Efektivitas pendidikan karakter entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning

(1)

EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KARAKTER ENTREPRENEURSHIP BERBASIS LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL

DENGAN PENDEKATAN EXPERIENTIAL LEARNING (Studi Pre-Eksperimen pada Siswa Kelas VIII Tirtatedja di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Okdarina Krisputranti

131114037

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017


(2)

i

DENGAN PENDEKATAN EXPERIENTIAL LEARNING (Studi Pre-Ekperimen pada Siswa Kelas VIII Tirtatedja di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun oleh: Okdarina Krisputranti

131114037

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2017


(3)

(4)

(5)

iv

HALAMAN MOTTO

I don’t wanna be someone who so easly. I’m here to stay and make the different that Ican make.

(Bruno Mars)

Urip iku Urup. Migunanani tumrap liyan. (NN)

What ever you make, make it yours

Aku akan mengalahkan keraguan, rasa takut, perasaan minder, dan menukarnya dengan Keberanian.

(Merry Riana)

Setiap bertemu dengan orang baru,

saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu. (Bob Sadino)


(6)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Karya skripsi ini kupersembahkan kepada: Tuhan Yesus Kristus atas cerita indahNya Bunda Maria penopang kekuatanku Bapak Dakori, Ibu Ana, Dyraika & seluruh keluarga besarku Almamaterku tercinta Universitas Sanata Dharma Alam Semesta


(7)

(8)

(9)

viii

BERBASIS LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL DENGAN PENDEKATAN EXPERIENTIAL LEARNING

(Studi Pre-Eksperimen pada Siswa Kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)

Okdarina Krisputranti Universitas Sanata Dharma

2017

Penelitian ini bertujuan: 1) mengukur seberapa tinggi peningkatan hasil implementasi pendidikan karakter entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016; 2) mengukur signifikansi atas peningkatan hasil sebelum dan sesudah proses implementasi; 3) menganalisis peningkatan karakter entrepreneurship antar sesi layanan bimbingan klasikal menggunakan pendekatan experiential learning; 4) mengukur efektivitas layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning menurut penilaian siswa.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pre-eksperimen menggunakan one group pre-test post-test design. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 27 siswa kelas VIII Tirtatedja di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta. Intrumen penelitian ini berupa Tes Karakter Entrepreneurship, Self Assesment scale Karakter Entrepreneurship dan Kuesioner Validasi Efektivitas Model. Koefisien reliabilitas tes karakter entrepreneurshipsebesar (0.542) dan self assesment scale sebesar (0,558) sehingga termasuk dalam kategori sedang diukur menggunakan teknik Alpha Cronbach. Untuk kuesioner validasi efektivitas model diukur dengan formula Kuder-Richardson dengan hasil hitung sebesar (0,454) termasuk kategori sedang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) berdasarkan hasil Tes Karakter

Entrepreneurship terdapat peningkatan karakter entrepreneurship antara sebelum dan sesudah tindakan,meski kenaikan skor sangat kecil sehingga peningkatannya tak berarti/bermakna; 2) hasil perhitungan pada uji signifikansi menunjukkan layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning meningkat tetapi tidak signifikan;3) berdasarkan hasil Self Assesment Scale terdapat peningkatan karakter entrepreneurship antar sesi;4) menurut siswa, model ini efektif meningkatkan karakter entrepreneurship.

Kata kunci: pendidikan karakter, karakter entrepreneurship, bimbingan klasikal dan experiential learning


(10)

ix

BASED ON CLASSICAL GUIDANCE SERVICE USING EXPERIENTIAL LEARNING APPROACH

(A Pre-ExperimentalStudy in Class VIII Tirtatedja of SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Batch 2015/2016)

Okdarina Krisputranti Sanata Dharma University

2017

This study aims to: 1) measure how high the increase in the implementation result of entrepreneurship character education based on classical guidance services using experiential learning approach in class VIII Tirtatedja students of SMP Stella Duce 2 Yogyakarta batch 2015/2016; 2) measure the significance of the increase in results before and after the implementation process; 3) analyze the increase in entrepreneurship character in between classical guidance services using experiential learning approach; 4) measuring the effectiveness of classical guidance service using experiential learning approach according to the students' assessment.

This study is a experimental quantitative study using one group pre-test post-pre-test design. Subjects in this study are 27 students of class VIII Tirtatedja in SMP Stella Duce 2 Yogyakarta. The instrument used in this study were Entrepreneurship Characters Test, Self-Assessment scale of Entrepreneurship Characters and Model Effectiveness Validation Questionnaire. The reliability coefficients of the entrepreneurship character test was (0.542) and self-assessment scale of (0.558) that were included in the category of moderate measured using Alpha Cronbach technique. Kuder-Richardson formula was used to measure the model effectiveness validity questionnaire with the results of (0.454) which was included into moderate category.

The results show that 1) there is an increase in entrepreneurship character before and after the action based on the Entrepreneurship Characters Test result, despite the very small increase in score so that the increase is not significant; 2) the calculation result in the significance test shows that classical guidance services using experiential learning approach increased but not significantly; 3) there is an increase in entrepreneurship character in between sessions based on the Self-Assessment Scale results; 4) according to the students, this model effectively improves the entrepreneurship character.

Keywords: pendidikan karakter, karakter entrepreneurship, bimbingan klasikal dan experiential learning


(11)

x

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Baik atas segala kasih dan berkatNya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan tugas akhir dengan judul “Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Entrepreneurship Melalui Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning (Studi Pre Eksperimen pada Siswa Kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2015/2016)”.

Selama penulisan tugas akhir ini, peneliti mendapatkan bantuan dari banyak pihak, maka peneliti ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling serta Dosen Pembimbing Skripsi peneliti.

3. Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling.

4. Para Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling: Bu Indah, Pak Budi, Bu Hayu, Bu Reta, Pak Sinurat, dan Bu Retno.

5. Mas Moko atas segala bantuan pelayanan administrasi di Program Studi Bimbingan dan Konseling.

6. Kepala Sekolah, Bapak Ibu Guru, dan Siswa-Siswi SMP Stella Duce 2 Yogyakarta atas peran dalam penelitian ini.

7. Bapak Dakori dan Ibu Christina Kristiana selaku orang tua peneliti yang selalu memberikan doa, semangat, dan penguatan kepada Peneliti.


(12)

xi

memberikan canda tawa.

9. Sahabat-sahabat peneliti: Fransisca Ade, Rani Prihana, Tereyolanda, Anastasia Karisa, Donald Ivantoro, Yosep Yoga yang selalu ada dalam senang dan sedih serta memberikan semangat dalam menyelesaikan skripsi.

10.Teman-teman angkatan 2013 yang selalu memberikan canda tawa dalam proses kuliah dan saling menyemangati dalam menyelesaikan skripsi. 11.Sahabat, teman, saudara, dan keluarga yang tidak dapat disebutkan satu

per satu atas segala dukungan doa dan semangat dalam menyelesaikan skripsi.

12.Semua pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak langsung mulai proses penelitian hingga penyelesaian tugas akhir ini Peneliti menyadari masih banyak kekurangan yang terdapat dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu sumbang saran peneliti harapkan dari pembaca. Kiranya skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membaca.

Yogyakarta, 10 Februari 2017 Peneliti


(13)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAHAN...iii

HALAMAN MOTTO...iv

HALAMAN PERSEMBAHAN...v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...vi

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...vii

ABSTRAK...viii

ABSTRACT...ix

KATA PENGANTAR...x

DAFTAR ISI...xii

DAFTAR TABEL...xv

DAFTAR GAMBAR...xvi

DAFTAR GRAFIK...xvii

DAFTAR LAMPIRAN...xviii

BAB I PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang Masalah...1

B. Identifikasi Masalah...9

C. Pembatasan Masalah...11

D. Rumusan Masalah...11

E. Tujuan Penelitian...12

F. Manfaar Penelitian...12

1. Manfaat Teoretis...12

2. Manfaat Praktis...12

G. Definisi Istilah...14

BAB II KAJIAN PUSTAKA...16

A. Hakikat Pendidikan Karakter...16


(14)

xiii

3. Tujuan Pendidikan Karakter...19

4. Strategi Pendidikan Karakter...20

5. Prioritas Nilai-Nilai Pendidikan Karakter...22

6. Faktor-faktor Pengaruh Keberhasilan Pendidikan Karakter...26

7. Hambatan Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP...27

B. Hakikat Karakter Entrepreneurship...28

1. Pengertian Karakter Entrepreneurship...28

2. Tujuan Pendidikan Karakter Entrepreneurship...29

3. Manfaat Karakter Entrepreneurship...30

4. Prinsip-Prinsip Penanaman Karakter Entrepreneurship...31

5. Aspek Karakter Entrepreneurship...34

6. Karakteristik Individu yang Memiliki Karakter Entrepreneurship...35

7. Faktor-faktor Pembentukan Karakter Entrepreneurship...37

8. Hambatan Pembentukan Karakter Entrepreneurship...38

9. Upaya Peningkatan Karakter Entrepreneurship...39

C. Hakikat Remaja...40

1. Pengertian Remaja...40

2. Ciri-ciri Remaja...41

3. Tugas Perkembangan Remaja...42

4. Upaya Penanaman Karakter Entrepreneurship pada Remaja...43

5. Urgensitas Peningkatan KarakterEntrepreneurship pada Remaja...44

D. Hakikat Bimbingan Klasikal...45

1. Pengertian Bimbingan Klasikal...45

2. Tujuan Bimbingan Klasikal...46

3. Manfaat Bimbingan Klasikal...47

4. Teknik/Strategi dalam Layanan Bimbingan Klasikal...47

5. Langkah-Langkah Layanan Bimbingan Klasikal...52

E. Hakikat Experiential Learning...53

1. Pengertian Experiential Learning...53


(15)

xiv

4. Kegiatan Inti dalam Experiential Learning...57

5. Kelebihan Pendekatan Experiential Learning...59

6. Metode Khas Experiential Learning...59

F. Kajian Penelitian Relevan...61

G. Kerangka Pikir...62

H. Hipotesis Penelitian...65

BAB III METODE PENELITIAN...66

A. Jenis dan Desain Penelitian...66

B. Tempat dan Waktu Penelitian...69

C. Subjek Penelitian...69

D. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen...70

E. Validitas & Reliabilitas Instrumen...77

F. Teknik Analisis Data...86

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN...92

A. Hasil Penelitian...92

B. Pembahasan...105

BAB V PENUTUP...112

A. Kesimpulan...112

B. Keterbatasan Penelitian...113

C. Saran...114


(16)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Elaborasi Aspek Karakter Entrepreneurship dalam Topik

