Trophic structure and population biology of fishes in Semak Daun Island, Kepulauan Seribu.

STRUKTUR TROFIK DAN BIOLOGI POPULASI IKAN
DI PERAIRAN PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU

SRIATI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul STRUKTUR
TROFIK DAN BIOLOGI POPULASI IKAN DI PERAIRAN PULAU SEMAK
DAUN KEPULAUAN SERIBU adalah hasil karya saya dengan arahan dari
komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini.

Bogor, Januari 2012

Sriati
NIM C161050031

ABSTRACT
SRIATI. Trophic Structure and Population Biology of Fishes in Semak Daun
Island, Kepulauan Seribu. Under direction of MENNOFATRIA BOER, ISMUDI
MUCHSIN and SUBHAT NURHAKIM
Reef fishes is one of primary reef resource exploited by artisanal fishers in
most Indonesian coastal areas and small islands. Sustainable management of reef
fisheries should be founded upon scientific data set combining different types of
indicators, some of which are biological and ecological indicators. The objective
of the study were (1) to analyze trophic structure on reef fish communities in
Semak Daun Island, (2) to examine population biology and exploitation on most
favored reef fish, and (3) to review the inter-relation and response between reef
fish resource with trophic level, population variables, and exploitation. The
research was conducted in the patch reefs encircling Semak Daun Island,
Kepulauan Seribu. There were seven (7) research sites representing the entire
island system. Sampling for reef fish communities was conducted by underwater
visual census and capture using gillnet and bamboo trap. Data analyses comprise
of fish density, fish trophic level, and a set of population variables. Statistical test
was performed to test the difference of fish abundance between sites and biomass
of each trophic level, to analyze the influence of population variables to fish
biomass, and the correlation between different trophic level. Research results
revealed that fish communities in Semak Daun Island comprise of different
trophic levels, from 2.10 to 4.00. The lowest fish density was presented at trophic
level 2.51-3.00, dominated by Scarus ghobban (Scaridae). Growth coefficient (K)
for dominant fish species ranged between 0.09-0.64 month-1, L∞ 49.13-190.05
mm. The range for mortality rate was 0.81-1.61 month-1, with natural mortality
rate of 0.14-0.71 month-1. Exploitation rate in general was exceeding 0.5. The
highest intensity of reef fish exploitation was performed using gill nets with
dominant yields grouper (Serranidae, Epinephelus fuscoguttatus) and tusk fish
(Labridae, Choerodon anchorago). Fish density featured to decrease its density in
parallel to the elevation of fish trophic level. There also observed sharp decline in
fish biomass at trophic level 2.51-3.00, followed by poor growth and low natural
mortality, with excessing-optimum of fish exploitation rate. Such measures
indicate that reef fish exploitation has put considerable pressure on reef fish
resources in Semak Daun Island. Pattern of energy flow was constructed referring
to fish diet and existing population dynamics, revealing that fish community at
low trophic level (2.00-2.50) had significant contribution to support reef fish
resources and greater impacted by the remaining trophic level, as well as
contributed significantly to population variables. Fish biomass at this trophic level
strongly correlated with higher trophic level (3.51-4.00). Therefore, the
management of reef fisheries at high trophic level feature critical and significant
in maintaining the stability of reef fish community at Semak Daun Island.
Keywords: Trophic level, fish communities, population biology, material flow,
Seribu Islands.

RINGKASAN
SRIATI. Struktur Trofik dan Biologi Populasi Ikan di Perairan Pulau Semak Daun
Kepulauan Seribu. Dibimbing oleh MENNOFATRIA BOER, ISMUDI
MUCHSIN dan SUBHAT NURHAKIM.

Sumberdaya ikan di Pulau Semak Daun mengalami tekanan akibat
penangkapan berlebih (overfishing) dan tidak ramah lingkungan. Hal ini ditandai
dengan penurunan kelimpahan, penurunan ukuran rata-rata individu hasil
tangkapan, berkurangnya keragaman spesies hasil tangkapan, penurunan hasil
tangkap per satuan upaya (CPUE) dan dominasi spesies berukuran relatif lebih
kecil dengan nilai ekonomis yang lebih rendah. Penurunan ukuran dapat
diakibatkan oleh selektivitas alat tangkap. Target penangkapan sering ditujukan
pada individu berukuran lebih besar dan lebih tua sehingga menurunkan proporsi
jumlah individu berukuran besar dan berumur lebih tua dalam populasi. Dengan
demikian penangkapan mempengaruhi struktur umur dan struktur ukuran dalam
populasi. Pada tingkat komunitas, pengaruh langsung penangkapan menyebabkan
pergeseran pemangsa, mangsa, atau pesaing dari komunitas ikan tersebut.
Pengaruh tersebut meliputi penurunan biomasa jenis yang semula melimpah dan
peningkatan biomasa jenis lainnya yang selanjutnya mengakibatkan perubahan
kelimpahan relatif spesies atau komposisi jenis dalam komunitas, dan selanjutnya
merubah biomasa relatif pada berbagai trofik level. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut diperlukan upaya pengelolaan sumberdaya perikanan yang
didasarkan pada suatu kajian ilmiah tentang struktur trofik pada komunitas ikan,
dimulai dari tingkat trofik paling rendah hingga ikan. Tujuan penelitian ini adalah
untuk mengkaji struktur trofik pada komunitas ikan, mengkaji parameter populasi
dan eksploitasi pada ikan dominan, dan menganalisa hubungan dan respon dari
sumberdaya sebagai akibat keterkaitan trofik level, dinamika populasi dan
eksploitasi.
Kegiatan penelitian difokuskan di perairan gosong karang sekitar Pulau
Semak Daun yang dibatasi dengan tubir, dibagi dalam beberapa stasiun agar
mewakili karakteristik seluruh lokasi penelitian. Jumlah stasiun pengambilan
contoh ada tujuh stasiun, yaitu stasiun 1 sampai dengan 4 mewakili lokasi dengan
karakteristik habitat terumbu karang, stasiun 5 lokasi di sekitar lamun, stasiun 6
lokasi pasir campur lamun dan stasiun 7 mewakili perairan dalam atau gobah.
Pengambilan contoh di tiap stasiun dengan cara sensus visual bawah air (UVC)
dan sampling menggunakan alat tangkap gill net dan bubu. Parameter yang
diukur pada saat pengambilan contoh ikan adalah kepadatan, panjang total, berat,
dan identifikasi jenis-jenis makanan. Selain itu dilakukan pengukuran kualitas air
dan lingkungan di setiap stasiun. Analisis data dilakukan untuk mengetahui
kelimpahan ikan, biomasa, trofik level, dan parameter populasi. Uji statistik
dilakukan untuk mengetahui perbedaan kelimpahan dan trofik level antar stasiun.
Hasil sampling penangkapan didapatkan 99 spesies yang termasuk dalam 22
famili, sedangkan berdasarkan metode UVC diperoleh 78 spesies yang termasuk
dalam 15 famili. Berdasarkan jumlah individu yang tertangkap, jenis ikan
didominasi oleh Famili Labridae, Pomacentridae, Scaridae, dan Nemipteridae,
yaitu 55,03% dari jumlah total individu yang tertangkap. Sedangkan berdasarkan

