupakan salah satu
persyaratan bagi seorang tenaga pendidik yang profesional. Seorang tenaga
pendidik yang profesional selain harus menguasai mata pelajaran yang akan
diajarkan, juga harus menguasai metodologi pembelajaran. Di dalam
metodologi pembelajaran ini diajarkan tentang teknik mengajar (Teaching
Skill) yang efektif yang dibangun berdasarkan teori-teori pendidikan serta ilmu
didaktik, metodik dan pedagogik.1
Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Bab I pasal 1 menjelaskan
bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru.
Menurut Ahmad Tafsir yang dikutip oleh Nurfuadi mengemukanan bahwa “guru

1

Abudin Nata, Manajemen Pendidikan: Mengatasi kelemahan Pendidikan Islam di
Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2003), h. 29-30

3

adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik
dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi
afektif, kognitif maupun psikomotorik”.2
Berdasarkan dari hasil pengamatan yang peneliti lakukan di SD Islam AnNizomiyah ternyata masih ditemukan bahwa metode pembelajaran PAI yang
digunakan belum sesuai yang diharapkan. Metode yang digunakan masih
monoton dan klasik seperti ceramah dan hafalan. Sehingga peserta didik tampak
jenuh yang ditunjukkan dengan respon yang rendah acuh tak acuh selama
mengikuti proses pembelajaran. Dari segi hasil belajar siswa data yang diperoleh
dari guru mata pelajaran PAI didapat bahwa rata-rata nilai ulangan harian siswa
kelas V 67,5. Nilai tersebut masih dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 70. Oleh karena itu, diperlukan berbagai
upaya, inovasi dan kreativitas dalam penerapan pembelajaran PAI sehingga tujuan
pembelajaran PAI bisa tercapai sesuai yang diharapkan bersama.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa masih
tergolong rendah. Selain itu bahwa metode pembelajaran PAI yang digunakan
monoton dan klasik seperti ceramah dan hafalan.
Pembelajaran di sekolah tidak hanya difokuskan pada pemberian
pembekalan kemampuan pengetahuan yang bersifat teoritis saja, akan tetapi
bagaimana agar pengalaman belajar yang dimiliki siswa senantiasa terkait dengan
permasalahan-permasalahan aktual yang terjadi di lingkungannya. Untuk
mengaitkan setiap materi atau topik pembelajaran dengan kehidupan nyata yaitu
dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual.
Berdasarkan kenyataan tersebut peneliti berinisiatif untuk melakukan
penelitian tindakan kelas berupa pemberian tindakan melalui pembelajaran yang
mengajak peserta didik lebih aktif dalam proses pembelajaran. Alternatif yang
dipilih adalah dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual. Untuk itu
peneliti menganggap penting untuk melakukan penelitian dengan judul
“Penerapan Model Pembelajaran Kontekstual Dalam Meningkatkan Hasil
Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SD Islam An-Nizomiyah”.
2

Nurfuadi, Profesionalisme Guru, (Purwokerto: STAIN Press, 2012), Cet. I, h. 54

4

B. Identifikasi Masalah
1. Peran guru sebagai fasilitator kurang optimal sehingga kemampuan siswa
kurang berkembang.
2. Strategi pembelajaran yang monoton menyebabkan siswa kurang minat
belajar.
3. Siswa kurang aktif karena guru tidak melibatkan siswa secara aktif dalam
proses pembelajaran.

4. Pembelajaran yang masih bersifat teoritis dan masih jauh dari konteks
nyata.
5. Ketidaktepatan pemilihan model dan metode dalam proses pembelajaran
Pendidikan Agama Islam.
C. Pembatasan Masalah
Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah tugas utama seorang guru
adalah memfasilitasi agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses
akomodasi, karena setiap anak memiliki kecendrungan untuk belajar hal-hal yang
baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang
dianggap aneh dan baru. Belajar bagi mereka adalah mencoba memecahkan setiap
persoalan yang menantang. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih
bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari siswa.
Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang
sedang berkembang. Kemapuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat
perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilkinya. Anak bukanlah orang
dewasa dalam bentuk kecil, melainkan organisme yang sedang berada dalam
tahap-tahap perkembangan dan pengalaman mereka. Dengan demikian, peran
guru bukanlah sebagai instruktur atau penguasa yang memaksakan kehendak
melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan
tahap perkembangannya.
Permasalahan dalam judul di atas sangatlah luas maka dari itu, penulis
membatasi penulisan skripsi ini pada masalah: “Pendekatan pembelajaran yang

