Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT Perkebunan IX (1984-1996)

PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM)
PT. PERKEBUNAN IX (1984-1996)

Skripsi

Oleh :
Dedi Surya Darma
060706025

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011
1

Universitas Sumatera Utara

PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM)
PT. PERKEBUNAN IX (1984-1996)
Skripsi Sarjana

Dikerjakan
Oleh :
Nama : Dedi Surya Darma
NIM : 060706025

Pembimbing,

Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
NIP. 19670908 199303 2 002

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011
2

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ujian Skripsi

PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM) PT. PERKEBUNAN IX
(1984-1996)
Yang Diajukan Oleh :
Nama : Dedi Surya Darma
NIM : 060706025

Telah Disetujui Untuk Diajukan Dalam Ujian Skripsi Oleh :
Pembimbing

Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
NIP. 19670908 199303 2 002

Tanggal,

Ketua Departemen

Drs. Edi Sumarno, M.Hum.
NIP. 19650922 198903 1 001

Tanggal,

PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH
DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011
3

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi

PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM) PT. PERKEBUNAN IX
(1984-1996)
Skripsi Sarjana
Dikerjakan
Oleh :

Dedi Surya Darma
060706025

Pembimbing

Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si.
NIP. 19670908 199303 2 002

Skripsi Ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra USU Medan
Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Sastra Dalam Bidang Ilmu
Sejarah

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

4

Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ketua Jurusan

Disetujui Oleh :

FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN

DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen,

Drs. Edi Sumarno, M.Hum.
NIP. 19650922 198903 1 001

Medan,

Januari 2011

5

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia Ujian

PENGESAHAN :

Diterima Oleh :
Panitian Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara
Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana Sastra
Dalam Bidang Ilmu Sejarah Pada Fakultas Sastra USU Medan

Pada
Hari
Tanggal

:
:
:

Fakultas Sastra USU
Dekan,

Dr. Syahron Lubis, M.A.
NIP : 19511013 197603 1 001

Panitia Ujian :
No. Nama
1. ………………………………..

Tanda Tangan

2.

………………………………..

(……………….. )

3.

………………………………..

4.

…………………… ………….

5.

……………………. …………

( …….................. )

(…………………)
(…………………)
(…………………)

6

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Skripsi ini dibuat untuk memenuhi syarat kelulusan sarjana pada Program Studi Ilmu
Sejarah di Universitas Sumatera Utara. Meski didasari hanya untuk memenuhi kewajiban
tugas akhir seorang mahasiswa sejarah, namun perjalanan sejak skripsi ini muncul pertama
kali sebagai ide sampai selesai ditulis merupakan proses yang sama pentingnya dengan saat
duduk di dalam ruangan kelas untuk mengikuti kuliah. Perjalanan ini yang telah memberi
pelajaran bahwa sesuatu itu menjadi lebih berharga dan berguna jika kita menganggapnya
berarti.
Apa yang tertulis di dalam skripsi ini tidak sepenuhnya baik karena tidak ada karya
yang sempurna. Penulis sangat berterima kasih kepada pembimbing dan penguji skripsi ini.
Juga kepada orang-orang yang telah meluangkan waktunya dalam membantu penulis
mengumpulkan data dan memahami apa yang sebenarnya ditulis. Semoga skripsi ini
memberi manfaat dan menjadi berkah bagi kita semua.

Medan,

Januari 2011

Dedi Surya Darma

i

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis bersyukur kepada Allah SWT yang telah memudahkan usaha penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini. Penulis juga mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya.
Selama penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapatkan masukkan dari
berbagai pihak. Dalam kesempatan ini juga penulis berterima kasih kepada :
1. Kedua orang tua yang senantiasa memberikan dukungan moril, materil dan tak pernah
berhenti melimpahkan kasih sayang, cinta, semangat, do’a serta perhatiannya selama ini
kepada penulis. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada abang dan adik yang
terus bertanya kepada penulis kapan penulis menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih
telah terus bertanya.
2. Dekan Fakultas Sastra, Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A. yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk dapat menjalani ujian meja hijau agar mendapatkan
gelar kesarjanaan.
3. Ketua Departemen Sejarah, Bapak Drs. Edi Soemarno, M.Hum. yang telah memberikan
banyak bantuan, kemudahan serta pengalaman selama penulis mengenyam bangku
perkuliahan. Terima kasih juga kepada Sekretaris Departemen Sejarah, Ibu Dra.
Nurhabsyah, M.Si. yang terus memacu semangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si. selaku dosen pembimbing yang telah banyak
memberikan masukan ilmu dalam proses penulisan skripsi ini. Tanpa kontribusi ibu dan
dorongan semangat bagi penulis mungkin skripsi ini tidak akan pernah selesai ditulis.

ii

Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Drs. Indera Afkhar, M.Hum (Alm.) selaku dosen wali penulis yang telah banyak
memberikan nasehat terhadap penulis selama duduk di bangku perkuliahan. Selamat
jalan bapak! Semoga Allah memberikan tempat yang mulia di sisi-Nya.
6. Kepada seluruh staf pengajar di Departemen Sejarah penulis sampaikan ucapan terima
kasih atas ilmu pengetahuan yang telah kalian diberikan selama ini. Ilmu yang telah
diberikan sangat bermanfaat bagi penulis.
7. Seluruh Staff dan Pegawai pada Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT. Perkebunan
Nusantara II yang telah membantu penulis dalam memberi informasi dan data yang
diperlukan oleh penulis.
8. Kepada Bang Ampera Wira yang telah banyak membantu penulis selama menjalani
perkuliahan.
9. Terima kasih banyak juga penulis sampaikan kepada teman-teman sejarah Stambuk 2006
yang telah menemani penulis kuliah.
10. Kepada para sahabat penulis Uchi, Icha, Herry, Ones, Kariani, Fadiah dan Dedi yang
selalu memberikan dorongan untuk segera menyelesaikan skripsi ini dan juga membantu
penulis dalam melakukan penelitian.
11. Terakhir penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
nama-namanya tidak sempat dan tidak dapat disebutkan satu persatu di dalam lembaran
ini.

iii

Universitas Sumatera Utara

Semoga apa yang telah diberikan kepada penulis mendapat pahala yang setimpal dari
Allah SWT. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih semoga kita semua selalu berada dalam
lindungan dan rahmat Allah SWT. Amin…!