Bimbingan...35

Tabel 3.1 Desan Penelitian One Group Pretest Posttest Design...67

Tabel 3.2 Jadwal Kegiatan Bimbingan Klasikal...69

Tabel 3.3 Data Subyek Penelitian...69

Tabel 3.4 Kisi-kisi Tes Karakter Entrepreneurship...74

Tabel 3.5 Kisi-kisi Self Assesment Scale...76

Tabel 3.6Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Tes Karakter Entrepreneurship...79

Tabel 3.7Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Self Assesment Scale...80

Tabel 3.8Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Kuesioner Validasi Efektivitas Model...82

Tabel 3.9 Norma Kategori Reliability StatisticGuilford...84

Tabel 3.10 Reliabilitas Item Tes KarakterEntrepreneurship...85

Tabel 3.11 Reliabilitas Item Self Assesment Scale...85

Tabel 3.12 Reliabilitas Item Kuesioner Validasi Efektivitas Model...85

Tabel 3.13 Norma Kategorisasi...87

Tabel 3.14 Norma Kategorisasi Tes Karakter Entrepreneurship...88

Tabel 3.15 Norma Kategorisasi Self Assement Scale Karakter Entrepreneurship...90

Tabel 4.1 Distribusi Peningkatan Hasil Implementasi Pendidikan Karakter Entrepreneurship Antara Sebelum dan Sesudah Implementasi...93

Tabel 4.2 Hasil Uji Z Sampel Berpasangan Pre test dan Post test...97

Tabel 4.3 Peningkatan Hasil Implementasi Pendidikan Karakter Entrepreneurship Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan Experiential Learning Berdasarkan Antar Tiga Sesi Layanan...100

Tabel 4.4 Persentase Kuesioner Validasi Efektivitas Model Berdasarkan Penilaian Siswa...104


(17)

xvi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Experiential Learning Cycle...55 Gambar 2.2 Kerangka Pikir...64 Gambar 3.1 Desain Pendidikan Karakter Entrepreneurship Berbasis Layanan


(18)

xvii

DAFTAR GRAFIK

Grafik 4.1 Peningkatan Rata-rata Skor Karakter Entrepreneurship Siswa Antara

Pretest dan Posttest...93 Grafik 4.2 Komposisi Sebaran Subjek Berdasarkan Capaian Skor Karakter

Entrepreneurship Antara Pre dan Post test...95 Grafik 4.3 Peningkatan Skor Karakter setiap Siswa tiap Sesi...101


(19)

xviii

Lampiran 1 Satuan Pelayanan Bimbingan...120

Lampiran 2 Instrumen Tes Karakter Entrepreneurship...146

Lampiran 3 Self Assesment Scale Karakter Entrepreneurship...150

Lampiran 4 Kuesioner Validasi Efektivitas Model...152

Lampiran 5 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Tes Karakter Entrepreneurship..153

Lampiran 6 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Self Assesment Scale...155

Lampiran 7 Rekapitulasi Hasil Uji Validitas Kuesioner Validasi Efektivitas Model...157

Lampiran 8 Hasil Uji Reliabilitas...158

Lampiran 9 Hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks Test pada Tes Karakter Entrepreneurship...160

Lampiran 10 Tabulasi Data Penelitian...161

Lampiran 11 Hasil Uji Validitas Kuesioner Efektivitas Model dengan Korelasi Point Biserial...168

Lampiran 12 Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner Efektivitas Model dengan Rumus Kuder-Richardson 20...171

Lampiran 13 Dokumentasi ...174

Lampiran 14 Daftar Hadir Siswa...175


(20)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan secara berurutan mengenai latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembahasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan definisi istilah.

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Nasional bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan karakter bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini sejalan dengan rumusan tujuan pendidikan Nasional Indonesia dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa:

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada pernyataan tersebut, jelas tertulis bahwa tujuan pendidikan nasional berhubungan dengan pembentukan karakter peserta didik. Meskipun demikian, penerapan tujuan tersebut belum dapat diuji keberhasilannya atau dalam arti penerapan pendidikan karakter belum secara langsung mengarah pada pembentukan karakter peserta didik.


(21)

2

Sejalan dengan tercapainya tujuan dan fungsi Pendidikan Nasional di Indonesia, pemerintah sebenarnya sudah membuat pedoman pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi yakni Pedoman Pendidikan Karakter di SMP yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan SMP tahun 2010. Jika ditinjau kembali, penerapan pendidikan karakter di sekolah belum konkret dan jelas, karena pada kenyataannya masih sebatas tempelan pada perangkat pembelajaran. Barus (2015) menyatakan bahwa 36,4% dari 653 siswa SMP di 5 kota ditemukan capaian karakternya masih berada pada kategori kurang baik dan hanya 12,3 % yang masuk pada kategori baik dengan capain skor ≥ 7 pada skala stannine. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter belum mampu membawa perubahan sikap dari siswa. Hal ini bertentangan dengan pernyataan Buchori (2007), bahwa pendidikan karakter seharusnya membawa peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata.

Fathurrohman, Suryana, & Fatriani (2013:8) mengatakan bahwa sekolah menyelenggarakan proses belajar mengajar untuk membimbing, mendidik, melatih dan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan, antara lain ialah menjadi manusia yang berbudi luhur. Sekolahdiharapkan mampu menjadi wadah bagi siswa dalam mengaktualisasi nilai-nilai yang sudah diterima di sekolah ke dalam perilaku sehari-harinya. Dalam hal ini sekolah mempunyai peran besar terhadap pembentukan karakter peserta didik demi tercapainya tujuan pendidikan


(22)

3

nasional. Namun, di sisi lain pendidikan karakter berjalan kurang baik dan memenuhi hambatan, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan peserta didik (Suparno: 2015).

Hambatan penerapan pendidikan karakter dapat terjadi tanpa ada pemahaman yang cukup dan konsisten dari seluruh stakeholder sekolah. Seharusnya semua stakeholder sekolah sedapat mungkin turut serta mengajarkan dan memberikan teladan nilai-nilai karakter kepada siswa demi menunjang penerapan pendidikan karakter (Ilahi, 2014). Salah satu

stakeholder adalah guru yang menjadi tonggak keberhasilan penerapan pendidikan karakter di sekolah. Namun, kenyataannya guru menemui hambatan dalam proses penerapan pendidikan karakter. Triatmanto (2010: 200-201) menyatakan bahwa terdapat beberapa tantangan dalam proses penerapan pendidikan karakter, yakni kurangnya pemahaman guru tentang pendidikan karakter dalam desain pembelajaran, guru kesulitan dalam hal penilaian, sehingga hasilnya tidak memadai, serta guru kesulitan dalam mengevaluasi hasil pembelajaran dalam target pendidikan karakter yang telah ditetapkan.

Tantangan/hambatan dalam penerapan pendidikan karakter menyebabkan kemunduran karakter pada remaja.Terdapat pandangan bahwa kenakalan pada remaja adalah akibat pergaulan yang salah pada remaja tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Ali & Asrori (2009) bahwa kehidupan masyarakat memberikan pengaruh penting bagi perkembangan hubungan sosial remaja, apalagi dengan karakteristik remaja yang selalu ingin


(23)

4

mengikuti perkembangan zaman. Peneliti tak sependapat terhadap pandangan tersebut, karena menurut peneliti banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan pribadi pada remaja. Salah satunya adalah kurangnya pendidikan karakter bagi remaja oleh orang-orang di sekitarnya, seperti orangtua dan guru di sekolahnya.

Persoalan karakter pada remaja tidak hanya menyoroti kenakalan pada remaja, perilaku anti sosial, dan perilaku menyimpang, namun juga nilai dan moral positif yang dapat menjadi bekal bagi remaja. Kaitannya dengan karakter entrepreneurship iniperlu untuk ditanamkan pada remaja sebagai bekal masa depannya.Keterbatasan remaja untuk mengelola sumber daya alam dipicu karena kurangnya kreativitas dan inovasi dalam diri remaja. Hal ini sejalan dengan pernyataan Kao, 1993 (Ciputra, 2011) bahwa entrepreneurship

adalah proses untuk melakukan sesuatu hal yang baru (kreatif), dan atau sesuatu yang berbeda (inovatif) yang bertujuan untuk menciptakan kekayaan bagi individu dan menambah nilai sosial. Jelaslah bahwa karakter

entrepreneurship tepat dikaitkan dengan kreativitas dan inovasi. Karakteristik ini merupakan ciri seorang entrepreneurship yang seharusnya dapat ditanamkan dimulai sejak dini hingga jenjang perguruan tinggi.

Badan Pusat Statistik melaporkan sampai bulan Februari 2016 tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 5,50 % yakni sekitar 7 juta orang (www.bps.go.id). McCleland (Ciputra, 2011) mengatakan bahwa sebuah negara baru akan makmur kalau sedikitnya 2% dari penduduknya jadi


(24)

5

dari sekitar 252 juta penduduknya dan masih membutuhkan sekitar 1,7 juta

entrepreneurship untuk mencapai angka 2% (www.suara.com). Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan entrepreneurship di Indonesia masih tinggi.

