Analisis Keberlanjutan Dan Peran Kelembagaan Kelompok Tani Sapi Perah Terhadap Pendapatan Anggota Kelompok (Studi Kasus : Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, Jakarta Timur)

(1)

ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN PERAN KELEMBAGAAN

KELOMPOK TANI SAPI PERAH TERHADAP

PENDAPATAN ANGGOTA KELOMPOK

(Studi Kasus : Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok

Ranggon, Jakarta Timur)

TIARA AYUNING PUTRI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR


(2)

(3)

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Keberlanjutan dan Peran Kelembagaan Kelompok Tani Sapi Perah terhadap Pendapatan Anggota Kelompok (Studi Kasus : Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, Jakarta Timur) adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dan karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Juni 2015

Tiara Ayuning Putri NIM H44110065


(4)

(5)

ABSTRAK

TIARA AYUNING PUTRI. Analisis Keberlanjutan dan Peran Kelembagaan Kelompok Tani Sapi Perah terhadap Pendapatan Anggota Kelompok (Studi Kasus : Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, Jakarta Timur). Dibimbing oleh ACENG HIDAYAT dan OSMALELI.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan kelembagaan yang baik dan keuntungan yang dirasakan anggota dengan bergabung dalam kelompok tani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan metode analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Kelompok memiliki kekuatan kelembagaan yang baik berdasarkan proses terbentuknya kelompok; (2) Kelompok memiliki status keberlanjutan kelembagaan tinggi yang menunjukkan bahwa pengelolaan kelembagaan pada kelompok tersebut sudah berjalan dengan baik; (3) Kelompok memiliki peran dalam membantu memecahkan masalah usahatani, kemudahan akses informasi, pasar, teknologi dan permodalan serta efisiensi sumberdaya dan (4) Pendapatan yang diterima kelompok pada tahun 2014 yaitu sebesar Rp 9.779.772.668,00/tahun dengan R/C ratio 2,4 yang artinya usaha sapi perah tersebut menguntungkan dan dapat terus dijalankan. Kelompok berperan terhadap peningkatan pendapatan anggota sebesar Rp 84.600.000,00/tahun.

Kata kunci: kelembagaan, keberlanjutan, kelompok tani, sapi perah

ABSTRACT

TIARA AYUNING PUTRI. Analysis of Sustainability and Role of Institutional Dairy Cattle Farming Group to the Member Revenue (Study Case : Swadaya Pondok Ranggon Dairy Cattle Farming Group, East Jakarta). Supervised by ACENG HIDAYAT and OSMALELI.

The purpose of this study is to show good institutional managemet and the advantages of joining a farming group. The result of this study showed that (1) Swadaya Pondok Ranggon has a good institutional strength due to group formation process (2) Swadaya Pondok Ranggon has a high level of institutional sustainability status which shows that the institutional management of the group goes well (3) Swadaya Pondok Ranggon has a role in helping its member to solve the problems, increase information access, markets, technology, capital, and resource efficiency (4) the income of this group in 2014 is Rp 9.779.772.668,00 with 2.4 of R/C ratio, it shows that this group is beneficial to run. Swadaya Pondok Ranggon contributed to increase the member revenue of Rp 84,600,000.00/year derived from the value of vaccinations and medicines that should be excluded by farmers as production costs, but as it gets help from the group, such value is classified as a non-cash benefit of farmers.


(6)

(7)

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi

pada

Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan

ANALISIS KEBERLANJUTAN DAN PERAN KELEMBAGAAN

KELOMPOK TANI SAPI PERAH TERHADAP

PENDAPATAN ANGGOTA KELOMPOK

(Studi Kasus : Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok

Ranggon, Jakarta Timur)

TIARA AYUNING PUTRI

DEPARTEMEN EKONOMI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR


(8)

(9)

(10)

(11)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas

segala karunia-Nya sehingga skripsi ini berhasil diselesaikan. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. Ir. Aceng Hidayat, M.T dan Osmaleli, S.E, M.Si sebagai Komisi Pembimbing serta Dr. Ir. Ahyar Ismail, M. Agr dan Benny Osta Nababan, S.Pi, M.Si sebagai dosen penguji atas arahan, ilmu, dukungan, kesabaran dan semangat dalam penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh staff Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan atas bimbingan, arahan dan perhatiannya.

Terima kasih kepada keluarga tercinta Papa Bambang Sukamto, Mama Inti Rubiyani, dan adik tercinta Alm. Aji Pamungkas atas kasih sayang, semangat dan doa yang selalu dilimpahkan kepada penulis, terima kasih penulis sampaikan kepada Ketua Kelompok Tani Swadaya Pondok Ranggon Bapak Fahrurrozi dan anggota kelompok lainnya yang tidak bisa disebutkan satu per satu atas waktu dan informasi yang diberikan selama proses pengumpulan data. Ucapan terima kasih kepada saudara sepupu Sari, Intan, Shasha, Citra, Alfa, Imam, Adam dan Sabian atas dukungan yang selalu diberikan. Sahabat SMA Adit, Reza, Aul, Reno, dan Ryu. Sahabat-sahabat ESL, Ira, Astrid, Widi, Aida, Upe, Azwar, Aji, Adit, Ikhsan, Pido, Auzan, Bayeg dan Ocoy. Sahabat-sahabat satu bimbingan Intan, Rani, Fitriana, Hafiz, Santi dan Lanie. Sahabat REESA Kak Dila, Kak Cui, Acis, Assyifa, Eco, Dwi dan Linda atas kebersamaan selama ini, serta saran dan dukungan yang selalu diberikan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Bogor, Juni 2015


(12)

(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xv

DAFTAR LAMPIRAN xv

I. PENDAHULUAN 1

1.1 Latar belakang 1

1.2 Perumusan masalah 4

1.3 Tujuan Penelitian 5

1.4 Manfaat Penelitian 6

1.5 Ruang Lingkup Penelitian 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 7

2.1 Definisi Kelembagaan 7

2.2 Kelembagaan Petani 8

2.3 Persepsi 10

2.4 Usahaternak Sapi Perah 12

2.5 Analisis Pendapatan 15

2.6 Penelitian Terdahulu 16

III. KERANGKA PEMIKIRAN 19

IV. METODE PENELITIAN 21

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 21

4.2 Jenis dan Sumber Data 21

4.3 Metode Pengambilan Contoh 22

4.4 Metode Pengelolaan dan Analisis Data 22

4.4.1 Identifikasi Proses Terbentuknya Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 24

4.4.1.1 Analisis Aktor yang Berperan dalam Pembentukan

Kelompok Tani 24

4.4.1.2 Analisis Motivasi Awal Anggota Bergabung dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya

Pondok Ranggon 24

4.4.1.3 Analisis Tingkat Kepentingan Aktor terhadap Kelompok dalam Melaksanakan Kegiatan Usaha

Sapi Perah 25

4.4.2 Analisis Status Keberlanjutan (Sustainability) Kelompok


(14)

4.4.3 Identifikasi Peran Kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap

Anggota Kelompok 29

4.4.4 Analisis Pendapatan dan Peran Kelompok terhadap Peningkatan Pendapatan Peternak Anggota Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 29 4.4.4.1 Analisis Pendapatan Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 30

4.4.4.2 Peran Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap Peningkatan

Pendapatan Anggota Kelompok 31

V. GAMBARAN UMUM 33

5.1 Kondisi Umum Lokasi Penelitian 33

5.2 Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 34

5.3 Karakteristik Responden 34

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 37

6.1 Identifikasi Proses Terbentuknya Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 37

6.1.1 Analisis Aktor yang Berperan dalam Pembentukan

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 37 6.1.2 Analisis Motivasi Awal Pembentukan Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 38 6.1.3 Analisis Tingkat Kepentingan Aktor terhadap Kelompok

dalam Melaksanakan Kegiatan Usaha Sapi Perah 39 6.2 Analisis Status Keberlanjutan (Sustainability) Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 40 6.2.1 Parameter Keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon 40

6.2.2 Status Keberlanjutan Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 47

6.3 Identifikasi Peran Kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap Anggota Kelompok 47 6.4 Analisis Pendapatan dan Peran Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap Peningkatan

Pendapatan Anggota Kelompok 50

6.4.1 Usahaternak Sapi Perah pada Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 50

6.4.2 Analisis Pendapatan Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon 57

6.4.3 Analisis Peran Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya


(15)

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 65

7.1 Kesimpulan 65

7.2 Saran 66

DAFTAR PUSTAKA 67

LAMPIRAN 71

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1.1 Produksi Susu Sapi Segar di Indonesia Tahun 2009-2013 1 1.2 Konsumsi Susu Per Kapita Per Tahun Periode 2009-2012 2 4.1 Jenis dan Sumber Data yang Diperlukan dalam Penelitian 21 4.2 Matriks Keterkaitan antara Tujuan Penelitian, Variabel dan

Analisis Data 23

4.3 Matriks Analisis Proses Terbentuknya Kelembagaan Kelompok Tani 24 4.4 Matriks Motif Aktor dalam Pembentukan Kelompok Tani 25 4.5 Parameter Tingkat Kepentingan Aktor terhadap Kelompok 26 4.6 Selang Tingkat Kepentingan Peternak terhadap Kelompok

Dalam Menlaksanakan Kegiatan Usaha Sapi Perah 26 4.7 Parameter dalam Menentukan Keberlanjutan Kelembagaan

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 27 4.8 Selang Tingkat Keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon 28

4.9 Matriks Peran Kelompok Tani terhadap Anggota 29 5.1 Karakteristik Responden dalam Penelitian 35 6.1 Matriks Identifikasi Peran dan Keterlibatan Para Aktor dalam

Pembentukan Kelompok Tani 37

6.2 Motivasi Awal Bergabungnya Peternak ke dalam Kelompok Tani 38 6.3 Tingkat Kepentingan Aktor terhadap Kelompok dalam

Melaksanakan Kegiatan Usaha Sapi Perah 39

6.4 Aturan Informal yang Berlaku pada Kelompok Usahatani

Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 43

6.5 Analisis Keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon 47

6.6 Peran Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok

Ranggon terhadap Anggota 48

6.7 Daftar Satuan Ternak 51

6.8 Penentuan Populasi Ternak Sapi Perah pada Awal Tahun

di Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 51 6.9 Populasi Ternak Sapi Perah Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon Tahun 2014 51

6.10 Jenis dan Jumlah Pakan yang Digunakan dalam Kelompok


(16)

6.11 Penerimaan Anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya

Pondok Ranggon dari Hasil Penjualan Susu Tahun 2014 56 6.12 Komponen Biaya Usahaternak di Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon Tahun 2014 57

6.13 Perubahan Nilai Ternak di Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon Tahun 2014 59

6.14 Komponen Penerimaan Usahaternak di Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon Tahun 2014 59 6.15 Total Pendapatan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya

Pondok Ranggon Tahun 2014 60

6.16 Pendapatan Anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya

Pondok Ranggon dari Hasil Penjualan Susu Tahun 2014 61 6.17 Rasio Penerimaan dengan Biaya Usahaternak pada

