Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jinten Hitam (Nigella sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paruparu Mencit (Mus musculus)

2

ABSTRAK
AGUNG SUDOMO Pengaruh Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella
sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paru-Paru Mencit (Mus musculus).
Dibimbing oleh SRI ESTUNINGSIH dan DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai efek
pemberian ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap gambaran
histopatologi paru-paru mencit. Sebanyak 12 ekor mencit jantan usia 4 minggu
dibagi menjadi empat kelompok, masing masing kelompok beranggotakan tiga
ekor mencit. Kelompok K atau kontrol negatif menerima perlakuan aquades,
kelompok HS 0.1 menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.1
ml, kelompok HS 0.2 menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak
0.2 ml dan kelompok HS Madu menerima perlakuan kombinasi ekstrak minyak
jintan hitam dengan madu (perbandingan 1:20) sebanyak 0.3 ml. Perlakuan
dilakukan selama dua bulan. Kemudian mencit dieutanasi dengan cara dislokasi
sendi atlanto-occipitalis kemudian mencit dinekropsi untuk mendapatkan sampel
organ paru-paru. Paru-paru diproses menjadi sediaan histopatologi kemudian
diwarnai dengan pewarnaan Hematoxyllin-Eosin dan Periodic Acid Schiff.
Parameter yang diamati adalah persenatse bronkhus yang bereksudat, jumlah sel
goblet pada saluran nafas, luas area dan kepadatan sel BALT, kongesti dan
hemoragi, fokus-fokus radang, ketebalan otot polos di sekitar saluran nafas serta
kejadian emfisema menggunakan perangkat lunak Image J® for Microsoft®
Windows®. Analisis data dilakukan denganmenggunakan perangkat lunak SPSS®
16.0, uji statistik yang digunakan adalah ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian jintan hitam tidak menyebabkan
eksuddasi yang berlbihan, menurunkan aktivitas sel goblet, menurunkan luas
BALT dan meningkatkan kepadatan sel limfoid BALT, menurunkan kejadian
kongesti dan heomragi, menurunkan peradangan dan tidak menyebabkan
hipertrofi otot polos. Kandungan dari jintan hitam yaitu thymoquinone dan
longifelone diduga memberikan efek yang baik untuk histomorfologi organ paruparu.
Kata kunci: Mencit, Nigella sativa, paru-paru, mikroskopis sistem pernapasan

3

ABSTRACT
AGUNG SUDOMO The Effect of Blackseed (Nigella sativa) Extract on Mice
(Mus musculus) Lung Microscopy. Under direction of SRI ESTUNINGSIH
and DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
This study was aimed to get information about the effect of blackseed
(Nigella sativa) effect on the histopathology of mice lung. Twelve male mice of 4
weeks old were divided into four groups, each group consisted of three mice.
Group K or negative control received aquadest, group HS 0.1 was received 0.1 ml
blackseed oil, group HS 0.2 was received 0.2 blackseed oil and group HS Madu
was received 0.3 ml mixed of blackseed oil and honey (1:20) for two months. At
the end of the experiment, the mice were euthanized by atlanto occipital
dislocation and necropsied to collect the lung sample. The lungs were processed
to prepare the histopathology slides with Hematoxyllin-Eosin and Periodic Acid
Schiff (PAS) stain. The parameters observed include counting percentage of
bronchus and bronchial presenting exudates, counting the goblet cell between the
respiratory epithelial cell, calculating the BALT area, counting the limfoid cell
density of the BALT, counting the congestion, hemorrhage, inflammation and
emphysema area on the certain fields of view, measuring the thickness of smooth
muscle surround bronchial using Image J® for Microsoft® Windows®.
Quantitative data were analyzed using SPSS® 16.0 software and ANOVA test
followed Duncan test. The result showed that Nigella sativa treatment does not
lead to increase exudation in the bronchus and bronchioles lumen,a decrease in
the activity of goblet cells, a decrease the BALT area and an increase in the
lymphoid cell density,a reduce the area of congestion and hemorrhage,
inflammation and emphysema, reduction at the smooth muscle thickness. The
blackseed content such thymoquinone and longifolene were thought to provide a
favorable effect on lung histomorphology.
Keyword: Mice, Nigella sativa, lung, microscopy of respiratory system

4

RINGKASAN
AGUNG SUDOMO Pengaruh Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella
sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paru-Paru Mencit (Mus musculus).
Dibimbing oleh SRI ESTUNINGSIH dan DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
Saluran pernafasan merupakan organ yang mudah terserang penyakit, hal
ini disebabkan karena saluran pernafasan termasuk ke dalam kelompok saluran
terbuka. Artinya saluran pernafasan berhubungan langsung dengan lingkungan
luar (Aspinall dan O’Reilly 2004). Saluran pernafasan memiliki mekanisme
pertahanan yang dapat mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh melalui
saluran pernafasan (Bals et al. 1999). Terkadang sistem pertahanan yang ada pada
organ paru-paru tidak dapat menahan gempuran mikroorganisme patogen yang
masuk. Salah satu cara untuk meningkatkan sistem imun pada paru-paru adalah
dengan menggunakan obat-obatan herbal.
Penggunaan tanaman herbal pada pengobatan sudah dikenal sejak ribuan
tahun yang lalu. Hingga saat ini banyak obat-obatan modern yang masih
diturunkan dari tanaman dan ±25% dari semua resep mengandung satu atau lebih
bahan aktif dari tanaman (Saad et al. 2005). Delapan puluh persen penduduk Asia
dan Afrika menggunakan pengobatan herbal untuk menangani masalah kesehatan
(WHO 2008). Penggunaan tanaman herbal sebagai obat-obatan banyak disukai
karena secara umum obat herbal lebih aman dibandingkan dengan obat modern
(Sari 2006).
Nigella sativa atau yang dikenal dengan nama jintan hitam adalah tanaman
herbal yang berasal dari daerah di sekitar laut mediterania (Rouhou et al. 2007).
Biji dan minyak dari jintan hitam memiliki khasiat sebagai antiinflamasi,
analgesik, antipiretik, antimikroba dan antineoplasma. Beberapa laporan juga
menyebutkan bahwa jintan hitam juga efektif untuk pencegahan penyakit asma
(Salama dan Ragaa 2010).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak minyak jintan
hitam dan kombinasi antara ekstrak minyak jintan hitam dan madu terhadap
gambaran mikroskopis organ paru-paru. Perubahan yang terjadi pada gambaran
mikroskopis organ paru dapat digunakan sebagai acuan untuk mempelajari efek
jintan hitam lebih lanjut.
Sebanyak 12 ekor mencit jantan usia 4 minggu dibagi menjadi empat
kelompok, masing masing kelompok beranggotakan tiga ekor mencit. Kelompok
K atau kontrol negatif menerima perlakuan aquades, kelompok HS 0.1 menerima
perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.1 ml, kelompok HS 0.2
menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.2 ml dan kelompok
HS Madu menerima perlakuan kombinasi ekstrak minyak jintan hitam dengan
madu (perbandingan 1:20) sebanyak 0.3 ml. Perlakuan dilakukan selama dua
bulan. Kemudian mencit dieutanasi dengan cara dislokasi sendi atlanto-occipitalis
kemudian mencit dinekropsi untuk mendapatkan sampel organ paru-paru. Paruparu diproses menjadi sediaan m kemudian diwarnai dengan pewarnaan
Hematoxyllin-Eosin dan Periodic Acid Schiff. Parameter yang diamati adalah
persenatse bronkhus yang bereksudat, jumlah sel goblet pada saluran nafas, luas
area dan kepadatan sel BALT, kongesti dan hemoragi, fokus-fokus radang,
ketebalan otot polos di sekitar saluran nafas serta kejadian emfisema
menggunakan perangkat lunak Image J® for Microsoft® Windows®. Analisis data