Kebutuhan akan entrepreneurship yang tinggitidak mudah dicapai jika tidak diciptakan melalui pendidikan dan pelatihan entrepreneurship.Menurut Waringin (2016), sistem pendidikan di Indonesia belum mengarahkan pada siswa untuk menjadi entrepreneurship (www.JawaPos.com). Melalui karakter

entrepreneurship peserta didik dibentuk mindset, attitude, skill dan pengetahuan dasar tentang entrepreneurship yang dapat menjadi bekal bagi masa depan mereka. Untuk itu diperlukan upaya orientasi kurikulum khusus pendidikan karakter entrepreneurship, namun desain dan perencanaannya oleh tenaga ahli perlu dipikirkan. Itulah alasan pentingnya karakter

entrepreneurship diberikan kepada peserta didik di setiap jenjang pendidikan dan sebaiknya dimulai sejak SMP.

Karakter entrepreneurship menjadi salah satu karakter pada 20 nilai karakter menurut Kemdiknas 2011, namun mengapa karakter ini diabaikan di SMP? SMP Stella Duce 2 Yogyakarta salah satunya, sekolah ini belum menerapkan pendidikan karakter entrepreneurship bagi siswanya. Karakter

entrepreneurship masih diabaikan di sekolah karena guru masih menganggap karakter entrepreneurship masih jauh dari kebutuhan siswa. Jika dilihat kembali, entrepreneurship merupakan bentuk bimbingan karier yang dapat diterapkan di sekolah. Manrihu (1992) menjelaskan bahwa bimbingan karir adalah suatu perangkat program, teknik, atau layanan untuk membantu


(25)

6

individu memahami, mengenal, dan mengembangkan keterampilan pekerjaan dalam menciptakan dan mengelola perkembangan karirnya. Jelas bahwa bimbingan karir dapat diterapkan di sekolah, salah satunya dapat dimulai sejak SMP.

Karakter entrepreneurship dianggap masih jauh dari kebutuhan siswa terutama remaja. Padahal jika dilihat dari tugas perkembangan, remaja perlu mendapatkan informasi mengenai karir yang berguna untuk bekal peminatan dalam pemilihan karirnya kelak. Menurut Erikson (Santrock: 1996) penting bagi remaja untuk mengeksplorasi karir. Mengambil keputusan karir merupakan salah satu tugas perkembangan remaja menuju kematangan secara ekonomi. Melalui eksplorasi karir diharapkan remaja mampu untuk mengidentifikasi dan merencanakan karir di masa depannya. Salah satu cara mencapai eksplorasi karir bagi remaja di sekolah adalah melalui bimbingan karir. Namun masih terdapat banyak remaja yang mendapatkan bimbingan karir sehingga remaja tidak cukup banyak mengeksplorasi pilihan karir mereka (Santrock: 1996).

Pembentukan karakter entrepreneurship tidak semata menyiapkan remaja untuk menjadi entrepreneur/pengusaha saja. Karakter entrepreneur

diharapkan mampu membekali generasi muda dengan nilai-nilai karakter

entrepreneurship danmenginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman karakter entrepreneur bukan saja memampukan pribadi yang menghasilkan dan menjual barang/jasa. Tetapi penanaman karakterentrepreneur guna menjadi pribadi dengan karakteristik entrepreneur


(26)

7

yakni percaya diri, berani mengambil risiko, menjadi pemimpin, dan mampu mengambil peluang yang ada dll. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ciputra, Tanan & Waluyo (2012) bahwa tujuan pendidikan entrepreneur adalah membekali generasi muda dengan ilmu,sikap,dan keterampilan karakter

entrepreneurship yang berguna bagi masa depannya kelak.

Apa yang terjadi jika karakter entrepreneur tidak diberikan sejak usia dini? Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru BK, terdapat beberapa gejala lemahnya karakter entrepreneurship pada remaja. Diantaranya adalah anak tidak mampu memastikan minatnya saat ia masuk kelas IX, orangtua yang tidak melibatkan anak dalam pelatihan khusus karakter

entrepreneurship, guru tidak memberikan kesempatan anak untuk mengenal berbagai jenis pekerjaan, anak cenderung menjauh dari karir, dan anak yang masih beranggapan pekerjaan berkarir/berkantor lebih bergengsi daripada menjadi entrepreneurship. Beberapa hal tersebut menunjukkan bahwa masih lemahnya karakter entrepreneurship pada anak remaja. Salah satu upaya untuk meningkatkan karakter entrepreneurship melalui kegiatan layanan bimbingan karier seperti kegiatan pemahaman diri dan lingkungan, perencanaan masa depan, upaya mengatasi masalah dan hambatan dalam perencanaan dan pemilihan karir remaja (Hartinah, 2009).

Penelitijuga menemukan masalah pada siswa-siswi kelas VIII Tirtatedja. Kelas ini merupakan kelas dengan siswa-siswi yang kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran. Terlihat dengan perilaku seperti mengobrol saat diberi penjelasan oleh guru, berjalan-jalan di kelas, dan keluar masuk


(27)

8

kelas saat pelajaran berlangsung. Salah satu guru mengutarakan bahwa kelas VIII Tirtatedja merupakan kelas yang paling ramai dan kurang kondusif saat pembelajaran. Namun di sisi lain, anak-anak Tirtatedja memiliki kreativitas yang cukup baik, terlihat dengan terdapat beberapa hiasan dinding dan papan absensi yang dibuat sendiri oleh mereka. Maka untuk itu, kreativitas

entrepreneurship perlu dikembangkan dalam sikap dan tindakan yang lebih positif. Sejauh ini, belum pernah diterapkan pendidikan karakter

entrepreneurship di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta, baik oleh guru BK maupun oleh guru mata pelajaran lainnya. Melihat permasalahan tersebut, peneliti mencoba menawarkan strategi meningkatkan karakter

entrepreneurship melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning.

Untuk itu, Tim STRANAS (Strategis Nasional) memberikan alternatif model pendidikan karakter dengan pertimbangan guru BK perlu dilibatkan dalam layanan bimbingan karier, terutama penanaman karakter

entrepreneurship melalui experiential learning. Peneliti sebagai anggota tim Stranas mengimplementasikan 3 topik bimbingan yang nantinya bermuara pada karakter Entrepreneurship. 3 topik tersebut yakni Berpikir Kreatif,

Young Entrepreneurship, dan Hasil Karyaku.Pada penelitian ini ingin dilihat hasil peningkatan karakter entrepreneurship melalui pemberian layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016.


(28)

9

Guru bimbingan dan konseling, melalui bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning dirasa cocok untuk membantu siswa dalam pengaktualisasi nilai-nilai karakter. Bimbingan klasikal dapat membantu guru bimbingan dan konseling dalam memberikan informasi, pengetahuan, dan memberikan keterampilan bagi siswa. Pendekatan experiential learning dirasa sangat cocok diberikan melalui bimbingan klasikal kepada siswa. Learning by doing dalam pendekatan experiential learning diharapakan mampu membantu siswa mengalami proses belajar dari pengalaman sehingga dapat memperoleh sesuatu yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian pembelajaran nilai-nilai karakter diharapkan tidak hanya sampai pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.Berdasarkan berbagai situasi yang terjadi, peneliti tertarik untuk mengangkat judul berikut “Efektivitas Implementasi Pendidikan Karakter Entrepreneurship Berbasis Layanan Bimbingan Klasikal dengan Pendekatan

Experiential Learning pada Siswa Kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016”.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan efektivitas implementasi pendidikan karakter entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016 diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:


(29)

10

1. Tujuan pendidikan nasional belum teruji keberhasilannya dalam pembentukan karakter peserta didik, khususnya ditingkat SMP.

2. Operasionalisasi praksis pendidikan karakter di sekolah kurang optimal dan menemui banyak hambatan.

3. Penerapan pendidikan karakter di sekolah belum konkret dan jelas, pada kenyataannya masih sebatas ditempelkan pada rancangan pembelajaran, namun tidak disertai implementasi secara kongkrit.

4. Semakin banyak pengangguran di Indonesia yang mempengaruhi kebutuhan lapangan pekerjaan oleh entrepreneurship.

5. Sistem pendidikan di Indonesia yang kurang mengarahkan pada pendidikan karakter entrepreneurship.

6. Karakter entrepreneurship di SMP masih diabaikan di sekolah karena masih dinggap jauh dari kebutuhan remaja

7. Belum adanya program sekolah dalam membangun dan meningkatkan karakterentrepreneurship bagi siswa.

8. Terdapat beberapa gejala lemahnya entrepreneurship pada remaja diantara anak yang kesulitan menentukan minat, orangtua yang tidak memberikan pendidikan entrepreneurship, anak yang menganggap pekerjaan berkantor lebih bergengsi daripada menjadi entrepreneurship,

dll.

9. Belum ada penelitian mengenai karakter entrepreneurship di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.


(30)

11

10.Perlunya mengembangkan sikap kreativitas dan inovatif sebagai modal karakter entrepreneurship bagi siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.

C. Pembatasan Masalah

Bertolak dari pengidentifikasian masalah di atas, peneliti mencoba untuk memberi pembatasan pada poin 6,7, 8, 9, dan 10. Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada hasil post-test yang menunjukkan seberapa efektif implementasi layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning guna meningkatkan karakter entrepreneurship. D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, adalah sebagai berikut.

1. Seberapa tinggi peningkatan hasil implementasi pendidikan karakter

entrepreneurship melalui layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun 2015/2016 jika dilihat dari hasil pre test dan post test? 2. Apakah terdapat peningkatan yang signifikan pada hasil implementasi

pendidikan karakter entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta?

3. Seberapa tinggi peningkatan hasil implementasi pendidikan karakter

entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun 2015/2016 antar sesi layanan?