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Tahun 2014 62

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

3.1 Kerangka Pemikiran Operasional 20

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1 Kuesioner Penelitian 73

2 Pengembangan Kelompok Tani Berdasarkan Peraturan Menteri

Pertanian No 82/Permentan/OT.140/8/2013 77

3 Populasi Sapi Perah di Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon Awal Tahun 2014 79 4 Populasi Sapi Perah di Kelompok Usahatani Sapi

Perah Swadaya Pondok Ranggon Akhir Tahun 2014 80

5 Jumlah Kebutuhan Konsentrat tahun 2014 81

6 Jumlah Kebutuhan Ampas Tahu tahun 2014 81

7 Jumlah Kebutuhan Hijauan tahun 2014 82

8 Jumlah Biaya Tenaga Kerja tahun 2014 82

9 Biaya Transpotasi tahun 2014 83

10 Biaya Obat-Obatan yang Seharusnya Dikeluarkan Peternak 83

11 Biaya Inseminasi Buatan (IB) tahun 2014 84

12 Nilai Penyusutan Milk Can tahun 2014 84

13 Nilai Penyusutan Ember Stainless tahun 2014 85

14 Nilai Penyusutan Kandang tahun 2014 85

15 Nilai Penyusutan Kendaraan tahun 2014 86

16 Biaya Listrik tahun 2014 86

17 Penerimaan dari Penjualan Susu tahun 2014 87 18 Penerimaan dari Penjualan Ternak tahun 2014 87


(17)

19 Penerimaan Non Tunai dari Perubahan Nilai tahun 2014 88

20 Total Pendapatan Peternak tahun 2014 88

21 Total Biaya Tetap Peternak tahun 2014 89


(18)

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia sebagai negara berkembang membutuhkan sumberdaya manusia yang sehat dan cerdas sebagai modal pembangunan bangsa. Salah satu upaya melahirkan sumberdaya manusia yang sehat dan cerdas adalah dengan pemenuhan empat sehat lima sempurna. Lima sempurna yang dimaksud adalah konsumsi susu setelah terpenuhinya empat sehat lainnya, yaitu makanan pokok, lauk-pauk, sayur-mayur dan buah-buahan. Susu sebagai penyempurna kebutuhan gizi manusia memiliki banyak manfaat dalam membantu pertumbuhan manusia. Menurut Wardyaningrum (2011), rutin mengonsumsi susu setiap hari dapat membantu meningkatkan efisiensi kerja otak besar, menambah kekuatan tulang, mencegah tulang menyusut dan patah tulang, membuat jantung dan sistem syaraf tahan terhadap kelelahan, dapat menyembuhkan luka dengan cepat dan dapat meningkatkan ketajaman penglihatan.

Kesadaran masyarakat Indonesia untuk hidup sehat mengakibatkan permintaan susu di Indonesia meningkat. Namun, pasokan susu dari dalam negeri yang masih rendah dan harga produk impor yang lebih murah menyebabkan tingginya impor bahan baku susu ke Indonesia. Tabel 1.1 menunjukkan data produksi susu di Indonesia tahun 2009-2013.

Tabel 1.1 Produksi susu sapi segar di Indonesia tahun 2009-2013

No Provinsi 2009

(Ton)

2010 (Ton)

2011 (Ton)

2012 (Ton)

2013 (Ton)

1 Aceh 34 37 33 43 52

2 Sumatera Utara 1.657 1.762 1.850 761 774

3 Sumatera Barat 1.264 1.264 741 988 1.028

4 Riau 125 130 164 177 211

5 Jambi - - - - 106

6 Sumatera Selatan 15 16 62 66 70

7 Bengkulu 1.055 1.128 356 401 456

8 Lampung 178 110 162 279 360

9 Kepulauan Bangka Belitung 67 69 185 210 231

10 DKI Jakarta 5.723 6.346 5.345 5.439 5.451

11 Jawa Barat 255.348 262.177 302.603 281.438 293.107

12 JawaTengah 91.762 100.150 104.141 105.516 107.982

13 D I Yogyakarta 5.038 4.989 3.167 6.019 6.901

14 Jawa Timur 461.880 528.100 551.977 554.312 560.398

15 Banten - - 1 - -

16 Bali 169 195 175 168 183

17 Nusa Tenggara Barat - - 28 28 28


(20)

2

Tabel 1.1 Lanjutan

No Provinsi 2009

(Ton) 2010 (Ton) 2011 (Ton) 2012 (Ton) 2013 (Ton)

19 Kalimantan Selatan 129 146 168 307 399

20 Kalimantan Timur - - - 64 66

21 Sulawesi Selatan 2.778 2.794 3.363 3.000 3.175

22 Gorontalo 25 43 32 - 1

23 Sulawesi Barat - - 20 71 110

24 Papua - - 11 - -

Indonesia 827.249 909.533 974.694 959.732 981.586

Sumber: Kementerian Pertanian, 2013

Berdasarkan Tabel 1.1, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi penghasil susu terbesar di Indonesia yaitu sebesar 400-500 ribu ton susu per tahunnya, tabel di atas juga menunjukkan terjadinya penurunan produksi susu pada tahun 2012 dibandingkan tahun sebelumnya pada tahun 2011. Produksi susu dalam negeri tentunya berpengaruh terhadap permintaan susu di Indonesia. Data konsumsi susu per kapita per tahun masyarakat Indonesia periode 2009-2012 dapat dilihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2 Konsumsi susu per kapita per tahun periode 2009-2012

No Komoditi Satuan 2009 2010 2011 2012

1 Susu segar liter/kapita/tahun 0,104 0,104 0,156 0,156 2 Susu cair pabrik 250 ml/kapita/tahun 0,834 0,939 1,147 1,460 3 Susu kental manis 397 gr/kapita/tahun 3,024 3,337 3,285 2,711

4 Susu bubuk kg/kapita/tahun 0,730 0,782 0,730 0,365

5 Susu bubuk bayi 400 gr/kapita/tahun 1,199 1,199 1,356 1,408

6 Keju kg/kapita/tahun 0,005 0,005 0,010 0,010

7 Hasil lain dari susu kg/kapita/tahun 0,031 0,037 0,037 0,042 Sumber:Kementerian Pertanian, 2013

Berdasarkan Tabel 1.2 konsumsi susu dibagi berdasarkan beberapa jenis komoditi yaitu susu segar, susu cair pabrik, susu kental manis, susu bubuk, susu bubuk bayi, keju dan hasil lain dari susu yang masing-masing memiliki satuan tertentu dalam perhitungannya. Susu kental manis merupakan komoditi dengan jumlah konsumsi tertinggi yaitu sebanyak 2-3 kaleng susu kental manis per kapita per tahun dengan satuan 397 gram per kemasan.

Rendahnya produksi susu dalam negeri belum dapat memenuhi seluruh permintaan susu yang ada di Indonesia. Menurut Kementerian Perindustrian (2014) hanya 21% kebutuhan susu di Indonesia yang dapat dipenuhi oleh peternak dalam negeri, sedangkan 79% lainnya masih harus di impor. Impor susu didatangkan dari Selandia Baru, Australia, Amerika Serikat dan Eropa. Kegiatan


(21)

3 negeri dan perekonomian negara, sehingga diperlukan upaya peningkatan produksi susu dalam negeri agar dapat terbebas dari ketergantungan impor.

Rendahnya produksi susu dalam negeri disebabkan oleh produktivitas peternak sapi perah dalam negeri yang belum maksimal. Skala usaha yang masih kecil, besarnya biaya pembibitan, terbatasnya lahan serta minimnya perhatian pemerintah terhadap peternak kecil menjadi kendala bagi peternak untuk dapat mengembangkan usaha dan meningkatkan produksinya. Para peternak individu atau skala kecil pada dasarnya lebih rentan mengalami kegagalan dibandingkan peternak yang bergabung dalam kelompok, hal ini dikarenakan kendala yang dihadapi oleh peternak individu hanya ditangani sendiri.

Bergabungnya peternak individu ke dalam kelompok tani dengan pengelolaan yang baik merupakan solusi bagi para peternak untuk dapat mengembangkan usahanya. Menurut Suwitaningrum (2013), dengan bergabungnya peternak atau petani ke dalam kelompok tani memberikan banyak manfaat, yaitu semakin cepatnya perembesan (difusi) inovasi atau teknologi baru, semakin meningkatnya orientasi pasar baik yang berkaitan dengan input maupun produk yang dihasilkan, serta dapat memanfaatkan secara lebih optimal semua sumberdaya yang tersedia. Namun, belum semua kelompok tani yang dibentuk dapat berjalan dengan baik, masih terdapat kelompok tani yang mengalami kegagalan dalam pelaksanaannya.

Menurut Fonna (2012), kegagalan kelompok tani disebabkan oleh menurunnya dinamika kelompok sehingga mempengaruhi kinerja suatu kelompok. Penurunan dinamika kelompok dapat disebabkan oleh faktor teknis dan faktor sosial. Faktor teknis yaitu kegagalan panen karena serangan hama, kondisi dan penyediaan air yang buruk dan lain sebagainya, sedangkan faktor sosial seperti realisasi dari perencanaan yang sudah disepakati yang selalu tidak bisa ditepati, kurangnya kepercayaan anggota terhadap pengurus dalam mengelola modal kelompok, dan rendahnya kemampuan menjalin hubungan dengan lembaga lain

sehingga menyebabkan kelompok tani tidak berjalan dengan baik dan mengalami kegagalan. Meskipun demikian, tidak sedikit ditemui kelompok tani yang berhasil mengembangkan usaha dan dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya.


(22)

4

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon merupakan salah satu kelompok tani yang berhasil karena telah memiliki skala usaha cukup besar dan terus berkembang setiap tahunnya. Kelompok tani yang berlokasi di Kelurahan Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur ini berdiri sejak tahun 1992 berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No 300 tahun 1986 yang menyatakan bahwa Kawasan Sapi Perah Pondok Ranggon merupakan kawasan usahaternak yang berada di bawah pengawasan Dinas Peternakan Jakarta Timur. Pemerintah daerah DKI Jakarta membentuk Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan susu di Jakarta dan meningkatkan produktivitas para peternak sapi perah.

Usia Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon yang telah mencapai 22 tahun dan skala usaha yang terus berkembang menandakan tingkat keberlanjutan dan pengelolaan kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon sudah berjalan cukup baik. Sehingga dapat dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dan keberlanjutan kelompok tani serta peran kelompok tani terhadap peningkatan pendapatan anggota. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengemukakan keuntungan berternak secara kelompok dan sebagai referensi bagi peternak atau petani tentang pengelolaan kelompok tani yang kuat, berkelanjutan dan dapat meningkatkan pendapatan anggota.

1.2 Perumusan masalah

Para peternak sapi perah yang tergabung dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon merupakan peternak yang sebelumnya tinggal di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Maraknya pembangunan pada tahun 1992 mengakibatkan para peternak sapi perah direlokasi ke kawasan Pondok Ranggon yang jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Sebagai gantinya pemerintah memberikan lahan seluas 30 hektar di daerah Pondok Ranggon untuk lahan usahaternak yang diberi nama Kawasan Sapi Perah Pondok Ranggon.