beratnya, berturut-turut didominasi oleh Famili Scaridae, Serranidae, Labridae
dan Pomacentridae. Adapun berdasarkan sensus menggunakan metode UVC,
diperoleh hasil bahwa jenis ikan didominasi oleh dua famili, yaitu Pomacentridae
dan Labridae.
Distribusi per species dominan berdasarkan stasiun diuji
menggunakan statistik uji Mann-Whitney pada taraf nyata 5%. Hasilnya
menunjukkan beberapa stasiun yang berbeda nyata, yaitu antara stasiun 1 dan 3, 1
dan 4, 1 dan 5, 1 dan 7, serta 2 dan 4.
Biomasa ikan dominan di lokasi penelitian didominasi oleh spesies
Chlorourus sordidus, Siganus canaliculatus, Scarus sp, Choerodon anchorago,
dan Plectorhinchus multivittatum. Terdapat tiga kelompok ikan yang berbeda
berdasarkan kebiasaan makanannya, sepuluh spesies memanfaatkan krustase
sebagai makanan utama, 9 (sembilan) spesies yang memanfaatkan
makroinvertebrata bentik sebagai makanan utama, 1 (satu) spesies memanfaatkan
krustase dan alga sebagai makanan utama, 1 (satu) spesies memanfaatkan krustase
dan makroinvertebrata bentik, dan 11 spesies lainnya memanfaatkan alga sebagai
makanan utamanya. Berdasarkan trofik levelnya, biomasa ikan dominan di sekitar
Pulau Semak Daun mencakup semua trofik level, yaitu dari 2,10 hingga 4,00.
Biomasa ikan semakin berkurang dengan semakin meningkatnya trofik level.
Berdasarkan hasil uji-t diketahui bahwa struktur trofik ikan berbeda untuk lokasi
dengan karakteristik terumbu karang, karakteristik lamun dan karakteristik gobah.
Nilai koefisien pertumbuhan (K) ikan-ikan dominan di lokasi penelitian
pada umumnya termasuk rendah. Jika membandingkan persamaan pertumbuhan
antar ikan, terlihat bahwa spesies Chlorourus sordidus memiliki koefisien
pertumbuhan yang paling tinggi yang berarti bahwa ikan ini mencapai panjang
maksimum lebih cepat dibanding spesies lainnya. Kondisi ini didukung dengan
nilai L∞ ikan tersebut 190,05 mm, merupakan nilai terkecil dibanding spesies
lainnya. Laju mortalitas total jenis-jenis ikan dominan berkisar antara 0,17 per
bulan sampai dengan 1,61 per bulan, dengan nilai mortalitas alami berkisar antara
0,14 sampai 0,71 per bulan. Laju eksploitasi pada umumnya melebihi 0.5 yang
berarti eksploitasi telah melebihi optimal, hanya Chlorourus sordidus dan Scarus
sp yang eksploitasinya dibawah optimal.
Alat tangkap yang beroperasi di lokasi penelitian didominasi oleh jaring
dan bubu, namun alat paling efektif dalam melakukan penangkapan adalah jaring.
Produksi hasil tangkapan ikan dominan tertinggi adalah kerapu hitam
(E.fuscoguttatus) dan jarang gigi (C. anchorago).
Komponen tingkat trofik terendah di lokasi penelitian terdiri dari
fitoplankton, alga bentik dan detritus. Aliran materi yang disusun berdasarkan
kebiasaan makanan dan dinamika populasi menunjukkan adanya pengaruh yang
berbeda dari setiap kelompok ikan. Perubahan kebiasaan makanan terhadap alga
bentik memberi pengaruh yang berbanding terbalik terhadap biomasa ikan pada
trofik level 2,00-2,50, demikian pula invertebrata terhadap ikan pada trofik level
3,51-4,00 dan hewan karang terhadap ikan pada trofik level 3,01-3,50. Adapun
perubahan kebiasaan terhadap kelompok makanan lain memberikan pengaruh
yang sebanding dengan perubahan biomasa ikan.
Kata Kunci:

Trofik level, komunitas ikan, biologi populasi, aliran materi,
Kepulauan Seribu

© Hak cipta milik IPB, Tahun 2012
Hak cipta dilindungi Undang-undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan
pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan,
penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tidak
merugikan kepentingan yang wajar IPB.
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Karya
Tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

STRUKTUR TROFIK DAN BIOLOGI POPULASI IKAN
DI PERAIRAN PULAU SEMAK DAUN KEPULAUAN SERIBU

SRIATI

Disertasi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar Doktor pada
Program Studi Ilmu Perairan

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup:
1. Prof. Dr. Ir. Endi Kartamihardja, M.Sc.
2. Dr. Ir. Mukhlis Kamal, M.Sc.

Penguji Luar Komisi pada Ujian Terbuka:
1. Prof. Dr. Ir. Bachrulhajat Koswara
2. Prof. Dr. Ir. Sam Whoutyzen

Judul Disertasi : Struktur Trofik dan Biologi Populasi Ikan di Perairan
Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu
Nama

: Sriati

NIM

: C161050031

Disetujui
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer,DEA
Ketua

Prof. Dr. Ir. Ismudi Muchsin
Anggota

Prof. Dr. Ir. Subhat Nurhakim, M.S.
Anggota

Mengetahui
Ketua Program Studi
Ilmu Perairan

Dekan Sekolah Pascasarjana

Prof. Dr. Ir. Enang Harris,M.S.

Dr. Ir. DahrulSyah, M.Sc.Agr.

Tanggal Ujian: 26 Januari 2012

Tanggal Lulus:..............................