(31)

12

4. Seberapa efektif implementasi pendidikan karakter entrepreneurship

berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning berdasarkan penilaian siswa?

E. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini, yaitu :

1. Menganalisis seberapa tinggi peningkatan hasil implementasi pendidikan karakter entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta berdasarkan hasil pre test dan post test.

2. Menganalisis signifikansi pada hasil implementasi pendidikan karakter

entrepreneurshipberbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta.

3. Menganalisis seberapa tinggi hasil implementasi pendidikan karakter

entrepreneurship berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan

experiential learning pada siswa kelas VIII Tirtatedja SMP Stella Duce 2 Yogyakarta antar sesi layanan.

4. Mengukur efektivitas implementasi pendidikan karakter entrepreneurship

berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning berdasarkan penilaian siswa.

F. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk: 1. Manfaat Teoritis


(32)

13

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan pengetahuan mengenai efektivitas hasil implementasi pendidikan karakter terintegrasi saat ini, sehingga mampu digunakan untuk meningkatkan pendidikan karakter di sekolah. Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan dan pengembangan penelitian bahan kajian serupa terutama pada karakter entrepreneurship.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi kepala sekolah dan para guru

Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan yang dapat digunakan oleh sekolah guna mengetahui dan memahami seberapa efektif penerapan pendidikan karakter dengan layanan bimbingan klasikal diterapkan pada siswa. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan oleh kepala sekolah dan para guru guna menyusun strategi tepat untuk meningkatkan kolaborasi pendidikan karakter di sekolah demi tercapainya nilai-nilai karakter pada siswa.

b. Bagi siswa kelas VIII SMP Stella Duce 2 Yogyakarta

Para siswa dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk melihat seberapa baik (efektif) hasil pendidikan karakter dengan model bimbingan klasikal yang mulai diterapkan kepada diri mereka. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada para siswa mengenai manfaat, pengetahuan, dan bimbingan bagi pengolahan diri siswa, khsusnya berkaitan dengan karakter. Hal


(33)

14

tersebut akan semakin memotivasi siswa/i untuk dapat berkembang lebih optimal dan menjadi pribadi yang lebih baik.

c. Bagi peneliti

Peneliti dapat mengetahui dan memahami efektivitas hasil implementasi pendidikan karakter di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta tahun ajaran 2015/2016. Selain itu, peneliti dapat mengusulkan penyusunan modul pendidikan karakter yang sesuai guna meningkatkan nilai-nilai karakter dalam diri siswa.

G. Definisi Istilah

1. Karakter dalam penelitian ini adalah perwujudan pikiran, perasaan dan tindakan manusia yang didasarkan pada nilai-nilai yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, masyarakat, dan negara yang didasarkan pada norma, hukum, budaya, adat, dan agama.

2. Pendidikan Karakter dalam penelitian ini adalah upaya intervensi penanaman nilai-nilai karakter bagi siswa yang berguna bagi perkembangan pribadi siswa.

3. Karakter entrepreneurshipdalam penelitian ini adalah ilmu, pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam menciptakan peluang dan usaha bagi dirinya dan orang lain.

4. Bimbingan Klasikal dalam penelitian ini adalah bentuk layanan yang diberikan kepada siswa dalam memperoleh informasi, pengalaman, dan keterampilan serta bertujuan untuk membantu siswa memenuhi tugas perkembangan di semua aspek kehidupannya.


(34)

15

5. Experiential Learning dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran yang mengutamakan pada proses pengalaman belajar dengan beberapa tahap yakni experiencing, publishing, processing, generalising, dan


(35)

16

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Bab ini menjelaskan mengenai hakikat pendidikan karakter, hakikat karakter entrepreneurship, hakikat remaja, hakikat bimbingan klasikal, dan hakikat experiential learning, kajian penelitian yang relevan, kerangka pikir, dan hipotesis penelitian.

A. Hakikat Pendidikan Karakter 1. Pengertian Karakter

Suparno (2015) mengartikan karakter sebagai nilai-nilai dan sikap hidup positif, yang dimiliki seseorang sehingga mempengaruhi tingkah laku, cara berpikir dan bertindak orang itu hingga akhirnya menjadi tabiat hidupnya. Dari pengertian ini dapat dimaknai bahwa karakter dipandang secara positif sebagai nilai dan sikap hidup individu dalam berpikir dan bertindak. Karakter yang dibiasakan oleh individu itu akhirnya menjadi tabiat hidup individu tersebut.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara (Suyanto; 2010, dalam Zubaedi 2011). Karakter dianggap sebagai karakteristik seseorang yang dapat mempengaruhi pikiran dan perilaku individu dalam semua aspek kehidupannya.

Zubaedi (2011) mendefinisikan bahwa karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skill). Keempat aspek tersebut membentuk karakter


(36)

17

seorang individu. Dengan kata lain, karakter dapat terwujud pada keterampilan individu dalam bersikap dan berperilaku dengan memiliki motivasi yang mengacu pada nilai-nilai positif.

Karakter terdiri dari pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral. Pengetahuan moral terbentuk atas kesadaran moral, pengetahuan tentang nilai-nilai moral, pengambilan perspektif, penalaran moral, pengambilan keputusan, dan pemahaman diri. Perasaan moral terbentuk atas hati nurani, penghargaan diri, empati, cinta kebaikan, kontrol diri, dan kerendahan hati. Sedangkan tindakan moral terbentuk atas kompetensi, kehendak, dan kebiasaan (Lickona, 2013).

Dari beberapa pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa karakter adalah nilai, keyakinan dan kepercayaan positif dari individu yang terdiri atas pengetahuan, perasaan dan tindakan moral. Karakter tersebut mempengaruhi serta membentuk sikap, perilaku, motivasi, keterampilan individu dalam kehidupannya pribadinya, sesama, masyarakat, dan negara.

2. Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah usaha menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation) sehingga peserta didik mampu bersikap dan bertindak berdasarkan nilai-nilai yang telah menjadi kepribadiannya. Dengan kata lain, penerapan pendidikan karakter harus melibatkan pengetahuan yang baik (moral knowing), perasaan yang baik (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action), sehingga mewujudkan


(37)

18

perilaku dan sikap berkarakter pada siswa. (Direktorat Pembinaan SMP, 2011)

Koesoema, (2012) menjelaskan pendidikan karakter sebagai usaha sadar manusia untuk mengembangkan keseluruhan dinamika relasional antarpribadi dengan berbagai macam dimensi, baik dari dalam maupun dari luar diri. Sehingga pribadi tersebut semakin dapat menghayati kebebasannya dan semakin bertanggung jawab atas pertumbuhan dirinya sendiri sebagai pribadi perkembangan orang lain dalam hidup mereka berdasarkan nilai-nilai moral yang menghargai martabat manusia.

Elkind & Sweet, 2004 (dalam Safitri, 2015) mengatakan bahwa pendidikan karakter merupakan usaha yang sungguh-sungguh untuk membantu orang memahami, peduli dan bertindak berdasarkan nilai-nilai etika inti. Dapat dipahami bahwa pendidikan karakter diharapkan mampu untuk membuat individu paham, peduli dan bertindak sesuai dengan nilai hidup. Individu diharapkan mampu untuk memahami akan nilai yang benar, peduli secara mendalam tentang apa yang benar, dan kemudian melakukan apa yang diyakininya benar ke dalam sikap dan perilakunya.

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya terencana bersifat intervensi berkelanjutan. Upaya tersebut secara khusus ditujukan pada peserta didik, sehingga pada akhirnya dapat mengenal, paham, peduli, dan menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam diri, sehingga dapat berperilaku sebagai manusia seutuhnya.


(38)

19

3. Tujuan Pendidikan Karakter

Kemendiknas (2011) menjabarkan pendidikan karakter bertujuan mengembangkan nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa yaitu Pancasila, meliputi : (1) mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia berhati baik, berpikiran baik, dan berprilaku baik; (2) membangun bangsa yang berkarakter Pancasila; (3) mengembangkan potensi warga negara agar memiliki sikap percaya diri, bangga pada bangsa dan negaranya serta mencintai umat manusia.

Raka, dkk. (2011)menjelaskan beberapa tujuan pendidikan karakter di sekolah mencakup hal sebagai berikut

a. Membantu para siswa untuk mengembangkan potensi kebajikan mereka masing-masing secara maksimal dan mewujudkannya dalam kebiasaan baik: baik dalam pikiran, sikap, hati perkataan, dan perbuatan.

b. Membantu para siswa menyiapkan diri menjadi warga negara Indonesia yang baik.

c. Dengan modal karakter yang kuat dan baik, para siswa diharapkan dapat mengembangkan kebajikan dan potensi dirinya secara penuh dan dapat membantu kehidupan yang baik, berguna, dan bermakna.

d. Memampukan siswa menghadapi tantangan yang muncul dari makin derasnya arus globalisasi dan mampu menjadikannya sebagai peluang untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.


(39)

20

4. Strategi Pendidikan Karakter

Sekolah memiliki harapan dalam upaya pembangunan karakter. Untuk itu, sekolah perlu menjalankan pendekatan pendidikan nilai yang komprehensif dan menyeluruh dengan menggunakan seluruh fase dalam kehidupan sekolah untuk mendorong perkembangan karakter.

Sejalan dengan pendidikan karakter Lickona, (2013) menjelaskan 12 strategi pendekatan komprehensif terhadap pendidikan nilai dan karakter, menuntut guru untuk:

a. Bertindak sebagai pengasuh, teladan, dan pembimbing. Artinya guru memperlakukan siswa dengan perasaan cinta dan hormat, memberi contoh-contoh yang baik, mendukung perilaku pro sosial, dan mengoreksi tindakan-tindakan yang keliru.

b. Menciptakan komunitas moral di kelas. Artinya guru membantu siswa saling mengenal, menghormati, dan peduli, serta menjadikan mereka merasa sebagai anggota yang dihargai dalam kelompok/kelasnya. c. Mempraktekkan disiplin moral. Guru perlu untuk menciptakan dan

menegakkan peraturan dan menjadikan peraturan tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk menumbuhkan penalaran moral, kontrol diri, dan sikap hormat yang sama terhadap siapa saja.

d. Menciptakan lingkungan kelas yang demokrastis. Guru melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan dan turut bertanggung jawab menjadikan kelas sebagai tempat yang perlu siswa tuju sebagai tempat belajar.