5

dilakukan denganmenggunakan perangkat lunak SPSS® 16.0, uji statistik yang
digunakan adalah ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pemberian jintan hitam tidak menyebabkan eksuddasi yang berlbihan,
menurunkan aktivitas sel goblet, menurunkan luas BALT dan meningkatkan
kepadatan sel limfoid BALT, menurunkan kejadian kongesti dan heomragi,
menurunkan peradangan dan tidak menyebabkan hipertrofi otot polos. Kandungan
dari jintan hitam yaitu thymoquinone dan longifelone diduga memberikan efek
yang baik untuk histomorfologi organ paru-paru.
Kata kunci: Mencit, Nigella sativa, paru-paru, mikroskopis sistem pernapasan

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK MINYAK JINTAN
HITAM (Nigella sativa) TERHADAP GAMBARAN
MIKROSKOPIS PARU-PARU MENCIT (Mus musculus)

AGUNG SUDOMO

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTUTUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

2

ABSTRAK
AGUNG SUDOMO Pengaruh Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella
sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paru-Paru Mencit (Mus musculus).
Dibimbing oleh SRI ESTUNINGSIH dan DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai efek
pemberian ekstrak minyak jintan hitam (Nigella sativa) terhadap gambaran
histopatologi paru-paru mencit. Sebanyak 12 ekor mencit jantan usia 4 minggu
dibagi menjadi empat kelompok, masing masing kelompok beranggotakan tiga
ekor mencit. Kelompok K atau kontrol negatif menerima perlakuan aquades,
kelompok HS 0.1 menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.1
ml, kelompok HS 0.2 menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak
0.2 ml dan kelompok HS Madu menerima perlakuan kombinasi ekstrak minyak
jintan hitam dengan madu (perbandingan 1:20) sebanyak 0.3 ml. Perlakuan
dilakukan selama dua bulan. Kemudian mencit dieutanasi dengan cara dislokasi
sendi atlanto-occipitalis kemudian mencit dinekropsi untuk mendapatkan sampel
organ paru-paru. Paru-paru diproses menjadi sediaan histopatologi kemudian
diwarnai dengan pewarnaan Hematoxyllin-Eosin dan Periodic Acid Schiff.
Parameter yang diamati adalah persenatse bronkhus yang bereksudat, jumlah sel
goblet pada saluran nafas, luas area dan kepadatan sel BALT, kongesti dan
hemoragi, fokus-fokus radang, ketebalan otot polos di sekitar saluran nafas serta
kejadian emfisema menggunakan perangkat lunak Image J® for Microsoft®
Windows®. Analisis data dilakukan denganmenggunakan perangkat lunak SPSS®
16.0, uji statistik yang digunakan adalah ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pemberian jintan hitam tidak menyebabkan
eksuddasi yang berlbihan, menurunkan aktivitas sel goblet, menurunkan luas
BALT dan meningkatkan kepadatan sel limfoid BALT, menurunkan kejadian
kongesti dan heomragi, menurunkan peradangan dan tidak menyebabkan
hipertrofi otot polos. Kandungan dari jintan hitam yaitu thymoquinone dan
longifelone diduga memberikan efek yang baik untuk histomorfologi organ paruparu.
Kata kunci: Mencit, Nigella sativa, paru-paru, mikroskopis sistem pernapasan

3

ABSTRACT
AGUNG SUDOMO The Effect of Blackseed (Nigella sativa) Extract on Mice
(Mus musculus) Lung Microscopy. Under direction of SRI ESTUNINGSIH
and DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
This study was aimed to get information about the effect of blackseed
(Nigella sativa) effect on the histopathology of mice lung. Twelve male mice of 4
weeks old were divided into four groups, each group consisted of three mice.
Group K or negative control received aquadest, group HS 0.1 was received 0.1 ml
blackseed oil, group HS 0.2 was received 0.2 blackseed oil and group HS Madu
was received 0.3 ml mixed of blackseed oil and honey (1:20) for two months. At
the end of the experiment, the mice were euthanized by atlanto occipital
dislocation and necropsied to collect the lung sample. The lungs were processed
to prepare the histopathology slides with Hematoxyllin-Eosin and Periodic Acid
Schiff (PAS) stain. The parameters observed include counting percentage of
bronchus and bronchial presenting exudates, counting the goblet cell between the
respiratory epithelial cell, calculating the BALT area, counting the limfoid cell
density of the BALT, counting the congestion, hemorrhage, inflammation and
emphysema area on the certain fields of view, measuring the thickness of smooth
muscle surround bronchial using Image J® for Microsoft® Windows®.
Quantitative data were analyzed using SPSS® 16.0 software and ANOVA test
followed Duncan test. The result showed that Nigella sativa treatment does not
lead to increase exudation in the bronchus and bronchioles lumen,a decrease in
the activity of goblet cells, a decrease the BALT area and an increase in the
lymphoid cell density,a reduce the area of congestion and hemorrhage,
inflammation and emphysema, reduction at the smooth muscle thickness. The
blackseed content such thymoquinone and longifolene were thought to provide a
favorable effect on lung histomorphology.
Keyword: Mice, Nigella sativa, lung, microscopy of respiratory system

