Formasi Ideologi Dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari

FORMASI IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI
TESIS
OLEH
PRINSI RIGITTA 097009009/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Tesis ini berjudul “Formasi Ideologi dalam Novel Entrok Karya Okky Madasari”; tesis ini memfokuskan analisis terhadap representasi realitas sosial yang tergambar dalam sebuah karya sastra.
Tujuan disusunnya tesis ini adalah untuk melengkapi persyaratan pemerolehan gelar Magister Humaniora dalam Program Studi Linguistik: Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Dengan diselesaikannya tesis ini, peneliti berharap dapat memberikan suatu kontribusi ilmu pengetahuan yang berharga dan bermanfaat, terutama dalam ranah ilmu kesusastraan. Hasil penelitian diharapkan dapat mengilhami pemahaman terhadap karya sastra terutama Cultural Studies, yakni sebagai cerminan isu-isu sosial yang meliputi ideologi, politik dan kekuasaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat; sehingga pada akhirnya dapat memposisikan karya sastra sebagai sarana luapan ekspresi yang bersifat mendidik sekaligus mengintrospeksi dan memotivasi pembacanya.
Akhirnya, penulis menyadari bahwa tesis ini belum dapat dikatakan sempurna, dan juga belum sepenuhnya mampu menjawab keinginan pembaca; melainkan merupakan sebuah langkah awal untuk menumbuhkan minat pengkajian dan pendalaman ilmu kesusasteraan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik konstruktif ataupun ilham lainnya dari pembaca demi penyempurnaan pembahasan di lain waktu.
Medan, September 2011
Penulis
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur dan sembah sujud penulis haturkan kepada Allah S.W.T. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak lupa dikumandangkan shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. Perlu diketahui bahwa selama penulisan tesis ini, penulis memperoleh bantuan dan motivasi dari banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin sekali menyampaikan sebentuk ucapan terima kasih setulus hati.
Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing I. Selama masa bimbingan, beliau selalu memberikan motivasi, arahan, kritik, saran, serta kesediaan waktu ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat, sehingga dirasakan sangat bermanfaat dalam penyelesaian tesis ini. Penulis memperoleh banyak pelajaran berharga dari beliau, antara lain kedisiplinan, ketekunan, dan kemandirian. Beliau juga dengan tulus meminjamkan beberapa referensi kepada penulis untuk mendukung penyelesaian tesis ini.
Terima kasih dan rasa sayang saya kepada Ibu Dr. Asmyta Surbakti, M.Si., yang berperan sebagai Pembimbing II. Beliau adalah sosok pembimbing sekaligus Ibu bagi penulis, beliau selalu menyediakan waktunya ditengah-tengah kesibukannya yang sangat padat untuk mendidik penulis dengan ilmu pengetahuan, referensi, dan filosofi kehidupan yang sangat relevantif. Beliau senantiasa memberikan wejanganwejangan berharga kepada penulis, dan juga memotivasi penulis dengan nilai kesabaran, etika, moral, dan konsistensi. Sungguh suatu hal yang tidak pernah disangka penulis sebelumnya, bisa mendapat kesempatan menjadi mahasiswa bimbingannya.
Selanjutnya penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, baik moral, material, spiritual, maupun ilham selama penyelesaian tesis ini, terutama kepada:
Universitas Sumatera Utara

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc., (CTM), Sp.A(K). selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D. dan Ibu Dr. Nurlela, M.Hum. selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi Magister Linguistik Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan segala kemudahan dalam penyelenggaraan kegiatan akademik.
4. Ibu Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A. dan Ibu Dr. Rosmawaty, M.Pd. selaku penguji, yang telah banyak memberikan koreksi bermanfaat.
5. Semua Dosen Program Studi Magister Linguistik dan Konsentrasi Analisis Wacana Kesusastraan USU.
6. Kepada seluruh Staf Administrasi Program Studi Magister Linguistik Sekolah Pascasarjana USU.
7. Kepada kedua orangtua saya. Ayahanda tercinta Ir. Syahril Dulman dan Ibunda (Almh.) Hj. Trisnawati yang telah membuai, membesarkan, mendidik, dan membina etika, moral, mental dan spiritual saya sebagai bekal menghadapi kehidupan yang didasari oleh tanggung jawab dan reputasi baik. Kepada Ibunda Nilawaty, yang turut mencurahkan seluruh kasih sayang dan perhatiannya.
8. Kepada Kakak-kakak tercinta, Ulfa Nadra, S.E, M.Si. dan Sucahyanto, S.T., M.M., Iqbal Reza, S.T. dan Vivi Ekayanti, S.T., Novel Faisal dan Yunita, Farid Aulia, S.Sos., M.Si. dan Rahima Purba, S.E., M.Si., Dwi Bagus Gunawan, S.T. dan Maslinda, S.S., yang selalu menstimulasi, membantu, menguatkan, menghibur, dan mencerahkan saya selama proses penyelesaian tesis ini.
9. Kepada keponakan-keponakan tercinta, R. Alfito Satria Kamil, Rr. Jasmine Tresna Sukmahani, Shiellsy Revioza Daulay, Fanny Nabila Putri Daulay, M.Wira Daulay, Thariq Daulay, Arrafa Istiqlal Jauhari Daulay, Nabila, Zahra, dan Camila. Generasi-generasi platinum ini telah menginspirasi saya untuk segera merampungkan tesis ini.
Universitas Sumatera Utara

