Dinamika fosfat dan klorofil dengan penebaran ikan nila ( oreochromis nilotocus) padas kolam budidaya ikan lele (clarias gariepinus) sistem heterotrofik

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL
DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus)
SISTEM HETEROTROFIK

MUHIB RADHIYUFA

PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M/ 1432 H

DINAMIKA FOSFAT DAN KLOROFIL
DENGAN PENEBARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
PADA KOLAM BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias gariepinus)
SISTEM HETEROTROFIK

SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk memperoleh Gelar Sarjana Sains Pada
Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta

MUHIB RADHIYUFA
106095003199

PROGRAM STUDI BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011 M/ 1432 H

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN
SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN
TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Jakarta, September 2011

MUHIB RADHIYUFA
106095003199

Bismillaahirrahmaanirrahiim
“Untukmu Ayah Ibu”
Lima tahun sudah berlalu
Bersama 23 orang penuntut ilmu
Aku berjibaku
Meraih ijazah sarjanaku
Menapaki hiruk pikuk dan lika-liku ilmu
Di kota central tempat para penjuru negeri mengadu
Bersama do’a mu, aku menuntut ilmu
Bersama harapmu, aku menuju cita-citaku
Bersama kasihsayangmu, aku rindu
Kini dapat aku persembahkan untuk mu ayah dan ibu
Sebuah karya yang ku tulis dengan tinta cintamu
Inilah keringat dan jeripayahmu ayah dan ibu
Inilah doa dan linangan air mata malammu ibu
Inilah harapanmu ayah dan ibu
Inilah baktiku pada mu ayah dan ibu
Jangan pernah surut sungai di kelopak matamu
mengalirkan do’a ibu
Jangan pernah berhenti bibir mu berharap oh ayah dan ibu
Sampai dunia kurengkuh untuk mu
Sampai Surga ku bawakan untuk mu
Oh ayah dan Ibuku tercinta
Kasih sayangmu tiada tara.
Skripsi ini ku persembahkan
untuk Ayah dan Ibundaku Tercinta

ABSTRAK

Muhib Radhiyufa. Dinamika Fosfat Dan Klorofil Dengan Penebaran Ikan
Nila (Oreochromis niloticus) Pada Kolam Budidaya Ikan Lele (Clarias
gariepinus) Sistem Heterotrofik

Intensifikasi dicirikan dengan adanya peningkatan kepadatan ikan dan pakan
tambahan. Masalah yang kemudian selalu muncul dalam budidaya secara intensif
yaitu terjadinya penurunan kualitas air yang disebabkan meningkatnya limbah
nitrogen dan fosfat. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya kualitas air da
kelangsungan hidup ikan. Salah satu usaha untuk meningkatkan kelangsungan
hidup ikan dengan sistem budidaya perikanan intensif sistem heterotrofik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika fosfat dan klorofil pada
kolam budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) sistem heterotrofik dengan
penebaran ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakukan di
Laboratorium Sistem Budidaya Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya
Perikanan Air Tawar Sukamandi, Subang-Jawa Barat dari bulan Mei sampai Juni
2011. Pada penelitian ini menggunakan 2 perlakuan dengan 3 ulangan. Adapun
perlakuannya adalah kolam perlakuan ikan lele tanpa penebaran ikan nila dan
kolam perlakuan ikan lele dengan penebaran ikan nila. Data hasil penelitian
ditampilkan secara grafis untuk melihat dinamika dari setiap parameter dan
dijelaskan secara deskriptif. Data hasil pengukuran kadar fosfat dan klorofil
dianalisis dengan korelasi bivariate. Parameter yang diamati dalam penelitian ini
meliputi: kadar fosfat, klorofil dan kualitas air (pH, suhu, oksigen terlarut,
amonia, nitrat, VSS). Hasil penelitian menunjukkan penebaran ikan nila pada
kolam budidaya ikan lele sistem heterotrofik mengalami dinamika kadar fosfat
dan klorofil dimana terjadi penurunan pada akhir penelitian dibandingkan tanpa
penebaran ikan nila. Terdapat hubungan yang erat antara kadar fosfat dengan
kadar klorofil pada perlakuan tanpa penebaran ikan nila dan dengan penebaran
ikan nila dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,743 dan 0,858 dan signifikan secara
statistik (P < 0,05).

Kata kunci : Dinamika fosfat dan klorofil, Ikan lele dan ikan nila

ABSTRACT

Muhib Radhiyufa. Dynamics Of Phosphate And Chlorophyll By Spreading
Tilapia Fish (Oreochromis niloticus) In Catfish (Clarias gariepinus)
Aquaculture Ponds Heterotrophic System

Intensification is characterized by an increase in fish density and additional food.
Problems that always arise in the intensive cultivation of the decline in water
quality due to increased toxic waste nitrogen and phosphate. One of the ways to
improve the survival of fish in intensive aquaculture heterotrophic system. The
purpose of this research to knows the dynamics of phosphate and chlorophyll in
pond culture of catfish (Clarias gariepinus) by spreading tilapia (Oreochromis
niloticus) with a heterotrophic system. This research was performed in the
Laboratory of Aquaculture Systems Workshop Research and Breeding Freshwater
Aquaculture Technology Sukamandi, Subang, West Java, from April to May
2011. This research used two treatments with 3 replications. The treatment is a
treatment pond catfish without spreading tilapia (A) and the treatment pond
tilapia+catfish (B). The data results of research is shown graphically to see the
dynamics of each parameter measured and analyzed by bivariate correlation.
Parameters observed in this research include: levels of phosphates, chlorophyll,
water quality (pH, temperature, dissolved oksigen, ammonia, nitrat, VSS). Results
of this research showed that by spreading tilapia in pond culture of catfish
heterotrophic systems affect the decrease level of phosphate and chlorophyll. An
strong correlation between levels of phosphates and chlorophyll in treatment A
and B by value (r) 0,743 and 0,858 and significant with statistic (P < 0,05).