(40)

21

e. Mengajarkan nilai-nilai melalui kurikulum, menggunakan mata pelajaran akademis sebagai sarana untuk mengkaji masalah-masalah etis.

f. Menggunakan pembelajaran kooperatif untuk mengajari sikap dan keterampilan tolong-menolong dan kerja sama pada siswa.

g. Membangun nurani dalam bekerja dengan mendorong pertumbuhan tanggung jawab akademis dan sikap hormat siswa terhadap nilai-nilai dalam belajar dan bekerja.

h. Mendorong refleksi moral melalui kegiatan seperti membaca, menulis, diskusi, mengambil keputusan, latihan praktis, dan debat.

i. Mengajari resolusi konflik agar siswa memiliki kapasitas dan komitmen untuk menyelesaikan konflik secara adil dan dengan cara-cara non kekerasan.

Sebuah pendekatan yang komprehensif menuntut sekolah untuk: j. Mendorong kepedulian hingga ke luar kelas, menggunakan

model-model peran yang menginspirasi dan kesempatan-kesempatan untuk melakukan pelayanan pada sekolah dan masyarakat guna memupuk kepedulian pada siswa.

k. Menciptakan budaya moral yang positif di sekolah melalui kepemimpinan sekolah, budaya kedisiplinan, kepengurusan yang demokratis, yang selalu mendukung nilai-nilai yang diajarkan di dalam kelas.


(41)

22

l. Mengajak orang tua dan masyarakat menjadi mitra dalam pendidikan nilai dan karakter.

5. Prioritas Nilai-Nilai Pendidikan Karakter

Kementerian Pendidikan Nasional memberikan prioritas pada 20 nilai-nilai yang ingin diterapkan dalam lembaga pendidikan. Nilai-nilai bagi pembentukan karakter dibagi berdasarkan lima bidang pengelompokkan menurut Kemdiknas, 2011 (dalam Koesoema, 2012).

a. Kelompok 1 - Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (religius)

1) Religiositas

Pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan dan/ ajaran agamanya.

b. Kelompok 2 – Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri

2) Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, baik terhadap diri maupun pihak lain.

3) Bertanggung jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dilakukan,


(42)

23

terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya, negara dan Tuhan Yang Maha Esa).

4) Bergaya hidup sehat

Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang dapat menganggu kesehatan.

5) Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan paruh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6) Kerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas (belajar/ pekerjaan) dengan sebaik-baiknya.

7) Percaya diri

Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan tercapainya setiap keinginan dan harapannya. 8) Berjiwa wirausaha

Sikap dan perilaku yang mandiri, pandai/berbakat mengenali produk baru, menentukan dan menyusun cara guna menciptakan produk baru, memasarkan, serta mengatur permodalannya.


(43)

24

Berpikir dan melakukan sesuatu secara nyata atau logika untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari apa yang telah dimiliki.

10)Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

11)Ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih dalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

12)Cinta ilmu

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap pengetahuan.

c. Kelompok 3 – Nilai Karakter dalam hubungannya dengan sesama 13)Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

Tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang menjadi milik/ hak diri sendiri dan orang lain serta tugas/ kewajiban diri sendiri serta orang lain.

14)Patuh pada aturan-aturan sosial

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan dengan masyarakat dan kepentingan umum.


(44)

25

15)Menghargai karya dan prestasi orang lain

Sifat dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui serta menghormati keberhasilan orang lain. 16)Santun

Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa ataupun tata perilkunya ke semua orang.

17)Demokratis

Cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

d. Kelompok 4 – Nilai Karakter dalam hubungannya dengan lingkungan

18)Cinta lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi, serta selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.


(45)

26

e. Kelompok 5 – Nilai Kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

19)Nasionalis

Cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulain, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.

20)Menghargai keragaman

Sikap memberikan peduli dan hormat terhadap berbagai macam hal, baik yang berbentuk fisik, sifat, adat, budaya, suku, dan agama.

Karakter entrepreneurship termasuk dalam nilai pendidikan karakter nomor 8 yakni berjiwa berwirausaha. Karakter entrepreneuship membekali siswa dengan karakteristik individu/pribadi entrepreneur.

6. Faktor-faktor Pengaruh Keberhasilan Pendidikan Karakter

Menurut Zubaedi (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan karakter, yaitu:

a. Insting (naluri)

Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia dimotivasi oleh potensi kehendak yang dimotori oleh naluri seseorang.


(46)

27

b. Adat atau kebiasaan

Adat atau kebiasaan adalah tindakan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti berpakaian, makan, tidur, berolahraga, dan lain sebagainya.

c. Keturunan

Secara langsung atau tidak langsung keturunan sangat mempengaruhi pembentukan karakter seseorang.

d. Lingkungan

Lingkungan adalah variabel yang selalu melekat pada diri setiap individu, mulai dari lingkungan fisik hingga pada lingkungan sosial. 7. HambatanPendidikan Karakter Terintegrasi di SMP

Menurut Barus (2015) ditemukan hambatan-hambatan umum dalam pelaksanaan pendidikan karakter terintegrasi di SMP, yakni.

a. Pedoman Pendidikan Karakter dari Direktorat Pembinaan SMP (2010) tidak operasional.

b. Integrasi nilai karakter melalui pembelajaran masih bersifat sekedar tempelan, sulit menerapkannya.

c. Tidak tersedia alat dan cara evaluasi untuk mengukur ketercapaian karakter.

d. Penanaman nilai karakter masih cenderung pada tataran kognitif/diceramahkan.

e. Komitmen dan konsistensi para guru dalam menjaga gawang karakter tidak selalu sama, cenderung rapuh dan belum tercipta kolaborasi yang


(47)

28

baik antara para guru dan konselor/guru BK dalam implementasi pendidikan karakter.

B. Hakikat Karakter Entrepreneurship 1. Pengertian Karakter Entrepreneurship

Entrepreneurship berasal dari bahasa Prancis yaitu

entreprendeyang berarti petualang, pencipta, dan pengelola usaha. Dalam bahasa Indonesia, entrepreneurship berarti kewirausahaan. Drucker (1994) mengemukan bahwa kewirausahaan merujuk pada sifat, watak, dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia usaha yang nyata dan mengembangkannya dengan tangguh. Oleh karena itu, dengan mengacu pada orang yang melaksanakan proses gagasan, memadukan sumber daya menjadi realitas, muncul apa yang dinamakan wirausaha/Entrepreneur (Suryana, & Kartib Bayu, 2014).

Menurut Steinhoff dan Burgess (1993) mengemukakan “entreprenur is a person who organizes, manages and assumes the risk of a business or enterprise an entrepreneurship. Entreprenur is individual who risk financial, material, and human resources a new way to create a

new bussiness concept or opportunities within an existing firm”. Wirausaha merupakan orang yang mengorganisasi, mengelola, dan berani menanggung risiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Dapat diartikan bahwa entrepreneurship memiliki kemampuan dalam


(48)

29

menciptakan peluang dan usaha bagi dirinya dan orang lain (Sunarya, Sudaryono, & Asep Saefullah, 2011).

Menurut Zimmerer (2002), seorang entrepreneur adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan menghadapi risiko dan ketidakpastian. Dari pengertian diatas terdapat hal menarik yakni seorang

entrepreneur memiliki ketahanan dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian dalam proses menciptakan hal baru di dalam hidupnya.

Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa

entrepreneurship merupakan kemampuan/ keterampilan individu dalam melihat dan mengambil peluang, berupaya kreatif dan inovatif dengan mengembangkan ide menjadi pengusaha. Entrepreneurship tidak selalu diidentikkan dengan watak atau ciri pengusaha semata, karena sifat ini dimiliki juga bukan pengusaha. Entrepreneurship mencakup semua aspek pekerjaan baik sebagai karyawan maupun pemerintahan.

Entrepreneurship adalah melakukan upaya-upaya kreatif dan inovatif dengan jalan mengembangkan ide dan meramu sumberdaya untuk menemukan peluang dan perbaikan hidup. Dengan demikian kata kunci dari entrepreneurship adalah inovatif dan kreatif.

2. Tujuan Pendidikan Karakter Entrepreneurship

Ciputra (2011) menjelaskan bahwa terdapat 2 tujuan pendidikan

entrepreneurship yakni:

a. Membangun sosok entrepreneuryang memiliki pola pikir, sikap, kecakapan dan pengetahuan seorang innovative entrepreneuryang


(49)

30

tidak selalu bekerja dalam bidang bisnis. Artinya seorang

entrepreneur bukan hanya seorang pengusaha atau pembisnis, namun lebih mengarah pada sikap dan perilaku kreatif dan inovatif dalam kehidupan sehari-harinya.

b. Membangun generasi muda yang sanggup menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri melalui entrepreneurship. Pendidikan karakter entrepreneurship diharapkan mampu membekali anak dengan ilmu, pengetahuan, sikap, dan keterampilan karakter

entrepreneurship bagi masa depannya kelak. 3. Manfaat Karakter Entrepreneurship

Zimmere, et al. 2005 (dalam Sunarya, Sudaryono, dan Saefullah, 2011) merumuskan manfaat kewirausahaan sebagai berikut:

a. Memberi peluang dan kebebasan untuk mengendalikan nasib sendiri

b. Memberi peluang melakukan perubahan

c. Memberi peluang untuk mencapai potensi diri sepenuhnya d. Memberikan peluang untuk meraih keuntungan seoptimal

mungkin

e. Memiliki peluang untuk berperan aktif dalam masyarakat dan mendapatkan pengakuan atas usahanya

f. Memiliki peluang untuk melakukan sesuatu yang disukai dan menumbuhkan rasa senang dalam mengerjakannya


(50)

31

4. Prinsip-Prinsip Penanaman KarakterEntrepreneurship

Instruksi Presiden No. 4 tahun 1995 tanggal 30 Juni 1995 tentang Gerakan Nasional memasyarakatkan dan membudayakan kewirausahaan, mengamanatkan kepada seluruh masyarakat dan bangsa Indonesia untuk mengembangkan program-program kewirausahaan. Melalui gerakan ini pada saatnya budaya kewirausahaan diharapkan menjadi bagian etos kerja masyarakat dan bangsa Indonesia, sehingga dapat melahirkan wirausahawan baru yang handal, tangguh dan mandiri (Forum Mangunwijaya V dan VI).