10. Sahabat-sahabat saya di AWK angkatan 2009/2010, Kak Ayu, Kak Elva, Kak Isma, Kak Henni, Kak Erni, Yelly, Bang Riko, Anggi Daulay, dan Cito. Juga rekan-rekan mahasiswa/i Magister Linguistik angkatan 2009/2010. Momenmomen manis kebersamaan kita selamanya akan menjadi pengerat tali silaturahmi kita.
11. Kepada tokoh-tokoh yang mengilhami penulis: Okky Madasari, Tenggina Rahmad Siswadi, Antonio Gramsci, Louis Althusser, John Storey, dan Stuart Hall. Medan, September 2011 Penulis, Prinsi Rigitta, S.S.
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING PANITIA PENGUJI PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP KATA PENGANTAR....................................................................................... UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................................ DAFTAR ISI...................................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................................. DAFTAR BAGAN............................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... ABSTRAK ......................................................................................................... ABSTRACT ........................................................................................................

i ii v viii ix x xi xii

BAB I

PENDAHULUAN ............................................................................ 1.1 Latar Belakang ......................................................................... 1.2 Batasan Masalah........................................................................ 1.3 Rumusan Masalah ..................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian ...................................................................... 1.5 Manfaat Penelitian ..................................................................
1.5.1 Manfaat Teoritis .............................................................. 1.5.2 Manfaat Praktis ...............................................................

1 1 8 9 9 10 10 11

Universitas Sumatera Utara

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP .......................................................................................... 2.1 Kajian Pustaka.......................................................................... 2.2 Landasan Teoretis .....................................................................
2.2.1 Cultural Studies............................................................... 2.2.2 Teori Hegemoni .............................................................. 2.3 Konsep....................................................................................... 2.3.1 Formasi............................................................................ 2.3.2 Ideologi ........................................................................... 2.3.3 Politik .............................................................................. 2.3.4 Kekuasaan ....................................................................... 2.3.5 Postrukturalisme.............................................................. 2.3.6 Representasi ....................................................................

12 12 15 16 18 21 21 22 24 25 25 26

BAB III

METODE PENELITIAN ............................................................. 3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data .................................... 3.2 Teknik Analisis Data................................................................. 3.3 Data dan Sumber Data ..............................................................
3.3.1 Sumber Data Primer........................................................ 3.3.2 Sumber Data Sekunder.................................................... 3.4 Model Penelitian .......................................................................

28 28 30 32 32 33 33

BAB IV

FORMASI IDEOLOGI TOKOH-TOKOH DAN IDEOLOGI INSTITUSI PUBLIK DALAM NOVEL ENTROK..................... 4.1 Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi Institusi Publik ................. 4.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Tokoh-tokoh dan Ideologi
Institusi Publik .......................................................................... 4.2.1 Tokoh-tokoh Publik dalam Novel Entrok ....................... 4.2.2 Sifat-sifat Formasi Ideologi Para Tokoh .........................

36 36
56 56 57

Universitas Sumatera Utara

4.3 Kelompok Ideologi ................................................................... 59

BAB V

POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI DALAM NOVEL ENTROK .................. 5.1 Ideologi dalam Novel Entrok .................................................... 5.2 Politik dan Kekuasaan...............................................................

66 66 68

BAB VI

PENGARUH POLITIK DAN KEKUASAAN YANG BERKAITAN DENGAN IDEOLOGI PARA TOKOH DALAM NOVEL ENTROK .......................................................... 75 6.1 ......................................................................................... Kekuas
aan Pemerintah Orde Baru ........................................................ 75 6.2 ......................................................................................... Kekuas
aan Kaum Militer ...................................................................... 78 6.3 ......................................................................................... Kekuas
aan Partai Politik ....................................................................... 85 6.4 ......................................................................................... Doktrin
asi Ideologi ................................................................................ 89

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN............................................................. 92 7.1 ......................................................................................... Simpula n................................................................................................. 92 7.2 ......................................................................................... Saran ................................................................................................... 93

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 95

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL Halaman
Tabel 4.1 Kelompok Ideologi Para Tokoh dalam Novel Entrok ........................ 64 Tabel 4.2 Negosiasi Ideologi ............................................................................. 65
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR BAGAN Halaman
Bagan 1. Strategi Analisis Data Deskriptif-Kualitatif ........................................ 31 Bagan 2. Sifat-sifat Formasi ............................................................................... 58 Bagan 3. Penguasaan Legislatif Melalui Sentralisasi Kekuasaan Pada
Presiden Masa Orde Baru .................................................................. 88
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Foto dan Biografi Okky Madasari ................................................. Lampiran 2. Sinopsis Novel Entrok Karya Okky Madasari .............................. Lampiran 3. Kulit Sampul Novel Entrok Karya Okky Madasari ....................... Lampiran 4. Kulit Sampul Buku-Buku Acuan....................................................

98 99 106 107

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.
Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh-tokoh dan tokohtokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.

Kata-kata kunci :

Ideologi, cultural studies, konsensus, aparatus, represif, otoriterisme, militeristik.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.
The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.
The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.
Keywords : Ideology, cultural studies, consensus, apparatus, repressive, otoriterism, militaristic.
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi serta menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi. Ketiga hal tersebut dibahas melalui pendekatan cultural studies dan berdasarkan teori Hegemoni Gramsci serta konsep Ideologi Althusser, sehingga dapat diperoleh hubungan antara politik, kekuasaan, dan ideologi dalam novel Entrok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode Deskriptif Kualitatif.
Data penelitian adalah novel Entrok karya Okky Madasari dan sejumlah buku acuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat pada kartu data, dan metode membaca heuristik dan hermeneutik. Teknik analisis data dilakukan dengan strategi analisis isi (content analysis), yaitu model analisis yang digunakan untuk mengungkap, memahami, dan menangkap pesan karya sastra.
Berdasarkan hasil analisis diperoleh ideologi-ideologi masing-masing tokoh dan tokoh-tokoh institusi publik yang saling bertentangan sehingga menimbulkan pergolakan akibat tidak adanya konsensus di antara keduanya. Untuk mengatasi hal itu, maka diadakanlah negosiasi antara ideologi yang dianut tokoh-tokoh dan tokohtokoh institusi publik, sehingga segala konflik yang muncul dapat diatasi. Hal ini menumbuhkan kesadaran masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran publik.

