Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan dari Fraksi Etil Asetat Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIOKSIDAN DARI
FRAKSI ETIL ASETAT TUMBUHAN PAKU
Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi

AGUNG PRIYANTO
NIM. 109102000011

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI FARMASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
JULI 2013/1434 H

ii

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya sendiri,
dan semua sumber yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar. `

Nama

: Agung Priyanto

NIM

: 109102000011

Tanda Tangan

:

Tanggal

: Juli 2013

iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama

: AgungPriyanto

NIM

: 109102000011

Program Studi

: Farmasi

Judul

: Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan Dari Fraksi Etil Asetat
Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr

Menyetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Ismiarni Komala, M.Sc., Ph.D., Apt
NIP : 197806302006042001

Puteri Amelia, M.Farm., Apt
NIP : 198012042011012004

Mengetahui,

Kepala Program Studi Farmasi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Drs. Umar Mansur, M.Sc

iv

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

Skripsi ini diajukan oleh
Nama
NIM
Program Studi
Judul

:

: Agung Priyanto
: 109102000011
: Farmasi
: Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan Dari Fraksi Etil Asetat
Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr.

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima
sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar
Sarjana Farmasi pada Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I

: Ismiarni komala, M.Sc., Ph.D., Apt (

)

Pembimbing II

: Putei Amelia, M.Farm., Apt

(

)

Penguji I

: Prof. Atiek Soemiati, M.Si., Apt

(

)

Penguji II

: Eka Putri, M.Si., Apt

(

)

Ditetapkan di
Tanggal

: Ciputat
: Juli 2013

v

ABSTRAK

Nama

: Agung Priyanto

Program studi : Farmasi
Judul

:Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan dari Fraksi Etil Asetat
Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr.

Tumbuhan paku digunakan secara luas dalam pengobatan tradisional seperti
pengobatan inflamasi, infeksi, impotensi dan permasalahan dalam kehamilan.
Ekstrak etanol Nephrolepis falcata dilaporkan memiliki aktivitas antioksidan
dengan nilai IC5072 µg/mL (Komala, 2012). Studi pendahuluan terhadap aktivitas
antioksidan, menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan dan etil asetat dari
Nephrolepis falcata aktif dalam menangkap radikal 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl
(DPPH). Studi lebih lanjut dalam mengisolasi komponen kimia dari ekstrak etil
asetat, memperoleh senyawa aktif antioksidan, yang diduga sebagai senyawa
β-sitosterol. Struktur kimia di elusidasi dengan menggunakan metode
spektroskopi antara lain (FTIR, UV-Visible dan 1H-RMI) dan data yang diperoleh
di hubungkan dengan literatur data dari β-sitosterol. β-sitosterol telah diketahui
memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 389,5 µM (Baskar, et al., 2010)
Kata Kunci : Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr, tumbuhan paku, β-sitosterol,
triterpenoid.

vi

ABSTRACT

Name

: Agung Priyanto

Program study : Pharmacy
Title

: Isolation of Active Antioxidant Compound from Ethyl Acetate
Fraction of Ferns Nephrolepis falcata (Cav) C. Chr..

Ferns widely used in traditional medicine against inflammation, infection,
impotence and problems in pregnancy. Ethanol extract of Nephrolepis falcata was
reported to have antioxidant activity with IC50 value 31,72 µg/mL (Komala, 2012).
Preliminary study on the antioxidant activity, showed that n-hexane and ethyl
acetate extracts of Nephrolepis falcata were active scavenging free radical
2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Further study on the isolation of the
chemical components of the Ethyl acetate extract gave the active antioxidant
compound, which was suggested as β-sitosterol. The structure were elucidated by
using spectroscopic data such as (FTIR, UV-Visible and 1H-NMR) and the data
were compared to the reference data of β-sitosterol. β-sitosterol was known to
have antioxidant activity with IC50 value 389,5 µM (Baskar, et al., 2010).
Keyword : Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr, ferns, β-sitosterol, triterpenoid.

vii

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmaanirrahiim
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas segala
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan
penyusunan skripsi dengan judul “Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan Dari
Fraksi Etil Asetat Tumbuhan Paku Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr”. Skripsi
ini disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program pendidikan
tingkat Strata 1 (S1) pada Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran dan
Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta.
Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ucapan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Ismiarni Komala, M.Sc., Ph.D., Apt dan Ibu Puteri Amelia, M.Farm.,
Apt. Selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan, waktu, serta
motivasi kepada penulis selama penelitian.
2. Prof.DR (hc). Dr. M. K Tadjudin, Sp. And. Selaku dekan Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatulah Jakarta.
3. Drs. Umar Mansur, M.Sc. Selaku ketua Program Studi Farmasi Fakultas
Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatulah Jakarta.
4. Dosen-dosen, staff, karyawan Program Studi Farmasi Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah
Jakarta serta karyawan Perpustakaan Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulah Jakarta.
5. Kepada Ka Eris, Ka Tiwi, Ka Lisna, Ka Liken Ka Rani, Ka Yopi, Ka
Rahmadi yang telah memberi banyak bantuan kepada penulis selama
penelitian di kampus.
6. Kepada kedua orang tua penulis bapak Jasmo, dan Ibu Sudjinem, kakak
Rahayu Apriyanti dan adik Aisyah Khumairah yang senantiasa memberi

viii

support, semangat dan doanya kepada penulis. dalam menyelesaikan
skripsi ini.
7. Kepada Dyah Mundir Sari yang telah memberikan motivasi, dukungan dan
semangat kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat Farmasi angkatan 2009. Muhammad Arif, Gian Pertela
Muchammad Irsyad, Wardah Nabiella, Fauziah Utami, Widya Larasaty
Risda Yulianti, Indah fadlul Maula dan seluruh teman-teman farmasi
angkatan 2009, Terima kasih untuk semangat dan motivasinya.
9. Sahabat-sahabat seperjuangan di laboratorium PHA, Ferry Indar
Ardiansyah, M. Muaffaq Zaki, Siti Zamilatul Azkiyah, Putri Assifa,
Maulida Putri Ahdaini.
10. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang turut
membantu menyelesaikan skripsi.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih memiliki banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima segala saran
dan kritik.
Semoga kebaikan yang telah diberikan kepada penulis dicatat sebagai
amal ibadah dan dibalas oleh Allah SWT dan penulis berharap semoga
penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan dalam pengembangan
ilmu pengetahuan. Aamiin.