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan Disertasi berjudul ” Struktur Trofik dan
Biologi Populasi Ikan di Perairan Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu”.
Pemilihan topik ini didasari adanya pergeseran interes pengelolaan perikanan
yang akhir-akhir ini didasarkan pada pendekatan ekosistem. Penelitian ini
terutama bertujuan untuk mengkaji hubungan dan respon dari sumberdaya ikan
sebagai akibat keterkaitan trofik level, dinamika populasi dan eksploitasi,
mengingat eksploitasi berpengaruh pada setiap trofik dalam trofik level, dan
merupakan bagian dari pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis ekosistem
(Ecosystem Based Fisheries Management). Dengan demikian disertasi ini sangat
berguna sebagai bahan masukan bagi pengelolaan sumberdaya perikanan,
terutama sumberdaya perikanan di ekosistem terumbu karang.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Mennofatria Boer, DEA sebagai Ketua
Komisi Pembimbing, Bapak Prof. Dr. Ir. Ismudi Muchsin dan Bapak Prof. Dr. Ir.
Subhat Nurhakim, M.S. sebagai Anggota Komisi Pembimbing, atas arahan dan
bimbingannya mulai penyusunan proposal hingga Disertasi ini dapat diselesaikan.
Penghargaan juga penulis sampaikan kepada Alm. Bapak Dr. Ir. Sutrisno
Sukimin,DEA yang telah memberikan bimbingan selama proses penyusunan
proposal dan pelaksanaan penelitian di lapangan. Terimakasih juga penulis
sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Ario Damar sebagai penguji pada Ujian
Kualifikasi, Bapak Prof. Dr. Ir. Endi Kartamihardja, M.Sc. sebagai Penguji Luar
Komisi pada Ujian Tertutup dan Ujian Kualifikasi, Bapak Dr.Ir.Muchlis Kamal
sebagai Penguji Luar Komisi pada Ujian Tertutup, Bapak Prof.Dr.Ir.Bachrulhayat
Koswara dan Bapak Prof.Dr.Ir.Sam Wouthyzen sebagai Penguji Luar Komisi
pada Ujian Terbuka, serta Ketua Program Studi Ilmu Perairan, Bapak Prof. Dr. Ir.
Enang Harris,M.S atas masukan dan saran yang sangat berarti untuk
penyempurnaan Disertasi ini. Penulis berharap semoga Disertasi ini bermanfaat
bagi pembaca dan memperkaya khasanah ilmu pengelolaan sumberdaya
perikanan.

Bogor, Januari 2012

Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Kementerian Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi,
atas bantuan beasiswa BPPS yang diberikan kepada penulis.
2. Rektor Universitas Padjadjaran dan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk
melanjutkan pendidikan S3.
3. Kementerian Kelautan dan Perikanan, Direktorat Jenderal Kelautan,
Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil, atas bantuan biaya yang diberikan untuk
penulisan Disertasi melalui program COREMAP 2010.
4. Bapak Dr.Ir.Vincentius Siregar atas kesempatannya untuk melakukan
penelitian bersama, Bapak Prof. Dr.Ir.Sam Wouthyzen atas bantuan dan
masukan yang sangat berarti selama di lapangan.
5. Bapak Prof. Dr.Ir. MF. Rahardjo, atas saran, nasehat dan metovasi yang
diberikan untuk bekerja dan menyelesaikan studi dengan baik.
6. Pimpinan dan Staf Pengajar Program Studi Prikanan, Program Studi
Kelautan, pada Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD, atas
motivasi yang diberikan untuk penyelesaian studi S3 ini.
7. Orang tua tercinta (Bapak dan Ibu Alm.) atas doa dan kasih sayang yang
dicurahkan hingga akhir hayatnya. Suami (Drs. Husin Achmad Santoso)
dan Anak-anak (Ni’mah Rahmadiyani,S.E dan Amirul Fajar Mahardika),
atas doa, pengertian dan dukungannya sehingga penulis dapat menjalani
studi S3 hingga selesai.
8. Tim Pulau Seribu, Samsul B. Agus S.Pi., M.Si.; M.Banda Selamat S.Pi.,
M.Si.; Adriani Sunudin, S.Pi., M.Si., Anggi Afif Muzaki, S.Pi.; Mursalin
S.Pi, dan Alimuddin S.Pi. serta Tim Pulau Seribu dari FPIK-UNPAD, atas
kerjasamanya selama di lapangan.
9. Dr. Ir. Niken TM Pratiwi dan Teman seperjuangan (Ibu Maya, Ibu Yusri,
Pak Fadli) atas dorongan, semangat, dan kerjasama yang baik selama
studi hingga selesainya Disertasi ini.
10. Saudara Dwi Yuni Wulandari,S.Pi., Arif Nurcahyanto,S.Pi., yang telah
membantu memperlancar proses penulisan Disertasi hingga penyelesaian
studi.
11. Berbagai pihak yang turut andil dalam keberhasilan penulis menyelesaikan
studi S3.
Semoga pengorbanan yang diberikan menjadi amalan yang baik dan mendapat
imbalan yang lebih baik dari Allah swt. Akhir kata semoga karya ilmiah ini
bermanfaat.
Bogor, Januari 2012
Sriati

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Blitar,Jawa Timur, pada tanggal 1 Mei 1964. Penulis
adalah anak ke-10 dari 12 bersaudara, dengan ayahanda bernama Marjono (Alm.)
dan Ibu Supadmi (Alm.).
Penulis menempuh program S1 pada Jurusan Manajemen Sumberdaya
Perairan, Fakultas Perikanan IPB dan lulus tahun 1987. Pada tahun 1993 penulis
melanjutkan pendidikan S2 pada Program Studi Ilmu Perairan Sekolah
Pascasarjana IPB dengan beasiswa BPPS dan lulus tahun 1998. Pada tahun 2005
penulis mendapat kesempatan menempuh pendidikan S3 pada Program Studi
yang sama di Sekolah Pascasarjana IPB, dengan bantuan beasiswa BPPS.
Penulis menikah dengan Drs. Husin Achmad Santoso pada tahun 1990 dan
dikaruniai satu orang putri, Ni’mah Rahmadiyani,S.E. (20 tahun) dan satu orang
putra, Amirul Fajar Mahardika (15 tahun). Sejak tahun 1988 hingga saat ini,
penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Program Studi Perikanan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.
Selama menempuh pendidikan S3, penulis telah mempublikasikan karya
ilmiah yang merupakan bagian dari Disertasi yaitu:
-

Kajian Trofik Level Pada Komunitas Ikan di Ekosistem Terumbu
Karang Kepulauan Seribu, dalam Prosiding Seminar Nasional
Tahunan VI Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan dan Kongres
INFHM, Universitas Gajah Mada, Tahun 2009.

-

Keanekaragaman Sumberdaya Ikan Hasil Tangkapan di Terumbu
Karang Sekitar Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu, dalam Prosiding
Seminar Nasional Tahunan VII Hasil Penelitian Perikanan dan
Kelautan, Universitas Gajah Mada, Tahun 2010.

-

Status Sumberdaya Ikan Berdasarkan Ukuran dan Trofik Level Hasil
Tangkapan di Perairan Sekitar Pulau Semak Daun Kepulauan Seribu,
dalam Jurnal Iktiologi Indonesia (in Press).