Key words: Dynamics of phosphate and chlorophyll, catfish and tilapia.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat
rahmat dan hidayah dari-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
“Dinamika Fosfat Dan Klorofil Dengan Penebaran Ikan Nila (Oreochromis
niloticus) Pada Kolam Budidaya Ikan Lele (Clarias gariepinus) Sistem
Heterotrofik” ini. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada baginda Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa kita ke zaman yang terang benderang
penuh ilmu pengetahuan seperti sekarang ini.
Pembuatan skripsi ini tidak lepas dari bantuan dan masukan-masukan dari
banyak pihak. Memang demikian yang penulis rasakan dalam praktek hingga
skripsi ini berhasil diselesaikan, yakni banyak pihak yang mendukung dan
membantu, berupa moril dan materil, baik secara langsung maupun tidak langsung
hingga penyusunan skripsi dapat dilakukan dengan baik dan lancar sesuai waktu
yang ditentukan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan
hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Muhammad Kasir Sihotang, MM dan Medina Samosir, AM.Pd orang
tuaku tercinta, kakak-kakakku (Muhammad Mukhlas Anshori, ST,
Risnaliati Bona, M. E dan Rafrianika, M.A.P) yang semoga di rahmati
Allah SWT, yang selalu memberikan dukungan moril dan materilnya
sampai terselesaikannya skripsi ini.
2. DR. Syopiansyah Jaya Putra, M. Sis selaku Dekan Fakultas Sains dan
Teknologi.
i

3. DR. Lily Surayya E.P, M. Env. Stud selaku Kepala Prodi Biologi Fakultas
Sains dan Teknologi.
4. Bambang Gunadi, M. Si dan DR. Lily Surayya E.P, M. Env. Stud selaku
pembimbing. Terima kasih atas kesediaan dan kesabarannya dalam
membimbing, serta semua nasihat yang membangun semangat penulis
selama penelitian dan penyusunan skripsi ini.
5. DR. Imron, S. Pi, M. Si selaku kepala dan Drs. Wayan Subamia, M. Si
selaku mantan kepala Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya
Perikanan Air Tawar Sukamandi, Subang Jawa Barat.
6. Bapak DR. Joni Haryadi M. Sc dan Ibu Dini Fardila, M. Si selaku penguji
seminar hasil, yang telah banyak memberikan arahan dan masukan kepada
penulis.
7. Ibu Megga Ratnasari Pikoli, M. Si dan Ibu Dasumiati, M. Si selaku
penguji sidang skripsi, yang telah memberikan masukan dan saran yang
sangat membangun kepada penulis.
8. Ibu Dasumiati, M.Si selaku dosen pembimbing akademik.
9. Zihan Oktavina, S.Si yang setia menemaniku, memberikan semangat dan
saran selama penyusunan skripsi.
10. Lamanto, S. Pi, Rita Febriyana, S. Pi yang telah membimbing dan
membantu penulis selama penelitian.
11. Kang Nurdiansyah, Mang Karim, Mas Ivan, Mas Galih, Didin, Ikhsan,
Kang Uus, Bi Mun, Pak Sofyan, Pak Sumarno, Pak Keming yang telah
membantu penulis selama penelitian.
ii

12. Muhammad Iqbal S. Si, Rosmaniar, S. Si, Yudha Lestira, S. Pi, Efrizal,
S.Pi, Ayudya Safitry Iskandar, S.Pi, Musyrikin, S. Pi, Asep Mulyana, S.
Pi, Astri Kurniasari, S. Pi teman-teman selama penelitian di Subang.
13. Mukhlis Syafaat (Pane), Irfan Hilmi (Gelenk), Apiz, Yapong, Abi, Dery,
Cepi, Eki, Zarken, Arob, Dahry, Sammy teman-teman kosanku.
14. Teman-teman Biologi Angkatan 2006 (Malik, Zian, Nungq, Anggi, Note,
Pipit, Rina, Iis, Nunu, Yelvi, Hera, Nita, Nana, Bandot, Bduz, Adeng,
Aqil, Eco, Bamz, Gelenk, Ipin, Ryan). Terimakasih kawan atas dukungan
dan perhatian kalian, semoga persahabatan ini selalu ada buat kita semua.
15. Pihak-pihak lain yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatunya, terima
kasih atas segala bimbingan dan bantuannya.
Akhirnya atas bantuan, bimbingan, pengarahan serta dorongan yang
diberikan, semoga mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT. Penulis
menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun untuk kesempurnaan
skripsi ini.
Demikianlah skripsi ini disusun, semoga skripsi ini berguna dan
bermanfaat bagi para pembaca untuk menambah bekal ilmu pengetahuan dan
untuk penulis khususnya. Amin.
Jakarta, September 2011

Muhib Radhiyufa

iii

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .........................................................................

i

DAFTAR ISI ........................................................................................

iv

DAFTAR GAMBAR ...........................................................................

vii

DAFTAR TABEL ................................................................................

viii

DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................

ix

BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................

1

1.1. Latar Belakang ...................................................................

1

1.2. Perumusan Masalah ............................................................

3

1.3. Hipotesis ..............................................................................

3

1.4. Tujuan Penelitian................................................................

3

1.5. Manfaat Penelitian ..............................................................

4

1.6. Kerangka Berfikir ...............................................................

4

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA .........................................................

5

2.1. Ikan Lele (Clarias gariepinus) .............................................

5

2.2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) .......................................

6

2.3. Padat Penebaran ...................................................................

8

2.4. Kelangsungan Hidup Ikan ....................................................

9

2.5. Sistem Heterotrofik ...............................................................

10

2.5.1. Molases ........................................................................

11

2.6. Fitoplankton ...........................................................................

12

2.7. Parameter Kualitas Air …......................................................

14

2.7.1. Suhu ............................................................................

14

2.7.2. Oksigen Terlarut .........................................................

15

2.7.3. Fosfat ...........................................................................

16

2.7.4. Amonia ........................................................................

18

2.7.5. Nitrat ...........................................................................

19
iv

2.7.6. pH ...............................................................................

19

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ............................................

21

3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ................................................

21

3.2. Alat dan Bahan .......................................................................

21

3.3. Cara Kerja ..............................................................................

22

3.3.1. Rancangan Kolam Pemeliharan ..................................

22

3.3.2. Penebaran Ikan ............................................................

22

3.3.3. Perlakuan .....................................................................

23

3.3.4. Inokulasi Bakteri .........................................................

24

3.3.4. Pemberian Pakan dan Molases ....................................

24

3.4. Pengamatan ............................................................................

25

3.4.1. Pengukuran Fosfat ......................................................

25

3.4.2. Pengukuran Klorofil ....................................................

25

3.4.3. Pengukuran Kualitas Air .............................................

26

3.4.4. Pengukuran Amonia ....................................................

26

3.4.5. Pengukuran Nitrat .......................................................

26

3.4.6. Pengukuran Volatile Suspended Solid (VSS) .............

27

3.5. Analisis Data ..........................................................................

28

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................

29

4.1. Kadar Fosfat ...........................................................................

29

4.2. Klorofil ...................................................................................

31

4.3. Kelangsungan Hidup Ikan ………………………………….

34

4.4. Parameter Kualitas Air ……………………….……………

35

4.4.1. Suhu …………………………….……………………

35

4.4.2. pH ……………………………………………………

37

4.4.3. Oksigen Terlarut ………………..........…….………..

38

4.4.4. Amonia ……………………………..….……….……

40

4.4.5. Nitrat …………………………………….…………...

41

4.4.6. Volatile Suspended Solid (VSS) ……………..………. 43

v

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …….……………………….