Ciputat, Juli 2013
Penulis

ix

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIRUNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sivitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta, Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

: Agung Priyanto

NIM

: 109102000011

Program studi

: Farmasi

Fakultas

: Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK)

Jenis Karya

: Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui skripsi/karya
ilmiah saya dengan judul
ISOLASI SENYAWA AKTIF ANTIOKSIDAN DARI FRAKSI ETIL
ASETAT TUMBUHAN PAKU Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr
untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital
Library Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
untuk kepentingan akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta.
Dengan demikian persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan
sebenarnya.

Dibuat di

: Ciputat

Pada Tanggal :

Juli 2013

Yang menyatakan,

(Agung Priyanto)

x

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ..........................................................................................
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ...............................................
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ...............................................
HALAMAN PENGESAHAN .............................................................................
ABSTRAK............................................................................................................
ABSTRACT ........................................................................................................
KATA PENGANTAR .........................................................................................
HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ...................
DAFTAR ISI .......................................................................................................
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
DAFTAR TABEL ...............................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................

ii
iii
iv
v
vi
vii
viii
x
xi
xiv
xv
xvi

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................
1.1 Latar Belakang ...................................................................................
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................
1.3 Tujuan Penelitian ...............................................................................
1.4 Manfaat Penelitian..............................................................................

1
1
3
3
4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .........................................................................
2.1 Tumbuhan Paku .................................................................................
2.1.1 Habitat Tumbuhan Paku .........................................................
2.1.2 Penggunaan Tradisional Tumbuhan Paku ..............................
2.2 Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr .....................................................
2.2.1 Klasifikasi...............................................................................
2.2.2 Kandungan Kimia dan Aktivitas Biologis .............................
2.3 Radikal Bebas .....................................................................................
2.3.1 Reaksi Perusakan Radikal Bebas Terhadap Sel .....................
2.4 Antioksidan ........................................................................................
2.5 Uji Aktivitas Antioksidan Dengan Metode DPPH .............................
2.6 Ekstrak dan Ekstraksi .........................................................................
2.6.1 Ekstraksi Cara Dingin ............................................................
2.6.2 Ekstraksi Cara Panas ..............................................................
2.6.3 Macam-macam Teknik Ekstraksi Lain...................................
2.7 Pelarut.................................................................................................
2.8 Vaccum Rotary Evaporator ................................................................
2.9 Metode Isolasi ....................................................................................
2.9.1 Kromatografi ..........................................................................
2.9.2 Kromatografi Lapis Tipis .......................................................
2.9.3 Identifikasi Kromatogram ......................................................

5
5
5
5
7
7
7
8
9
9
10
12
13
14
15
16
18
19
19
20
23

xi

2.9.4 Sistem Fase Gerak Pada KLT ................................................
2.9.5 Kromatografi Gas ...................................................................
2.9.6 Kromatografi Kolom ..............................................................
2.10 Elusidasi Struktur .............................................................................
2.10.1 UV-Visible ..............................................................................
2.10.2 Spektrofotometri Infra Merah ................................................
2.10.3 Spektrofotometri Massa .........................................................
2.10.4 Kromatografi Gas-Spektrofotometri Massa (KG-SM)...........
2.10.5 Resonansi Magnetik Inti (RMI) .............................................
2.11 Kerangka Konsep .............................................................................

24
24
25
26
26
27
28
28
29
30

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ........................................................... 31
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................. 31
3.2 ALAT DAN BAHAN ........................................................................ 31
3.2.1 Alat ......................................................................................... .31
3.2.2 Sampel Tumbuhan .................................................................. 31
3.2.3 Bahan Kimia ........................................................................... 31
3.2.4 Instrumen ................................................................................ 32
3.3 PROSEDUR KERJA ......................................................................... 32
3.3.1 Pemeriksaan Sampel Tumbuhan ............................................ 32
3.3.2 Penyiapan Simplisia ............................................................... 32
3.3.3 Pembuatan Ekstrak ................................................................. 32
3.3.4 Kromatografi Lapis Tipis ....................................................... 33
3.3.5 Skrining Fitokimia .................................................................. 34
3.3.6 Uji Kualitatif Aktivitas Antioksidan Dengan DPPH .............. 35
3.3.7 Isolasi Senyawa Aktif Antioksidan Dengan
Kromatografi Kolom .............................................................. 36
3.3.8 Pemurnian Kristal ................................................................... 37
3.3.9 Uji Kualitatif Aktivitas Antioksidan Senyawa
Murni ...................................................................................... 37
3.3.10 Uji Kemurnian Senyawa Aktif Antioksidan .......................... 37
3.3.10.1 Kromatografi Lapis Tipis 2 Dimensi ..................... 38
3.3.10.2 Uji Titik Leleh ....................................................... 38
3.3.10.3 Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT) .................................................................. 39
3.3.11 Penentuan Struktur Molekul ................................................... 39
3.3.11.1 UV-Visible .............................................................. 39
3.3.11.2 FTIR ....................................................................... 39
3.3.11.3 1H-RMI .................................................................. 39
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................
4.1 Penyiapan Bahan ...............................................................................
4.2 Ekstraksi ............................................................................................
4.3 Hasil Penapisan Fitokimia ..................................................................
4.4 Hasil Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ..............................................
4.5 Hasil Uji Kualitatif Aktivitas Antioksidan Dengan DPPH ................
4.6 Hasil Pemisahan Dengan Kromatografi Kolom .................................
4.7 Hasil Uji Kemurnian Senyawa ...........................................................

xii

40
40
41
41
42
43
44
46

4.7.1 Hasil Uji Titik Leleh (Melting Point) .......................................
4.7.2 Hasil KCKT ..............................................................................
4.7.3 Hasil KLT 2 Dimensi................................................................
4.8 Penentuan Struktur Molekul Senyawa Fraksi F2.D ...........................
4.8.1 Hasil UV-Visible .......................................................................
4.8.2 Hasil Spektrofotometri Infra Merah .........................................
4.8.3 Hasil Resonansi Magnetik Inti Proton (1H-RMI) .....................
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................
5.1 Kesimpulan ........................................................................................
5.2 Saran ..................................................................................................