5

digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kontekstual (CTL) dan hasil
belajar siswa”.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalan
sebagai berikut:
a. Bagaimanakah penerapan model pembelajaran kontekstual dalam upaya
meningkatkan hasil belajar PAI pada peserta didik kelas V SD Islam AnNizomiyah?
b. Apakah penerapan pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar
PAI pada peserta didik kelas V SD Islam An-Nizomiyah?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini ialah untuk:
a. Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kontekstual dalam upaya
meningkatkan hasil belajar PAI pada peserta didik kelas V SD Islam AnNizomiyah.
b. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar peserta didik kelas V SD Islam
An-Nizomiyah pada mata pelajaran PAI melalui penerapan pembelajaran
kontekstual.
2. Manfaat Penelitian
Adapun penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain:
a. Manfaat praktis
1) Bagi peserta didik dapat memberikan sikap positif dan meningkatkan
pemahaman terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam.
2) Bagi peneliti dapat menambah pengalaman praktis di bidang penelitian
dan pengalaman secara langsung penerapan pembelajaran kontekstual
dalam pembelajaran PAI.

6

b. Manfaat teoritis
1) Bagi guru PAI sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan metode dan
teknik untuk meningkatan hasil belajar peserta didik serta sebagai motivasi
untuk meningkatkan keterampilan memilih strategi pembelajaran yang
sesuai dan bervariasi terhadap mata pelajaran PAI.
2) Bagi pemerhati pendidikan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan
masukan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pembelajaran Kontekstual
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran atau lebih terkenal dengan
sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep
pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar
dengan situasi dunia nyata si siswa, yang dapat mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang diepalajari dengan penerapannya dalam
kehidupan para siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 1
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) merupakan
konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan masyarakat.
Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi
siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri
(learning to do), dan bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima
terhadap semua informasi yang disampaikan guru. Oleh sebab itu, melalui
pembelajaran kontekstual, mengajar bukan transformasi pengetahuan dari guru
kepada siswa dengan menghafal sejumlah konsep-konsep yang sepertinya terlepas
dari kehidupan nyata, akan tetapi lebih ditekankan pada upaya memfasilitasi siswa
untuk mencari kemampuan untuk bisa hidup (life skill) dari apa yang
dipelajarinya. Dengan demikian, pembelajaran akan lebih bermakna, sekolah lebih
dekat dengan lingkungan masyarakat (bukan dekat dari segi fisik), akan tetapi
secara fungsional apa yang dipelajari di sekolah senantiasa bersentuhan dengan

1

Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajawali Press,
2011), h. 222

7

8

situasi dan permasalahan kehidupan yang terjadi di lingkungannya (keluarga dan
masyarakat).2
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah
suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan yang nyata sehinggga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Pembelajaran
kompetensi merupakan suatu sistem atau pendekatan pembelajaran yang bersifat
holistik (menyeluruh), teridri dari berbagai komponen yang saling terkait, apabila
dilaksanakan masing-masing memberikan dampak sesuai dengan peranannya.
Paparan pengertian pembelajaran kontekstual di atas dapat diperjelas
sebagai berikut. Pertama, pembelajaran kontekstual menekankan kepada proses
keterlibatan

siswa

untuk

menemukan

materi,

artinya

proses

belajar

beroreantasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
konteks pembelajaran kontekstual tidak mengharapkan agar siswa hanya
menerima pelajaran akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran.
Kedua,

pembelajaran

kontekstual

mendorong

agar

siswa

dapat

menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan kehidupan nyata di masyarakat. Hal ini akan
memperkuat dugaan bahwa materi yang telah dipelajari akan tetap tertanam erat
dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
Ketiga,

pembelajaran kompetensi mendorong siswa untuk dapat

menerapkannya dalam kehidupan, artinya pembelajaran kompetensi tidak hanya
mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi
bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilaku dalam kehidupan sehari-

2

Rusman, Model-model Pembelajaran (Mengembangkan Profesionalisme Guru), (Jakarta:
Rajawali Press, 2013), h. 189

