Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak Di Bawah Umur Korban Tsunami Di Aceh

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERWALIAN TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR KORBAN TSUNAMI DI ACEH
TESIS Oleh YUDHI MARZA HARCA 107011113/M.Kn
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERWALIAN TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR KORBAN TSUNAMI DI ACEH
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh YUDHI MARZA HARCA
107011113/M.Kn
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Judul Tesis
Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi

: TINJAUAN

YURIDIS

PELAKSANAAN

PERWALIAN TERHADAP ANAK DI BAWAH

UMUR KORBAN TSUNAMI DI ACEH

: YUDHI MARZA HARCA

: 107011113

: Kenotariatan

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. H. T. Syamsul Bahri, SH)

Pembimbing

Pembimbing

(Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD) (Prof. Dr. Abdullah Syah, MA)

Ketua Program Studi,

Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 14 Maret 2013

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Telah diuji pada Tanggal : 14 Maret 2013

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Prof. H. T. Syamsul Bahri, SH

Anggota : 1. Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA, PhD

2. Prof. Abdullah Syah, MA, PhD

3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN

4. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama

: YUDHI MARZA HARCA

Nim : 107011113

Program Studi : Magister Kenotariatan FH USU

Judul Tesis

: TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERWALIAN TERHADAP ANAK DI BAWAH UMUR KORBAN TSUNAMI DI ACEH

Dengan ini menyatakan bahwa Tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui Tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Kenotariatan FH USU dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.

Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.

Medan, Yang membuat Pernyataan
Nama : YUDHI MARZA HARCA Nim : 107011113

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

ABSTRAK
Permasalahan perwalian merupakan hal terpenting bagi kelangsungan hidup anak kecil (anak dibawah umur) atau anak yang masih belum bisa mengurus diri sendiri seperti anak-anak terlantar, baik dalam mengurus harta kekayaan maupun dalam mengurus lingkungannya sendiri atau dengan istilah lain yakni anak yang masih belum bisa atau belum cakap bertindak dalam hukum. Oleh karena itu maka perlu adanya seseorang atau sekelompok orang yang dapat mengurus dan memelihara juga membimbing anak yang masih belum ada walinya atau yang belum ada yang mengurus, demi keselamatan, kelangsungan hidup anak dan hartanya.
Penelitian menggunakan penelitian deskriptif analitis, yang menguraikan atau memaparkan sekaligus menganalisis tentang mekanisme perwalian anak dibawah umur korban tsunami di Aceh, menjelaskan aturan-aturan perwalian, penerapanya dimasyarakat, aturan aturan baru yang lahir setelah tsunami,serta pengawasan terhadap perwalian tersebut dan akibat hukumnya.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa perwalian ada yang dilaksanakan bukan hasil penunjukkan resmi berdasarkan hukum formal, tetapi berdasarkan persetujuan bersama dalam keluarga. Sehingga pengelolaan harta milik si anak yang membutuhkan wali pun tidak dijalankan sesuai petunjuk hukum, melainkan berjalan apa adanya, hal ini menyebabkan tidak memiliki suatu kepastian hukum. Perwalian merupakan suatu lembaga yang berupaya untuk mengurusi kepentingan anak yang belum dewasa, baik kepentingan pribadinya maupun kepentingan harta bendanya. wali wajib bertanggung jawab atas kesejahteraan dan mengurus harta benda anak yang berada dibawah perwaliannya, Wali dapat dituntut oleh keluarga sianak ataupun anak itu sendiri atas kerugian yang ditimbulkan oleh wali. Kendati dalam peraturan perundang-undangan telah diatur permasalahan perwalian ini, akan tetapi pasca tsunami peraturan tentang perwalian ini tidak di indahkan dalam menanganinya sehingga banyak menyisakan pemasalahan hukum yang tidak terselesaikan. Khususnya masyarakat adat Aceh yang memiliki karakter sederhana cenderung memahami dan melaksanakan sesuatu melalui suatu prosedur yang mudah dan tidak berbelit-belit. Akibat kurangnya pemahaman dari masyarakat menyangkut hukum perwalian dan kurangnya kontrol dari pihak-pihak atau lembaga perwalian yang berwenang menjadi wali/wali pengawas serta kurangnya koordinasi antara lembaga yang terlibat meyebabkan keberadaan perwalian anak yang berada di Gampong (desa) tidak terpantau baik kepengurusan maupun pengawasannya.
Disarankan agar Perlunya penyeragaman aturan hukum menyangkut perwalian sehingga tidak menyebabkan pluralisme hukum dimasyarakat. Perlunya sosialisasi kemasyarakat menyangkut perwalian secara formal sehingga tidak muncul anggapan, penyelesaian perkara perwalian di Pengadilan berbelit-belit dan sulit untuk dilaksanakan.Meningkatkan koordinasi dengan lembaga-lembaga pemerintah yang berhubungan dengan masalah perwalian melalui peraturan perundang-undangan, yang mengatur kesepakatan kerjasama antara Baitul Mal dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan permasalahan perwalian. Dengan demikian dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik dan terbangunnya kelembagaan yang akuntabel dan professional.
Kata kunci: Perwalian, Anak di bawah Umur, dan Korban Tsunami
i
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