46
46
46
47
47
48
48
53
53
53

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 54

xiii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1.Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr ....................................................
Gambar 2.2 Struktur molekul senyawa seskuiterpenoid tipe drimane ..................
Gambar 2.3 Reaksi penghambatan antioksidan primer terhadap radikal lipid .....
Gambar 2.4 Reaksi penghambatan antioksidan terhadap radikal DPPH .............
Gambar 3.1 KLT 2 dimensi ..................................................................................
Gambar 4.1 Hasil uji kualitatif antioksidan ekstrak ..............................................
Gambar 4.2 Hasil uji kualitatif antioksidan isolat .................................................
Gambar 4.3 Hasil KLT 2 dimensi dari senyawa fraksi F2.D ................................
Gambar 4.4 Struktur molekul β-sitosterol.............................................................

xiv

7
8
10
12
36
42
44
46
51

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Penggunaan Tumbuhan Paku Sebagai Bahan Obat Tradisional ........... 6
Tabel 4.1 Hasil Rendemen Ekstrak n-Heksana dan Etil Asetat ............................ 41
Tabel 4.2 Hasil Penapisan Fitokimia Ekstrak Etil Asetat ..................................... 42
Tabel 4.3 Hasil Isolat Dari Ekstrak Etil Asetat ..................................................... 45
Tabel 4.4 Data Geseran Kimia Proton Senyawa Fraksi F2.D yang
diukur pada frekuensi 500 MHz dengan pelarut CDCl3 ....................... 49
Tabel 4.5 Perbandingan Serapan Gugus Fungsi Senyawa
Fraksi F2.D Dengan Senyawa β-sitosterol ........................................... 50
Tabel 4.6 Perbandingan Geseran Kimia Proton Senyawa
Fraksi F2.D Dengan β-sitosterol........................................................... 51

xv

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Hasil determinasi tumbuhan paku Nephrolepis falcata .................
Lampiran 2. Bagan alur ekstraksi tumbuhan paku Nephrolepis falcata .............
Lampiran 3. Uji kromatografi lapis tipis ekstrak etil asetat dan
n-heksana Nephrolepis falcata ......................................................
Lampiran 4. Bagan isolasi senyawa aktif antioksidan tumbuhan paku
Nephrolepis falcata .......................................................................
Lampiran 5. Hasil analisis senyawa fraksi F2.D dengan KCKT .......................
Lampiran 6. Hasil analisis senyawa fraksi F2.D dengan UV-Visible .................
Lampiran 7. Hasil Spektrum IR Senyawa Fraksi F2.D ......................................
Lampiran 8. Hasil spektrum 1H-RMI senyawa Fraksi F2.D ...............................
Lampiran 9. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ..................
Lampiran 10. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ..................
Lampiran 11. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ...................
Lampiran 12. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ...................
Lampiran 13. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ...................
Lampiran 14. Hasil Spektrum 1H-RMI Senyawa F2.D (Diperbesar) ...................
Lampiran 15. Spektrum 1H-RMI senyawa β-Sitosterol ........................................

xvi

61
62
63
64
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Tumbuhan telah banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional

sejak zaman dahulu. Berbagai jenis tumbuhan obat telah digunakan oleh
sekitar 80% dari populasi masyarakat dunia, meskipun dalam kebanyakan
kasus, tidak ada penelitian ilmiah yang telah dilakukan untuk membuktikan
khasiat tumbuhan obat tersebut (Verpoorte, et al., 2006). Setidaknya 80%
dari populasi masyarakat dunia diperkirakan masih akan menggunakan obat
tradisional seperti dalam perawatan kesehatan. Dari 40.000 sampai 70.000
jenis tumbuhan obat, sekitar 20% dari semua spesies adalah tumbuhan
tingkat tinggi (Verpoorte, et al., 2006).
Aktivitas farmakologi dari tumbuhan obat, sering tergantung dari
keberadaan

senyawa

bioaktif

yang

disebut

metabolit

sekunder

(Bruneton, 1999; Heinrich, et al., 2004). Dalam tumbuhan, metabolit
sekunder memiliki fungsi penting sebagai perlindungan terhadap predator,
mikroba patogen atas dasar sifatnya yang beracun, dan perlindungan
terhadap herbivora, mikroba, serta beberapa di antaranya juga terlibat dalam
pertahanan

terhadap

stres

abiotik

(misalnya

paparan

UV-B)

(Schafer, et al., 2009), metabolit sekunder juga penting untuk komunikasi
dari tumbuhan dengan organisme lain (Rosenthal, et al., 1991). Metabolit
sekunder dari tumbuhan yang memiliki aktivitas sebagai obat, dilaporkan
terdiri dari lilin, asam lemak, alkaloid, terpenoid, fenolat, antara lain fenolat
sederhana, flavonoid, glikosida, dan turunannya (Sarker, et al., 2006).
Indonesia adalah negara megabiodiversity yang kaya akan tumbuhan
obat, dan sangat potensial untuk dikembangkan, namun belum dikelola
secara maksimal. Kekayaan alam tumbuhan di Indonesia meliputi 30.000
jenis tumbuhan dari total 40.000 jenis tumbuhan di dunia, 940 jenis
diantaranya merupakan tumbuhan berkhasiat obat. Jumlah ini merupakan
90% dari jumlah tumbuhan obat di Asia (Pers, 2010). Berdasarkan hasil