4

RINGKASAN
AGUNG SUDOMO Pengaruh Pemberian Ekstrak Jintan Hitam (Nigella
sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paru-Paru Mencit (Mus musculus).
Dibimbing oleh SRI ESTUNINGSIH dan DEWI RATIH AGUNGPRIYONO
Saluran pernafasan merupakan organ yang mudah terserang penyakit, hal
ini disebabkan karena saluran pernafasan termasuk ke dalam kelompok saluran
terbuka. Artinya saluran pernafasan berhubungan langsung dengan lingkungan
luar (Aspinall dan O’Reilly 2004). Saluran pernafasan memiliki mekanisme
pertahanan yang dapat mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh melalui
saluran pernafasan (Bals et al. 1999). Terkadang sistem pertahanan yang ada pada
organ paru-paru tidak dapat menahan gempuran mikroorganisme patogen yang
masuk. Salah satu cara untuk meningkatkan sistem imun pada paru-paru adalah
dengan menggunakan obat-obatan herbal.
Penggunaan tanaman herbal pada pengobatan sudah dikenal sejak ribuan
tahun yang lalu. Hingga saat ini banyak obat-obatan modern yang masih
diturunkan dari tanaman dan ±25% dari semua resep mengandung satu atau lebih
bahan aktif dari tanaman (Saad et al. 2005). Delapan puluh persen penduduk Asia
dan Afrika menggunakan pengobatan herbal untuk menangani masalah kesehatan
(WHO 2008). Penggunaan tanaman herbal sebagai obat-obatan banyak disukai
karena secara umum obat herbal lebih aman dibandingkan dengan obat modern
(Sari 2006).
Nigella sativa atau yang dikenal dengan nama jintan hitam adalah tanaman
herbal yang berasal dari daerah di sekitar laut mediterania (Rouhou et al. 2007).
Biji dan minyak dari jintan hitam memiliki khasiat sebagai antiinflamasi,
analgesik, antipiretik, antimikroba dan antineoplasma. Beberapa laporan juga
menyebutkan bahwa jintan hitam juga efektif untuk pencegahan penyakit asma
(Salama dan Ragaa 2010).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak minyak jintan
hitam dan kombinasi antara ekstrak minyak jintan hitam dan madu terhadap
gambaran mikroskopis organ paru-paru. Perubahan yang terjadi pada gambaran
mikroskopis organ paru dapat digunakan sebagai acuan untuk mempelajari efek
jintan hitam lebih lanjut.
Sebanyak 12 ekor mencit jantan usia 4 minggu dibagi menjadi empat
kelompok, masing masing kelompok beranggotakan tiga ekor mencit. Kelompok
K atau kontrol negatif menerima perlakuan aquades, kelompok HS 0.1 menerima
perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.1 ml, kelompok HS 0.2
menerima perlakuan ekstrak minyak jintan hitam sebanyak 0.2 ml dan kelompok
HS Madu menerima perlakuan kombinasi ekstrak minyak jintan hitam dengan
madu (perbandingan 1:20) sebanyak 0.3 ml. Perlakuan dilakukan selama dua
bulan. Kemudian mencit dieutanasi dengan cara dislokasi sendi atlanto-occipitalis
kemudian mencit dinekropsi untuk mendapatkan sampel organ paru-paru. Paruparu diproses menjadi sediaan m kemudian diwarnai dengan pewarnaan
Hematoxyllin-Eosin dan Periodic Acid Schiff. Parameter yang diamati adalah
persenatse bronkhus yang bereksudat, jumlah sel goblet pada saluran nafas, luas
area dan kepadatan sel BALT, kongesti dan hemoragi, fokus-fokus radang,
ketebalan otot polos di sekitar saluran nafas serta kejadian emfisema
menggunakan perangkat lunak Image J® for Microsoft® Windows®. Analisis data

5

dilakukan denganmenggunakan perangkat lunak SPSS® 16.0, uji statistik yang
digunakan adalah ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pemberian jintan hitam tidak menyebabkan eksuddasi yang berlbihan,
menurunkan aktivitas sel goblet, menurunkan luas BALT dan meningkatkan
kepadatan sel limfoid BALT, menurunkan kejadian kongesti dan heomragi,
menurunkan peradangan dan tidak menyebabkan hipertrofi otot polos. Kandungan
dari jintan hitam yaitu thymoquinone dan longifelone diduga memberikan efek
yang baik untuk histomorfologi organ paru-paru.
Kata kunci: Mencit, Nigella sativa, paru-paru, mikroskopis sistem pernapasan

6

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK MINYAK JINTAN
HITAM (Nigella sativa) TERHADAP GAMBARAN
MIKROSKOPIS PARU-PARU MENCIT (Mus musculus)

AGUNG SUDOMO

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTUTUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

7

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi “Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak
Jintan Hitam (Nigella sativa) terhadap Gambaran Mikroskopis Paru-Paru
Mencit (Mus musculus)” adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam
bentuk apapun pada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi
ini.
Bogor, September 2012

Agung Sudomo

NIM B04070007

8

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyususnan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

9

LEMBAR PENGESAHAN
Judul Penelitian

: Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jinten Hitam
(Nigella sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paruparu Mencit (Mus musculus)

Nama Mahasiswa

: Agung Sudomo

NRP

: B04070007

Program Studi

: Kedokteran Hewan
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor
Disetujui
Komisi Pembimbing

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr.Drh. Sri Estuningsih, MSi, APVet
NIP. 19600629 199002 2 001

Drh. Dewi Ratih Agungpriyono, PhD, APVet
NIP. 19631201 198803 2 001

Mengetahui,
A.n. Dekan
Wakil Dekan
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

Drh. Agus Setiyono, MS. PhD, APVet
NIP. 19630810 198803 1 004

Tanggal lulus:

10

PRAKATA
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas berkat, rahmat, dan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyususnan skripsi yang berjudul
Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jintan Hitam (Nigella sativa) terhadap
Gambaran Mikroskopis Paru-paru Mencit (Mus musculus). Skripsi ini merupakan
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Proses penulisan skripsi ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh
karena itu, dengan rasa tulus dan hormat, penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Ayah (Sukemi) dan Ibu (Nurmarini) tercinta selaku orang tua penulis, atas
kasih sayang, doa, motivasi, nasihat, dan dorongan yang luar biasa dan tak
henti-hentinya kepada penulis.
2. Dr. Drh. Sri Estuningsih, MSi. APVet Drh. Dewi Ratih Agungpriyono,
PhD. APVet selaku dosen pembimbing skripsi atas bimbingan, arahan,
motivasi, waktu, dan pemikiran selama proses penelitian dan penyelesaian
skripsi ini.
3. Drh. Isdoni, M.Biomed selaku dosen pembimbing akademik.
4. Saudara tercinta Awaluddin Nurmiyanto, Nurafni Aridhona atas dukungan
dan inspirasi yang luar biasa.
5. Tim Habbatussauda (Dian Mayasafira, Niken Rostika, Cut Dara, Nova
Febrina, Ornella Zynesha, dan Annisa Rahmi) dan teman-teman
seperjuangan di Lab. Patologi Rahmah, Desray, Fatma, Mutia, Zaza, Juju,
Tizzani dan Iren atas kebersamaannya.
6. Danang, Fakhri, Disa, Tami, dan Arni atas bantuan dan dukungan moril
dan kebersamaan yang telah kita lalui.
7. Staf Bagian Patologi FKH IPB (Pak Kasnadi, Pak Endang, Pak Soleh, dan
Mbak Kiki) atas segala bantuannya.
8. Keluarga Bapak Haryadi dan keluarga bapak Bambang HR atas
dukungannya
9. Teman-teman yang tergabung dalam Gianuzzi FKH 44.