Kata-kata kunci :

Ideologi, cultural studies, konsensus, aparatus, represif, otoriterisme, militeristik.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The purpose of this research is to formate the ideology of the characters and the ideology of public institution, to describe power and politic concerning with the ideologies and to analyze the influence of power and politic concerning with the ideologies. The three subjects are discussed with cultural studies approach and based on Gramsci’s theory of Hegemony as well as Althusser’s concept of Ideology, so that the relation among politic, power, and ideology in the novel Entrok can be found. The method of research used is Qualitative Descriptive method.
The data of research are Entrok, a novel by Okky Madasari, and some books of reference. The technique of collecting data is done by the technique of taking notes on data card, and the method of heuristic and hermeneutic reading. The technique of data analysis is done by the strategy of content analysis, which is the type of analysis used to reveal, understand, and catch the message of literary work.
The result of analysis finds that the contradicting ideologies of each character and the characters of public institution cause upheaval as a result of the absence of consensus between both of them. Therefore a negotiation between the ideology of the characters and the ideology of the characters of public institution is held so that all conflicts that happen can be solved. This thing grows the public awareness and becomes public learning.
Keywords : Ideology, cultural studies, consensus, apparatus, repressive, otoriterism, militaristic.
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.
Adapun proses kreatif itu berasal dari pengalaman pengarang sebagai manusia yang hidup di alam semesta ini atau segala sesuatu yang ditemukan pengarang yang dianggap menarik dan layak untuk dituangkan dalam sebuah tulisan. Oleh karena adanya pengalaman hidup yang dialami pengarang atau hal-hal hidup yang menarik yang pernah dijumpai pengarang dalam bersosialisasi dengan individu lainnya, maka karya sastra menjadi satu kesatuan yang utuh jika dipasangkan dengan masyarakat serta kebudayaan yang terlahir di dalamnya.
Karya sastra sebagai cerminan dari perilaku kehidupan manusia, tentunya tidak akan pernah lepas dari rekaman peristiwa-peristiwa kebudayaan di dalam hidup manusia. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan kebudayaan itu sendiri, yakni memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat, manusia sebagai fakta sosial, dan manusia sebagai makhluk kultural (Ratna, 2005: 14). Sastra dan
Universitas Sumatera Utara

kebudayaan adalah multidisiplin yang secara terus-menerus menelusuri model antarhubungan keduanya, sehingga makna karya sastra secara terus-menerus dapat ditafsirkan.
Karya sastra adalah pengungkapan sebuah sistem kultural yang tersimpan pada suatu bangsa. Hal ini didasarkan atas pentingnya peranan karya sastra itu sendiri dan bahasa yang ada di dalamnya. Pengungkapan sistem kultural di dalam karya
1 sastra meliputi aspek-aspek kebudayaan yang sama sekali tidak bisa dipahami jika terpisah dari gejala yang lain. Karya sastra yang menyajikan permasalahan kebudayaan di dalamnya mempunyai sebuah bagian integral yang menceritakan berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, dan sekaligus masuk akal. Permasalahan budaya di dalam karya sastra senantiasa memaparkan persoalan antara karya sastra dan manusia sebagai penghasil kebudayaan, dalam hubungan ini manusia yang dimaksudkan adalah tokoh-tokoh dalam karya sastra.
Apabila dilihat dari relevansi sastra terhadap eksistensi kebudayaan dan sumbangan yang dapat diberikan sastra terhadap pemahaman aspek-aspek kebudayaan, khususnya kebudayaan kontemporer, maka model hubungan ini mengacu pada cultural studies. Hal ini didasarkan pada hakikat sastra dan kebudayaan, yang pada umumnya berbeda, kebudayaan memiliki hakikat objektif empiris sedangkan karya sastra memiliki hakikat subjektif imajinatif.
Menurut Hutcheon (Ratna, 2005: 13) postmodernisme dan cultural studies, meskipun secara umum didefinisikan sebagai kajian yang mempelajari seluruh aktivitas kemanusiaan, tetapi apabila dilihat sejarah kelahirannya, yaitu di Inggris,
Universitas Sumatera Utara

diawali dengan perdebatan mengenai sastra, khususnya perbedaan sastra tinggi dengan sastra kelas pekerja. Milner (Ratna, 2005: 13-14) juga menambahkan, pada dasarnya cultural studies merupakan pergeseran sosiologis, sebagai pergeseran paradigma dari penelitian sastra yang memberikan perhatian pada kualitas estetis, karya sastra yang tidak terkait dengan ruang dan waktu ke penelitian sastra sebagai konstruksi sosial. Pendekatan cultural studies merupakan teori dan kritik dalam kesusastraan Inggris kontemporer yang menekankan peran penting intelektual dan bersifat emansipatoris (Klarer, 1999).
Williams (Siswadi, 2010) mengungkapkan tiga kategori dalam mendefinisikan kebudayaan. Pertama, kebudayaan merupakan proses atau ketetapan manusia yang sempurna pada bagian kebenaran tertentu atau nilai-nilai universal. Proses ini merupakan penemuan dan gambaran di dalam kehidupan dan pekerjaan dari semua nilai. Kedua, kebudayaan diartikan sebagai manusia yang bekerja dengan intelektualitas, daya khayal, ide, dan pengalaman yang bermacam-macam dalam ingatan mereka. Kegiatan kritik berlangsung secara alami, gagasan dan pengalaman digambarkan serta dinilai. Ketiga, kebudayaan merupakan gambaran perjalanan fakta kehidupan yang diungkapkan dengan makna pasti dan nilai, tidak hanya dalam seni dan belajar tetapi juga dalam institusi dan tingkah laku yang luar biasa. Selanjutnya juga dipaparkan mengenai pembedaan kebudayaan mencakup kebudayaan tinggi (high culture) dan kebudayaan populer (popular culture) sebagai ranah cultural studies karena masing-masing kebudayaan tersebut memiliki ciri-ciri yang membedakannya. Kebudayaan tinggi berasal atau diciptakan oleh para petinggi atau
Universitas Sumatera Utara