1

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2

penelitian, dari sekian banyak jenis tumbuhan obat, baru 20-22% yang
dibudidayakan (Pers, 2010). Potensi tumbuhan obat di Indonesia, termasuk
tumbuhan obat kehutanan, apabila dikelola dengan baik akan sangat
bermanfaat dari segi ekonomi, sosial, budaya maupun lingkungan.
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang distribusinya tersebar
luas di Indonesia dan menjadi salah satu sumber kekayaan alam Indonesia.
Tumbuhan paku sangat mudah tumbuh di Indonesia karena iklim Indonesia
sangat cocok untuk pertumbuhan tumbuhan tersebut. Tumbuhan paku
merupakan tumbuhan yang dikenal pertama kali memiliki sistem pembuluh
sejati. Tumbuhan ini tidak menghasilkan biji dan mereka merupakan
tumbuhan yang paling sederhana diantara tumbuhan yang memiliki sistem
pembuluh sejati (Tracheophytes). Tumbuhan paku distribusinya tersebar
luas di seluruh dunia dan jumlahnya melimpah dalam studi geologi.
Tumbuhan paku tumbuh dengan baik di tempat lembab, dingin dan teduh
serta tersedianya air (Fathima, et al., 2007).
Berdasarkan studi fitokimia, tumbuhan paku telah dilaporkan
mengandung senyawa golongan flavonoid, terpenoid, senyawa fenol dan
xanton (Soeders, 1985). Beberapa tumbuhan paku juga telah dilaporkan
memiliki aktivitas biologis seperti antibakteri, antihelmintik, ekspektoran
dan antioksidan (Lai, 2011).
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat mencegah oksidasi dari
molekul lain dengan cara menghalangi inisiasi atau propagasi dari reaksi
oksidasi berantai. Di dalam industri makanan, antioksidan digunakan sejak
lama sebagai bahan aditif untuk melindungi produk makanan dari reaksi
oksidasi yang berhubungan dengan penurunan kualitas makanan seperti
berbau tengik (Lee, et al., 2004).
Telah dilaporkan bahwa antioksidan alami terdapat dalam banyak
tumbuhan yang berfungsi dalam mengurangi kerusakan sel dan membantu
mencegah mutagenesis, karsinogenesis dan penuaan akibat aktivitas radikal
bebas (Lee, et al., 2004). Antioksidan alami telah diisolasi dari berbagai
macam

buah-buahan,

sayur-sayuran

dan

tumbuhan

obat

(Boveris et al., 2001).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

3

Nephrolepis falcata merupakan salah satu tumbuhan paku yang sangat
mudah ditemukan di Indonesia yang banyak digunakan sebagai tanaman
hias. Berdasarkan penelusuran kepustakaan, penelitian mengenai tumbuhan
ini masih sangat sedikit, baik usaha dalam menentukan metabolit sekunder
maupun dalam penggunaannya sebagai bahan obat. Tetapi spesies lain dari
genus Nephrolepis, yaitu Nephrolepis radicans dilaporkan memiliki
aktivitas antioksidan (Dayanti & Suyatno, 2012), dan Nephrolepis bisserata
dilaporkan

memiliki

aktivitas

sebagai

antioksidan

dengan

nilai

lC50 0,53 mg/mL (Lai, 2011).
Dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Komala, 2012),
telah

dilaporkan

bahwa

ekstrak

etanol

70%

dari

tumbuhan

Nephrolepis falcata yang diambil dari wilayah kampus UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai lC50 31,72
µg/mL. Untuk mengetahui jenis metabolit sekunder dalam tumbuhan ini
yang memberikan aktivitas antioksidan, maka dilakukan penelitian lebih
lanjut dalam mengisolasi kandungan metabolit sekunder dari tumbuhan
Nephrolepis falcata yang memiliki aktivitas antioksidan.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan penelusuran pustaka, belum diketahuinya senyawa yang

memberikan

aktivitas

antioksidan

dalam

tumbuhan

paku

Nephrolepis falcata (cav,) C.Chr.

1.3

Tujuan Penelitian

a.

Mengetahui senyawa aktif antioksidan dari fraksi etil asetat tumbuhan
paku Nephrolepis falcata.

b.

Menentukan struktur kimia dari senyawa murni hasil isolasi yang
diduga

memiliki

aktivitas

antioksidan

dari

tumbuhan

paku

Nephrolepis falcata.
c.

Mengidentifikasi aktivitas antioksidan dari senyawa hasil isolasi.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

4

1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

masyarakat mengenai khasiat dari tumbuhan Nephrolepis falcata, sehingga
dapat digunakan sebagai bahan obat tradisional. Penelitian ini juga
diharapkan memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dengan memberikan informasi terhadap aktivitas antioksidan tumbuhan
Nephrolepis falcata. Mengingat tumbuhan ini belum pernah diteliti
sebelumnya, diharapkan ditemukan senyawa baru yang nantinya mungkin
didapatkan yang akan memperkaya pengetahuan dalam bidang kimia bahan
alam.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tumbuhan Paku
Secara taksonomi tumbuhan paku berada diantara tumbuhan tingkat tinggi

(gymnosperma dan angiosperma) dan tumbuhan lumut (bryophyta). Berbeda
dengan alga dan lumut, tumbuhan paku telah memiliki jaringan pengangkut
seperti xilem dan floem tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi
seksualnya (Pooja, 2004).
2.1.1 Habitat Tumbuhan Paku
Habitat tumbuhan paku terdiri dari kondisi iklim yang rendah dengan lokasi
khusus pada tempat-tempat lembab dan teduh. Gangguan kecil terhadap kondisi
iklim tempat tumbuh mereka, dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar
spesies.
Tumbuhan paku terdapat dalam jumlah besar di hutan tropis, subtropis,
temperatur dan kelembaban yang rendah dan siklus hidup mereka didasarkan pada
keberadaan hutan (Dudani, et al., 2010).
2.1.2 Penggunaan Tradisional Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku telah banyak digunakan sebagai bahan obat tradisional di
beberapa negara, seperti di kepulauan Hawaii yang menggunakan tumbuhan paku
dari spesies Nephrolepis sebagai bahan obat dalam penyembuhan beberapa
penyakit, diantaranya penyakit diabetes, infeksi yang disebabkan jamur ataupun
bakteri. Selanjutnya tumbuhan paku spesies Nephrolepis tuberosa yang secara
tradisional digunakan untuk menurunkan demam. Bagian daun dari tanaman ini
digunakan untuk mengobati perdarahan pada luka dan akar dari tanaman ini
digunakan

dalam

mengobati

infeksi

serta

sebagai

obat

batuk

(Ja & Sharma, 2012)
Beberapa tumbuhan paku yang digunakan sebagai bahan obat tradisional
antara lain (Lai, et al., 2011):

5

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

6

Tabel 2.1. Penggunaan Tumbuhan Paku Sebagai Bahan Obat Tradisional.