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................ xxiii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

xxv

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xxvii
1

PENDAHULUAN ..................................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah ..............................................
1.3 Pendekatan Masalah ........................................................................
1.4 Tujuan dan Manfaat ........................................................................
1.5 Nilai Kebaruan (Novelty) ................................................................

1
1
3
6
8
10

2 TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................
2.1 Sumberdaya Ikan Karang ................................................................
2.2 Jenjang Trofik dan Aliran Energi ...................................................
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Struktur Trofik ................
2.4 Biologi Populasi ..............................................................................
2.5 Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Pendekatan Ekosistem ...

11
11
12
19
23
26

3

METODE PENELITIAN ......................................................................
3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ..........................................................
3.2 Desain Penelitian ............................................................................
3.3 Ruang Lingkup Penelitian...............................................................
3.4 Analisis Statistik .............................................................................

33
33
33
35
44

4

HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................
4.1 Komposisi jenis ikan .......................................................................
4.2 Spesies Dominan .............................................................................
4.3 Densitas Ikan ...................................................................................
4.4 Kebiasaan Makanan dan Trofik Level ............................................
4.5 Struktur Trofik Komunitas Ikan ......................................................
4.6 Dinamika Populasi ..........................................................................
4.7 Perikanan Tangkap ..........................................................................
4.8 Inter-Relasi Trofik ..........................................................................
4.9 Pengelolaan Sumberdaya Ikan ........................................................

45
45
48
51
53
58
62
66
69
74

5 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................
5.1 Kesimpulan .....................................................................................
5.2 Saran ..............................................................................................

79
79
79

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

81

LAMPIRAN..................................................................................................

87

xxi

xxii

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Parameter fisik-kimiawi perairan, peralatan dan
metode pengukuran .................................................................................
44
2. Komposisi jenis ikan hasil pengambilan contoh berdasarkan
metode UVC di semua stasiun .................................................................

46

3. Jumlah spesies dan kelimpahan ikan yang dijumpai berdasarkan
famili di Karang Lebar Pulau Semak Daun .............................................

48

4. Makanan utama komunitas ikan di perairan sekitar
Pulau Semak Daun ...................................................................................

55

5. Jumlah individu dan kepadatan ikan berdasarkan kebiasaan makanan
di Pulau Semak Daun ...............................................................................

56

6. Komposisi jenis ikan berdasarkan kebiasaan makanan pada
masing-masing kondisi terumbu karang ..................................................

57

7. Rerata biomasa ikan per kelompok trofik level ......................................

62

8. Parameter pertumbuhan ikan dominan di Pulau Semak Daun ................

63

9. Mortalitas dan rasio eksploitasi ikan dominan di Pulau Semak Daun .....

65

10. Hasil tangkapan jenis-jenis ikan dominan oleh nelayan di perairan
Sekitar Pulau Semak Daun.......................................................................

68

11. Hasil tangkapan dan hasil tangkapan per satuan upaya
di perairan Pulau Semak Daun selama penelitian ...................................

69

xxiii

xxiv

DAFTAR GAMBAR

1.

Halaman
Bagan alir kerangka pendekatan masalah .........................................
9

2.

Piramida makanan dengan lima jenjang trofik .................................

14

3.

Rantai Makanan pada Ekosistem Terumbu Karang di Kepulauan
Marshall ............................................................................................

15

4.

Inter-relasi trofik utama antar ikan di terumbu karang .....................

17

5.

Biomasa relatif pada berbagai trofik level di Terminos Lagoon,
Mexico ..............................................................................................

20

6.

Lokasi Penelitian dan masing-masing Stasiun Pengambilan Contoh

34

7.

Tahapan pelaksanaan penelitian mulai dari pengambilan contoh
hingga pencapaian tujuan penelitian ..............................................

37

Komposisi jenis ikan hasil pengambilan contoh berdasarkan
eksperimental fishing di semua stasiun selama penelitian ................

45

Jenis-jenis ikan dominan di sekitar Pulau Semak Daun berdasarkan
tiga metode pengambilan contoh ......................................................

49

Komposisi jumlah individu yang ditemui pada masing-masing
kondisi karang ...................................................................................

50

11.

Densitas ikan dominan di perairan Pulau Semak Daun ....................

52

12.

Kebiasaan makanan dan trofik level 32 spesies ikan dominan
di sekitar Pulau Semak Daun ............................................................

54

13.

Struktur trofik komunitas ikan berdasarkan kategori trofik level .....

58

14.

Jumlah unit alat tangkap di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara .....

67

15.

Perkiraan inter-relasi trofik komunitas ikan di lokasi penelitian ....

70

16.

Aliran materi berdasarkan kebiasaan makanan dan
parameter populasi, komunitas ikan di Pulau Semak Daun ..............

71

8.
9.
10.

xxv

xxvi

DAFTAR LAMPIRAN

1.
2.

Halaman
Komposisi hasil pengambilan contoh menggunakan eksperimental
fishing per stasiun di Pulau Semak Daun selama penelitian ...........
67
Jenis ikan yang ditemukan berdasarkan sampling menggunakan
metode UVC per stasiun selama penelitian ....................................

90

Komposisi ikan hasil pengambilan contoh menggunakan eksperimental
fishing berdasarkan famili .................................................................

94

Spesies dominan berdasarkan jumlah individu hasil pengambilan
contoh menggunakan eksperimental fishing ...................................

96

Spesies dominan berdasarkan berat hasil pengambilan contoh
menggunakan eksperimental fishing ...............................................

98

Hasil uji Mann-Whitney, perbedaan distribusi kelimpahan per
stasiun ...............................................................................................

99

Densitas dan trofik level 32 spesies ikan dominan di perairan
Pulau Semak Daun ............................................................................

100

Hasil analisis ragam perbedaan biomasa ikan berdasarkan
kelompok trofik level .......................................................................

101

Distribusi frekwensi panjang ikan dominan per bulan di sekitar
Pulau Semak Daun, bulan Juli 2009 – Januari 2010 .........................

102

10.

Hasil analisis korelasi kelompok makanan .......................................

109

11.

Hasil analisis korelasi antar kelompok trofik level ...........................

110

12.

Nilai parameter fisik kimiawi perairan di sekitar Pulau Semak Daun

111

13.

Kelimpahan fitoplankton (sel l-1) di perairan sekitar
Pulau Semak Daun ............................................................................

112

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

14.
15.

-1

Kelimpahan zooplankton (individu l ) di perairan sekitar
Pulau Semak Daun ............................................................................

113

Kepadatan rata-rata bentos selama penelitian .................................