pejabat (dahulu kerajaan atau keraton), sedangkan kebudayaan populer berasal dari rakyat biasa. Kebudayaan tinggi tentu saja hanya dapat dinikmati oleh para petinggi di keraton saja (sekarang, masyarakat lapisan atas), sedangkan kebudayaan populer dapat dinikmati secara massal oleh masyarakat.
Kebudayaan tinggi senantiasa dipenuhi oleh orang-orang khusus dan pilihan, juga biaya yang diperlukan tidak sedikit, kebudayaan ini cenderung mewah dan bersifat sakral serta penciptaannya tidak bertujuan komersial. Sebaliknya kebudayaan populer senantiasa bersifat sederhana dan tidak membutuhkan biaya yang besar, kebudayaan ini dilakukan dan dinikmati oleh rakyat biasa, dan penciptaan kebudayaan ini bertujuan komersial.
Siswadi (2010) memaparkan bahwa kebudayaan populer dihasilkan dari masyarakat modern (kapitalisme dan demokrasi). Kebudayaan ini tidak sekadar dianggap sebagai seni, tetapi juga sebagai barang komoditi yang mampu menghasilkan keuntungan yang besar. Hal ini disebabkan karena sifat universal yang dimiliki oleh kebudayaan populer. Sejalan dengan hal tersebut maka muncul anggapan bahwa konstruksi sastra merupakan bagian dari industri budaya dan telah mengkhawatirkan kalangan kritikus sastra, karena penciptaan sastra berbasis pada logika industri. Karya sastra atau produk-produk kebudayaan lainnya, tidak dapat disamakan dengan barang-barang industri. Akan tetapi logika industri itu sedikit banyak ikut mempengaruhi perkembangan strategi, bentuk, gaya, dan kandungan isi karya-karya sastra. Tekanan agar karya sastra dapat diterima, diapresiasi, dipahami, dan dikonsumsi oleh massa yang luas agar memaksimalkan keuntungan ekonomi,
Universitas Sumatera Utara

telah mendorong ke arah bentuk-bentuk sastra yang disesuaikan dengan selera massa itu sendiri.
Selanjutnya Siswadi (2010) juga mengemukakan bahwa kebudayaan populer menghasilkan karya sastra yang bergenre sastra populer. Sastra populer lahir dari semangat kebudayaan populer, sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan. Sastra populer merupakan sebuah situs ideologi, sebab semua elemen dalam teks sastra (meliputi elemen material, elemen kesadaran, elemen solidaritas-identitas, dan elemen kebebasan) merupakan representasi ideologi yang melekat pada setiap elemen tersebut. Sastra populer sebagai salah satu wujud dari fiksi populer, telah berhasil mentransmisikan ideologi dominan dari industri-industri budaya kepada massa yang dikorbankan dan termanipulasi. Menurut Storey (Siswadi, 2010), ideologi itu sendiri adalah sistem besar yang memberikan orientasi kepada manusia, yang mempunyai pengikut. Ideologi bersifat kolektif dan berada di wilayah superstruktur atau kesadaran dan menjelma dalam praktik-praktik sosial setiap orang, lembaga-lembaga pemerintah, institusi pendidikan, organisasi-organisasi, perusahaan komersial, dan lain-lain. Sastra populer memiliki ciri yang khas yang membedakannya dengan apa yang dianggap sastra tinggi, seperti mengharamkan makna ganda, menghindari kerumitan dengan cara penyelesaian masalah dengan mudah, penokohan stereotip dengan sistem bintang, dan sebagainya.
Salah satu karya sastra populer yang saat ini sedang banyak diperbincangkan dan dinikmati masyarakat adalah novel Entrok karya Okky Madasari. Novel Entrok terbit pada April 2010 di Jakarta. Novel Entrok karya Okky Madasari merupakan
Universitas Sumatera Utara

karya pertamanya dalam dunia kreativitasnya. Novel ini berlatar waktu dan tempat, pada tahun 1950-1999 di sekitar daerah Madiun. Novel ini diterbitkan untuk memperingati hari Kartini 21 April 2010 lalu, bersama beberapa novel lainnya. Novel ini menceritakan perjalanan hidup dua wanita di masa-masa sulit dan penuh pergolakan. Namun yang lebih menarik adalah beberapa tema besar yang khas yang menyatu dan mengalir bersama dengan wajar dalam novel ini, seperti tema perempuan, politik, profesi, dan kepercayaan serta agama. Novel ini juga memaparkan ketimpangan-ketimpangan sosial yang kerap terjadi pada masa Orde Baru. Pada masa kepemimpinan Soeharto diceritakan dalam novel ini berkisar antara tahun 1950 sampai 1999. Peristiwa yang mendominasi alur penceritaan dalam novel ini adalah kekuasaan kaum militer yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat lemah dan mengakibatkan doktrinasi ideologi terhadap masyarakat di dalam novel tersebut.
Di samping itu juga ditemukan kekuasaan partai politik dominan yang memengaruhi kehidupan sosial dalam novel Entrok. Sejalan dengan realitas sosial yang terdapat dalam novel, maka dapat dirujuk pada fakta sosial yang pernah terjadi sekitar tahun 1966 sampai 1998. Masa ini adalah masa pemerintahan Presiden Soeharto di Indonesia. Orde Baru menggantikan Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno. Pada masa Soeharto ditemukan banyak ketimpangan sosial, seperti realitas sosial yang kerap dijumpai dalam novel Entrok.
Ketimpangan sosial pada era Orde Baru dapat dilihat melalui beberapa fakta sosial. Pertama, peristiwa Malari yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru melalui
Universitas Sumatera Utara