Sejalan dengan Inpres tersebut, Kementrian Pendidikan Nasional bekerja sama dengan lembaga penggiat wiraswasta Ciputra

Entrepreneurshipship Centermelakukan upaya membangun karakter

entrepreneurship dengan membenahi kurikulum, berbasis komunitas, memperbaiki praksis pendidikan di sekolah kejuruan dan sekolah tinggi, sampai pada pengarbitan calon-calon entrepreneurship yang dicangkokan di lembaga pendidikan tinggi (Ciputra, Tanan, & Waluyo: 2011)

Menurut Mardani (dalam Forum Mangunwijaya V dan VI, 2012) pendidikan yang mampu mengatasi hal tersebut di atas yang paling tepat adalah pendidikan yang berorientasi jiwa entrepreneurship, yaitu jiwa yang berani dan mampu menghadapi masalah hidup, jiwa mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Salah satu jiwa entrepreneurship yang perlu dikembangkan melalui pendidikan pada anak adalah kecakapan hidup (life skill). Pendidikan yang berwawasan kewirausahaan adalah


(51)

32

pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi ke arah pembentukan kecakapan hidup (life skill) pada peserta didiknya melalui kurikulum yang dikembangkan di sekolah.

Menurut Mardani (dalam Forum Mangunwijaya V & VI, 2012) disebutkan program pendidikan kewirausahaan di sekolah dapat diinternalisasikan melalui berbagai aspek, antara lain:

a. Terintegrasi dalam seluruh mata pelajaran

Pengintergrasian dilakukan dengan cara memasukkan nilai-nilai

entrepreneurship ke dalam pembelajaran seluruh mata pelajaran yang ada di sekolah. Langkah pengintegrasian ini bisa dilakukan saat penyampaian materi, melalui metode pembelajaran maupun sistem penilaian oleh guru.

b. Terpadu dalam kegiatan ekstrakulikuler

Kegiatan ekstrakulikuler bertujuan untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minatnya. Melalui kegiatan ekstrakulikuler yang secara khusus diselenggarakan sekolah dengan memadukan nilai-nilai

entrepreneurship, diharapkan peserta didik mampu berkembang potensi, bakat, dan minatnya secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian dan kebahagiaan dalam dirinya.

c. Melalui pengembangan diri

Kegiatan pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luat mata pelajaran. Kegiatan ini dalam upaya pembentukan karakter


(52)

33

dan kepribadian entrepreneurship peserta didik. Dalam pelaksaannya, kegiatan ini bertujuan untuk mengembangkan kreativitas dan informasi karier bagi peserta didik.

d. Perubahan pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan dari konsep/teori ke pembelajaran praktik berwirausaha

Dengan pembelajaran praktik berwirausaha, pembelajaran

entrepreneurship diarahkan pada pencapaian tiga kompetensi yang meliputi penanaman karakter entrepreneurship, pemahaman konsep, dan skill (keterampilan). Tentunya bobot pemberian kompetensi karakter entrepreneurship dan keterampilan kepada peserta didik lebih besar daripada pemahaman konsep.

e. Dalam bahan/buku ajar

Penginternalisasian karakter entrepreneurship dapat dilakukan dengan memasukkan nilai-nilai entrepreneurship dalam buku ajar baik dalam pemaparan materi, tugas, dan evaluasi.

f. Melalui kultur sekolah

Pengembangan karakter entrepreneurship dalam pendidikan dapat diberikan melalui budaya sekolah. Kegiatan tersebut mencakup kegiatan-kegiatan yang dilakukan kepala sekolah, guru, konselor, dan karyawan ketika berkomunikasi dengan peserta didik dan menggunakan fasilitas sekolah, dan budaya berwirausaha di lingkungan sekolah.


(53)

34

g. Ke dalam muatan lokal

Mata pelajaran muatan lokal diharapkan memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya setempat dan mengangkat permaalahan sosial dan lingkungan. Muatan lokal diharapkan juga mampu membekali peserta didik dengan keterampilan dasar (life skill) sebagai bekal dalam kehidupan sehingga dapat menciptakan lapangan pekerjaan.

5. Aspek Karakter Entrepreneurship

Menurut Suryana, & Bayu (2011) entrepreneurship dibentuk oleh beberapa aspek dibawah ini, yakni:

a. Motivasi Berprestasi

Seorang entrepreneurship memiliki motivasi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

b. Orientasi ke Masa Depan

Orang yang berorientasi ke masa depan ialah orang yang memiliki pandangan dan perspektif ke masa depan dalam hidupnya.

c. Menghadapi Perubahan

Seorang entrepreneurship harus tanggap dan kreatif dalam menghadapi perubahan pada lingkungan sekitarnya.

d. Jaringan Usaha

Seorang entrepreneurship juga harus memiliki jaringan usaha yang luas.


(54)

35

e. Kepemimpinan

Seorang entrepreneurship juga harus memiliki jiwa kepemimpinan yang unggul.

Aspek-aspek tersebut menjadi dasar pembuatan instrumen tes karakter entrepreneurship dan skala penilaian diri. Kemudian a spek-aspek tersebut juga dielaborasikan ke dalam 3 topik bimbingan dalam pemberian layanan bimbingan klasikal yang terlihat pada tebl 2.1.

Tabel 2.1

Elaborasi Aspek Karakter Entrepreneurshipdalam Topik Bimbingan

Aspek Topik Bimbingan

Menghadapi perubahan Berpikir Kreatif Orientasi ke Masa

Depan, Memiliki Jaringan, dan Kepemimpinan

Young

Entrepreneurship

Motivasi Berprestasi Hasil Karyaku

6. Karakteristik Individu yang Memiliki Karakter Entrepreneurship Wiryasaputra (dalam Suryana, & Bayu, 2011: 53) menyatakan bahwa ada sepuluh sikap dasar (karakter) entrepreneurship yaitu:

a. Visionary (visioner) yaitu mampu melihat jauh ke depan, selalu melakukan yang terbaik pada masa kini, sambil membayangkan masa depan yang lebih baik.


(55)

36

b. Positive(bersikap positif) yaitu membantu seorang wirausaha selalu berpikir yang baik, tidak tergoda untuk memikirkan hal-hal yang bersifat negatif, sehingga dia mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan selalu berpikir akan sesuatu yang lebih besar.

c. Confident (percaya diri), sikap ini akan memandu seseorang dalam setiap mengambil keputusan dan langkahnya. Sikap percaya diri tidak selalu mengatakan “Ya” tetapi juga berani mengatakan “Tidak” jika memang diperlukan.

d. Genuine (asli), seorang wirausaha harus mempunyai ide, pendapat dan mungkin model sendiri. Bukan berarti harus menciptakan sesuatu yang betul-betul baru, dapat saja dia menjual sebuah produk yang sama dengan yang lain, namun dia harus memberi nilai tambah atau baru.

e. Goal Oriented (berpusat pada tujuan), selalu berorientasi pada tujuan dan hasil. Seorang wirausaha ingin selalu berprestasi, berorientasi pada laba, tekun, tabah, bekerja keras, dan disiplin untu mencapai sesuatu yang telah ditetapkan.

f. Persistent (tahan uji), harus maju terus, mempunyai tenaga, dan semangat tinggi, pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan kalau jatuh segera bangun kembali.

g. Ready to face a risk (siap menghadapai risiko), risiko yang paling berat adalah bisnis gagal dan uang habis. Siap sedia untuk menghadapi risiko, persaingan, harga turun-naik, kadang untung


(56)

37

atau rugi, barang tidak laku atau tak tak ada order. Harus dihadapi dengan penuh keyakinan. Dia membuat perkiraan dan perencanaan yang matang, sehingga tantangan dan risiko dapat diminimalisir. h. Creative (kreatif menangkap peluang), sikap yang tajam tidak

hanya mampu melihat peluang, tetapi juga mampu menciptakan peluang.

i. Healthy Competitor (menjadi pesaing yang baik). Kalau berani memasuki dunia usaha, harus berani memasuki dunia persaingan. Persaingan jaringan membuat stres, tetapi harus dipandang untuk membuat lebih maju dan berpikir secara lebih baik. Sikap positif membantu untuk bertahan dan unggul dalam persaingan.

j. Democratic leader (pemimpin yang demokratis), memiliki kepemimpinan yang demokratis, mampu menjadi teladan dan inspirasi bagi yang lain. Mampu membuat orang lain bahagia, tanpa kehilangan arah dan tujuan, dan mampu bersama orang lain tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri.

7. Faktor-Faktor Pembentukan Karakter Entrepreneurship

Slamet & Hetty (2014) menjelaskan terdapat 2 faktor yang terbentuknya karakter entrepreneurship.

a. Efikasi diri

Merupakan keyakinan seseorang dapat sukses menjalankan proses menjadi entrepreneurship.