Nama Tumbuhan

Acrostichum aureum
(Pteridaceae)

Blechnum orientale
(Blechnaceae)

Cibotium barometz
(Dicksoniaceae)

Penggunaan Sebagai Obat Tradisional

Sinus, sakit tenggorokan, kesehatan pada
kehamilan, sembelit, obat penurun panas
dan nyeri dada.

Untuk pengobatan luka lecet, abses dan
impotensi.
Untuk pengobatan tifus, dispepsia, batuk
dan untuk pengobatan penyakit ginjal
dan hati.
Sebagai

antihelmintik,

antibakteri,

Dicranopteris linearis

pengobatan penyakit asma, gangguan

(Gleicheniaceae)

pencernaan,

wasir,

tukak

lambung,

epilepsi dan nyeri usus buntu.
Untuk pengobatan tifus, TBC, dispepsia,
Drynaria quercifolia

penyakit paru-paru, sebagai ekspektoran,

(Polypodiaceae)

antihelmintik, meredakan sakit kepala
dan radang usus.

Lygodium circinnatum

Untuk menetralkan racun ular dan luka

(Schizaeaceae)

akibat sengatan serangga.

Nephrolepis biserrata
(Nephrolepidaceae)
Pityrogramma calomelanos
(Hemionitidaceae)
Pyrossia nummularifolia

Untuk pengobatan luka lecet dan abses

Untuk pengobatan sakit ginjal
Sebagai obat batuk

(Polypodiaceae)

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

7

2.2

Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr

Gambar 2.1. Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr
(Sumber: Koleksi Pribadi, Februari 2013)
2.2.1 Klasifikasi
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Pteridophyta

Class

: Polypodiopsida = Filicopsida

Order

: Polypodiales

Family

: Davalliaceae

Genus

: Nephrolepis

Species

: Nephrolepis falcata (Cav.) C.Chr.

(http://plants.usda.gov, USA Departement Of Agriculture, Maret 2013)
2.2.2 Kandugan Kimia dan Aktivitas Biologis
Belum ada penelitian sebelumnya yang mempublikasikan mengenai
kandungan kimia dari Nephrolepis falcata. Tetapi spesies lain dari genus
Nephrolepis yaitu Nephrolepis biserrata diketahui bahwa tumbuhan ini
mengandung senyawa seskuiterpenoid tipe drimane (Seims, et al., 1996), dan
dilaporkan bahwa tumbuhan ini memiliki aktivitas sebagai antioksidan
(Lai, et al., 2011). Aktivitas biologis Nephrolepis falcata dilaporkan, bahwa
ekstrak etanol 70% dari tumbuhan tersebut memiliki aktivitas sebagai antioksidan
dengan nilai IC50 31,72 µg/mL (Komala, 2012).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

8

Gambar 2.2. Struktur Molekul Senyawa Seskuiterpenoid Tipe Drimane
(Seims, et al., 1996).

2.3

Radikal Bebas
Radikal bebas merupakan atom, molekul atau senyawa-senyawa yang

mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan yang bersifat sangat
reaktif dan tidak stabil (Surai, 2003). Agar menjadi stabil, radikal bebas
memerlukan elektron yang berasal dari pasangan elektron di sekitarnya, sehingga
terjadi perpindahan elektron dari molekul donor ke molekul radikal untuk
menjadikan radikal tersebut stabil (Simanjuntak, et al., 2012).
Senyawa radikal yang terdapat dalam tubuh (prooksidan) dapat berasal dari
luar tubuh (eksogen) atau terbentuk di dalam tubuh (endogen) dari hasil
metabolisme zat gizi secara normal (Muchtadi, 2000). Secara eksogen, senyawa
radikal antara lain berasal dari polutan, makanan atau minuman, radiasi, ozon dan
pestisida (Supari, 1996). Sedangkan secara endogen, senyawa radikal dapat timbul
melalui beberapa macam mekanisme seperti autooksidasi, aktivitas oksidasi dan
sistem transpor elektron.
Radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan pada sel dengan cara
mengoksidasi DNA, sehingga DNA mengalami mutasi dan dapat menyebabkan
penyakit degeneratif (Wang, et al., 2002), senyawa radikal bebas juga dapat
menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh sehingga terjadi proses penuaan dan
menimbulkan penyakit autoimun (Muchtadi, 2000)

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

9

2.3.1 Reaksi Perusakan Radikal Bebas Terhadap Sel
a. Peroksidasi Lemak
Membran sel kaya akan sumber poly unsaturated fatty acid (PUFA),
yang mudah dirusak oleh bahan-bahan pengoksidasi; proses tersebut
dinamakan peroksidasi lemak. Hal ini sangat merusak, karena merupakan
suatu proses berkelanjutan. Pemecahan hidroperoksida lemak sering
melibatkan katalisis ion logam transisi (Droge, 2002).
b. Kerusakan Protein
Protein dan asam nukleat lebih tahan terhadap radikal bebas daripada
PUFA, sehingga kecil kemungkinan terjadinya reaksi berantai yang cepat.
Serangan radikal bebas terhadap protein sangat jarang kecuali bila sangat
ekstensif. Hal ini terjadi hanya jika radikal tersebut mampu berakumulasi
(jarang pada sel normal), atau bila kerusakannya terfokus pada daerah
tertentu dalam protein. Salah satu penyebab kerusakan terfokus adalah jika
protein berikatan dengan ion logam transisi (Droge, 2002).
c. Kerusakan DNA
Seperti pada protein, kecil kemungkinan terjadinya kerusakan pada
DNA menjadi suatu reaksi berantai, biasanya kerusakan terjadi bila ada
lesi pada susunan molekul, apabila tidak dapat diatasi, dan terjadi sebelum
replikasi, maka akan terjadi mutasi. Radikal oksigen dapat menyerang
DNA jika terbentuk disekitar DNA seperti pada radiasi biologis
(Allen, et al., 2000).