9

hari. Materi pelajaran di sini bukan ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan
akan tetapi sebagai bekal mereka dalam mengarungi bahtera kehidupan nyata. 3
Sementara itu, Howey R, Keneth (2001) yang dikutip oleh Rusman
mendefinisikan CTL sebagai berikut:
Contextual teaching is teaching that enables learning in wich student
employ their academic understanding and abilities in a variety of in-and
out of school context to solve simulated or real world problems, both
alone and with others.
(CTL adalah pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses belajar
di mana siswa menggunakan pemahaman dan kemampuan akademiknya
dalam berbagai konteks dalam dan luar sekolah untuk memecahkan
masalah yang bersifat simulatif ataupun nyata, baik sendiri-sendiri maupun
bersama-sama).4
Sistem CTL adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa
melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan
menghubungkan mata pelajaran akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu
dengan konteks kehidupan pribadi, sosial, dan budaya.
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah salah satu pendekatan
pembelajaran yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah itu diciptakan
dalam proses belajar agar kelas lebih hidup dan lebih bermakna karena siswa
mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan
menerapkan pengetahuan dan ketrampilan akademik mereka dalam berbagai
macam tatanan kehidupan baik disekolah maupun diluar sekolah. Selain itu, siswa
dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi.
Pembelajaran

Contextual

Teaching and Learning (CTL) apabila

diterapkan dengan benar, diharapkan siswa akan berlatih untuk dapat
menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata yang
ada dilingkungannya. Untuk itu, guru perlu memahami konsep pendekatan
3

Udin Syaefudin Sa’ud, Ph.D., Inovasi Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 162-163

4

Rusman, op.cit., h. 189-190

10

Contextual Teaching and Learning (CTL) terlebih dahulu dan dapat
menerapkannya dengan benar. Agar siswa dapat belajar lebih efektif, guru perlu
mendapat informasi tentang konsep-konsep pembelajaran Contextual Teaching
and Learning (CTL) dan penerapannya.
2. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Komponen pembelajaran kontekstual menurut Johnson B. Elaine yang
dikutip oleh Rusman meliputi: (1) Menjalin hubungan-hubungan yang bermakna
(making meaningful connections); (2) mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang
berarti (doing significant work), (3) melakukan proses belajar yang diatur sendiri
(self-regulated learning); (4) mengadakan kolaborasi (collaborating); (5) berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thinking); (6) memberikan layanan secara
individual (nurturing the individual); (7) mengupayakan pencapaian standar yang
tinggi (reaching high standars); dan (8) menggunakan asesmen autentik (using
authentic assessment).5
3. Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
pembelajaran kontekstual dikelas. Ketujuh komponen utama itu adalah
konstruktivisme (construktivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning),
masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi
(reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assesment). Sebuah kelas
dikatakan menggunakan pembelajaran kontekstual jika menerapkan ketujuh
komponen tersebut dalam pembelajarannya. Dan, untuk melaksanakan hal itu
tidak sulit! Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja,
bidang studi apa saja dan kelas yang bagaimanpun keadaannya.
Masing-masing komponen pembelajaran kontekstual dapat diuraikan
sebagai berikut:
5

Ibid., h. 192

11

a. Konstruktivisme (Construktivism)
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) dalam CTL,
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah
seperangkan fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. Manusia harus membangun pengetahuan itu memberi makna
melalui pengalaman yang nyata. Batasan konstruktivisme di atas
memberikan penekanan bahwa konsep bukanlah tidak penting sebagai
bagian integral dari pengalaman belajar yang harus dimiliki oleh siswa,
akan tetapi bagaimana dari setiap konsep atau pengetahuan yang dimiliki
siswa itu dapat memberikan pedoman nyata terhadap siswa untuk
diaktualisasikan dalam kondisi nyata. 6
Pendekatan konstruktivisme merupakan salah satu pandangan tentang
proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses memperoleh
pengetahuan diawali dengan terjadinya konflik kognitif, yang hanya dapat
diatasi melalui pengetahuan diri. Pada akhir proses belajar, pengetahuan akan
dibangun sendiri oleh anak didik melalui pengalamannya dari hasil interaktif
dengan lingkungannya. Konflik kognitif tersebut terjadi saat interaksi antara
konsepsi awal yang telah dimiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat
diintegrasikan begitu saja, sehingga diperlukan perubahan/modifikasi struktur
kognitif untuk mencapai keseimbangan. Peristiwa ini akan terjadi secara
berkelanjutan selama siswa menerima pengetahuan baru. 7
Belajar lebih dari sekedar mengingat. Bagi siswa untuk benar-benar
mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan, mereka harus bekerja
untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri dan
selalu bergulat dengan ide-ide. Tugas pendidik tidak hanya menuangkan atau
menjejalkan sejumlah informasi kedalam benak siswa, tetapi mengusahakan
bagaimana agar konsep-konsep penting dan sangat berguna tertanam kuat
dalam benak siswa.