Adanya kesamaan motivasi untuk meningkatkan pendapatan usaha dan kesejahteraan ekonomi, mendorong para peternak bergabung ke dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon. Pembentukan kelompok tani bertujuan untuk memudahkan para peternak dalam mendapatkan informasi dan


(23)

5 bantuan dari pemerintah yang sering kali sulit didapat peternak individu. Selain itu, dengan tergabungnya peternak ke dalam kelompok tani, para peternak dapat melakukan sharing pengalaman antar anggota sehingga kendala yang dihadapi lebih mudah diatasi karena diselesaikan secara bersama-sama, dan juga sebagai penengah apabila terdapat anggota yang terlibat konflik sehingga masalah yang timbul dapat terselesaikan dengan baik.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui status keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon dan peran kelompok terhadap anggota serta pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan anggota kelompok. Berdasarkan uraian di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon?

2. Bagaimana status keberlanjutan (sustainability) dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon?

3. Bagaimana peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota?

4. Bagaimana analisis pendapatan dan peran kelompok terhadap peningkatan pendapatan peternak anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Mengidentifikasi proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah

Swadaya Pondok Ranggon.

2. Menganalisis status keberlanjutan (sustainability) dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

3. Mengidentifikasi peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota.

4. Menganalisis pendapatan dan peran kelompok terhadap peningkatan pendapatan peternak anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.


(24)

6

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon sebagai bahan evaluasi kelompok untuk mengetahui kondisi kelompok saat ini serta keuntungan yang didapat karena tergabung ke dalam kelompok dan status keberlanjutan kelompok, sehingga dapat memperbaiki kekurangan yang ada. 2. Bagi peternak dan kelompok tani lain sebagai referensi mengenai

keuntungan bergabung ke dalam kelompok dan bagaimana pengelolaan kelembagaan yang perlu diterapkan agar kelompok dapat berkelanjutan dan berjalan dengan baik sehingga dapat meningkatan kesejahteraan ekonomi anggotanya.

3. Bagi kalangan akademisi merupakan bahan referensi maupun rujukan untuk penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini merupakan suatu kajian yang membahas mengenai status keberlanjutan dari suatu kelompok tani untuk mengetahui pengelolaan kelompok tani yang baik serta peran kelompok tani terhadap peningkatan pendapatan anggota. Penelitian dilakukan pada Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.


(25)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kelembagaan

Kelembagaan adalah suatu tatanan dan pola hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat berupa norma, kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian perilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama (Djogo et al. 2003). Djogo et al. (2003) mengemukakan ada berbagai unsur penting dari kelembagaan, diantaranya adalah:

1. Institusi merupakan landasan untuk membangun tingkah laku sosisal masyarakat

2. Norma tingkah laku yang mengakar dalam masyarakat dan diterima secara luas untuk melayani tujuan bersama yang mengandung nilai terntentu dan menghasilkan interaksi antar manusia yang terstruktur

3. Peraturan dan penegakan aturan/hukum

4. Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi koordinasi dan kerjasama dengan dukungan tingkah laku, hak dan kewajiban anggota

5. Kode etik 6. Pasar

7. Hak milik (property rights atau tenureship) 8. Organisasi

9. Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang diinginkan

Menurut Utami (2011) kelembagaan adalah suatu sistem badan sosial atau organisasi yang melakukan suatu usaha untuk mencapai tujuan tertentu. Kelembagaan memiliki inti kajian kepada perilaku dengan nilai, norma dan aturan yang mengikuti dibelakangnya. Lembaga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu lembaga formal dan lembaga non-formal. Kelembagaan lokal dan area aktivitasnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu kategori sektor publik (administrasi lokal dan pemerintah lokal); kategori sektor sukarela (organisasi keanggotaan dan koperasi); kategori sektor swasta (organisasi jasa dan bisnis swasta). Jadi pengertian dari kelembagaan adalah suatu sistem sosial yang


(26)

8

melakukan usaha untuk mencapai tujuan tertentu yang memfokuskan pada perilaku dengan nilai, norma dan aturan yang mengikutinya, serta memiliki bentuk dan area aktivitas tempat berlangsungnya.

Pejovich (1999) dalam Suhana (2008) menyatakan bahwa kelembagaan memiliki tiga komponen, yakni :

1. Aturan formal (formal institutions), meliputi konstitusi, statuta, hukum dan seluruh regulasi pemerintah lainnya. Aturan formal membentuk sistem politik (struktur pemerintahan, hak-hak individu), sistem ekonomi (hak kepemilikan dalam kondisi kelangkaan sumberdaya, kontrak), dan sistem keamanan (peradilan, polisi)

2. Aturan informal (informal institutions), meliputi pengalaman, nilai-nilai tradisional, agama dan seluruh faktor yang mempengaruhi bentuk persepsi subjektif individu tentang dunia tempat hidup mereka; dan

3. Mekanisme penegakan (enforcement mechanism), semua kelembagaan tersebut tidak akan efektif apabila tidak diiringi dengan mekanisme penegakan.

2.2 Kelembagaan Petani

Menurut Suradisastra (2008), posisi dan fungsi kelembagaan petani dalam kehidupan komunitas petani, merupakan bagian pranata sosial atau social interplay dalam suatu komunitas. Upaya pemberdayaan kelembagaan petani guna meningkatkan perhatian dan motivasi melakukan usahatani akan lebih memberikan hasil bila memanfaatkan makna dan potensi 3 (tiga) kata kunci utama dalam konteks kelembagaan. Tiga kata kunci utama tersebut yaitu: norma, perilaku serta kondisi dan hubungan sosial.

Signifikansi ketiga kata kunci tersebut dicerminkan dalam perilaku dan tindakan petani, baik dalam tindakan individu, maupun dalam tindakan kolektif. Setiap keputusan yang diambil selalu akan terkait atau dibatasi oleh norma dan pranata sosial masyarakat petani di lingkungannya. Upaya pemberdayaan kelembagaan petani memerlukan reorientasi pemahaman dan tindakan bagi para fasilitator perubahan selaku agen perubahan (change agent) dalam pelaksanaan program pembangunan pertanian (Suradisastra, 2008).


(27)

9 Kelembagaan petani (pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan) adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk pelaku utama. Pelaku utama yang dimaksud adalah masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, petani, pekebun, peternak, nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, beserta keluarga intinya (UU No 16, 2006). Peranan kelembagaan pertanian, termasuk didalamnya kelembagaan kelompok petani, sangat menentukan keberhasilan pembangunan pertanian. Kelembagaan kelompok petani di pedesaan berkontribusi dalam akselerasi pengembangan sosial ekonomi petani, aksesibilitas pada informasi pertanian, aksesibilitas pada modal, infrastruktur, pasar dan adopsi inovasi-inovasi pertanian (Anantanyu, 2008).

Keberadaan kelembagaan kelompok petani akan memudahkan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan yang lain dalam memfasilitasi dan memberikan penguatan pada petani. Keberadaan kelembagaan kelompok tani bagi petani sudah menjadi keniscayaan untuk memperbaiki taraf hidup, harkat dan martabatnya. Kelembagaan kelompok tani harus ditempatkan sebagai sarana untuk mewujudkan harapan, keinginan, dan pemenuhan kebutuhan petani (Anantanyu, 2008).

Kelembagaan petani adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk petani guna memperkuat kerjasama dalam memperjuangkan kepentingan petani dalam bentuk kelompok tani dan gabungan kelompok tani. Sedangkan kelembagaan ekonomi petani adalah kelembagaan petani baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang memiliki kegiatan usahatani dari hulu sampai hilir di sektor pertanian yang ditumbuhkembangkan dari, oleh dan untuk petani guna meningkatkan skala ekonomi yang menguntungkan dan efisiensi usaha (Kementerian Pertanian, 2012).

Kelembagaan ekonomi petani yang belum berfungsi sesuai dengan harapan antara lain disebabkan karena: 1) Kelembagaan petani masih belum berorientasi usaha produktif; 2) Akses terhadap kelembagaan keuangan/perbankan rendah; 3) Kelembagaan petani belum mampu melayani kebutuhan pengembangan agribisnis bagi anggotanya; dan 4) Kelembagaan petani belum mampu menghubungkan


(28)

10

dengan sumber-sumber informasi, teknologi, dan pasar sehingga belum mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya (Kementerian Pertanian, 2012).

Keberadaan kelompok tani merupakan salah satu potensi yang mempunyai peranan penting dalam membentuk perubahan perilaku anggotanya dan menjalin kemampuan kerjasama anggota kelompoknya. Melalui kelompok tani, proses pelaksanaan kegiatan melibatkan anggota kelompok dalam berbagai kegiatan bersama, akan mampu mengubah atau membentuk wawasan, pengertian, pemikiran minat, tekad dan kemampuan perilaku berinovasi menjadikan sistem pertanian yang maju (Rukka et al. 2008).

2.3 Persepsi

Persepsi merupakan salah satu aspek psikologis yang penting bagi manusia dalam merespon kehadiran berbagai aspek dan gejala di sekitarnya. Persepsi mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut intern dan ekstern (Ina, 2012). Menurut Malihatin (2012) yang dimaksud dengan persepsi adalah tanggapan atau pandangan tentang suatu fenomena atau hubungan dengan persepsi individu yang dapat mengerti keadaan lingkungan sekitar, dan juga tentang keadaan individu yang bersangkutan. Meskipun stimulus yang diterima sama, tapi karena pengalaman dan kemampuan berfikir yang berbeda antara individu dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.

Menurut Rakhmat (1996) dalam Malihatin (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses persepsi, antara lain:

1. Faktor internal

Individu sebagai faktor internal saling berinteraksi dalam mengadakan persepsi. Mengenai keadaan individu yang dapat mempengaruhi hasil persepsi datang dari dua sumber, yaitu berhubungan dengan segi kejasmanian dan segi psikologis. Bila sistem fisiologis terganggu, hal tersebut akan berpengaruh dalam persepsi seseorang. Sedangkan segi psikologis yaitu antara lain mengenai pengalaman, perasaan, kemampuan berpikir kerangka acuan, dan motivasi akan berpengaruh pada seseorang dalam mengadakan persepsi.


(29)

11 2. Faktor eksternal

a. Stimulus

Kejelasan stimulus akan banyak berpengaruh dalam persepsi. Stimulus yang kurang jelas akan berpengaruh dalam ketepatan persepsi. Bila stimulus berwujud benda-benda bukan manusia, maka ketepatan persepsi lebih terletak pada individu yang mengadakan persepsi, karena benda yang dipersepsi tersebut tidak ada usaha untuk mempengaruhi yang mempersepsi.

b. Lingkungan atau situasi

Lingkungan atau situasi khususnya yang melatarbelakangi stimulus juga akan berpengaruh dalam persepsi bila obyek persepsi adalah manusia. Obyek dan lingkungan yang melatarbelakangi obyek merupakan kesatuan yang sulit dipisahkan. Obyek yang sama dengan situasi sosial yang berbeda dapat menghasilkan persepsi yang berbeda.