2.4

Antioksidan
Antioksidan adalah zat yang dapat melawan pengaruh bahaya dari radikal

bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang terbentuk sebagai hasil dari
metabolisme oksidatif, yaitu hasil dari reaksi-reaksi kimia dan proses metabolik
yang terjadi dalam tubuh (Goldberd, 2003). Senyawa antioksidan dapat berfungsi

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

10

sebagai penangkap radikal bebas, membentuk kompleks dengan logam-logam
peroksida dan berfungsi sebagai senyawa pereduksi (Andlauer, et al., 1989) .
Antioksidan dapat menangkap radikal bebas sehingga dapat menghambat
mekanisme oksidatif yang merupakan penyebab penyakit-penyakit degeneratif
seperti

penyakit

jantung,

kanker,

katarak,

disfungsi

otak

dan

artritis

(Miller, et al., 2000). Mekanisme kerja antioksidan memiliki dua fungsi, fungsi
pertama yaitu merupakan fungsi utama dari antioksidan yaitu sebagai pemberi
atom hidrogen. Antioksidan yang mempunyai fungsi utama tersebut sering disebut
sebagai antioksidan primer.
Antioksidan tersebut dapat memberikan atom hidrogen secara cepat ke
radikal lipida (R*,ROO*) atau mengubahnya ke bentuk lebih stabil, sementara
turunan radikal antioksidan (A*) tersebut memiliki keadaan lebih stabil
dibandingkan radikal lipida. Fungsi kedua merupakan mekanisme fungsi sekunder
antioksidan, yaitu memperlambat laju autooksidasi dengan berbagai mekanisme
diluar mekanisme pemutusan rantai autooksidasi dengan pengubahan radikal
lipida ke bentuk lebih stabil (Gordon, 1990).

Inisiasi

: R*

+

AH

RH + A*

+

AH

RH + A*

Radikal lipid

Propagasi

: ROO*

Gambar 2.3. Reaksi Penghambatan Antioksidan Primer Terhadap Radikal Lipid
(Gordon, 1990).

2.5

Uji Aktivitas Antioksidan Dengan Metode DPPH
Metode DPPH merupakan salah satu metode untuk menentukan aktivitas

antioksidan yang sederhana dengan menggunakan 2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl
(DPPH) sebagai senyawa pendeteksi (Surai, 2003). DPPH (2,2-diphenyl-1picrylhydrazyl) adalah senyawa radikal bebas yang stabil yang dapat bereaksi

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

11

dengan atom hidrogen yang berasal dari suatu antioksidan membentuk DPPH
tereduksi (Surai, 2003).
Metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) digunakan secara luas untuk
menguji kemampuan senyawa yang berperan sebagai pendonor elektron atau atom
hidrogen. Metode DPPH merupakan metode yang dapat mengukur aktivitas total
antioksidan baik dalam pelarut polar maupun nonpolar. Beberapa metode lain
terbatas mengukur komponen yang larut dalam pelarut yang digunakan dalam
analisa. Metode DPPH mengukur semua komponen antioksidan, baik yang larut
dalam lemak maupun dalam air (Prakash, 2001).
Metode DPPH merupakan metode yang sederhana, mudah, cepat dan peka,
serta hanya memerlukan sedikit sampel. DPPH adalah senyawa radikal bebas
stabil kelompok nitrit oksida. Senyawa ini mempunyai ciri-ciri padatan berwarna
ungu kehitaman, larut dalam pelarut DMF atau etanol/metanol, dengan rumus
molekul C18H12N5O6 (Prakash, 2001).
Radikal bebas DPPH yang memiliki elektron tidak berpasangan memberikan
warna ungu dan menghasilkan absorbansi maksimum pada panjang gelombang
517 nm. Warna akan berubah menjadi kuning saat elektronnya berpasangan.
Pengurangan intensitas warna yang terjadi berhubungan dengan jumlah elektron
DPPH yang menangkap atom hidrogen. Sehingga pengurangan intensitas warna
mengindikasikan peningkatan kemampuan antioksidan untuk menangkap radikal
bebas (Prakash, 2001).
Aktivitas antioksidan dapat dinyatakan dengan satuan persen aktivitas. Nilai
ini diperoleh dengan rumus sebagai berikut (Molyneux, 2003).
absorbansi kontrol – absorbansi sampel
% Inhibisi =

X 100%
absorbansi Kontrol

Absorbansi kontrol yang digunakan dalam prosedur DPPH ini adalah absorbansi
DPPH, sedangkan blanko yang digunakan adalah etanol 95%. Berdasarkan rumus
tersebut, semakin tinggi tingkat diskolorisasi (absorbansi semakin kecil) maka
semakin tinggi nilai aktivitas penangkapan radikal bebas (Molyneux, 2003).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

12

(2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)

(2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyn)

Gambar 2.4. Reaksi Penghambatan Antioksidan Terhadap Radikal DPPH
(Prakash, 2001).

Aktivitas antioksidan pada metode DPPH dinyatakan dengan IC 50
(Inhibition Concentration). IC50 adalah bilangan yang menunjukkan konsentrasi
ekstrak yang mampu menghambat aktivitas DPPH sebesar 50%. Semakin kecil
nilai IC50 berarti semakin tinggi aktivitas antioksidan. Secara spesifik, suatu
senyawa dikatakan sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai IC50 kurang dari 0,05
mg/mL,aktivitas kuat untuk IC50 antara 0,05-0,1 mg/mL, aktivitas sedang jika IC50
bernilai 0.101–0.150 mg/mL dan aktivitas lemah jika IC50 bernilai 0,151 – 0,200
mg/mL (Blois, 1958).