Medan,

Januari 2011

Dedi Surya Darma

iv

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX merupakan bagian dari proyek
pemerintah dalam upaya mencapai swasembada gula nasional. Pabrik yang didirikan
berdasarkan tender internasional ini dalam perjalanannya telah menorehkan banyak kisah.
Kebijakan pemerintah dibidang pergulaan benar-benar mempengaruhi semua sektor yang
terkait dengan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX. Namun campur tangan
pemerintah ini tidak mengurangi kinerja Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX itu
sendiri. Pabrik ini pernah mengalami masa kejayaannya, sama halnya dengan Pabrik Gula Sei
Semayang PT. Perkebunan IX, dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sumatera Utara.
Berbagai upaya dilakukan untuk terus mengembangkan kualitas dan kuantitas dari
pabrik itu sendiri. Dari peningkatan mutu bahan baku, karena tidak mungkin lagi melakukan
ekstensifikasi lahan, peningkatan profesionalitas kinerja karyawan, hingga pengolahan
limbah sisa produksi pengolahan tebu. Pabrik yang dibangun di areal bekas penanaman
tembakau ini secara lumrah terus mengalami pasang surut. Meskipun kita tahu dewasa ini
lahan perkebunan yang seyogyanya dimiliki oleh PT. Perkebunan cukup banyak yang
dialihfungsikan ataupun diambil hak penggunaannya secara sepihak oleh masyarakat.
Hal di atas menjadi salah satu tujuan penulisan skripsi ini di mana penulis ingin
mengulas keberadaan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX. Selain itu skripsi ini juga
diupayakan dapat memberikan kontribusi positif bagi Pabrik Gula Kwala Madu itu sendiri.
Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif di mana penulis mengumpulkan berbagai data
dan informasi baik primer ataupun skunder. Sedangkan analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif di mana penulis menceritakan secara kronologis mulai dari sebelum Pabrik
Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX dibangun sampai peleburan PT. Perkebunan IX dan
PT. Perkebunan II menjadi PT. Perkebunan Nusantara II.

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................

i

UCAPAN TERIMA KASIH .....................................................................................

ii

ABSTRAK .................................................................................................................

v

DAFTAR ISI .............................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL .....................................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR .................................................................................................

x

BAB I PENDAHULUAN ..........................................................................................

1

1.1 Latar Belakang Masalah ...............................................................................

1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................

4

1.3 Tujuan dan Manfaat .....................................................................................

4

1.4 Tinjauan Pustaka .........................................................................................

5

1.5 Metode Penelitian ........................................................................................

8

BAB II PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM) SEBELUM
TAHUN 1984 .............................................................................................................

10

2.1 Latar Belakang Berdirinya PGKM ...............................................................

10

2.1.1 Kebijakan Pemerintah ........................................................................

13

2.1.2 Tujuan Pendirian PGKM ....................................................................

16

2.2 Persiapan Produksi Perdana PGKM .............................................................

16

2.2.1 Dana ...................................................................................................

17

2.2.2 Lokasi ................................................................................................

17

2.2.3 Bahan Baku ........................................................................................

20

vi

Universitas Sumatera Utara

2.2.4 Pembagian Keuntungan Diawal Produksi ...........................................

23

BAB III PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM) TAHUN 1984-1996 ...........

24

3.1 Manajemen PGKM PT. Perkebunan IX .......................................................

24

3.1.1 Struktur Organisasi .............................................................................

24

3.1.2 Tugas dan Tanggung Jawab ................................................................

27

3.2 Hasil Produksi PGKM .................................................................................

34

3.3 Pengembangan Sumber Daya PGKM ..........................................................

37

3.3.1 Lahan Perkebunan Tebu .....................................................................

37

3.3.2 Bahan Baku ........................................................................................

38

3.3.3 Modal .................................................................................................

40

3.3.4 Tenaga Kerja ......................................................................................

41

3.4 Langkah-Langkah Kebijakan .......................................................................

47

BAB IV DAMPAK PELEBURAN PTP IX DAN PTP II TERHADAP
MANAJEMEN PGKM .............................................................................................

49

4.1 Struktur Organisasi PGKM ..........................................................................

50

4.2 Sumber Daya Manusia PGKM .....................................................................

51

BAB V KESIMPULAN ............................................................................................

52

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

vii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perkembangan Areal Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) .................................

13

Tabel 2.2 Impor Gula Indonesia ..................................................................................

14

Tabel 2.3 Komposisi Kandungan Zat yang Terkandung dalam Batang Tebu ...............

20

Tabel 3.1 Produksi Gula dan Tetes Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan
IX Tahun 1984 – 1993 ................................................................................................

35

Tabel 3.2 Areal Perkebunan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX .................

38

Tabel 3.3 Jumlah Tenaga Kerja Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX
Tahun 1988 – 1992 .....................................................................................................

42

Tabel 3.4 Tingkat Upah Karyawan Pabrik Gula Kwala Madu
PT. Perkebunan IX ......................................................................................................

45

viii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Layout Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX ..............................

18

Gambar 2.2 Diagram Alir Pengolahan Tebu Menjadi Gula .........................................

22

Gambar 3.1 Struktur Organisasi Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX ...........

26

ix

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX merupakan bagian dari proyek
pemerintah dalam upaya mencapai swasembada gula nasional. Pabrik yang didirikan
berdasarkan tender internasional ini dalam perjalanannya telah menorehkan banyak kisah.
Kebijakan pemerintah dibidang pergulaan benar-benar mempengaruhi semua sektor yang
terkait dengan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX. Namun campur tangan
pemerintah ini tidak mengurangi kinerja Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX itu
sendiri. Pabrik ini pernah mengalami masa kejayaannya, sama halnya dengan Pabrik Gula Sei
Semayang PT. Perkebunan IX, dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Sumatera Utara.
Berbagai upaya dilakukan untuk terus mengembangkan kualitas dan kuantitas dari
pabrik itu sendiri. Dari peningkatan mutu bahan baku, karena tidak mungkin lagi melakukan
ekstensifikasi lahan, peningkatan profesionalitas kinerja karyawan, hingga pengolahan
limbah sisa produksi pengolahan tebu. Pabrik yang dibangun di areal bekas penanaman
tembakau ini secara lumrah terus mengalami pasang surut. Meskipun kita tahu dewasa ini
lahan perkebunan yang seyogyanya dimiliki oleh PT. Perkebunan cukup banyak yang
dialihfungsikan ataupun diambil hak penggunaannya secara sepihak oleh masyarakat.
Hal di atas menjadi salah satu tujuan penulisan skripsi ini di mana penulis ingin
mengulas keberadaan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX. Selain itu skripsi ini juga
diupayakan dapat memberikan kontribusi positif bagi Pabrik Gula Kwala Madu itu sendiri.
Tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif di mana penulis mengumpulkan berbagai data
dan informasi baik primer ataupun skunder. Sedangkan analisis yang digunakan adalah
analisis deskriptif di mana penulis menceritakan secara kronologis mulai dari sebelum Pabrik
Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX dibangun sampai peleburan PT. Perkebunan IX dan
PT. Perkebunan II menjadi PT. Perkebunan Nusantara II.