45

5.1. Kesimpulan ………………………….…………….……….

45

5.2. Saran ……………………….…….………………………...

45

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 46

LAMPIRAN-LAMPIRAN ...................................................................... 50

vi

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Ikan Lele Clariasgariepinus) .................................................

5

Gambar 2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) ........................................

7

Gambar 3. Skema Kolam Penelitian . .....................................................

22

Gambar 4. Skema Posisi Kolam .............................................................

23

Gambar 5. Kadar Fosfat Selama Penelitian ……………….…………...

29

Gambar 6. Kadar Klorofil Selama Penelitian ………………………….

32

Gambar 7. Kelangsungan Hidup Ikan Lele dan Ikan Nila …..…………

35

Gambar 8. Nilai Suhu Selama Penelitian ……………………….……...

36

Gambar 9. Nilai pH Selama Penelitian …………………..……………..

38

Gambar 10. Kadar Oksigen Terlarut Selama Penelitian ………………..

39

Gambar 11. Kadar Amonia Selama Penelitian ……………..…………..

41

Gambar 12. Kadar Nitrat Selama Penelitian ……………..…………….

42

Gambar 13. Nilai VSS Selama Penelitian ……………..…….………….

44

vii

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1. Kisaran Kualitas Air Untuk Budidaya Ikan Lele ......................

6

Tabel 2. Kode Perlakuan Setiap Kolam .................................................

23

Tabel 3. Hasil Analisis Korelasi Antara Fosfat dan Klorofi Pada
Perlakuan A dan B menggunakan SPSS versi 16 ......................

33

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Foto Kolam Pemeliharaan ...................................................

50

Lampiran 2. Foto Sampling Ikan …........................................….………

51

Lampiran 3. Foto Pengukuran Kualitas Air .............................................

52

Lampiran 4. Rata-rata Kadar Fosfat dari Minggu ke-1 sampai ke-6 ...…

53

Lampiran 5. Rata-rata Kadar Klorofil dari Minggu ke-1 sampai ke-6 .…

53

Lampiran 6. Hasil Analisis Korelasi Antara Kadar Klorofi dengan Parameter
Lingkungan Pada Perlakuan B ……………….….....…..…

54

Lampiran 7. Perhitungan Inokulasi Bakteri Komersil ........................…..

54

ix

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Seiring meningkatnya kebutuhan manusia akan produksi ikan akibat

pertambahan penduduk dan tingginya tingkat konsumsi ikan, budidaya ikan
dituntut untuk selalu meningkatkan produksinya secara intensif. Pengembangan
budidaya perikanan yang intensif dicirikan dengan adanya peningkatan
kepadatan ikan dan suplai pakan yang seluruhnya ditambahkan dari luar sistem
(pakan buatan). Masalah yang kemudian selalu muncul dalam budidaya
perikanan secara intensif yaitu terjadinya penurunan kualitas air yang
disebabkan karena meningkat dan cepat terakumulasinya sisa pakan, bahan
organik, senyawa fosfat dan nitrogen toksik yang dihasilkan karena rendahnya
kecepatan pergantian air (Tchobanoglous dan Burton, 1991).
Budidaya ikan secara intensif dengan peningkatan padat penebaran dan
peningkatan

pemakaian

pakan

buatan

kaya

protein

mengakibatkan

meningkatnya limbah nitrogen toksik dan fosfat. Limbah nitrogen toksik dan
fosfat pada perairan budidaya umumnya berasal dari sisa pakan yang tidak
termakan dan feses ikan. Selama satu periode pemeliharaan ikan secara tidak
langsung selalu diperoleh limbah sisa-sisa pakan dan kotoran ikan. Limbah
nitrogen toksik dalam perairan pada umumnya dalam bentuk ammonia atau
nitrat dan nitrit (Avnimelech, 1988).

1

2

Limbah fosfat dalam perairan pada umumnya dalam bentuk ortofosfat
(PO4-3), polifosfat (P2O7) dan fosfor organik. Dalam perairan terjadi proses
fotoautotrofik, dimana fosfat merupakan salah satu unsur penting dalam
pembentukannya. Semakin tingginya proses fotoautotrofik yang diikuti
tingginya kelimpahan klorofil (fitoplankton), maka semakin menurun pula kadar
fosfat. Kelimpahan klorofi (fitoplankton) menyebabkan menurunnya kualitas air
dan air menjadi toksik yang sangat berbahaya bagi ikan. Perombakan bahan
organik membutuhkan oksigen terlarut dalam air, hal ini menyebabkan
berkurangnya oksigen terlarut dalam air yang sangat dibutuhkan oleh ikan untuk
keperluan metabolisme dan pernafasannnya (Boyd, 1989).
Proses mikrobial heterotrofik atau sistem heterotrofik dalam kolam
budidaya dapat dimanfaatkan untuk mengurangi beban pencemaran kualitas air
dan meningkatkan kualiatas air yang pada prinsipnya dirangsang untuk berubah
menjadi biomassa mikroba atau fitoplankton untuk kemudian dipanen secara
biologis oleh pemakan bakteri dan plankton (filter feeding fish) (Avnimelech
dan Mokay, 1988). Penerapan sistem ini dilakukan dengan memelihara
organisme yang memiliki tropik level lebih rendah dari ikan yang dibudidayakan.
Dalam hal ini, ikan nila yang termasuk salah satu organisme pemakan bakteri
dan plankton yang berasal dari limbah nitrogen dan fosfat pada kolam budidaya.
Sumber nutrien utama bagi ikan bertropik level rendah dalam sistem ini adalah
fitoplankton dan mikroba.
Mengingat konsentrasi nitrogen dan fosfor yang tinggi berbahaya bagi
lingkungan akuatik, maka pengontrolan dinamika kedua senyawa tersebut

3

menjadi sangat penting dalam manajemen kolam budidaya perikanan. Maka
dilakukan penelitian untuk mengetahui dinamika fosfor untuk memberikan
informasi kebijakan pengelolaan perikanan selanjutnya pada upaya peningkatan
produksi akuakultur dengan intensifikasi. Dalam penelitian ini hanya dibatasi
pada dinamika fosfat dan klorofil pada kolam budidaya ikan lele (Clarias
gariepinus) dengan penebaran ikan nila (Oreochromis niloticus) sistem
heterotrofik.

1.2.

Perumusan Masalah
Perumusan masalah pada penelitian ini adalah: Bagaimana dinamika

fosfat dan klorofil dengan penebaran ikan nila (Oreochromis niloticus) pada
kolam budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) sistem heterotrofik?

1.3.

Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah: Penebaran ikan nila (Oreochromis

niloticus) pada kolam budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) sistem
heterotrofik dapat menurunkan kadar fosfat dan klorofil.

1.4.