2.6

Ekstrak dan Ekstraksi
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi zat

aktif dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut dan massa atau serbuk yang
tersisa, diperlakukan sehingga memenuhi baku yang telah ditetapakan
(Soesilo, 1995). Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair, dibuat dengan
menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai diluar pengaruh
cahaya matahari langsung (Tiwari, et al., 2011).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

13

Parameter

yang

mempengaruhi

kualitas

dari

ekstrak

adalah

(Tiwari, et al., 2011):
a) Bagian dari tumbuhan yang digunakan.
b) Pelarut yang digunakan untuk ekstraksi.
c) Prosedur ekstraksi
Selama proses ekstraksi, pelarut akan berdifusi sampai ke material padat dari
tumbuhan dan akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang sesuai dengan
pelarutnya. Efektivitas ekstraksi senyawa kimia dari tumbuhan bergantung pada.
a) Bahan-bahan tumbuhan yang diperoleh
b) Keaslian dari tumbuhan yang digunakan
c) Proses ekstraksi
d) Ukuran partikel
Macam-macam perbedaan metode ekstraksi yang akan mempengaruhi
kuantitas dan kandungan metabolit sekunder dari ekstrak, antara lain :
a) Tipe ekstraksi
b) Waktu ekstraksi
c) Suhu ekstraksi
d) Konsentrasi pelarut
e) Polaritas pelarut
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibagi menjadi dua
cara, yaitu cara panas dan cara dingin (Ditjen POM, 2000).
2.6.1 Ekstraksi Cara Dingin
a) Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada
temperatur kamar (Ditjen POM, 2000). Keuntungan ekstraksi dengan cara
maserasi adalah pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana,
sedangkan kerugiannya yakni cara pengerjaannya lama, membutuhkan
pelarut yang banyak dan penyarian kurang sempurna. Dalam maserasi,
serbuk halus atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan pelarut
disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan pengadukan

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

14

yang sering, sampai zat tertentu dapat terlarut. Metode ini paling cocok
digunakan untuk senyawa yang termolabil (Tiwari, et al., 2011).
b) Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
penyarian sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan
pada temperatur ruang. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan,
tahap

maserasi

antara,

(penetesan/penampungan

tahap

ekstrak),

perkolasi

terus

sampai

sebenarnya

diperoleh

ekstrak

(perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali dari bahan (Ditjen POM, 2000).
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
terjadi penyarian sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur
kamar. Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap
perendaman,

tahap

perkolasi

antara,

tahap

perkolasi

sebenarnya

(penampungan ekstrak) secara terus menerus sampai diperoleh ekstrak
(perkolat). Untuk menentukan akhir dari pada perkolasi dapat dilakukan
pemeriksaan zat secara kualitatif pada perkolat akhir. Ini adalah prosedur
yang paling sering digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam
penyusunan tincture dan ekstrak cairan (Tiwari, et al., 2011).
2.6.2 Ekstraksi Cara Panas
a) Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru,
dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi ekstraksi kontinyu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik
(Ditjen POM, 2000).
b) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut
terbatas

yang

relatif

konstan

dengan

adanya

pendingin

balik

(Ditjen POM, 2000).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

15

c) Infusa
Infusa adalah ekstraksi menggunakan pelarut air pada temperatur
penangas air dimana bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih,
temperatur yang digunakan (96-980C) selama waktu tertentu (15-20 menit)
(Ditjen POM, 2000). Cara ini menghasilkan larutan encer dari komponen
yang mudah larut dari simplisia (Tiwari, et al., 2011).
d) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥300C) dan
temperatur sampai titik didih air (Ditjen POM, 2000). Dekok adalah
ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur 90oC selama 30 menit.
Metode ini digunakan untuk ekstraksi konstituen yang larut dalam air dan
konstituen yang stabil terhadap panas (Tiwari, et al., 2011).
e) Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih tinggi dari
temperatur suhu kamar, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur
40-50oC (Ditjen POM, 2000).
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinyu pada temperatur
lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya 25-30oC). Ini adalah jenis
ekstraksi maserasi di mana suhu sedang digunakan selama proses ekstraksi
(Tiwari, et al., 2011).
2.6.3 Macam-macam Teknik Ekstraksi Lain
1) Sonikasi
Prosedur ekstraksi ini melibatkan penggunaan gelombang ultrasonik
dengan frekuensi mulai dari 20 kHz sampai 2000 kHz. Teknik ini
meningkatkan permeabilitas dinding sel dan menghasilkan kavitasi.
Meskipun proses ini berguna dalam beberapa kasus, tetapi pada skala
besar aplikasinya terbatas karena biayanya yang tinggi. Satu kelemahan
dalam teknik ini adalah efek yang merusak dari energi ultrasonik (lebih

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

16

dari 20 KHz) yang menyebabkan konstituen tanaman membentuk radikal
bebas yang tidak diharapkan (Tiwari, et al., 2011).
2) Supercritical Fluid
Teknik ekstraksi supercritical fluid memberikan fakta bahwa gas
dapat berperilaku sebagai cairan ketika berada dibawah tekanan. Salah
satu contohnya adalah karbon dioksida yang dapat digunakan untuk
mengekstrak biomassa dan memiliki keuntungan bahwa setelah tekanan
dihilangkan, molekul gas akan meninggalkan ekstrak. Karbon dioksida
bertindak sebagai pelarut non polar, tetapi polaritas ekstraksi dengan
supercritical fluid dapat ditingkatkan dengan menambahkan agen tertentu,
yang biasanya berupa pelarut lain seperti metanol atau diklormetan
(Heinrich, 2004).

2.7

Pelarut
Pelarut adalah zat yang digunakan sebagai media untuk melarutkan zat lain.

kesuksesan penentuan senyawa biologis aktif dari bahan tumbuhan sangat
tergantung pada jenis pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi
(Ncube, et al., 2008). Sifat pelarut yang baik untuk ekstraksi yaitu toksisitas dari
pelarut yang rendah, mudah menguap pada suhu yang rendah, dapat
mengekstraksi komponen senyawa dengan cepat, dapat mengawetkan dan tidak
menyebabkan ekstrak terdisosiasi (Tiwari, et al., 2011).
Pemilihan pelarut juga akan tergantung pada senyawa yang ditargetkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pelarut adalah jumlah senyawa yang
akan diekstraksi, laju ekstraksi, keragaman senyawa yang akan diekstraksi,
kemudahan dalam penanganan ekstrak untuk perlakuan berikutnya, toksisitas
pelarut dan potensial bahaya kesehatan dari pelarut (Tiwari, et al., 2011).

