BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang majemuk. Pada tiap wilayah maupun daerahnya masing-masing memiliki keberagaman etnis-budaya, bahasa, dan
agama. Keberagaman ini biasanya menampilkan sesuatu yang unik dalam dinamika politik lokal sebagai sebuah representasi dari keberagaman tersebut.
Politik lokal ini biasanya merupakan sebuah bagian dari refleksi dinamika politik nasional. Namun untuk konteks Indonesia, relasi kekuasaan pada aras lokal
memiliki banyak kekhususan. Artinya, hal ini tidak cukup hanya dipahami dengan pendekatan formal, karena politik lokal melibatkan jaringan-jaringan informal,
termasuk diantaranya relasi antara penguasa dan sistem sosial dalam masyarakat. Oleh karena itu, untuk memahami karakteristik politik lokal secara utuh
diperlukan pendekatan dan pemahaman mengenai relasi formal dan informal. Skripsi ini berusaha menjelaskan peran jawara dalam pilkada di
Kabupaten Lebak pasca pelaksanaan otonomi daerah, peran jawara merupakan yang diperhitungkan dalam politik lokal. H
al ini dikarenakan jawara dianggap
sebagai pemimpin informal di Banten. Selain itu, penulis ingin melihat mekanisme hubungan antara demokrasi, otonomi daerah dengan bertahannya elit
tradisional jawara sebagai kekuatan politik yang dominan. Secara historis peranan jawara telah ada pada masa revolusi fisik melawan
penjajahan. Jawara dikenal karena memiliki kekuatan magis dan kesaktian yang diperoleh dari kyai sebagai gurunya
. Pada masa itu, masyarakat menganggap
pemerintahan kolonial telah merampas hak-hak atas tanah dan lapangan pekerjaan, yang akibatnya kehidupan masyarakat menjadi sulit. Dalam konteks
ini_kalaupun pada saat tertentu kehadiran jawara dinilai sering kali mengganggu ketentraman_karena besarnya peran yang dilakukan dalam melawan penjajahan,
membuat masyarakat menghormati bahkan ada yang memuja jawara sebagai orang keramat.
1
Pada masa kolonial, bentuk perlawanan yang dilakukan jawara terhadap para penjajah merupakan balance of power untuk merebut hak-hak atas
tanah dan pekerjaan rakyat Banten. Namun, kondisinya menjadi berbeda ketika jawara_karena kepentingan penguasa_mulai bersinergi dengan penguasa.
Konsekuensinya, kalangan jawara menjadi kader organisasi politik sebagai mesin untuk memobilisasi massa. Sinergisitas antara penguasa dan jawara berlanjut pada
era reformasi dalam konteks pemerintahan lokal. Mulai dari intervensi jawara dalam Pilkada sampai pada birokrasi pemerintahan.
2
Skripsi ini memusatkan kajian pada pilkada Kabupaten Lebak tahun 2008.
Mengapa elit tradisional seperti jawara masuk dalam struktur politik dan menjadi kekuatan yang dominan di Kabupaten Lebak? Bagaimana peran jawara dalam
politik lokalPilkada? Sistem demokrasi yang diberlakukan pada era pemerintahan Orde Baru
disebut demokrasi Pancasila,
3
yakni sebuah sistem pemerintahan yang ditetapkan oleh MPRSXXXII1968.
Model demokrasi yang ditawarkan pada era
1
Sartono Kartodirjo, Pemberontakan Petani Banten 1888, Jakarta, Pustidaka Jaya, 1984 hal. 281
2
Lili Romli, Jurnal Domokrasi dan HAM, Demokrasi Lokal dan Pilkada, Jakarta, Habibie Center, hal. 7
3
Ahmad Syafi’I Maarif, Islam dan Masalah Kenegaraan, Jakarta: LP3ES, 1985, hal. 121.