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dinamika fosfat dan

klorofil pada kolam budidaya ikan lele (Clarias gariepinus) sistem heterotrofik
dengan penebaran ikan nila (Oreochromis niloticus).

4

1.5.

Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk menentukan manajeman operasional

budidaya ikan lele intensif dengan sistem heterotrofik dan meningkatkan
kelangsungan hidup ikan serta kualitas airnya yang pada akhirnya dapat
mengurangi bahaya pencemaran lingkungan.

1.6.

Kerangka Berfikir
Kebutuhan masyarakat akan produksi ikan
meningkat seiring bertambahnya
populasi manusia

Budidaya intensif

Limbah fosfat meningkat

Penurunan kualitas air dan
kelangsungan hidup ikan

Pemanfaatan ikan Nila dan
sistem hetrotrofik

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai Dinamika Fosfat Dan
Klorofil Dengan Penebaran Ikan Nila
(Oreochromis niloticus) Pada Kolam
Budidaya Ikan Lele (Clarias
gariepinus) Sistem Heterotrofik

Diharapkan dapat
meningkatkan kelangsungan
hidup ikan dan kualitas Air

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Ikan Lele (Clarias gariepinus)
Ikan lele berasal dari Benua Afrika. Ikan ini memiliki berbagai

kelebihan, diantaranya yaitu pertumbuhannya cepat, memiliki kemampuan
beradaptasi terhadap lingkungan yang tinggi, jika dikonsumsi rasanya enak dan
kandungan gizinya cukup tinggi (Suyanto, 2006).

0

5

10

15

20

Gambar 1. Ikan Lele (Clarias gariepinus)
Foto: Muhib (2011)

Ikan lele umumnya berwarna kehitaman atau keabuan dengan bentuk
badan yang memanjang pipih ke bawah (depressed), berkepala pipih, tidak
bersisik, memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba,
dan memiliki alat pernapasan tambahan (arborescent organ) (Gambar 1).
Insangnya berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang (Pillay,
1990). Ikan lele mempunyai jumlah sirip punggung 68-79, sirip dada 9-10, sirip

5

6

perut 5-6, sirip dubur 50-60 dan jumlah sungut 4 pasang. Sirip dada dilengkapi
sepasang duri tajam/patil yang memiliki panjang maksimum mencapai 400 mm.
Ukuran matanya sekitar 1/8 panjang kepalanya. Giginya berbentuk villiform dan
menempel pada rahang. Secara alami ikan lele bersifat nocturnal, artinya aktif
pada malam hari atau lebih menyukai tempat yang gelap, tetapi dalam usaha
budidaya ikan lele dibuat beradaptasi menjadi diurnal. Ikan lele bersifat
omnivora cenderung karnivora (Suyanto, 2006).

Tabel 1. Kisaran kualitas air budidaya ikan lele (Khairuman et al., 2002)
Parameter Kualitas Air
Amoniak (NH3)
pH
Suhu
Oksigen terlarut (O2)

2.2.

Kisaran
0,05 ppm
6,5-8
20 – 30 ⁰C Optimal 27 ⁰C
> 3 ppm

Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila berasal dari sungai Nil. Bibit ikan didatangkan ke Indonesia

secara resmi oleh Balai Penelitian Perikanan Air Tawar pada tahun 1969. Setelah
melalui masa penelitian dan adaptasi, barulah ikan nila disebarluaskan di seluruh
Indonesia. Nila adalah nama khas Indonesia yang diberikan oleh Pemerintah
melalui Direktur Jenderal Perikanan (Rukmana, 1997).
Ikan nila memiliki bentuk tubuh streamline (Gambar 2). Bentuk mulutnya
biasa dan letaknya berada di ujung (terminal). Sirip punggung dengan 16-17 sirip
tajam dengan 11-15 jari-jari (sirip lunak) dan sirip dubur dengan 3 sirip dengan 811 jari-jari. Tubuhnya berwarna kehitaman atau keabuan, dengan beberapa garis

7

gelap melintang (belang). Ekornya memiliki jari-jari 7-12 buah. Sirip ekornya
homoserkal dan sisiknya berjenis stenoid (Suyanto, 2006).

0

1

2

3

4

5

Gambar 2. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
Foto: Muhib (2011)

Ikan nila memiliki kemampuan menyesuaikan diri yang baik dengan
lingkungan sekitarnya. Sehingga dapat dipelihara di dataran rendah berair payau
maupun dataran yang tinggi dengan suhu yang rendah. Ikan nila dapat hidup
pada suhu 14 – 38oC dan suhu terbaik 20 – 30oC. Ikan nila termasuk omnivora
atau pemakan segala, baik tumbuhan maupun hewan. Kebiasaan itu bergantung
pada umurnya. Pada saat larva ikan nila menyukai fitoplankton. Namun pada
saat benih menyukai zooplankton, seperti Daphnia sp, dan Moina sp. Setelah
dewasa menyukai cacing, seperti cacing darah dan tubifex. Menurut kebiasaan
tempat makan, ikan nila termasuk jenis floating feeder yaitu pemakan di
permukaan air, terkadang juga bersifat bottom feeder yaitu pemakan di dasar
perairan. Ikan nila termasuk ikan yang aktif, bergerak cepat ketika diberi pakan
tambahan (Suyanto, 2006).
Ikan nila merupakan spesies akuakultur yang cukup menarik karena
pertumbuhannya cepat sehingga dapat digunakan sebagai filter feeder,

8

reproduksinya cepat dan mampu menstabilkan kelimpahan fitoplankton. Ikan
nila mampu memfilter bakteri berukuran 1 µm dan fitoplankton berdiameter 5
µm (Turker et al., 2003).

2.3.

Padat Penebaran
Padat penebaran ikan adalah jumlah ikan atau biomassa yang ditebar

persatuan luas atau volum wadah pemeliharaan ikan. Padat penebaran erat sekali
kaitannya dengan produksi dan pertumbuhan ikan. Padat penebaran yang tinggi
berpengaruh terhadap kegiatan ikan budidaya yaitu kelangsungan hidup,
pertumbuhan dan kesehatan ikan. Peningkatan padat penebaran dapat dilakukan
dengan melakukan pengawasan terhadap empat faktor utama lingkungan, yaitu
pengawasan suhu, pemberian pakan, suplai oksigen, dan pembersihan limbah
metabolisme. Pengawasan terhadap empat faktor tersebut memungkinkan untuk
meningkatkan

padat

penebaran

ikan

tanpa

harus

mengurangi

laju

pertumbuhannya (Hepher dan Prugnin, 1984).
Langkah awal yang penting dalam usaha pemeliharaan ikan yaitu
pengaturan padat penebaran. Pengaturan padat penebaran pada suatu sistem
lokasi budidaya ikan bertujuan untuk menentukan secara tepat jumlah ikan
optimal yang ditebarkan pada suatu perairan sehingga dapat menghasilkan
produksi yang baik secara kualitas dan kuantitas. Padat penebaran yang terlalu
tinggi akan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air dan
secara tidak langsung akan mempengaruhi nafsu makan dan pada akhirnya akan
berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Semakin tinggi tingkat kepadatan ikan

9

dapat menyebabkan semakin banyak masalah yang timbul, seperti serangan
penyakit, memburuknya kualitas air serta terjadinya kompetisi dalam mengambil
pakan (Stickney, 1979).