3. Faktor fungsional

Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan hal-hal lain yang termasuk sebagai faktor-faktor personal.

a. Persepsi bersifat selektif secara fungsional

Persepsi bersifat selektif secara fungsional adalah bahwa obyek-obyek yang mendapat tekanan dalam persepsi biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Misalnya seperti pengaruh kebutuhan, kesiapan mental, suasana emosional, dan latar belakang budaya terhadap persepsi.

b. Kerangka rujukan (Frame of Reference)

Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai kerangka rujukan. Para psikolog sosial menerapkan konsep ini untuk menjelaskan persepsi sosial. Kerangka rujukan dalam kegiatan komunikasi mempengaruhi bagaimana orang memberi makna pada pesan yang diterimanya.

4. Faktor struktural

a. Sifat stimuli fisik dan efek-efek yang ditimbulkan pada sistem saraf individu. Maksudnya adalah bahwa untuk memahami suatu peristiwa tidak


(30)

12

hanya meneliti fakta-fakta yang terpisah tetapi harus memandang dalam hubungan keseluruhan atau untuk memahami seseorang harus melihat dalam kontesnya, lingkungannya, dan masalah yang dihadapi.

b. Medan perseptual dan kognitif selalu diorganisasikan dan diberi arti. Mengorganisasikan stimuli harus dengan melihat konteks, walaupun stimuli yang diterima tidak lengkap, kita akan mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimuli yang dipersepsi.

c. Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari substruktur ditentukan pada umumnya oleh sifat-sifat struktur secara keseluruhan. Jika individu dianggap sebagai anggota kelompok, semua sifat individu yang berkaitan dengan sifat kelompok dipengaruhi oleh keanggotaan kelompoknya, dengan efek berupa asimilasi atau kontras.

d. Obyek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain, cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama. Stimuli yang berdekatan satu sama lain akan dianggap satu kelompok. Dalil kesamaan dan kedekatan dalam komunikasi sering dipakai oleh komunikator untuk meningkatkan kredibilitas. Menghubungkan diri atau mengakrabkan diri dengan orang-orang yang mempunyai prestise tinggi disebut “gilt by association” (cemerlang karena

hubungan). Sebaliknya, kredibilitas berkurang karena berdampingan dengan orang-orang yang nilai kredibilitasnya rendah disebut “guilt by association

(bersalah karena hubungan).

2.4 Usahaternak Sapi Perah

Bangsa sapi perah berdasarkan tempat asalnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu bangsa sapi perah Eropa dan bangsa sapi perah Tropis. Bangsa sapi perah Eropa yaitu Fries Holland, Jersey, Guernsey, Brown Swiss, Ayrshire dan Milking shorthorn, sedangkan bangsa sapi perah tropis yaitu Red Sindhi, Sahiwal dan Australia Milking Zebu (AMZ). Sapi Fries Holland merupakan sapi perah yang memiliki produksi susu tertinggi dibandingkan bangsa-bangsa sapi perah lainnya dengan kadar lemak susu yang rendah. Produksi susu rata-rata sapi Fries Holland di Amerika Serikat yaitu sebesar 7.245 kg/laktasi dan kadar lemak 3,65%,


(31)

13 sedangkan di Indonesia produksi susu rata-rata per hari 10 liter/ekor (Sudono, 1999).

Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya diperah dua kali dalam sehari. Pemerahan di negara-negara maju dilakukan lebih dari 3 kali dalam sehari semalam. Frekuensi pemerahan yang lebih sering akan dapat meningkatkan produksi susu. Oleh karena itu, sapi-sapi perah dengan produksi susu lebih dari 20 liter/hari, sebaiknya dilakukan pemerahan 3 kali dalam sehari semalam. Jadwal dan frekuensi pemerahan harus ditetapkan dengan baik dan dilaksanakan secara konsekuen serta tidak mengubah jadwal dan frekuensi pemerahan dalam waktu yang relatif singkat karena akan mempengaruhi produksi susu (Santosa, 2009).

Perkawinan pada usahaternak sapi perah merupakan aspek yang sangat penting, karena dengan melakukan perkawinan sapi betina dewasa akan menjadi induk dan dapat menghasilkan susu. Agar perkawinan pada sapi perah dapat berhasil dan mengakibatkan kebuntingan pada sapi maka perlu diketahui ciri-ciri birahi pada sapi perah. Menurut Santosa (2009), tanda-tanda birahi pada sapi perah adalah 1) Sapi perah menjadi sangat peka terhadap sekelilingnya, 2) Sapi tidak tenang dan gelisah, 3) Sapi mencoba menaiki sapi lainnya serta 4) Vulva kelihatan memerah dan mengeluarkan lendir yang bening dan pekat. Birahi akan berlangsung kira-kira 14 jam, sedangkan menjelang berakhirnya birahi, lendir dari vulva akan mengental serta keruh dan akhirnya terhenti sama sekali.

Perkawinan yang biasa dilakukan pada ternak sapi perah di Indonesia adalah dengan cara inseminasi buatan dan kawin alami. Umur pejantan yang dapat dipakai untuk mengawinkan secara alami yaitu sapi jantan yang telah berumur 15-18 bulan dan badannya telah cukup besar atau mencapai 350 kg. Sapi jantan yang telah berumur 18 bulan dapat dipakai untuk mengawinkan dua kali seminggu, pada umur 2 tahun jantan dapat dipakai untuk mengawini lebih dari 2-3 sapi betina dalam seminggu. Pejantan yang sudah dewasa umur 3-4 tahun dapat dipakai untuk kawin 4 kali seminggu. Seekor pejantan dapat mengawini secara alami 50-60 ekor betina setahun dan sampai berumur 12 tahun (Sudono, 1999).

Calving Interval atau interval beranak pada sapi adalah waktu yang diperlukan dari sejumlah induk sejak beranak pertama hingga beranak berikutnya. Tingkat efisiensi reproduksi sapi perah dikatakan baik apabila calving interval


(32)

14

yang dicapai sebesar 360 hari dengan persentasi kebuntingan sebesar 95%. Sedangkan yang dimaksud dengan Service per Conception (S/C) adalah rata-rata jumlah inseminasi agar sapi dapat bunting. Rata-rata Service per Conception untuk sapi perah di Indonesia adalah 2 kali. Oleh karena diharapkan 85 hari setelah beranak sapi induk laktasi sudah harus bunting, maka sebaiknya perkawinan sapi perah induk laktasi dilakukan sekitar 50 hari setelah melahirkan (Santosa, 2009).

Menurut Sudono (1999), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan produksi susu diantaranya adalah bangsa/rumpun sapi, lama bunting, besarnya sapi, estrus (birahi), umur, selang beranak (calving interval), masa kering, frekuensi pemerahan dan makanan serta tata laksana pemeliharaan sapi. Produksi sapi perah di Indonesia pada umumnya masih rendah, hasil susu rata-rata per sapi per hari berkisar antara 3 sampai 10 liter tergantung pada macam peternakannya. Peternakan sapi perah yang paling menguntungkan adalah yang memiliki sapi laktasi lebih dari 60% dari jumlah keseluruhan sapi.

Produksi susu yang rendah di Indonesia disebabkan karena mutu ternaknya yang rendah atau pun kuantitas dan kualitasnya makanan yang diberikan kurang baik. Kendala tersebut dapat diatasi dengan memperhatikan beberapa faktor dalam tata laksana pemeliharaan sapi perah guna mencapai efisiensi produksi susu. Faktor tersebut diantaranya yaitu umur beranak pertama, lama laktasi, masa kering, efisiensi produksi (calving interval, service per conception, calving percentage dan lama kosong), peremajaan dan pemakaian tenaga kerja (Sudono, 1999).

Kualitas susu ditentukan berdasarkan kadar mineral yang dikandungnya, konsentrasi mineral yang rendah dapat menurunkan bobot jenis air susu. Bobot jenis air susu merupakan salah satu kriteria kualitas air susu yang sangat diperhatikan (Toharmat, 1985). Kualitas susu dapat ditentukan dengan melakukan serangkaian uji sederhana, diantaranya adalah 1) uji kebersihan meliputi warna, bau, rasa, dan ada tidaknya kotoran pada susu, 2) uji berat jenis dengan menggunakan alat laktodensi (rata-rata berat jenis susu = 1,028-1,034), 3) uji masak dan 4) uji alkohol dengan memasukkan susu dan alkohol 70-80% pada


(33)

15 tabung reaksi. Apabila pada dinding tabung reaksi terdapat endapan maka terdapat penyimpangan mutu susu misalnya susu menjadi masam (Santosa, 2009).

Kelembagaan dalam usahaternak sapi perah sangat berperan dalam menunjang pembangunan. Karena apabila kelembagaan tersebut dibangun atas dasar partisipasi masyarakat sendiri, maka akan lebih mengedepankan kepentingan kelembagaan dibandingkan dengan kepentingan individu. Bentuk kelembagaan pada agribisnis peternakan sapi perah terdiri atas kelompok usaha koperasi dan nonkoperasi. Kelompok koperasi meliputi kelompok tani ternak, gabungan kelompok dan koperasi. Sedangkan bentuk kelembagaan non koperasi adalah kolektor susu, pemasok pakan, obat-obatan dan sarana peternakan sapi perah (Santosa, 2009).

2.5 Analisis Pendapatan

Pendapatan ሺߨሻ menurut Soekartawi (2002) adalah selisih antara penerimaan atau total revenue (TR) dan semua biaya atau total cost (TC). Sehingga diperoleh rumus π = TR – TC. Pendapatan usahatani merupakan ukuran keuntungan yang digunakan sebagai pembanding dalam beberapa usahatani. Pendapatan usahatani diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan biaya total. Sehingga keuntungan yang didapatkan petani ditentukan dari besar atau kecilnya biaya yang dikeluarkan dan penerimaan yang diperoleh petani (Aryani, 2009).

Menurut Suratiyah (2008) besarnya biaya dan pendapatan usahatani dipengaruhi oleh dua faktor yaitu:

1. Faktor internal dan eksternal

Faktor internal maupun eksternal akan bersama-sama mempengaruhi biaya dan pendapatan usahatani. Faktor internal yang dapat mempengaruhi biaya dan pendapatan antara lain umur petani, pendidikan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, jumlah tenaga kerja keluarga, luas lahan, dan modal. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi biaya dan pendapatan adalah ketersediaan input, permintaan output, dan harga input dan output. 2. Faktor manajemen

Petani harus dapat mengatasi faktor ekternal yang selalu berubah. Petani sebagai juru tani harus dapat melaksanakan usahataninya dengan


(34)

sebaik-16

baiknya dengan menggunakan faktor produksi dan tenaga kerja secara efisien sehingga akan memperoleh manfaat setinggi-tingginya. Selain sebagai juru tani, petani juga bertindak sebagai manajer yang harus dapat mengambil keputusan dengan berbagai pertimbangan ekonomis, sehingga didapatkan hasil yang akan memberikan pendapatan yang maksimal. Agar dapat mengantisipasi perubahan supaya tidak salah pilih dan merugi, petani memerlukan berbagai informasi tentang kombinasi faktor produksi dan informasi mengenai harga, baik harga input maupun output.