ABSTRACT
Guardianship is very important for the viability of children (young children) or children who cannot take care of themselves, such as displaced children who are not able to take care of their property or their own environment. In other words, they have not yet been able to act legally; therefore, someone or a group of people are needed to take care of and guide them as guardians for the sake of their safety, their survival, and their property.
The research used descriptive analytic approach which described and analyzed the mechanism of the guardian of young children who are the victims of tsunami in Aceh and explained the regulations of guardianship, its application in society or new regulations existed after the tsunami occurred, the supervision of the guardian, and its legal consequences.
The result of the research showed that the guardianship was not conducted officially but based on the agreement among the members of the family. Consequently, the management of the children’s property with a guardianship is not conducted legally but whatever is available so that there is no legal certainty. Guardianship is an institution which attempts to take care of young children’s interest, either their personal interest or their property. A guardian is responsible for children’s welfare and for taking care of their property. A guardian can be sued by the children’s families or by the children themselves when he harms them. Although there is a regulation on guardianship, it has been ignored after the incident of tsunami so that there are many legal problems which cannot be solved. Specifically, Acehnese have simple characters that tend to think and to carry out something which is not difficult and complicated. Since they lack of understanding about guardianship, and the lack of control by the parties or the guardianship institutions that have the right to become the guardian/supervisor, and the lack of coordination among the institutions, the guardianship of children, either its management or its supervision, at Gampong (villages) cannot be controlled effectively.
It is recommended that the legal standardization of guardianship is needed so that there will be no pluralism in the society. The socialization about guardianship formally is also needed so that there will be no assumption that the guardianship case in the Court is very complicated and very difficult to be solved. Coordination among the government institutions regarding guardianship through legal provisions which regulate the cooperative agreement between Baitul Mal (Treasury) and the institutions related to guardianship should be increased in order that the quality of public service can be increased and accountable and professional institutions can be established.
Keywords: Guardianship, Young Children, Tsunami Victims
ii
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur Alhamdulillah kehadirat ALLAH SWT karena hanya dengan berkat dan karunia-Nya penulisan tesis ini dengan judul “TINJAUAN YURIDIS PELAKSANAAN PERWALIAN TERHADAP ANAK DI BAWAH UMUR KORBAN TSUNAMI DI ACEH”. Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan dorongan moril berupa masukan dan saran, sehingga penulisan tesis dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Oleh sebab itu, ucapan terima kasih yang mendalam penulis sampaikan secara khusus kepada yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. H.T. Syamsul Bahri, SH., Bapak Prof. H. M. Hasballah Thaib, MA.Ph.D., dan Prof. Dr. Abdullah Syah, M.A. selaku Komisi Pembimbing yang telah dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan dan arahan untuk kesempurnaan penulisan tesis ini.
Kemudian juga, semua pihak yang telah berkenan memberi masukan dan arahan yang konstruktif dalam penulisan tesis ini sejak kolokium, seminar hasil sampai ujian tertutup sehingga penulisan menjadi lebih sempurna dan terarah.
Selanjutnya ucapan terima kasih penulis yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan dalam menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Kenotariatan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 2. Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada Penulis dalam menyelesaikan pendidikan ini.
iii
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN, selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini.
4. Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan dorongan kepada Penulis untuk segera menyelesaikan penulisan tesis ini.
5. Bapak dan Ibu Dosen Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta ilmu yang sangat bermanfaat selama Penulis mengikuti proses kegiatan belajar mengajar di bangku kuliah.
6. Seluruh Staf/Pegawai di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, yang telah banyak memberikan bantuan kepada Penulis selama menjalani pendidikan.
7. Ketua Mahkamah Syariyah Banda Aceh beserta staf, Pimpinan Baitul mal Di Kota Banda Aceh, beserta staf bagian pembiaaan dan seluruh responden dan informan yang telah banyak membantu dalam hal pengambilan data dan informasi-informasi penting lainnya yang berkenaan dengan penulisan tesis ini.
8. Rekan-rekan Mahasiswa dan Mahasiswi di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, khususnya angkatan tahun 2010 yang telah banyak memberikan motivasi kepada Penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Teristimewa diucapkan dengan tulus hati terima kasi kepada kedua orang tua
penulis, H. Razali Harun dan ibunda Hj. Nurhayati Abdullah serta adik-adik tercinta Fitria Harca, SH. Dan Putra Ricky Harca, ST. yang selalu mengasihi dan mendoakan, serta memberikan nasehat dan motivasi untuk berbuat sesuatu yang terbaik demi masa depan penulis dan dalam penyelesaian tesisi ini.
Serta terima kasih terhadap semua pihak yang tidak dapat disebut satupersatuatas kebaikan dan ketulusan, dan dukungan serta doanya.
iv
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

Penulis menyadari sepenuhnya tulisan ini masih jauh dari sempurna, namun besar harapan penulis kiranya tesis ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak, terutama para pemerhati hukum perdata pada umumnya dan ilmu kenotariaan pada khususnya. Demikian pula atas bantuan dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, agar selalu dilimpahkan kebaikan, kesehatan, kesejahteraan dan rezeki yang melimpah kepada kita semua. Amien Ya Rabbal ‘Alamin
Medan, Maret 2013 Penulis,
Yudhi Marza Harca
v
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

RIWAYAT HIDUP

I. IDENTITAS PRIBADI

Nama

: Yudhi Marza Harca

Tempat / Tgl. Lahir

: Banda Aceh, 10 Maret 1982.

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Alamat

: Jalan Hasan Saleh Lr. H. Keuchik Man. Nomor 18. Neusu Aceh, Banda Aceh.

II. ORANG TUA Nama Ayah Nama Ibu

: H. Razali Harun : Hj. Nurhayati Abdullah

III. PENDIDIKAN SD Negeri 77 Banda Aceh Tamat Tahun 1994 SMP Negeri 3 Banda Aceh Tamat Tahun 1997 SMA Negeri 2 Banda Aceh Tamat Tahun 2000 S-1 Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Tamat Tahun 2006 S-2 Program Studi Magister Kenotariatan (M.Kn) Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara Medan Tahun 2010 s/d 2013.

vi
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK .................................................................................................. i

ABSTRACT .................................................................................................. ii

KATA PENGANTAR.................................................................................... iii

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..................................................................... vi

DAFTAR ISI ..... ………….………………………………………………… vii

DAFTAR TABEL ......................................................................................... x

BAB I PENDAHULUAN .................................................................... 1

A. Latar belakang ... ................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................. . 10

C. Tujuan Penelitian.................................................................. 10

D. Manfaat Penelitian . ............................................................. 11

E. Keaslian Penelitian ............................................................... 11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi……………........................... 14

G. Metode Penelitian ................................................................ 24

BAB II

TINJAUAN TENTANG HUKUM PERWALIAN ANAK YANG TIDAK ADA ORANG TUANYA .............................. 28

A. Pengertian Anak dan Batasan Usia Anak .......................... 28

1. Pengertian Anak.......................................................... 28

2. Batasan Usia Anak...................................................... 31

3. Hak-hak anak .............................................................. 35

B. Pengertian dan macam-macam perwalian ......................... 36

1. Pengertian Perwalian ................................................. 36

2. Berbagai Macam Perwalian........................................ 40

3. Asas-asas dalam perwalian ......................................... 42

4. Syarat-Syarat Seorang Anak Memperoleh Perwalian 43

C. Dasar hukum perwalian ..................................................... 43

1. Dasar Hukum Menurut Syariat................................... 44

vii

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2. Landasan Hukum Perwalian Menurut Hukum Adat .. 3. Landasan Hukum Menurut KUHPerdata.................... 4. Landasan Hukum Menurut KHI dan UU No.1
Tahun 1974 .................................................................
5. Landasan Hukum Menurut Undang-undang 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak ................................
6. Hukum Perwalian Dalam Qanun Aceh....................... D. Tujuan dan Saat Berlakunya Perwalian .............................
1. Tujuan Perwalian ........................................................ 2. Mulai Berlakunya Perwalian ......................................

BAB III

PELAKSANAAN PERWALIAN ANAK DIBAWAH UMUR YANG TIDAK ADA LAGI ORANG TUANYA DI BANDA ACEH .................................................................
A. Tinjauan Pelaksanaan Perwalian menurut Adat dan kebiasaan di Aceh .............................................................

1. Pelaksanaan Penunjukan Wali Pada Mayarakat Aceh 2. Penunjukan Wali Oleh Pengadilan di Aceh ............... 3. Prosedur Pengajuan Permohonan Perwalian Pada
Makamah Syar’iyah....................................................
4. Kedudukan Perempuan Dalam Perwalian .................. B. Orang yang ditunjuk sebagai wali, Kewajiban sebagai
wali, serta larangannya ......................................................
1. Yang ditunjuk sebagai wali ........................................ 2. Syarat-syarat menjadi wali ......................................... 3. Kewajiban wali ........................................................... 4. Larangan-larangan dalam perwalian........................... C. Baitul Mal Sebagai Salah Satu Lembaga Perwalian Di Aceh 1. Tugas dan Kewenangan Baitul Mal............................ 2. Dasar Hukum Baitu Mal............................................. 3. Struktur Dari Lembaga Baitul Mal .............................

46 47
49
50 51 52 52 54
56
56 56 64
72 75
76 76 81 82 84 84 84 89 91

viii

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

D. Tinjauan Mengenai Pengawasan Perwalian ...................... 95

E. Pengelolaan Managemen Harta (Aset) dalam Perwalian. . 100 1. Menyangkut Simpanan di Bank.................................. 102

2. Mengenai Permasalahan Pertanahan .......................... 104

BAB IV

KENDALA DALAM PELAKSANAAN PERWALIAN TERHADAP ANAK DIBAWAH UMUR KORBAN TSUNAMI DI BANDA ACEH .............................................
1. Kendala Sarana Perundang-Undangan ..............................
2. Kurangnya Pemahaman Terhadap Perwalian di masyarakat .........................................................................

107 107
108

3. Kendala Kurangnya Koordinasi Antara Lembaga Yang Terlibat Dengan Masalah perwalian .................................. 110

4. Pengawasan Perwalian....................................................... 111

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN .................................... 114 A. Kesimpulan ............................................................. 114

B. Saran ........................................................................ 116 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 118 LAMPIRAN

ix
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

DAFTAR TABEL Halaman
TABEL 1: Perwalian Dalam Masyarakat Aceh ................................................ 61 TABEL 2: Perkara Perwalian yang di putus oleh Mahkamah Syariah Kota
Banda Aceh ..................................................................................... 75
x
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