v

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pabrik Gula Kwala Madu atau sering disebut orang dengan istilah PGKM
merupakan satu dari dua pabrik gula yang saat ini dimiliki oleh PT. Perkebunan
Nusantara II (PTPN II). Di Sumatera Utara, PT. Perkebunan Negara II merupakan
satu-satunya Badan Usaha Milik Negara di bidang perkebunan yang sampai saat ini
masih memproduksi gula pasir sebagai salah satu komoditinya.
Pabrik Gula Kwala Madu awalnya merupakan salah satu dari unit produksi
PT. Perkebunan IX (PTP IX). Selain Pabrik Gula Kwala Madu, PT. Perkebunan IX
juga memiliki pabrik gula lain yang juga memproduksi gula pasir yaitu Pabrik Gula
Sei Semayang (PGSS) yang terletak di Kabupaten Deli Serdang. Pabrik Gula Sei
Semayang dalam pendiriannya lebih cepat setahun dari Pabrik Gula Kwala Madu.
Oleh sebab itu ketika Pabrik Gula Kwala Madu selesai dibangun pabrik ini
dinamakan Pabrik Gula Sei Semayang II (PGSS II). Namun karena letaknya bukan di
wilayah Kabupaten Deli Serdang melainkan di Kabupaten Langkat dan atas
permintaan dari masyarakat sekitar maka Pabrik Gula Sei Semayang II (PGSS II)
kemudian diubah namanya menjadi Pabrik Gula Kwala Madu.
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX merupakan proyek pemerintah
dalam upaya mencapai swasembada gula pasca diberlakukannya sistem Tebu Rakyat

1

Universitas Sumatera Utara

Intensifikasi (TRI) tahun 1975. 1 Tujuan utama dari sistem Tebu Rakyat Intensifikasi
tersebut adalah:
1. Mengalihkan pengusahaan tebu yang semula berada di tangan pabrik gula
dengan sistem sewa, ke tangan petani yang harus mengusahakan sendiri
tanaman tebu di atas lahannya.
2. Memperbaiki penghasilan petani tebu dengan meningkatkan produktifitas
melalui pengelolaan usaha tani yang lebih intensif.
3. Menjamin peningkatan dan kemantapan produksi gula.
Di Sumatera Utara, program Tebu Rakyat Intensifikasi mulai diterapkan
sekitar tahun 1986, yaitu di Kabupaten Langkat dan meluas di Kabupaten Deli
Serdang sekitar tahun 1988. Dalam program ini, pemerintah mengalihkan sistem
penyewaan lahan petani menjadi pengusahaan sendiri oleh petani di bawah
bimbingan pabrik gula (PG) dan Bank Rakyat Indonesia sebagai institusi bantuan
permodalan (dalam bentuk kredit). 2 Kedua kabupaten ini letaknya bersebelahan dan
terkenal sebagai daerah perkebunan. Di samping sebagai daerah perkebunan tebu,
daerah ini juga merupakan daerah perkebunan karet dan kelapa sawit. 3 Di antara

1

TRI atau Tebu Rakyat Intensifikasi diatur dalam Inpres No. 9 tahun 1975 yang dikeluarkan
tanggal 22 April 1975. Lihat dalam Mubyarto dan Daryanti, Gula: Kajian Sosial-Ekonomi,
Yogyakarta: Aditya Media, 1991, hal. 14-19
2

Roosgandha Elizabeth, Restrukturisasi Ketenagakerjaan dalam Proses Modernisasi
Berdampak Perubahan Sosial pada Masyarakat Petani, Bandung: Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian Bogor, 2002, hal. 2
3

Hal ini tidak terlepas dari peran Jacobus Nienhuys yang membuka perkebunan tembakau
untuk pertama kali pada tahun 1863 di wilayah Kesultanan Deli. Lihat dalam Karl J. Pelzer, Toean

2

Universitas Sumatera Utara

kedua kabupaten inilah terdapat Pabrik Gula Kwala Madu yang letaknya di Kebun
Kwala Begumit Desa Kwala Madu Kecamatan Stabat Kabupaten Langkat.
Pabrik Gula Kwala Madu dikelola oleh PT. Perkebunan IX dengan tender
internasional. Di mana 40% adalah dana pemerintah sedangkan sisanya dimiliki oleh
Hitachi Ship Building and Engineering Co. Ltd. yang kemudian berganti nama
menjadi Hitachi Zosen. Namun pada tahun 1996 melalui Peraturan Pemerintah No. 6
s.d. 19 tahun 1996 tentang peleburan 26 Badan Usaha Milik Negara Perkebunan
menjadi 14 Badan Usaha Milik Negara Perkebunan maka PT. Perkebunan IX dan PT.
Perkebunan II dilebur dan digabungkan menjadi satu (merger) dengan nama PT.
Perkebunan Nusantara II. Hal ini menjadi salah satu daya tarik bagi penulis untuk
mengetahui mengapa PT. Perkebunan IX di-merger dengan PT. Perkebunan II yang
tentu saja dilihat dari sisi Pabrik Gula Kwala Madu sebagai salah satu unit
produksinya. Alasan lainnya yaitu apakah Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan
IX mengalami perkembangan sejak didirikan tahun 1984 sampai tahun 1996 atau
justru mengalami kemunduran, dan faktor-faktor lain yang menarik untuk melakukan
penelitian dari sudut pandang kesejarahan terhadap Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX.
Oleh sebab itu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah disebutkan
di atas maka judul skripsi yang penulis susun adalah Pabrik Gula Kwala Madu
(PGKM) PT. Perkebunan IX (1984–1996). Tahun 1984 dipilih karena pada tahun

Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur 1863 – 1947, Jakarta:
Sinar Harapan, 1985, hal. 51-55

3

Universitas Sumatera Utara

inilah pabrik mulai melakukan produksi untuk pertama kalinya. Sementara tahun
1996 dipilih karena pada tahun ini PT. Perkebunan IX dan PT. Perkebunan II
melakukan merger.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam sebuah penelitian tentu diperlukan rumusan masalah agar peneliti
dapat mengetahui batasan-batasan dalam penelitian yang dilakukannya. Oleh sebab
itu, permasalahan-permasalahan yang akan dibahas di dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Apa yang melatarbelakangi berdirinya Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX?
2. Bagaimana Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX selama tahun 19841996?
3. Bagaimana dampak peleburan PT. Perkebunan IX dan PT. Perkebunan II
terhadap manajemen Pabrik Gula Kwala Madu?