11

10. Teman-teman HIMPRO Satwaliar (Pandu, Yoha, Ines, Rere, Nindi dan
Talitha) atas kebersamaan dan dukungan selama ini.
11. Teman-teman IMAKUSI dan Asrama Kuansing (Misep, Pras, Disfa,
Abrar, Iqbar, Aji, Yufi) atas kebersamaan dan dukungannya.
12. Teman-teman Blogger IPB Yusuf, Elka, Miftah, Adietya, Sentani dan
Momo atas kebersamaan dan dukungannya.
Terakhir penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh civitas
akademik Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Segala sesuatu tidak ada yang
sempurna, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Bogor, September 2012

Agung Sudomo
NIM B04070007

i

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK MINYAK JINTAN
HITAM (Nigella sativa) TERHADAP GAMBARAN
MIKROSKOPIS PARU-PARU MENCIT (Mus musculus)

AGUNG SUDOMO

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTUTUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

ii

DAFTAR ISI
Halaman
Daftar Isi.....................................................................................................................i
Daftar Gambar ............................................................................................................iii
Daftar Tabel ...............................................................................................................iv
Daftar Lampiran .........................................................................................................vii
Bab I Pendahuluan .....................................................................................................1
1.1 Latar Belakang .........................................................................................1
1.2 Tujuan ......................................................................................................2
1.3 Manfaat ....................................................................................................3
1.4 Hipotesis ...................................................................................................3
Bab II Tinjauan Pustaka .............................................................................................4
2.1 Jintan Hitam ............................................................................................4
2.2 Madu.........................................................................................................9
2.3 Mencit.......................................................................................................10
2.4 Organ Sistem Pernafasan Mencit .............................................................12
2.4.1 Saluran Nafas.............................................................................12
2.4.1 Paru-paru ...................................................................................13
2.4.2 Histologi Paru-paru ...................................................................14
2.4.3 Sistem Pertahanan pada Paru-paru ............................................14
2.4.4 Perubahan Histopatologi Paru-Paru pada Penderita Asma .......16
Bab III Bahan dan Metode .........................................................................................19
3.1 Waktu dan Tempat ...................................................................................19
3.2 Bahan dan Alat .........................................................................................19

iii

3.3 Metode Penelitian .....................................................................................20
3.3.1 Persiapan Hewan Coba .............................................................20
3.3.2 Kandang Hewan Coba...............................................................21
3.3.3 Pakan dan Minum .....................................................................22
3.3.4 Kelompok Perlakuan Penelitian ................................................22
3.3.5 Nekropsi dan Pengambilan Sampel Organ ...............................22
3.3.6 Pembuatan Sediaan Histologi ...................................................23
3.3.7 Pewarnaan Sediaan Histologi ....................................................24
3.3.8 Pengamatan Sediaan Histologi ..................................................24
3.3.9 Analisis Statistik .......................................................................27
BAB IV Hasil dan Pembahasan .................................................................................27
4.1 Eksudat pada bronkhus dan bronkhiolus..................................................27
4.2 Sel Goblet pada bronkhiolus ....................................................................29
4.3 Bronchial-Associated Lymphoid Tissue (BALT) .....................................32
4.4 Kongesti dan Hemoragi............................................................................34
4.5 Fokus Radang ...........................................................................................36
4.6 Ketebalan otot polos .................................................................................39
4.7 Emfisema..................................................................................................41
4.8 Pembahasan Umum ..................................................................................42
BAB V Penutup .........................................................................................................45
5.1 Kesimpulan ..............................................................................................45
5.2 Saran .........................................................................................................45
Daftar Pustaka ............................................................................................................46
Lampiran ....................................................................................................................52

iv

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1 Bunga dan Biji Jintan Hitam .....................................................................5
Gambar 2 Mencit (Mus musculus) ............................................................................11
Gambar 3 Histologi Normal Paru-paru .....................................................................14
Gambar 4 Mekanisme Sistem Pertahanan pada Paru-paru .......................................15
Gambar 5 Penebalan Epitel pada Paru-Paru Mencit Model Penyakit Asma ............17
Gambar 6 Peningkatan Jumlah Sel Goblet pada Mencit Model Penyakit Asma ......17
Gambar 7 Kandang Hewan coba ...............................................................................21
Gambar 8 Gambaran Histopatologi Bronkhus Yang Bereksudat Sedikit ..................29
Gambar 9 Gambaran Histopatologi Sel Goblet Dengan Pewarnaan Periodic Acid
Schiff (PAS) .............................................................................................31
Gambar 10 Gambaran Histopatologi Keberadaan Fokus BALT di Sekitar
Bronkhioli dengan Pewarnaan HE ..........................................................32
Gambar 11 Gambaran Mikroskopi Kepadatan Sel Limfoid pada BALT dengan
Pewarnaan HE .........................................................................................33
Gambar 12 Gambaran Histopatologi Kongesti Pembuluh Darah Vena pada Organ
Paru-paru .................................................................................................35
Gambar 13 Gambaran Histopatologi Hemoragi pada Organ Paru-paru ....................36
Gambar 14 Gambaran Histopatologi Fokus-Fokus Radang Pada Organ Paru-Paru .38
Gambar 15 Gambaran Histopatologi Otot Polos Di Sekitar Bronkhus Pada Organ
Paru-Paru .................................................................................................40
Gambar 16 Gambaran Histopatologi Emfisema Pada Organ Paru-Paru ...................42