6

Ibid., h. 193

7

Udin Syaefudin Sa’ud, op.cit., h. 169

12

b. Menemukan (Inquiry)
Asas inkuiri merupakan proses pembelajaran berdasarkan pada
pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis.
Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil
dari

proses

menemukan

sendiri.

Tindakan

guru

bukanlah

untuk

mempersiapkan anak untuk menghafalkan sejumlah materi akan tetapi
merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan sendiri
materi yang harus dipahami. Belajar merupakan proses mental seseorang yang
tidak terjadi secara mekanis, akan tetapi perkembangan diarahkan pada
intelektual, mental emosional, dan kemampuan individu yang utuh. 8
Menemukan merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya
menemukan

akan

memberikan

penegasan

bahwa

pengetahuan

dan

keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan
merupakan hasil dari mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan
hasil menemukan sendiri.9
Proses belajar adalah proses menemukan. Langkah-langkah atau kunci
inkuiri meliputi:
1) Merumuskan masalah;
2) Mengamati atau melakukan observasi, termasuk membaca buku,
mengumpulkan informasi;
3) Menganalisis dan menyajikan hasil karya dalam tulisan laporan,
gambar, tabel dan sebagainya;
4) Menyajikan, mengomunikasikan hasil karyawan di depan guru, teman
sekelas atau audien yang lain.10
c. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seorang, umumnya tidak lepas dari
aktivitas bertanya. Bertanya merupakan salah satu strategi penting dalam
CTL. Bagi siswa, bertanya menunjukkan ada perhatian terhadap materi yang
8

Ibid.

9

Rusman, op.cit., h. 194

10

Sardiman A.M., op.cit., h. 224

13

dipelajari dan ada upaya untuk menemukan jawab sebagai bentuk
pengetahuan. Bagi guru, bertanya adalah upaya mengaktifkan siswa. Dalam
proses pembelajaran, kegiatan bertanya berguna untuk:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Menggali informasi;
Mengecek pemahaman siswa;
Membangkitkan respons para siswa;
Mengetahui sejauhmana keingintahuan siswa;
Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa;
Memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru;
Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;
Menyegarkan kembali pengetahuan siswa. 11
Penerapan unsur bertanya dalam CTL harus difasilitasi oleh guru,

kebiasaan siswa untuk bertanya atau kemampuan guru dalam menggunakan
pertanyaan yang baik akan mendorong pada peningkatan kualitas dan
produktivitas

pembelajaran.

berkembangnya

kemampuan

Seperti
dan

pada

keinginan

tahapan
untuk

sebelumnya,

bertanya,

sangat

dipengaruhi oleh suasana pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Dalam
implementasi CTL, pertanyaan yang diajukan oleh guru atau siswa harus
dijadikan alat atau pendekatan untuk menggali informasi atau sumber belajar
yang ada kaitannya dengan kehidupan nyata. Dengan kata lain, tugas bagi
guru adalah membimbing siswa melalui pertanyaan yang diajukan untuk
mencari dan menemukan kaitan antara konsep yang dipelajari dalam kaitan
dengan kehidupan nyata.12
Ilmu pengetahuan bisa berkembang dari kegiatan 'bertanya'. Jadi
biasakan anak untuk bertanya. Aktifitas bertanya ditemukan ketika siswa
berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan ketika
mengamati dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan itu akan menumbuhkan
dorongan untuk bertanya.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Maksud dari masyarakat belajar adalah membiasakan siswa untuk
melakukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari temanteman belajarnya. Seperti yang disarankan dalam learning community,
11