4

Universitas Sumatera Utara

1.3 Tujuan dan Manfaat
Setiap penelitian tentu harus memiliki tujuan dan manfaat sebagai titik akhir
dari penelitian itu sendiri. Berikut merupakan tujuan yang ingin dicapai di dalam
penelitian ini:
1. Mengetahui latar belakang berdirinya Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX.
2. Mengetahui keadaan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX selama
tahun 1984-1996.
3. Mengetahui dampak peleburan PT. Perkebunan IX dan PT. Perkebunan II
terhadap manajemen Pabrik Gula Kwala Madu.
Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini antara lain:
1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang keberadaan Pabrik Gula
Kwala Madu PT. Perkebunan IX.
2. Sebagai referensi bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian yang
berhubungan dengan Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX dan tidak
menutup kemungkinan dilakukannya penelitian lanjutan bila ditemukan fakta
baru.

5

Universitas Sumatera Utara

1.4 Tinjauan Pustaka
Kepustakaan sangat diperlukan sebagai sumber pendukung penelitian
sehingga hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang diharapkan dan tidak keluar
dari rumusan masalah yang telah dibuat. Oleh sebab itu, relevansi literatur yang
digunakan menjadi tuntutan dalam sebuah penelitian.
Di Bawah Asap Pabrik Gula: Masyarakat Desa di Pesisir Jawa Sepanjang
Abad Ke-20 merupakan referensi penting dalam penelitian ini karena isinya
berkonsentrasi pada peranan pabrik gula di daerah Jawa Tengah sepanjang abad 20.
Buku yang diredaksi oleh Hiroyosi Kano, dkk berisi tentang sejarah Pabrik Gula
Comal yang dibangun sejak masa kolonial Belanda. Tentu ini sangat membantu
penulis dalam memahami seluk beluk pabrik gula. Studi gabungan yang terdapat di
dalam buku ini sangat membantu penulis dalam menggunakan pendekatan penelitian
yang dilakukan.
Di dalam buku Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif yang
diredaksi oleh Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo di mana salah satu
tulisan yang ditulis oleh Ralp W. Hidy menjelaskan bahwa sejarah perusahaan
menekankan terutama pada elemen-elemen mikro ekonomi di masa lampau dan
memusatkan perhatian terutama pada proses perubahan dan sumber asal perusahaan. 4
Hal ini memberi pijakan kepada penulis bahwa masalah fungsional dari
4

Lebih jelas lihat Sejarah Perusahaan oleh Ralph W. Hidy dalam Taufik Abdullah dan
Abdurrachman Surjomihardjo, Ilmu Sejarah dan Historiografi: Arah dan Perspektif, Jakarta: PT.
Gramedia, 1985, hal. 186

6

Universitas Sumatera Utara

perkembangan perusahaan, seperti lahan, nilai produksi, modal, pemasaran, pasar,
keuntungan, kebijakan pemerintah serta tenaga kerja dapat menjadi kajian yang ingin
dituliskan dalam sejarah perusahaan. Selain itu, pendekatan yang dipilih menjadi
ukuran dalam memandang pengusaha dan perusahaan di masa lampau. Walaupun
demikian, pendekatan apapun yang dipilih oleh penulis harus tetap berhubungan
dengan masalah yang akan dibahas di dalam penelitian ini.
Selanjutnya buku yang ditulis oleh Haryono Semangun berjudul PenyakitPenyakit Tanaman Perkebunan Di Indonesia di mana salah satu isinya membahas
tentang penyakit-penyakit yang menyerang tanaman tebu menjadi referensi bagi
penulis untuk memahami lebih jauh mengenai seluk-beluk tanaman tebu. Tebu yang
notabenenya merupakan salah satu tanaman perkebunan sejak dulu telah diteliti agar
dapat menghasilkan varietas unggul dan tentu berujung pada peningkatan hasil
produksi. Sedikit banyaknya pemahaman ini membantu penulis dalam masalah yang
terdapat di dalam kualitas dan kuantitas produksi gula pasir karena tebu merupakan
bahan utama untuk menghasilkan gula pasir seperti yang diproduksi oleh Pabrik Gula
Kwala Madu PT. Perkebunan IX.
Kemudian Mubyarto dalam bukunya Masalah Industri Gula Di Indonesia
menjadi acuan penting dalam penelitian ini. Walaupun buku tersebut lebih banyak
membahas tentang perjalanan industri gula di Pulau Jawa namun jika dilihat dari
sejarah industri gula itu sendiri maka hal ini wajar terjadi. Kita tahu bahwa eksploitasi
perkebunan tebu untuk industri gula sejak dulu lebih dikembangkan di Pulau Jawa.
Menurut penulis hal ini dapat digunakan sebagai bahan pembanding dalam penelitian
7

Universitas Sumatera Utara

ini mengingat Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX berada di luar Pulau
Jawa.
Buku yang ditulis oleh Beddu Amang yang berjudul Kebijaksanaan
Pemasaran Gula Di Indonesia dapat dijadikan panduan bagi penulis dalam menelaah
pengaruh kebijakan gula nasional terhadap industri gula di Indonesia khususnya pada
masa Orde Baru. Metodologi Sejarah yang ditulis oleh Kuntowijoyo menjadi
referensi tambahan bagi penulis dalam mendapatkan pengetahuan dasar mengenai
kajian sejarah ekonomi sehingga penulis lebih terarah dalam penelitian ini nantinya.

1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian sejarah lazim juga disebut metode sejarah. Metode itu
sendiri berarti cara, jalan, atau petunjuk pelaksanaan atau petunjuk teknis. Metode di
sini dapat dibedakan dari metodologi, sebab metodologi adalah science of methods,
yakni ilmu yang membicarakan jalan. 5 Metode sejarah bertujuan untuk memastikan
dan menganalisis serta mengungkapkan kembali fakta-fakta masa lampau. Sejumlah
sistematika penulisan yang terangkum di dalam metode sejarah sangat membantu
setiap peneliti di dalam merekonstruksi kejadian pada masa yang telah lalu. Istilah
metode dalam arti metode sejarah hendaknya diartikan secara lebih luas, tidak hanya
pelajaran mengenai analisa kritis saja, melainkan juga meliputi usaha sintesa dari data

5

Dudung Abdurrahman, Metode Penelitian Sejarah, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999, hal. 43

8

Universitas Sumatera Utara

yang ada sehingga menjadi penyajian dan kisah sejarah yang dapat dipercaya. 6
Metode sejarah bertumpu pada empat langkah yaitu heuristik, kritik sumber,
interpretasi, dan historiografi.
Heuristik merupakan suatu ketrampilan dalam menemukan, menangani, dan
memerinci bibliografi, atau mengklasifikasi dan merawat catatan-catatan. 7 Metode ini
dilakukan dengan cara studi kepustakaan, observasi lapangan, ataupun studi
wawancara di mana keseluruhannya bertujuan untuk menemukan sumber-sumber
yang diperlukan baik sumber primer maupun sumber skunder. Tidak ada batasan
terhadap pengumpulan sumber selama sumber tersebut masih relevan dengan masalah
penelitian. Sumber-sumber yang dimaksud diantaranya berupa buku-buku, arsip,
data-data resmi yang dikeluarkan oleh Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX,
laporan tahunan, surat kabar, peta lahan bahan baku (tebu), dan sumber-sumber lain
yang diambil dari berbagai dimensi persoalan penelitian.
Metode kedua yaitu kritik sumber yang dilakukan untuk menyeleksi sumbersumber yang telah didapatkan sebelumnya sehingga dihasilkan sumber-sumber yang
paling objektif. Banyaknya sumber yang ditemukan tentu tidak seluruhnya digunakan
oleh peneliti. Oleh karena itu, kritik sumber memainkan peran yang penting dalam
metode sejarah. Metode ini terdiri dari dua jenis yaitu kritik intern yang merupakan
penyeleksian terhadap isi dan kritik ekstern yang merupakan penyeleksian terhadap
bahan.
6