2.6 Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai analisis kelembagaan telah dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Adina (2012) mengenai kualitas Gapoktan di Desa Banyuroto Kabupaten Magelang diperoleh beberapa informasi penting tentang pengelolaan kelembagaan yang ada dalam Gapoktan Desa Banyuroto, yaitu:

1. Gapoktan Desa Banyuroto merupakan kelembagaan petani formal yang memiliki struktur dan infrastruktur (aturan main) kelembagaan yang sudah baik. Hal ini tercermin dari indikator penting seperti Gapoktan Desa Banyuroto bekerjasama dan mempunyai hubungan yang harmonis antar aktor serta antar stakeholders terkait.

2. Total biaya transaksi yang dikeluarkan untuk kelembagaan Gapoktan Desa Banyuroto mencapai Rp 533.980.000. Biaya transaksi ini ada yang hanya dikeluarkan sekali ada yang rutin dikeluarkan setiap tahunnya. Biaya tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu biaya pembentukan kelembagaan, biaya sosialisasi kelembagaan, dan biaya operasional bersama. Biaya ini bersumber dari anggaran pemerintah dan iuran yang dikeluarkan oleh anggota Gapoktan Desa Banyuroto.

3. Kualitas dari kelembagaan Gapoktan Desa Banyuroto tersebut mampu mendorong motivasi dan partisipasi petani untuk terus menjaga semangat pertanian selaras dengan perkembangan dan inovasi teknologi pertanian serta menyelesaikan permasalahan yang ada secara bersama-sama.


(35)

17 4. Kelembagaan Gapoktan Desa Banyuroto berdampak terhadap peningkatan

kemandirian petani secara teknik bertanam, kesejahteraan petani, dan keberlanjutan pertanian strawberry.

Penelitian mengenai kelembagaan kelompok tani sebelumnya juga pernah dilakukan oleh Sari (2012) yang mengkaji ekonomi kelembagaan kelompok tani di Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kabupaten Kulon Progo. Menurut Sari (2010) berdasarkan penelitian yang ia lakukan diperoleh hasil:

1. Sistem kelembagaan kelompok tani di Desa Banaran dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu kelompok tani pesisir pantai dan kelompok tani non pesisir pantai. Sistem kelembagaan kelompok tani pesisir pantai lebih tertata secara sistematis sebagai lembaga formal, sedangkan sistem kelembagaan kelompok tani non pesisir pantai belum tertata secara sistematis dan bersifat non formal. Sistem kelembagaan tersebut meliputi aturan – aturan di dalam kelompok, tujuan kelompok didirikan dan struktur organisasi kelompok. Pada kelompok tani pesisir pantai, aturan–aturan, tujuan dan struktur organisasi sudah tertulis jelas di dalam AD/ART. Sedangkan kelompok tani non pesisir pantai tidak memiliki AD/ART.

2. Mekanisme bekerjanya kelembagaan kelompok tani di Desa Banaran dapat diklasifikasikan dalam beberapa aspek yaitu perkreditan, penyediaan saprodi, penyuluhan dan pemasaran hasil usahatani. Mekanisme kegiatan perkreditan, penyediaan saprodi, penyuluhan dan pemasaran hasil usahatani pada kelompok tani pesisir pantai sudah tertata dengan jelas serta berjalan dengan baik. Sedangkan di dalam kelompok tani non pesisir pantai tidak ada kegiatan perkreditan, penyediaan saprodi dan pemasaran. Sehingga mekanismenya juga belum jelas.

3. Jika dilihat dari hasil analisis statistik, rata – rata keuntungan usahatani di kelompok tani pesisir pantai lebih tinggi daripada usahatani pada kelompok tani non pesisir pantai. Hal tersebut berarti bahwa kelompok tani lebih berperan terhadap kemajuan usahatani di Desa Banaran ketika kelompok tani tersebut sudah memiliki aturan serta mekanisme yang jelas.

Selain penelitian yang dilakukan oleh Adina dan Sari, penelitian mengenai peran kelembagaan kelompok tani terhadap para anggota juga telah dilakukan


(36)

18

oleh Septian (2010) penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran kelembagaan kelompok tani terhadap produksi dan pendapatan petani ganyong di Desa Sindanglaya Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Menurut Septian (2010) Keberadaan kelompok tani di Desa Sindanglaya Kecamatan Sukamantri pada kegiatan usahatani ganyong memberikan pengaruh yang positif. Peran atau pengaruh adanya kelompok tani pada usahatani ganyong ini adalah : 1. Berdasarkan analisis pendapatan usahatani, produksi ganyong dari sejumlah

petani responden di Desa Sindanglaya Kecamatan Sukamantri dikatakan menguntungkan. Hal ini terlihat pada R/C rasio atas biaya tunai dan R/C rasio atas biaya total usahatani ganyong yaitu masing-masing sebesar 1,93 dan 1,30. Adanya pengaruh kelompok tani ternyata mampu meningkatkan pendapatan petani angggota kelompok dibandingkan dengan petani bukan anggota. R/C rasio untuk petani anggota pada R/C rasio atas biaya tunai sebesar 1,98 dan R/C rasio atas biaya total sebesar 1,41. Sedangkan untuk petani bukan anggota, perolehan R/C rasio atas biaya tunai sebesar 1,89 dan R/C rasio atas biaya total sebesar 1,14. Keanggotaan petani terhadap kelompok ini merupakan variabel dummy yang memiliki pengaruh nyata dibandingkan petani yang tidak bergabung. Selain variabel dummy yang memiliki pengaruh nyata, terdapat variabel – variabel lain yang berpengaruh nyata terhadap produksi ganyong adalah variabel lahan dan bibit. Sedangkan yang berpengaruh terhadap pendapatan adalah harga jual ganyong.

2. Adanya kelompok tani pada usahatani ganyong memiliki pengaruh yang positif kepada petani anggotanya. Namun walaupun kelompok tani ini memberikan dampak yang positif, tetapi belum semua petani bergabung dengan kelompok karena petani bukan anggota tersebut masih menganggap kelompok hanya bisa membeli hasil panen saat harga murah saja. Tetapi berdasarkan hasil yang ada terlihat pada tingkat produksi dan pendapatan petani anggota memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani bukan anggota. Petani anggota menghasilkan jumlah produksi per hektar tiap periode panen sebesar 23.567,73 kg ganyong, sedangkan petani bukan anggota sebanyak 23.419,67 kg. Pengaruh yang positif ini terjadi karena


(37)

19 adanya bimbingan dan penyuluhan dari kelompok tani yang mampu memberikan manfaat kepada anggotanya.

Penelitian mengenai analisis pendapatan usaha peternakan sapi perah telah dilakukan oleh Kamiludin (2009). Kamiludin melakukan analisis pendapatan usaha peternakan sapi perah di kawasan peternakan sapi perah Cibungbulang Kabupaten Bogor. Pada penelitian ini untuk mengetahui apakah pendapatan yang diperoleh peternak menguntungkan atau tidak dianalisis menggunakan rasio penerimaan dan biaya (R/C ratio). Komponen biaya yang dihitung dalam penelitian ini dibagi menjadi biaya tunai dan biaya non tunai. Biaya tunai adalah biaya yang dibayarkan sedangkan biaya non tunai adalah biaya yang tidak dibayarkan. Biaya tunai dibagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya yang dibayarkan adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar upah tenaga kerja, biaya pembelian input seperti bibit, pupuk, dan obat-obatan. Sedangkan biaya non tunai terdiri dari perubahan nilai ternak.

Kesimpulan dalam penelitian ini total biaya variabel dan biaya tetap yang dikeluarkan oleh 45 peternak di kawasan peternakan sapi perah Kabupaten Bogor masing-masing yaitu Rp 2.018.797.386 dan Rp 2.324.917.833. Total penerimaan tunai sebesar Rp 5.545.192.480 dan total penerimaan tidak tunai sebesar Rp 458.222.570, sehingga total pendapatan usahaternak adalah sebesar Rp 1.659.699.831. Pendapatan yang diperoleh untuk memelihara satu ekor sapi laktasi adalah Rp 3.916.696 per tahun. Nilai rasio penerimaan atas biaya adalah 1,38. Penghitungan nilai rasio penerimaan jika hanya dari penjualan susu atas total biaya adalah 1,10. Hal ini menunjukan bahwa peternak akan mendapat keuntungan walau hanya mengandalkan penerimaan dari hasil penjualan susu.

Penelitian mengenai analisis keuntungan atau pendapatan usahaternak yang dilakukan di Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon juga pernah dilakukan sebelumnya oleh Widodo (2009). Secara umum penelitian ini bertujuan untuk melihat keberhasilan usahaternak sapi perah di wilayah DKI Jakarta. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan keuntungan usahaternak sapi perah berdasarkan input dan output yang diperlukan usahaternak sapi perah di wilayah Pondok Rangon, Jakarta Timur.


(38)

20

Input yang termasuk dalam penelitian ini terdiri dari pembelian ternak (inventaris ternak awal), pakan, tenaga kerja, biaya kesehatan ternak, kandang, bahan bakar, listrik, air dan peralatan. Sedangkan output terdiri dari penjualan (termasuk pemberian ternak atau hadiah), hasil ternak (susu, kotoran), ternak potong, nilai karkas dan inventaris ternak akhir. Keuntungan yang diperoleh oleh peternak adalah selisih antara output dengan input. Analisis kelayakan pendapatan pada penelitian ini menggunakan perbandingan dengan Upah Minimum Regional (UMR) untuk menentukan layak atau tidaknya keuntungan yang di dapat oleh peternak yang ada di Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Upah Minimum Regional (UMR) yang digunakan adalah UMR DKI Jakarta tahun 2009 sebesar Rp 1.069.865,00/bulan.

Pada penelitian ini para peternak dibagi dua kelompok berdasarkan jumlah kepemilikan ternaknya, kelompok I kepemilikan ternak dibawah rata-rata jumlah kepemilikan ternak kelompok, dan kelompok II yang memiliki ternak lebih dari jumlah rata-rata kepemilikan ternak di dalam kelompok. Secara umum, seluruh peternak memiliki pendapatan per bulan di atas UMR hanya terdapat satu peternak pada kelompok I yang memiliki pendapatan per bulan dibawah UMR. Hal ini dikarenakan usahaternak sapi perah di Kelurahan Pondok Ranggon memiliki pasar yang besar dan peternak rata-rata sudah memiliki langganan pembeli susu sendiri. Selain itu jika kita dilihat dari jumlah skala usaha antara kelompok I dan II, maka dapat disimpulkan juga bahwa skala usaha akan berpengaruh terhadap pendapatan, yaitu semakin besar skala usaha maka semakin besar nilai pendapatannya.


(39)

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon berlokasi di Kelurahan Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Terbentuk berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta No 300 tahun 1986 dan berdiri sejak tahun 1992. Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon merupakan kelompok tani yang dinilai berhasil karena telah memiliki skala usaha yang cukup besar dan terus berkembang setiap tahunnya. Sehingga dapat dilakukan penelitian pada kelompok tani mengenai proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon untuk mengetahui kekuatan kelompok, status keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, peran Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota dan pengaruhnya terhadap peningkatan pendapatan anggota kelompok.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif dan metode analisis pendapatan. Metode analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, menganalisis status keberlanjutan dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon dan mengidentifikasi peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota. Sedangkan metode analisis pendapatan digunakan untuk menganalisis pendapatan dan peran kelembagaan terhadap peningkatan pendapatan anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat mengemukakan kekuatan kelembagaan dan status keberlanjutan dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon serta keuntungan bergabung ke dalam kelompok terutama dalam membantu meningkatkan pendapatan anggota sehingga para peternak/petani lebih termotivasi untuk bergabung ke dalam kelompok. Kerangka pemikiran operasional penelitian disajikan pada Gambar 3.1.