tindakan kerasnya yang pertama terhadap mahasiswa dan politisi sipil yang sebelumnya telah menjadi penyokong utama rezim Orde Baru. Tindakan penangkapan dan pengadilan yang dilakukan dalam kaitan dengan Malari dilakukan pula dalam kerangka “penyingkiran lawan politik” (Fatah, 2010: 199). Kedua, peran militer yang semakin meningkat, padahal tidak pernah terjadi sebelumnya dalam politik dan administrasi negara, dan seusai pembubaran parlemen untuk pertama kalinya militer duduk dengan jumlah yang tidak tanggung-tanggung sebanyak 35 orang dalam parlemen yang anggotanya 283 orang, jadi 12% untuk pertama kalinya sejak proklamasi kemerdekaan di dalam bidang yang sama sekali tidak berhubungan dengan pekerjaan militer. Sebuah proses yang dapat dikatakan state-corporatism sudah mulai berjalan sejak itu, ketika suatu sistem perwakilan dibuat di mana militer mewakili dirinya di dalam suatu parlemen. Di bidang administrasi negara jumlah militer aktif mulai mengambil tempat di dalam badan eksekutif di dalam pemerintahan daerah seiring dengan menguatnya pusat dan perlahan-lahan melenyapnya otonomi daerah (Dhakidae, 2003: 243). Ketiga, peristiwa penembakan massal rakyat Timor Timur di Santa Cruz yang dilakukan oleh militer (Dhakidae, 2003: 279). Keempat, adanya politik etnisitas seperti superioritas kebudayaan Jawa yang dimasukkan ke dalam politik Orde Baru, serta pelarangan terhadap bahasa Cina dan serpihan-serpihan kebudayaan Cina yang dipaksakan ke dalam politiknya melalui birokrasi sipil dan militer hanya dimungkinkan oleh kekerasan (Dhakidae, 2003: 288). Berdasarkan fakta sosial di atas, penulis didorong untuk menelusuri jejak fakta sosial yang digambarkan Okky Madasari dalam novel Entrok. Oleh sebab itu
Universitas Sumatera Utara

ideologi-ideologi yang terdapat di dalam novel ini menjadikannya sebuah situs yang menarik bagi penulis untuk mengkajinya.
Novel Entrok karya Okky Madasari merupakan perwujudan dari sastra populer. Novel ini juga mengandung produk ideologi tokoh-tokoh dan industri di dalamnya. Oleh sebab itu, penelitian ini menitikberatkan pada ideologi yang muncul dari para tokoh dan industri, politik, dan kekuasaan dalam novel Entrok. Ketiga aspek ini merupakan isu yang fundamental dalam ranah cultural studies. Cultural studies juga menyentralkan budaya pop dalam kajiannya. Budaya pop secara gamblang dideskripsikan dalam novel Entrok karya Okky Madasari.
1.2 Batasan Masalah Karya sastra mengandung berbagai persoalan hidup dan kehidupan manusia.
Dengan kalimat lain, karya sastra merupakan kompleksitas dalam kehidupan manusia. Di dalamnya tertuang berbagai bentuk kehidupan manusia. Untuk membahas permasalahan yang bersifat kompleks dalam sebuah karya sastra, diperlukan batasan masalah agar penelitian tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai.
Berdasarkan judul penelitian ini, masalah dibatasi dengan hanya memformasikan (membuat suatu susunan dengan hubungan yang bersifat bertentangan, korelatif, dan subordinatif) ideologi-ideologi yang lahir dari para tokoh dan institusi publik, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang terdapat dalam novel, dan mengkaji pengaruh ideologi, politik, dan kekuasaan terhadap para tokoh.
Universitas Sumatera Utara

Pada akhirnya, semua ruang lingkup pembahasan ini merupakan sebuah deskripsi yang disertai analisis untuk memberikan pemahaman kepada pembaca terhadap novel Entrok.
1.3 Rumusan Masalah Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana formasi ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam novel Entrok karya Okky Madasari?
2. Bagaimana pendeskripsian politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi dalam novel Entrok?
3. Bagaimana pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi terhadap tokoh-tokoh dalam novel Entrok?
1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian tesis adalah sebagai berikut:
1. Memformasikan ideologi tokoh-tokoh dan ideologi institusi publik dalam novel Entrok.
2. Mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi dalam novel Entrok.
3. Menganalisis pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi terhadap para tokoh dalam novel Entrok.
Universitas Sumatera Utara

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoretis
Manfaat teoretis penelitian antara lain, sebagai berikut: 1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai salah satu rujukan penelitian
mengenai Kesusastraan Indonesia, dan selanjutnya dapat membantu penelitian-penelitian yang berhubungan dengan pembahasan tentang Cultural Studies, Budaya Populer, dan novel-novel karya Okky Madasari. 2. Diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan keilmuan, khususnya mengenai kajian Postrukturalisme. 3. Penelitian ini diharapkan mampu mengilhami sastrawan dan pengarang Indonesia untuk mengangkat tema-tema yang menceritakan tentang realitas sosial masyarakat sebagai media perlawanan.
Universitas Sumatera Utara

1.5.2 Manfaat Praktis Manfaat praktis penelitian antara lain, sebagai berikut:
1. Memberikan edukasi publik untuk memahami bagaimana isu-isu sosial, ideologi, politik, dan kekuasaan yang digambarkan dalam sebuah novel dapat bertujuan emansipatoris demi meningkatkan mutu kehidupan manusia.
2. Memberikan kontribusi terhadap masyarakat dan pemerintah mengenai sejarah bangsa Indonesia pada masa Orde Baru.
3. Menstimulasi dan memperkaya khazanah Kesusastraan Indonesia.
Universitas Sumatera Utara

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA TEORETIK, DAN KONSEP
Dalam melakukan penelitian yang bersifat ilmiah, tentunya tidak terlepas dari peran kajian pustaka, kerangka teoretik, dan konsep yang dijadikan pegangan atau pedoman dalam memecahkan permasalahan yang diangkat.
2.1 Kajian Pustaka Beberapa kajian pustaka yaitu penelitian yang terkait dengan judul ini
dikemukakan sebagai berikut: 1. Tesis Universitas Diponegoro oleh Akhlis Purnomo yang berjudul Pandangan Para Tokoh Utama dalam Novel A Bird Named Enza Karya Dawn Meier Mengenai American Dream: Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra (2009). Pada penelitian ini dibahas pandangan mengenai American Dream dalam novel A Bird Named Enza. Pandangan American Dream dibahas menurut tokoh-tokoh utama secara bervariasi tetapi memiliki kesamaan, yaitu memiliki keinginan kuat dalam mewujudkan
Universitas Sumatera Utara

kehidupan yang lebih baik di Lemmon dengan semangat khas American Dream yaitu liberty, equality, dan prosperity. Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu keduanya membahas masalah ideologi tokoh-tokoh yang berkaitan dengan wilayah praktik sosial berlangsung. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas ideologi
12 tokoh-tokoh dan institusi publik dalam novel Entrok secara bervariasi dan bertentangan, seperti ideologi Marni sebagai tokoh ibu bertentangan dengan ideologi Rahayu sebagai tokoh anak. 2. Tesis Universitas Sumatera Utara oleh Bima Pranachitra yang
berjudul Representasi Byronic Hero dalam Novel Mary Shelley Frankenstein Karya Mary Shelley (2010). Pada penelitian ini dibahas mengenai penokohan Byronic Hero dan representasinya terhadap konteks sosial, politik, dan budaya masyarakat dalam novel Mary Shelley Frankenstein. Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu keduanya menggunakan konsep Postrukturalisme dalam penelitiannya masing-masing. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas formasi ideologi, mendeskripsikan politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi, serta mengkaji pengaruh politik dan kekuasaan yang berkaitan dengan ideologi dalam novel Entrok.
Universitas Sumatera Utara

3. Jurnal Studi Islam dan Budaya: “Relasi Formatif Hegemoni Gramsci dalam Novel Perburuan Karya Pramoedya Ananta Toer” oleh Heru Kurniawan (2007). Pada penelitian ini dibahas pertentangan antara ideologi nasionalisme humanisme dan ideologi priyayi yang muncul dari hegemoni pemerintah kolonial Belanda di Indonesia yang terdapat dalam novel Perburuan. Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis objek penelitian. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas pertentangan antara ideologi yang lahir dari masyarakat Jawa abangan di Magetan dan ideologi yang muncul dari hegemoni kaum militer pada masa Orde Baru di Indonesia, keduanya terdapat dalam novel Entrok. 4. Penelitian essay Tenggina Rahmad Siswadi yang berjudul
Perang Ideologi dalam Novel Entrok: Kajian Sastra Populer dan Hegemoni Gramsci (2010). Pada penelitian ini dibahas formasi dan negosiasi ideologi dalam novel Entrok. Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian dan menggunakan teori hegemoni Gramsci dalam menganalisis novel tersebut. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis membahas formasi ideologi, mendeskripsikan politik
Universitas Sumatera Utara

dan kekuasaan yang terdapat dalam novel Entrok serta mengkaji pengaruh ideologi, politik, dan kekuasaan terhadap tokoh-tokoh dalam novel. Di samping itu juga teori yang digunakan dalam menganalisis objek penelitian adalah teori hegemoni Gramsci dan teori ideologi Althusser.
5. Penelitian essay Apsanti Djokosujatno yang berjudul Entrok: Sebuah Novel Multifaset (2010). Pada penelitian ini dibahas tema-tema yang dimunculkan dari novel Entrok, seperti tema perempuan, politik, profesi, dan kepercayaan serta agama. Penelitian di atas memiliki kesamaan dengan penelitian ini, yaitu
keduanya menganalisis novel Entrok sebagai objek penelitian. Sedangkan perbedaan antara penelitian di atas dan penelitian ini, yaitu dalam penelitian ini penulis mengedepankan salah satu tema, yakni politik, yang berhubungan dengan perubahan kebijakan pemerintah yang semakin lama cenderung pada militer, menjadikan militer semakin berkuasa dan bertindak sewenangwenang semenjak PKI dihancurkan. Hal ini melahirkan hegemoni dengan ideologi-ideologi tertentu.
2.2 Landasan Teoretis Konsep teori merupakan bagian terpenting dalam membantu memecahkan
masalah. Adanya peran konsep menjadikan peneliti lebih memahami serta melakukan pembatasan dalam rangka menjawab setiap permasalahan yang timbul. Sebelum
Universitas Sumatera Utara