v

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Karakteristik Kimia Biji Jintan Hitam .........................................................5
Tabel 2. Komposisi Asam Lemak Minyak Jintan Hitam ..........................................6
Tabel 3. Aktivitas Antimikroba Thymoquinone dibandingkan Gentamycin dan
Erythromycin terhadap Bakteri Patogen pada Manusia...............................7
Tabel 4. Komposisi kimia madu per 100 gr ...............................................................10
Tabel 5. Data Dasar Fisiologis Mencit .......................................................................11
Tabel 6. Jadwal Kegiatan Penelitian ..........................................................................19
Tabel 7 Persentase Bronkhus dan Bronkhiolus yang Bereksudat pada Mencit yang
Diberi Perlakuan Jintan Hitam .....................................................................27
Tabel 8 Jumlah Sel Goblet pada Bronkhiolus Mencit yang Diberi Perlakuan Jintan
Hitam............................................................................................................30
Tabel 9 Hasil Pengamatan BALT pada Mencit yang Diberi Perlakuan Jintan
Hitam............................................................................................................32
Tabel 10 Hasil Pengamatan Kongesti dan Hemoragi pada Paru-paru Mencit yang
Diberi Perlakuan Jintan Hitam .....................................................................34
Tabel 11 Rataan Jumlah Fokus Radang Pada Paru-Paru Mencit Yang Diberi
Perlakuan Jintan Hitam ................................................................................36
Tabel 12 Hasil Pengamatan Terhadap Otot Polos Pada Bronkhus Mencit Yang
Diberi Perlakuan Jintan Hitam .....................................................................39
Tabel 13 Persentase Daerah Emfisema pada Mencit yang diberi Perlakuan Jintan
Hitam............................................................................................................41
Tabel 14 Dosis Efektif Jintan Hitam Berdasarkan Faktor yang Diamati ...................44

vi

Daftar Lampiran
Halaman
Lampiran 1 Perhitungan Dosis ...................................................................................53
Lampiran 2 Jadwal Pelaksanaan Kegiatan .................................................................55
Lampiran 3 Hasil Analisis Data Eksudat pada Bronkhus ..........................................56
Lampiran 4 Hasil Analisis Data Jumlah Sel Goblet ..................................................58
Lampiran 5 Hasil Analisis Data Pengamatan BALT .................................................60
Lampiran 6 Hasil Analisis Data Pengamatan Kongesti dan Hemoragi .....................62
Lampiran 7 Hasil Analisis Data Pengamatan Fokus Radang.....................................64
Lampiran 8 Hasil Analisis Data Ketebalan Otot Polos ..............................................66
Lampiran 9 Hasil Analisis Data Emfisema ................................................................68

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saluran pernafasan merupakan organ yang mudah terserang penyakit, hal
ini disebabkan karena saluran pernafasan termasuk ke dalam kelompok saluran
terbuka. Artinya saluran pernafasan berhubungan langsung dengan lingkungan
luar (Aspinall 2004). Salah satu permasalahan kesehatan paru-paru adalah
penyakit asma. WHO (2011) menyebutkan bahwa saat ini sebanyak 235 juta
penduduk dunia mengidap penyakit asma. Penyakit pernafasan kronik ini sudah
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Asma sudah masuk ke semua negara baik
yang mempunyai pendapatan yang tinggi ataupun rendah.
Saluran pernafasan memiliki mekanisme pertahanan yang dapat mencegah
masuknya kuman kedalam tubuh melalui saluran pernafasan. Mekanisme ini
berupa sistem kekebalan bawaan yang bersifat umum dan sistem kekebalan
dapatan yang bersifat khusus (Robert 1999). Namun terkadang sistem pertahanan
yang ada pada organ paru-paru tidak dapat menahan mikroorganisme patogen
yang masuk. Agar tidak terjadi kerusakan pada paru-paru, diperlukan zat yang
mampu meningkatkan sistem pertahanan pada organ paru-paru sehingga dapat
mencegah masuknya mikroorganisme patogen maupun benda asing yang dapat
menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Salah satu cara untuk meningkatkan
sistem imun pada paru-paru adalah dengan menggunakan obat-obatan herbal.
Penggunaan tanaman herbal untuk pengobatan sudah dikenal sejak ribuan
tahun yang lalu. Secara umum penggunaan herbal dalam dunia pengobatan
dikelompokkan menjadi empat kelompok yaitu pengobatan tradisional herbal
cina, ayuverda, pengobatan herbal barat dan pengobatan herbal dari arab. Saat ini
banyak obat-obatan modern yang masih diturunkan dari tanaman dan ±25% dari
semua resep mengandung satu atau lebih bahan aktif dari tanaman (Saad 2005).
Di Asia dan Afrika 80% penduduknya menggunakan pengobatan herbal untuk
menangani masalah kesehatan yang dialami (WHO 2008). Penggunaan tanaman

2

herbal sebagai obat-obatan banyak disukai karena secara umum obat herbal lebih
aman dibandingkan dengan obat modern (Sari 2006).
Peningkatan penggunaan obat herbal juga terjadi di Indonesia. Hal ini
menandakan bahwa masyarakat di Indonesia semakin percaya terhadap efek obat
herbal. Penggunaan obat herbal di Indonesia juga tidak terbatas pada strata
masyarakat tertentu. Penggunaan obat herbal sudah menembus seluruh lapisan
masyarakat. Meskipun demikian kajian dan pengembangan terhadap potensi obat
herbal harus terus dilakukan agar masyarakat mendapatkan manfaat dari
penggunaan obat herbal secara maksimal (Subarnas 2010). Pemerintah Indonesia
juga sudah mendukung penggunaan obat herbal ini. Pada tahun 2004 BPOM
mengeluarkan Keputusan Kepala BPOM No. HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan
Pokok Pengelompokan dan Penandaan Obat.
Nigella sativa atau yang dikenal dengan nama jintan hitam adalah tanaman
herbal yang berasal dari daerah di sekitar laut mediterania (Rouhou et al. 2007).
Biji dan minyak dari jintan hitam memiliki khasiat sebagai antiinflamasi,
analgesik, antipiretik, antimikroba dan antineoplasma. Beberapa laporan juga
menyebutkan bahwa jintan hitam juga efektif untuk pencegahan penyakit asma.
Jintan hitam sudah digunakan sebagai obat herbal sejak ribuan tahun yang lalu.
Masyarakat pada daerah timur tengah dan beberapa negara lain di Asia barat
menggunakan jintan hitam sebagai obat untuk mengobati penyakit. Selain sebagai
obat herbal, jintan hitam juga digunakan sebagai bahan tambahan makanan
(Salama 2010). Saat ini jintan hitam sudah banyak ditemukan di pasaran baik
dalam bentuk bubuk dalam kapsul dan minyak. Melihat potensi jintan hitam dan
tren penggunaan obat herbal pada masyarakat maka perlu diadakan kajian untuk
mendapatkan informasi ilmiah tentang manfaat jintan hitam terutama pada organ
paru-paru.