(40)

20

Gambar 3.1 Kerangka Pemikiran Operasional

Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok

Ranggon

Salah satu kelompok tani yang dianggap berhasil Mengidentifikasi peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota Menganalisis pendapatan dan peran kelompok terhadap peningkatan pendapatan peternak anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon. Menganalisis

status keberlanjutan (sustainability) dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon Mengidentifikasi proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Analisis Deskriptif Kuantitatif

Menunjukkan keuntungan berternak secara kelompok dan sebagai referensi pengelolaan kelompok tani yang baik dan

berkelanjutan

Membuktikan peran kelompok dalam meningkatkan

pendapatan anggota Analisis Pendapatan

Menentukan kekuatan kelembagaan dan status keberlanjutan Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon


(41)

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja) dengan pertimbangan bahwa pada daerah tersebut terdapat kelompok tani sapi perah yang berhasil dalam mengembangkan usahaternaknya selama ini dan dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya yaitu Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon. Proses pengumpulan data baik primer maupun sekunder dilakukan bulan Februari-Maret 2015.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara kepada seluruh anggota kelompok tani dan ketua Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon sebagai informan kunci karena memiliki pengetahuan paling banyak mengenai Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon. Data sekunder diperoleh dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Kementerian Perindustrian, buku, jurnal, skripsi, tesis, internet dan sumber referensi lain yang relevan.

Tabel 4.1 Jenis dan sumber data yang diperlukan dalam penelitian

No Tujuan Penelitian Data yang dibutuhkan Jenis data Sumber 1 Mengidentifikasi

proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

xAktor dalam pembentukan kelompok

xMotivasi awal anggota bergabung ke dalam kelompok

xPersepsi anggota mengenai peran kelompok dalam

membantu kegiatan usahaternak mereka

Data Primer Seluruh anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 2 Menganalisis status

keberlanjutan (sustainability) dari Kelompok

Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

xBatasan keanggotaan kelompok

xStruktur organisasi dan aturan main kelompok

xMekanisme pemberian sanksi

xMekanisme resolusi konflik

xAturan konstitusional kelompok

xPengakuan pemerintah terhadap kelompok

Data Primer Ketua Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon


(42)

22

Tabel 4.1 Lanjutan

No Tujuan Penelitian Data yang dibutuhkan Jenis data Sumber 3 Mengidentifikasi

peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota

xUpaya kelompok dalam pemecahan masalah usahatani

xKemudahan yang dirasakan anggota dalam akses informasi, pasar, teknologi dan

permodalan

xUpaya kelompok dalam efisiensi sumberdaya

Data Primer Seluruh anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon 4 Menganalisis

pendapatan dan peran kelompok terhadap peningkatan pendapatan peternak anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

xBiaya produksi yang dikeluarkan oleh seluruh anggota meliputi biaya

penyusutan, listrik, PBB, pakan, IB, upah tenaga kerja dan transportasi

xTotal penerimaan baik tunai dan non tunai meliputi

penerimaan dari penjualan susu, ternak, dan perubahan nilai ternak selama setahun

xKeuntungan seluruh peternak

xR/C Ratio

Data Primer Seluruh anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

4.3 Metode Pengambilan Contoh

Penentuan jumlah responden dalam penelitian menggunakan metode sensus karena jumlah anggota peternak sapi perah yang tergabung dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon tidak terlalu banyak yaitu 25 orang. Penggunaan metode sensus hanya dapat dilakukan bagi populasi terhingga dan subjeknya tidak terlalu banyak (Arikunto, 2006).

4.4 Metode Pengelolaan dan Analisis Data

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kuantitatif dan metode analisis pendapatan. Metode penelitian deksriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai subjek penelitian dan perilaku subjek penelitian pada suatu periode tertentu (Mukhtar, 2013). Sedangkan yang dimaksud dengan metode deskriptif kuantitatif ialah metode yang menyajikan data atau angka yang ditransformasikan ke dalam suatu bentuk sehingga pembaca lebih mudah memahami dan menafsirkan maksud dari data atau angka yang ditampilkan (Sarwono, 2006).

Analisis pendapatan dalam penelitian ini menggunakan program Microsoft Excel 2010 untuk mengolah data secara kuantitatif. Sedangkan untuk


(43)

23 menganalisis proses terbentuknya kelembagaan, status keberlanjutan dan peran kelembagaan terhadap anggota digunakan analisis deskriptif kuantitatif. Tabel 4.2 menyajikan matriks keterkaitan antara tujuan penelitian, variabel, dan metode analisis data.

Tabel 4.2 Matriks keterkaitan antara tujuan penelitian, variabel dan analisis data

No Tujuan Penelitian Variabel atau Indikator Metode Analisis 1 Mengidentifikasi

proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

Identifikasi tahapan proses terbentuknya kelembagaan kelompok usahatani meliputi:

x Aktor yang berperan dalam pembentukan kelompok serta peran dan keterlibatan masing-masing aktor.

x Motivasi awal aktor bergabung dalam kelompok

x Tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah

Metode Analisis Deskriptif

2 Menganalisis status keberlanjutan (sustainability) dari Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon.

Status keberlanjutan kelompok ditentukan berdasarkan:

x Ada tidaknya batasan keanggotaan

x Struktur organisasi dan aturan main kelembagaan

x Adanya mekanisme pemberian sanksi bagi anggota yang melanggar aturan

x Resolusi konflik yang terjadi dalam kelompok tani

x Adanya aturan konstitusional kelompok (kewenangan mengubah atau membuat aturan)

x Pengakuan dari pemerintah mengenai keberadaan kelompok

Metode Analisis Deskriptif

3 Mengidentifikasi peran kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon terhadap anggota

Peran kelompok terhadap anggota dapat ditentukan berdasarkan upaya kelompok dalam:

x Pemecahan masalah usahatani yang dialami anggota

x Kemudahan akses informasi, pasar, teknologi dan permodalan bagi anggota

x Efisiensi sumberdaya yang dilakukan kelompok

Metode Analisis Deskriptif

4 Menganalisis pendapatan dan peran kelompok terhadap peningkatan pendapatan peternak anggota Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Analisis pendapatan usaha peternak dapat ditentukan berdasarkan:

x Biaya produksi

x Penerimaan

x Pendapatan

x R/C Ratio

Metode Analisis Pendapatan.


(44)

24

4.4.1 Identifikasi Proses Terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Hal-hal yang perlu dikaji dalam menganalisis proses terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon pada penelitian ini adalah aktor utama yang berperan dalam pembentukan kelompok, motivasi awal anggota sehingga memutuskan bergabung dalam kelompok dan tingkat kepentingan masing-masing peternak terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah.

4.4.1.1 Analisis Aktor yang Berperan dalam Pembentukan Kelompok Tani Analisis aktor merupakan tahapan awal yang dilakukan untuk mengidentifikasi proses terbentuknya kelompok. Aktor-aktor yang terlibat dalam pembentukan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan dengan key person atau orang yang mengetahui dengan sangat baik mengenai Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon, yaitu ketua kelompok. Berikut matriks analisis proses terbentuknya kelompok yang disajikan pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3 Matriks analisis proses terbentuknya kelembagaan kelompok tani

No Parameter Analisis

1. Aktor yang berperan dalam pembentukan kelompok serta peran dan keterlibatan masing-masing aktor.

Mapping peran dan keterlibatan aktor dalam

pembentukan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon ke dalam tabel dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif.

Setelah diketahui aktor yang berperan dalam pembentukan kelompok, masing-masing aktor diidentifikasi peran dan keterlibatannya dalam pembentukan kelompok. Setelah itu, dilakukan mapping peran dan keterlibatan aktor ke dalam tabel. Hal ini dilakukan untuk memudahkan identifikasi peran masing-masing aktor dalam pembentukan kelompok sehingga dapat diketahui aktor yang memiliki peran dan keterlibatan dalam pembentukan kelompok.

4.4.1.2 Analisis Motivasi Awal Anggota Bergabung dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Terbentuknya Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon adalah karena adanya kesamaan motivasi dan tujuan antar sesama anggota sehingga memutuskan bergabung dalam kelompok. Motivasi awal para aktor dalam pembentukan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok


(45)

25 Ranggon perlu dianalisis untuk mengetahui kekuatan kelompok. Semakin tinggi kesamaan motivasi awal pembentukan kelompok antar anggota, semakin kuat kelompok tani yang terbentuk karena anggota kelompok memiliki tujuan yang sama.

Analisis motivasi awal pembentukan kelompok tani dibagi menjadi tiga berdasarkan motifnya, yaitu motif ekonomi untuk meningkatkan pendapatan, meningkatkan posisi tawar/bargaining position, dan untuk kemudahan akses dalam menerima bantuan dari pemerintah. Data yang diperlukan diperoleh dari hasil wawancara kepada anggota kelompok mengenai motivasi awal bergabung ke dalam kelompok, sehingga dapat diketahui berapa persentase anggota yang bergabung ke dalam kelompok karena motif ekonomi, bargaining position atau akses terhadap bantuan. Tabel 4.4 menyajikan matriks motivasi awal aktor dalam pembentukan kelompok tani.

Tabel 4.4 Matriks motif aktor dalam pembentukan kelompok tani

No Parameter Keterangan

1 Motivasi awal aktor bergabung dalam Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Motif aktor bergabung dalam kelompok diantaranya adalah:

1. Motif ekonomi

xMeningkatkan pendapatan

xMeningkatkan kesejahteraan ekonomi 2. Peningkatan posisi tawar /bargaining position

xMemiliki kekuatan pasar

xMeningkatkan tingkat produksi

xMemiliki kekuatan di pemerintahan 3. Akses terhadap modal dan bantuan lainnya

xLebih mudah mendapatkan modal

xLebih mudah mendapatkan bantuan alat dan teknologi baru

Sumber: Permentan No 82, 2013

4.4.1.3 Analisis Tingkat Kepentingan Aktor terhadap Kelompok dalam Melaksanakan Kegiatan Usaha Sapi Perah

Tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah menentukan kekuatan kelompok yang terbentuk. Analisis tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah diperoleh melalui wawancara kepada seluruh anggota kelompok mengenai persepsi mereka terhadap peran kelompok dalam membantu melaksanakan kegiatan usaha sapi perah yang mereka jalankan dan kesediaan mereka untuk terus bergabung dalam kelompok.


(46)

26

Analisis tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok diperoleh dengan melakukan penilaian atau scoring dari skala 1 sampai 3 berdasarkan tingkat kepentingan yang telah ditentukan yaitu tinggi, sedang dan rendah. Skor 3 = tinggi, 2 = sedang dan 1 = rendah (Septian, 2010). Selanjutnya ditentukan selang untuk dapat menentukan tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok secara keseluruhan. Selang diperoleh dari selisih skor tertinggi dengan skor terendah dibagi jumlah kategori jawaban (Umar, 2005). Tabel 4.5 menyajikan matriks tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah.