dilakukan penelitian, peneliti sudah mempunyai gambaran, harapan, jawaban atau bayangan tentang apa yang akan ditemukannya melalui penelitian yang dimaksud.
Sesuai dengan format penelitian yang dibuat dalam desain deskriptifkualitatif, maka digunakan beberapa teori yang dimaksudkan sebagai pijakan.
2.2.1 Cultural Studies Menurut Hall (Barker, 2009: 6), pendekatan cultural studies merupakan suatu
pembentukan wacana, yaitu kluster (atau bangunan) gagasan-gagasan, citra-citra dan praktik-praktik, yang menyediakan cara-cara untuk membicarakan topik, aktivitas sosial tertentu atau arena institusional dalam masyarakat. Cara-cara tersebut dapat berbentuk pengetahuan dan tindakan yang terkait dengannya.
Cultural studies adalah satu teori yang dibangun oleh para pemikir yang memandang produksi pengetahuan teoretis sebagai praktik politik. Di sini, pengetahuan tidak pernah menjadi fenomena netral atau objektif, melainkan soal posisionalitas, soal dari mana orang berbicara, kepada siapa dan untuk tujuan apa. Cultural studies dibangun oleh suatu cara berbicara yang tertata perihal objek-objek (yang dibawanya sebagai permasalahan) dan yang berkumpul di sekitar konsepkonsep kunci, gagasan-gagasan dan pokok-pokok perhatian. Selain itu, cultural studies memiliki suatu momen ketika dia menamai dirinya sendiri, meskipun penamaan itu hanya menandai penggalan atau kilasan dari suatu proyek intelektual yang terus berubah (Barker, 2009: 6).
Universitas Sumatera Utara

Menurut Hall (Storey, 2010: 2) cultural studies mengandung wacana yang berlipat ganda; merupakan seperangkat formasi; ia merekam momen-momen di masa lalu dan kondisi krisisnya (conjuncture) sendiri yang berbeda. Cultural studies mencakup pelbagai jenis karya yang berbeda; senantiasa merupakan seperangkat formasi yang tidak stabil; mempunyai banyak lintasan; kebanyakan orang telah mengambil posisi teoretis yang berbeda, kesemuanya teguh pada pendiriannya. Storey (2010: 1) mengatakan bahwa cultural studies bukanlah sekumpulan teori dan metode yang monolitik.
Cultural studies merupakan wacana yang membentang, yang merespons kondisi politik dan historis yang berubah dan selalu ditandai dengan perdebatan, ketidaksetujuan, dan intervensi. Cultural studies juga menganggap budaya itu bersifat politis dalam pengertian yang sangat spesifik, yaitu sebagai ranah konflik dan pergumulan. Budaya dalam cultural studies lebih didefinisikan secara politis ketimbang secara estetis. Objek kajian dalam cultural studies bukanlah budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sempit, yaitu sebagai objek keadiluhungan estetis (seni tinggi); juga bukan budaya yang didefinisikan dalam pengertian yang sama-sama sempit, yaitu sebagai sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, spiritual; melainkan budaya yang dipahami sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari. Inilah definisi budaya yang bisa mencakup dua definisi sebelumnya; selain itu, dan ini sangat penting, melibatkan kajian budaya pop bisa bergerak melampaui eksklusivitas sosial dan sempitnya definisi budaya ini (Storey, 2010).
Universitas Sumatera Utara

Bennett (Barker, 2009: 8) memaparkan bahwa cultural studies adalah suatu arena interdisipliner di mana perspektif dari disiplin yang berlainan secara selektif dapat digunakan untuk menguji hubungan kebudayaan dengan kekuasaan. Bentukbentuk kekuasaan yang dieksplorasi oleh cultural studies beragam, termasuk gender, ras, kelas, kolonialisme, dan lain-lain. Cultural studies berusaha mengeksplorasi hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkan cara berpikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam upayanya melakukan perubahan.
Cultural studies dilihat sebagai situs penting bagi produksi dan reproduksi hubungan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Storey (2010: 3), elaborasi yang sangat bagus mengenai cara melihat budaya ini barangkali datang dari Stuart Hall, yang menggambarkan budaya pop sebagai sebuah arena konsensus dan resistensi. Budaya pop merupakan tempat di mana hegemoni muncul, dan wilayah di mana hegemoni berlangsung.
2.2.2 Teori Hegemoni Sugiono (2006: 31) mengemukakan bahwa teori hegemoni Gramsci adalah
sebuah teori politik paling penting abad XX. Teori ini dibangun di atas premis pentingnya ide dan tidak mencukupinya kekuatan fisik belaka dalam kontrol sosial politik. Di mata Gramsci, agar yang dikuasai mematuhi penguasa, yang dikuasai tidak hanya harus merasa mempunyai dan menginternalisasi nilai-nilai serta norma penguasa, lebih dari itu mereka juga harus memberi persetujuan atas subordinasi
Universitas Sumatera Utara

mereka. Inilah yang dimaksud Gramsci dengan hegemoni atau menguasai dengan kepemimpinan moral dan intelektual secara konsensual.
Selanjutnya pandangan Gramsci (Sugiono, 2006: 34-35) menjelaskan bahwa mengenai pentingnya kepemimpinan kultural ini membuatnya mempertimbangkan kembali konsep “suprastruktur” Marxian. Tetapi bukannya memandang suprastruktur sebagai sebuah epifenomena semata, yakni refleksi semata dari elemen ekonomi sub / struktur, ia justru mengkarakterisasi suprastruktur sebagai penting dengan sendirinya. Ia memilah pengertian suprastruktur menjadi “dua level struktur utama”: tingkat pertama ia sebut “masyarakat sipil,” lainnya adalah “masyarakat politik” atau “negara”. Dalam konsepsi Gramsci “masyarakat sipil” mencakup seluruh aparatus transmisi yang lazim disebut “swasta” seperti universitas, sekolah, media massa, gereja dan lain sebagainya. Karena aparatus-aparatus tersebut memainkan peran sangat signifikan dalam membentuk kesadaran massa, maka kemampuan kelompok(kelompok) berkuasa dalam melestarikan kontrol sosial dan politiknya atas kelompokkelompok lain sepenuhnya bergantung pada kemampuannya mengontrol aparatusaparatus tadi. Yang dimaksud Gramsci dengan “masyarakat politik,” sebaliknya, adalah semua institusi publik yang memegang kekuasaan untuk melaksanakan “perintah”. Termasuk dalam kategori ini, masyarakat politik mengacu pada, antara lain, institusi seperti tentara, polisi, pengadilan, birokrasi dan pemerintah. Dengan kata lain, hal itu menunjuk pada semua institusi yang biasa disebut sebagai negara dan, memang demikian halnya, pada beberapa bagian Prison Notebooks Gramsci mempersamakan masyarakat politik dengan negara.
Universitas Sumatera Utara