3

1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak
minyak jintan hitam (Nigella sativa) dan kombinasi ekstrak jintan hitam dengan
madu terhadap gambaran mikroskopis organ paru-paru pada mencit (Mus
musculus).
1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah informasi tentang
khasiat jintan Hitam khususnya pada paru-paru mencit (Mus musculus). Dengan
informasi dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan penggunaan jintan
hitam sebagai obat herbal yang dapat mengatasi permasalahan pada paru-paru
baik pada hewan maupun pada manusia.
1.4 Hipotesis
H0: Tidak terdapat perbedaan gambaran mikroskopis organ paru-paru
mencit yang diberi perlakuan (ekstrak minyak jintan hitam) dengan
kelompok kontrol negatif (tidak diberi ekstrak minyak jintan hitam).
H1: Terdapat perbedaan gambaran mikroskopis organ paru-paru antara
kelompok mencit yang diberi perlakuan (diberi ekstrak minyak jintan
hitam) dengan kelompok kontrol negatif (tidak diberi ekstrak minyak
jintan hitam).

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Jintan Hitam
Nigella sativa merupakan tanaman herbal tahunan. Tanaman ini sudah

digunakan sejak ribuan tahun yang lalu sebagai bumbu dan pengawet makanan.
Tanaman ini biasanya tumbuh di Eropa, Timur Tengah dan Asia Barat. Jintan
hitam tumbuh pada keadaan tanah semi arid. Bunga jintan hitam berwarna kebirubiruan dengan variasi jumlah kelopak (Gambar 5). Bunga jintan hitam juga
ditandai dengan adanya nektar. Biji jintan hitam berukuran kecil dengan berat
antara 1-5 mg berwarna abu-abu gelap atau hitam dengan permukaan kulit yang
berkerut (Antuono et al. 2002).
Jintan hitam dikenal sebagai obat-obatan herbal sejak ribuan tahun yang
lalu. Jintan hitam sering digunakan sebagai obat-obatan tradisional untuk
mengobati berbagai penyakit seperti demam, flu, sakit kepala, asma, rematik,
infeksi oleh mikroba, untuk mengatasi cacing pada saluran pencernaan dan juga
untuk meningkatkan status kesehatan (Salama 2010).
Nigella sativa di Indonesia dikenal sebagai jintan hitam. Sedangkan di
Arab Saudi N. Sativa dikenal dengan nama Al-Habbah Al Sawda, Habbet ElBaraka, Kamoun Aswad, Schuniz dan Khodria. Di Pakistan India, dan Sri Lanka
dikenal sebagai Kalvanji, Kalunji, Azmut, Gurat, Aof dan Aosetta. Dalam bahasa
Inggris tanaman ini dikenal dengan nama black seed, black cumin, black caraway,
cinnamon flower, nutmeg flower dan love-in-a-mist (Salama 2010).
Klasifikasi ilmiah jintan hitam (USDA 2011) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Ordo

: Ranunculales

5

Famili

: Ranunculaceae

Genus

: Nigella L.

Spesies

: Nigella sativa L.

A

B

Gambar 1. Bunga dan Biji Jintan Hitam
(Sumber: Gambar A: USDA 2011; Gambar B: Fatoni 2011)
Biji jintan hitam diketahui mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan.
Karakteristik kimia biji jintan hitam menurut Rouhou et al. 2007 dapat dilihat
pada Tabel 1.
Tabel 1.Karakteristik Kimia Biji Jintan Hitam
Komposisi
Dry matter (%)
Oila
Crude proteina
Asha
Potassiumb
Magnesiumb
Calciumb
Phosphorusb
Sodiumb
Ironb
Copperb
Zincb
Manganeseb
Total carbohydratea
a

Dalam % basis bahan kering
Dalam mg/kg dari bahan kering
Sumber: Rouhou et al. (2007)
b

Jumlah
91.35 ± 0.26
28.48 ± 0.05
26.7 ± 0.35
4.86 ± 0.06
783 ± 6.61
235 ± 4.87
572 ± 21.5
48.9 ± 0.04
20.8 ± 2.21
8.65 ± 0.65
1.65 ± 0.03
8.04 ± 0.21
4.43 ± 0.11
40.0 ± 0.46

6

Kandungan asam lemak dari minyak jintan hitam didominasi oleh asam
linoleat, asam oleat, dan asam palmitoleat. Perbandingan antara asam linoleat dan
asam oleat lebih besar dari 2:1. Perbandingan antara asam linoleat dan asam oleat
pada minyak jagung dan minyak kedelai dilaporkan juga memiliki perbandingan
yang lebih besar dari 2:1 (Rouhou et al. 2007).
Tabel 2. Komposisi Asam Lemak Minyak Jintan Hitam
Asam Lemak
Jumlah
Myristic C14:0
0.35 ± 0.02
Myristoleic C14:1
Sedikit
Palmitic C16:0
17.2 ± 0.15
Palmitoleic C16:1
1.15 ± 0.05
Margaric C17:0
Sedikit
Margaroleic C17:1
Sedikit
Stearic C18:0
2.84 ± 0.08
Oleic C18:1
25.0 ± 0.24
Linoleic C18:2
50.31 ± 0.25
Arachidic C20:0
0.14 ± 0.02
Eicosenoic C20:1
0.32 ± 0.04
Behenic C22:0
1.98 ± 0.08
Lignoceric C24:0
Sedikit
Sumber: Rouhou et al. (2007)

Jintan hitam diketahui memiliki berbagai macam khasiat antara lain anti
bakteri, anti jamur, anti kanker, antioksidan, antiparasit, analgesik, anti koagulan
dan juga agen hipoglikemik (Salama 2010). Aktivitas antimikroba jintan hitam
berasal dari kandungan zat aktifnya yaitu thymoquinone dan longifolene. Dalam
sebuah penelitian disebutkan bahwa thymoquinone dan longifolene mempunyai
efek antibakteri terhadap S. aureus dengn nilai IC50 1,8µM (0,3µg/ml) dan 3,0 µM
(0,6 µg/ml) (Bourgou et al. 2010). Thymoquinone mempunyai aktivitas antibakteri
yang tinggi terhadap bakteri gram positif. Thymoquinone juga dilaporkan
mempunyai efek sinergi dengan streptomycin dan gentamycin. Cahieb et al.
(2011) menguji kemampuan thymoquinone secara in vitro dalam melawan bakteri
dengan bakteri patogen yang ada pada manusia. Hasil dari percobaan tersebut
dapat dilihat pada Tabel 3.