Tabel 4.5 Parameter tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok

No Parameter Keterangan

1 Tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok

xTinggi, anggota merasakan peran kelompok dalam membantu menjalankan usaha ternak sapi perah mereka dan ingin terus berada dalam kelompok

xSedang, anggota tidak merasakan peran kelompok dalam membantu menjalankan usaha ternak sapi perah mereka namun tetap ingin terus berada dalam kelompok

xRendah, anggota tidak merasakan peran kelompok dalam membantu menjalankan usaha ternak sapi perah mereka dan ingin keluar dari kelompok

Sumber: Permentan No 82, 2013

Selanjutnya ditentukan tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok secara keseluruhan berdasarkan selang tingkat kepentingan yang telah ditentukan. Nilai atau skor yang diperoleh untuk menentukan selang tingkat kepentingan aktor terhadap kelompok adalah 25–75. Nilai skor 25 didapat dari hasil pengalian skor terendah (1) dengan jumlah parameter yang digunakan dikalikan jumlah responden yaitu 25, atau dapat ditulis (1 x 1 x 25 = 25). Sedangkan nilai skor 75 diperoleh dari hasil pengalian skor tertinggi (3) dengan jumlah parameter yang digunakan dikalikan jumlah responden yaitu 25 atau dapat ditulis (3 x 1 x 25 = 75). Penentuan selang dilakukan dengan cara pengurangan antara nilai skor maksimum dengan nilai minimum kemudian dibagi dengan banyaknya kategori penilaian. Nilai 17 merupakan hasil dari perhitungan tersebut atau dapat ditulis:

͹ͷ െ ʹͷ

͵ ൌ ͳ͹

Sehingga didapat selang sebesar 17 untuk menentukan tingkat kepentingan seluruh peternak anggota terhadap kelompok dalam melaksanakan kegiatan usaha sapi perah yang dapat dilihat pada Tabel 4.6.


(47)

27 Tabel 4.6 Selang tingkat kepentingan peternak terhadap kelompok dalam

melaksanakan kegiatan usaha sapi perah

No Tingkat kepentingan Jumlah nilai

1 Tinggi 59 – 75

2 Sedang 42 – 58

3 Rendah 25 – 41

4.4.2 Analisis Status Keberlanjutan (Sustainability) Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

Kelompok tani yang berkelanjutan menunjukkan bahwa kelompok memiliki pengelolaan kelembagaan yang baik. Pengelolaan kelembagaan kelompok tani yang baik adalah kelompok tani yang memiliki kejelasan dalam batasan keanggotaan, struktur organisasi dan aturan main, mekanisme pemberian sanksi dan resolusi konflik, aturan konstitusional kelompok yang dapat mengubah atau membuat peraturan kelompok serta mendapat pengakuan dari pemerintah mengenai keberadaan kelompok.

Analisis keberlanjutan kelembagaan dilakukan dengan memberikan penilaian atau scoring dari skala 1 sampai 3 terhadap parameter yang telah ditentukan. Skor 3 = tinggi, 2 = sedang dan 1 = rendah (Septian, 2010). Selanjutnya ditentukan selang untuk dapat menentukan status keberlanjutan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon. Penentuan nilai selang diperoleh dari selisih skor tertinggi dengan skor terendah dibagi jumlah kategori jawaban (Umar, 2005). Tabel 4.7 menyajikan parameter dalam menentukan status keberlanjutan dari kelompok tani.

Tabel 4.7 Parameter dalam menentukan status keberlanjutan kelembagaan Kelompok Usahatani Sapi Perah Swadaya Pondok Ranggon

No Parameter Keterangan

1 Ada tidaknya batasan keanggotaan

- Tinggi, terdapat peraturan mengenai batasan keanggotaan kelompok dan syarat-syarat bergabung menjadi anggota yang tertulis secara jelas dalam AD/ART kelompok

- Sedang, terdapat peraturan mengenai batasan keanggotaan kelompok dan syarat-syarat bergabung menjadi anggota namun tidak tertulis dalam AD/ART kelompok

- Rendah, tidak terdapat peraturan mengenai batasan keanggotaan kelompok dan syarat-syarat bergabung menjadi anggota dan tidak memiliki AD/ART kelompok

2 Adanya struktur organisasi dan aturan main kelembagaan

- Tinggi, memiliki struktur organisasi dan aturan main dalam AD/ART kelompok yang dijalankan dengan baik oleh anggota

- Sedang, memiliki struktur organisasi namun tidak memiliki aturan main dalam AD/ART kelompok

- Rendah, tidak memiliki struktur organisasi dan aturan main dalam AD/ART kelompok


(1)

86

Lampiran 15. Nilai penyusutan kendaraan tahun 2014

No Nama Jumlah

(unit) Harga (Rp) Nilai sisa (Rp)

Umur (tahun)

Penyusutan (Rp/tahun)

1 Fahrurrozi 1 125.000.000 12 10.416.667

2 Abdul Aziz 3 Nawawi

4 H. Romli 1 9.000.000 5 1.800.000

5 Reza Hafidz 1 80.000.000 5 16.000.000

6 Bahroji 1 85.000.000 10 8.500.000

7 Komarudin 8 H. Huda

9 Rochmani 1 85.000.000 10 8.500.000

10 Fatimah 1 8.000.000 7 1.142.857

11 Makmun

12 Faruq 1 112.000.000 89.600.000 1 22.400.000

13 H. Zainudin 1 90.000.000 54.000.000 2 18.000.000

14 Afdan 1 88.000.000 10 8.800.000

15 Masri

16 H. Hamdani 1 110.000.000 12 9.166.667

17 M. Amin 1 14.000.000 20 700.000

18 H. Hasan Basri 2 215.000.000 10 43.000.000

19 Fatur 1 75.000.000 5 15.000.000

20 H. Nurdin 2 182.500.000 5,5 66.363.636

21 Sriyatno 1 86.000.000 5 17.200.000

22 Marwan 1 4.000.000 14 285.714

23 Badru 1 110.000.000 5 22.000.000

24 H. Somad 1 8.000.000 20 400.000

25 Maulana 1 96.000.000 7 13.714.286

Jumlah 21 1.582.500.000 143.600.000 165,5 283.389.827 Rata-rata 1 63.300.000 5.744.000 6,62 11.335.593

Lampiran 16. Biaya listrik tahun 2014

No Nama Biaya listrik (Rp/bulan) Biaya listrik (Rp/tahun) 1 Fahrurrozi 1.500.000 18.000.000 2 Abdul Aziz 200.000 2.400.000 3 Nawawi 300.000 3.600.000 4 H. Romli 500.000 6.000.000 5 Reza Hafidz 500.000 6.000.000 6 Bahroji 600.000 7.200.000 7 Komarudin 300.000 3.600.000 8 H. Huda 250.000 3.000.000 9 Rochmani 400.000 4.800.000 10 Fatimah 500.000 6.000.000 11 Makmun 300.000 3.600.000 12 Faruq 600.000 7.200.000 13 H. Zainudin 500.000 6.000.000 14 Afdan 500.000 6.000.000 15 Masri 100.000 1.200.000 16 H. Hamdani 600.000 7.200.000 17 M. Amin 500.000 6.000.000 18 H. Hasan Basri 2.500.000 30.000.000 19 Fatur 300.000 3.600.000 20 H. Nurdin 2.000.000 24.000.000 21 Sriyatno 300.000 3.600.000 22 Marwan 500.000 6.000.000 23 Badru 500.000 6.000.000 24 H. Somad 400.000 4.800.000 25 Maulana 300.000 3.600.000 Jumlah 14.950.000 179.400.000 Rata-rata 598.000 7.176.000


(2)

87

Lampiran 17. Penerimaan dari penjualan susu tahun 2014

No Nama Hasil susu (liter/hari)

Hasil susu (liter/bulan)

Hasil susu (liter/tahun)

Harga (Rp)

Penerimaan (Rp/tahun) 1 Fahrurrozi 430 12.900 154.800 8.000 1.238.400.000

2 Abdul Aziz 50 1.500 18.000 8.000 144.000.000

3 Nawawi 100 3.000 36.000 8.000 288.000.000

4 H. Romli 150 4.500 54.000 7.000 378.000.000

5 Reza Hafidz 170 5.100 61.200 7.000 428.400.000

6 Bahroji 180 5.400 64.800 7.000 453.600.000

7 Komarudin 80 2.400 28.800 5.000 144.000.000

8 H. Huda 68 2.040 24.480 5.000 122.400.000

9 Rochmani 190 5.700 68.400 7.000 478.800.000

10 Fatimah 210 6.300 75.600 6.000 453.600.000

11 Makmun 130 3.900 46.800 6.000 280.800.000

12 Faruq 300 9.000 108.000 5.500 594.000.000

13 H. Zainudin 200 6.000 72.000 5.000 360.000.000

14 Afdan 290 8.700 104.400 5.000 522.000.000

15 Masri 30 900 10.800 4.000 43.200.000

16 H. Hamdani 250 7.500 90.000 5.000 450.000.000

17 M. Amin 250 7.500 90.000 5.000 450.000.000

18 H. Hasan Basri 800 24.000 288.000 6.500 1.872.000.000

19 Fatur 120 3.600 43.200 6.000 259.200.000

20 H. Nurdin 700 21.000 252.000 8.000 2.016.000.000

21 Sriyatno 80 2.400 28.800 6.500 187.200.000

22 Marwan 175 5.250 63.000 5.500 346.500.000

23 Badru 250 7.500 90.000 6.000 540.000.000

24 H. Somad 200 6.000 72.000 5.000 360.000.000

25 Maulana 115 3.450 41.400 5.500 227.700.000

Jumlah 5.518 165.540 1.986.480 152.500 12.637.800.000 Rata-rata 220,72 6.621,6 79.459,2 6.000 505.512.000

Lampiran 18. Penerimaan dari penjualan ternak tahun 2014

No Nama Jumlah (ekor) Harga jual (Rp) Penerimaan (Rp/tahun) 1 Fahrurrozi 20 15.000.000 300.000.000 2 Abdul Aziz

3 Nawawi 4 H. Romli

5 Reza Hafidz 6 20.000.000 120.000.000 6 Bahroji 12 20.000.000 240.000.000 7 Komarudin 2 18.000.000 36.000.000

8 H. Huda 1 18.000.000 18.000.000

9 Rochmani 4 10.000.000 40.000.000 10 Fatimah 25 16.000.000 400.000.000

11 Makmun 2 14.000.000 28.000.000

12 Faruq 2 16.000.000 32.000.000

13 H. Zainudin

14 Afdan 2 17.500.000 35.000.000

15 Masri

16 H. Hamdani 8 18.000.000 144.000.000 17 M. Amin

18 H. Hasan Basri 25 19.000.000 475.000.000

19 Fatur 2 16.000.000 32.000.000

20 H. Nurdin 25 17.000.000 425.000.000 21 Sriyatno 6 15.000.000 90.000.000

22 Marwan 2 20.000.000 40.000.000

23 Badru 5 8.500.000 42.500.000

24 H. Somad

25 Maulana 15 16.000.000 240.000.000 Jumlah 164 294.000.000 2.737.500.000 Rata-rata 6,56 11.760.000 109.500.000


(3)