Mengikuti konsepsi di atas, Gramsci (Sugiono, 2006: 36) mendefinisikan negara sebagai persamaan dari masyarakat politik plus masyarakat sipil atau memakai rumusannya sendiri: “negara= masyarakat politik + masyarakat sipil, dengan kata lain hegemoni dilindungi oleh baju besi koersi. Patria dan Andi Arief (2003: 32) mengatakan bahwa hegemoni menurut Gramsci merujuk pada pengertian tentang situasi sosial-politik, dalam terminologinya disebut momen dimana filsafat dan praktik sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang. Dominasi merupakan konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan manifestasi perorangan. Pengaruh dari spirit ini berbentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual. Hegemoni selalu berhubungan dengan penyusunan kekuatan negara sebagai klas diktator.
Harjito (Siswadi, 2010) menjelaskan bahwa terdapat empat hal yang ditonjolkan dari teori Gramsci dalam bandingannya dengan teori Marx. Pertama, Gramsci berpendapat bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat pluralitas ideologi. Kedua, konflik tidak hanya antarkelas, tetapi konflik antara kelompok-kelompok dengan kepentingan-kepentingan yang bersifat global untuk mendapatkan kontrol ideologi dan politik terhadap masyarakat. Ketiga, jika Marx menyebut kelas sosial harus menyadari keberadaan dirinya dan memiliki semangat juang sebagai kelas, Gramsci menyatakan bahwa untuk menjadi kelompok dominan, kelompok harus mewakili kepentingan. Kelompok dominan harus berkoordinasi, memperluas, dan mengembangkan interest-nya dengan kepentingan-kepentingan umum kelompok subaltern. Menurut Loomba (Ratna, 2005: 189-190), subaltern merupakan sebutan
Universitas Sumatera Utara

bagi kolektif yang terdiri atas orang-orang tertindas serta kelompok yang didominasi, dieksploitasi, dan kurang memiliki kesadaran kelas. Selanjutnya Harjito (Siswadi, 2010) menjelaskan pandangan Gramsci berikutnya. Keempat, Gramsci berpandangan bahwa seni atau sastra berada dalam superstruktur. Seni diletakkan dalam upaya pembentukan hegemoni dan budaya baru. Seni membawa ideologi atau superstruktur yang kohesi sosialnya dijamin kelompok dominan. Ideologi tersebut merupakan wujud counter-hegemoni (hegemoni tandingan) atas hegemoni kelas penguasa yang dipertahankan anggapan palsu bahwa kebiasaan dan kekuasaan penguasa merupakan kehendak Tuhan atau produk alam.
2.3 Konsep Pada bagian ini, peneliti akan memaparkan konsep yang digunakan dalam
penelitian, antara lain: (1) Formasi, (2) Ideologi, (3) Politik, (4) Kekuasaan, (5) Postrukturalisme, dan (6) Representasi.
2.3.1 Formasi Harjito (Siswadi, 2010) menyatakan bahwa formasi merupakan suatu susunan
dengan hubungan yang bersifat bertentangan, korelatif, dan subordinatif. Formasi ideologi tidak hanya membahas ideologi apa saja yang terdapat dalam teks, akan tetapi juga membahas bagaimana relasi antar ideologi tersebut. Menurut Storey (Siswadi, 2010), formasi ideologi dapat ditelusuri melalui elemen material, kemudian dikaji lebih lanjut pada hal-hal yang berkaitan dengan elemen kesadaran, elemen
Universitas Sumatera Utara

solidaritas-identitas, dan elemen kebebasan. Keempat elemen tidak harus muncul bersamaan. Elemen yang harus muncul adalah elemen material, yang berwujud berbagai aktivitas praktis dan terjelma dalam kehidupan keseharian, cara hidup kolektif masyarakat, lembaga, serta organisasi tempat praktik sosial berlangsung.
2.3.2 Ideologi Menurut Althusser (2010: 39), ideologi adalah sebuah representasi relasi
individu-individu imajiner pada kondisi nyata dari eksistensinya. Terjadinya transposisi imajiner atas kondisi-kondisi eksistensi nyata disebabkan oleh eksistensi dari sejumlah kecil manusia sinis yang mengandalkan representasi dunia yang dipalsukan yang diimajinalisasikannya demi dominasi dan eksploitasi terhadap rakyat, sehingga sanggup memperbudak kecerdasannya dengan mendominasi imajinasi.
Selanjutnya Althusser (2010: 51) juga menjelaskan bahwa ideologi bertindak atau berfungsi dengan suatu cara yang merekrut subjek-subjek di antara individuindividu (ideologi merekrut mereka semua), atau mengubah individu-individu menjadi subjek-subjek (ideologi mengubah mereka semua) melalui operasi yang sangat presisi, yang dinamakan interpelasi. Individu diinterpelasi sebagai suatu subjek (bebas) agar ia dapat taat sepenuhnya pada perint

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23