(57)

38

b. Persepsi atas keinginan

Merupakan ukuran di mana seorang individu memiliki evaluasi disukai atau tidak disukai atas hasil dari kegiatan entrepreneurship

yang dilakukannya.

8. Hambatan Pembentukan Karakter Entrepreneurship

Menurut Soemanto (2006) para ahli pendidikan di sekolah maupun diluar sekolah diharapkan memberikan sumbangan positif dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Berikut beberapa macam sikap/pandangan sementara pendidik yang kurang menunjang usaha perwujudan karakter entrepreneurship di sekolah.

a. Adanya pendidik yang memandang rendah terhadap arti pendidikan. Pemberian isu pendidikan yang berkualitas rendah terlihat dalam pemikiran bahwa tamatan sekolah mulai dari SD hingga perguruan tunggi dianggap sebagai pencari kerja bukan pencipta lapangan pekerjaan.

b. Adanya pandangan yang keliru dari pendidik mengenai sumber utama pendidikan. Para pendidik masih beranggapan bahwa sumber utama pendidikan berasal dari luar diri siswa seperti buku, guru dan masyarakat. Akibatnya guru justru melupakan sumber pendidikan yang paling potensial, yaitu potensi siswanya.

c. Adanya sikap pesimis dari pendidik mengenai perubahan sikap mental siswa.


(58)

39

9. Upaya Peningkatan Karakter Entrepreneurship

Ciputra, Tanan & Waluyo (2011) mengatakan dalam meningkatkan karakter entrepreneurship, pendidikan dan pelatihan entrepreneurship

sangat penting dilakukan. Tentunya terdapat upaya yang dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan entrepreneurship, yakni sebagai berikut: a. Konsep dan struktur program pendidikan yang akan mengantar peserta didik menjadi (to be) entrepreneur inovatif bukan hanya sekedar tahu tentang entrepreneurship (to know). Pendididikan ini dapat dirancang untuk memberikan pengalaman belajar (experiential learning) bagi peserta didik. Pendidikan entrepreneurship juga perlu dibuat untuk memberikan waktu yang cukup bagi pembelajaran melalui pengalaman langsung.

b. Pendidikan dan pelatihan peningkatan karakter entrepreneurship harus melibatkan pelatih yang memiliki pengalaman nyata mulai dari penciptaan bisnis, pengelolaan bisnis, dan pengembangan bisnis. c. Pendidikan dan pelatihan peningkatan entrepreneurship perlu

membangun semangat dan kecakapan karakter entrepreneurship

dengan waktu yang cukup. Pendidikan karakter entrepreneurship

sangat perlu dilakukan sejak dini hingga sepanjang proses belajarr peserta didik.

Pendekatan pendidikan merupakan mekanisme yang paling berpengaruh dalam menerapkan budaya entrepreneurship. Oleh karena itu diperlukan juga adanya program-program sekolah untuk


(59)

40

menumbuhkan karakter entrepreneurship. Seperti yang dijelaskan Mustari, (2014) bahwa terdapat 3 program yang dapat digunakan dalam menumbuhkan jiwa entrepreneurship meliputi program pengembangan budaya berpikir, program pemupukan sikap positif usahawan, dan program ilmu pengetahuan dan teknologi.

Program-program pembangunan kewirausahaan pun harus terus dilancarkan oleh pihak pemerintah dari berbagai tingkatan dan kementerian. Peranan orang tua di rumah sangat signifikan dalam memupuk jiwa wirausaha dalam diri anak-anak mereka. Media massa ikut berperan penting dalam memupuk jiwa kewirausahaan di kalangan masyarakat.

C. Hakikat Remaja 1. Pengertian Remaja

Menurut Santrock (1996) remaja (adolescence) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif dan sosial emosional. Masa remaja dimulai kira-kira pada usia 10-13 tahun dan berakhir kira-kira usia 18-22 tahun.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai Hurlock; 1991). Perkembangan yang terjadi pada remaja diartikan sebagai perubahan-perubahan yang terjadi pada rentang kehidupannya di semua aspek perkembangan remaja.


(60)

41

Perubahan-perubahan dalam tahap perkembangan remaja memiliki karakteristik yang sesuai dengan tugas perkembangan pada remaja. 2. Ciri-ciri Remaja

Menurut Erikson (Santrock; 1996) remaja (10-20 tahun) sedang berada pada tahap identity versus identity confusion yang berarti individu diharapkan menemukan siapa mereka, mereka sebetulnya apa, dan kemana mereka menuju dalam hidupnya. Dimensi yang penting adalah mengeksplorasi solusi alternatif mengenai peran. Eksplorasi tentang karir adalah penting.

Masa remaja merupakan masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik dan psikologis. Jahja (2011) menjelaskan terdapat perubahan-perubahan yang terjadi selama masa remaja, yakni:

a. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai masa storm dan stress.

b. Perubahan yang cepat pada fisik yang juga disertai kematangan seksual.

c. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain.

d. Perubahan nilai, apa yang remaja anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena telah mendekati masa dewasa.


(61)

42

e. Kebanyakan remaja bersikap embivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi.

3. Tugas Perkembangan Remaja

Hurlock (1991) menjelaskan masa remaja adalah masa dimana terjadi perubahan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Pertumbuhan dan perkembangan diharapkan sesuai dengan tugas perkembangan remaja yang meliputi:

a. Mampu menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif

b. Mampu menerima dan memahami peran sosial pria dan wanita. c. Mampu membina hubungan baru dan yang lebih matang dengan

teman sebaya baik pria maupun wanita.

d. Mencapai kemandirian emosional dari orangtua dan orang-orang dewasa lainnya.

e. Mempersiapkan kemandirian ekonomi

f. Mengembangkan perilaku tanggung-jawab sosial yang diperlukan untuk memasuki dunia dewasa.

g. Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan dan keluarga. h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan

untuk berperilaku dan mengembangkan ideologi.

Tugas perkembangan yang relevan dengan karakter

entrepreneurship adalah mempersiapkan kemandirian ekonomi. Kemandirian secara ekonomi ini tidak dapat dicapai sebelum remaja


(62)

43

memilih pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Perlu adanya masa pelatihan bagi remaja untuk mempersiapkan karier dalam bekerjanya. Sekolah dan pendidikan tinggi menekankan keterampilan intelektual dan konsep penting bagi kecakapan sosial. Namun, tidak banyak remaja yang kesulitan dalam mempratekkannya. Untuk itu diperlukan aktivitas/ kegiatan secara langsung bagi remaja untuk menerapkan ilmu dan pengetahuannya terutama dalam merencanakan kariernya kelak yang berguna bagi masa depannya.

4. Upaya Penanaman Karakter Entrepreneurshippada Remaja

Tugas perkembangan remaja dapat menjadi landasan untuk membentuk karakter entrepreneurship pada remaja. Karakter

entrepreneurship pada remaja dapat digunakan untuk memenuhi tugas perkembangan remaja dalam mencapai kemandirian ekonomi, memahami, mempersiapkan serta mengembangkan perilaku tanggung-jawab pada diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sosial masyarakat.Tentunya diperlukan upaya-upaya yang tepat dalam proses penanaman karakter entrepreneurship yang disesuaikan dengan tugas perkembangan dan karakteristik pada remaja.

Teori perkembangan karir menurut Ginzberg menjelaskan bahwa remaja umur 11-17 tahun berada dalam tahap tentatif. Remaja mulai mengevaluasi minat, kemampuan, dan nilai mereka terhadap karirnya (Santrock; 1996). Pada tahap ini, remaja sebaiknya sudah dikenalkan akan berbagai minat karir. Diasah keterampilan dan kemampuan yang


(63)

44

remaja miliki dan diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai positif dalam perkembangan karirnya.

Tugas kematangan karir pada remaja masih berada dalam tahap eksplorasi. Penting bagi remaja dalam mengeksplorasi berbagai jalur karir di masa perkembangan karirnya. Remaja seringkali memandang eksplorasi karir dan pengambilan keputusan disertai kebimbangan, ketidakpastian, dan stres. Hal ini yang seringkali menyebabkan remaja mengalami perubahan dalam minat akan karirnya (Santrock: 1996). 5. Urgensitas Peningkatan Karakter Entrepreneurshippada Remaja

Peningkatan karakter entrepreneurship pada remaja dirasa sangat penting dilakukan guna memenuhi tugas perkembangannya yakni kematangan secara ekonomi. Tugas perkembangan yang dapat dipenuhi oleh remaja akan membentuk remaja menjadi pribadi yang lebih matang. Karakter entrepreneurship menjadi salah satu karakter yang perlu ditanamkan dan diinternalisasikan pada diri remaja sebagai bekal bagi remaja di masa depannya. Remaja sebagai generasi penerus bangsa diharapkan mampu untuk menjadi pribadi berkualitas dan memiliki karakter entrepreneurship dalam upaya perwujudan tujuan pendidikan nasional.


(64)

45

D. Hakikat Bimbingan Klasikal 1. Pengertian Bimbingan Klasikal

Istilah bimbingan kelompok mengacu pada aktivitas-aktivitas kelompok yang berfokus kepada penyediaan informasi atau pengalaman lewat aktivitas kelompok yang terencana dan terorganisasi. Aktivitas-aktivitas kelompok tersebut dapat berupa kegiatan orientasi (pengenalan), penelusuran karir dan bimbingan klasikal (Gibson & Mitchell; 2010). Bimbingan klasikal merupakan proses yang direncanakan untuk membantu siswanya memperoleh informasi, keterampilan atau pengalaman yang berguna dan dibutuhkan. Dalam aktivitas bimbingan kelas dicirikan dengan aktivitas perkembangan, berkelanjutan dan memposisika konselor sebagai instruktur.