pemerintahan Orde Baru tersebut malah memunculkan pemerintahan yang otoriter, yang membelenggu kebebasan politik warganya. Akibatnya rakyat
berusaha untuk melakukan reformasi dibidang politik yang diperjuangkan oleh berbagai pihak yang kemudian berhasil menumbangkan rezim Orde Baru pada
tahun 1998. Setelah rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto tumbang,
Indonesia kembali masuk kedalam pelaksanaan demokrasi seutuhnya pada era reformasi. Perubahan di berbagai bidang dilakukan sebagai dasar untuk
membangun pemerintahan yang solid dan demokratis. Sebagai salah satu upaya demokratisasi pada era reformasi ini, maka dirasakan perlunya dilaksanakan
p emilu sebagai salah satu instrumen untuk mendorong proses demokratisasi di
Indonesia. Pelaksanaan pemilu didasarkan pada pemberlakuan Undang-Undang
nomor 33 Tahun 1999 tentang Pemilu dan nomor 2 tahun 1999 tentang Partai Politik. Kedua Undang-Undang tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan Pemilu
yang bebas dan demokratis di Indonesia. Henry B. Mayo yang dikutip dari A. Ubaedilah memberikan pengertian
bahwa demokrasi sebagai sistem politik yang menunjukan bahwa kebijakan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi secara
efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan berkala yang didasarkan atas prinsip kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana terjaminnya
kebebasan politik. Lebih lanjut, Philippe C. Schmitter dan Tery Linn Karl demokrasi dimaknai sebagai suatu sistem pemerintahan dimana pemerintah
dimintai tanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka di wilayah publik oleh
warganegara, yang bertindak secara langsung melalui kompetisi dan kerjasama dengan para wakil mereka yang telah terpilih.
4
Dari pengertian tersebut dapat diartikan demokrasi sebagai sebuah keterlibatan masyarakat dalam proses dan putusan politik. Keterlibatan
masyarakat yang secara nyata dapat terlihat dalam sebuah mekanisme untuk memilih pemimpin politik. Mekanisme dalam konteks memilih pemimpin politik
ini dinamakan Pemilihan Umum pemilu. Tidak hanya itu, demokratisasi ini pula diiringi dengan penataan kembali
sendi-sendi pemerintahan baik di pusat maupun di daerah yaitu otonomi daerah. Otonomi dalam makna sempit dimaknai sebagai „mandiri’. Sedangkan dalam
makna yang lebih luas adalah suatu daerah yang diberikan kewenangan oleh pemerintah pusat untuk mengurus daerahnya sendiri dalam pembuatan dan
pengambilan keputusan mengenai kebutuhan daerahnya sendiri.
5
Realisasi dari hal tersebut menyangkut ketentuan mengenai otonomi daerah. Dalam UUD 1945
terdapat dua nilai dasar yang mengenai otonomi daerah, yaitu, nilai unitaris dan nilai desentralisasi territorial. Nilai unitaris diwujudkan dalam pandangan bahwa
Indonesia tidak akan mempunyai kesatuan pemerintahan lain didalamnya yang bersifat negara. Kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara
Republik Indonesia tidak akan terbagi di antara kesatuan-kesatuan negara.
6
4
A. Ubaedilah. Pendidikan Kewarganegaraan Civic Education : Pancasila, Demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2 012, hal.
67-68.
5
A. Ubaedilah. Pendidikan Kewarganegaraan Civic Education : Pancasila, Demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2 012, hal.
179.
6
Made Suwandi, Direktur Konsepsi Dasar Otonomi Daerah Indonesia. Jakarta. 2002. Diakses pada 19 april 2011, dari situs http
:raconquista.files.wordpress.com2 00904minggu-ii-
suwandi-konsepsi-otda.pdf
Sementara nilai dasar desentralisasi teritorial tentang batasan wilayah yang diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah dalam bentuk otonomi
daerah. Mengenai hal otonomi daerah dan desentralisasi, pada dasarnya
mempersoalkan pembagian kewenangan kepada organ-organ penyelenggara negara, desentralisasi sebagai proses perpindahan kekuasaan politik, fiskal dan
administratif kepada unit pemerintah sub nasional. Sedangkan otonomi menyangkut hak yang mengikuti pembagian wewenang tersebut,
7
oleh karena itu perlu adanya pemerintah daerah melalui pemilihan lokal elected sub-national
Goverment. Pada masa reformasi ini, MPR periode 1999-2004 berhasil melakukan
empat kali amandemen UUD 1945 pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2002 dalam pasal 18 UUD 1945 mengenai otonomi daerah yang menyebutkan :
Pasa 18 : 1 Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah- daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota,
yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.
2 Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan
tugas pembantuan. 3 Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota memiliki
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang anggota-anggotanya dipilih melalui pemilihan umum.
7
A. Ubaedilah. Pendidikan Kewarganegaraan Civic Education : Pancasila, Demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2 012, hal.
176.