Hugiono dan Poerwantana, Pengantar Ilmu Sejarah, Jakarta: Rineka Cipta, 1992, hal. 25

7

Dudung Abdurrahman, op cit., hal. 64

9

Universitas Sumatera Utara

Tahapan selanjutnya yaitu interpretasi yang berarti penafsiran ataupun
analisis terhadap sumber atau data yang ditemukan. Hal ini dilakukan untuk meredam
subjektifitas penulis dan menghasilkan fakta sejarah yang objektif. Walaupun
subjektifitas dalam sejarah tidak dapat dihilangkan namun setidaknya hal ini dapat
dikurangi porsinya sehingga lebih banyak ditemukan objektifitas di dalam sejarah itu
sendiri.
Metode keempat adalah historiografi di mana metode ini merupakan langkah
terakhir di dalam metode sejarah. Historiografi merupakan cara penulisan,
pemaparan, atau pelaporan hasil penelitian sejarah yang telah dilakukan. 8 Ketika
sejarawan memasuki tahap menulis maka ia mengerahkan seluruh daya pikirannya,
bukan saja ketrampilan teknis penggunaan kutipan-kutipan dan catatan-catatan, tetapi
yang terutama penggunaan pikiran-pikiran kritis dan analisis sejarawan itu sendiri
sehingga menghasilkan suatu penulisan yang utuh.

8

Dudung Abdurrahman, Ibid., hal. 67

10

Universitas Sumatera Utara

BAB II
PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM)
SEBELUM TAHUN 1984

2.1 Latar Belakang Berdirinya PGKM
Gula yang dalam hal ini adalah gula pasir merupakan suatu komoditi strategis
yang memiliki kedudukan unik yang berbeda dengan komoditi strategis lain seperti
beras. Mengingat pentingnya peranan gula ini maka pemerintah memberikan
perhatian yang besar terhadap penyediaan bahan ini. Di satu sisi gula merupakan
salah satu bahan kebutuhan pokok yang dikonsumsi masyarakat secara luas. Akan
tetapi di sisi lain komoditi gula juga termasuk dalam jenis komoditi yang masih
terkena cukai. Keadaan ini tentu akan mempengaruhi kebijaksanaan dan sistem
pergulaan yang terjadi baik dari segi produksi, pengolahan dan pemasarannya.
Kebijaksanaan pergulaan pada dasarnya mengandung empat hal yaitu
kebijaksanaan di bidang produksi, pemasaran, harga dan pemenuhan kebutuhan gula.
Di bidang produksi, kebijaksanaan pemerintah untuk mencapai swasembada gula
tidak strategis seperti pada beras, sehingga menempatkan prioritas peningkatan
produksi gula di bawah beras. Situasi demikian mengandung implikasi yang cukup
besar karena gula dan beras merupakan tanaman yang memiliki kompetisi
penggunaan lahan yang tinggi. Baik gula maupun beras, sebagian besar produksi
masih dihasilkan di Pulau Jawa pada lahan pengairan baik. Keadaan ini menyebabkan
usaha meningkatkan produksi beras dan gula secara bersama-sama sering dihadapkan

11

Universitas Sumatera Utara

pada faktor keterbatasan lahan. Sesuai dengan keadaan alam Indonesia yang beriklim
tropis di mana tebu tumbuh dengan sangat baik maka pabrik gula di Indonesia
menggunakan tebu sebagai bahan bakunya. Oleh sebab itu, dalam upaya mencapai
swasembada gula tentu sangat diperlukan ekstensifikasi lahan penanaman tebu serta
penambahan jumlah pabrik gula yang tentu saja harus dilakukan di luar Pulau Jawa.
Uraian di atas menjadi faktor yang melatarbelakangi pendirian pabrik gula di
luar Pulau Jawa di mana Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX adalah salah
satu realisasi dari proyek pemerintah ini. Banyak hal yang telah diupayakan
pemerintah mulai dari melakukan kerja sama dengan perusahaan asing untuk
mendapatkan dana pembangunan pabrik gula serta pemberian kredit lunak bagi
masyarakat untuk penambahan jumlah lahan penanaman tebu. Oleh karena itulah
maka selain perusahaan milik negara, rakyat juga ikut dalam membudidaya tebu yang
dikenal dengan nama Tebu Rakyat Bebas (TRB) dan Tebu Rakyat Intensifikasi
(TRI). Tabel 2.1 berikut menerangkan bagaimana perkembangan areal Tebu Rakyat
Intensifikasi:

12

Universitas Sumatera Utara

TABEL 2.1
Perkembangan Areal Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI)
No.

Tahun (Ha)

Propinsi
1984

1985

1986

1987

111.054 128.144 141.343 138.491

1.

Jawa Timur

2.

Jawa Tengah

54.541

52.322

57.492

59.490

3.

Jawa Barat

11.215

13.659

14.779

14.235

4.

Yogyakarta

4.127

5.993

5.656

2.936

5.

Lampung

-

-

734

1.238

6.

Sumatera Utara

-

-

264

698

Sumber: A. Moerdokusumo, 1993 : 11

2.1.1 Kebijakan Pemerintah
Besarnya peranan yang dimiliki oleh gula ini maka persediaannya merupakan
faktor yang mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Dalam kenyataannya
kebutuhan gula nasional masih belum dapat dipenuhi dari produksi gula nasional
sehingga pemerintah harus mengimpor gula dari luar negeri atau dengan kata lain
Indonesia masih tergantung pada negara lain. Tabel 2.2 berikut menerangkan angka
impor gula Indonesia dari tahun 1982 hingga 1989:

13

Universitas Sumatera Utara

TABEL 2.2
Impor Gula Indonesia
No.

Tahun

Nilai US$

Jumlah Impor

1.

1982

-

685.000

2.

1984

1.263

1.588

3.

1985

1.600

2.463

4.

1986

16.386

58.564

5.

1987

27.598

132.561

6.

1988

36.838

132.636

7.