ABSTRAK
Permasalahan perwalian merupakan hal terpenting bagi kelangsungan hidup anak kecil (anak dibawah umur) atau anak yang masih belum bisa mengurus diri sendiri seperti anak-anak terlantar, baik dalam mengurus harta kekayaan maupun dalam mengurus lingkungannya sendiri atau dengan istilah lain yakni anak yang masih belum bisa atau belum cakap bertindak dalam hukum. Oleh karena itu maka perlu adanya seseorang atau sekelompok orang yang dapat mengurus dan memelihara juga membimbing anak yang masih belum ada walinya atau yang belum ada yang mengurus, demi keselamatan, kelangsungan hidup anak dan hartanya.
Penelitian menggunakan penelitian deskriptif analitis, yang menguraikan atau memaparkan sekaligus menganalisis tentang mekanisme perwalian anak dibawah umur korban tsunami di Aceh, menjelaskan aturan-aturan perwalian, penerapanya dimasyarakat, aturan aturan baru yang lahir setelah tsunami,serta pengawasan terhadap perwalian tersebut dan akibat hukumnya.
Dari hasil penelitian diketahui bahwa perwalian ada yang dilaksanakan bukan hasil penunjukkan resmi berdasarkan hukum formal, tetapi berdasarkan persetujuan bersama dalam keluarga. Sehingga pengelolaan harta milik si anak yang membutuhkan wali pun tidak dijalankan sesuai petunjuk hukum, melainkan berjalan apa adanya, hal ini menyebabkan tidak memiliki suatu kepastian hukum. Perwalian merupakan suatu lembaga yang berupaya untuk mengurusi kepentingan anak yang belum dewasa, baik kepentingan pribadinya maupun kepentingan harta bendanya. wali wajib bertanggung jawab atas kesejahteraan dan mengurus harta benda anak yang berada dibawah perwaliannya, Wali dapat dituntut oleh keluarga sianak ataupun anak itu sendiri atas kerugian yang ditimbulkan oleh wali. Kendati dalam peraturan perundang-undangan telah diatur permasalahan perwalian ini, akan tetapi pasca tsunami peraturan tentang perwalian ini tidak di indahkan dalam menanganinya sehingga banyak menyisakan pemasalahan hukum yang tidak terselesaikan. Khususnya masyarakat adat Aceh yang memiliki karakter sederhana cenderung memahami dan melaksanakan sesuatu melalui suatu prosedur yang mudah dan tidak berbelit-belit. Akibat kurangnya pemahaman dari masyarakat menyangkut hukum perwalian dan kurangnya kontrol dari pihak-pihak atau lembaga perwalian yang berwenang menjadi wali/wali pengawas serta kurangnya koordinasi antara lembaga yang terlibat meyebabkan keberadaan perwalian anak yang berada di Gampong (desa) tidak terpantau baik kepengurusan maupun pengawasannya.
Disarankan agar Perlunya penyeragaman aturan hukum menyangkut perwalian sehingga tidak menyebabkan pluralisme hukum dimasyarakat. Perlunya sosialisasi kemasyarakat menyangkut perwalian secara formal sehingga tidak muncul anggapan, penyelesaian perkara perwalian di Pengadilan berbelit-belit dan sulit untuk dilaksanakan.Meningkatkan koordinasi dengan lembaga-lembaga pemerintah yang berhubungan dengan masalah perwalian melalui peraturan perundang-undangan, yang mengatur kesepakatan kerjasama antara Baitul Mal dengan lembaga-lembaga yang terkait dengan permasalahan perwalian. Dengan demikian dapat meningkatkan kualitas pelayanan publik dan terbangunnya kelembagaan yang akuntabel dan professional.
Kata kunci: Perwalian, Anak di bawah Umur, dan Korban Tsunami
i
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

ABSTRACT
Guardianship is very important for the viability of children (young children) or children who cannot take care of themselves, such as displaced children who are not able to take care of their property or their own environment. In other words, they have not yet been able to act legally; therefore, someone or a group of people are needed to take care of and guide them as guardians for the sake of their safety, their survival, and their property.
The research used descriptive analytic approach which described and analyzed the mechanism of the guardian of young children who are the victims of tsunami in Aceh and explained the regulations of guardianship, its application in society or new regulations existed after the tsunami occurred, the supervision of the guardian, and its legal consequences.
The result of the research showed that the guardianship was not conducted officially but based on the agreement among the members of the family. Consequently, the management of the children’s property with a guardianship is not conducted legally but whatever is available so that there is no legal certainty. Guardianship is an institution which attempts to take care of young children’s interest, either their personal interest or their property. A guardian is responsible for children’s welfare and for taking care of their property. A guardian can be sued by the children’s families or by the children themselves when he harms them. Although there is a regulation on guardianship, it has been ignored after the incident of tsunami so that there are many legal problems which cannot be solved. Specifically, Acehnese have simple characters that tend to think and to carry out something which is not difficult and complicated. Since they lack of understanding about guardianship, and the lack of control by the parties or the guardianship institutions that have the right to become the guardian/supervisor, and the lack of coordination among the institutions, the guardianship of children, either its management or its supervision, at Gampong (villages) cannot be controlled effectively.
It is recommended that the legal standardization of guardianship is needed so that there will be no pluralism in the society. The socialization about guardianship formally is also needed so that there will be no assumption that the guardianship case in the Court is very complicated and very difficult to be solved. Coordination among the government institutions regarding guardianship through legal provisions which regulate the cooperative agreement between Baitul Mal (Treasury) and the institutions related to guardianship should be increased in order that the quality of public service can be increased and accountable and professional institutions can be established.
Keywords: Guardianship, Young Children, Tsunami Victims
ii
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Gempa dan tsunami di Aceh tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan
dampak yang sangat dahsyat. Bukan saja ratusan ribu jiwa yang melayang dan kerugian materiel yang tak pernah terbayangkan, tetapi juga meninggalkan puluhan ribu anak yatim piatu, sehingga muncul pula berbagai persoalan dalam masalah kewarisan dan perwalian.
Sebagaimana diketahui tsunami telah melahirkan serangkaian problem hukum yang tidak teratasi oleh instrumen hukum yang tersedia sebelumnya. “Beberapa persoalan yang menuntut penyelesaian secara cepat dan tepat adalah persoalan hakhak keperdataan korban dan keluarganya dimana hilangnya keluarga, atau keluarga yang hanya menyisakan anak-anak, menuntut penyelesaian hukum, baik atas hak kewarisan maupun hak perwalian sebagai upaya melindungi anak-anak korban itu di masa yang akan datang”.1
Persoalan-persoalan di atas belum mendapatkan ruang penyelesaian hukum yang memadai. “Belum adanya landasan hukum sebagai panduan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu menyebabkan masing - masing pihak di Aceh
1Ernita Dewi, Perempuan Aceh dihadapan Hukum setelah Konflik dan Tsunami berlalu, laporan Case Studi , International Development Law Organisation Post-Tsunami Legal Assistance Initiative For Indonesia and United Nation Development Programme Access to Justice and Capacity Building in Aceh (Aceh Justice Project), 2007, hal. 2.
1
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

2
berinisiatif dan berkreasi secara berbeda-beda dalam memandang dan menyelesaikan masalah hukum tersebut”.2
Permasalahan perwalian merupakan hal terpenting bagi kelangsungan hidup anak kecil (anak dibawah umur) atau anak yang masih belum bisa mengurus diri sendiri seperti anak-anak terlantar, baik dalam mengurus harta kekayaan maupun dalam mengurus lingkungannya sendiri atau dengan istilah lain yakni anak yang masih belum bisa atau belum cakap bertindak dalam hukum. Oleh karena itu maka perlu adanya seseorang atau sekelompok orang yang dapat mengurus dan memelihara juga membimbing anak yang masih belum ada walinya atau yang belum ada yang mengurus, demi keselamatan, kelangsungan hidup anak dan hartanya.
Pasca tsunami di Aceh masalah perwalian ada yang dilaksanakan bukan hasil penunjukkan resmi berdasarkan hukum formal, tetapi berdasarkan persetujuan bersama dalam keluarga. “sehingga pengelolaan harta milik si anak yang membutuhkan wali pun tidak dijalankan sesuai petunjuk hukum, melainkan berjalan apa adanya, berdasarkan kesepakatan dan kenyakinan dalam masyarakat tersebut, hal ini menyebabkan tidak memiliki suatu kepastian hukum.” 3
Proses perwalian ini dilakukan karena telah menjadi suatu kebiasaan dalam masyarakat adat, “bahwa ketentuan mengenai perwalian hanya dilakukan melalui
2 Ismailhasani,Sisa-Masalah-Hukum Pasca Tsunami, /http://ismailhasani.wordpress.com/2005/12/26/ , Terakhir diakses pada tanggal 12 Desember 2011.
3 Chairul Fahmi, P erwalian, http://www.idlo.int/DOCNews/240DOCF1.pdf, Terakhir diakses 20 April 2012.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

3
musyawarah pihak keluarga, dan atau melibatkan petua kampung (tertua desa) dalam menentukan pihak mana yang menjadi wali, baik dalam pengasuhan anak tersebut atau pemeliharaan harta yang ditinggalkan. Sehingga seringkali antara satu daerah (gampong) dengan daerah lain mempunyai ketentuan yang berbeda”.4
Dalam kasus tertentu, wali ditunjuk dengan proses adat. “dimana wali tersebut, ditentukan oleh pihak keluarga dan tokoh masyarakat yang dilaksanakan di Meunasah (tempat ibadah) di pedesaan tersebut, yang melibatkan para petua gampong (tertua desa) untuk mengkonfirmasi mengenai pengangkatan seorang wali dalam keluarga tertentu.”5 Namun dalam kasus-kasus yang dipersengketakan maka penunjukan wali diberi kewenangan kepada geuchik (kepala desa) dan/atau imeum meunasah (Imam).
Sering kali dalam perwalian ini menjadi permasalahan jika seorang anak memiliki warisan, seperti tanah, rekening bank, uang pensiun dan lain sebagainya. Hal tersebut menyebabkan adanya klaim dari orang-orang tertentu yang ingin menjadi wali. Ini dilakukan agar memungkinkan sebagai wali dapat menikmati pula harta yang diwariskan kepada anak tersebut.
Menyangkut permasalahan-permasalahan yang terjadi pasca tsunami di Aceh, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
4 Ibid, hal. 6 5 Badruzzaman Ismail ‘Wali perempuan dari Aspek Hukum Adat di Provinsi NAD’ paper dipresentasikan pada wokshop Pewalian Anak, yang dilaksanakan oleh Mahkamah Syar’iyah Prov.Aceh, Putroe Kande Foundation dan UNIFEM, Banda Aceh, 9-11 September 2005.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

4
Nomor 2 tahun 2007 Tentang Penanganan Permasalahan Hukum dalam rangka pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara, yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 48 tahun 2007. “Undang-Undang ini merupakan payung hukum untuk penanganan permasalahan hukum seperti Pertanahan, Perbankan serta Pewarisan dan Perwalian”.6
“Umumnya Undang-undang ini mengatur tentang permasalahan hukum dalam penyelengaraan administrasi pemerintah, hak keperdataan, perwalian, pertanahan, dan perbankan”.7
Sebagaimana ditegaskan dalam BAB V Pasal 31 Undang-undang nomor 48 tahun 2007, “anak dibawah umur yang orang tuanya telah meninggal atau tidak cakap bertindak menurut hukum, maka harta kekayaannya dikelola oleh wali sesuai dengan peraturan perundang undangan”.8
Dalam hal keluarga tidak mengajukan permohonan penetapan wali, maka Baitulmal atau Balai Harta Peninggalan (BHP), sebagai wali pengawas mengajukan permohonan penetapan wali kepada pengadilan.
Kemudian dalam pelaksanaan dari Undang-undang ini dikeluarkan Qanun (Peraturan Daerah) yang mengatur Baitul Mal yaitu Qanun Aceh Nomor 10 tahun
6 Pengaturan Tentang Perwarisan, Perwalian dan Perbankan dalam Perpu Nomor 2 Tahun 2007, http://www.idlo.int/bandaacehawareness.HTM,. terakhir di akses pada tanggal 26 oktober 2010.
7 Ketentuan Umum Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2007 huruf .C. 8 Lihat Pasal 31 Undang-undang nomor 48 tahun 2007, tentang Penanganan Permasalahan Hukum Dalam rangka Pelaksanaan Rehabilitasi dan Rekontruksi wilayah dan kehidupan Masyrakat di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatra Utara.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