2.4. Kelangsungan Hidup Ikan
Kelangsungan hidup yang biasa disebut Survival rate (SR) adalah
perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir pemeliharaan
dengan jumlah individu yang hidup pada awal pemeliharaan. Kelangsungan
hidup merupakan peluang hidup dalam suatu saat tertentu. Kelangsungan hidup
ikan dipengaruhi oleh faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yang
mempengaruhi yaitu kompetitor, parasit, umur, predasi, kepadatan populasi,
kemampuan adaptasi dari hewan dan penanganan manusia. Faktor abiotik yang
berpengaruh antara lain yaitu sifat fisika dan sifat kimia dari suatu lingkungan
perairan. Jumlah waktu pemberian pakan dan pemberian shelter pada kolam
pemeliharaan akan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan karena dapat
mengurangi mortalitas (Effendi, 2003).
Pertumbuhan ikan yang baik akan meningkatkan produksi dari usaha
budidaya. Besarnya produksi bergantung pada tingkat pertumbuhan dan
kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Semakin besar jumlah ikan yang
hidup dan semakin besar ukuran bobot individunya maka akan semakin tinggi
hasil produksi (Wahyudi, 2006). Padat penebaran yang tinggi berpengaruh
terhadap kegiatan ikan budidaya yaitu kelangsungan hidup, pertumbuhan dan
kesehatan ikan (Kordi dan Tancung, 2007).

10

2.5.

Sistem Heterotrofik
Sistem heterotrofik merupakan sistem budidaya ikan yang menggunakan

bakteri heterorofik dan menggunakan sumber karbon organik sebagai sumber
energinya. Pada sistem heterotrofik ini, amonia akan diubah menjadi biomassa
bakteri. Bakteri heterotrofik akan mengkonversi limbah nitrogen organik
(amonia, nitrit, dan nitrat) menjadi biomassa. Bakteri heterotrofik merupakan
golongan bakteri yang mampu memanfaatkan dan mendegradasi senyawa
organik kompleks baik yang mengandung unsur C, H, dan N. Kelompok bakteri
ini mengawali tahap degradasi senyawa organik dengan serangkaian tahapan
reaksi enzimatis, dan menghasilkan senyawa yang lebih sederhana atau senyawa
anorganik, senyawa tersebut digunakan

sebagai

sumber energi

untuk

pembentukan sel-sel baru dan untuk reproduksi yang menyebabkan pertambahan
populasi. Pemecahan senyawa organik dapat berlangsung lebih cepat apabila
tersedia oksigen yang mencukupi (Parwanayoni, 2008).
Kelangsungan hidup bakteri heterotrofik di perairan tergantung dari
senyawa-senyawa organik baik untuk energinya maupun sebagi sumber karbon
yang diperlukan untuk pembentukan biomasanya. Bakteri heterotrofik lebih
umum ditemukan di perairan. Dibandingkan dengan bakteri autotrofik bakteri
ini merupakan mikroorganisme yang dalam ekosistem berfungsi menghancurkan
bahan-bahan organik pencemar dalam perairan (Achmad, 2004).
Pertumbuhan bakteri hetrotrofik di perairan juga didukung oleh faktor
lingkungan, diantaranya yaitu kadar oksigen terlarut, pH dan suhu. Pertumbuhan
dan perkembangan mikrooganisme banyak dipengaruhi oleh konsentrasi ion

11

hidrogen, misalnya pH. Pada kebanyakan bakteri umumnya tumbuh optimum
antara pH 6,5 - 8,5 (Waluyo, 2009).
Mikroba

yang termasuk

bakteri heterotrofik bersal

dari genus

Mycobacterium, Streptomyces, Agrobacterium, Bacillus dan Pseudomonas.
Genus Bacillus termasuk salah satu bakteri heterotrofik, yang ketergantungan
energinya berasal dari oksidasi atau deasimilasi senyawa karbon organik.
Bacillus sp. dapat hidup dengan baik dalam medium sintetik berisi gula, asamasam organik, alkohol sebagai sumber karbon dan sebagai sumber nitrogen.
Secara morfologi genus Bacillus merupakan batang tebal dengan spora central,
subterminal maupun terminal. pergerakannya dengan flagella. Bacillus sp.
banyak ditemui dalam lapisan rhizosphere dan kemungkinan sebagai habitatnya.
Pada habitat tersebut Bacillus tumbuh aktif pada pH 5,5-8,5 (Abdillah, 2009).
Bakteri heterotrofik Bacillus sp menghasilkan enzim-enzim hidrofilik
ekstrasellular yang memecah polisakarida, lemak serta menggunakannya sebagai
sumber karbon dan energi. Kemampuan dalam menguraikan bahan-bahan
organik ini, menyebabkan bakteri ini berperan penting dalam proses
dekomposisi bahan-bahan organik (Abdillah, 2009).

2.5.1. Molases
Molases merupakan hasil samping dari proses kristalisasi pembuatan
gula tebu. Molases mengandung 48-56% gula dan sedikit unsur-unsur mikro
yang penting bagi kehidupan organisme, seperti cobalt, boron, iodium, tembaga,
mangan, dan seng. Selain itu, molase juga mengandung vitamin dan pigmen.

12

Kandungan gula yang tinggi pada molase sehingga dapat dimanfaatkan dalam
sistem akuakultur sebagai sumber karbon. Sumber karbon yang dapat digunakan
meliputi alkohol, gula, sagu, dan bahan berserat. Alkohol dan gula mudah
dicerna, dapat menstimulus pertumbuhan bakteri lebih cepat, sehingga mampu
untuk berkompetisi dengan fitoplankton dalam mengabsorbsi nitrogen dan fosfor
dalam kolam budidaya. Penggunaan molases sebagai sumber karbon didasarkan
pada harga molases yang relatif murah, memiliki kandungan karbon yang tinggi,
serta penggunaannya cukup mudah (Willet dan Morrison, 2006).
Selain itu, pemanfaatan molases sebagai sumber karbon pada sistem
budidaya perikanan, digunakan sebagai pengontrol biomassa bakteri dan kualitas
air pemeliharaan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kelangsungan hidup
dan pertumbuhan organisme yang dibudidayakan. Penggunaan molase mampu
mengurangi nilai amoniak dari kolam budidaya (Willet dan Morrison, 2006).

2.6.

Fitoplankton
Fitoplankton merupakan tumbuhan yang seringkali ditemukan di seluruh

massa air pada zona eufotik, berukuran mikroskopis dan memiliki klorofil
sehingga mampu membentuk zat organik dari zat anorganik melalui fotosintesis
(Nontji, 2006). Fitoplankton sebagai organisme autotrof menghasilkan oksigen
yang akan dimanfaatkan oleh organisme lain, sehingga fitoplankton mempunyai
peranan penting dalam menunjang produktifitas perairan.
Fitoplankton memiliki klorofil yang berperan dalam fotosintesis untuk
menghasilkan bahan organik dan oksigen dalam air yang digunakan sebagai

13

dasar mata rantai pada siklus makanan di perairan. Namun fitoplankton tertentu
mempunyai peran menurunkan kualitas perairan apabila jumlahnya berlebih
(blooming). Tingginya populasi fitoplankton beracun di dalam suatu perairan
dapat menyebabkan berbagai akibat negatif bagi ekosistem perairan, seperti
berkurangnya oksigen di dalam air yang dapat menyebabkan kematian berbagai
makhluk air lainnya (Nontji, 2006).
Fitoplankton dapat ditemukan di seluruh massa air mulai dari permukaan
sampai

pada

kedalaman

dimana

intensitas

cahaya

matahari

masih

memungkinkan untuk digunakan dalam proses fotosintesis. Fitoplankton ini
merupakan komponen flora yang paling besar peranannya sebagai produsen
primer di suatu perairan. Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat
dijadikan sebagai indikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan
suatu perairan. Fitoplankton juga merupakan penyumbang oksigen terbesar di
dalam suatu perairan. Pentingnya peranan fitoplankton sebagai pengikat awal
energi matahari menjadikan fitoplankton berperan penting bagi kehidupan
perairan (Fachrul, 2007).
Fitoplankton mempunyai banyak kelebihan sebagai tolak ukur biologis
yaitu mampu menunjukkan tingkat ketidakstabilan ekologi dan mengevaluasi
berbagai bentuk pencemaran. Setiap jenis fitoplankton berbeda reaksi fisiologis
dan tingkah lakunya terhadap perubahan kualitas lingkungan. Pencemaran
merupakan perusakan kualitas air akibat akumulasi buangan yang dilakukan
oleh manusia, baik buangan yang berguna maupun buangan yang tak berguna
(Fachrul, 2007).

14

Keberadaan fitoplankton di suatu perairan juga dipengaruhi oleh faktor
fisika, kimia dan biologi perairan di daerah tersebut (Odum, 1981).
Perkembangan fitoplankton sangat ditentukan oleh intensitas sinar matahari,
temperatur dan unsur hara (Goldman dan Horne, 1983). Fitoplankton dapat
berperan sebagai salah satu dari parameter ekologi yang dapat menggambarkan
kondisi kualitas perairan. Fitoplankton merupakan dasar produsen primer mata
rantai makanan di perairan (Dawes, 1981).

2.7.

Parameter Kualitas Air

2.7.1. Suhu
Suhu dalam perairan mempunyai sifat yang unik yang berhubungan
dengan panas yang secara bersama-sama mengurangi perubahan suhu sampai
tingkat minimal, sehingga perbedaan suhu dalam air lebih kecil dan perubahan
yang terjadi lebih lambat dari pada udara. Suhu dalam perairan mempunyai sifat
yang unik yang berhubungan dengan panas yang secara bersama-sama
mengurangi perubahan suhu sampai tingkat minimal sehingga perbedaan suhu
dalam air lebih kecil dan perubahan yang terjadi lebih lambat dari pada udara
(Odum, 1981). Suhu memiliki peranan yang penting bagi proses fisika, kimia
dan biologi di suatu perairan. Peningkatan suhu dapat menyebabkan peningkatan
laju evaporasi, volatilisasi gas dan reaksi-reaksi kimia di perairan. Kenaikan
suhu perairan dapat menyebabkan penurunan kelarutan gas di dalam air,
termasuk gas O2, CO2, NH3, dan H2S (Effendi, 2003).

15

Suhu sangat mempengaruhi nafsu makan ikan sehingga berpengaruh
terhadap metabolisme pertumbuhan. Kenaikan suhu yang masih dapat diterima
ikan, akan diikuti kenaikan derajat metabolisme dan selanjutnya kebutuhan
oksigen akan naik pula. Hal ini sesuai dengan hukum Van Hoff yang
menyatakan bahwa untuk setiap perubahan kimiawi, kecepatan reaksinya naik
dua sampai tiga kali lipat setiap kenaikan suhu sebesar 10oC. Namun, kenaikan
suhu ini disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan
oksigen tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk
melakukan

proses

metabolisme dan

respirasi.

Peningkatan

suhu

juga

menyebabkan terjadinya peningkatan dekomposisi bahan organik oleh mikroba
(Effendi, 2003).

2.7.2. Oksigen terlarut
Oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara
bebas dan hasil fotosíntesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut.
Kecepatan difusi oksigen dari udara, dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti
kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus,
gelombang dan pasang surut. Kadar oksigen dalam air akan bertambah dengan
semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas.
Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses
difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis.
Bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena
proses fotosisntesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak
digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik.

16

Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis,
stadium dan aktifitasnya (Odum, 1981).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan
banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang
terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh bahan organik dan anorganik
yang tersuspensi, pasir halus serta bahan organik seperti plankton dan
mikroorganisme lainnya. Kekeruhan air (turbidity) berhubungan dengan
penetrasi cahaya matahari kekolam air. Tingkat kekeruhan berpengaruh terhadap
laju fotosíntesis fitoplankton, yang menyebabkan terjadinya fluktuasi oksigen
yang terlarut di air (Effendi, 2003).
Tingkat konsumsi oksigen organisme air sangat bergantung pada suhu,
bobot tubuh, fitoplankton, dan bakteri yang ada di dalam perairan. Akumulasi
buangan padat akan meningkatkan biomasa bakteri heterotrofik, sehingga
meningkatkan kebutuhan oksigen. Kadar oksigen terlarut yang baik untuk
pertumbuhan organisme akuatik adalah lebih dari 3.5 mg/liter, sedangkan
konsentrasi oksigen terlarut kurang dari 1.5 mg/liter dalam jangka waktu yang
lama dapat bersifat lethal bagi organisme akuatik. (Effendi, 2003).

2.7.3. Fosfat
Fosfats di perairan terdapat dalam berbagai bentuk, diantaranya dalam
bentuk butiran-butiran kalsium fosfat (CaPO4) dan besi fosfat (FePO4) dan
sebagian lagi dalam bentuk fosfat anorganik (orthophosphat). Kandungan fosfat

17

yang optimal bagi pertumbuhan fitoplankton berada pada kisaran 0,27-5,51 ppm
(Widjaya, 1994).
Karakteristik fosfor sangat berbeda dengan unsur-unsur utama lain yang
merupakan penyusun biosfer karena unsur ini tidak terdapat di atmosfer.
Diperairan

bentuk

fosfor

berubah-ubah

secara

terus

menerus,

akibat

dekomposisi dan sintesis antara bentuk organik dan bentuk anorganik yang
dilakukan oleh mikroba. Keseimbangan antara bentuk fosfat anorganik pada
berbagai nilai pH. Kadar fosfor pada perairan alami berkisar antara 0.005-0.02
mg/liter (Widjaya, 1994).
Keberadaan fosfor secara berlebihan yang disertai dengan keberadaan
nitrogen dapat menstimulir ledakkan pertumbuhan fitoplankton di perairan.
Fitoplankton yang berlimpah ini dapat dapat membentuk lapisan pada
permukaan air, yang selanjutnya dapat menghambat penetrasi oksigen dan
cahaya matahari sehingga kurang menguntungkan bagi ekosistem perairan. Pada
saat perairan cukup mengandung fosfor, fitoplankton mengakumulasi fosfor di
dalam sel melebihi kebutuhannya. Fenomena yang demikian dikenal dengan
istilah konsumsi lebih. Kelebihan fosfor yang diserap akan dimanfaatkan pada
saat perairan mengalami defisiensi fosfor, sehingga fitoplankton masih dapat
tumbuh beberapa waktu selama periode kekurangan pasokan fosfor. Selama
defisiensi fosfor fitoplankton juga dapat memanfaatkan fosfor organik dengan
bantuan enzim alkalin fosfat yang berfungsi memecah senyawa organofosfor.
Keberadaan enzim alkalin fosfat akan meningkat jika terjadi defisiensi fosfor di
perairan (Boney, 1989).

18

Fosfor berperan dalam transfer energi di dalam sel, misalnya yang
terdapat pada ATP (Adenosine Triphospate) dan ADP (Adenosine Diphosphate).
Ortofosfat yang merupakan produk ionisasi dari asam ortofosfat adalah bentuk
fosfor yang paling sederhana di perairan. Ortofosfat merupakan bentuk fosfor
yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik, sedangkan
polifosfat harus mengalami hidrolisis membentuk ortofosfat terlebih dahulu
sebelum dapat dimanfaatkan sebagai sumber fosfat. Setelah masuk kedalam
tumbuhan, misalnya fitoplankton, fosfat anorganik mengalami perubahan
menjadi organofosfat. Fosfat yang berikatan dengan ferri bersifat tidak larut dan
mengendap didasar perairan. Pada saat terjadi kondisi anaerob, ion besi valensi
tiga (ferri) ini mengalami reduksi menjadi ion besi valensi dua (ferro) yang
bersifat larut dan melepaskan fosfat keperairan, sehingga meningkatkan
keberadaan fosfat diperairan (Effendi, 2003).

2.7.4. Amonia
Sumber amonia di perairan adalah pemecahan nitrogen organik dan
nitrogen anorganik yang terdapat didalam tanah dan air, yang berasal dari
dekomposisi bahan organik dan anorganik oleh mikroba (Rachmiwati, 2008).
Amonia yang terukur di perairan berupa amonia total (NH¬3 dan NH4+). Amonia
bebas tidak dapat terionisasi, sedangkan amonium dapat terionisasi. Di perairan
alami, pada suhu dan tekanan normal amonia berada dalam bentuk gas dan
membentuk kesetimbangan dengan gas amonium. Ikan tidak dapat bertoleransi
terhadap kadar amonia bebas yang terlalu tinggi karena dapat mengganggu

19

proses pengikatan oksigen di dalam darah. Kadar amonia di perairan alami
biasanya kurang dari 0,1 mg/liter (Effendi, 2003).
2.7.5. Nitrat
Keberadaan nitrogen di perairan dapat berupa nitrogen anorganik dan
organik. Nitrogen anorganik salah satunya ilalah nitrat atau ion nitrat (NO 3-)
sedangkan nitrogen organik berupa protein, asam amino dan urea akan
mengendap dalam air. Effendi (2003) menyatakan bahwa bentuk-bentuk
nitrogen tersebut ngalami transformasi (ada yang melibatkan mikrobiologi dan
ada yang tidak) sebagai bagian dari siklus nitrogen.
Nitrifikasi yaitu oksidasi ammonia menjadi nitrit dan nitrat dapat
dilakukan oleh bakteri aerob. Nitrifikasi berjalan secara optimum pada pH 8 dan
berkurang secara nyata pada pH< 7. Hasil oksidasi ini sangat reaktif dan mudah
sekali larut, sehingga dapat langsung digunakan dalam proses biologis.
Denitrifikasi yaitu reduksi nitrat menjadi nitrit (NO2-), dinitrogen oksida (N2O)
dan molekul nitrogen (N2). Proses reduksi nitrat berjalan optimal pada kondisi
anoksik (tak ada oksigen).

2.7.6. pH
pH adalah banyaknya ion hidrogen yang terkandung di dalam air. Tinggi
rendahnya pH air sangat ditentukan oleh konsentrasi H+ yang terdapat dalam
perairan. Setiap organisme mempunyai pH optimum untuk kehidupannya. Nilai
pH perairan merupakan salah satu faktor lingkungan yang berhubungan dengan

20

susunan spesies dari ikan. Kisaran pH yang ideal untuk kehidupan ikan adalah
antara 6,5 - 8,5 (Jubaedah, 2006).
Beberapa mikroorganisme yang bersifat heterotrofik juga mampu
pengoksidasi amonia atau nitrogen organik menjadi nitrit atau nitrat.
Mikroorganisme yang termasuk dalam golongan tersebut diatas antara lain
adalah bakteri (Alcaligenes, Arthrobacter spp., dan Actinomycetes). Bakteri
Arthrobacter mampu menghasilkan nitrat dalam media yang mengandung
amonia sebagai sumber nitrogen (Alexander, 1977).
Bakteri autotrofik menggunakan CO2 sebagai sumber karbon, sedangkan
bakteri heterotrofik menggunakan senyawa organik, seperti asetat, piruvat, dan
oksaloasetat sebagai sumber karbon. pH merupakan salah satu faktor lingkungan
yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan aktivitas bakteri pengoksidasi
amonia (Esoy et al., 1998). pH optimum untuk pertumbuhan bakteri
pengoksidasi amonia yang bersifat autotrofik berkisar dari 7,5 sampai 8,5
(Ratledge, 1994), sedangkan bakteri yang bersifat heterotrofik lebih toleran pada
lingkungan asam, dan tumbuh lebih cepat dengan hasil yang lebih tinggi pada
kondisi dengan konsentrasi kadar oksigen rendah (Zhao et al., 1999).
pH adalah cerminan dari derajat keasaman yang diukur dari jumlah ion
hidrogen. Air murni terdiri dari ion H+ dah ion OH- dalam jumlah berimbang
hingga pH air murni biasa 7 atau netral. Air yang bersifat alkalis umumnya
dengan pH lebih dari 7 karena banyak mengandung garam yang bersifat alkalis.
pH air yang banyak mengandung CO2 biasanya lebih rendah dari 7 dan bersifat
asam (Ahmad, 1991).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei sampai dengan Juni 2011.

Penelitian ini bertempat di Laboratorium Sistem Budidaya Loka Riset
Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar Sukamandi, Subang,
Jawa Barat.

3.2.

Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah aerator, jaring, Water

Quality Cheker, termometer maksimum-minimum, timbangan digital, botol
sampel, cawan petri, tabung reaksi, gelas piala, erlemeyer, labu ukur, bunsen,
mikro pipet, kertas saring wathman no.42, spatula, alumunium foil, oven,
spektrofotometer U-I500, cuvette, tissue grinder, Centrifuge, ember, jaring ikan.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan lele (Clarias
gariepinus) sebanyak 1000 ekor/kolam (40 ekor/m2), ikan nila sebanyak 750
ekor/kolam (30 ekor/m2), pakan ikan lele (pelet apung 781), molase, bakteri
Bacillus sp, reagent fosfat, akuades, NaOH 6N, MgCO3 Suspension, acetone
solution 90%, HCl 1 N.

21

22

3.3.

Cara Kerja

3.3.1. Rancangan Kolam Pemeliharan
Kolam yang digunakan dalam penelitian ini berukuran 5 x 5m dengan
kedalaman air dipertahankan setinggi 70 cm. Satu unit kolam disekat menjadi
dua ruangan sebagaimana terlihat pada Gambar 2. Ruang I berisi pemeliharaan
ikan lele dan pada ruang II diletakkan jaring pada beberapa kolam sesuai
perlakuan dan diisikan ikan nila, sebagai organisme filter feeder.
Air dari ruang I dialirkan ke ruang II dengan mesin pompa air
berkapsitas 0,14 liter/detik. Dengan cara ini, air akan mengalir dari ruang I ke
ruang II dan akan kembali ke ruang I.

Ruang I
Ikan lele
5m

Pompa air

Ruang II
Ikan nila
5m
Gambar 3. Skema kolam penelitian

3.3.2. Penebaran Ikan
Ikan lele (Clarias gariepinus) ditebar berukuran 50gr/ekor sebanyak
1000 ekor/kolam (40 ekor/m2) pada enam kolam di ruang I, dan ikan nila ditebar
berukuran 5gr/ekor sebanyak 750 ekor/kolam (30 ekor/m 2) di ruang II hanya
pada tiga kolam sesuai perlakuan. Sebelum ditebar, ikan diseleksi terlebih

23

dahulu. Ikan yang layak digunakan adalah ikan yang memiliki organ tubuh yang
lengkap, aktif (gesit), ukuran seragam dan tidak terinfeksi penyakit.

3.3.3. Perlakuan
Perlakuan yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri atas dua perlakuan
dengan tiga ulangan, yakni tiga kolam tanpa penebaran ikan nila dan tiga kolam
dengan penebaran ikan nila.

Tabel 2. Kode perlakuan tiap kolam
Perlakuan

Kode Perlakuan

B3

A1

Ikan Lele

A2

Ikan Lele

A3

Ikan Lele

B1

Ikan Lele + Nila

B2

Ikan Lele + Nila

B3

Ikan Lele + Nila

A3

B2

B1

A1

Gambar 4. Skema posisi kolam

A2

24

3.3.4. Inokulasi Bakteri
Inokulasi bakteri dilakukan pada ruang pemeliharaan ikan nila untuk
memacu pertumbuhan bakteri pada ruang tersebut. Biakan bakteri ini sebagian
besar mengandung bakteri Bacillus sp.. Dosis yang diberikan sesuai perhitungan
yakni 20 l/kolam. Inokulasi bakteri ini hanya dilakukan sekali pada awal
penelitian (Lampiran 7).

3.3.5. Pemberian pakan dan molases
Pakan diberikan hanya kepada ikan lele yaitu berupa pelet apung
komersial dengan kandungan protein 28-30%. Pemberian pakan dilakukan tiga
kali sehari yaitu pagi sekitar pukul 07.00 WIB, siang sekitar pukul 13.00 WIB
dan sore sekitar pukul 16.00 WIB. Jumlah pakan yang diberikan ditentukan
berdasarkan perhitungan berikut:
Total pakan yang diberikan = 3% x total biomassa ikan
Total pemberian pakan mengikuti pertumbuhan ikan. Biomassa Ikan
diukur setiap 7 hari sekali sehingga jumlah pakan yang diberikan diganti setiap 7
hari sekali.
Pemberian molases diberikan pada semua kolam dan dilakukan setiap
hari pada pagi hari sebelum pemberian pakan. Pada penelitian ini diasumsikan
bahwa kandungan karbohidrat pada molase adalah 60,79% (WH Foods, 2007).
Karbohidrat mengandung karbon sebanyak 40%. Molases diberikan dengan
dosis yang disesuaikan dengan bobot ikan kolam dan sesuai dengan perhitungan
rasio C/N.

25

3.4.

Pengamatan

3.4.1. Pengukuran Fosfat
Pengukuran fosfat setiap kolam dan dilakukan di Laboratorium.
Pengambilan sampel air dari tiap-tiap kolam dilakukan pada jam 07.00 sebelum
pemberian pakan dan molases. Sampel air 100 ml dalam erlenmeyer
ditambahkan 1 tetes PP (jika terjadi pembentukan warna merah jambu,
dihilangkan dengan penambahan larutan asam kuat dan ditambahkan 1ml larutan
asam kuat tersebut). Dimasukkan batu didih dan dipanaskan perlahan-lahan (90
menit), selama pemanasan, dipertahankan volume larutan antara 25-50 mL
dengan penambahan air suling, kemudian didinginkan dan dinetralkan dengan
penambahan NaOH 6N sampai warna larutan merah jambu tua. Dituangkan
dalam labu takar 100 ml dan diditera. Ditambahkan 8 ml reagen campuran,
diaduk dan dibiarkan 10 menit. Kemudian ukur Absorbansinya dengan
Spektrofotometer pada panjang gelombang (λ) = 880 nm.
Perhitungan :
Fosfat (mg/l) = Abs Contoh x fp
Slope
Keterangan : slope diperoleh dari kurva linearitas deret standar Fosfat.
fp = Faktor pengenceran

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2203 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 317 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 436 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 699 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 612 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 572 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 698 23