1989

51.675

161.931

Sumber: A. Moerdokusumo, 1993 : 11

Untuk mencegah terus berlangsungnya impor gula yang menelan dana jutaan
dollar AS itu, menjelang akhir PELITA III (1982), pemerintah menetapkan suatu
kebijaksanaan agar kebutuhan gula Indonesia dapat dipenuhi dengan produksi dalam
negeri. Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut
meliputi 4 program, yaitu:
1. Rehabilitasi dan perluasan kapasitas pabrik gula di Jawa.
2. Membangun pabrik-pabrik gula baru di luar Jawa.
3. Peningkatan Program Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI).
4. Stabilisasi harga gula di dalam negeri.
Hal inilah yang mendasari dibangunnya Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX yang merupakan salah satu dari realisasi proyek pemerintah. Pabrik
tersebut dibangun berdasarkan kontrak yang dibuat oleh Pemerintah RI melalui
14

Universitas Sumatera Utara

perantaraan Departemen Pertanian dengan Hitachi Zosen yang merupakan
perusahaan kontraktor Jepang. Perjanjian kontrak ditandatangani pada tanggal 23
Nopember 1981 sedangkan masa pembangunan fisik serta pemasangan seluruh
peralatan pabrik mulai dilaksanakan pada tanggal 6 Pebruari 1982. Masa
pembangunan berlangsung selama kurang lebih dua tahun dan menelan biaya sebesar
± Rp. 35.000.000.000,-.
Jika dilihat dari jumlah dana yang dihabiskan hanya untuk pembangunan
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX tentu sangat mencengangkan bagi kita.
Belum lagi proyek pemerintah lainnya yang dicanangkan pada tahun yang sama
hanya untuk mencapai swasembada gula. Apalagi proyek tersebut dilakukan dengan
bantuan modal asing. Namun perlu kita ketahui bahwa pada dasarnya kebijakan
pergulaan di Indonesia memiliki beberapa tujuan antara lain:
1. Meningkatkan produksi menuju swasembada.
2. Penyerapan tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan petani.
3. Meningkatkan penggunaan lahan kurang produktif.
4. Sebagai sumber pendapatan untuk mendorong pengembangan industri gula.
5. Meningkatkan penerimaan negara melalui pajak gula/industri pergulaan.
6. Sebagai sarana meningkatkan kemampuan golongan ekonomi lemah.
Dari sini dapat kita lihat bahwa proyek pemerintah ini merupakan proyek
jangka panjang di mana tujuan yang ingin dicapai yaitu pemenuhan kebutuhan gula
nasional dengan produksi gula nasional tanpa ada impor gula dari negara lain. Selain

15

Universitas Sumatera Utara

itu, pencapaian swasembada gula tentu akan berujung pada peningkatan devisa
negara.
2.1.2 Tujuan Pendirian PGKM
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX didirikan selain sebagai
implementasi proyek pemerintah juga memiliki tujuan dasar yaitu:
1. Dapat menyerap tenaga kerja sebanyak-banyaknya.
2. Pengadaan gula untuk wilayah Sumatera Utara dalam usaha swasembada
gula.
3. Memberikan pemasukan kepada kas negara.
4. Meningkatkan pendapatan masyarakat melalui Tebu Rakyat Intensifikasi
(TRI).
Beberapa hal yang disebutkan di atas tentu menyadarkan kita betapa buruknya
pun suatu proyek pemerintah di mata kita namun di sisi lain masih memiliki efek
positif yang terkadang tidak terbesit di dalam nalar kita.

2.2 Persiapan Produksi Perdana PGKM
Keberhasilan proses produksi gula ditentukan baik oleh faktor-faktor yang
bersifat teknis maupun non-teknis. Berkaitan dengan faktor teknis, upaya mencapai
produktifitas dan produksi yang maksimal dapat dilakukan melalui penerapan teknis
budidaya yang tepat. Demikian pula penanganan panen hingga pengolahan tebu
menjadi gula. Dalam hal ini diperlukan teknologi pengolahan gula sehingga produk
ini bisa disimpan lama selama periode menunggu untuk dikonsumsi. Keseluruhan
16

Universitas Sumatera Utara

rangkaian kegiatan tersebut yaitu sejak penanaman tebu hingga tahap panen maupun
pasca-panennya merupakan kegiatan yang saling terkait satu sama lain yang pada
prinsipnya setiap tahap kegiatan harus diusahakan sedemikian rupa untuk dapat
memperoleh gula maksimal dengan tingkat kehilangan seminimal mungkin.
2.2.1 Dana
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX merupakan pabrik gula kedua di
Sumatera Utara setelah Pabrik Gula Sei Semayang (PGSS) PT. Perkebunan IX. Jika
Pabrik Gula Sei Semayang merupakan proyek dengan dana PT. Perkebunan IX
sendiri maka Pabrik Gula Kwala Madu merupakan proyek pemerintah dengan pihak
PT. Perkebunan IX. Di sini pihak PT. Perkebunan IX ditunjuk sebagai agen pelaksana
untuk mengolahnya dengan angka perbandingan 60:40 di mana 40% dana pemerintah
sedangkan 60% merupakan dana PT. Perkebunan IX.
Di sini perlu dijelaskan bahwa Hitachi Zosen yang telah disebutkan
sebelumnya merupakan wakil dari PT. Perkebunan IX dalam hal pemenuhan dana
pembangunan pabrik gula. Setelah pabrik gula selesai dibangun maka pengolahannya
kemudian dipegang oleh PT. Perkebunan IX.
2.2.2 Lokasi
Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX berada ± 4 Km dari jalan utama
diantara Tandem dan Kwala Begumit. 17 Pabrik ini menempati lokasi seluas ± 2,5 Ha.
Pabrik mengarah ke jalan utama dan sumber air (sungai) berada ± 8 Km di belakang
17

Jalan utama yang dimaksud merupakan jalan yang menghubungkan antara Medan dengan
Pangkalan Berandan. Sementara itu Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX berjarak ± 45 Km
dari Medan.

17

Universitas Sumatera Utara

pabrik. Keseluruhan bangunan pabrik merupakan bangunan yang permanen dan
sebagian besar menggunakan kerangka besi. Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX didirikan pada bekas areal penanaman tembakau atau lebih tepatnya
di wilayah Afdeling Pongei Kebun Kwala Begumit PT. Perkebunan IX di Kabupaten
Langkat. Gambar 2.1 berikut merupakan layout dari Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX:
GAMBAR 2.1
Layout Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX

Sumber: Manajemen Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT. Perkebunan IX

18

Universitas Sumatera Utara

Keterangan Gambar:
1.

Pintu Masuk

2.

Boundan Fence Line

3.

Weigh Budge

4.

Tempat Penampungan Tebu

5.

Cane Handling Station

6.

Space Parts House

7.

Work Shop

8.

Molasses Tank

9.

Mill House

10.

Line House

11.