Ibid., h. 224-225

12

Rusman, op.cit., h. 195

14

bahwa hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain
melalui berbagai pengalaman (sharing). Melalui sharing ini anak
dibiasakan untuk saling memberi dan menerima, sifat ketergantungan yang
positif dalam learning community dikembangkan.13
Pengembangan learning community, akan senantiasa mendorong
terjadinya proses komunikasi multi arah. Masing-masing pihak yang
melakukan kegiatan belajar dapat menjadi sumber belajar.14
Pada

dasarnya

learning

community

atau

masyarakat

belajar

mengandung arti sebagai berikut: (1) adanya kelompok belajar yang
berkomunikasi untuk berbagai gagasan dan pengalaman; (2) ada kerjasama
untuk memecahkan masalah; (3) pada umumnya hasil kerja kelompok lebih
baik dari pada secara individual; (4) ada rasa tanggung jawab kelompok
semua anggota dalam kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama; (5)
upaya membangun motivasi belajar bagi anak yang belum mampu dapat
diadakan; (6) menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan seorang
anak belajar dengan anak lainnya; (7) ada rasa tanggung jawab dan kerja sama
antara anggota kelompok untuk saling memberi dan menerima; (8) ada
fasilitator/guru yang memandu proses belajar dalam kelompok; (9) harus ada
komunikasi dua arah atau multi arah; (10) ada kemauan untuk menerima
pendapat yang lebih baik; (11) ada kesediaan untuk menghargai pendapat
orang lain; (12) tidak ada kebenaran yang hanya satu saja; (13) dominasi
siswa-siswa yang pintar perlu diperhatikan agar yang lamban/lemah bisa pula
berperan; (14) siswa bertanya kepada teman-temannya itu sudah mengandung
arti learning community.
e. Pemodelan (Modeling)
Yang dimaksud modeling adalah proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
Guru

biologi

memberikan

contoh

bagaimana

cara

mengoperasikan

termometer, begitupun guru olah raga memberikan contoh model bagaimana
13

Ibid.

14

Sardiman A.M., op.cit., h. 225

15

cara bermain sepak bola, bagaimana guru kesenian memainkan alat musik.
Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, tetapi dapat juga guru
memanfaatkan siswa yang memiliki kemampuan, dengan demikian siswa
dapat dianggap sebagai model. Di sini modeling merupakan asas yang cukup
penting dalam pembelajaran kontekstual, sebab melalui modeling siswa dapat
terhindar dari pembelajaran yang teoritis-abstrak yang mengundang terjadinya
verbalisme.15
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru
dipelajari. Dengan kata lain refleksi adalah berpikir ke belakang tentang
apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu, siswa mengedepankan apa
yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru yang
merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat
refleksi, siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang,
membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya
sendiri (learning to be).16
g. Penilaian Sebenarnya (Authentic Assesment)
Tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan
penilaian. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memiliki fungsi
yang amat menentukan untuk mendepatkan informasi kualitas proses dan hasil
pembelajaran melalui penerapan CTL. Penilaian adalah proses pengumpulan
berbagai data dan informasi yang bisa memberikan gambaran atau petunjuk
terhadap pengalaman belajar siswa.17
Penilaian menekankan pada proses pembelajaran, sehingga data yang
dikumpulkan diperoleh dari kegiatan nyata siswa saat melakukan proses
pembelajaran. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar penilaian misalnya
PR, kuis, presentasi, demonstrasi, laporan praktikum, hasil tes, karya tulis,
dsb.

15

Udin Syaefudin Sa’ud, op.cit., h. 171

16

Rusman, op.cit., h. 197

17

Ibid.

16

Selain itu juga Udin Saefudin menerangkan bahwa terdapat lima
karakteristik penting dalam menggunakan prose pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. Dalam CTL pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang
sudah ada, artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan
yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh
siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
b. Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan
menambah pengetahuan baru, yang diperoleh dengan cara deduktif, artinya
pembelajaran dimulai dengan cara mempelajari secara keseluruhan, kemudian
memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan, artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk
dihafal tapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta
tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan
berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
d. Mempraktekkan pengetahuan dan pengalaman tersebut, artinya pengetahuan
dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam
kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
e. Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini
dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan
strategi.18
4. Skenario Pembelajaran Kontekstual
Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan CTL, tentu
saja terlebih dahulu guru membuat desain (skenario) pembelajarannya. Sebagai
pedoman umum dan sekaligus sebagal alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada
intinya pengembangan setiap komponen CTL tersebut dalam pembelajaran dapat
dilakukan sebagai berikut:
a. Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih
bermakna apakah dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan
18