115

xxvii

xxviii

1 PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pulau Semak Daun merupakan salah satu pulau yang berada di Kelurahan

Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Pulau ini memiliki daratan
seluas 0,5 ha yang dikelilingi karang penghalang (barrier reef) sehingga terbentuk
perairan dangkal terlindung (perairan karang dalam/gosong) yang relatif luas
(315 ha) (Soebagio 2005). Pemanfaatan sumberdaya alam utama di perairan ini
adalah perikanan, baik perikanan tangkap maupun budidaya. Kegiatan
penangkapan yang dilakukan masyarakat setempat umumnya penangkapan ikan
karang konsumsi dan ikan hias.
Seiring dengan pertambahan penduduk kota Jakarta, mendorong nelayan
untuk menangkap lebih karena tingginya permintaan akan ikan konsumsi.
Masuknya teknologi penangkapan juga membuat alat tangkap menjadi lebih
modern yang terkadang meninggalkan konsep ramah lingkungan. Hal ini terlihat
dengan masih dilakukannya penangkapan dengan bahan kimia di beberapa tempat
di Kepulauan Seribu sehingga mengakibatkan rusaknya hamparan terumbu karang
yang merupakan habitat bagi ikan hias dan biota laut lainnya (Estradivari et al.
2007). Hal ini menunjukkan bahwa sumberdaya perikanan di Kepulauan Seribu
pada umumnya cenderung mengalamai ancaman, baik tangkap lebih (overfishing)
maupun kerusakan habitat.
Fenomena tangkap lebih terlihat dari semakin sulitnya mendapatkan hasil
tangkapan, variasi jenis hasil tangkap yang semakin sedikit serta ukuran individu
tertangkap yang semakin kecil. Keragaman spesies ikan karang semakin
berkurang akibat ekstraksi yang berlebih terhadap sumberdaya tersebut dan hasil
tangkapan nelayan semakin menurun (Suwandi et al. 2001; Nirmala 2003).
Estradivari et al. (2007) dalam pemantauan terumbu karang Kepulauan Seribu
tahun 2004 dan 2005 mendapatkan bahwa 10 jenis ikan dominan yang ada secara
keseluruhan mengalami kecenderungan penurunan kelimpahan, baik berdasarkan
pengamatan sensus visual maupun hasil tangkapan nelayan. LAPI-ITB (2001) in
Estradivari et al. (2007) menyebutkan adanya indikasi tangkap lebih berdasarkan
angka CPUE (catch per unit of effort). Menurut Sumiono et al. (2002), tingkat

2

pemanfaatan sumberdaya ikan dapat dideteksi dengan suatu kombinasi sejumlah
indikator, yaitu indikator stok yang meliputi:
1. hasil tangkapan per satuan upaya (catch per unit of effort atau CPUE),
2. hasil tangkapan total yang didaratkan,
3. rata-rata bobot ikan,
dan indikator biologi dan ekologi, yaitu :
1.

parameter populasi,

2.

struktur umur/struktur ukuran,

3.

komposisi spesies dalam komunitas.

Uraian diatas menunjukkan bahwa sumberdaya ikan di Pulau Semak Daun
memiliki resiko yang tinggi terhadap adanya perubahan, baik akibat kerusakan
habitat maupun penangkapan. Oleh karena itu diperlukan suatu tindakan nyata
untuk mengontrol dan mengelola sumberdaya ikan di perairan tersebut.
Berbagai penelitian telah dilakukan di Kepulauan Seribu, namun seluruhnya
mengkaji secara terpisah komponen-komponen ekosistem maupun indikator
pemanfaatan sumberdaya ikan.

Di lain pihak Cochrane (2002) menyatakan

pentingnya pengelolaan dengan orientasi ekosistem (Ecosystem Based Fisheries
Management, EBFM). Hal ini didasari kenyataan bahwa populasi akuatik tidak
hidup dalam isolasi, melainkan sebagai komponen suatu ekosistem kompleks dan
menempati posisi tertentu dalam suatu rantai makanan. Komponen tersebut terdiri
dari komponen biologi yang mencari makan di dalamnya, menjadi makanan di
dalamnya (mangsa), atau bersaing dengan populasi atau stok yang ada. Populasi
tersebut secara tidak langsung dihubungkan melalui jejaring makanan sesuai
tingkat trofiknya sehingga satu sama lain saling mempengaruhi. Bila satu bagian
komponen ekosistem terkena dampak, maka akan mempengaruhi kesetimbangan
alami dari ekosistem yang bersangkutan.
Pengkajian tentang struktur trofik pada komunitas ikan sangat diperlukan
mengingat fungsi penting komunitas ikan dalam menyokong ekosistem dan
merupakan organisme terbanyak di ekosistem terumbu karang (Hall 1999). Dari
berbagai jenis ikan yang ada, peran terpenting adalah ikan herbivor, yaitu dalam
mengurangi populasi makroalga bentik yang berkompetisi ruang dengan koral dan
invertebrata lain. Gerombolan ikan yang berlindung di terumbu karang berperan

3

dalam meningkatkan laju pertumbuhan koral melalui suplai nitrogen. Kelompok
lain, yaitu ikan predator berperan dalam mengontrol populasi invertebrata bentik.
Menurut Mc Connel (1994), setidaknya terdapat 2000 spesies ikan yang terdapat
di perairan karang, yang terdiri dari berbagai kelompok trofik.
Tingkatan trofik menggambarkan tahapan transfer material atau energi dari
setiap tingkat atau kelompok

ke tingkat berikutnya, yang dimulai dengan

produser primer, konsumer primer (herbivor), kemudian sekunder, tersier, dan
diakhiri dengan predator puncak. Pada dasarnya tingkat trofik (trophic level)
merupakan urut-urutan tingkat pemanfaatan pakan atau material dan energi seperti
yang tergambarkan oleh rantai makanan (food chain).

Mc. Clanahan & Mangi

(2004) menyatakan bahwa penangkapan dapat merubah kelimpahan mutlak dan
relatif spesies sehingga merubah komposisi spesies dalam trofik level, dan bahkan
merubah biomasa relatif pada berbagai trofik level. Kegiatan penangkapan sangat
potensial berpengaruh pada semua tingkatan trofik dalam ekosistem. Dengan
demikian pendekatan trofik level dapat digunakan untuk mengevaluasi kesehatan
dan kondisi ekosistem, sehingga merupakan mata rantai awal yang penting
dipertimbangkan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan. Dengan
mengkaji struktur trofik kaitannya dengan pengelolaan, maka akan diperoleh
konsep pengelolaan sumberdaya perikanan yang mempertimbangkan kestabilan
ekosistem.