5
2007 tentang Baitul Mal. Pengertian tentang Baitul Mal terdapat pada Pasal 1 butir 11 Ketentuan Umum Qanun tersebut yaitu:
“Baitul Mal adalah Lembaga Daerah Non Struktural yang diberi kewenangan untuk mengelola dan mengembangkan zakat, wakaf, harta agama dengan tujuan untuk kemaslahatan umat serta menjadi wali/wali pengawas terhadap anak yatim piatu dan/atau hartanya serta pengelolaan terhadap harta warisan yang tidak ada wali berdasarkan Syariat Islam”.
Hal ini tidak terlepas dari perkembangan hukum di Aceh yang memiliki keunikan sendiri jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, meskipun Provinsi Aceh sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang tidak terpisahkan dari sistem hukum Nasional, namun keberadaan hukum adat dan hukum syari’at mendapat tempat yang strategis dalam peraturan perundang-undangan Indonesia. Undang-undang Nomor. 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh dan Undang-undang Nomor. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), merupakan bentuk pengakuan terhadap eksistensi hukum adat dan hukum syari’at, sebagai sistem hukum yang berlaku di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Hal ini menggambarkan kewenangan yang luas Provinsi NAD sesuai peraturan perundang-undangan, untuk mengatur dirinya sendiri termasuk dalam bidang hukum. Implikasi lain dari diterapkan otonomi khusus bagi Provinsi NAD adalah pengakuan lembaga Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) yang memiliki kewenangan memberikan masukan kepada eksekutif dan legislatif, di
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

6
samping itu pembentukan Majelis Adat Aceh (MAA) yang salah satu fungsinya
mengembangkan nilai adat istiadat juga ikut mewarnai otonomi khusus tersebut.
“Perkembangan hukum di Aceh di dasarkan atas 3 (tiga) sistem hukum yang telah berkembang di masyarakat (living law). yaitu berupa sistem Hukum Syari’ah, Hukum Nasional, dan Hukum Adat. Ketiga sistem hukum ini mempunyai paradigma sendiri, baik dalam teori maupun praktek. Harmonisasi ketiga sistem hukum tersebut untuk mensinergikan pembentukan dan penegakan hukum merupakan mainstream penting dalam pembentukan tatanan hukum di Aceh”.9
Menurut Hukum Islam perwalian terhadap anak meliputi perwalian terhadap
diri pribadi anak tersebut dan perwalian terhadap harta bendanya. Perwalian terhadap
diri pribadi anak adalah dalam bentuk mengurus kepentingan diri si anak, mulai dari
mengasuh, memelihara, serta memberi pendidikan dan bimbingan agama. Pengaturan
ini juga mencakup dalam segala hal yang merupakan kebutuhan si anak. Semua
pembiayaan hidup tersebut adalah menjadi tanggung jawab siwali.
“Sementara itu, perwalian terhadap harta bendanya adalah dalam bentuk mengelola harta benda si anak secara baik, termasuk mencatat sejumlah hartanya ketika dimulai perwalian, mencatat perubahan-perubahan hartanya selama perwalian, serta menyerahkan kembali kepada anak apabila telah selesai masa perwaliannya karena si anak telah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri”.10
Menurut Arif Masdoeki “Perwalian adalah pengawasan terhadap anak
dibawah umur yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua, serta pengurusan benda atau kekayaan anak tersebut, sebagaimana diatur dalam Undang-undang”.11
9 Dinamika-pembangunan-hukum-di-nanggroe-aceh-darussalam-pasca-gempa-dan-tsunamisebuah-refleksi-antara-cita-dan-realitas&catid=40:article&Itemid=294 http://www.isjn.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=186: terakhir diakses tanggal 13 Desember 2011
10Abdul Manan Hasyim, Hakim Mahkamah Syariah Provinsi Aceh http://www.idlo.int/DOCNews/240DOCF1.pdf. 2010.terakhir diakses 12 Januari 2012.
11Arif Masdoeki dan M.H TirtaHamidjaja, Masalah Perlindungan Anak, Akademika Persindo, Jakarta, 1963, hal. 156.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

7
Dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 330 ayat (3) dinyatakan bahwa “Perwalian (voogdij) adalah pengawasan terhadap anak di bawah umur, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua”.12
Sebagaimana juga dalam Undang- undang Nomor. 1 tahun 1974 Pasal 50-54 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), Pasal 107-112 yang menyatakan bahwa perwalian adalah “sebagai kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan, atau atas nama anak yang orang tuanya telah meninggal atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum”.
Masalah perwalian ini telah diatur dalam peraturan perundangan-undang yang ada di Indonesia baik dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Undang- undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan dalam Kompilasi Hukum Islam.
Dalam Kitab Undang-undang Hukum perdata, bab kelima belas tentang perwalian pada umumnya untuk anak-anak yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua maka berlaku bagian kelima Pasal 359 yang menyatakan anak-anak yang tidak bernaung dibawah kekuasaan orang tua dan perwaliannya tidak diatur dengan cara yang sah, Pengadilan Negeri harus mengangkat seorang wali, setelah memanggil keluarga sedarah ataupun semenda.
Anak yang berada dibawah perwalian adalah: (1)Anak sah yang kedua orang tuanya telah dicabut kekuasaannya sebagai orang
tua;
12 R.Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Cet.39 (Pradnya Paramita, Jakarta, 2008) hal.90.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