Udin Syaefudin Sa’ud, op.cit., h. 163-164

17

mengonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus
dimilikinya.
b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry untuk semua topik yang
diajarkan.
c. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaanpertanyaan.
d. Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan kelompok
berdiskusi, tanya jawab, dan lain sebagainya.
e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi,
model, bahkan media yang sebenarnya.
f. Membiasakan

anak

untuk

melakukan

refleksi

dari

setiap

kegiatan

pembelajaran yang telah dilakukan.
g. Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang
sebenarnya pada setiap siswa.19
Dalam pembelajaran kontekstual program pembelajaran merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang oleh guru, yaitu dalam bentuk skenario
tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswa selama
berlangsungnya proses pembelajaran. Dalam program tersebut harus tercermin
penerapan dari ketujuh komponen CTL dengan jelas, sehingga setiap guru
memiliki kesiapan yang utuh mengenai rencana yang akan dilaksanakan dalam
membimbing kegiatan belajar-mengajar di kelas.20
B. Hasil Belajar
Manusia, menurut hakikatnya adalah makhluk belajar. Ia lahir tanpa
memiliki pengetahuan, sikap, dan kecakapan apapun. Kemudian, tumbuh dan
berkembang menjadi mengetahui, mengenal, dan menguasai banyak hal. Itu
terjadi karena ia belajar dengan menggunakan potensi dan kapasitas diri yang
telah dianugerahkan Allah kepadanya. Tuhan memberi potensi yang bersifat

19

Rusman, op.cit., h. 199-200

20

Ibid.

18

jasmani dan rohani untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk kemaslahatan umat manusia. Sebagaimana Firman Allah SWT
dalam Al-Qur’an Surat An-Nahl ayat: 78 yang berbunyi:

َ‫وَاﻟﻠﱠﮫُ َأﺧْﺮَﺟَﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑُﻄُﻮنِ أُﻣﱠﮭَﺎﺗِﻜُﻢْ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮنَ ﺷَﯿْﺌًﺎ وَﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ اﻟﺴﱠﻤْﻊَ وَاﻟْﺄَﺑْﺼَﺎر‬
َ‫وَاﻟْﺄَﻓْﺌِﺪَةَ ﻟَﻌَﻠﱠﻜُﻢْ ﺗَﺸْﻜُﺮُون‬
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati, agar kamu bersyukur” (QS. An-Nahl: 78)
Orang yang tidak mau belajar dengan tidak memanfaatkan potensi dan
kapasitasnya berarti menjauhi hakikatnya sebagai manusia. Potensipotensi
tersebut terdapat dalam organ-organ fisio-psikis manusia yaitu indera penglihat
(mata), indera pendengar (telinga) dan akal yang berfungsi sebagai alat-alat
penting untuk melakukan kegiatan belajar.
Drs. Slameto merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar
adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. 21
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotor. 22
Seorang belajar bila ia ingin melakukan suatu kegiatan sehingga
kelakuannya berubah. Ia dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat
dilakukannya. Ia menghadapi sutuasi dengan cara lain. Kelakuan harus kita
pandang dalam arti yang luas yang meliputi pengamatan, pengenalan, perbuatan,
keterampilan, minat, penghargaan, sikap, dan lain-lain. Jadi belajar tidak hanya
mengenai bidang intelektual saja, akan tetapi seluruh pribadi anak, kognitif,
efektif, maupun psikomotor.23
21

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2011), Cet. 3, h. 13

22

Ibid.

23

Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), Cet. 11, h. 59

19

Menurut Winkel yang dikutip oleh Purwanto menjelaskan bahwa hasil
belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan
tingkah lakunya. Aspek perubahan itu mengacu kepada taksonomi tujuan
pengajaran yang dikembangkan oleh Bloom, Simpson dan Harrow mencakup
aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.24
Hasil belajar dapat dilihat ketika siswa mencapai tujuan-tujuan pengajaran
berupa aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Ketiga komponen tersebut
merupakan satu kesatuan dan saling menunjang antara satu dengan yang lain.
Domain hasil belajar adalah perilaku-perilaku kejiwaan yang akan diubah dalam
proses pendidikan. Perilaku kejiwaan tersebut dibagi menjadi 3 domain yaitu: 25
Tabel 2.1
Domain Hasil Belajar
INPUT