7

Tabel 3. Aktivitas Antimikroba Thymoquinone dibandingkan Gentamycin dan
Erythromycin terhadap Bakteri Patogen pada Manusia
Strain
Bakteri batang gram negatif
Escherichi coli ATCC 35218
Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853
Salmonella enterica serovar Typhimurium
ATCC 14028
Vibrio alginolyticus ATCC 33787
Vibrio paraheamolyticus ATCC 17802
Gram positive bacilli
Bacillus cereus ATCC 14579
Listeria monocytogene ATCC 19115
Gram positive cocci
Enterococcus faecalis ATCC 29212
Micrococcus luteus NCIMB 8166
Staphylococcus aureus ATCC 25923
Staphylococcus epidermidis CIP 106510
a
b

Antimicrobial susceptibility
Gentamycin
Erythromycin Thymoquinone
(µg/ml)
(µg/ml)
(µg/ml)
a
b
MIC
MBC aMIC bMBC aMIC bMBC
8
2

16
4

32
256

64
>256

>512
>512

>512
>512

2
32
8

8
64
16

>256
>256
128

>256
>256
256

>512
256
32

>512
>512
64

4
2

8
4

8
1

16
4

8
16

8
32

32

64

256

>256

32

64

2
16
4

8
32
8

4
16
16

16
32
32

8
8
8

64
16
8

Minimum Inhibitory Concentration
Minimum Bactericidal Concentration

Sumber: Chaieb et al (2011)
Selain memiliki aktivitas antimikroba, jintan hitam juga diketahui
memiliki aktivitas antifungi dan antihelmintika. Biji jintan hitam berkhasiat
sebagai obat cacing (Hutapea 1994). Ela (2002) meneliti tentang efek ekstrak
jintan hitam terhadap tikus yang mengalami schistosomiasis. Hasil dari penelitian
tersebut menunjukkan bahwa thymoquinone yang merupakan kandungan dari
jintan hitam memberikan efek mencegah aberasi kromosom pada mencit yang
diinfeksi schistomiasis. Thymoquinone yang merupakan bahan yang terdapat pada
jintan hitam juga dilaporkan memiliki efek protektif terhadap aberasi kromosom.
Ekstrak jintan hitam juga mempunyai efek inhibisi terhadap khamir patogen
Candida albican (Salama 2010).
Jintan hitam di Arab Saudi biasanya digunakan sebagai obat untuk
penyakit asma (Salama 2010). Penelitian yang dilakukan oleh Boskabady et al.
(2007) menunjukkan bahwa jintan hitam memiliki efek pencegahan pada pasien
penderita asma. Efek protektif dan kuratif terhadap penyakit asma diduga berasal
dari efek anti histamin yang dimiliki oleh jintan hitam. Dalam penelitian yang lain
Boskabady et al. (2008) menyatakan bahwa jintan hitam juga memberikan efek

8

protektif pada paru-paru marmut yang dipapar gas berbahaya yaitu sulfur
mustard.
Ramadhan (2011) menggunakan mencit untuk menguji efek analgesik
jintan hitam. Mencit jantan yang terlebih dahulu diberi minyak jintan hitam lebih
tahan terhadap rasa sakit yang disebabkan oleh asam asetat dibandingkan mencit
jantan pada kelompok kontrol. Mencit betina mempunyai mekanisme yang
berbeda dengan mencit jantan dalam merespon rasa sakit yang ditimbulkan oleh
asam asetat. Namun demikian pemberian minyak jintan hitam juga menunjukkan
efek yang sama dengan yang ditimbulkan pada mencit jantan. Efek analgesik
jintan hitam berasal dari kandungan aktif jintan hitam yaitu thymoquinone. Efek
antiinflamasi juga ditunjukkan oleh jintan hitam. Borgou et al. (2010) menguji
efek antiinflamasi jintan hitam dengan mengukur kemampuan jintan hitam dalam
menghambat pembentukan NO (nitrat oksida). NO merupakan radikal bebas yang
dihasilkan oleh jaringan tubuh. NO bisa dijadikan indikator keadaan patologis
beberapa jenis inflamasi. Thymoquinone terbukti sebagai bahan aktif jintan hitam
yang mampu menghambat pembentukan NO.
Seperti yang disebutkan di atas, jintan hitam juga memiliki efek
antioksidan. Antioksidan berfungsi dalam menangkal radikal bebas yang dapat
menyebabkan kerusakan pada sel. Jintan hitam terbukti dapat menurunkan
produksi ROS (reactive oxygen species) yang dapat merusak sel. Efek antioksidan
dari jintan hitam berasal dari thymoquinone (Borgou et al. 2010).
Boskabady et al. (2007) dalam penelitiannya mengamati efek jintan
terhadap pasien penyakit asma. Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa
jintan hitam memiliki efek preventif terhadap asma. Terjadi peningkatan nilai PFT
(Pulmonary Function Test) pada kelompok pasien asma yang diberi jintan hitam.
Respon alergi merupakan salah satu penyebab penyakit asma. Jintan hitam
dilaporkan dalam beberapa uji in vivo dilaporkan tidak memiliki efek samping.
Hal ini tentu sangat membantu pengobatan asma tanpa menimbulkan alergi.
Selain itu jintan hitam juga diketahui memiliki efek hepatoprotektif yang akan
mendukung proses penyembuhan penyakit asma (Boskabady et al. 2007).

9

2.2

Madu
Madu merupakan zat manis alami yang dihasilkan oleh lebah. Bahan baku

madu adalah nektar. Nektar adalah senyawa kompleks yang dihasilkan oleh
kelenjar tanaman dalam bentuk larutan gula. Perubahan nektar menjadi madu
dimulai ketika lebah pekerja membawa nektar ke sarangnya. Untuk menghasilkan
1 kg madu, lebah harus mengumpulkan 120.000-150.000 tetes nektar atau 3-4 kg
nektar dengan menempuh jarak 360.000-450.000 Km (Sarwono 2001).
Berdasarkan asal nektarnya, madu dapat digolongkan menjadi tiga
golongan yaitu madu flora, madu ekstra flora dan madu embun. Madu flora adalah
madu yang bahan bakunya berasal dari bunga. Disebut madu monoflora jika
hanya berasal dari satu jenis bunga dan poliflora jika berasal dari berbagai macam
bunga. Madu ekstraflora adalah madu yang berasal dari luar daun, misalnya
batang, cabang atau daun tanaman. Sedangkan madu embun adalah madu yang
dihasilkan dari hasil suksesi serangga yang kemudian eksudatnya diambil oleh
lebah madu (Sarwono 2001).
Sejak zaman mesir kuno 2600 SM madu sudah dikenal sebagai obat.
Diantaranya madu digunakan sebagai salep antiseptik untuk mengobati luka oleh
bangsa Yunani, Romawi, Assyiria, dan Cina kuno. Madu juga dapat mencegah
pertumbuhan mikroba seperti Salmonella, Shigella, E. Coli dan V. cholerae yang
dapat menyebabkan diare. Apabila kandungan gula pada madu dihilangkan, maka
madu mempunyai khasiat yang sama dengan streptomycin dalam membunuh
bakteri (Sarwono 2001). Selain itu, madu juga mempunyai efek anti aritmia akibat
keracunan katekolamin. Efek anti aritmia ini berasal dari aktivitas hiperadrenergik yang dimiliki oleh madu (Hussein 2003). Madu juga mempunyai efek
protektif terhadap hati. Pada suatu penelitian dibuktikan bahwa madu mempunyai
efek protektif terhadap kerusakan hati yang disebabkan oleh karbon tetraklorida
(CCl4). Kerusakan hati akibat CCl4 dapat menyebabkan penurunan berat badan,
penurunan asupan makanan serta penurunan bobot hati dan ginjal (El Denshary et
al. 2011).