Bimbingan klasikal menjadi salah satu cara efektif bagi konselor/ guru BK di sekolah dalam kegiatan pelayanan bimbingan, yakni layanan orientation (pengenalan), developmental (pengembangan), dan preventif

(pencegahan). Winkel dan Hastuti (2004) menjelaskan bahwa bimbingan klasikal mencakup beberapa bidang seperti bidang akademik, sosial, pribadi, dan karier. Bidang-bidang tersebut diberikan kepada siswa dalam upaya membantu siswa memenuhi tugas perkembangnnya.

Layanan bimbingan kelompok merupakan layanan bimbingan yang diberikan kepada kelompok individu yang mengalami masalah yang sama (Hartinah, 2009). Bimbingan kelompok bermaksud memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media dalam upaya membimbing


(65)

individu-46

individu yang memerlukan. Melalui dinamika kelompok sejumlah peserta didik secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber atau guru, membahas topik tertentu yang menunjang pemahaman yang berguna bagi perkembangan dirinya (Hartinah, 2009)

Dapat disimpulkan bahwa bimbingan klasikal merupakan layanan yang diberikan kepada siswa dalam memperoleh informasi, pengalaman, dan keterampilan. Bimbingan klasikal bertujuan untuk membantu siswa memenuhi tugas perkembangan di semua aspek kehidupannya.

2. Tujuan Bimbingan Klasikal

Tujuan bimbingan klasikal untuk mengembangkan dimensi sosial-psikologis, keterampilan hidup, klarifikasi nilai, dan perubahan sikap perilaku individu dalam kelompok (Barus, 2015). Bimbingan klasikal memunculkan perubahan yang positif pada diri individu. Secara lebih luas, bimbingan klasikal membantu individu-individu dalam mengembangkan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan dan sikap yang menunjang pada perwujudan tingkah laku.

Layanan bimbingan kelompok dimaksudkan untuk memungkinkan siswa secara bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari narasumber atau guru BK. Bahan/materi bimbingan diharapkan bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan sehari-hari dalam memenuhi tugas-tugas perkembangannya. Selain itu, siswa juga diajak untuk mengembangkan sikap, tindakan, dan nilai-nilai yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari (Hartinah, 2009).


(66)

47

3. Manfaat Bimbingan Klasikal

Hartinah (2009) menyatakan terdapat beberapa manfaat penggunaan bimbingan klasikal, antara lain:

a. Terbatasnya jumlah tenaga pembimbing dalam mendampingi siswa sehingga bimbingan klasikal efisien untuk membantu perkembangan siswa.

b. Bimbingan klasikal mengajarkan dan melatih siswa untuk menyelesaikan tugas/masalah secara bersama/kelompok.

c. Bimbingan klasikal mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat dan menghargai pendapat orang lain.

d. Bimbingan klasikal membantu menyadarkan siswa untuk melakukan bimbingan secara lebih mendalam.

e. Bimbingan klasikal secara efektif memberikan informasi secara kelompok kepada siswa.

f. Bimbingan klasikal dapat dijadikan cara Guru BK untuk mendekatkan dan mendapatkan kepercayaan dari siswa.

4. Teknik/Strategi dalam Layanan Bimbingan Klasikal

Penggunaan teknik dalam kegiatan layanan bimbingan klasikal/kelompok mempunyai banyak fungsi. Selain dapat lebih memfokuskan kegiatan bimbingan klasikal/kelompok terhadap tujuan yang ingin dicapai, juga dapat membangun suasana dalam kegiatan bimbingan lebih bergairah. Juga dapat membuat siswa agar tidak jenuh dan bosan mengikuti kegiatan bimbingan. Seperti yang dikemukakan oleh


(67)

48

Romlah (2001:86), “Bahwa teknik bukan merupakan tujuan tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan”. Berikut beberapa teknik yang biasa digunakan dalam pelaksanaan bimbingan klasikal/kelompok:

a. Teknik pemberian informasi (expository)

Teknik pemberian informasi disebut juga dengan metode ceramah. Artinya pemberian penjelasan oleh seorang pembicara kepada sekelompok pendengar. Pelaksanaan teknik pemberian informasi mencakup tiga hal, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Keuntungan teknik pemberian informasi antara lain adalah:

1) Dapat melayani banyak orang,

2) Tidak membutuhkan banyak waktu sehingga efisien, 3) Tidak terlau banyak memerlukan fasilitas,

4) Mudah dilaksanakan dibandingkan teknik lain. Sedangkan kelemahannya antara lain:

1) Sering dilaksanakan secara monolog, 2) Individu yang mendengarkan kurang aktif,

3) Memerlukan keterampilan berbicara, supaya penjelasan menjadi menarik.

b. Diskusi kelompok

Diskusi kelompok adalah percakapan yang telah direncanakan antara tiga orang atau lebih dengan tujuan untuk memecahkan masalah atau untuk memperjelas suatu persoalan. Dinkmeyer & Munro (dalam Romlah, 2001:89) menyebutkan tiga macam tujuan diskusi kelompok


(68)

49

yaitu: (1) untuk mengembangkan terhadap diri sendiri, (2) untuk mengembangkan kesadaran tentang diri, (3) untuk mengembangkan pandangan baru mengenai hubungan antar manusia.

c. Teknik pemecahan masalah (problem solving)

Teknik pemecahan masalah mengajarkan pada individu bagaimana pemecahan masalah secara sistematis. Langkah-langkah pemecahan masalah secara sistematis adalah:

1) Mengidentifikasi dan merumuskan masalah

2) Mencari sumber dan memperkirakan sebab-sebab masalah 3) Mencari alternatif pemecahan masalah

4) Menguji masing-masing alternatif

5) Memilih dan melaksanakan alternatif yang paling menguntungkan 6) Mengadakan penilaian terhadap hasil yang dicapai

d. Permainan peranan (role playing)

Bennett dalam Romlah (2001:99) mengatakan bahwa “permainan peranan adalah suatu alat belajar yang menggambarkan keterampilan-keterampilan dan pengertian-pengertian mengenai hubungan anatar manusia dengan jalan memerankan situasi-situasi yang paralel dengan yang terjadi dalam kehidupan yang sebenarnya”. Menurut Bennett terdapat 2 macam permainan peranan, yakni sosiodrama dan psikodrama. Sosiodrama adalah permainan peranan yang bertujuan untuk memecahkan masalah sosial dalam hubungan antar manusia. Melalui sosiodrama, individu akan merasakan dang menghayati secara


(69)

50

langsung situasi masalah yang dihadapinya. Kemudian, dari permainan peranan itu diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalahnya.

Psikodrama merupakan permainan yang dimaksudkan agar individu dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan-kebutuhannya, dan menyatakan reaksi terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya. Dengan memerenakan suatu peranan tertentu, konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat berkurang atau dihindari.

e. Permainan simulasi (simulation game)

Adams dalam Romlah (2001:109) menjelaskan bahwa permainan simulasi merupakan permainan yang bertujuan untuk merefleksikan situasi-situasi yang terdapat dalam kehidupan sebenarnya. Permainan simulasi dapat dikatakan sebagai permainan peranan dan teknik diskusi.

f. Home room

Home room yakni suatu program kegiatan dalam bentuk pertemuan antara guru dengan murid di luar jam pelajaran sekolah untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu. Kegiatan

home room bertujuan agar guru dapat mengenal murid-muridnya, sehingga dapat membantu murid-muridnya dengan penanganan yang tepat dan efisien.


(70)

51

Program home room hendaknya menciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan, sehingga murid-murid dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah. Dalam kegiatan home room dapat dilakukan tanya jawa, menampung pendapat, merencanakan suatu kegiatan, dan sebagainya.

g. Karyawisata/field trip

Karyawisata/field trip merupakan kegiatan rekreasi yang dikemas dengan metode mengajar dalam bimbingan klasikal/kelompok dengan tujuan agar siswa memperoleh penyesuaian dalam kelompok dalam kerjasama dan penuh tanggungjawab. Metode karyawisata berguna untuk membantu siswa memahami masalah kehidupan nyata dalam lingkungannya. Contoh dari kegiatan karyawisata adalah siswa diajak ke museum, kantor percetakan, bank, pengadlan, atau ke suatu tempat yang mengandung nilai sejarah/budaya tertentu.

Kegiatan karyawisata ini berguna untuk mendapatkan informasi bagi siswa. Siswa dapat langsung melihat objek-objek menarik dan mendapatkan suatu informasi atau ilmu baru bagi dirinya. Selain itu, siswa juga mendapakan kesempatan memperoleh terhadap situasi kehidupan kelompok tertentu. Dan siswa juga dapat mengembangkan bakat dan cita-cita sesuai dengan minatnya.

h. Pengajaran remedial

Pengajaran remedial merupakan suatu usaha pembimbing untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menguasai


(1)

173 Perhitungan: = = 5,8 KR-20 = = = = 1,034 (0,44827586)


(2)

174

Dokumentasi LAMPIRAN 13


(3)

175


(4)

(5)

177

Surat Ijin Penelitian LAMPIRAN 15


(6)

Dokumen yang terkait

Pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan experiential learning.

0 0 15

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal kolaboratif dengan pendekatan Experiential Learning untuk meningkatkan karakter bertanggung jawab.

0 0 193

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter proaktif

2 5 190

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan kecerdasan komunikasi interpersonal

0 2 183

Efektivitas pendidikan karakter menghargai keragaman berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning

0 1 138

Efektivitas implementasi pendidikan karakter berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning untuk meningkatkan karakter bergaya hidup sehat

0 0 183

Efektivitas implementasi pendidikan karakter kepemimpinan berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning

0 8 152

Peningkatan karakter peduli sosial berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan Experiential Learning

2 5 209

Efektivitas implementasi pendidikan karakter cinta tanah air berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning

0 2 135

Efektivitas implementasi pendidikan karakter daya juang berbasis layanan bimbingan klasikal dengan pendekatan experiential learning

0 1 156