4 Gubernur, Bupati dan Walikota masing-masing sebagai Kepala Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten dan Kota dipilih secara
demokratis. 5 Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali
urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
6Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas
pembantuan. 7 Susunan dan tata cara penyelenggaraan pemerintahan daerah diatur
dalam undang-undang. pasal 18A
: 1 Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan
pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota atau provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan
kekhususan dan keragaman daerah 2 Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya
alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan
undang-undang. pasal 18B
: 1 Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan
pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan Undang-undang.
2 Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak- hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai
dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.
8
8
UUD 1945 diakses pada tanggal 16 Oktober 2012 melalui situs http:www.djpp. depkumham.go.iddatabase-peraturanuud-ri-tahun-1945.html
Pasal 18 UUD 1945 tentang otonomi daerah tersebut telah memberi landasan fundamental kepada Pemerintah Daerah untuk mengatur dan mengurus
sendiri pemerintahannya. Selain itu otonomi daerah mendasari terbentuknya keanggotaan DPRD dan Kepala Daerah dipilih melalui pilkada Legislatif,
BupatiWalikota dan Gubernur yang tidak lagi berdasarkan pengangkatan atau penunjukan,
9
Hal ini tertuang dalam UUD 1945 pasal 18 ayat 3 dan 4. Dengan ditetapkannya UUD 1945 pasal 18 ini telah merubah politik lokal yang
mengundang semangat bagi para elit-elit lokal ikut berkompetisi dalam arena pesta demokrasi.
Reformasi politik yang dihasilkan oleh otonomi daerah telah melahirkan sistem Pilkada. Sistem Pilkada merupakan salah satu intrumen untuk memenuhi
desentralisasi politik dimana dimungkinkan terjadinya pelimpahan kekuasaan dari pusat ke daerah. Pilkada sebagaimana pemilu nasional merupakan sarana untuk
memilih dan mengganti pemerintahan secara damai dan teratur. Melalui Pilkada, rakyat secara langsung akan memilih pemimpinnya di daerah sekaligus
memberikan legitimasi kepada siapa saja yang berhak dan mampu untuk memerintah. Pilkada dengan kata lain merupakan seperangkat aturan atau metode
bagi warga negara untuk menentukan masa depan pemerintahan yang absah legitimate.
10
Melalui pilkada diharapkan perwujudan kedaulatan rakyat dapat ditegakkan.
9
B.N. Marbun S.H., Otonomi Daerah 1945-2010, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 2010, hal. 15
10
Naskah akademik UU Pilkada. hal. 1-2. Diakses pada 20 april 2011, dari situs http:www.drsp-usaid.orgpublicationsindex.cfm?fuseaction=throwpubid=214
Semangat dilaksanakannya pilkada langsung adalah koreksi terhadap sistem demokrasi tidak langsung perwakilan di era sebelumnya, dimana kepala
daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh DPRD, menjadi demokrasi yang berakar langsung pada pilihan rakyat pemilih. Oleh karena itu, keputusan politik
untuk menyelenggarakan pilkada adalah langkah strategis dalam rangka memperluas, memperdalam, dan meningkatkan kualitas demokrasi. Hal ini juga
sejalan dengan semangat otonomi yaitu pengakuan terhadap aspirasi dan inisiatif masyarakat lokal daerah untuk menentukan nasibnya sendiri. Jika agenda
desentralisasi dilihat dalam kerangka besar demokratisasi kehidupan berbangsa, maka pilkada harus memberikan kontribusi yang besar terhadap hal itu.
11
Ada enam
criteria perwujudan
penyelenggaraan pilkada
bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, yaitu :
1. Langsung. Rakyat sebagai pemilih memiliki hak untuk memberikan
suaranya secara langsung sesuai dengan kehendak hati nuraninya, tanpa perantara.
2. Umum. Pemilihan yang bersifat umum mengandung makna menjamin
kesempatan yang berlaku menyeluruh bagi semua warga negara, tanpa diskriminasiberdasarkan suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin,
pekerjaan, dan status sosial. 3.
Bebas. Setiap warga negara yang berhak memilih bebas menentukan pilihan tanpa tekanan dan paksaan dari siapapun. Dalam melaksanakan
11
Naskah akademik UU Pilkada. hal. 2. Diakses pada 20 april 2011, dari situs http:www.drsp-usaid.orgpublicationsindex.cfm?fuseaction=throwpubid=214
haknya, setiap warga negara dijamin keamanannya sehingga dapat memilih sesuai kehendak hati nurani dan kepentingannya.
4. Rahasia. Dalam memberikan suaranya, pemilih dijamin dan pilihannya
tidak akan diketahui oleh pihak mana pun dan dengan jalan apapun. 5.