10

Tabel 4. Komposisi Kimia Madu per 100 gr
Komposisi
Kalori
Kadar Air
Protein
Karbohidrat

Jumlah
328 kal
17,2 g
0,5 g
82,4 g

Sumber: Suranto (2004)

Selain memiliki kandungan gula, madu juga memiliki kandungan nutrisi
lain yang penting bagi tubuh. Madu mengandung garam mineral, protein, lemak,
dan vitamin A, vitamin B dan vitamin C. Dalam 100 gr madu terkandung 294
kalori, 9,5 g karbohidrat, 24 g air, 16 mg fosfor, 5 mg kalsium dan 4 mg vitamin C
(Sarwono 2001).
2.3

Mencit
Klasifikasi mencit putih Arrington (1972):

Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Mamalia

Ordo

: Rodentia

Family

: Muridae

Genus

: Mus

Species

: Mus musculus

Mencit merupakan hewan jinak, lemah, mudah ditangani, takut cahaya dan
aktif pada malam hari. Mencit yang dipelihara sendiri makannya lebih sedikit dan
bobot badan lebih ringan daripada yang dipelihara bersama-sama dalam satu
kandang. Beberapa mencit mempunyai sifat kanibal (Penn 1999). Mencit bersifat
sosial, aktif, dan cerdas. Memiliki kemampuan beradaptasi, ukuran yang kecil,
reproduksi cepat dan karakteristik genetik yang luas juga menambah nilai tikus
dan mencit sebagai hewan percobaan.

11

Gambar 2. Mencit (Mus musculus)
Sumber: Sancheti 2011
Banyak strain berbeda dari mencit laboratorium yang telah dikembangkan
oleh ahli genetik, beberapa strain seperti swiss webster dikembangkan secara
outbreed, sementara beberapa strain lain seperti DDY, Balb/c, DBA, dan BC
dikembangkan secara inbreed dengan gen-gen yang homozigot (Penn 1999).
Tabel 5. Data Dasar Fisiologis Mencit
Berat Dewasa
Jantan
Betina
Berat Lahir
Masa Kebuntingan
Masa Hidup
Suhu Tubuh
Konsumsi Pakan
Konsumsi Air
Hemoglobin
Rataan
Kisaran
Hematokrit
Eritrosit
Rataan
Kisaran
Limfosit
Rataan
Kisaran
Sumber: Arrington (1972)

20-40 gr
18-35 gr
1,0-1,5 gr
18-21 hari
1-2 tahun
37,4 0C
4-5 gr/100 gr BB/ hari
4-7 gr/ 100 gr BB/ hari
14,8 gr%
10-19 gr%
41,5 %
9,3 x 106/µL
7,7-12,5 x 106/µL
8 x 103/ µL
4-12 x 103/ µL

Mencit mempunyai lama hidup sekitar satu hingga dua tahun. Bahkan
beberapa bisa mencapai usia tiga tahun dengan lama masa produktif selama
sembilan bulan. Mencit mencapai dewasa kelamin pada usia 35 hari dan setalah
usia delapan minggu, mencit sudah dapat dikawinkan. Pencapaian pubertas dan

12

siklus estrus dipengaruhi oleh paparan pheromon. Lama kebuntingan mencit
adalah 18-21 hari dengan jumlah anak rata-rata enam ekor. Kebuntingan dapat
diketahui pada hari ke 14 dengan cara palpasi, peningkatan bobot badan, dan
perkembangan kelenjar mamae. Bobot badan mencit jantan dewasa adalah 20-40
gr dan bobot badan mencit betina dewasa adalah 18-35 gr. Mencit dapat
dipelihara pada kotak dengan berbagai macam bahan seperti plastik (polipropilen
atau polikarbonat), aluminium atau baja tahan karat (Smith & Mangkoewidjaja
1988).
Biasanya mencit jantan mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan
dengan betina. Mencit memiliki kelenjar Harderian yang memproduksi pigmen
porfirin yang dapat teramati di sekitar mata ketika hewan mengalami stress atau
sedang sakit. Mencit tidak bisa muntah dan tidak memiliki kantung empedu.
Mencit albino mengalami degenerasi retina dan memiliki kemampuan penglihatan
yang lemah (Kahn 2010).
2.4

Organ sistem pernafasan mencit

2.4.1

Saluran nafas
Secara sederhana fungsi utama sistem pernafasan adalah membawa

oksigen (O2) masuk ke dalam tubuh dan membuang karbon dioksida (CO2) keluar
dari tubuh. Semua organ yang terkait dengan pernafasan mempunyai tugas untuk
mendukung fungsi tersebut. Oksigen dibutuhkan untuk proses metabolisme tubuh.
Sedangkan karbon dioksida merupakan limbah dari proses metabolisme tubuh.
Proses pertukaran oksigen dan karbonsioksida disebut pernafasan. Pernafasan
dapat dibagi menjadi pernafasan internal dan pernafasan eksternal. Pernafasan
internal adalah pernafasan yang terjadi pada tingkat sel, sedangkan pernafasan
eksternal adalah pernafasan yang terjadi pada paru-paru. Selain fungsi utama
sebagai penyalur udara dan pertukaran gas, sistem respirasi juga memiliki fungsi
tambahan yaitu menghasilkan suara, penciuman, pengaturan suhu tubuh, ekskresi,
kese

Dokumen yang terkait

Pengaruh Pemberian Ekstrak Minyak Jinten Hitam (Nigella sativa) Terhadap Gambaran Mikroskopis Paruparu Mencit (Mus musculus)