1.2

Identifikasi dan Perumusan Masalah
Sumberdaya ikan di Pulau Semak Daun mengalami penurunan kelimpahan,

penurunan ukuran rata-rata individu hasil tangkapan, penurunan keragaman
spesies hasil tangkapan, penurunan hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) dan
dominasi spesies berukuran relatif lebih kecil dengan nilai ekonomis yang lebih
rendah (Suwandi et al. 2001; Nirmala 2003; Estradivari et al. 2007). Penurunan
ukuran dapat diakibatkan oleh selektivitas alat tangkap. Target penangkapan
sering ditujukan pada individu berukuran lebih besar dan lebih tua sehingga
menurunkan proporsi jumlah individu berukuran besar dan berumur lebih tua
dalam populasi. Dengan demikian penangkapan mempengaruhi struktur umur
dan struktur ukuran dalam populasi (Mc. Clanahan & Mangi 2004).

4

Penurunan keragaman dan CPUE serta dominansi spesies berukuran relatif
lebih kecil dengan nilai ekonomis yang lebih rendah merupakan dampak ekologis
tekanan penangkapan dan perubahan habitat.

Perubahan habitat terjadi oleh

berbagai sebab, yang menonjol di Kepulauan Seribu pada umumnya adalah
penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan penambangan karang
sehingga menyebabkan kerusakan habitat.

Dampak lanjut kerusakan habitat

menyebabkan terjadinya perubahan biomasa pada trofik level. Pada tingkat
komunitas, pengaruh langsung penangkapan menyebabkan pergeseran pemangsa,
mangsa, atau pesaing dari komunitas ikan tersebut. Pengaruh tersebut meliputi
penurunan biomasa jenis yang semula melimpah dan peningkatan biomasa jenis
lainnya yang selanjutnya mengakibatkan perubahan kelimpahan relatif spesies
atau komposisi jenis dalam komunitas (Sale 1991), kemudian merubah biomasa
relatif pada berbagai trofik level. Tahap berikutnya dari pengaruh penangkapan,
adalah pengaruhnya terhadap stok ikan dalam kaitan fungsinya dalam rantai
makanan, dan fungsi ekologis lainnya sehingga terjadi pengurangan CPUE karena
peningkatan biomasa jenis tertentu tidak cukup untuk menggantikan pengurangan
biomasa jenis lain. Terdapat suatu fenomena dampak ekologi aktivitas
penangkapan intensif dalam menurunkan food chain, walaupun total biomasa
dalam ekosistem tampak konstan (Charles 2001).
Hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) dapat dijadikan sebagai indeks
kelimpahan, yang berarti bahwa CPUE disebandingkan dengan biomasa ikan di
laut. Dengan asumsi bahwa sediaan (stok) ikan di laut sama, maka peluang
mendapatkan hasil akan sama jika dilakukan dengan upaya yang sama. Dengan
demikian penurunan CPUE merupakan indikasi adanya penurunan sediaan (stok).
Sediaan ikan di laut merupakan fungsi dari parameter lingkungan, dan interaksi
biologi, yaitu adanya mangsa pemangsa dan kompetisi. Charles (2001)
menyatakan bahwa tahap berikutnya dari pengaruh penangkapan, baik pada
populasi maupun komunitas adalah pengaruhnya terhadap stok ikan dalam kaitan
fungsinya dalam rantai makanan, atau siklus biogeokimia dan fungsi ekologis
lainnya sehingga terjadi pengurangan CPUE karena peningkatan biomasa jenis
tertentu tidak cukup untuk menggantikan pengurangan biomasa jenis lain (Sale
1991).

5

Dominansi spesies berukuran relatif lebih kecil dengan nilai ekonomis yang
lebih rendah merupakan dampak ekologis dari tekanan penangkapan (Jennings &
Polunin 1997). Bila tekanan terhadap sumberdaya meningkat maka penangkapan
terhadap spesies bernilai ekonomis tinggi meningkat sehingga berakibat
berkurangnya spesies yang bernilai ekonomis tinggi tersebut (Monintja et al.
2006). Bila tekanan penangkapan semakin meningkat, maka ukuran ikan target
semakin menurun dan ini akan disertai dengan peningkatan jumlah spesies yang
berada pada rantai makanan di bawahnya sehingga dapat terjadi pergeseran target
spesies (Jennings & Polunin 1997). Pergeseran target spesies yang terus menerus
tanpa disertai usaha konservasi dapat menyebabkan berkembangnya organisme
atau spesies yang tidak memiliki nilai ekonomis (Robinson & Frid 2003).
Berdasarkan uraian ini, maka pergeseran target spesies dapat dijadikan indikasi
adanya tekanan penangkapan terhadap spesies utama bernilai ekonomis tinggi.
Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sumberdaya
perikanan berkaitan dengan penurunan sumberdaya ikan di Pulau Semak Daun
yaitu:
1.

Perubahan struktur umur dan struktur ukuran populasi sebagai akibat
selektivitas alat tangkap.

2.

Adanya

perubahan komposisi spesies dalam trofik level melalui interaksi

biologi sehingga merubah biomasa relatif pada berbagai trofik level .
3.

Terjadinya penurunan rantai makanan akibat perubahan habitat dan akibat
penangkapan pada tingkat rantai makanan yang lebih tinggi.

4.

Peningkatan biomasa jenis tertentu tidak cukup untuk menggantikan
pengurangan biomasa jenis lain sehingga menurunkan sediaan (stok).
Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan upaya pengelolaan

sumberdaya perikanan yang didasarkan pada suatu kajian ilmiah tentang struktur
trofik pada komunitas ikan dan biologi populasinya, dimulai dari tingkat trofik
paling rendah hingga ikan karnivor. Dengan demikian maka dampak penangkapan
terhadap perubahan komunitas ikan dapat diprediksi guna pengelolaannya agar
penangkapan tidak merubah kemampuan populasi berkaitan dengan fungsi
ekologisnya dalam ekosistem.

6

1.3

Pendekatan Masalah
Pengelolaan sumberdaya perikanan merupakan suatu rangkaian kegiatan

yang meliputi banyak hal dan bersifat kompleks, namun secara mendasar
bertujuan untuk pemanfaatan sumberdaya yang optimal dan berkesinambungan
(Cochrane 2002).

Dengan demikian secara luas pengelolaan sumberdaya

perikanan tidak terlepas dari upaya konservasi sumber daya ikan dan
lingkungannya sehingga pemanfaatan sumberdaya perikanan setidaknya harus
didasarkan pada dua pertimbangan mendasar, yaitu pertimbangan biologi dan
pertimbangan ekologi (King 1995; Cochrane 2002).

A. Pertimbangan Biologi
Prinsip yang mendasar dalam pengelolaan sumberdaya perikanan adalah
pengertian bahwa stok ikan dan komunitasnya bersifat terbatas yang dibatasi oleh
daya dukungnya.