8
(2) Anak sah yang orang tuanya telah bercerai; (3) Anak yang lahir diluar perkawinan (natuurlijke kind).
“Pada umumnya dalam setiap perwalian hanya ada seorang wali saja, kecuali apabila seorang wali-ibu (moedervoogd) kawin lagi, dalam hal mana suaminya menjadi teman wali (medevoogd)”.13
“Jika salah satu dari orang tua tersebut meninggal, maka menurut Undangundang orang tua yang lainnya dengan sendirinya menjadi wali bagi anakanaknya. Perwalian ini dinamakan perwalian menurut undang-undang (Wettelijke Voogdij).”14
Seorang anak yang lahir diluar perkawinan berada dibawah perwalian orang tua yang mengakuinya. “Apabila seorang anak yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tua ternyata tidak mempunyai wali, hakim akan mengangkat seorang wali atas permintaan salah satu pihak yang berkepentingan atau karena jabatanya (datieve voogdij)”.15
Tetapi ada juga kemungkinan, “seorang ayah atau ibu dalam surat wasiatnya mengangkat seorang wali bagi anaknya. Perwalian semacam ini disebut perwalian menurut Wasiat (testamentair voogdij)”.16
13Anonim, Diskusi dan Konsultasi Masalah Hukum, Pengaturan Mengenai Perwalianditinjau Dari Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 http://balianzahab.wordpress.com/makalah-hukum/hukum-islam/perwalian-menurut-kuhperdata. terakhir diakses 12 September 2012.
14 R.Subekti dan R. Tjitrosudibio, Op. Cit, hal. 103 15Ibid, hal. 103 16 Ibid, hal 102
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

9
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 berlaku untuk lingkungan Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama dalam hal pengangkatan wali terhadap anak yang dibawah umur yang muslim Pada Bab XI mengatur pula masalah perwalian dalam Pasal 50 sampai dengan Pasal 54 sebagai berikut:
1. Anak yang belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan, tidak berada dibawah kekuasaan orang tua, berada dibawah kekuasaan wali.
2. Perwalian itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta bendanya. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 33
mengatur pula masalah perwalian sebagai berikut: 1. Dalam hal orang tua anak tidak cakap melakukan perbuatan hukum, atau tidak diketahui tempat tinggal atau keberadaannya, maka seseorang atau badan hukum yang memenuhi persyaratan dapat ditunjuk sebagai wali dari anak yang bersangkutan.Untuk menjadi wali anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan melalui penetapan pengadilan. 2. Wali yang ditunjuk sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) agamanya harus sama dengan agama yang dianut anak. 3. Untuk kepentingan anak, wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) wajib mengelola harta milik anak yang bersangkutan. 4. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penunjukan wali sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam ketentuan umum Pasal 1 Kompilasi Hukum Islam (KHI) huruf h
dikemukakan bahwa perwalian adalah kewenangan yang diberikan oleh seseorang untuk melakukan suatu perbuatan hukum sebagai wakil guna kepentingan dan atas
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

10
nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua, atau kedua orang tuanya masih hidup tetapi tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
Dalam kompilasi Hukum Islam BAB XV mengenai perwalian Pasal 107 juga menegaskan sebagai berikut:
1) Perwalian hanya terhadap anak yang belum mencapai umur 21 tahun dan atau belum pernah melangsungkan perkawinan.
2) Perwalian meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaanya. 3) Bila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya,
maka pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali atas permohonan kerabat tersebut. 4) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik, atau badan hukum. Bedasarkan uraian tersebut diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam bentuk tesis dengan judul: Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak di bawah Umur Korban Tsunami di Aceh. B. Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah hukum perwalian bagi anak yang tidak ada orang tuanya? 2. Bagaimana pelaksanaan perwalian terhadap anak korban tsunami yang tidak ada orang tuanya di Aceh? 3. Apa yang menjadi kendala dalam pelaksanaan perwalian terhadap anak dibawah umur korban tsunami di Aceh? C. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan diatas, maka yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagi berikut:
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

11
1. Untuk mengetahui hukum perwalian bagi anak yang tidak ada orang tuanya. 2. Untuk mengetahui perwalian terhadap anak dibawah umur korban tsunami
yang tidak ada lagi orang. 3. Untuk mengetahui kendala didalam menentukan pengangkatan wali terhadap
anak dibawah umur yang menjadi korban tsunami di Aceh. D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian dapat dilihat secara teoritis dan secara praktis, yaitu: 1. Secara teoritis,
Dari penelitian dapat memberikan manfaat untuk mengembangkan ilmu hukum dan dapat menambah pengetahuan dalam perwalian terhadap anak. 2. Secara praktis,
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat dan sebagai penyempurnaan aturan yang menyangkut perwalian anak. E. Keaslian penelitian
Dari hasil penelusuran keperpustakaan yang ada di lingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Universitas Sumatera Utara, maka penelitian dengan judul: Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak Dibawah Umur Korban Tsunami di Aceh, belum pernah ada yang meneliti sebelumnya.
Dari hasil penelusuran keaslian penulisan, penelitian yang menyangkut Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak Dibawah Umur pernah dilakukan oleh
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

12

Mahasiswa Program Studi Magister Kenotariatan sekolah Pasca Sarjana Universitas

Sumatera Utara, yaitu:

1. Nama

: Meifina Rosary

NIM

: 057011053

Program Studi : Magister Kenotariatan

Judul Thesis

: “Tinjauan yuridis terhadap perwalian pada anak muslim dibawah umur menurut undang-undang nomor 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam” (studi kasus di pengadilan Negeri Medan).

2. Nama

: Salimah

NIM

: 037011075

Program Studi : Magister Kenotariatan

Judul Thesis

: “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang ditemukan akibat Gempa dan Tsunami” (penelitian di Banda Aceh).

Namun tesis-tesis tersebut, berbeda baik judul, tempat penelitian, maupun

permasalahannya dengan penelitian ini. Adapun permasalahan yang diangkat dalam

tesis-tesis tersebut adalah:

Judul tesis Meifina Rosary “Tinjauan Yuridis Terhadap Perwalian Pada Anak

Muslim di bawah Umur Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan

Kompilasi Hukum Islam” (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Medan). Dengan

rumusan masalah:

1. Bagaimana tinjauan perwalian terhadap anak muslim dibawah umur menurut

Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam?

UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

13
2. Bagaimana cara pengangkatan terhadap wali bagi anak muslim di bawah umur di Pengadilan Agama?
3. Apa yang menjadi pertimbangan hakim di Pengadilan Agama dalam pengangkatan terhadap wali bagi anak muslim dibawah umur? Judul tesis Salimah “Perlindungan Hukum Terhadap Anak Yang ditemukan
akibat Gempa dan Tsunami” (penelitian di Banda Aceh). Dengan rumusan masalah: 1. Bagaimanakah kriteria anak korban gempa dan tsunami yang secara khusus mendapat perlindungan hukum dan bagaimana bentuk perlindungan hukumnya? 2. Kendala-kendala apa yang dihadapi dalam upaya perlindungan hukum terhadap anak yang diketemukan akibat gempa bumi dan tsunami? 3. Upaya apa yang dilakukan untuk mencegah terjadinya Child Trafficking (perdagangan anak) terhadap anak korban gempa dan tsunami? Penulis tertarik membahas penelitian dengan judul “tinjauan yuridis
pelaksanaan perwalian terhadap anak dibawah umur pasca tsunami di Aceh” (studi di Banda Aceh), khususnya dalam konteks perwalian di Aceh setelah bencana gempa dan tsunami, yang menyebabkan sistem perwalian yang dilaksanakan pada umumnya bukan dari hasil penunjukkan berdasarkan hukum formal, tetapi berdasarkan persetujuan bersama dalam keluarga atau komunitas dalam masyarakat setempat. Dimana pengelolaan harta milik si anak yang membutuhkan wali, tidak dijalankan sesuai petunjuk hukum, melainkan berjalan apa adanya, yang berdasarkan pada kesepakatan dan kenyakinan dalam masyarakat, sehingga hal ini menyebabkan tidak
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

14
memiliki suatu kepastian hukum, banyak anak-anak yang tidak memiliki orang tua dan membutuhkan suatu kepastian hukum dalam kedudukan perwalian, maka diperlukan suatu putusan hukum yang mengikat.
Berdasarkan pembuktian diatas dengan demikian penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. F. Kerangka Teori Dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Teori merupakan suatu prinsip yang dibangun dan dikembangkan melalui proses penelitian yang dimaksudkan untuk menggambarkan dan menjelaskan suatu masalah dan “suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak benarannya”.17
Kamus Umum Bahasa Indonesia menyebutkan, bahwa salah satu arti teori ialah:
“pendapat, cara-cara dan aturan-aturan untuk melakukan sesuatu”18. Menurut J. Supranto “teori dipergunakan sebagai landasan atau alasan mengapa suatu variabel bebas tertentu dimasukan dalam penelitian, karena berdasarkan teori tersebut variabel bersangkutan memang dapat mempengaruhi variabel tak bebas atau merupakan salah satu penyebab”19. Otje Salman dan Anton F Susanto, mengutip pendapat W.L.Neuman yang menyebutkan, bahwa:
17 M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, FE UI, Jakarta, 1996, Hal 203 18 W.J.S.Poerwardaminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985, hal.1055. 19 J.Supranto, Metode Penelitian Hukum Dan Statistik, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal.192193.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

15
“Teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan tentang dunia. Ia adalah cara yang ringkas untuk berfikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja”20.
Otje Salman dan Anton F Susanto akhirnya menyimpulkan pengertian teori menurut pendapat beberapa ahli, dengan rumusan sebagai berikut:
“Kerangka Teori adalah seperangkat gagasan yang berkembang disamping mencoba secara maksimal untuk memenuhi kriteria tertentu, meski mungkin saja hanya memberikan kontribusi parsial bagi keseluruhan teori yang lebih umum”.21 Menurut M Solly lubis. “Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang bagi pembaca menjadi bahan perbandingan, pegangan teori, yang mungkin ia setujui ataupun yang tidak disetujui, ini merupakan masukan eksternal bagi peneliti”.22 Teori ini sendiri adalah serangkaian proposisi atau keterangan yang saling berhubungan dan tersusun dalam sistem deduksi yang mengemukakan suatu penjelasan atas segala gejala yang ada atau “seperangkat proposisi yang berisi konsep abstrak atau konsep yang sudah didefenisikan dan saling berhubungan antara variabel sehingga menghasilkan pandangan sistematis dari fenomena yang di gambarkan oleh variabel dengan lainnya dan menjelaskan bagaimana hubungan antar variabel tersebut”.23
20 HR.Otje Salman S dan Anton F Susantop, Teori Hukum, Refika Aditama, Bandung, 2005, hal, 22. 21 Ibid, hal. 23. 22 M. Solly Lubis (I), Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung ; Mandar Maju,1994), hal. 80, 23 Maria S.W. Sumardjono, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Gramedia Yogyakarta, 1989, hal 12-13.
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA

16
Dalam penelitian ini, menetapkan suatu kerangka teori adalah merupakan suatu keharusan. Hal ini dikarenakan, kerangka teori itu digunakan sebagai landasan berfikir untuk menganalisa permasalahan yang dibahas, adapun teori yang digunakan teori Hukum Pembangunan yang dikemungkakan Mukhtar Kusumaatmaja yang memakai kerangka acuan pada pandangan hidup (way of live) masyarakat serta bangsa Indonesia berdasarkan asas Pancasila yang bersifat kekeluargaan terhadap norma, asas, lembaga dan kaidah yang terdapat dalamnya. Pada dasarnya “Teori Hukum Pembangunan memberikan dasar fungsi hukum sebagai sarana pembaharuan masyarakat (law as a tool of social engeneering) dan hukum sebagai suatu sistem sangat diperlukan bagi bangsa Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang”.24
Menurut Lilik Mulyadi yang mengutip pendapat Mukhtar Kusumaatmadja, menyebutkan bahwa:
Tujuan pokok hukum

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2954 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 971 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 885 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 957 23