Jujur. Dalam penyelanggaraan pilkada, setiap penyelenggara pilkada, aparat pemerintah, calonpeserta pilkada, pengawas pilkada, pemantau
pilkada, pemilih serta semua pihak yang terkait harus bersikap dan bertindak jujur sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
6. Adil. Dalam penyelenggaran pilkada, setiap pemilih dan calonpeserta
pilkada mendapat perlakuan yang sama, serta bebas dari kecurangan pihak mana pun.
12
Berdasarkan argumentasi tersebut, pelaksanaan pilkada merupakan sebuah demokratisasi yang mampu memperkuat otonomi daerah dalam pembangunan
politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dengan pilkada ini akan memunculkan perubahan yang luas, perubahan ini tidak hanya dari atas tetapi juga dari bawah.
Hal ini pula akan menumbuhkan kepercayaan terhadap masyarakat atas pemerintah daerah yang dipilih langsung oleh masyarakat untuk membangun dan
mensejahterakan masyarakat daerah. Bertitik tolak dari uraian tentang demokrasi, otonomi daerah, dan Pilkada
tersebut, selanjutnya akan diuraikan peran jawara dalam perpolitikan di Kabupaten Lebak. Pelaksanaan demokrasi dan otonomi daerah pasca
12
A. Ubaedilah. Pendidikan Kewarganegaraan Civic Education : Pancasila, Demokrasi,
Hak Asasi Manusia dan Masyarakat Madani. Jakarta, ICCE UIN Syarif Hidayatullah, 2 012, hal.
191-192.
pembentukan provinsi Banten telah memberi ruang yang besar bagi para elit lokal jawara masuk kedalam politik formal secara luas. Dalam pilkada di Kabupaten
Lebak, posisi jawara bukan sebagai kelompok orang yang berebut kekuasaan melainkan pada posisi pendulang suara terhadap para calon pemegang kekuasaan
menjadi tim sukses. Dalam hal ini jawara mampu memberikan andil besar karena kedudukan jawara sebagai elit tradisional memiliki kharisma istimewa pada
masyarakat lapisan bawah di Banten.
13
Kejawaraan merupakan identitas sekelompok orang di daerah tersebut atau Banten secara umum. Meskipun hanya merupakan salah satu unsur dalam
masyarakat, ia menempati kedudukan yang berpengaruh, terutama dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik. Dengan posisi yang dominan layaknya kyai, jawara
bisa mempengaruhi dinamika sosial masyarakat. Bahkan saat ini posisi jawara bisa lebih menentukan dari pada kyai. Selain itu, jawara juga memiliki karakter
tertentu yang secara umum membedakan dari anggota masyarakat lainnya seperti berani wanten, agresif, sompral tutur kata keras dan blak-blakan terbuka.
Apa lagi mereka dibalut dengan keterampilan bela diri silat dan diyakini memiliki kadigjayaan kesaktian.
14
Keberadaan jawara sebagai elit lokal yang berpengaruh kuat dalam masyarakat Lebak dan Banten pada umumnya mengindikasikan kekuatan politik
jawara. Kekuatan Jawara dapat mempengaruhi putusan-putusan politik apabila
13
Taufik Abdullah, Banten Dalam Pergumulan Sejarah, LP3S, 2004, hal. xxvi
14
Andi Rahman Alamsyah, Islam, Jawara Demokrasi. Jakarta, PT Dian Rakyat, 2010, hal. 65
putusan-putusan yang dibuat menyangkut dengan kepentingan interest mereka.
15
Maka sebagai kekuatan politik jawara mampu melakukan tawar menawar bargaining power, guna mengerahkan sumber-sumber kekuasaan secara
maksimal dan memilih saluran yang tepat dan efektif sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi kepentingan mereka.
Dalam pilkada Kabupaten Lebak, jawara menempati porsi sebagai tim sukses dalam upaya komunikasi dan mobilisasi untuk mendulang suara. Dalam
hal ini akan diteliti bagaimana perilaku politik jawara dalam proses politik yang terjadi di kabupaten Lebak. Karena itu penelitian skripsi ini menekankan
terhadap: sejarah dan perkembengan jawara, perilaku politik elit tradisional jawara dalam politik lokal pasca reformasi, peran jawara sebagai sarana
komunikasi dan mobilisasi massa dalam Pilkada kabupaten Lebak yang pertama kali dilaksanakan pada tahun 2008.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah