Analisis Psikologis Terhadap Hikayat Indra Jaya Pahlawan

ANALISIS PSIKOLOGIS TERHADAP HIKAYAT INDRA JAYA
PAHLAWAN
SKRIPSI SARJANA
DISUSUN
O
L
E
H

MUHAMMAD AMIN PANDIANGAN
NIM : 050702003

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS SASTRA
DEPARTEMEN SASTRA DAERAH
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA MELAYU
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS PSIKOLOGIS TERHADAP HIKAYAT INDRA JAYA
PAHLAWAN
SKRIPSI SARJANA
DISUSUN
O
L
E
H

MUHAMMAD AMIN PANDIANGAN
NIM : 050702003

DIKETAHUI / DISETUJUI OLEH

DOSEN PEMBIMBING I

Drs. Yos Rizal, M.SP
Nip : 19660617 199203 1003

DOSEN PEMBIMBING II

Drs. Warisman Sinaga, M.Hum
Nip : 19620716 198803 1002

Departemen Sastra Daerah
Ketua,

Drs. Baharuddin, M.Hum
Nip : 19600101 198803 1007

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah S.W.T karena telah memberikan kesempatan dan
kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.
Skripsi ini berjudul “Analisis Psikologis Terhadap Hikayat Indra Jaya
Pahlawan”, bertujuan untuk mengungkapkan nilai-nilai psikologis yang terdapat
dalam cerita tersebut. Hasil analisis ini penulis harapkan dapat menambah
wawasan dan pengetahuan terhadap pengkajian sastra berdasarkan kajian budaya,
sehingga dapat memperkaya apresiasi dan kritik sastra.
Dalam menyelesaikan skripsi ini, tidak sedikit bantuan yang diperoleh,
untuk itu diucapkan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua yang tercinta dan tersayang yaitu ayahanda Edison
Pandiangan dan ibunda Rodiah Nasution, terima kasih telah membiayai,
mendoakan, memberikan semangat, serta memberikan yang terbaik buat
ananda, selama ananda kuliah di Fakultas Sastra USU Medan. Buat Abangda
dan kakanda (Syafrida, Rauf, Linda, Endang, Evi, Fatimah, dan Salwa) serta
abang ipar (Hasyim, Hendra, Putra, dan Fitrah) terima kasih atas segala
bantuannya baik secara materi ataupun non materi.
2. Bapak Prof. Syaifuddin, M.A, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Sastra USU.
3. Bapak Drs. Baharuddin, M. Hum. selaku Ketua Departemen Sastra Daerah,
Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Drs. Warisman Sinaga, M. Hum. selaku Sekretaris Departemen Sastra
Daerah, Fakultas Sastra USU, serta pembimbing II, terima kasih atas
bimbingannya.

i

Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Drs. Yos Rizal, M.SP, selaku pembimbing I, terima kasih atas
bimbingannya.
6. Segenap dosen di lingkungan Fakultas Sastra USU Medan.
7. Kak Fifi yang telah banyak memberikan bantuan serta sarannya.
8. Terima kasih atas semangat yang diberikan oleh teman-teman seperjuangan
angkatan 2005, 2006, 2007, 2008 yang tak dapat disebutkan namanya satu
persatu.
Penulis menyadari, skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak
kekurangan dalam beberapa hal. Menyadari akan hal tersebut, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan
skripsi ini. Semoga apa yang telah diuraikan dalam skripsi ini bermanfaat bagi
saya juga para pembaca.

Medan, Februari 2010
Penulis

Muhammad Amin Pandiangan
NIM : 050702003

ii

Universitas Sumatera Utara

-

--

iii

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................

i

ABSTRAK ...............................................................................................

iii

DAFTAR ISI ...........................................................................................

iv

BAB I : PENDAHULUAN .....................................................................

1

1.1

Latar Belakang Masalah ...................................................

1

1.2

Rumusan Masalah ............................................................

5

1.3

Tujuan Penelitian .............................................................

6

1.4

Manfaat Penelitian ...........................................................

6

1.5

Anggapan Dasar ...............................................................

6

1.6

Tinjauan Pustaka ..............................................................

7

1.7

Metodologi Penelitian ......................................................

8

1.7.1

Metode Dasar .....................................................

8

1.7.2

Objek Kajian ......................................................

9

1.7.3

Teknik Pengumpulan Data ................................

10

1.7.4

Teknik Menganalisis Data ................................

10

1.8

Keberadaan Hikayat Indra Jaya Pahlawan .......................

11

1.9

Sifat dan Bentuk Hikayat Indra Jaya Pahlawan ................

13

BAB II : KAJIAN PUSTAKA ...............................................................

15

2.1

Kepustakaan yang Relevan ...............................................

15

2.2

Landasan Teori .................................................................

16

iv

Universitas Sumatera Utara

2.2.1 Teori Struktural .....................................................

16

2.2.2 Teori Psikologi Sastra ...........................................

30

2.2.3 Hubungan Psikologis dengan Sastra................

36

2.2.4 Mimpi dan Fantasi dalam Konteks Analisis Sastra

40

BAB III : STRUKTUR UMUM HIKAYAT INDRA JAYA PAHLAWAN
3.1

Ringkasan Cerita ............................................................

42

3.2

Tema ..............................................................................

51

3.3

Plot .................................. ..............................................

55

3.3.1 Exposition (Pengarang mulai melukiskan sesuatu) .......55
3.3.2 Generating Circumstances (Peristiwa mulai bergerak) ..56
3.3.3 Ricing Action (Keadaan mulai memuncak) ...................57
3.3.4 Climax (Puncak) .............................................................59
3.3.5 Denoument (Penyelesaian) .............................................60
3.4

Latar .........................................................................................61
3.4.1 Latar Tenpat ....................................................................61
3.4.2 Latar Waktu .....................................................................62

3.5

Tokoh ........................................................................................63
3.5.1 Penokohan ........................................................................64

BAB IV : ANALISIS PSIKOLOGIS TERHADAP HIKAYAT INDRA JAYA
PAHLAWAN .........................................................................................71
4.1 Mimpi ................................................................................................71
4.2 Motivasi .............................................................................................79
4.2.1 Motivasi Memiliki ..............................................................80
v

Universitas Sumatera Utara

4.2.2 Motivasi Kemarahan ...........................................................81
4.2.3 Motivasi Dendam ................................................................83
4.3 Kepahlawanan .....................................................................................85
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................89
5.1 Kesimpulan .........................................................................................89
5.2 Saran ....................................................................................................91
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................93

vi

Universitas Sumatera Utara

-

--

iii

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah
Sastra adalah bagian dari kebudayaan yang tidak terbatas pada nilai-nilai

subjektif atau semata-mata terfokus pada daya khayal pengarang atau sastrawan
saja, tetapi sastra juga mencoba untuk memasuki dan berorientasi pada pola
kehidupan masyarakat. Sastra memberi kegunaan yang sangat berpengaruh dalam
kehidupan manusia, karena sastra berisikan ide para pengarang yang
menghasilkan suatu karya sastra dan menjadi daya tarik bagi setiap manusia untuk
lebih memaknai arti dari sebuah karya sastra tersebut.
Menurut Fananie (2001 : 71) “Hasil karya sastra tidak saja mampu
menaikkan motivasi pengarang, melainkan juga mampu memberikan pengetahuan
yang berharga bagi pembaca khususnya dalam meningkatkan kemampuan
penghayatan dan apresiasi”. Jadi, sastra bukanlah hanya untaian kata-kata indah
tetapi sebuah karya imajinasi dari seorang pengarang yang selalu menampilkan
diri sebagai pengungkapan kehidupan yang dinamik dan penuh konflik. Sastra
diharapkan membentuk watak dan intelektual seseorang.
Indonesia mempunyai beragam suku yang mempunyai budaya sendiri dan
memiliki kelebihan yang menjadi suatu ciri khas, sehingga orang selalu
mengetahui dan dapat membedakan antara suku tersebut. Nilai-nilai budaya etnik
tidak pernah hilang dalam masyarakat, begitu juga halnya dengan masyarakat
Melayu. Salah satu di antaranya yang tergambar dalam hasil kesusasteraan
Melayu adalah gambaran masyarakat Melayu dan tata nilai, serta pola tingkah

Universitas Sumatera Utara

masyarakat. Karya sastra Melayu, dalam bentuk prosa lama, sering dimasukkan
unsur mitos yang sangat berlebihan. Seperti halnya dalam hikayat, secara umum
dapat dijelaskan sebagai cerita yang mengandung unsur-unsur luar biasa
(supranatural) yaitu kekuasaan yang luar biasa terdapat pada manusia dan
makhluk-makhluk lainnya.
Sebagai suatu karya sastra sudah barang tentu ciri-ciri atau sifat suatu
karya sastra tercermin dalam naskah cerita itu. Salah satu unsur karya sastra ialah
unsur imajinasi atau fantasi. Unsur khayal dan dongeng itu tidak dapat dipisahkan
dari hasil-hasil sastra Melayu lama, malah unsur itu merupakan satu bagian yang
penting serta membayangkan pula segala kepercayaan dan pegangan bagi yang
melahirkan hikayat-hikayat tersebut.
Karya sastra dalam bentuk hikayat dapat berguna dan menyenangkan hati
pembaca karena hikayat tersebut menimbulkan rasa kebanggaan dan kesenangan.
Dikatakan berguna karena dalam hikayat itu terkandung ide atau buah pikiran
yang luhur dan tinggi, pertimbangan yang dalam tentang sifat-sifat baik dan
buruk, khususnya sifat-sifat raja, dan pandangan yang jauh ke depan.
Menurut Djamaris (1989 : 1), “Hasil sastra Indonesia lama dapat
digolongkan dalam beberapa golongan berdasarkan pengaruh kebudayaan asing,
yaitu (1) sastra tradisional atau sastra rakyat, yaitu hasil sastra yang belum atau
sedikit sekali mendapat pengaruh asing, khususnya pengaruh Hindu atau islam;
(2) sastra pengaruh Hindu; (3) sastra pengaruh peralihan Hindu ke Islam; dan (4)
sastra pengaruh Islam.
Sastra sejarah ini pada umumnya merupakan sastra rakyat, disampaikan
secara turun-temurun baik secara lisan maupun tertulis berupa naskah. Dengan
demikian, pengaruhnya besar sekali terhadap cara berpikir dan pandangan hidup
mayarakat. Itulah sebabnya masyarakat lama banyak yang fanatik serta memiliki
rasa cinta yang tinggi terhadap raja dan negerinya. Mereka merasa rajanyalah

Universitas Sumatera Utara

yang paling agung, paling tinggi kedudukannya, dan negerinyalah yang paling
sakti, keramat dan tak mungkin dilupakannya. Hal ini dapat kita lihat pada cerita
Melayu lama. Misalnya dalam hikayat Hang Tuah, pengarang menggambarkan
Hang Tuah dan keempat sahabatnya sebagai panglima yang selalu setia kepada
rajanya bahkan Hang Tuah bersedia menghadapi hukuman mati yang dijatuhkan
oleh raja yang tidak adil.
Beranjak dari hal di atas, penulis ingin mengungkapkan apa-apa yang ada
dalam Hikayat Indra Jaya Pahlawan. Hikayat Indra Jaya Pahlawan yang
selanjutnya disingkat dengan HIJP, merupakan salah satu hasil karya sastra
Melayu lama. HIJP menceritakan tentang kehidupan seorang raja dan
permaisurinya yang menginginkan kelahiran seorang anak. Mereka rela bertapa
selama empat puluh malam. Mereka bermimpi, jika ingin mempunyai anak,
mereka harus pergi ke Gunung Baladewangga dan memakan bunga butut dadu.
Mereka pun melaksanakan sesuai petunjuk mimpinya tersebut. Setelah
banyak menghadapi rintangan ketika naik ke gunung, akhirnya mereka
menemukan bunga yang dicari, lalu memakannya. Tanpa disadari mereka berubah
menjadi sepasang gajah. Dewa Langlang Buana mendatangi kedua gajah itu dan
memberitahukan bahwa mereka akan kembali menjadi manusia setelah anaknya
berumur 19 tahun, tetapi dengan syarat setelah berumur 2 tahun anak itu harus
dibuang ke tengah kolam. Anak tersebut diberi nama Indra Jaya dan dipelihara
oleh Maharaja Kaladarma. Indra Jaya diajari segala macam ilmu, baik ilmu
hikmat, maupun ilmu peperangan, dan kesaktian. Setelah berumur sembilan belas
tahun, Maharaja Kaladarma menyuruh Indra Jaya untuk membunuh kedua gajah
yang ada di sekitar kolam itu, karena kedua gajah itu adalah orang tua Indra Jaya

Universitas Sumatera Utara

dan syarat untuk menjadi manusia kembali mereka harus dibunuh terlebih dahulu.
Setelah kedua gajah tersebut menjadi manusia, Indra Jaya membangun suatu
negeri untuk orang tuanya, negeri itu bernama Mintarsyah. Indra Jaya melanjutkan
perjalanannya ke arah matahari terbenam. Selama perjalanannya, Indra Jaya
banyak menghadapi rintangan, akhirnya Indra Jaya bersama istri dan anaknya
kembali ke negeri Mintarsyah dan hidup bahagia.
Berdasarkan ringkasan cerita di atas maka terlihat bahwa HIJP
mengandung aspek-aspek kejiwaan yang sangat kaya, maka analisis psikologi
sastra terhadap HIJP sangat perlu dilakukan guna memperkaya batin dan
pengalaman hidup pembaca, sekaligus juga menambah khasanah pengkajian
terhadap karya sastra Melayu yang telah ada selama ini.
Psikologi sastra memiliki peranan penting dalam pemahaman sastra.
Dengan mempelajari psikologi sastra kita dapat memahami aspek-aspek kejiwaan
yang terkandung dalam karya sastra khususnya dalam HIJP dan diharapkan dapat
memberikan pemahaman kepada pembaca melalui pemahaman terhadap tokohtokohnya, misalnya, pembaca dapat memahami perubahan, kontradiksi dan
penyimpangan-penyimpangan lain yang dialami oleh tokoh-tokoh cerita HIJP.
Masyarakat Melayu pada umumnya bertempat tinggal di daerah pesisir dan
mata pencahariannya adalah sebagai nelayan dan bercocok tanam. Sebelum
masuknya agama Hindu dan Budha di Sumatera Timur, masyarakat Melayu
menggunakan kepercayaan animisme. Mereka menganggap misalnya, sebuah
pohon yang besar atau batu yang besar dan benda-benda lain memiliki kekuatan
magis dan menyembahnya. Sejalan perkembangan pemikiran masyarakat Melayu,
sekitar abad ke-5 agama Hindu dan Budha menjadi kepercayaan masyarakat

Universitas Sumatera Utara

Melayu pada saat itu. Menurut Sinar (1971 : 243), “Lebih kurang 1000 tahun
suku-suku Melayu menganut ajaran Hindu dan Budha”. Hal ini dapat dibuktikan
dengan penemuan candi-candi dan hasil karya sastra yang berusia ribuan tahun.
Salah satu karya sastra dari peninggalan zaman Hindu dan Budha adalah hikayat.
Hikayat adalah bentuk prosa yang panjang bersifat sastra lama yang ditulis dalam
bahasa Melayu dan sebagian besar kandungan ceritanya berupa unsur rekaan di
dalam kehidupan istana. Pada zaman dahulu hikayat diciptakan oleh pengarang
untuk menghibur raja-raja dan sebagai pelipur lara. Untuk itu hikayat merupakan
bahan analisis yang tepat untuk memahami tingkah laku, pikiran dan falsafah
kehidupan masyarakat pemilik cerita tersebut.
Sepengetahuan penulis kajian psikologi terhadap HIJP belumlah pernah
dilakukan. Alasan lain memilih objek yang diteliti adalah ingin lebih banyak
mengetahui tentang aspek-aspek kejiwaan yang terdapat dalam masyarakat
Melayu terutama melalui hasil karya sastranya.

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan masalah yang dikemukakan di atas, maka

yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah struktur dalam cerita yang
meliputi tema, alur, penokohan, latar, serta struktur luar berupa nilai-nilai
psikologi yang terdapat dalam HIJP tersebut. Oleh karena itu, masalah yang akan
dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Bagaimanakah struktur instrinsik yang terdapat dalam HIJP?
2. Nilai-nilai psikologis apakah yang terdapat dalam HIJP?

Universitas Sumatera Utara

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan pembahasan karya sastra lama merupakan suatu usaha untuk

mengangkat kembali karya sastra lama, khususnya HIJP yaitu untuk mengetahui
apa-apa yang terjadi di masa lampau sehingga nilai budaya yang baik dapat
dipertahankan. Tujuan lain dari penelitian ini adalah :
1. Menjelaskan unsur-unsur intrinsik yang terkandung dalam HIJP.
2. Mengungkapkan nilai-nilai psikologi yang terdapat HIJP.

1.4

Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penganalisisan HIJP adalah sebagai

berikut :
1. Dapat dipakai sebagai bahan bandingan terhadap penelitian hikayat lainnya.
2. Dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap HIJP, khususnya
yang ditinjau berdasarkan struktur dan nilai-nilai psikologi yang terkandung di
dalamnya.
3. Melengkapi kepustakaan Departemen Sastra Daerah sebagai bahan bacaan,
khususnya bagi mahasiswa Departemen Sastra Daerah.

1.5

Anggapan Dasar
Suatu penelitian memerlukan anggapan dasar yang dapat memberi

gambaran arah pengumpulan data yang berhubungan dengan masalah yang
diteliti. Anggapan dasar adalah pemikiran awal untuk melakukan suatu penelitian
yang dapat diterima kebenarannya. Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa

Universitas Sumatera Utara

HIJP memiliki struktur cerita yang baik dan memiliki nilai-nilai psikologis yang
baik dan perlu dikemukakan kepada pembaca.
Dikatakan baik sebab HIJP memiliki unsur –unsur cerita yang lengkap
seperti tema, alur, latar, tokoh, dan perwatakan sehingga dapat dijadikan bahan
bacaan yang menarik sebagai sebuah karya sastra. Kelengkapan unsur-unsur cerita
tersebut telah berbentuk tulisan karena unsur-unsur cerita itu memilki komponenkomponen pada setiap unsurnya.

1.6

Tinjauan Pustaka
Penelitian terhadap hikayat-hikayat Melayu dengan pendekatan psikologis

telah ada dilakukan oleh para sarjana, di antaranya dilakukan oleh Roidah pada
tahun 1993. Penelitiannya ditulis dalam bentuk skripsi yang berjudul : “ Hikayat
Langlang Buana Suatu Analisis Psikologis”. Dikatakan bahwa struktur Hikayat
Langlang

Buana

menceritakan

tentang

percintaan,

pengembaraan,

dan

peperangan. Kemudian I Made Sudiarga dkk pada tahun 2002, meneliti tentang
sastra lisan masyarakat Bali yang di dalam hasil karya tersebut selain menganalisis
struktur dan fungsinya juga meninjau cerita dari aspek psikologis. Penelitiannya
ditulis dalam bentuk buku yang berjudul “Geguritan Sewagati Analisis Struktur
dan Fungsi”.
Berdasarkan pemahaman beberapa penelitian dan pembahasan tentang
hikayat Melayu di atas jelas menunjukkan perbedaan dengan penelitian yang
dilakukan dari sisi objek penelitian maupun fokus pada analisisnya.

Universitas Sumatera Utara

1.7

Metodologi Penelitian
Metodologi berasal dari bahasa Yunani, methodos yang artinya cara atau

jalan, logos yang artinya adalah ilmu pengetahuan, atau metodologi dapat
diartikan ilmu mengenai metode. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000 :
258), metodologi adalah ilmu tentang metode atau cara yang teratur dan ilmiah
dalam mencapai untuk memperoleh ilmu dengan cara mendekati, mengamati,
menganalisis dan menjelaskan suatu fenomena dan menggunakan landasan teori.
Arti kata penelitian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan
pengumpulan, pengolahan, analisis dan penyajian data yang dilakukan secara
sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan.
Menurut Ratna (2004 : 34), “Dalam pengertian yang lebih luas, metode
dianggap sebagai cara-cara, strategi untuk memahami realitas, langkah-langkah
sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Sebagai alat,
sama dengan teori, metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah, sehingga
lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami”.
Jadi dapat disimpulkan bahwa metodologi penelitian itu adalah cara kerja
untuk memahami objek permasalahan setelah menghimpun data sebagai bahan
acuannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif,
yaitu penulis mendeskripsikan cerita kemudian menguraikan unsur tema, amanat,
alur, tokoh, latar, dan nilai psikologinya.

1.7.1 Metode Dasar
Metode dasar yang digunakan pada penelitian ini yakni metode deskriptif
analisis, yaitu metode dengan mendeskripsifkan semua data yang terdapat dalam
HIJP kemudian disusul dengan analisis. Menurut Ratna (2004: 53), “Analisis yang
berasal dari bahasa Yunani, analyein (‘ana’ = atas, ‘lyein’ = lepas, urai), telah

Universitas Sumatera Utara

diberikan arti tambahan, tidak semata-mata menguraikan melainkan juga
memberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya”. Dan dengan cara ini maka
penulis dapat mengumpulkan, memahami dan memilih teks yang terdapat di
dalam HIJP sehingga dapat diketahui unsur-unsur pembentuk cerita dan nilai-nilai
psikologisnya.
Selain menerapkan metode penelitian di atas, untuk mendapatkan data yang akurat
maka penulis juga menggunakan metode kajian pustaka.

1.7.2 Objek Kajian
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah naskah
Hikayat Indra Jaya Pahlawan yang diperoleh dari perpustakaan :
Judul Buku

: Hikayat Indra Jaya Pahlawan

Bentuk Karya Sastra : Prosa Lama
Penyusun Buku

: Dra. Nikmah Sunardjo dan Dra Siti Zahra

Penerbit

: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan
Daerah

Tahun Terbit

: 1992

Jumlah Halaman

: 149 halaman

Ukuran

: 20 x 14 cm

Sampul Depan

: Warna Hijau

Sampul Belakang

: Warna Hijau

Universitas Sumatera Utara

1.7.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data yang diperlukan, maka digunakan teknik
pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam
penelitian ini adalah :
1. Hikayat dibaca secara cermat dan mendalam, guna mendapatkan data yang
diperlukan untuk penelitian, atau membaca buku secara berulang-ulang
dengan seksama bahan yang hendak diteliti.
2. Mengadakan penyeleksian terhadap data yang telah diperoleh. Data yang
sangat berhubungan dengan masalah yang akan dibahas merupakan prioritas
utama dalam menyeleksi data.
3. Menafsirkan teks terhadap struktur cerita dan nilai-nilai psikologis yang
terdapat di dalam HIJP

1.7.4 Teknik Menganalisis Data
Dalam menganalisis data skripsi ini, penulis menggunakan penelitian
kualitatif yaitu melakukan dengan tidak mengutamakan angka-angka tetapi
mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang
sedang dikaji dalam HIJP.
Menurut Endraswara (2003 : 5), ciri penting dari penelitian kualitatif dalam
kajian sastra antara lain :
1. Peneliti merupakan instrumen kunci yang membaca secara cermat sebuah
karya sastra.
2. Lebih mengutamakan proses dibandingkan hasil, karena karya sastra
merupakan fenomena yang banyak mengandung penafsiran.
3. Makna merupakan andalan utama.

Universitas Sumatera Utara

Dari pendapat di atas penulis berkesimpulan bahwa penelitian kualitatif yang
digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian dengan cara membaca dan
memperhatikan lalu berusaha menggambarkan data tersebut untuk dianalisis.
Setelah data tersebut dianalisis maka penulis menentukan unsur instrinsik
dan ekstrinsik yang terdapat di dalam HIJP yakni :
1. Unsur instrinsik, yaitu menganalisis unsur-unsur pembentukan cerita
HIJP, seperti tema, alur, latar, dan penokohan. Unsur-unsur ini akan
diuraikan terlebih dahulu sebagai dasar analisis unsur psikologis.
2. Unsur ekstrinsik, yaitu menganalisis data-data yang terdapat dalam HIJP
dengan teori psikologis. Artinya, menganalisis cerita dengan pendekatan
psikologis dengan tetap menitikberatkan pada cerita itu sendiri.

1.8

Keberadaan HIJP
Kebudayaan Indonesia yang berasal dari beberapa abad yang lampau

dikenal karena adanya rekaman dalam berbagai bentuk tulisan pada batu atau pada
logam, candi-candi atau peninggalan purbakala lainnya, serta naskah-naskah yang
masih ditulis dengan tangan merupakan sebagian dari rekaman. Salah satu produk
kebudayaan dalam bentuk tulisan pada masa lampau adalah naskah hikayat.
Menurut Hava (Baried, 1985 : 5), kata hikayat diturunkan dari bahasa
Arab hikayat, yang artinya cerita, kisah, dongeng-dongeng, berasal dari bentuk
kata kerja haka, yang artinya menceritakan, mengatakan sesuatu kepada orang
lain-lain. Hikayat adalah prosa lama yang menceritakan penghidupan dewa-dewa
dan raja-raja yang penuh dengan lukisan kejadian yang gaib-gaib yang terkadang
tak berupa di akal kita kebenarannya (Bahrum Rangkuti, dalam Roidah, 1993 :

Universitas Sumatera Utara

14). Wilkinson (Baried, 1985 : 6) berpendapat bahwa, “Hikayat adalah dongeng
atau cerita dalam bahasa Malaysia berarti roman (prosa), sebagai lawan cerita
yang berbentuk syair, sejarah (silsilah), atau kitab-kitab agama, serta berarti pula
cerita yang dibawakan oleh pelipur lara. Di samping itu, hikayat juga berarti
kenangan-kenangan, sebagai lawan riwayat atau tawarikh”. Sedangkan Hooykaas
(Baried, 1985 : 6) berpendapat bahwa, “Hikayat adalah cerita yang berbentuk
prosa dalam arti yang sempit, ialah cerita panjang yang berisi khayalan, berasal
dari India, Persi, dan Arab; atau cerita yang dipengaruhi oleh cerita-cerita itu”.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan arti dari hikayat adalah
karya sastra tulis dalam bentuk prosa yang panjang, bersifat sastra lama yang
ditulis dalam bahasa Melayu dan sebagian besar kandungan ceritanya berupa
unsur rekaan di dalam kehidupan istana.
Naskah HIJP merupakan koleksi Bagian Naskah Museum Nasional
Jakarta. Dalam Katalogus Koleksi Naskah Museum Pusat, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (1972) naskah tersebut tercatat dengan kode ML 626
atau kode semula W.152. Naskah tersebut berukuran 32 x 20 cm, terdiri atas 251
halaman dan tiap halaman terdiri atas 19 baris; bertuliskan huruf Arab Melayu,
dan berbahasa Melayu. Kondisi naskah masih baik serta tulisannya jelas dan
mudah dibaca. Kertasnya berukuran folio dan ditulis timbal balik dengan
menggunakan tinta hitam. Kolofon tidak ada. (Sunardjo, 1992 : 1).
HIJP tergolong sebagai hasil sastra zaman peralihan, di mana terlihat unsur
Islam yang masuk, sedangkan pengaruh Hindu belum benar-benar ditinggalkan.
Terdapatnya unsur Islam dibuktikan dengan adanya lafaz-lafaz Islam seperti kata
“Wallahu a’lam” yang terdapat di tengah-tengah cerita dan “Alkalamu bilkhairi

Universitas Sumatera Utara

wassalamu ajma’in” yang digunakan sebagai kata penutup cerita. Jalan ceritanya
masih dominan pengaruh Hindu, dan dalam HIJP terdapat nama-nama yang masih
dan belum dapat meninggalkan pengaruh Hindu. Karena dewa-dewa Hindu serta
negeri kayangan belum dapat ditinggalkan begitu saja. Misalnya : Maharaja
Kaladarma, Dewa Langlang Buana, Dewa Brama Dewa, Dewa Surya. Jadi, HIJP
ini adalah hasil sastra zaman peralihan di mana pengarang mau meninggalkan
pengaruh Hindu dan memasukkan sedikit demi sedikit pengaruh Islam.

1.9

Sifat dan Bentuk Hikayat Indra Jaya Pahlawan
Seorang pengarang hikayat pada zaman dahulu dalam menciptakan

karyanya kebanyakan menciptakan suatu karya sastra yang merupakan unsur
rekaan dan khayalan. Karena seorang pengarang harus selalu menaikkan derajat
raja beserta keluarganya. Kehidupan raja beserta keluarganya tidaklah sama
dengan masyarakat kebanyakan, yang pada masa itu raja adalah segalanya. Cerita
HIJP ini bersifat anonim karena tidak diketahui siapa pengarangnya dan tahun
berapa hikayat ini dikarang. Oleh karena itu, hikayat ini diperuntukkan kepada
raja dan keluarganya serta menjadi milik bagi semua masyarakat pada zaman itu.
Hasil karya sastra Melayu lama dibagi menjadi dua bentuk yaitu bentuk
prosa dan puisi. Hikayat merupakan bentuk prosa, pada mulanya hikayat
disampaikan oleh tukang cerita (pawang). Seorang pawang berpindah dari satu
tempat ke tempat yang lain. Baru setelah masuknya Islam, hikayat mulai
dibukukan. Bagi masyarakat yang tidak dapat membaca dan menulis, mereka
dapat menghadiri pertemuan yang dibuat oleh pawang di daerah-daerah Melayu.
HIJP termasuk hikayat yang romantis, ceritanya berisikan tentang raja-raja, anak-

Universitas Sumatera Utara

anak raja, dewa-dewa, jin, dan tidak ada lagi batas antara alam manusia dan alam
dewa-dewa. Tokoh protagonis diciptakan sebagai seorang yang memiliki ilmu
kesaktian dan benda-benda sakti yang dianggap dapat membantu dalam
pengembaraannya, sehingga tokoh protagonis jarang sekali dapat dikalahkan oleh
tokoh antagonis.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1

Kepustakaan yang Relevan
Kajian pustaka merupakan suatu gagasan dan mendasari usulan penelitian

yang disusun berdasarkan kajian berbagai aspek, baik secara teoritis maupun
empiris dan dibentuk ke dalam suatu kerangka acuan.
Ary (1982 : 52) mengatakan, “Sangat penting bagi peneliti untuk mencari
hasil penelitian terdahulu yang cocok dengan bidang yang diteliti sebagai dasar
pendukung pilihan”. Dalam hal ini perlu diungkapkan kerangka acuan mengenai
konsep, prinsip atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam menyelesaikan
suatu penelitian. Uraian dalam kajian pustaka diharapkan menjadi landasan
teoritik mengapa masalah yang dihadapi dalam penelitian perlu dipecahkan
dengan strategi yang dipilih.
Sesuai dengan judul dalam skripsi ini yaitu Analisis Psikologis Terhadap
Hikayat Indra Jaya Pahlawan, maka dalam memecahkan persoalan yang timbul
dalam penelitian ini penulis menggunakan buku-buku yang relevan sebagai
panduan utama dalam memecahkan persoalan. Buku-buku yang digunakan dalam
pengkajian ini adalah buku-buku tentang sastra dan psikologi yaitu : Metode
Penelitian Sastra oleh Ratna, Telaah Sastra oleh Fananie, Metode Karakterisasi
Telaah Fiksi oleh Albertine Minderop, Metode Penelitian Psikologi Sastra oleh
Endraswara, Psikologi Kepribadian oleh Fudyartanta, Psikologi Umum oleh
Sobur, dan bacaan lainnya yang masih relevan dengan masalah tentang sastra dan
psikologis.

Universitas Sumatera Utara

2.2

Landasan Teori
Teori berasal dari kata theoria (bahasa Latin) yaitu suatu perangkat

pengertian, konsep, proposisi yang mempunyai korelasi, dan telah teruji
kebenarannya. Suatu kajian atau analisis sudah sewajarnya memakai landasan
teori tertentu, supaya penulis mudah menentukan langkah dan arah analisis. Di
samping itu, dengan adanya landasan teori yang telah ditentukan, maka penelitian
terhadap suatu objek yang bersifat ilmiah tersebut hasilnya akan dapat
dipertanggungjawabkan.
Dalam menganalisis HIJP dari aspek psikologisnya, penulis menggunakan
teori psikoanalisis, sedangkan dalam pelaksanaannya pertama dengan teori
struktural. Landasan teori yang digunakan diuraikan berikut ini.

2.2.1 Teori Struktural
Dalam menganalisis struktur cerita dari HIJP ini penulis mengacu kepada
pendekatan struktural seperti yang dikemukakan Teuuw (Maini, 1997 : 135)
“Analisis struktural bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secara cermat,
keterkaitan dan keterjalinan semua unsur dan aspek karya sastra yang bersamasama menghasilkan makna yang menyeluruh”.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud unsurunsur instrinsik adalah unsur-unsur dalam yang membentuk terciptanya suatu
karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam
karya sastra tersebut. Dalam hal ini, analisis struktural karya sastra dapat
dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji, dan mendeskripsikan fungsi dan
hubungan antarunsur instrinsik terutama dalam HIJP. Mula-mula diidentifikasikan

Universitas Sumatera Utara

dan dideskripsikan, misalnya bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, alur, tokoh,
latar, perwatakan, dan lain-lain. Setelah dijelaskan bagaimana fungsi masingmasing unsur dalam menunjang makna keseluruhannya, dan bagaimana hubungan
antarunsur itu sehingga secara bersama membentuk sebuah totalitas kemaknaan
yang padu. Misalnya, bagaimana hubungan antar peristiwa yang satu dengan yang
lain, kaitannya dengan plot yang tidak selalu kronologis, kaitannya dengan tokoh
dan penokohan, dengan latar dan sebagainya.
Dalam hubungan antarunsur (instrinsik) yang bersifat kausalitas, struktur
karya sastra juga saling menentukan dan saling mempengaruhi yang secara
bersama membentuk satu kesatuan yang utuh. Menurut Abrams (Nurgiyanto,
2001: 46), ”Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan penegasan, dan
gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara
bersama membentuk kebulatan yang indah”. Oleh karena itu, tiap bagian akan
menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungannya dengan bagian-bagian
yang lain, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhannya wacana karya
sastra.
Selain istilah struktural yang terdapat di atas, dunia kesusasteraan
mengenal istilah strukturalisme. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang
peranan penting. Artinya, unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat
berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi, yaitu dalam rangka
menunjukkan

antarhubungan

unsur-unsur

yang

terlibat.

Karya

sastra

memanfaatkan energi antarhubungan dalam membangun totalitas. Menurut Ratna
(2004 : 78), “Melalui hubungan medium bahasa, pengarang hanya menyajikan
unsur-unsur fisik, sebagai fabula. Antarhubunganlah, yaitu melalui imajinasi

Universitas Sumatera Utara

pembaca, yang mengubah cerita sehingga menyerupai kehidupan, dalam bentuk
plot”. Oleh karena itu keberhasilan sebuah karya sastra dengan demikian juga
ditentukan

oleh

kemampuan

penulis

dalam

menyajikan

keberagaman

antarhubungan.
Dengan mengambil analogi dalam bidang bahasa, sebagai hubungan
sintagmatis dan paradigmatis, maka karya sastra dapat dianalisis dengan dua cara,
pertama, menganalisis unsur-unsur yang terkandung dalam karya sastra. Kedua,
menganalisis karya melalui perbandingannya dengan unsur-unsur di luarnya yaitu
kebudayaan pada umumnya (Ratna, 2004 : 79). Mekanisme tata hubungan
sintagmatis memberikan pemahaman dalam kaitannya dengan jumlah unsur dalam
karya,

sedangkan

mekanisme

tata

hubungan

paradigmatis

memberikan

pemahaman dalam kaitan karya dengan masyarakat yang menghasilkannya.
Analisis pertama dilakukan melalui pendekatan instrinsik, sedangkan analisis yang
kedua dilakukan melalui pendekatan ekstrinsik yaitu psikologi sastra.
Pendekatan struktur lahir bertolak dari asumsi dasar bahwa karya sastra
sebagai karya kreatif memiliki daya penuh yang harus dilihat sebagai suatu sosok
yang berdiri sendiri, terlepas dari hal-hal lain yang berada dalam karya sastra.
Aspek yang harus dikaji terlebih dahulu adalah seperti tema, alur, tokoh, latar,
penokohan serta hubungan yang erat antaraspek yang mampu membuatnya
menjadi sebuah karya sastra.
Tentang prinsip analisis struktur, Semi (1990 : 44-45) mengatakan,
“Pendekatan ini membatasi diri pada penelaahan karya sastra itu
sendiri, terleps dari soal pengarang dan pembaca. Dalam hal ini
kritikus memandang karya sastra sebagai suatu kebulatan makna,
akibat berpaduan visi dengan pemanfaatan bahasa sebagai alatnya.
Dengan kata lain, pendekatan ini memandang dan menelaah sastra
dari segi instrinsik yang membangun suatu karya sastra yaitu tema,
alaur, latar, penokohan, dan gaya bahasa. Perpaduan yang

Universitas Sumatera Utara

harmonis antara bentuk dan isi merupakan kemungkunan kuat
untuk menghasilkan sastra yang bermutu. Penelaahan sastra
melalui pendekatan ini menjadi anutan para kritikus aliran
strukturalis, di dindonesia tercermin pada kelompok
Rawamangun”.
Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud
dengan unsur instrinsik adalah unsur-unsur dalam yang membentuk terciptanya
suatu karya sastra dan mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan
informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra tersebut. Dalam
hal ini, analisis struktural bekerja dengan cara mengidentifikasi, mengkaji, dan
mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur instrinsik terutama yang
terkandung dalam HIJP. Misalnya, bagaimana keadaan peristiwa-peristiwa, alur,
tokoh, latar, dan lain-lain.
Berikut yang menjadi konsep dasar, aspek-aspek yang dianalisis ialah :
a. Tema
Tema adalah landasan cerita atau isi cerita yang merupakan suatu pokok
pikiran mengenai sesuatu subjek. Lubis (1950 : 19) mengemukakan, “Tema
adalah suatu dasar dalam cerita yang dapat dilukiskan dengan satu kalimat saja”.
Dasar inilah yang penting dari seluruh cerita karena suatu cerita yang tidak
mempunyai dasar tidak ada artinya sama sekali atau tidak berguna. Dasar dalam
cerita ini merupakan tujuan cerita yang akan ditampilkan.
Tema adalah ide yang mendasari suatu cerita. Tema berperan sebagai
pangkal tolak pengarang dalam memaparkan karya rekaan yang diciptakannya.
Menurut Aminuddin (Siswanto, 2008 : 161), “Tema merupakan kaitan hubungan
antara makna dengan tujuan pemaparan prosa rekaan oleh pengarangnya.

Universitas Sumatera Utara

Seorang pengarang memahami tema cerita yang akan dipaparkan sebelum
melaksanakan proses kreatif penciptaan, sementara pembaca baru dapat
memahami tema bila mereka telah selesai memahami unsur-unsur yang menjadi
media pemapar tema tersebut, menyimpulkan makna yang dikandungnya serta
mampu menghubungkan dengan tujuan penciptaan pengarangnya (Aminuddin
dalam Siswanto, 2008 : 161).
Pada hakikatnya, tema yang baik adalah tema yang tidak diungkapkan
secara langsung dan jelas. Tema bisa disamarkan sehingga kesimpulan tentang
tema yang diungkapkan pengarang harus dirumuskan sendiri oleh pembaca.
Menurut Fananie, (2008 : 84), “Tema dapat diungkapkan melalui berbagai cara,
seperti melalui dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik-konflik yang dibangun,
atau melalui komentar secara tidak langsung”. Dalam hal ini, pengarang bisa saja
mengungkapkan tema utamanya dalam satu unit rangkaian cerita, tetapi bisa juga
dikemukakan pada bagian-bagian tertentu, misalnya di akhir cerita.
Proses penciptaan karya sastra tidak terlepas dengan apa-apa yang dimiliki
oleh pengarangnya, dengan kata lain keintelektualan seorang pengarang, dan jiwa
seorang pengarang dapat kita lihat dari hasil tulisannya. Unsur-unsur buah pikiran
yang disampaikan terdiri dari masalah, pendapat, dan amanat yang hendak
disampaikan oleh pengarang. Setiap unsur yang ada dalam cipta sastra harus
mendukung tema dan dalam hal ini tema adalah pikiran utama yang dipergunakan
untuk memberi nama bagi suatu pengarang atau pikiran mengenai sesuatu subjek,
motif atau topik.
Menurut Scharback (Aminuddin, 1987 : 91) mengungkapkan bahwa,
“Tema berasal dari bahasa Latin yang berarti “tempat meletakkan suatu
perangkat”. Disebut demikian karena tema adalah ide yang mendasari suatu cerita

Universitas Sumatera Utara

sehingga berperan juga sebagai pangkal tolak pengarang dalam memaparkan
karya fiksi yang diciptakannya”.
Tema menurut Semi (1988 : 42), “Tema adalah suatu gagasan sentral yang
menjadi dasar atau pokok pembicaraan atas tujuan yang akan diciptakan oleh
pengarang”. Sedangkan Sudjiman (1984 : 72), “Tema merupakan ide, gagasan,
atau pokok pikiran utama di dalam karya sastra terungkap (eksplisit) atau yang
tidak terungkap (implisit).
Lebih lanjut lagi Tarigan (1982 : 162) mengemukakan bahwa, “Setiap
cerita atau fiksi haruslah mempunyai tema data dasar yang merupakan tujuan.
Penulis melukiskan watak dari para pelaku dalam ceritanya dengan dasar atau
tema tersebut. Dengan demikian tidaklah berlebih-lebihan kalau kita katakan
bahwa tema atau dasar ini suatu hal paling penting dalam suatu cerita yang
mempunyai tema tertentu tidak ada guna dan artinya”.
Jadi untuk memahami suatu tema yang terdapat dalam karya sastra maka
pembaca harus mengetahui atau memahami unsur-unsur signifikan yang bersifat
konstruktif. Setelah mengetahui maka kita dapat menyimpulkan makna yang
terkandung di dalamnya dan kaitannya dengan tujuan penciptaan pengarangnya.
Karena pokok pikiran atau pokok persoalan begitu kuat dalam diri pengarang.
Sebuah karangan yang dihasilkan merupakan kompilasi pengarang yang ada
kaitannya dengan masalah-masalah kemanusian dan masalah lain yang terdapat
dalam masyarakat dan bersifat universal.
Dengan demikian menurut Aminuddin (dalam Roidah, 1993 : 59), berikut
ini merupakan langkah atau cara untuk menentukan tema cerita :
1. memahami setting dalam proses fiksi yang dibaca
2. memahami penokohan dan perwatakan para pelaku dalam prosa fiksi yang
dibaca.
3. memahami suatu peristiwa, pokok pikiran serta tahapan peristiwa dalam
prosa fiksi yang dibaca.
4. memahami plot atau alur cerita dalam prosa fiksi yang dibaca.
5. menghubungkan pokok-pokok pikiran yang satu dengan yang lainnya yang
disimpulkan dari satuan-satuan peristiwa yang terpapar dalam suatu cerita.
6. menentukan sikap penyair terhadap pokok-pokok pikiran yang
ditampilkan.

Universitas Sumatera Utara

7. mengidentifikasikan tujuan pengarang memaparkan ceritanya dengan
bertolak dari satuan pokok pikiran serta sikap penyair terhadap pokok
pikiran yang ditampilkannya.
8. menafsirkan tema dalam cerita yang dibaca serta menyimpulkannya dalam
satu kalimat yang diharapkan merupakan ide dasar cerita yang dipaparkan
pengarang.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapat
suatu tema dalam sebuah karangan tidaklah mudah. Karena dalam menentukannya
kita harus melihat persoalan yang paling menonjol, konflik yang paling banyak
hadir serta menghitung urutan penceritaan. Untuk itulah diperlukan suatu
pengkajian terhadap karya sastra secara teliti.

b. Alur ( Plot )
Sebelum penulis menjelaskan tentang alur ini, maka ada baiknya bila
terlebih dahulu penulis menguraikan tentang alur ini bahwa istilah alur ini
bermacam-macam alur atau plot. Rentang pikiran atau mungkin juga alur disebut
dengan istilah jalan cerita dan sebagainya. Barang kali alur berkembang sesuai
dengan perkembangan zaman. Seperti yang dikatakan oleh J.S. Badudu (1985 : 5),
“Bahwa bahasa yang tumbuh baik itu dalam karya sastra senantiasa berubah dan
perubahan itu meliputi bidang bahasa secara menyeluruh termasuk soal istilah alur
(plot)”. Menurut Luxemburg (Fananie, 2000 : 93), “Alur atau Plot adalah
konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara
logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para
pelaku”.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa alur adalah jalan cerita
atau struktur kejadian dalam cerita. Alur merupakan kerangka dasar yang sangat
penting. Alur mengatur bagaimana tindakan-tindakan harus berkaitan satu sama

Universitas Sumatera Utara

lain. Bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain,
bagaimana tokoh digambarkan dan berperan dalam peristiwa tersebut semuanya
terikat dalam suatu kesatuan waktu.
Dalam hal ini Crane (Fananie, 2001 : 94) berpendapat bahwa, Plot
tidak hanya dilihat dari jalannya suatu peristiwa. Lebih jauh perlu
juga dianalisis bagaimana urgensi peristiwa-peristiwa yang muncul
tersebut mampu membangun satu tegangan atau konflik tokohnya.
Dengan kata lain, analisis plot tidak hanya dilihat dari kedudukan
satu topik diantara topik-topik yang lain, melainkan harus pula
dikaitkan dengan elemen-elemen lain, seperti karakter pelaku,
pemikiran pengarang yang tercermin dalam tokoh-tokohnya, diksi,
maupun proses naratifnya.
Alur juga merupakan suatu rentetan peristiwa yang diurutkan peristiwa
yang akan ditampilkan dengan memperlihatkan kepentingan dalam cerita ini.
Alur suatu cerita menggambarkan bagaimana setiap tindakan yang saling
berhubungan satu dengan yang lain dan bagaimana seorang tokoh dalam suatu
cerita terkait dalam kesatuan cerita. Menurut Semi (1990 : 43), “Alur atau Plot
adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai interaksi
fungsional yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian seluruh fiksi.
Rangkaian perisitiwa yang dikaitkan dengan perkembangan karakter,
pemikiran para tokoh cerita, persoalan yang dihadapi, dan penyajian susunan
peristiwa yang dihadapi, dan penyajian susunan peristiwa yang dicuatkan
pengarang inilah yang akan menentukan sejauh mana kekuatan sebuah cerita.
Dalam hal ini keberadaan sebuah plot tidak hanya dilihat dari strukturnya saja,
tetapi juga harus dilihat dari fungsinya. Berdasarkan fungsi plot dalam
membangun nilai estetik cerita, maka identifikasi dan penilaian terhadap
keberadaan plot menjadi sangat beragam.
Menurut Crane (Fananie, 2001 : 94-95), keberagaman plot paling
tidak dapat dilihat dari tiga prinsip utama analisis plot yang
meliputi :

Universitas Sumatera Utara

1) Plot of action, yaitu analisis proses perubahan peristiwa secara
lengkap, baik yang muncul secara bertahap maupun tiba-tiba
pada situasi yang dihadapi tooh utama, dan sejauh mana urutan
peristiwa yang dianggap sudah tertulis (determinisme) itu,
berpengaruh terhadap perilaku dan pemikiran tokoh
bersangkutan dalam menghadapi situasi tersebut;
2) Plots of character, yaitu proses perilaku atau moralitas secara
lengkap dari tokoh utama kaitannya dengan tindakan emosi dan
perasaan; dan
3) Plots of thought, yaitu proses perubahan secara lengkap
kaitannya dengan perubahan pemikiran tokoh utama dengan
segala konsekuensinya berdasarkan kondisi yang secara
langsung dihadapi.
Menurut paham determinisme, keberadaan manusia di dunia adalah sudah
digariskan oleh Ilahi. Manusia hanyalah sekedar makhluk yang harus menjalani
yang sudah disuratkan. Karena itu, setiap perubahan nasib, perubahan perilaku,
moral, dan perjalanan hidup yang menimpa manusia, menurut paham
determinisme urutan peristiwanya adalah sudah ditentukan.
Pada dasarnya intisari dari sebuah plot adalah konflik dan peristiwa.
Tetapi konflik atau peristiwa dalam suatu cerita tidak dapat dipaparkan begitu
saja, harus ada dasarnya untuk menuju konflik. Sejalan dengan itu Muchtar Lubis
(Eri, 2005 : 29) membagi alur menjadi lima tahapan secara berurutan yaitu :
1. Exposition (pengarang mulai melukiskan keadaan sesuatu),
2. Generating circumstances (peristiwa mulai bergerak),
3. Ricing action (keadaan mulai memuncak),
4. Climax (puncak),
5. Denoument (penyelesaian).
Dalam pengertian ini, elemen plot hanyalah didasarkan pada paparan
mulainya peristiwa, berkembangnya peristiwa yang mengarah kepada konflik
yang mulai memuncak dan ketika cerita tersebut dapat menentukan nasibnya

Universitas Sumatera Utara

sendiri-sendiri. Selanjutnya kadar konflik akan menurun sehingga ketegangan
dalam cerita menuju ke tahap penyelesaian cerita.

c. Latar ( setting )
Latar atau setting adalah tempat dan waktu peristiwa dalam cerita. Latar
dalam suatu cerita bukan hanya background (tempat kejadian, waktu terjadinya)
cerita itu. Tetapi juga berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka,
maupun gaya hidup masyarakat dalam menghadapi suatu persoalan tertentu.
Menurut Tarigan (1982 : 57), “Latar atau setting adalah lingkungan fisik tempat
kegiatan berlangsung. Dalam arti lebih luas latar mencakup tempat dalam waktu
dan kondisi-kondisi psikologis dari semua yang terlibat dalam kegiatan itu”.
Sedangkan Aminuddin (1987 : 67) berpendapat bahwa,
Setting (latar) juga berlaku dalam cerita fiksi karena peristiwaperistiwa dalam cerita fiksi juga selalu dilatarbelakangi oleh
tempat, waktu, maupun situasi tertentu. Akan tetapi dalam
karya fiksi, setting atau latar bukan hanya berfungsi sebagai
latar yang bersifat fisikal untuk membuat suatu cerita menjadi
logis. Setting juga memiliki fungsi psikologis sehingga setting
pun mampu menuansakan makna tertentu serta mampu
menciptakan suasana-suasana tertentu yang menggerakkan
emosi atau aspek kejiwaan pembacanya. Dalam hal ini telah
diketahui adanya setting yang metaforis.
Selanjutnya Semi (Aritonang, 1993 : 51) berpendapat bahwa,
“Latar atau landas tumpu (setting) cerita adalah lingkungan
tempat peristiwa terjadi. Termasuk di dalam latar ini adalah
tempat atau ruang yang dapat diamati seperti kampus, disebuah
kapal yang berlayar ke Hongkong, di kafetaria, di sebuah
puskesmas, di dalam penjara di Paris dan sebagainya.
Termasuk di dalam unsur latar atau landas tumpu ini adalah
waktu, hari, tahun, musim atau periode sejarah, misalnya di
zaman perang kemerdekaan disaat upacara sekaten dan
sebagainya. Orang atau kerumunan orang yang berada disekitar
tokoh juga dapat dimasukkan ke dalam unsur latar, namun
tokoh itu sendiri tentu tidak termasuk”.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa latar adalah tempat
atau ruang terjadinya suatu peristiwa dalam karya sastra. Atau dengan kata lain
setting adalah peristiwa dalam karya fiksi, baik berupa tempat, waktu maupun
peristiwa serta memiliki fungsi fisikal dan fungsi psikologis.
Dalam kaitan ini Aminuddin (1987 : 68), membedakan antara setting
(latar) yang bersifat fisikal dengan setting (latar) yang bersifat psikologis yaitu :
1. Setting yang bersifat fisikal berhubungan dengan tempat, misalnya
kota Jakarta, daerah pedesaan, pasar, sekolah, dan lain-lain, serta
benda-benda dalam lingkungan tertentu yang tidak menuansakan
makna apa-apa, sedangkan setting psikologis adalah setting berupa
lingkungan atau benda-benda dalam lingkungan tertentu yang mampu
mengajak emosi pembaca.
2. Setting fisikal hanya terbatas pada sesuatu yang bersifat fisik,
sedangkan setting psikologis dapat berupa nuansa maupun sikap serta
jalan pikiran suatu lingkungan masyarakat tertentu.
3. Untuk memahami setting yang bersifat fisikal, pembaca cukup melihat
dari apa yang tersurat, sedangkan pemahaman terhadap setting yang
bersifat psikologis membutuhkan adanya penghayatan dan penafsiran.
4. Terdapat saling pengaruh dan ketumpangtindihan antara setting fisikal
dengan setting psikologis.

Walaupun setting dimaksudkan untuk mengidentifikasikan situasi yang
tergambar dalam cerita, keberadaan elemen setting hakikatnya tidaklah hanya
sekedar menyatakan dimana, kapan, dan bagaimana situasi berlangsung,
melainkan berkaitan juga dengan gambaran tradisi, karakter, perilaku sosial, dan
pandangan masyarakat pada waktu cerita ditulis. Dari kajian setting akan dapat
diketahui sejauh mana kesesuaian dan korelasi antara perilaku dan watak tokoh
dengan kondisi masyarakat, situasi sosial, dan pandangan masyarakatnya.
Menurut Jakob Sumardjo (Fananie, 2001 : 98), “Setting yang berhasil
haruslah terintegrasi dengan tema, watak, gaya, implikasi atau kaitan
filosofisnya”. Dalam hal tertentu latar harus mampu membentuk tema dan plot

Universitas Sumatera Utara

tertentu yang dalam dimensinya terkait dengan te