Dikemukakan oleh Beverton & Holt (1957) in Sparre &

Venema (1999), serta Ricker (1975), bahwa suatu populasi tidak berkembang
secara linier melainkan asimptotik.

Pada ukuran populasi yang kecil maka

peningkatan ukuran populasi akan kecil dan pada ukuran populasi yang sangat
besar maka peningkatan populasi secara alamiah juga kecil karena ukuran
populasi mendekati daya dukung lingkungan. Sifat populasi yang demikian, jika
dieksploitasi secara hati-hati maka populasi tersebut akan mengisi kembali
kekurangannya (konsep renewable). Sebagaimana dikemukakan dalam Aksioma
Russell (1931) in Pauly (1984) bahwa biomasa suatu populasi (B) akan stabil
dalam suatu periode tertentu bila dalam periode tersebut penambahan biomasa
(rekrutmen atau R dan pertumbuhan atau G) sama dengan pengurangan biomasa.
Dalam suatu populasi yang tidak dieksploitasi, pengurangan biomasa hanya
berasal dari kematian alami (M), seperti predasi, penyakit, atau perubahan
lingkungan secara drastis. Dalam populasi yang ditangkap, total pengurangan
biomasa berasal dari kematian alami ditambah dengan kematian tangkapan (F).
Secara umum dituliskan sebagai berikut:
Bt = B0 + (R + G) – (M + F)
Berdasarkan persamaan tersebut, suatu populasi akan stabil dalam periode
tertentu jika F sama dengan M. Pengelolaan perikanan bertujuan untuk

7

memastikan bahwa angka kematian akibat penangkapan tidak melebihi
kemampuan

populasi

untuk

mempertahankan

produktivitasnya

untuk

menggantikan angka kematian alami. Artinya, memastikan agar penangkapan
tidak merusak kelestarian produktivitas populasi atau dengan kata lain tidak
menurunkan kemampuan populasi untuk rekrut. Untuk mencapai tujuan tersebut
tidak hanya total populasi yang harus dipertahankan pada suatu kelimpahan atau
biomasa tertentu, tetapi struktur umur populasi juga harus dipertahankan
sedemikian rupa sehingga mampu mempertahankan tingkat reproduksi, sehingga
terjadi rekrutmen untuk menggantikan kehilangan akibat adanya proses kematian.

B. Pertimbangan Ekologi
Populasi akuatik tidak hidup dalam isolasi, melainkan sebagai komponen
suatu ekosistem kompleks dan menempati posisi tertentu dalam suatu rantai
makanan. Komponen tersebut terdiri dari komponen biologi yang mencari makan
di dalamnya, menjadi makanan di dalamnya (mangsa), atau bersaing dengan
populasi atau stok yang ada. Populasi tersebut secara tidak langsung dihubungkan
melalui jejaring makanan sehingga satu sama lain saling mempengaruhi.
Perubahan suatu populasi tidak hanya berdampak pada populasi itu sendiri,
namun juga berpengaruh pada populasi lain dalam kaitan dengan interaksi
tersebut. Dalam perannya sebagai mangsa, perubahan populasi mangsa akan
mempengaruhi pemangsanya. Kurangnya rekrut karena berkurangnya populasi
akan berpengaruh bagi ketersediaan populasi tersebut sebagai mangsa sehingga
mempengaruhi pemangsanya (tingkat trofik di atasnya). Dalam perannya sebagai
pemangsa, berkurangnya suatu populasi akan menyebabkan berkurangnya jumlah
pemangsa sehingga berakibat peningkatan populasi spesies mangsa (tingkat trofik
di bawahnya). Keterkaitan ekologis ini mempengaruhi setiap komponen dalam
trofik level yang selanjutnya mempengaruhi keseimbangan ekosistem. Garisson
& Lingk (2000) in Lopez et al. (2005) menyebutkan bahwa perubahan setiap
komponen, dapat berdampak pada komposisi populasi dalam komunitas sehingga
harus dipertimbangkan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan. Selain
penangkapan, perubahan habitat juga dapat memberikan pengaruh terhadap
distribusi spasial dan kelimpahan ikan. Habitat menyediakan ruang bagi berbagai

8

biota yang hidup didalamnya dan berpengaruh penting terhadap interaksi spesies
dan struktur trofik pada umumnya.
Secara ringkas pendekatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Komunitas ikan memiliki struktur yang dibangun oleh adanya hubungan makan
memakan diantara komponen penyusunnya, yaitu populasi. Populasi memiliki
karakteristik yang bersifat meningkatkan jumlah dan biomasa populasi yaitu
pertumbuhan, rekrutmen dan imigrasi, dan karakteristik yang mengurangi jumlah
dan biomasa populasi yaitu kematian dan emigrasi. Perubahan habitat dan
peningkatan

intensitas

penangkapan

mengakibatkan

variabilitas

tingkat

pertumbuhan, rekrutmen, kematian alami, dan kombinasi lainnya serta mendorong
perkembangan populasi jenis lain yang menjadi pesaing bagi spesies tersebut.
Keterkaitan ekologis ini terus berlanjut hingga mempengaruhi keseimbangan
dalam ekosistem. Diagram alir kerangka teoritis pendekatan masalah tersebut
tertera pada Gambar 1.

1.4

Tujuan dan Manfaat

A. Tujuan
Berdasarkan uraian diatas maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai
berikut:
1. Mengkaji struktur trofik pada komunitas ikan
2. Mengkaji parameter populasi dan eksploitasi pada ikan dominan
3. Menganalisa hubungan dan respon dari sumberdaya ikan sebagai akibat
keterkaitan trofik level, dinamika populasi dan eksploitasi.

B. Manfaat
Manfaat penelitian ini adalah:
1.

Sebagai infomasi yang dapat dijadikan landasan dalam pengelolaan
sumberdaya ikan pada ekosistem terumbu karang, berdasarkan indikator
biologi, ekologi dan stok.

2.

Sebagai kontribusi dalam perkembangan ilmu pengelolaan sumberdaya
perikanan modern dan mendukung konsep pengelolaan perikanan
berbasis ekosistem.