PROSES

HASIL

Siswa

Proses belajar mengajar

Siswa

1. Kognitif

1. Kognitif

2. Afektif

2. Afektif

3. Psikomotorik

3. Psikomotorik

Potensi perilaku yang

Usaha mengubah

Perilaku yang telah

dapat diubah

perilaku

berubah
1. Efek pengajaran
2. Efek pengiring

Tiga ranah hasil belajar tersebut dapat disebutkan sebagai berikut :
a. Kognitif Domain :
1) Remembering (Mengingat).
2) Understanding (memahami).
3) Applying (menerapkan)
4) Analysing (menganalisis).
5) Evaluation (mengevaluasi).
24

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), h. 45

25

Ibid., h. 49

20

6) Creating (menciptakan).
b. Affective Domain :
1) Receiving (sikap menerima).
2) Responding (memberikan respon).
3) Valuing (nilai).
4) Organization (organisasi).
5) Characterization (karakterisasi).
c. Psychomotor Domain:
1) Initiatory level.
2) Pre-routine level.
3) Rountinized level.26
Benjamin S. Bloom berpendapat tiga ranah hasil belajar adalah kognitif,
afektif dan psikomotorik.
1) Ranah kognitif “berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri
dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi,
analisis, sintesis, dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif
tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat
tinggi.”
2) Ranah afektif “berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek yakni
penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi”.
3) Ranah psikomotoris “berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan
kemampuan bertindak. Ada enam aspek raah psikomotoris, yakni (a) gerak
reflek, (b) keterampilan gerakan dasar, (c) gerakan keterampilan
kompleks, dan (f) gerakan ekspresif dan interpretatif”. 27
Berdasarkan pendapat para ahli mengenai hasil belajar, penulis dapat
menyimpulkan bahwa hasil belajar ialah tingkat penguasaan seseorang yang
mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai akibat dari proses
belajar yang telah diuji, salah satunya ialah dengan memberikan tes. Hasil tes
mempunyai fungsi yaitu sebagai umpan balik bagi perbaikan proses belajar
mengajar serta dapat memberikan gambaran kemajuan bagi siswa.

26
27

Sardiman A.M., op.cit., h. 23-24

Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2009), Cet. ke-14, h. 22-23

21

C. Pendidikan Agama Islam
1. Definisi Pendidikan Agama Islam
Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa “pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.28
Menurut Ahmad D. Marimba yang dikutip dari bukunya Hasbullah,
mengemukakan pendidikan adalah bimbingan secara sadar oleh si pendidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
kepribadian yang utama.29
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwasannya pendidikan
merupakan usaha sadar yang diberikan seorang pendidik untuk menggali dan
mengembangkan potensi jasmani dan rohani peserta didik agar sebagai manusia
mencapai keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Agama adalah kepercayaan kepada Tuhan yang dinyatakan dengan
mengadakan hubungan dengan Dia melalui upacara, penyembahan dan
permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan
ajaran agama itu.30
Islam kata turunan (jadian) yang berarti ketundukan, ketaatan, kepatuhan
(kepada Allah) berasal dari kata salama artinya patuh atau menerima; berakar dari
huruf sin lam mim. Kata dasarnya adalah salama yang berarti sejahtera, tidak
tercela, ridak bercacat. Dari kata itu terbentuk kata masdar salamat (yang dalam
bahasa Indonesia menjadi selamat). Dari uraian tersebut dapat disimpulkan Islam
28