Sulphun House

12.

Boiling House

13.

Boiler

14.

Boiler Control House

15.

Power dan W.T. House

16.

Factory Office dan Laboratorium

17.

Sugar Wake House

18.

Condensate Tank

19.

Bagasse Storage

20.

Oil Tank

21.

Water Treatment House
19

Universitas Sumatera Utara

22.

Water Treatment Station

23.

Drainale

24.

Water Intake

2.2.3 Bahan Baku
Bahan baku merupakan bahan yang terlibat langsung dalam proses produksi
atau dengan kata lain bahan yang digunakan langsung sebagai bahan utama dalam
proses produksi. Pengadaan bahan baku Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX
diperoleh dari kebun sendiri, tanaman Tebu Rakyat Bebas dan Tebu Rakyat
Intensifikasi.
Kadar gula dalam batang tebu dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya
iklim, jenis tebu yang ditanam, pemeliharaan tanaman dan jenis tanah. Komposisi
dalam batang tebu dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut:
TABEL 2.3
Komposisi Kandungan Zat yang Terkandung dalam Batang Tebu
No.

Kandungan Zat

Jumlah
(%)

1.

Monosacharida

0,5 – 1,5

2.

Sacharosa (gula)

11 – 19

3.

Serat (Cellulosa dan Pentijon)

11 – 19

4.

Zat Anorganik

0,5 – 1,5

5.

Asam Organik

0,5

6.

Bahan Lain

12

7.

Air

65 – 75

Sumber: Mubyarto dan Daryanti, 1991 : 27
20

Universitas Sumatera Utara

Dalam pengadaan bahan baku dalam hal ini adalah tebu, Pabrik Gula Kwala
Madu PT. Perkebunan IX menanam berbagai jenis tebu yaitu B2.110, B2.134, F.171,
F.154, PS.58, dan BM.261 dengan total luas areal kebun 8.434,53 Ha. Saat yang tepat
untuk memanen atau menebang tebu adalah pada tingkat kemasakan yang maksimal
yaitu pada saat kadar sacharosa dalam batang tebu berada pada titik puncaknya.
Untuk mengetahui saat tebang yang tepat, kurang lebih tiga bulan sebelum masa
giling dilakukan analisis penetapan kemasakan tebu setiap dua minggu sekali. Dari
hasil analisis tersebut dapat diketahui besarnya angka rendemen sebagai dasar
perhitungan untuk menentukan apakah tanaman tebu dalam satu areal tertentu sudah
tiba saatnya untuk ditebang. Batang tebu hasil tebangan kemudian diangkut ke pabrik
dengan menggunakan truk. Gambar 2.2 berikut merupakan diagram pengolahan tebu
menjadi gula:

21

Universitas Sumatera Utara

GAMBAR 2.2
Diaram Alir Pengolahan Tebu Menjadi Gula
Batang Tebu

Air Imbibisi

Penggilingan
(Ekstraksi)

Ampas

Nira Mentah
Bahan Pembersih

Pembersihan
(Klarifikasi)

Blotong

Nira Bersih
Penguapan
(Evaporasi)

Air

Nira Pekat
Pengkristalan
(Kristalisasi)

Air

Masekuit
Pemisahan Kristal

Melasse

Kristal Gula

Sumber: Mubyarto dan Daryanti, 1991 : 36

22

Universitas Sumatera Utara

2.2.4 Pembagian Keuntungan Diawal Produksi
Sesuai dengan posisinya sebagai agen pelaksana maka PT. Perkebunan IX
tidak sepenuhnya memiliki keuntungan yang diperoleh dari produksi gula di Pabrik
Gula Kwala Madu. Porsinya yang 60:40 mengharuskan PT. Perkebunan IX membagi
keuntungan yang diperoleh untuk diberikan kepada pemerintah setelah dikurangi
biaya produksi. Belum lagi pembayaran kredit kepada pihak Hitachi Zosen atas biaya
yang dikeluarkan untuk pembangunan pabrik. Oleh sebab itu keuntungan di awal
produksi lebih diutamakan untuk pembayaran kredit yang sebelumnya digunakan
untuk biaya pembangunan Pabrik Gula Kwala Madu.

23

Universitas Sumatera Utara

BAB III
PABRIK GULA KWALA MADU (PGKM)
TAHUN 1984 – 1996

3.1 Manajemen PGKM PT. Perkebunan IX
Pada dasarnya pengertian dari manajemen itu adalah kegiatan untuk mencapai
suatu tujuan dengan mengkordinir sejumlah manusia. Oleh karena kegiatan untuk
meningkatkan kegunaan suatu barang atau jasa tidak dapat dilakukan sendiri tetapi
dilakukan bersama-sama dengan orang lain maka dibutuhkanlah kegiatan manajemen.
Kegiatan manajemen ini dilakukan untuk mengatur dan mengkombinasi faktor-faktor
produksi yang dalam kehidupan sehari-hari sering dinyatakan sebagai uang, mesin,
bahan, dan manusia yang kemudian digunakan untuk meningkatkan kegunaan suatu
barang atau jasa secara efisien.
3.1.1 Struktur Organisasi
Struktur organisasi perusahaan merupakan bagian yang menggambarkan pola
hubungan kerja antara satu dengan lainnya di dalam melaksanakan fungsi-fungsi
mereka. Jadi struktrur organisasi perusahaan sangat memegang peranan penting
dalam perkembangan perusahaan dan tanpa organisasi yang baik perusahaan tersebut
tidak akan berkembang. Jika dilihat dari sudut pimpinan maka tipe organisasi yang
digunakan Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT. Perkebunan IX adalah organisasi
garis atau sistem militer.

24

Universitas Sumatera Utara

Dalam organisasi garis wewenang mengalir dari pimpinan kepada
bawahannya dan dari bawahan ini mengalir kepada bawahannya lagi dan sampai
kepada pekerja dalam lapangannya masing-masing. Jadi dalam pabrik yang
menggunakan sistem garis ini, tugas dan perintah dari direktur melalui berbagai
pemimpin pabrik, pimpinan bagian, mandor-mandor sampai kepada pekerja. Tiap
bawahannya mempunyai seorang atasan yang mengatur pekerjaannya dan
bertanggung jawab kepadanya (one man – one boss). Masing-masing bagian
menjalankan tugasnya sesuai dengan tugas dan fungsinya dan garis perintah berjalan
dari tingkat paling atas hingga paling bawah.
Dalam mengelola untuk mencapai tujuannya, Pabrik Gula Kwala Madu PT.
Perkebunan IX dipimpin oleh seorang Administrateur. Administrateur membawahi
beberapa orang kepala bagian (Kabag) dan Kabag membawahi beberapa Kasubbag
kemudian Kasubbag membawahi seksi-seksi yang langsung memimpin buruh. Untuk
lebih jelasnya struktur organisasi Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX dapat
dilihat pada Gambar 3.1 berikut:

25

Universitas Sumatera Utara

GAMBAR 3.1
Struktur Organisasi Pabrik Gula Kwala Madu PT. Perkebunan IX
ADMINISTRATEUR

KABAG TANAMAN

KABAG PABRIK

KABAG TUK/UMUM

KEPALA RAYON/
KOORDINTAOR

KASUBAG
INSTALASI

KASUBAG
PEIN/AB

KASUBAG
PERCOBAAN

KASUBAG
PABRIKASI

KASUBAG
HAK DAN UMUM

KASUBAG
TEBANG ANGKUT

KASUBAG
LABORATORIUM

KASIR

KASUBAG
ALAT PERTANIAN/
BENGKEL TRAKTOR

KASUBAG
BENGKEL UMUM

GUDANG MATRIAL

TATA USAHA

KASUBAG KENDARAAN
BERMOTOR/BENGKEL

GUDANG HASIL

KASUBAG
TEHNIK SIPIL

GUDANG HASIL

TATA USAHA

JEMBATAN TIMBANG

POLIKLINIK

KEPALA KEAMANAN

Sumber: Manajemen Pabrik Gula Kwala Madu (PGKM) PT. Perkebunan IX

26

Universitas Sumatera Utara

3.1.2 Tugas dan Tanggung Jawab
Adapun tugas dan tanggung jawab dari masing-masing bagian adalah :
1.

Administrateur
a. Melaksanakan ketetapan yang

digariskan Direksi

dalam

bidang

pengeolaan pabrik, pengelolaan produksi dan pembangunan umum.
b. Melaksanakan kebijakan perusahaan baik ke luar maupun ke dalam.
c. Menyusun rencana kerja perusahaan, anggaran belanja dan rehabilitasi
pembangunan serta pengembangan perusahaan baik jangka panjang
maupun jangka pendek.
d. Mengusahakan keamanan dan keselamatan serta kesejahteraan karyawan
dan keluarganya.
e. Bertanggung jawab kepada Direksi dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
2.

Kabag Tanaman
a. Menyusun rencana tanaman dan pembibitan serta pelaksanaannya.
b. Mengusahakan tebu agar memenuhi syarat kualitas dan kuantitas sesuai
dengan yang direncanakan.
c. Mengatur penggunaan biaya dalam rangka pengendalian Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPB).
d. Bertanggung jawab kepada Administrateur dalam melaksanakan tugastugasnya.

27

Universitas Sumatera Utara

3.

Kabag Pabrik
a. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran proses di pabrik dan
peralatannya.
b. Mengatur pengeluaran biaya di pabrik.
c. Bertanggung jawab kepada Administrateur dalam melaksanakan tugastugasnya.

4.

Kabag TUK/Umum
a. Melaksanakan semua tata usaha atau pembukuan anggaran, korespondensi
secara likuiditas, urusan umum, kepegawaian, surat-surat berharga dan
kas.
b. Membuat perencanaan dan pengawasan anggaran belanja.
c. Mengatur kelancaran jalannya perusahaan.
d. Mengajukan saran demi perbaikan dan membuat laporan secara periodik.
e. Bertanggung jawab kepada Administrateur dalam melaksanakan tugastugasnya.

5.

Kepala Rayon/Kordinator
a. Melaksanakan rencana kerja bidang tanaman dan mengusahakan tebu agar
memenuhi syarat kualitas maupun kualitas di daerah satu rayon masingmasing.
b. Mengawasi pelaksanaan kerja teknis maupun administratif.
c. Bertanggung jawab kepada Kabag Tanaman.

28

Universitas Sumatera Utara

6.

Kasubag Percobaan
a. Menyediakan bibit untuk tanaman tebu seperti yang direncanakan.
b. Melaksanakan percobaan pembibitan untuk mendapatkan bibit yang lebih
baik.
c. Bertanggung jawab atas tugas-tugasnya kepada Kabag Tanaman.

7.

Kasubag Tebang Angkut
a. Mengawasi kegiatan penebangan dan pengangkutan tebu ke pabrik di
daerah masing-masing.
b. Mencatat jumlah tebu yang ditebang dan yang diangkut di sektor masingmasing.
c. Mengusahakan kelancaran pengangkutan tebu ke pabrik.
d. Bertanggung jawab atas tugas-tugasnya kepada Kabag Tanaman.

8.

Kasubag Alat Pertanian/Bengkel Traktor
a. Membantu tugas Kabag Tanaman dalam bidang mekanik.
b. Merawat mesin dan traktor agar semua siap pakai demi kelancaran
kerjanya.
c. Bertanggung jawab kepada Kabag Tanaman.

9.

Kasubag Instalasi
a. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran proses peralatan pabrik.
b. Memenuhi permintaan pabrikasi dalam bidang instalasi dan memperbaiki
alat-alat yang rusak dalam proses.

29

Universitas Sumatera Utara

c. Mengumpulkan data untuk membuat laporan secara lisan insidetil dan
berkala.
d. Menyusun formasi pegawai di bagian instalasi.
e. Membawahi seksi-seksi yaitu Mill, Boiler, Listrik, Instrumen dan
Workshop yang masing-masing seksi melaksanakan dan mengawasi
kegiatannya.
f. Bertanggung jawab penuh kepada Kabag Pabrik.
10.

Kasubag Pabrikasi
a. Bertanggung jawab penuh atas kelancaran proses terutama produksi gula
yang dihasilkan dan menekan kehilangan gula yang sekecil-kecilnya.
b. Mengusahakan

akan

penghematan

pemakaian

bahan

pembantu

pengolahan dengan kualitas yang tetap dapat diterima pasaran.
c. Menyusun rencana anggaran belanja bagian pabrikasi.
d. Menyusun formasi pegawai di bagian Instalasi.
e. Membawahi seksi-seksi pemurnian, exapont, masakan dan putaran yang
masing-masing seksi melaksanakan dan mengawasi kegiatannya.
f. Bertanggung jawab kepada Kabag Pabrik atas kelancaran tugas-tugasnya.
11.

Kasubag Laboratorium
a. Merencanakan pemakaian/penyediaan kebutuhan bahan kimia untuk
pembuatan gula.
b. Mengawasi para analisis dalam menganalisa bahan-baha pembuatan
proses dan menganalisa produk.
30

Universitas Sumatera Utara

c. Menyusun laporan harian, lima belas hari dalam masa giling.
d. Bertanggung jawab kepada Kabag Pabrik.
12.

Kasubag Bengkel Umum
a. Membantu tugas Kasubag Instalasi dalam bidang pelajaran reparasi mesin
dan peralatan lainnya.
b. Mengusahakan

perbaikan

sece

Dokumen yang terkait

Dokumen baru