Hidrodinamika

Plankton

Kelimpahan

Bentos

Kepadatan

Interaksi

Ikan

Trofik Level

Struktur
Trofik

Komunitas
Stabil

Sumberdaya Ikan Berkelanjutan

Kualitas Air

Pertumbuhan

Dinamika
Populasi

Kematian
Alami

Kematian
Tangkap

Penangkapan

Input

Tingkat
Eksploitasi

Alat Tangkap

Proses

Produktifitas
Berkelanjutan
Output

Gambar 1 Bagan alir kerangka pendekatan masalah.
9

10

1.5 Nilai Kebaruan (Novelty)

Penelitian ini memiliki nilai kebaruan dalam dua aspek, yaitu aspek
keilmuan dan aspek informasi. Aspek keilmuan berkaitan dengan pendekatan
analisis yang digunakan. Model pengkajian populasi dan komunitas untuk
pengelolaan sumberdaya ikan pada umumnya menggunakan model spesies
tunggal (single species) yang dikembangkan untuk perairan di negara sub tropis.
Bagi negara tropis seperti Indonesia yang perikanannya bersifat multispesies,
model tersebut tidak tepat karena secara global model single species tidak bersifat
agregat, sehingga model yang seharusnya digunakan adalah model multi spesies.
Salah satu pendekatan yang digunakan untuk model multi spesies adalah
pengkajian struktur tingkatan trofik berdasarkan biomasa spesies pembentuk
tingkatan trofik tersebut, sebagaimana dilakukan dalam penelitian ini. Pendekatan
ini jarang digunakan dan harus terus dikembangkan untuk pengembangan ilmuilmu pengelolaan sumberdaya ikan multi spesies.
Aspek yang ke-dua yaitu informasi ekologi dan biologi populasi ikan,
terutama di perairan sekitar Pulau Semak Daun, yang terdiri atas informasi
tentang struktur komunitas ikan berdasarkan distribusi biomasa pada trofik level,
jenis-jenis ikan yang berperan penting dalam menyokong kestabilan komunitas,
parameter populasi dan eksploitasi jenis-jenis ikan yang berperan penting dalam
menyokong komunitas tersebut serta keterkaitan antara parameter populasi dan
eksploitasi dengan peran penting populasi dalam komunitas, sehingga diketahui
penentu kestabilan komunitas ikan.

2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sumberdaya Ikan Karang
Ikan karang merupakan komponen penting penyusun ekosistem terumbu
karang.

Ikan karang umumnya relatif tidak berpindah-pindah, terbatas pada

daerah tertentu di terumbu dan terlokalisasi. Populasi ikan di terumbu karang
berubah dari siang ke malam hari. Ikan pemakan plankton yang banyak tersebar
di sekeliling terumbu pada siang hari, bersembunyi/berlindung di celah-celah
terumbu pada malam hari. Selanjutnya pada malam hari populasi ikan terumbu
digantikan oleh sejumlah kecil spesies nokturnal yang semuanya bersifat predator
(Nybakken 1988).
Sale (1991) mengelompokkan ikan karang yang berasosiasi paling erat
dengan lingkungan terumbu karang menjadi tiga golongan utama, yaitu:
1.

Labroid: Labridae (wrassess), Scaridae (parrot fish), dan Pomacentridae
(damselfish).

2.

Acanthuroid: Acanthuroidae (surgeonfishes), Siganidae (rabbitfishes), dan
Zanclidae (moorish idols) yang terdiri dari satu genus yaitu Zanclus.

3.

Chaetodontoid:

Chaetodontidae

(butterflyfishes)

dan

Pomacanthidae

(angelfishes).
Menurut Nybakken (1988) berdasarkan waktu makannya, ikan karang terdiri
dari ikan diurnal dan nokturnal. Berdasarkan kebiasaan makannya, Hiatt dan
Donald (1980) mengelompokkan ikan karang menjadi pemakan alga, pemakan
plankton, omnivor, pemakan detritus, pemakan polip karang dan karnivor besar
pengelana. Sedangkan Sorokin (1995) membagi ikan karang berdasarkan
kebiasaan makannya menjadi pemakan plankton (planktivorous fish), pemakan
organisme bentik (benthopages), pemakan segala (omnivor), pemakan tumbuhan
alga (herbivorous fish) dan pemakan ikan (piscivorous fish). Kelompok lain yang
juga ditemukan di daerah terumbu maupun non terumbu adalah predator besar
yang memakan invertebrata bergerak dan ikan lain, serta planktivor. Menurut
Allen & Steene (1990), ikan diurnal merupakan kelompok terbesar di ekosistem
terumbu karang,yang termasuk ikan diurnal adalah dari famili Pomacentridae,
Labridae, Acanthuridae, Chaetodontidae, Serranidae, Pomacanthidae, Lutjanidae,

12

Balistidae, Cirrhitidae, Tetraodontidae, Blenniidae dan Gobiidae. Ikan diurnal
makan dan tinggal di permukaan karang serta memakan plankton yang lewat
diatasnya. Pada malam hari ikan diurnal akan masuk dan berlindung di dalam
karang dan keberadaan ikan diurnal akan digantikan oleh ikan nokturnal. Ikan
nokturnal meliputi famili Holocentridae, Apogonidae, Haemulidae, Muraenidae,
Scorpaenidae, Serranidae dan Labridae. Selain itu ada pula ikan lain yang sering
melintasi ekosistem terumbu karang seperti famili Scombridae, barracuda
(Sphyraenidae), ekor kuning (Caesionidae) dan hiu (Alopiidae). Ikan ini biasanya
merupakan ikan predator dan ikan pelagis yang berasal dari perairan di sekitarnya.
Salah satu penyebab tingginya keragaman spesies di terumbu karang adalah
variasi habitat yang terdapat di terumbu. Terumbu karang tidak hanya terdiri dari
karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah alga dan
juga perairan yang dangkal dan dalam. Perbedaan dalam kadar cahaya hingga
pergerakan ombak, arus, kecerahan, ketersediaan alga, plankton, dan jenis habitat
yang berbeda dengan variasi yang tinggi yang dimanfaatkan oleh ikan dengan
karakteristik yang berbeda pula (Allen 1999). Selain itu tingginya keragaman
spesies ini juga dikarenakan pembagian habitat yang jelas dalam ekosistem
terumbu. Sebagai contoh, banyak ikan-ikan terumbu, meskipun gerakannya jelas
tetapi ternyata terbatas pada daerah tertentu di terumbu dan terlokalisasi, tidak
berpindah.
Hubungan dalam kebiasaan makan ikan-ikan terumbu juga merupakan hal
yang menarik perhatian. Tipe pemangsaan yang paling banyak terdapat di
terumbu adalah karnivor (sekitar 50 – 70%). Sebagian besar dari ikan karnivor ini
bersifat oportunistik dan memakan mangsa yang berbeda pada tingkatan yang
berbeda dalam siklus hidupnya.

2.2 Jenjang Trofik dan Aliran Energi
Pada dasarnya jenjang trofik (trofik level) meru

Dokumen yang terkait

Trophic structure and population biology of fishes in Semak Daun Island, Kepulauan Seribu.