Kemdikbud, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional, h. 2

29

Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), h. 3

30

Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2005), h. 40

22

dari segi bahasa adalah kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, penyerahan (diri),
ketaatan dan kepatuhan.31
Menurut Zakiah Darajat yang dikutip dari bukunya Abdul Majid dan Dian
Andayani, pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan
mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara
menyeluruh. Lalu menghayati tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan
serta menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. 32
Dalam kurikulum PAI yang dikutip dari bukunya Abdul Majid dan Dian
Andayani, pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam
menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga
mengimani ajaran agama Islam dibarengi dengan tuntunan untuk menghormati
penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama
hingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.
Berdasarkan definisi dan pengertian yang dikemukakan di atas dapat
ditarik kesimpulan bahwa, pendidikan agama Islam adalah usaha sadar dan
terencana berupa bimbingan dan asuhan terhadap pertumbuhan jasmani dan
rohani anak didik yang bertujuan untuk membentuk anak didik agar setelah
mereka memperoleh pendidikan itu anak didik dapat meyakini, memahami,
menghayati dan mengamalkan seluruh ajaran Islam sehingga mendapatkan
kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan merupakan sasaran yang akan dicapai oleh seseorang yang
melakukan suatu kegiatan. Dalam bidang pendidikan tujuan merupakan faktor
yang sangat penting, karena merupakan arah yang hendak dituju oleh pendidikan
itu. Demikian pula halnya dalam pendidikan agama, maka tujuan pendidikan
agama itulah yang hendak di capai dalam pelaksanaan pendidikan.
31
32

Ibid., h. 49

Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi:
Konsep Dan Implementasi Kurikulum 2004, (Bandung: Rosda Karya, 2004), h. 130

23

Pendidikan agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimanan melalui pemberian dan
pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta
didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus
berkembang dalam keimanan. Ketaqwaan, berbangsa dan bernegara serta
untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.33
Dalam buku metodologi pengajaran agama Islam, Ahmad Tafsir
menyatakan, bahwa:
Tujuan pendidikan agama Islam harus meliputi aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Untuk aspek kognitif tujuannya adalah mengembangkan atau
membina pemahaman agama Islam, agar siswa paham akan ajaran Islam
tersebut. Pada aspek afektif tujuan yang ingin dicapai adalah siswa menerima
ajaran Islam tersebut. Sedangkan pada aspek psikomotor, tujuan yang ingin
dicapai adalah agar siswa terampil melakukan ajaran Islam dalam kehidupan
sehari-hari.34
Dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam disebutkan bahwa, Pendidikan
agama Islam di sekolah/madrasah bertujuan untuk menumbuhkan dan
meningkatkan keimanan melalui pemberian dan penumpukan pengetahuan,
penghayatan, pengamalan serta penglaman peserta didik tentang agama Islam
sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang dalam hal keimanan,
ketakwaannya, berbangsa dan bernegara, serta untuk dapat melanjutkan pada
jenjang pendidikan yang lebih tinggi.35
Tujuan pendidikan merupakan hal yang dominan dalam pendidikan,
menurut Breiter, bahwa pendidikan adalah persoalan tujuan dan fokus. Mendidik
anak berarti bertindak dengan tujuan agar mempengaruhi perkembangan anak
sebagai seseorang secara utuh.
Oleh karena itu berbicara pendidikan agama Islam, baik makna maupun
tujuannya haruslah mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam dan tidak
dibenarkan melupakan etika sosial atau moralitas sosial. Penanaman nilai -nilai ini
33

Ibid., h. 135

34

Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Bandung: PT. Remaja Rosda
Karya, 1997), h. 86
35

Abdul Majid dan Dian Andayani, op.cit., h. 135

24

juga dalam rangka menuai keberhasilan hidup di

Dokumen yang terkait

Penerapan Strategi Belajar Aktif (Active Learning Strategy) Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di SD Islam Nurul Hidayah

2 9 100

Penerapan Penilaian Autentik untuk Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti

0 8 144

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SD NEGERI KARANGSARI NGLIPAR GUNUNGKIDUL

0 3 96

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENINGKATAN IBADAH SISWA Pengelolaan Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Ibadah Siswa SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga Tahun 2012.

0 1 13

PENGELOLAAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENINGKATAN IBADAH SISWA SMP ISLAM AL AZHAR 18 SALATIGA Pengelolaan Pembelajaran Kontekstual Pendidikan Agama Islam Dalam Peningkatan Ibadah Siswa SMP Islam Al Azhar 18 Salatiga Tahun 201

0 1 29

PENERAPAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Penerapan Contextual Teaching And Learning Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Sebagai Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Di Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 2

0 0 16

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN ARIAS (ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, SATISFACTION) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SD DARUL ULUM SURABAYA.

0 0 71

Penerapan Metode Tanya Jawab Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Belajar Pendidikan Agama Islam Pada Siswa SD Kelas III

0 1 20

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL

0 0 11

Penerapan Model Pembelajaran Group Investigation (GI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam

0 0 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23