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

17

Berbagai pelarut yang digunakan dalam prosedur ekstraksi antara lain:
1) Air
Air adalah pelarut universal, biasanya digunakan untuk mengekstraksi
produk tumbuhan dengan aktivitas antimikroba. Meskipun pengobatan
secara tradisional menggunakan air sebagai pelarut, tetapi ekstrak tumbuhan
dari pelarut organik telah ditemukan untuk memberikan aktivitas
antimikroba

lebih

konsisten

dibandingkan

dengan

ekstrak

air

(Tiwari, et al., 2011).
Air juga melarutkan flavonoid (kebanyakan antosianin) yang tidak
memiliki aktivitas signifikan terhadap antimikroba dan senyawa fenolat
yang larut dalam air yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan.
2) Aseton
Aseton melarutkan beberapa komponen senyawa hidrofilik dan lipofilik
dari tumbuhan. Keuntungan pelarut aseton yaitu dapat bercampur dengan
air, mudah menguap dan memiliki toksisitas rendah. Aseton digunakan
terutama untuk studi antimikroba (Tiwari, et al., 2011).
3) Alkohol
Aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dari ekstrak etanol dibandingkan
dengan ekstrak air dapat dikaitkan dengan adanya jumlah polifenol yang
lebih tinggi pada ekstrak etanol dibandingkan dengan ekstrak air.
Konsentrasi yang lebih tinggi dari senyawa flavonoid terdeteksi dengan
etanol 70% karena polaritas yang lebih tinggi daripada etanol murni
(Tiwari, et al., 2011).
Etanol lebih mudah untuk menembus membran sel untuk mengekstrak
bahan intraseluler dari bahan tumbuhan. Metanol lebih polar dibanding
etanol namun karena sifatnya yang toksik, sehingga tidak cocok digunakan
untuk ekstraksi.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

18

4) Kloroform
Terpenoid lakton telah diperoleh dengan ekstraksi berturut-turut
menggunakan n-heksana, kloroform dan metanol dengan konsentrasi
aktivitas tertinggi terdapat dalam fraksi kloroform. Kadang-kadang tanin
dan terpenoid ditemukan dalam fase air, tetapi lebih sering diperoleh dengan
pelarut semipolar (Tiwari, et al., 2011).
5) Eter
Eter umumnya digunakan secara selektif untuk ekstraksi kumarin dan
asam lemak (Tiwari, et al., 2011).
6) n-Heksana
n-Heksana mempunyai karakteristik sangat tidak polar, volatil,
mempunyai bau khas yang dapat menyebabkan pingsan. Berat molekul
n-heksana adalah 86,2 gram/mol dengan titik leleh 94,3°C sampai 95,3°C.
Titik didih n-heksana pada tekanan 760 mmHg adalah 66°C sampai 71°C
(Daintith, 1994). n-Heksana biasanya digunakan sebagai pelarut untuk
ekstraksi minyak nabati.
7) Etil Asetat
Etil asetat merupakan pelarut dengan karakteristik semipolar. Etil asetat
secara selektif akan menarik senyawa yang bersifat semipolar seperti fenol
dan terpenoid.

2.8

Vacuum Rotary Evaporator
Vacuum rotary evaporator adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan

suatu larutan dari pelarutnya sehingga dihasilkan ekstrak dengan kandungan kimia
tertentu sesuai yang diinginkan. Cairan yang ingin diuapkan biasanya ditempatkan
dalam suatu labu yang kemudian dipanaskan dengan bantuan penangas dan
diputar. Uap cairan yang dihasilkan didinginkan oleh suatu pendingin (kondensor)
dan ditampung pada suatu tempat (receiver flask). Setelah Pelarutnya diuapkan,

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

19

akan

dihasilkan

ekstrak

yang

dapat

berbentuk

padatan

atau

cairan

(Nugroho, et al., 1999).
Kelebihan dari alat ini adalah diperolehnya kembali pelarut yang diuapkan.
Penggunaan vacuum rotary evaporator meningkatkan presentase plarut yang
terevaporasi

dibandingkan

dengan

menggunakan

waterbath

(Mutairi & Jasser, 2012). Prinsip kerja alat ini didasarkan pada titik didih pelarut
dan adanya tekanan yang menyebabkan uap dari pelarut terkumpul, serta adanya
kondensor yang menyebabkan uap ini mengembun dan akhirnya jatuh ke tabung
penerima (receiver flask).

2.9

Metode Isolasi
Suatu ekstrak yang telah dihasilkan dari suatu protokol ekstraksi yang sesuai

dan pengujian aktivitas biologis telah dilakukan (contohnya aktivitas antibakteri),
langkah selanjutnya adalah fraksinasi ekstrak menggunakan metode pemisahan
sehingga komponen biologis aktif dapat diisolasi (Heinrich, et al., 2004).
Pemisahan dan pemurnian kandungan tumbuhan terutama dilakukan dengan
menggunakan salah satu dari keempat teknik kromatografi atau gabungan teknik
tersebut. Keempat teknik kromatografi itu adalah: kromatografi kertas (KKt),
kromatografi lapis tipis (KLT). Kromatografi gas cair (KGC), dan kromatografi
cair kinerja tinggi (KCKT) (Harborne, 1987).
2.9.1 Kromatografi
Kromatografi merupakan metode pemisahan fisikokimia untuk memisahkan
campuran senyawa berdasarkan perbedaan waktu huni komponen campuran
dalam sistem fase diam dan fase gerak (Hostettman, et al., 1995). Prinsip
pemisahan dari kromatografi adanya distribusi komponen-komponen dalam fase
diam dan fase gerak berdasarkan sifat fisik komponen yang akan dipisahkan. Pada
dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase, yaitu fase diam
(stationer) dan fase gerak (mobile).
Menurut (Adrianingsih, 2009), persyaratan utama kromatografi antara lain:
1.

Ada fase diam dan fase gerak. Fase diam tidak boleh bereaksi
dengan fase gerak.

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

20

2.

Komponen sampel harus larut dalam fase gerak dan berinteraksi
dengan fase diam.

3.

Fase gerak harus bisa mengalir melewati fase diam, sedangkan fase
diam harus terikat kuat di posisinya.

2.9.2 Kromatografi Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan salah satu metode pili

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

99 3016 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 767 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 662 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 432 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 587 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

50 984 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 901 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 548 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 802 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 971 23