88

Lampiran 19. Penerimaan non tunai dari perubahan nilai ternak tahun 2014

No Nama Nilai ternak awal tahun (Rp)

Nilai ternak akhir tahun (Rp)

Perubahan nilai ternak (Rp) 1 Fahrurrozi 1885000000 1.875.000.000 (10.000.000) 2 Abdul Aziz 150000000 190.000.000 40.000.000

3 Nawawi 395000000 490.000.000 95.000.000

4 H. Romli 510000000 660.000.000 150.000.000 5 Reza Hafidz 580000000 645.000.000 65.000.000 6 Bahroji 815000000 785.000.000 (30.000.000) 7 Komarudin 270000000 310.000.000 40.000.000 8 H. Huda 160000000 185.000.000 25.000.000 9 Rochmani 670000000 745.000.000 75.000.000 10 Fatimah 1185000000 1.020.000.000 (165.000.000)

11 Makmun 415000000 475.000.000 60.000.000

12 Faruq 835000000 1.000.000.000 165.000.000

13 H. Zainudin 620000000 685.000.000 65.000.000

14 Afdan 635000000 790.000.000 155.000.000

15 Masri 60000000 60.000.000

16 H. Hamdani 1075000000 1.120.000.000 45.000.000 17 M. Amin 670000000 805.000.000 135.000.000 18 H. Hasan Basri 3910000000 4.185.000.000 275.000.000

19 Fatur 500000000 570.000.000 70.000.000

20 H. Nurdin 2650000000 2.895.000.000 245.000.000 21 Sriyatno 425000000 385.000.000 (40.000.000) 22 Marwan 520000000 645.000.000 125.000.000

23 Badru 805000000 845.000.000 40.000.000

24 H. Somad 560000000 610.000.000 50.000.000 25 Maulana 560000000 380.000.000 (180.000.000) Jumlah 20860000000 22.355.000.000 1.495.000.000 Rata-rata 834400000 894.200.000 59.800.000 Ket : () = nilai negatif

Lampiran 20. Total pendapatan peternak tahun 2014

No

Resp Total biaya (Rp)

Total penerimaan (Rp) Keuntungan non tunai karena bergabung dalam kelompok (Rp/tahun) Total pendapatan (Rp/tahun) Total pendapatan (Rp/bulan) 1 547.673.485 1.528.400.000 3.600.000 984.326.515 82.027.210 2 87.445.556 184.000.000 1.200.000 97.754.444 8.146.204 3 155.571.429 383.000.000 1.200.000 228.628.571 19.052.381 4 279.175.758 528.000.000 2.400.000 251.224.242 20.935.354 5 314.793.182 613.400.000 2.400.000 301.006.818 25.083.902 6 271.021.667 663.600.000 2.400.000 394.978.333 32.914.861 7 90.106.250 220.000.000 2.400.000 132.293.750 11.024.479 8 88.290.000 165.400.000 2.400.000 79.510.000 6.625.833 9 349.412.182 593.800.000 3.600.000 247.987.818 20.665.652 10 264.151.342 688.600.000 4.800.000 429.248.658 35.770.722 11 201.402.879 368.800.000 1.200.000 168.597.121 14.049.760 12 336.504.167 791.000.000 4.800.000 459.295.833 38.274.653 13 283.824.015 425.000.000 3.600.000 144.775.985 12.064.665 14 402.386.364 712.000.000 4.800.000 314.413.636 26.201.136 15 18.848.182 43.200.000 600.000 24.951.818 2.079.318 16 292.962.121 639.000.000 3.600.000 349.637.879 29.136.490 17 350.113.636 585.000.000 3.600.000 238.486.364 19.873.864 18 716.263.636 2.622.000.000 12.000.000 1.917.736.364 159.811.364 19 169.921.364 361.200.000 2.400.000 193.678.636 16.139.886 20 864.198.788 2.686.000.000 6.000.000 1.827.801.212 152.316.768 21 136.801.667 237.200.000 2.400.000 102.798.333 8.566.528 22 264.014.502 511.500.000 2.400.000 249.885.498 20.823.791 23 360.170.833 622.500.000 4.800.000 267.129.167 22.260.764 24 142.650.758 410.000.000 2.400.000 269.749.242 22.479.104 25 187.423.571 287.700.000 3.600.000 103.876.429 8.656.369 Jmlh 7.175.127.332 16.870.300.000 84.600.000 9.779.772.668 814.981.056 Rata2 287.005.093 674.812.000 3.384.000 391.190.907 32.599.242


(4)

Lampiran 22. Total biaya tetap peternak tahun 2014

Nama P. Alat P. Kandang P. Kendaraan Listrik PBB Jumlah Biaya Tetap Fahrurrozi 381.818 21.000.000 10.416.667 18.000.000 1.200.000 50.998.485

Abdul Aziz 55.556 2.400.000 2.400.000 600.000 5.455.556

Nawawi 121.429 6.000.000 3.600.000 600.000 10.321.429

H. Romli 175.758 4.500.000 1.800.000 6.000.000 1.200.000 13.675.758 Reza Hafidz 268.182 6.300.000 16.000.000 6.000.000 1.000.000 29.568.182 Bahroji 246.667 7.500.000 8.500.000 7.200.000 1.200.000 24.646.667

Komarudin 256.250 3.300.000 3.600.000 600.000 7.756.250

H. Huda 300.000 2.400.000 3.000.000 600.000 6.300.000

Rochmani 298.182 7.800.000 8.500.000 4.800.000 1.200.000 22.598.182 Fatimah 148.485 7.500.000 1.142.857 6.000.000 1.200.000 15.991.342

Makmun 87.879 4.500.000 3.600.000 600.000 8.787.879

Faruq 379.167 11.700.000 22.400.000 7.200.000 1.200.000 42.879.167 H. Zainudin 121.515 8.400.000 18.000.000 6.000.000 1.000.000 33.521.515 Afdan 486.364 7.500.000 8.800.000 6.000.000 1.200.000 23.986.364

Masri 48.182 900.000 1.200.000 600.000 2.748.182

H. Hamdani 145.455 9.600.000 9.166.667 7.200.000 1.200.000 27.312.121 M. Amin 213.636 9.000.000 700.000 6.000.000 1.200.000 17.113.636 H. Hasan Basri 2.163.636 33.000.000 43.000.000 30.000.000 1.800.000 109.963.636 Fatur 76.364 6.000.000 15.000.000 3.600.000 600.000 25.276.364 H. Nurdin 885.152 27.000.000 66.363.636 24.000.000 1.800.000 120.048.788 Sriyatno 141.667 3.000.000 17.200.000 3.600.000 600.000 24.541.667 Marwan 78.788 6.000.000 285.714 6.000.000 1.000.000 13.364.502 Badru 220.833 9.300.000 22.000.000 6.000.000 1.200.000 38.720.833 H. Somad 125.758 9.000.000 400.000 4.800.000 1.200.000 15.525.758 Maulana 264.286 3.000.000 13.714.286 3.600.000 600.000 21.178.571 Jumlah 7.691.005 216.600.000 283.389.827 179.400.000 25.200.000 712.280.832 Rata – rata 307.640 8.664.000 11.335.593 7.176.000 1.008.000 28.491.233


(5)

90

Lampiran 23. Biaya variabel dan total biaya peternak tahun 2014

Nama Pakan IB Upah TK Transportasi Jumlah Biaya Variabel Total Biaya Fahrurrozi 297.475.000 4.800.000 176.400.000 18.000.000 496.675.000 547.673.485 Abdul Aziz 57.150.000 840.000 24.000.000 81.990.000 87.445.556 Nawawi 91.250.000 1.200.000 52.800.000 145.250.000 155.571.429 H. Romli 139.500.000 1.200.000 120.000.000 4.800.000 265.500.000 279.175.758 Reza Hafidz 203.625.000 2.400.000 72.000.000 7.200.000 285.225.000 314.793.182 Bahroji 144.375.000 3.600.000 86.400.000 12.000.000 246.375.000 271.021.667

Komarudin 58.350.000 24.000.000 82.350.000 90.106.250

H. Huda 57.150.000 840.000 24.000.000 81.990.000 88.290.000 Rochmani 203.814.000 3.600.000 110.400.000 9.000.000 326.814.000 349.412.182 Fatimah 195.360.000 3.600.000 48.000.000 1.200.000 248.160.000 264.151.342 Makmun 158.775.000 840.000 33.000.000 192.615.000 201.402.879 Faruq 218.025.000 4.800.000 64.800.000 6.000.000 293.625.000 336.504.167 H. Zainudin 187.062.500 840.000 60.000.000 2.400.000 250.302.500 283.824.015 Afdan 244.000.000 4.800.000 120.000.000 9.600.000 378.400.000 402.386.364

Masri 16.100.000 16.100.000 18.848.182

H. Hamdani 176.250.000 4.800.000 81.000.000 3.600.000 265.650.000 292.962.121 M. Amin 231.000.000 96.000.000 6.000.000 333.000.000 350.113.636 H. Hasan Basri 394.500.000 12.000.000 172.800.000 27.000.000 606.300.000 716.263.636 Fatur 88.845.000 1.800.000 48.000.000 6.000.000 144.645.000 169.921.364 H. Nurdin 349.350.000 12.000.000 352.800.000 30.000.000 744.150.000 864.198.788 Sriyatno 71.460.000 2.400.000 30.000.000 8.400.000 112.260.000 136.801.667 Marwan 188.250.000 2.400.000 54.000.000 6.000.000 250.650.000 264.014.502 Badru 188.250.000 6.000.000 120.000.000 7.200.000 321.450.000 360.170.833 H. Somad 97.125.000 24.000.000 6.000.000 127.125.000 142.650.758 Maulana 93.645.000 1.800.000 64.800.000 6.000.000 166.245.000 187.423.571 Jumlah 4.150.686.500 76.560.000 2.059.200.000 176.400.000 6.462.846.500 7.175.127.332 Rata – rata 166.027.460 3.062.400 82.368.000 7.056.000 258.513.860 287.005.093


(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama lengkap Tiara Ayuning Putri, dilahirkan di Jakarta tanggal

26 November 1994 sebagai anak pertama dari dua bersaudara pasangan Bambang

Sukamto dan Inti Rubiyani. Penulis mengawali pendidikan formal di SD Negeri

Kelapa Dua Wetan 01 Pagi Jakarta tahun 2000-2006. Kemudian menempuh

pendidikan di SMP 49 Jakarta sebagai siswi akselerasi tahun 2006-2008 dan

pendidikan menengah atas di SMA Negeri 48 Jakarta tahun 2008-2011. Penulis

melanjutkan kuliah di Institut Pertanian Bogor melalui jalur undangan dan

diterima sebegai mahasiswa di Departemen Ekonomi Sumberdaya dan

Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama mengikuti perkuliahan,

penulis aktif dalam kepengurusan Himpunan Profesi Mahasiswa Departemen

Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan (REESA), penulis juga aktif dalam

berbagai kepanitiaan di tingkat Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Penulis juga

menerima beasiswa selama perkuliahan yaitu Beasiswa Bank Indonesia pada

tahun 2014.